Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Mineral merupakan unsur anorganik yang tidak dapat disintesis oleh tubuh,

Salah satu fungsi meneral dalam tubuh adalah mengendalikan komposisi cairan di dalam tubuh. Pengertian mineral di dalam pangan adalah seluruh unsur selain C (karbon), H (hidrogen), O(oksigen), dan N (nitrogen). Menurut Fennema (1996), pada umumnya mineral terdapat dalam konsentrasi yang rendah dalam produk pangan. Namun, hal tersebut memiliki peran penting untuk tubuh. Keberadaan mineral yang berlebih pada produk pangan terkadang menjadi suatu kendala, sebagai contoh mineral Fe atau Cu pada minyak tidak jenuh akan mengkatalis reaksi oksidasi atau terjadi ketengikan (Jakunowski 2013), tetapi tidak jarang pada produk tertentu dilakukan fortifikasi mineral, seperti Fe yang difortifikasi pada susu bayi, sehingga untuk membuat formulasi suatu produk pangan tertentu perlu diketahui kadar mineral dari produk tersebut. Salah satu metode yang dapat menganalisis kadar mineral adalah Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Bedasarkan suhu prosesnya AAS dapat terbagi menjadi 2 yaitu Flame AAS (1800-3150oC) untuk sampel liquid dan graphite furnace AAS (1200-3000oC) untuk sampel liquid, slurries, dan solid. Prinsip kerja dari AAS adalah sampel dalam bentuk liquid harus berada dalam bentuk atom-atom bebas yang bersifat netral. Hal tersebut terjadi dengan beberapa tahap seperti desolvasi (penguapan air pada sampel hingga menjadi kering), vaporisasi (pengubahan sampel kering menjadi dalam bentuk gas), dan atomisasi (senyawa penyusun pada sampel diubah menjadi bentuk atom bebas dan netral). Komponen yang terdapat pada AAS antara lain Hallow catode lamp (HCL), ruang pengkabutan, pembakaran (flame), monokromator termasuk slit, dan detektor. Pengukuran kadar mineral secara kuantitatif dilakukan dengan menggunakan HCL sebagai sumber cahaya yang memancarkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu yang akan diserap oleh atom-atom bebas tertentu (sesuai dengan panjang

gelombang dari HCL) pada flame. Lalu, energi yang diserap akan dideteksi dan dihasilkan absorbasi yang dapat dikonversi ke konsentrasi jika diketahui persamaan kurva standar. Kelebihan dari metode AAS adalah memiliki sensitivitas tinggi hingga satuan ppm, memiliki hasil akurat, dan mampu menganalisi lebih dari 70 unsur mineral. Namun, AAS juga memiliki kelemahan, yaitu harus memiliki banyak jenis HCL untuk mengukur mineral yang berbeda-beda.

1.2

Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui secara kuantitatif kadar mineral

yang terdapat pada sampel, serta menentukan kadar mineral paling dominan pada sampel.

BAB II METODE

2.1

Alat - AAS tipe Solar M5 - Pipet ukur 10 mL - Labu takar 50 mL - Cawan alumunium - Gegep - Sudip

2.2

Bahan - Air demineral - Asam nitrat - Asam klorida - Asam perklorat - Larutan standar Cu, Mg, Zn, Ca 1000 mg/1000mL - Biskuit

- Susu bubuk 2.3 Prosedur

Persiapan sampel 1. Timbang 1 g sampel ke dalam labu Kjeldahl 100 mL. 2. Tambahkan 10 mL HNO3 hingga contoh terendah seluruhnya. 3. Tambahkan 3 ml HClO4 60% dan panaskan di atas alat destruksi perlahan sampai pembentukan busa berhenti. 4. Lanjutkan pemanasan hingga hampir seluruh HNO3 menguap. 5. Jika arang terbentuk, dinginkan larutan, lalu tambahkan 10 ml HNO3. Pemanasan dilanjutkan hingga larutan menjadi bening dan timbul asap putih dari HClO4. 6. Dinginkan dan tambahkan 10 ml HCl (1+1), lalu pindahkan secara kuantitatif ke dalam labu takar 50 mL. Encerkan hingga tanda tera.

Pembuatan larutan standar 1. Pipet 10 mL larutan Mg/Cu/Ca/Zn standar induk (1000mg/1000mL) ke dalam labu takar 100 mL. Tambahkan air demineral hingga tanda tera. Kocok larutan hingga homogeny dengan cara membalik-balikkan labu takar. Larutan ini adalah larutan standar dengan konsentrasi 100 mg/1000 mL. 2. Larutan standar konsentrasi 100 mg/1000 mL tersebut digunakan untuk membuat larutan standar lain dengan konsentrasi yang diinginkan.

Pengukuran absorbansi dengan AAS 1. Sebelum memulai pengukuran, lampu elemen yang ingin diukur dan larutan standar disiapkan. Selang inlet tercelup dalam air demineral. 2. Operasikan instrumen AAS sesuai dengan prosedur baku yang ada di laboratorium. 3. Catat nilai absorbansi (A) untuk setiap konsentrasi larutan contoh dan standar.

4. Buat plot kurva standaar antara konsentrasi larutan standar (X) dan absorbansi (Y). Kurva ini akan diperoleh secara otomotis dalam computer. Gunakan kurva standar untuk menentukan konsentrasi elemen dalam sampel.

Pengukuran kadar air sampel 1. Keringkan cawan alumunium dalam oven pada suhu 105oC selama 15 menit, lalu dinginkan di dalam desikator selama 10 menit. 2. Timbang cawan menggunakan neraca analitik (A). Sebanyak 1-2 g sampel (W) dimasukkan ke dalam cawan, kemudian cawan serta sampel ditimbang dengan neraca analitik. 3. Cawan berisi sampel dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC selama 1 malam. Selanjutnya, cawan berisi sampel didinginkan dalam desikator, kemudian ditimbang (Y). Kadar air diukur dengan cara sebagai berikut: Kadar air = W (Y A )/W x 100% Keterangan : W = bobot sampel awal (g) Y = bobot sampel dan cawan setelah dikeringkan (g) A = bobot cawan kosong (g)

Ketelitian sampel 1. Hitung nilai rata-rata dari sampel. 2. Hitung nilai SD sampel. 3. Hitung nilai RSD Analisis sampel = 100 SD / rata-rata 4. Hitung nilai RSD Horwitz sampel = 2 exp (1-0,5logC) 5. Bandingkan nilai RSD Analisis dengan RSD Horwitz sampel. Bila nilai RSD Analisis < nilai RSD Horwitz, maka ketelitian hasil analisis baik, data dapat diterima, dan sebaliknya.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Biskuit

Tabel 1 Persiapan sampel Berat Kelompok Sampel 1 Susu 2 1,0318 (gram) 1,0032 5,23 Kadar air (%) Mineral Zn Cu Ca Mg Zn Biskuit 4 1,0116 6,25 Cu Ca Mg FP 1 1 100 20 1 1 20 10

1,0634

Tabel 2 Nilai RSD dan RSD Horwitz Konsentrasi Fe, Cu, Ca, dan Mg pada Biskuit
Mineral kel C (mg/L) Konsentrasi (ppm) b.b Konsentrasi (ppm) b.k Repeatibility (ppm) Zn 3.1 3.2 4.1 4.2 Cu 3.1 3.2 4.1 2.2 Mg 1.1 1.2 2.1 2.2 Ca 1.1 0,0319 0,0307 0,0247 0,0241 0,4276 0,4321 0,4327 0,4413 0,2539 0,252 0,0566 0,0547 0,1018 1,5767 1,5174 1,1614 1,1332 21,1348 21,3573 20,3451 20,7495 50,3163 50,2175 36,8629 33,0073 250,9885 1,6818 1,6502 1,6186 1,4370 1,2388 1,2237 1,2087 22,5438 22,6624 22,7811 22,2898 21,7015 21,9171 22,1328 53,6708 53,5653 39,3204 35,2078 267,7200 266,7200 1,41 0,53 32,46 161,2700 121,77 75,51 36,21 tidak 37,2641 2,91 7,80 47,68 53,6181 0,07 0,14 45,99 45,4411 9,59 21,10 47,68 teliti 2,02 9,22 10,05 0,53 2,36 10,03 teliti 1,02 4,51 10,00 0,02 1,74 15,52 0,30 20,98 15,15 0,04 2,71 14,84 tidak teliti SD RSD a RSD h Reproducibility (ppm) SD RSD a Hasil RSD h

1.2 2.1 2.2

0,1016 0,0784 0,0702

249,1103 53,2255 51,4388

265,7200 56,7700 55,8200 54,8700 1,34 2,41 45,59

teliti

Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 2, kandungan mineral pada biskuit yang dari yang paling banyak ke paling sedikit berturut-turut adalah Ca, Mg, Cu, dan Zn. Menurut SNI (1992), biskuit didefinisikan sebagai makanan yang terbuat dari tepung terigu dengan penambahan bahan makanan lain, dengan proses pemanasan dan pencetakan. Kadar air maksimum biskuit adalah 5%. Berdasarkan hasil percobaan, diketahui bahwa kadar air rata-rata biskuit yang digunakan dalam studi ini adalah 6,2%. Hal ini menunjukkan bahwa kadar air biskuit yang digunakan sedikit melebihi batas kadar air yang sesuai SNI. Adanya penyimpangan kadar air biskuit dapat disebabkan oleh penanganan biskuit yang tidak tepat, sehingga RH lingkungan berinteraksi dengan biskuit dan terjadi penyerapan air dari lingkungan yang meyebabkan kadar air biskuit menjadi lebih dari 5%. Kandungan rata-rata Zink (Zn) pada biskuit adalah sebesar 1,44 ppm dengan tingkat repeatibility yang baik dan reproducibility yang tidak baik. Repeatibility merupakan suatu keadaan dimana laboratorium, operator, peralatan, dan waktu pada saat dilakukan pengujian adalah sama. Reproducibility merupakan suatu keadaan pengujian di mana terdapat perbedaan pada laboratorium, operator, peralatan, dan waktu (Lau 2009). Menurut Kurnia et al. (2010), Zink di dalam tubuh berperan dalam sistem pertahanan tubuh dengan cara berkonjugasi dengan thiol sehingga menghambat pembentukan ion superoksida. Zink juga berperan penting dalam pertumbuhan, pembentukan sel-sel otak serta syaraf otak yang sangat menentukan kualitas otak pada janin. Sehingga mineral Zink pada biskuit ini minimal jumlahnya. Jumlah mineral Zink yang diperlukan oleh laki-laki maupun perempuan dewasa adalah 15 mg per hari. Kandungan rata-rata tembaga (Cu) pada biskuit ini adalah 22,29 ppm dengan tingkat repeatibility dan reproducibility yang baik. Tembaga (Cu) di dalam tubuh berperan dalam pembentukan eritrosit dan hemoglobin, sebagai komponen enzim dan

hemoglobin, aktivitas syaraf, dan sintesis substansi hormon (Anonim 2012). AKG (angka kecukupan gizi) yang diperlukan oleh tubuh adalah 1,5-3 mg per hari. Kekurangan Cu di dalam tubuh dapat menyebabkan anemia, gangguan pertumbuhn dan metabolisme. Sedangkan kelebihan tembaga di dalam tubuh dapat menyebabkan sirosis hati. Analisis mineral lainnya adalah magnesium. Larutan sampel biskuit yang diujikan mengandung sejumlah magnesium yang terlalu tinggi sehingga dibutuhkan pengenceran agar mineral magnesium mampu dideteksi oleh instrumen AAS. Faktor pengenceran yang digunakan adalah 10. Nilai ini dimasukkan kedalam persamaan dalam penentuan kadar magnesium dalam sampel. Produk biskuit yang diuji memiliki kadar rata-rata magnesium 45,4411 ppm (mg/1000g). Pengujian dilakukan dengan dua kali ulangan dan duplo. Hasil pengujian ini memberikan data yang repeatability dan reproducibility yang baik sehingga data ini bisa dinyatakan teliti. Magnesium diperlukan tubuh untuk memproduksi 300 jenis enzim, pengiriman pesan melalui sistem syaraf, membuat otot-otot tetap lentur dan rileks serta memelihara kekuatan tulang dan gigi. Fungsi penting lainnya adalah menjaga konsistensi detak/ritme jantung serta membuat tekanan darah tetap normal (Candra 2011). Magnesium juga dapat melindungi otot jantung dari kerusakan selama iskemi (Barasi, 2007). Kebutuhan magnesium per hari yang direkomendasikan (RDI) sebanyak 400 mg/hari untuk pria usia 13-30 tahun dan 310 mg/hari untuk wanita usi 19-30 tahun. Jenis mineral lainnya adalah kalsium. Kalsium dalam sampel biscuit mampu dideteksi setelah melakukan pengenceran hingga 20x dari larutan contoh awal. Hasil rata-rata analisis menggunakan instrumen AAS adalah sebesar 161,2700 ppm. Analisis ini menunjukkan hasil yang repeatability pada setiap ulangan namun tidak reproducible karena nilai RSD analisis lebih besar dari RSD horwitznya. Ketidaktelitian analisis disebabkan karena konsentrasi mineral kalsium yang dihasilkan berbeda jauh untuk tiap ulangan, perbedaannya mencapai 5x lipatnya. Perbedaan hasil yang terlampau jauh bisa disebabkan oleh beberapa hal yaitu perbedaan bobot sampel tiap ulangan membuat deteksinya berbeda karena kandungan kalsium yang tinggi pada sampel biskuit, kesalahan paralaks yang dilakukan

praktikan saat perlakuan sampel seperti kesalahan saat pemanasan sampel yang belum mencapai waktu yang tepat dan kesalahan saat melakukan pengenceran sampel. Fungsi kalsium dalam tubuh antara lain untuk metabolisme tubuh, penghubung antar saraf, kerja jantung, dan pergerakan otot, serta untuk memperkuat tulang dan gigi (Linder 1992). Berdasarkan standar produk biscuit, MP-ASI yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan No: 224/Menkes/SK/II/2007 kandungan mineral kalsium yang terkandung didalamnya berkisar antara 200-300 mg/100g sampel. RDA (Recommended Dietary Allowance) untuk mineral kalsium adalah sebesar 1000-1200 mg/hari untuk pria dan wanita dewasa.

3.2

Susu Susu bubuk adalah produk dari susu yang dikeringkan dengan kandungan air

berkisar antara 2.5-5%. Dalam kondisi ini mikroorganisme umumnya tidak dapat berkembang sehingga daya tahan produk dapat diperpanjang (Malaka, 2010). Susu banyak dikonsumsi karena merupakan sumber nutrisi protein dan mineral yang tinggi. Pada praktikum ini, dilakukan analisis susu bubuk komersial dengan menggunakan instrument AAS. Mineral yang diamati adalah Cu, Zn, Ca dan Mg, data hasil praktikum mengenai konsentrasi beberapa mineral pada susu yang

dianalisis disajikan pada Tabel 1.

Tabel 3 Hasil Analisis Kandungan Mineral pada Susu Mineral Zn Cu Ca Mg Konsentrasi (ppm) 56,524,63 1,140,09 8205,34316,07 811,87134,33

Berdasarkan tabel 3, terlihat bahwa kalsium memiliki konsentrasi mineral yang paling tinggi dibandingkan yang lain, karena menurut Cashman (2006), produk susu memberikan kontribusi sebesar 34,7% untuk daily intake kalsium per hari nya. Selain itu, juga dikatakan bahwa produk susu sebanyak 200 mL hampir memiliki kalsium sebanyak 22%. Jumlah kalsium yang wajib dikonsumsi oleh orang dewasa menurut Recommended Dietary Allowances (1980) adalah sebanyak 800 mg/ hari, sedangkan menurut Duggan et al.(2008), kebutuhan kalsium untuk dewasa berumur 19-50 tahun adalah sebanyak 1000 mg/hari dan untuk yang berada di bawah 19 tahun sebanyak 1300 mg/hari. Maka, jika orang dewasa membutuhkan 1000 mg/hari Ca, orang tersebut harus mengkonsumsi 121,9 gram susu per hari(1000mg/

8205,34mg/kgx1000gr) bila susu yang dikonsumsi memiliki konsentrasi kalsium sebesar 8205,34 ppm. Jika kebutuhannya sebanyak 1300mg/hari, maka susu yang harus dikonsumsi per hari adalah sebanyak 158,4 gram (1300mg/8205,34 mg/kgx1000 gr). Dalam 200 mL susu, terdapat 6% magnesium di dalamnya. Kebutuhan magnesium dapat dipenuhi susu kurang lebih sebanyak 10% dari kebutuhan seharihari orang dewasa (Cashman 2006). Jumlah kebutuhan Mg per hari yang dibutuhkan oleh seseorang berkisar antara 360 mg/ hari untuk wanita dan 410 mg/hari untuk pria (Duggan et al. 2008). Maka, jika seseorang menglonsumsi susu dengan konsentrasi Mg sebesar 811,87 ppm (Tabel 1), ia harus mengkonsumsi susu tersebut sebanyak 505 gram susu/hari (410mg/811,87mg/kg x1000 gr) untuk pria, dan 443,4 gram susu/hari (360 mg/811,87mg/kg x1000 gr) untuk wanita. Tabel 2 Nilai RSD dan RSD Horwitz Konsentrasi Zn, Cu, Ca, dan Mg pada Susu
Repeatibility Mineral Gol Konsentrasi (bb%)(ppm) 882,19 881,81 2 Ca 1 2 634,66 678,88 8054,64 8036,72 7571,15 7441,16 Konsentrasi (bk%)(ppm) 930,91 930,50 669,71 716,37 8499,46 8480,55 7989,26 7852,10 7920,68 91,91 1,16 15,55 8205,34 316,07 3,85 15,43 Teliti 8490,00 12,67 0,15 15,31 693,04 31,26 4,51 26,38 811,87 131,28 16,17 25,49 Teliti 930,71 0,27 0,03 24,75 SD % RSD RSD Horwitz Reproducibility SD % RSD RSD Horwitz Ketelitian

Mg

Cu

1 2

1,09 1,20 1,04 0,98 57,30 57,82 49,94 49,19

1,16 1,27 1,10 1,03 60,46 61,01 52,69 51,91 60,74 52,30 0,37 0,53 0,61 1,01 44,77 46,24 56,52 4,63 8,19 45,47 Teliti 1,07 0,04 3,92 107,71 1,14 0,09 8,28 106,17 Teliti 1,21 0,08 6,22 104,74

Zn

1 2

Konsentrasi Cu pada susu bubuk yang dianalisis adalah (1.14 0.09) ppm. Cu merupakan unsur renik esensial untuk makhluk hidup dan diperlukan pada berbagai sistem enzim. Oleh karena itu, Cu harus selalu ada pada makanan. Namun, perlu diperhatikan agar unsur ini tidak kurang atau berlebihan (Saeni 1995). Kekurangan Cu akan menyebabkan anemia karena Cu diperlukan untuk absorpsi dan mobilisasi Fe yang diperlukan dalam pembuatan hemoglobin. Sebaliknya, kelebihan Cu akan menyebabkan keracunan. Toksisitas Cu dapat menyebabkan mual, muntah, mencret, sakit perut berat, hemolisis darah, hemoglobinuria, nefrosis, kejang dan mati. Keracunan Cu yang kronis adalah akibat Cu tertimbun di dalam hati yang dapat mengakibatkan hemolisis (Darmono 1995). Zinc (Zn) merupakan trace elemen essensial bagi tubuh manusisa. Zinc dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil, tetapi harus diperhatikan agar tidak menjadi toksik. Defisiensi Zinc dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Jumlah Zinc dalam susu bubuk yang dianalisis adalah 56,524,63 ppm (mg/kg). Keputusan Menteri Kesehatan tentang produk susu mensyaratkan kadar Zinc sebanyak 25-40 mg/Kg. Kadar Zinc yang dianalisis lebih tinggi dari yang seharusnya. Hal ini dapat disebabkan adanya kontaminasi pada saat analisis, baik pada tahap preparasi sampel maupun pada saat pengkuran sampel. Jumlah Cu dalam produk susu tidak boleh melebihi ambang batas yang telah ditetapkan karena konsentrasi Cu yang berlebihan di dalam tubuh dapat bersifat toksik. Keputusan Menteri Kesehatan tentang produk susu mensyaratkan kadar Cu dalam susu tidak boleh lebih dari 5 mg/Kg. Hasil analisis konsentrasi Cu dalam susu bubuk yang dianalisis (1,140,09 ppm) tidak melebihi jumlah maksimum Cu yang

diperbolehkan dalam susu bubuk, sehingga susu tersebut aman untuk dikonsumsi jika dilihat dari kadar Cu yang dikandungnya. Ada lima logam yang berbahaya pada manusia, yaitu: arsen (As), kadmium (Cd), timbal (Pb), merkuri (Hg) dan besi (Fe). Selain itu, ada tiga logam yang kurang beracun yaitu: tembaga (Cu), selenium (Se) dan zinc (Zn). Logam bersifat toksik karena logam tersebut terikat dengan ligan dari struktur biologi. Sebagian besar logam menduduki ikatan tersebut dalam beberapa jenis sistem enzim dalam tubuh. Ikatan tersebut mengakibatkan tidak dapat aktifnya enzim yang bersangkutan. Logam-logam tersebut tidak dibutuhkan oleh tubuh manusia sehingga bila makanan tercemar oleh logam-logam tersebut, tubuh akan mengeluarkannya sebagaian. Sisanya akan terakumulasi pada bagian tubuh tertentu, seperti ginjal, hati, kuku, jaringan lemak dan rambut (Saeni, 1997). Logam yang tidak atau belum tertimbun dalam jaringan akan berada dalam darah. Selama kadar logam dalam darah tidak melebihi batas kritis, maka tidak dapat menimbulkan pengaruh keracunan (Darmono, 2001). Pada Tabel 2, terdapat nilai repeatability dan reproducibility. Analisis mineral Mg, Ca, Cu dan Zn dari sampel susu pada percobaan memiliki repeatablility dan reproducibility yang baik.

BAB IV SIMPULAN

Data analisis mineral Mg dan Ca pada sampel susu memiliki ketelitian yang baik. Kandungan mineral paling tinggi pada biskuit adalah kalsium yaitu sebesar 161,2700 ppm, untuk kandungan magnesium, seng dan tembaga pada biskuit masingmasing adalah sebesar 45,4411, 1,4370, dan 22,2898 ppm. Data analisis mineral Mg, Ca,Cu dan Zn pada sampel susu memiliki ketelitian yang baik. Kandungan mineral paling tinggi pada susu adalah kalsium yaitu sebesar

8205,34 ppm, untuk kandungan magnesium, seng dan tembaga pada susu masingmasing adalah sebesar 811,87, 56,52 dan 1,14 ppm.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2012. Fungsi & Macam Mineral bagi Tubuh. [terhubung berkala] http://www.sentra-edukasi.com/2011/08/fungsi-macam-mineral-bagitubuh.html (14 Mei 2013). Barasi M. (2007). Nutrition at a Glance. Penerjemah: Hermin. (2009). At a Glance: Ilmu Gizi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 52. Candra A. 2008. Magnesium, si Penguat Jantung. [terhubung berkala] http://health.kompas.com/read/2008/08/04/16103289/Magnesium.Si.Penguat.J antung (16 mei 2013). Cashman, Kevin D. 2006. Milk minerals (including trace elements) and bone health.International Dairy Journal 16: 13891398. Duggan, Christopher, John B, Watkins, dan Allan Walker W. 2008. Nutrition in Pediatrics: Basic Science [and] Clinical Applications. New York: BC Decker Inc. Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran: Hubungannya dengan Toksikologi Senyawa Logam. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Evert A. 2011. Calcium in Diet. [terhubung berkala] www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002412.htm (16 Mei 2013). http://

Fennema, Owen R. 1996. Food Chemistry: Third Edition. New York: Marcel Dekker, Inc. Jakunowski. 2013. Oxidation. [terhubung berkala]. http://employees.csbsju.edu/ hjakubowski/classes/ch331/oxphos/oloxidationen 2013). Kurnia P, Sarbini D, Rahmawaty S. 2010. Efek fortifikasi Fe dan Zn pada biskuit yang diolah dari kombinasi tempe dan bekatul untuk meningkatkan kadar albumin anak balita kurang gizi dan anemia. Eksplanasi Volume 5 No 10. zymes.html (13 Mei

Lau, A. 2009. What are repeatability and Reproducibility. [terhubung berkala] http://www.astm.org/SNEWS/MA_2009/datapoints_ma09.html (14 mei 2013). Linder, M.C. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme, dengan Pemakaian Secara Klinis. Jakarta: Universitas Indonesia : UIPress. Malaka, R. 2007. Pengantar Teknologi Susu. Makassar Masagena Press,. Menkes RI (Menteri Kesehatan Republik Indonesia). 2007. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia SK Menkes Nomor:224/Menkes/SK/II/2007 Tetang Spesifikasi Teknis Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). [terhubung berkala] http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2012/05/SKMenkes-Spek-MP-ASI-2007.pdf (16 Mei 2013). Recommended Dietary Allowances. 1984. Commitee of Dietary Allowances. Washington Saeni, M.S. 1995. The Correlation between the Concentration of Heavy Metals (Pb, Cu, and Hg) in the Environment and Human Hair. Buletin Kimia, 9: 19. Bogor: Institut Pertanian Bogor. SNI [Standar Nasional Indonesia]. Mutu dan Cara Uji Biskuit. SNI 01-2973-1992. Jakarta: BSN.