Anda di halaman 1dari 27

PERSENTASI KASUS

Low Back Pain

Disusun Oleh: Tri Wahuyuningsih 030.08.244

Pembimbing : dr. Fritz Sumantri, SpS., FINS

KEPANITERAAN KLINIK SMF NEUROLOGI RSUP FATMAWATI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI PERIODE 10 JUNI 2013 14 JULI 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya laporan kasus departemen neurologi yang berjudul Low Back Pain dapat tersusun dan terselesaikan tepat pada waktunya. Terima kasih kami ucapkan kepada dr. Fritz Sumantri,Sp.S., FINS selaku pembimbing penulisan yang telah memberikan arahan dalam penyelesaian laporan kasus ini. Adapun pembuatan tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan kasus LBP, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan mendukung penerapan klinis yang lebih baik dalam memberikan kontribusi positif sistem pelayanan kesehatan secara optimal. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan yang telah disusun ini masih banyak terdapat kekurangan di dalam penulisannya, baik di dalam penyusunan kalimat maupun di dalam teorinya. Oleh karena itu, penulis membutuhkan kritik dan saran. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi semua pihak.

Jakarta, 23 Juli 2013

BAB I LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN Nama Jenis kelamin Umur Pekerjaan Pendidikan Agama Status perkawinan Suku bangsa Alamat ANAMNESIS Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 19 juli 2013 Keluhan Utama: Nyeri di daerah pinggang yang menjalar ke kedua tungkai sejak 2 bulan SMRS Keluhan Tambahan : Tangan kanan terasa nyeri dan kesemutan Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke Poli Saraf RSUP Fatmawati dengan keluhan nyeri di daerah pinggang yang menjalar ke kedua tungkai sejak 2 bulan SMRS. Pasien juga mengeluh tangan kanan terasa nyeri dan kesemutan sejak 2
3

: Ny. S :Wanita : 46 Tahun : Wiraswasta : SLTA : Islam : Menikah : jawa : Ciledug

tahun. Pasien mengaku nyeri di daerah pinggangnya timbul terus terusan selama 2 bulan dan hanya berkurang saat istirahat. Pasien juga mengatakan saat berjongkok dan bangun setelah berjongkok, sakit yang dirasakan makin hebat. Nyeri juga dirasakan bertambah berat saat pasien bersin atau batuk. Pasien mengaku sering mengangkat beban yang berat seperti beras dan agua galon sejak 2 tahun dan jarang berolahraga. keluhan ini mengganggu aktivitas sehari-hari pasien yang bekerja sebagai pedagang. Pasien belum pernah berobat sebelumnya, untuk mengurangi rasa nyeri, pasien hanya minum obat warung dan memakai koyo. Pasien sudah tidak haid sejak 3 tahun yang lalu, riwayat demam sebelum nyeri pinggang disangkal, tidak terdapat keluhan bermakna dalam BAB dan BAK. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien mengaku sebelumnya tidak pernah mengalami kecelakaan. Pasien menyangkal memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis. Pasien juga menyangkal adanya penurunan berat badan dalam waktu yang singkat dan adanya riwayat batuk-batuk yang lama. Riwayat Penyakit Keluarga : Pasien menyangkal adanya keluhan yang sama seperti pasien dalam keluarga, riwayat penyakit kegana san dalam keluarga (-), Darah tinggi (-), kencing manis (-), stroke (-). Riwayat Kebiasaaan Pasien sering mengangkat beban berat yang merupakan barang dagangannya di warung seperti galon dan beras dalam 2 tahun terakhir, pasien mengaku jarang olah raga. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran : Tampak sakit ringan : Compos Mentis, GCS: E4V5M6

Kooperatif Keadaan Gizi Tekanan Darah Nadi Suhu Pernafasan

: Kooperatif : Cukup : 130 / 80 mmHg : 84 x/mnt : 36,6 0C : 20x/mnt

Keadaan Lokal Trauma Stigmata Pulsasi A.Carotis Perdarahan Perifer :: Teraba, kanan = kiri, reguler : capilary refil time < 2 detik

Columna Vertebralis : letak ditengah, skoliosis (-), lordosis (-) Kulit Kepala : Warna sawo matang, sianosis (-), ikterik(-) : Normosefali, rambut hitam beruban, distribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak ada alopesia, Mata : Konjungtiva anemis -/-, ptosis -/-, lagoftalmus -/-, pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+. Telinga Hidung Mulut Tenggorok Leher : Normotia +/+, perdarahan -/: Deviasi septum -/-, perdarahan -/: Bibir sianosis(-), lidah kotor (-), : Faring hiperemis (-), tonsil T1-T1. : Bentuk simetris, trakea lurus di tengah, tidak
5

teraba pembesaran KGB dan tiroid. Jantung Inspeksi Palpasi : ictus cordis tidak tampak : ictus cordis teraba di ICS 5 midklavikula line sinistra. Perkusi : batas kanan jantung di ICS 6 midklavikula line dekstra, batas kiri jantung di 1 ICS 5 midklavikula line sinistra, pinggang jantung di ICS 3 linea para sternalis sinistra. Auskultasi Paru Inspeksi Palpasi : pergerakkan dada simetris pada statis dan dinamis : vocal fremitus kanan dan kiri sama,tidak teraba benjolan. Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi : buncit : supel,nyeri tekan (-), hepar/lien tidak teraba membesar Perkusi Auskultasi : timpani : bising Usus (+) normal : perkusi di seluruh lapang paru sonor : suara nafas vesikuler, Rhonki -/-, wheezing -/-. : S1 dan S2 normal reguler, Murmur (-), Gallop (-)

Ekstremitas
6

Atas Bawah

: akral hangat + / +, edema - / : akral hangat + / +, edema - / -

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS Rangsang Selaput Otak Kaku kuduk Laseque Kerniq Brudzinsky I Brudzinsky II :: >700 / >700 : > 1350 / > 1350 ::-/-

Peningkatan Tekanan Intrakranial : Muntah proyektil Sakit kepala ::-

Penurunan Kesadaran : Funduskopi : tidak diperiksa

Saraf-saraf Kranialis N.I (olfaktorius) N.II (optikus) Acies visus : baik : normosmia + / +

Visus campus : baik / baik Lihat warna Funduskopi : baik / baik : tidak dilakukan

N.III, IV, VI (Occulomotorius, Trochlearis, Abducen)


7

Kedudukkan bola mata Pergerakkan bola mata

: ortoposisi + / + : baik ke segala arah +/+ (nasal, temporal, superior, inferior, nasal atas dan bawah, temporal atas dan bawah)

Exopthalmus Nystagmus Pupil Bentuk

:-/:-/-

: bulat, isokor, 3mm/3mm : +/+

Reflek cahaya langsung

Reflek cahaya tidak langsung : +/+ Reflek akomodasi Reflek konvergensi N.V (Trigeminus) Cabang Motorik Cabang sensorik Ophtalmikus : baik / baik Maksilaris : baik / baik : baik / baik : +/+ : +/+

Mandibularis : baik / baik N.VII (Fasialis) Motorik orbitofrontalis Motorik orbikularis Pengecapan lidah : baik / baik : baik / baik : baik / baik
8

N.VIII (Vestibulocochlearis) Vestibular : Vertigo Nistagmus Koklearis : Tuli Konduktif Tuli Perseptif Test berbisik N.IX, X (Glossopharyngeus, Vagus) Motorik Sensorik N.XI (Accesorius) Mengangkat bahu Menoleh N.XII (Hypoglossus) Pergerakkan lidah Atrofi Fasikulasi Tremor Sistem Motorik Ekstremitas atas proksimal - distal Ekstremitas bawah proksimal - distal : 5555/5555 : 5555/5555 : baik :::: baik/ baik : baik / baik : baik / baik : baik / baik ::-/::: baik/baik

Gerakkan Involunter
9

Tremor Chorea Atetose Miokloni Tics Trofik Tonus :-/:-/:-/:-/-

:-/-

: eutrofik + / + : normotonus + / +

Sistem Sensorik : Propioseptif : baik / baik

Eksteroseptif : baik / baik Fungsi Serebelar Ataxia Tes Romberg Disdiadokokinesia Jari-jari Jari-hidung Tumit-lutut Rebound phenomenon Hipotoni Fungsi Luhur Astereognosia Apraxia ::10

:: Baik : Baik : baik / baik : baik / baik : baik / baik :-/:-/-

Afasia Fungsi Otonom Miksi Defekasi Sekresi keringat Refleks Fisiologis Kornea Biceps Triceps Radius :+/+ : +2 / +2 : baik : baik : baik

:-

: +2 / +2 : +2 / +2

Dinding perut : + / + Otot perut Lutut Tumit :+/+ : +2 / +2 : +2 / +2

Refleks Patologis Hoffman Tromer Babinsky Chaddok Gordon Schaefer Klonus lutut Klonus tumit :-/:-/:-/:-/:-/:-/:-/11

Keadaan Psikis Intelegensia Tanda regresi Demensia : baik ::-

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Tidak ada (belum dilakukan pemeriksaan) PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Tidak ada (belum dilakukan pemeriksaan) RESUME Pasien wanita berusia 46 tahun, datang ke Poli Saraf RSUP Fatmawati dengan keluhan nyeri di daerah pinggang yang menjalar sampi ke kedua tungkai sejak 2 bulan. Pasien juga mengeluh tangan kanan terasa nyeri dan kesemutan sejak 2 tahun. Pasien mengaku nyeri di daerah pinggangnya timbul terus terusan selama 2 bulan dan hanya berkurang saat istirahat. Pasien juga mengatakan saat berjongkok dan bangun setelah berjongkok, sakit yang dirasakan makin hebat. Pasien juga mengaku sering mengangkat beras dan galon sejak 2 tahun dan jarang berolahraga. Riwayat trauma, kencing manis dan darah tinggi disangkal pasien.

Pemeriksaan fisik: Kesadaran Tanda vital baik Pemeriksaan neurologis:


12

: Compos Mentis, GCS: E4V5M6

Tanda rangsang meningeal: N. Cranialis: parese Motorik: Ekstremitas atas proksimal - distal Ekstremitas bawah proksimal - distal Reflek fisiologis : ++ / ++ Reflek patologis : - / Sensorik Autonom : baik : baik : 5555/5555 : 5555/5555

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Tidak ada PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Tidak ada DIAGNOSIS KERJA Diagnosis Klinis Nyeri pinggang dan menjalar ke kedua tungkai, tangan kanan nyeri dan kesemutan Diagnosis Etiologi Kompresi radiks Diagnosis Topis Regio lumbosakral
13

PENATALAKSANAAN Medikamentosa : Piroxicam 2 x 20 mg PO Tramadol 3 x 50 mg PO Metil kobalamin 3 x 500 mg PO Non medikamentosa : Bed rest Fisioterapi Olahraga yang teratur Hindari mengangkat beban yang berat dan aktivitas berlebihan

RENCANA PEMERIKSAAN Darah lengkap, gula darah sewaktu, ureum darah, kreatinin darah, rontgen daerah lumbosakral

PROGNOSA Ad vitam : bonam

Ad functionam : bonam Ad sanationam : dubia ad bonam

BAB II

14

TINJAUAN PUSTAKA DEFINISI Low Back Pain adalah nyeri yang terjadi pada bagian bawah dari punggung dan biasa terjadi secara akut ( kurang dari 6 minggu), sub akut (terjadi dalam 6-12 minggu) dan kronik (lebih dari 12 minggu). Kebanyakan LBP tidak menimbulakan masalah yang serius dan akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari sampai beberapa minggu (Medinfo,2008). Untuk mendapatkan diagnosis LBP harus ada tanda tertentu dan spesifik yaitu nyeri menyebar turun ke pinggul dan ke bawah lutut mengindikasikan terjadinya yaitu sacrolitiasis,kerusakan degenerative sambungan tulang vertebra, pemyempitan spinal atau iritasi saraf juga menyebabkan nyeri ini(Hellman D.B)

ETIOLOGI Penyebab LBP dapat dibagi menjadi : Diskogenik Non-diskogenik Diskogenik : Sindroma radikuler biasanya disebabkan oleh suatu hernia nucleus pulposus yang merusak saraf-saraf disekitar radiks. Diskus hernia ini bisa dalam bentuk suatu protrusion atau prolaps dari nucleus pulposus dan keduanya dapat menyebabkan kompresi pada radiks. Lokalisasinya paling sering di daerah lumbal atau servikal dan jarang jarang sekali pada daerah torakal. Nutrisi dari annulus fibrosus bagian dalam tergantung dari difusi air dan molekul-molekul kecil yang melintasi tepian vertebra. Hanya bagian luar dari annulus yang menerima suplai darah dari ruang epidural.Pada trauma yang berulang menyebabkan robekan serat-serat annulus baik secara melingkar maupun radikal. Beberapa robekan anular dapat menyebabkan pemisahan lempengan, yaitu menyebabkan berkurangnya nutrisi dan hidrasi nucleus.Perpaduan robekan secara
15

melingkar dan radial menyebabkan massa nucleus berpindah keluar dari annulus lingkaran ke ruangan epidural dan menyebabkan iritasi atau kompresi akar saraf. Non-diskogenik : Biasanya penyebab LBP yang Non-diskogenik adalah iritasi pada serabut sensorik saraf perifer, yang membentuk n.iskiadikus dan bisa disebabkan oleh neoplasma, infeksi,proses toksik atau imunologis, yang mengiritasi n.iskiadikus dalam perjalanannya dari pleksus lumbosakralis, daerah pelvic, sendi sakroiliaka, sendi pelvis sampai jalannnya n.iskiadikus FAKTOR RESIKO Faktor resiko terjadinya LBP adalah usia, kondisi kesehatan yang buruk, masalah psikologik dan psikososial, arthritis degeneratif, merokok, skoliosis mayor (kurvatura >80), obesitas, tinggi badan yang berlebih, hal yang berhubungan dengan pekerjaan seperti duduk dan mengemudi dalam waktu lama, duduk atau berdiri berjam-jam (posisi tubuh kerja statik), getaran, mengangkat, membawa beban, menarik beban, membungkuk, memutar dan kehamilan.

PATOFISIOLOGI Bangunan peka nyeri mengandung reseptor nosiseptif (nyeri)

yang terangsang oleh berbagai stimulus lokal (mekanis, termal, kimiawi). Stimulus ini akan direspon dengan pengeluaran berbagai mediator inflamasi yang akan menimbulkan persepsi nyeri. Mekanisme nyeri merupakan proteksi yang bertujuan untuk mencegah pergerakan sehingga proses penyembuhan dimungkinkan. Salah satu bentuk proteksi adalah spasme otot, yang selanjutnya dapat menimbulkan iskemia. Nyeri yang timbul dapat berupa nyeri inflamasi pada jaringan dengan terlibatnya berbagai mediator inflamasi, atau nyeri neuropatik yang diakibatkan lesi
16

primer pada sistem saraf. Iritasi neuropatik pada serabut saraf dapat menyebabkan 2 kemungkinan. Pertama, penekanan hanya terjadi pada selaput pembungkus saraf yang kaya nosiseptor dari nervi nevorum yang menimbulkan nyeri inflamasi. Nyeri dirasakan sepanjang serabut saraf dan bertambah dengan peregangan serabut saraf misalnya karena pergerakan. Kemungkinan kedua, penekanan mengenai serabut saraf. Pada kondisi ini terjadi perubahan biomolekuler di mana terjadi akumulasi saluran ion Na dan ion lainnya. Penumpukan ini menyebabkan timbulnya mechano-hot spot yang sangat peka terhadap rangsang mekanikal dan termal. Hal ini merupakan dasar pemeriksaan Laseque.

MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis LBP berbeda-beda sesuai dengan etiologinya masing-masing seperti beberapa contoh dibawah ini : LBP akibat sikap yang salah Sering dikeluhkan sebagai rasa pegal yang panas pada pinggang, kaku dan tidak enak namun lokasi tidak jelas. Pemeriksaan fisik menunjukkan otot-otot paraspinal agak spastik di daerah lumbal, namun motalitas tulang belakang bagian lumbal masih sempurna, walaupun hiperfleksi dan hiperekstensi dapat menimbulkan perasaan tidak enak Lordosis yang menonjol Tidak ditemukan gangguan sensibilitas, motorik, dan refleks pada tendon Foto rontgen lumbosakral tidak memperlihatkan kelainan yang relevan. Pada Herniasi Diskus Lumbal Nyeri punggung yang onsetnya perlahan-lahan, bersifat tumpul atau

17

terasa tidak enak, sering intermiten, walau kadang onsetnya mendadak dan berat. Diperhebat oleh aktivitas atau pengerahan tenaga serta mengedan, batuk atau bersin. Menghilang bila berbaring pada sisi yang tidak terkena dengan tungkai yang sakit difleksikan. Sering terdapat spasme refleks otot-otot paravertebrata yang menyebabkan nyeri sehingga membuat pasien tidak dapat berdiri tegak secara penuh. Setelah periode tertentu timbul skiatika atau iskialgia. LBP pada Spondilosis Kompresi radiks sulit dibedakan dengan yang disebabkan oleh protrusi diskus, walaupun nyeri biasanya kurang menonjol pada spondilisis Dapat muncul distesia tanpa nyeri pada daerah distribusi radiks yang terkena Dapat disertai kelumpuhan otot dan gangguan refleks Terjadi pembentukan osteofit pada bagian sentral dari korpus vertebra yang menekan medula spinalis. Kauda ekuina dapat terkena kompresi pada daerah lumbal bila terdapat stenosis kanal lumbal. LBP pada Spondilitis Tuberkulosis Terdapat gejala klasik tuberkulosis seperti penurunan berat badan, keringat malam, demam subfebris, kakeksia. Gejala ini sering tidak menonjol. Pada lokasi infeksi sering ditemukan nyeri vertebra/lokal dan menghilang bila istirahat.
18

Gejala dan tanda kompresi radiks atau medula spinalis terjadi pada 20% kasus (akibat abses dingin) Onset penyakit dapat gradual atau mendadak (akibat kolaps vertebra dan kifosis) Diawali nyeri radikular yang mengelilingi dada atau perut, diikuti paraparesis yang lambat laun makin memberat, spastisitas, klonus, hiperrefleksia dan refleks Babinsky bilateral. Dapat ditemukan deformitas dan nyeri ketok tulang vertebra. Penekanan mulai dari bagian anterior sehingga gejala klinis yang muncul terutama gangguan motorik. LPB pada Spondilitis Ankilopoetika Biasanya dirasakan pada usia 20 tahun. Tidak hilang dengan istirahat dan tidak diperberat oleh gerakan. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembatasan gerakan di sendi sakrolumbal dan seluruh tulang belakang lumbal. Laju endap darah meninggi. Terjadi osifikasi ligamenta interspinosa PEMERIKSAAN 1.Riwayat penyakit dengan perhatian khusus pada lokasi dan penjalaran nyeri, posisi tubuh yang menimbulkan atau memperberat nyeri, trauma, ligitasi, (medikolegal), obat-obat penghilang nyeri yang dipakai dan jumlah yang di butuhkan, kemungkinan keganasan 2.Pemeriksaan fisis, dengan perhatian khusus pada tanda-tanda infeksi sistemis, tanda-tanda keganasan yang tersembunyi, nyeri tekan lokal atau pada insisura iskiatika, spasme otot, ruang lingkup gerakan, tes angkat tungkai lurus (Laseque), dan pemeriksan rektum (tonus sfingter dan prostat).

19

3.Pemeriksaan neurologis, dengan perhatian khusus pada afek dan alam perasaan, kelemahan otot, atrofi, atau fasikulasi, defisit sensorik termasuk kremaster). 4.Pemeriksaan laboratorium yaitu foto rontgen polos (posterior, lateral, oblik) hitung darah lengkap dan laju endap darah, serum : kreatinin, kalsium, fosfat, alkali fosfatase, asam urat, fosfatase asam (pria), gula darah puasa. 5.Pemeriksaan khusus (misalnya scan tulang, gula darah 2-jam postprandial, sken magnetik resonan, sken tomografik, mielografi) bergantung pada hasil pemeriksaan rutin di atas perineum, refleks (tendon dalam, abdominal, anal,

PENATALAKSANAAN Nyeri pinggang dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan, istirahat dan modalitas. Pemberian obat anti inflamasi non steroid (OAINS) diperlukan untuk jangka waktu pendek disertai dengan penjelasan kemungkinan efek samping dan interaksi obat. Tidak dianjurkan penggunaan muscle relaxan karena memiliki efek depresan. Namun pada pasien dengan depresi premorbid atau timbul depresi akibat rasa nyeri, penggunaan anti depresan dianjurkan. Untuk pengobatan simptomatis lainnya, kadang memerlukan campuran antara obat analgesik, antiinflamasi,OAINS, dan penenang. Istirahat secara umum atau lokal banyak memberikan manfaat. Tirah baring pada alas keras dimaksudkan untuk mencegah melengkungnya tulang punggung. Modalitas dapat berupa kompres es, semprotan etil klorida, dan fluorimetan. Tidak semua nyeri dapat diatasi dengan cara-cara di atas. Terkadang diperlukan tindakan injeksi anestetik atau antiinflamasi steroid pada tempat-tempat seperti pada faset, radiks saraf, epidural, intradural. Bahkan untuk beberapa kasus LBP dibutuhkan pembedahan.

20

Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) NSAID dibagi lagi menjadi beberapa golongan, yaitu golongan salisilat (diantaranya aspirin/asam asetilsalisilat, metil salisilat, magnesium salisilat, salisil salisilat, dan salisilamid), golongan indometasin, profen/asam asam arilalkanoat dan (diantaranya oksametasin), (diantaranya diklofenak, golongan ibuprofen, proglumetasin,

2-arilpropionat

alminoprofen, fenbufen, indoprofen, naproxen, dan ketorolac), golongan asam fenamat/asam N-arilantranilat (diantaranya asam mefenamat, asam flufenamat, dan asam tolfenamat), golongan ampiron, (diantaranya penghambat turunan metamizol, COX-2 pirazolidin dan dan (diantaranya meloksikam), lumiracoxib), fenilbutazon, oksikam golongan golongan fenazon), golongan

piroksikam,

(celecoxib,

sulfonanilida (nimesulide), serta golongan lain (licofelone dan asam lemak omega 3). Sebagian besar NSAID adalah asam lemah, dengan pKa 3-5, diserap baik pada lambung dan usus halus. NSAID juga terikat dengan baik pada protein plasma (lebih dari 95%), pada umumnya dengan albumin. Hal ini menyebabkan volume distribusinya bergantung pada volume plasma. NSAID termetabolisme di hati oleh proses oksidasi dan konjugasi sehingga menjadi zat metabolit yang tidak aktif, dan dikeluarkan melalui urin atau cairan empedu. NSAID merupakan golongan obat yang relatif aman, namun ada 2 macam efek samping utama yang ditimbulkannya, yaitu efek samping pada saluran pencernaan (mual, muntah, diare, pendarahan lambung, dan dispepsia) serta efek samping pada ginjal (penahanan garam dan cairan, dan hipertensi) . Efek samping ini tergantung pada dosis yang digunakan. Obat ini tidak disarankan untuk digunakan oleh wanita hamil, terutama pada trimester ketiga. Namun parasetamol dianggap aman digunakan oleh wanita hamil , namun harus diminum sesuai aturan karena dosis tinggi dapat menyebabkan
21

keracunan hati.

Semprotan Etil klorida Etil klorida merupakan anestesi topikal secara aerosol dengan cara membekukan kulit. Ketika digunakan secara topikal pada kulit, Etil Kloride membentuk efek pendinginan pada permukaan kulit dengan cara menguap secara cepat. Dingin yang diciptakan oleh semprotan tersebut mengganggu kemampuan tubuh untuk merasakan sakit. Hal ini terjadi karena dingin mengurangi kecepatan antaran saraf dari serat C dan serat A-delta. Hal ini mengganggu input nociceptive (rangsangan ke otak sehingga menimbulkan sensasi rasa sakit) ke sumsum tulang belakang. Proses ini mematikan sementara daerah tersebut

TERAPI DAFTAR PROGRAM LATIHAN LBP Teknik Latihan Sikap dasar adalah telentang - Pelvic Tilting Untuk menguatkan otot gluteus maksimus dan mencegah hiperlordosis lumbal Teknik : menekankan punggung pada alas sambil menegangkan otot perut dan kedua otot gluteus maksimus . Pertahankan selama 5-10 hitungan. - Lutut ke dada Untuk meregangkan otot punggung yang tegang dan spasme Teknik : tarik lutut ke dada bergantian semaksimal mungkin tanpa
22

menimbulkan rasa sakit, dipertahankan 5-10 detik, lakukan juga dengan kedua lutut. - Meregangkan tubuh bagian lateral Untuk meregangkan otot lateral tubuh yang tegang Teknik ; dengan tangan di bawah kepala dan siku menempel pada alas, paha kanan disilangkan ke paha kiri kemudian tarik kesamping kanan dan kiri sejauh mungkin, lakukan juga dengan menyilangkan paha kiri di atas paha kanan. - Straight Leg Raising Untuk meregangkan dan menguatkan otot hamstring dan gluteus Teknik : satu lutut kanan di tekuk, kaki kiri di naikkan ke atas tanpa bantuan lengan dan tangan , dipertahankan 5-10 detik, ulangi sebaliknya - Sit Up Untuk menguatkan otot perut dan punggung bawah Teknik : pelan-pelan menaikkan kepala dan leher sehingga dagu menyentuh dada, diteruskan dengan mengangkat punggung bagian sampai kedua tangan mencapai lutut (tangan diluruskan), sedangkan punggung bagian tengah dan bawah tetap menempel pada dasar.

- Hidung ke lutut Untuk memperkuat otot perut dan meregangkan otot iliopsoas Teknik : dengan posisi menekuk , lutut secara bergantian ditarik sampai ke hidung, pertahankan 5-10 detik, lakukan pada lutut satunya.
23

- Gerakan gunting Untuk meregangkan dan menguatkan otot hamstring, punggung, gluteus dan abdomen Teknik : kedua tangan di belakang kepala, tarik kedua tungkai ke atas, kemudian kedua kaki disilangkan, tungkai ditarik ke muka belakang bergantian, lakukan 10 kali, kemudian ke samping kanan dan samping kiri

- Hiperestensi sendi paha Untuk menguatkan otot gluteus dan punggung bawah serta meregangkan otot fleksor paha Teknik ; dengan posisi tengkurap, tungkai ditarik ke atas , ulangi pada kaki sebelahnya. PROGNOSIS Dengan operasi 90% perbaikan fungsi secara baik dalam 1 tahun. Perbaikan motoris biasanya lebih cepat dari pada sensorik. Menurut Anderson, faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan/prognosis adalah: diagnosis etiologi spesifik, usia lanjut, pernah nyeri pinggang sebelumnya dan gangguan psikososial. Sebagian besar pasien sembuh secara cepat dan tanpa gangguan fungsional. Rata-rata 60-70% sembuh dalam 6 minggu, 80-90% dalam 12 minggu. Penyembuhan setelah 12 minggu berjalan sangat lambat dan tak pasti. Diagnosis sangat berkaitan dengan penyembuhan, penderita nyeri pinggang bawah dengan iskialgia membutuhkan waktu lebih lama dibanding dengan tanpa iskialgia. Dari penelitian Weber, tahun pertama terdapat perbaikan secara signifikan pada kelompok yang dioperasi dibanding tanpa operasi, namun kedua kelompok baik dioperasi maupun tidak, pada observasi tahun ke 4-10 terlihat

24

perbaikan yang ada tidak berbeda secara signifikan.

Alasan penanganan non operatif didukung oleh penelitian secara klinis dan otopsi yang memperlihatkan protrusi dan ekstrusi dari material diskus dapat diabsorbsi dikemudian hari. Dimana 90% dari pasien yang sudah diagnosis definitif herniasi diskus lumbal dan radikulopati, adanya kriteria jelas untuk operasi, berhasil ditangani dengan cara rehabilitasi secara agresif dan medikamentosa

KESIMPULAN Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain /LBP ) adalah sindroma klinik yang ditandai dengan gejala utama nyeri atau perasaan lain yang tidak enak di daerah tulang punggung bagian bawah. Dalam masyarakat LBP tidak mengenal perbedaan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, tingkat pendidikan, semuanya bisa terkena LBP. Lebih dari 80 % umat manusia dalam hidupnya pernah mengalami LBP. Banyak klasifikasi nyeri pinggang ditemukan, masing masing mempunyai kelemahan ada yang berdasarkan anatomis ( nyeri pinggang primer, sekunder, referral dan psikosomatik), ada yang berdasarkan sumbar rasa nyeri (viserogenik, neurogenik, vaskulogenik, spindelogenik, dan psikogenik), penyebab nyeri pinggang sangat bervariasi, ada yang ringan (sikap tubuh yang salah) sampai ada yang serius (keganasan). Evaluasi nyeri pinggang membutuhkan pendekatan kritis dan sisitematik, yang harus disesuaikan dengan keluhan si penderita. Dengan pola latihan yang benar, bertahap dan teratur, keluhan LBP akan berkurang dan tidak tergantung dengan pemberian obat. Selain itu dengan pola hidup yang sehat, tidak menggunakan hak yang tinggi, tidak tidur di atas kasur dengan per, akan membantu mengurangi keluhan LBP

25

DAFTAR PUSTAKA

1.

Sadeli HA, Tjahjono B. Nyeri punggung bawah. Dalam: Nyeri Neuropatik, patofisioloogi dan penatalaksanaan. Editor: Meliala L, Suryamiharja A, Purba JS, Sadeli HA. Perdossi, 2001:145-167.

2. 3.

Anderson GBJ. Epidemiological features of chronic low back pain. Lancet 1999; 354:581-5. Wheeler AH, Stubbart JR. Pathophysiology of Chronic Back Pain. (Cited Jan 2004) Available from: URL http://www.emedicine.com/neuro/topic516.htm .

4.

Sidharta P. Anamnesa kasus nyeri di ekstermitas dan pinggang. Sakit pinggang. In: Tata pemeriksaan klinis dalam neurologi. Jakarta : Pustaka universitas, 1980: 64-75

5. 6.

Armis,

Prinsip-prinsip

Umur

Fraktur

dalam

Trauma

Sistema

Muskuloskeletal, FKUGM, Yogyakarta, hal : 1-32. Berend ME, Harrelson JM, Feagin JA, Fractures and Dislocation in Sabiston Jr DC, Texbook of Surgery The Biological Basis of Modern Surgical Practice, Fifteenth Edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia, 1997, pp. 1398-1400. 7. Carter MA, Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam Price SA,
26

Wilson LM, Patofisiologi Konsep-konsep Klinis Proses- proses Penyakit, Buku II, edisi 4, EGC, Jakarta, 1994, hal 1175-80. 8. 9. Dorland, Kamus Kedokteran, edisi 26, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1996, hal 523,638,1119. Reksoprodjo, S, Pemeriksaan Orthopaedi dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah FKUI, Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta, 1995, hal : 453-471. 10. Yatim, Faisal. 2006. Penyakit Tulang dan Persendian. Jakarta : Pustaka Populer Obor. 11. Jackson. 2004. Calcium plus Vitamin D Supplementation and the Risk of Fractures.NEJM.

27