Anda di halaman 1dari 4

Tes Fungsi Ginjal Apa Tes Fungsi Ginjal Itu?

Unduh versi PDF

Ginjal kita, yaitu sistem penyaringan alami tubuh kita, melakukan banyak fungsi penting. Fungsi ini termasuk menghilangkan bahan ampas sisa metabolisme dari aliran darah, mengatur keseimbangan tingkat air dalam tubuh, dan menahan pH (tingkat asam-basa) pada cairan tubuh. Kurang lebih 1,5 liter darah dialirkan melalui ginjal setiap menit. Dalam ginjal, senyawa kimia, yang ampas disaring dan dihilangkan dari tubuh (bersama dengan air berlebihan) sebagai air seni. Tes fungsi hati membantu menentukan apakah ginjal kita melakukan tugas ini sebagaimana mestinya. Banyak masalah dapat mempengaruhi kemampuan ginjal kita untuk melakukan tugasnya. Beberapa dapat mengakibatkan penurunan fungsi ginjal secara cepat (akut); yang lain dapat menyebabkan penurunan yang lebih lamban (kronis). Keduanya menghasilkan penumpukan bahan ampas yang toksik (racun) dalam darah. Serangkaian tes laboratorium dibutuhkan untuk mengukur tingkat unsur yang seharusnya diatur oleh ginjal dapat membantu menentukan penyebab dan tingkat masalah ginjal. Tes dilakukan pada contoh air seni dan darah. Bila dokter mencurigai kita mempunyai masalah atau penyakit ginjal, dia akan meminta kita melakukan tes fungsi ginjal untuk membantu diagnosis. Kemudian, tes fungsi ginjal dapat dilakukan untuk memantau ginjal kita, untuk melihat apakah kerusakan dapat menjadi lebih berat atau pun pulih. Tes Air Seni Ada serangkaian tes pada air seni untuk menilai fungsi ginjal. Sebuah tes sederhana, yang disebut urinanalisis, sering dilakukan pada awal. Contoh air seni diperiksa secara fisik untuk masalah termasuk warna, bau, penampilan, dan kepadatan; diperiksa secara kimia untuk unsur termasuk protein, glukosa, dan pH; dan di bawah mikroskop untuk keberadaan unsur sel (sel darah merah dan putih, dll.), bakteri, kristal, dsb. Kalau hasil tes ini menunjukkan kemungkinan ada penyakit atau penurunan pada fungsi ginjal, tes yang berikut mungkin dapat dilakukan:

Keluaran kreatinin (creatinine clearance). Tes ini menilai kemampuan ginjal untuk menghilangkan senyawa yang disebut kreatinin dari darah. Kreatinin adalah bahan ampas dari metabolisme tenaga otot, yang seharusnya disaring oleh ginjal dan dimasukkan pada air seni. Tes ini mengukur jumlah kreatinin yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam. Untuk menghitung keluaran, tingkat kreatinin dalam darah juga harus diukur. Keluaran urea. Urea adalah bahan ampas dari metabolisme protein, dan dikeluarkan dalam air seni. Seperti keluaran kreatinin, tes ini mengukur jumlah urea yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam, dan juga membutuhkan pengukuran tingkat urea dalam darah. Osmologi air seni. Tes ini mengukur jumlah partikel (bibit) yang dilarutkan dalam air seni, untuk menilai kemampuan ginjal untuk mengatur kepekatan air seni sebagaimana konsumsi air meningkat atau menurun.

Keberadaan protein. Ginjal yang sehat menyaring semua protein dari darah dan menyerapnya kembali, sehingga tingkat protein dalam air seni tetap rendah. Tetap ditemukan protein dalam air seni adalah tanda penyakit ginjal.

Tes Darah Ada beberapa tes darah yang dapat membantu menilai fungsi ginjal:

Nitrogen urea darah (blood urea nitrogen/BUN). Urea adalah produk samping dari metabolisme protein. Bahan ampas ini dibentuk oleh hati, kemudian disaring oleh ginjal dan dikeluarkan dalam air seni oleh ginjal. Tingkat BUN dalam darah dapat menandai masalah ginjal, tetapi karena juga dipengaruhi oleh fungsi hati (lihat Lembaran Informasi (LI) 135), tes harus dilakukan bersamaan dengan pengukuran kreatinin, yang lebih khusus menandai masalah ginjal. Kreatinin. Tes ini mengukur tingkat kreatinin (lihat di atas) dalam darah. Karena tingkat kreatinin hanya sedikit dipengaruhi oleh fungsi hati, tingkat kreatinin yang tinggi dalam darah lebih khusus menandai penurunan pada fungsi ginjal. Tes lain. Pengukuran tingkat zat lain, yang seharusnya diatur oleh ginjal, dalam darah dapat membantu menilai fungsi hati. Zat ini termasuk zat natrium, kalium, klorida, bikarbonat, kalsium, magnesium, fosforus, protein, asam urik dan glukosa.

Persiapan Kita diberi petunjuk yang jelas mengenai pengumpulan contoh air seni. Beberapa tes mungkin membutuhkan contoh dikumpulkan selama 24 jam. Mungkin contoh harus disimpan dalam kulkas atau dicampur dengan bahan pengawet tertentu agar tidak terjadi perubahan. Mungkin kita diminta menghentikan beberapa pengobatan, mengatur makanan yang dikonsumsi, dan tidak berolahraga selama contoh diambil. Hasil Tes LI 120 menunjukkan nilai normal atau nilai rujukan untuk beberapa tes di atas. Harus ditekankan bahwa nilai ini berbeda tergantung pada alat yang dipakai pada laboratorium yang melakukan tes dan cara pemakaiannya. Laporan laboratorium yang kita terima setelah melakukan tes menunjukkan nilai rujukan yang berlaku. Bila kita ingin dapat komentar mengenai hasil tes, sebaiknya kita menyebut hasil tes dan nilai rujukan. Apa Arti Hasil Tes? Nilai rendah untuk keluaran kreatinin dan urea menandai penurunan kemampuan ginjal untuk menyaring bahan ampas ini dari darah dan menghilangkannya dalam air seni. Sebagaimana keluaran menurun, tingkat kreatinin dan nitrogen urea dalam darah meningkat. Tingkat BUN dapat dipengaruhi oleh masalah lain, dan tidak tentu menandai masalah ginjal. Sebaliknya, tingkat kreatinin yang tinggi dalam darah sangat spesifik menandai penurunan pada fungsi ginjal.

Ketidakmampuan ginjal untuk mengatur kepekatan air seni sebagai tanggapan pada perubahan dalam konsumsi cairan, yang ditandai oleh tes osmologi dapat menandai penurunan pada fungsi ginjal. Karena ginjal yang sehat tidak mengeluarkan protein pada air seni, tetap ada protein dalam air seni juga menandai beberapa jenis penyakit ginjal. Dibuat 10 November 2008 berdasarkan lembaran www.healthatoz.com 14 Agustus 2006

Diagnosis Batu Saluran Kemih Oleh : Leonardo S.ked | 25-Jun-2008, 01:32:08 WIB KabarIndonesia - Penyakit batu pada saluran kemih pada stadium awal ditandai dengan nyeri dan rasa tidak enak pada daerah perut bawah, pinggang dan sekitar kemaluan. Sebenarnya pada tahap ini pengobatan yang benar dapat menyelesaikan masalah dengan baik tanpa biaya yang mahal dan tindakan terapi yang rumit. Namun biasanya, penderita penyakit batu saluran kemih dini dengan keluhan nyeri enggan memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan lain. Baru kemudian setelah mereka mendapati adanya darah dalam urin (hematuria), para penderita berinisiatif untuk pergi berobat. Untuk menetapkan adanya batu pada saluran kemih dapat dilakukan melalui: 1. Pemeriksaan fisik (physical examination); 2. Pemeriksaan radiologis (radiologic investigations) untuk menentukan lokasi, ukuran dan bentuk batu; 3. Analisa Urin (Urinalisa) untuk menentukan ada/tidaknya infeksi dan menentukan komposisi kimia dari batu. Tindakan diagnosis ini dapat membantu dokter dalam menentukan terapi yang akan diberikan kepada pasien sesuai dengan hasil pemeriksaan.

Sinar-X dan Intravenous Pyelogram (IVP) Sebelum dokter menentukan tindakan terapi yang akan diberikan pada seorang pasien yang diduga menderita penyakit batu saluran kemih, perlu diperhatikan beberapa hal berikut:

Seberapa besar batu? Apa jenis batu? Dimana letak batu ? Apakah ada kemungkinan jumlah batu lebih dari satu? Apakah batu cukup kecil untuk dikeluarkan tanpa tindakan invasif?

Satu-satunya cara untuk memastikan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas adalah dengan melihat langsung ke dalam tubuh. Ada beberapa cara untuk melakukan hal ini, antara lain (yang

paling sering) adalah dengan beberapa tindakan sinar X tertentu. Selain melakukan foto sinar-X abdomen standar, perlu juga dilakukan tindakan Intravenous Pyelogram (IVP). IVP dilakukan dengan memasukkan bahan kontras tertentu ke dalam pembuluh darah di tangan, bahan ini selanjutnya akan masuk ke sistem kemih dan dapat menimbulkan pencitraan kontras terhadap pemeriksaan dengan sinar-X sehingga membantu dokter dalam menegakkan diagnosis. Sebagian besar batu pada ginjal terdiri atas calsium, zat kimia yang mengabsorbsi sinar-X lebih banyak dari jaringan sekitarnya. Hal ini memberikan gambaran putih pada foto sinar-X. Batu seperti ini dinamakan radiopaque.

CT /CAT Scan CT/CAT Scan adalah tipe diagnosis sinar-X yang dapat memeriksa gambaran potongan melintang dari suatu bagian tubuh. Pemeriksaan ini dapat membedakan batu dari tulang atau bahan radiopaque lain.

Ultrasound Batu pada saluran kemih dapat menghasilkan pantulan akustik pada pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG). Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengaplikasikan alat ultrasonografi (transducer) pada daerah perut bagian bawah dan ginjal penderita, kemudian gambaran yang dihasilkan dapat dilihat pada layar monitor. Prosedur ini akan sedikit merepotkan pada pasien yang kelebihan berat badan. Hasil sonogram pada penderita ini kurang baik karena impuls suara dari alat USG harus melewati lebih banyak jaringan (terutama lemak) sehingga pantulan akustiknya kurang kuat.

Urinalisis Pasien yang diduga (dari riwayat penyakit dan gejala umum) menderita batu saluran kemih dapat diperiksa lebih lanjut dengan urinalisis. Spesimen yang diperoleh dari urin penderita diperiksa secara mikroskopik untuk menentukan ada tidaknya kristal-kristal dari saluran kemih dan juga menentukan ada tidaknya sel-sel darah dalam urin, karena seringkali perdarahan pada saluran kemih tidak nyata sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Anda mungkin juga menyukai