Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Secara umum sebagian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan.

Bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi, mudah marah dan terutama mudah frustasi serta emosional. Gangguan mood selama periode postpartum merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi pada wanita baik primipara maupun multipara. Sebagian perempuan menganggap bahwa masamasa setelah melahirkan adalah masamasa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional. Gangguangangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu dikemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam durasi yang sangat singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama berbulanbulan atau bertahun tahun lamanya. Ada 3 tipe gangguan mood pascasalin, diantaranya adalah maternity blues, postpartum depression dan postpartum psychosis. Depresi postpartum pertama kali ditemukan oleh Pitt pada tahun 1988. Depresi postpartum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan, dan kehilangan libido (kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami). Tingkat keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami kesedihan sementara yang berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan the blues atau maternity blues. Gangguan postpartum yang paling berat disebut psikosis postpartum atau melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat kedaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut neurosa depresi atau depresi postpartum.

B. Rumusan masalah yang kami angkat yaitu Bagaimana Penanganan pada depresi postpartum. C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui bagaimana cara penanganan pada depresi postpartum 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui apa itu pengertian depresi postpartum b. Mengetahui apa saja Faktor penyebab depresi post partum c. Mengetahui Gejala gejala depresi postpartum d. Mengetahui Penatalaksanaan Depresi Post partum D. Manfaat 1. Bagi Mahasiswa Makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mahasiswa, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam memberikan asuhan kebidanan. 2. Bagi Petugas Kesehatan Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi petugas kesehatan khususnya bidan dalam memberikan asuhan kebidanan.

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian Depresi Postpartum a. Kartono (2002), menyatakan bahwa depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa yang disertai dengan melemahnya kepekaan terhadap stimulus tertentu, pengurangan aktivitas fisik maupun mental dan kesulitan dalam berpikir, Lebih lanjut Kartono menjelaskan bahwa gangguan depresi disertai kecemasan , kegelisahan dan keresahan, perasaan bersalah, perasaan menurunnya martabat diri atau kecenderungan bunuh diri. b. Trisna (Hadi, 2004), menyimpulkan bahwa depresi adalah suatu perasaan sendu atau sedih yang biasanya disertai dengan diperlambatnya gerak dan fungsi tubuh. Mulai dari perasaan murung sedikit sampai pada keadaan tidak berdaya. Individu yakin tidak melakukan apa pun untuk mengubahnya dan merasa bahwa respon apa pun yang dilakukan tidak akan berpengaruh pada hasil yang muncul.Individu yang mengalami depresi sering merasa dirinya tidak berharga dan merasa bersalah. c. Depresi menurut Kaplan dan Sadock (1998), merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta gagasan bunuh diri. Sebagian perempuan menganggap bahwa masamasa setelah melahirkan adalah masa masa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional. Gangguangangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu dikemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam durasi yang sangat singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama berbulanbulan atau bertahun tahun lamanya. Secara umum sebagaian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan. Clydde (Regina dkk, 2001), bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi, mudah marah dan terutama mudah frustasi serta emosional.gangguan mood selama periode postpartum merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi pada wanita baik primipara maupun multipara.

Menurut DSM-IV, gangguan pascasalin diklasifikasikan dalam gangguan mood dan onset gejala adalah dalam 4 minggu pascapersalinan. ada 3 tipe gangguan mood pascasalin, diantaranya adalah maternity blues, postpartum depression dan postpartum psychosis (Ling dan Duff, 2001).Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Paltiel (Koblinsky dkk, 1997), bahwa ada 3 golongan gangguan psikis pascasalin yaitu postpartum blues atau sering disebut juga sebagai maternity blues yaitu kesedihan pasca persalinan yang bersifat sementara postpartum depression yaitu depresi pasca persalinan yang berlangsung sampai berminggu minggu atau bulan dan kadang ada diantara mereka yang tidak menyadari bahwa yang sedang dialaminya merupakan penyakit. Menurut Pitt (Regina dkk, 2001) tingkat keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami kesedihan sementara yang berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan the blues atau maternity blues. Gangguan postpartum yang paling berat disebut psikosis postpartum atau melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat kedaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut neurosa depresi atau depresi postpartum. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi postpartum adalah gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi pada 10 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus menerus sampai 6 bulan bahkan sampai satu tahun. 2. Faktor penyebab depresi post partum Cycde (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa depresi postpartum tidak berbeda secara mencolok dengan gangguan mental atau gangguan emosional. Suasana sekitar kehamilan dan kelahiran dapat dikatakan bukan penyebab tapi pencetus timbulnya gangguan emosional. Nadesul (1992), penyebab nyata terjadinya gangguan pasca melahirkan adalah adanya ketidakseimbangan hormonal ibu, yang merupakan efek sampingan kehamilan dan persalinan. Sarafino (Yanita dan Zamralita, 2001), faktor lain yang dianggap sebagai penyebab munculnya gejala ini adalah masa lalu ibu tersebut, yang mungkin mengalami penolakan dari orang tuanya atau orang tua yang overprotective, kecemasan yang tinggi terhadap perpisahan, dan ketidakpuasaan dalam pernikahan. Perempuan yang memiliki sejarah masalah emosional rentan terhadap gejala depresi ini, kepribadian dan variabel sikap selama masa kehamilan seperti kecemasan, kekerasan dan kontrol eksternal berhubungan dengan munculnya gejala depresi.

Pitt (Regina dkk, 2001), mengemukakan 4 faktor penyebab depresi postpartum sebagai berikut a. Faktor konstitusional. Gangguan post partum berkaitan dengan status paritas adalah riwayat obstetri pasien yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan dan persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara. Wanita primipara lebih umum menderita blues karena setelah melahirkan wanita primipara berada dalam proses adaptasi, kalau dulu hanya memikirkan diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak paham perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus tetap dirawat. b. Faktor fisik. Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental selama 2 minggu pertama menunjukkan bahwa faktor fisik dihubungkan dengan kelahiran pertama merupakan faktor penting. Perubahan hormon secara drastis setelah melahirkan dan periode laten selama dua hari diantara kelahiran dan munculnya gejala. Perubahan ini sangat berpengaruh pada keseimbangan. Kadang progesteron naik dan estrogen yang menurun secara cepat setelah melahirkan merupakan faktor penyebab yang sudah pasti. :

c. Faktor psikologis. Peralihan yang cepat dari keadaan dua dalam satu pada akhir kehamilan menjadi dua individu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis individu. Klaus dan Kennel (Regina dkk, 2001), mengindikasikan pentingnya cinta dalam menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan baik antara ibu dan anak. d. Faktor sosial. Paykel (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai lebih sering menimbulkan depresi pada ibu ibu, selain kurangnya dukungan dalam perkawinan.

Menurut Kruckman (Yanita dan zamralita, 2001), menyatakan terjadinya depresi pascasalin dipengaruhi oleh faktor : 1) Biologis. Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormon seperti estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam masa nifas atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu cepat atau terlalu lambat.
5

2) Faktor pengalaman 3) Faktor pendidikan. 4) Faktor selama proses persalinan. 5) Faktor dukungan sosial. Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan dan pascasalin, beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak berkurang. 3. Gejala depresi postpartum Depresi merupakan gangguan yang betulbetul dipertimbangkan sebagai psikopatologi yang paling sering mendahului bunuh diri, sehingga tidak jarang berakhir dengan kematian. Gejala depresi seringkali timbul bersamaan dengan gejala kecemasan. Manifestasi dari kedua gangguan ini lebih lanjut sering timbul sebagai keluhan umum seperti : sukar tidur, merasa bersalah, kelelahan, sukar konsentrasi, hingga pikiran mau bunuh diri. Menurut Vandenberg (dalam Cunningham dkk, 1995), menyatakan bahwa keluhan dan gejala depresi postpartum tidak berbeda dengan yang terdapat pada kelainan depresi lainnya. Hal yang terutama mengkhawatirkan adalah pikiran pikiran ingin bunuh diri, wahamwaham paranoid dan ancaman kekerasan terhadap anakanaknya. Hal senada juga diungkapkan oleh Ling dan Duff (2001), bahwa gejala depresi postpartum yang dialami 60 % wanita hampir sama dengan gejala depresi pada umumnya. Tetapi dibandingkan dengan gangguan depresi yang umum, depresi postpartum mempunyai karakteristik yang spesifik antara lain : a. Mimpi buruk. Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Karena mimpi mimpi yang menakutkan, individu itu sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia. b. Insomnia. Biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia. c. Phobia. Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya. Ibu yang melahirkan dengan bedah Caesar sering merasakan kembali dan mengingat kelahiran yang dijalaninya. Ibu yang menjalani bedah Caesar akan merasakan emosi yang bermacammacam. Keadaan ini dimulai dengan perasaan syok dan tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi. Wanita yang pernah mengalami bedah Caesar akan melahirkan

dengan bedah Caesar pula untuk kehamilan berikutnya. Hal ini bisa membuat rasa takut terhadap peralatan peralatan operasi dan jarum (Duffet-Smith, 1995). d. Kecemasan. Ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya. e. Meningkatnya sensitivitas. Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian diri dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu harus belajar bagaimana merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap dirinya sendiri sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya diri dengan bayi yang lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan meningkatkan sensitivitas ibu (Santrock, 2002). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gejalagejala depresi postpartum antara lain adalah trauma terhadap intervensi medis yang dialami, kelelahan, perubahan mood, gangguan nafsu makan, gangguan tidur, tidak mau berhubungan dengan orang lain, tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya. 4. Penatalaksanaan Depresi Post partum a. Memberi dukungan kapada ibu, terutama keluarga terdekat. b. Meyakinkan ibu bahwa ibu dalam keadaan baik-baik saja. c. Istirahat d. Membantu ibu merawat bayi. e. Tidak membiarkan ibu menangis dan bersedih yang ber larut-larut. f. Menghibur ibu.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Depresi menurut Kaplan dan Sadock (1998), merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta gagasan bunuh diri. faktor penyebab depresi postpartum adalah faktor konstitusional, faktor fisik yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormonal, faktor psikologi, faktor sosial dan karakteristik ibu. B. Saran 1. Bagi Mahasiswa Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam memberikan pelayanan kebidanan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan seharihari. 2. Bagi Petugas - petugas Kesehatan Diharapkan dengan makalah ini dapat meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang kebidanan sehingga dapat memaksimalkan kita untuk memberikan health education dalam perawatan luka perineum untuk mencegah infeksi.

Selasa, 20/06/2006 09:31 WIB

Kasus Aniek-Andrea, Depresi Postpartum Hantui Ibu Melahirkan


Shinta Shinaga - detikNews

Jakarta - Melahirkan bak dua sisi mata uang. Satu sisi tentulah kebahagiaan. Sisi lainnya: cemas! Kecemasan macam apa yang membuat ibu melahirkan sampai menderita depresi postpartum? Apa gejalanya? Andrea Pia Yates membenamkan 5 anaknya dengan rentang usia 6 bulan hingga 7 tahun ke bak mandi hingga tewas pada 20 Juni 2001 di Texas, AS. Apa alasannya? "Saya ini ibu yang buruk. Saya ini iblis. Cara saya membesarkan mereka tidak akan menyelamatkan mereka. Mereka ditakdirkan binasa dalam api neraka," kata Andrea yang saat itu berusia 37 tahun. Perempuan kelahiran Houston lulusan SMA itu dinyatakan menderita depresi postpartum berat yang berulang-ulang sejak kelahiran anaknya yang keempat. Kisah Aniek Qori'ah Sriwijaya (31) di Bandung, Jawa Barat, hampir serupa, meski belum ada kepastian tentang penyakit apa yang dideritanya. Anak dokter dan lulusan Planologi ITB dengan IPK di atas 3 ini baru hanya diduga mengalami gangguan jiwa. Aniek membekap 3 anaknya dengan rentang usia 9 bulan hingga 6 tahun dengan bantal dan kasur hingga tewas pada 8-9 Juni 2006. Alasannya? Aniek takut tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Aniek bahkan kemudian heran, kok bisa dirinya membunuh anak-anaknya. Jika di Indonesia belum banyak analisa apalagi yayasan untuk depresi postpartum, lain halnya di luar negeri. Salah satunya American Psychiatric Association (APA). Presiden APA, Paul Appelbaum, dalam artikelnya di CNN 27 Juni 2001 memaparkan, depresi postpartum menimpa kondisi kejiwaan beberapa kaum ibu setelah melahirkan. Menangis tanpa alasan, mood yang cepat berubah dan cepat marah, atau "baby blues" dialami sekitar 70 persen perempuan setelah melahirkan. Bentuknya bukan depresi klinis dan biasanya berhenti setelah 2 minggu. Namun 10 hingga 20 persen ibu melahirkan
9

didiagnosa menderita depresi postpartum. Dan 1 atau 2 dari 1.000 ibu akan mengalami sakit jiwa akibatnya. Salah satu bentuk kegilaannya adalah halusinasi pendengaran. "Mereka mendengar suara-suara yang meminta mereka menyakiti diri sendiri atau bayi mereka. Atau mereka mendengar suara yang mengatakan bayinya milik iblis dan mereka harus membunuh bayinya untuk membunuh iblis," kata spesialis penyakit depresi postpartum ini. Ibu yang mengalami depresi postpartum memiliki 50 persen kemungkinan bertambah parah dengan kelahiran berikutnya. Ibu yang menderita berat akibat penyakit ini akan mempertimbangkan tidak lagi memiliki anak tambahan. Berikut beberapa gejala depresi postpartum: * Merasa tidak mampu mencintai bayi atau keluarga. * Perhatian maupun cemas secara berlebihan tentang bayi atau justru kurang perhatian maupun perasaan terhadap bayi. * Gelisah atau panik akan ada seranganserangan. * Tidak bisa tidur atau justru banyak tidur. * Perubahan selera makan. * Marah terhadap bayinya, rekan-rekan, atau anggota keluarga lainnya. * Takut menyakiti bayi. Pikiran ini bisa jadi obsesif sehingga jadi takut ditinggal sendirian di dalam rumah bersama bayi. * Lekas marah. Foto: Andrea, suami dan anak-anaknya (bloggingbaby.com)

10