Anda di halaman 1dari 20

MANAJEMEN PERKANDANGAN AYAM PEDAGING PARENT STOCK DI PT.

CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk UNIT 8 PROBOLINGGO

Laporan Pelaksanaan Praktek Kerja Lapang

Oleh : ABDUL MAJID (105050101111042)

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

MANAJEMEN PERKANDANGAN AYAM PEDAGING PARENT STOCK DI PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk UNIT 8 PROBOLINGGO

Laporan Pelaksanaan Praktek Kerja Lapang

Oleh : ABDUL MAJID (105050101111042)

Proposal Praktek Kerja Lapang ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

MANAJEMEN PERKANDANGAN AYAM PEDAGING PARENT STOCK DI PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk UNIT 8 PROBOLINGGO

Laporan Pelaksanaan Praktek Kerja Lapang

Oleh : ABDUL MAJID (105050101111042)

Mengetahui Universitas Brawijaya Fakultas Peternakan Program Studi Peternakan Ketua

Menyetujui Dosen Pembibmbing

Dr. Ir. Sucik Maylinda, MS. NIP . 19560928 198103 2 003 Tanggal :

Heli Tistiana, SPt.MP NIP . 19740826 200812 2001 Tanggal :

Di PT. Caroen Pokhpand Jaya Farm Tbk Pimpinan

Tanggal

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Analisis Situasi Perkembangan peternakan di Indonesia mulai maju baik itu dari segi keterampilan beternak maupun teknologi yang digunakan. Penerapan penerapan teknologi peternakan sudah mulai dilakukan terutama di perusahaan yang sudah maju. Peternakan unggas sudah memiliki kemajuan yang sangat pesat di Indonesia terbukti dengan banyaknya perusahaan unggas yang sudah modern baik itu di bidang breeding, produksi pakan maupun pemeliharaannya. Unggas, khususnya ayam merupakan salah satu pensuplai daging untuk mencukupi kebutuhan daging nasional. Oleh sebab itu disamping pemerintah mengembangkan ternak sapi untuk mencukupi kebutuhan daging dalam negeri, pemerintah juga mengembangkan peternakan ayam. Hal ini dikarenakan ayam memiliki umur yang lebih singkat dan pemeliharaanya tidak terlalu sulit. Dalam mengembangkan peternakan ayam perlu memiliki pengetahuan yang lebih, baik itu dari segi teori maupun praktik. Peternakan rakyat yang usahanya masih sekala rumah tangga masih menggunakan peralatan peralatan sederhana dan relative murah dalam pemeliharaan dan produksinya. Hal ini berbeda dengan peternakan yang sudah berskala industry yang peralatannya telah menggunakan mesin mesin yang canggih. Hal ini merupakan salah satu hal yang membedakan hasil produksi peternakan rakyat dengan peternakan industry baik dari segi kwalitas maupun kuantitasnya. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk adalah perusahaan penghasil pakan ternak, Day Old Chicks dan makanan olahan terbesar di Indonesia. Saat ini perusahaan memfokuskan usahanya pada kegiatan agro-business yang mencakup poultry business, dari memproduksi pakan ternak berkualitas, pembibitan ayam yang cepat tumbuh dan tahan penyakit serta menghasilkan produk ayam olahan berkualitas tinggi. Disamping itu saat ini perusahaan sudah memiliki banyak anak cabang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Perusahaan

pembibitan

merupakan

salah

satu

faktor

penunjang

keberhasilan suatu usaha peternakan. Untuk menghasilkan bibit yang bermutu maka diperlukan pengelolaan pembibitan ayam yang baik agar diperoleh telur tetas dan DOC yang baik sehingga peran perusahaan pembibitan dalam rangka menghasilkan final stock yang berkualitas dapat memenuhi permintaan pasar. Usaha peningkatan produk peternakan unggas dimulai dari peningkatan kualitas ayam bibit atau Parent Stock sebagai penghasil ayam Final Stock. Manajemen bibit perlu ditingkatkan untuk menghasilkan DOC (Day Old Chick) yang berkualitas baik. Bagian yang terpenting dalam suatu peternakan adalah kandang dan perkandangan. Kandang merupakan suatu unit tempat unggas berdiam dan berproduksi. Pada pemeliharaan secara intensif untuk membatasi aktifitas ayam, pemeliharaan dilakukan di dalam kandang. Kandang harus mampu menyediakan suatu lingkungan yang nyaman bagi ternak sehingga memudahkan pengelolaan dan produktifitas ayam menjadi lebih optimal. Peralatan kandang yang digunakankan juga harus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan. Manajemen kandang sangat penting untuk menunjang keberhasilan suatu usaha peternakan.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, maka perlu kita ketahui manajemen perkandangan ayam pedaging parent stock di PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk.

1.3 Tujuan PKL Kegiatan Praktek Kerja Lapang ini bertujuan untuk mempelajari manajemen perkandangan ayam pedaging parent stock di PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk, serta membandingkan teori yang telah didapat dengan keadaan pada perusahaan secara langsung tentang manajemen perkandangan ayam pedaging parent stock di PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk.

1.4 Manfaat 1.4.1 Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang manajemen perkandangan ayam pedaging parent stock di PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk. 1.4.2 Untuk memperoleh wawasan, keterampilan, kemampuan manajerial dan pengalaman tentang manajemen perkandangan ayam pedaging parent stock di PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ayam Pedaging Menurut Rasyaf (1993) ayam pedaging (broiler) adalah ayam jantan maupun betina muda yang berumur kurang dari 8 minggu ketika dijual serta mempunyai dada lebar dengan timbunan daging yang baik dan banyak. Ayam broiler dikenal dengan sebutan final stock yang dipelihara sebagai ayam komersial.

2.2 Perkandangan Menurut Indarto (1990), Kandang merupakan bangunan tempat tinggal unggas mulai dari sejak awal kehidupan sampai diafkir. Oleh karena itu bangunan kandang harus dirancang dengan baik sehingga nantinya ayam dapat memberi produksi yang optimal. Fungsi kandang ialah sebagai tempat beraktifitas ayam, berlindung, tempat berproduksi, makan, minum dan tempat berkembang biak. Sudaryani dan Santoso (2004) mengatakan bahwa keuntungan

menggunakan kandang tertutup yaitu memudahkan pengawasan, pengaturan suhu dan kelembaban, pengaturan cahaya, mempunyai ventilasi yang baik serta penyebaran penyakit mudah diatasi. Berdasarkan fase pemeliharaannya, kandang yang digunakan oleh perusahaan menggunakan sistem brood-grow-lay.

2.2.1 Fungsi kandang Kandang berpungsi untuk melindungi ternak dari panasnya matahari, hujan, angin, dan udara yang dingin serta gangguan binatang buas, memudahkan tatalaksana yang meliputi pemeliharaan, pemberian pakan dan minum serta pengawasan terhadap kesehatan ternak, memudahkan tenaga kerja dalam penanganan kegiatan sehari-hari (Cahyono, 1944) Menurut Malik (2001), ditinjau dari fungsinya, kandang mempunyai pungsi sebagai berikut: a. Pelindungan dari kondisi klimat yang tidak sesuai seperti cahaya matahari langsung, hujan, angin yang kencang.

b. Perlindungan dari hewan liar seperti ular, kucing atau musang. c. Tempat unggas melakukan kegitan rutin seperti makan, minum dan beristrahat. d. Tempat unggas tumbuh, produksi dan berkembang. e. Tempat tenga kerja melakukan menanganan unggas.

2.2.2 Jenis Kandang a. Kandang Postal Kandang postal merupakan kandang pemeliharaan terhadap ternak unggas yang berbentuk seperti rumah, sekliling kandang tertutup oleh pagar rumah. Kandang ini tidak mempunyai kandang pengumbaran dimana ayam tersebut dimasukkan kedalam kandang maka ayam tersebut selamanya akan tinggal didalamnya dan biasa hanya dipakai untuk ayam pedaging juga untuk ayam penjantan yag digunakan untuk pemeliharaan pembibitan( Rasyaf, 1990) Menurut Malik (2001) kandang postal adalah kandang tampa halaman umbaranm. Unggas sepanjan hari berada dalam kandang . kandang postal ini pada lantainya dilengkapi dengan litter, oleh karena itu kandang ini disebut juga kandang litter. b. Kandanga Ren Kandang ren ini merupakan kandang yang dilengkapi dengan

halaman umbaran, jadi pada kandang ini, kandang terbagi menjadi dua bagian, pertama kandang utama yaitu bagunan kandang beratap beserta perlengkapan kandangnya seperti tempata pakan, minum dan sarang bertelur. Kedua bagian umbaran yaitu bagian halaman diluar kandangutama dan dikelilingi pagar yang digunakan unggas ekserxeis( Malik, 2001). c. Kandang Batteray Kandang batteray yaitu kandang yang bentuk dan susunannya terdiri dari beberapa sangkar ataau ruang kandang. Dalam kandang ini setiap sangkar atau ruang kandan dihuni oeh satu ekor ayam, kandang yang diatur berderet memanjang. Kandang ini memang tepat digunakan untuk pemeliharaan ayam petelur, selain perawatanya praktis juga dapat menjamin ketenangan dan mencegah kanibalisme pada ayam, dengan demikian produksi telur dapat lebih

tinggi. Ayam yang dipelihara dalam kandang ini geraknya sangt terbatas, maka peternak harus sering mengontrol mengenai kebutuhan makan dan minum ntuk kehidupan ayam tersebut (Rasyaf, 1990) Menurut Malik (2001), kandang btteray merupakan kandang unggas berbentuk sangkar dan disusun berderet-deret dan bertingkat. Sangkar btteray bisa disusun dengan berbagai cara tergantung lahan dan selera pemilik. Penetaan sangkar bateray diantara dengan cara stair step, double deck stair step, Triple deck stair step, Single deck, Flat deck, Double deck offset, Triple deck offset, Vertikal double deck , Vertikal triple deck. Beberapa prinsip yang harus dicapai dalam penyusunan sangkar bateray adalah: 1. 2. 3. 4. Mudah member pakan dan minum Mudah untuk membersihkan tempat minum dan pakan Mudah membersihkan kotoran unggas yang jatuh ke bawah kandang. Tidak menggangu unggas setiap diadakan manajemen

Kandang batteray biasanya juga dibedakan menjadi dua macam yaitu kandang battery individu ( satu sangkar satu ayam) dan kandang koloni ( satu sangkar diisi lebih dari satu ekor). Kandang koloni merupakan kandang yang bentuknya sama dengan kandang batteray hanya saja pada kandang ini tampa ada pagar-pagar penyekat seperti kandang betterai. Pada kandang koloni ini satu ruangan dapat memuat puluhan ekor ayam, sebagai tempat makan dan minum dapat diletakkan diluar kandang ebagaimana pada kandang batteray. Pengunaan pada kandang koloni ini dapat digunakan untuk memlihara ayam petelur maupun ayam pedagiang (Sudaryani, 1994).

2.2.3 Sanitasi Kandang Sanitasi umumnya dibagi menjadi 2 yaitu dekontaminasi dan desinfeksi. Dekontaminasi yaitu sebagai fisik untuk menghilangkan berbagai bahan biologis dan anorganik dari permukaan suatu bangunan termasuk kandang dan peralatan. Sedangkan desinfeksi adalah proses penghancuran mikroorganisme patogenik (Tabbu, 2006).

2.2.4 Dinding Kandang Dinding kandang mempunyai dua fungsi yaitu untuk membatasi ruang gerak ayam dan untuk melindungi ayam dari cuaca buruk. Didnding kandang sebaiknya memungkinkan pergantian udara sehingga udara dalam kandang terasa nyaman. Kontruksi kandang selain tergantung pada keadaan iklim setempat juga ditentukan oleh fase pemeliharan ternak ayam. Anak ayam lebih membutuhkan temperature yang lebih hangat dari pada ayam dewasa (Malik, 2001). Yang perlu diperhatikan pada bentuk konstruksi dinding ini adalah: a. Didalam ruangan kandang tersedia udara yang segar dan nyaman b. Cahaya matahari dapat masuk didalam rungan kanadang, sehingga kandang menjadi terang dan kering. Tetapi hujan dan angin langung atau angin kers tidak bisa masuk. c. Unggas didalam ruangan kandang dapat dilihat dengan mudah.

2.2.5 Lantai Kandang Menurut Rasyaf (2003), keuntungan sistem litter adalah menurunkan peluang ayam lepuh dada, sedangkan kerugiannya yaitu alas kandang mudah dan cepat basah dan menimbulkan bau tidak sedap yang dapat menyuburkan bibit penyakit terutama CRD (Chronic Respiratory Disease).

2.2.6 Arah Hadap Dan Kostruksi Kandang Dalam mendirikan kandang, lokasi kandang harus jauh dari pemukiman, kandang mampu memberikan kemudahan dalam pelaksanaan aktifitas baik diluar maupun di dalam kandang, dan kandang mampu memberiakan kenyamanan bagi ternak, oleh karena itu lokasi kandang, kontruksi kandang dan ukuran kandang harus diberi perhatian yang khusus (Sudarmono. 2003) Menurut Fadilah dkk (2007), semua bentuk kandang yang dibuat ditujukan untuk ayam bisa hidup dengan nyaman dan aman dari lingkungan, sehingga ayam dapat berproduksi dengan optimal. Konstruksi kandang meliputi, atap, dinding, lantai dan sistem ventilasi pada kandang.

2.2.7 Suhu dan Kelembaban Kandang Card dan Nesheim (1972) menyatakan bahwa semakin tinggi temperatur maka akan berpengaruh pada penurunan konsumsi pakan unggas. Penurunan konsumsi pakan tersebut berdampak pada produktivitas unggas. Suhu dan kelembaban yang terkontrol diharapkan dapat meningkatkan konsumsi pakan, sehingga penampilan dan produktivitas unggas dapat dimaksimalkan dan dari segi ekonomis dapat menurunkan biaya investasi. Pemberian minum juga dilakukan secara otomatis dan ad-libitum. Menurut Jahja (1995), suhu yang ideal untuk pemeliharaan ayam berkisar antara 18-27 oC.

2.2.8 Atap Kandang Atap kandang berfungsi untuk melindungi ternak yang ada di dalam kandang dari panas matahari langsung dan curah hujan. Menurut Priyatno (2002), konstruksi ataupun bahan yang dipasang sebagai atap perlu dipilih dari jenis yang ringan, tahan panas, tidak menyerap atau menghantar panas, tidak bocor, dan tahan terhadap curah hujan yang lebat. Menurut pendapat Rasyaf (2003), atap sistem monitor dapat meningkatkan fungsi ventilasi. Di bawah atap kandang terdapat langit-langit kandang yang terbuat dari terpal. Tinggi langit-langit kandang dari lantai yaitu 2,1 m.

2.2.9 Sistem Ventilasi Berdasarkan sistim ventilasi atau dinding kandang, ada dua macam yaitu kandang tertutup (closed house) dan kandang terbuka (opened house). Kandang tertutup adalah kandang yang semua dinding kandangnya tertutup. Sistim ventilasi atau pergerakan udaranya tergantung sepenuhnya pada kipas yang dipasang. Kandang terbuka adalah semua dinding kandangnya terbuka. Kondisi dalam kandang sangat dipengaruhi oleh kondisi luar kandang (Santoso dan Sudaryani, 2010). Menurut Priyatno (2002), ventilasi adalah jalan keluar masuknya udara sehingga udara segar dari luar dapat masuk untuk menggantikan udara yang kotor di dalam kandang. Menurut Priyatno (2002), ventilasi adalah jalan keluar masuknya udara

sehingga udara segar dari luar dapat masuk untuk menggantikan udara yang kotor dari dalam kandang.

2.2.10 Ukuran dan Kepadatan Kandang Penggunaan kandang harus disesuaikan kapasitas kandang. Populasi yang terlalu padat mengakibatkan ayam menderita cekaman (stress) sehingga penurunan laju pertumbuhan dan produksi telur (Suprijatna et a., 2005). North dan Bell (1990) menyatakan bahwa kepadatan kandang pada periode layer pada kandang sistem terbuka adalah 3,6 ekor/m2. Dari sini jelas terlihat bahwa kepadatan kandang pada kandang sistem tertutup atau closed house sytem dapat ditingkatkan.

2.2.11 Bahan dan Alat Kandang Bahan kandang hendaknya dibuat dari bahan-bahan yang harganya relative murah tetapi diharapkan berkualitas misalnya bamboo, kayu ataupun papan bekas, kecuali untuk ternak yang berkapasitas diatas 7000 ekor ke atas sebaiknya

digunakan bahab-bahan yang kualitasnya permanen misalnya untuk kandang batteray ayam petelur priode3 layer digunakan bahan bakunya untuk kandang adalah besi kawat (Rasyaf, 1990). Menurut Malik (2001), beberapa fasilitas didalam kandang yang harus disediakan adalah tempat pakan dan tempat minum, alat pemanas induk buatan, tempat bertelur dan lampu penerangan. Untuk system lampu postal untuk petelur dewasa harus dilengkapi untuk sarang telur dan tempat pengerang. Bentuk ukuran dan jumlah peralatan yang akan dipergunakan harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Sesuai dengan umur unggas b. Mudah dicapai oleh unggas c. Tidak mudah dikotori dan mudah dibersihkan d. Tidak menggangu tatalaksana e. Mencukupi jumlah unggas agar tidak saling berebutan Peralatan kandang diperlukna meliputi indukan buatan, tempat pakan dan minum, tirai pembatas, lampu listrik atau minyak dan thermometer. Dalam hal ini

peralatan bias berpengaruh terhadap nafsu makan dan dapat juga mempengaruhi tingkat produksi. Selaim itu peralatan yang tahan lama juga menambah nilai ekonomis yang nantinya peralatan ini bisa digunakan untuk periode selanjutnya (Sudaryani, 1994).

BAB III METODE KEGIATAN

3.1 Lokasi dan Waktu Kegiatan Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) dilaksanakan di PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk unit 8 Probolinggo. Waktu pelaksanaan PKL ialah mulai tanggal 19 Agustus sampai 19 September 2013.

3.2 Khalayak Sasaran Khalayak Sasaran dari Pelaksanaan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah tentang manajemen perkandangan ayam pedaging parent stock di PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk.

3.3 Metode Kegiatan Metode yang digunakan dalam praktek kerja lapang ini adalah berpartisipasi aktif, wawancara langsung dan diskusi dengan staf dan karyawan, kunjungan dan observasi langsung dilengkapi dengan foto, dengan pengertian sebagai berikut : 1. Observasi. Metode Observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data, fakta dan informasi yang diperlukan. Dari Observasi yang dilakukan didapatkan data tentang keadaan umum lokasi PKL, luas area lokasi, sehingga memperoleh data yang sesuai dengan kondisi yang ada di lapang. Data yang diperleh pada saat observasi adalah data sekunder. 2. Partisipasi aktif. Partisipasi merupakan metode pengembangan data dengan ikut aktif dalam semua kegiatan yang berhubungan, baik secara langsung ataupun secara tidak langsung, dengan semua aspek yang berkaitan dengan manajemen perkandangan ayam pedaging parent stock di PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk. Partisipasi aktif yang dilakukan pada waktu PKL meliputi mengamati konstruksi sistem perkandangan dan mempelajari pengoperasionalan sistem perkandangan di PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk.

3. Wawancara Wawancara adalah metode pengumpulan data berupa data primer dengan cara melakukan Tanya jawab (wawancara langsung ), yang dilakukan secara sistematis dan berdasarkan daftar pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya yang sesuai dengan tujuan kegiatan.

3.4 Analisis Hasil Kegiatan Data yang diperoleh dari kegiatan Praktek Kerja Lapang ini nantinya akan dianalisis secara deskriptif, yaitu membandingkan antara teori dengan data dan fakta yang ada dilapang. Sehingga dapat memberikan gambaran nyata mengenai manajemen perkandangan ayam pedaging parent stock di PT. CAROEN POKHPAND JAYA FARM Tbk. Data yang digunakan meliputi data primer dan sekunder. Data primer ini diperoleh dari pengamatan lapang secara langsung dan dari hasil wawancara dengan staf karyawan, sedangkan data sekunder diperoleh dari catatan catatan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.

BAB IV Hasil dan Evaluasi Kegiatan

4.1 KeadaanUmumdanLokasipeternakan

4.2 FungsiKandang Fungsi kandang

4.3 Jenis Kandang

4.4 Sanitasi Kandang Sanitasi yang dilakukan pada breeding farm ini sudah cukup baik, yaitu dengan memperhatikan biosecurity. Dimulai dari masuknya carteker kedalam kawasan perusahaan harus melewati ruang sanitasi dan mengganti baju yang telah disediakan. Berikutnya sebelum masuk kandang carteker juga harus masuk ruang sanitasi dan mengganti pakaian lagi. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan sanitasi lingkungan kandang yang baik dan teratur (Winarto, 1985). Sanitasi kandang sangat diperhatikan untuk menjaga kebersihan kandang dan timbulnya penyakit dapat dicegah sedini mungkin. Penanaman pepohonan disekitar kandang berfungsi untuk mencega polusi udara (Sudaryani dan Santoso, 2001). Daerah sekitar lokasi peternakan banyak ditanami pohon mangga dan tanaman lain. Tanaman dilokasi peternakan ini menunjang ketersediaan udara segar. Hembusan udara segar dari luar kandang dapat menambah o2 (berguna untuk produksi) didalam kandang (Rasyaf, 1994)

4.5 Dinding Kandang Dinding kandang terbuat dari beton dengan tinggi 60 cm, konstruksi dinding menggunakan sistem closed house sehingga udara didalam kandang tidak lembab dan berguna untuk memberi kenyamanan dan sirkulasi udara dalam kandang tersebut.

Dinding kandang berfungsi sebagai pelindung keberadaan ayam dari gangguan luar dan penghalang agar ayam tetap berada didalam kandang. Dengan demikian dinding kandang harus terbuat dari bahan yang kuat dan rapat, tetapi tetap memberikan kemungkinan kondisi yang nyaman bagi lingkungan dalam kandang. Bahan dinding yang terbuat dari beton baik digunakan dan tahan lama, meskipun secara ekonomis lebih mahal.

4.6 Lantai Kandang Lantai kandang dilokasi peternakan bertipe kombinasi, yaitu antara slatt dan litter. Slatt yang digunakan dari bahan plastik tipe 7, sedangkan litter bearasal dari sekam atau kulit padi dan serutan kayu. Hal ini dilakukan agar ayam merasa lebih hangat dan dapat menyerap air serta ekskreta ayam. Menurut Zumrotun (2012) Litter merupakan alas lantai kandang yang berfungsi untuk menampung dan menyerap air dari feses, meminimalkan terjadinya lepuh dada dan kaki serta untuk menjaga kehangatan kandang. Ketebalan litter juga harus diperhatikan . Rasyaf (2004) Menyatakan bahawa tebal litter jangan lebih dari 8 cm untuk daerah dingin dan 5 cm untuk daerah panas. Pengamatan dilapang tebal litter tidak sesuai hanya ketebalan 3 cm. Penggunaan litter seharusnya bersih dari tatal atau potongan kayu sehingga aman untuk aktivitas ayam, agar tidak terjadi leg atau booble foot. Keuntungan sistem ini adalah kapasitas kandang lebih banyak dan telur yang dihasilkan relatif lebih bersih, kerugiannya biaya pembuatan lantai lebih mahal.

4.7 Arah Hadap dan Konstruksi kandang Arah hadap kandang membujur dari timur ke barat dengan jarak antar kandang 3 m, sehingga pada pagi hari sinar matahari dapat masuk kedalam kandang dan pada siang hari ayam terlindung dari terik matahari. Menurut ( Suprijatna, E. 2005 ) Kandang harus dibuat ditempat yang cukup sinar matahari. Hindari pembangunan kandang dilokasi teduh atau sinar matahari tidak dapat masuk kandang karena tertutup rimbun pepohonan atau bangunan tinggi. Sinar matahari akan berpengaruh terhadap produksi telur.

4.8 Suhu dan kelembaban Kandang Suhu kandang berkisar antara 23 C 32 C, kisaran suhu ini sesuai untuk mendapatkan produksi telur yang optimal, karena dengan sistem ventilasi closed house suhu didalam kandang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan ayam. Tinggi rendahnya suhu didalam kandang dapat mempengaruhi konsumsi pakan dan minum, sehingga dengan pengaturan suhu kandang yang sesuai dapat meningkatkan produksi telur. Menurut Rasyaf ( 1999 ), menjelaskan bahwa produksi telur, ukuran telur normal dan efisiensi pakan dicapai pada suhu 24 27 C. Sudaryani dan Santoso (2001), menyatakan bahwa suhu 30 C produksi telur dari ayam petelur masih dapat dipertahankan normal dengan jalan meningkatkan kadar gizi, terutama protein, dan diatas 30 C produksi telur menurun.

4.9 Tipe Atap Kandang Atap kandang pada breeding farm pt charoen pokhpand menggunakan model atap tipe monitor yang terbuat dari bahan asbes, penggunaan asbes ini bertujuan agar suhu didalam kandang tidak terlalu panas. Jarak atap dengan lantai sekitar 10 m. Pemakaian tipe atap monitor dengan menggunakan bahan esbes dirasa lebih ekonomis karena bahan awet dan mudah pemasangan, kebutuhan kayu sedikit. Menurut Wiliamson (1978), didaerah tropis diperlukan atap kandang yang bumbungannya tinggi dan bahan atap dapat terbuat dari asbes, genting, dan seng. Priyatno (2001), menjelaskan bahwa atap kandang diperlukan untuk melindungi ternak ayam dari panas matahari langsung dan curah hujan. Tetapi jika tidak sesuai dapat membebani konstruksi kandang dan bahan atap yang baik adalah genteing. Atap yang baik mampu menyerap sebagian panas yang diterima dan memungkinkan udara keluar masuk dengan bebas serta tidak terlalu panas didalam kandang.

4.10 Sistem Ventilasi Kandang

4.11 Ukuran dan Kepadatan kandang Ukuran per kandang di breeding farm pt charoen pokhpand 96 x 12 m, setiap kandangnya menampung 7000 ekor ayam. Dalam 1 kandang terbagi dalam 3 pen. Pen 1 dengan ukuran 57 x 67 m untuk kapasitas 4000 ekor ayam, Pen 2 dengan ukuran 12 x 23 m untuk kapasitas 500 ekor ayam, pen 3 dengan ukuran 38 x 67 m dengan kapasitas 3000 ekor ayam.

4.12 Bahan dan Peralatan Kandang Peralatan kandang utama yang digunakan pada kandang closed house meliputi box pakan, nipple (tempat minum otomatis), tirai plastik, blower, tandon air, instalasi listrik, penutup dinding, pompa air dan pipa. Cahyono (2002), menyatakan bahwa peralatan yang penting dalam peternakan ayam petelur adalah tempat pakan dan minum, termometer, dan peralatan-peralatan pendukung lainya terutama untuk peralatan kerja. Nipple terbuat dari plastik paralon dan terdapat nozel sebagai tempat keluarnya air. Hal ini sesuai dengan pendapat Winarto (1996), bahwa bahan wadah minum yang terbuat dari plastik paralon tidak mempengaruhi kualitas air, mudah dibersihkan dan mudah untuk pengisiannya. Jaminan wadah pakan dan minum yang cukup akan menghindari masalah sosial dalam proses makan dan minum ( Rasyaf, 1994). Sehingga dengan penataan wadah pakan dan minum yang baik akan menunjang tingkat konsumsi ayam.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, D.,1994. Analisis Kelayakan Beternak Ayam Ras Petelur Dalam kandang Batteray. CV. Aneka : Solo Card, L.E. dan M.C. Nesheim. 1972. Poultry Production. 11th Ed. Lea and Febiger, Philadelphia. Fadilah, Roni dkk 2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. Agromedia Pustaka, Jakarta Hybro, B.V. 2001 Technical Information on PN Breeder Asia The Netherland, Amsterdam. Indarto, P. 1990. Beternak Unggas Berhanmjsil. Armico. Bandung. Jahja, J. 1995. Ayam Sehat Ayam Produktif 1. Medion, Bandung Malik, A., 2001. Buku Ajar Manajemen Ternak Unggas. UMM : Malang. North, M.O. dan D.D. Bell. 1990. Comercial Chicken Production Manual. 4th ED. Van Nostrand Reinhold, New York Priyatno, A.M. 2002. Membuat Kandang Ayam. Penebar Swadaya, Jakarta Rasyaf, M., 1990. Bahan Makanan Unggas di Indonesia. Kanisius : Yogyakarta Rasyaf, M .1993. Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya. Jakarta. Rasyaf, M. 2003. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta Sudarmono, AS. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Kanisius. Jogjakarta. Sudaryani, T., 1994. Teknik Vaksinasi dan Pengendalian Peyakit Unggas. Penerbit Swadaya: Jakarta. Sudaryani , T. dan H. Santoso. 2004. Pembibitan Ayam Buras. Penebar Swadaya, Jakarta Suprijatna, E,. U. Atmomarsono, & R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta Tabbu, 2006. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. Kanisius : Yogyakarta.