Anda di halaman 1dari 29

Fitokimia Fitokimia merupakan senyawa yang berada di dalam tumbuhan.

Fitokimia memberikan aroma khas, rasa dan warna tertentu bagi tanaman dalam berintegrasi dengan lingkungan. Manusia memilih senyawa ini karena beberapa alasan, diantaranya karena fitokimia mempunyai efek biologi yang efektif menghambat pertumbuhan kanker, sebagai antioksidan, mempunyai sifat menghambat pertumbuhan mikroba, menurunkan kolesterol darah, menurunkan kadar glukosa darah, bersifat antibiotik, dan menimbulkan efek peningkatan kekebalan (Amelia 2002). Beberapa fitokimia yang sudah diketahui terdapat di dalam tanaman obat antara lain sebagai berikut : 1. Alkaloid Alkaloid pada umumnya larut dalam bahan pelarut lipofil, yang garamnya larut dalam pelarut hidrofil. Alkaloid dalam tumbuhan umumnya terdapat sebagai garam, sehingga dapat langsung diekstraksi dengan bahan pelarut hidrofil (air, etanol) (Voight1994) . 2. Flavonoid Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air. Flavonoid dapat diekstraksi dengan etanol 70% dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak ini dikocok dengan etanol. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena itu warnanya

akan berubah jika ditambah basa atau amonia, sehingga mudah dideteksi pada kromatogram atau dalam larutan (Harborne 1987). 3. Tanin Tanin dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk suatu polimer mantap yang tidak dapat bereaksi dengan air (Harborne 1987). 4. Kuinon Kuinon adalah senyawa berwarna dan memiliki kromofor dasar seperti kromofor pada benzikuinon, naftokuinon, antrakuinon, dan kuinon isoprenoid. Tiga kelompok pertama biasanya terhidroksiliasi dan bersifat senyawa fenol serta mungkin terdapat in vivo dalam bentuk gabungan dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol terwarna, kadang-kadang juga bentuk dimer. Sehingga diperlukan hidrolisis asam untuk melepaskan kuinon bebasnya (Harborne 1987). 5. Saponin Saponin adalah glikosida triterpen dan sterol telah terdeteksi dari 90 tumbuhan. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun, serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis darah (Harborne 1987).

Kurkuminoid Kurkuminoid merupakan komponen yang dapat memberikan warna, dan zat ini digunakan baik dalam industri pangan maupun kosmetik. Salah satu fraksi yang terdapat dalam kurkuminoid adalah kurkumin ( Sembiring et al. 2006). Kurkumin bermanfaat sebagai antioksidan, antimikroba, antifungi, dan juga antiinflamasi. Selain itu kurkumin juga diyakini mampu menghambat pertumbuhan sel kanker dan memacu apoptosisi sel kanker. Bahan warna kurkumin dapat juga digunakan untuk memecah penggumpalan darah di otak seperti yang terjadi pada pasien penyakit alzheimer (Dheni 2007). Menurut Purwanti (2008), kandungan kurkumin dalam kunyit adalah 2,38 % per 100 gram kunyit.

Partikel kurkumin memiliki bagian dalam yang bersifat hidrofobik dan bagian luar yang bersifat hidrofilik (Dheni 2007). Secara kimia, kurkumin dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 5 Struktur kimia kurkumin (Sumber: Best 2008)

Etanol Etanol banyak dipakai sebagai pelarut dalam dunia farmasi dan industri makanan dan minuman. Etanol sering ditulis dengan rumus EtOH. Rumus molekul etanol adalah C2H5OH atau rumus empiris C2H6O (Ane 2008). Kelarutan zat dalam pelarut tergantung dari ikatannya (polar, semipolar, atau non polar). Etanol termasuk ke dalam pelarut polar, sehingga sebagai pelarut etanol diharapkan dapat menarik zat-zat aktif yang juga bersifat polar (Houghton dan Raman 1998).

Ekstraksi Ekstraksi adalah proses untuk mengisolasi senyawa dari suatu tumbuhan. Ragam ekstraksi bergantung pada tekstur dan kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi pada jenis senyawa yang diisolasi (Harborne 1987). Ekstraksi amat bergantung pada jenis dan komposisi dari cairan pengekstraksi. Cairan pelarut yang biasanya digunakan dalam proses ekstraksi adalah air, eter, atau campuran etanol air. Ekstraksi dengan menggunakan pelarut etanol air sebaiknya menggunakan cara maserasi (Farmakope Indonesia 1979). Prosedur klasik ekstraksi untuk memperoleh kandungan senyawa organik dari jaringan tumbuhan kering (galih, biji kering, akar, daun) ialah dengan menggunakan alat soxlet dengan menggunakan sederetan pelarut secara berganti-

ganti, mulai dengan eter, lalu eter minyak bumi, dan kloroform (untuk memisahkan lipid dan terpenoid). Kemudian digunakan alkohol dan etil asetat untuk senyawa yang lebih polar. Ekstrak yang diperoleh kemudian diuapkan dengan penguap putar yang akan menguapkan larutan menjadi volume kecil. (Harborn 1987). Menurut Wientarsih dan Prasetyo (2006) metode ekstraksi dibagi kedalam 5 cara, yaitu: 1. Maserasi Maserasi adalah cara ekstraksi paling sederhana. Proses maserasi adalah proses menyatukan bahan yang telah dihaluskan dengan bahan ekstraksi. Waktu maserasi, semua farmakope mencantumkan 4-10 hari. Setelah waktu itu, sebaiknya ditetapkan suatu keseimbangan antara bahan yang diekstraksi dalam bagian sebelah dalam sel dengan yang masuk ke dalam cairan, dengan demikian difusi akan berakhir. Melalui usaha ini diharapkan akan terjadi keseimbangan konsentrasi simplisia yang lebih cepat ke dalam cairan. Sedangkan keadaan diam saat maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif (Voight 1994). Metode ekstraksi maserasi memiliki kelebihan karena pengerjaan dan alat yang dipakai sederhana. Tetapi proses ekstraksi dengan metode ini membutuhkan waktu yang relatif lama, serta hasil ekstraksi yang kurang sempurna (Yuliani dan Sofyan 2003). 2. Metode Perkolasi Metode ini dilakukan dengan cara mencampur 10 bagian simplisia ke dalam 5 bagian larutan pencuci. Setelah itu dipindahkan ke dalam perkolator, dan ditutup selama 24 jam setelah itu biarkan menetes sedikit demi sedikit. Kemudian ditambahkan larutan pencuci secara berulang-ulang hingga terdapat selapis cairan pencuci. Perkolat yang telah terbentuk kemudian diuapkan (Wientarsih dan Prasetyo 2006). 3. Digesti Metode ini merupakan bentuk lain dari maserasi yang menggunakan panas seperlunya selama proses ekstraksi (Wientarsih dan Prasetyo 2006). 4. Infusi

Metode ini dilakukan dengan memanaskan campuran air dan simplisia pada suhu 90C dalam waktu 5 menit. Selama proses ini berlangsung campuran terus diaduk dan diberi tambahan air hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki (Wientarsih dan Prasetyo 2006). 5. Dekoksi Metode yang digunakan sama dengan metode infusi hanya saja waktu pemanasannya lebih lama yaitu sekitar 30 menit (Wientarsih dan Prasetyo 2006).

Salep Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar (Farmakope Indonesia 1979). Menurut Ansel (1989), salep merupakan sediaan dermatolologi yang paling sering dipakai. Sediaan topikal dapat digunakan untuk perlindungan setempat (lokal) atau dengan alasan terapeutik (Blodinger 1994). Menurut Farmakope Indonesia (1979), bahan obat dalam pembuatan

salep harus dapat larut/terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. Pemilihan dasar salep harus memiliki syarat tertentu, diantaranya stabil secara fisik dan kimia, warna dan bau stabil selama penyimpanan / pemakaian, dapat dicampur dengan semua obat, teksturnya halus dan licin sehingga mudah dioles pada kulit. Selain itu dasar salep juga harus baik untuk semua tipe kulit, tidak mudah tengik, tidak mengiritasi kulit, dan mudah dioleskan (Wientarsih dan Prasetyo 2006). Pemilihan dasar salep untuk dipakai dalam formulasi dari salep tergantung pada pemikiran yang cermat atas sejumlah faktor-faktor termasuk laju pelepasan yang diinginkan bahan obat dari dasar salep, keinginan peningkatan absorbsi perkutan dari obat, kelayakan melindungi kelembaban kulit, kestabilan dasar salep dalam jangka waktu lama, pengaruh obat terhadap kekentalan atau lainnya dari dasar salep (Ansel 1989). Salep merupakan sediaan yang digunakan secara topikal. Salep, baik salep penutup maupun pelindung berguna untuk melindungi kulit dari kerja yang merusak. Salep diharapkan mampu melakukan penetrasi sampai ke dalam lapisan

kulit teratas dan dapat memberikan efek penyembuhan untuk menangani luka maupun penyekit kulit lainnya tang bersifat akut ataupun kronis (Ansel 1989).

Persembuhan Luka Persembuhan luka adalah proses dalam tubuh untuk memperbaiki bagian luka menjadi bentuk yang paling mendekati kondisi normal tubuh sebelumnya. (Vegad 1995). Berdasarkan keadaan luka yang terjadi, jenis penyembuhan dibagi menjadi dua macam. Luka paling sederhana adalah luka yang dapat ditangani sendiri oleh tubuh seperti pada insisi pembedahan, yang tepi lukanya dapat saling didekatkan untuk dimulainya proses persembuhan. Persembuhan semacam itu disebut persembuhan primer atau healty by first intention (Price dan Wilson 1992). Pola kedua adalah penyembuhan luka terjadi jika kulit yang mengalami luka sedemikian rupa sehingga tepinya tidak dapat saling didekatkan selama proses penyembuhan. Keadaan ini disebut sebagai healing by second intention atau terkadang disebut penyembuhan dengan granulasi. Luka seperti ini biasanya menimbulkan jaringan parut dan memerlukan waktu yang lama dalam proses persembuhannya (Price dan Wilson 1992).

Menurut Nayak dan Pereira (2006), persembuhan luka merupakan suatu proses untuk memperbaiki kulit dan jaringan lunak setelah terjadinya proses perlukaan. Setelah perlukaan terjadi akan diikuti dengan reaksi peradangan pada daerah dermis yang diikuti penurunan produksi jaringan ikat kolagen. Kemudian akan terjadi regeneresi dari sel epitel. Oleh karena itu, proses persembuhan luka umumnya terdiri atas tiga fase yaitu, proses peradangan, fase proliferasi, serta remodeling atau fase maturasi (Singer dan Clark 1999). Fase Peradangan ( Fase Inflamasi) Peradangan adalah reaksi universal dari kerusakan jaringan karena terjadinya trauma mekanis, nekrosa jaringan, dan terjadinya infeksi (Price dan Wilson 1992). Pada fase inflamasi terjadi respons vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak (Tawi 2008 ; Vegad 1995). Pada awal fase ini, luka yang mengakibatkan kerusakan pembuluh darah

akan menyebabkan keluarnya darah (Spector dan Spector 1993). Menurut Tawi (2008), kerusakan pembuluh darah akan menyebabkan keluarnya platelet yang berfungsi hemostasis. Platelet akan menutupi vaskuler yang terbuka (clot) dan juga mengeluarkan substansi vasokonstriksi yang mengakibatkan pembuluh darah kapiler vasokonstriksi, selanjutnya terjadi penempelan endotel yang yang akan menutup pembuluh darah. Periode ini hanya berlangsung 5-10 menit, dan setelah itu akan terjadi vasodilatasi kapiler stimulasi saraf sensoris, local reflex action, dan adanya substansi vasodilator: histamin, serotonin, dan sitokin. Sitokin terdiri Epidermal Growth Factor (EGF), Insulin-like Growth Factor (IGF), Plateledderived Growth Factor (PDGF) dan Transforming Growth Factor beta (TGF-) . Keberadaan sitokin akan mempercepat kehadiran makrofag dan monosit (Singer dan Clarc 1999). Sementara histamin, selain menyebabkan vasodilatasi juga dari

mengakibatkan meningkatnya permeabilitas vena, sehingga cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah dan masuk ke daerah luka dan secara klinis terjadi oedema jaringan dan keadaan lokal lingkungan tersebut asidosis (Tawi 2008). Oedema yang terjadi akan mengakibatkan migrasi sel lekosit (terutama netrofil) ke ekstra vaskuler. Fungsi netrofil adalah membersihkan daerah luka dari benda asing dan bakteri (Singer dan Clark 1999). Menurut Spector dan Spector (1993) keberadaan netrofil di daerah luka sangat singkat, sehingga setelah dihasilkannya sitokin, monosit masak akan berubah menjadi makrofag di jaringan dan menggantikan fungsi netrofil. Sel makrofag berfungsi untuk fagositosis, mensintesa kolagen, membentuk jaringan granulasi bersama-sama dengan fibroblas, memproduksi growth factor yang berperan pada reepitelisasi, serta membentuk pembuluh kapiler baru atau angiogenesis (Tawi 2008) Setelah luka bersih dari infeksi dan bakteri serta terbentuknya

makrofag, dan fibroblas, dapat dikatakan bahwa fase inflamasi telah terjadi. Fase ini ditandai dengan adanya eritrema, hangat pada kulit, oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4 setelah terjadinya perlukaan (Tawi 2008).

Fase Proliferasi Menurut Tawi (2008), proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas sangat besar pada proses perbaikan, yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses rekonstruksi jaringan. Pada jaringan lunak yang mengalami perlukaan, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid, fibronectin dan profeoglycans) yang berperan dalam

membangun (rekonstruksi) jaringan baru (Singer dan Clark 1999). Kolagen memiliki fungsi yang lebih spesifik yaitu membentuk cikal bakal jaringan baru dan dengan dikeluarkannnya subtrat oleh fibroblas, memberikan tanda bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai satu kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka (Tawi 2008). Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam di dalam jaringan baru tersebut, disebut sebagai jaringan granulasi, sedangkan proses proliferasi fibroblas dengan aktifitas sintetiknya disebut fibroblasia. Respon yang dilakukan fibroblas terhadap proses fibroplasia adalah proliferasi, migrasi, deposit jaringan matriks, serta kontraksi luka (Tawi 2008). Angiogenesis merupakan proses komplek pembentukan pembuluh proliferasi

kapiler baru didalam luka, mempunyai arti penting pada tahap

persembuhan luka (Singer dan Clark 1999). Kegagalan vaskuler akibat penyakit (diabetes), pengobatan (radiasi) atau obat (preparat steroid) mengakibatkan lambatnya proses sembuh karena terbentuknya ulkus yang kronis. Jaringan vaskuler yang melakukan invasi kedalam luka merupakan suatu respons untuk memberikan oksigen dan nutrisi yang cukup di daerah luka karena biasanya pada daerah luka terdapat keadaan hipoksik dan turunnya tekanan oksigen. Pada fase ini fibroplasia dan angiogenesis merupakan proses terintegrasi dan dipengaruhi oleh substansi yang dikeluarkan oleh platelet dan makrofag (grawth factors) (Tawi 2008).

Proses selanjutnya adalah epitelisasi, dimana fibroblas mengeluarkan keratinocyte growth factor (KGF) yang berperan dalam stimulasi mitosis sel epidermal. Keratinisasi akan dimulai dari pinggir luka dan akhirnya membentuk barrier yang menutupi permukaan luka. Dengan sintesa kolagen oleh fibroblas, pembentukan lapisan dermis ini akan disempurnakan kualitasnya dengan mengatur keseimbangan jaringan granulasi dan dermis. Untuk membantu jaringan baru tersebut menutup luka, fibroblas akan merubah strukturnya menjadi myofibroblas yang mempunyai kapasitas melakukan kontraksi pada jaringan. Fungsi kontraksi akan lebih menonjol pada luka yang ekstrim dibandingkan dengan luka biasa (Tawi 2008). Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk (Anonim 2003). Fase Maturasi Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi, warna kemerahan dari jaringan mulai berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut (Tawi 2008). Sintesa kolagen yang telah dimulai sejak fase proliferasi akan dilanjutkan pada fase maturasi. Selain teejadi pembentukan kolagen baru, enzim kolagenase akan mengubah kolagen muda ( gelatinous collagen) yang terbentuk pada fase proliferasi akan berubah menjadi kolagen yang lebih matang, yaitu lebih kuat dan struktur yang lebih baik (proses re-modelling) (Singer dan Clark 1999). Menurut Tawi (2008) luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan jaringan kulit mampu melakukan aktivitas yang normal.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peradangan Dan Penyembuhan Persembuhan luka dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu usia, nutrisi, infeksi, sirkulasi dan oksigenasi, keadaan luka dan obat (Drakbar 2008). Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. Orang tua lebih sering

terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah (Drakbar 2008). Menurut Drakbar (2008) proses penyembuhan membuat tubuh bekerja lebih keras, sehingga penderita memerlukan diet kaya protein, karbohidrat,

lemak, vitamin C dan A, dan mineral seperti Fe, Zn. Penderita kurang nutrisi memerlukan waktu lebih lama untuk persembuhan, karena mereka harus

memperbaiki status nutrisi mereka terlebih dahulu baru melakukan proses persembuhan. Sedangkan pada penderita yang nutrisinya berlebih (gemuk) infeksi luka akan memerlukan waktu penyembuhan yang lama karena suplai darah jaringan adipose tidak merata. Penggunaan obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama juga dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka (Drakbar 2008). Penyembuhan luka juga terganggu oleh adanya benda asing atau jaringan nekrotik pada luka yang menyebabkan infeksi jaringan, sehingga persembuhan luka lebih lama (Price dan Wilson 1992). Faktor lain yang mempengaruhi proses persembuhan luka adalah proses sirkulasi dan oksigenisasi. Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak pada orang-orang yang gemuk membuat penyembuhan luka lambat. Hal ini dikarenakan pada jaringan lemak jumlah pembuluh darah sedikit, sehingga jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan lama untuk sembuh. Pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes millitus aliran darah terganggu sehingga persembuhan luka terhambat. Begitupula pada penderita anemia atau gangguan pernapasan kronik pada

perokok, oksigenasi jaringan menurun sehingga prosesnya lebih lama dibandingkan pada orang yang sehat (Drakbar 2008). Menurut Price dan Wilson (1992), hal lain yang dapat mempengaruhi proses persembuhan luka adalah pemakaiaan obat-obatan tertentu seperti

penderita yang mengkonsumsi sediaan kortikosteroid dalam dosis tinggi ataupun obat antiinflamasi, seperti steroid dan aspirin yang membuat proses persembuhan luka akan terhambat.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmasi, dan Bagian Patologi, Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor pada bulan Juli 2007- April 2008.

Bahan dan Alat Hewan Percobaan Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit albino jantan sebanyak 45 ekor umur 8 minggu dengan berat badan 20-40 gram. Mencit dipelihara dalam kotak plastik berukuran 20 X 30 cm. Pada sisi atas kotak ditutup dengan kawat kasa agar mencit tidak lepas, namun udara tetap bersirkulasi. Pada bagian dasar diberi serbuk gergaji atau sekam untuk menjaga suhu tetap optimal. Mencit diberi pakan pelet dan minum ad libitum.

Bahan Bahan yang digunakan antara lain rimpang kunyit berumur 9 bulan yang diperoleh dari Balitro dan telah diidentifikasi di Herbarium LIPI Bogorience. Kemudian rimpang kunyit tersebut diolah menjadi simplisia rimpang kunyit. Bahan lainnya antara lain etanol 96%, eter, larutan Netral Buffer Formalin (BNF) 10% untuk fiksasi kulit, dan kapas serta vaselin kuning untuk pembuatan salep. Obat komersil yang digunakan mengandung ekstrak plasenta 0.5%, neomycin sulfate 5% dan jelly base. Bahan yang digunakan untuk membuat sediaan histopatologi yaitu larutan Mayers Hematoxylin, larutan Eosin, Xylol, alkohol dengan konsentrasi bertingkat (70%, 80%, 90%, 95% dan 100%), larutan Lithium Carbonat, Aquades, Asam Asetat 1%, larutan Mordant, larutan Carrazis Hematoxylin, larutan Orange G 0,75% larutan Ponceau Xylidine Fuchsin, Larutan Phosphotungstic acid 2,5%, Anilin Blue, dan parafin.

Alat Alat-alat yang digunakan antara lain toples, kandang mencit, pisau bedah untuk mendapatkan sediaan kulit, peralatan untuk pembuatan sediaan histopatologi yaitu tissue processor, mikrotom, penangas air, gelas objek dan gelas penutup. Mikroskop cahaya dan mikroskop video mikrometer untuk pengamatan histopatologi. Sedangkan, alat-alat untuk ektraksi rimpang kunyit adalah maserator, evaporator, gelas elenmayer 100 ml, dan oven untuk pengeringan.

Tahapan Penelitian Ekstraksi rimpang kunyit Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Metode ini dilakukan dengan cara serbuk kunyit (simplisia) yang didapatkan dari rimpang kunyit 9 bulan, dimasukkan ke dalam wadah, setelah itu ditambahkan pelarut etanol

(alkohol 96%) dengan perbandingan 10 : 1. Kemudian direndam selama 24 jam dengan melakukan pengadukan secara berkala. Setelah itu dilakukan

penampungan filtrat. Ampas yang didapatkan dari penyaringan kemudian direndam kembali dengan menggunakan etanol 96%. Prosedur ini dilakukan sebanyak 3 kali. Setelah filtrat didapatkan maka dilakukanlah evaporasi dengan menggunakan evaporator hingga dihasilkan ekstrak semi padat etanol rimpang kunyit. Kemudian keringkan dalam oven bersuhu 40 C hingga didapatkan ekstrak kental etanol rimpang kunyit.

Rimpang Kunyit Serbuk Halus

Simplisia Kunyit Maserasi Etanol 96%

Filtrat

Evaporasi

Ekstrak Semi Padat Panaskan (Oven)

Ekstrak Kental

Gambar 6.

: Proses ekstraksi rimpang kunyit dengan pelarut etanol

Penapisan Fitokimia Metode fitokimia dilakukan untuk menganalisis senyawa yang terkandung dalam rimpang kunyit yang dapat berguna dalam membantu proses persembuhan luka. Dalam metode ini senyawa yang dianalisis keberadaannya adalah senyawa alkaloid, flavonoid, tanin dan polifenol, saponin, dan senyawa kuinon. a. Senyawa Alkaloid Serbuk simplisia dibebaskan dengan amonia, kemudian ditambahkan kloroform dan digerus kuat-kuat. Lapisan kloroform dipipet sambil disaring, kemudian kedalamnya ditambahkan asam klorida (HCl) 2N. Campuran dikocok

kuat-kuat hingga terdapat dua lapisan. Lapisan asam dipipet, kemudian dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama ditambahkan pereaksi Mayer, setelah itu amati adanya endapan atau kekeruhan yang terjadi. Bila terjadi kekeruhan atau endapan berwarna putih berarti dalam simplisia kemungkinan terkandung alkaloid. Bagian kedua ditambahkan pereaksi Dragendroff. Terjadinya endapan jingga kuning atau kekeruhan kemungkinan simplisia tersebut mengandung

alkaloid. Bagian ketiga digunakan sebagai blanko. b. Senyawa Polifenolat Sejumlah kecil serbuk simplisia dalam tabung reaksi dipanaskan dalam penangas air, kemudian disaring. Kepada filtrat ditambahkan larutan pereaksi besi (III) klorida. Adanya senyawa fenolat ditandai dengan terjadinya warna hijau-biru hitam hingga hitam. c. Senyawa Tanin Sejumlah kecil serbuk simplisia dalam tabung reaksi dipanaskan dalam penangas air, kemudian disaring. Setelah itu kedalam filtrat ditambahkan larutan larutan pereaksi besi (III) klorida sehingga terjadi warna hijau-biru hitam hingga hitam, kemudian ditambahkan larutan gelatin 1%. Adanya senyawa tanin ditandai dengan terjadinya endapan berwarna putih. d. Senyawa Flavonoid Simplisia dipanaskan dengan campuran Magnesium (Mg) dan asam klorida (HCl) 5N, kemudian disaring. Adanya flavonoid akan menyebabkan filtrat berwarna merah yang dapat ditarik oleh amil alkohol. e. Senyawa kuinon Sejumlah kecil serbuk simplisia dalam tabung reaksi dipanaskan dalam penangas air, kemudian disaring. Kedalam filtrat ditambahkan larutan KOH 5%. Adanya senyawa kuinon ditandai dengan terjadinya warna kuning hingga merah. f. Senyawa Saponin Sejumlah kecil serbuk simplisia dalam tabung reaksi dipanaskan dalam penangas air, kemudian disaring. Setelah dingin filtrat dalam tabung reaksi dikocok kuat-kuat selama kurang lebih 30 detik. Pembentukkan busa sekurangkurangnya setinggi 1 cm dan persisten hilang selama beberapa menit serta tidak

hilang pada penambahan

tetes demi tetes asam klorida encer menunjukkan

adanya saponin dalam simplisia. Pembuatan Salep Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit. Ekstrak kental etanol kunyit yang telah dihasilkan kemudian ditimbang dan dihomogenisasi dengan vaselin kuning menggunakan mortar. dilakukan homogenisasi hingga merata dan tidak terasa lagi butiran serbuk kunyit. Setelah itu disimpan dalam tabung dan diberi label.

Mencit Untuk Perlakuan Mencit yang digunakan berjumlah 45 ekor dan dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan; 1) kontrol negatif, yaitu kelompok mencit yang dilukai namun tidak diberikan pengobatan, 2) kontrol positif, yaitu kelompok mencit yang diberikan salep neomycin sulfat 5%, dan 3) kelompok mencit yang dilukai dan diberikan sediaan salep ekstrak etanol kunyit.

Perlukaan Pada Mencit Sebelum melakukan perlukaan, rambut di sekitar punggung mencit dicukur. Sebelum disayat kulit mencit diulas dahulu dengan menggunakan alkohol 70%. Mencit diberi anastesia perinhalasi dengan eter, kemudian dilakukan penyayatan pada punggung mencit sepanjang satu centimeter sejajar os. Vertebrae dengan menggunakan pisau bedah steril.

Aplikasi Obat Aplikasi obat luka komersil yang mengandung neomicin sulfat 5%, plasenta, dan jelly base, dilakukan dengan mengoleskan obat pada luka dengan menggunakan cotton buds. Begitupula dengan aplikasi obat luka salep ekstrak etanol rimpang kunyit dilakukan dengan cara yang sama. Aplikasi sediaan obat tersebut dilakukan setiap hari sebanyak dua kali sehari selama 21 hari pasca perlukaan.

Pengamatan patologi Anatomi Mencit perlakuan dan mencit kontrol diamati setiap hari khususnya pada hari ke 2, 4, 7, 14 dan 21 setelah perlukaan. Pengamatan patologi anatomi dilakukan terhadap mencit perlakuan dan mencit kontrol menggunakan metode deskriptif dengan membandingkan proses persembuhan yang terjadi parameter yang diamati adalah menyempitnya luka, panjang luka, keringnya luka, warna luka, keberadaan rambut, dan keberadaan keropeng.

Pengambilan sampel kulit Sampel kulit diambil pada hari ke 2, 4, 7, 14 dan 21 paska perlukaan setelah mencit dieuthanasi dengan menggunakkan eter dosis berlebih perinhalasi. Daerah punggung yang diambil kulitnya dibersihkan dari rambut yang mulai tumbuh. Kemudian kulit disekitar luka dipotong dengan ukuran 1.5 cm (sentimeter) dengan menggunakan skapel yang telah disterilkan terlebih dahulu. Kulit yang sudah dipotong difiksasi dengan larutan BNF (Buffer Neutral Formaline) 10 % selama 48 jam.

Fiksasi sediaan kulit dan pembuatan preparat histopatologi Potongan sediaan kulit dimasukkan ke dalam kaset tisue dan didehidrasi dengan cara merendam sediaan secara berturut-turut ke dalam alkohol 70%, 80%, 90%, alkohol absolut I, alkohol absolut II, xylol I, xylol II, parafin I, dan terakhir ke dalam parafin II. Proses perendaman pada setiap bahan dilakukan selama 2 jam untuk masing-masing sediaan. Jaringan kemudian dimasukkan ke dalam alat pencetak berisi parafin cair . Letak jaringan diatur sedemikian rupa agar tetap berada di tengah blok parafin. Setelah mulai membeku, parafin ditambah kembali hingga alat pencetak penuh dan dibiarkan hingga parafin mengeras. Pemotongan dengan mikrotom dilakukan dengan ketebalan 5 mikron. Hasil pemotongan yang berbentuk pita diletakkan di atas permukaan air hangat 45 C dengan tujuan menghilangkan lipatan-lipatan pada pita akibat pemotongan. Setelah itu sediaan diangkat dari permukaan air dengan gelas objek yang telah

diulasi larutan albumin yang berguna untuk merekatkan sediaan. Kemudian preparat dikeringkan semalam dalam inkubator bersuhu 60C. Selanjutnya dilakukan pewarnaan umum Haematoxylin Eosin dan pewarnaan khusus Masson Trichrome.

Pembuatan sediaan Haematoxilin Eosin (HE) Sediaan histopatologi yang telah didapatkan kemudian dimasukkan ke dalam xylol dua kali selama dua menit. Kemudian sediaan direhidrasi yang dimulai dari alkohol absolut sampai alkohol 80 % dengan waktu masing-masing 2 menit. Selanjutnya sediaan dicuci dalam air mengalir dan dikeringkan. Setelah sediaan kering kemudian diberi pewarna Mayers Hemaktosilin selama 8 menit, kemudian dibilas dengan air mengalir dan dicuci dengan lithium karbonat selama 15-30 detik, dibilas dengan air, dan akhirnya diwarnai dengan pewarna Eosin selama 2 menit. Pewarna Eosin yang berlebihan dihilangkan dengan cara mencuci sediaan pada air yang mengalir, setelah itu sediaan dikeringkan. Kemudiaan sediaan dicelupkan ke dalan alkohol 90% sebanyak 10 kali celupan, alkohol absolut I 10 kali celipan, alkohol absolut II selama 2 menit, xylol I selama I menit, dan xylol II selama 2 menit. Sediaan lalu dikeringkan terlebih dahulu sebelum ditetesi dengan perekat permount dan kemudian ditutup dengan gelas penutup dan disimpan beberapa menit hingga zat perekatnya mengering. Preparat siap untuk diamati dibawah mikroskop cahaya.

Pembuatan Sediaan Masson Trichrome (MT) Sediaan histopatologi dideparafinasi dan rehidrasi hingga pencucian dengan air dan akuades dilakukan terlebih dahulu sebelum diwarnai. Sediaan kemudian dimasukkan ke dalam larutan Mordant selama 30-40 menit lalu dicuci dengan akuades. Selanjutnya sediaan dimasukkan ke dalam larutan Carrazis Hematoksilin selama 40 menit dan dicuci dengan akuades. Setelah itu sediaan dimasukkan ke dalam larutan Orange G 0.75 % selama 1 sampai 2 menit lalu dicuci dengan asam asetat 1% sebanyak 2 kali dengan cara menggoyangnya sebentar. Kemudian sediaan dimasukkan ke dalam larutan Ponceau Xylidine

Fuchsin selama 15 menit dan dicuci dengan asam asetat 1% sebanyak 2 kali. Selanjutnya sediaan dimasukkan ke dalam larutan Phosphotungstic Acid selama 10 menit lalu dicuci dengan asam asetat 1% sebanyak 2 kali dan terakhir dimasukkan ke dalam alkohol 95 %. Berikutnya adalah sediaan dimasukkan ke dalam Anilin Blue selama 15 menit dan dibilas dengan asam asetat 1% sebanyak dua kali. Kemudian sediaan dicelupkan ke dalam alkohol 95% selama tiga menit. Sediaan didehidrasi dan clearing terlebih dahulu sebelum ditetesi perekat permount dan ditutup dengan gelas penutup.

Pengamatan Histopatologi Pengamatan histopatologi dilakukan pada sampel kulit yang telah diambil pada hari ke 2, 4, 7, 14, dan, 21 dengan menghitung sel polimorfonuklear

(Netrofil), jumlah neovaskularisasi, persentase reepitelisasi, dan persentase luasan jaringan ikat kolagen. Pengamatan terhadap jumlah sel polimorfonuklear menggunakan

mikroskop Olympus BX51TF, Japan dan pemotretan dengan videophoto dalam 10 lapang pandang dimana luas tiap lapang pandang adalah 20450m2.

Pengukuran panjang luka dan reepitelisasi menggunakan video mikrometer FDRA IV-560 dengan perbesaran objektif empat kali. Ketebalan dan luasan jaringan ikat dilihat dengan menggunakan preparat yang memakai pewarnaan Masson Trichrome. Presentase reepitelisasi dan jaringan ikat menggunakan video micrometer JVC, Japan dengan perbesaran objektif empat kali. Perhitungan panjang jaringan ikat kolagen dan reepitelisasi ditentukan dengan cara mengkonfersi skala bar yang digunakan pada video mikrometer dengan perbesaran 180x, yaitu 200 m menjadi 3,6 cm.

200m X 180x = 3.6 x 104 m = 3.6 cm

Kemudian dibuatlah pola kotak-kotak dengan ukuran 3.6 X 3.6 cm dengan kertas plastik (Gambar 7) . Kertas plastik yang sudah berpola ditempelkan pada monitor video micrometer. Setelah itu, untuk menyamakan standar perhitungan

ditentukan tiga kotak untuk setiap panjang luka yang akan dihitung yang diambil dari tengah bagian luka.

Gambar 7.

Metode penentuan luasan jaringan ikat pada pengamatan histopatologis jaringan luka hari ke 14. Jaringan ikat terlihat berwarna biru pada sediaan Masson Trichrome.Pada tampilan gambar video mikrometer dibuat pola kotak-kotak yang tiap sisinya berukuran 200m.

Jaringan ikat yang tampak pada video micrometer ditentukan dengan ketetapan sebagai berikut:

Jika luas jaringan ikat memenuhi lebih dari setengah bagian kotak maka dihitung satu luasan, namun jika luasannya kurang dari setengah kotah maka tidak dihitung sebagai luasan Perhitungan presentase jaringan ikat ditentukan dengan menggunakan rumus:

Luas jaringan ikat kolagen yang terbentuk Luas luka

X 100%

Sedangkan untuk presentase reepitelisasi ditentukan dengan rumus:

Luas luka yang telah ditutupi epitel Luas luka Analisis Data

X 100%

Hasil pengamatan patologi anatomi diuji secara deskriptif. Hasil pengamatan histopatologi berupa data banyaknya jumlah sel polimorfonuklear, neovaskularisasi, persentase luasan jaringan ikat kolagen, dan presentase reepitelisasi. Selanjutnya data diuji secara statistika menggunakan uji sidik ragam ANOVA yang dilanjutkan dengan uji wilayah berganda Duncan untuk mengetahui hasil yang diperoleh berbeda secara nyata atau tidak.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penapisan Fitokimia Hasil pengamatan penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui senyawa pada kunyit yang dapat tertarik oleh pelarut etanol yang disajikan pada Tabel 1. Senyawa-senyawa yang dilakukan pengujian adalah alkaloid, flavonoid, tanin dan polifenol, saponin, serta kuinon. Etanol yang merupakan pelarut polar hanya dapat menarik senyawa-senyawa yang juga bersifat polar (Houghton dan Raman 1998). Netrofil (Gambar 9) merupakan sel pertahanan pertama terhadap kontaminasi mikroba pada peradangan. Fungsi netrofil adalah membersihkan daerah luka dari benda asing dan bakteri (Singer dan Clark 1999). Menurut Spector dan Spector (1993) keberadaan netrofil di daerah luka sangat singkat, sehingga setelah dihasilkannya sitokin, monosit masak akan berubah menjadi makrofag di jaringan dan menggantikan fungsi netrofil. Keberadaan makrofag menjadi prasyarat terjadinya proses persembuhan. Keberadaan netrofil sudah terlihat pada awal perlukaan (Tabel 2).

Netrofil sudah muncul pada hari ke-2 pada ketiga kelompok baik kontrol positif, negatif maupun perlakuan dengan salep ekstrak etanol rimpang kunyit. Jumlah netrofil tertinggi pada kontrol positif maupun perlakuan menggunakan salep ekstrak etanol rimpang kunyit terjadi pada hari ke-7, sedangkan kelompok kontrol negatif jumlah netrofil tertinggi terjadi pada hari ke-2. Pada hari ke -14

kelompok kontrol positif dan perlakuan salep ekstrak etanol rimpang kunyit memperlihatkan penurunan yang cukup signifikan, sedangkan pada kontrol negatif jumlahnya lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Penurunan jumlah netrofil pada kontrol positif dan dengan menggunaka sediaan salep ekstrak etanol rimpang kunyit, dapat disebabkan karena adanya zat anti inflamasi yaitu neoimicin sulfat 5% pada kontrol positif, sedangkan pada sediaan salep ekstrak etanol rimpang kunyit mengandung senyawa kuinon yang berfungsi sebagai anti mikrobial (Robinson 1995). Jika dibandingkan ketiga perlakuan baik kontrol positif, kontrol terlihat

negatif, maupun perlakuan dengan salep ekstrak etanol rimpang kunyit

bahwa pada hari pertama kontrol positf dan perlakuan salep ekstrak etanol rimpang kunyit memperlihatkan jumlah netrofil yang rendah di hari pertama dan hari ke-4, namun kemudian meningkat pada hari ke-7 dan turun secara signifikan pada hari ke -14 dan 21. Sedangkan pada kontrol negatif jumlah netrofil tertinggi justru terjadi pada hari pertama, sedangkan jumlah netrofil

dari hari ke-7 menuju hari ke-14 penurunan jumlah netrofil tidak sebesar pada kelompok kontrol positif maupun perlakuan menggunakan salep ekstrak etanol rimpang kunyit. Perbandingan rataan jumlah sel polimorfonuklear disajikan pada grafik pada Gambar 10 berikut ini :
18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 2 4 7 Hari Ke14 21

Kontrol Positif

Jumlah Sel Polimorfonuklear

Kontrol Negatif

Salep Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit

Gambar 10.

Perbandingan rataan jumlah sel polimorfonuklear pada proses persembuhan luka

Neovaskularisasi Menurut Singer dan Clark (1999) pembentukan pembuluh darah baru memiliki arti penting dalam proses persembuhan luka. Hasil pengamatan mikroskopis jumlah relatif rataan neovaskularisasi, akan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan jumlah relatif neovaskularisasi pada pemeriksaan mikroskopis Salep Ekstrak Etanol Hari Kontrol Positif Kontrol Negatif Rimpang Kunyit a 0.000.00 a 2 0.000.00 a 0.000.00 4 0.330.58 a 0.000.00 a 0.000.00 a a b 1.670.58 b 7 8.001.73 0.671.15 14 6.332.52 a 5.001.00 a 6.671.15 a a b 1.671.53 a 21 0.000.00 6.001.00 Keterangan: Huruf supersript yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan nyata. (P>0.05) Pada hari ke-2 maupun hari ke-4 terlihat ketiga perlakuan baik kontrol positif, kontrol negatif maupun kelompok perlakuan menggunakan salep ekstrak etanol rimpang kunyit tidak memperlihatkan perbedaan nyata (P>0.05) (Tabel 4) .Pada hari ke-2 belum terlihat munculnya neovaskularisasi pada ketiga kelompok. Hari keempat mulai terbentuk pembuluh darah baru pada kontrol positif, meskipun jumlahnya relatif masih sedikit. Pada hari ke-7 terjadi perbedaan nyata (P<0.05) antara kontrol positif dengan kontrol negatif dan perlakuan menggunakan salep ekstrak etanol rimpang kunyit (Tabel 4). Menurut Martin (1997), keberadaan makrofag yang

mengeluarkan FGF2 dan vaskular endotelial growth faktor (VEGF) akhirnya memicu pertumbuhan neovaskularisasi (Gambar 11). Menurut Spector dan

Spector (1993) Pembuluh darah baru mulai terlihat tanda-tandanya dalam satu minggu. Pembuluh darah baru tumbuh ke dalam luka sebagai pita padat dari selsel endotel yang tumbuh ke luar sebagai kuncup dari kapiler yang utuh pada tepi luka. Kuncup endotel yang terbentuk kemudian mengalami mitosis dan membentuk simpai serta lengkungan. Pita endotel padat kemudian berkembang menjadi saluran dalam beberapa jam dan darah mulai mengalir. Proses mengalirnya kembali darah menjadi amat penting dalam proses persembuhan

luka. Jaringan vaskuler yang melakukan invasi kedalam luka merupakan suatu respon untuk memberikan oksigen dan nutrisi yang cukup di daerah luka, karena biasanya pada daerah luka terjadi keadaan hipoksia (Singer dan Clark 1999). Pada hari ke-14 ketiga perlakukan kembali tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata (P>0.05). Menurut Spector dan Spector (1993), setelah dua minggu arteriola yang baru sudah mulai terbentuk dan memberikan suplai bagi saraf vasomotorik. Pada hari ke-21 terlihat terjadi perbedaan nyata (P<0.05) antara kontrol negatif dengan kontrol positif dan perlakuan menggunakan salep ekstrak etanol kunyit (Tabel 4). Hasil ini menunjukkan bahwa kontrol positif dan perlakuan menggunakan salep ekstrak etanol rimpang kunyit memberikan hasil yang lebih baik daripada kontrol negatif. Hal ini terjadi kemungkinan karena fase peradangan yang lebih cepat pada kontrol positif dan perlakuan menggunakan salep ekstrak etanol rimpang kunyit sehingga memberikan hasil yang lebih baik daripada kontrol negatif.

Gambar 11 Neovaskularisasi yang yang terbentuk pada jaringan luka dengan perlakuan salep ekstrak etanol rimpang kunyit pada hari ke 14. Pewarnaan Masson Trichrome. Bar: 20 m

Apabila dibandingkan antara ketiga perlakuan (Gambar 12), terlihat bahwa kontrol positif mulai membentuk neovaskularisasai pada hari ke-4 berbeda dengan kontrol negatif dan perlakuan salep ekstrak etanol rimpang kunyit yang baru membentuk neovaskularisasi pada hari ke-7. Pada kontrol positif puncak jumlah neovaskularisasi terjadi pada hari ke-7 sedangkan pada kelompok negatif maupun perlakuan dengan ekstrak etanol kunyit jumlah pembentukan neovaskularisasi tertinggi terjadi pada hari ke-14. Pada hari ke-21 terlihat penurunan jumlah neovaskularisasi pada kontrol positif dan perlakuan dengan salep ekstrak etanol rimpang kunyit, sedangkan pada kontrol negatif jumlahnya masih relatif tinggi. Hal tersebut dapat menggambarkan persembuhan luka yang relatif lebih cepat pada kontrol positif maupun perlakuan dengan salep ekstrak etanol rimpang kunyit. Terjadinya keadaan seperti ini kemungkinan karena pada hari ke-14 dan 21 makrofag telah memfagositosis reruntuhan sel, terbukti dengan jumlah netrofil yang menurun pada kontrol positif maupun perlakuan dengan salep ekstrak etanol rimpang kunyit pada hari ke- 14 dan 21, sedangkan kontrol negatif pada hari yang sama jumlah netrofilnya masih relatif lebih tinggi daripada yang lain. Fagositosit oleh makrofag inilah yang memicu pembentukan pembuluh darah baru (Spector dan Spector 1993). Kontrol Positif 10 Junlah Neovaskular 8 6 4 2 0 2 4 7 Hari Ke14 21 Salep Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit proses Kontrol Negatif

Gambar 12. Perbandingan rataan jumlah neovaskularisasi pada persembuhan luka

Reepitelisasi Proses reepitelisasi merupakan serangkaian peristiwa yang terkoordinasi dan terstruktur. Reepitelisasi pada kulit dicapai dengan meningkatkan aktivitas mitosis epitel di tepi luka (Spector dan Spector 1995). Hasil pengamatan

mikroskopis mengenai gambaran reepitelisasi pada ketiga perlakuan ditunjukkan pada Tabel 5 berikut ini:

Tabel 5. Persentase (%) reepitelisasi pada pemeriksaan mikroskopis Salep Ekstrak Etanol Hari Ke- Kontrol Positif Kontrol Negatif Rimpang Kunyit a a 55.5719.28 a 2 33.3333.35 44.4319.28 a a 22.2019.23 a 4 33.3333.35 33.3333.35 7 77.8019.23 a 77.8019.23 a 44.4738.51 a 14 66.6757.74 a 88.9019.23 a 77.7738.51 a 21 100.000.00 a 100.000.00 a 100.000.00 a Keterangan: Huruf superscript yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan nyata. (P>0.05) Pada proses reepitelisasi terjadi migrasi dan proliferasi dari fibroblas yang akam mengeluarkan keranocyte growth factor, citokin dan reseptor yang akan memproduksi metalloprotein matiks dan inhibitor. Matriks ekstraselular kemudian akan mensintesis fibronectins, vitronectin, dan kolagen (Middelkoop 2005). Menurut Tawi (2008) keratinocyte growth factor (KGF) yang berperan dalam stimulasi mitosis sel epidermal. Keratinisasi akan dimulai dari pinggir luka dan akhirnya membentuk barrier yang menutupi permukaan luka. Dengan sintesa kolagen oleh fibroblas, pembentukan lapisan dermis ini akan disempurnakan kualitasnya dengan mengatur keseimbangan jaringan granulasi dan dermis. Untuk membantu jaringan baru tersebut menutup luka, fibroblas akan merubah strukturnya menjadi myofibroblast yang mempunyai kapasitas melakukan kontraksi pada jaringan. Fungsi kontraksi akan lebih menonjol pada luka yang ekstrim dibandingkan dengan luka biasa. Reepitelisasi (Gambar 13) pada ketiga perlakuan telah terjadi semenjak hari ke-2. Secara statistik ketiga perlakuan tersebut tidak memperlihatkan perbedaan nyata (P>0.05) (tabel 5). Menurut Price dan Wilson (1992), beberapa

hari

setelah perlukaan epitel permukaan di bagian tepi mulai melakukan

regenerasi, kemudian lapisan epitel yang tipis akan bermigrasi menuju permukaan atas luka. Setelah itu epitel akan menjadi matang sehingga menyerupai kulit di bawahnya.

Gambar 13.

Reepitelisasi persembuhan luka dengan perlakuan salep ekstrak etanol rimpang kunyit pada hari ke-14 dengan menggunakan pewarnaan Masson Trichrome. Bar: 200 m

Setiap hari pengamatan ketiga perlakuan masih menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0.05) (Tabel 5). Hal ini menunjukkan bahwa kandungan yang terdapat pada kontrol positif yang mengandung neomicin sulfat 5% maupun kandungan dalam salep ekstrak etanol rimpang kunyit tidak memberikan pengaruh pada proses reepitelisasi persembuhan luka. Apabila kita membandingkan ketiga perlakuan, kontrol positif dan kontrol negatif memberikan hasil yang lebih baik pada hari ke-7 dibandingkan perlakuan pemberian salep etanol rimpang kunyit (Gambar 13). Hal tersebut juga didukung dari data patologi anatomi bahwa pada perlakuan pemberian salep ekstrak kulit etanol pada jaringan perlukaan masih terdapat keropeng dan jaringan parut,

sedangkan pada kelompok yang lain tidak. Menurut Price dan Wilson (1992) matangnya jaringan parut akan bersinergis dengan menebal dan matangnya epitel sehingga menyerupai kulit. Pada perlakuan luka yang diberikan salep ekstrak etanol rimpang kunyit, jaringan parut yang masih hadir hingga hari ke-7 mengakibatkan melambatnya reepitelisasi. Pada hari ke 14 kontrol negatif memperlihatkan reepitelisasi yang lebih baik daripada kedua kelompok lainnya. Pada hari ke-21 reepitelisasi telah terjadi secara sempurna. Hal ini dapat diperkuat dengan data patologi anatomis yang memperlihatkan luka yang telah menutup secara sempurna.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Ekstrak etanol rimpang kunyit mengandung senyawa alkaloid dan kuinon. 2. Sediaan ekstrak etanol rimpang kunyit memberikan hasil yang lebih baik untuk proses neovaskularisasi dibandingkan tidak dilakukan pengobatan. 3. Secara umum sediaan salep ekstrak etanol rimpang kunyit belum mempercepat proses persembuhan luka.

Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui sediaan yang tepat bagi ekstrak etanol rimpang kunyit agar dapat bekerja efektif sebagai sediaan persembuhan luka.