Anda di halaman 1dari 25

PRESENTASI KASUS 3

BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA

Disusun Oleh :

Mira Andhika

1102009173

Rizweta Destin 1102009253

Pembimbing :

Dr. Herry Setya Yudha Utama, Sp.B, MH.Kes, FInaCS, ICS.

Kepaniteraan Klinik Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Bagian Ilmu Bedah RSUD Arjawinangun Mei 2013

BAB I
1

LEMBAR KASUS 1.1 IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Usia Alamat Pekerjaan : Tn. U : laki-laki : 70 tahun : Majalengka : Tidak bekerja

Satus Perkawinan : Menikah Tanggal Masuk : 20 Mei 2013

1.2 ANAMNESIS ( AUTOANAMNESA tanggal 23 Mei 2013) A. Keluhan Utama : nyeri pada saat buang air kecil sejak satu minggu SMRS

B. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke RSUD Arjawinangun dengan keluhan nyeri pada saat buang air kecil sejak satu minggu SMRS. Pada saat buang air kecil, air seni keluar terputusputus. Pasien juga mengeluhkan sering buang air kecil pada malam hari, tidak dapat menahan buang air kecil, dan rasa tidak nyaman pada perut bagian bawah. Air seni berwarna kekuningan, tidak berpasir. Keluhan baru pertama kali dirasakan oleh pasien. Keluhan demam, mual, muntah, nyeri pinggang dan trauma disangkal. Riwayat darah tinggi dan kencing manis disangkal. Pada tanggal 21 Mei 2013 pasien telah menjalani operasi pengangkatan kelenjar prostat. C. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. D. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada yang mempunyai keluhan serupa dengan pasien pada keluarga pasien. Tidak ada riwayat darah tinggi dan kencing manis. 1.3 PEMERIKSAAN FISIK (tanggal 23 Mei 2013)
2

A. Obyektif Status Generalis Keadaan umum Kesadaran GCS Tanda Vital : : baik : compos mentis : E4V5M6

o Tekanan darah: 120 /70 mmHg o Nadi o Pernapasan o Suhu Kepala Mata Leher Paru o Inspeksi o Palpasi o Perkusi o Auskultasi Jantung o Inspeksi o Palpasi o Perkusi o Auskultasi Abdomen o Inspeksi o Palpasi o Perkusi : datar, simetris : supel, nyeri tekan : timpani di seluruh kuadran abdomen
3

: 92 x/menit, regular : 24 x/menit : 36.4o C : normochepali, tidak ada benjolan : konjuntiva anemis ( -/- ) Sklera ikterik ( -/- ) : pembesaran KGB ( - ) trakea berada ditengah Thorax : Hemithoraks kiri dan kanan simetris, tidak ada sikatrik : Fremitus taktil dan fremitus vokal simetris pada kedua lapang paru : Sonor pada kedua lapang paru : Vesikuler pada semua lapang paru, Rh -/-, Wh -/-

: Ictus Cordis tidak terlihat : Ictus Cordis teraba : batas jantung dalam batas normal : BJ I-II Reg G(-) M(-)

o Auskultasi Ekstremitas Superior Inferior 1.4 DIAGNOSA KERJA

: BU (+)

: Akral hangat, edema (-/-), sianosis (-/-) : Akral hangat, edema (-/-), sianosis (-/-)

Benign Prostat Hiperplasia

1.5 DIAGNOSA BANDING Infeksi saluran kemih Batu buli Tumor buli Prostatitis

1.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Lab (tanggal 21 Mei 2013) Hematologi rutin o LYM : 0.6 (1- 5 103 /L) o GRA : 10.8 (2 - 8 %) o LYM%: 4.8 (25 - 50 %) o GRA% : 92.3 (50 - 80 %) o HGB : 10,9 (11-17 g/dl) o HCT o PLT : 34,2 (35-55%) : 737 (150 400 103 /L)

o MPV : 6,6 (7 11 m3) Saran Pemeriksaan Tumor marker Laboratorium fungsi ginjal Rontgen dada
4

1.7 PENATALAKSANAAN Hypobach 2x1 Dolac 2x1 Prazol 2x1

1.8 PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanactionam : dubia at bonam : dubia at bonam : dubia at bonam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kelenjar Prostat Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior bulibuli dan membungkus uretra posterior. Prostat berbentuk seperti piramid terbalik dan merupakan organ kelenjar fibromuskuler yang mengelilingi uretra pars prostatica. Bila mengalami pembesaran organ ini menekan uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urin keluar dari buli-buli. Prostat merupakan kelenjar aksesori terbesar pada pria; tebalnya 2 cm dan panjangnya 3 cm dengan lebarnya 4 cm, dan berat 20 gram. Prostat mengelilingi uretra pars prostatika dan ditembus di bagian posterior oleh dua buah duktus ejakulatorius. Secara histologi prostat terdiri atas 30-50 kelenjar tubulo alveolar yang mencurahkan sekretnya ke dalam 15-25 saluran keluar yang terpisah. Saluran ini bermuara ke uretra pada kedua sisi kolikulus seminalis. Kelenjar ini terbenam dalam stroma yang terutama terdiri dari otot polos yang dipisahkan oleh jaringan ikat kolagen dan serat elastis. Otot membentuk masa padat dan dibungkus oleh kapsula yang tipis dan kuat serta melekat erat pada stroma. Alveoli dan tubuli kelenjar sangat tidak teratur dan sangat beragam bentuk ukurannya, alveoli dan tubuli bercabang berkali-kali dan keduanya mempunyai lumen yang lebar, lamina basal kurang jelas dan epitel sangat berlipat-lipat. Jenis epitelnya berlapis atau bertingkat dan bervariasi dari silindris sampai kubus rendah tergantung pada status endokrin dan kegiatan kelenjar. Sitoplasma mengandung sekret yang berbutir-butir halus, lisosom dan butir lipid. Nukleus biasanya satu, bulat dan biasanya terletak basal. Nukleoli biasanya terlihat ditengah, bulat dan kecil. Kelenjar prostat terbagi atas 4 lobus: 1. Lobus anterior : terletak didepan Urethra pars prostatica unsur kelenjar tidak berkembang embryologi : berasal dari dinding depan urethra pars prostatica.

2. Lobus lateral : paling berkembangbenign prostat hyperplasia terletak sebelah lateral dari urethra pars prostatica

3. Lobus medius : sinonim : Lobus medianus


6

berkembang dari dinding posterior urethra pars prostatica terletak diatas ductus ejakulatorius sering menjadi BPH

4. Lobus posterior : berkembang dari dinding dorsal urethra lobus posterior ini yang teraba pada rectal toucher pada Ca prostata. bagian prostat yg berhadapan dengan rectum terletak dibawah muara ductus ejakulatorius

Gambar 1. Pembagian Zona Kelenjar Prostat Telah ditemukan lima daerah/ zona tertentu yang berbeda secara histologi maupun biologi, yaitu: 1. Zona Anterior atau Ventral Sesuai dengan lobus anterior, tidak punya kelenjar, terdiri atas stroma fibromuskular. Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat. 2. Zona Perifer Sesuai dengan lobus lateral dan posterior, meliputi 70% massa kelenjar prostat.Zona ini rentan terhadap inflamasi dan merupakan tempat asal karsinoma terbanyak. 3. Zona Sentralis. Lokasi terletak antara kedua duktus ejakulatorius, sesuai dengan lobus tengah meliputi 25% massa glandular prostat.Zona ini resisten terhadap inflamasi. 4. Zona Transisional. Zona ini bersama-sama dengan kelenjar periuretra disebut juga sebagai kelenjar preprostatik. Merupakan bagian terkecil dari prostat, yaitu kurang lebih 5% tetapi
7

dapat melebar bersama jaringan stroma fibromuskular anterior menjadi benign prostatic hyperpiasia (BPH). 5. Kelenjar-Kelenjar Periuretra Bagian ini terdiri dan duktus-duktus kecil dan susunan sel-sel asinar abortif tersebar sepanjang segmen uretra proksimal. Aliran darah prostat merupakan percabangan dari arteri pudenda interna, arteri vesikalis inferior dan arteri rektalis media. Pembuluh ini bercabang-cabang dalam kapsula dan stroma, dan berakhir sebagai jala-jala kapiler yang berkembang baik dalam lamina propria. Pembuluh vena mengikuti jalannya arteri dan bermuara ke pleksus sekeliling kelenjar. Pleksus vena mencurahkan isinya ke vena iliaca interna. Pembuluh limfe mulai sebagai kapiler dalam stroma dan mengikuti pembuluh darah dam mengikuti pembuluh darah. Limfe terutama dicurahkan ke nodus iliaka interna dan nodus sakralis. Persarafan prostat berasal dari pleksus hipogastrikus inferior dan membentuk pleksus prostatikus. Prostat mendapat persarafan terutama dari serabut saraf tidak bermielin. Beberapa serat ini berasal dari sel ganglion otonom yang terletak di kapsula dan di stroma. Serabut motoris, mungkin terutama simpatis, tampak mempersarafi sel-sel otot polos di stroma dan kapsula sama seperti dinding pembuluh darah.

2.2 Fisiologi Kelenjar Prostat Sekret kelenjar prostat adalah cairan seperti susu yang bersama-sama sekret dari vesikula seminalis merupakan komponen utama dari cairan semen. Semen berisi sejumlah asam sitrat sehingga pH nya agak asam. Selain itu dapat ditemukan enzim yang bekerja sebagai fibrinolisin yang kuat, fosfatase asam, enzim-enzim lain dan lipid. Sekret prostat dikeluarkan selama ejakulasi melalui kontraksi otot polos. Kelenjar prostat juga menghasilkan cairan dan plasma seminalis, dengan perbandingan cairan prostat 13-32% dan cairan vesikula seminalis 46-80% pada waktu ejakulasi. Kelenjar prostat dibawah pengaruh Androgen Bodies dan dapat dihentikan dengan pemberian Stilbestrol. Sintesis androgen (seminiferous) di testis dihasilkan oleh sel Leydig (sel interstitial). LH merangsang sel Leydig untuk menghasilkan seminiferous. Androgen diikat oleh ABP dan dibawa ke reseptor androgen sel-sel germinal yang ada di lumen tubulus seminiferous. Dalam tubulus seminiferous androgen berfungsi untuk mengontrol spermatogenesis pada pembelahan meiosis dan proses spermiogenesis. Androgen inilah yang merangsang epitel dan bagian periurethral agar mensekresi asam fosfatase yang kadarnya paling besar dihasilkan di prostat dan dikeluarkan bersama cairan semen dan juga PSA (prostate specific antigen) yang kadarnya biasanya tinggi pada kanker prostat ataupun BPH. PSA merupakan suatu serin protease 30kDa yang dibentuk oleh protease terdapat dalam cairan semen dan darah. Nilai PSA normal adalah di bawah 4 ng/ml. Nilai PSA 4-10 ng/ml adalah samar-samar dan dapat timbul pada keadaan normal atau seringkali timbul pada keadaan prostatitis atau hiperplasia prostat jinak; nilai >10 ng/ml sangat berkaitan dengan diagnosis adenokarsinoma prostat. 2.3 Benign Prostatic Hyperplasia
8

2.3.1 Definisi Pembesaran prostat jinak (BPH, Benign Prostatic Hyperplasia) adalah hiperplasia jinak kelenjar prostat yang menyebabkan pembesaran ukuran kelenjar prostat yang merupakan jaringan periuretral sehingga mendesak yang prostat perifer. Pembesaran prostat umumnya pada pria di atas 50 tahun.

Gambar 2. Benign Prostat Hyperplasia 2.3.2 Epidemiologi Penyidik di berbagai negara telah melaporkan studi cross-sectional yang dirancang untuk menentukan prevalensi klinis benign prostatic hyperplasia (BPH), sebagaimana didefinisikan oleh Skor Prostat Gejala Internasional (IPSS)> 7, laju aliran urin puncak (Qmax) <15 mL / detik , dan volume prostat> 20 cc. Prevalensi BPH dalam studi ini adalah secara konsisten terbukti tergantung usia, serta relatif seragam di seluruh dunia. (Roehrborn CG, McConnell JD) Faktor resiko BPH: 1. Umur Umur merupakan faktor risiko utama untuk BPH. Lebih dari setengah laki-laki mengembangkan BPH pada usia 60 dan sekitar 85% dari pria memiliki BPH oleh usia 85. Hal ini biasa bagi BPH dapat menyebabkan gejala sebelum usia 40. 2. Sejarah Keluarga Sejarah keluarga BPH tampaknya meningkatkan peluang pria mengembangkan kondisi. 3. Faktor Risiko Penyakit Jantung dan BPH
9

Beberapa bukti menunjukkan bahwa faktor-faktor risiko yang sama berhubungan dengan penyakit jantung dapat meningkatkan risiko pengembangan BPH. Faktorfaktor risiko mencakup obesitas, tekanan darah tinggi, rendahnya tingkat HDL ("baik") kolesterol, diabetes, dan penyakit arteri perifer (PAD). Faktor gaya hidup yang sehat bagi jantung (kurangnya aktivitas fisik, merokok, pola makan yang buruk) mungkin juga dapat meningkatkan risiko BPH atau memperburuk gejalanya. 4. Lifestyle Aktivitas seksual, vasektomi, penggunaan alkohol, sirosis, hipertensi, merokok, diet, dan obesitas. 2.3.3 Etiologi Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses aging. Beberapa teori atau hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah: 1. Teori Dehidrotestosteron (DHT) Testosteron yang dihasilkan oleh sel leydig pada testis (90%) dan sebagian dari kelenjar adrenal (10%) masuk dalam peredaran darah dan 98% akan terikat oleh globulin menjadi sex hormon binding globulin (SHBG). Sedang hanya 2% dalam keadaan testosteron bebas. Testosteron bebas inilah yang bisa masuk ke dalam target cell yaitu sel prostat melewati membran sel langsung masuk kedalam sitoplasma, di dalam sel, testosteron direduksi oleh enzim 5 alpha reductase menjadi 5 dehidrotestosteron yang kemudian bertemu dengan reseptor sitoplasma menjadi hormone receptor complex. Kemudian hormone receptor complex ini mengalami transformasi reseptor, menjadi nuclear receptor yang masuk kedalam inti yang kemudian melekat pada chromatin dan menyebabkan transkripsi m-RNA. RNA ini akan menyebabkan sintese protein menyebabkan terjadinya pertumbuhan kelenjar prostat. 2. Teori Hormonal Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan hormonal, yaitu antara hormon testosteron dan hormon estrogen. Karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer dengan pertolongan enzim aromatase, dimana sifat estrogen ini akan merangsang terjadinya hiperplasia pada stroma, sehingga timbul dugaan bahwa testosteron diperlukan untuk inisiasi terjadinya proliferasi sel tetapi kemudian estrogenlah yang berperan untuk perkembangan stroma. Kemungkinan lain ialah perubahan konsentrasi relatif testosteron dan estrogen akan menyebabkan produksi dan potensiasi faktor pertumbuhan lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran prostat. Pada keadaan normal hormon gonadotropin hipofise akan menyebabkan produksi hormon androgen testis yang akan mengontrol pertumbuhan prostat. Dengan makin
10

bertambahnya usia, akan terjadi penurunan dari fungsi testikuler (spermatogenesis) yang akan menyebabkan penurunan yang progresif dari sekresi androgen. Hal ini mengakibatkan hormon gonadotropin akan sangat merangsang produksi hormon estrogen oleh sel sertoli. Dilihat dari fungsional histologis, prostat terdiri dari dua bagian yaitu sentral sekitar uretra yang bereaksi terhadap estrogen dan bagian perifer yang tidak bereaksi terhadap estrogen. 2. Teori Growth Factor (Faktor Pertumbuhan) Peranan dari growth factor ini sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat. Terdapat empat peptic growth factor yaitu: basic transforming growth factor, transforming growth factor 1, transforming growth factor 2, dan epidermal growth factor. 3. Teori peningkatan lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati Apoptosis pada sel prostat adalah mekanisme fisiologis untuk mempertahankan homeostasis pada kelenjar prostat. Kondensasi terjadi pada apoptosis dan fragmentasi sel berikutnya sel yang mengalami apoptosis akan difagositosis oleh sel sekitarnya, dan kemudian terdegradasi oleh lisosomal jaringan normal enzymes.On, ada keseimbangan antara tingkat proliferasi sel dengan kematian sel. Dalam masa pertumbuhan prostat ke prostat dewasa. Dari jumlah sel prostat baru yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel prostat mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel prostat secara keseluruhan akan meningkat sehingga pertambahan massa menyebabkan hormon androgen prostate.Suspected berperan dalam menghambat proses apoptosis karena setelah pengebirian, ada aktivitas kematian sel kelenjar prostat meningkat . Estrogen dianggap dapat memperpanjang umur sel-sel prostat, sedangkan faktor pertumbuhan TGF berperan dalam proses apoptosis. 4. Teori Sel Stem (stem cell hypothesis) Seperti pada organ lain, prostat dalam hal ini kelenjar periuretral pada seorang dewasa berada dalam keadaan keseimbangan steady state, antara pertumbuhan sel dan sel yang mati, keseimbangan ini disebabkan adanya kadar testosteron tertentu dalam jaringan prostat yang dapat mempengaruhi sel stem sehingga dapat berproliferasi. Pada keadaan tertentu jumlah sel stem ini dapat bertambah sehingga terjadi proliferasi lebih cepat. Terjadinya proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi atau proliferasi sel stroma dan sel epitel kelenjar periuretral prostat menjadi berlebihan. 2.3.4 Patofisiologi Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain : 1). Dehidrotestosteron
11

2). Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron 3). Interaksi stroma - epitel 4). Berkurangnya sel yang mati 5). Teori sel stem Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan, efek perubahan juga terjadi perlahan-lahan. Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi pada leher vesika dan daerah prostat meningkat dan detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trabekulasi (buli-buli balok). Mukosa dapat menerobos keluar di antara serat detrusor. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula (kantong kecil), sedangkan yang besar disebut divertikulum. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi otot dinding. Apabila keadaan berlanjut, detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Gejala dan tanda obstruksi saluran kemih berarti penderita harus menunggu pada permulaan miksi, miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran miksi rnenjadi lemah, dan rasa belum puas sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkan hipersensitivitas otot detrusor berarti bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit ditahan, dan disuria. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempuma pada saat miksi atau pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada kandung kemih sehingga vesika sering berkontraksi meskipun belum penuh. Gejala dan tanda ini diberi skor untuk menentukan berat keluhan klinis. Apabila vesika menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urin sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urin di dalam kandung kemih, dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir miksi. Jika keadaan ini berlanjut, pada suatu saat akan terjadi kemacetan total sehingga penderita tidak mampu lagi miksi. Karena produksi urin terus terjadi, pada suatu saat vesika tidak mampu lagi menampung urin sehingga tekanan intravesika terus meningkat. Apabila tekanan vesika menjadi lebih tinggi daripada tekanan sfingter dan obstruksi, akan terjadi inkontinensia paradoks. Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis, dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu miksi, penderita harus selalu mengedan sehingga lama-kelamaan menyebabkan hernia atau hemoroid. Karena selalu terdapat sisa urin, dapat terbentuk batu endapan di dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks, dapat terjadi pielonefritis.

2.3.5 Manifestasi klinik

12

Gejala hiperplasia prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan di luar saluran kemih. A. Gejala pada saluran kemih bagian bawah Keluhan pada saluran kemih sebelah bawah ( LUTS) terdiri atas gejala obstruktif dan gejala iritatif. Gejala obstruktif disebabkan oleh karena penyempitan uretara pars prostatika karena didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi cukup kuat dan atau cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. Gejalanya ialah : 1. Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistancy) 2. Pancaran miksi yang lemah (weak stream) 3. Miksi terputus (Intermittency) 4. Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling) 5. Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of incomplete bladder emptying). Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung tiga faktor, yaitu : 1. Volume kelenjar periuretral 2. Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat 3. Kekuatan kontraksi otot detrusor Tidak semua prostat yang membesar akan menimbulkan gejala obstruksi, sehingga meskipun volume kelenjar periurethral sudah membesar dan elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat menurun, tetapi apabila masih dikompensasi dengan kenaikan daya kontraksi otot detrusor maka gejala obstruksi belum dirasakan. Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh hipersensitifitas otot detrusor karena pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering berkontraksi meskipun belum penuh. Gejalanya ialah : 1. 2. 3. 4. Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency) Nokturia Miksi sulit ditahan (Urgency) Disuria (Nyeri pada waktu miksi)

Gejala-gejala tersebut diatas sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis derajat berat gejala prostatismus itu dibagi menjadi : Grade I : Gejala prostatismus + sisa kencing 0-50 ml Grade II : Gejala prostatismus + sisa kencing > 50 ml Grade III: Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas + sisa urin > 150 ml.

13

Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah bawah, WHO menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut Skor Internasional Gejala Prostat atau I-PSS (International Prostatic Symptom Score). Sistem skoring I-PSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi (LUTS) dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien. Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0 sampai dengan 5, sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai dari 1 hingga 7. Dari skor I-PSS itu dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu ringan : skor 0-7, sedang : skor 8-19 dan berat : skor 20-35 Timbulnya gejala LUTS merupakan menifestasi kompensasi otot vesica urinaria untuk mengeluarkan urin. Pada suatu saat otot-otot vesica urinaria akan mengalami kepayahan (fatique) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi urin akut. Tabel 1. International Prostatic Symptom Score Pertanyaan Keluhan terakhir pada Jawaban dan skor bulan Tidak sekali <20% <50% 50% >50% Hampir selalu 5

a. Adakah anda merasa buli-buli tidak kosong 0 setelah berkemih b. Berapa kali anda berkemih lagi dalam waktu 0 2 menit c. Berapa kali terjadi arus urin berhenti sewaktu 0 berkemih d. Berapa kali anda tidak dapat menahan untuk 0 berkemih e. Beraapa kali terjadi arus lemah sewaktu memulai 0 kencing f. Berapa keli terjadi bangun tidur anda kesulitan 0 memulai untuk berkemih g. Berapa kali anda bangun 0 untuk berkemih di malam

1 1

2 2

3 3

4 4

5 5
14

hari Jumlah nilai : 0 = baik sekali 1 = baik 2 = kurang baik 3 = kurang 4 = buruk 5 = buruk sekali

Timbulnya dekompensasi vesica urinaria biasanya didahului oleh beberapa faktor pencetus, antara lain:

Volume vesica urinaria tiba-tiba terisi penuh yaitu pada cuaca dingin, menahan kencing terlalu lama, mengkonsumsi obat-obatan atau minuman yang mengandung diuretikum (alkohol, kopi) dan minum air dalam jumlah yang berlebihan Massa prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah melakukan aktivitas seksual atau mengalami infeksi prostat akut Setelah mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan kontraksi otot detrusor atau yang dapat mempersempit leher vesica urinaria, antara lain: golongan antikolinergik atau alfa adrenergik.

B. Gejala pada saluran kemih bagian atas Keluhan akibat penyulit hiperplasi prostat pada saluran kemih bagian atas berupa gejala obstruksi antara lain nyeri pinggang, benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis), atau demam yang merupakan tanda dari infeksi atau urosepsis. C. Gejala di luar saluran kemih Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia inguinalis atau hemoroid. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdominal. 2.3.6 Diagnosis A. Anamnesis : gejala obstruktif dan gejala iritatif B. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus spingter ani, reflek bulbo cavernosus, mukosa rektum, adanya kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum dan tentu saja teraba prostat. Pada perabaan prostat harus diperhatikan : 1. Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal) 2. Adakah asimetris
15

3. Adakah nodul pada prostate 4. Apakah batas atas dapat diraba 5. Sulcus medianus prostate 6. Adakah krepitasi Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan prostat teraba membesar, konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung hidung, permukaan rata, lobus kanan dan kiri simetris, tidak didapatkan nodul, dan menonjol ke dalam rektum. Semakin berat derajat hiperplasia prostat, batas atas semakin sulit untuk diraba. Sedangkan pada carcinoma prostat, konsistensi prostat keras dan atau teraba nodul dan diantara lobus prostat tidak simetris. Sedangkan pada batu prostat akan teraba krepitasi. Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas kadangkadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pielonefritis akan disertai sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat teraba apabila sudah terjadi retensi total, daerah inguinal harus mulai diperhatikan untuk mengetahui adanya hernia. Genitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab yang lain yang dapat menyebabkan gangguan miksi seperti batu di fossa navikularis atau uretra anterior, fibrosis daerah uretra, fimosis, condiloma di daerah meatus. Pada pemeriksaan abdomen ditemukan kandung kencing yang terisi penuh dan teraba masa kistus di daerah supra simfisis akibat retensio urin dan kadang terdapat nyeri tekan supra simfisis. C. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium berperan dalam menentukan ada tidaknya komplikasi. 1. Darah : - Ureum dan Kreatinin Elektrolit Blood urea nitrogen Prostate Specific Antigen (PSA) Gula darah

2. Urin : - Kultur urin + sensitifitas test Urinalisis dan pemeriksaan mikroskopik Sedimen

Sedimen urin diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi pada saluran kemih. Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang
16

menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan. Faal ginjal diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian atas. Sedangkan gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit diabetes mellitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada vesica urinaria. D. Pemeriksaan pencitraan 1. Foto polos abdomen (BNO) BNO berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa prostat dan kadangkala dapat menunjukkan bayangan vesica urinaria yang penuh terisi urin, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. Selain itu juga bisa menunjukkan adanya hidronefrosis, divertikel kandung kemih atau adanya metastasis ke tulang dari carsinoma prostat. 2. Pielografi Intravena (IVP) Pemeriksaan IVP dapat menerangkan kemungkinan adanya: kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan oleh adanya indentasi prostat (pendesakan vesica urinaria oleh kelenjar prostat) atau ureter di sebelah distal yang berbentuk seperti mata kail atau hooked fish penyulit yang terjadi pada vesica urinaria yaitu adanya trabekulasi, divertikel, atau sakulasi vesica urinaria foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin

3. Sistogram retrograd Apabila penderita sudah dipasang kateter oleh karena retensi urin, maka sistogram retrograd dapat pula memberi gambaran indentasi. 4. USG secara transrektal (Transrectal Ultrasonography = TURS) Untuk mengetahui besar atau volume kelenjar prostat, adanya kemungkinan pembesaran prostat maligna, sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat, menentukan volume vesica urinaria dan jumlah residual urine, serta mencari kelainan lain yang mungkin ada di dalam vesica urinaria seperti batu, tumor, dan divertikel. 5. Pemeriksaan Sistografi Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urine ditemukan mikrohematuria. Sistografi dapat memberikan gambaran kemungkinan
17

tumor di dalam vesica urinaria atau sumber perdarahan dari atas bila darah datang dari muara ureter, atau batu radiolusen di dalam vesica. Selain itu juga memberi keterangan mengenai basar prostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam uretra.

6. MRI atau CT jarang dilakukan Digunakan untuk melihat pembesaran prostat dan dengan bermacam macam potongan. E. Pemeriksaan Lain 1. Uroflowmetri Untuk mengukur laju pancaran urin miksi. Laju pancaran urin ditentukan oleh daya kontraksi otot detrusor, tekanan intravesica dan resistensi uretra Angka normal laju pancaran urin ialah 10-12 ml/detik dengan puncak laju pancaran mendekati 20 ml/detik. Pada obstruksi ringan, laju pancaran melemah menjadi 6 8 ml/detik dengan puncaknya sekitar 11 15 ml/detik. Semakin berat derajat obstruksi semakin lemah pancaran urin yang dihasilkan. 2. Pemeriksaan Tekanan Pancaran (Pressure Flow Studies) Pancaran urin melemah yang diperoleh atas dasar pemeriksaan uroflowmetri tidak dapat membedakan apakah penyebabnya adalah obstruksi atau daya kontraksi otot detrusor yang melemah. Untuk membedakan kedua hal tersebut dilakukan pemeriksaan tekanan pancaran dengan menggunakan Abrams-Griffiths Nomogram. Dengan cara ini maka sekaligus tekanan intravesica dan laju pancaran urin dapat diukur. 3. Pemeriksaan Volume Residu Urin Volume residu urin setelah miksi spontan dapat ditentukan dengan cara sangat sederhana dengan memasang kateter uretra dan mengukur berapa volume urin yang masih tinggal atau ditentukan dengan pemeriksaan ultrasonografi setelah miksi, dapat pula dilakukan dengan membuat foto post voiding pada waktu membuat IVP. Pada orang normal sisa urin biasanya kosong, sedang pada retensi urin total sisa urin dapat melebihi kapasitas normal vesika. Sisa urin lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi pada penderita prostat hipertrofi. 2.3.7 Penatalaksanaan A. Terapi non operatif 1. Observasi (Watchful waiting)

18

Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan dengan skor IPSS <7. Nasihat yang diberikan adalah mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturia, menghindari obat-obatan dekongestal (parasimpatolitik), mengurangi minum kopi, dan tidak diperbolehkan minuman alkohol agar tidak sering miksi. Setiap 3 bulan lakukan kontrol keluhan (sistem skor), sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur. 2. Medikamentosa Tujuan terapi medikamentosa adalah untuk mengurangi resistensi leher buli-buli dengan obat-obatan golongan blocker (penghambat alfa adrenergik) dan menurunkan volume prostat dengan cara menurunkan kadar hormon testosteron/dehidrotestosteron (DHT). Obat Penghambat adrenergik Dasar pengobatan ini adalah mengusahakan agar tonus otot polos di dalam prostat dan leher vesica berkurang dengan menghambat rangsangan alpha adrenergik. Seperti diketahui di dalam otot polos prostat dan leher vesica banyak terdapat reseptor alpha adrenergik. Obat-obatan yang sering digunakan prazosin, terazosin, doksazosin, dan alfuzosin. Obat penghambat alpha adrenergik yang lebih selektif terhadap otot polos prostat yaitu 1a (tamsulosin), sehingga efek sistemik yang tak diinginkan dari pemakai obat ini dapat dikurangi. Dosis dimulai 1 mg/hari sedangkan dosis tamzulosin 0,2-0,4 mg/hari. Penggunaan antagonis alpha 1 adrenergik untuk mengurangi obstruksi pada vesica tanpa merusak kontraktilitas detrusor. Obat-obatan golongan ini memberikan perbaikan laju pancaran urine, menurunkan sisa urine dan mengurangi keluhan. Obat-obat ini juga memberi penyulit hipotensi, pusing, mual, lemas, dan meskipun sangat jarang bisa terjadi ejakulasi retrograd, biasanya pasien mulai merasakan berkurangnya keluhan dalam waktu 1-2 minggu setelah pemakaian obat. Obat Penghambat Enzim 5 Alpha Reduktase Merupakan obat pilihan untuk pasien dengan LUTS sedang/berat dan prostate membesar (>40 g). Obat yang dipakai adalah finasterid (proskar) dengan dosis 1x5 mg/hari. Obat golongan ini dapat menghambat pembentukan dehidrotestosteron sehingga prostat yang membesar dapat mengecil. Namun obat ini bekerja lebih lambat daripada golongan alpha blocker dan manfaatnya hanya jelas pada prostat yang sangat besar. Salah satu efek samping obat ini adalah melemahkan libido dan ginekomastia. Fitoterapi Merupakan terapi alternatif yang berasal dari tumbuhan. Fitoterapi yang digunakan untuk pengobatan BPH adalah Serenoa repens atau Saw Palmetto dan Pumpkin Seeds. Keduanya, terutama Serenoa repens semakin diterima pemakaiannya dalam upaya pengendalian prostatisme BPH dalam konteks watchfull waiting strategy.
19

Saw Palmetto menunjukkan perbaikan klinis dalam hal: frekuensi nokturia berkurang aliran kencing bertambah lancar volume residu di kandung kencing berkurang gejala kurang enak dalam mekanisme urinaria berkurang. Mekanisme kerja obat diduga kuat: menghambat aktivitas enzim 5 alpha reduktase dan memblokir reseptor androgen bersifat antiinflamasi dan antiedema dengan cara menghambat aktivitas enzim cyclooxygenase dan 5 lipoxygenase. B. Terapi operatif Tindakan operasi ditujukan pada hiperplasi prostat yang sudah menimbulkan penyulit tertentu, antara lain: retensi urin, batu saluran kemih, hematuri, infeksi saluran kemih, kelainan pada saluran kemih bagian atas, atau keluhan LUTS yang tidak menunjukkan perbaikan setelah menjalani pengobatan medikamentosa. Tindakan operasi yang dilakukan adalah operasi terbuka atau operasi endourologi transuretra. 1. Open Surgery Beberapa teknik operasi prostatektomi terbuka adalah metode Millin, yaitu enukleasi kelenjar prostat yang dilakukan melalui pendekatan retropubik intravesical dan suprapubik Freyer melalui transvesika atau pendekatan transperineal. Prostatektomi terbuka adalah tindakan tertua yang masih digunakan saat ini, paling invasif dan paling efisien untuk pengobatan BPH. Prostatektomi terbuka dianjurkan untuk prostat dengan ukuran sangat besar (> 100 gram). Komplikasi yang dapat terjadi setelah prostatektomi terbuka adalah inkontinensia, impotensi, ejakulasi retrograde dan leher kandung kemih kontraktur. Peningkatan gejala klinis sebanyak 85% -100% dan tingkat kematian sebanyak 2% . 2. Operasi Transurethra Endurologi Operasi ini adalah yang paling banyak dilakukan. Teknik operasi ini lebih disukai karena tidak memerlukan insisi dalam kulit perut dan memberikan hasil yang tidak jauh berbeda dari operasi terbuka. Operasi Transuretra Endurologi dapat dilakukan dengan metode reseksi TURP (Transurethral Prostat) atau dengan menggunakan energi laser dan insisi (TUIP) atau metode penguapan. a. TURP (Reseksi Prostat Transuretra)

20

Transuretra reseksi kelenjar prostat dilakukan dengan menggunakan cairan irigasi (bilas) daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. Cairan yang digunakan adalah larutan non-ionik, dimakasudkan untuk mencegah konduksi listrik di oprasi. Cairan yang sering digunakan dan murah adalah H2O steril (air suling). Salah satu kelemahan dari air suling adalah bersifat hipotonik sehingga cairan ini dapat masuk ke sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah pada saat reseksi terbuka. Kelebihan H 2O dalam sirkulasi sistemik dapat menyebabkan gejala hiponatremia atau keracunan air relatif atau dikenal sebagai sindrom TURP. Sindrom ini ditandai dengan pasien mulai mengalami kecemasan, kesadaran somnolen, tekanan darah meningkat dan bradikardi. Jika tidak segera diatasi, akan mengalami edema otak yang pada akhirnya jatuh ke dalam koma dan meninggal. Sindrom TURP memiliki risiko tingkat kematian 0,99%. Untuk membatasi timbulnya sindrom TURP, operator harus membatasi diri untuk tidak melakukan reseksi lebih dari 1 jam. Selain itu, sebelum sitostomi suprapubik reseksi dilakukan, operator diharapkan untuk mengurangi penyerapan air ke dalam sirkulasi sitemik.

Gambar 4. TURP b. TUIP Pada prostat hiperplasia tidak begitu besar, dengan tidak adanya pembesaran lobus medial, dan usia muda pasien yang hanya membutuhkan sayatan pada kelenjar prostat atau TUIP (Insisi transurethral dari prostat) atau sayatan pada leher kandung kemih atau BNI (Bladder Neck Incision) . Sebelum tindakan ini dilakukan, harus dikecualikan kemungkinan karsinoma prostat dengan rectal toucher, pemeriksaan USG transrektal dan pengukuran kadar PSA. Ukuran yang direkomendasikan prostat kecil (<30 gram), ditemukan pembesaran lobus medial, dan tidak ditemukan adanya kecurigaan karsinoma. Sayatan diperdalam pada kapsul prostat. Waktu yang dibutuhkan lebih cepat, dan lebih sedikit komplikasi dibandingkan dengan TURP. TUIP mampu menurunkan keluhan akibat BPH dan meningkatkan Qmax meskipun tidak sebagus TURP. c. Prostat Elektrovaporasi/Transurethral electrovaporization (TUVP) Elektrovaporasi cara TURP prostat adalah tempat yang sama, kecuali bahwa teknik ini menggunakan rol mesin bola diathermy spesifik dan cukup kuat,
21

sehingga membuat vaporisasi kelenjar prostat. Teknik ini aman, tidak banyak menimbulkan perdarahan, periode pengobatan di rumah dan rumah sakit lebih pendek. Namun, teknik ini dimaksudkan hanya untuk prostat yang tidak terlalu besar (<50 gram) dan perlu waktu yang lebih lama pidato. d. Laser prostatektomi (Greenligth Laser) Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP) yang dilakukan dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual laser ablation of the prostate (VILAP), dan interstitial laser therapy. Bila dibandingkan dengan operasi, pemakaian laser memiliki komplikasi lebih sedikit, bisa dilakukan di klinik, penyembuhan lebih cepat, dan dengan kirakira hasil yang sama. Sayangnya, terapi ini membutuhkan terapi ulang 2% per tahun. Kekurangannya adalah tidak mampu mendapatkan jaringan untuk diperiksa, sering menimbulkan disuria, dan tidak segera setelah berkemih spontan operasi dan peak flow rate lebih rendah dari post-TURP. 3. Tindakan Invasif Minimal a. Termoterapi

Gambar 5. Termoterapi Termoterapi adalah pemanasan dengan gelombang mikro pada frekuensi 9151296 MHz yang dipancarkan melalui antena ditempatkan di dalam uretra. Dengan pemanasan lebih dari 440oC menyebabkan kerusakan jaringan di zona transisi dari prostat karena nekrosis koagulasi. Prosedur ini dilakukan tanpa memberikan energi poliklinis. Pemanas anestesi dipancarkan dengan gelombang mikro melalui kateter yang terpasang didalam uretra. Besaran dan arah energi berkas diatur melalui komputer sehingga dapat melunakkan jaringan prostat yang menyumbat uretra. Morbiditas relatif rendah, hal itu dapat dilakukan tanpa anestesi dan dapat dijalani oleh pasien yang kondisinya
22

tidak baik jika Anda memiliki operasi. Metode ini direkomendasikan untuk ukuran prostat kecil. b. TUNA (Transurethral Needle Ablation of Prostate) Teknik ini menggunakan frekuensi radio yang menghasilkan panas hingga mencapai 1000oC, mengakibatkan nekrosis jaringan prostat. Sistem ini terdiri dari TUNA kateter dihubungkan ke generator yang dapat menghasilkan energi frekuensi radio pada 490 kHz. Kedalma kateter uretra melalui sistoskopi dengan pemberian anestesi topikal xylocain sehingga jarum terletak di ujung kateter terletak pada kelenjar prostat. Pasien sering mengeluh masih hematuria, disuria, waktu retensi urin, dan epididymo-orchitis. c. Stent Stents prostatic dipasang pada uretra prostat untuk mengatasi obstruksi karena pembesaran prostat. Stent intraluminal ditempatkan antara leher kandung kemih dan verumontanum daerah poksimal sehingga urin dapat leluasa melewati lumen uretra prostat. Stent dapat ditempatkan sementara atau permanen. Satu set sementara untuk 6-36 bulan dan terbuat dari bahan yang tidak diserap dan tidak mengadakan reaksi jaringan. Alat ini dipasang dan dilepas oleh endoskopi again. Permanent stent yang terbuat dari anyaman logam paduan super, nikel atau titanium. Dalam jangka panjang bahan ini akan ditanggung oleh urotelium sehingga jika suatu hari ingin dihapus harus memerlukan anesthesia. Pemasangan alat ini ditujukan untuk pasien yang mungkin tidak memiliki operasi karena risiko operasi yang cukup tinggi. Hanya diberikan kepada pasien yang memiliki resiko tinggi, yang ditunjukkan dengan kekambuhan retensi urin dan sebagai alternatif kateterisasi. Seringkali stent dapat terlepas dari insersi urethra posterior, atau memiliki enkurtasi. Sayangnya setelah kateter ini, pasien masih terasa berkemih keluhan gejala iritatif, perdarahan uretra, enak atau daerah penis.

Gambar 6. Pemasangan Stent pada Prostat d. HIFU (High Intensity Focus on USG) Panas energi diarahkan untuk menyebabkan nekrosis prostat dari gelombang ultrasound dari transduser yang memiliki frekuensi 0,5 sampai 10 MHz
23

piezokeramik. energi yang dipancarkan oleh perangkat ditempatkan pada transrektal dan difokuskan ke kelenjar prostat. Teknik ini memerlukan anestesi umum. Data klinis menunjukkan perbaikan gejala klinis terjadi 50-60% dan Qmax rata-rata meningkat 40-50%. Kegagalan pengobatan tercatat sebesar 10% setiap tahun. Meskipun banyak modalitas telah ditemukan untuk mengobati pembesaran prostat, namun sampai saat ini terapi yang memberikan hasil yang paling memuaskan adalah TURP. Setiap pasien BPH yang telah menerima pengobatan harus selalu kontrol secara teratur untuk mengendalikan perkembangan penyakit. Jadwal kontrol tergantung pada tindakan apa yang telah lived. Patients yang hanya mendapatkan kontrol (menunggu watchfull) Kontrol dianjurkan setelah 6 bulan, maka setiap tahun untuk menentukan apakah ada perbaikan klinis. Penilaian dilakukan dengan skor IPSS, uroflometri, dan pasca-berkemih urine.Patients sisa diobati dengan inhibitor reduktase 5, harus dikontrol pada 12 minggu dan 6 bulan untuk menilai respon terhadap terapi. Kemudian setiap tahun untuk menilai perubahan gejala berkemih. Pasien yang mengalami pengobatan penghambat 5 adrenergic, harus dinilai respon terhadap pengobatan setelah 6 minggu dari pemeriksaan IPSS, uroflometri sisa urin dan pasca-berkemih. Jika ada perbaikan gejala tanpa komplikasi menunjukkan signifikan, pengobatan dapat dilanjutkan. Kontrol lebih lanjut dilakukan setelah 6 bulan dan kemudian setiap tahun. Pasien setelah menerima perawatan dan tidak menunjukkan perbaikan Medis kerah harus dipertimbangkan ketika operasi atau pembedahan interventions.After terapi lainnya, pasien harus menjalani kontrol minimal 6 minggu pasca oprasi ke mengatuhi kemungkinan komplikasi. Kontrol kemudian setelah 3 bulan untuk melihat oprasi.Patients hasil akhir yang menerima terapi invasif minimal, harus menjalani kontrol rutin dalam jangka panjang, yaitu setelah 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan dan setiap tahun. Pada pasien yang menjalani terapi minimal invasif, dilakukan penilaian terhadap skor miksi dan penyelidikan kultur urin. 2.3.8 Diagnosis banding 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Prostatitis Urethral strictures Prostate or Bladder cancer. Tumor ekstra Vesika Obstruksi leher vesika ( Fibrosis, Kontraktur ) Obstruksi urethra ( striktur, Batu ) Neurogenic Bladder = spinchter dyssinergia

2.3.9 Komplikasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Urinary retention Renal impairment Urinary tract infection Gross hematuria Bladder stones Bladder decompensation Overflow incontinency
24

2.3.20 Prognosis Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap individu walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun, BPH yang tidak segera ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker prostat. Menurut penelitian, kanker prostat merupakan kanker pembunuh no 2 pada pria setelah kanker paru-paru. BPH yang telah diterapi juga menunjukkan berbagai efek samping yang cukup merugikan bagi penderita.

DAFTAR PUSTAKA

American Medical Systems, Inc. Invasive Treatment. Available online http://www.comiterpa.com/bph_invasive_treatments.htm (diakses 25 Mei 2013).

at

Neischlag,E., Behre, H.M. Andrology Male Reproductive Health and Dysfunction. SpringerVerlag Berlin Heidelberg, hal. 32-57, 1997. Purnomo B.P. 2000. Buku Kuliah Dasar Dasar Urologi. Jakarta : CV.Sagung Seto. Reksoprodjo S. Prostat Hipertrofi, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah cetakan pertama, Jakarta : Binarupa Aksara, 1995. Roehrborn CG, McConnell JD. Etiology, Pathophysiology, Epidemiology and Natural History of Benign Prostatic Hyperplasia. In: Walsh PC, Retik AB, Vaughan ED Jr, Wein AJ, editors. Campbells Urology. 8th ed. Philadelphia, PA: WB Saunders Co; 2002. pp. 12971336. Sjamsuhidajat R, De Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi revisi, Jakarta : EGC, 2004. Utama HSY. 2012. Etiology,sign, symptoms,Diagnosis and management Benign Prostat Hyperplastic (hyperplasia/hypertrophy). Available online at http://www.dokterbedahherryyudha.com/2012/03/diagnosis-and-managementbenign-prostat.html (diakses 25 Mei 2013). Utama HSY. 2012. Tehnology Urology Current Affairs / Tehnologi Dibidang Bedah Urologi Terkini . Available online at http://www.dokterbedahherryyudha.com/2012/08/ tehnology-urology-current-affairs.html (diakses 25 Mei 2013). Zhu Y. S., Cai L. Q., dkk. 2003. Androgen-Induced Prostate-Specific Antigen Gene Expression Is Mediated via Dihydrotestosterone in LNCaP Cells. Available online at http://www.andrologyjournal.org/cgi/reprint/24/5/681.pdf.

25

Anda mungkin juga menyukai