Anda di halaman 1dari 30

BBLR DAN PREMATUR

A. Definisi Dalam beberapa dasawarsa ini perhatian terhadap janin yang mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan sangat meningkat. Hal ini sangat disadari oleh karena masih tingginya angka kemaitan perinatal dan neonatal karena masih banyak bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir yang rendah. Kalaupun bayi menjadi dewasa, ia akan mengalami gangguan pertumbuhan baik fisik maupun mental. Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang berat lahirnya kurang dari 2500 gr 2499 gr (Ilmu Kesehatan Anak : 1997: 105). Dahulu bayi ini disebut bayi prematur kemudian disepakati untuk disebut Inpanet of low birth weight karena ternyata bayi-bayi tersebut tidak selamanya prematur/kurang bulan tetapi dapat cukup bulan maupun lebih bulan. B. Klasifikasi 1. Prematuritas Murni Masa gestasinya kurang dari 37 minggu berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau bisa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (MKB-SMK). 2. Disinaturitas Murni Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. C. Prematuritas Murni 1. Penyebab Prematuritas Murni a. Faktor Ibu

Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan : toksemia eravidarum, travina fisis, dan psikologis, kelainan bentuk uterus pendarahan.

Usia ibu dibawah usia 20 tahun dan pada multi gravida yang jarak antara kelahirannya terlalu dekat. Keadaan sosial ekonomi yang rendah.

b. Faktor Janin Hindramnion, kehamilan ganda umumnya akan mengakibatkan lahir bayi dengan berat badan rendah. 2. Karakteristik Klinis a. Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu. b. Bayi prematur menyeruppai janin. c. Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gr. d. Panjang badan sama dengan atau kurang dari 45 cm. e. Kuku panjangnya belum melewati ujung jari. f. Batas dahi dan kepala belum jelas. g. Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm. h. Lingkar dada sama atau kurang dari 30 cm. i. Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang. j. Rambut lanugo masih banyak. k. Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga seolah-olah tidak teraba tulang rawan daun telinga. l. Pada laki-laki testis belum turun kedalam skrotum. Untuk bayi perempuan klitoris menonjol, labia minora belum tetutup oleh labia mayora. m. Tumit mengkilap, telapak kaki halus. n. Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah. o. Fungsi syaraf yang belum atau kurang matang, mengakibatkan refleks hisap, menelan dan batuk lemah.

p. Jaringan mamae belum sempurna, demikian pula puting susu belum terbentuk dengan baik. q. Ringkih, lemah, kurus, dan tidak banyak bergerak. r. Mata bayi prematur biasanya tertutup rapat, dapat tampak relatif besar dibandingkan dengan ukuran wajahnya. s. Lengannya kecil sedangkan tungkainya kurus, juga punya bentuk yang tidak wajar. t. Bokongnya lancip dan perutnya tampak buncit. 3. Penyakit Bayi Prematur a. Syndrom gangguan pernapasan idiopatik Disebut juga penyakit membran, karena membran bialin akan melapisi alveolus paru. b. Pneumonia aspirasi Karena refleks menelan dan batuk belum sempurna. c. Pendarahan intraventrikuler Pendarahan spontan diventrikel otak kateral karena hipoksia otak. d. Fibroflasia retrolental Disebabkan oleh gangguan oksigen yang berlebihan. e. Hiperbilirubinemia Disebabkan faktor kematangan hepar sehingga konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk belum sempurna. D. Bayi Dismatur 1. Penyebab Dismaturitas a. Faktor Janin Kelainan kromosom. b. Faktor Ibu Toksemia, hipoksemia, ketergantungan (obat, narkotik, alkohol). 2. Karakteristik Klinis a. Pada pre-term, gejala fisik sama dengan bayi prematur murni ditambah dengan gejala retundasi pertumbuhan.

b. Pada bayi cukup bulan dan post-term gejala yang menonjol adalah wasting. 3. Penyakit bayi dismatur a. Syndrom Aspirasi Mekonium Hipoksia intrauterin akan mengakibatkan janin mengadakan Gasping dalam uterus. b. Hipoglikemia simptimatik Penyebabnya belum jelas, tetapi mungkin disebabkan oleh persendian glikogen yang sangat kurang. c. Asfiksia neonatorum d. Penyakit membran bialin. Diderita bayi dismatur pre-term masa gestasi kurang dari 35 minggu. Karena pertumbuhan surfaktan paru yang belum cukup. e. Hiperbilirubinemia Berat hati bayi dismatur kurang dibandingkan dengan bayi normal karena gangguan pertumbuhan hati. E. Perawatan Bayi BBLR 1. Pelestarian atau Penanganan Suhu Tubuh Suhu perawatan harus berada diatas 250C dengan bayi berat sekitar 2000 gr sampai 300C untuk bayi dengan berat kurang dari 2000 gr untuk tempat tidur terbuka. 2. Nutrisi Pada bayi BBLR adanya kelemahan otot lidah dan palatum serta perkembangan susunan syaraf yang tidak lengkap yaitu refleks menghisap dan menelan yang lemah mengakibatkan terjadinya kesukaran makan. Sehingga harus diberikan melalui kateter secara perlahan-lahan. Pada bayi dismatur tampak haus dan harus diberikan makanan dini untuk menghindari terjadinya hipoglikemia. 3. Mencegah infeksi

Pencegahan infeksi sangat penting dari ibu ke janin. Pada beberapa unit terdapat kebijaksanaan untuk memakai masker dan gaun ketika menangani bayi. 4. Pemberian Oksigen Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius pada bayi pre-term akibat jaringan paru-paru yang kurang berkembang, yaitu tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi O2 yang dianjurkan sekitar 30 35 % atau 3 4 liter. F. Patofisiologi Resti inefektif pola napas pada bayi prematur disebabkan oleh karena bayi prematur tidak dapat mengembangkan paru-parunya sehingga ia tidak dapat memperoleh zat asam yang diperlukan bagi fungsi tubuh yang normal. Karbondioksida yang merupakan gas limbah tubuh biasanya ditukar dengan zat asam segar dalam paru-paru, kemudian karbondioksida tersebut dihembuskan keluar. Jika karbondioksida tidak dibuang keluar, maka akan menumpuk dalam tubuh bayi prematur. Terdapat sedikitnya lemak coklat pada bayi prematur yang berfungsi sebagai produksi panas menyebabkan tidak terkontrolnya suhu tubuh yang stabil. Imunitas yang dimiliki oleh ibu akan diberikan kepada bayinya melalui plesenta selama bayi masih berada dalam kandungan. Setelah lahir, bayi memperoleh imunitas dari ibu melalui ASI, namun bayi prematur tidak mempunyai cukup waktu untuk mengembangkan daya tahan tubuhnya atau memperoleh imunitas dari ibunya secara sempurna. Bayi prematur hanya memiliki sedikit lemak, kulit yang tipis, rentan, serta mudah terkena penyakit dan ini adalah faktor yang dapat menyebabkan bayi prematur mudah terkena infeksi.

Etiologi ETIOLOGI

Prematur dan BBLR

Paru-paru belum matur

Lemak tubuh kurang/ sedikit

Asupan ASI inadekuat

Pertumbuhan tidak optimal

Kesulitan bernapas

Produksi panas menurun

Imunitas menurun

Lemak sedikit, kulit tipis

Dispneu, Apneu

Gangguan termoregulasi : Hipotermi

Resiko tinggi Infeksi

Inefektif pola napas

Sumber : Rosa M. Sacharin. 1996.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH A. Pengkajian 1. Anamnesa a. Identitas Klien Nama, tanggal lahir, jenis kelamin, tanggal masuk, tanggal pengkajian, b. Identitas Penanggung Jawab Nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat. 2. Riwayat Kehamilan dan Persalinan a. Riwayat Kehamilan Riwayat penyakit seperti hipertensi, toksemia, plasenta previa. Riwayat penggunaan obat-obatan, alkohol, rokok, kafein Riwayat malnutrisi Riwayat aborsi, kelahiran prematur.

b. Riwayat Persalinan 3. Pemeriksaan Fisik 1) Sistem Integumen Kulit berwarna merah muda, terdapat lanuga disekujur tubuh, kurus, kulit tampak transparan, halus dan mengkilap, suhu tubuh tidak stabil (hipotermi). Edema yang menyeluruh terjadi pada saat kelahiran. Kuku pendek belum melewati ujung jari. Rambut jarang atau mungkin tidak ada sama sekali, pembuluh darah terlihat jelas. 2) Sistem Kardiovaskuler Denyut jantung bayi rata-rata sekitar 120 160 x/ menit. 3) Sistem Gastrointestinal

Penonjolan abdomen, refleks menelan dan menghisap lemah, kaji apakah ada anus atau tidak.

4) Sistem Respirasi Jumlah pernapasan rata-rata antara 40 60 x/ menit diselingi dengan periode apneu. Pernapasan tidak teratur, dengan nasal melebar, mendengkur, retraksi (pada interkostal supraternal, sebsternal). 5) Sistem Persyarafan Refleks menelan, menghisap, dan batuk sangat lemah atau tidak efektif, gemetar dan mata tertutup atau mengatup apabila umur kehamilan belum mencapai 25 minggu. 6) Sistem Perkemihan Berkemih dapat terjadi setelah 8 jam kelahiran, sistem perkemihan belum siap sepenuhnya untuk menjalankan fungsinya. 7) SistemMuskuloskeletal Otot-otot bayi premature masih sangat lemah terutama otot-otot polos disaluran cerna, tulang kartilago telingan belum tumbuh dan sempurna, lembut dan lunak, gerakan lemah atau tidak aktif (lethargi). 8) Sistem Reproduksi Pada bayi prematur berjenis kelamin wanita, secara internal semua organ genital sudah terbentuk secara sempurna. Tetapi secara eksternal, bagian vulva pada bayi prematur wanita tampak tidak normal, labia minor dan labia mayor deringkali menonjol tampak mebenggak. Pada bayi prematur berjenis kelamin pria, penis dan skrotum sudah berkembang dan sempurna. Walaupun kecil, penis dan skrotum tersebut tampak normal. Testis mungkin masih terdapat dalam perut, belum turun sampai diskrotum. 9) Sikap

Ringkih, lemah, kurus dan tidak banyak bergerak.

B. Diagnosa Keperawatan 1. Inefektif pola napas berhubungan dengan imaturitas paru. 2. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tuhuh berhubungan dengan penurunan refleks menelan. 3. Gangguan termoregulasi : hipotermi berhubungan penurunan jumlah lemak tubuh. 4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan menurunnya imunologi (daya tahan tubuh). 5. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan bayi yang sakit dirumah. C. Intervensi Keperawatan 1. Inefektif pola napas berhubungan dengan imaturitas paru. Tujuan : Pola napas kembali efektif.
Intervensi Tempatkan pada posisi Rasional Mencegah penutupan jalan napas.

terlenatang dengan leher ekstensi dan hidung menghadap ke atas dalam posisi mengendus. Lakukan penghisapan seperlunya untuk menghilangkan mukus yang terakumulasi. Tempatkan bayi pada posisi Penghisapan menyebabkan bradikardi vegal. Posisi ini memberikan perbaikan telungkup bila memungkinkan. oksigen. Pemberian makanan dapat ditoleransi dengan baik dan lebih mengatur pada tidur dan istirahat karena secara rutin dapat saraf

bronkosposme stimulasi

bayi.

2. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tuhuh berhubungan dengan penurunan refleks menelan. Tujuan : pasien mendapatkan nutrisi yang adekuat.
Intervensi Timbang bayi setiap hari. Rasional Membandingkan berat badan dan asupan kalori yang dibutuhkan. Pertahankan cairan parenteral Bayi mendapatkan kalori dan nutrient essensial yang adekuat. Meminimalkan resiko respirasi

atau nutrisi parenteral total sesuai dengan instruksi. Kaji kesiapan pada bayi untuk dalam menyusu khususnya pernapasan. payudara,

mengkoordinasikan menelan dan

3. Gangguan termoregulasi : hipotermi berhubungan penurunan jumlah lemak tubuh. Tujuan : Suhu kembali normal.
Intervensi Pantau suhu pada bayi yang tidak stabil. Hindarkan situasi yang dapat mempredisposisikan bayi pada kehilangan panas, seperti terpapar udara dingin. dingin, jendela yang terbuka, mandi atau timbangan Rasional Mempermudah dalam mengkaji jika terjadi perubahan suhu. Mencegah berlebihan. kehilangan panas

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan menurunnya imunologi (daya tahan tubuh). Tujuan : Klien tidak terkena infeksi.
Intervensi Isolasi bayi lain yang mengalami infeksi sesuai dengan kebijakan instruksional. Pastikan bahwa semua alat yang kontak dengan bayi sudah bersih atau steril. Pastikan bahwa semua pemberi perawatan, menerapkan metode mencuci tangan sebelum dan sesudah memberikan perawatan pada bayi. Meminimalkan infeksi pada bayi. pemajanan pada Mencegah nasokomial. terjadinya infeksi Rasional Mencegah penularan infeksi

organisme yang dapat menyebabkan

5. Kecemasan

berhubungan

dengan

kurangnya

pengetahuan

tentang

perawatan bayi yang sakit dirumah. Tujuan : orang tua dapat mengetahui tentang penyakit bayi dan perawatan selanjutnya.
Intervensi Ajarkan kepada orang tua dan keluarga tentang perawatan yang dibutuhkan bayi. Berikan informasi pada orang tua terutama proses penyakit, prosedur perawatan, tanda dan gejala masalah pernapasan dan perawatan lebih lanjut. Dorong orang tua untuk Mendapatkan informasi kemajuan Membantu perawatan, orang tanda tua perbaikan untuk atau Rasional Menciptakan rasa percaya.

memahami aspek paling penting dari penyimpangan pada kondisi bayi.

berkunjung kesehatan.

ke

pusat-pusat

bayi secara maksimal.

IMUNISASI
A. Definisi Imunisasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan pada bayi dan anank-anak terhadap penyakit tertenru. Imunisasi merupakan salah satu pencegahan primer tingkat individual. Vaksin adalah kuman atau rukun yang dimasukkan kedalam tubuh bayi atau anak yang isebut antigen. Dalam tubuh antigen akan bereaksi dengan anti bodi sehinggga akan terjadi kekebalan juga ada vaksin yang dapat langsung menjadi racun tehadap kuman yang disebut antivaksin. B. Tujuan Pemberian Imunisasi Adapun tujuan dari pemberian imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu dan apabila anak terserang penyakit tidak mudah terserang penyakit. C. Klasifikasi Ada 2 jenis kekebalan (imunisasi) yang bekeja dalam tubuh bayi dan anak : 1. Kekebalan aktif Adanya kekebalan yang yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama. Kekebalan aktif dibagi dalam 2 jenis : Kekebalan aktif alamiah, dimana tubuh anak membuat zat penolak terhadap penyakit tersebut. Kekebalan aktif buatan, yaitu kekebalan yang dibuat tubuh setelah mendapat vaksin (imunisasi) misalnya anak diberi vaksin BCG, DPT, polio dan lainnya.

2. Kekebalan pasif Yaitu tubuh anak tidak membuat zat-zat antibody sendiri tapi kekebalan diperoleh dari luar setelah memperoleh zat penolak atau yang disebut antitoksin, sehingga prosesnya cepat tetapi tidak bertahan lama karena antitoksin akan menimbulkan kekebalan secepatnya sebelum tubuhnya tubuhnya membuat antitoksin sendiri, zat penolak yang kita suntikan akan segera hilang. Biasanya kira-kira dalam 2 minggu. Kekebalan pasif dapat dibagi dalam 2 jenis : Jenis pasif, yaitu kekebalan yang diperoleh oleh bayi sejak lahir dari ibunya. Kekebalan ini ini tidak berlangsung lama (kira-kira sekitar 5 bulan setelah bayi lahir). Kekebalan pasif buatan, dimana kekebalan ini diperoleh seteleh mendapatkan suntikan zat penolak, misalnya pemberian vaksinasi ATS (Anti Tetanus Serum). D. Jenis Imunisasi yang Lazim Diberikan Imunisasi aktif karena jauh lebih murah, sederhana, aman, dan lebih efektif. Dengan memperhatikan segi epidemilogi penyakit. Penyuediaan dana serta serta manfaatnya bagi masyarakat maka dapat dibedakan menjadi 3 jenis imunisasi aktif yaitu: 1. Imunisasi wajib Yang termasuk imunisasi wajib adalah pencegahan terhadap enam jenis penyakit yaitu; difteria, tetanus, TBC, poliomyelitis, dan campak. 2. Imunisasi anjuran Termasuk pencegahan terhadap penyakit hepatitis B, rubella, rabies, tifus, varisela, influenza, dan beberapa jenis meningitis. 3. Imunisasi masa depan

Golongan imunisasi masa depan termasuk pemakaian jenis vaksin terhadap penyakit diare karena rata virus, dengue malariae, dan AIDS, berbagai infeksi saluran nafas, penyakit gonorhoe, dan herpes serta mungkin pula terhadap penyakit keganasan. Diharapkan ditemukan jenis vaksin yang lebih baik dari pada yang telah ada sekarang seperti vaksin kolera oral yang sudah tahap percobaan dilapangan. E. Jenis Vaksin yang Digunakan di Indonesia 1. Vaksin dari kuman yang hidup yang dilemahkan seperti:L Virus campak dalam vaksin campak Virus polio dalam jenis sabin pada vaksin polio Kuman TBC dalam vaksin BCG 2. Vaksin dari kuman yang dimatikan seperti: Bakteri pertusis dalam DPT Virus polio jenis salk dalam vaksin polio Racun kuman seperti toxoid (TT), diphteria Toxoid, dalam DPT Vaksin yang dibuat dari protein seperti Hepatitis B F. Penatalaksanaan Imunisasi Terdapat 2 jenis vaksin yaitu vaksin untuk memperkebalkan seumur hidup hanya memerlukan penyuntikan tunggal dan 6 jenis vaksin lain yanbg memerlukan penyuntikan berulang. Yang termasuk kedalam jenis pertama atau seumur hidup, vaksin campak, rubella, dan cacar. Vaksin jenis kedua mencakup vaksin BCG, DPT, polio, hepatitis B, rabies, dan demam kuning. Dari segi efiseiensi akan sangat bermanfaat bila dapat diproduksi jenis vaksin pertama karena tidak perlu diberikan berulang kali sehingga cakupan imunisasinya ke masyarakat akan sangat tinggi. Vaksin rabies merupakan

vaksin yang aplikasinya sulit dan tidak praktis, karena suntikan ulangnya harus dilakukan setiap tahun. 1. Waktu pemberian imunisasi Waktu pemberian imunisasi tergantung dari beberpa faktor diantaranya status imunologik anak yaitu, sistem kekebalan harus sudah mampu membuat antibody.vaksin DPT dan polio tidak diberikan sebelum anak berumur 2-3 bulan karena pada umur tersebut bayi belum mampu memproduksi zat antibody terhadap DPT dan polio. Demikian pula terhadap adanya intervensi, pemberian imunisasi kurang effektif meskipun bukan merupakan kontraindikasi. Misalnya pada imunisasi morbili, parotis, rubella, masih adanya antibody ibu yang dapat mengeliminasi sebagai vaksin yang diberikan, imunisasi, baru diberikan setelah berumur 9-12 bulan. Selain itu harus diperhatikan pula umur kejadian penyakit, vaksin. 2. Jadwal pemberian imunisasi Jadwal pemberian imunisasi dapat berubah sesuai perkembangan efidemiologi penyakit, potensi vaksin dan kebijaksanaan pemerintah. Misalnya pada suatu saat, ketika imunisasi BCG tidak diperlukan lagi. Karena penyakit TBC sudah jarang atau sudah dapat diberantas sepenuhnya. Imunisasi cacar diberikan lagi karena penyakit cacar tidak sudah dianggap musnah. 3. Reaksi pemberian imunisasi Reaksi imunuisasi yang lazim adalah kemerahan, pembengkakan atau rasa nyeri ditempat suntikan, nyeri kepala dan demam ringan yang biasanya berlangasung 1-2 hari. Selain itu mungkin terdapat diare ringan pada pemberian vksin polio. Demam tinggi padda pemberian vaksin resiperfusis, atau nyeri sendi setelah imunisasi rubella pada remaja. 4. Kontra indikasi Secara umum kontraindikasi yang mutlak hanyalah pada keadaan sakit panas, karena defisiensi imun dalam pengobatan sitofatiska/kortikos teroid atau keadaaan spesifik lain yang telah ditentukan bagi setiap vaksin.

Contoh keadaan terakhir misalnya kejang bayi vaksin pertusis dan kehamilan pada pasien rubella. Batuk, pilek, demam, sub febris, dan diare ringn bukan merupakan kontraindikasi. 5. Pemberian vaksin secara kombinasi dalam beberapa hal pemberian kombinasi berbagai vaksin dibenarkan, justru merupakan vaktor yang sangat efisien seandainya lebih banyak kombinasi vaksin dapat diberikan pada waktu bersamaan. Jenis vaksin difteria, tetanus, pertusis, polio dan vaksin campak. Paratypis rubella (measles-mumps rubella/MMR) masih dalam taraf penelitian apakah vaksin Hepatitis B dapat dengan aman diberikan bersama dengan vaksin DTTP/MMR. 6. Penyimpanan Vaksin Cara penyimpanan harus sesuai dengan petunjuk dalam label. Setiap tidak dibenarkan penyimpanan vaksin dalam kotak pembuatan es (lemari es). Apabila penyimpanan tersebut memerlukan suhu 2-8 0C, rantai dingin yang mencakup masalah transportasi dan cara penyimpanan harus diawasi karena kaitannya dengan potensi vaksin dan kebersihan imunisasi untuk beberapa jenis vaksin. Cahaya matahari akan mengurangi potensi vaksin. Pengamanan vaksin ini selalu diperhatikan karena akan mempengaruhi; masyarakat. G. Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Pemberian Vaksin 1. Persyaratan pemberian vaksin pada bayi dan anak-anak yang sehat. pada bayi yang sedang sakit, misalnya sakit keras, dalam masa tunas suatu penyakit, defisiensi imunologi. Vaksin harus baik disimpan dalam lemari es dan belum lewat masa berlakunya. Pemberian imunisasi dengan teknik yang tepat. keberhasilan imunisasi, epidemologi dan respon

Mengetahui jadwal vaksinasi dengan melihat umur dan jenis imunisasi yang telah diterima. Meneliti jenis vaksin yang akan diberikan. Memberikan dosis yang akan diberikan.

2. Proses terjadinya reaksi pada tubuh bayi dan anak setelah imunisasi Reaksi local Biasanya terlihat pada tempat penyuntikan misalnya terjadinya pembengkakan kadang-kadang disertai dengan demam agak sakit. Reaksi umum Dapat terjadi kejang-kejang, shock dan lain-lain. Pada keadaan pertama (reaksi local) ibu harus tidak usah panic sebab panas akan sembuh dan itu berarti kekebalan sudah dimiliki oleh bayi. Tetapi pada keadaan kedua atau reaksi umum sebaiknya ibu konsultasi pada dokter atau bidan. H. Macam-macam Vaksin 1. Vaksin dan vaksoil pada anak: Difteria, tetanus dan pertusis. Pada vaksin tetanus dibagi menjadi 2 jenis: Vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif ialah toksoid tetanus, kuman tetanus yang telah dimakan ada 3; kemasan tunggal (TT), kemasan dengan vaksin dipteri (DT), kemasan dengan vaksin dipteri, tetanus dan pertusis (DPT). Kuman yang telah dimatikan yang digunakan untuk imunisasi pasif yaitu ATS (anti tetanus serum).

I. Jadwal Pemberian Vaksin Adapun jadwal imunisasi adalah sebagai berikut:


Jenis Antigen Imunisasi 1. BCG 2. DPT 3. Polio 4. Campak Jumlah Imunisasi 1X 3X 3X 1X Selang Waktu 4 8 Minggu 6 8 Minggu Usia Pemberian 0 11 Bulan 2 11 Bulan 2 11 Bulan 9 15 Bulan

Penguatan 1. DPT 2. Polio 3. DT 4. Td 1X 1X 1X 1X 1 - 2 tahun 1 - 2 Tahun 4 6 Tahun 12 14 Tahun Dilakukan setiap 10 tahun Imunisasi Anjuran 1. MMR 2. Hepatitis B 1X 3X 1 dan 5 bulan

J. Yang Harus Diperhatikan pada Pemberian Vaksin Untuk pemberian vaksin DPT yang dipersiapkan sebagai berikut: 1. Cara menyiapkan vaksin DPT adalah sebagai berikut: Sebelum membuka vaksin lihatlah terlebih dahulu labelnya. Kocok terlebihdahulu flakannya sehingga endapan tercampur.

Cara mengisi semprit DPT: Buka tutp metal dengan menggunakan gergaji ampul Usaplah karet penutup flakon dengan kapas basah Ambil spuit 2 cc Pasangkan jarum DPT ke semprit Isaplah udara kedalam spuit sebanyak 0,6 cc Turunkan jarum kedalam flakon dan isaplah vaksin sebanyak 0,6 cc kedalam semprit Cabut jarum dari flakon, semprit ditegakkan luruskan keatas untuk melihat gelembung udara, apabila ada gelembung uadara ketuklah pelan-pelan supaya gelembung naik keatas lalu dorong pistol sampai ukuran 0,5 cc Gunakan satu semprit dan satu jarum untuk setiap satu suntikan. 2. Mengatur posisi bayi: Bayi diangkat oleh ibunya Tangan kiri ibu merangkul bayi, menyangga kepala, bahu memegang sisi luar tangan kiri bayi Tangan kanan bayi melingkar kebadan ibu Tangan kanan ibu memegang kaki bayi dengan kuat 3. Cara pemberian penyuntikan
Macam-macam Vaksin BCG DPT DT Tetanus Polio Campak Hepatitis B Cara Pemberian Penyuntikan Disuntik intrakutan didaerah insersio M deltoldeus Disuntikkan intramuscular dibagian antero lateral paha Disuntikkan di intramuscular atau subkutan Disuntikkan intramuscular atau subkutan Vaksin diteteskan langsung ke mulut anak Disuntikkan subkutan Bayi ; disuntikkan secara intramuscular Anak ; disuntikkan secara intramuscular

dibagian paha

4. Hal-hal yang perlu diperhatikan Pemberian tiga kali dengan dosis 0,5 cc dengan internal 4 minggu secara 1M. Vaksin yang digunakan jangan sampai beku. Sisa vaksin yang sudah dibuka harus dibuang.

Dosis yang Digunakan


Vaksin BCG DPT Hepatitis B Polio Campak TT Dosis 0,05 cc 0,5 cc 0,5 cc 2 Tetes 0,5 cc 0,5 cc

K. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi Ada 7 penyakit infeksi pada anak-anak yang dapat menyababkan kematian/kecatatan walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Ketujuh penyakit tersebut adalah: Polio mielities (kelumpuhan). Campak (measkes). Pertusis (batuk rejan, batuk roohan). Difteri. Tetanus. Tuberculosis (TBC). Hepatitis B.

KARAKTERISTIK PRILAKU USIA BAYI DAN TUGAS PERKEMBANGAN USIA BAYI


A. Masa Kelahiran 0-2 Tahun a. Ciri khusus bayi 1 bulan : Menghisap merupakan refleks terpenting. Masih tidur terus. Bila ditelungkupkan tampak seperti merayap menggunakan kakinya kedepan. Sering tampak terkejut dan menangis dalam tidurnya. Belum mengetahui siapa dirinya dan siapa anda. Mendengar suara. Memandangi tangan. Mengangkat kepala. Tersenyum bila diberi senyuman. Reflek (reaksi emosional yang timbul diluar kemampuan/kesadaran bayi) contoh: seolah-olah melakukan gerakan yang mendekatkan tubuhnya yang mendekapnya). c. Ciri khusus bayi 3 bulan : Memandangi dan melambaikan tangan. Memasukkan benda-benda kedalam mulut.

b. Ciri khusus bayi 2 bulan :

Ocehan terdengar

awal perkembangan bahasa.

d. Ciri khusus bayi 4 bulan : Mengangkat tubuh dengan kedua lengannya dalam posisi tengkurap. Menganngkat kakinya keatas wajahnya dan membuka. Gerakan-gerakan menendang. Memukul-mukul air dengan tangan dan kaki ketika dimandikan. Reflek mulai hilang, mampu melakukan gerakan-gerakan yang lebih terarah. Dalam posisi tengkurap, bayi sudah menganngkat kepala. Membutuhkan banyak benda untuk dirasa. Kegembiraan mendominasi kehidupan emosi. Perkembengan kemampuannya meningkat, terhadap hal-hal yang ada disekitar. Merangkak, menggoncangkan dan memukul segala sesuatu. Berguling. Duduk dengan bantuan. Berbaring telungkup kepala dan dada diangkat dan berusaha melihat disekelilingnya. Menggigit-gigit. Perlu suara-suara untuk didengar. Berguling. Memasukkan segala sesuatu dimulut. Tersenyum pada wajah-wajah yang dikenal. Menjatuhkan, membuang, memukul-mukul segala sesuatu yang dipegangnya. g. Ciri khusus bayi 8 bulan : Berputar.

e. Ciri khusus bayi 5 bulan :

f. Ciri khusus bayi 6 bulan :

Melihat meinan yang dijatuhkannya. Memindahkan mainan dan tangan ketangan yang lain. Merangkak/mengesot sepanjang lantai. Menarik/mengangkat baadannya sendiri. Merangkak dilantai. Melakukan permainan yang mengandung interaksi seperti tepuk tangan silang. Mempelajari berbagai perbedaan bentuk dan pemakaian objek-objek. Belajar berdiri. Memasukkan jari-jari kelubang kecil yang terbuka. Bermain tepuk silang. Menarik tubuhnya keposisi berdiri. Mengeksplorasi lingkungan fisiknya. Memegang dan emgamati mainan/objek-objek dengan hati-hati.s Bermain berdampingan, namun belum dengan anak lain. Menunjukkan apeksi terhadap pengasuh utama, terutama orang. Menguasai motorik baru. Meletakkan tutp diatas tabung, tempat dan mengangkatnya kembali. Sudah dapat berjalan namun tangan masih kaku. Menyelidiki dan bereksplorasi. Membalik-balik halaman buku. Berjalan-jalan sambil memegang tangan anda. Mendengarkan lagu-lagu sederhana.

h. Ciri khusus bayi 9 bulan :

i. Ciri khusus bayi 10 bulan :

j. Ciri khusus bayi 11 bulan :

k. Ciri khusus bayi 12 bulan :

l. Ciri khusus bayi 13 bulan :

m. Ciri khusus bayi 14 bulan :

Melempar bola. Bermain mobil-mobilan. Main sembunyi-sembunyian. Membangun sesuatu dengan balok-balok kayu. Membuka tutup tinjunya. Bisa menunjukkan anggota tubuhnya, contoh : mata, hidung. Berjalan sendiri. Mengisi dan mengosongkan tempat. Bermain dengan cangkir. Meniru tingkah laku anda.

n. Ciri khusus bayi 15 bulan :

o. Ciri khusus bayi 16 bulan : Bergelut dengan mainan. Menjinjing sesuatu saat berjalan. Meniru tingkah laku anda atau anggota keluarga yang lain. Main air. Melambaikan tangan. Membawa dan menggerakkan sesuatu. Main kejar-kejaran. Memanjat. Bermain dalam ember atau bak mandi. Banyak mempergunakan keterampilan tangan. Sudah mampu memahami kedalaman dengan baik. Anak senang berimajinasi. Berayun-ayun.

p. Ciri khusus bayi 17 bulan :

q. Ciri khusus bayi 18 bulan :

r. Ciri khusus bayi 19 bulan :

Belajar memakai bentuk. Bermain air dan pasir. Mengetuk-ngetuk. Berimajinasi. Bermain dan melibatkan interaksi dengan orang lain yang lebih tua. Melepas dan memasang kembali. Bermain yang melibatkan gerakan kaki. Bermain dengan teman sebaya. Menarik dan mendorong. Melempar. Meniru. Berimajinasi. Membangun. Mampu memahami bentuk. Berayun. Mengetuk-ngetuk. Membongkar pasang. Bermain dengan anak yang lebih tua. Menarik dan mendorong. Berayun. Menari, berlari, berputar dan mengayunkan tubuh keatas kebawah. Memutar bermain sambil berkata-kata.

s. Ciri khusus bayi 20 bulan :

t. Ciri khusus bayi 21 bulan :

u. Ciri khusus bayi 23 bulan :

v. Bermain dengan teman sebaya :

B. Faktor yang Mendasari Aktifitas Anak

Ada 3 faktor yang mendasari aktifitas anak yaitu peranan, naluri dalam perbuatan, reflek dan aktifitas tubuh, kebutuhan, dan kehendak. Kebutuhan yang ada pada anak ialah : Kebutuhan akan kasih sayang. Kebutuhan akan rasa aman, terlindung jauh dari perasaan takut, cemas. Kebutuhan akan kebebasan menyatakan diri. Lingkungan teman-teman sebaya. Segi keamanan. Aktifitas-aktifitas rekreasi. Fase-fase perkembangan moral anak.

Beberapa aspek monolitas pada anak :

C. Tumbuh Kembang Anak (dr. Soetjiningsih, DSAK, 1994) Tahap-tahap tumbuh kembang anak : 1. Masa bayi usia 0 1 tahun a. Masa neonatal usia 0 28 hari b. Masa neonatal lanjut : 8 28 hari 2. Masa pra sekolah : usia 1 6 tahun 3. Masa sekolah : usia 6 18/20 tahun a. Masa pra remaja : usia 6 10 tahun b. Masa remaja Masa remaja dini : Wanita, usia 8 13 tahun. Pria, usia 10 15 tahun.

Masa remaja lanjut :

Wanita, usia 13 18 tahun. Pria usia 15 20 tahun

KOMPONEN ZAT GIZI


1. Kebutuhan Energi dan Protein/hari
Umur 0 6 Bulan 7 12 Bulan 1 3 Tahun 4 6 Tahun 7 9 Tahun Pria 10 12 Tahun 13 15 Tahun 16 19 Tahun Perempuan 30 40 53 135 152 160 1950 2200 2360 46 57 62 BB (Kg) 5,5 8,5 12 18 23,5 Tinggi Badan 60 71 89 108 120 Energi 560 800 1220 1720 1860 Protein (gr) 12 15 23 32 36

10 12 Tahun 13 15 Tahun 16 19 Tahun

32 42 46

139 153 154

1750 1900 1850

49 47 47

2. Kebutuhan Cairan Bayi dan Anak


Umur 3 Hari 10 Hari 3 Bulan 6 Bulan 9 Bulan 1 Tahun 2 Tahun 4 Tahun 6 Tahun 10 Tahun 14 Tahun 18 Tahun Rata-rata BB 3,0 3,2 5,4 7,3 8,6 9,5 11,8 16,2 20,0 28,7 45,0 54,0 Jumlah air dalam 24 jam 250 300 400 500 780 850 950 1100 1100 1250 1150 1300 1350 1500 1600 1800 1800 2000 2000 2500 2200 2700 2200 2700 Jumlah air/kg BB dalam 24 jam 80 100 125 150 140 160 130 155 125 145 120 135 115 125 100 100 90 100 70 85 50 65 40 50

3. Kebutuhan Vitamin/hari
Umur 0 6 Bulan 7 12 Bulan 1 3 Tahun 4 6 Tahun 7 9 Tahun Pria 10 12 Tahun 13 15 Tahun 16 19 Tahun Perempuan 10 12 Tahun 13 15 Tahun 16 19 Tahun 32 40 46 139 153 154 500 500 500 0,7 0,8 0,8 0,9 1,0 0,9 7,7 8,4 8,1 1,0 1,0 1,0 30 30 30 30 40 53 135 152 160 450 600 600 0,8 0,9 1,0 1,0 1,1 1,2 8,6 9,7 10,0 1,0 1,0 1,0 30 40 40 BB (kg) 5,5 8,5 12 18 23,5 TB (cm) 60 71 89 108 120 Vit A (RE) 350 350 350 360 407 Tiamin (mg) 0,3 0,4 0,5 0,7 0,7 Riboviami n (mg) 0,3 0,4 0,6 0,9 0,9 Niasin (mg) 2,5 3,8 5,4 7,6 8,1 B12 (mg) 0,1 0,1 0,5 0,7 0,9 Vit C (mg) 25 25 25 25 25

4. Kebutuhan Mineral/hari
Umur 0 6 Bulan 7 12 Bulan 1 3 Tahun 4 6 Tahun 7 9 Tahun Pria 10 12 Tahun 13 15 Tahun 16 19 Tahun Perempuan 10 12 Tahun 13 15 Tahun 16 19 Tahun 32 42 46 139 153 154 700 700 600 450 450 450 14 19 25 15 15 15 150 150 150 30 40 53 135 152 160 700 700 600 500 500 500 14 17 23 15 15 15 150 150 150 BB (kg) 5,5, 8,5 12 18 23,5 TB (cm) 60 71 89 108 120 Kalsium (mg) 600 400 500 500 500 Fosfor (mg) 200 250 250 350 400 Besi (mg) 3 5 8 9 10 Seng (mg) 3 5 10 10 10 Iodium (mg) 50 70 70 100 120