Anda di halaman 1dari 2

Kondisi Kualitas Air di Eropa

MEMINUM air langsung dari keran, memang belum membudaya di Indonesia. Berbeda

dengan Eropa, yang hampir semua negara di benua biru itu minum air bisa langsung dari kerannya. Mereka meminum air langsung dari keran karena ditunjang kualitas air yang sempurna. Jadi tanpa direbus dulu, air yang tersedia baik di rumah atau di kantor maupun fasilitas-fasilitas umum bisa langsung diminum. Bagaimana dengan Indonesia? Kualitas air yang tidak seragam, ternyata menjadi kendala. Tidak semua air yang mengalir baik itu ke rumah tangga atau fasilitas umum berasal dari PAM/PDAM. Masih banyak keluarga yang mengambil sumber air langsung dari sumur. Seperti kita ketahui, sumber air dangkal di Indonesia masih banyak tercemari zat-zat yang berbahaya. Karena itu, agak sulit bila menerapkan teknologi kami untuk semua jenis air di Indonesia, ungkap Alexander C Holl, Project Manager PT Luxindo Raya, sebuah perusahaan teknologi asal Jerman yang khusus merakit teknologi penyulingan air. Di Indonesia sendiri, air yang bisa diproses siap minum melalui keran biasanya berasal dari air PAM. Sementara untuk dikonsumsi secara umum, masih belum banyak sangat bergantung dari fasilitas teknologi dari penyedia air tersebut. Di beberapa kompleks hunian, ada pengembang yang sudah menyediakan air siap minum dari keran, sedangkan untuk rumah-rumah berlangganan air PAM harus menggunakan alat penyuling sendiri. Untuk fasilitas umum, di tiga halte bus Transjakarta, yakni Karet, Dukuh Atas, dan Kuningan Pasar Festival, Pemprov DKI menyediakan keran air siap minum. Di rumah-rumah juga bisa sebenarnya. Hanya perlu alat penyulingnya, papar Per Thuresson, Presdir Luxindo, yang memproduksi alat penyuling air Alva. Untuk menghasilkan air bersih yang siap minum, pihaknya mengadakan kerja sama dengan Sucofindo untuk tes lab dan uji coba. Beragam alat penyuling air pun sebenarnya sudah banyak di pasaran. Hanya karena harganya mahal, maka menjadi kendala belum bisa memasyarakat, apalagi perekonomian rakyat Indonesia masih didominasi oleh golongan ekonomi menengah ke bawah. Memang, minum langsung air siap minum belum menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Kebiasaan semacam ini acap terlihat di sejumlah negara maju seperti Singapura, Jepang, dan negara-negara di Eropa. Di Indonesia sendiri, Thuresson menilai kebiasaan tersebut baru akan terjadi 1020 tahun mendatang. Prediksi itu, karena mengubah kebiasaan masyarakat tidak gampang, tetapi bisa dimulai seiring dengan perkembangan zaman dan tingkat pendidikan masyarakatnya.

Inovasi Teknologi Untuk membiasakan minum air bersih dari keran, perlu pula dirancang dengan inovasi teknologinya. Teknologi yang mampu menyuling air bersih dengan menggunakan filter, magnetik, polarized filter dan membran filter. Teknologi terbarukan ini mampu menyaring air biasa hingga menghasilkan air murni (pure water for life) hingga zero micron. Menghilangkan bau, rasa, dan warna. Dengan teknologi tersebut maka air yang dihasilkan akan berkhasiat bagi kesehatan. Karena itu, menurut Alexander pihaknya serius mengembangkan produk berteknologi modern di Indonesia. Salah satunya menciptakan alat-alat teknologi yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Investasi teknologi atau IT kami di Indonesia ini mencapai USD 800 ribu, papar Alexander. Bahkan, investasi untuk mengambangkan produksi mencapai USD 10-15 juta per tahun. Dengan investasi riset yang begitu besar, kami tentu ingin menjadi bagian mewujudkan keluarga sehat bagi masyarakat Indonesia, terang Alexander. Terkait produk Alva dan Alva Royal, menurut Alexander, produk ini didukung teknologi modern dari yang menghasilkan air murni yang baik bagi kesehatan dengan kapasitas 2 liter per menit. Daya listrik nya pun sangat hemat. Apalagi teknologi itu sudah diakui hampir 100 tahun di benua Eropa. Kami harap Indonesia juga bisa memakai dan mengembangkannya sesuai dengan iklim di sini, ujarnya.