Anda di halaman 1dari 2

PENDIDIKAN PROFESI GURU?

PENGERTIAN PPG Menurut UU No 20/2003 tentang SPN pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Dengan demikian program PPG adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk lulusan S-1Kependidikan dan S-1/D-IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru, agar mereka dapat menjadi guru yang profesional sesuai dengan standar nasional pendidikan dan memperoleh sertifikat pendidik. LANDASAN: 1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. 5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. 6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2009 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan.

Model Pembelajaran Guru Membebani Siswa?


Model pembelajaran yang disampaikan sebagian besar guru selama ini cenderung membebani siswa. Anak didik ditarget harus menguasai bidang studi atau mata pelajaran tertentu tanpa mempertimbangkan proses. Akibatnya, banyak siswa tidak suka terhadap mata pelajaran atau bahkan pada guru bidang studi tertentu. Model pembelajaran seperti itu cenderung materialistik. Keberhasilan pendidikan hanya diukur pada hasil apa yang didapat siswa. Sementara aspek paling penting lainnya dalam pendidikan justru diabaikan, yakni proses belajar-mengajar itu sendiri, kata Dedy Andrianto, pakar pendidikan anak usia dini pada workshop yang digelar Ikatan Guru Raudhatul Athfal (RA) Wilayah III Kota Semarang, di RA Al-Muna Ngaliyan, baru-baru ini. Kegiatan itu diikuti 151 peserta (guru RA), dibuka Wasirin SPd (Pengawas PAI), dihadiri Ketua IGRA Prihatin Wiryani, dan Ketua Wilayah III Aminudin SHi MPdI. Pembicara lainnya Mohammad Saronji (Pembelajaran Berbasis Multimedia). Menurut Dedy, guru yang baik adalah yang dapat menciptakan suasana belajar-mengajar selalu menyenangkan bagi siswa. Dengan demikian, siswa akan merasa senang pada guru dan senang terhadap mata pelajaran yang diajarkan. Khususnya bagi guru RA dan TK, harus betul-betul mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Anak didik jangan banyak dibebani berbagai mata pelajaran, seperti pekerjaan rumah (PR) dan tugas-tugas tertentu yang secara tidak langsung akan menyita waktu anak untuk bermain. Harus diingat bahwa anak usia dini adalah senang-senangnya bermain. Waktu bermain mereka jangan kita ambil secara paksa dengan berbagai beban pelajaran, termasuk PR, ujarnya. Ia menjelaskan, guru anak usia dini harus mampu menyampaikan materi pelajaran dengan pendekatan bermain atau pendekatan lain yang sesuai dengan dunia anak-anak. Dengan pendekatan dan metode yang benar, anak akan merasa senang mengikuti pembelajaran. Menurutnya, seorang guru yang baik adalah yang bisa mendesain materi pelajaran mudah dicerna dan dipahami siswa. Pembelajaran yang baik adalah yang bisa masuk ke otak kanan. Materi pelajaran yang masuk ke memori otak kanan akan tersimpan lama dan tidak mudah hilang. Sebaliknya, materi pelajaran yang masuk ke memori otak kiri akan sulit dicerna dan dipahami siswa. Lebih dari itu, materi pelajaran yang masuk ke otak kiri akan mudah hilang atau lupa. Berbasis Multimedia

Sementara itu, Mohammad Saronji, anggota Majelis Pertimbangan dan Pemberdayaan Pendidikan Agama dan Keagamaan (MP3A) Jateng, menyampaikan materi pelajaran masuk ke otak kanan atau otak kiri sebenarnya sangat bergantung pada guru. Jika materi pelajaran didesain bisa menyenangkan siswa disertai media pembelajaran yang mempermudah pemahaman anak, maka bisa masuk ke otak kanan. Sebaliknya, apabila materi pelajaran bersifat verbal tanpa sentuhan iptek/IT dari guru, maka cenderung akan masuk ke otak kiri. Sebenarnya kalau ada siswa tidak cerdas atau bodoh, malas belajar, atau bahkan stres, jangan sekali-kali menyalahkan anak, tapi salahkanlah guru. Karena di sini guru tidak bisa mendesain materi pelajaran dan suasana pembelajaran yang menyenangkan, sehingga seluruh materi pelajaran masuk ke otak kiri. Akibatnya, banyak siswa stres, tuturnya. Untuk meciptakan suasana belajar menyenangkan, antara lain guru hendaknya mendesain pembelajaran berbasis multimedia. Dengan pembelajaran berbasis multimedia, materi pelajaran yang sebenarnya bersifat verbal, dapat ditangkap dan dipahami siswa secara video-audio, dan itu akan masuk ke otak kanan. Dalam kaitan ini, kepala RA Islam Modern Nurul Ulum itu mencontohkan materi pelajaran 10 Malaikan Allah SWT. Jika materi pelajaran itu disampaikan dengan cara siswa disuruh menghafal 10 malaikat Allah, pasti akan kesulitan. Kalaupun anak hafal, akan cepat hilang dan belum tentu memahami siapa dan apa tugas malaikat-malaikat itu. Sebaliknya, jika materi diajarkan dengan pembelajaran berbasis multimedia, misalnya dengan pemutaran film pendek yang menggambarkan perilaku hidup sehari-hari selalu diawasi malaikat dan seterusnya, maka siswa akan cepat menangkap materi pelajaran tentang malaikatmalaikat Allah itu secara utuh. (D10-37) Sumber: Suara merdeka, 7 Maret 2011 hal 9