Anda di halaman 1dari 8

Langkah-langkah Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling Fase dalam pengembangan program bimbingan dan konseling disekolah, menurut

Gysbers dan Henderson (Muro & Kottman, 1995: 55-61) ada empat fase, yaitu: perencanaan (planning), perancangan (designing), penerapan (implementing), dan evaluasi (evaluating).

1. Perencanaan ( Planning ) Proses perencanaan Program Bimbingan dan Konseling seharusnya dilakukan secara terbuka, dalam arti bukan hanya melibatkan personil Bimbinganm dan Konseling saja, akan tetapi juga melibatkan orang-orang yang memiliki peran penting dalam pengambilan kebijakan.

Gysbers & Henderson (Muro & Kottman, 1995:56) mengemukakan langkah pertama yang harus dilakukan oleh konselor dalam perencanaan program BK adalah membentuk komite yang representatif. Komite ini selanjutnya disebut dengan komite bimbingan dan konseling. Tugas dari komite ini adalah merancang (planning),mendisain ( designing ), mengimplementasikan ( implementing ), dan mengevaluasi

(evaluation) program BK yang akan dilaksanakan. Komite ini terdiri dari orang tua, guru, pakar bimbingan, dan tentunya konselor sebagai pengatur dan konsultan komite.

Tugas selanjutnya dari komite ini adalah menetapkan dasar penetapan program. Mendefinisikan program secara operasional yang terdiri dari : (1) identifikasi target populasi layanan (siswa, orang tua, guru), (2) isi pokok program (tujuan dan ruang lingkup program), (3) organisasi program layanan (pengorganisasian layanan bimbingan).

Ahmad Juntika Nurihsan (2005:40) memberikan gambaran mengenai kegiatan yang dilakukan dalam proses perencanaan, diantaranya : (1) analisis kebutuhan dan permasalahan siswa; (2) penentuan tujuan program layanan bimbingan yang hendak dicapai; (3) analisis situasi dan kondisi di sekolah, (4) penentuan jenis-jenis kegiatan

yang akan dilakukan; (5) penetapan metode dan teknik yang digunakan dalam kegiatan; (6) penetapan personel-personel yang akan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan; (7) persiapan fasilitas dan biaya pelaksanaan kegiatan-kegiatan bimbingan yang direncanakan; (8) perkiraan tentang hambatan-hambatan yang akan ditemui dan usaha apa yang akan dilakukan dalam mengatasinya.

a.

b.

c. d.

e. f.

Teori Perencanaan Program Pelayanan Bimbingan Dan Konseling Konvensional. Secara garis besar perncanaan program bimbingasn konseling menurut teori ini adalah sebagai berikut: Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan atau masalah-masalah siswa. Untuk dapat mengetahui kebutuhan dan masalah siswa dapat dilakukan dengan berbagai instrumen seperti menggunakan Alat Ungkap Masalah baik menggunakan kuesioner, cek list atau yang lain yang sudah dibakukan. Berdasarkan data hasil ungkap masalah kemudian ditabulasi dan dianalisis kebutuhan apa yang diharapkan atau masalah apa yang dirasakan oleh siswa di sekolah serta berdasarkan hasil analisis ini selanjutnya disusunlah perencanaan program bimbingan dan konseling di sekolah yang mencakup empat bidang, tujuh atau sembilan layanan dan lima kegiatan pendukung. masalah apa yang Menentukan karakteristik sekolah, maksudnya program yang akan disusun disesuaikan dengan bagaimana situasi dan kondisi sekolah, seperti apakah sekolah tersebut bersifat umum atau kejuruan, berada di kota atau di desa. Hal ini diperhatikan agar layanan bimbingan dan konseling dapat sesuai dengan karakteristik sekolah. Menentukan skala prioritas, maksudnya berdasarkan analisis kebutuhan diatas segera mendapatkan layanan agar perlu mendapat perhatian utama untuk dicantumkan dalam program bimbingan dan konseling di sekolah. Menentukan program tahunan yaitu keseluruhan layanan bimbingan dan konseling yang akan diberikan selama satu tahun. Program ini merupakan jabaran secara makro dari serangkaian kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang menjadi wilayah tanggungjawabnya. Menentukan program semesteran yang didasarkan pada program tahunan, sehinga dapat direncanakan kegiatan apa saja yang akan diberikan selama satu semester untuk kelas tertentu. Menetukan program bulanan, mingguan dan harian. Program ini mengacu pada program yang sudah dijabarkan dalam tahunan dan semesteran, sehingga akan tampak kegiatan yang saling mendukung tercapainya tujuan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Teori Pengembangan Program Pelayanan Bimbingan Dan Konseling Berdasarkan Planning, Programming, Bugdeting System (PPBS) Pengembangan program berdasarkan PPBS merupakan upaya untuk memperbaiki cara pengembangan program berdasar1<an pada cara konvensional yang mendasarkan kebutuhan atau masalah siswa karena cara yang pertama lebih menekankan pada selera peserta didik dan kurang memperhatikan tujuan layanan bimbingan dan konseling, kurikulum yang telah disusun secara nasional dan bagaimana mengevaluasi kegiatan sangat sukar dilakukan. Untuk itu cara yang kedua ini dipertimbangkan untuk digunakan dalam pengembangan program bimbingan dan konseling di sekolah. Pengembangan program bimbingan dan konseling berdasarkan PPBS maksudnya dalam menyusun program didasarkan pada sistem yang memperhatikan perencanaan, program dan penganggaran. Secara singkat pengembangan program berdasarkan PPBS sebagai berikut: Perencanaan Dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab. Untuk mencapai tujuan tersebut maka kegiatan di sekolah selayaknya memberikan layanan dalam pembelajaran yang kondusif, administrasi dan kepemimpinan yang memadai dan pemberian bantuan layanan bimbingan dan konseling untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Agar program sekolah dapat terealisasi maka perlu perencanaan yang mendasarkan pada tujuan baik tujuan umum maupun khusus. Melalui perencanaan yang matang akan dapat memberikan arah terhadap pencapaian tujuan bimbingan yang telah ditetapkan, memberikan standart atau pedoman serta tolok ukur keberhasilan kegiatan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu melalui kegiatan perencanaan diharapkan semua tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai. Dengan demikian penetapan tujuan merupakan awal dari kegiatan perencanaan.Tujuan dalam kegiatan bimbingan dan konseling dapat bersifat filosofis seperti tercapainya perkembangan yang optimal, menjadi insan mandiri, dan lain-lain. Namun tujuan juga dapat bersifat sasaran apabila tujuan yang diharapkan tercapai dapat diukur secara konkrit dengan ciri pragmatis, konkrit dan kuantitatif. Ungkapan seperti setelah mengikuti layanan konseling siswa dapat mengentaskan masalah yang dihadapi, atau klien dapat menunjukkan rasa bahagia dan merasa puas setelah memperoleh layanan konseling merupakan contohnya.

Programming Programming merupakan suatu kegiatan untuk membuat program yang akan dilaksanakan selama kurun waktu tertentu. Program itu sendiri merupakan serangkaian kegiatan yang saling terkait satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan berarti serangkaian kegiatan bimbingan dan konseling yang saling terkait satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling yang telah ditentukan sebelumnya. Untuk menentukan progam apa yang akan dilaksanakan maka dalam PPBS proses pengembangan program mencakup langkah-Iangkah sebagai berikut ini. Menentukan Kategori Program Utama ( KPU ). Penentuan Kategori Program Utama dijabarkan berdasarkan tujuan yang telah ditentukan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Secara eksplisit telah dikemukakan bahwa perkembangan yang optimal dapat diturunkan menjadi tujuan bimbingan yang mencakup 4 bidang yatiu pribadi, sosial, belajar, dan karir. Menentukan Program Utama Program utama merupakan penjabaran dari kategori program utama. Misalnya saja dalam kategori porgram utama adalah pengmbangan bimbingan pribadi maka program utamanya dapat ;(1) penanaman sikap kebiasaan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (2) Pengenalan dan pengembangan tentang kekuatan diri sendiri dan penyalurannya untuk kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif, basik dalam kehidupan sehari-hari di sekolah maupun untuk peranannya di masa depan. (3) pengenalan dan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta penyaluran dan pengembangannya melaui kegiatankegiatan yang kreatif dan produktif. (4) Pengenalan dan pemahaman tentang kelemahan diri sendiri serta usaha-usaha penanggulangannya. (5) pengembangan kemampuan mengambil keputusan sederhana dan mengarahkan diri ( 6) perencanaan dan pemeliharaan hidup sehat. Program Program merupakan bagian terkecil dari KPU, dan berdasarkan program utama maka langkah selanjutnya menentukan program. Jadi tugas utama adalah menentukan program apa saja yang dapat dilakukan agar semua rencana yang telah dicanangkan dapat terealisasi Adapun jumlah dan kegiatannya tidak dibatasi, tetapi yang perlu diingat adalah apakah program yang disusun dapat memenuhi tercapainya program utama. Target Target merupakan keluaran atau hasil yang ingin dicapai setelah program dilaksanakan. Target dapat dilihat dari seberapa banyak peserta didik yang mendapat layanan, bagaimana perubahan sikap dan perilaku individu setelah memperoleh sejumlah layanan, dll. Jangka waktu Semua kegiatan hendaknya disusun untuk minimal dalam kurun waktu satu tahun kedepan sehingga dapat diantisipasi semua unsur yang dapat mendukung terlaksananya program. Berdasrkan program dalam jangka waktu satu tahun tersebut kemudian disusunlah program semesteran, bulanan, mingguan dan akhirnya kegiatan. Biaya Berdasarkan program yang telah disusun maka perlu dipertimbangkan biaya operasional yang dibutuhkan. Untuk itu pada awal tahun ajaran hendaknya sudah dipikirkan seberapa dana yang dibutuhkan dan dari mana sumber pembiayaan. Namun yang perlu diingat bahwa pengembangan anggaran biaya perlu memperlhatikan situasi dan kondisi keuangan sekolah. Dengan demikian maka serangkaian program yang dipaparkan merupakan acuan pembiayaan yang proporsional. Berdasarkan pengamatan di lapangan belum semua guru pembimbing di sekolah yang telah menyusun program bimbingan dan konseling sesuai dengan tahap-tahap maupun teori pengembangan program. Namun satu hal yang perlu dicermati oleh guru pembimbing di sekolah bahwa dengan adanya program yang jelas maka personal di sekolah seperti kepala sekolah dan guru bidang studi lainnya akan memperoleh pencerahan dan keyakinan bahwa guru pembimbing adalah bukan pengangguran melainkan guru yang mempunyai program yang jelas sehingga pada gilirannya mereka akan secara sukarela mau bekerjasama untuk melaksanakan program bimbingan dan konseling di sekolah. Selanjutnya bila kerjasama telah terjalin maka keberadaan bimbingan dan konseling sekolah akan semakin diakui dan dihargai oleh semua pihak termasuk staf sekolah dan masyarakat.

Perencanaan program Bimbingan dan Konseling Secara umum perencanaan merupakan pedoman yang memberi arah pelaksanaan Bimbingan dan konseling dalam mencapai tujuannya. Wujud perencanaan adalah persiapan system, teknik, metode, fasilitas, personalia, waktu dan pencapaian aktivitas bimbingan dan konseling. Menurut Roeber dalam

Organization dan Administration of Guidance Service, perencanaan awal program bimbingan dan konseling diarahkan untuk menjawab 3 aspek berikut, yaitu : 1) apakah kebutuhan-kebutuhan bimbingan bagi siswa ? 2) sejauh mana kebutuhan-kebutuhan itu telah dapat dipenuhi dengan kondisi yang ada sekarang ? 3) bagaimana sekolah dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan lebih baik ? (Purwoko, 2008 : 32)

Ruang Lingkup dan Bidang Garapan Guru Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dalam ruang lingkup BK landasan atau dasar program merupakan suatu keputusan awal dan menentukan yang harus diambil oleh pemegang kebijakan pendidikan di sekolah bagi terwujudnya suatu program bimbingan dan konseling sekolah. Merancang keputusan dasar yang kuat memerlukan usaha kerjasama semua unsur dan personel sekolah, termasuk dengan orang tua dan masyarakat, sehingga program bimbingan dan konseling bisa diterima dan memberikan manfaat bagi semua siswa. Dengan demikian, selama tahap pengembangan program bimbingan dan konseling, para stakeholder hendaknya bermusyawarah untuk menentukan filosofi, misi dan fungsi dan isi keseluruhan program. Dasar pengembangan program yang lengkap merupakan hal yang sangat penting untuk memastikan bahwa program bimbingan dan konseling sekolah menjadi suatu bagian utuh dari seluruh program pendidikan untuk keberhasilan para siswa. Selain demikian, program BK merupakan program yang integral dengan keseluruhan program sekolah maka harus disusun selaras dengan program pendidikan, program disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sekolah, daerah setempat dan dikembangkan secara bertahap dengan melibatkan semua unsur sekolah dalam perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, dan penilaian. Tahap pengembangan program BK dimulai dari tahap perencanaan program (planning) yang antara lain : 1) Meneliti kebutuhan siswa (need assesment). 2) Mengklasifikasi tujuan yang ingin dicapai. 3) Membuat batasan jenis program yang akan dibuat. 4) Meneliti jenis program yang sudah ada. 5) Mengupayakan dukungan dan kerjasama (humas). 6) Menentukan prioritas program. Berlanjut pada proses penyusunan program (designing) bimbingan dan konseling di sekolah yangdilakukan melalui lima tahap aktivitas, yaitu : 1) Merumuskan tujuan secara ooperasional. 2) Memilih strategi pelaksanaan program sesuai dengan kondisi sekolah. 3) Menjabarkan komponen program. 4) Menganalisis kemampuan staf sekolah. 5) Mengadakan peningkatan kemampuan staf. Ketika perencanaan dan penyusunan program telah matang, maka tahap pelaksanaan program (implementing) dimulai, antara lain dengan tahap berikut : 1) Mengidentifikasi sumber yang diperlukan.

2) Termasuk personil sarana, prasarana, dan waktu. 3) Membuat instrumen pengukuran keberhasilan pelaksanaan program. 4) Melaksanakan program dan menyesuaikan dengan pelaksanaan program sekolah yang lain. 5) Mengadakan perubahan atau perbaikan program. Kemudian perlu adanya tahap penilaian program (evaluating), dengan tujuan mengetahui sejauh mana kemaksimalan pelaksanaan program BK, Tahap evaluasi antara lain : 1) Menentukan komponen program yang akan dinilai. 2) Memilih model penilaian program. 3) Memillih instrumen penilaian. 4) Menentukan prosedur pengumpulan data. 5) Menciptakan sistem monitoring pelaksanaan program. 6) Menyajikan data, analisis, dan laporan hasil penilaian.

C. Dasar Pengembangan dan Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah Paradigma pendekatan bimbingan dan konseling yang berorientasi perkembangan dan preventif yakni bimmbingan dan konseling komprehensif. Dalam pelaksanaanya menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal sekolah lainnya. Terintegrasi dengan proses pendidikan di sekolah secara keseluruhan dengan upaya membantu siswa agar dapat mengembangkan atau mewujudkan potensi diri secara penuh (aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir). Pelayanan BK komprehensif dikembangkan bedasarkan karakteristik perkembangan, tugas perkembangan, ptensi, atau masalah-masalah siswa dengan mengimplementasi BK di sekolah diorientasikan pada upaya memfasilitasi potensi siswa (pribadi, sosial, belajar, karir), atau pengembangan pribadi siswa sebagai makhluk berdimensi biopsikososiospiritual. D. Personalia yang terlibat dalam Pengembangan dan Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Untuk kelancaran dalam pelaksanaan survey ini kami memerlukan personalia yang terlibat dari pihak sekolah diantaranya : 1. Kepala sekolah yang berfungsi sebagai edukator, manager, administrator dan supervisor Pemimpin / Leader Inovator Motovator. 2. Wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam kegiatan menyusun perencanaan membaut program kegiatan dan melaksanakan program, Pengorganisasian, Pengarahan, Ketenagaan, Pengoordinasian, Pengawasan, Penilaian, Identifikasi dan pengukuran data,dan Penyusunan laporan. 3. Guru melakukan kerjasama dengan konselor dalam mengidentifikasi siswa yang memerlukan bimbingan dan konseling, mengalihtangankan siswa yang membutuhkan penanganan pada ahli pembimbing, memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh layanan BK, membantu

mengumpulkan informasi yang dipersatukan dalam layanan BK, dan menerapkan nilai dan bimbingan dalam kegiatan belajar mengajar.
4.

a. 1) 2) 3) 4) 5) 6) b. c. 5. a. b. c. d. e. f. g. h.

Koordinator BK bertugas Mengkoordinasikan guru pembimbing dalam: Memasyarakatkan layanan BK Menyusun program BK Melaksanakan program BK Mengadministrasikan program BK Menilai program BK Mengadakan tindak lanjut Membuat usulan kepada kepala sekolah dan mengusahakan terpenuhinya sarana dan prasarana Mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan BK kepada kepala sekolah

Konselor Ikut merumuskan program BK Melaksanakan program BK Melaksanakan layanan BK terhadap siswa tanggungannya Mengevaluasi hasil dan proses layanan BK Menganalisis hasil evaluasi Melaksanakan tindak lanjut hasil analisis penilaian Mengadministrasikan kegiatan BK bersama koordinator Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada koordinator pembimbing dan kepala sekolah i. Menampilkan pribadi sebagai figur moral yang berakhalak mulia j. Berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah 6. Administrasi a. Membantu guru BK dalam mengadministrasikan seluruh kegiatan BK di sekolah b. Membantu guru BK dalam menyiapkan sarana
Perencanaan Program Bimbingan dan Konseling Bimbingan dan konseling dapat dikatakan sebagai soko guru yang ketiga dalam sistem pendidikan di sekolah selain pembelajaran (instruksional) dan administrasi sekolah. Sebagi sub-sistem pendidikan di sekolah, bimbingan dan konseling dalam gerak dan pelaksanaannya tidak pernah lepas dari perencanaan yang seksama dan bersistem. Hal ini bertujuan agar pencapai hasil dalam onteks kontribusinya bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah dapat terlihat. Untuk tercapainya program perencanaan BK yang efektif dan efisien, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu ; analisis kebutuhan siswa, penentuan tujuan BK, analisis situasi sekolah, penentuan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan, penetapan metode pelaksanaan kegiatan, penetapan personel kegiatan, persiapan fasilitas dan biaya kegiatan , dan perkiraan tentang hambatan kegiatan dan antisipasinya. Pengertian program menurut T. Raka Joni (1981): program adalah seperangkat kegiatan yang dirancang dan dilakukan secara kait mengkait untuk mencapai tujuan tertentu. Dari de finisi tersebutdapat diuraikan bahwa suatu program mengandung unsur-unsur : a) Adanya seperangkat kegiatan, artinya kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan merupakan suatu

kegiatan yang utuh. b) Dirancang, artinya hal-hal yang akan dilakukan dirancang sedemikian rupa agar tidak terjadi pelapisan atau akumulasi kegiatan, apalagi berbagai benturan akibat kegiatan yang dilakukan berulangulang yang pada gilirannya berdampak pada penurunan efektivitas dan efesiansi. c) Dilakukan secara kait-mengkait, yaitu bahwa dalam melakukan kegiatan yang sudah dirancang kegiatan itu tidak berdiri sendirimelinkan ada keterkaitan antar satu dengan yang lain. Kegiatan itu tidak hanya terjadi antar kegiatan saja tetapi juga pada tahap kesinambungan kegiatan satu dengan tahap kegiatan selanjutnya. d) Adanya tujuan tertentu, yaitu sebagai arah dan kendali agar semua aktivitas yang terangkum dalamprogram selalu terfokus pada satu titik tujuan. Daam pelaksanaannya, pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan seluruh personil sekolah, maka dari itu diperlukan program yang sistematis agar pelaksanaannya tidak tumpang tindih dan benturan dengan kegiatan pada bidang-bidang lain. Adapun program yang yang sistematis selalu mengacu pada prinsip-prinsip sebagi berikut : a. Program bimbingan dan konseling dirancang untuk melayani kebutuhan siswa. b. Program bimbingan dan konseling merupakan bagian terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah. c. Tujuan program harus dirumuskan secara jelas dan eksplisit (operasional) dan menunanng pencapaian keseluruhan tujuan program bimbingan dan konseling. d. Pelaksanaan program perlu melibatkan seluruh staf sekolah. e. Personil bimbingan dan konseling perlu dididentifikasi dan tugas-tugas serta tanggung jawabnya harus dirumuskan. f. Segala sumber daya perlu ditemukan untuk mencapai tujuan program. g. Dua hal yang esensial dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling adalah data pribadi siswa untuk pemahaman diri dan bahan informasi untuk perencanaan pendidikan dan pengambilan keputusan. h. Perlu penerapan rancangan sistem dalam pengembangan program dan pemecahan masalah pengelolaan. i. Dukungan dan pelibatan masyarakat sekitar harus diusahakan sejauh mungkin demi kelancaran penyelenggaraan program dan tercapainya tujuan (Munandir, 1996). A. Simpulan - Manajemen Bimbingan dan Konseling merupakan segala upaya menggerakkan individu atau kelompok untuk bekerjasama dalam mendayagunakan sumber daya di dalam suatu sistem untuk mencapai suatu tujuan untuk mendayagunakan secara optimal semua komponen atau sumber daya dan sistem informasi berupa himpunan data bimbingan untuk menyelenggarakan pelayanan bimbingan konseling dalam mencapai tujuan. - Program bimbingan dan konseling adalah seperangkat kegiatan yang dirancang oleh konselor di sekolah. - Pelaksanaan dan Pengarahan Program Bimbingan Konseling ada 2 program, yaitu Program tahunan sebagai program sekolah dan Program kegiatan layanan bagi setiap Guru Pembimbing. - Evaluasi Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling merupakan upaya menilai effisiensi dan efektifitas pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. - Supervisi Kegiatan Bimbingan dan Konseling untuk mengendalikan personil pelaksana bimbingan konseling, memantau kemungkinan kendala yang muncul dan dihadapi personil dalam pelaksanaan tugasnya, mencapai jalan keluar terhadap hambatan dan permasalahan. - Manajemen diperlukan dalam pelayanan bimbingan dan konseling untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya, serta untuk mencapai efektivitas dan efisiensi pada akhir tujuan pelayanan

bimbingan di sekolah. Pola manajemen disusun dengan kesesuaian antara konsep dengan kondisi yang dihadapi sekolah tersebut. B. Saran - Dengan adanya Manajemen Bimbingan dan Konseling diharapkan dapat menuntun terselenggaranya pelayanan bimbingan konseling dalam mencapai tujuan yang akan dicapai sesuai tujuan umum dan khusus. Agar proses pelayanan dapat berjalan dengan baik, maka semua pihak yang terkait dalam bimbingan dan konseling di sekolah harus menjalankan tugasnya masing.