Anda di halaman 1dari 27

Hematologi

DARAH VENA Tujuan : mendapatkan spesimen darah vena tanpa anti koagulan yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan kimia klinik dan imunoserologi Lokasi : vena mediana cubiti ( dewasa ) -vena jugularis superficialis ( bayi ) Alat-alat : kapas alkohol -diaspossible syringe / vacutainer 10 cc -Tabung reaksi pyrex 10 cc -kapas steril -plester Cara kerja : 1. Bersihkan daerah vena mediana cubiti dengan alcohol 70% dan biarkan menjadi kering kembali 2. Pasang ikatan pembendung/torniquit diatas fossa cubiti. Mintakan pasien yang akan diambil darahnya untuk mengepal dan membuka tangannya beberapa kali agar vena jelas terlihat. Pembendungan vena tidak boleh terlalu kuat . 3. Tegangkan kulit diatas vena dengan jari tangan kiri agar vena tidak bergerak 4. Tusuk kulit diatas vena dengan jarum/nald dengan tangan kanan sampai menembus lumen vena 5. Lepaskan pembendungan dan ambillah darah sesuai yang dibutuhkan 6. Taruh kapas diatas jarum/nald dan cabut perlahan 7. Mintakan agar pasien menekan bekas tusukan dengan kapas tadi 8. Alirkan darah dari syringe kedalam tabung melaluji dinding tabung 9. Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen DARAH EDTA Tujuan : mendapatkan spesimen darah EDTAbyang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan morfologi sel darah tepi dan hitung jumlah trombosit Lokasi : vena mediana cubiti ( dewasa ) -vena jugularis superficialis ( bayi ) Alat-alat : kapas alkohol -diaspossible syringe / vacutainer 10 cc -Tabung reaksi pyrex 10 cc/tabung EDTA -kapas steril -plester Reagensia : EDTA 10% Cara kerja : 1. teknis pengambilan darah serupa dengan pengambilan sample darah vena 2. darah yang telah diambil dialirkan kedalam tabung yang telah berisi EDTA 10% 3. Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis spesimen

DARAH SITRAT Tujuan : mendapatkan spesimen darah SITRAT yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan laju endapan darah metode Weatergreen dan pemeriksaan tes hemoragik Lokasi : vena mediana cubiti ( dewasa ) -vena jugularis superficialis ( bayi ) Alat-alat : kapas alkohol -diaspossible syringe / vacutainer 10 cc -Tabung reaksi pyrex 10 cc -kapas steril -plester Reagensia : Natrium sitrat 3.8% Cara kerja : 1 teknis pengambilan darah serupa dengan pengambilan sample darah vena 2 darah yang telah diambil sebanyak 1.6 ml dialirkan kedalam tabung yang telah berisi natriumsitrat 3.8 % sebanyak 0.4 ml 3 Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen DARAH KAPILER Tujuan : mendapatkan spesimen darah kapiler yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan golongan darah dan beberapa pemeriksaan rapid test imunologi Lokasi : ujung jari tangan / anak daun telinga ( dewasa ) - tumit / ibu jari kaki ( bayi ) Alat-alat : alcohol 70% - lancet steril -kapas steril -plester Cara kerja : 1. Bersihkan daerah yang akan di tusuk alcohol 70% dan biarkan menjadi kering kembali 2. Pegang bagian yang akan di tusuk supaya tidak bergerak dan di tekan sedikit agar rasa nyeri berkurang 3. Tusuk dengan cepat memakai lancet steril. Pada ibu jari tusukan tegak lurus dengan garissidik jari. Bila memakai anak daun telinga tusukan dilakukan dipinggir bukan pada sisinya.Tusukan harus cukup dalam . 4. Buang tetes darah pertama keluar dengan memakai kapas kering. Tetes darah berikutnya dipakai untuk Pemeriksaan. PENGAMBILAN SAMPEL URINE UNTUK PEMERIKSAAN URINALISA Tujuan : mendapatkan spesimen urine yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan urinalisa Waktu : pengambilan sebaiknya sebelum pemberian anti biotik. Untuk Pemeriksaan test kehamilan dan sedimen dipakai urine pagi hari. Alat-alat : wadah setril dari gelas/plastik bermulut lebar bertutut rapat, ukuran 50 ml

Cara kerja : 1. Penderita diminta untuk mengeluarkan urine 2. Aliran urine ditampung dalam wadah yang sudah disediakan. 3. Hindari urine mengenai lapisan tepi wadah . 4. Setelah penampungan urine selesai wadah di tutup dengan rapat 5. Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen PENGAMBILAN SAMPEL TINJA UNTUK PEMERIKSAAN FESES RUTIN Tujuan : mendapatkan spesimen tinja/feses yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan feses rutine Waktu : pengambilan dilakukan setiap saat, terutama pada gejala awal dan sebaiknya sebelum pemberian anti biotik. Alat-alat : lidi kapas steril - pot tinja Cara kerja : 1. Penderita diharuskan buang air kecil terlebih dahulu karena tinja tidak boleh boleh tercemar urine 2. inntruksikan pada penderita untuk buang air besar langsung kedalam pot tinja ( kira kira 5 gram ) 3. tutup pot dengan rapat 4. Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis specimen PENGAMBILAN SAMPEL SPUTUM UNTUK PEMERIKSAAN BASIL TAHAN ASAM (Mycobacterium tuberculosis) Tujuan : mendapatkan spesimen sputum yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan pewarnaan basil tahan asam Waktu : diperlukan 3 kali pengambilan ssputum dalam 2 kali kunjungan, yaitu Sputum sewaktu (S), yaitu ketika penderita pertama kali dating; Sputum pagi (P) , keesokan harinya ketika penderita dating lagi dengan membawa sputum pagi ( sputum pertama setelah bangun tidur) Sputum sewaktu (S), yaitu saat penderita tiba di laboratorium.,penderita diminta mengeluarkan sputumnya lagi Alat-alat : wadah setril dari gelas/plastik bermulut lebar bertutut ulir Cara kerja : 1. Berikan penjelasan pada penderita bagaimana cara membantukkan sputum yang baik yaitu : kumur- kumur lebih dahulu, tarik nafas 2 3 kali, tahan beberapa detik , kemudian batukkan kuat-kuat 2. Taruh wadah sputum dekat bibir dan masukkan sputum kedalamnya. 3. sputum yang baik adalah yang kental dan jumlahnya cukup 2 3 ml 4. tutup wadah sputum dengan rapat 5. Berikan label berisi tanggal pemeriksaan,nama pasien dan jenis spesimen

Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Tes Hematologi Rutin Hitung darah lengkap -HDL- atau darah perifer lengkap DPL- (complete blood count/full blood count/blood panel) adalah jenis pemeriksan yang memberikan informasi tentang sel-sel darah pasien. HDL merupakan tes laboratorium yang paling umum dilakukan. HDL digunakan sebagai tes skrining yang luas untuk memeriksa gangguan seperti seperti anemia, infeksi, dan banyak penyakit lainnya. HDL memeriksa jenis sel dalam darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih dan trombosit (platelet). Pemeriksaan darah lengkap yang sering dilakukan meliputi: Jumlah sel darah putih Jumlah sel darah merah Hemoglobin Hematokrit Indeks eritrosit jumlah dan volume trombosit Tabel 1. Nilai pemeriksaan darah lengkap pada populasi normal parameter Laki-Laki Perempuan 3 Hitung sel darah putih (x 10 /L) 7.8 (4.411.3) 6 Hitung sel darah merah (x 10 /L) 5.21 (4.525.90) 4.60 (4.105.10) Hemoglobin (g/dl) 15.7 (14.017.5) 13.8 (12.315.3) Hematokrit (%) 46 (4250) 40 (3645) MCV (fL) 88.0 (80.096.1) MCH (pg) 30.4 (27.533.2) MCHC 34.4 (33.435.5) RDW (%) 13.1 (11.514.5) 3 Hitung trombosit (x 10 /L) 311 (172450) Spesimen Sebaiknya darah diambil pada waktu dan kondisi yang relatif sama untuk meminimalisasi perubahan pada sirkulasi darah, misalnya lokasi pengambilan, waktu pengambilan, serta kondisi pasien (puasa, makan). Cara pengambilan specimen juga perlu diperhatikan, misalnya tidak menekan lokasi pengambilan darah kapiler, tidak mengambil darah kapiler tetesan pertama, serta penggunaan antikoagulan (EDTA, sitrat) untuk mencegah terbentuknya clot. Hemoglobin Adalah molekul yang terdiri dari kandungan heme (zat besi) dan rantai polipeptida globin (alfa,beta,gama, dan delta), berada di dalam eritrosit dan bertugas untuk mengangkut oksigen. Kualitas darah ditentukan oleh kadar haemoglobin. Stuktur Hb dinyatakan dengan menyebut jumlah dan jenis rantai globin yang ada. Terdapat 141 molekul asama amino pada rantai alfa, dan 146 mol asam amino pada rantai beta, gama dan delta. Terdapat berbagai cara untuk menetapkan kadar hemoglobin tetapi yang sering dikerjakan di laboratorium adalah yang berdasarkan kolorimeterik visual cara Sahli dan fotoelektrik cara sianmethemoglobin atau hemiglobinsianida. Cara Sahli kurang baik, karena tidak semua macam hemoglobin diubah menjadi hematin asam misalnya karboksihemoglobin, methemoglobin dan

sulfhemoglobin. Selain itu alat untuk pemeriksaan hemoglobin cara Sahli tidak dapat distandarkan, sehingga ketelitian yang dapat dicapai hanya 10%. Cara sianmethemoglobin adalah cara yang dianjurkan untuk penetapan kadar hemoglobin di laboratorium karena larutan standar sianmethemoglobin sifatnya stabil, mudah diperoleh dan pada cara ini hampir semua hemoglobin terukur kecuali sulfhemoglobin. Pada cara ini ketelitian yang dapat dicapai 2%. Berhubung ketelitian masing-masing cara berbeda, untuk penilaian basil sebaiknya diketahui cara mana yang dipakai. Nilai rujukan kadar hemoglobin tergantung dari umur dan jenis kelamin. Pada bayi baru lahir, kadar hemoglobin lebih tinggi dari pada orang dewasa yaitu berkisar antara 13,6 19, 6 g/dl. Kemudian kadar hemoglobin menurun dan pada umur 3 tahun dicapai kadar paling rendah yaitu 9,5 12,5 g/dl. Setelah itu secara bertahap kadar hemoglobin naik dan pada pubertas kadarnya mendekati kadar pada dewasa yaitu berkisar antara 11,5 14,8 g/dl. Pada laki-laki dewasa kadar hemoglobin berkisar antara 13 16 g/dl sedangkan pada perempuan dewasa antara 12 14 g/dl. Pada perempuan hamil terjadi hemodilusi sehingga batas terendah nilai rujukan ditentukan 10 g/dl. Penurunan Hb terdapat pada penderita: Anemia, kanker, penyakit ginjal, pemberian cairan intravena berlebih, dan hodgkin. Dapat juga disebabkan oleh obat seperti: Antibiotik, aspirin, antineoplastik(obat kanker), indometasin, sulfonamida, primaquin, rifampin, dan trimetadion. Peningkatan Hb terdapat pada pasien dehidrasi, polisitemia, PPOK, gagal jantung kongesti, dan luka bakar hebat. Obat yang dapat meningkatkan Hb adalah metildopa dan gentamicin. Kadar hemoglobin dapat dipengaruhi oleh tersedianya oksigen pada tempat tinggal, misalnya Hb meningkat pada orang yang tinggal di tempat yang tinggi dari permukaan laut. Selain itu, Hb juga dipengaruhi oleh posisi pasien (berdiri, berbaring), variasi diurnal (tertinggi pagi hari). Hematokrit Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume, PCV) adalah persentase volume eritrosit dalam darah yang dimampatkan dengan cara diputar pada kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah. Nilai hematokrit atau PCV dapat ditetapkan secara automatik menggunakanhematology analyzer atau secara manual. Metode pengukuran hematokrit secara manual dikenal ada 2, yaitu metode makrohematokrit dan mikrohematokrit/kapiler. Nilai normal HMT: Anak : 33-38% Laki-laki Dewasa Perempuan Dewasa : 40-50% : 36-44%

Penurunan HMT, terjadi dengan pasien yang mengalami kehilangan darah akut, anemia, leukemia, penyakit hodgkins, limfosarcoma, mieloma multiple, gagal ginjal kronik, sirosis hepatitis, malnutrisi, defisiensi vit B dan C, kehamilan, SLE,athritis reumatoid, dan ulkus peptikum. Peningkatan HMT, terjadi pada hipovolemia, dehidrasi, polisitemia vera, diare berat, asidosis diabetikum,emfisema paru, iskemik serebral, eklamsia, efek pembedahan, dan luka bakar.

Hitung Eritrosit Hitung eritrosit adalah jumlah eritrosit per milimeterkubik atau mikroliter dalah. Seperti hitung leukosit, untuk menghitung jumlah sel-sel eritrosit ada dua metode, yaitu manual dan elektronik (automatik). Metode manual hampir sama dengan hitung leukosit, yaitu menggunakan bilik hitung. Namun, hitung eritrosit lebih sukar daripada hitung leukosit. Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan isotonis untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis. Larutan Pengencer yang digunakan adalah: Larutan Hayem : Natrium sulfat 2.5 g, Natrium klorid 0.5 g, Merkuri klorid 0.25 g, aquadest 100 ml. Pada keadaan hiperglobulinemia, larutan ini tidak dapat dipergunakan karena dapat menyebabkan precipitasi protein, rouleaux, aglutinasi. Larutan Gower : Natrium sulfat 12.5 g, Asam asetat glasial 33.3 ml, aquadest 200 ml. Larutan ini mencegah aglutinasi dan rouleaux. Natrium klorid 0.85 % Nilai Rujukan Dewasa laki-laki : 4.50 6.50 (x106/L) Dewasa perempuan : 3.80 4.80 (x106/L) Bayi baru lahir : 4.30 6.30 (x106/L) Anak usia 1-3 tahun : 3.60 5.20 (x106/L) Anak usia 4-5 tahun : 3.70 5.70 (x106/L) Anak usia 6-10 tahun : 3.80 5.80 (x106/L) Penurunan eritrosit : kehilangan darah (perdarahan), anemia, leukemia, infeksi kronis, mieloma multipel, cairan per intra vena berlebih, gagal ginjal kronis, kehamilan, hidrasi berlebihan Peningkatan eritrosit : polisitemia vera, hemokonsentrasi/dehidrasi, dataran tinggi, penyakit kardiovaskuler Indeks Eritrosit Mencakup parameter eritrosit, yaitu: Mean cell / corpuscular volume (MCV) atau volume eritrosit rata-rata (VER) MCV = Hematokrit (l/l) / Jumlah eritrosit (106/L) Normal 80-96 fl Mean Cell Hemoglobin Content (MCH) atau hemoglobin eritrosit rata-rata (HER) MCH (pg) = Hemoglobin (g/l) / Jumlah eritrosit (106/L) Normal 27-33 pg Mean Cellular Hemoglobin Concentration (MCHC) atau konsentrasi hemoglobin eritrosit ratarata (KHER) MCHC (g/dL) = konsentrasi hemoglobin (g/dL) / hematokrit (l/l) Normal 33-36 g/dL Red Blood Cell Distribution Width (RDW) RDW adalah perbedaan/variasi ukuran (luas) eritrosit. Nilai RDW berguna memperkirakan terjadinya anemia dini, sebelum nilai MCV berubah dan sebelum terjadi gejala. Peningkatan nilai RDW dapat dijumpai pada anemia defisiensi (zat besi, asam folat, vit B12), anemia hemolitik,

anemia sel sabit. Ukuran eritrosit biasanya 6-8m, semakin tinggi variasi ukuran sel mengindikasikan adanya kelainan. RDW = standar deviasi MCV / rata-rata MCV x 100 Nilai normal rujukan 11-15% Hitung Trombosit Adalah komponen sel darah yang dihasilkan oleh jaringan hemopoetik, dan berfungsi utama dalam proses pembekuan darah. Penurunan sampai dibawah 100.000/ L berpotensi untuk terjadinya perdarahan dan hambatan pembekuan darah. Jumlah Normal: 150.000-400.000 /L Hitung Leukosit Hitung leukosit adalah menghitung jumlah leukosit per milimeterkubik atau mikroliter darah. Leukosit merupakan bagian penting dari sistem pertahanan tubuh, terhadap benda asing, mikroorganisme atau jaringan asing, sehingga hitung julah leukosit merupakan indikator yang baik untuk mengetahui respon tubuh terhadap infeksi. Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan lain-lain. Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000-30.000/l. Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000-38.000 /l. Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4500- 11.000/l. Pada keadaan basal jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000 10.000/l. Jumlah leukosit meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi jarang lebih dari 11.000/l. Peningkatan jumlah leukosit di atas normal disebut leukositosis, sedangkan penurunan jumlah leukosit di bawah normal disebut lekopenia. Terdapat dua metode yang digunakan dalam pemeriksaan hitung leukosit, yaitu cara automatik menggunakan mesin penghitung sel darah (hematology analyzer) dan cara manual dengan menggunakan pipet leukosit, kamar hitung dan mikroskop. Cara automatik lebih unggul dari cara pertama karena tekniknya lebih mudah, waktu yang diperlukan lebih singkat dan kesalahannya lebih kecil yaitu 2%, sedang pada cara manual kesalahannya sampai 10%. Keburukan cara automatik adalah harga alat mahal dan sulit untuk memperoleh reagen karena belum banyak laboratorium di Indonesia yang memakai alat ini. Nilai normal leukosit: Dewasa : 4000-10.000/ L Bayi / anak Bayi baru lahir : 9000-12.000/ L : 9000-30.000/ L

Bila jumlah leukosit lebih dari nilai rujukan, maka keadaan tersebut disebutleukositosis. Leukositosis dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik. Leukositosis yang fisiologik dijumpai pada kerja fisik yang berat, gangguan emosi, kejang, takhikardi paroksismal, partus dan haid. Peningkatan leukosit juga dapat menunjukan adanya proses infeksi atau radang akut, misalnya pneumonia, meningitis, apendisitis, tuberkolosis, tonsilitis, dll. Dapat juga terjadi miokard infark, sirosis hepatis, luka bakar, kanker, leukemia, penyakit kolagen, anemia hemolitik, anemia sel sabit , penyakit parasit, dan stress karena pembedahan ataupun gangguan emosi. Peningkatan

leukosit juga bisa disebabkan oleh obat-obatan, misalnya: aspirin, prokainmid, alopurinol, kalium yodida, sulfonamide, haparin, digitalis, epinefrin, litium, dan antibiotika terutama ampicillin, eritromisin, kanamisin, metisilin, tetracycline, vankomisin, dan streptomycin. Leukopenia adalah keadaan dimana jumlah leukosit kurang dari 5000/L darah. Karena pada hitung jenis leukosit, netrofil adalah sel yang paling tinggi persentasinya hampir selalu leukopenia disebabkan netropenia. Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi pada penderita infeksi tertentu, terutama virus, malaria, alkoholik, SLE, reumaotid artritis, dan penyakit hemopoetik(anemia aplastik, anemia perisiosa). Leokopenia dapat juga disebabkan penggunaan obat terutama saetaminofen, sulfonamide, PTU, barbiturate, kemoterapi kanker, diazepam, diuretika, antidiabetika oral, indometasin, metildopa, rimpamfin, fenotiazin, dan antibiotika.(penicilin, cefalosporin, dan kloramfenikol) Hitung Jenis Leukosit Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/l). Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama membuat sediaan apus darah yang diwarnai dengan pewarna Giemsa, Wright atau May Grunwald. Amati di bawah mikroskop dan hitung jenis-jenis leukosit hingga didapatkan 100 sel. Tiap jenis sel darah putih dinyatakan dalam persen (%). Jumlah absolut dihitung dengan mengalikan persentase jumlah dengan hitung leukosit, hasilnya dinyatakan dalam sel/L. Tabel 2. Hitung Jenis Leukosit Jenis Nilai normal 0,4-1% Basofil 40-100/L Eosinofil Melebihi nilai normal inflamasi, leukemia, tahap penyembuhan infeksi atau inflamasi 1-3% Umumnya pada keadaan 100-300/L atopi/ alergi dan infeksi parasit 55-70% Inflamasi, kerusakan (2500-7000/L) jaringan, peyakit Hodgkin, leukemia mielositik, Bayi Baru Lahir 61% hemolytic disease of newborn, kolesistitis akut, Umur 1 tahun 2% apendisitis, pancreatitis Segmen 50-65% akut, pengaruh obat (2500-6500/L) Batang 0-5% (0500/L) Kurang dari nilai normal stress, reaksi hipersensitivitas, kehamilan, hipertiroidisme stress, luka bakar, syok, hiperfungsi adrenokortikal. Infeksi virus, autoimun/idiopatik, pengaruh obat-obatan

Neutrofil

Limfosit

20-40% 1700-3500/L BBL 34% 1 th 60% 6 th 42% 12 th 38%

infeksi kronis dan virus

kanker, leukemia, gagal ginjal, SLE, pemberian steroid yang berlebihan

Monosit

2-8% 200-600/L Anak 4-9%

Infeksi virus, parasit, anemia hemolitik, SLE< RA

Leukemia limfositik, anemia aplastik

Laju Endap Darah Laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR) adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan). Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen. Prosedur pemeriksaan LED yaitu: 1. Metode Westergreen o Untuk melakukan pemeriksaan LED cara Westergreen diperlukan sampel darah citrat 4 : 1 (4 bagian darah vena + 1 bagian natrium sitrat 3,2 % ) atau darah EDTA yang diencerkan dengan NaCl 0.85 % 4 : 1 (4 bagian darah EDTA + 1 bagian NaCl 0.85%). Homogenisasi sampel sebelum diperiksa. o Sampel darah yang telah diencerkan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung Westergreen sampai tanda/skala 0. o Tabung diletakkan pada rak dengan posisi tegak lurus, jauhkan dari getaran maupun sinar matahari langsung. o Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm penurunan eritrosit. 1. Metode Wintrobe o Sampel yang digunakan berupa darah EDTA atau darah Amonium-kalium oksalat. Homogenisasi sampel sebelum diperiksa. o Sampel dimasukkan ke dalam tabung Wintrobe menggunakan pipet Pasteur sampai tanda 0. o Letakkan tabung dengan posisi tegak lurus. o Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm menurunnya eritrosit.

1. 1. Nilai Rujukan Metode Westergreen: Laki-laki : 0 15 mm/jam Perempuan : 0 20 mm/jam Metode Wintrobe : Laki-laki : 0 9 mm/jam Perempuan 0 15 mm/jam

URINALISIS Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
SPESIMEN

Urinalisis yang akurat dipengaruhi oleh spesimen yang berkualitas. Sekresi vagina, perineum dan uretra pada wanita, dan kontaminan uretra pada pria dapat mengurangi mutu temuan laboratorium. Mukus, protein, sel, epitel, dan mikroorganisme masuk ke dalam sistem urine dari uretra dan jaringan sekitarnya. Oleh karena itu pasien perlu diberitahu agar membuang beberapa millimeter pertama urine sebelum mulai menampung urine. Pasien perlu membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid harus memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung specimen. Kadang-kadang diperlukan kateterisasi untuk memperoleh spesimen yang tidak tercemar. Meskipun urine yang diambil secara acak (random) atau urine sewaktu cukup bagus untuk pemeriksaan, namun urine pertama pagi hari adalah yang paling bagus. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsure-unsur yang terbentuk mengalami pemekatan. Gunakan wadah yang bersih untuk menampung spesimen urin. Hindari sinar matahari langsung pada waktu menangani spesimen urin. Jangan gunakan urin yang mengandung antiseptik. Lakukan pemeriksaan dalam waktu satu jam setelah buang air kecil. Penundaan pemeriksaan terhadap spesimen urine harus dihindari karena dapat mengurangi validitas hasil. Analisis harus dilakukan selambat-lambatnya 4 jam setelah pengambilan spesimen. Dampak dari penundaan pemeriksan antara lain : unsur-unsur berbentuk dalam sedimen mulai mengalami kerusakan dalam 2 jam, urat dan fosfat yang semula larut dapat mengendap sehingga mengaburkan pemeriksaan mikroskopik elemen lain, bilirubin dan urobilinogen dapat mengalami oksidasi bila terpajan sinar matahari, bakteri berkembangbiak dan dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan mikrobiologik dan pH, glukosa mungkin turun, dan badan keton, jika ada, akan menguap.

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK

Urinalisis dimulai dengan mengamati penampakan makroskopik : warna dan kekeruhan. Urine normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit berkabut dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin. Intensitas warna sesuai dengan konsentrasi urine; urine encer hampir tidak berwarna, urine pekat berwarna kuning tua atau sawo matang. Kekeruhan biasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urine asam) atau fosfat (dalam urine basa). Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh bahan selular berlebihan atau protein dalam urin. Volume urine normal adalah 750-2.000 ml/24hr. Pengukuran volume ini pada pengambilan acak (random) tidak relevan. Karena itu pengukuran volume harus dilakukan secara berjangka selama 24 jam untuk memperoleh hasil yang akurat. Kelainan pada warna, kejernihan, dan kekeruhan dapat mengindikasikan kemungkinan adanya infeksi, dehidrasi, darah di urin (hematuria), penyakit hati, kerusakan otot atau eritrosit dalam tubuh. Obat-obatan tertentu juga dapat mengubah warna urin. Kencing berbusa sangat mungkin mewakili jumlah besar protein dalam urin (proteinuria). Beberapa keadaan yang menyebabkan warna urine adalah :

Merah : Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin. Penyebab nonpatologik : banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab (kelembak), senna. Oranye : Penyebab patologik : pigmen empedu. Penyebab nonpatologik : obat untuk infeksi saliran kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin. Kuning : Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin. Penyebab nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin. Hijau : Penyebab patologik : biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas). Penyebab nonpatologik : preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik. Biru : tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat : diuretik, nitrofuran. Coklat : Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu. Pengaruh obat : levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa. Hitam atau hitam kecoklatan : Penyebab patologik : melanin, asam homogentisat, indikans, urobilinogen, methemoglobin. Pengaruh obat : levodopa, cascara, kompleks besi, fenol.

ANALISIS

DIPSTICK

Dipstick adalah strip reagen berupa strip plastik tipis yang ditempeli kertas seluloid yang mengandung bahan kimia tertentu sesuai jenis parameter yang akan diperiksa. Urine Dip merupakan analisis kimia cepat untuk mendiagnosa berbagai penyakit. Uji kimia yang tersedia pada reagen strip umumnya adalah : glukosa, protein, bilirubin, urobilinogen, pH, berat jenis, darah, keton, nitrit, dan leukosit esterase.

Prosedur

Tes

Ambil hanya sebanyak strip yang diperlukan dari wadah dan segera tutup wadah. Celupkan strip reagen sepenuhnya ke dalam urin selama dua detik. Hilangkan kelebihan urine dengan menyentuhkan strip di tepi wadah spesimen atau dengan meletakkan strip di atas secarik kertas tisu. Perubahan warna diinterpretasikan dengan membandingkannya dengan skala warna rujukan, yang biasanya ditempel pada botol/wadah reagen strip. Perhatikan waktu reaksi untuk setiap item. Hasil pembacaan mungkin tidak akurat jika membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, atau jika pencahayaan kurang. Pembacaan dipstick dengan instrument otomatis lebih dianjurkan untuk memperkecil kesalahan dalam pembacaan secara visual. Pemakaian reagen strip haruslah dilakukan secara hati-hati. Oleh karena itu harus diperhatikan cara kerja dan batas waktu pembacaan seperti yang tertera dalam leaflet. Setiap habis mengambil 1 batang reagen strip, botol/wadah harus segera ditutup kembali dengan rapat, agar terlindung dari kelembaban, sinar, dan uap kimia. Setiap strip harus diamati sebelum digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada perubahan warna.

Glukosa Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam urin (kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes mellitus. Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase (GOD), peroksidase

(POD)

dan

zat

warna.

Protein Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh tubulus ginjal. Normal ekskresi protein urine biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10 mg/dl dalam setiap satu spesimen. Lebih dari 10 mg/ml didefinisikan sebagai proteinuria. Sejumlah kecil protein dapat dideteksi dari individu sehat karena perubahan fisiologis. Selama olah raga, stres atau diet yang tidak seimbang dengan daging dapat menyebabkan protein dalam jumlah yang signifikan muncul dalam urin. Pra-menstruasi dan mandi air panas juga dapat menyebabkan jumlah protein tinggi. Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi. Sedangkan peningkatan ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan petanda yang sensitif untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel. Dipsticks mendeteksi protein dengan indikator warna Bromphenol biru, yang sensitif terhadap albumin tetapi kurang sensitif terhadap globulin, protein Bence-Jones, dan mukoprotein.

Bilirubin Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urine adalah bilirubin direk (terkonjugasi), karena tidak terkait dengan albumin, sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan ke dalam urine bila kadar dalam darah meningkat. Bilirubinuria dijumpai pada ikterus parenkimatosa (hepatitis infeksiosa, toksik hepar), ikterus obstruktif, kanker hati (sekunder), CHF disertai ikterik.

Urobilinogen Empedu yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin terkonjugasi mencapai area duodenum, tempat bakteri dalam usus mengubah bilirubin menjadi urobilinogen. Sebagian besar urobilinogen berkurang di faeses; sejumlah besar kembali ke hati melalui aliran darah, di sini urobilinogen diproses ulang menjadi empedu; dan kira-kira sejumlah 1% diekskresikan ke dalam urine oleh ginjal. Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urine terjadi bila fungsi sel hepar menurun atau terdapat kelebihan urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang melebehi batas kemampuan hepar untuk melakukan rekskresi. Urobilinogen meninggi dijumpai pada : destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika atau anemia hemolitik oleh sebab apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis infeksiosa, sirosis hepar, keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik, obstruksi usus, mononukleosis infeksiosa, anemia sel sabit.

Urobilinogen urine menurun dijumpai pada ikterik obstruktif, kanker pankreas, penyakit hati yang parah (jumlah empedu yang dihasilkan hanya sedikit), penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis, diare yang berat. Hasil positif juga dapat diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat disebabkan oleh kelelahan atau sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah kecil urobilinogen.

Keasaman (pH) Filtrat glomerular plasma darah biasanya diasamkan oleh tubulus ginjal dan saluran pengumpul dari pH 7,4 menjadi sekitar 6 di final urin. Namun, tergantung pada status asam-basa, pH kemih dapat berkisar dari 4,5 8,0. pH bervariasi sepanjang hari, dipengaruhi oleh konsumsi makanan; bersifat basa setelah makan, lalu menurun dan menjadi kurang basa menjelang makan berikutnya. Urine pagi hari (bangun tidur) adalah yang lebih asam. Obat-obatan tertentu dan penyakit gangguan keseimbangan asam-basa jug adapt mempengaruhi pH urine. Urine yang diperiksa haruslah segar, sebab bila disimpan terlalu lama, maka pH akan berubah menjadi basa. Urine basa dapat memberi hasil negatif atau tidak memadai terhadap albuminuria dan unsure-unsur mikroskopik sedimen urine, seperti eritrosit, silinder yang akan mengalami lisis. pH urine yang basa sepanjang hari kemungkinan oleh adanya infeksi. Urine dengan pH yang selalu asam dapat menyebabkan terjadinya batu asam urat. Berikut ini adalah keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :

pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran kemih (Proteus atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan ammonia), terapi alkalinisasi, asidosis tubulus ginjal, spesimen basi. pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak), asidosis sistemik (kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis respiratorik atau metabolic memicu pengasaman urine dan meningkatkan ekskresi NH4+), terapi pengasaman.

Berat Jenis (Specific Gravity, SG) Berat jenis (yang berbanding lurus dengan osmolalitas urin yang mengukur konsentrasi zat terlarut) mengukur kepadatan air seni serta dipakai untuk menilai kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengencerkan urin. Spesifik gravitasi antara 1,005 dan 1,035 pada sampel acak harus dianggap wajar jika fungsi ginjal normal. Nilai rujukan untuk urine pagi adalah 1,015 1,025, sedangkan dengan pembatasan minum selama 12 jam nilai normal > 1,022, dan selama 24 jam bisa mencapai 1,026. Defek fungsi dini yang tampak pada kerusakan tubulus adalah kehilangan kemampuan untuk memekatkan urine.

BJ urine yang rendah persisten menunjukkan gangguan fungsi reabsorbsi tubulus. Nokturia dengan ekskresi urine malam > 500 ml dan BJ kurang dari 1.018, kadar glukosa sangat tinggi, atau mungkin pasien baru-baru ini menerima pewarna radiopaque kepadatan tinggi secara intravena untuk studi radiografi, atau larutan dekstran dengan berat molekul rendah. Kurangi 0,004 untuk setiap 1% glukosa untuk menentukan konsentrasi zat terlarut non-glukosa.

Darah (Blood) Pemeriksaan dengan carik celup akan memberi hasil positif baik untuk hematuria, hemoglobinuria, maupun mioglobinuria. Prinsip tes carik celup ialah mendeteksi hemoglobin dengan pemakaian substrat peroksidase serta aseptor oksigen. Eritrosit yang utuh dipecah menjadi hemoglobin dengan adanya aktivitas peroksidase. Hal ini memungkinkan hasil tidak sesuai dengan metode mikroskopik sedimen urine. Hemoglobinuria sejati terjadi bila hemoglobin bebas dalam urine yang disebabkan karena danya hemolisis intravaskuler. Hemolisis dalam urine juga dapat terjadi karena urine encer, pH alkalis, urine didiamkan lama dalam suhu kamar. Mioglobinuria terjadi bila mioglobin dilepaskan ke dalam pembuluh darah akibat kerusakan otot, seperti otot jantung, otot skeletal, juga sebagai akibat dari olah raga berlebihan, konvulsi. Mioglobin memiliki berat molekul kecil sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresi ke dalam urine. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

Hasil positif palsu dapat terjadi bila urine tercemar deterjen yang mengandung hipoklorid atau peroksida, bila terdapat bakteriuria yang mengandung peroksidase. Hasil negatif palsu dapat terjadi bila urine mengandung vitamin C dosis tinggi, pengawet formaldehid, nitrit konsentrasi tinggi, protein konsentrasi tinggi, atau berat jenis sangat tinggi. dari wanita yang sedang menstruasi dapat memberikan hasil positif.

Urine

Keton Badan keton (aseton, asam aseotasetat, dan asam -hidroksibutirat) diproduksi untuk menghasilkan energi saat karbohidrat tidak dapat digunakan. Asam aseotasetat dan asam hidroksibutirat merupakan bahan bakar respirasi normal dan sumber energi penting terutama untuk otot jantung dan korteks ginjal. Apabila kapasitas jaringan untuk menggunakan keton sudah mencukupi maka akan diekskresi ke dalam urine, dan apabila kemampuan ginjal untuk mengekskresi keton telah melampaui batas, maka terjadi ketonemia. Benda keton yang dijumpai di urine terutama adalah aseton dan asam asetoasetat. Ketonuria disebabkan oleh kurangnya intake karbohidrat (kelaparan, tidak seimbangnya diet tinggi lemak dengan rendah karbohidrat), gangguan absorbsi karbohidrat (kelainan gastrointestinal), gangguan metabolisme karbohidrat (mis. diabetes), sehingga tubuh mengambil

kekurangan

energi

dari

lemak

atau

protein,

febris.

Nitrit Di dalam urine orang normal terdapat nitrat sebagai hasil metabolisme protein, yang kemudian jika terdapat bakteri dalam jumlah yang signifikan dalam urin (Escherichia coli, Enterobakter, Citrobacter, Klebsiella, Proteus) yang megandung enzim reduktase, akan mereduksi nitrat menjadi nitrit. Hal ini terjadi bila urine telah berada dalam kandung kemih minimal 4 jam. Hasil negative bukan berarti pasti tidak terdapat bakteriuria sebab tidak semua jenis bakteri dapat membentuk nitrit, atau urine memang tidak mengandung nitrat, atau urine berada dalam kandung kemih kurang dari 4 jam. Disamping itu, pada keadaan tertentu, enzim bakteri telah mereduksi nitrat menjadi nitrit, namun kemudian nitrit berubah menjadi nitrogen. Spesimen terbaik untuk pemeriksaan nitrit adalah urine pagi dan diperiksa dalam keadaan segar, sebab penundaan pemeriksaan akan mengakibatkan perkembang biakan bakteri di luar saluran kemih, yang juga dapat menghasilkan nitrit. Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

Hasil positif palsu karena metabolisme bakteri in vitro apabila pemeriksaan tertunda, urine merah oleh sebab apapun, pengaruh obat (fenazopiridin). Hasil negatif palsu terjadi karena diet vegetarian menghasilkan nitrat dalam jumlah cukup banyak, terapi antibiotik mengubah metabolisme bakteri, organism penginfeksi mungkin tidak mereduksi nitrat, kadar asam askorbat tinggi, urine tidak dalam kandung kemih selama 4-6 jam, atau berat jenis urine tinggi.

Lekosit esterase Lekosit netrofil mensekresi esterase yang dapat dideteksi secara kimiawi. Hasil tes lekosit esterase positif mengindikasikan kehadiran sel-sel lekosit (granulosit), baik secara utuh atau sebagai sel yang lisis. Limfosit tidak memiliki memiliki aktivitas esterase sehingga tidak akan memberikan hasil positif. Hal ini memungkinkan hasil mikroskopik tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan carik celup. Temuan laboratorium negatif palsu dapat terjadi bila kadar glukosa urine tinggi (>500mg/dl), protein urine tinggi (>300mg/dl), berat jenis urine tinggi, kadar asam oksalat tinggi, dan urine mengandung cephaloxin, cephalothin, tetrasiklin. Temuan positif palsu pada penggunaan pengawet formaldehid. Urine basi dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.

Pemeriksaan Manual Urinalisa

Protein urine

CARA KERJA : 1. Masukkanlah 2,5 ml urine jernih ke dalam tabung reaksi. 2. Dengan memegang tabung reaksi itu pada ujung bawah , lapisan atas urine itu dipanasi di atas nyala api sampai mendidih selama 30 detik. 3. Perhatikan terjadinya kekeruhan di lapisan atas urine itu, dengan membandingkan jernihnya dengan bagian bawah yang tidak dipanasi. Jika terjadi kekeruhan, mungkin ia disebabkan oleh protein, tetapi mungkin juga oleh calciumfosfat atau calciumkarbonat. 4. Kemudian teteskanlah ke dalam urine yang masih panas itu 3-5 tetes larutan asam asetat 6%. Jika kekeruhan disebabkan oleh calciumfosfat, kekeruhan itu akan lenyap. Akan tetapi, jika kekeruhan itu disebabkan oleh calciumkarbonat, kekeruhan hilang juga, tapi dengan pembentukan gas. Jika kekeruhan tetap ada atau menjadi lebih lagi, test terhadap protein adalah positif. 5. Panasilah sekali lagi lapisan atas itu sampai mendidih dan kemudian berilah penilaian semikuantitatif kepada hasilnya.

HASIL Urine normal dipanaskan sampai mendidih , setelah mendidih diamkan beberapa menit dan hasilnya jernih itu menandakan urine normal.

Urine patologis dipanaskan sampai mendidih , setelah dipanaskan menunjukan adanya kekeruhan dalam urine patologis.

KESIMPULAN Setelah melakukan percobaan pada urine normal, hasil yang diberikan ialah (-) . Hal ini ditunjukkan bahwa tidak terjadinya kekeruhan pada urine setelah dipanaskan. Hal ini berarti dalam urine tersebut tidak mengandung protein. Urine tersebut dapat dikatakan sebagai urine normal.

Setelah melakukan percobaan pada urine patologis ini, hasil yang diberikan ialah +++ ( 3 + ) . dikarenakan setelah dipanaskan dan dicampur dengan larutan asam asetat 6% lalu dipanaskan kembali pun, urine tetap menunjukkan adanya kekeruhan. Hasil +++ ini berarti kekeruhan yang ditunjukkan pada percobaan ialah berupa urine yang gumpalan keruhnya nyata dan kekeruhan itu berkeping-keping (0,2-0,5%).

2. UJI GLUKOSA
Tujuan Menentukan adanya glukosa di dalam urine atau tidak

Dasar Pada pemeriksaan reduksi urine ini kita lakukan dengan metode benedict atau fehling. Bahwa dengan pemanasan urine akan berada dalam suasana alkalis, glukosa akan mereduksi ion cupri ( cupri sulfat ) menjadi cupro dan membentuk endapan cupri hidroksida yang berwarna merah bata. Diantara reagensia yang mengandung garam cupri untuk menyatakan adanya reduksi, reagens Benedict lah yang terbaik. Biarpun begitu, selalu diingat bahwa yang ditentukan ialah sifat reduksi sesuatu zat saja, yang tidak selalu berarti glukosa. Juga monosakarida lain , seperti galaktosa, fruktosa, dan pentosa, disakarida seperti laktosa dan beberapa zat bukan gula seperti asam homogentisat dan alkapton dapat mengadakan reduksi. Zat bukan gula dalam urine yang mungkin mengadakan reduksi, seperti formalin ( pengawet ), glucuronat-glucuronat (hasil konjugasi dalam hati dengan macam-macam zat dan obat-obat seperti streptomycin), salicylatsalycilat dalam kadar tinggi, vitamin C, dan sebagainya. Jika urine banyak mengandung albumin, yaitu dengan reaksi +++ atau ++++, buanglah dulu albumin itu karena mungkin jumlah besar albumin dapat mengadakan reduksi.

URINALISA

I.

ALAT DAN BAHAN Alat : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tabung reaksi Pipet tetes Beker glass Kertas saring Erlemeyer Reagen strips Kertas saring

Bahan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Urin Na-nitropulsid Aquadest As. Asetat glasial Ammonia 28% Suspensi zink asetat Lugol Reagen Erlich Barium Klorid Reagen Fouchet

IV.

CARA KERJA SKEMATIS 1. Pemeriksaan benda-benda keton Reaksi orientasi dari Lange untuk aseton Dimasukkan bebera butir Na-nitropulsid kedalam tabung reaksi

Dilarutkan dengan beberapa tetes aquadet hingga terjadi warna merah jambu

Ditambah urin segar dan jernih hingga tabung Ditambah 10 tetes asam asetat glasial Dialirkan amonia 28% hingga terjadi 2 lapisan dengan hati-hati Lingkaran ungu diperbatasan kedua lapisan menunjukkan adanya keton, asam diasetat atau keduanya

2. Pemeriksaan Urobilin dan Urobilinogen Reaksi Schlesinger Dimasukkan berturut-turut 10 ml suspensi zink asetat, 10 nl urin, dan beberapa tetes amonia ke dalam tabung reaksi Dicampur, disaring diambil filtratnya Filtrat diamati dari samping terhadap sinar matahari dengan latar belakang gelap Bila terlihat fluoresensi hijau maka ada urobilinogen

Bila timbul setelah 1 atau 2 tetes larutan lugol ada urobilin

Reaksi Erlich Ditambahkan 5 tetes reagen Erlich kedalam 5 ml urin jernih Jika urin mengandung uribilinogen akan terjadi warna merah

3. Pemeriksaan Bilirubin 10 ml urin ditambah larutan barium klorid sama banyak kedalam tabung Dicampur baik-baik kemudian disaring Diletakkan kertas saring diatas kertas saring yang masih kering Endapan diatas kertas saring ditetesi 1 tetes reagen fouchet Dalam waktu 1 menit, bila urin mengandung bilirubinakan terjadi warna biru (bilisianin) atau hijau (biliverdin)

4. Pemeriksaan Hemoglobin Kedalam tabung reaksi diisi seujung pisau benzidin, 5 ml asam asetat glasial, dan peroksida sepertiga volume

Dibagi dua sama banyak Tabung yang satu diisi urin yang sebelumnya telah direbus dan didinginkan (jika ada hemoglobin akan berwarna hijau, hemoglobin banyak berwarna biru) Tabung yang lain sebagai kontrol Pemeriksaan dengan Reagen Strips Dimasukkan urin kedalam beker glass Dimasukkan regen strips beberapa saat Dikeluarkan dan dikeringkan Diamati indikator indikator yang ada

V.

INTERPRETASI DATA KLINIK 1. Benda-benda Keton Normal Indikasi Intrepetasi :: DM : diabetic ketoacidosis, infeksi saluran kencing, starvation, vomiting, dehidrasi, anastesi umum, sternuous ezercise, cold exposure Fisiologi : keton dibentuk dalam hati yang normalnya dimetabolisme secara sempurna. Perubahan metabolisme karbohidrat menyebabkan akumulasi dan muncul diurin.

2. Urobilinogen Normal Indikasi Interpretasi Fisiologi : < 4,23 mikromol/hari (<2,5 mg/hari) : penyakit hati : tinggi parechymal liver disease, haemolytic anaemia : bakteri mengubah bilirubin menjadi urobilinogen

3. Bilirubin Normal Indikasi Interpretasi :: penyakit hati : ada jaundice atau penyakit hati conjugated hiperbilirubinemia. Tidak ada dengan clinical jaundice-jaundice-unconjugated hiperbilirubinemia, hipervitaminosis A Fisiologi : unconjugated bilirubin larut lipid sehingga tidak muncul dalam urin, conjugated bilirubin larut air. Pada hipervitaminosis A, jaundice disebabkan oleh karotin bukan bilirubin.

4. BJ urin Normal Indikasi Interpretasi : 1,003 1,030 : renal disease : high-diabetes melitus, low-diabetes insipidus, pituitary lesions, renal damage (hipercalcaemia dan hypokalaemia) Fisiologi : tinggi pada DM (gula dalam urin). Low pada pituitary lesions sekresi homon antidiuretik yang rendah.

5. pH Urin Normal Indikasi Interpretasi : 4,6 7,0 ( > 7,0 pada vegetarian) : infeksi saluran kencing : bervariasi tergantung makanan, tinggi-alkali-bacterial infection (Proteus sp), renal tubular acidosis, urinary alkalinising drugs. Fisiologi : proteus memecah urea amonia (reaksi basa)

6. Glukosa urin Normal Indikasi Interpretasi :: normal : jika + menunjukkan DM, sindrom fanconi, stress fisik, congenital renal glycosuria Fisiologi : jumlah glukosa urin = serum jika tidak ada penyakit ginjal

7. Protein urin

Normal Indikasi Interpretasi

: kurang dari 0,07 g/l (<150mg/hari) : penyakit ginjal : high glomerular disease, cystitis, pyelonephritis, toxaemia, pregnancy, hypertensi, congenital tubal disorder, Wilsons disease sarcoidosis,renal transplant rejection, myelomatosis, nephrotik syndrome, amyloidosis, uroteric stone, renal tract tumour, analgesic neurophaty, fever, sternuous exercise, emotional stress, congestive cardiac failure, prolonged bed rest.

Fisiologi

: kerusakan glomeruli menaikkan permeabilitas dan menyebabkan protein plasma lepas kedalam urin.perdaraha dalam tract sering menyebabkan tes untuk protein positif.

VI.

PEMBAHASAN Percobaan ini dilakukan untuk menganalisa benda benda keton, urobilin dan urobilinogen serta pemeriksaan menggunakan reagen strips yang terdiri dari BJ, pH, glukosa, protein, keton, bilirubin, urobilinogen, nitrit, darah dan leukosit esterase. Pemeriksaan pertama dilakukan untuk melihat kandungan keton dalam urin. Hasil percobaan dengan metode lange mendapat hasil (-). Jika memberi hasil positif (+) yang berarti terdapat keton dalam urin, maka pasien diindikasikan mengidap penyakit diabetes mellitus. Keton muncul dalam urin sebagai akibat kuranngnya glukosa pada sel, karena glukosa tidak dapat masuk kedalam darah, hal ini disebabkan karena produksi insulin kurang, sehingga sel kekurangan energi dan mengubah protein dan lipid sebagai sumber energi yang akan berubah menjadi keton. Hal ini menyebabkan kadar keton dalam darah meningkat dan ikut terekskresi bersama urin. Keton terbentuk dalam hati yang normalnya dimetabolisme secara sempurna, tetapi perubahan metabolisme karbohidrat menyebabkan akumulasi dan muncul di urin.

Adanya keton dalam urin terlihat dari timbulnya warna ungu pada perbatasan antara lapisan urin dengan larutan amonia 28%. Pemeriksaan berikutnya yaitu percobaan urobilin dan urobilinogen dengan reaksi Schlesinger dan reaksi Erlich. Reagen Schlesinger yaitu larutan zink asetat atau zink klorida yang jenuh dalam alkohl 95%, sedangkan reagen Erlich yaitu paradimethylamino-benzaldehide, asam hidroklorida pekat dan aquadest. Pada percobaan urobilin dan urobilinogen dihindari urin yang telah berfluoresnsi sebalum penambahan reagen, karena hal tersebut dapat memberikan hasil tes positif palsu. Hasil percobaan dikatakan positif bila ada fluoresensi hijau dengan pengamatan dari samping dan denganan latar belakang gelap (hitam). Urobilinogen terdeteksi dengan reagen Schlesinger dengan fluoresensi hijau. Sedangkan urobilin terdeteksi bila timbul fluoresensi hijau setelah penambahan larutan lugol 1-2 tetes. Selain itu urobilinogen dapat juga dideteksi dengan reagen Erlich dengan membentuk senyawa berwarna merah ceri. Hasil percobaan dengan reagen Sclesinger negatif (tidak berfluoresensi hijau), sedangkan dengan reagen Erlich memberikan hasil positif(warna merah ceri). Pada reaksi Schlesinger hasilnya negatif kareba urobilin diekskresikan sebagai kromogen urobilinogen dan dalam beberapa jam berubah menjadi bilirubin. Jadi didalam urin tersebut terdapat urobilin, tetapi memerlukan waktu untuk terbentuk. Adanya urobinin dan urobilinogen mengindikasikan adanya penyakit hati, bila kadarnya > 4,23 mikromol/hari (>2,5 mg/hari). Urobilinogen dapat muncul diurin karena bilirubin diubah oleh bakteri menjadi urobilinogen, lalu diekskresikan melalui dua jalur yaitu lewat feces dan siklus sistemik (peredaran darah) melalui ginjal, sehingga pada urin akan terjadi pembentukan warna. Pemeriksaan bilirubin dengan percobaan Harrison, berdasarkan oksidasi bilirubin menjadi biliverdin. Hasil positif jika terjadi warna hijau, hasil percobaan positif menunjukkan adanya bilirubin dalam urin. Normalnya tidak ada bilirubin dalam urin, adanya bilirubin diindikasikan penyakit hati atau perdarahan pada saluran kencing maupun pencernaan. Pada percobaan ini tidak dilakukan pemeriksaan tehadap hemoglobin dalam urin karena reagen yang digunakan bersifat karsinogenik (benzidin). Analisis urin dapat dilakukan dengan lebih cepat dan mudah dengan menggunakan egen strips yaitu reagen kering yang dimasukkan kedalam kertas selubiyang kemudian ditempel padu pada batang plastik tipis. Pemeriksaan dilakukan dengan mencelupkan strips ke dalam urin,

dibiarkan bereaksi sebentar kemudian dicocokkan warna pada reagen strips dengan tabel yang tersedia pada dinding kemasan. Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan dengan reagen strips yaitu BJ urin > 1,030, normalnya 1,003-1,030 jika lebih tinggi dari dari keadaan normal maka diindikasikan mengalami gangguan renal ataupun diabetes melitus. pH urin 6,0 rentang pH normal urin adalah antara 4,6 7,0 jika lebih dari normal maka diindikasikan mengalami gangguan saluran kencing. Sedang pada glukosa didapat khasil negatif,jika ditemulkan glukosa maka diindikasikan diabetes melitus. Untuk benda keton diperoleh > 80mg/dl, untuk bilirubin hasil negatif, urobilinogen >12mg/dl, Nitrit negatif, dan leukosit esterase trace 15

VII.

KESIMPULAN 1. Keton terdapat dalam urin karena glukosa yang tidak dapat masuk kedalam sel dan menjadi indikasi penyakit diabetes melitus 2. Urobilin dan urobilinogen bila terdeteksi dalam urin merupakan indikasi adanya penyakit hati 3. Pemeriksaan benda benda keton pada urin menunjukkan hasil negatif 4. Pemeriksaan bilirubin pada urin menunjukkan hasil positif yang mengindikasikan adanya penyakit hati 5. Pemeriksaan urobilin dengan reaksi Schlesinger menunjukkan hasil negatif,sedangkan pemeriksaan urobilinogen dengan reaksi erlich positif dan mengindikasikan penyakit ginjal