Anda di halaman 1dari 33

KHAIDIR MUHAJ BLOG'SITE

TEMPAT ASUHAN KEPERAWATAN DAN MATERI KULIAH KEPERAWATAN

ASKEP GANGGUAN ALAM PERASAAN


Label: Perkuliahan

I.PENGERTIAN Alam perasaan(mood) adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang. Gangguan alam perasaan adalah gangguan emosional yang disertai gejala mania atau depresi. II.RENTANG RESPONS EMOSIONAL Respon adaptif ----------------------------Respon maladaptif ***** _ _____________ ________________ _______________ ________________ ____ Responsif Reaksi kehilangan yang wajar Supresi Reaksi kehilangan yang memanjang Mania/Depresi Responsif adalah respons emosional individu yang terbuka dan sadar akan perasaannya.Pada rentang ini individu dapat berpartisipasi dengan dunia eksternal dan internal. Reaksi kehilangan yang wajar merupakan posisi rentang yang normal dialami oleh individu yang mengalami kehilangan.Pada rentang ini individu menghadapi realita dari kehilangan dan mengalami proses kehilangan,misalnya bersedih, berfokus pada diri sendiri,berhenti melakukan kegiatan sehari-hari. Reaksi kehilangan tersebut tidak berlangsung lama. Supresi merupakan tahap awal respons emosional yang maladaptif,individu menyangkal,menekan atau menginternalisasi semua aspek perasaannya terhadap lingkungan. Reaksi berduka yang memanjang merupakan penyangkalan yang menetap dan memanjang,tetapi tidak tampak reaksi emosional terhadap kehilangan. Reaksi berduka yang memanjang ini dapat terjadi beberapa tahun. Mania/Depresi merupakan respons emosional yang berat dan dapat dikenal melalui intensitas dan pengaruhnya terhadap fisik individu dan fungsi sosial. Mania adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan adanya alam perasaan yang meningkat,meluas atau keadaan emosional yang mudah tersinggung dan terangsang.Kondisi ini dapat diiringi dengan perilaku berupa peningkatan kegiatan,banyak bicara,ide-ide yang meloncat,senda gurau,tertawa berlebihan, penyimpangan seksual. Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan. Perbedaan antara grieving dan dying

Berduka (grieving) meupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Sekarat (dying) merupakan kondisi pasien yang sedang menghadapi kematian,yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal. III.FAKTOR PREDISPOSISI & PRESIPITASI III.1.Faktor Predisposisi III.1.1.Faktor genetik,mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan.Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar monozygote daripada dizygote. III.1.2.Teori agresi berbalik pada diri sendiri mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri.Freud mengatakan bahwa kehilangan obyek/orang,ambivalen antara perasaan benci dan cinta dapat berbalik menjadi perasaan yang menyalahkan diri sendiri. III.1.3.Teori kehilangan.Berhubungan dengan faktor perkembangan;misalnya kehilangan orang tua pada masa anak,perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang sangat dicintai.Individu tidak berdaya mengatasi kehilangan. III.1.4.Teori kepribadian mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan seseorang mengalami depresi atau mania. III.1.5.Teori kognitif mengemukakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang dipengaruhi oleh penilaian negatif terhadap diri sendiri,lingkungan dan masa depan. III.1.6.Model belajar ketidakberdayaan mengemukakan bahwa depresi dimulai dari kehilangan kendali diri,lalu menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah. Kemudian individu timbul keyakinan akan ketidakmampuannya mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak berupaya mengembangkan respons yang adaptif.

III.1.7.Model perilaku mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya pujian (reinforcement) positif selama berinteraksi dengan lingkungan. III.1.8.Model biologis mengemukakan bahwa pada keadaan depresi terjadi perubahan kimiawi,yaitu defisiensi katekolamin,tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi kortisol. III.2. Faktor Presipitasi Stresor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi: Faktor biologis meliputi perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi,neoplasma dan ketidakseimbangan metabolisme.

Faktor psikologis meliputi kehilangan kasih sayang,termasuk kehilangan cinta, seseorang,dan kehilangan harga diri. Faktor sosial budaya meliputi kehilangan peran,perceraian,kehilangan pekerjaan.

IV.PERILAKU DAN MEKANISME KOPING Perilaku yang berhubungan dengan mania bervariasi. Gambaran utama dari mania adalah perbedaan intensitas psikofisiologikal yang tinggi,dapat dilihat pada tabel 1. Pada keadaan depresi kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi, dapat dilihat pada tabel 2. Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan yang memanjang adalah denial dan supresi,hal ini untuk menghindari tekanan yang hebat.Depresi,yaitu perasaan berduka yang belum terselesaikan,mekanisme koping yang digunakan adalah represi,supresi,denial dan disosiasi.Tingkah laku mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan dari kurang efektifnya koping dalam menghadapi kehilangan.

Tabel 1;Perilaku yang berhubungan dengan Mania Afektif Kognitif Fisik Tingkah laku a).Gembira yang berlebihan b).Harga diri meningkat c).Tidak tahan kritik a).Ambisi b).Mudah terpengaruh c).Mudah beralih perhatian d).Waham kebesaran e).Ilusi f).Flight of ideas g).Gangguan penglihatan a).Dehidrasi b).Nutrisi yg tidak adekuat c).Berkurangnya kebutuhan tidur/ istirahat d).Berat badan menurun a).Agresif b).Hiperaktif c).Aktivitas motorik meningkat d).Kurang bertanggung

jawab e).Royal f).Iritatable/suka berdebat g).Perawatan diri kurang h).Tingkah laku seksual yang berlebihan i).Bicara bertele-tele.

Tabel 2;Perilaku yang berhubungan dengan depresi Afektif Kognitif Fisik Tingkah laku #Sedih,cemas,apatis, murung, #.Kebencian,kekesalan marah, #.Perasaan ditolak, perasaan bersalah, #Merasa tdk berdaya, putus asa, #.Merasa sendirian, #.Merasa rendah diri, #.Merasa tak berharga #Ambivalensi,bingung, ragu-ragu, #Tidak mampu konsentrasi, #Hilang perhatian dan motivasi, #Menyalahkan diri sendiri, #Pikiran merusak diri, #Rasa tidak menentu, #Pesimis #Sakit perut,anoreksia, mual,muntah, #Gangguan pencernaan, konstipasi, #Lemah,lesu,nyeri,kepala, pusing, #Insomnia,nyeri dada, overakting, #Perubahan berat badan, gangguan selera makan, #Gangguan menstruasi, impoten,

#Tidak berespon terhadap seksual. #Agresif,agitasi,tidak toleran, #Gangguan tingkat aktivitas #Kemunduran psikomotor, #Menarik diri, isolasi sosial, #Iritabel(mudah marah, menangis, tersinggung), #Berkesan menyedihkan, #Kurang spontan, #Gangguan kebersihan

V.ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MANIA DAN DEPRESI V.1.Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan cara mengidentifikasi faktor predisposisi,presipitasi,dan perubahan perilaku serta mekanisme koping yang digunakan klien(lihat point III & IV). V.2.Masalah Keperawatan Masalah keperawatan yang berhubungan dengan respons emosional (gangguan alam perasaan ) antara lain: Berduka disfungsional Ketidakberdayaan Peningkatan mobilitas fisik Gangguan pola tidur Risiko terhadap cedera Perubahan nutrisi Defisit perawatan diri Ansietas V.3.Perencanaan Tujuan Umum:Mengajarkan klien untuk berespons emosional yang adptif dan meningkatkan rasa puas serta kesenangan yang dapat diterima oleh lingkungan. Tindakan keperawatan: Lingkungan Prioritas utama dalam merawat klien mania dan depresi adalah mencegah terjadinya

kecelakaan.Karena klien mania memiliki daya nilai yang rendah,hiperaktif,senang tindakan yang berisiko tinggi,maka klien harus ditempatkan dilingkungan yang aman,yaitu dilantai dasar,perabotan yang dasar,kurangi rangsang dan suasana yang tenang.Sedangkan merawat klien depresi lebih ditujukan pada potensial bunuh diri,karena klien merasa tidak berdaya,tidak berharga dan keputusasaan.

Hubungan perawat klien Hubungan saling percaya yang terapeutik perlu dibina dan dipertahankan.Bekerja dengan klien depresi perawat harus bersifat hangat,menerima,diam aktif,jujur dan empati.Bicara lambat,sederhana dan beri waktu pada klien untuk berpikir dan menjawab. Berbeda bila bekerja dengan klien mania,perawat harus membuat batasan yang konstruktif,hal ini perlu untuk mengontrol perilaku klien.Kontrol dari lingkungan (perawat,dokter,klien) yang konsisten akan mempercepat kesadaran klien untuk mengontrol perilakunya. Afektif Kesadaran dan kontrol diri perawat pada dirinya merupakan syarat utama.Merawat klien depresi,perawat harus mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik.Sikap perawat yang menerima klien,hangat,sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien.Prinsip intervensi afektif adalah menerima dan menenangkan klien bukan menggembirakan atau mengatakan bahwa klien tidak perlu khawatir.Klien didorong untuk mengekspresikan pengalaman yang menyakitkan dan menyedihkan secara verbal,hal ini akan mengurangi intensitas masalah yang dihadapi. Kognitif Intervensi kognitif bertujuan untuk meningkatkan control diri klien pada tujuan dan perilaku,meningkatkan harga diri dan membantu klien memodifikasi harapan yang negatif. Cara mengubah pikiran yang negatif: 1.Identifikasi semua ide,pikiran yang negatif. 2.Identifikasi aspek positif yang dimiliki klien (kemampuan,keberhasilan). 3.Dorong klien menilai kembali persepsi,logika,rasional. 4.Bantu klien mengubah persepsi yang salah/negatif ke persepsi positif,dari tidak realistis ke realistis. 5.Sertakan klien pada aktifitas yang memperlihatkan hasil.Beri penguatan dan pujian akan keberhasilan.

Perilaku Intervensi perilaku bertujuan untuk mengaktifkan klien pada tujuan realistic,yaitu dengan memberi tanggung jawab secara bertahap dalam kegiatan di ruangan.Klien depresi berat dengan penurunan motivasi perlu dibuat kegiatan yang terstruktur. Beri penguatan pada kegiatan yang berhasil

Sosial Tujuan intervensi sosial adalah meningkatkan hubungan sosial,dengan cara: 1.Kaji kemampuan,dukungan dan minat klien. 2.Observasi dan kaji sumber dukungan yang ada pada klien. 3.Bimbing klien melakukan hubungan interpersonal,dengan role model,role play. 4.Beri umpan balik dan penguatan hubungan interpersonal yang positif. 5.Dorong klien untuk memulai hubungan sosial yang lebih luas (dengan perawat, klien). Fisiologis Intervensi fisiologis bertujuan untuk meningkatkan status kesehatanklien. Kebutuhan dasar seperti makan,minum,istirahat,kebersihan dan penampilan diri perlu mendapat perhatian perawat. #Kewaspadaan Perawat# Dalam memberi asuhan keperawatan kepada klien dengan gangguan alam perasaan yang berat,perawat harus memberikan prioritas yang paling utama terhadap potensial bunuh diri. Perawatan dirumah sakit diperlukan bila ada resiko bunuh diri,yaitu gejala meningkat secara cepat dan support sistem tidak ada atau kurang.Asuhan keperawatan pada keadaan ini untuk melindungi dan menjamin agar klien tidak mencelakakan diri sendiri.Percobaan bunuh diri biasanya terjadi pada saat klien keluar dari fase depresi,klien mempunyai energi dan kesempatan untuk bunuh diri.Klien dalam keadaan mania akut juga dapat mengancam kehidupannya. Sebagai contoh,pada lampiran 1 & 2 akan diuraikan rencana tindakan keperawatan untuk diagnosa yang etiologinya Ketidakberdayaan dan Peningkatan mobilitas fisik.

VI. EVALUASI 1. Apakah semua sumber pencetus stress dan persepsi klien dapat digali? 2. Apakah masalah klien mengenai konsep diri,rasa marah dan hubungan interpersonal dapat digali? 1. Apakah perubahan pola tingkah laku klien dan respons tersebut tampak? 2. Apakah riwayat individu klien dan keluarganya sebelum fase depresi/mania dapat dievaluasi sepenuhnya? 1. Apakah perlu dilakukan tindakan untuk mencegah kemungkinan terjadinya bunuh diri? 2. Apakah masyarakat lingkungan juga merupakan sumber koping? 3. Apakah tindakan keperawatan telah mencakup semua aspek dunia klien? 4. Apakah reaksi perubahan klien dapat diidentifikasi dan dilalui dengan baik oleh klien? 5. Apakah perawat mampu untuk mawas diri terhadap perasaan pribadi,konflik,dan mampu untuk menghadapi benturan emosi yang timbul dalam hubungan dengan klien? 6. Apakah pengalaman klien akan meningkatkan kepuasan dan kesenangan klien terhadap dunia pribadinya?

Lampiran 1 ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN MASALAH KEPERAWATAN KETIDAKBERDAYAAN Ketidakberdayaan merupakan persepsi individu bahwa segala tindakannya tidak akan mendapatkan hasil atau suatu keadaan dimana individu kurang dapat mengendalikan kondisi tertentu atau kegiatan yang baru dirasakan. Karena ketidakberdayaan dapat menyebabkan gangguan harga diri maka diagnosa keperawatan dapat dirumuskan :Gangguan harga diri:Harga diri rendah berhubungan dengan Ketidakberdayaan. 1. PENGKAJIAN Data-data yang biasa ditampilkan pada pasien dengan ketidakberdayaan adalah: Mengatakan secara verbal ketidakmampuan mengendalikan atau mempengaruhi situasi. Mengatakan tidak dapat menghasilkan sesuatu Mengatakan ketidakmampuan perawatan diri Tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat kesempatan diberikan Segan mengekspresikan perasaan yang sebenarnya Apastis,pasif Ekspresi muka murung Bicara dan gerakan lambat Nafsu makan tidak ada atau berlebihan Tidur berlebihan Menghindari orang lain. 2. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Tujuan Umum: Pasien dapat melakukan cara pengambilan keputusan yang efektif untuk mengendalikan situasi kehidupannya dengan demikian menurunkan perasaan rendah diri. TUJUAN KHUSUS TINDAKAN 1.Pasien dapat membina hubungan terapeutik dengan perawat. 2.Pasien dapat mengenali dan mengekspresikan emosinya. 3.Pasien dapat

memodifikasi pola kognitif yang negatif. 1.1.Lakukan pendekatan yang hangat,menerima pasien apa adanya dan bersifat empati 1.2.Mawas diri dan cepat mengendalikan perasaan dan reaksi diri perawat sendiri (misalnya:rasa marah,frustasi dan simpati) 1.3.Sediakan waktu untuk berdiskusi dan bina hubungan yang sifatnya supportif 1.4.Beri waktu untuk pasien berespons. 2.1.Tunjukkan respons emosional dan menerima pasien 2.2.Gunakan teknik komunikasi terapeutik terbuka,eksplorasi, klarifikasi. 2.3.Bantu pasien untuk mengekspresikan perasaannya 2.4.Bantu pasien mengidentifikasi area-area situasi kehidupannya yang tidak berada dalam kemampuannya untuk mengontrol. Dorong untuk menyatakan secara verbal perasaan-perasaannya yang berhubungan dengan ketidakmampuan. 3.1.Diskusikan tentang masalah yang dihadapi pasien tanpa memintanya untuk menyimpulkan. 3.2.Identifikasi pemikiran yang negatif dan bantu untuk menurunkannya melalui interupsi atau substitusi. 3.3.Bantu pasien untuk meningkatkan pemikiran yang positif. 3.4.Evaluasi ketepatan persepsi,logika dan kesimpulan yang dibuat pasien. 3.5.Identifikasi persepsi pasien yang tidak tepat,penyimpangan dan pendapatnya yang tidak rasional. 3.6.Kurangi penilaian pasien yang negatif terhadap dirinya.

4.Pasien dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan perawatannya sendiri. 5.Pasien dapat termotivasi untuk aktif mencapai tujuan yang realistik. 3.7.Bantu pasien untuk menyadari nilai yang dimilikinya atau perilakunya dan perubahan yang terjadi. 4.1.Libatkan pasien dalam menetapkan tujuan-tujuan

perawatannya yang ingin dicapai. 4.2.Motivasi pasien untuk membuat jadwal aktifitas perawatan dirinya 4.3.Berikan pasien privasi sesuai kebutuhan yang ditentukan 4.4.Berikan reinforcement positif untuk keputusan yang dibuat 4.5.Beri pujian jika klien berhasil melakukan kegiatan atau penampilan yang bagus. 4.6.Motivasi pasien untuk mempertahankan penampilan/kegiatan tersebut. 5.1.Bantu pasien untuk menetapkan tujuan-tujuan yang realistik. Fokuskan kegiatan pada saat ini bukan pada kegiatan masa lalu 5.2.Bantu pasien mengidentifikasi area-area situasi kehidupan yang dapat dikontrolnya. 5.3.Identifikasi cara-cara yang dapat dicapai oleh pasien.Dorong untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas tersebut dan berikan penguatan positif untuk berpartisipasi dan pencapaiannya. 5.4.Motivasi keluarga untuk berperan aktif dalam membantu pasien menurunkan perasaan tidak berdaya. Lampiran 2 ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PENINGKATAN MOBILITAS FISIK Peningkatan mobilitas fisik yang sering juga disebut dengan hiperaktif merupakan suatu gangguan alam perasaan. 1. PENGKAJIAN Perilaku yang sering timbul pada pasien ini adalah: o Aktivitas motorik yang meningkat o Ekspresi wajah riang yang berlebihan o Banyak bicara dan pembicaraan mudah beralih dari satu topik ke topik lain (flight of ideas) o Kurang bertanggung jawab o Mudah tersinggung dan terangsang o Tingkah laku mengancam bahaya o Tidak tahan kritik o Tidak takut bahaya. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Bila saudara menganalisa data-data yang dijumpai pada pasien dengan peningkatan mobilitas fisik,maka diagnosa yang dapat dirumuskan adalah : Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan peningkatan mobilitas fisik. 3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Tujuan Umum: Pasien tidak akan mengalami cedera fisik selama dirawat. TUJUAN KHUSUS TINDAKAN 1.Pasien dapat membina hubungan saling percaya 1.1.Kenalkan diri pada pasien 1.2.Tanggapi pembicaraan pasien dengan sabar dan tidak menyangkal. 1.3.Bicara dengan tegas,jelas dan simpati. 1.4.Bersikap hangat dan bersahabat. 1.5.Temani pasien saat agitasi muncul dan hiperaktivitasnya meningkat. 2.Pasien dapat mengendalikan aktivitas motorik. 3.Pasien dapat mengungkapkan perasaannya. 4.Pasien dapat menentukan cara penyelesaian masalah (koping) yang konstruktif. 5.Pasien mendapat dukungan keluarga. 2.1.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat menurunkan aktivitas motorik. 2.2.Diskusikan dengan pasien manfaat pemberian obat 2.3.Ciptakan ruangan yang tenang dan tidak banyak rangsangan, seperti musik yang lembut,penataan ruangan tidak banyak peralatan. 2.4.Beri kegiatan yang dapat diselesaikan oleh pasien,misalnya mandi,makan,dll 2.5.Beri reinforcement positif bila pekerjaan/kegiatan tersebut dapat diselesaikan 2.6.Bersama pasien membuat jadwal kegiatan/aktivitas fisik untuk menyalurkan energinya,seperti menyapu, mengepel, olahraga.

2.7.Beri reinforcement positif bila pasien dapat melakukan kegiatannya tersebut. 2.8.Tetapkan batasan yang konstruktif terhadap tingkah laku yang negatif 2.9.Lakukan pendekatan yang konsisten oleh seluruh anggota tim kesehatan 2.10.Pertahankan komunikasi terbuka dan membagi persepsi diantara anggota tim kesehatan 2.11.Kuatkan perilaku pengendalian diri dan perilaku positif lainnya. 3.1.Beri kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaannya yang menyakitkan 3.2.Beri kesempatan kepada pasien untuk mengutarakan keinginannya,perasaan dan pikiran dengan menggunakan tekhnik komunikasi fokusing 3.3.Berikan respons empati dan menerima pasien 3.4.Bantu pasien menurunkan tingkat ansietas. 4.1.Identifikasi bersama pasien cara yang biasa digunakan untuk mengatasi perasaan kesal,marah atau sesuatu yang tidak menyenangkan. 4.2.Diskusikan manfaat dari cara yang telah digunakan. 4.3.Diskusikan tentang alternatif cara untuk mengatasi perasaan yang tidak menyenangkan. 4.4.Beri motivasi pasien agar memilih cara penyelesaian masalah yang tepat serta diskusikan konsekwensi dari cara yang dipilih. 4.5.Anjurkan pasien untuk mencoba cara tersebut. 5.1.Diskusikan dengan keluarga tentang keadaan pasien. 5.2.Bantu keluarga untuk memberikan asuhan yang tepat. 5.3.Bantu keluarga untuk merencanakan kegiatan yang sesuai dengan keadaan pasien.

DAFTAR PUSTAKA Stuart,Gail W.(2006).Buku Saku Keperawatan Jiwa (Edisi 5).Jakarta;EGC. Alimul Hidayat,A.Azis.(2006).Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia:Aplikasi Konsep edika.
by Khaidir muhaj di 00:48

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DEPRESI


Diposkan oleh Wahid Nur Hidayat | Kamis, 18 Agustus 2011 | 0 komentar Label: asuhan keperawatan
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DEPRESI

A. Konsep dasar

1. 1.

Pengertian

Depresi adalah keadaan afektif yang mempunyai karakteristik perasaan sedih, merasa bersalah dan harga diri rendah. Keadaan ini kemungkinan bagian dari penyakit baik kondisi kronis maupun akut, sering dihubungkan dengan respon kehilangan (Schultz,Videbeck,1998).

2.

Depresi adalah gangguan patologis terhadap mood yang mempunyai karakteristik berupa bermacam-macam perasaan, sikap dan kepercayaan bahwa seorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidak berdayaan, harga diri rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut bahaya yang akan datang. Depresi menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai akibat dari situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai ganti rasa ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan menunjukkan kesedihan dengan tanda depresi (Rawlins et all 1993)

3.

Depresi adalah suatu kelainan alam perasaan berupa hilangnya minat atau kesenangan dalam aktivitas-aktivitas yang biasa dan pada waktu yang lampau (Townsend,1998:179).

b. Jenis-Jenis Depresi Penggolongan depresi dapat dibedakan (Wilkinson,1995:18 - 26):

1.

Menurut gejalanya Depresi neurotik Depresi neurotik biasanya terjadi setelah mengalami peristiwa yang menyedihkan tetapi yang jauh lebih berat daripada biasanya. Penderitanya seringkali dipenuhi trauma emosional yang mendahului penyakit misalnya kehilangan orang yang dicintai, pekerjaan, milik berharga, atau seorang kekasih. Orang yang menderita depresi neurotik bisa merasa gelisah, cemas dan sekaligus merasa depresi. Mereka menderita hipokondria atau ketakutan yang abnormal seperti agrofobia tetapi mereka tidak menderita delusi atau halusinasi.

Depresi psikotik Secara tegas istilah 'psikotik' harus dipakai untuk penyakit depresi yang berkaitan dengan delusi dan halusinasi atau keduanya.

Psikosis depresi manik Depresi manik biasanya merupakan penyakit yang kambuh kembali disertai gangguan suasana hati yang berat. Orang yang mengalami gangguan ini menunjukkan gabungan depresi dan rasa cemas tetapi kadang-kadang hal ini dapat diganti dengan perasaan gembira, gairah, dan aktivitas secara berlebihan gambaran ini disebut 'mania'.

Pemisahan diantara keduanya Para dokter membedakan antara depresi neurotik dan psikotik tidak hanya berdasarkan gejala lain yang ada dan seberapa terganggunya perilaku orang tersebut.

2.

Menurut Penyebabnya Depresi reaktif Pada depresi reaktif, gejalanya diperkirakan akibat stres luar seperti kehilangan seseorang atau kehilangan pekerjaan. Depresi endogenus Pada depresi endogenous, gejalanya terjadi tanpa dipengaruhi oleh faktor lain. Depresi primer dan sekunder Tujuan penggolongan ini adalah untuk memisahkan depresi yang disebabkan penyakit fisik atau psiatrik atau kecanduan obat atau alkohol (depresi 'sekunder') dengan depresi yang tidak mempunyai penyebab-penyebab ini (depresi 'primer'). Penggolongan ini lebih banyak digunakan untuk penelitian tujuan perawatan.

3.

Menurut arah penyakit Depresi tersembunyi Diagnosa depresi tersembunyi (atau atipikal) kadang-kadang dibuat bilamana depresi dianggap mendasari gangguan fisik dan mental yang tidak dapat diterangkan, misalnya rasa sakit yang lama tanpa sebab yang nyata atau hipokondria atau sebaliknya perilaku yang tidak dapat diterangkan seperti wanita lanjut usia yang suka mengutil.

Berduka Proses kesedihan itu wajar dan merupakan reaksi yang diperlukan terhadap suatu kehilangan. Proses ini membuat orang yang kehilangan itu mampu menerima kenyataan tersebut, mengalami rasa sakit akibat kesedihan yang menimpa, menderita putusnya hubungan dengan orang yang dicintai dan penyesuaian kembali.

Depresi pascalahir Banyak wanita kadang-kadang mengalami periode gangguan emosional dalam 10 hari pertama setelah melahirkan bayi ketika emosi mereka masih labil dan mereka merasa sedih dan suka menangis. Seringkali hal itu berlangsung selama satu atau dua hari kemudian berlalu.

Depresi dan manula Usia tua merupakan saat meningkatnya kerentanan terhadap depresi. Namun, kadang-kadang depresi pada manula ditutupi oleh penyakit fisik dan cacat tubuh seperti penglihatan atau pendengaran yang terganggu. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengingat kemungkinan terjadinya penyakit depresi pada orang tua.

c. Faktor Predisposisi Terdapat 2 teori untuk menjelaskan faktor pendukung terjadinya depresii (Townsend,1998:181 - 183):

1. 1.

Teori Biologis Genetik. Dari sejumlah penyelidikan yang telah dilakukan ditemukan bahwa terdapat dukungan keterlibatan herediter dalam penyakit depresi. Luasnya akibat pada pokoknya tampak menjadi lebih tinggi diantara individu-individu yang memiliki hubungan keluarga dengan kelainan tersebut daripada diantara populasi umum (DSM-III-R, 1987).

2.

Biokimia. Ketidakseimbangan elektrolit tampak memainkan peranan dalam penyakit depresif. Suatu kesalahan hasil metabolisme dalam perubahan natrium dan kalium di dalam neuron (Gibbons, 1960).

Teori biokimia yang lainnya menyangkut biogenik amin norepinefrin, dopamin, dan serotinin. Tingkatan zat-zat kimia ini mengalami defisiensi dalam individu dengan penyakit depresif (Janowsky et al, 1988).

2. 1.

Teori Psikososial Psikoanalisa. Teori ini (Klein, 1934) melibatkan suatu ketidakpuasan dalam hubungan awal ibu-bayi sebagai suatu predisposisi untuk penyakit depresif. Kebutuhan bayi tidak terpenuhi, suatu kondisi yang digambarkan sebagai suatu kehilangan. Respons berduka belum terpecahkan, dan kemarahan dan permusuhan ditunjukkan kepada diri sendiri. Ego tetap lemah, sementara superego meluas dan menjadi menghukum.

2.

Kognitif. Ahli teori-teori ini (Beck et al, 1979) yakin bahwa penyakit depresif terjadi sebagai suatu hasil dari kelainan kognitif. Kelainan proses pikir membantu perkembangan evaluasi diri individu. Persepsi merupakan ketidakadekuatan dan ketidakberhargaan. Pandangan untuk masa depan merupakan suatu kepesimisan keputusasaan.

3.

Teori Pembelajaran. Teori ini (seligman, 1973) mengemukakan bahwa penyakit depresif dipengaruhi oleh keyakinan individu bahwa ada kurang kontrol atau situasi-situasi kehidupannya. Ini dianggap bahwa keyakinan ini muncul dari pengalamanpengalaman yang mengakibatkan kegagalan (baik yang dirasakan atau yang nyata). Setelah sejumlah kegagalan, individu merasa tidak berdaya untuk berhasil dalam usaha-usaha yang keras, dan oleh karena itu berhenti mencoba. Pembelajaran ketidakberdayaan ini digambarkan sebagai suatu predisposisi untuk penyakit depresif.

4.

Teori Kehilangan Objek. Teori ini (Bowly, 1973) menyatakan bahwa penyakit depresif terjadi jika pribadi tersebut terpisah dari atau ditolak orang terdekat selama 6 bulan pertama kehidupan. Proses ikatan diputuskan, dan anak menarik diri dari orang lain dan lingkungan.

d. Faktor Pencetus Ada empat sumber utama stresor yang dapat mencetuskan gangguan alam perasaan (Sundeen,Stuart,1998:260):

1.

Kehilangan keterikatan, yang nyata atau yang dibayangkan, termasuk kehilangan cinta, seseorang, fungsi fisik, kedudukan, atau harga diri. Karena elemen aktual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan, maka persepsi pasien merupakan hal yang sangat penting.

2. 3. 4.

Peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan sebagai pendahulu episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-masalah yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah. Peran dan ketegangan peran telah dilaporkan mempengaruhi perkembangan depresi, terutama pada wanita. Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik, seperti infeksi, neoplasma, dan gangguan keseimbangan metabolik, dapat mencetuskan gangguan alam perasaan.

5.

Tanda dan gejala Depresi Menurut Kaplan (1997) gejala utama dari depresi adalah kehilangan minat atau kesenangan. Pasien mengatakan bahwa mereka merasa murung, putus asa dalam kesedihan, atau tidak berguna.

Adapun tanda dan gejala depresi menurut Rawlins et all (1993) adalah;

1). Dimensi Fisik

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

gangguan primer pada struktur dan fungsi otak dan sistem saraf perubahan kimiawi yaitu penurunan noreprineprin, serotonin dan peningkatan steroid penurunan metabolisme penurunan perawatan diri dan kebersihan diri kehilangan energi dengan lelah dan lemah penurunan aktivitas motorik depresi mungkin berhubungan dengan adanya gangguan sistem imun

2). Dimensi Intelektual

1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 4.

pemikiran negatif terhadap diri sendiri, dunia/lingkungan dan masa depan tidak mampu berfikir rasional merasa tidak mampu mengontrol dirinya sendiri maupun lingkungan

3). Dimensi Emosional merasa takut dan cemas merasa tidak berdaya dan putus asa perasaan marah ditekan

4). Dimensi Sosial hubungan antara orang depresi dengan orang lain kadangkala terlihat seperti ketergantungan yang berlebihan tingkah laku depresi mungkin sebagai usaha untuk memanipulasi orang lain untuk memenuhi kebutuhannya orang depresi merasa tidak mempunyai pendukung menarik diri dari lingkungan dan hilang ketertarikan

B. Asuhan Keperawatan
Pohon Masalah

potensial malukai Orla/diri sendiri Gangguan komunikasi/komunikasi tidak efektif

Gangguan pola tidur/gangguan pola makan Menarik diri

Koping tidak efektif

Potensial gangguan nutrisi MOOD/ALAM PERESAAN (Depresi)

Tidak terpenuhi kebutuhan sehari-hari Gangguan konsep diri

Harga diri Idial diri Identitas diri Body image

Peran

1. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Diagnosa keperawatan menurut NANDA yang muncul pada pasien dengan depresi (Fortinash,1995) Resiko kekerasan terhadap diri berhubungan dengan gangguan mental depresi Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan gangguan konsep diri (harga diri rendah) Harga diri rendah kronik berhubungan dengan kegagalan Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tingkat percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan koping Putus asa berhubungan dengan stress berkepanjangan Defisit perawatan diri (mandi/personal higine) berhubungan dengan menurunnya motivasi Defisit perawatan diri (makan) berhubungan dengan menurunnya motivasi

2. 1.

Rencana keperawatan Resiko kekerasan terhadap diri berhubungan dengan gangguan mental depresi

1.
Indikator:

NOC: Kontrol impuls

Mengidentifikasi perilaku impulsive yang berbahaya Mengidentifikasi perasaan yang menyebabkan perilaku impulsive Mengidentifikasi perilaku yang menyebabkan perilaku impulsive Mengidentifikasi konsekuensi tindakan impulsive bagi diri dan orang lain. Mengenal risiko lingkungan Mengatakan dapat mengontrol impuls Mencari bantuan bila terdapat impuls Mengidentifikasi dukungan sosial Menguatkan kontrak untuk menguatkan perilaku Menjaga control diri walau tidak diawasi.

NIC: Membantu mengontrol marah


Kegiatannya:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Bina Hubungan saling percaya Gunakan ketenangan Anjurkan pasien menemui perawat bila ada perasaan marah Cegah klien melukai fisik baik pada diri sendiri maupun orang lain bila marah Ajarkan cara mengekspresikan marah secara fisik (memukul bantal, Olahraga, menulis) Berikan jaminan pada pasien bahwa perawat akan memberikan tindakan untuk mengurangi impuls Bantu pasien mengidentifikasi penyebab narah Identifikasi konsekuensi dalam mengekspresikan marah Bantu pasien dalam merencanakan untuk mencegah marah

10. Identifikasi bersama pasien keuntungan mengekspresikan marah secara adaptif dan tidak
melukai

11. Anjurkan pasien menggunakan ketenangan (nafas dalam) 12. Bantu pasien mengembangkan metode mengekspresikan marah pada orang lain secara asertif 13. Berikan role model bagaimana mengekspresikannya 14. Support pasien dalam melaksanakannya 15. Berikan reinforcement.

2.
Indikator:

NOC: Pengendalian merusak diri


NIC:

Mencari bantuan bila ada perasaan ingin merusak diri Secara verbal mengontrol impuls memperkuat kontrak tidak akan melukai diri Menjaga control impuls walau tidak diawasi Tidak melukai diri

1.
Kegiatan:

Manajemen perilaku ; melukai diri sendiri

1.

Tetapkan motif atau alasan dari perilaku merusak diri

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Pindahkan benda-benda yang membahayakan dari lingkungan pasien. Lakukan restrain untuk membatasi pergerakan dan kemampuan untuk melukai diri. Monitor pasien dan lingkungan secara terus menerus. Komunikasikan resiko kepada petugas lain. Anjurkan pasien menggunakan strategi koping (latihan asertif, latihan kontrol impuls, dan relaksasi progresif). Antisipasi situasi yang memicu tindakan melukai diri dan tindakan untuk mencegahnya. Bantu pasien untuk mengidentifikasi situai atau perasaan yang dapat melukai diri. Anjurkan pasien untuk menemui perawat apabila ada pikiran untuk melukai diri.

10. Ajarkan dan berikan penguatan kepada pasien tentang perilaku koping yang efektif
dan ekspresi perasaan yang sesuai.

11. Berikan obat-obatan yang sesuai untuk menurunkan kecemasan, menstabilkan mood
dan menurunkan stimulasi merusak diri.

12. Gunakan pendekatan yang tidak menghukum saat pasien berperilaku merusak diri. 13. Hindari pemberian reinforcement negatif terhadap perilaku melukai diri. 14. Tempatkan pasien pada lingkungan yang aman. 15. Monitor efek samping obat. 16. Berikan pendidikan kepada pasien dan keluarga tentang obat yang diberikan. 17. Berikan pendidikan kepada keluarga tentang perilaku merusak diri dan cara
penanganannya saat di rumah.

18. Berikan pendidikan kesehatan tentang penyakit apabila perilaku merusak diri
disebabkan oleh penyakit.

19. Monitor impuls yang berbahaya bagi diri sendiri yang bisa berkembang menjadi bunuh
diri.

2.
Kegiatan:

Manajemen lingkungan; pencegahan kekerasan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Jauhkan benda tajam, tali dari lingkungan. Teliti lingkungan secara rutin untuk menghindari bahaya. Tempatkan tempat tidur pasien dekat kamar perawat. Berikan alat makan dari plastik atau kertas. Batasi pasien menggunakan benda-benda tajam. Monitor pasien selama menggunakan benda tajam (misalnya cukur rambut). Tempatkan pasien yang resiko melukai diri sendiri dengan teman sekamar, untuk mengurangi isolasi dan kemungkinan melukai diri. Untuk pasien yang beresiko melukai orang lain, tempatkan di kamar sendiri.

3.
Indikator:

NOC: Pengendalian bunuh diri

1. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Mencari bantuan bila ada perasaan ingin bunuh diri Menahan tidak bunuh diri Menguatkan kontrak bunuh diri Mengatakan apabila ada ide bunuh Mengatakan dapat mengontrol impuls Tidak ada percobaan Bunuh diri Menjaga control diri untuk tidak bunuh diri NIC: Pencegahan bunuh diri Kegiatan: Pastikan apakah pasien mempunyai rencana bunuh diri. Anjurkan pasien untuk kontrak secara verbal untuk tidak melakukan bunuh diri. Pastikan pasien mempunyai riwayat percobaan bunuh diri. Lindungi pasien dari perilaku melukai diri. Observasi dengan teliti selama krisis bunuh diri. Beritahu pasien dan keluarga tentang tanda, gejala dan dasar fisiologi dari depresi. Beritahu keluarga bahwa resiko bunuh diri akan meningkat bila terjadi depresi berat. Diskusikan faktor-faktor yang menyebabkan fikiran bunuh diri. Berikan konseling psikiatri

10. Anjurkan keluarga dan teman-temannya untuk memberikan support. 11. Ajarkan kepada keluarga tanda-tanda peringatan akan bunuh diri. 12. Rujuk pasien ke psikiater.

3.

Outcome: Keseimbangan mood

Indikator:

o o o o o

Memperlihatkan mengontrol impuls Melaporkan tidur yang adekuat Memperlihatkan konsentrasi Melaporkan nafsu makan yang normal Tidak ada ide bunuh diri

o
NIC:

Memperlihatkan ketertarikan dalam lingkungan.

1.
Kegiatan:

Manajemen Mood:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 2.
Kegiatan:

Monitor aktivitas perawatan diri Monitor fungsi kognitif Berikan obat untuk menstabilkan mood Monitor intake cairan dan nutrisi Anjurkan pasien untuk berperan aktif dalam perawatan Bantu menjaga siklus tidur yang normal Ajarkan koping dan ketrampilan pemecahan masalah yang baru.

Manajemen medikasi:

1. 2. 3. 4. 5.

Monitor efek terapeutik dari obat-obatan Ajarkan pasien atau keluarga tentang manfaat dan efek samping obat. Monitor efek samping obat Ajarkan pasien dan keluarga cara pemberian obat. Monitor interaksi obat yang tidak terapeutik.

2.

Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan gangguan konsep diri (harga diri rendah)

1.
Indikator:

NOC: Ketrampilan berinteraksi sosial

Keterbukaan Penerimaan Kooperatif Sensitif Asertif Konfrontasi Perhatian Kesejatian

Kehangatan Ketenangan Relaksasi Kompromi

b) Keterlibatan Sosial
Indikator:

o o o o o
Intervensi:

Berinteraksi dengan teman dekat Berinteraksi dengan tetengga Berinteraksi dengan anggota keluarga Berinteraksi dengan anggota kelompok Berinteraksi dalam aktivitas yang disenangi

1.
Kegiatan:

Modifikasi perilaku; ketrampilan sosial

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Bantu pasien mengidentifikasi masalah interpersonal yang menyebabkan penurunan berinteraksi dengan orang lain. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaannya yang berhubungan dengan problem interpersonal. Bantu pasien mengidentifikasi pemecahan masalah tersebut. Bantu pasien mengidentifikasi tindakan yang mungkin dan konsekuensi dari berhubungan dengan orang lain. Identifikasi ketrampilan berinteraksi dengan orang lain yang spesifik yang akan menjadi focus latihan. Bantu pasien mengidentifikasi langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai target berinteraksi dengan orang lain. Tetapkan model yang mendemonstrasikan langkah perilaku dalam situasi yang berarti bagi pasien. Bantu pasien untuk bermain peran berinteraksi dengan orang lain. Berikan reinforcement atas kemampuan pasien dalam berinteraksi dengan orang lain.

10. Ajarkan pada keluarga, teman, tentang tujuan dan proses latihan berinteraksi sosial. 11. Libatkan orang yang berarti bagi pasien dalam latihan berinteraksi sosial (role play) dengan pasien. 12. Berikan umpan balik kepada pasien dan orang yang berarti bagi pasien tentang kesesuaian dalam latihan. 13. Anjurkan pasien/orang yang berarti bagi pasien untuk mengevaluasi hasil dari latihan berinteraksi sosial, berikan
reward untuk hasil positif dan pemecahan masalah untuk hasil yang negatif.

2.
Kegiatan:

Membangun hubungan yang komplek

1. 2.

Ciptakan suasana yang hangat dan menerima Berikan kenyamanan fisik setelah interaksi

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Monitor pesan nonverbal dari pasien. Klarifikasi pesan nonverbal dengan tepat. Respon pesan nonverbal dengan tepat. Atur jarak fisik antara perawat pasien dengan tepat. Pertahankan postur tubuh terbuka. Gunakan teknik diam dalam komunikasi.

3. 1.

Harga diri rendah kronik berhubungan dengan kegagalan NOC: Harga Diri Indikator: Mengatakan penerimaan diri Menerima keterbatasan diri Menjaga postur yang terbuka Menjaga kontak mata Mampu mendeskripsikan keadaan dirinya Komunikasi terbuka Menghormati orang lain Secara seimbang dapat berpartisipasi dan mendengarkan dalam kelompok Menerima kritik yang konstruktif Menggambarkan keberhasilan dalam bekerja Menggambarkan keberhasilan dalam kelompok sosial Menggambarkan kebanggan terhadap diri NIC :

1.
Kegiatan:

Peningkatan harga diri:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Monitor pernyataan pasien tentang harga diri Anjurkan pasien utuk mengidentifikasi kekuatan Anjurkan kontak mata jika berkomunikasi dengan orang lain Kuatkan kekuatan pribadi yang pasien identifikasi Bantu pasien mengidentifikasi respon positif dari orang lain. Berikan pengalaman yang meningkatkan otonomi pasien. Fasilitasi lingkungan dan aktivitas meningkatkan harga diri.

8. 9.

Monitor frekuensi pasien mengucapkan negatif pada diri sendiri. Yakinkan pasien percaya diri dalam menyampaikan pendapatnya

10. Anjurkan pasien untuk tidak mengkritik negatif terhadap dirinya 11. Jangan mengejek/mengolok-olok pasien 12. Sampaikan percaya diri terhadap kemampuan pasien mengatasi situasi 13. Bantu pasien menetapkan tujuan yang realistik dalam mencapai peningkatan harga diri. 14. Bantu pasien menilai kembali persepsi negatif terhadap dirinya. 15. Anjurkan pasien untuk meningkatkan tanggung jawab terhadap dirinya. 16. Gali alasan pasien mengkritik diri sendiri 17. Anjurkan pasien mengevaluasi perilakunya. 18. Berikan reward kepada pasien terhadap perkembangan dalam pencapaian tujuan. 19. Monitor tingkat harga diri.

4.

Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tingkat percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan koping

1.
Indikator:

NOC: Koping

Mengidentifikasi pola koping yang efektif Mengidentifikasi pola koping yang tidak efektif Melaporkan bila stress berkurang Mengatakan dapat menerima keadaan Mencari informasi tentang penyakitnya dan perawatannya. Menggunakan dukungan sosial Ikut bekerja untuk mengurangi stres. Mengidentifikasi strategi koping Melaporkan kenyamanan psikologis Melaporkan pengurangan perasaan negatif

2.

NIC:

1.
Kegiatan:

Peningkatan koping:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Nilai dampak situasi pasien dalam peran dan hubungan. Anjurkan pasien mengidentifikasi gambaran yang realistik terhadap perubahan peran. Nilai pemahaman pasien tentang proses penyakit Nilai dan diskusikan respon alternative terhadap situasi. Gunakan ketenangan Berikan suasana yang menerima. Berikan informasi tentang diagnosa, perawatan dan prognosa penyakitnya. Berikan pasien pilihan yang realistic tentang aspek perawatan Cari pemahaman tentang persepsi pasien terhadap situasi yang penuh dengan stress.

10. Jangan mengambil keputusan ketika pasien dalam


keadaan stress berat.

11. Anjurkan pasien mengembangkan hubungan dengan


orang lain.

12. Anjurkan pasien berhubungan dengan orang lain


yang mempunyai kesamaan tujuan dan kesenangan.

13. Anjurkan mengikuti kegiatan sosial dan masyarakat 14. Anjurkan pasien menjalankan agamanya. 15. Evaluasi kemampuan pasien membuat keputusan. 16. Konfrontasi pasien apabila mengalami perasaan
ambivalen (marah/depresi)

17. Atur situasi yang meningkatkan otonomi pasien. 18. Bantu pasien mengidentifikasi respon positif dari
orang lain.

19. Gali cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah


dalam kehidupannya.

20. Dukung penggunaan mekanisme defensive. 21. Anjurkan pasien mengidentifikasi kekuatan dan
kemampuannya.

22. Bantu pasien memecahkan masalah dengan cara


yang konstruktif.

2.

Putus asa berhubungan dengan stress yang berkepanjangan

1.
Indikator:

NOC: Harapan

Mengekspresikan orientasi masa depan yang positif Mengekspresikan keyakinannya Mengekspresikan keinginan untuk hidup Mengekspresikan alas an untuk hidup Mengekspresikan keoptimisan Mengekspresikan percaya pada diri Mengekspresikan percaya pada orang lain Mengekspresikan ketenangan diri Mengekspresikan mengontrol diri sendiri Mendemonstrasikan semangat hidup

2.
Kegiatan:

NIC: Menanamkan Harapan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 6.

Bantu pasien dan keluarga mengidentifikasi harapan dalam kehidupannya. Demonstrasikan harapan dengan mengenalkan harga diri pasien dan melihat kondisi pasien hanya satu fase dari individu. Kembangkan koping mekanisme pasien. Bantu pasien menemukan dam memperbaiki tujuan dihubungkan dengan harapan. Bantu pasien mengembangkan spiritual diri. Hindari bertopeng kebenaran. Libatkan pasien aktif dalam perawatan diri. Ajarkan kepada keluarga tentang aspek positif dari harapan. Berikan kesempatan keluarga/pasien untuk melibatkan dukungan kelompok.

10. Ciptakan lingkungan yang menfasilitasi pasien untuk melakukan ibadah.


Defisit perawatan diri (Mandi/personal higine, makan) berhubungan dengan menurunnya motivasi

1.
Indikator:

NOC: Perawatan diri; Mandi

Tubuh tidak bau dan kulit terjaga Tertarik untuk mandi sesuai kemampuannya. Menjelaskan dan menggunakan metode mandi secara aman dan dengan kesulitan minimal Dimandikan oleh perawat tanpa kecemasan

NIC:

1.

Membantu Pasien memenuhi aktivitas sehari-hari

Kegiatan:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
Kegiatan:

Monitor kemampuan pasien untuk melakukan perawatan diri secara mandiri. Monitor kebutuhan pasien untuk melakukan kebersihan diri, berpakaian, toileting, makan. Berikan alat pribadi (deodoran, sikat gigi, sabun mandi) Berikan bantuan sampai pasien dapat melakukan secara mandiri Anjurkan pasien untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuannya. Anjurkan secara mandiri, tetapi intervensi bila pasien belum mampu. Ajarkan keluarga atau orang tua untuk menganjurkan mandiri, diberikan intervensi hanya apabila pasien tidak mampu. Tetapkan secara rutin aktivitas perawatan diri untuk pasien. Perhatikan umur pasien dalam meningkatkan aktivitas perawatan diri.

2.

Membantu perawatan diri: mandi

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Tempatkan handuk, sabun, dan peralatan mandi yang lainnya di kamar mandi. Berikan peralatan mandi (sikat gigi, sabun, pasta gigi,dll) Fasilitasi pasien menggosok gigi, jika perlu Fasilitasi pasien mandi sendiri, jika perlu Monitor kebersihan kuku, berdasarkan kemampuan merawat diri. Berikan bantuan sampai pasien mampu melakukan perawatan sendiri.

7.

Defisit perawatan diri (berpakaian, berhias, toileting, dan makan) berhubungan dengan menurunnya motivasi

a. NOC: Perawatan diri; makan Indikator:


NIC: Bantuan Perawatan diri Kegiatan:

Klien dapat melakukan perawatan diri Pasien puas dengan merencanakan perawatan diri dengan baik Diberikan bantuan oleh perawat dalam perawatan diri bila dibutuhkan.

1. 2. 3. 4.

Monitor kemampuan klien utnk kemandirian perawatan diri Monitor kebutuhan pasien untuk perlengkapan adaptif untuk kebersihan personal, berpakaian, berhias, toileting dan makan Sediakan kebutuhan yang diperlukan personal (deodorant, sikat gigi dan sabun mandi) Sediakan bantuan samai klien mampu secara penuh melakukan perawatan diri

5. 6. 7. 8. 9.

Bantu klien menerima kebutuhan ketergantungan Gunakan pengulanagn konsisten dari kesehatan rutinitas sebagi alat untuk menetapkan aktifitas Dukung klien utnuk melakukan aktivitas normal dari kehidupan sehari-hari sesuai tingkat kemampuan Dukung kemandirian, tapi intervensi saat klien tidak dapat melakkukan kegiatan. Ajarkan orang tua atau keluarga untuk mendukung kemandirian untuk mengintervensi hanya pada saat klien tidak dapat melakukan kegiatan

10. Tetapkan rutinitas untuk aktivitas perawatan diri 11. Pertimbangkan usia dari klien dengan mendukung aktivitas perawatan diri

DRAFF STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DEPRESI

DAFTAR PUSTAKA

Rawlins,Ruth P,Heacock E.Patricia,(1993). Clinical Manual of Psychiatric Nursing, Mosby Year Book

Stuart,Gail Wiscarz.Sundeen,(1998), Buku saku Keperawatan Jiwa ,alih bahasa, Achir Yani S Hamid,Editor Yasmin Asih, Ed 3, EGC,Jakarta

Mc Closkey,J.C. and G.M.Bulechek (1996).Nursing Interventions Classification (NIC). St Louis,Mosby

NANDA,2001, Nursing Diagnosis; Definition and Classification (2001-2002) Philadelphia

Nurjannah, Intansari (2004), Pedoman Penanganan pada Gangguan Jiwa, Mocomedia, yogyakarta

Johnson&M Maas. (2000).Nursing Outcomes Classification. St. Louis: Mosby