Anda di halaman 1dari 28

ETIOLOGI MALOKLUSI FAKTOR LOKAL 1.

ANOMALI JUMLAH GIGI

Berhubungan dengan adanya faktor herediter atau keturunan. Lebih sering terjadi di rahang atas dibandingkan dengan rahang bawah, Biasanya kelainan ini ditemukan lewat foto Ro

Kelainan jumlah gigi terdiri dari :


a. Kelebihan Jumlah Gigi - Dapat menyebabkan berdesakan. - Belum dapat dipastikan kapan mulai terjadinya kelebihan jumlah gigi, - Beberapa sarjana mengatakan kelebihan jumlah gigi terjadi sejak postnatal atau paling lambat pada saat usia 10 sampai 12 tahun. - Frekuensi terbesar adalah adanya kelebihan jumlah gigi yang terdapat diantara kedua insisivus sentral yang biasanya disebut dengan mesiodens,

- mesiodens ini bila erupsi tepat pada sutura palatina maka akan menyebabkan terjadinya diastema sentral yang cukup besar, namun bila mesiodens erupsinya dibagian palatinal maka akan menyebabkan crowded. - Terkadang ditemukan pula mesiodens yang tidak erupsi, jika terjadi hal yang demikian maka biasanya disebut dengan dentigerous cyst, apabila keberadaannya tidak mengganggu dan tidak terjadi keluhan oleh penderita maka keadaan ini dibiarkan saja.

- Mesiodens yang mampu erupsi terkadang memiliki bentuk dan ukuran yang tidak normal (konus).

- Selain mesiodens gigi yang sering mengalami kelainan kelebihan jumlah gigi adalah laterodens (terdapat diantara insisivus sentral dan insisivus lateral), para premolar (terdapat diantara gigi premolar) dan para molar (terdapat diantara gigigigi molar).
- Hampir sama dengan mesiodens, apabila gigi-gigi tersebut dapat erupsi pada lengkung rahang maka akan menyebabkan crowded.

b. Kekurangan Jumlah Gigi - Lebih sering dijumpai di masyarakat. - Frekuensi terjadinya pada rahang atas sama dengan pada rahang bawah. - Umumnya kelainan ini disebut dengan agenisi. - Agenisi yang paling sering terjadi secara berurutan adalah molar ketiga pada rahang atas dan rahang bawah, insisivus lateral rahang atas, premolar kedua rahang bawah, insisivus lateral rahang bawah, dan terakhir premolar kedua rahang atas.

- Tidak menutup kemungkinan terjadinya agenisi pada gigi-gigi yang lain mengingat etiologi dari kelainan ini adalah faktor keturunan. - Kekurangan jumlah gigi ini biasanya terjadi bilateral atau pada kedua sisi. - Akibat yang ditimbulkan dari adanya kelainan ini adalah terjadinya diastema patologis pada gigi yang seharusnya ditempati oleh gigi yang mengalami agenisi, apabila dibiarkan dapat terjadi pula diastema multipel dan pergeseran gigi-gigi.

- Frekuensi gigi permanen lebih tinggi dibandingkan dengan gigi sulung, namun apabila terjadi agenisi gigi sulung perlu dipertimbangkan pemberian space maintainer hingga permanennya tumbuh erupsi. - Kekurangan jumlah gigi dapat juga disebabkan oleh faktor trauma sehingga gigi permanen tanggal pada usia muda, biasanya sering terjadi pada gigi insisivus sentral rahang atas.

2. ANOMALI UKURAN GIGI - Penyebab faktor keturunan. - Dapat mempengaruhi perkembangan oklusi gigi geligi karena terdapat ketidakharmonisan antara ukuran gigi dengan ukuran lengkung rahang - Idealnya harus terdapat ruangan yang cukup untuk gigigigi erupsi dalam lengkung rahang tanpa perlu saling berdesakan, namun apabila terdapat kelainan ukuran gigi maka oklusi gigi geligi yang ideal akan sulit dicapai. - Sebagai acuan biasanya dipakai ukuran lebar mesial distal gigi-gigi insisivus, dimana normalnya insisivus sentral antara 8 10 mm, dan insisivus lateral antara 6 8 mm,

- Pada umumnya apabila keempat gigi insisivus mengalami perubahan ukuran maka hal ini akan diikuti dengan gigi-gigi yang lain, tetapi terkadang ada juga walaupun keempat insisivus mempunyai ukuran yang normal, gigi-gigi yang lain dapat mengalami perubahan ukuran, - Pada laki-laki lebih sering terjadi dibandingkan dengan wanita dan kelainan ini lebih sering muncul pada geligi permanen dibandingkan dengan geligi sulung.

Secara garis besar kelainan ukuran gigi dapat dikelompokkan menjadi : a. Makrodonsi - Istilah makrodonsi dapat diartikan gigi yang ukurannya melebihi ukuran gigi normal. - Maloklusi yang ditimbulkan oleh kelainan ini adalah gigi geligi akan tumbuh saling berdesakan. - Frekuensi terbesar adalah insisivus sentral rahang atas.

b. Mikrodonsi - Adalah gigi-gigi yang ukurannya lebih kecil dari normal, - Biasanya kelainan mikrodonsi ini diikuti oleh kelainan bentuk gigi. - Maloklusi yang dapat diakibatkan oleh kelainan ini adalah diastema patologis pada daerah gigi yang mengalami mikrodonsi, bahkan apabila terjadi lebih dari satu gigi maka akan menyebabkan diastema multiple.

3. ANOMALI BENTUK GIGI - Kelainan ini sangat erat hubungannya dengan kelainan ukuran gigi. - Frekuensi paling sering terjadi adalah insisivus sentral rahang atas, insisivus lateral rahang atas, dan premolar kedua rahang bawah biasanya terdapatnya extra lingual cups. - Etiologi dari kelainan ini adalah faktor keturunan dan faktor-faktor kelainan pertumbuhan misalnya delelopmental defect, amelogenesis imperfecta, hipoplasia, gemination dan Hutchinsons.

- Maloklusi yang ditimbulkan sama dengan kelainan ukuran gigi karena keduanya saling berhubungan.

D. FRENULUM LABIAL YANG TINGGI - Frenulum labial yang tinggi pada rahang atas terkadang dapat menyebabkan malposisi dari gigi, terutama pada kedua gigi insisivus sentral. - Frenulum labial pada masa bayi, normalnya mempunyai daerah perlekatan yang rendah di dekat puncak prosesus alveolaris diatas garis tengah. - Pada fase geligi sulung frenulum labialis sering terlihat melekat pada prosesus alveolaris diantara gigi-gigi insisivus sentral rahang atas.

- Dengan pertumbuhan dento-alveolar yang normal, prosesus alveolaris akan tumbuh kebawah dan daerah perlekatan frenulum labial akan makin tinggi pada rahang. - Meskipun demikian, kadang-kadang daerah perlekatan yang rendah tetap ada, dan frenulum menjadi lebih tinggi sehinnga menyebabkan diastema sentral pada rahang atas. - Namun tidak semua diastema sentral di rahang disebabkan oleh adanya frenulum labial yang tinggi, - Untuk memastikan biasanya dilakukan blanche test, yaitu dengan cara menekan daerah sekitar frenulum dengan menggunakan kaca mulut, apabila daerah tersebut pucat dari daerah sekitarnya maka dapat dikatakan blanche test positif atau memang terdapat frenulum labial yang tinggi.

Untuk memastikan biasanya dilakukan blanche test, yaitu dengan cara menekan daerah sekitar frenulum dengan menggunakan kaca mulut, apabila daerah tersebut pucat dari daerah sekitarnya maka dapat dikatakan blanche test positif atau memang terdapat frenulum labial yang tinggi.

E. TANGGAL PREMATUR GIGI SULUNG - Salah satu fungsi dari gigi sulung adalah menyediakan tempat bagi gigi permanen penggantinya, dan secara tidak langsung juga mempertahankan panjang lengkung geligi. - Penyebab dari kelainan ini adalah karies dan trauma. - Maloklusi yang disebabkan oleh adanya tanggal prematur gigi sulung sangat sering dijumpai hal ini dikarenakan indeks karies pada anak masih tergolong tinggi juga ditunjang dengan masih rendahnya kesadaran orang tua untuk merawatkan gigi anak-anaknya sedini mungkin.

- Apabila terjadi tanggal prematur perubahan panjang lengkung geligi ,karena tempat gigi sulung yang tanggal akan ditempati oleh gigi-gigi sebelahnya (gigi sebelah menyebalahnya migrasi/tipping) sehingga apabila benih gigi permanen penggantinya akan erupsi akan kekurangan tempat sehingga gigi geligi menjadi saling tumpang tindih, bahkan bila tempat yang ada tidak cukup untuk tumbuhnya benih gigi pengganti, maka gigi permanen penggantinya tidak dapat erupsi . - Apabila terjadi tanggal prematur dari molar kedua sulung perubahan relasi molar permanennya, dari relasi awal yang neutroklusi menjadi distoklusi karena molar permanen akan bergeser ke mesial menempati sebagian tempat dari molar kedua sulung yang telah tanggal terlebih dahulu.

F. LETAK SALAH BENIH


- menyebabakan erupsi gigi tidak pada lengkung yang benar - secara klinis ditandai dengan adanya rotasi dan versi - dapat menyebabkan berdesakan - sering ditemukan pada gigi permanen - etiologi belum ditemukan secara pasti - secara dini dapat diketahui melalui R0 photo.

G. PERSISTENSI
Gigi sulung yang tidak tanggal dimana gigi peemanen

penggantinya sudah mulai erupsi Kelainan ini berhubungan dengan kelainan letak salah benih dimana gigi permanen penggantinya yang mengalami salah benih tidak akan meresorbsi gigi sulungnya. Prevalensi terbesar terdapat pada gigi anterior rahang bawah. Menyebabkan berdesakan, namun setelah dicabut gigi yang persistensi , gigi permanen penggantinya akan bergerak dengan sendirinya terutama pada anterior rahang bawah dimana pergerakan self regulation dibantu dengan dorongan lidah, walaupaun tidak semua kasus bisa self regulation

H. KARIES PROKSIMAL
Salah satu fungsi gigi dipandang dari segi ortodontis adalah untuk

mempertahankan lebar lengkung gigi agar tidak terjadi pergeseran gigi-gigi yang akan menyebabkan penyempitan lebar lengkung.
Karies proksimal merupakan etiologi lokal dari terjadinya

maloklusi, karena dapat menyebabkan pergeseran gigi-gigi sebelahnya menuju daerah kosong dan menyebabakan pemendekan lengkung rahang sehingga apabila gigi permanen telah erupsi akan terjadi kekurangan tempat.

I. PEKERJAAN TUMPATAN YANG KURANG BAIK


Terutama tumpatan pada daerah proksimal, bila terdapat kontak berat pada daerah proksimal pada saat gigi beroklusi

dengan gigi lawan akan terjadi tekanan yang berlebihan pada daerah oklusal beban akan diteruskan ke arah lateral, sehingga akan terdapat tekanan yang berlebihan pula pada gigi sebelah menyebelah dari gigi yang ditumpat. Bila berlangsung lama akan menyebabkan perpanjangan lengkung rahang sehingga lama kelamaan akan terjadi diastema diantara gigi-gigi, atau dapat menyebabkan gigi sebelahnya mengalami rotasi.