Anda di halaman 1dari 83

konstruksi atap

AR2221

Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko Aswin Indraprastha, Ph.D

atap

fungsi atap:
melindungi dari cuaca (panas, hujan, angin) bagian dari estetika bangunan

bentuk atap

bentuk atap:
atap datar atap miring atap pelana atap perisai atap limas

elemen atap
1. Bubungan, ialah sisi atap yang teratas dan selalu dalam kedudukan mendatar. 2. Tirisan atap atau bagian terbawah garis atap. 3. Garis patahan atap, pada tambahan kasau miring, adalah garis pertemuan antara dua bidang atap yang berbeda kemiringannya. Arahnya sejajar dengan garis tirisan atap, berarti kedudukannya mendatar (horizontal). 4. Jurai luar, ialah bagaian tajam pada atap berawal dari garis tiris atap sampai bubungan (pertemuan dua bidang atap bangunan dengan sudut mengarah ke luar).

elemen atap
5. Jurai dalam, ialah bagian tekukan pada atap berawal dari garis tiris atap sampai bubungan (pertemuan dua bidang atap bangunan dengan sudut mengarah ke dalam). 6. Titik pertemuan jurai dan bubungan adalah tempat bertemunya 3 bidang atap atau lebih. 7. Bubungan penghubung miring adalah garis jurai pada bidang-bidang atap yang tinggi bubungannya berbeda dan bertemu pada satu titik, juga berfungsi menghubungkan dua titik pertemuan jurai dan bubungan. 8. Pinggiran gevel adalah bagian akhir dari atap pada gevel (dinding berbentuk segitiga).

elemen atap

kuda-kuda peran atau gording

elemen atap

kasau atau kaso reng

elemen atap

lisplang tirisan: papan tegak yang dipasang pada ujung bawah kaso lisplang ujung gevel: papan tegak yang dipasang sepanjang ujung gevel mengikuti kemiringan atap untuk melindungi gording dan reng

elemen atap

pelapis atap: lapisan kedap air di bawah kaso penutup atap

bahan penutup atap


sirap kayu ulin

p = 560-600 mm l = 60-80 mm t = 3-5 mm kemiringan min. 250 keawetan 8-25 tahun

bahan penutup atap


genteng keramik
bahan dasar tanah liat melalui pembakaran 1100oC selama 18 jam berat 3,2 kg/buah, 45 kg/m2 isi 14 buah/m2 jarak reng 25-27 cm jarak kaso 40 cm kemiringan minimal 300

bahan penutup atap


genteng keramik

bahan penutup atap


genteng keramik
contoh data teknis satu jenis genteng keramik
Panjang Panjang Efektif Lebar Lebar Efektif Berat Kekuatan Patah Penyerapan Air Jarak Reng Permakaian per meter persegi 322 mm 266 mm 312 mm 270 mm 3150 gram 150 kgf <8% 267 mm 14 Pcs

bahan penutup atap


genteng keramik

bahan penutup atap


genteng beton datar
Ukuran = 330 mm x 420 mm 9.7 buah / m2 Berat per buah = 5,2 kg Berat per m2 = 50 kg Sudut kemiringan = min. 25o

bahan penutup atap


genteng beton datar

bahan penutup atap


genteng beton gelombang

Actual Area = 42.4 x 33.9 cm Exposed Area = 36.7 x 30.3 cm Weight = 4.4 kg Tile Needed per sqm = 9 pieces/sqm Batten Size = 3 x 4 cm Batten Trans = 34 cm 36.5 cm Minimum Slope = 25 degree > 40 degree nail needed.

bahan penutup atap


genteng metal

terbuat dari pelat baja yang dilapisi zink dilapisi pasir kwarsa atau dicat perlembar 4 daun, 3 daun, 2x4 daun, 2x3 daun, 5 daun, 7 daun uk. 4 daun: 37x74 cm, 3.7 lembar. daun tebal: 0.35 mm berat: 1.5 kg/lembar, 6.4 kg/m2 dipasang dengan sekrup atau paku

bahan penutup atap


kelebihan genteng metal: ringan dan anti bocor mudah mengikuti bentuk atap menghemat biaya rangka atap anti retak atau anti pecah tahan cuaca tidak mudah terbakar warna variatif kekurangan genteng metal: pemasangan harus hati-hati agar tidak terinjak harga relatif lebih mahal belum banyak di pasaran paku yang digunakan khusus kesalahan pemakuan akan membuat genteng berlubang

bahan konstruksi atap


kayu baja profil baja ringan

konstruksi atap kayu

konstruksi atap kayu

konstruksi atap kayu

konstruksi atap kayu

konstruksi atap kayu

konstruksi atap kayu

konstruksi atap kayu

konstruksi atap kayu

konstruksi talang

konstruksi talang

profil baja untuk atap

profil baja untuk atap

profil baja untuk atap

konstruksi atap baja

konstruksi atap baja

konstruksi atap baja

konstruksi atap baja

konstruksi atap baja

konstruksi atap baja

sambungan konstruksi baja


paku keling / rivet mur-baut las

paku keling / rivet


Paku keling adalah suatu alat sambung yang terbuat dari batang baja berpenampang bulat dengan bentuk sebagai berikut:

paku keling / rivet


Sambungan dengan paku keling ini umumnya bersifat permanent dan

sulit untuk melepaskannya karena pada bagian ujung pangkalnya lebih


besar daripada batang paku kelingnya. Oleh karena itu pengelingan banyak dipakai pada bangunan-bangunan bergerak atau bergetar. Keuntungan: tidak ada perubahan struktur dari logam disambung. Oleh karena itu banyak dipakai pada pembebanan-pembebanan dinamis. Kelemahan: ada pekerjaan mula berupa pengeboran lubang paku kelingnya, dan kemungkinan terjadi karat di sekeliling lubang tadi selama paku keling dipasang.

paku keling / rivet

paku keling / rivet

paku keling / rivet


Menurut penelitian di laboratorium untuk pemasangan satu deret paku keling yang menahan gaya normal (tarik / tekan) dimana deretan paku keling berada pada garis gerja gaya, ternyata untuk satu deret yang terdiri 5 buah paku keling masing-masing paku menahan gaya relatif sama. Jadi gaya normal yang harus ditahan dibagi sama rata oleh kelima paku keling tersebut. Namun jika banyaknya paku keling dalam satu deret lebih dari 5 buah maka masingmasing paku keling menahan gaya yang besarnya mulai tidak sama rata. Oleh karena itu jika dalam perhitungan paku keling / baut dalam konstruksi sambungan ketemunya memerlukan lebih dari 5 buah paku/baut, maka harus dipasang dalam susunan 2 deret atau lebih.

paku keling / rivet


Bagian- bagian: Kepala Badan Ekor Kepala lepas

Bahan atau material: baja, brass, aluminium, dan tembaga tergantung jenis sambungan/ beban yang diterima oleh sambungan. Penggunaan umum bidang mesin : ductile (low carbor), steel, wrought iron. Penggunaan khusus : weight, corrosion, or material constraints apply : copper (+alloys) aluminium (+alloys), monel, dll.

paku keling / rivet

paku keling / rivet

paku keling / rivet


1. Snap Head: digunakan untuk pekerjaan struktur. Cara pemasangan menggunakan mesin rivet

2. Counter Sunk Head: digunakan pada pembuatan kapal


3. Conical Head: digunakan pada produk- produk kerajinan tangan 4. Pan Head: memiliki kekuatan maksimum tetapi sukar dibentuk.

paku keling / rivet


Ukuran- ukuran di pasaran: Paku keling untuk konstruksi baja terdapat beberapa macam ukuran

diameter yaitu : 11 mm, 14 mm, 17 mm, 20 mm, 23 mm, 26 mm, 29 mm, dan
32 mm.

paku keling / rivet


Berdasarkan cara plat disambungkan, ada dua jenis sambungan rivet: 1. 2. Lap Joint : dua plat ditumpuk kemudian dirivet Butt Joint : dua plat utama diletakkan saling bersentuhan, kemudian plat cover/ strap diletakkan pada salah satu sisi atau kedia sisi plat utama tersebut , baru kemudian dirivet.

paku keling / rivet

paku keling / rivet

paku keling / rivet


Kegagalan Sambungan Paku Keling: Robek pada salah satu sisi plat (tear off at the edge) Robek pada plat melintas baris rivet (tear off across a row) Bergesernya rivet (shear off) Hancur atau rusaknya rivet (crushing off)

paku keling / rivet


Mengatasi kegagalan robek pada salah satu sisi plat dapat dilakukan dengan memasang rivet dengan ukuran m= (1.5 2)d; m adalah margin, dan d adalah diameter rivet

Rivet

baut

baut

Baut adalah alat sambung dengan batang bulat dan berulir, salah satu ujungnya dibentuk kepala baut (umumnya bentuk kepala segi enam) dan ujung lainnya dipasang mur/pengunci. Dalam pemakaian di lapangan, baut dapat digunakan untuk membuat sambungan tetap, sambungan bergerak, maupun sambungan sementara yang dapat dibongkar/dilepas kembali. Bentuk uliran batang baut untuk baja bangunan pada umumnya ulir segi tiga (ulir tajam) sesuai fungsinya yaitu sebagai baut pengikat. Sedangkan bentuk ulir segi empat (ulir tumpul) umumnya untuk baut-baut penggerak atau pemindah tenaga misalnya dongkrak atau mesin

baut

Baut untuk konstruksi baja bangunan dibedakan 2 jenis

Baut Hitam Yaitu baut dari baja lunak (St-34) banyak dipakai untuk konstruksi ringan/ sedang misalnya bangunan gedung, diameter lubang dan diameter batang baut memiliki kelonggaran 1 mm.
Baut Pass Yaitu baut dari baja mutu tinggi (St-42) dipakai untuk konstruksi berat atau beban bertukar seperti jembatan jalan raya, diameter lubang dan diameter batang baut relatif pass yaitu kelonggaran 0,1 mm. Macam-macam ukuran diameter baut untuk konstruksi baja antara lain : 7/16 (d = 11,11 mm) 1/2 (d = 12,70 mm) 5/8 (d = 15,87 mm) 3/4 (d = 19,05 mm) 7/8 (d = 22,22 mm) 1 (d = 25,40 mm) 11/8 (d = 28,57 mm) 11/4 (d = 31,75 mm)

baut

baut
Bentuk baut untuk baja bangunan yang umum dipakai adalah dengan bentuk kepala/mur segi enam sebagai berikut:

baut

baut
keuntungan: 1) Lebih mudah dalam pemasangan/penyetelan konstruksi di lapangan. 2) Konstruksi sambungan dapat dibongkar-pasang. 3) Dapat dipakai untuk menyambung dengan jumlah tebal baja > 4d ( tidak seperti paku keling dibatasi maksimum 4d ). 4) Dengan menggunakan jenis Baut Pass maka dapat digunakan untuk konstruksi berat /jembatan.

baut

baut
1. Baut dengan 1 irisan (Tegangan geser tegak lurus dengan sumbu baut)

2. Baut dengan 2 irisan (Tegangan geser tegak lurus dengan sumbu baut)

baut
3. Baut yang dibebani sejajar dengan sumbunya

4. Baut yang dibebani sejajar sumbu dan tegak lurus sumbu

baut
Banyaknya baut yang dipasang pada satu baris yang sejajar arah gaya, tidak boleh lebih dari 5 buah. Jarak antara sumbu baut paling luar ke tepi atau ke ujung bagian yang disambung, tidak boleh kurang dari 1,2 d dan tidak boleh lebih besar dari 3d atau 6 t (t adalah tebal terkecil bagian yang disambungkan). Pada sambungan yang terdiri dari satu baris baut, jarak dari sumbu ke sumbu dari 2 baut yang berurutan tidak boleh kurang dari 2,5 d dan tidak boleh lebih besar dari 7 d

baut
Jika sambungan terdiri dari lebih satu baris baut yang tidak berseling, maka jarak antara kedua baris baut itu dan jarak sumbu ke sumbu dari 2 baut yang berurutan pada satu baris tidak boleh kurang dari 2,5 d dan tidak boleh lebih besar dari 7 d atau 14 t.

baut
Prinsip Umum Jarak- Jarak Sambungan Baut

baut

baut

las
Terdapat lima jenis sambungan yang biasa digunakan untuk menyatukan dua bagian benda logam, seperti dapat dilihat dalam berikut:

las
a. sambungan tumpu (butt joint); kedua bagian benda yang akan disambung diletakkan pada bidang datar yang sama dan disambung pada kedua ujungnya. b. sambungan sudut (corner joint); kedua bagian benda yang akan disambung membentuk sudut siku-siku dan disambung pada ujung sudut tersebut. c. sambungan tumpang (lap joint); bagian benda yang akan disambung saling menumpang (overlapping) satu sama lainnya. d. sambungan T (tee joint); satu bagian diletakkan tegak lurus pada bagian yang lain dan membentuk huruf T yang terbalik. e. sambungan tekuk (edge joint); sisi-sisi yang ditekuk dari ke dua bagian yang akan disambung sejajar, dan sambungan dibuat pada kedua ujung bagian tekukan yang sejajar tersebut.

las
Untuk menyambung baja bangunan kita mengenal 2 jenis las berdasarkan bahannya yaitu : 1. Las Karbid ( Las OTOGEN ) Yaitu pengelasan yang menggunakan bahan pembakar dari gas oksigen (zat asam) dan gas acetylene (gas karbid). Dalam konstruksi baja las ini hanya untuk pekerjaan-pekerjaan ringan atau konstruksi sekunder, seperti ; pagar besi, teralis dan sebagainya. 2. Las Listrik ( Las LUMER ) Yaitu pengelasan yang menggunakan energi listrik. Untuk pengelasannya diperlukan pesawat las yang dilengkapi dengan dua buah kabel, satu kabel dihubungkan dengan penjepit benda kerja dan satu kabel yang lain dihubungkan dengan tang penjepit batang las / elektrode las.

las
Jika elektrode las tersebut didekatkan pada benda kerja maka terjadi kontak yang menimbulkan panas yang dapat melelehkan baja ,dan elektrode (batang las) tersebut juga ikut melebur ujungnya yang sekaligus menjadi pengisi pada celah sambungan las. Karena elektrode / batang las ikut melebur maka lamalama habis dan harus diganti dengan elektrode yang lain.

Dalam perdagangan elektrode / batang las terdapat berbagai ukuran diameter yaitu 21/2 mm, 31/4 mm, 4 mm, 5 mm, 6 mm, dan 7 mm.

las

las

Untuk konstruksi baja yang bersifat struktural (memikul beban konstruksi)) maka sambungan las tidak diijinkan menggunakan las Otogen, tetapi harus dikerjakan dengan las listrik dan harus dikerjakan oleh tenaga kerja ahli yang profesional.

las
Pada Konstruksi baja biasanya terdapat 2 macam las, yaitu las tumpul dan las

sudut.
Las Tumpul adalah las untuk menyambung arah memanjang/ melebar plat atau profil baja Las sudut adalah las untuk menyambung arah sudut dari plat atau profil baja

las
Berdasarkan Geomerinya: a. Las jalur (fillet weld), digunakan untuk mengisi tepi pelat pada sambungan sudut, sambungan tumpang, dan sambungan T dalam gambar berikut, logam pengisi digunakan untuk menyambung sisi melintang bagian yang membentuk segitiga siku-siku.

las
b. Las alur (groove welds), ujung bagian yang akan disambung dibuat alur dalam bentuk persegi, serong (bevel), V, U, dan J pada sisi tunggal atau ganda, seperti dapat dilihat dalam gambar di bawah, pengisi digunakan untuk mengisi sambungan, yang biasanya dilakukan dengan pengelasan busur dan pengelasan gas.

las

Keuntungan sambungan las listrik dibanding dengan paku keling atau baut: 1. Pertemuan baja pada sambungan dapat melumer bersama elektrode las dan menyatu dengan lebih kokoh (lebih sempurna). 2. Konstruksi sambungan memiliki bentuk lebih rapi. 3. Konstruksi baja dengan sambungan las memiliki berat lebih ringan. Dengan las berat sambungan hanya berkisar 11,5% dari berat konstruksi, sedang dengan paku keling/baut berkisar 2,54% dari berat konstruksi. 4. Pengerjaan konstruksi relatif lebih cepat (tak perlu membuat lubang paku atau baut, tak perlu memasang potongan baja siku/pelat penyambung, dan sebagainya). 5. Luas penampang batang baja tetap utuh karena tidak dilubangi, sehingga kekuatannya utuh.

las

Kerugian/kelemahan sambungan las: 1. Kekuatan sambungan las sangat dipengaruhi oleh kualitas pengelasan. Jika pengelasannya baik maka kekuatan sambungan akan baik, tetapi jika pengelasannya jelek/tidak sempurna maka kekuatan konstruksi juga tidak baik bahkan membahayakan dan dapat berakibat fatal. Salah satu sambungan las cacat lambat laun akan merembet rusaknya sambungan yang lain dan akhirnya bangunan dapat runtuh yang menyebabkan kerugian materi yang tidak sedikit bahkan juga korban jiwa. Oleh karena itu untuk konstruksi bangunan berat seperti jembatan jalan raya/kereta api di Indonesia tidak diijinkan menggunakan sambungan las. 2. Konstruksi sambungan tak dapat dibongkar-pasang.