Anda di halaman 1dari 13

Pendahuluan Manusia di sepanjang hidupnya melalukan kegiatan, secara sadar maupun tidak untuk mempertahankan hidup.

Kegiatan yang dilakukan secara sadar dapat berupa aktivitas sehari-hari, sedangkan kegiatan yang dilakukan secara tidak sadar adalah berupa mekanisme kerja organorgan dalam tubuh. Organ-organ dalam tubuh bekerja saling mempengaruhi, dan apabila terdapat satu komponen yang tidak berfungsi dengan baik, maka dapat mempengaruhi kerja organ yang lain. Pada makalah ini, akan dibahas mengenai salah satu mekanisme kerja dalam tubuh, yaitu reseptor hormon insulin, dengan lingkup pembahasan, yaitu fungsi reseptor hormon insulin, proses replikasi, transkripsi, dan translasi, serta mutasi gen, yang semuanya berpengaruh terhadap reseptor hormon insulin tersebut. Makalah ini dibuat dengan tujuan memberikan penjelasan mengenai reseptor hormon insulin dan fungsinya, proses replikasi, transkripsi, dan translasi, serta mutasi gen. Hormon Insulin Hormon. Hormon berasal dari bahasa Yunani, berarti menbangkitkan untuk beraktivitas.1 Hormon pertama kali diperkenalkan oleh Bayliss dan Starling.2 Hormon adalah suatu zat yang disintesis di satu organ dan diangkut oleh sistem sirkulasi untuk bekerja di jaringan lain. Hormon dapat bekerja pada sel-sel disekitarnya (kerja parakrin) dan pada sel tempat hormon tersebut berasal (kerja autokrin) tanpa harus masuk ke dalam sirkulasi sistemik.1 Hormon diproduksi oleh kelenjar endokrin, dan dengan adanya rangsangan, akan menyebabkan kelenjar endokrin memproduksi dan mengeluarkan hormon ke dalam plasma darah.2 Hormon insulin. Hormon insulin adalah suatu hormon yang diproduksi oleh sel pada bagian endokrin pankreas,3 yaitu pulau Langerhans.2 Hormon Insulin pertama kali ditemukan oleh Banting dan Best pada tahun 1922.2 Hormon insulin memiliki banyak fungsi, yaitu merangsang sintesis enzim-enzim kinase dalam hati, sebagai penghambat terbentuknya enzimenzim glukoneogenik, mengendalikan proses metabolisme karbohidrat sehingga kadar glukosa dalam darah orang normal relatif konstan,2 dengan mempercepat pengubahan glukosa menjadi
1

gula otot atau glikogen.4 Selain itu, hormon insulin juga berpengaruh pada metabolisme protein dan asam nukleat, dimana insulin mempermudah masuknya asam amino ke dalam sel, meningkatkan sintesis protein dalam ribosom, dan mempengaruhi terbentuknya mRNA.2 Insulin dapat dirusak oleh enzim insulinase dalam hati. Insulin dengan alkali dapat bereaksi menghasilkan ammonia dan menjadi tidak aktif. Enzim proteolitik juga dapat merusak insulin.2 Kekurangan hormon insulin dapat menyebabkan penyakit diabetes mellitus (penyakit kencing manis). Penderita penyakit tidak dapt mengatasi kelebihan glukosa, mengakibatkan ginjal gagal menyerap kembali sebagian besar kelebihan gula dan akhirnya gula keluar bersama air seni.5 Reseptor Hormon Insulin pada Sel Target Tubuh manusia tersusun oleh sel-sel hidup. Sebagai sel hidup, sel-sel tersebut dapat merasakan dan merespon terhadap lingkungannya. Respon yang dirasakan oleh sel itu disebut sebagai sebuah sinyal, yang diterima oleh sel target untuk menimbulkan respon. Bagian dari sel target yang berfungsi untuk menerima sinyal dari lingkungan ekstraselular itulah yang dinamakan reseptor.6 Reseptor pada sel target disebut juga reseptor protein. Reseptor pada sel target atau reseptor protein bekerja secara spesifik, yaitu hanya dapat mengikat molekul sinyal yang sesuai dengan reseptor tersebut, sehingga reseptor sinyal disebut juga sebagai label identitas pada sel target.6 Semua reseptor (target) memiliki paling sedikit duat domain fungsional, yaitu domain pengenal ( recognition domain) mengikat ligan (sinyal) hormon dan domain kedua menghasilkan sinyal yang menggabungkan atau menghubungkan pengenalan hormon tersebut dengan beberapa fungsi intrasel. Pada makalah ini, secara khusus akan dijelaskan mengenai reseptor hormon insulin pada sel target. Sel target mencakup semua sel tempat hormon (ligan) berikatan dengan reseptornya.1 Ketika hormon sudah terikat pada reseptor hormon, maka proses dimana sinyal pada permukaan sel dibuah hingga menjadi respon seluler disebut jalur transduksi sinyal,6 yang akan dibahas pada mekanisme reseptor hormon insulin.

Mekanisme reseptor hormon insulin. Mekanisme kerja transduksi sinyal diawali dengan insulin yang berikatan dengan reseptor insulin pada plasma sel sasaran. Reseptor insulin adalah suatu heterotetramer (22) yang disatukan oleh banyak ikatan sulfida tempat subunit ekstrasel mengikat insulin dan subunit (yang menembus membran) menyalurkan sinyal melalui tirosin protein kinase di bagian subunit yang berada di sitoplasma.1 Ketika berikatan dengan insulin, tirosin kinase memfosforilasikan residu tirosin pada subunit serta pada beberapa enzim lain dalam sitosol. Substrat utama untuk fosforilasi oleh reseptor, substrat reseptor insulin (insulin receptor substrate, IRS-1), kemudian berikatan dengan berbagai protein transduksi sinyal di daerah yang disebut ranah SH2. IRS-1 juga ikut dalam banyak respons fisiologis terhadap insulin, tetapi mekanis kerja insulin dari titik ini sampai efek akhir belum diketahui.7 Hasil akhir kerja insulin dikelompokkan dalam lima kategori, yaitu 1) insulin melawan fosforilasi yang dirangsang oleh glukagon, 2) insulin bekerja melalui jenjang fosforilasi yang merangsang fosforilasi beberapa enzim, 3) insulin menginduksi dan menekan sintesis enzim spesifik, 4) insulin bekerja sebagai faktor pertumbuhan dan memiliki efek perangsangan umum terhadap sintesis protein, 5) insulin merangsang transport glukosa dan asam amino ke dalam sel.7 Fungsi reseptor hormon insulin pada sel target. Berdasarkan mekanisme kerjanya, maka reseptor hormon insulin yang merupakan heterotetramer dan terletak di membran plasma sel target, tersebut adalah sebagai penerima hormon insulin, yang memiliki aktivitas tirosin kinase, sehingga dapat memfosforilasi beberapa enzim dan memberikan hasil akhir sebagai respon untuk hormon insulin. Reseptor hormon insulin sendiri adalah berupa protein. 7

Pada awal tahun 1950-an, dengan protein insulin, para ahli menemukan bahwa tiap jenis protein mempunyai urutan asam-asam amino yang unik.8 Asam amino adalah bahan pembangun atau penyusun protein, atau khususnya alfa asam amino.9 Urutan insulin kemudian dijadikan kunci dalam pemahaman struktur dan fungsi protein. Jika insulin mempunyai urutan yang tertentu dan diatur secara genetika maka setiap protein lain juga demikian.

DNA dan protein tersusun dari rangkaian linier subunit-subunit dan nukleotid-nukleotid dalam DNA selaras dengan urutan-urutan asam amino protein arahannya. Urutan DNA memiliki spesifikasi urutan protein.8 Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai bagaimana sebuah sel menerjemahkan urutan nukleotid pada DNA hingga membentuk protein, melalui tiga proses, yaitu replikasi, transkripsi, dan translasi. DNA. DNA (deoxyribonucleic acid) adalah tempat penyimpanan informasi genetik,10 yang berupa polimer asam nukleat yang tersusun secara sistematis.11 DNA berbentuk helix ganda (double helix) dan berpilin ke kanan. Tiap nukleotida terdiri dari tiga gugus molekul, yaitu gula 5 karbon (2-deoksiribosa), basa nitrogen yang terdiri dari golongan purin (adenine= A dan guanine = G) dan golongan pirimidin (cytosine = C dan thimin = T), serta gugus fosfat.11 Untaian ganda DNA tersusun oleh dua rantai polinukleotida yang berpilin. Kedua rantai mempunyai orientasi yang berlawanan (antiparalel), rantai yang satu mempunyai orientasi 5 3, sedangkan rantai yang lain berorientasi 3 5. Kedua rantai tersebutberikatan dengan adanya ikatan hidrogen antara basa adenine (A) dengan thymine (T), dan antara guanine (G) dan cytosine (C). ikatan antara A T berupa dua ikatan hidrogen, sedangkan antara G C berupa tiga ikatan hidrogen sehingga ikatan G C lebih kuat. Spesifitas pasangan basa semacam ini disebut sebagai komplementaritas. Proporsi basa A dan T serta G dan C selalu sama. 11 RNA. RNA (ribonucleic acid) adalah hasil sintesis atau transkripsi dari DNA. RNA mengandung gula D- ribosa, basa nitrogen, dan senyawa fosfat. Basa nitrogen purin pada RNA terdiri dari adenine (A) dan guanine (G), sedangkan basa pirimidinnya terdiri dari sitosin (S/C) dan urasil (U).12 RNA terdiri dari rantai tunggal polinukleotida yang saling dihubungkan oleh ikatan fosfodiester 3 5,13 ditemukan dalam inti sel dan sitoplasma sel. terdapat tiga jenis RNA utama, yaitu RNA transfer (tRNA), RNA ribosom (rRNA), dan RNA kurir (mRNA). Ketiganya berperan dalam pengiriman informasi genetik dari DNA ke protein.14 tRNA berperan dalam mengangkut asam amino ke tempat sintesis protein, yaitu ribosom melalui translasi dari mRNA, rRNA berfungsi sebagai pengatur sintesis protein dan sebagai penyusun ribosom, dan mRNA berfungsi membawa kode genetik DNA dari inti sel menuju ribosom.12 Gambar 1 menunjukkan perbedaan antara DNA dan RNA.
4

Replikasi (Sintesis DNA) Selama replikasi, masing-masing dari dua untai DNA induk berfungsi sebagai cetakan sintesis sebuah untai yang bersifat komplementer. Dengan demikian, setiap molekul DNA yang terbentuk melalui proses replikasi mengandung satu untai induk utuh dan satu untai yang masih baru disintesis. Replikasi DNA terjadi selama fase S pada siklus sel.7 Tempat terjadi replikasi disebut sebagai garpu replikasi (replication fork). Seiring dengan berjalannya proses replikasi, kedua untai induk terpisah di depan garpu replikasi. Di belakang garpu, setiap untai DNA yang baru terbentuk membentuk pasangan basa dengan untai cetakan
Gambar 1. Replikasi DNA sumber: http://www.google.com

induk yang bersifat komplementer.7 Sintesis polinukleotida diawali

dengan pembentukan suatu primer di pangkal garpu, yaitu primer RNA dengan gugus NH 3 yang bebas.13 Protein Helikase dan topomerase membuka rantai induk, dan protein pengikat untai tunggal mencegah untai tersebut untuk menyatu kembali (reannealing). Ada tiga bentuk DNA polymerase yang masing-masing menambahkan nukleotida-nukleotida bebas hanya pada ujung 3 rantai yang ada, sehingga rantai tumbuh pada ujung 5 menuju ujung 3-nya. Ketiga DNA polymerase juga bisa mendegradasi DNA pada arah 3 ke 5, dan enzimenzim yang mendegradasi asam-asam nukleat disebut nuklease.15 Jika enzim tersebut membelah nukleotida dari ujung rantai, maka enzim itu disebut eksonuklease. Jika enzim itu membuat potongan di bagian interior molekul, maka enzim itu disebut endonuklease.13 Rantai 3 5 lama membentuk rantai 5 3 baru. Pada sintesis yang ke arah garpu terjadi secara langsung, disebut leading strand. Rantai 5 3 lama membentuk rantai 3 5 baru. Sintesis rantai yang menjauh dari garpu terjadi secara sepotong-sepotong disebut lagging strand.
5

Potongan potongan ini disebut fragmen okazaki. Fragmen-fragmen tersebut akan disambung jadi satu utas utuh oleh enzim DNA ligase. 13 Setelah Leading strand dan lagging strand selesai, primer RNA dilepas oleh DNA nuklase,15 dan ruang kosong tempat primer RNA semula diisi dengan polinukleotida yang sesuai dan disambung oleh DNA ligase.13 Bila pada sintesis DNA ada pasangan basa yang salah pasang, maka akan segera diperbaiki dengan menyingkirkan dan mengganti dengan pasangan yang benar. Sebagai contoh, apabila basa nukleotida pada ujung rantai yang disintesis salah pasang, maka eksonuklease 3 5 akan melepaskan nukleotida tersebut dan mengganti dengan nukleotida yang sesuai sbelum meneruskan pemanjangan rantai. Proses ini disebut Proof Reading.13 Setelah replikasi, mekanisme perbaikan dapat mengganti basa nukleotida yang salah pasang yang terlewat pada waktu proof reading. Proses ini disebut meng-edit, dan eksonuklease yang berperan adalah eksonuklease 5 3.13 Transkripsi (Sintesis RNA) Transkripsi adalah sintesis RNA dari cetakan DNA. Enzim yang berperan adalah RNA polymerase yang dapat langsung sintesis rantai RNA (tidak perlu primer).13 RNA polymerase menyalin cetakan DNA dalam arah 3 ke 5 dan mensintesis untai RNA dalam arah 5 ke 3. Sel eukariot memiliki tiga RNA polymerase. Polymerase I menghasilkan sebagian besar rRNA, polymerase II menghasilkan mRNA, polymerase III menghasilkan RNA kecil, misalnya tRNA dan tRNA 5S. Semua polymerase memiliki mekanisme kerja yang sama, hanya masingmasing mengenali promotor yang berbeda.7 mRNA. Pada eukariot, mRNA ditranskripsi sebagai rantai yang panjang dari bagian DNA yang memberi kode untuk sintesis protein. mRNA yang sudah matang terbentuk dalam nucleus, ditranspor ke sitoplasma melalui pori nucleus, mengarahkan penempatan urutan asam amino yang sesuai menjadi rantai polipeptida.13 rRNA. rRNA ( ribosomal RNA) terdapat pada ribosom. Ribosom sitoplasma eukariot mengandung 4 macam rRNA, yaitu 18S, 28S, 5S, dan 5,8S (S = unit Svedberg, koefisien
6

sedimentasi, diukur

dengan ultra sentrifusi). Apabila rRNA 18 dengan protein akan

menghasilkan subunit 40S. rRNA 28S, 5S, 5,8S dengan protein menjadi subunit ribosom 60S.13 tRNA. tRNA berperang mengangkut asam amino yang akan disusun pada polipeptida, dan karenanya sel mengandung paling sedikit 20 macam tRNA. Banyak asam amino mempunyai lebih dari 1 tRNA. tRNA terdiri dari 80 nukleotida, 4S tRNA mempunyai 4 loop. 4 loop tersebut, yaitu 1) Loop yang paling dekat dengan ujung 5 disebut loop D karena mengandung Dihidrouridin. 2) Loop kedua disebut loop antikodon, mengandung antikodon yang merupakan pasangan basa dengan kodon pada mRNA. 3) Loop ketiga disebut Loop TC, mengandung Ribotimidin, Pseudo-uridin dan C. 4) Loop keempat disebut loop variabel, ukurannya bervariasi terdapat antara loop antikodon dan loop TC.13 Pada Gambar 2, terlihat proses transkripsi, mulai dari inisiasi, hingga terminasi. Mekanisme transkripsi. Sebuah DNA mengalami transkripsi oleh RNA polymerase. RNA polymerase membuka pilinan kedua untai DNA sehingga terpisah, dan mengaitkannya bersama nukleotida RNA pada saat nukleotida-nukleotida ini membentuk pasangan basa di sepanjang cetakan DNA.16 RNA polymerase mensintesis rantai RNA ke arah 5
Gambar 2. Proses Transkripsi. Proses dimulai dari inisiasi sampai terminasi terminasi. Sumber: http://www.google.com/

ke 3, menyalin template DNA dari arah 3 ke 5.13 Karena RNA memiliki untai tunggal, sedangkan DNA memiliki dua untai, maka untuk setiap gen, RNA

polymerase harus menentukan untai mana yang akan di transkripsi. Urutan pada DNA lah yang menentukan di mana RNA polymerase akan berikatan, dan dimana transkripsi gen akan dimulai. Urutan DNA ini dikenal sebagai promoter (promoter), biasanya terletak dekat dengan titik di mana transkripsi dimulai, atau titik mulai (startpoint). 7 Urutan DNA lain yang dikenal adalah enhancer, juga memengaruhi frekuensi transkripsi, tapi letaknya kadang bisa berjarak ribuan nukleotida dari titik mulai (startpoint).7 Transkripsi terjadi dengan tiga tahap, yaitu inisiasi, elongasi, dan terminasi.16
7

1. Inisiasi. Dalam sel eukariot, suatu kumpulan protein yang disebut faktor transkripsi menjadi perantara antara pengikatan polymerase RNA dan inisiasi transkripsi. Setelah faktor transkripsi diikat pada promoter, RNA polymerase mengikatkan diri pada promoter tersebut.16 Faktor transkripsi adalah kotak TATA, kotak CAAT, dan kotak GC banyak.13 Ketika RNA polymerase terikat kuat pada DNA promoter, kedua untai DNA terbuka, dan enzim mulai mentranskripsi untai cetakannya.16 2. Elongasi Pada saat RNA bergerak disepanjang DNA, RNA membuka pilinan DNA, memperlihatkan sekitar 10-20 basa DNA sekaligus untuk berpasangan dengan nukleotida RNA. Saat sintesis RNA berlangsung, heliks ganda DNA akan terbentuk kembali, dan molekul baru RNA baru akan lepas dari cetakan DNA-nya. Transkripsi berlanjut dengan kecepatan sekitar 60 nukleotida per detik pada sel eukariot.16 3. Terminasi transkripsi Transkripsi berlangsung sampai RNA polymerase mentranskripsi urutan DNA yang disebut terminator. Terminator transkripsi adalah suatu urutan RNA yang berfungsi sebagai sinyal terminasi. Pada sel eukariotik, RNA polymerase terus melewati sinyal terminasi, yaitu suatu urutan AAUAAA di dalam pra-mRNA. Pada titik yang lebih jauh, kira-kira 10-35 nukleotida, pra-mRNA dipotong sehingga terlepas dari enzim tersebut. Tempat pemotongan pada RNA juga merupakan tempat untuk penambahan ekor poli(A).16 Ketika proses transkripsi sudah selesai, suatu faktor akan melepas RNA polymerase dari DNA.13 Pada Gambar 2, terlihat proses transkripsi, mulai dari inisiasi, hingga terminasi. Setelah sampai tahap terminasi, setiap ujung molekul pra-RNA yang sudah jadi, dimodifikasi dengan cara tertentu. Ujung 5, yaitu ujung pertama yang dibuat selama transkripsi akan ditutup dengan Guanosin Trifosfat yang termetilasi.13,16 Tujuannya untuk melindungi mRNA dari perombakan (degradasi) oleh enzim hidrolitik.16

Pada ujung 3, juga mengalami modifikasi, sehingga terdapat ekor berupa poli (A) yang menghambat (menginhibisi) degradasi RNA, dan membantu molekul ribosom melekat pada mRNA.16 Hasil transkrip, mRNA mengandung ekson dan intron. Ekson adalah daerah pengkode, dan intron adalah daerah bukan pengkode.16 Intron dibuang dan tidak terdapat pada mRNA matang, lalu ekson disambung membentuk mRNA. Batas ekson atau intron adalah AGGU, dimana semua intron mulai dengan 5GU dan berakhir dengan 3 AG. mRNA yang matang akan keluar dari nucleus ke sitoplasma dan bergabung dengan ribosom.13 Translasi (Sintesis Protein) Sintesis protein terjadi pada ribosom yang dituntun oleh mRNA atau kodon mRNA dibaca secara berurutan pada arah 5 ke 3. Bagian mRNA yang memberi kode untuk jenis asam amino dinyatakan sebagai urutan 3 basa nukleotida per asam amino disebut kode genetik. Pada mRNA tredapat 4 macam nukleotida, yaitu A, G, C, U yang menghasilkan 43 = 64 kemungkinan kombinasi dari 3 nukleotida.13 Proses translasi dibagi menjadi tiga tahap, yaitu inisiasi, elongasi, dan

terminasi. Semua tahap ini memerlukan faktor-faktor protein yang membantu

mRNA, tRNA, dan ribosom selama proses translasi. Untuk inisiasi dan elongasi, dibutuhkan sejumlah energi dalam bentuk GTP.16 Gambar 3 menunjukkan proses
Gambar 3. Proses Translasi (Sintesis Protein) Proses terdiri dari inisiasi, elongasi, dan terminasi. sumber : http://www.google.com

translasi.

a. Inisiasi Pada tahap inisiasi, subunit ribosom yang kecil mengikatkan diri pada mRNA dan tRNA inisiator khusus. Subunit ribosom kecil melekat pada ujung 5 dari mRNA. mRNA memiliki kodon inisiasi, yaitu AUG, yang memberikan sinyal dimulainya proses translasi. tRNA inisiator, yang membawa asam amino metionin, melekat pada kodon inisiasi.16 Kemudian, subunit ribosom yang besar juga meynatu dengan mRNA, tRNA inisiator, dan subunit ribosom kecil, sehingga terdapat kompleks inisiasi. Protein yang disebut faktor inisiasi dibutuhkan untuk membawa semua komponen tersebut bersama-sama.Sel juga mengeluarkan GTP untuk membentuk kompleks inisiasi. Pada penyelesaian proses inisasi, tRNA inisiator berada pada tempat P dari ribosom, dan tempat A yang kosong siap untuk tRNA-aminoasil berikutnya. Sintesis polipeptida dimulai pada ujung aminonya.16 b. Elongasi Pada tahap elongasi dari translasi, asam-asam amino ditambahkan satu per satu pada asam amino pertama. Tiap penambahan melibatkan partisipasi beberapa protein yang disebut faktor elongasi. Proses elongasi terjadi sebagai berikut. Kodon mRNA pada tempat A dari ribosom membentuk ikatan hidrogen dengan antikodon molekul tRNA yang baru masuk membawa asam amino yang sesuai. Faktor elongasi membawa tRNA ke tempat A. Langkah ini membutuhkan hidrolisis GTP.16 Kemudian, molekul rRNA dari subunit ribosom besar mengkatalisis pembentukan ikatan peptida yang menggabungkan polipeptida yang memanjang dari tempat P ke asam amino yang baru tiba di tempat A. pada tahap ini polipeptida memisahkan diri dari tRNA tempat perlekatannya semula, dan asam amino pada ujung karboksilnya berikatan dengan asam amino yang dibawa oleh tRNA ditempat A.16 tRNA di tempat A, sekarang terikat pada polipeptidayang sedang tumbuh, ditranslokasikan ke tempat P. saat RNA berpindah tempat, antikodonnya tetap berikatan denganhidrogen pada kodon mRNA. mRNA kemudian bergerak bersama-sama dengan antikodon ini dan membawa kodon berikutnya untuk ditranslasi pada tempat A. Sementara itu, tRNA yang tadinya berada

10

pada tempat P bergerak ke tempat E dan dari tempat ini keluar dari ribosom. Langkah ini membutuhkan energi yang disediakan oleh hidrolisis GTP.16 c. Terminasi Akhir translasi adalah terminasi, yaitu ketika ada kodon stop yang masuk ke tempat A di ribosom. Kodon stop dapat berupa UAA, UAG, dan UGA, yang tidak mengkode suatu asam amino melainkan bertindak untuk menghentikan translasi.16 Ketika kodon stop mencapai tempat A, maka suatu protein yang disebut faktor pelepas (release factor) yang berikatan dengan tempat A, melepas peptide, ribosom dilepas, release factor juga dilepas. Lalu metionin diputus dari peptida oleh enzim protease.13 Mutasi Gen Mutasi gen merupakan perubahan yang terjadi pada nukleotida DNA yang membawa pesan suatu gen tertentu.10 Dibedakan menjadi mutasi titik (point mutation), insersi (penambahan) dan delesi (pengurangan, serta mutasi frame shift.13 1. Mutasi titik Dibedakan menjadi : 1) mutasi diam (silent mutation), yaitu mutasi yang tidak memengaruhi susunan asam amino. Contohnya perubahan CGA menjadi CGG, keduanya kodon untuk arginin. 2) Missense mutation, yaitu mutasi yang mengakibatkan 1 asam amino pada protein diganti dengan asam amino lain. Sebagai contoh, CGA dimutasi menjadi CCA yang berarti arginin diganti prolin. Pada missense mutation, perubahan terjadi tergantung dari lokasi asam amino yang dimutasi, sehingga ada hasil mutasi yang tidak mengubah fungsi protein (acceptable MM), hasil mutasi mengakibatkan sebagian fungsi protein terganggu (partially acceptable MM), dan hasil mutasi mengakibatkan protein tidak berfungsi (unacceptable MM). 3) Mutasi nonsense, yaitu mutasi yang mengakibatkan terminasi dini pada sintesis protein, jadi sintesis protein berhenti sebelum waktunya.13 2. Insersi (penambahan) dan Delesi (Pengurangan) Bila pada mRNA terjadi penambahan atau pengurangan satu nukleotida atau lebih maka protein yang terbentuk akan mengandung asam amino lebih dari normal, atau kurang dari
11

normal. Apabila terjadi penggabungan insersi dan delesi, maka akan terjadi protein abnormal.13 3. Mutasi Frame Shift Yaitu mutasi akibat insersi atau delesi nukleotida dari gen yang menyebabkan perubahan urutan nukleotida pada mRNA.13 Kesimpulan Hormon insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh Pankreas, khususnya pada kelenjar endokrin berupa Pulau Langerhans, yang berfungsi sebagai molekul sinyal. Karena fungsinya sebagai molekul sinyal, hormon insulin memiliki reseptor pada membran sel, yang akan mengikat molekul sinyal insulin dan memberikan respon yang sesuai. Dengan protein insulin, para ahli menemukan bahwa tiap jenis protein mempunyai urutan asam-asam amino yang unik. Penelitian berkembang, dan akhirnya ditemukan proses replikasi, transkripsi, dan translasi dalam sel. Replikasi adalah proses penggandaan DNA, menggunakan DNA polymerase. Transkripsi adalah proses sintesis RNA dari untaian DNA, sehingga RNA yang dihasilkan komplementer dengan DNA. Translasi adalah proses sintesis protein, dengan menggunakan mRNA yang mengandung kodon yang disintesis oleh ribosom. Pada proses-proses tersebut, dapat terjadi kesalahan, yang dapat menyebabkan mutasi gen.

12

DAFTAR PUSTAKA 1. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia Harper. Edisi ke 27. Jakarta: EGC, 2009. 2. Pujiadi A. Biokimia. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1994. 3. Hartono A. Terapi gizi dan diet rumah sakit. Edisi ke 2. Jakarta: EGC, 2004. 4. Arisworo D, Yusa. Ilmu pengetahuan alam. Bandung: Grafindo Media Pratama, 2007. 5. Kimbal JW. Biology Fith Edition. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 1990. 6. Priastini R. Komunikasi Sel. Disampaikan pada kuliah Dasar Biologi Sel 1: Biologi Kedokteran, Jakarta, 16 Desember 2010. 7. Marks D, Marks A, Smith C. Biokimia kedokteran dasar. Jakarta: EGC, 1996. 8. Alberts B, Bray D, Lewis J, Raff M, Roberts K, Watson JD. Biologi molekuler sel. Edisi ke 2. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 1994. 9. Sumardjo D. Pengantar Kimia: buku panduan kuliah mahasiswa kedokteran dan program strata 1 Fakultas Bioeksakta. Jakarta: EGC, 2006. 10. Aryulina D, Muslim C, Manaf S, Winarni EW. Biologi SMA dan MA untuk Kelas XII. Jakarta : Esis, 2004. 11. Yuwono T. Biologi molekular. Jakarta: Erlangga, 2008. 12. Karmana O. Biologi. Bandung: Grafindo Media Pratama, 2008. 13. Kuchel P, Ralston GB. Schaums Easy Outlines. Biokimia. Jakarta : Erlangga, 2006. 14. Maria A. Biologi Molekuler. Disampaikan pada kuliah Dasar Biologi Sel 2 : Biologi Molekuler, Jakarta, 18 Januari 2011. 15. Elrod S, Stansfield W. Schaums Outlines Genetika. Edisi ke-4. Jakarta: Erlangga, 2002. 16 .Campbell, Mitchell R. Biologi. Edisi ke-5. Jilid ke-1. Jakarta: Erlangga, 2002.

13