Anda di halaman 1dari 145

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi

PT. ISCO Polman Resources 1





BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bijih Besi mulai dikenal sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1843 oleh
Van Wrede. Bijih Besi merupakan salah satu komoditas utama dalam
perdagangan internasional. Hingga saat ini, dalam peradaban manusia yang
sudah jauh lebih maju, kebutuhan akan Bijih Besi semakin meningkat untuk
menunjang industri-industri dunia.

Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan sumber daya mineral yang
melimpah. Diantaranya adalah Batubara, Nickel, Emas, Perak, Timah, Bijih
Besi, dsb. Salah satu pulau di Indonesia yang memiliki cadangan mineral
cukup banyak adalah Pulau Sulawesi.

Kabupaten Polewali Mandar (Polman) adalah salah satu kabupaten yang
terletak di Pulau Sulawesi, tepatnya berada di provinsi Sulawesi Barat dengan
luas wilayah 2.022,30km
2
. Kabupaten Polewali Mandar juga termasuk
memiliki kekayaan sumber daya mineral yang cukup, termasuk Bijih Besi.
Bijih Besi di Kabupaten Polman tersebar di beberapa daerah, salah satu
diantaranya adalah di Desa Tapango, Kecamatan Tapango, Kabupaten
Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Berdasarkan SK Bupati No. 126 Tahun 2007 tentang Izin Kuasa
Pertambangan Eksplorasi PT. ISCO Polman Resources, perusahaan kami
melakukan penelitian keterdapatan Bijih Besi di Kecamatan Tapango dan
sekitarnya.



Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 2

Keterdapatan Bijih Besi di Kecamatan Tapango dinilai cukup ekonomis,
dengan kadar Bijih Besi yang memenuhi standar industri serta cadangan Bijih
Besi yang cukup. Perusahaan kami menilai bahwa kegiatan pertambangan di
Kabupaten Polewali Mandar khususnya Kecamatan Tapango dapat
dilaksanakan.

Untuk mendukung pelaksanaan pertambangan menuju tahap eksploitasi,
perusahaan telah melakukan studi kelayakan tambang. Studi kelayakan ini
mengkaji keadaan umum, morfologi, geologi, geoteknik dan hidrogeologi,
cadangan dan kualitas mineral Bijih Besi, desain tambang, transportasi,
lingkungan, K-3, organisasi kerja, pemasaran dan investasi, serta analisis
ekonomi.

1.2 Maksud dan Tujuan

Tujuan kajian adalah untuk mengkaji nilai ekonomis serta layak atau tidaknya
rencana kegiatan penambangan mineral, baik dipandang dari aspek kualitas
dan kuantitas, metode penambangan, peralatan yang digunakan,
penimbunan, transportasi, fasilitas pengolahan, pemasaran, lingkungan dan
K-3, tenaga kerja, sarana dan prasarana penunjang yang diperlukan maupun
biaya investasi.
Hasil studi kelayakan dapat digunakan sebagai acuan dan pertimbangan
untuk menyusun program-program dan prioritas kegiatan yang akan dilakukan
oleh pihak perusahaan. Di samping itu, hasil studi ini juga dapat dijadikan
sebagai salah satu alat dan panduan bagi pemerintah untuk menilai dan
mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan.

1.3 Ruang Lingkup dan Metode Studi

Kajian kelayakan yang dilakukan akan meliputi berbagai aspek yang berkaitan
dengan usaha peningkatan produksi mineral Bijih Besi pada wilayah
penambangan yang akan beroperasi. Adapun studi ini antara lain terdiri dari
hal-hal sebagai berikut:

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 3

1.3.1 Penilaian dan Pengkajian Data Yang Tersedia

Ada beberapa hal yang akan diteliti pada kajian ini, yaitu:
1. Kondisi geologi, topografi, kondisi daerah lokasi, keadaan lingkungan,
sarana transportasi dan tenaga kerja
2. Cara atau metode penyelidikan dan peralatan yang digunakan
3. Kondisi endapan mineral Bijih Besi yang meliputi kedudukan dan
penyebarannya, kuantitas dan kualitasnya

1.3.2 Pengkajian Data Yang Diperoleh Dari Lapangan

Dalam rangka penambangan mineral Bijih Besi ini, maka diperlukan data
tambahan untuk mendukung teknis penambangan. Adapun data tambahan
yang diperlukan adalah data pengamatan lapangan secara langsung dan data
yang berkaitan dengan geologi teknik. Data ini beserta pengolahannya
diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi hidrologi,
hidrogeologi dan kestabilan lereng. Untuk kegiatan penyelidikan geologi
teknik (geoteknik), pihak perusahaan telah melakukan pemboran dengan
kedalaman 130m.
Dari data sekunder yang telah tersedia dan tambahan data lapangan beserta
data geoteknik dan hidrogeologi, maka lingkup kajian akan meliputi:
a. Aspek penambangan yang mencakup tambang, metode, dan tahapan
penambangan, penimbunan mineral Bijih Besi, jumlah dan jenis peralatan
yang diperlukan, rencana dan jadwal produksi.
b. Aspek pengangkutan dan penimbunan mineral Bijih Besi atau tanah
buangan yang meliputi jarak angkut, kondisi jalan, serta lokasi dan
kapasitas tempat penimbunan.
c. Aspek pengolahan mineral Bijih Besi, kapasitas pengolahan, jumlah dan
jenis peralatan yang digunakan, pengangkutan lewat darat dan laut untuk
tujuan pemasaran, dan kondisi dermaga/pelabuhan untuk sarana
pemuatan mineral Bijih Besi.





Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 4

1.3.3 Deskripsi Kegiatan
Dari uraian tersebut di atas, maka kegiatan pekerjaan kajian akan berbagai
kondisi kegiatan penambangan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

A. Geologi Tambang
1. Tujuan
Kajian geologi tambang bertujuan mengevaluasi data geologi yang tersedia
baik yang lama maupun yang baru termasuk data bor sehingga dapat
digunakan untuk desain tambang.
2. Lingkup Pekerjaan
a. Kajian topografi/morfologi
b. Stratigrafi
c. Struktur geologi
d. Pemetaan penyebaran mineral Bijih Besi
e. Pemetaan ketebalan lapisan penutup di daerah tambang terbuka
f. Kondisi pit
g. Cadangan mineral Bijih Besi

B. Geoteknik
1. Tujuan
Pengujian geoteknik bertujuan untuk menentukan sifat fisik dan mekanik baik
batuan yang menyusun overburden, interburden dan batuan dasar maupun
lapisan mineral Bijih Besi. Hasil pengujian diperlukan untuk lanjutan
perancangan tambang terbuka terutama dalam penentuan geometri lereng.
2. Lingkup Pekerjaan
a. Pengujian geoteknik
- Pengujian sifat fisik
- Pengujian ultrasonik
- Pengujian kuat tekan uniaxial
- Pengujian geser langsung
b. Analisis kestabilan lereng

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 5

C. Hidrologi dan Hidrogeologi
1. Tujuan
Kajian hidrologi dan hidrogeologi bertujuan untuk menganalisis pengaruh air
tanah terhadap tambang, mempelajari fluktuasi muka air tanah dan
mempelajari karakteristik aquifer. Data ini dipergunakan sebagai masukan
untuk lanjutan perancangan sistem pengaliran tambang.
2. Lingkup Pekerjaan
a. Analisis data hidrologi dan hidrogeologi
b. Perancangan sistem pengaliran tambang yang sesuai dengan strategi
dan sistem penambangan yang direncanakan
D. Analisis Kualitas Mineral Bijih Besi
1. Tujuan
Analisis kualitas mineral Bijih Besi bertujuan untuk menentukan kualitas
lapisan-lapisan mineral Bijih Besi yang potensial untuk pengeboran. Data ini
sangat berguna untuk mengantisipasi permintaan pihak konsumen.
2. Lingkup Pekerjaan
a. Nilai kadar Fe
b. Kandungan Sulfur
c. Kandungan Aluminium
d. Kandungan Silica

E. Perencanaan Tambang
1. Tujuan
Perencanaan tambang terbuka bertujuan untuk melakukan penambangan
mineral Bijih Besi di batas elevasi yang masih menguntungkan.
2. Lingkup Pekerjaan
a. Evaluasi geometri lereng
b. Penentuan batas tambang baik ke arah lateral maupun vertikal
c. Perhitungan nisbah pengupasan
d. Perencanaan jadwal produksi

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 6

e. Perencanaan pembuangan tanah penutup
f. Perencanaan peralatan
g. Perencanaan peledakan

F. Transportasi
1. Tujuan
Kajian transportasi bertujuan untuk mengevaluasi pengangkutan tanah
buangan (overburden) dan mineral Bijih Besi masing-masing ke waste dump
area (WDA) dan stockpile pabrik pengolahan (crushing plant) beserta
pengangkutan mineral Bijih Besi dan pengolahan ke tujuan akhir atau
pelabuhan/shipment.
2. Lingkup Pekerjaan
a. Evaluasi kelayakan teknis jalur pengangkutan
b. Jadwal waktu pengangkutan
c. Evaluasi daya tampung waste dump area
d. Evaluasi daya angkut dump truck
e. Kajian finansial dan ekonomi setiap alternatif
f. Penentuan dan rancangan alternatif terpilih

G. Pengolahan Mineral Bijih Besi
1. Tujuan
Kajian pengolahan mineral Bijih Besi bertujuan untuk memisahkan mineral
berharga (Bijih Besi) dari pengotor (impurities) sebagai produk siap jual.
2. Lingkup Pekerjaan
a. Evaluasi kapasitas crushing plant
b. Jumlah crushing plant yang diperlukan
c. Kapasitas stockpile di crushing plant
d. Kapasitas stockpile siap jual di tujuan akhir atau pelabuhan




Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 7

H. Kelayakan Ekonomi
1. Tujuan
Kajian kelayakan ekonomi bertujuan untuk menilai kelayakan endapan
mineral Bijih Besi di daerah PT. ISCO Polman Resources secara ekonomi.

2. Lingkup Pekerjaan
a. Perencanaan organisasi dan tenaga kerja
b. Analisis pasar mineral Bijih Besi
c. Analisis ekonomi
d. Analisis finansial
e. Analisis ekonomi pasca penambangan dan reklamasi

1.3.4 Metode Studi

Metode studi yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut:
a. Pengamatan dan pengukuran lapangan
Morfologi lapangan dan singkapan mineral Bijih Besi
Jalur transportasi dan lain-lain
b. Penggunaan data primer
Percontohan geoteknik
Percontohan mineral Bijih Besi
c. Penggunaan data sekunder
Curah hujan
Data peralatan tambang
Data geologi dan eksplorasi
d. Asumsi
Bunga bank
Ekskalasi pendapatan dan biaya
Data peralatan tambang






Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 8

1.4 Pelaksana Studi
1.4.1 Pemrakarsa Kegiatan
Nama Perusahaan : PT. ISCO Polman Resources
Alamat Perusahaan : Jl. Budi Utomo No. 77 Polewali
Kelurahan Darma - Kecamatan Polewali
Kabupaten Polewali Mandar
Sulawesi Barat 91313
Penanggung Jawab : Taufik Surya Hidayat
Jabatan : Direktur Operasi
Lokasi Proyek : Desa Tapango - Kecamatan Tapango
Kabupaten Polewali Mandar
Provinsi Sulawesi Barat.
Bidang Usaha : Penambangan Mineral Bijih Besi

1.4.2 Penyusun Laporan
Nama Perusahaan : PT. ISCO Polman Resources
Alamat Perusahaan : Jl. Budi Utomo No. 77 Polewali
Penanggung Jawab : Ir. Yopie Lumoindong, DES, M.Si.
Jabatan : Ketua Tim
Lokasi Proyek : Desa Tapango - Kecamatan Tapango
Kabupaten Polewali
Provinsi Sulawesi Barat.
Bidang Usaha : Penambangan Mineral Bijih Besi
Telah membentuk tim penyusun/pelaksana untuk pekerjaan ini, dengan
susunan sebagai berikut:

Koordinator Tim : Ir. Yopie Lumoindong, DES, M.Si.
Tenaga Ahli Eksplorasi : Liu Shifu
Tenaga Ahli Geologi : Huang Jing Yi
Tenaga Ahli Tambang : Ir. Sakar Rasyid
Tenaga Ahli Pengolahan : Nuraeni ST, MT
Tenaga Ahli Geologi Teknik : Ir. Ilham ,S MT

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 9

Tenaga Ahli Hidrogeologi & Hidrologi : Ir. Syamsul Arifin Lias, M.Si
Tenaga Ahli Managemen/Keuangan : Ir. Yopie Lumoindong, DES, M.Si
Tenaga Ahli Lingkungan Fisika kimia : Ir. Daud Thana, M.Si
Tenaga Ahli Biologi : Drs. Ambeng, M.Si
Tenaga Ahli Soskesmas : Dr. Aty Uleng Hamid, M.Kes
Juru Gambar : M. Rezki Bages, ST.
Editor : Ilyas
Tenaga Administrasi : Mabrur

1.5 Waktu Studi
Studi kelayakan dalam rangka perkembangan Bijih Besi ini dilaksanakan
dalam jangka waktu lima bulan, dengan jadwal pelaksanaan pekerjaan seperti
tertera pada tabel 1.1.

Tabel 1.1
Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

No. Kegiatan
Bulan Ke-
I II III IV V
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Kajian Geologi
2. Kajian Geoteknik
3.
Analisis Kualitas
Mineral Bijih Besi

4.
Kajian Hidrologi &
Hidrogeologi

5.
Perancangan
Tambang Terbuka

6. Kajian Transportasi
7.
Kajian Kelayakan
Ekonomi

8.
Penyerahan Draft
Laporan

9. Presentasi
10. Perbaikan Laporan
11.
Penyerahan Laporan
Akhir











Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 10

1.6 Permohonan Izin
Studi kelayakan ini disusun sebagai salah satu syarat pengajuan permohonan
izin eksploitasi. Diharapkan hasil studi ini mendapat respon positif dari pihak
yang berwenang sehingga dapat melanjutkan ke tahap eksploitasi (operasi
produksi) sekaligus dapat menciptakan tambahan tenaga kerja baru, serta
akan berperan meningkatkan dukungan terhadap perekonomian. Khususnya
kepada masyarakat di sekitar lokasi tambang, perekonomian daerah serta
perekonomian negara pada umumnya.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 11


BAB 2
KEADAAN UMUM

2.1 Wilayah Kerja Pertambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources sampai pada tahap kajian kelayakan memiliki
areal seluas 1.501Ha (Berdasarkan Keputusan Bupati Polewali Mandar
No. 126 Tahun 2007 tentang pemberian Izin Kuasa Pertambangan Eksplorasi
kepada PT. ISCO Polman Resources), yang terletak di Desa Tapango,
Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat.

2.1.1 Lokasi Daerah Kajian
Lokasi daerah kajian (Gambar 2.1) terletak di antara 119
0
14 45 BT 119
0
19 00 BT dan 003
0
18 59 LS - 003
0
19 59 LS yang secara rinci sebagai
berikut:
Tabel 2.1
Lokasi Daerah Kajian
Titik Garis Bujur (BT) Garis Lintang (LS)
IP-01 119
0
14 45 003
0
18 59
IP-02 119
0
19 00 003
0
18 59
IP-03 119
0
19 00 003
0
19 59
IP-04 119
0
14 45 003
0
19 59









Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 12




Gambar 2.1
Peta Wilayah KP PT. ISCO Polman Resources
Tahap Kajian Kelayakan


2.1.2 Kesampaian Daerah Kajian
Secara geografis pada koordinat 003
0
18 59 LS - 003
0
19 59 LS dan 119
0

14 45 BT - 119
0
19 00 BT dengan luas keseluruhan sekitar 1.501Ha,
secara administratif lokasi penyelidikan termasuk dalam wilayah Desa
Tapango, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi
Sulawesi Barat. Lokasi penyelidikan berjarak sekitar 240km ke arah utara
Kota Makassar. Akses dari jalan utama ke arah jalan poros Makassar-
Mamuju hanya berjarak 9km berupa jalan kelas III. Dari lokasi prospek
Tapango ke lokasi rencana pelabuhan (Tanjung Mampie) sekitar 18km.






Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 13


Gambar 2.2
Kondisi Akses Jalan Tapango Menuju Poros Makassar - Mamuju


Gambar 2.3
Kondisi Akses Jalan Pengerasan Menuju Dermaga Tg. Mampie
Akses jalan menuju lokasi penyelidikan pada umumnya dapat dijangkau
dengan memakai kendaraan roda empat pada bagian selatan dan barat.
Sedangkan dalam lokasi penelitian sebagian daerah dapat dijangkau dengan
menggunakan kendaraan roda dua dan sebagian lagi hanya dapat ditempuh

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 14

dengan jalan kaki. Pemanfaatan lahan oleh masyarakat setempat pada
wilayah KP eksplorasi ini sebagian besar berupa perkebunan coklat.

2.1.3 Potensi Wilayah
Berdasarkan kondisi geografis dan bentang alamnya, maka sektor pertanian
dan perkebunan merupakan sektor yang dominan dalam kegiatan
pembangunan di wilayah Kecamatan Tapango. Hampir seluruh areal
dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan, mulai dari wilayah
pedataran hingga perbukitan. Dapat dikatakan bahwa kedua sektor tersebut
masih memberikan konstribusi terbesar dalam pembangunan di wilayah ini,
disamping sektor yang lain.
Disamping potensi pertanian dan perkebunan, wilayah ini juga memiliki
potensi pertambangan yang melimpah, namun sampai saat sekarang ini
potensi tersebut belum tersentuh dan dimanfaatkan. Pada wilayah eksplorasi,
disamping Bijih Besi sebagai primadona, masih terdapat bahan galian yang
lain seperti: Granit dan Tufa yang dapat diolah menjadi "building stone".
Bahan galian tersebut pada kenyataannya memiliki prospek pasar yang
bagus. PT. ISCO Polman Resources hadir di daerah ini untuk mengelola
potensi tambang Bijih Besi, agar dapat memberikan kontribusi dalam
pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

2.2 Geomorfologi
Daerah penelitian secara umum berada pada ketinggian 50-750meter di atas
permukaan laut (dpl) di bagian barat Kota Polewali. Kenampakan umum
morfologi daerah penelitian menunjukkan puncak-puncak bukit di bagian utara
dan melandai ke bagian selatan. Pembahasan morfologi daerah penelitian
meliputi pembagian satuan morfologi berdasarkan kenampakan dari
permukaan bumi dengan memperlihatkan beberapa faktor yang
mempengaruhi selama proses pembentukannya, sungai dan stadia daerah
penelitian.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 15

Morfologi daerah penelitian dapat dibagi menjadi 3 satuan geomorfologi
berdasarkan beda tinggi, antara lain yaitu Satuan Perbukitan Landai
Denudasional, Satuan Perbukitan Intrusi Curam, dan Satuan Perbukitan
Memanjang Sangat Curam.

2.2.1 Satuan Perbukitan Landai Denudasional
Satuan Perbukitan Landai Denudasional yang terbentuk akibat proses
peneplainisasi (erosional) dengan kemiringan lereng 8
0
11
0
, yang tersebar di
bagian barat memanjang kearah barat laut daerah penelitian. Pola aliran
sungai yang terbentuk merupakan pola aliran parallel pada anak Sungai Riso.

2.2.2 Satuan Perbukitan Intrusi Curam
Satuan Perbukitan Intrusi Curam terdapat pada bagian barat daya daerah
penelitian, di sekitar Buttu Talise dengan kemiringan lereng 25
0
51
0
. Pola
aliran sungai yang terbentuk merupakan pola aliran parallel pada stadium
sungai tahap muda (intermitten) yang hanya berair pada musin hujan.
Pemanfaatan lahan dipergunakan sebagai perkebunan coklat, maupun
palawija lainnya.


2.2.3 Satuan Perbukitan Memanjang Sangat Curam
Satuan geomorfologi Perbukitan Memanjang Sangat Curam menutupi bagian
tengah memanjang hingga ke timur daerah penelitian. Kemiringan lereng
berkisar 44-103 dengan pola aliran sungai yang berkembang berupa parallel
hingga sub-parallel. Satuan perbukitan ini dimanfaatkan juga sebagai lahan
perkebunan coklat dan palawija lainnya yang mendominasi terdapat di daerah
penelitian.
2.3 Iklim
Secara umum Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat
merupakan daerah yang beriklim tropika basah (tipe iklim A menurut
KOPPEN) yang pada musim kemarau masih terjadi hujan. Adapun jumlah
curah hujan dan hari hujan terlihat pada tabel 2.2.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 16

Suhu rata-rata berkisar antara 18 sampai 30, musim penghujan dari bulan
September sampai Februari dengan curah hujan rata-rata setiap tahun
berkisar antara 1800mm sampai 2000mm dengan rata-rata hari hujan setiap
tahun sekitar 120 hari. Kelembaban udara berkisar antara 50 sampai 55%,
musim kemarau sekitar bulan Maret sampai Agustus.

Tabel 2.2
Curah Hujan Dengan Hari Hujan Tahun 2006
No. Bulan
Tapango dan Sekitarnya
Curah Hujan Hari Hujan
1. Januari 379 19
2. Februari 244 14
3. Maret 294 12
4. April 106 13
5. Mei 212 9
6. Juni 15 2
7. Juli 14 4
8. Agustus 76 5
9. September 180 9
10. Oktober 117 8
11. Nopember 220 14
12. Desember 261 18
Rata-rata 176,5 10,6

2.4 Infrastruktur
Sarana-sarana infrastruktur yang terdapat di daerah penambangan berupa
sarana transportasi berupa jalan dan angkutan/kendaraan roda empat dan
roda dua, penerangan berupa listrik. Sarana pendidikan dari SD sampai SMP.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 17


BAB 3
GEOLOGI & ENDAPAN BIJIH BESI

3.1 Geologi dan Struktur Regional Daerah Penelitian
Daerah Polewali dan sekitarnya meliputi Formasi Latimojong (TK1) yang
berumur Kapur. Formasi batuan ini meliputi Serpih, Fillit, Rijang, Marmer,
Kwarsa dan Breksi terkersikkan serta beberapa intrusi menengah - hingga
basa. Di beberapa tempat terdapat intrusi yang terdiri dari Granit - Granodiorit
Sienit.
Geologi daerah penelitian termasuk dalam Lembar Majene dan bagian barat
Lembar Palopo. Secara geologi regional, tersusun oleh batuan Terobosan
(Tmpi) pada bagian timur, yang litologi umumnya batuan beku bersusun asam
sampai menengah, seperti Granit, Granodiorit, Diorit, Syenit, Monzonit,
Kwarsa, dan Rhytolit. Umurnya diduga Pliosen karena menerobos batuan
gunung api Waylimbong yang berumur Mio-Pliosen. Sedangkan bagian barat
daya disusun oleh satuan alluvium (Qa) berupa Lempung, Lanau, Pasir dan
Kerikil. Umurnya diperkirakan Holosen.

Bagian utara, selatan sampai timur disusun oleh batuan gunung api
Waylimbong (Tmpv), berupa lava bersusunan basalt sampai andesit,
sebagian Lava Bantal, Breksi Andasit Trachit, mengandung Feldspatoid di
beberapa tempat, diperkirakan diendapkan di lingkungan laut, diduga berumur
Mio-Pliosen karena menjemari dengan formasi skala yang berumur Miosen
tengah Pliosen, tebalnya ratusan meter. Umur diperkirakan Pliosen awal
sampai Miosen akhir.




Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 18

3.2 Pemetaan Geologi
Survei lapangan dilakukan oleh PT. ISCO Polman Resources. Pada beberapa
singkapan batuan yang dijumpai, terdapat beberapa lokasi ditemukannya
endapan lepas magnetit baik berupa stockworks maupun lepas-lepas
berukuran gravel hingga boulder. Bijih Besi yang ditemukan berwarna segar
hitam, pucat, warna lapuk hitam kecoklatan, kilap kusam, padat,
belahan/fracture concoidal, walaupun masih terdapat rekahan yang tupis,
streak/goresan hitam, sifat magnet sedang hingga kuat.
Batuan yang ditemukan di lapangan, pada umumnya didominasi oleh intrusi
Granodiorit, Diorite dengan kontak yang tegas pada satuan lava basalt yang
diterobosnya. Batuan Granodiorit ini dicirikan warna segar putih putih
keabuan, segar hingga terlapukkan kuat, faneritik, butiran medium coarse,
hypocristalin, fenokris kwarsa, amphibole, biotit, pyrite yang tersementasi oleh
silica yang tinggi, butiran equigranular, anhedral subhedral disekitarnya,
kontak yang tegas terhadap lava basalt maupun batuan Siltstone yang dilalui.
Batuan Granodiorit ini diperkirakan berasal dari magma andesitic yang
mengalami proses pendinginan/cooling magma. Pembentukan granodiorit ini
erat kaitannya dengan pembekuan lava andesitic tadi di permukan bumi, atau
mengalami proses cooling yang sangat cepat atau tiba-tiba setelah kontak
dengan batuan disekitarnya yang lebih dingin. Hal ini dapat terlihat dari
beberapa singkapan batuan yang ditemukan di lapangan, dimana terdapatnya
bekas/ jejak aliran seperti slicken sided pada tubuh batuan, yang diakibatkan
oleh luncuran massa batuan diatasnya. Pada singkapan batuan, semakin
kearah timur dan tenggara dijumpai granodiorit yang memiliki ukuran butir
yang lebih kasar dan kandungan kwarsa yang tinggi. Hal ini menandakan
bahwa semakin kearah tersebut mendekati terhadap sumber instrusi magma.
Batuan Granodiorit ini diperkirakan berasal dari zona intrusi dangkal
magmatis pada temperatur tinggi dan tekanan yang rendah. Sedangkan lava
basaltis yang ditemukan di lapangan, memiliki cirri fisik berwarna segar abu
hingga hitam, massif, segar hingga terlapukkan sedang, afanitik, kontak yang
tegas dengan granodiorit, glassy, setempat-setempat terdapat struktur
Columnar joint, Fenokris kwarsa, Pyrite, dalam masssa dasar yang

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 19

tersemenkan oleh Silica, Holohyalin, dan sering berasosiasi dengan endapan
Magnetit. Lava basaltis ini diperkirakan lebih dahulu terbentuk daripada
Granodiorit dan terobosan Granodiorit yang memiliki kandungan viskositas
magma lebih tinggi menyebabkan Lava basaltis ini tertransportasi ke
permukaan. Mineral Magnetit yang dominan ikut tertransport merupakan
bagian magma Basaltis yang miskin akan Silica, tetapi kaya akan unsure Fe,
terbawa bersama-sama dan terendapkan pada rekahan-rekahan, seperti Sill
dan Dyke.
Batuan Magnetit yang ditemukan berwarna segar abu-abu, sebagai batuan
yang sudah mengalami oksidasi memberikan warna lapuk abu-abu
kecoklatan sebagai Limonitic dengan sifat magnetisasi bervariasi rendah
sangat kuat atau tinggi, segar hingga terlapukkan sedang, pecahan
Concoidal, padat, streak hitam, kilap kusam, ditemukan sebagai endapan
stockwork maupun lepas-lepas pada beberapa lokasi.

3.3 Stratigrafi
Berdasarkan ciri fisik yang dijumpai di lapangan, maka litologi daerah
penelitian dapat dibagi menjadi 3 satuan batuan, yaitu:
1. Satuan Meta-sedimen
2. Satuan Vulkanik
3. Satuan Granit
3.3.1 Satuan Meta-Sedimen
Satuan ini menempati sekitar 20% di bagian timur-laut sampai utara daerah
penelitian dan membentuk morfologi perbukitan terjal. Umumnya tersingkap di
lereng-lereng bukit terjal dan terganggu oleh adanya struktur. Satuan ini
disusun oleh serpih yang termetamorfisme lemah dan setempat dijumpai
adanya sufficed rock.
Serpih menunjukkan kenampakan lapangan berwarna coklat sampai coklat
kehitaman, tekstur wastik halus, ukuran butir <1/256mm, tebal perlapisan

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 20

sekitar 20-40cm, struktur berlapis (kedudukan N45E), permeabilitas rendah,
porositas sedang, komposisi mineral berupa lempung dan oksida besi.
Setempat dijumpai proses silisifikasi dan proses backing effect terutama pada
zona kontak dengan batuan intrusi granit yang ada di daerah penelitian.
Oksida besi dan mineral-mineral yang kaya akan ferromagnesium lainnya
hadir akibat adanya proses hidrothermal yang dibawa oleh intrusi batuan beku
pada batuan disekelilingnya. Silicified dijumpai menunjukkan warna segar
coklat kemerahan, umumnya dijumpai pada zona struktur dan kontak dengan
batuan intrusif, struktur non-foliasi, komposisi mineral kwarsa, umumnya
dijumpai dalam bentuk bongkah- bongkah. Satuan ini merupakan bagian dari
Formasi Latimojong (Kls) yang berumur Kapur berdasarkan hasil penelitian
dari Djuri & Sudjatmiko, 1998.

3.3.2 Satuan Vulkanik
Satuan ini dapat dijumpai di bagian barat memanjang sampai ke barat laut
dan menempati sekitar 30% daerah penelitian. Kondisi singkapan pada
umumnya mengalami pelapukan terutama di bagian permukaan. Disusun oleh
tufa dan intrusi andesit dengan kenampakan lapangan menunjukkan warna
segar coklat kekuningan dan putih keabu-abuan apabila lapuk, tekstur
vulkanikasi, struktur berlapis, komposisi mineral berupa material vulkaniklasi,
feldspar~plagioklas dan biotit. Dijumpai mineralisasi mineral yang bersifat
ferromagnesiun seperti Bijih Besi dan Hematit dalam jumlah sedikit yang
terkandung dalam veins kwarsa terutama di zona-zona kontak batuan intrusif.
Umur satuan batuan ini adalah Miosen - Pliosen yang didasarkan pada peta
geologi regional (Djuri, dkk, 1974).

3.3.3 Satuan Granit
Satuan Granit menempati hampir sekitar 50% dari luas daerah penelitian,
memanjang di bagian utara sampai selatan dan barat yang membentuk
satuan morfologi perbukitan bergelombang. Bersifat intrusif dengan jenis dike
yang memotong perlapisan batuan sedimen disekitarnya. Kenampakan fisik
berwarna coklat hingga kuning kecoklatan berstruktur non-foliasi. Secara

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 21

petrologi Granit yang dijumpai terbagi menjadi beberapa macam antara lain
granit-biotit dan granit.
Mineral ubahan yang dijumpai setempat berupa mineral lempung dan klorit
yang berasal dari plagioklas serta biotit dan sebagian telah berubah menjadi
oksida besi. Kondisi singkapan Granit umumnya lapuk, terutama pada bagian
selatan. Granit biotit banyak tersebar di daerah selatan dengan warna
umumnya abu-abu, sedangkan untuk Granit dijumpai hampir di semua daerah
penelitian yang menunjukkan variasi warna abu-abu dan abu-abu kemerahan.
Komposisi Granit Biotit disusun oleh mineral Kwarsa, Orthoklas Plagioklas,
Piroksin dan Biotit yang melimpah, serta beberapa mineral-mineral alterasi
lainnya mempunyai tekstur afanitik sampai porfiritik. Banyak dijumpai dalam
bentuk bongkah-bongkah dengan ukuran hingga 3meter. Granit disusun oleh
dominan Orthoklas, Kwarsa, Plagioklas Biotit, Piroksin dan di beberapa
tempat khususnya di sekitar zona-zona struktur banyak dijumpai mineral-
mineral hasil alterasi. Selain itu juga dijumpai vein-vein atau urat-urat kwarsa
yang menunjukkan struktur khusus berupa vug dan comb. Struktur khusus ini
terdapat pada batuan Granit yang berada di zona struktur, terutama mengisi
kekar-kekar. Batuan beku yang bersifat lebih basa seperti basalt dijumpai
setempat dalam bentuk sill, juga di daerah-daerah zona struktur. Pada
beberapa block Granit banyak dijumpai Xenolith dengan komposisi basaltik
serta proses silisifikasi.

3.3.4 Satuan Alluvium
Dijumpai dalam bentuk endapan sungai berupa pasir hingga bongkah. Kondisi
endapan berwarna abu-abu dan hitam, berukuran pasir dan batu (seperti
berukuran kerikil, kerakal dan bongkah. Jenis material terdiri dari Granit, Bijih
Besi, Aplit dan Batuan Riolitik).


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 22



Gambar 3.1
Peta Geologi Regional

3.4 Struktur Geologi
Perkembangan struktur geologi daerah eksplorasi Tapango sangat
dipengaruhi oleh struktur regional yang berkembang di daerah lengan barat
Pulau Sulawesi. Hal ini dapat dilihat pada pola perkembangan struktur geologi
yang telah terpetakan secara regional pada Peta Geologi Lembar Majene dan
Bagian Barat Lembar Palopo Sulawesi Selatan (Djuri dan Sudjatmiko, 1974).

Perkembangan struktur geologi pada daerah eksplorasi dan sekitarnya dapat
teramati terutama dari gejala-gejala deformasi batuan dan kenampakan

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 23

bentang alam ekstrim yang dihasilkan. Gejala deformasi batuan yang
dimaksud berupa perlipatan (folding), pengkekaran (jointing), penggerusan,
breksiasi, orientasi bidang sesar, orientasi zona hancuran batuan, dan
sebagainya. Sedang gejala kenampakan bentang alam ekstrim yang
dimaksud berupa pelurusan bentang alam, orientasi dan penjajaran gawir-
gawir sesar, undak-undak perbukitan, perkembangan pola aliran sungai dan
sebagainya. Berdasarkan gejala-gejala tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa struktur geologi yang berkembang pada daerah eksplorasi berupa
perlipatan (folding), pengkekaran (jointing) dan atau pensesaran batuan
(faulting).
Struktur kekar yang umum dijumpai pada daerah eksplorasi dapat
diklasifikasikan dalam jenis kekar-kekar gerus (shear joint) yang umumnya
sistematis dengan arah tegasan utama relatif timur barat, spasi kekar berkisar
antara 10-50cm dengan lebar bukaan antara 1-10mm. Pada beberapa tempat
bukaan kekar-kekar tersebut telah mengalami pengisian dalam bentuk urat-
urat halus Kwarsa (veinlet) dan sebagian dalam bentuk retas-retas Aplite.
Sesar-sesar yang berkembang pada daerah eksplorasi umumnya berupa
sesar-sesar mendatar (transform fault) dan sesar-sesar normal (normal fault).
Indikasi sesar mendatar yang dapat teramati berupa orientasi zona breksiasi,
bidang sesar, steriasi pada batuan, serta orientasi zona-zona hancuran.
Sedang pada sesar normal diindikasikan oleh kenampakan bidang-bidang
sesar yang relatif tegak, gawir sesar, dan undak-undak batuan. Arah umum
pergerakan dari sesar-sesar mendatar relatif timur laut barat daya dan
kebanyakan berkembang sebagai daerah aliran sungai berpola denrito-
rektangular.

3.5 Mineralisasi Jebakan Bijih Besi
3.5.1 Pendekatan Teoritis
Pada umumnya jenis endapan logam terbentuk karena proses mineralisasi
yang diakibatkan oleh aktivitas magma. Pembentukan mineral tersebut terjadi

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 24

baik pada batuan beku sebagai batuan induknya maupun pada batuan
samping yang ikut terpengaruh karena proses magmatisme tersebut.
Selama pergerakan magma ke permukaan, maka proses diferensiasi,
asimilasi dan kristalisasi akan berlangsung seiring dengan perubahan
temperatur pada tubuh magma yang kemudian diikuti oleh proses
pembekuan. Jenis-jenis batuan beku yang terbentuk masing-masing didirikan
oleh komposisi mineral yang berbeda sesuai dengan komposisi magma dan
temperatur pembekuannya. Karena proses diferensiasi magma yang terjadi,
maka jenis dan komposisi mineral yang terbentuk bisa terdiri dari berbagai
macam mineral logam maupun non-logam.
Proses pembentukan jebakan mineral logam karena diferensiasi magma
secara umum digambarkan oleh Alan M. Bateman (1951) dalam tiga stadium
sebagai berikut:
- Stadium Likwido Magmatis ( > 600C ). Stadium ini merupakan awal
pembentukan mineral-mineral baik logam maupun non-logam yang
dicirikan oleh terjadinya pemisahan unsur-unsur kurang votatil berupa
mineral-mineral silica. Dengan penurunan temperatur yang berlangsung
terus-menerus, maka kecepatan pembentukan mineral berikutnya
dicirikan oleh unsur-unsur yang lebih volatil pada kondisi tekanan yang
semakin besar. Jebakan mineral yang terbentuk pada stadium ini
disebut jebakan magmatis.

- Stadium Pegmatitis-Pneumatolitis (600C - 450C). Pada stadium ini
terjadi pemisahan yang luar biasa dan unsur-unsur volatil larutan sisa
magma pada kondisi tekanan yang cukup besar. Larutan sisa magma ini
sebagian menerobos batuan yang telah ada melalui rekahan dan
kemudian membentuk jebakan pegmatis. Setelah temperatur mulai
menurun (550C - 450C), akumulasi gas mulai membentuk mineral.
Pada penurunan temperatur selanjutnya, volume unsur volatil semakin
menurun dan membentuk endapan mineral yang disebut jebakan
pneumatolitis atau jebakan metasomatis kontak dan tinggallah larutan
sisa magma yang sangat encer.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 25

- Stadium Hydrothermal (450C-350C), merupakan stadium terakhir
dimana keadaan larutan sisa magma sangat encer. Pada stadium ini
tekanan gas menurun secara cepat dan setelah mencapai temperatur
kritis air ( 372C), mulailah terbentuk jebakan hidrothermal. Proses
pembentukan mineral berlangsung terus sampai mencapai tahap akhir
pembekuan semua larutan sisa magma (100C-50C).

3.5.2 Pendekatan Genetik Jebakan
Keterdapatan mineralisasi berupa jebakan Bijih Besi pada daerah eksplorasi
Tapango diperkirakan sangat berhubungan atau berasosiasi dengan aktivitas
volcanic-intrusive selama terjadinya injeksi magmatisme dan proses
pembentukan batuan berlangsung. Dari asosiasi batuan yang terbentuk dan
tersingkap di daerah eksplorasi, serta indikasi mineralisasi dan hasil ubahan
batuan yang ditimbulkan menunjukkan bahwa terbentuknya jebakan
mineralisasi tersebut diperkirakan berhubungan erat dengan pembentukan
batuan plutonik granit.

Batuan intrusi granit yang tersingkap dan melampar sangat luas pada daerah
eksplorasi dan sekitarnya diperkirakan merupakan sebuah massa plutonik
besar yang keberadaannya juga berhubungan atau merupakan bagian dari
proses pembentukan pegunungan di kawasan ini. Karena proses tektonik dan
erosi yang berlangsung terus-menerus, massa plutonik ini kemudian
tersingkap ke permukaan yang kemudian disebut dengan tubuh batholit
granit.
Berdasarkan posisi penempatan zonasi mineralisasinya, menunjukkan bahwa
jebakan Bijih Besi pada daerah eksplorasi Tapango memperlihatkan suatu
karakteristik endapan tipe greisen yang secara genetik terbentuk pada tubuh
batuan beku plutonik sebagai batuan induk atau batuan sumber (source rock).
Penyebaran endapan tersebut dijumpai setempat-setempat (sporadis),
dimana umumnya menempati dan tersingkap pada bagian punggungan-
punggungan bukit yang diperkirakan merupakan bagian atap dari tubuh batolit
granit atau menyerupai roof pendant.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 26

Indikasi mineralisasi yang dijumpai terutama berupa tubuh bijih (ore body)
yang sangat kompak atau dikenal dengan endapan bijih massif (massive ore).
Endapan ini umumnya dicirikan oleh tekstur yang kasar - sangat kasar,
dimana komposisi mineral utama terdiri dari magnetit yang saling tumbuh
bersama (intergrowth) dengan hematite. Kandungan minor minerals lainnya
yang dijumpai dalam persentasi sangat kecil terutama terdiri dari copper
minerals (malacite dan azurite), serta kwarsa yang umumnya hadir dalam
bentuk urat-urat halus - sangat halus (veinlet dan microveinlet). Bentuk
endapan secara umum memperlihatkan kesan menyerupai lapisan/layer
(stratiform) ataupun bentuk melensa (fensis) dengan ketebalan bervariasi
antara 0,25-2,4meter, kadang-kadang memperlihatkan struktur crustified,
banded dan comb yang umumnya berasosiasi dengan kehadiran mineral
silica.

Kondisi endapan seperti ini secara genetik sangat dipengaruhi oleh proses
segregation, dimana mineralisasi logam terakumulasi dan terkumpul pada
tempat-tempat tertentu, terutama pada zona rekahan maupun zona-zona
lemah lainnya yang terdapat pada tubuh batuan plutonik ataupun pada
batuan samping (country rock). Proses segregation pada mineral-mineral
logam dapat saja terjadi selama differensiasi magma berlangsung atau saat
terjadinya injeksi larutan sisa magma pada kondisi temperatur dan tekanan
cukup tinggi. Kondisi seperti ini sangat mungkin terjadi dimana diferensiasi
magma berada pada stadium pegmatitis-pneumatolitis.

Kehadiran copper minerals dan minor minerals lainnya yang hadir sebagai
gangue dalam tubuh bijih (ore body) dapat disebabkan oleh proses ubahan
(alteration) ataupun proses penggantian/subsitusi mineral (replacement) yang
terjadi selama injeksi larutan sisa magma berlangsung. Pada kondisi tersebut
diperkirakan komposisi larutan sisa magma akan semakin asam dengan
komponen utama terdiri dari unsur-unsur volatil berupa gas dan uap. Unsur-
unsur volatil tersebut akan bergerak menerobos batuan plutonik granit yang
telah ada, serta batuan samping di sekitarnya (Serpih dan Riolitik). Unsur-
unsur tersebut akan membentuk mineral baik karena proses sublimasi dari
gas dan uap yang dikandungnya atau karena reaksi yang terjadi antara unsur

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 27

volatil tersebut dengan batuan yang diterobosnya, termasuk tubuh bijih (ore
body) yang telah terbentuk sebelumnya. Proses sublimasi ataupun reaksi
yang terjadi bisa saja menyebabkan terjadinya mineralisasi atau
pembentukan jebakan mineral baru yang disertai dengan terjadinya alteration
dan replacement pada mineral-mineral yang telah terbentuk. Jebakan mineral
yang terbentuk oleh proses sublimasi dan reaksi unsur volatil (gas dan uap)
tersebut dikenal dengan endapan pneumatolitis atau metasomatis kontak.
Selain gejala ubahan dan penggantian mineral, indikasi endapan metasomatik
kontak pada daerah eksplorasi Tapango dapat teramati dari perkembangan
mineralisasi dan ubahan batuan yang terjadi, khususnya pada aliran lava
riolitik yang berumur lebih muda.
Perkembangan mineralisasi dan ubahan batuan tersebut dijumpai setempat-
setempat (sporadis) dan umumnya dijumpai pada zona-zona kontak antara
aliran lava riolitik dengan tubuh bijih (ore body). Gejala mineralisasi yang
dijumpai umumnya dalam bentuk hamburan (disseminated) ataupun dalam
bentuk urat-urat halus (microveinlet), sedang gejala ubahan batuan umumnya
dijumpai dalam bentuk batuan tersilisifikasi.
Gejala mineralisasi dan ubahan batuan tersebut diperkirakan sangat
berhubungan dengan terjadinya injeksi larutan sisa magma akhir yang
kemudian membentuk retas-retas aplite maupun perlite dalam bentuk urat-
urat dyke. Retas-retas tersebut umumnya dijumpai memotong secara vertikal.

Semua batuan yang telah terbentuk sebelumnya, termasuk batuan Plutonik
Granit, aliran Lava Riolitik, maupun Serpih. Tidak dijumpainya gejala
mineralisasi logam pada tubuh retas-retas aplite maupun pertite menunjukkan
bahwa mineralisasi yang berkembang secara sporadis pada aliran lava riolitik
merupakan hasil reaksi yang terjadi antara unsur-unsur volatile dengan tubuh
bijih (ore body) yang diterobosnya. Akibat reaksi tersebut, kandungan unsur-
unsur logam yang ikut larut bersama unsur-unsur volatil akan terus bermigrasi
dan kemudian diendapkan dalam tubuh aliran Lava Riolitik yang berada di
atasnya. Gejala ini dapat diamati dengan jelas pada setiap zona-zona kontak
antara aliran Lava Riolitik dengan jebakan tubuh bijih (ore body), dimana

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 28

mineralisasi dan ubahan batuan dalam bentuk silicified hanya berkembang
pada zona-zona kontak tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diinterpretasikan bahwa terbentuknya
jebakan mineralisasi Bijih Besi pada daerah eksplorasi Tapango sangat
dipengaruhi oleh proses diferensiasi dan segregasi selama terjadinya injeksi
larutan sisa magma pada stadium pegmatitis-pneumatolitis atau metasomatis
kontak.

3.6 Sumber Daya Bijih Besi
3.6.1 Perhitungan Cadangan
Perhitungan cadangan dilakukan berdasarkan hasil pemetaan geologi Bijih
Besi yang dijumpai di lapangan, geomagnet, pendugaan dan pemboran inti.
Perhitungan cadangan berdasarkan hasil geologi adalah berdasarkan hasil
pengukuran endapan yang berupa ketebalan tersingkap dan penyebarannya
ke arah lateral. Sedangkan perhitungan cadangan berdasarkan hasil
pendugaan geomagnet, geolistrik dan pemboran ditentukan berdasarkan hasil
endapan yang terletak di permukaan dan di bawah permukaan (berdasarkan
penampang bawah permukaan).

Hasil pemetaan geologi dan pengukuran topografi menunjukkan bahwa luas
sebaran endapan pada wilayah Reamambu (yang kemudian dikenal sebagai
zona 1) dan sekitarnya mencapai luas 127,3Ha, dihitung dari batas utara
wilayah Kuasa Pertambangan (KP) ke arah selatan selebar 2.282,8meter, dan
panjang 2.853,5meter. Sedangkan endapan Bijih Besi yang tersingkap di
lereng selatan zona 1 ketebalannya mencapai 1-4,5meter, dengan arah
penyebaran N95
0
E (relatif timur-barat). Sedangkan endapan lain yang
dijumpai di permukaan diperkirakan sebagai bongkah-bongkah hasil
pelengseran dari urat bijih yang tersingkap di permukaan. Berdasarkan data
tersebut, maka cadangan endapan Bijih Besi pada wilayah eksplorasi
mencapai 5.000.000ton.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 29

Hasil pendugaan geomagnetic, dapat disimpulkan bahwa secara geologi
terdapat 2 (dua) zona keterdapatan Bijih Besi, yaitu zona 1 dan zona 2
dengan keterangan sebagai berikut:
Zona-1:
- Terdiri dari 2 lapisan/layer:
o Lapisan ke-1 dengan lebar/ketebalan = 4,5meter
o Lapisan ke-2 dengan lebar/ketebalan = 1,5meter
- Perkiraan panjang total adalah 900meter membentang dari timur ke
barat
- Perkiraan kedalaman > 200meter
Zona-2:
- Terdiri dari 2 lapisan/layer:
o Lapisan ke-1 dengan lebar/ketebalan = 1,5meter
o Lapisan ke-2 dengan lebar/ketebalan = 1,2meter

Gambar 3.2
Hasil Studi Geologi PT. ISCO Polman Resources
Keterdapatan Zona 1 dan Zona 2


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 30

Zona pertama terletak di wilayah Reamambu dengan luas penyebaran
mencapai 114,91Ha, dengan ketebalan rata-rata sebesar 4meter. Dengan
demikian jumlah cadangan pada zona ini mencapai 3.447.205ton. Pada
zona kedua terletak pada wilayah Talise (yang kemudian dikenal sebagai
zona 2) bagian tengah yang prospek dengan luas penyebaran mencapai
115,02Ha, dengan ketebalan rata-rata sebesar 4,9meter. Dengan demikian
jumlah cadangan pada zona ini adalah sebesar 1.552.795,03ton (berat jenis
Bijih Besi 4,5-5,3).

Hasil pemboran diperoleh data bentuk endapan di bawah permukaan.
Pemboran ini sampai dengan kedalaman 130m. Lubang bor yang
menunjukkan tubuh Bijih Besi seperti dalam tabel berikut.
Untuk keperluan perhitungan cadangan, maka di buat penampang dari titik
bor tersebut, seperti terlihat di bawah ini.

Dari perhitungan cadangan dengan menggunakan metode penampang, maka
didapat jumlah cadangan sebesar 2.916.160,52ton dengan berat jenis
4,5-5,3.

3.6.2 Cadangan Bijih Besi Tertambang (Mineable Reserves)
Perhitungan cadangan tertambang menggunakan sistem penampang dengan
jarak antar penampang 50 dan elevasi ke arah dow dip yang dihitung sampai
-30m. Berdasarkan kajian lapangan di daerah prospek diketemukan beberapa
endapan Bijih Besi yang tidak dapat dieksploitasi karena faktor lingkungan,
keamanan, dan ada pula yang disebabkan oleh karena faktor kurang
ekonomis. Oleh karena itu, jumlah perhitungan cadangan Bijih Besi terukur
perlu direvisi. Adapun cadangan Bijih Besi yang tidak termasuk dalam
rencana penambangan berjumlah 357.819,09ton sehingga cadangan Bijih
Besi yang telah terkoreksi sebanyak 2.558.341,40ton. Cadangan Bijih Besi ini
akan dijadikan acuan utama untuk keperluan sebagai proses pengkajian
teknis dan non-teknis.



Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 31

3.7 Rencana Penambangan
Berbagai kajian dan aspek teknis geologi memberikan gambaran tentang
kondisi Bijih Besi yang akan ditambang. Direncanakan areal yang akan
dibuka adalah seluas 229,93Ha dengan jumlah block sebanyak 8 block
dengan pembagian tiap block menjadi jenjang-jenjang. Ketinggian tiap
panjang 10 meter dan lebar 10meter. Kemiringan sudut lereng overall 39.5,
permukaan atap (top) dan permukaan bawah (floor) dianggap horizontal,
sehingga bentuknya seperti prisma terpancung (terbalik). Luas permukaan
atas dan luas permukaan bawah dari masing-masing block adalah sebagai
berikut:

Tabel 3.1
Luas Bukaan Tambang
No. Tahun Block Luas Bukaan (Ha)
1. 2011 1 1,862
2. 2012 2 2,042
3. 2013 3 2,185
4. 2014 4 2,400
5. 2015 5 2,724
Total 11,213

Dari keterangan tersebut di atas, maka wilayah yang akan mengalami
perubahan secara ekologis adalah seluas 11,213Ha. Cadangan Bijih Besi
yang akan dieksploitasi sebanyak 5.000.000ton dengan tanah penutup
(overburden) sejumlah 7.239.130,42BCM. Rencana produksi tahun pertama
yaitu akhir tahun 2011.
3.8 Kualitas Bijih Besi
Kajian kualitas Bijih Besi didasarkan pada hasil-hasil analisis laboratorium
terhadap beberapa parameter kualitas Bijih Besi. Parameter kualitas yang
dianalisis adalah analisis Fe total, Fe
2
O
3
, Al
2
O
3
, SiO
2
, TiO
2
, V
2
O
5
, MgO, CaO,
Sulfur. Di samping itu dilakukan pula analisis SG.




Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 32

3.9 Kajian Hidrogeologi
Kajian hidrogeologi bertujuan mengindentifikasikan lapisan aquifer atau
lapisan pembawa air tanah yang berpotensi mempengaruhi kegiatan
penambangan. Analisis tentang kondisi hidrogeologi daerah tambang
didasarkan pada data litologi, karakteristik batuan dan struktur geologi.
Diasumsikan lapisan-lapisan batuan adalah berjajar dengan kemiringan rata-
rata 15 ke arah selatan. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa
diantara batuan-batuan tersebut hanya batu pasir memiliki porositas 13-14%,
Diperkirakan batu pasir di wilayah ini bertindak sebagai aquifer, akan tetapi ia
memiliki kuat tekan antara 6-27MPa. Karena pit-pit di gali ke arah jurus
lapisan, maka lereng pit yang memiliki lapisan batu pasir akan selalu basah
karena rembesan air.
Lapisan-lapisan ini kemiringannya ke arah barat sehingga dampak rembesan
air sangat berpeluang di bagian dinding pit sebelah timur. Untuk menangani
rembesan air tanah tersebut disarankan untuk membuat penyaluran pada
lereng-lereng galian.

3.10 Curah Hujan
Untuk memahami karakteristik curah hujan di daerah kajian akan digunakan
data hasil pengukuran hujan dari berbagai stasiun hujan yang terletak di
sekitar daerah kajian.
Berdasarkan dari data tersebut dapat disimpulkan karakteristik curah hujan
sebagai berikut:
Curah hujan tahunan antara 12mm sampai 579mm dengan hari hujan
berkisar antara 4 hari sampai 17 hari.
Curah hujan tahunan rata-rata adalah 168,5mm. Bulan Januari - Maret
dan Nopember - Desember merupakan bulan-bulan basah dengan
curah hujan di atas 200mm.

Karakteristik hujan di atas akan digunakan sebagai masukan dalam
perencanaan tambang terbuka.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 33

3.11 Intensitas Hujan
Sarana penyaliran tambang pada dasarnya berfungsi mengatasi masalah-
masalah yang ditimbulkan oleh hujan jangka pendek, atau oleh suatu kejadian
hujan yang akan mempengaruhi kegiatan penambangan.
Oleh karena itu sarana penyaliran tambang dirancang untuk dapat mengatasi
kondisi ekstrim yang mungkin terjadi selama umur sarana tersebut. Curah
hujan jangka pendek dinyatakan sebagai intensitas hujan. Di wilayah
penyelidikan, seperti umumnya daerah tropis, jenis hujan yang terjadi pada
umumnya adalah hujan konvektif yang mempunyai ciri intensitas tinggi dan
durasi hujan pendek. Penentuan intensitas hujan ekstrim yang dapat
digunakan sebagai intensitas hujan rencana (design rainfall intensity) untuk
sarana penyaliran tambang, diperlukan data hasil pengukuran dengan alat
pengukur otomatis. Jika hal ini tidak tersedia, maka penentuan intensitas
hujan rencana diperkirakan dari data curah hujan harian.
Berdasarkan data intensitas hujan untuk bulan Januari mencapai 379mm dan
untuk bulan Desember mencapai 261mm dengan pertimbangan bahwa kedua
bulan tersebut dapat mewakili bulan-bulan basah, maka untuk keperluan
perancangan digunakan intensitas hujan, rencana sebesar 60mm/jam dengan
durasi hujan 30-60menit.

3.12 Penyaliran Tambang
Tambang Bijih Besi akan membentuk cekungan (pit), maka operasi
penambangan akan selalu dihadapkan pada masalah air. Air tersebut dapat
berupa air tanah, air sungai maupun air hujan. Jika daerah penambangan
tergenang air, maka alat-alat akan sulit beroperasi dengan baik, demikian
pula kemantapan lereng juga akan terganggu bila lereng selalu dalam
keadaan basah. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu sistem
penyaliran yang baik.
Berdasarkan kajian hidrogeologi diketahui bahwa air tanah tidak akan
mempengaruhi daerah penambangan. Air hujan dan air dari aliran sungai

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 34

akan ditangani dengan cara mengalihkan aliran yang mungkin masuk ke
tambang ke lokasi lain yang lebih rendah.
Masalah air hujan ditangani dua cara yaitu:
a. Air hujan yang jatuh di luar pit di usahakan semaksimal mungkin tidak
mengalir ke dalam pit dengan membuat paritan atau saluran sekeliling
pit atau di lereng pit untuk mengalirkan air ke daerah yang lebih rendah.
b. Air yang jatuh ke dalam pit akan ditangani dengan menggunakan sistem
penyaliran open sump. Ini adalah suatu metode penyaliran dengan
membuat sumuran (sump) di elevasi terendah daerah penambangan
(lantai tambang), kemudian air dalam sumuran dialirkan ke luar pit.
Tempat penyaliran open sump ini dilakukan dengan cara membuat
paritan di dekat jenjang (toe) untuk mengalirkan air menuju ke sumuran
serta mencegah genangan air di daerah jenjang. Paritan dan sumuran
bersifat sementara yang berubah kedudukannya sesuai dengan
kemajuan penambangan. Agar daerah penggalian tidak tergenang air
maka elevasi sumuran dibuat lebih rendah dari elevasi daerah
penggalian sehingga semua air akan mengalir ke dalam sumuran.
Selain itu agar kemantapan lereng tidak terganggu, maka lantai jenjang
di buat miring dan pada sisi jenjang di buat paritan. Paritan ini akan
mengalirkan air langsung ke luar daerah tambang. Semua air dari
aktifitas penambangan akan dialirkan ke dalam kolam pengendap
sebelum dialirkan ke sungai-sungai di sekitar daerah tambang.
Perhitungan debit air yang masuk daerah tambang dilakukan dengan metode
rasional dengan menggunakan rumus:

Q = 0,278 x C x I x A
Keterangan :
Q = Debit limpasan (m
3
/det)
C = Koefisien limpasan (untuk daerah tambang = 0,9)
I = Intensitas hujan (mm/jam, 60mm/jam)
A = Luas daerah tangkapan atau catchment area (km
2
)


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 35

Dengan perhitungan tersebut, maka kebutuhan penyaliran dan volume
penggalian yang perlu dilakukan setiap tahun dapat dilihat pada tabel di
bawah ini :

Tabel 3.2
Perhitungan Debit Saluran
Dengan Slope 60 (Tahun 1 Block I)
Iterasi Kecepatan
Aliran pada
Saluran (V~m/dt)
0,20 0,30 0,40 0,50 0,60
T 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000
I 25,431 25,431 25,431 25,431 25,431
Qr= 0,0034 I 0,0244 0,0244 0,0244 0,0244 0,0244
y = (0,56137. V)
3/2
0,0376 0,0691 0,1064 0,1487 0,1955
QS= V. y2 3
0,0005 0,0025 0,0078 0,0192 0,0397
Rechecking : Qr = Qs No! No ! No! No! = 0k!



Tabel 3.3
Perhitungan Debit Saluran
Dengan Slope 60 (Tahun 2 Block 2)
Iterasi Kecepatan
Aliran pada
Saluran (V~m/dt)
0,50 0,60 0,70 0,80 0,90
T 1,1500
I 25,4313 25,4313 25,4313 25,4313 25,4313
Qr= 0,0034 I 0,0396 0,0396 0,0396 0,0396 0,0396
y = (0,56137. V)
3/2
0,1487 0,1955 0,2463 0,3010 0,3591
QS= V. y2 3
0,0192 0,0397 0,0736 0,1255 0,2010
Rechecking : Qr = Qs No! No ! No! No! = 0k!


Tabel 3.4
Perhitungan Debit Saluran
Dengan Slope 60 (Pit 5 Block I)
Iterasi kecepatan
aliran pada
saluran (V~m/dt)
0,50 0,60 0,70 0,80 1,1952
T 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000
I 25,431 25,431 25,431 25,431 25,431
Qr= 0,0034 I 0,0488 0,0488 0,0488 0,0488 0,0488
y = (0,56137. V)
3/2
0,1487 0,1955 0,2463 0,3010 0,3591
QS= V. y2 3
0,0192 0,0397 0,0736 0,1255 0,2010
Rechecking : Qr = Qs No! No ! No ! No ! No !



Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 36

3.13 Geoteknik Tambang
Penyelidikan geoteknik untuk mendukung kegiatan operasional penambangan
Bijih Besi dengan sistem penambangan terbuka (open pit) bertujuan untuk
mendapatkan gambaran mengenai kemiringan lereng galian yang dapat
meminimalkan timbulnya longsoran dari dinding galian. Data yang diperlukan
untuk penyelidikan ini adalah sebagai berikut:
A. Data Lapangan
1) Susunan batuan
Susunan batuan pembentuk Iereng yang didapat dari data hasil
pemboran inti.
2) Struktur lapisan batuan
Struktur lapisan batuan agak kompak akibat pengaruh tektonik namun
ada beberapa memiliki rekahan-rekahan dan kekar yang disebabkan
oleh patahan dan sesar.
B. Hasil Pengamatan Bor dan Sampel Untuk Uji Laboratorium
1) Pemboran
Jumlah pemboran geoteknik untuk saat ini sebanyak 3 titik.
2) Jumlah sampel untuk uji laboratorium
Pengujian kondisi fisik, mekanik dan analisis batuan dilakukan
dengan mengacu kepada standar baku yang diakui secara umum.
Jumlah sampel yang dianalisis di laboratorium sebanyak 3 sampel
yang terdiri dari tanah dan Granit.
C. Hasil Uji Coba dan Analisis Laboratorium
1) Hasil Uji Sifat Fisik
Jenis pengujian yang dilakukan di laboratorium, meliputi uji sifat dasar
dan sifat keteknikan. Sifat dasar atau indeks digunakan untuk
menentukan klasifikasi dan perilaku tanah atau batuan. Adapun
rincian jenis pengujian tersebut, adalah sebagai berikut:
- Pengujian sifat fisik dasar (basical properties), antara lain: kadar
air (water content), berat isi asli (bulk density), berat isi kering

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 37

(dry density), berat isi jenuh (saturated density), porositas
(porosity) dan derajat kejenuhan (saturated).
- Pengujian sifat indeks/perilaku (index properties), diperlukan
untuk menentukan batas-batas Atterberg (consistensy) dan
distribusi butir (grain size).
2) Hasil Uji Sifat Mekanik
Uji sifat mekanik atau keteknikan diperlukan untuk mengetahui
ketahanan tanah atau batuan di bawah tekanan statik atau dinamik.
Untuk tekanan searah atau 1 (satu) dimensi digunakan uji kuat tekan
atau Unconfined Compressive Strength. Untuk dua dimensi adalah uji
geser langsung dan tegangan tiga dimensi adalah uji triaxial. Untuk uji
geser langsung akan menghasilkan nilai c (kohesi) dan (sudut
geser dalam).
3) Hasil Uji Analisis Kekuatan Batuan
Kekuatan batuan (rock strenght) mencerminkan kekerasan batuan
tersebut menerima tekanan atau beban. Nilai kekuatan batuan
diperoleh dari hasil uji kuat tekan (unconfined compression strenght),
dinyatakan dalam satuan kg/cm
2
.















Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 38

Tabel 3.5
Data Hasil Uji Laboratorium Terhadap Contoh Batuan
Data Parameter Hasil Uji Sifat-Sifat Fisik
Parameter Nilai
DH-2
Kadar Air, w (%) 37,21
Berat Jenis (gram/cm
2
) 2,52
Berat Isi Basah. y (gram/cm
5
) 1,42
Berat Isi Kering, yet (gram/cm
3
) 1,04
Angka Pori (-) 1,17
Porositas, n (%) 53,98
Derajat Kejenuhan, S (%) 0,99
Batas Cair, (WL) (%) 58,00
Batas Plastis. (WP) (%) 52,54
Indeks Plastis (lp) (%) 5,46
DH-5
Kadar Air, w(%) 32,74
Berat Jenis (gram/cm
2
) 3,22
Berat Isi Basah, y (ton/m
3
) 1,33
Berat Isi Kering, yd (ton/m
3
) 1,00
Angka pori (-) 0,97
Porasitas, n {%) 49,35
Derajat Kejenuhan, S (%) 0,88
Batas Cair, (WL) (% 55,50
Batas Plastis, (WP) (%) 47,43
Indeks Plastis (lp) (%) 8,07


3.14 Geometri Tambang
Seperti yang telah diketahui, kajian geoteknik diperlukan untuk menentukan
desain tambang yang mencakup tinggi dan sudut lereng yang dianggap.
Secara umum geometri lereng dinding bukaan tambang Bijih Besi di bagi
dalam dua kategori, yakni lereng keseluruhan atau total (overall slope) dan
lereng jenjang atau individu (bench / individual slope). Selain menghitung
dimensi kedua jenis lereng, dalam laporan ini juga disertakan perhitungan
terhadap lereng timbunan (dumping area).
Analisis dan perhitungan kemantapan lereng dilakukan pada setiap lokasi titik
pemboran yang mewakili daerah sekitarnya dan dibatasi sampai kedalaman
maksimun dari setiap lubang bor.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 39

3.14.1 Analisis Perhitungan Kemantapan Lereng
Untuk memperoleh geometri lereng total dan jenjang tambang yang aman
diperlukan analisis perhitungan kemantapan lereng (slope stability) secara
empirik. Dengan kata lain, analisis kemantapan lereng diperlukan untuk
menentukan suatu bangunan lereng agar cukup stabil sehingga tidak
berbahaya untuk keselamatan dan kehidupan.
Hal yang terkait secara langsung dengan kemantapan lereng adalah
menentukan nilai Faktor Keamanan (safety factor). Faktor Keamanan (FK)
adalah nilai empirik yang diperoleh dari gaya penahan dibagi oleh gaya
pendorong, yang dinyatakan sebagai persamaan :
FK =



Selanjutnya, nilai FK (Bowles, 1981) dinyatakan sebagai berikut :
- FK < 1,0 : Lereng longsor
- FK 1, 0 - 1.2 : Lereng kondisi kritis
- FK > 1,2 : Lereng dianggap aman (stabil)

3.14.2 Kondisi Lereng
Gaya Pendorong maupun gaya penahan yang bekerja pada sebuah lereng,
setidaknya dipengaruhi 2 (dua) faktor utama yang saling berkaitan yaitu faktor
dalam dan faktor luar.
Faktor dalam (internal) adalah gaya-gaya yang bekerja pada lereng tersebut,
yaitu gaya pendorong dan gaya penahan. Besaran atau nilai dari gaya - gaya
tersebut di atas dalam aspek keteknikan dinyatakan sebagai nilai sifat fisik
dan mekaniknya, seperti berat isi (density), sudut geser dalam (internal friction
angle) dan kohesi dari setiap lapisan sub-struktur yang menyusun lereng
tersebut.
Faktor luar (eksternal) adalah faktor yang dipengaruhi oleh kondisi fisik,
seperti : dimensi tambang (sudut dan tinggi lereng), kondisi geologi (struktur,
kemiringan lapisan, kegempaan), kondisi hidrologi (pengaruh tekanan air atau

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 40

hydrostatic pressure dan banjir), dan getaran yang disebabkan aktivitas atau
kegiatan penambangan seperti penggunaan alat-alat berat atau getaran
akibat peledakan (blasting).
Kedua faktor di atas, dapat diperoleh dari hasil penyelidikan di lapangan
maupun uji di laboratorium penyelidikan lapangan berupa pemboran inti,
merupakan aspek yang sangat penting untuk mengidentifikasi keadaan/
karakteristik sub-struktur bawah permukaan, dari hasil pemboran inti (coring)
contoh tanah dan batuan tak terganggu diambil untuk uji laboratorium.

3.14.3 Parameter Untuk Analisis Kemantapan Lereng
Adapun parameter yang diperlukan untuk menghitung analisis kemantapan
lereng adalah:
a. Sifat fisik, khususnya berat isi (bulk and dry density), dinyatakan dengan:
y dan y
sat
b. Sifat mekanik, yaitu kohesi dan sudut geser dalam, dinyatakan dengan
dan |c
c. Tekanan pori atau tekanan hidrostat
d. Percepatan atau akselarasi (getaran, gempa, peledakan atau pergerakan
alat-alat berat)
Nilai parameter yang diperoleh dari hasil pengujian di laboratorium dari hasil
pemboran (kohesi dan sudut geser dalam masing-masing total dan efektif).
Selain parameter di atas, diperlukan juga data pendukung seperti:
a. Data makro dan mikro struktur (termasuk bidang diskontinu)
b. Sifat indeks (perilaku) yang dinyatakan dalam nilai konsistensi dan
distribusi butir (khusus untuk tanah dan batuan sedimen klastik)
c. Nilai kekerasan atau kuat tekan

3.15 Longsoran
Longsoran merupakan sebuah fenomena alam yang umum terjadi, akibat
perubahan keseimbangan terhadap kemantapan lereng. Ditinjau dari aspek

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 41

keteknikan, longsoran terjadi disebabkan oleh gaya dorong lebih besar dari
gaya penahan sehingga nilai F < 1 (terjadi longsor).
Longsoran dianggap berbahaya bila telah memakan korban jiwa dan merusak
harta maupun benda. Dikaitkan dengan bukaan tambang, longsoran termasuk
berbahaya karena adanya aktivitas di tempat tersebut. Akibat longsoran,
selain membahayakan juga menghambat aktivitas kegiatan penambangan,
dan selanjutnya akan menghambat produksi tambang. Secara umum terdapat
4 (empat) jenis longsoran yang terjadi pada area tambang terbuka, yaitu:
- Longsoran blok atau bidang (Plane Failure)
- Longsoran baji atau gunting (Wedge Failure)
- Longsoran memutar atau tak memutar (Circuit Circular Failure)
- Longsoran guling atau rebah (Toppling Failure)
Perbedaan jenis longsoran dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
jenis batuan, struktur (makro) dan kondisi geologi daerah yang akan
ditambang. Longsoran memutar (rotasi) dan tak memutar, bidang (translasi),
longsoran baji umumnya terjadi pada batuan sedimen, sedangkan longsoran
rebah (jungkiran), umumnya terjadi pada batuan beku atau batuan-batuan
sedimen yang lapisannya relatif tegak.
Longsoran bidang dan baji timbul karena struktur kekar yang terpola (joint
pattern), arah dan kemiringan lapisan sejajar dan terpotong oleh bidang
lereng (cut slope). Longsoran memutar dan tak memutar sangat umum terjadi
dibandingkan jenis longsoran lainnya. Longsoran ini timbul karena struktur
yang tak beraturan (chaotic), dan lapisan batuan sedimen relatif belum
terkonsolidasi baik.

Untuk menghitung analisis kemantapan lereng yang ditujukan untuk tipe
longsoran memutar digunakan rumus persamaan (Bishop, 1955), sebagai
berikut:



Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 42

o
o o
| u
sin ,
/ ) , 1 ( , cos
1
} , tan ) ( , , {(
W
FK ta
b W b c
f
E
+
+ +
=
Dimana :
FK = Faktor Keamanan
c = Kohesi
b = Lebar Irisan longsoran
W = Berat Massa (luas + berat asli/jenuh)
o, = Sudut Gelincir Bidang Longsor
|1 = Sudut Geser Dalam
P = Tekanan Hidrostatis (berat isi air x tinggi)
Mengingat data curah hujan cukup tinggi dan didukung hasil pengamatan
mikrostruktur di lapangan, maka perhitungan analisis kemantapan lereng total
diintensikan pada jenis longsoran memutar. Walaupun demikian untuk
perhitungannya, masih diperlukan beberapa asumsi tambahan, yakni:
a. Perhitungan untuk lereng total menggunakan nilai FK > 1,3 dengan
ketinggian mat (muka air tanah), sesuai dengan hasil pengukuran. Untuk
teras jenjang menggunakan nilai FK > 1,5 dengan kondisi dianggap
jenuh dan batuan dianggap homogen.
b. Dimensi longsoran ditentukan melalui daerah paling lemah (lapisan
batu-lempung) atau melalui bidang rekah yang terdeteksi.
c. Perhitungan longsoran memutar diasumsikan, bagian mahkota
longsoran terletak pada puncak datar, yakni beberapa meter dari ujung.

3.15.1 Perhitungan Secara Grafis Hoek & Bray
Analisis kemantapan lereng secara grafis dengan menggunakan metode
Hoek dan Bray dapat dilakukan lebih cepat karena menggunakan diagram
(chart). Adapun cara dan langkah perhitungan dalam menggunakan diagram
yang dibuat oleh Hoek and Bray, dengan langkah sebagai berikut:
1. Tentukan kondisi air tanah untuk memperoleh ketinggian seperti pada
gambar 3.4 yang dimaksud.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 43

2. Hitung harga c / h tan 0, kemudian masukan dalam grafik gambar 3.5
3. Letakkan harga (langkah 2) pada lengkung luar, tentukan harganya
4. Tarik garis lurus yang berawal dari titik hasil langkah 3. sehingga
memotong lengkungan sudut lereng dan kemudian tentukan titik
perpotongannya.
5. Tarik garis lurus dari titik langkah 4, sehingga memotong garis tepi kiri
(tan |/F) atau garis batas bawah (c/HF).
6. Hitung harga F (=FK) dari persamaan tan |/F atau c/ HF).
Cara dan langkah metode Hoek & Bray dapat dilihat pada gambar 3.3


0
.
0
0
0
.
0
2
0
.
0
4
0
.
0
6
0
.
0
8
0
.
1
0
0
.
1
2
0
.
1
4
0
.
1
6
0
.
1
8
0
.
2
0
0
.
2
2
0
.
2
4
0
.
2
6
0
.
2
8
0
.
3
0
0
.
3
2
0
.
3
4
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
1.2
1.4
1.6
1.8
2.0
t
a
n
/
F
4.0
2.0
1.5
1.0
.90
.80
.70
.6
0
.5
0
.4
5
.4
0
.3
5
.3
0
.
2
5
.
2
0
.
1
9
.
1
8
.
1
7
.
1
6
.
1
5
.
1
4
.
1
3
.
1
2
.
1
1
.
1
0
.
0
9
.
0
8
.
0
7 .
0
6 .
0
5
.
0
4

.
0
3
.
0
2
.
0
1
0
|
c/ H.tan |
80
90
70
60
50
40
30
20
S
l
o
p
e
A
n
g
l
e
c/ HF
CIRCULAR FAILURE CHART NUMBER 3
(

)
c
HF
tan|
F


Gambar 3.3
Cara dan Langkah Perhitungan Hoek & Bray
Meskipun metode atau cara Hoek & Bray dapat dilakukan dengan cepat dan
mudah, namun hasil perhitungannya mempunyai kelemahan karena kondisi
Iereng diasumsikan homogen. Penggunaan diagram (chart) sangat
tergantung kepada kedudukan/ketinggian muka air tanah mulai dari kering
sampai jenuh, seperti yang terlihat pada gambar 3.4.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 44


Gambar 3.4
Kondisi Muka Air Tanah Untuk Diagram Hoek & Bray











Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 45



Gambar 3.5
Diagram Untuk Analisis Perhitungan Jenuh Air

3.15.2 Hasil Analisis
Untuk memperoleh hasil yang akurat, analisis perhitungan pada lereng total
(overall slope) dilakukan terhadap setiap titik pemboran, disesuaikan dengan
kedalaman maksimumnya. Analisis kemantapan lereng dihitung berdasarkan
pengambilan contoh tanah/batuan pada kedalaman total pemboran setara
dengan tinggi lereng (H) yang dirancang. Tinggi lereng (H) - 50 meter.
3.15.2.1 Lereng Total
Hasil analisis perhitungan kemantapan lereng untuk jenis longsoran memutar
untuk lereng total tercantum dalam tabel 3.6 di bawah ini:

Tabel 3.6
Hasil Perhitungan Kemantapan Lereng Total, Lokasi DH 1, 5 dan 7
Sudut
(...
0
)
Faktor Keamanan
DH -1, H = 70 DH - 5, H = 70 DH - 7, H = 70
30, 1,206 1,257 1,276
Catalan: H & B = Hoek & Bray FK > 1,200




Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 46

3.15.2.2 Lereng Jenjang (Bench slope)
Hasil analisis perhitungan kemantapan lereng untuk lereng jenjang tercantum
dalam tabel 3.7 di bawah ini:

Tabel 3.7
Hasll Perhitungan Kemantapan Lereng Jenjang, Lokasi DH 1, 5 dan 7
Sudut
(...
0
)
Faktor Keamanan
DH-1, H = 10 DH-5, H = 10 DH-7, H = 10
30, 2,607 2,034 2,768
Catalan: H & B = Hoek & Bray FK > 1,200

3.15.2.3 Analisis Lereng Timbunan
Parameter yang digunakan untuk menganalisis lereng timbunan atau lereng
material buangan (dumping slope), yang terdiri dari campuran beberapa
material menggunakan data gabungan. Mengingat tingkat kepadatan (tanah)
timbun relatif rendah dan belum terkonsolidasi dengan baik dibandingkan
dengan lapisan/ sedimen aslinya, maka diperlukan beberapa asumsi. Asumsi
yang digunakan dalam perhitungan lereng timbunan ini antara lain:
Tinggi lereng maksimum 25meter
Parameter yang digunakan untuk nilai c dan $ adalah 1/3 dari nilai
rata-rata dari setiap lokasi bor
Muka air tanah dianggap sama dengan tanah dasar
Hasil perhitungan analisis kemantapan lereng untuk timbunan (dumping area)
dengan menggunakan longsoran memutar, hasilnya dapat dilihat pada tabel
3.8 sebagai berikut:

Tabel 3.8
Hasil Perhitungan Kemantapan Lereng Jenjang Tunggal
Lokasi DH 1, 5 dan 7
No. TINGGI
45 55 65 75
MP B MP B MP B MP B
1 6 1,533 1,523 1,334 1,325 1,175 1,168 1,034 1,028
2 7 1,315 1,329 1,111 1,123 0,965 0,954 0,820 0,810
3 8 1,186 1,168 0,979 0,964 0,812 0,797 0,670 0,656
4 9 1,080 1,060 0,903 0,883 0,707 0,688 0,562 0,543
5 10 0,932 0,910 0,793 0,793 0,633 0,608 0,486 0,460


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 47


Dari perhitungan di atas diketahui untuk jenjang tunggal dengan tinggi 6 m,
maka sudut maksimum yang aman adalah 65
0
.
Hasil analisis perhitungan kemantapan lereng total untuk jenis longsoran
memutar untuk lereng total tercantum dalam tabel 3.9 di bawah ini:

Tabel 3.9
Hasil Perhitungan Kemantapan Lereng Timbunan (H) = 25 m
Sudut (..)
Faktor Keamanan
DH-1 DH-S DH-7
15 1,236 1,292 1,254
Catatan : H & B = Hoek & Bray FK > 1,200

Biaya penambangan yang meliputi penggalian, pengolahan dan
pengangkutan Bijih Besi adalah sekitar US $ 75,00 per ton.
Biaya penggalian dan pemindahan tanah penutup sekitar US $ 4,80
per BCM.
Faktor kehilangan karena penambangan sekitar 10%.

Maka akan didapat nilai nisbah pengupasan sebesar :

SR =
( ) ( )
( )

BESR =
( ) )


= 11,56

3.16 Cadangan Tertambang (Mineable Reserve)
Cadangan Bijih Besi tertambang akan dihitung berdasarkan batasan-batasan
sebagai berikut:
Kondisi geologi (struktur, topografi, sungai)
Geometri lereng tambang dimana tinggi lereng keseluruhan rata-rata
adalah 50m dengan kemiringan lereng total 39,5, dan lereng tunggal
adalah 10m dengan kemiringan 60

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 48

Nisbah pengupasan (SR)
Hasil perhitungan cadangan tertambang tercantum dalam tabel 3.10:

Tabel 3.10
Jumlah Cadangan Tertambang
Tahun


Cadangan Tertambang Cadangan Layak Jual
Nisbah
Pengupasan
Bijih Besi
(Ton)
T. Penutup
(BCM )
Bijih Besi (Ton)
T. Penutup
(BCM)
2010 88.571,40 207.257,08 60.000 140.400 2,34
2011 89.083,90 327.828,75 60.000 220.800 3,68
2012 178.167,80 538.066,76 120.000 362.400 3,02
2013 177.142,80 543.828,40 120.000 368.400 3,07

Dalam merencanakan desain tambang, hal penting yang harus dilakukan
adalah pemilihan metode penambangan yang sesuai dengan kondisi teknis
dan ekonomis sumber daya Bijih Besi yang akan ditambang dalam
menentukan jumlah Bijih Besi yang dapat ditambang dari potensi sumber
daya yang ada, sehingga jumlah Bijih Besi sebagai cadangan yang dapat
ditambang akan dihitung dengan mempertimbangkan hasil desain tambang.
Secara teknis, pemilihan metode penambangan didasarkan pada
pertimbangan hal-hal sebagai berikut:
Kedalaman lapisan (seam)
Ketebalan lapisan dan penyebarannya
Kondisi lapisan tanah penutup (overburden)
Struktur geologi
Secara ekonomis akan dipertimbangkan nisbah pengupasan atau "stripping
ratio", yaitu besarnya volume pengupasan tanah penutup untuk mendapatkan
setiap ton Bijih Besi.







Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 49



BAB 4
PENAMBANGAN


4.1 Pemilihan Metode Penambangan
Memilih metode penambangan tambang terbuka yaitu dengan open pit mining
untuk melaksanakan penambangan Bijih Besi ini. Metode tambang terbuka
dipilih berdasarkan pertimbangan faktor-faktor teknis yang mencakup model
geologi, kondisi lapisan Bijih Besi (strike, dip, thikness). kondisi lapisan
penutup (overburden) serta pertimbangan jumlah sumber daya Bijih Besi.
Metode penambangan ini menggunakan kombinasi back hoe dan dump truck
serta bulldozer. Sebagai alat bantu, ini memiliki kelebihan dalam fleksibilitas
dan selektivitas penambangan, antara lain seperti:
- Biaya investasi awal yang lebih kecil
- Perolehan sumber daya Bijih Besi dapat lebih besar
- Tingkat produksi Bijih Besi per hari yang lebih besar
- Penanganan peralatan tambang yang lebih mudah dan keselamatan
tambang dan karyawan yang lebih baik
Open pit merupakan teknik penambangan Bijih Besi yang dinilai cocok dan
sesuai untuk diterapkan. Teknik penambangan open pit mining ini adalah
dengan melakukan penggalian Bijih Besi pada batas-batas penambangan (pit
limit) dari arah singkapan (crop line) menuju ke bawah searah dengan
kemiringan lapisan Bijih Besi (down dip).
Penggalian ini digunakan dengan membentuk jenjang-jenjang atau lereng
multi yang memiliki geometri tertentu berdasarkan hasil kajian geoteknik dan
rencana pengoperasian alat-alat penambangan. Dengan teknik penambangan
ini, diharapkan semua lapisan (seam) Bijih Besi yang penyebarannya jelas,
dapat ditambang dengan baik.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 50

4.2. Desain Tambang
Menentukan desain tambang cukup kompleks seperti:
Potensi sumberdaya bijih geoteknik
Kualitas Bijih Besi
Geometri lereng tambang pen-teknik
Air dalam tambang (geohomoni)
Harga dan kualitas Bijih Besi yang di pasarkan
Ada hal-hal lain yang juga menjadi pertimbangan yaitu:
Aspek lingkungan dalam hubungannya dengan pasca tambang
Kontrak jangka pendek dan jangka panjang dengan konsumen (buyer)
Sarana dan prasarana yang sudah tersedia

4.3 Potensi Sumber Daya Bijih Besi
Dalam penyusunan desain tambang, hal pertama yang harus diketahui adalah
jumlah sumber daya yang tersedia, karena kuantitas sumber daya akan
menyangkut penentuan kapasitas produksi tambang dan umur tambang.

4.4 Kualitas Bijih Besi
Keberadaan dan penyebab kualitas Bijih Besi sangat berperan dalam
penetapan sekuen kemajuan penambangan dan rancangan penggalian
permukaan penambangan (mine front). Dengan demikian, perlu tidaknya
proses blending bijih Bijih Besi pada kegiatan pengolahan sangat ditentukan
oleh penyebaran kualitas dan produksi Bijih Besi yang direncanakan.
Cadangan Bijih Besi tertambang tanpa faktor losses adalah 2.919.079,6 ton
yang terbagi dalam 8 block. Setiap block memiliki kuantitas dan kualitas Bijih
Besi berbeda dengan block lainnya. Keseluruhan kualitas Bijih Besi belerang
mengandung total belerang (TS) rata-rata 3%, dengan kadar total rata-rata
45%.




Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 51

4.5 Kualitas Produk dan Harga Jual
Karakteristik Bijih Besi yang akan dijual oleh perusahaan dengan karakteristik
Bijih Besi yang dimiliki oleh perusahaan akan menentukan jenis kegiatan
pengolahan yang dilakukan, untuk memperoleh kualitas produk yang
diinginkan. Beberapa alternatif proses pengolahan di antaranya adalah:
Proses reduksi ukuran saja
Proses reduksi ukuran ditambah blending
Proses reduksi ukuran dan pencucian
Proses reduksi ukuran dan pencucian serta blending
Pemilihan setiap alternatif akan mempengaruhi pengaturan sekuen dan
kegiatan di permukaan penambangan. Harga jual Bijih Besi sangat
berpengaruh pada penentuan stripping ratio" (SR) karena harga jual yang
besar akan lebih membuka peluang untuk melakukan operasi penambangan
dengan SR yang besar pula, sehingga akan memperbesar perolehan
cadangan Bijih Besi.
Perubahan besaran SR mempunyai implikasi yang luas terhadap desain
tambang, demikian pula sebaliknya karena secara teknis dapat berakibat
pada perubahan batas penambangan (pit limit) dan perubahan level
penambangan (pit level). Dengan demikian, berakibat pada perubahan jumlah
cadangan Bijih Besi dan umur tambang.

4.6 Geometri Lereng Tambang
Rekomendasi geometri lereng tambang berupa ketinggian dan kemiringan
lereng diperoleh dan dikaji kemantapan lerengnya. Dalam menyusun desain
tambang, geometri lereng ini melupakan salah satu parameter yang sangat
penting sehingga dapat berakibat fatal apabila desain tambang mengabaikan
rekomendasi geometri lereng ini.
Hasil uji geoteknik dari formasi lapisan penutup Bijih Besi dapat dilihat pada
bab III (Kajian Geoteknik dan Hidrogeologi) dimana batuan pembentuk lereng
tambang didominasi oleh batu Granit.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 52


Overall slope telah dibuat bervariasi sesuai dengan karakteristik sifat
keteknikan tanah dan batuan pada masing-masing block yang bervariasi,
perhitungan tersebut telah memperhitungkan beban dari material timbunan
(bila sisi bukaan tambang memotong lokasi material timbunan). Selain
berdasarkan sudut lereng yang direkomendasikan studi geoteknik, juga
berdasarkan konvensi jarak aman lokasi waste dump area (WDA) dengan
lokasi tambang yaitu minimal sama dengan tinggi/kedalaman tambang (pit)
itu, jarak WDA di sekitar tambang didesain antara 100-500m.
Selain diperlukannya analisis kemantapan lereng pada lokasi bukaan
tambang, juga dilakukan usaha pemantuan kemungkinan terjadinya
longsoran. Pemantauan ini dimaksudkan untuk mengetahui gejala-gejala awal
sebelum terjadinya longsoran sehingga dapat dilakukan tindakan-tindakan
pencegahan atau penanggulangan longsoran yang akan terjadi agar tidak
menimbulkan korban jiwa serta kerugian yang lebih besar.
Beberapa usaha pemantauan kemantapan lereng direkomendasikan adalah
sebagai berikut:
Identifikasi struktur geologi seperti lahan, kekar, rembesan-rembesan
air tanah. Identifikasi ini dilakukan setelah dilakukan pemotongan
lereng pada saat operasional tambang sehingga pada saat dilakukan
pemotongan lereng dan ditemukannya gejala-gejala tersebut perlu
dilakukan pemantauan secara intensif dengan memasang patok-patok
geser.
Identifikasi gejala-gejala longsoran selama penambangan seperti
timbulnya rekahan-rekahan pada bukaan tambang, bila dijumpai
gejala-gejala tersebut di atas, maka perlu dilakukan pemantauan
secara intensif dengan memasang patok-patok geser.
Membuat prosedur petunjuk operasional untuk pemantauan longsoran
sebagai berikut:
a. Peralatan yang Digunakan
1. Alat Ukur (EDM, PS, atau Geo-radar)

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 53

2. Patok (terbuat dari logam tahan karat atau kayu/bambu yang
dicat atau diberi tanda yang mencolok)
3. Alat pencatat
b. Prosedur Pengukuran
1. Tentukan titik patok tetap pada lokasi yang stabil dan menetap
(tidak dipindahkan) selama patok tetap difungsikan. Bila perlu
patok tetap dipasang dudukan (pondasi) agar kuat dan tidak
mudah digeser.
2. Catat rekaman posisi geografis atau diikat dengan titik
triangulasi terdekat atau titik lainnya yang digunakan sebagai
referensi posisi patok tetap.
3. Tentukan dan tanam titik patok gerak, pada posisi lahan/tanah
yang berpotensi longsor. Untuk memperoleh hasil yang lebih
akurat, sebaiknya patok gerak dibuat lebih dari satu, pada lahan
yang sama.
4. Ukur jarak antara patok tetap dengan patok gerak dengan
ketelitian maksimum sesuai dengan spesifikasi teknis alat ukur
yang digunakan.
5. Catat jarak antara patok tetap dengan patok gerak. Lakukan
pengukuran ulang (cek) untuk kepastian data pengukuran awal.
Catatan jarak antara kedua patok tersebut dalam kepekaan ukur
minimal dinyatakan dalam mm.
6. Untuk mendeteksi gerakan tanah, pengukuran dapat dilakukan
selang tiap 3 hari atau lebih selama musim kemarau. Untuk
musim penghujan pengukuran minimal sehari sekali atau bila
perlu dilakukan setiap interval 6 jam (tergantung keperluan dan
keadaan yang dianggap darurat).
7. Bila pengukuran berkala dilakukan pada waktu yang lama,
disarankan kedua patok tersebut terbuat dari logam tahan karat.
8. Jika dalam pengukuran terjadi selisih jarak secara signifikan
(misal > 10mm), segera laporkan kepada penanggung jawab
(Kepala Teknik Tambang) untuk ditindaklanjuti.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 54


Pemantauan harian dan mingguan dengan mempergunakan total station
harus dilakukan secara rutin, dan pemantauan akan diintensifkan apabila
teridentifikasi adanya gejala struktur geologi ataupun rekahan-rekahan baru
dengan memantau patok-patok geser yang telah dipasang pada daerah yang
telah teridentifikasi tersebut. Bila ternyata dalam waktu yang sama akan
dilakukan pelandaian lereng totalnya.
Dari hasil uji geoteknik tersebut di atas, maka dapat dihitung Faktor
Keamanan (FK) dari setiap jenjang yang direncanakan pada block
penambangan untuk setiap sudut kemiringan lereng. Dengan sudut lereng
tunggal sebesar 25
0
dan sudut secara keseluruhan sebesar 15 maka
timbunan tanah penutup masih stabil sampai ketinggian timbunan sebesar
25meter.
4.7 Air Dalam Tambang
Air di dalam tambang mencakup keberadaan air di atas permukaan maupun
di bawah permukaan. Air di atas permukaan meliputi keberadaan sungai dan
anak-anak sungai di daerah tambang serta aliran limpasan (run-off) yang
berasal dari curah hujan. Sedangkan air di bawah permukaan (groundwater)
berkaitan erat dengan keberadaan lapisan batuan yang berfungsi sebagai
pembawa air (aquifer).
Pengaruh sungai dan anak sungai dari segi keberadaannya jelas akan
menjadi faktor pembatas luas daerah yang akan ditambang (block area), dan
perlu diantisipasi sebagai sumber air rembesan (seepage) baik melalui
lapisan aquifer ataupun rekahan yang ada. Hal ini sedikit banyak akan
mengganggu kegiatan penambangan.
Air hujan termasuk air permukaan yang harus diperhitungkan karena air yang
masuk daerah tambang secara langsung ataupun sebagai air limpasan dapat
menimbulkan genangan sehingga mengganggu operasional penambangan,
secara keseluruhan akan menurunkan efisiensi kerja. Disamping itu bila tidak
ditangani dengan baik dapat menjadi sumber pencemaran air (water
pollution).

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 55

Keberadaan air di bawah permukaan (groundwater) juga perlu diperhitungkan
karena berkaitan dengan efek tekanan air pori (water pressure) dimana akibat
yang ditimbulkan dapat menurunkan kekuatan (material strength) dari massa
batuan pembentuk lereng tambang, sehingga akan mempengaruhi stabilitas
atau kemantapan lereng tambang.

4.8 Analisis Desain Tambang
Dengan memperhatikan beberapa parameter pembentuk model desain
tambang, maka untuk melakukan analisis model desain tambang, daerah
penambangan dapat diasumsikan sebagai sebuah block yang memiliki
dimensi panjang, lebar, dan ketebalan tertentu. Dengan mempertimbangkan
parameter model geologi sumber daya Bijih Besi, terutama aspek penyebaran
lapisan Bijih Besi, maka dapat dilakukan seleksi block penambangan, untuk
memilih sub-block penambangan yang prospek untuk menjadi lokasi tambang
sesuai dengan persyaratan yang diberikan oleh desain tambang.
Hasil kajian geoteknik yang telah dilakukan memberikan angka sudut
keseluruhan lereng sebesar 39,5 dengan tinggi lereng lebih kurang 50m,
Berdasarkan kajian tersebut direkomendasikan pada setiap block dengan
sudut lereng keseluruhan sebesar 39,5 dengan tinggi lereng 50m, dan lereng
jenjang dengan ketinggian H = 10m dan sudut jenjang 60. Dengan mengacu
pada hasil rekomendasi geoteknik tersebut, maka desain block akan
menggunakan sudut 39,5.
Perhitungan cadangan (reka block cadangan) yang dilakukan dengan
mengacu pada standar (SNl 88) berdasarkan sudut lereng dari kajian
geoteknik. Jumlah cadangan yang akan ditambang merupakan bagian dari
perhitungan cadangan awal sehingga stripping ratio-nya tidak berubah.

4.9 Bukaan Tambang
Desain tambang direncanakan terdiri dari 8 block. Pengupasan tanah penutup
dan penggalian Bijih Besi akan dilaksanakan tidak secara serempak, dimana
jarak angkut penimbunan tanah penutup di waste dump area dan jarak angkut
back filling berkisar antara 0,2.00m sampai 500m dan jarak angkut Bijih Besi

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 56

Run Of Mine (ROM) ke Iron ore Processing Plant (GPP) berkisar antara 146m
sampai 439m.
Sesuai dengan skenario penggalian Bijih Besi dan pembuangan tanah
penutup, maka Bijih Besi dari block akan habis digali selama kurun waktu 20
tahun.

4.10 Sistem dan Tata Cara Penambangan
Dari perencanaan desain tambang diketahui bahwa pemilihan sistem dan
metode penambangan adalah tambang terbuka dengan metode open pit
mining dimana penggalian tanah dan Bijih Besi akan dikerjakan dengan
membentuk jenjang-jenjang atau lereng (multy benches) yang memiliki
geometri tertentu berdasarkan hasil kajian geoteknik yang telah dilakukan.
Dengan teknik penambangan ini diharapkan semua lapisan (seam) Bijih Besi
yang penyebarannya jelas, dapat ditambang dengan baik. Pada umumnya tak
semua cadangan terukur dapat diambil Bijih Besinya karena faktor-faktor
berikut:
- Keterbatasan peralatan
- Kondisi perlapisan pembentuk Bijih Besi
- Struktur geologi
- Morfologi daerah tambang
- Kualitas produk yang diinginkan
Dalam hal ini akan diambil persentase perolehan (recovery) sebesar
2.560.900,97ton.

4.11 Tahapan Kegiatan Penambangan
Kegiatan operasi penambangan Bijih Besi yang direncanakan pada setiap
bukaan tambang akan mencakup:

4.11.1 Operasi Pembersihan Lahan
Operasi pembersihan lahan penambangan dilakukan pada lokasi
dimana tambang akan dibuka. Berkaitan dengan operasi ini akan
dilakukan beberapa pekerjaan, yaitu:

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 57

A. Operasi Penebangan Pohon dan Pemotongan Kayu
Dalam operasi pembersihan lahan, apabila ditemukan pohon-
pohon, maka terlebih dahulu dilakukan operasi penebangan pohon
dan operasi pemotongan kayu. Bila pohon-pohon tersebut dinilai
mampu ditumbangkan dengan tenaga dorong bulldozer, maka
operator akan langsung menggunakan bulldozer. Untuk pohon-
pohon berukuran besar, untuk penebangannya perlu dibantu
dengan menggunakan gergaji mesin (chain shaw). Bila kayu yang
dikerjakan memiliki ukuran yang besar, maka operasi pemindahan
kayu dari lokasi penambangan ketempat penyimpanan kayu ini
perlu dipergunakan alat angkat untuk beban berat (crane) dan
rantai besi untuk pengikat dan penarik, serta truk pengangkut kayu.
Bila kayu memiliki ukuran yang kecil, maka operasi pemindahan
kayu dari lokasi penambangan ke lokasi penyimpanan kayu ini
cukup dipergunakan tenaga manusia dan truk pengangkut kayu.
Kayu-kayu hasil penebangan dan pemotongan akan disimpan di
lokasi penyimpanan yang telah direncanakan. Lokasi penyimpanan
kayu dapat dipilih pada lahan-lahan terbuka yang dekat dengan
daerah penambangan dan dilintasi oleh jalan angkut. Kayu-kayu
yang disimpan ini dapat dimanfaatkan untuk pembuatan bangunan,
jembatan, bahan bakar atau kepentingan lainnya.

B. Operasi Pembabatan Semak dan Perdu
Pekerjaan pembabatan semak dan perdu ini akan dilakukan
dengan menggunakan bulldozer, yang dapat menjalankan fungsi
gali dan dorong dengan memanfaatkan blade dan tenaga dorong
yang besar dari alat tersebut. Semak dan perdu yang sudah dibabat
tersebut selanjutnya akan didorong ke daerah-daerah lembah yang
dekat dengan areal penambangan.




Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 58

4.11.2 Operasi Pengupasan Tanah Atas (Top Soil)
Setelah operasi pembersihan selesai, selanjutnya dilakukan operasi
pengupasan lapisan atas (top soil) yang banyak mengandung bahan-
bahan organik hasil pelapukan, yang sangat baik untuk penyuburan
tanah. Lapisan tanah subur ini dikupas dengan menggunakan blade
dari bulldozer. Operator bulldozer sambil mengupas tanah subur
tersebut sekaligus mendorong dan mengumpulkannya pada lokasi
tertentu di dekat daerah operasi bulldozer. Dengan demikian pada
lahan penambangan akan terdapat lokasi timbunan tanah subur yang
pada gilirannya akan dimanfaatkan untuk reklamasi lahan bekas
penambangan. Apabila lokasi timbunan top soil ini relatif jauh, maka
pekerjaan pemindahan top soil ini akan memerlukan excavator
sebagai alat muat dan dump truck sebagai alat angkut.

4.11.3 Operasi Pemindahan Tanah Penutup (Overburden)
Operasi penggalian tanah penutup berupa overburden dan
interburden, dilakukan dengan menggunakan excavator dan dibantu
dengan bulldozer. Untuk material lemah sampai sedang, excavator
dapat langsung melakukan penggalian dan pemuatan ke atas dump
truck. Sedangkan untuk material agak keras, bulldozer akan
membantu memberaikan material tersebut, sebelum digali dan dimuat
oleh excavator. Pemakaian ripper pada bulldozer akan disesuaikan
dengan kebutuhan operasi pemberaian material. Selanjutnya apabila
diketemukan lapisan tanah penutup yang keras sampai sangat keras,
maka akan dipergunakan stone breaker untuk memberaikan material
tersebut sebelum dimuat ke atas dump truck. Dalam batas-batas
penggalian yang telah direncanakan, operator excavator akan
melakukan pembentukan jenjang (bench), dibantu oleh operator
bulldozer.
Dump truck sebagai alat angkut akan mengangkut tanah penutup dari
daerah penambangan menuju lokasi penimbunan (dumping area),
yang telah direncanakan di daerah dengan morfologi lembah atau

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 59

datar yang ada di lokasi terdekat. Timbunan tanah penutup ini akan
diatur secara berjenjang dengan menggunakan dozer shovel dan
selanjutnya akan ditutup dengan lapisan tanah subur (top soil) untuk
persiapan proses penanaman bibit pohon (revegetasi).
Kemajuan tambang dimulai dari Block I, pada tahun 2011,
pemindahan tanah akan diarahkan ke waste dump area, sedangkan
setelah tahun 2011, pemindahan tanah akan dilakukan secara back
filling ke bekas tambang block yang telah selesai ditambang (mine
out) yaitu Block 1 ke Block 2, Block 3 dan Block 4 akan mulai
dilakukan back filling pada tahun 2012. Block 1 akan dimulai back
filling pada tahun 2012 , Block 2 akan dilakukan pada tahun 2013,
Block 3 akan dilakukan pada tahun 2014, Block 4 dan 5 akan
dilakukan setelah Block 3. Begitu pula dengan block-block berikutnya.
Selanjutnya pada setiap waste dump area juga untuk penimbunan
tanah pucuk (top soil) dimana tanah pucuk tersebut akan
dipergunakan untuk program reklamasi tambang.
Timbunan tanah penutup di waste dump area akan dibuat berjenjang,
masing-masing setinggi 6m, dimana lebar jenjang adalah sebesar
10m, sudut jenjang tunggal sebesar 30, dan sudut jenjang
keseluruhan adalah sebesar 15. Desain pit ini disesuaikan dengan
posisi endapan mineral dan faktor keamanan pit misalnya dari bahaya
longsor.

4.11.4 Operasi Penggalian dan Pemindahan Bijih Besi
Operasi penggalian Bijih Besi, dilakukan dengan menggunakan
bantuan bulldozer. Untuk Bijih Besi yang memiliki kekuatan lemah
sampai sedang, excavator langsung melakukan penggalian dan
pemuatan ke atas dump truck. Bila ditemukan Bijih Besi yang agak
keras, bulldozer akan membantu memberaikan material tersebut
terlebih dahulu sebelum penggalian dan pemuatan oleh excavator.
Pemakaian ripper pada bulldozer disesuaikan dengan kebutuhan
operasi pemberaian Bijih Besi. Selanjutnya apabila ditemukan Bijih

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 60

Besi dan tanah penutup yang keras, maka akan dipergunakan stone
breaker untuk memberaikan material tersebut.
Dapat ditambahkan bahwa bukaan tambang akan dibuat berjenjang,
masing-masing setinggi 10m, dimana lebar jenjang keseluruhan
adalah sebesar 10m, sudut jenjang tunggal sebesar 60, dan sudut
jenjang keseluruhan adalah sebesar 39,5.

Gambar 4.1
Desain Pit

Dalam operasi pemindahan Bijih Besi akan digunakan excavator
sebagai alat muat dan dump truck sebagai alat angkut. Dump truck
akan mengangkut Bijih Besi dari daerah penambangan (Run Of Mine)
menuju ke lokasi penimbunan Bijih Besi (raw stockpile), yang
lokasinya berdekatan dengan unit pengolahan Bijih Besi (Mine Iron
ore Crushing Plant). Tumpukan Bijih Besi di raw stockpile ini

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 61

selanjutnya akan menjadi umpan/masukan (feed) pada proses
pengolahan Bijih Besi di unit pengolahan Bijih Besi tersebut. Operasi
penambangan Bijih Besi berlangsung tidak secara serentak pada
semua block tambang.
Di unit pengolahan Bijih Besi, Bijih Besi produk tambang akan
diperkecil ukurannya menjadi Bijih Besi siap jual yaitu berukuran
22mm. Selanjutnya Bijih Besi siap jual ini akan diangkut oleh dump
truck kapasitas 20ton menuju ke lokasi pelabuhan Bijih Besi.
Di pelabuhan muat Bijih Besi, Bijih Besi siap jual tersebut akan
ditumpuk di area stockpile pelabuhan. Dari sini Bijih Besi akan
diangkut oleh dump truk HT 130 ke atas tongkang.

4.12 Operasi Penanganan Air Tambang
Operasi penanganan air tambang atau penirisan tambang mutlak diperlukan
karena lantai tambang yang berair, selain mengganggu kelancaran produk,
juga dapat menimbulkan kecelakaan kerja, baik berupa tergelincirnya roda
ban dump truck maupun bahaya sengatan. Listrik apabila ada kabel listrik
yang menyentuh permukaan air.
Sumber air tambang selain berasal dari air tanah, juga terutama dari air hujan.
Dari data curah hujan dan hari hujan yang ada (lihat tabel 2.2), terlihat bahwa
lokasi tambang memiliki curah hujan yang cukup tinggi yaitu maksimum
28,759mm perhari. Selanjutnya dalam perhitungan untuk drainase tambang,
diambil curah hujan maksimum yang mungkin terjadi yaitu sebesar 60mm per
jam, sehingga untuk luas permukaan kerja sebesar 100mx100m, maka debit
air hujan akan mencapai 600m
3
perjam.
Untuk menangani air tambang, maka diperlukan saluran bukaan tambang
yang akan mengalirkan air ini ke level dasar. Karena kemiringan lapisan di
lokasi yang tegak, maka air yang akan masuk dalam aquifer sangat kecil
sehingga potensi air tanah juga akan kecil, namun apabila pada lokasi yang
terpengaruh oleh struktur geologi ternyata dijumpai adanya rembesan air

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 62

tanah akan dilakukan pemompaan dan disalurkan keluar tambang. Selain
munculnya rembesan air tanah, pemantauan berkala secara rutin seperti yang
akan dilakukan peda pemantauan lereng tetap akan dilakukan.

Tabel 4.1
Debit Air di Lokasi Tambang
Nama Lokasi Tambang Debit Air
Tapango 4,43


Tabel 4.2
Perhitungan Dimensi Settling Pond di Areal Tambang

No.

Parameters
Mining Block
1 - 5
Remarks
A. KECEPATAN PENGENDAPAN PARTIKEL
1. Ukuran partikel (lempung - lanauan) ( D ) 9,91E-Q5 m
2. Viskositas kinematik (u) 7,10E-07 m
2
/s
3. Specific gravity padatan (SG) 1,0127
4. Kecepatan pengendapan partikel (V) 8,95E-Q5 m/s
B. DIMENSI KOLAM PENGENDAPAN
1. Luas areal bukaan tambang (A) 7,8 Ha
2. Debit yang masuk block (Q) 105.479,56 m
3
/hari
3. Luas minimum kolam pengendapan yang
dibutuhkan
36

Ha
4. Kedalaman kolam pengendapan 7,73 m


4.13 Rencana Produksi
4.13.1 Analisis Kualitas Cadangan
Lapisan Bijih Besi menunjukkan kualitas yang relatif sama. Dari
pengamatan di lapangan diketahui bahwa Bijih Besi berwarna coklat
tua kusam. Sedangkan dari analisis kimia, Bijih Besi ini kadarnya rata-
rata 45%.

4.13.2 Analisis Kuantitas Cadangan
Rencana penjualan Bijih Besi pertahunnya sesuai permintaan
konsumen yaitu 60.000ton per tahun, di mana produksi perbulannya
adalah 5.000ton.



Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 63

4.14 Peralatan Tambang
4.14.1 Jenis dan Spesifikasi Teknis Peralatan
Metode penambangan yang diterapkan dalam operasi penambangan adalah
open pit mining. Untuk menentukan jenis peralatan yang digunakan dalam
metode ini, maka perlu dikaji terlebih dahulu jenis-jenis kegiatan yang akan
dilakukan dalam operasi penambangan tersebut. Dengan gambaran jenis
kegiatan yang jelas, maka penentuan spesifikasi peralatan yang akan
digunakan lebih mudah dilakukan. Hasil dari pemilihan jenis peralatan yang
akan digunakan dalam operasi penambangan Bijih Besi dapat dilihat pada
tabel 4.3.
Tabel 4.3
Pemilihan Jenis Peralatan
No. Nama Peralatan Merk Jumlah
1. Excavator Caterpillar, Komatsu 3 unit
2. Bulldozer Caterpillar 3 unit
3. Wheel Loader Caterpillar 4 unit
4. Road Grader Komatsu 1 unit
5. Dump Truck Hino Jumbo Ranger 10 unit
Jumlah 21 unit

Dari tabel tersebut, dapat dilihat bahwa jenis peralatan utama penambangan
yang mutlak dipergunakan adalah excavator, dump truck dan bulldozer.
A. Excavator
Alat ini berdasarkan fungsi utamanya sering disebut alat gali muat. Pada
operasi penambangan akan digunakan untuk melakukan tugas-tugas
sebagai berikut:
1. Melakukan penggalian, pemuatan dan pemindahan serta pencurahan
material lemah seperti humus atau top soil pada lokasi penimbunan
atau langsung ke atas alat angkut.
2. Melakukan penggalian, pemuatan, dan pencurahan lapisan tanah
penutup (overburden), dan mengumpulkannya pada suatu lokasi
dekat tambang atau langsung memuat ke atas alat angkut.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 64

3. Melakukan penggalian, pemuatan dan pencurahan lapisan Bijih Besi
dan mengumpulkannya pada lokasi dekat tambang atau langsung
memuat ke atas alat angkut.
4. Melakukan perintisan dan pembuatan saluran-saluran air di tambang
untuk sistem drainase tambang.
5. Melakukan perintisan dan pembuatan kolam air di tambang (settling
pond) dalam rangka pengelolaan dan pemantauan lingkungan
tambang.
Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan di atas didukung
oleh:
Kemampuan daya gali yang besar
Kemampuan memotong untuk permukaan yang relatif se-block
dengan memanfaatkan blade pada bucket-nya
Kemampuan melakukan manuiver pada medan yang se-block
Dengan memanfaatkan kemampuan track yang dimilikinya

B. Dump Truck
Alat ini berdasarkan fungsi utamanya sering disebut truk jungkit dan pada
operasi penambangan akan digunakan untuk melakukan tugas-tugas
sebagai berikut:
1. Melakukan pengangkutan, pencurahan hasil penggalian tanah
penutup (overburden) ke lokasi penimbunan tanah penutup
(dumping area)
2. Melakukan pengangkutan, pencurahan Bijih Besi hasil tambang
(Run Of Mine) dari tambang ke stockpile Bijih Besi
Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan di atas didukung
oleh:
Kemampuan muat yang besar dari bucket-nya
Kemampuan mobilitas yang cepat untuk jarak angkut yang jauh
Kemampuan untuk melakukan dumping dari bucket-nya

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 65

Kemampuan untuk melakukan manuiver pada medan yang se-
block

C. Bulldozer
Alat ini fungsi utamanya adalah alat gali, dorong dan gusur. Pada operasi
penambangan akan digunakan untuk melakukan tugas-tugas sebagai
berikut :
1. Melakukan pembabatan semak dan mengumpulkannya ke suatu
lokasi tertentu
2. Melakukan penggusuran jenis tanaman pohon-pohonan
3. Melakukan pengupasan tanah atas atau humus (stripping) dan
mengumpulkannya dekat lokasi tambang
4. Melakukan pembersihan Iapisan tanah penutup (overburden) dan
mengumpulkanya pada suatu lokasi dekat tambang. Apabila
berhadapan dengan material keras, maka digunakan alat tambahan
yang disebut ripper
5. Melakukan perintisan dalam pembuatan lantai kerja dan jalan angkut
tambang
6. Mengatur bentuk geometri lereng tambang
Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan-pekerjaan seperti
di atas akan di dukung oleh:
Kemampuan daya dorong yang besar yang dimilikinya
Kemampuan memotong untuk ukuran yang cukup lebar dengan
memanfaatkan blade dan daya dorong yang besar
Kemampuan merobek material keras dengan memanfaatkan
kemampuan ripper dan daya dorong yang besar
Kemampuan untuk melakukan manuiver pada medan yang se-
block dengan memanfaatkan kemampuan track yang dimilikinya
Jenis atau tipe bulldozer yang akan digunakan adalah Caterpillar D 6 G
yang dapat melakukan pekerjaan seperti:

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 66

1. Melakukan pemuatan tanah penutup ke atas bucket dump truck
dan atau ke atas timbunan tanah penutup di waste dump area
2. Mengatur bentuk geometri lereng timbunan tanah penutup
3. Mendorong tanah penutup ke posisi yang direncanakan

D. Wheel Loader
Alat ini fungsi utamanya adalah alat muat. Akan tetapi dapat berfungsi
pula sebagai alat dorong dan pada operasi penambangan akan
digunakan untuk melakukan tugas-tugas sebagai berikut:
1. Melakukan penggalian, pengangkutan, dan pencurahan Bijih Besi
di stockpile atau ke atas copper atau ke atas dump truck
2. Melakukan pendorongan Bijih Besi di stockpile agar tertata dengan
rapi
Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan di atas di dukung
oleh:
Kemampuan muat yang besar dari bucket-nya
Kemampuan mobilitas cepat untuk jarak angkut yang tidak terlalu
jauh
Kemampuan untuk melakukan digging dan dumping yang cepat
Memiliki daya dorong yang besar
Jenis atau tipe wheel loader yang akan digunakan adalah Caterpillar LW
220.

Tabel 4.4
Jenis Peralatan Utama Penambangan
Jenis Kegiatan Nama Alat Type
Pembersihan lahan Bulldozer Cat. D 6 G
Pembuatan jenjang, Pendamping
excavator
Bulldozer Cat. D 6 G
Penggalian dan Pemuatan Tanah Penutup Excavator ( Back hoe ) PS 125
Penggalian dan Pemuatan Bijih Besi Excavator ( Back hoe ) PC 320
Pengangkutan Tanah Penutup Dump Truck PS 125
Pengangkutan Bijih Besi Produk Dump Truck PS 130
Pemuatan Bijih Besi di stockpile Wheel Loader Cat. LW 220



Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 67

4.14.2 Kebutuhan Peralatan
Dalam melakukan perhitungan jumlah kebutuhan unit peralatan untuk operasi
penambangan Bijih Besi maupun operasi pengupasan tanah penutup, harus
diperhatikan beberapa batasan-batasan yang berkaitan dengan karakteristik
Bijih Besi, karakteristik overburden, maupun karakteristik masing-masing
peralatan yang digunakan serta asumsi-asumsi yang perlu diterapkan
berkaitan dengan gambaran operasional penambangan yang direncanakan.
Berdasarkan besarnya volume pekerjaan pemindahan Bijih Besi ke stockpile
dan volume pekerjaan pemindahan tanah penutup ke dumping area per
tahun, maka dapat ditentukan jumlah kebutuhan peralatan utama setiap tahun
untuk operasi penambangan Bijih Besi, seperti terlihat pada tabel 4.5.

Tabel 4.5
Jumlah Kebutuhan Peralatan Utama Operasi Penambangan Bijih Besi
Tahun


Jumlah
Bijih Bijih
Besi (ton)
Jumlah
Tanah
Penutup
(BCM)
Pemindahan Tanah
Penutup

Penambangan Bijih
Besi
PC 320 D PS 125 t > 7R PC 320 D HT 130
2011 60.000 140.400 1 2 1 1 2
2012 60.000 220.800 1 2 1 1 3
2013 120.000 362.400 1 1 1 1 3
2014 120.000 368.400 1 1 1 1 1

4.14.3 Jam Kerja Peralatan
Jumlah jam kerja alat-alat penambangan ditentukan dengan pendekatan
sebagai berikut:
Jumlah hari kerja kalender adalah sebesar 365 hari per tahun
dan jumlah jam kerja kalender adalah sebesar 24 jam per hari,
dan juga memperhitungkan hari hujan.
Jumlah hari tidak efektif dihitung sebagai berikut (lihat tabel 4.6 dan tabel 4.7)




Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 68

Tabel 4.6
Persentase Jam Tidak Bekerja Karena Hari Hujan
Data Cuaca Persentase Keterangan
- Bulan hujan 7,00 bulan/tahun
- Bulan kering 5,00 bulan/tahun
Bila jam kerja/ hari: 24,00 jam/hari
30,00 hari/bulan
720,00 jam/bulan
Maka:
- Jam kerja di bulan hujan (a) 5.040,00 Jam/tahun
- Jam Kerja di bulan kering (b) 3.600,00 jam/tahun

Jam Tidak Bekerja
Estimasi jam tidak bekerja di bulan hujan 30,00%
- Jam tidak bekerja (a.1) 1.512,00 jam/tahun

Estimasi jam tidak bekerja di bulan kering 5,00%
- Jam tidak bekerja (b. 1 ) 180,00 jam/tahun

Jadi: 1 .692,00 jam/tahun

% Jam Tidak Bekerja di bulan hujan & kering 19,58%

Jam Kerja:

Estimasi jam bekerja di bulan hujan 3.528,00 jam/tahun
- Jam bekerja a. 2 = (a - a.1)

Estimasi jam bekerja di bulan kering 3.420,00 jam/tahun
- Jam bekerja b.2 = (b b.1)

Sehingga:
- Total Jam Kerja (a.2) + (b.2) 6.948,00 jam/tahun

% Jam Kerja di bulan hujan & kering 80,42%

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 69

Tabel 4.7
Jam Kerja Efektif
No. Deskripsi Quantity Keterangan
1. Hari Kalender / tahun 365.00 hari/tahun
2. Hari Minggu (untuk ganft shift) 26,00 hari/tahun
3. Hari Libur Nasional 6,00 hari/tahun
4. Jumlah hari libur 32,00 hari/tahun
5. Hari kerja / tahun 333,00 hari/tahun
6. Ketersediaan jam kerja / hari 24,00 jam/hari
7. Ketersediaan jam kerja / tahun 7.992,00 jam/hart
8. Waktu hilang yang direncanakan / hari
- Istirahat / makan 2,00 jam/hari
- Ganti shift 1,00 jam/hari
- Persiapan 0,50 jam/hari
- Shift malam (spesial) 1,00 jam/hari
Jumlah 4,50 jam/hari
9. Waktu hilang yang direncanakan / tahun 1.498,50 jam/hari
10. Shalat Jumat (1,5 jam / minggu) 78,00 jam/tahun
11. Waktu hilang yang direncanakan / tahun 1.576,50 jam/tahun
12. Ketersediaan jam / tahun 6.415,50 jam/tahun
13. Waktu hilang tidak direncanakan
a. Faktor Hujan (%) 19,58%
b. Faktor Main (%) 2,00%
c. Jumlah (%) 21,58%
14. Ketersediaan waktu karena waktu yang
hilang (tidak direncanakan)
78,00%
jam kerja /tahun 5.030,82 jam/tahun
15. Ketersediaan Mekanis
a. Faktor pemeliharaan (%) 92,00%
b- Faktor perbaikan (%) 92,00%
c. Total (%) 84,64%
17. Total jam kerja efektif/ tahun 4.258,09 jam/tahun
18. Jam kerja efektif /tahun (dibulatkan) 4.300 jam/tahun

Dengan demikian jumlah hari kerja efektif per tahun adalah sebesar
4.300 jam per tahun.

4.15 Jadwal Produksi dan Umur Tambang
4.15.1 Urutan (Sekuen) Operasi Penambangan
Urutan (sekuen) operasi penambangan Bijih Besi selain menggambarkan
arah kemajuan tambang per tahun, juga menyangkut jumlah pemindahan
tanah penutup dan produksi Bijih Besi per tahun menggambarkan arah
kemajuan tambang senantiasa mengikuti arah penyebaran lapisan Bijih Besi.
A. Tahap Produksi (Tahun 2011)
Operasi penambangan Bijih Besi akan dilakukan pada block atas dengan
produksi 60.000ton pertahun dan jumlah tanah penutup sebesar

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 70

140.400,00BCM. Pada tahap ini operasi penambangan berjalan dengan
nisbah pengupasan rata-rata sebesar 1 : 2,34.
B. Tahap Produksi (Tahun ke 2012)
Operasi penambangan Bijih Besi akan dilakukan terus pada Block 2 dan
Block 3 dilakukan dalam rangka pemenuhan target produksi sebesar
60.000ton pertahun. Dari Block 2 akan di tambang sebesar 26.300,00ton
dan dari Block 3 dengan produksi 33.700,00ton. Jumlah tanah penutup
sebesar 220.800BCM yang berasal dari Block 2 sebesar 96.413,82BCM
dan dari Block 3 sebesar 124.386,18BCM. Sebagian tanah penutup akan
di back filling ke block 1 dan sebagian lagi akan di angkut ke waste dump
area. Pada tahap ini operasi penambangan berjalan dengan nisbah
pengupasan rata-rata sebesar 1 : 3,68.
C. Tahap Produksi (Tahun ke 2013)
Operasi penambangan Bijih Besi akan dilakukan terus pada Block 3,
Block 4, Block 5, sampai Block 8. Hal ini menentukan dalam rangka
pemenuhan target produksi sebesar 120.000ton pertahun. Dari Block 3
akan di tambang sebesar 15.100ton, Block 4 akan di tambang sebesar
81.267ton dan dari Block 5 dengan produksi 23.633ton dan jumlah tanah
penutup sebesar 154.679,33BCM dari Block 3. Tanah penutup sebesar
160.373,05BCM dari Block 4. Tanah penutup sebesar 47.347,63BCM dari
Block 5. Tanah penutup akan di back filling di Block 2 dan Block 3. Pada
tahap ini operasi penambangan berjalan dengan nisbah pengupasan rata-
rata sebesar 1 : 3,02.
D. Tahap Produksi (Tahun ke 2014)
Operasi penambangan biji akan terus dilakukan pada Block 5 dengan
produksi 120.000ton dan jumlah tanah penutup sebesar 368.400BCM.
Pada tahap ini operasi penambangan berjalan dengan nisbah
pengupasan rata-rata sebesar 1 : 3,07.



Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 71

4.15.2 Umur Tambang
Kegiatan penambangan Bijih Besi direncanakan berakhir hingga 20 tahun.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 72


BAB 5
PENGOLAHAN BIJIH BESI


5.1 Pengolahan Bijih Besi
Pengolahan Bijih Besi PT. ISCO Polman Resources akan dilaksanakan di
lokasi crushing plant dimana lokasi ini menyatu dengan lokasi penumpukan
Bijih Besi (raw iron ore stockpile). Pengolahan Bijih Besi (iron ore preparation)
bertujuan untuk mereduksi ukuran (size reduction) Bijih Besi produksi operasi
penambangan atau Run of Mine (ROM) sehingga mencapai ukuran yang
diinginkan.
Dalam rangka melakukan reduksi ukuran, maka akan dilakukan beberapa
penanganan terhadap Bijih Besi produksi penambangan (ROM), antara lain:
Proses penghancuran/pemecahan
Proses klasifikasi ukuran fraksi
Proses penanganan pemindahan Bijih Besi antar lokasi

Pengolahan Bijih Besi secara garis besar adalah proses peremukan Bijih Besi
sampai ukuran 22mm.

A. Proses Reduksi Ukuran Bijih Besi
Untuk gambaran proses reduksi ukuran Bijih Besi dapat dilihat diagram
alir (flow chart) seperti terlihat pada gambar 5.1. Dalam diagram alir
tersebut digambarkan urutan proses-proses yang berlangsung.
Umpan (feed) untuk proses pengolahan Bijih Besi yang direncanakan
adalah Bijih Besi langsung dari produk kegiatan penambangan (ROM)
atau yang telah tersedia di raw iron ore stockpile. Fraksi Bijih Besi
sebagai umpan direncanakan berukuran maksimum 600mm. Apabila

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 73

dalam kondisi tertentu ada yang berukuran lebih dari 600mm, maka
terlebih dahulu harus dengan manual dengan menggunakan breaker
sampai memiliki ukuran maksimum 600mm.

B. Peremukan Bijih Besi (Iron Ore Crushing)
Kegiatan ini bertujuan untuk memecahkan (memberai) fraksi Bijih Besi
menjadi ukuran yang lebih kecil sesuai dengan yang ditetapkan. Proses
pemberaian Bijih Besi secara garis besar dapat dibagi dalam dua tahap
proses yaitu:
1. Proses penghancuran/peremukan (crushing)
Proses peremukan (crushing) material yang terjadi saat ini dapat
dikelompokkan ke dalam dua kelompok (unit), yaitu:
a. Unit peremukan primer, menggunakan alat jaw crusher
PE400x600, dengan ukuran feed opening 400x600mm dengan
kapasitas terpaksa 160ton/jam.
b. Unit peremuk sekunder, menggunakan jaw crusher P250x750,
dengan ukuran feed opening 100x200mm dengan kapasitas
terpasang sebesar 160ton/jam.
c. Unit peremuk hammer crusher dengan feed opening 20x30mm
2. Proses Pengayakan (screening)
Pada proses pengayakan menggunakan vibrating screen tipe double
deck vibrating screen.
Secara menyeluruh rangkaian dari alat peremuk batu yang digunakan
dapat dilihat pada bagan alir (gambar 5.1) dan secara singkat proses
peremukan yang dilakukan sebagai berikut:
Batuan yang berasal dari lokasi penambangan memiliki ukuran
< 800mm diangkut dengan menggunakan dump truk dan langsung
dimasukkan ke dalam hopper
Selanjutnya melalui feeder geser dimasukkan ke dalam vibrating
grizzly feeder (VGF)

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 74

Dari VGF batuan yang berukuran lebih kecil atau sama dengan
400x600mm dimasukan ke dalam jaw crusher PE400x600.
Dari jaw crusher PE400x600 keluar hasil dengan ukuran (rata-rata)
100x200mm.
Dari jaw crusher PE400x600 dimasukkan ke dalam jaw crusher
P250x750 dengan feed opening 100x200mm, dengan bantuan
belt conveyor.
Dari jaw crusher P250x750 akan menghasilkan ukuran
20x30mm, kemudian dibawa ke hammer crusher dengan
bantuan belt conveyor.
Hasil ukuran dari hammer crusher diharapkan 2mm.
Tahap berikutnya feed dialirkan ke jigger dengan bantuan belt
conveyor untuk memisahkan mineral Bijih Besi dan pengikutnya
berdasarkan berat jenisnya.

5.2 Peralatan Pengolahan Bijih Besi
Peralatan unit crusher selain jaw-crusher, hammer-crusher, vibrating-
screen dan hopper, juga dilengkapi oleh ban berjalan (belt conveyor)
untuk memindahkan Bijih Besi dari terminal satu ke terminal lainnya dan
terakhir ke kamar penampungan Bijih Besi produk (Silo). Adapun
peralatan unit crusher dan pendukungnya dapat dilihat pada tabel 5.1.

Tabel 5.1
Peralatan Reduksi Ukuran Bijih Besi Pada Unit Pengolahan Bijih Besi
No. Peralatan Spesifikasi Unit
1. Primary Crusher
Jaw Crusher PE 400 x 600, 160 t0/jam. 65 KVA,
Feed Opening = (400 x 600 ) mm
1
3. Secondary Crusher
Jaw Crusher P 250 x 750,160 ton/jam, 45 KVA,
Feed Opening = ( 100 x 200 ) mm
1
5. Hammer Crusher Feed Opening = 20 x 30 mm 1
6. Jigger Feed Opening = 150 mm x 200 mm 1
7. Belt Conveyor
Belt 60 cm x 4 ply, motor 5 Hp x 3 phase, ban mobil (kijang), spasi
roller 70 cm, chain RS 100, Gear box type 100 ; 1 : 3.
10

5.3 Fasilitas Penimbunan Bijih Besi
Untuk mengantisipasi produksi Bijih Besi sebesar 60.000ton per tahun

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 75

atau sebesar 5.000ton per bulan, maka dimensi lahan untuk
penumpukan Bijih Besi adalah 25mx25m dengan tinggi timbunan rata-
rata 4m dengan sudut 35
0
di areal ROM stockpile. Demikian pula halnya
dengan areal product stockpile.

























Gambar 5.1
Flow Chart Pengolahan











Stockpile I
Hopper
Jaw Crusher PE 400 x 600
Jaw crusher P 250 X 750
Hammer Crusher
Vibrating Screen
Stockpile
(kadar tinggi)
Jigger
Stockpile (Dry) Produk
Stockpile
(kadar rendah)

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 76


BAB 6
TRANSPORTASI PENIMBUNAN
BIJIH BESI


6.1 Jalan Angkut Tanah
Jalan angkut tanah adalah ruas jalan yang dipergunakan untuk
mengangkut tanah penutup dari bukaan tambang ke waste dump area.
Tanah penutup sendiri terdiri dari tanah pucuk (top soil) dan tanah dalam
(interburden) dimana lokasi penimbunan tanah pucuk bersebelahan
dengan lokasi penimbunan interburden. Jarak angkut tanah dari bukaan
tambang ke waste dump area diusahakan sedekat mungkin untuk
menjaga agar biaya produksi tidak terlampau tinggi. Dari perencanaan
lokasi waste dump area, maka dapat dilihat bahwa jarak bukaan tambang
ke waste dump area berkisar antara 500m sampai 1.000m. Jalan angkut
tanah terdiri dari tanah merah diperkeras dengan lebar antara 15m
sampai 20m.

6.2 Jalan Angkut Bijih Besi
6.2.1 Jalan Angkut Raw Iron ore
Jalan angkut raw Iron ore adalah ruas jalan yang dipergunakan untuk
mengangkut Bijih Besi dari tambang menuju ke lokasi pengolahan Bijih
Besi. Jalan angkut Bijih Besi terdiri dari tanah merah diperkeras
dengan lebar antara 20m sampai 25m. Jalan angkut Bijih Besi
terpendek yaitu sepanjang 146m, sedangkan yang terpanjang yaitu
sepanjang 439m (tabel 6.1).




Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 77

Tabel 6.1
Jalan Angkut Bijih Besi ROM
BLOK
CRUSHING PLANT
JARAK (m)
I 650
II 700
III 720
IV 580
V 430


6.2.2 Jalan Angkut Product Iron ore
Jalan angkut product iron ore adalah jalan angkut Bijih Besi dari lokasi
pengolahan Bijih Besi Mine Iron Ore Crushing Plant (MCCP) ke lokasi
pelabuhan muat Bijih Besi. Akses jalan ke pelabuhan menggunakan
fasilitas jalan kabupaten yang berjarak 40km dari lokasi pengolahan Bijih
Besi. Jalan angkut ini akan dilalui oleh dump truck dengan kapasitas
20ton sebanyak 30 unit.

6.3 Pelabuhan Muat Bijih Besi
Pihak akan menyewa sarana dan prasarana pelabuhan di Pelabuhan
Rakyat Tonaman. Stockpile Bijih Besi di pelabuhan direncanakan dapat
menampung Bijih Besi sebanyak 15.000ton Bijih Besi untuk periode 3
bulan, sebelum Bijih Besi diangkut oleh konsumen. Bijih Besi selanjutnya
akan dibawa oleh tongkang ke transhipment point di Selat Mandar yang
berjarak 15km, dengan waktu tempuh selama 5jam.
Efisiensi biaya transportasi dan handling tidak terlepas dari kondisi
kehandalan sarana dan prasarana penunjangnya. Kesesuaian pemilihan
peralatan muat/angkut dengan desain prasarana seperti desain
loading/unloading, sangat menentukan besarnya komponen-komponen
biaya antara lain:
a. Kondisi ballast jalan
Ballast jalan direncanakan dapat menahan beban tonase yang
berat dari alat muat dan angkut. Disamping itu perawatan jalan

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 78

harus dilakukan secara kontinu, sehingga kondisi jalan angkut
terjaga.
b. Kondisi jembatan
Jembatan-jembatan yang melintasi cabang-cabang sungai kecil
seringkali mudah rusak karena terbuat dari bahan kayu. Perawatan
jembatan harus selalu diperhatikan sehingga kelancaran arus
transportasi yang melintasi jalan tidak terganggu.
c. Sistem peralatan handling di stockpile
Loading dan unloading di stockpile sangat menentukan kelancaran
arus keluar dan masuknya baik ROM iron ore dan produk iron ore.
Apabila penanganan Bijih Besi di stockpile terganggu atau kurang
efisien dapat menimbulkan keterlambatan produksi.
d. Pemilihan tipe truck
Truck yang digunakan adalah tipe dump truck, pemilihan tipe truck
disini ditujukan pada kapasitas muat yang dapat diangkut oleh
truck. Kapasitas muat jenis dump truck juga disesuaikan dengan
kemampuan ballast jalan, sehingga tidak menimbulkan kerusakan
jalan. Dump truck yang digunakan mempunyai kapasitas 20ton.

6.4 Sarana Penunjang Lainnya
Untuk menunjang kegiatan penambangan, pengolahan, pengangkutan, dan
pemuatan Bijih Besi diperlukan sarana penunjang seperti fasilitas kantor,
fasilitas perumahan, fasilitas perbengkelan, fasilitas tenaga listrik, fasilitas
penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan fasilitas air bersih.
6.4.1 Fasilitas Kantor Tambang
Bangunan kantor tambang merupakan bagian dari infrastruktur tambang yang
di buat untuk menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi yang
mencakup tugas dan fungsi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan
evaluasi dari organisasi penambangan Bijih Besi. Desain dan fungsi ruang
yang direncanakan dalam bangunan kantor dibuat sedemikian rupa sehingga

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 79

pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi di atas dapat berlangsung dengan
sebaik-baiknya. Konstruksi bangunan kantor ini dibuat dari kayu dengan atap
asbes, dengan fasilitas antara lain:
- Fasilitas jaringan listrik
- Fasilitas jaringan air
- Fasilitas jaringan komunikasi (internal menggunakan intercom, eksternal
menggunakan telepon dan komunikasi radio frekuensi)
- Fasilitas jaringan komputer LAN
- Fasilitas administrasi
- Fasilitas kantin dan ruang makan
- Fasilitas parkir kendaraan
6.4.2 Fasilitas Perumahan Karyawan
Untuk pemukiman karyawan, maka perusahaan membangun fasilitas
pemukiman yang terdiri dari perumahan karyawan biasa dan perumahan
karyawan staf.

A. Perumahan Karyawan Biasa
Fasilitas perumahan ini diperuntukkan bagi karyawan tetap perusahaan
setingkat Kepala Bagian ke bawah, baik yang sudah berkeluarga maupun
yang belum berkeluarga (bujangan). Bangunan perumahan atau base
camp ini dibangun di luar areal penambangan dan berjarak 2km dari
lokasi tambang.

B. Perumahan Karyawan Staf
Fasilitas perumahan ini di peruntukkan bagi karyawan tetap perusahaan
setingkat Kepala Divisi dan Manajer yang belum berkeluarga, Bangunan
perumahan ini dibangun di areal penambangan, tepatnya dekat lokasi unit
pengolahan Bijih Besi. Bangunan perumahan ini terdiri dari 6 unit
rumah, masing-masing terdiri dari 10 kamar sehingga mampu
menampung 60 orang karyawan staf dan tamu perusahaan.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 80

C. Bangunan Pos Keamanan
Bangunan pos keamanan dibangun di setiap lokasi yang strategis yang
membutuhkan pengamanan, seperti misalnya pintu masuk daerah
tambang, perkantoran, perumahan, unit preparasi Bijih Besi dan stockpile.
Setiap lokasi yang strategis untuk kepentingan pengamanan dibatasi
dengan pagar kawat berduri. Setiap bangunan pos keamanan mempunyai
luas 3,5x3,5m
2
terdiri dari ruang jaga dan ruang peralatan /perlengkapan.
Ada sebanyak 7 pos keamanan didirikan di sekeliling daerah
pertambangan PT. ISCO Polman Resources yang letaknya pada lokasi-
lokasi yang strategis.

6.4.3 Fasilitas Bengkel
A. Bengkel Alat Berat
Bengkel tambang merupakan infrastruktur yang dipergunakan untuk
merawat alat-alat berat yang memerlukan perbaikan dan perawatan.
Letak bangunan ini dekat dengan lokasi unit pengolahan Bijih Besi
( 500m) dan relatif dekat dengan bukaan tambang ( 700m). Bangunan
dengan areal seluas 0,02Ha. Ini dilengkapi dengan peralatan-peralatan
bengkel alat berat.
Pembangunan workshop dan warehouse seluruhnya dilakukan oleh sub-
kontraktor yang tujuannya adalah untuk perbaikan dan perawatan alat-
alat berat dan kendaraan ringan.

B. Bengkel Kendaraan
Bengkel kendaraan digunakan untuk perawatan kendaraan yang dipakai
untuk sarana transportasi, seperti kendaraan roda empat untuk dinas
(L 200, Taft GT, Kijang, Panther) serta untuk pengangkutan karyawan
(bus Hino, Colt L-300), termasuk kendaraan untuk pengawas lapangan.
Bengkel kendaraan dengan Iuas 0,5Ha ini terbuat dari konstruksi kayu
dengan atap asbes dan dilengkapi dengan peralatan-peralatan bengkel
untuk kendaraan ringan.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 81

C. Tempat Cuci Kendaraan
Bangunan dengan luas sebesar 0,2Ha ini terletak di dekat bengkel alat
dan dipergunakan untuk tempat cuci kendaraan operatif tambang. Pada
bangunan ini tersedia drainase air untuk keperluan pencucian kendaraan.

D. Gudang Tambang
Bangunan ini digunakan sebagai tempat penyimpanan semua aset yang
secara fisik memerlukan volume ruangan yang besar, antara lain suku
cadang alat-alat berat, peralatan tambang dan suku cadang kendaraan.
Juga digunakan untuk menyimpan material lain yang dipergunakan untuk
pekerjaan-pekerjaan sipil tambang seperti pipa, rangka besi, kayu, asbes,
dan lain sebagainya. Administratur gudang pada umumnya mencatat aset
yang keluar - masuk, memonitor keadaan aset dan lain sebagainya,
sehingga semua aset yang disimpan dapat dikelola sebaik-baiknya.
Bangunan dengan luas sebesar 0,5Ha ini terletak di dekat kantor
tambang dengan sarana pengamanan pagar besi.

6.4.4 Fasilitas Instalasi Listrik
Bangunan stasiun pembangkit tenaga listrik dimaksudkan untuk penempatan
generator-generator pembangkit listrik yang digerakkan oleh bahan bakar
solar, sehingga dapat membangkitkan energi listrik yang dibutuhkan untuk
berbagai kepentingan operasi penambangan.

6.4.5 Fasilitas Instalasi Air Bersih
A. Stasiun Pompa Air Bersih
Stasiun pompa air direncanakan dengan tujuan untuk men-suplay
kebutuhan air bersih dan sehat yang digunakan untuk kebutuhan hidup
sehari-hari termasuk untuk minum, masak, mandi, cuci, dan lain
sebagainya. Stasiun pompa air ini harus dapat menyediakan air bersih
dan sehat yang memenuhi standar kualitas kesehatan, baik secara fisik
maupun secara kimiawi. Jumlah kebutuhan air bersih dan sehat.
diperkirakan seperti pada tabel 6.2.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 82

B. Instalasi Pengolahan Air Bersih
Air yang berasal dari sumur bor disalurkan ke saluran pengambilan air
melalui pintu pengambilan. Dari sini air diisap menuju ke kolam
pengendapan.
Kapasitas pompa untuk memindahkan air bersih bagi keperluan kantor,
perumahan karyawan dan sarana tambang adalah sebesar 2x32,40m
3

per jam (2 pompa @ 15 PK).

Tabel 6.2
Penyediaan Kebutuhan Air Bersih dan Sehat
Lokasi Fungsi Personil
Total
Kebutuhan
(liter/det.)
Total
Perumahan
Karyawan
Jaringan air bersih
untuk perumahan
1.500 0,01 15,00
Kantor
Tambang
Jaringan air bersih
untuk kantor
50 0,01 0,50
Jalan Tambang Penyiraman jalan - 1,00 1,00
Bengkel

Bengkel dan cud
kendaraan
- 0,50 0,50
Total - - - 17,00



Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 83


BAB 7
LINGKUNGAN, KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA



7.1 Lingkungan
Mengingat berbagai rangkaian kegiatan penambangan Bijih Besi dapat
menimbulkan dampak positif maupun negatif terhadap lingkungan, maka
akan memegang komitmen untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan
hidup. Upaya tersebut diwujudkan dengan akan dilakukannya studi
lingkungan hidup yang tertuang dalam bentuk dokumen Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL).
Pelaksanaan pengelolaan yang akan dilakukan didasarkan pada dokumen
Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan
(UPL).

7.1.1 Dampak Kegiatan
A. Geofisika - Kimia
1. Perubahan Bentang Alam
a. Dampak lingkungan
Kegiatan penambangan yang dilakukan berakibat berubah bentang
alam (morfologi) menjadi suatu lembah atau cekungan (kolam-kolam)
dan perbukitan.
Sejalan dengan geometri tambang dan kemajuan operasi tambang
sampai kedalaman 20m, bukaan lahan penambangan pun akan
bertambah besar. Fasilitas tambang, perumahan dan jalan-jalan,
sesuai perkembangan penambangan dan produksi, tidak terlalu
mengalami penambahan dampak secara signifikan. Areal yang

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 84

dibutuhkan untuk pembuangan tanah (dump area) akan terus
bertambah luas.
Selain Kegiatan penambangan, juga dilakukan pemotongan alur
sungai kecil dan pembuatan channel alur untuk mengalirkan guna
memperlancar penambangan Bijih Besi dan penempatan tanah
penutup.
b. Sumber Dampak
Dengan luas areal yang akan digali, maka dampak penting kegiatan
penambangan yaitu perubahan bentang alam (morfologi) yang diikuti
dengan tingginya tingkat erosi tanah dan solid pada air sungai
terdekat. Kegiatan yang merupakan dampak adalah sebagai berikut:
Kegiatan pengupasan tanah pucuk (top soil) akan menyebabkan
perubahan morfologi yang awalnya merupakan perbukitan
kemudian berubah menjadi areal cekungan. Sedangkan daerah
berlembah yang tidak mengandung Bijih Besi (waste dump
area) akan meluas perbukitan sebagai tempat penampungan
tanah pucuk dan tanah penutup.
Rencana kegiatan penambangan akan mengakibatkan daerah
yang ditambang tersebut berubah menjadi cekungan yang
dalam yang akan membentuk genangan air pada pusat
cekungan.
Selain pada kegiatan penambangan, juga dilakukan
pemotongan alur sungai dan beberapa alur/channel yang dibuat
untuk mengalihkan aliran air.
2. Penurunan Kualitas Air
a. Dampak lingkungan
Dampak yang diperkirakan akan timbul yaitu menurunnya kualitas air
permukaan pada badan perairan sungai. Dampak lanjutan yang dapat
ditimbulkan berupa terganggunya kehidupan biota air dan gangguan
kesehatan masyarakat.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 85

b. Sumber Dampak
Perubahan kualitas air yang terjadi disebabkan oleh beberapa
kegiatan antara lain:
- Pengupasan dan penimbunan tanah penutup di waste dump
- Penambangan Bijih Besi
- Pengelolahan Bijih Besi
- Ceceran oil bekas dan ceceran minyak dari tangki timbun BBM
serta genset dan
- Penimbunan Bijih Besi di stockpile

3. Penurunan Kualitas Udara
a. Dampak lingkungan
Dampak yang akan timbul yaitu peningkatan kadar debu dari kegiatan
pengupasan dan penimbunan tanah penutup penambangan,
pengolahan, pengangangkutan Bijih Besi penimbunan Bijih Besi di
ROM stockpile.
b. Sumber Dampak
Dampak dari kualitas udara terjadi oleh adanya kegiatan-kegiatan
pengupasan tanah pucuk, pengupasan dan penimbunan tanah
penutup, penambangan, pengolahan, peremukan, pengangkutan Bijih
Besi, penimbunan Bijih Besi di ROM stockpile.

4. Peningkatan Erosi Tanah
a. Dampak Lingkungan
Terjadinya peningkatan erosi tanah berdampak negatif lanjutan
terhadap meningkatnya kekeruhan air, terjadinya sedimentasi dan
berakibat terhadap pendangkalan sungai yang selanjutnya akan
berdampak lanjutan seperti terganggunya kehidupan biota perairan
(plankton, benthos, nekton) karena kekeruhan yang terjadi.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 86

b. Sumber Dampak
Peningkatan produksi akan diikuti oleh meningkatnya tanah
buangan/tutupan dari bukaan tambang yang akan ditempatkan pada
suatu areal tersendiri, yaitu areal waste dump. Tanah pada areal
tersebut sangatlah tidak stabil dan berpotensi terjadinya erosi tanah.
Peningkatan produksi akan diikuti pula oleh pengembangan areal
bukaan tambang (pit area) yang dapat berkembang secara vertikal
ataupun horizontal, dengan tanpa vegetasi diatasnya yang
mengakibatkan terjadinya erosi.

B. Biologi
1. Gangguan Flora Darat
a. Dampak Lingkungan
Kegiatan pembersihan lahan berdampak langsung terhadap
keberadaan flora yang merupakan sumber daya alam nabati yaitu
produsen primer dari suatu ekosistem. Selain itu, akan menimbulkan
dampak lanjutan seperti hilangnya habitat bagi fauna, meningkatkan
erosi tanah karena areal tersebut relatif terbuka yang selanjutnya
bagian tanah yang tererosi tersebut akan masuk ke badan perairan
yang mengakibatkan penurunan kualitas air permukaan serta
mengganggu kehidupan biota air.
b. Sumber Dampak
Pengembangan areal secara horizontal atau melebar akan
menambah luasnya areal terbuka yang didahului dengan pembukaan
lahan (land clearing) yang akan digunakan sebagai areal bukaan
tambang, areal waste dump untuk penempatan tanah penutup
bukaan tambang, serta fasilitas penunjang lainnya.
2. Gangguan Fauna Darat
a. Dampak Lingkungan
Hilangnya flora darat pada skala tapak karena kegiatan pembersihan
lahan akan merusak habitat satwa dan menganggu kehidupan satwa

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 87

yang mobilitasnya rendah. Meskipun dampak terhadap fauna darat
merupakan dampak turunan namun dampak yang ditimbulkan adalah
hilangnya tempat hidup dan sumber makanan bagi fauna.
b. Sumber Dampak
Kegiatan pembersihan lahan (land clearing) yaitu dengan hilangnya
vegetasi mengakibatkan hilangnya habitat bagi fauna.
3. Gangguan Biota Perairan
a. Dampak Lingkungan
Kehidupan biota air memerlukan persyaratan khusus yang berkaitan
dengan kualitas air karena air merupakan habitat bagi kehidupannya.
Dalam hal ini, dampak yang terjadi pada biota air sangatlah
tergantung pada besarnya perubahan kualitas air permukaan.
Dampak terhadap biota air merupakan dampak lanjutan penurunan
kualitas air permukaan.
b. Sumber Dampak
Sumber dampak gangguan biota perairan berasal dari menurunnya
kualitas air sungai akibat meningkatnya kekeruhan air yang
disebabkan oleh erosi. Terangkutnya bagian tanah karena erosi tanah
ke badan perairan sungai di sekitar areal tambang menimbulkan
kekeruhan air permukaan.

C. Sosial dan Kesehatan Masyarakat
1. Persepsi Masyarakat
a. Dampak Lingkungan
Aspek lingkungan yang terkena dampak adalah persepsi positif baik
yang ada di sekitar maupun di luar tapak proyek terhadap kegiatan
tambang. Dampak ini merupakan dampak sekunder yang diakibatkan
oleh semua akumulasi dampak lainnya.
Berbagai pengalaman dan perlakuan yang dirasakan oleh masyarakat
di sekitar wilayah tambang, dapat menimbulkan persepsi mereka baik

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 88

positif maupun negatif. Sikap pro dan kontra ini muncul seiring
dengan kemajuan kegiatan penambangan dan pelabuhan itu sendiri.
Persepsi semacam ini tidaklah terbentuk dalam waktu singkat,
melainkan melalui proses perjalanan waktu yang cukup panjang.
Proses dan mekanisme persepsi ini sangat bervariasi tergantung dari
tipelogi masyarakatnya, temperamen, serta faktor budaya yang
melatarbelakangi aktivitas mereka sehari-hari.
b. Sumber Dampak
Adanya kesempatan kerja.
Terbukanya peluang berusaha di sektor informal seperti jasa
sewaan rumah, wartel, mini market, warung manisan, pasar
pekan, bengkel, transportasi (ojek), dan lain lain.
Adanya transaksi jual beli antara penduduk lokal dan pendatang,
antara karyawan dengan penduduk sekitar yang dapat
menumbuhkan unit-unit ekonomi pedesaan.
Terbukanya isolasi daerah sehingga meningkatkan pendapatan
daerah dalam skala regional.
Adanya interaksi sosial yang positif antara penduduk asli
dengan karyawan berikut sub-kontraktornya.
Tumbuhnya .kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan
sekitar penambangan dan pelabuhan khusus Bijih Besi yang
dicanangkan dalam bentuk realisasi program community
development.

2. Peningkatan Perekonomian Lokal
a. Dampak Lingkungan
Meningkatnya perekonomian dan pendapatan masyarakat di daerah
ambang dan sekitarnya disebabkan oleh peluang usaha dan kegiatan
perekonomian yang terkait dengan kegiatan pertambangan. Di
samping itu, bertambah pula pendapatan (income) daerah dari
kegiatan restribusi/pajak yang dibayar.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 89

b. Sumber Dampak
Sumber dampak meliputi serangkaian aktivitas penambangan seperti
pembangunan sarana dan prasarana, penerimaan tenaga kerja,
pembebasan lahan, pembangunan jalan tambang, restribusi/pajak
yang dibayar, dan lain-lain yang berhubungan dengan peningkatan
perekonomian bagi penduduk serta pemerintah setempat, baik
langsung atau tidak langsung.
Aktivitas mencolok yang dapat meningkatkan perekonomian
masyarakat setempat adalah terbukanya daerah baru yang dibarengi
dengan fasilitas komunikasi, transportasi, dan transaksi. Dengan
demikian, aktivitas perekonomian setempat akan tumbuh dengan
baik. Sebagai contoh, terserapnya tenaga kerja sebagai sumber
ekonomi baru dan maraknya usaha-usaha yang bergerak di sektor
informal sehubungan dengan aktivitas tambang.

3. Gangguan Kesehatan Masyarakat
a. Dampak Lingkungan
Terganggunya kesehatan dan kenyamanan masyarakat di sekitar
lokasi kegiatan merupakan akibat dari kegiatan penambangan Bijih
Besi pada waktu pembongkaran tanah penutup, air limbah dari proses
penambangan, pengolahan (peremukan) dan penimbunan Bijih Besi.
Sedangkan dampak lain adalah meningkatnya debu akibat
penambangan, pengangkutan, pengolahan dan penimbunan Bijih
Besi.
Pada tahap operasi, diprediksikan gangguan terhadap kesehatan
masyarakat akan bersifat negatif kecil dan penting. Hal ini jika kita
proyeksikan dari jarak permukiman penduduk terdekat dengan
kegiatan operasi tambang yang akan dieksploitasi, relatif cukup jauh
yaitu lebih kurang 0,5-1,0km. Namun demikian, tetap perlu
diantisipasi dampaknya agar kenyamanan penduduk setempat lebih
terjamin.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 90

7.1.2 Pengelolaan Lingkungan
A. Perubahan Bentang Alam
1. Upaya Pengelolaan Lingkungan
a. Pengelolaan Waste Dump Area
Upaya pengelolaan waste dump area dilakukan melalui reklamasi
yang terdiri dari penataan/rencountering lahan dan dilanjutkan dengan
revegetasi tanaman. Kegiatan reklamasi tersebut hanya bisa
dilakukan pada waste dump area tertentu yaitu pada bagian areal
tersebut yang tidak akan terganggu lagi dengan penempatan tanah
overburden. Secara umum teknis reklamasi yang dilaksanakan
adalah sebagai berikut:
Penataan Lahan (Recounturing)
Pekerjaan penataan lahan dilakukan dengan alat berat excavator
dan bulldozer. Lahan terbuka ditata melalui perataan, pemadatan
dan dibuat berjenjang dengan kemiringan 30, tinggi teras
disesuaikan dengan topografi timbunan tanah yang secara umum
setinggi 6meter dengan lebar 10meter.
Penebaran Tanah Pucuk
Dalam pekerjaan land clearing tanah pucuk dikupas dengan
excavator dibantu bulldozer lalu dimuat ke dalam dump truck
untuk ditimbun atau langsung ditebarkan pada lahan waste dump
yang telah dilakukan penataan. Penebaran tanah pucuk dilakukan
dengan bulldozer sebagai pelapis cover bench.
Revegetasi/Penanaman
Revegetasi tanaman dilakukan setelah penebaran tanah pucuk
yang dilakukan pada saat musim hujan dengan menggunakan
tanaman LCC jenis Centrosoma Pubecent sebagai penutup tanah
yang dilanjutkan dengan tanaman penghijauan dari jenis albisia,
gamal, akasia, dan kayu jenis lokal.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 91

b. Pengelolaan Areal Tambang
Upaya pengelolaan area tambang meliputi pembuatan geometri teras
tambang dan penirisan.
Membuat Geometris Teras Tambang
Upaya pengelolaan area yaitu membuat geometri teras tambang
dengan prosedur sebagai berikut:
- Tinggi maksimum teras aktif 12,50m
- Sudut kemiringan tebing teras tidak boleh melebihi 50
- Lantai teras aktif harus cukup lebar untuk menjamin
keamanan pekerja dan peralatan operasi penambangan
- Tinggi maksimum lereng menyeluruh 14-60m dengan
kemiringan menyeluruh 30
Membuat penirisan yang baik sehingga tidak menimbulkan
genangan air pada lantai teras atau erosi pada teras
2. Lokasi Pengelolaan
a. Pengelolaan terhadap dampak perubahan bentang alam
(geomorfologi) ini akan dilakukan pada waste dump area dan di
dalam bukaan tambang (pit)
b. Pengelolaan terhadap dampak dilakukan pada sungai-sungai kecil

B. Penurunan Kualitas Air
1. Upaya Pengelolaan Lingkungan
a. Area Bukaan Tambang (Pit) dan Waste Dump
Air permukaan yang masuk tambang dialirkan ke dalam kolam
pengendapan dengan membuat parit penirisan di daerah "toe" teras
penambangan, di lantai ekstraksi Bijih Besi, dan pada teras
pengambilan tanah interburden. Pada musim hujan kualitas air
permukaan tambang lebih buruk. Sebagian besar air permukaan yang
ditiriskan dari tambang diendapkan pada kolam pengendapan
sedimen di dalam lubang tambang.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 92

Adapun upaya pengelolaan yang akan dilakukan saat ini adalah
sebagai berikut:
Air di lantai kerja tambang masuk ke kolam penampungan
di dalam lubang tambang "in pit pond", kemudian dipompa
ke bak pencampuran floculan dan atau koagulan
(AISCMawas), selanjutnya air disalurkan ke kolam
pengendapan sedimen.
Pada bak pencampuran Floculan dan/atau A1
2
SO
4
tawas
berlangsung kontak dengan air yang mengandung lumpur
sehingga terjadi proses pengendapan lumpur yang lebih
cepat. Instalasi pipa air menghubungkan aliran air dari
bak pencampur ke kolam pengendapan, mengalir dengan
gaya gravitasi.


Gambar 7.1
Sketsa Settling Pond di Lokasi Pit dan Waste Dump

Sedimen yang terbentuk di settling pond dipindahkan secara periodik
apabila ketinggiannya sudah mencapai kapasitas settling pond.
Pemindahan sedimen dilakukan dengan cara pemompaan ke dalam
truck tangki kemudian ditimbun di waste dump area aktif.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 93

Secara periodik juga perlu dilakukan pengetesan beberapa parameter
fisika dan kimia, antara lain pH, warna, kekeruhan (TSS) dan
kandungan logam terhadap air kolam.
Untuk mengetes apakah air tersebut cukup aman bagi kehidupan
biota air, misalnya ikan, maka dapat dipelihara ikan di dalam kolam.
Tangki timbun tersebut kemudian diangkut oleh mobil setiap satu
minggu untuk diangkut ke Polewali untuk dikirim ke sistem
pengolahan oli bekas.

Tabel 7.1
Jenis Kontainer Yang Dapat Digunakan Untuk Menampung Limbah
Cair Minyak dan Oli
No. Jenis Kontainer Ukuran Ukuran Ukuran
1. Kaca (galas) 0,473 liter 0,950 liter 3,8 liter
2. Logam (metal) 3,8 liter 19 liter 19 liter
3. Kaleng 7,6 liter 19 liter 19 liter
4. Drum Logam 228 liter 228 liter 228 liter
5. Tangki 2.508 liter 2.508 liter 2.508 liter
6. Polietilene 3,8 liter 19 liter 19 liter
Catatan : Oli dan minyak bekas termasuk kelas 1. C

2. Lokasi Pengelolaan
Pengelolaan terhadap penurunan kualitas air akan dilakukan, pada area
tambang yang meliputi settling pond, waste dump, bukaan tambang,
workshop, serta lokasi stockpile.

C. Penurunan Kualitas Udara dan Getaran
1. Upaya Pengelolaan Lingkungan
Secara umum dampak yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan
pengangkutan Bijih Besi ini yakni timbulnya debu di jalan pada saat
dilewati dump truck dan trailer pengangkut Bijih Besi.
Meningkatnya konsentrasi debu di sepanjang jalan angkut atau pun jalan
tambang dapat ditanggulangi dengan meningkatkan frekuensi penyiraman
jalan. Adapun untuk menghitung frekuensi penyiraman jalan angkut, maka
pendekatan yang akan digunakan adalah kecepatan penguapan air

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 94

siraman yang dapat dihitung sebagai berikut, berupa rumus empiris dari
laju penguapan pada permukaan tanah yang dikembangkan oleh Penman
Mining yaitu:
E = 0,35 | |
(

100
1 V
b a
Dimana :
E = laju penguapan (mm/hari)
a = tekanan pada suhu rata-rata harian (mm Hg)
b = tekanan uap sebenarnya (mm Hg)
V = kecepatan angin (mil/hari)
Dari data iklim diketahui bahwa:
RH = 65%
T = 31,5C
V = 15mil/hari
Tekanan uap jenuh pada 31,5C adalah 36,1 1mm HG
a = 36,11mm Hg
b = 36,1 1mmHg x 65%-23,5mmHg
E = 0,35(36,11 -23,5) | | 360 1+
1 = 20,3mm/hari ( ~ 21mm/hari)
Seluruh jalan angkut Bijih Besi dari tambang sampai dengan lokasi
stockpile akhir jalan yang dipadatkan. Kebutuhan air yang diperlukan
dalam kegiatan penyiraman jalan angkut Bijih Besi di atas diperkirakan
1008m/hari (effisiensi 80%).
Untuk menanggulangi pencemaran debu tersebut, upaya pengelolaan
yang dilakukan adalah sebagai berikut:
- Dibangun instalasi penyiraman air pada crushing plant sebelum Bijih
Besi masuk ke Silo.
- Dibangun instalasi penyiram air di jalur jalan keluar silo untuk
membasahi Bijih Besi yang dimuat di bak truk agar Bijih Besi halus
tidak tertiup angin.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 95

- Meningkatkan frekuensi penyiraman jalan secara rutin yang
disesuaikan dengan kondisi lapangan yaitu penyiraman di
sepanjang jalan angkut dan jalan tambang, conveyor dan stockpile.
Kegiatan penyiraman jalan dilakukan oleh kontraktor dengan
kapasitas kendaraan tangki penyiraman.
- Membuat buffer zone dengan pohon-pohon pilihan di pinggir-pinggir
jalan angkut ke stockpile akhir dan sekeliling area/ stockpile dengan
pohon-pohon pilihan seperti akasia, sengon, lamtoro dan tanaman
penutup (LCC) dll. Hal ini selain akan mengurangi dampak akibat
debu juga kebisingan dari aktivitas penambangan dan transportasi
alat angkut.
- Mengatur kecepatan kendaraan angkut Bijih Besi, pada kondisi
aman dengan kecepatan tidak lebih dari GOkm/jam.
Untuk mengetahui upaya pengelolaan, maka telah dilakukan upaya
pemantauan yang berkaitan dengan dampak dari penurunan kualitas
udara adalah pengujian debu dan pengujian kebisingan.
2. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Lokasi pengelolaan lingkungan untuk mengurangi dampak penurunan
kualitas udara dan kebisingan adalah di areal tambang, sepanjang jalan
angkut dan jalan tambang, crushing plant, dan stockpile.

D. Peningkatan Erosi Tanah
1. Upaya Pengelolaan Lingkungan
Upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan dalam mengurangi laju
erosi tanah adalah mengelola faktor-faktor yang mempengaruhi erosi
tanah yang dapat dikelola oleh manusia seperti mengelola tanaman dan
tanah. Pengelolaan terhadap tanah melalui bangunan konservasi tanah
untuk berbagai kemiringan tanah yang dilanjutkan dengan revegetasi
tanaman. Secara ringkas gambaran bangunan konservasi tanah untuk
areal reklamasi waste dump adalah sebagai berikut:

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 96

Bangunan konservasi tanah ditata secara berjenjang (bench)
membentuk teras bangku bersambung yang permukaan tanahnya
telah dipadatkan terlebih dahulu.
Setiap waste dump area terdiri dari 6-8 jenjang, tentunya hal ini
haruslah disesuaikan dengan kestabilan lereng yang terbentuk, dan
kestabilan lereng sangat dipengaruhi jenis tanah buangan yang ada
pada area tersebut.
Ketinggian vertikal maksimal 6m/jenjang dengan tebar bidang datar
10m dan panjang bidang miring 12m dengan sudut yang terbentuk
sebesar 30.
Pada setiap jenjang, yaitu pada bagian dalam bidang datar, dibuat
saluran drainase dan setiap 25-40m saluran tersebut disalurkan ke
jenjang bagian bawahnya, demikian seterusnya dan pada lantai
dasar waste dump dibuat saluran drainase yang dapat berfungsi
sebagai sediment trap yang dialirkan menuju settling pond.
Bentuk bangunan konservasi tanah untuk waste dump area dengan
overall slope-nya sebesar 15 telah sesuai dengan kajian geoteknik
untuk waste dump.
Upaya pengelolaan tanah pucuk akan dilakukan secara langsung yaitu
menempatkan tanah pucuk tersebut secara langsung ke waste dump area
saat reklamasi atau menempatkan tanah tersebut secara terpisah dengan
overburden pada waste dump tersendiri bila belum dimanfaatkan.

Tanah pucuk tersebut akan dikelola dengan menanami cover crop pada
permukaannya yang bertujuan untuk mengurangi erosi yang terjadi yang
dapat menimbulkan berkurangnya tingkat kesuburan tanah.

2. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Lokasi pengelolaan lingkungan dilakukan pada area tambang dan waste
dump serta area top soil.




Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 97

E. Gangguan Flora Darat
1. Upaya Pengelolaan Lingkungan
Karena besar dan pentingnya dampak yang ditimbulkan dari
pembukaan lahan dengan rentang waktu yang lama dan tingginya
nilai pemanfaatan, maka upaya pengelolaan lingkungan terhadap
flora darat haruslah dikelola secara terencana, tepat dan terukur
dengan tetap memperhatikan setelah usainya masa penambangan.
Pengelolaan terhadap flora darat terkait dengan revegetasi tanaman
pada waste dump area.
a. Revegetasi Tanaman
Revegetasi pada waste dump area menggunakan tanaman LCC
seperti Cenfrosoma pubescens dengan tanaman pokok albisia,
akasia, gamal ataupun jenis tanaman lokal dengan jarak tanam
3m. Secara ringkas teknis revegetasi adalah sebagai berikut:
- Pengapuran tanah dilakukan untuk meningkatkan pH tanah,
minimal diberikan 2 minggu sebelum penanaman LCC
dengan dosis 1-2ton/Ha.
- Tanaman penutup tanah adalah jenis LCC dari jenis
Centrosoma pubescens yang ditanam secara larikan, yaitu
tanah dicangkul ringan sedalam 5-8cm yang telah ditentukan,
kemudian baru ditaburkan LCC lalu ditutup kembali dengan
tanah. Sebaiknya sebelum dilakukan penanaman, LCC
tersebut direndam terlebih dahulu selama 12-18jam,
kemudian dicampur dengan pupuk Rock Phospat (RP)
dengan perbandingan 1:1.
- Sebaiknya lubang tanam telah dibuat terlebih dahulu agar
lubang tanaman dapat terisi air, dengan ukuran 40x30x30cm
(jarak tanam 3x3m), dan diupayakan top soil akan diberikan
dalam lubang.
- Awal penanaman dilakukan setelah hujan turun dengan rutin,
saat dilakukan penanaman tanaman albisia haruslah disertai


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 98

dengan pemupukan dasar yaitu menggunakan pupuk RP
(pupuk P alam) dengan dosis 200gr/lubang/pohon.
- Kebutuhan pupuk LCC per hektar sebesar 300kg urea dan
500kg RP (2 kali pemupukan pada umur 3 dan 6 bulan),
sedangkan tanaman pokok per hektar untuk tahun I (3 kali
pemupukan yaitu 3,6,10 bulan) sebesar 200kg urea dan
300kg RP dan untuk tahun II (2 kali pemupukan yaitu awal
dan akhir musim penghujan) sebesar 300kg demikian pula
untuk tahun III. Pemberian pupuk untuk tanaman pokok
dengan cara dibenamkan dalam tanah di sekeliling tanaman.
Jadi total kebutuhan pupuk untuk LCC sebesar 300kg
urea/Ha dan 520kg RP/Ha, sedangkan untuk albisia selama 3
tahun sebesar 800kg urea/Ha dan 425kg RP/Ha.
- Pemeliharaan rutin harus tetap dilakukan dengan baik, yaitu
tanaman pokok dan LCC yang meliputi penyulaman dan
pemupukan demikian pula terasering waste dump dan sistem
drainase.
- Tanaman penutup tanah adalah jenis LCC dan jenis
Centrosoma yang ditanam secara larikan, yaitu tanah
dicangkul sedalam 5-8cm sepanjang larikan yang telah
ditentukan, ditaburkan LCC lalu ditutup kembali dengan
tanahsebelum dilakukan penanaman, LCC selama 12-18 jam,
kemudian dicampur pupuk Rock Phospat (RP) dengan
perbandingan lubang tanam telah dibuat terlebih dahulu agar
lubang dapat terisi air, dengan ukuran 40x30x30cm (jarak
4x4m), dan diupayakan top soil diberikan dalam tanaman
yang telah dilakukan setelah hujan turun dengan rutin. Saat
penanaman tanaman albisia haruslah disertai dengan dasar
yaitu menggunakan pupuk RP (pupuk P alam) dosis
200gr/lubang/pohon.
- Pupuk LCC per hektar sebesar 300kg urea dan 500kg RP
pemupukan pada umur 3 dan 6 bulan), sedangkan pokok per
hektar untuk tahun I (3 kali pemupukan) yaitu sebesar 200kg

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 99

urea dan 300kg RP) dan untuk 7 kali pemupukan yaitu awal
dan akhir musim penghujan. Demikian pula untuk tahun III.
Pemberian pupuk pokok dengan cara dibenamkan dalam
tanah tanaman. Jadi total kebutuhan pupuk untuk LCC 300kg
urea/Ha dan 520kg RP/Ha, sedangkan untuk selama 3 tahun
sebesar 800 kg urea/Ha dan 425kg RP/Ha. Rutin harus tetap
dilakukan dengan baik, yaitu pokok dan LCC yang meliputi
penyulaman dan demikian pula terasering waste dump dan
sistem.
Revegetasi juga ikutan pada lahan-lahan terbuka lainnya yaitu
sarana penunjang, di kedua sisi jalan serta lereng-lereng yang
terpotong.
b. Pembibitan
Untuk dapat menjamin ketersediaan bibit tanaman revegetasi,
maka akan dilakukan pembibitan sendiri dalam bangsal
pembibitan.
2. Lokasi Pengelolaan
Upaya pengelolaan lingkungan dilakukan di lokasi waste dump, di sisi
kiri-kanan jalan pembibitan dan di area terbuka sarana penunjang
lainnya.

F. Pelaksanaan Program Community Development
1. Upaya Pengelolaan Lingkungan
Melalui program community development ini, bersama pemerintah
setempat secara bertahap akan melakukan upaya peningkatan dan
pemberdayaan masyarakat yang terkait dengan kegiatan PT. ISCO
Polman Resources. Aspek yang dikembangkan tidak hanya terbatas
pada pembangunan fisik tetapi juga pada kegiatan yang bersifat non-
fisik seperti peningkatan kualitas SDM (sumber daya manusia),
pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat serta mensinergikan

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 100

kemitraan, secara tri-patit yaitu antara perusahaan, pemerintah dan
masyarakat setempat.
Program community development yang telah direncanakan mencakup
kegiatan fisik (rehabilitasi sarana peribadatan, sarana MCK, dan lain-
lain), sedangkan kegiatan non-fisik seperti pelatihan, penyuluhan,
pemberian beasiswa prestasi, serta bantuan bibit ternak atau
pertanian/perkebunan.
Pemantauan terhadap pelaksanaan program community development
ini dilakukan secara berkala dengan variasi waktu setiap satu tahun
sekali, tiga bulan sekali bahkan enam bulan sekali, tergantung dari
jenis program yang dilakukan. Adapun pemantauan yang dilakukan
tiga bulanan dan enam bulanan merupakan program kegiatan
community development jangka menengah, seperti pemberian bibit
hewan.
2. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Metode pemantauan yang dilakukan dengan menggabungkan
berbagai metode lapangan seperti multi-visit, wawancara dan
penyuluhan. Lokasi pemantauan mencakup desa-desa yang ada di
sekitar penambangan.
7.1.3 Pemantauan Lingkungan
A. Perubahan Bentang Alam
a. Parameter Lingkungan yang Dipantau
Tolok ukur untuk mengetahui dampak terhadap lingkungan adalah
dengan mendata luas bentang alam (geomorfologi) yang dibuka dan
perubahan tinggi rendah muka tanah di atas permukaan laut (dpl)
sebelum dan sesudah penambangan berakhir di area tapak proyek,
serta persentase pengembalian lahan.



Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 101

b. Tujuan Rencana Pemantauan Lingkungan
Tujuan rencana pemantauan lingkungan yaitu untuk mengetahui luas
lahan yang telah dibuka dan keberhasilan dari lahan yang telah
dibuka.
c. Metode Pemantauan Lingkungan
1. Metode Pengumpulan dan Analisis Data
Metode pemantauan lingkungan perubahan (geomorfologi)
adalah dengan mengukur langsung tanah penutup, lokasi
penambangan dengan alat ukur theodolit.
Hasil pemantauan digambar pada peta topografi dan potongan
melintang dan juga persentase dari pengembangan lahan seperti
semula serta mengamati keberhasilan program penghijauan yang
dilakukan di sekitar bukaan tambang hasil pengukuran dan
pengamatan ditabulasikan untuk membandingkan dengan
keadaan atau kondisi sebelumnya.
Untuk pemantauan pergerakan tanah atau kestabilan lereng
dilakukan pengamatan terhadap patok (bauflank) yang dipasang
pada lereng timbunan, lereng bukaan tambang atau daerah kritis
di sekitar penambangan.
2. Lokasi Pemantauan Lingkungan
Lokasi pemantauan lingkungan diprioritaskan di daerah:
Bukaan tambang
Waste dump area
Kolam pengendap (settling pond/sediment pond)
3. Jangka Waktu dan Frekuensi Pemantauan
Periode pemantauan lingkungan terhadap bentang alam
(geomorfologi) akan dilaksanakan setiap 3 bulan dan dimulai
sejak awal kegiatan penambangan sampai pasca tambang.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 102

Tabel 7.2
Metode Analisis dan Peralatan Yang Digunakan
Dalam Pemantauan Kualitas Air
No. Parameter Satuan
Metode yang
digunakan
Peralatan
1. Suhu
o
C Pemuaian Thermometer
2. Zat padat terlarut (TDS) Mg/1 Gravimetric Timbangan analitik dan kertas saring
3. Zat Padat tersuspensi Mg/1 Gravimetric Timbangan analitik dan kertas saring
4. (TTS) Mg/1
5. Air Raksa Mg/1 Spektrometrik AAS
6. Amoniak bebas Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
7. Arsen Mg/1 Spektrometrik AAS
8. Berium Mg/1 Spektrometrik AAS
9. Besi Mg/1 Spektrometrik AAS
10. Fenol Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
11. Florida Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
12. Kadium Mg/1 Spektrometrik AAS
13. Klorida Mg/1 Spektrometrik Buret
14. Kromium, valensi 6 Mg/1 Titrimeterik AAS
15. Mangan Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
16. Nitrat sebagai NO3-N Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
17. Nitrat sebagai NO2-N Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
18. Oksigen Terlarut (Do) Mg/1 Spektrometrik Buret
19. PH Mg/1 Titrimeterik pH meter
20. Selenium Mg/1 Kertas Lakmus Spektofometer
21. Seng Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
22. Sianida Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
23. Sulfat Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
24. Sulfida sbg (H2S) Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
25. Tembaga Mg/1 Spektrometrik AAS
26. Surfactan anion (MBAS) Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
27. Bijih Besi Mg/1 Spektrometrik AAS
28. Minyak dan Lemak Mg/1 Spektrometrik Spektofometer
29. BOD Mg/1 Potensiometrik DO meter
30. COD Mg/1 Titmeterik Buret

d. Lokasi Pemantauan Lingkungan
Lokasi kegiatan pemantauan lingkungan dilakukan untuk air limbah di
waste dump area dan bukaan tambang.
e. Jangka Waktu dan Frekuensi Pemantauan
Periode pemantauan kualitas air adalah setiap tiga bulan sekali.
B. Institusi Pemantauan Lingkungan
a. Pelaksana Pemantauan Lingkungan
Kegiatan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan oleh Departemen
Lingkungan dan K-3.



Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 103

b. Pengawas Pemantauan Lingkungan
Pengawasan pelaksanaan pemantauan lingkungan dilakukan dan
dikoordinasikan oleh Bapedalda Kabupaten Polewali dan Direktorat
Teknik dan Lingkungan, Mineral dan Panas Bumi.
Direktorat Jenderal Mineral dan Panas Bumi dan Departemen Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta instansi teknis di Kabupaten
Polewali antara lain:
a. Dinas Pertambangan
b. Dinas Kelautan, Perikanan dan Pertanian
c. Dinas Kesehatan

c. Pelaporan Hasil Pemantauan Lingkungan
Pelaporan hasil kegiatan pemantauan yang telah dilakukan, dilaporkan
kepada Bapedalda Kabupaten Polewali dan Direktorat Teknik dan
Lingkungan Mineral dan Panas Bumi, Direktorat Jenderal Mineral dan
Panas Bumi, dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM).

C. Penurunan Kualitas Udara dan Getaran
1. Parameter Lingkungan Yang Dipantau
Tolok ukur dampak yang digunakan adalah Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. Kep-48/MENLH/11/1996, Kep-13/MENLH/3/
1995 dan Kep-Q2/MENKLH/1998, serta Kep-49/MENLH/11/1996.

D. Peningkatan Erosi Tanah
a. Parameter Lingkungan Yang Dipantau
Parameter lingkungan yang dipantau adalah terjadi sifat fisik dan kimia
tanah dan kegiatan yang dilakukan serta komponen lingkungan yang
diakibatkan oleh erosi.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 104

b. Tujuan Rencana Pemantauan Lingkungan
Tujuan rencana pemantauan lingkungan adalah untuk mengetahui
tingkat erosi yang terjadi dan pengaruhnya terhadap komponen
lingkungan hidup lainnya yang berasal dari sumber dampak serta
efektivitas pengelolaan lingkungan.
c. Metode Pemantauan Lingkungan
a. Metode Pengumpulan dan Analisis Data
Metode pemantauan lingkungan dilakukan secara langsung, yaitu
secara visual mengamati besarnya erosi yang terjadi dan untuk
areal bukaan waste dump yang baru dilakukan dengan mengambil
sampel tanah kemudian dianalisis di laboratorium untuk
mengetahui sifat fisik dan kimia tanah. Hasil analisis laboratorium
tersebut digunakan untuk menghitung laju erosi yang terjadi di
daerah tersebut dengan menggunakan persamaan USLE. Metode
analisis dan peralatan yang digunakan dalam pemantauan tanah
disajikan pada tabel berikut:

















Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 105

Tabel 7.3
Metode dan Peralatan Analisis Sifat Fisik dan kimia Tanah
No. Parameter Unit
Metode Pengumpulan dan
Analisis Data
Bahan dan Alat
A. Fisika
1. Tekstur
a. Pasir % Penyaringan Pipet
Penyaringan
b. Debu % Dipipet setiap saat Lemari
pendingin
c. Liat % Dipipet setiap saat Neraca analitik
2. Erosi Ton/ha/thn Erosi tanah, USLE 1996
3. Permeabilitas Manual
4. Profil Tanah Manual
B. Kimia
5. pH (H
2
O) - Aduk rata dengan H
2
O
perbandingan 1:1

6. Ph (KCI) - Adu rata dengan KCI 1 N
perbandingan 1:1

7. C-Organik % Walkey dan Black Gelas Kaca
8. N-Total % Kjedahl Kjedahl tube
9. P-dd Ppm Bryal extraksi Spectrometer
10. K, Na, Ca, Mg Me/100g NH4OaC.pH. dekantansi Flamphotometer
11. KTK Me/100g Saturasi NH4OaC.pH.
dekantansi, titrasi
Gelas Kaca
12. KTK Me/100g Titrasi Gelas Kaca


Hasil analisis sifat fisik-kimia tanah dianalisis secara tabulasi dan kemudian
dibandingkan dengan kriteria penilaian tingkat kesuburan tanah.
sedangkan untuk menduga besarnya erosi tanah dihitung dengan
menggunakan pendugaan besarnya erosi tanah dihitung dengan
menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) dan kemudian
hasil tersebut dibandingkan dengan besaran tingkat bahaya erosi. Adapun
persamaan untuk menghitung erosi yang terjadi adalah:

A = R.K.L.S.C.P
Dimana :
A = Dugaan erosi tanah (ton/ha/thn)
R = Eorisvitas hujan






Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 106

b. Lokasi Pemantauan Lingkungan
Lokasi pemantauan lingkungan pada daerah yang terkena dampak
yaitu waste dump area, bukaan tambang ataupun yang terkena
dampak lanjutan dari erosi yaitu badan perairan sungai.
c. Jangka Waktu dan Frekuensi Pemantauan
Upaya pemantauan dilakukan setiap saat sampai berakhirnya masa
operasional penambangan untuk mengetahui secara dini dampak
negatif yang ditimbulkan agar bisa diminimalisir dan frekuensi
pelaporan 6 bulan sekali.

d. Institusi Pemantauan Lingkungan
1. Pelaksana Pemantauan Lingkungan
Kegiatan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan oleh
Departemen Lingkungan dan K-3.
2. Pengawas Pemantauan Lingkungan
Pengawasan pelaksanaan pemantauan lingkungan dilakukan dan
dikoordinasikan oleh Bapedalda Kabupaten Polewali dan Direktorat
Teknik dan Lingkungan, Mineral dan Panas Bumi, Direktorat
Jenderal Mineral dan Panas Bumi dan Departemen Energi dan
Sumber daya Mineral (ESDM) serta instansi teknis di Kabupaten
Polewali antara lain Dinas Pertambangan dan Dinas Kehutanan.
3. Pelaporan Hasil Pemantauan Lingkungan
Pelaporan hasil kegiatan pemantauan yang telah dilakukan,
dilaporkan kepada Bapedalda Kabupaten Polewali dan Direktorat
Teknik dan Lingkungan, Mineral dan Panas Bumi, Direktorat
Jenderal Mineral dan Panas Bumi dan Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM).






Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 107

E. Gangguan Flora Darat
1. Parameter Lingkungan Yang Dipantau
a. Perubahan nilai indeks keanekaragaman vegetasi dan indeks nilai
penting dibandingkan rona awal pada berbagai areal yang dibuka.
b. Berbagai aspek pengelolaan yang telah dan akan dilakukan dan
tingkat keberhasilan pelaksanaan revegetasi serta pengaruhnya
terhadap aspek lingkungan lainnya.
2. Tujuan Rencana Pemantauan Lingkungan
Tujuan rencana pemantauan lingkungan adalah untuk mengetahui sejauh
mana dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan yang berasal dari
sumber dampak agar bisa segera diminimalisir, serta efektifitas
pengelolaan lingkungan yang telah dan akan dilakukan terhadap flora
darat dan dampak turunannya.
3. Metode Pemantauan Lingkungan
a. Metode Pengumpulan dan Analisis Data
Metode pemantauan lingkungan adalah dengan pengamatan langsung
ke lapangan, yaitu sumber dampak, dampak yang ditimbulkan serta
pengelolaan lingkungan sedini mungkin baik pada saat perencanaan
dan pelaksanaan pengelolaan lingkungan serta monitoring dampak
dari pengelolaan yang telah dilakukan. Adapun hal-hal yang dipantau
adalah:
Pembukaan lahan apakah telah dilakukan sesuai dengan
kebutuhannya secara bertahap untuk meminimumkan dampak.
Penempatan tanah penutup/buangan pada area waste dump,
apakah telah tertata dan terencana dengan baik, karena akan
berhubungan langsung dengan besarnya gangguan dan
pemanfaatan lahan, bentang alam, erosi dan tingkat keberhasilan
revegetasi.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 108

Teknis penanaman dan pemeliharaan apakah sudah sesuai
dengan teknis budi daya pada lokasi revegetasi secara
menyeluruh.
Pertumbuhan tanaman revegetasi, apakah sudah sesuai dengan
umur tanaman.
Pemantauan pembibitan perlu dilakukan, karena merupakan
langkah awal dan revegetasi yaitu bagaimana budi daya,
pertumbuhan, jumlah dan kualitas siap salur untuk revegetasi.
Pemantauan satwa liar dapat diketahui melaiui kegiatan
pengamatan langsung di lapangan, terutama ditujukan kepada
satwa yang dilindungi dan jenis-jenis burung. Dari data tersebut
selanjutnya dapat diketahui kedudukan satwa tersebut di dalam
ekosistem yang pada gilirannya dari keadaan tersebut dapat
dijadikan tolok ukur dari keberhasilan revegetasi dalam
mengembalikan fungsi ekosistem sebagai fungsi ekologi.
b. Lokasi Pemantauan Lingkungan
Lokasi pemantauan terhadap flora darat pada lokasi penambangan
sesuai dengan lokasi pengelolaan lingkungan yaitu daerah waste
dump, sisi kiri dan kanan jalan, pembibitan dan sarana penunjang
lainnya termasuk areal pada stockpile akhir.
c. Jangka Waktu dan Frekuensi Pemantauan
Pemantauan lingkungan akan dilakukan setiap saat selama kegiatan
penyebab dampak berlangsung dan sesuai dengan pelaksanaan
pengelolaan yang dilakukan sampai akhir masa penambangan dengan
frekuensi pengelolaan setiap hari. Sedangkan frekuensi pelaporan
akan dilakukan setiap 3 bulan sekali.

4. Institusi Pemantauan Lingkungan
a. Pelaksana Pemantauan Lingkungan
Kegiatan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan oleh Departemen
Lingkungan dan K-3.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 109

b. Pengawas Pemantauan Lingkungan
Pengawasan pelaksanaan pemantauan lingkungan dilakukan dan
dikoordinasikan oleh Bapedalda Kabupaten Polewali dan Direktorat
Teknik dan Lingkungan, Direktorat Jenderal Mineral dan Panas Bumi,
dan Departemen Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM) serta
instansi teknis di Kabupaten Polewali Sulawesi Barat antara lain Dinas
Pertambangan dan Dinas Kehutanan.
c. Pelaporan Hasil Pemantauan Lingkungan
Pelaporan hasil kegiatan pemantauan yang akan dilakukan oleh
dilaporkan Kepala Bapedalda Kabupaten Polewali dan Direktorat
Teknik dan Lingkungan, Direktorat Jenderal Mineral dan Panas Bumi,
dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

F. Gangguan Fauna Darat
1. Parameter Lingkungan yang Dipantau
Parameter lingkungan yang dipantau adalah jenis fauna yang hadir tapak
proyek, lokasi keberadaannya dan jenis fauna yang ada tapak proyek.
2. Rencana Pemantauan Lingkungan
Pemantauan lingkungan untuk dapat mengetahui kehadiran yang
berkaitan dengan pelaksanaan revegetasi yang dilakukan karena telah
terciptanya kembali habitat yang baru serta berupaya untuk menjaga
keberadaan fauna tersebut.
3. Metode Pemantauan Lingkungan
a. Metode Pengumpulan dan Analisis Data
Pemantauan satwa liar dapat dilakukan melalui kegiatan langsung di
lapangan yaitu berdasarkan perjumpaan kotoran ataupun jejak yang
ditinggalkan, suara ataupun dengan masyarakat. Pemantauan
terutama ditujukan satwa yang dilindungi dan jenis-jenis burung. Dari
data selanjutnya dapat diketahui kedudukan satwa tersebut di
ekosistem yang pada gilirannya dari keadaan tersebut diperoleh tolok

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 110

ukur dari keberhasilan revegetasi dalam mengembalikan fungsi
ekosistem sebagai fungsi ekologi.
b. Lokasi Pemantauan Lingkungan
Secara umum lokasi pemantauan dilakukan di dalam tapak proyek dan
di luar yang dekat dengan tapak proyek karena fauna memiliki
kemampuan untuk berpindah ataupun bergerak.
c. Jangka Waktu dan Frekuensi Pemantauan
Periode pemantauan dilakukan setiap saat artinya segera
diinventariskan bila dijumpai atau adanya tanda-tanda kehadiran fauna
yang berlangsung selama tahapan operasional penambangan
berlangsung. Frekuensi pelaporan setiap 6 bulan sekali.
4. Institusi Pemantauan Lingkungan
a. Pelaksanaan pemantauan Lingkungan
Kegiatan pemantauan lingkungan akan dilaksanakan oleh Departemen
Lingkungan dan K-3.
b. Pengawas Pemantauan Lingkungan
Pengawasan pelaksanaan pemantauan lingkungan dilakukan dan di
koordinasi oleh Bapedalda Kabupaten Polewali Sulawesi Barat dan
Direktorat Teknik Mineral dan Panas Bumi/Pelaksana Inspeksi
Tambang Direktorat Jenderal Mineral dan Panas Bumi dan
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta instansi
teknis di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat antara lain Dinas
Pertambangan dan Dinas Kehutanan.
c. Pelaporan Pemantauan Lingkungan
Hasil kegiatan pemantauan yang telah dilakukan, dilaporkan kepada
Bapedalda Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat dan Direktorat
Teknik Mineral dan Panas Bumi/Pelaksana Inspeksi Tambang
Direktorat Jenderal Mineral dan Panas Bumi dan Departemen Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 111

5. Metode Pemantauan Penerapan
a. Metode Pengumpulan dan Analisis Data
Metode yang dipakai adalah metode visit, observasi, identifikasi, dan
wawancara langsung terhadap masyarakat, tokoh masyarakat dan
pemuda serta Muspida setempat.
Hasil kegiatan pemantauan tersebut dituangkan dalam bentuk laporan
tersendiri dan dievaluasi secara berkala untuk diperbaiki,
dipertahankan atau ditingkatkan.
b. Lokasi Pemantauan
Lokasi pemantauan difokuskan pada masyarakat di sekitar lokasi
tambang. Di samping itu di daerah kabupaten yang juga
mendapatkan bantuan program community development dan di
daerah kabupaten yang juga mendapatkan bantuan program
community development.
c. Jangka Waktu dan Frekuensi
Pemantauan dilakukan sejak tahap kegiatan penambangan berakhir
dengan klasifikasi program:
Jangka cepat dan insidental (crash program), yakni bantuan
yang diberikan atau disalurkan sewaktu-waktu tidak terikat oleh
hari, minggu, bulan atau jam
Jangka pendek, setiap tiga bulan sekali
Jangka menengah, setiap enam bulan sampai satu tahun sekali
Jangka panjang, setiap dua tahun sekali
7.2 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3)
7.2.1 Penanganan K-3
Penanganan K-3 dalam operasi penambangan Bijih Besi ini secara
organisasi merupakan bagian dari struktur organisasi yang berada di
dalam bagian lingkungan dan K-3 yang langsung di bawah direksi.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 112

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan yang mutlak harus
diperhatikan, maka dari itu, penanganan K-3 dalam penambangan Bijih
Besi didasarkan pada peraturan yang berlaku dan kesepakatan
dengan pekerja atau sub-kontraktor.
1) Peraturan Perundangan:
a. Peraturan pemerintah No. 19 Tahun 1973 tentang pengawasan
keselamatan kerja di bidang pertambangan
b. Keputusan Direktur Jenderal Pertambangan Umum
No.1245.K/26/DDJP/1993 tentang Pelaksanaan Pengawasan
Keselamatan dan Kesehatan serta Lingkungan Pertambangan
Bidang Pertambangan
2) Kesepakatan dengan pekerja atau kontraktor:
a. Perjanjian kerja antara pengusaha dengan tenaga kerja tentang
keselamatan kerja lapangan yang mencakup tanggung jawab
akan keselamatan dan pelatihan tenaga kerja, serta persyaratan
dan prosedur keselamatan kerja
b. Desain tambang harus memenuhi standar keselamatan kerja,
baik pada tahap persiapan maupun operasi penambangannya,
sehingga didapatkan rasa aman yang mendukung kelancaran
penambangan (tingkat keselamatan kerja yang tinggi).
c. Penunjukan dan penentuan petugas keselamatan kerja dan
pelatihan kerja pada awal penambangan
d. Monitoring dan penilaian yang kontinue pada setiap pekerjaan
sehingga terbina dan terpelihara kebiasaan kerja dengan aman
serta setiap pekerja terampil dan menguasai pekerjaan yang
dilakukan dan bertanggung jawab.










Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 113











Gambar 7.2
Struktur Organisasi K-3

Dalam pelaksanaan kegiatan bagian K-3 dibantu oleh koordinator-
koordinator seperti yang terlihat dalam gambar 7.2. Selain hal tersebut
pada level manajemen dibentuk pula safety committee yang bertugas
melakukan pemeriksaan setiap aspek K-3 serta masalah yang ada
kaitannya dengan yang telah ditemukan di tambang dan mengusulkan
tindakan-tindakan untuk mengatasi masalah tersebut serta melakukan
inspeksi ke tempat-tempat kerja sesuai fungsinya. Struktur organisasi
safety commitee dapat dilihat pada gambar 7.3






Gambar 7.3
Struktur Organisasi Safety Commitee



Kepala Teknik Tambang
Supervisor
Officer
Supervisor

Officer

koordinator
Ketua
Manajemen Karyawan
koordinator koordinator

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 114

7.2.2 Langkah-Langkah Pelaksanaan K-3 Pertambangan
Kegiatan usaha pertambangan merupakan suatu kegiatan yang
mempunyai risiko tinggi baik terhadap kerusakan aset (property)
maupun kehilangan nyawa manusia.
Peningkatan keterampilan karyawan melalui training akan memberi
bimbingan kepada karyawan untuk meningkatkan sikap positif tentang
keselamatan dan kesehatan kerja. Pengendalian unsur-unsur bahaya
di tempat kerja merupakan tugas dan tanggung jawab pada tingkatan
manajemen dan supervisor, yang diharapkan mempunyai keahlian
dalam menjalin hubungan, memimpin dan memotivasi karyawan
bawahannya secara profesional. Disamping itu, merealisasikan
program keselamatan dan kesehatan kerja sebagai berikut:
1. Safety Induction (Pengenalan Tentang Keselamatan Kerja)
Safety induction diberikan kepada karyawan yang baru diterima
bekerja di wilayah kuasa pertambangan.
2. Safety Re-induction
Safety re-induction diberikan kepada karyawan yang mengalami
accident, incident, atau hampir celaka dan apapun penyampaian
tersebut berupa Standard Operating Procedure (SOP) dan
penyampaian perilaku dan kondisi tidak aman.
3. Safety Training
Training mengenai keselamatan kerja diberikan kepada karyawan
secara rutin, baik training di dalam perusahaan maupun di luar
perusahaan.
4. SIMPER (Surat Izin Mengemudi di Wilayah KP Perusahaan)
Semua operator/driver alat berat maupun kecil wajib memiliki

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 115

SIMPER yang ditandatangani oleh Kepala Teknik Tambang.
5. Safety Talk/Meeting
Safety talk dilakukan seminggu sekali atau setiap akan memulai
pekerjaan. Semua bagian di lingkungan perusahaan diwajibkan
untuk melakukan safety talk.
6. Safety Sweeping
Tujuan sweeping adalah untuk memonitor kemajuan keselamatan
karyawan di suatu tempat/kegiatan kerja. Sweeping dilakukan oleh
Safety Departemen, Safety Controller, Security serta juga dibuat
laporan - laporan sweeping dan sanksi - sanksi terhadap karyawan
agar kemajuan safety dan perbaikan - perbaikan dapat dievaluasi.
7. Inspeksi Manajemen
Inspeksi bulanan dilakukan setiap bulan/minggu oleh jajaran
manajemen yang dibantu oleh departemen safety team. Tindakan-
tindakan perbaikan dicatat dalam buku inspeksi tambang dan
dilaporkan kembali kepada manajemen dan untuk perbaikan
diserahkan kepada masing-masing departemen yang melakukan
kekurangan - kekurangan di areal kerja. Pelaksanaan inspeksi
terencana untuk masing-masing level manajemen:
a. Direktur, Manajer, Superintendent melakukan inspeksi
terencana minimal 1x1 bulan untuk seluruh wilayah kerja yang
menjadi tanggung jawabnya.
b. Supervisor melakukan inspeksi terencana minimal 1x1 minggu
untuk bagian/wilayah kerja menjadi tanggung jawabnya.
c. Karyawan melakukan pemeriksaan tempat kerjanya dan alat
yang digunakan sebelum melakukan pekerjaannya.
Realisasi dan pelaksanaan inspeksi terencana dari manajemen
(Direktur, Manajer, Superintendent) berlangsung dengan baik,

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 116

sedangkan pada level supervisor dan karyawan dirasakan masih
sangat kurang.
8. Pemasangan Himbauan K-3
Pemasangan himbauan - himbauan K-3 dipasang di tempat-tempat
yang sekiranya rawan terhadap kecelakaan, sehingga dapat
memotivasi dan mengingatkan karyawan agar terbebas dari
kecelakaan.
Pergantian, Pemasangan Rambu-Rambu Lalu Lintas dan
Patok Reflector Penentuan Arah Jalan
Penggantian dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas, patok
penentuan arah jalan dan semboyan keselamatan kerja selalu rutin
dilakukan.
9. Accident Investigation & Report
Tujuan investigasi kecelakaan adalah semata-mata untuk
mengetahui kasus ataupun penyebab suatu kecelakaan guna
pencegahan-pencegahan kecelakaan yang serupa di masa
mendatang, tidak untuk menyalahkan pihak-pihak tertentu. Laporan
harus dibuat sesuai fakta kejadian dan menghindari membuat
asumsi atau dugaan-dugaan pribadi sebelum semua data
diketahui.
7.2.3 Peralatan K-3
Kegiatan usaha pertambangan mempunyai risiko tinggi baik terhadap
kerusakan aset (property) maupun kehilangan nyawa manusia. Oleh
karena itu, perlu persiapan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja
yang akan digunakan pada setiap kegiatan penambangan dan
pengangkutan.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 117


BAB 8
ORGANISASI DAN TENAGA KERJA


Organisasi dan sistematika kerja untuk pelaksanaan pekerjaan penambangan
Bijih Besi di PT. ISCO Polman Resources akan dilakukan se-efisien dan se-
efektif mungkin dihubungkan dengan kondisi perusahaan dan sumber daya
yang ada. Untuk itu ada dua alternatif yang perlu dikaji, yaitu:
1. Pekerjaan penambangan dilakukan sendiri
2. Pekerjaan penambangan dilakukan dengan sistem kontrak
Kedua alternatif di atas akan menimbulkan dampak atau konsekuensi
berbeda pada banyak aspek, terutama pada aspek organisasi. Alternatif
kedua akan jauh lebih ramping dibandingkan dengan alternatif pertama.
Walaupun demikian, rancangan organisasi untuk alternatif pertama
diusahakan tetap efektif untuk menjamin kelancaran operasi penambangan.
8.1. Bentuk Organisasi
8.1.1. Penambangan Dilakukan Sendiri
Pekerjaan penambangan dirancang kesederhanaan mungkin tetap
memiliki otonomi yang cukup untuk menjamin kelancaran kegiatan
penambangan. Organisasi yang akan diterapkan adalah kegiatan
penambangan dibagi menjadi fungsi-fungsi yang terpisah tetapi masih
tetap dapat bekerja sama.
Organisasi penambangan Bijih Besi dipimpin oleh Board of Director
yang membawahi dua department manager, yaitu : Commercial
Departement dan Mining Operation Departement. Commercial
Departement membawahi tiga divisi yaitu : Finance Division, G.A &
HRD Division, dan Public Relation Division. Mining Operation

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 118

Departement membawahi Exploration Division, Exploitation Division,
dan Process Plant Division. Masing-masing divisi didukung para
supervisor dan officer untuk kelancaran pekerjaan. Struktur organisasi
disajikan pada gambar 8.1.

8.1.2. Pekerjaan Penambangan Dikontrakkan
Alternatif ini, pekerjaan penambangan (penggalian dan pengangkutan)
baik untuk tanah penutup (top soil dan overburden) maupun mineral
ekonomisnya yaitu Bijih Besi dikontrakkan kepada pihak lain.
Organisasi pada sistem kerja tetap mengawasi dan mengatur
pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor.
Pada alternatif ini, organisasi kerja dipimpin oleh seorang manager,
yang juga membawahi beberapa divisi sesuai dengan bidang yang
dikontrakkan (yang dibutuhkan) oleh PT. ISCO Polman Resources,
utamanya pada bidang mining operation sendiri.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 119













Struktur organisasi





















Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 120

8.2 Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang diperlukan untuk mendukung pekerjaan disesuaikan
dengan desain tambang yang direncanakan. Tenaga kerja yang tidak
langsung berhubungan dengan operasi penambangan jumlahnya relatif
tetap selama umur penambangan, sedangkan untuk tenaga kerja yang
terlibat langsung dalam operasi penambangan, terutama untuk operator
alat berat, disesuaikan dengan jumlah alat yang dioperasikan dengan
memperhatikan jumlah shift dan target produksi.
Pada alternatif ke dua tenaga kerja langsung lebih sedikit karena sistem
pengerjaannya dikontrakkan. Mereka yang akan direkrut adalah yang
mempunyai latar belakang disiplin ilmu dan pengalaman yang sesuai.
Analisis jabatan (job analysis) selanjutnya dibutuhkan untuk
mendapatkan karyawan yang cocok dengan kebutuhan kerja, dengan
upah dan beban kerja yang sesuai pula.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 121


BAB 9
PEMASARAN

9.1 Kebijaksanaan Pemerintah
9.1.1 Pengelolaan Sumber Daya Bijih Besi
Bijih Besi termasuk bahan galian strategis yang pengelolaannya
langsung ditangani oleh pemerintah. Kemampuan pemerintah untuk
melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi Bijih Besi sangat
terbatas.
9.1.2 Potensi Sumber Daya Bijih Besi
Indonesia termasuk salah satu negara di kawasan Asia yang memiliki
endapan Bijih Besi. Data tahun 2003 memperlihatkan Indonesia
memiliki potensi sumber daya Bijih Besi sejumlah 61,11 milyar ton,
yang terdiri dari 13,65 milyar ton sebagai cadangan terukur dan 47,46
milyar ton sebagai cadangan indikasi, terunjuk serta tereka. Dari
sejumlah cadangan tersebut terdapat 11,47 milyar ton sebagai
cadangan yang dapat dieksploitasi atau cadangan yang bersifat
komersial.
9.2 Prospek Pemasaran
Salah satu aspek pemasaran Bijih Besi adalah masalah supply-demand
dengan berkembangnya berbagai industri di dalam negeri dan semakin
meningkatnya permintaan untuk ekspor, maka peningkatan produksinya
pun harus berimbang.
Kebutuhan Bijih Besi di dalam negeri dan ekspor setiap tahunnya
menunjukkan peningkatan yang sangat berarti. Sebagai perbandingan,
kebutuhan baja perkapita Indonesia masih rendah dibandingkan negara

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 122

Asia lainnya seperti yang terlihat di bawah ini:

Tabel 9.1
Konsumsi Baja Perkapita 2005 - 2006
Kawasan Kg/Kapita
Indonesia 26,2
Vietnam 65,9
Thailand 204
Malaysia 278,9
Korea 995,8
Sumber : ICB 2005/2006

9.2.1 Prospek Pemasaran Dalam Negeri
Saat PT. Krakatau Steel sebagai salah satu perusahaan yang bergerak
dibidang baja berencana untuk membangun pabrik pengolahan baja di
daerah Kalimantan Timur dengan kapasitas 700.000ton per tahun, dan
hingga PT. ISCO Polman Resources sendiri masih sangat
membutuhkan material dasar untuk menghasil baja tersebut. Dan Bila
dilihat dari kebutuhan baja antara penduduk Indonesia dan negara Asia
lainnya, maka peluang usaha ini masih sangat menjanjikan, saat ini
konsumsi baja masyarakat Indonesia hanya 10 persen dari konsumsi
masyarakat Malaysia.
9.2.2 Prospek Pemasaran Luar Negeri
Ekspor Bijih Besi Indonesia telah mencapai di berbagai negara di
kawasan Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Bijih Besi yang diekspor
umumnya berperingkat memiliki kadar Fe total rata-rata 45%.
Saat ini sekitar 70 pabrik baja di Cina yang tergabung dalam asosiasi
pengusaha baja dan importer metal dan kimia, menaikkan kebutuhan
impor mereka yang pada tahun 2006 hanya sebesar 270 *juta ton
pertahun menjadi 325 juta ton tahun 2007 atau hampir setengah

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 123

produksi Bijih Besi dunia, dan diperkirakan tahun depan akan
mengalami peningkatan sebesar 28,89% lagi.

9.3 Pemasaran Bijih Besi
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Indonesia cukup mampu
menyediakan Bijih Besi untuk keperluan dalam negeri dan ekspor.
Produk Bijih Besi yang dihasilkan oleh beberapa perusahaan beserta
pemasarannya selama tahun 2006 hingga tahun 2007 hanya sebesar
869 ribu ton.
Produk Bijih Besi yang dihasilkan mempunyai kandungan Fe total di atas
45%. Produk Bijih Besi ini akan ikut berperan memasuki pasaran
domestik dan ekspor. Produk Bijih Besi akan dieskpor ke beberapa
negara kawasan-kawasan Asia Timur (Korea, Taiwan, Jepang,
Hongkong), India, dan Asia Tenggara (Malaysia, Filipina).
Jumlah Bijih Besi yang akan diekspor sebanyak 100% dari total Bijih
Besi, mengingat saat ini pabrikasi pengolahan Bijih Besi dalam negeri
yang sejogyanya akan dibangun oleh PT. ISCO Polman Resources dan
perusahaan dari Cina ini masih dalam tahap pembangunan.
Harga Bijih Besi per ton FOB bervariasi walaupun kualitas (nilai kadar Pb)
sama. Harga-harga tersebut merupakan harga berdasarkan kontrak yang
memiliki jangka waktu. Harga standar kadar 40%-45% rata-rata sebesar
40 - 43 US dollar FOB.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 124


BAB 10
INVESTASI DAN ANALISIS KELAYAKAN


10.1 Investasi
10.1.1 Modal Tetap
A. Pengurusan Perizinan
PT. ISCO Polman Resources merupakan salah satu perusahaan
nasional yang melakukan kerjasama pengembangan sumber daya
energi dan mineral dengan pemerintah (Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral) yaitu untuk mengeksploitasi mineral Bijih Besi
sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku, telah
menandatangani perjanjian dengan pemerintah daerah Kabupaten
Polewali Mandar pada Tanggal 30 November 2007 dengan wilayah
konsesi seluas 1.501Ha (No. 126 Tahun 2007 tentang pemberian Izin
Kuasa Pertambangan Eksplorasi kepada PT. ISCO Polman
Resources). Wilayah ini berada di Desa Tapango, Kecamatan
Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat.
Selanjutnya laporan studi kelayakan ini dibuat untuk memperoleh izin
kuasa pertambangan dari Pemerintah Daerah Tingkat II Polewali
Mandar.

B. Peralatan Utama
Peralatan utama penambangan Bijih Besi adalah faktor yang sangat
vital untuk kegiatan operasi penambangan sehingga akan dihasilkan
produksi Bijih Besi bersih yang siap jual. Untuk itu beberapa unsur

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 125

kegiatan operasi perlu dimasukkan dalam perhitungan pengadaan
peralatan utama ini, seperti:
a. Kegiatan penambangan Bijih Besi yang terdiri dari:
1. Pembersihan lahan
2. Pengupasan dan pemindahan tanah atas (top soil)
3. Penggalian dan pemindahan tanah penutup (overburden)
4. Penggalian dan pengangkutan Bijih Besi ke penimbunan
(stockpile)
b. Kegiatan pengolahan Bijih Besi dan stockpile yang terdiri dari:
1. Pemindahan Bijih Besi dari raw stockpile ke product stockpile
2. Proses peremukan Bijih Besi
3. Proses pemisahan mineral berharga dari pengotornya
(impurities)
c. Pemuatan dan pengangkutan Bijih Besi dari stockpile ke
dermaga yang terdiri dari:
1. Pemuatan Bijih Besi (barge loading system)
2. Pengangkutan Bijih Besi dari stockpile ke transhipment point
C. Sarana Penunjang
Sarana penunjang penambangan Bijih Besi adalah peralatan dan
ditinjau bangunan fisik yang ikut menunjang kegiatan penambangan
Bijih Besi. Meskipun bukan peralatan utama, tanpa sarana penunjang
maka penambangan Bijih Besi tak akan mencapai sasaran yang
diharapkan. Untuk itu beberapa unsur kegiatan operasi perlu
dimasukkan dalam perhitungan pengadaan sarana penunjang ini,
seperti:

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 126

1. Kegiatan pembuatan jalan angkut tanah dan Bijih Besi yang
memerlukan:
Motor grader
2. Kegiatan perawatan jalan angkut dan perbengkelan yang
memerlukan:
Mobil air (water truck)
Mobil oli (lube/fuel truck)
Mobil perawatan (service truck)
Pompa dan tangki BBM (fuel pump dan fuel tank)
Peralatan bengkel (machine tools)
3. Kegiatan perkantoran dan perumahan yang memerlukan:
Kendaraan roda empat
Generator set
Pompa air

D. Sarana K-3 dan Pengelolaan Lingkungan
Sarana K-3 dan pengelolaan lingkungan wajib dimiliki oleh setiap
perusahaan penambangan Bijih Besi karena selain menyangkut
keselamatan karyawan, juga menyangkut keselamatan masyarakat
yang tinggal di sekitar areal penambangan.
Beberapa peralatan yang dapat dikemukakan di sini adalah:
1. Sarana K-3 terdiri dari:
Topi keselamatan kerja (safety helm)
Sepatu pengaman (safety shoe)
Baju kerja
Alat pemadam kebakaran
Baju pelampung
Obat-obatan

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 127

Rambu-rambu lalu lintas
Manual K-3
Masker, kaca mata las, tutup telinga, lampu sorot
2. Sarana pengelolaan lingkungan terdiri dari:
Kolam pengendap
Kolam pengontrol
Bibit tanaman
Zat Kimia dan additive
Alat deteksi sederhana

10.1.2 Modal Kerja
Biaya modal kerja (working capital) adalah biaya yang harus
disediakan untuk memenuhi biaya produksi penambangan, sampai
dengan masa di mana perusahaan dapat memperoleh pendapatan
sendiri dari hasil penjualan Bijih Besi, baru akan mampu membiayai
produksinya setelah memperoleh pendapatan dari penjualan produksi
tahun pertamanya yaitu sebesar 60.000ton.
Biaya produksi langsung meliputi biaya bahan bakar, suku cadang,
ban kendaraan, karyawan tidak tetap (termasuk royalty). Biaya
produksi tak langsung meliputi biaya asuransi, iuran tetap,
pengelolaan lingkungan, community development dan karyawan tetap.
Total modal kerja yang dibutuhkan untuk proyek penambangan Bijih
Besi ini adalah sebesar US $ 10.450.543,06.

10.1.3 Sumber Dana
Jenis sumber pendanaan untuk investasi rencana penambangan Bijih
Besi ini terdiri atas:
Modal sendiri (ekuitas)
Hutang/pinjaman dari bank

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 128

Perbandingan antara ekuitas dan hutang (E : H) diharapkan
menghasilkan struktur modal yang optimal bagi pelaksanaan proyek
penambangan Bijih Besi ini dengan mempertimbangkan kondisi
perekonomian pada umumnya dan keuangan perusahaan pada saat
ini.

Dengan pertimbangan itu, maka perbandingan antara ekuitas dan
hutang untuk mendanai proyek investasi penambangan Bijih Besi ini
masih dapat diharapkan sebesar 40% ekuitas dan 60% hutang.
Peminjaman modal dari bank ini akan dilakukan pada tahap awal
investasi untuk membeli peralatan utama dan membangun infrastruktur
tambang. Kredit Investasi yang dipinjam pada tahap tersebut akan
digunakan selama jangka waktu sekitar 15 tahun (masa penggunaan
kredit investasi), dan bank membebankan bunga pinjaman sebesar
12% per tahun yang bersifat tetap. Pembayaran kembali hutang pokok
berikut bunga diatur sebagai berikut:
Kredit investasi bank yang diambil tersebut akan dikembalikan
dalam jangka waktu 15 tahun, mulai tahun ke-1 setelah masa
peminjaman.
Jumlah angsuran pokok bersifat tetap, sedangkan bunga pinjaman
diperhitungkan dari sisa pokok (besarnya bunga pinjaman menurun
sesuai dengan waktu).
Total pinjaman yang diperlukan adalah sebesar US $ 6.270.325,84
dan dana sendiri yang harus dikeluarkan adalah sebesar
US $ 4.180.217,22.



Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 129

10.2 Analisis Kelayakan
10.2.1 Biaya Investasi
Perhitungan biaya investasi adalah perkiraan dana yang dikeluarkan
untuk membiayai kegiatan dalam masa pra-penambangan dan masa
penambangan.
Adapun biaya-biaya investasi ini dikelompokkan dalam:
A. Biaya investasi peralatan, terdiri atas:
1. Investasi peralatan operasi penambangan
2. Investasi peralatan pendukung operasi penambangan
3. Investasi peralatan operasi pengolahan dan stockpile Bijih Besi
B. Biaya investasi studi, yang terdiri atas:
1. Biaya eksplorasi
2. Biaya studi kelayakan
3. Biaya studi UKL-UPL
4. Biaya studi geoteknik dan hidrologi

C. Biaya investasi pengembangan (development), terdiri atas:
1. Biaya pembersihan lahan
2. Biaya sarana dan prasarana ban dan jalan angkut tanah
penutup, jalan angkut Bijih Besi crushing plant
10.2.2 Biaya Produksi
Biaya produksi (production cost) adalah besarnya dana yang harus
dikeluarkan untuk membiayai semua kegiatan operasi dalam rangka
memproduksi Bijih Besi dari lokasi tambang hingga siap untuk dijual.
Biaya produksi langsung, digunakan untuk membiayai semua kegiatan
yang langsung berhubungan dengan operasi untuk menghasilkan
produk Bijih Besi. Sedangkan biaya produksi tidak langsung digunakan

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 130

untuk membiayai semua kegiatan yang tidak langsung berhubungan
dengan proses produksi.
Biaya-biaya yang berhubungan dengan produksi Bijih Besi mencakup
biaya operasi penambangan, biaya operasi pengolahan dan stockpile
Bijih Besi dan biaya pengangkutan Bijih Besi dari tambang ke
pelabuhan muat. Maka untuk itu, beberapa komponen operasi yang
perlu dimasukkan dalam perhitungan biaya atau ongkos produksi antar
lain adalah:
A. Ongkos operasi penambangan Bijih Besi, terdiri dari:
Ongkos pembersihan lahan
Ongkos pengupasan dan pemindahan top soil
Ongkos pembongkaran dan pemindahan overburden
Ongkos pemuatan dan pengangkutan Bijih Besi ke stockpile
Ongkos operasi pendukung penambangan (mine support)
B. Ongkos operasi pengolahan Bijih Besi dan stockpile, terdiri
dari:
Ongkos pemindahan Bijih Besi dari raw iron ore stockpile ke unit
crushing plant
Ongkos reduksi ukuran di unit crushing plant
Ongkos pemindahan Bijih Besi ke product iron ore stockpile siap
untuk dijual. Biaya produksi langsung digunakan untuk
membiayai semua kegiatan yang langsung berhubungan
dengan operasi untuk menghasilkan produk Bijih Besi.
Sedangkan biaya produksi tidak langsung, digunakan untuk
membiayai semua kegiatan yang tidak langsung berhubungan
dengan proses produksi.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 131

Biaya-biaya yang berhubungan dengan produksi Bijih Besi
mencakup biaya operasi penambangan, biaya operasi pengolahan
dan stockpile Bijih Besi, dan biaya pengangkutan Bijih Besi dari
tambang ke pelabuhan muat. Untuk itu beberapa komponen
operasi yang perlu dimasukkan dalam perhitungan biaya atau
ongkos produksi antara lain adalah:
1. Ongkos operasi penambangan Bijih Besi, terdiri dari:
Ongkos pembersihan lahan
Ongkos pengupasan dan pemindahan top soil
Ongkos pembongkaran dan pemindahan overburden
Ongkos pemuatan dan pengangkutan Bijih Besi ke stockpile
Ongkos operasi pendukung penambangan (mine support)
2. Ongkos operasi pengolahan Bijih Besi dan stockpile, terdiri
dari:
Ongkos pemindahan Bijih Besi dan raw iron ore stockpile ke
unit crushing plant
Ongkos reduksi ukuran di unit crushing plant
Ongkos pemindahan Bijih Besi ke product iron ore stockpile
3. Ongkos operasi pengangkutan Bijih Besi di dermaga, terdiri
dari:
Ongkos pemindahan Bijih Besi produk dari stockpile ke
pelabuhan
Ongkos operasi "barge loading system" di dermaga
Ongkos stockpile di pelabuhan
Untuk menghitung ongkos produksi dari setiap operasi yang
dilakukan pada satu periode produksi, maka beberapa
parameter yang menjadi pertimbangan adalah:

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 132

Target produksi yang direncanakan (ton produksi Bijih Besi
atau BCM tanah)
Peralatan utama yang dioperasikan (jenis, spesifikasi teknis,
jumlah, jam kerja operasi, nilai ekonomis alat dan lain
sebagainya)
Peralatan pendukung yang dioperasikan (jenis, spesifikasi
teknis, jumlah, jam kerja operasi, nilai ekonomis alat dan lain
sebagainya)
Tenaga kerja untuk melakukan operasi (kualifikasi, jumlah,
standar gaji)
Pengaruh faktor ekskalasi

10.2.3 Pendapatan Penjualan
Pendapatan penjualan (sales revenue) pada suatu periode adalah
besarnya dana yang diterima dari hasil penjualan Bijih Besi bersih
pada periode itu, berdasarkan harga pasar yang berlaku pada saat itu.
Untuk melakukan perhitungan pendapatan penjualan Bijih Besi, maka
produk Bijih Besi dijual dengan harga US $ 700 per ton sesuai dengan
harga pasaran dunia saat ini untuk produk Bijih Besi kualitas
menengah (medium rank iron ore).
Hasil penjualan Bijih Besi per tahun rata-rata sebesar US $
42.000.000,- dimana total pendapatan selama 18 tahun adalah
sebesar US $ 756.000.000,-

10.2.4 Aliran Uang Tunai (Cash Flow)
Pengertian kas dalam rencana investasi proyek penambangan Bijih
Besi adalah nilai uang kontan yang ada dalam perusahaan yang dalam
jangka waktu dekat dapat dipakai sebagai alat pembayaran kebutuhan
finansial dan mempunyai sifat paling tinggi tingkat likuiditasnya. Kas

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 133

bagi kepentingan proyek penambangan Bijih Besi ini dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan:
Pembiayaan proses produksi Bijih Besi
Pembaharuan barang-barang aktiva atau aset tetap pada kegiatan
investasi
Pembayaran cicilan dan bunga pinjaman, aneka pajak, iuran,
pungutan dan lain-lain
Selama umur investasi proyek ( 20 tahun) akan terjadi aliran kas
(cash flow). Aliran kas ini akan terdiri dari aliran kas masuk (cash
inflow) dan aliran kas keluar (cash outflow).
Besarnya aliran kas masuk akan sangat ditentukan oleh beberapa
faktor di bawah ini:
Laba bersih yang diterima oleh perusahaan, baik untung ataupun
rugi
Pinjaman utang dari bank untuk investasi (60%)
Penanaman modal investasi dari perusahaan sendiri (40%) atau
dari pemegang saham, dan lain-lain
Sedangkan laba bersih yang diterima oleh perusahaan merupakan
fungsi dari pendapatan yang diterima dan biaya yang harus
dikeluarkan pada kegiatan produksi Bijih Besi. Selisih pendapatan dan
biaya tersebut adalah laba bagi perusahaan. Komponen-komponen
yang menentukan pendapatan dari perusahaan antara lain:
Nilai penjualan Bijih Besi bersih perusahaan
Nilai pendapatan bunga atas simpanan bank
Sedangkan komponen-komponen yang menentukan biaya dari
perusahaan antara lain adalah:
Biaya produksi Bijih Besi sampai dengan siap jual

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 134

Biaya umum dan administrasi
Pembayaran bunga pinjaman ke bank
Pembayaran pajak, iuran, dan lain-lain
Besarnya aliran kas keluar dipengaruhi oleh beberapa komponen di
bawah ini:
Pembayaran untuk biaya investasi dan modal kerja
Pembayaran cicilan pokok atas pinjaman ke bank
Pembayaran kembali investasi dari perusahaan sendiri, dan lain-
lain
Selama masa umur investasi ( 20 tahun), dalam aliran kas proyek
setiap tahunnya akan ditemukan salah satu dari dua macam kondisi,
yaitu kondisi dimana aliran kas masuk lebih besar daripada aliran kas
keluar, sehingga akan terjadi saldo kas (proceeds), dan kondisi dimana
aliran kas masuk lebih kecil dari pada aliran kas keluar sehingga akan
terjadi kekurangan kas (defisit).

A. Nilai Sekarang Bersih Net Present Value atau NPV
Tidak semua aliran kas yang positif akan memberikan gambaran
yang menguntungkan bagi perusahaan, karena ada faktor nilai
waktu dan uang (time value of money), sehingga diperlukan suatu
perhitungan yang dapat menghasilkan gambaran jumlah uang pada
satu titik waktu tertentu yang disebut nilai sekarang bersih (Net
Present Value).
Urutan-urutan yang dilakukan dalam perhitungan Net Present Value
(NPV) dalam proyek penambangan Bijih Besi adalah sebagai
berikut :

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 135

Menghitung jumlah nilai sekarang bersih (Net Present Value)
dari aliran kas proyek selama 20 tahun pada tingkat diskonto
(discount rate) yang ditetapkan yaitu 12,59%.
Menghitung jumlah nilai sekarang bersih dari biaya investasi
perusahaan selama 20 tahun dan modal kerja pada tingkat
diskonto yang ditetapkan yaitu 12,59%.
Hasil perhitungan ini disebut Present Value dari initial outlays
(PV of initial outlays).
Menghitung selisih antara PV of proceeds dengan PV of initial
outlays yang hasilnya disebut nilai sekarang bersih atau Net
Present Value.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan maka diperoleh harga Net
Present Value sebesar US $ 4.489,83 (positif) untuk alternatif I
dikerjakan sendiri oleh PT. ISCO Polman Resources, sedangkan
untuk alternatif II dikontrakan dan diperoleh harga Net Present
Value sebesar US $ 10.041,75 (positif) sedangkan pajak yang
harus dikeluarkan oleh PT. ISCO Polman Resources adalah
sebesar US $ 11.451.417,60 untuk alternatif I dan
US $ 18.341.022,90 untuk alternatif II.

10.2.5 Laju Pengembalian Internal (IRR)
Laju pengembalian internal (Internal Rate of Return) adalah laju
pengembalian yang menghasilkan NPV aliran kas masuk - NPV aliran
kas keluar. Penentuan laju pengembalian internal atau IRR ini
dilakukan dengan cara coba-coba (trial and error).
Pada metode NPV, analisis dilakukan dengan menentukan terlebih
dahulu besarnya laju pengembalian kemudian dihitung nilai sekarang
bersih (NPV) dari aliran kas keluar dan aliran kas masuk. Sedangkan
pada metode IRR, besarnya IRR atau laju pengembalian [diskonto (i)]

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 136

yang dicari adalah yang memberikan kondisi NPV = US $ 4.489,83
(positif).
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, maka laju
pengembalian internal (IRR) yang memberikan NPV = US $ 4.489,83
(positif) adalah 12,59% untuk alternatif I dan 28,16% untuk alternatif II.
Nilai laju pengembalian internal (IRR) sebesar 12,59% dan 28,16% ini
memberikan gambaran bahwa usulan investasi proyek penambangan
Bijih Besi di wilayah penelitian ( 20 tahun) lebih menarik untuk
dilakukan bila dibandingkan dengan kegiatan menyimpan modal di
bank dengan laju pengembalian yang lebih kecil, sekitar 6%. Artinya,
menanam modal investasi pada proyek penambangan Bijih Besi ini
akan lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan menanam modal
di bank.

10.2.6 Waktu Pengembalian Modal
Waktu pengembalian modal (payback period) menunjukkan periode
waktu yang digunakan untuk menutupi kembali modal yang telah
diinvestasikan dengan hasil yang akan diperoleh dari aliran kas bersih
dari investasi tersebut.
Metode ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Tidak memberikan gambaran bagaimana situasi aliran kas sesudah
periode pengembalian selesai.
Tidak mempertimbangkan nilai waktu dan uang, berarti tidak
mengikuti prinsip dasar analisis aspek ekonomi-finansial dalam
mengkaji kelayakan suatu proyek (investasi).
Tidak memberikan indikasi probabilitas dari unit usaha hasil proyek.
Meskipun banyak kelemahan, tetapi dalam kenyataannya periode
pengembalian masih digunakan secara luas terutama disebabkan oleh

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 137

perhitungannya yang mudah dan cepat untuk menggali informasi
perihal resiko yang kebanyakan investor ingin segera mendapatkan
jawabannya.
Kriteria ini memberikan indikasi atau petunjuk bahwa proyek investasi
dengan periode pengembalian yang lebih cepat akan lebih dipilih.
Dalam memakai kriteria ini, proses yang bersangkutan perlu
menentukan batasan maksimum waktu pengembalian, berarti lewat
waktu tersebut proyek investasi tidak dipertimbangkan.
Untuk pengambilan keputusan pada sebuah investasi dilakukan
perbandingan antara payback yang ditetapkan dengan payback yang
dilaksanakan. Apabila payback period maksimum yang akan investasi,
akan dilaksanakan lebih singkat waktunya dibandingkan dengan
payback period maksimum yang diuraikan, maka investasi itu akan
dilaksanakan. Akan tetapi apabila sebaliknya, maka investasi itu akan
ditolak.


Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 138


BAB 11
KESIMPULAN DAN SARAN


11.1 Kesimpulan
Studi kelayakan ini dilaksanakan dalam kaitannya dengan rencana
permohonan izin eksploitasi Bijih Besi di Kabupaten Polewali Mandar.
Hal-hal yang dikaji ditujukan kepada kondisi teknis dan non-teknis
penambangan, dengan kata lain apakah persyaratan untuk
memperoleh izin tersebut dapat memadai dengan kondisi yang ada
pada saat sekarang.
Kajian ini meliputi keadaan geologi, cadangan dan kualitas,
hidrogeologi, geoteknik, pengolahan, rencana pengangkutan,
lingkungan hidup dan K-3, organisasi dan tenaga kerja, pemasaran
dan investasi serta analisis kelayakan. Adapun hasil studi dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Wilayah Permohonan
Wilayah yang dieksploitasi seluas 1.501Ha terletak di Desa
Tapango, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar,
Provinsi Sulawesi Barat dengan batas koordinat 119 14' 45" BT -
119 19' 00" BT dan 003 18' 59" LS - 003 19' 59" LS.
2. Geologi dan Endapan Bijih Besi
Hasil analisis geologi bahwa endapan Bijih Besi di daerah sangat
dipengaruhi oleh proses diferensiasi dan segregasi selama

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 139

terjadinya injeksi larutan sisa magma pada stadium pegmatitis-
pneumatolitis atau metasomatis kontak.
Perhitungan cadangan terukur berjumlah 2.916.160,52ton.
Sedangkan tertambang 2.558.341,40ton, dan cadangan
tertambang dengan recovery 90% sebanyak 2.485.738,44ton.
3. Kualitas Bijih Besi
Dari hasil kajian yang berkaitan dengan berbagai analisis dari
contoh-contoh Bijih Besi, maka dapat dikemukakan hal-hal sebagai
berikut:
Keseluruhan kualitas Bijih Besi tertambang mengandung total
belerang (TS) rata-rata 3%, kadar SiO
2
7% dan kadar Fe total
rata-rata 45%.
1) Kajian Hidrogeologi dan Hidrologi
Curah hujan rencana untuk keperluan perhitungan
peralatan penyaliran adalah 60mm.
2) Geoteknik
a) Lereng Tunggal
Berdasarkan analisis kemantapan lereng tunggal dengan
melihat nilai faktor keamanannya serta pertimbangan
teknis penggunaan alat, maka untuk lereng tunggal dapat
direkomendasikan, tinggi lereng (H) 10 m dan sudut lereng
60 dengan Faktor Keamanan > 1,200.
b) Lereng Keseluruhan (Total)
Berdasarkan hasil analisis kemantapan lereng total dengan
melihat faktor keamanannya, maka direkomendasikan
untuk sudut lereng rata-rata adalah 39,5 dengan tinggi (H)

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 140

50 m, memiliki FK > 1,200.

c) Lereng Timbunan
Lereng timbunan yang direkomendasikan adalah dimensi
lereng keseluruhan dengan tinggi lereng (H) 25m dengan
sudut 15
0
, memiliki FK 1,200.
4. Rencana Penambangan
a. Rencana penambangan meliputi:
Nisbah pengupasan, dilakukan dengan dasar rumus BESR
dengan asumsi harga jual dengan biaya penambangan.
Nilai yang diperoleh adalah BESR = 11,56
Metode penambangan dilakukan dengan open pit/open
cash dengan pertimbangan faktor-faktor model geologi,
kondisi lapisan Bijih Besi, kondisi lapisan tanah penutup
dan jumlah sumber daya
Penggalian dikerjakan dengan membentuk jenjang-jenjang
b. Desain Tambang
Desain tambang mengacu pada potensi sumber daya Bijih
Besi
Kualitas Bijih Besi
Harga dan kualitas produk Bijih Besi yang dipasarkan
Geometri lereng
Air dalam tambang
c. Analisis Desain
Analisis desain tambang didasarkan atas parameter-parameter
berupa model geologi, sumber daya mineral, aspek
penyebaran Bijih Besi, dan kemantapan lereng.

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 141

d. Bukaan Tambang
Bukaan tambang ada 8 block

e. Sistem dan Tata Cara Penambangan:
Penambangan dilakukan dengan sistem jenjang-jenjang
dengan mengikuti geometri lereng yang telah ditentukan.
Persentase perolehan penambangan (recovery) adalah
90%.
f. Tahapan Kegiatan Penambangan
Operasi pembersihan lahan penambangan
Operasi penggalian tanah penutup, berupa overburden dan
interburden dilakukan dengan menggunakan excavator dan
bulldozer
g. Penggalian dan pengangkutan Bijih Besi
Penggalian overburden dilakukan dengan excavator dan
bulldozer
ROM Bijih Besi diangkut ke crushing plant dan stockpile
h. Penanganan Air Tambang
Penanganan di tambang dilakukan dengan sistem
penirisan
Dibuat dump untuk penampungan air dan air di pompa
keluar
i. Jadwal Produksi
Rencana penjualan Bijih Besi pada tahun pertama sebesar
60.000ton dan tahun kedua sebesar 60.000ton. Selanjutnya
pada tahun ketiga 120.000ton dan tahun keempat 120.000ton.
Mengingat faktor kehilangan Bijih Besi pada waktu proses

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 142

penggalian, pemuatan, dan pengolahan, maka produksi Bijih
Besi pada tahun pertama, kedua, ketiga, dan keempat berturut-
turut adalah sebesar 88.571,40ton, 89.083,90ton,
178.167,80ton, dan 177.142,80ton.
j. Umur Tambang
Umur tambang, sesuai dengan kontrak 20 tahun.
5. Pengolahan Bijih Besi
Bijih Besi produksi operasi penambangan (ROM) dilakukan
proses peremukan untuk mereduksi ukuran di crushing plant
dan produk akhir yang akan di peroleh adalah ukuran 22mm
Proses pengolahan memerlukan pencucian untuk memisahkan
antara tanah yang masih menempel di material Bijih Besi.
Reduction Ratio (RRJ) crusher antara 4 sampai 6 dan
kapasitas produksi sekitar 60.000ton/thn yang terdiri atas 1 unit
crusher : @120ton per jam tonase Bijih Besi ROM yang dapat
diolah per tahun 1.800 jam/tahun x 33,33 ton/jam =
60.000ton/thn.
6. Transportasi dan penimbunan Bijih Besi
Jalan angkut untuk OB dan ROM masing-masing untuk dump
area dan crushing plant belum dan akan dibuat pada saat
pengerjaan penambangan tersedia. Jalan angkut Bijih Besi ke
crushing plant ini berasal dari tanah dasar yang diperkeras
dengan Iebar 20-30m
Jarak bukaan tambang ke waste dump berkisar antara 300m
sampai 1200m. Sedangkan jarak angkutan ROM dari bukaan
tambang ke crushing plant antara 720m-525m
Jalan angkut hasil pengolahan Bijih Besi ke pelabuhan muat
Bijih Besi dengan jarak 40km

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 143

7. Lingkungan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja
a. Lingkungan
Komponen lingkungan yang terkena dampak meliputi
komponen geofisik-kimia yaitu (perubahan bentang alam,
penurunan kualitas air permukaan, penurunan kualitas udara
dan getaran, peningkatan erosi tanah), komponen biologi yaitu
(penurunan populasi flora darat, hilangnya habitat fauna,
gangguan kehidupan biota air) serta komponen sosial dan
kesehatan masyarakat yaitu persepsi masyarakat, peningkatan
perekonomian lokal, gangguan kesehatan masyarakat,
program pengembangan masyarakat). Adapun beberapa
upaya pengelolaan yang telah dilakukan adalah:
Reklamasi waste dump area dan areal terbuka lainnya
serta pengadaan bibit untuk revegetasi tanaman
Penirisan dan pengelolaan air tambang
Pengelolaan kualitas udara (penanganan debu dan
kebisingan)
Pengelolaan limbah padat dan cair
Pelaksanaan program community development
b. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K-3)
Secara organisasi penanganan K-3 merupakan bagian dari
struktur organisasi PT. ISCO Polman Resources yang
berada dalam lingkungan Departemen Lingkungan dan
K-3. Dalam pelaksanaannya bagian K-3 dibantu oleh
koordinator safety pada kontraktor dan safety repsentatif
dari departemen.
Adapun program keselamatan dan kesehatan kerja (K-3)
meliputi inspeksi (inspection) dan keselamatan (safety

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 144

meeting) analisis tentang cara dan prosedur kerja yang
aman (job safety analises dan standard report and accident
investigation), analisis kecelakaan (accident analysis),
pelatihan (training-internal and external), alat pelindung
(personal protective equipment), pemeriksaan kesehatan
(general check up), keselamatan lalu lintas (safety traffic),
kampanye keselamatan (safety campaign), manajemen
kontraktor dan pengenalan tentang K-3 (safety induction).
8. Struktur Organisasi dan Tenaga Kerja
Untuk menangani kegiatan pertambangan Bijih Besi di daerah ini,
telah disusun struktur organisasi sebagai berikut:
- Organisasi di Indonesia dipimpin oleh Presiden Director yang
berkedudukan di Makassar.
- Struktur organisasi di kantor site, dipimpin oleh General
Manager dengan dibantu oleh beberapa manager dan
beberapa staf serta karyawan.
- Pemberian gaji dan upah disesuaikan dengan tingkat
ketrampilan/kemampuan serta tanggung jawab terhadap
pekerjaan tenaga kerja. Pembayaran buruh harian lepas
dibayarkan dalam 1 (satu) minggu sekali, tenaga kerja tetap
dibayarkan 1 (satu) bulan sekali di awal bulan dan tenaga kerja
borongan (kontrak) dibayarkan pada awal bulan sesuai dengan
kesepakatan bersama antara tenaga kerja dengan
perusahaan.
- Sistem kerja yang diterapkan disepakati antara tenaga kerja
dengan perusahaan sesuai dengan peraturan dan
perundangan yang berlaku, serta dilakukan atas dasar
kesepakatan kerja bersama antara pekerja dengan

Studi Kelayakan Penambangan Bijih Besi
PT. ISCO Polman Resources 145

perusahaan, mengutamakan K-3 dan efisiensi waktu dan alat,
sehingga dapat dicapai produktivitas kerja.

9. Pemasaran
- Produk Bijih Besi Indonesia yang memenuhi persyaratan yang
diminta konsumen yaitu memiliki kadar Fe total di atas 45%.
Harga Bijih Besi akan tergantung dari situasi dan kondisi
supply-demand.
- Keseluruhan kualitas Bijih Besi tertambang mengandung total
belerang (TS) rata-rata 3%, dan Fe total rata-rata 45%.
11.2 Saran
1. Sebelum masa produksi tahun 2011, disarankan untuk eksplorasi
lanjutan untuk meningkatkan cadangan terukur.
2. Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja agar diperhatikan
dalam kegiatan penambangan.