Anda di halaman 1dari 58

TEKNOLOGI LINGKUNGAN ISU PENCEMARAN LINGKUNGAN

Disusun Oleh:

Harry Arief Setiabudi (515100022) Chandra Wijaya (515100013) Lim Richie Stifler (515100006) Semester : VI Tahun: 2012/2013

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TARUMANAGARA JAKARTA UNIVERSITAS TARUMANAGARA

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmatNya maka penulis dapat menyelesaikan Tugas Teknologi Lingkungan ini dengan baik. Tugas Teknologi Lingkungan yang berjudul Isu Pencemaran Lingkungan ini disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Elemen Mesin II sebagai salah satu syarat kelulusan sesuai dengan kurikulum akademik jurusan Teknik Mesin. Dalam pembuatan Tugas Teknologi Lingkungan ini, Penulis menemui beberapa kesulitan. Dengan kesulitan kesulitan yang ada, pada akhirnya Penulis berhasil menyelesaikan Tugas Teknologi Lingkungan ini tepat pada waktunya. Penulis menyadari bahwa Tugas Teknologi Lingkungan yang dibuat ini masih banyak terdapat kekurangan. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar tidak terjadi kesalahan yang sama. Akhir kata, Penulis mengucapkan terima kasih atas perhatian Pembaca dan berharap agar tulisan ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan Pembaca. Jakarta, 1 Juni 2013

Penulis

BAB I Dampak Pencemaran Lingkungan Terhadap Kesehatan


I. PENDAHULUAN Pengetahuan tentang hubungan antara jenis lingkungan sangat penting agar dapat menanggulangi permasalahan lingkungan secara terpada dan tuntas. Dewasa ini lingkungan hidup sedang menjadi perhatian utama masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia umumnya. Meningkatnya perhatian masyarakat mulai menyadari akibat-akibat yang ditimbulkan dan kerusakan lingkungan hidup. Sebagai contoh apabila ada penumpukan sampah dikota maka permasalahan ini diselesaikan dengan cara mengangkut dan membuangnya ke lembah yang jauh dari pusat kota, maka hal ini tidak memecahkan permasalahan melainkan menimbulkan permasalahan seperti pencemaran air tanah, udara, bertambahnya jumlah lalat, tikus dan bau yang merusak, pemandangan yang tidak mengenakan. Akibatnya menderita interaksi antara lingkungan dan manusia yang akhirnya menderita kesehatan. Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang wajar dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan sampai akhir hidupnya. Hal ini membutuhkan daya dukung lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. Masalah lingkungan hidup sebenatnya sudah ada sejak dahulu, masalah lingkungan hidup bukanlah masalah yang hanya dimiliki atau dihadapi oleh negara-negara maju ataupun negara-negara miskin, tapi masalah lingkungan hidup adalah sudah merupakan masalah dunia dan masalah kita semua. Keadaan ini ternyata menyebabkan kita betpikir bahwa pengetahuan tentang hubungan antara jenis lingkungan ini sangat penting agar dapat menanggulangi permasalahan lingkungan secara terpadu dan tuntas. Masalah lingkungan hidup merupakan kenyataan yang harus dihadapi, kegiatan pembangunan terutama di bidang industri yang banyak menimbulkan dampak negatif merugikan masyarakat. Masalah lingkungan hidup adalah merupakan masalah yang komplek dan harus diselesaikan dengan berbagai pendekatan multidisipliner. Industrialisasi merupakan kondisi keberhasilan pembangunan untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi, akan tetapi industrialisasi juga mengandung resiko lingkungan. Oleh karena itu munculnya aktivitas industri disuatu kawasan mengundang kritik dan sorotan

masyarakat. Yang dipermasalahkan adalah dampak negatif limbahnya yang diantisipasikan mengganggu kesehatan lingkungan.

BAB II Pencemaran Lingkungan

A. Motivasi Pencemaran lingkungan merupakan masalah kita bersama, yang semakin penting untuk diselesaikan, karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan kita. Siapapun bisa berperan serta dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, termasuk kita. Dimulai dari lingkungan yang terkecil, diri kita sendiri, sampai ke lingkungan yang lebih luas. Permasalahan pencemaran lingkungan yang harus segera kita atasi bersama diantaranya pencemaran air tanah dan sungai, pencemaran udara perkotaan, kontaminasi tanah oleh sampah, hujan asam, perubahan iklim global, penipisan lapisan ozon, kontaminasi zat radioaktif, dan sebagainya. Untuk menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, tentunya kita harus mengetahui sumber pencemar, bagaimana proses pencemaran itu terjadi, dan bagaimana langkah penyelesaian pencemaran lingkungan itu sendiri.

B. Sumber Pencemar Pencemar datang dari berbagai sumber dan memasuki udara, air dan tanah dengan berbagai cara. Pencemar udara terutama datang dari kendaraan bermotor, industi, dan pembakaran sampah. Pencemar udara dapat pula berasal dari aktivitas gunung berapi. Pencemaran sungai dan air tanah terutama dari kegiatan domestik, industri, dan pertanian. Limbah cair domestik terutama berupa BOD, COD, dan zat organik. Limbah cair industri menghasilkan BOD, COD, zat organik, dan berbagai pencemar beracun. Limbah cair dari kegiatan pertanian terutama berupa nitrat dan fosfat.

C. Proses Pencemaran Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan

ekologis baik air, udara maupun tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran. Pencemar ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis). Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencemar akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem.

D. Langkah Penyelesaian Penyelesaian masalah pencemaran terdiri dari langkah pencegahan dan pengendalian. Langkah pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih berat. Di lingkungan yang terdekat, misalnya dengan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, menggunakan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle). Di bidang industri misalnya dengan mengurangi jumlah air yang dipakai, mengurangi jumlah limbah, dan mengurangi keberadaan zat kimia PBT (Persistent, Bioaccumulative, and Toxic), dan berangsur-angsur menggantinya dengan Green Chemistry. Green chemistry merupakan segala produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan zat berbahaya. Tindakan pencegahan dapat pula dilakukan dengan mengganti alat-alat rumah tangga, atau bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Pencegahan dapat pula dilakukan dengan kegiatan konservasi, penggunaan energi alternatif, penggunaan alat transportasi alternatif, dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Langkah pengendalian sangat penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Pengendalian dapat berupa pembuatan standar baku mutu lingkungan, monitoring lingkungan dan penggunaan teknologi untuk mengatasi masalah lingkungan. Untuk permasalahan global seperti perubahan iklim, penipisan lapisan ozon, dan pemanasan global diperlukan kerjasama semua pihak antara satu negara dengan negara lain.

E. LINGKUNGAN DAN KESEHATAN

Kemampuan manusia untuk mengubah atau memoditifikasi kualitas lingkungannya tergantung sekali pada taraf sosial budayanya. Masyarakat yang masih primitif hanya mampu membuka hutan secukupnya untuk memberi perlindungan pada masyarakat. Sebaliknya, masyarakat yang sudah maju sosial budayanya dapat mengubah lingkungan hidup sampai taraf yang irreversible. Prilaku masyarakat ini menentukan gaya hidup tersendiri yang akan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan yang diinginkannya mengakibatkan timbulnya penyakit juga sesuai dengan prilakunya tadi. Dengan demikian eratlah hubungan antara kesehatan dengan sumber daya sosial ekonomi. WHO menyatakan Kesehatan adalah suatu keadaan sehat yang utuh secara fisik, mental dan sosial serta bukan hanya merupakan bebas dari penyakit. Dalam Undang Undang No. 9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan. Dalam Bab 1, Pasal 2 dinyatakan bahwa Kesehatan adalah meliputi kesehatan badan (somatik), rohani (jiwa) dan sosial dan bukan hanya deadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Definisi ini memberi arti yang sangat luas pada kata kesehatan. Masyarakat adalah terdiri dari individu-individu manusia yang merupakan makhluk biologis dan makhluk sosial didalam suatu lingkungan hidup (biosfir). Sehingga untuk memahami masyarakat perlu mempelajari kehidupan biologis bentuk interaksi sosial dan lingkungan hidup. Dengan demikian permasalahan kesehatan masyarakat merupakan hal yang kompleks dan usaha pemecahan masalah kesehatan masyarakat merupakan upaya menghilangkan penyebab-penyebab secara rasional, sistematis dan berkelanjutan. Pada pelaksanan analisis dampak lingkungan maka kaitan antara lingkungan dengan kesehatan dapat dikaji secara terpadu artinya bagaimana pertimbangan kesehatan masyarakat dapat dipadukan kedalam analisis lingkungan untuk kebijakan dalam pelaksnaan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya lebih baik, walaupun aktivitas manusia membuat rona lingkungan menjadi rusak. Hal ini tidak dapat disangkal lagi kualitas lingkungan pasti mempengaruhi status kesehatan masyarakat. Dari studi tentang kesehatan lingkungan tersirat informasi bahwa status kesehatan seseorang dipengaruhi oleh faktor hereditas, nutrisi, pelayanan kesehatan, perilaku dan lengkungan. Menurut paragdima Blum tentang kesehatan dari lima faktor itu lingkungan mempunyai pengaruh dominan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi status kesehatan seseorang itu dapat berasal dari lingkungan pemukiman, lingkungan sosial, linkungan rekreasi, lingkungan kerja.

Keadaan kesehatan lingkungan di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapaat perhatian, karena menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah seperti: Peledakan penduduk, penyediaan air bersih, pengolalaan sampah, pembuangan air limbah penggunaan pestisida, masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, populasi udara, abrasi pantai, penggundulan hutan dan banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan satu model penyakit. Jumlah penduduk yang sangat besar 19.000 juta harus benar-benar ditangani. Masalah pemukiman sangat penting diperhatikan. Pada saat ini pembangunan di sektor perumahan sangat berkembang, karena kebutuhan yang utama bagi masyarakat. Perumahan juga harus memenuhi syarat bagi kesehatan baik ditinjau dari segi bangungan, drainase, pengadaan air bersih, pengolalaan sampah domestik uang dapat menimbulkan penyakit infeksi dan ventilasi untuk pembangunan asap dapur.

Perilaku pola makanan juga mengubah pola penyakit yang timbul dimasyarakat. Gizi masyarakat yang sering menjadi topik pembicaraan kita kekurangan karbohidrat, kekurangan protein, kekurangan vitamin A dan kekurangan Iodium. Di Indonesia sebagian besar penyakit yang didapat berhubungan dengan kekurangan gizi. Ada yang kekurangan kuantitas makanan saja (Maramus), tapi seringkali juga kualitas kurang (Kwashiorkor). Sebagian besar penyakit yang didapat berhubungan dengan kekurangan gizi terutama terdap[at pada anak-anak. Industrialisasi pada saat ini akan menimbulkan masalah yang baru, kalau tidak dengan segera ditanggulangi saat ini dengan cepat. Lingkungan industri merupakan salah satu contoh lingkungan kerja. Walaupun seorang karyawan hanya menggunakan sepertiga dari waktu hariannya untuk melakukan pekerjaan di lingkungan industri, tetapi pemaparan dirinya di lingkungan itu memungkinkan timbulnya gangguan kesehatan dengan resiko trauma fisik gangguan kesehatan morbiditas, disabilitas dan mortalitas. Dari studi yang pernah dilakukan di Amerika Serikat oleh The National Institute of Occupational Safety and Health pada tahun 1997 terungkap bahwa satu dari empat karyawan yang bekerja di lingkungan industri tersedia pada bahan beracun dan kanker. Lebih dari 20.000.000 karyawan yang bekerja di lingkungan industri setiap harinya menggarap bahanbahan yang diketahui mempunyai resiko untuk menimbulkan kanker, penyakit paru, hipertensi dan gangguan metabolisme lain.

Paling sedikit ada 390.000 kasus gangguan kefaalan yang terinduksi oleh dampak negatif lingkungan industri dan100.000 kematian karena sebab okupasional dilaporkan setiap tahun. Indonesia saat ini mengalami transisi dapat terlihat dari perombakan struktur ekonomi menuju ekonomi industri, pertambahan jumlah penduduk, urbanisasi yang meningkatkan jumlahnya, maka berubahlah beberapa indikator kesehatan seperti penurunan angka kematian ibu, meningkatnya angka harapan hidup ( 63 tahun ) dan status gizi. Jumlah penduduk terus bertambah, cara bercocok tanam tradisional tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Dengan kemampuan daya pikir manusia, maka manusia mulai menemukan mesin-mesin yang dapat bekerja lebih cepat dan efisien si dari tenaga manusia. Peristiwa ini mulai dikenal dengan penemuan mesin uap oleh James Waat. Fase industri ini menimbulkan dampak yang sangat menyolok selain kemakmuran yang diperoleh juga exploitasi tenaga kerja, kecelakaan kerja, pencemaran lenigkungan, penyakit, wabah. Pencemaran udara yang disebabkan industri dapat menimbulkan asphyxia dimana darah kekurangan oksigen dan tidak mampu melepas CO2disebabkan gas beracun besar konsentrasinya dedalam atmosfirseperti CO2, H2S, CO, NH3, dan CH4. Kekurangan ini bersifat akurat dan keracunan bersifat sistemik penyebab adalah timah hitam, Cadmium,Flour dan insektisida . Pengaruh air terhadap kesehatan dapat menyebabkan penyakit menular dan tidak menular. Perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Lingkungan berpengaruh pada terjadinya penyakit penyakit umpama penyakit malaria karena udara jelek dan tinggal disekitar rawa-rawa. Orang beranggapan bahwa penyakit malaria terjadi karena tinggal pada rawa-rawa padahal nyamuk yang bersarang di rawa menyebabkan penyakit malaria segi lingkungan kesehatan, penyakit terjadi karena interaksi antara manusia dan lingkungan. Manusia memerlukan daya dukung unsur-unsur lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. Udara, air, makanan, sandang, papan dan seluruh kebutuhan manusia harus diambil dari lingkungannya. Akan tetapi proses interaksi manusia dan lingkungannya ini tidak selalu mendapat untuk, kadang-kadang merugikan. Begitu juga apabila makanan atau minuman mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan. Zat tersebut dapat berupa racun asli ataupun kontamunasi dengan mikroba patogen atau atau bahan kimia sehingga terjadinya penyakit atau keracunan. Hal ini merupakan hubungan timbal balik antara aktivitas manusia dengan lingkungannya.

Jadi dialam ini terdapat faktor yang menguntungkan manusia (eugenik) dan yang merugikan (disgenik). Usaha-usaha dibidang kesehatan lingkungan ditujukan untuk meningkatkan daya guna faktor eugenik dan mengurangi peran atau mengendalikan faktor disgenik. Secara naluriah manusia memang tidak dapat menerima kehadiran faktor disgenik didalam lingkungan hidupnya, oleh karena itu kita selalu berusaha memperbaiki keadaan sekitarnya sesuai dengan kemampuannya. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan tehnologi, lingkungan hidup akan berubah pula kualitasnya. Perubahan kualitas lingkungan akan selalu terjadi sehingga lingkungan selalu berada dalam keadaan dinamis. Hal ini disertai dengan meningkatnya pertumbuhan industri disegala bidang. Perubahan kualitas lingkungan yang cepat ini merupakan tantangan bagi manusia untuk menjaga fungsi lingkungan hidup agar tetap normal sehingga daya dukung kelangsungan hidup di bumi ini tetap lestari dan kesehatan masyarakat tetap terjamin. Oleh karenanya perlu ditumbuhkan strategi baru untuk dapat meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat yakni setiap aktivitas harus: 1. a. Didasarkan atas kebutuhan manusia. 2. b. Ditujukan pada kehendak masyarakat. 3. c. Direncanakan oleh semua pihak yang berkepentingan. 4. d. Didasarkan atas prinsip-prinsip ilmiah. 5. e. Dilaksanakan secara manusiawi.

Pada analisis dampak lingkungan yang merupakan pengkajian akan kemungkinan timbulnya perubahan lingkungan yang terjadi akibat kegiatan/proyek. Perubahan-perubahan lingkungan yang mencakup komponen biofisik dan sosio ekonomi dan melibatkan komponen dampak kesehatan masyarakat yang berada disekitar proyek.

F. PENGARUH TIDAK LANGSUNG TERHADAP KESEHATAN Pengaruh lingkungan terhadap kesehatan ada dua cara positif dan negatif. Pengaruh positif, karena didapat elemen yang menguntungkan hidup manusia seperti bahan makanan, sumber daya hayati yang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraannya seperti bahan baku untuk papan, pangan, sandang, industi, mikroba dan serangga yang berguna dan lainlainnya. Adapula elemen yang merugikan seperti mikroba patogen, hewan dan tanaman beracun, hewan berbahaya secara fisik, vektor penyakit dan reservoir penyebab dan penyebar penyakit.

Secara tidak langsung pengaruhnya disebabkan elemen-elemen didalam biosfir banyak dimanfaatkan manusia untuk meningkatkan kesejahteraanya. Semakin sejahtera manusia, diharapkan semakin naik pula derajat kesehatannya. Dalam hal ini, lingkungan digunakan sebagai sumber bahan mentah untuk berbagai kegiatan industri kayu, industri meubel, rotan, obat-obatan, papan, pangan, fermentasi dan lain-lainnya.

G. PENGARUH LANGSUNG TERHADAP KESEHATAN Pengaruh langsung terhadap kesehatan disebabkan: 1. a. Manusia membutuhkan sumber energi yang diambil dari lingkungannya yakni makanan. Makanan yang harus tersedia sangat besar untuk kebutuhan manusia di dunia disamping masalah distribusi. 2. b. Adanya elemen yang langsung membahayakan kesehatan secara fisik seperti beruang, harimau, ular dan lain-lain. 3. c. Adanya elemen mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit (patogen). Mikroba ini digolongkan kedalam berbagai jenis seperti virus, ricketssia, bakteri, protozoa, fungi dan metazoa. 4. d. Adanya vektor yakni serangga penyebar penyebab penyakit dan reservoir agent penyakit. Faktor penyakit yang memegang peranan penting dalam penyebaran penyakit nyamuk, lalat, kutu, pinyal dan tungau.

H. PENCEMARAN UDARA

Setiap waktu kita bernafas, seorang dewasa rata-rata menghirup lebih dari 3.000 gallon (11,4 m3) udara tiap hari. Udara yang kita hirup, jika tercemar oleh bahan berbahaya dan beracun, akan berdampak serius pada kesehatan kita, terutama anak-anak yang lebih banyak bermain di udara terbuka dan lebih rentan daya tahan tubuhnya. Walaupun tidak terlihat oleh kasat mata, pencemar di udara mengancam kehidupan kita dan mahluk hidup lainnya. Pencemar udara menyebabkan kanker dan dampak kesehatan serius, menyebabkan smog dan hujan asam, mengurangi daya perlindungan lapisan ozon di atmosfer bagian atas, dan berpotensi untuk turut berperan dalam perubahan iklim dunia. Sebenarnya apa yang mesti kita cermati dari fenomena pencemaran udara?

Pencemaran Udara Sebenarnya apa yang mesti kita cermati dari fenomena pencemaran udara?

7 Pencemar Utama Hujan Asam Penipisan Lubang Ozon Perubahan Iklim dan Pemanasan Global Kualitas udara di dalam ruangan (indoor air quality)

7 Pencemar Utama 7 pencemar utama terdiri dari Partikulat, Sulfur Dioksida (SO2), Ozone, Karbon monoksida (CO), Nitrogen Dioksida (NO2), Hidrokarbon (HC) dan Timbal (Pb).

Hujan Asam Hujan asam merupakan istilah umum untuk menggambarkan turunnya asam dari atmosfer ke bumi. Sebenarnya turunnya asam dari atmosfer ke bumi bukan hanya dalam kondisi basah tetapi juga kering. Sehingga dikenal pula dengan istilah deposisi (penurunan/pengendapan) basah dan deposisi kering. Deposisi basah mengacu pada hujan asam, kabut dan salju. Ketika hujan asam ini mengenai tanah, ia dapat berdampak buruk bagi tumbuhan dan hewan, tergantung dari konsentrasi asamnya, kandungan kimia tanah, buffering capacity (kemampuan air atau tanah untuk menahan perubahan pH), dan jenis tumbuhan/hewan yang terkena. Deposisi kering mengacu pada gas dan partikel yang mengandung asam. Sekitar 50% keasaman di atmosfer jatuh kembali ke bumi melalui deposisi kering. Kemudian angin membawa gas dan partikel asam tersebut mengenai bangunan, mobil, rumah an pohon. Ketika hujan turun, partikel asam yang menempel di bangunan atau pohon tersebut akan terbilas, menghasilkan air permukaan (runoff) yang asam. Angin dapat membawa material asam pada deposisi kering dan basah melintasi batas kota dan negara sampai ratusan kilometer. Menurut para ahli, bahwa SO2 dan NOx merupakan penyebab utama hujan asam. Hujan asam terjadi ketika gas-gas tersebut di atmosfer bereaksi dengan air, oksigen, dan berbagai zat kimia yang mengandung asam. Sinar

matahari meningkatkan kecepatan reaksi mereka. Hasilnya adalah larutan Asam Sulfat dan Asam Nitrat (konsentrasi rendah). Untuk mengukur keasaman hujan asam digunakan pH meter. Air murni menunjukkan pH 7,0 air asam memiliki pH kurang dari 7 (dari 0-7), dan air basa menunjukkan ph lebih dari 7 (dari 7-14). Air hujan normal memang agak asam, pH sekitar 5,6 karena karbon dioksida (CO2) dan air bereaksi membentuk carbonic acid (asam lemah). Jika air hujan memiliki pH dibawah 5,6 maka dianggap sudah tercemari oleh gas mengandung asam di atmosfer. Hujan dikatakan hujan asam jika telah memiliki pH dibawah 5,0. Makin rendah pH air hujan tersebut, makin berat dampaknya bagi mahluk hidup.

Penipisan Lubang Ozon Ozon di lapisan atas (lapisan stratosfer), terbentuk secara alami, dan melindungi bumi. Namun zat kimia buatan manusia telah merusak lapisan tersebut, sehingga menimbulkan penipisan lapisan ozon. Zat kimia itu dikenal dengan ODS (ozone-depleting substances), diantaranya chlorofluorocarbons (CFCs), hydrochlorofluorocarbons (HCFCs), halons, methyl bromide, carbon tetrachloride, dan methyl chloroform. Zat perusak ozon tersebut sebagian masih digunakan sebagai bahan pendingin (coolants), foaming agents, pemadam kebakaran (fire extinguishers), pelarut (solvents), pestisida (pesticides), dan aerosol propellants.

Kloroflorokarbon atau Chlorofluorocarbon (CFC) mengandung klorin (chlorine), florin (fluorine) dan karbon (carbon). CFC ini merupakan aktor utama penipisan lapisan ozon. CFCs sangat stabil di troposfer. CFCs yang paling umum adalah CFC-11, CFC-12, CFC-113, CFC-114, dan CFC-115. Potensi merusak ozon dari CFC tersebut secara berurutan adalah 1, 1, 0.8, 1, dan 0.6. Di udara, zat ODS tersebut terdegradasi dengan sangat lambat. Bentuk utuh mereka dapat bertahan sampai bertahun-tahun dan mereka bergerak melampaui troposfer dan mencapai stratosfer. Di stratosfer, akibat intensitas sinar ultraviolet matahari, mereka pecah, dan melepaskan molekul chlorine dan bromine, yang dapat merusak lapisan ozon. Para peneliti memperkirakan satu atom chlorine dapat merusak 100.000 molekul ozon. Walaupun saat ini zat kimia perusak lapisan ozon telah dikurangi atau dihilangkan penggunaannya, namun penggunaannya di waktu yang lampau masih dapat berdampak pada

perusakan lapisan ozon. Penipisan lapisan ozon dapat diteliti dengan menggunakan satelit pengukuran, terutama di atas kutub bumi. Penipisan lapisan ozon pelindung akan meningkatkan jumlah radiasi matahari ke bumi yang dapat menyebabkan banyak kasus kanker kulit, katarak, dan pelemahan sistem daya tahan tubuh. Terkena UV berlebihan juga dapat menyebabkan peningkatan penyakit melanoma, kanker kulit yang fatal. Menurut US EPA, sejak 1990, resiko terkena melanoma telah berlipat dua kali. Ultraviolet dapat juga merusak tanaman sensitif, seperti kacang kedelai, dan mengurangi hasil panen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa fitoplankton di laut, yang merupakan basis rantai makanan di laut, telah mengalami tekanan akibat ultraviolet. Tekanan ini dapat berdampak pada manusia berupa terpengaruhinya pasokan makanan dari laut. Isu penipisan lubang ozon telah dijadikan isu internasional oleh Badan PBB untuk Lingkungan Hidup, United Nations Environment Programme (UNEP), sejak tahun 1987. Sebuah protokol konvensi, dikenal dengan Montreal Protocol, mengajak negara yang telah menandatangani konvensi tersebut untuk menghapus produksi CFC secara bertahap pada 1 Januari 1996. Jika upaya ini berhasil maka lapisan ozon akan kembali normal pada tahun 2050.

I. PENCEMARAN AIR Sumber Pencemaran Air Banyak penyebab pencemaran air tetapi secara umum dapat dikategorikan sebagai sumber kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber langsung meliputi efluen yang keluar dari industri, TPA (tempat Pembuangan Akhir Sampah), dan sebagainya. Sumber tidak langsung yaitu kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah, atau atmosfer berupa hujan. Tanah dan air tanah mengandung mengandung sisa dari aktivitas pertanian seperti pupuk dan pestisida. Kontaminan dari atmosfer juga berasal dari aktivitas manusia yaitu pencemaran udara yang menghasilkan hujan asam.

Pencemar Pencemar air dapat diklasifikasikan sebagai organik, anorganik, radioaktif, dan asam/basa. Saat ini hampir 10 juta zat kimia telah dikenal manusia, dan hampir 100.000 zat kimia telah digunakan secara komersial. Kebanyakan sisa zat kimia tersebut dibuang ke badan air atau air tanah. Pestisida, deterjen, PCBs, dan PCPs (polychlorinated phenols), adalah salah satu contohnya. Pestisida dgunakan di pertanian, kehutanan dan rumah tangga.

PCB, walaupun telah jarang digunakan di alat-alat baru, masih terdapat di alat-alat elektronik lama sebagai insulator, PCP dapat ditemukan sebagai pengawet kayu, dan deterjen digunakan secara luas sebagai zat pembersih di rumah tangga.

Dampak Pencemaran Air Pencemaran air berdampak luas, misalnya dapat meracuni sumber air minum, meracuni makanan hewan, ketidakseimbangan ekosistem sungai dan danau, pengrusakan hutan akibat hujan asam, dan sebagainya. Di badan air, sungai dan danau, nitrogen dan fosfat (dari kegiatan pertanian) telah menyebabkan pertumbuhan tanaman air yang di luar kendali (eutrofikasi berlebihan). Ledakan pertumbuhan ini menyebabkan oksigen, yang seharusnya digunakan bersama oleh seluruh hewan/tumbuhan air, menjadi berkurang. Ketika tanaman air tersebut mati, dekomposisi mereka menyedot lebih banyak oksigen. Sebagai akibatnya, ikan akan mati, dan aktivitas bakteri menurun.

Langkah Penyelesaian Dalam keseharian kita, kita dapat mengurangi pencemaran air, dengan cara mengurangi jumlah sampah yang kita produksi setiap hari (minimize), mendaur ulang (recycle), mendaur pakai (reuse). Kita pun perlu memperhatikan bahan kimia yang kita buang dari rumah kita. Karena saat ini kita telah menjadi masyarakat kimia, yang menggunakan ratusan jenis zat kimia dalam keseharian kita, seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, memupuk tanaman, dan sebagainya. Menjadi konsumen yang bertanggung jawab merupakan tindakan yang bijaksana. Sebagai contoh, kritis terhadap barang yang dikonsumsi, apakah nantinya akan menjadi sumber pencemar yang persisten, eksplosif, korosif dan beracun, atau degradable (dapat didegradasi) alam ? Apakah barang yang kita konsumsi nantinya dapat meracuni manusia, hewan, dan tumbuhan, aman bagi mahluk hidup dan lingkungan ? Teknologi dapat kita gunakan untuk mengatasi pencemaran air. Instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah, yang dioperasikan dan dipelihara baik, mampu menghilangkan substansi beracun dari air yang tercemar. Walaupun demikian, langkah pencegahan tentunya lebih efektif dan bijaksana.

J. PENCEMARAN TANAH

Jenis Pencemaran Tanah Sebagaimana udara dan air, tanah merupakan komponen penting dalam hidup kita. Tanah berperan penting dalam pertumbuhan mahluk hidup, memelihara ekosistem, dan memelihara siklus air. Kasus pencemaran tanah terutama disebabkan oleh pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat (ilegal dumping), kebocoran limbah cair dari industri atau fasilitas komersial, atau kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah, yang kemudian tumpah ke permukaan tanah. Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya. Remediasi Kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah dikenal dengan remediasi. Sebelum melakukan remediasi, hal yang perlu diketahui: 1. Jenis pencemar (organic atau anorganik), terdegradasi/tidak, berbahaya/tidak, 2. Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut, 3. Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P), 4. Jenis tanah, 5. Kondisi tanah (basah, kering), 6. Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut, 7. Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).

Remediasi On-site dan Off-site Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi. Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar

dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

Bioremediasi Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air). Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi : 1. stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dsb 2. inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus 3. penerapan immobilized enzymes 4. penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar.
Kelas Fuel hydrocarbons PAHs (Polychlorinated aromatic hydrocarbons) PCBs (Polychlorinated biphenyls) Chlorinated solvents Chlorinated aromatic compounds Chlorophenols Nonhalogenated phenolics Pesticides Explosives Nitrogen heterocyclics Radionuclides Anions Metals Jenis Bahan Kimia Benzene, Toluene Creosote Aroclor TCE (Trichloroethylene) Chlorobenzene Pentachlorophenol 2-Methylphenol 2,4-D, Atrazine TNT (2,4,6-Trinitrotuluene) Pyridine Plutonium Nitrate Lead

Proses bioremediasi harus memperhatikan temperatur tanah, ketersediaan air, nutrien (N, P, K), perbandingan C : N kurang dari 30:1, dan ketersediaan oksigen.

BAB III SIMPULAN


Lingkungan yang perlu dilestarikan supaya diperoleh keadaan yang seimbang antara manusia. Begitu banyak dampak yang ditimbulkan jika kita tidak memperhatikan keseimbangan alam yang digunakan sebagai tempat kehidupan. Dampak negatif yang muncul berupa penyakit yang merugikan pada manusia seperti penyakit pernafasan, diare, kholera, thyphus, dysentri, polio, ascariasis dan lain-lain. Dampak positif lingkungan terhadap kesehatan memperoleh sumber energi untuk kebutuhan hidup. Untuk pencegahan penyakit perlu dilakukan sanitasi terhadap lingkungan air, udara dan tanah, khususnya pengelolaan air minum dan air buangan secara terpadu.

DAFTAR PUSTAKA
http://daniey.wordpress.com/pencemaran-lingkungan/ http://www.tempo.co/topik/masalah/172/Pencemaran-Lingkungan http://search.kompas.com/fq?sort=time&sortime=0&siteid=0&start-date=&enddate=&q=Pencemaran%20lingkungan&sa=

LAMPIRAN

SENIN, 13 MEI 2013 | 13:48 WIB

Peneliti Temukan Merkuri Cemari Pantai Banyuwangi

Merkuri. scientificamerican.com

Topik

#Pencemaran Lingkungan

TEMPO.CO, Banyuwangi - Peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Jawa Timur, Susintowati, menemukan kadar merkuri yang cukup tinggi dari sisa pertambangan emas tradisional di muara sungai Lampon, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur. Merkuri tersebut telah meracuni siput dan kerang yang hidup di Pantai Lampon. Penelitian Susintowati tersebut untuk tesis pascasarjana jurusan biologi Universitas Gadjah Mada, Desember 2012 lalu. Penelitian yang berjudul "Bioakumulasi Merkuri dan Struktur Komunitas Gastropoda di Kawasan Bekas Penggelondongan Emas Lampon" itu mengkaji dampak merkuri pada gastropodadi pantai yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Kota Banyuwangi itu. Susintowati menjelaskan, dia melakukan pengamatan dan pengambilan data di muara sungai dan Pantai Lampon sejak Mei 2010 hingga Juni 2012. Di muara sungai tersebut, kata dia, sejak 2007-2010 dipakai sebagai tempat penggelondongan atau pemisahan bijih emas secara tradisional menggunakan bahan kimia merkuri. Sedikitnya ada 15 penambang yang mengoperasikan 60 mesin penggilingan di muara sungai. Hasilnya, kata dia, akumulasi merkuri dalam sedimen muara Pantai Lampon mencapai 0,45 ppm dan bibir muara hingga 1,17 ppm. Sedangkan timbunan limbah yang tersisa setelah tambang ditutup mencapai 634,19 ppm. Padahal, sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004, kadar merkuri secara alamiah di alam hanya 0,1 ppm. "Jadi konsentrasi merkuri di Lampon sudah di atas baku mutu," kata dia kepada wartawan, Senin, 13 Mei 2013. Merkuri tersebut, kata Susintowati, telah masuk ke tubuh siput dan kerang. Pada siput mangrove (Terebralia sulcata), kandungan merkuri sudah mencapai 3,1 ppm. Dalam tubuh siput pantai (Nerita argus) hingga 3,03 ppm. Sedangkan jenisPatella intermedia, siput yang sering ditemukan di pantai berbatu, mengandung 0,44 ppm merkuri. "Karena itu, saya

merekomendasikan supaya warga setempat tidak makan siput dan kerang dari Lampon," kata dia. Susintowati belum meneliti bagaimana kandungan merkuri pada ikan di Pantai Lampon. Namun tidak menutup kemungkinan merkuri juga sudah masuk ke tubuh ikan laut. Menurut Susintowati, adanya pertambangan tradisional itu menunjukkan dampak serius dari aktivitas penambangan emas. Meskipun tambang tersebut berskala kecil dan sudah ditutup pada 2011, efek cemarnya masih tetap berjalan dan bisa meluas. Apalagi keberadaan merkuri di tanah bisa mencapai 1.000 tahun, dan hingga 3.000 tahun di samudra. Hasil penelitian ini, kata Susintowati, bisa menjadi pertimbangan bagi pemerintah dan masyarakat apabila membuka pertambangan emas yang lebih besar. "Skala kecil saja sudah berdampak serius pada biota, apalagi kalau tambangnya besar," kata dosen pendidikan biologi di Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi ini. Pantai Lampon berada sekitar 10 kilometer dari Gunung Tumpang Pitu, yang dieksplorasi perusahaan tambang emas PT Indo Multi Niaga. Pada Juli 2012, izin usaha pertambangan dari PT IMN dialihkan ke PT Bumi Suksesindo. Tambang tradisional bermunculan di Kecamatan Pesanggaran setelah PT IMN mengeksplorasi tambang emas di wilayah itu pada 2007. Direktur Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur, Ony Mahardhika, mengatakan, pertambangan mineral skala besar maupun kecil akan merusak ekosistem secara besar-besaran, yang menjadi ruang hidup manusia. Selain itu, pasti berdampak pada kesehatan masyarakat setempat. "Di Minahasa, satu kampung harus pergi karena daerahnya tercemar bekas pertambangan emas," kata dia. Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang, Andre S. Wijaya, mengatakan, beredarnya merkuri menjadi bukti ketidaktegasan pemerintah. Seharusnya pemerintah membatasi dan mengontrol distribusi merkuri. "Selama ini hanya pertambangan yang disalahkan, tapi pemerintah belum menyentuh sindikat penjualan merkuri," katanya. IKA NINGTYAS
JUM'AT, 10 MEI 2013 | 09:28 WIB

Awan Cirrus Tercemar Akibat Aktivitas Manusia

Awan cirrus. Natureworldnews.com

Topik

#Pencemaran Lingkungan #National Aeronautics and Space Administration | NASA

TEMPO.CO, Jakarta - Awan cirrus merupakan gumpalan awan tipis yang menutupi hampir sepertiga bumi. Sebagian besar terbentuk dari debu mineral dan aerosol logam, menurut studi yang dilakukan selama sembilan tahun oleh tim interdisipliner dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), dan lain lain. Dalam penelitian itu, untuk mengumpulkan data, tim menggunakan instrumen yang diletakkan di moncong pesawat. Termasuk spektometer massa partikel dan pengumpul partikel. Pesawat itu kemudian terbang melintasi awan. Partikel es akan mengalir melalui lubang khusus yang akan mencair dan menjadi butiran. Lalu butiran dianalisis untuk mengidentifikasi ukuran dan komposisinya. Ilmuwan memprediksi bahwa konsentrasi debu mineral akan lebih tinggi pada masa yang akan datang. Hal ini akibat lingkungan yang semakin gersang, minimnya lahan hijau dan berubahnya curah hujan disebabkan aktifitas manusia. Berubahnya formasi awan Cirrus merupakan bukti lain dari aktifitas manusia yang mencemari alam. Cziczo dan tim menemukan kandungan seng dan tembaga yang tinggi pada awan tersebut. "Seng dan tembaga adalah partikel logam yang berasal dari aktifitas industri seperti peleburan dan pembakaran elektronik di ruang terbuka," kata Cziczo Menurut Karl Froyd dari NOAA, keadaan ini membuat kita sulit untuk mengetahui perubahan

iklim secara akurat. NATURE WORLD NEWS | APRILIANI GITA FITRIA

JUM'AT, 03 MEI 2013 | 16:27 WIB

Burung Laut Menjadi Indikator Pencemaran Sampah

Seekor burung Pelikan Coklat berenang di laut yang terkena tumpahan minyak di Teluk Meksiko (6/6). Ratusan burung Pelikan mengalami nasib yang sama dengan burung tersebut. REUTERS/Sean Gardner

Topik

#Pencemaran Lingkungan

TEMPO.CO, Monterey - Di laut atau di pantai seringkali kita menemukan sampah plastik berserakan. Di Kimalo Point yang terletak di Pulau Hawaii, serpihan plastik bahkan ditemukan di kedalaman satu meter di bawah permukaan pasir. "Di beberapa pantai lainnya, sulit untuk membedakan antara pasir dan plastik," kata Nicholas Mallos, peneliti puing-puing laut di LSM Ocean Conservancy kepada LiveScience, Januari lalu.

Untuk mengetahui tingkat pencemaran sampah di laut, para ilmuwan menggunakan burung laut sebagai alat ukur. Burung laut, termasuk burung pelikan dan burung camar, merupakan rantai makanan paling atas. Mereka menyerap racun dan polusi yang terkandung dalam ikan yang mereka makan. Karena burung laut mencari makan di area laut yang luas, tapi selalu kembali ke lokasi yang sama setiap tahun untuk berkembang biak, mereka memasok sampel polutan dari satu wilayah geografis yang luas kepada para peneliti. "Mereka terbang menyebar di atas lautan selama setahun sehingga bisa dibilang mereka mengambil sampel pencemaran bagi kami," kata John Elliot dari Environment Canada dalam jurnal Science, 3 Mei 2013. "Selama mereka mencari makan, mereka terpapar kontaminasi, terutama jenis bioakumulatif yang memang kami incar." Pemantauan racun pada burung laut tidaklah mematikan si burung. Ilmuwan menggunakan sampel bulu, darah, minyak, dan contoh jaringan tubuh tanpa membunuh burung. Sampel tersebut cukup untuk mengukur polusi yang terjadi. Burung yang mati kerap ditemukan dengan perut yang penuh plastik. Hal ini menunjukkan peningkatan kontaminasi di laut yang berasal dari limbah nelayan dan para pengunjung pantai. Monterey Bay Aquarium di California memperkirakan sekitar 1 juta burung laut, ditambah 100.000 hewan mamalia laut dan penyu, mati karena menelan plastik setiap tahun. LIVE SCIENCE | APRILIANI GITA FITRIA

SELASA, 19 MARET 2013 | 14:12 WIB

Warga Tagih Ganti Rugi Dampak Proyek IPAL

Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Jakarta, Minggu (26/2). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

#Pencemaran Lingkungan

TEMPO.CO, Banyuwangi -- Warga Dusun Tratas, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, menagih Kementerian Lingkungan Hidup dan pemerintah daerah setempat untuk memberi ganti rugi atas 23 rumah warga yang rusak akibat pembangunan instalasi pengolah air limbah (IPAL). Mereka berkirim surat kepada Bupati Banyuwangi, Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Pemeriksa Keuangan, Kapolres, dan Badan Lingkungan Hidup Banyuwangi. Koordinator warga Tratas, Suwandi, mengatakan, pemasangan tiang pancang dalam proyek IPAL tersebut telah menyebabkan 23 rumah warga retak-retak. Proyek itu didirikan hanya berjarak 4 meter dari permukiman nelayan Dusun Tratas. "Jadi harus ada ganti rugi kepada warga yang terdampak," kata dia, Selasa, 19 Maret 2013. Menurut Suwandi, sebelumnya pemerintah Banyuwangi berjanji akan memberi ganti rugi kepada warga. Bahkan, sejumlah anggota DPRD sudah meninjau rumah warga yang retak. Namun, hingga proyek IPAL dicabut oleh Kementerian Lingkungan Hidup, ganti rugi yang dijanjikan belum terealisasi. Proyek IPAL itu didanai Kementerian Lingkungan Hidup dari APBN 2012 sebesar Rp 9,5 miliar. Proyek di lahan seluas 1.200 meter itu dikerjakan PT Citra Aneka Solusip pada 18 September 2012. Namun, saat pemasangan tiang pancang, 23 rumah warga retak-retak. Gara-gara itu, warga menolak pembangunan IPAL. Mereka kemudian berunjuk rasa besar-besaran. Proyek menjadi mandek hingga akhir 2012. Pada Januari 2013, Kementerian Lingkungan Hidup akhirnya mencabut anggaran untuk proyek itu.

Pembuatan IPAL terpadu itu merupakan salah satu solusi untuk mengatasi pencemaran lingkungan di kawasan Muncar. Delapan perusahaan yang dipilih merupakan perusahaan kecil yang dianggap tidak mampu membangun IPAL. Di kawasan Muncar terdapat sekitar 100 perusahaan pengolahan ikan, seperti sarden kalengan, penepungan, pembekuan, dan pembuatan minyak ikan. Sebanyak 40 perusahaan di antaranya wajib memiliki IPAL karena limbahnya di atas baku mutu yang ditetapkan Undang-Undang Lingkungan Hidup. Namun, sejak beroperasi tahun 1970-an, perusahaan-perusahaan itu tidak mempunyai IPAL. Limbah cair langsung dibuang ke sejumlah sungai yang bermuara ke perairan Muncar di Selat Bali. Akibatnya, terjadi pencemaran akut di laut Muncar dengan kadar limbah 2.000 ppm, atau melebihi baku mutu yang ditetapkan hanya 100 ppm. Kepala Badan Lingkungan Hidup Husnul Khotimah mengatakan, pemerintah Banyuwangi tidak bisa memberi ganti rugi kepada warga karena proyek tersebut didanai APBN. "Jadi surat kami serahkan ke Kementerian Lingkungan Hidup," kata dia. Husnul mengklaim, pada November lalu, tim Pemkab bersama kontraktor sudah berniat merenovasi rumah warga yang retak. Namun warga justru menolaknya. IKA NINGTYAS

MINGGU, 10 MARET 2013 | 13:56 WIB

Atasi Pencemaran, Bekasi Bangun Laboratorium

TEMPO/Hamluddin

Topik

#Pencemaran Lingkungan

TEMPO.CO, Bekasi - Pemerintah Kota Bekasi, Ahad, 10 Maret 2013, meresmikan pengoperasikan laboratorium lingkungan hidup. Laboratorium ini nantinya digunakan untuk menganalisis pencemaran yang terjadi di kali-kali di Bekasi. "Ini bukti keseriusan pemerintah dalam menata lingkungan," kata Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi. Menurut Rahmat, tingkat pencemaran sungai-sungai di Bekasitergolong tinggi. Diduga pencemaran itu akibat limbah industri yang berdiri dibuang ke sungai. Indikasi ini sebenarnya sudahmuncul sejak lama. Namun pemerintah kesulitan untuk membuktikan tingkat pencemaran itu. Dengan adanya laboratorium ini, Rahmat berharap kesulitan itu bisa diatasi. Petugas laboratorium akan menguji segala bentuk pelanggaran lingkungan dalam perspektif ilmiah. "Laboratorium akan meneliti kandungan air sungai, terutama di saluran buangan limbah industri," kata Rahmat. Perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran, kata dia, akan ditindang tegas sesuai dengan undang-undang berlaku. Selain meneliti pencemaran Kali Bekasi, petugas laboratorium

Lingkungan Hidup Kota Bekasi juga memiliki fungsi melakukan kajian analisis dampak lingkungan (Amdal) bangunan di Kota Bekasi. HAMLUDDIN

SENIN, 04 FEBRUARI 2013 | 11:46 WIB

Walhi Ancam Gugat Badan Lingkungan Hidup Malang

Ilustrasi pencemaran sungai. TEMPO/Fahmi Ali

Topik

#Pencemaran Lingkungan #Wahana Lingkungan Hidup | Walhi

TEMPO.CO, MALANG - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur mengancam akan melayangkan gugatan hukum kepada Badan Lingkungan Hidup Malang, jika terbukti membiarkan para pelaku pencemaran Sungai Suko melenggang bebas tanpa sanksi. Selama ini mereka hanya melakukan penilaian secara administratif. Kami menuntut untuk turun langsung memantau ke lapangan, kata Dewan Daerah Walhi Jawa Timur, Purnawan Dwikora Negara, Senin, 4 Februari 2013. Hak gugat warga, atau citizen law suit, menurut Purnawan, adalah langkah yang bakal digunakan untuk menekan BLH Malang untuk menertibkan perusahaan pencemar Sungai Suko.

Investigasi kami menemukan itu, kalau BLH bilang bersih, kami siapkan bukti untuk menggugat, katanya. Walhi, kata Purnawan, mendesak pemerintah untuk mengumumkan kepada publik izin usaha, izin pembuangan limbah, IPAL, dan alat pengolahan limbah lain yang dilanggar perusahaan. Sekaligus rekam jejak kinerja lingkungan dan pemeriksaan periodik BLH terhadap CV Tri Surya Plastik--salah satu perusahaan yang diduga mencemarkan air dan udara Sungai Suko. "Pastikan perusahaan melanggar kejahatan lingkungan dihukum," katanya. Diduga Instalasi Pengolahan Air Limbah dan tak sempurna, sehingga menimbulkan bau dan mencemari sungai selama tiga tahun terakhir. Sebagian besar industri yang mencemari lingkungan, katanya, memiliki sarana instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Namun, banyak perusahaan yang curang tak mengoperasikan IPAL. Limbah cair langsung dibuang ke sungai. Pembuangan limbah dilakukan malam hari, atau saat hujan. "Untuk mengelabui petuga lingkungan hidup dan warga," katanya. Selama ini, warga Kelurahan Lawang Kabupaten Malang mengeluhkan bau menyengat dan Sungai Suko tercemar industri pengolahan limbah plastik CV Tri Surya Plastik. Warga menggunakan air sungai untuk mandi dan mencuci. Dampaknya, sejumlah warga mengalami iritasi kulit serta seorang anak menderita sesak napas setelah menghirup asap yang dikeluarkan. "Ikan pun mati," kata Ketua RT 1 RW 10 Kelurahan Lawang, Riyanto. Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Malang Tri Dyah Mahestuti mengatakan bakal mengecek kebenaran pencemaran itu. Tim dari bidang pengawasan akan diturunkan untuk memastikan sumber pencemaran. "Kadang tim turun tak ada pencemaran. Akan kami cek berulang-ulang," katanya. Apalagi, petugas turun ke lapangan saat jam kerja. Sehingga dimungkinkan perusahaan membuang limbah pada jam tertentu. Seharusnya, perusahaan yang beroperasi selama 26 tahun telah memiliki IPAL yang memadai. "Mungkin sudah diolah maksimal, tapi ada kerusakan IPA sehingga mencemari," katanya. EKO WIDIANTO

RABU, 27 FEBRUARI 2013 | 15:08 WIB

Terkena Polusi, Penis Berang-berang Menyusut

Berang-berang. spirit-animals.com

Topik

#Pencemaran Lingkungan

TEMPO.CO, Cardiff - Polusi bahan kimia ternyata mempengaruhi ukuran organ reproduksi. Peneliti Inggris menemukan penis berang-berang menyusut dan berubah rupa akibat kehadiran zat kimia di dalam tubuh. Berang-berang yang mengalami perubahan penis bisa ditemukan di sungai di Inggris dan Wales. Penis binatang pengerat ini mengecil, ditandai dengan turunnya berat tulang penis, atau biasa disebut baculum. Perubahan lain adalah pembesaran pada testikel dan kemunculan kista pada saluran sperma. "Penyusutan penis mengejutkan kami," ujar peneliti biologi dari Proyek Berangberang, Cardiff University, Elizabeth Chadwick. Peneliti menduga perubahan ukuran alat kelamin disebabkan kehadiran bahan kimia sehingga menekan pertumbuhan hormon. Di Negeri Ratu Elizabeth, berang-berang memang pernah terancam oleh zat kimia. Pada era 1970-an, populasi binatang ini menurun drastis. Penelitian menemukan penurunan jumlah berang-berang akibat tingkat polutan organik persisten yang tinggi di dalam air sungai. Setelah kepunahan massal tersebut, pestisida organoklorin dilarang beredar di Inggris. Setelah

pemberlakuan aturan tersebut, populasi berang-berang meningkat. Penelitian Chadwick sendiri tidak menemukan kaitan antara zat kimia empat dekade lalu dan pengecilan penis. Alih-alih, mereka memperkirakan pencemar baru yang mempengaruhi ukuran penis berang-berang. Penelitian terpisah memang menyebutkan, beberapa senyawa penghambat endokrin (endochrine disrupting chemicals, EDC) bisa menghambat pertumbuhan penis. Organisasi kesehatan dunia (WHO) membenarkan senyawa penghambat endokrin mempengaruhi sistem hormon binatang. Bahan kimia ini bisa berasal dari alam atau dibuat di pabrik. "Pencemar seperti ini bisa berasal dari banyak sumber," ujar Chadwick. Salah satu sumber pencemar ini adalah debu pabrik yang terbang ke udara. Debu beracun ini jatuh bersama hujan dan mengalir ke sungai dan terminum berang-berang. ANTON WILLIAM | BBC | DISCOVERY

SELASA, 16 APRIL 2013 | 17:09 WIB

PT Jasa Marga Bantah Cemari Sungai Cisadane

Sungai Cisadane, Tangerang, Banten. Tempo/Dimas Aryo

Topik

#Pencemaran Lingkungan #PT Jasa Marga

TEMPO.CO, Jakarta - PT Jasa Marga membantah tudingan aktivis lingkungan hidup yang membentangkan spanduk bertuliskan PT Jasa Marga Cemari Cisadane dalam foto di majalah Tempo halaman 24-25 edisi 15-21 April 2013. Dalam foto karya wartawan Antara Muhammad Iqbal itu, aktivis lingkungan hidup bersama warga bantaran Cisadane sedang unjuk rasa di atas perahu di Sungai Cisadane, Tangerang, Banten, terkait ribuan liter pelumas bekas yang mengalir ke Cisadane. Justru, kami juga menjadi korban pencemaran oli tersebut, kata Kepala Humas PT Jasa Marga Wasta Gunadi kepadaTempo, Selasa, 16 April 2013. Wasta menjelaskan, kejadian berawal dari ditemukannya tumpahan oli bekas di kilometer 21+000B sampai 19+000B Tol JakartaTangerang, pada 10 April lalu. Kemudian, setelah ditelusuri ternyata terjadi kebocoran dari kendaraan truk Hino bernomor polisi B-9212-BYU, yang membawa 22 ribu liter oli bekas dan dikemudikan oleh Ahmad Rizki. Penampungannya tidak menggunakan drum atau bahan sesuai yang dipersyaratkan. Truk tersebut hanya menggunakan kantong penampung oli bekas dari bahan plastik terpal sebesar bak truk sehingga terjadi kebocoran, ujarnya Tetesan oli, kata Wasta, menutupi lajur 1 dan menyebar ke lajur 2 sepanjang 2 kilometer dari 21+000 sampai 19+000. Petugas Jasa Marga cabang Jakarta-Tangerang langsung melakukan penanganan, yakni memasang rambu jalan dan menaburi jalan yang terkena tetesan oli bekas dengan 16 karung berisi serbuk gergaji. Tapi ternya serbuk gergaji kurang karena tidak mampu menutupi banyaknya oli yang tercecer di badan jalan. Kami langsung berbagi tugas untuk mencari serbuk gergaji lagi. Sekitar pukul 08.00, lajur 1 dan 2 kembali dibuka, tapi dengan memasang rambu, ujarnya. Namun, ternyata kelalaian sopir truk pengangkut oli bekas tersebut berdampak terhadap pencemaran Sungai Cisadane. Kami baru tahu pagi harinya. Jadi, kami juga menjadi korban karena lingkungan jalan tol juga tercemari dengan oli bekas itu, kata Wasta. AFRILIA SURYANIS

http://www.tempo.co/read/news/

Demokrat: Alokasi untuk Lumpur Lapindo Bukan Mahar Politik



Indra Akuntono Selasa, 18 Juni 2013 | 12:04 WIB

Warga korban lumpur menceburkan diri ke dalam lumpur saat memperingati tujuh tahun semburan lumpur Lapindo, di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (29/5). Mereka meminta proses ganti rugi segera dituntaskan. | KOMPAS/Bahana Patria Gupta

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Amir Syamsuddin menjamin tak ada mahar politik dengan partai tertentu dalam APBN Perubahan 2013. Meski di dalam APBN-P 2013 terdapat alokasi anggaran Rp 115 miliar untuk penanggulangan bencana lumpur Sidoarjo, di Jawa Timur. "Saya jamin (tidak ada mahar politik)," kata Amir, saat ditemui di sela-sela rapat bersama Komisi IX DPR, Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (18/6/2013). Menurut Amir, yang harus diperhatikan adalah sikap pemerintah yang tak boleh menutup mata pada kesulitan korban bencana Lumpur Lapindo. Ia pun menomorduakan siapa penyebab bencana itu terjadi. "Kita tidak bisa terlalu straight itu urusan Lapindo, apalagi kita biarkan (korban) mereka menderita, kemudian pemerintah berpangku tangan, kan itu tidak bisa. Harus ada langkah untuk mengatasi penderitaan mereka," ujarnya.

Semburan lumpur di Sidoarjo terkait dengan PT Lapindo, Aburizal Bakrie, dan Partai Golkar. Pengalokasian anggaran untuk Lapindo disinyalir menjadi mahar untuk Golkar supaya menyetujui APBNP 2013 disahkan. Dalam APBNP yang telah disahkan terdapat alokasi anggaran kompensasi jika pemerintah jadi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Adapun alokasi untuk penanggulangan lumpur Sidoarjo tertuang dalam Pasal 9 Rancangan Undang-undang (RUU) Tahun 2013 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2013. Dalam pasal tersebut dikatakan "Untuk kelancaran upaya penanggulangan lumpur Sidoarjo, alokasi dana pada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Tahun Anggaran 2013." Di dalam pasal itu juga ditegaskan alokasi dana dapat digunakan untuk pelunasan pembayaran pembelian tanah dan bangunan di luar peta area terdampak pada tiga desa, yakni Desa Besuki, Desa Kedungcangring, dan Desa Pejarakan serta di sembilan rukun tetangga di tiga kelurahan yaitu Kelurahan Siring, Kelurahan Jatirejo, dan Kelurahan Mindi. Kemudian, pada poin selanjutnya alokasi itu diatur untuk bantuan kontrak rumah dan pembayaran pembelian tanah dan bangunan di luar peta area terdampak lainnya pada 66 rukun tetangga, yaitu Kelurahan Mindi, Kelurahan Gedang, Desa Pamotan, Desa Kalitengah, Desa Gempolsari, Desa Glagaharum, Desa Besuki, Desa Wunut, Desa Ketapang, dan Kelurahan Porong. Selanjutnya, dalam rangka penyelamatan perekonomian dan kehidupan sosial kemasyarakatan di sekitar tanggul lumpur Sidoarjo, anggaran belanja yang yang dialokasikan pada BPLS Tahun Anggaran 2013 dapat digunakan untuk kegiatan mitigasi penanggulangan semburan lumpur, termasuk penangangan tanggul utama ke Kali Porong yang mengalirkan lumpur dari tanggul utama ke Kali Porong.

Jepang Teliti Pencemaran Laut Indonesia



Jean Rizal Layuck Rabu, 8 Februari 2012 | 16:18 WIB

Seorang peneliti Jepang sedang mengamati pencemaran laut di Bitung, Sulawesi Utara, Rabu (8/2/2012). | KOMPAS/JEANE RIZAL LAYUCK

MANADO, KOMPAS.com- Kementerian Lingkungan Hidup Jepang mengutus dua orang peneliti, Dr. Kodra dan Dr. Yoda untuk melihat sejumlah laut di Indonesia yang rawan pencemaran. Ketika berada di Bitung, Sulawesi Utara, Rabu (8/2/2012), mereka melihat langsung laut di dermaga pelabuhan perikanan yang tercemar berbagai limbah minyak. Dr. Kodra mengatakan, pencemaran menjadi masalah rumit lingkungan laut di Indonesia. Menurut dia, sulit menghentikan pencemaran minyak dari kapal motor nelayan penangkap ikan tradisonil. Hal itu juga terlihat di Pelabuhan Perikanan Bitung ketika ia melihat laut di sekitar dermaga tergenang minyak. Kodra juga mewawancarai sejumlah nelayan mengenai pencemaran ini. Dari keterangan seorang nelayan, laut di sekitar dermaga Perikanan Bitung tercemar oleh minyak yang dibuang nelayan dari kapal motor. Dikatakan, pencemaran terjadi massif seiring dengan bertambahnya armada penangkap ikan nelayan. Pihak Kementerian Lingkungan Hidup Jepang telah melakukan kerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia. Di samping Bitung, Kodra juga melihat pencemaran di Muara Angke (Jakarta) dan Jembrana di Bali.

Pencemaran Sungai di Indonesia Meningkat 30 Persen



Agus Mulyadi Kamis, 5 April 2012 | 23:31 WIB

Ilustrasi: Pencemaran sungai. | KOMPAS Images/Fikria Hidayat

JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil pemantauan yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup terhadap indeks kualitas air sungai, menunjukkan kecenderungan peningkatan pencemaran hingga 30 persen. "Dari 52 sungai yang dipantau, hampir 30 persen kecenderungan meningkat pencemaran sungai dari cemar sedang menjadi cemar berat," kata Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Pembinaan Sarana Teknis Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas, Henry Bastaman, di Jakarta, Kamis (5/4/2012) ini. Lebih lanjut Henry menjelaskan, pencemaran air sungai tersebut paling tinggi diindikasikan dari semakin meningkatnya limbah domestik, walaupun di beberapa sungai disebabkan oleh kegiatan tambang. Menurut dia, intensitas meningkatnya pencemaran akibat kegiatan tambang meningkat, terutama di daerah timur seperti Maluku dan Papua. Papua yang pada 2009 menduduki peringkat pertama untuk indeks kualitas lingkungan hidup turun peringkat dua, salah satunya disebabkan karena meningkatnya pencemaran air sungai. Sungai yang tercemar di Papua yaitu Sungai Mamberamo dan Danau Sentani, jelas Henry, seraya menambahkan, selama ini pemerintah berkonsentrasi memperbaiki indeks kualitas air

sungai-sungai yang berada di Pulau Jawa. Namun kenyataanya di wilayah timur ada kecenderungan pencemaran meningkat. Kecenderungan meningkatnya pencemaran air sungai tersebut, dapat diartikan semakin banyaknya kegiatan yang membebani media air sungai, dan semakin padatnya jumlah penduduk, sehingga mendesak untuk membuka pemukiman baru hingga ke daerah aliran sungai. "Saya kira kondisi seperti ini harus menjadi peringatan bahwa upaya yang sudah kita lakukan cukup gencar, tapi masih terjadi pencemaran yang cukup berat," tambah dia. Upaya yang dilakukan, salah satunya Kementerian Lingkungan Hidup menyampaikan ke daerah, agar pengukuran indeks kualitas air ditingkatkan dan menjadi landasan kebijakan di masing-masing daerah. Sumber: Antara

Pencemaran Lingkungan Memprihatinkan



KOMPAS Erwin Edhi Prasetyo Kamis, 25 Juni 2009 | 20:05 WIB

Limbah sampah yang begitu banyak di pesisir

Air pantai, sekitar Tempat Pelelangan Ikan Cilincing mengakibatkan nelayan sulit mendapatkan ikan. FRANS AGUNG

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X menyatakan pencemaran air dan udara di wilayah pemukiman padat dan perkotaan DIY

sudah dalam taraf mencemaskan. Ini ditambah semakin berkurangnya tingkat ketersediaan air bersih akibat penggunannya yang tidak efisien. Misalnya, terjadi Pencemaran air, khususnya di sungai karena kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sangat rendah. Sungai dianggap tempat pembuangan sampah, limbah rumah tangga dan limbah industri. "Tingkat pencemaran air di K ali Code, Gajahwong dan Winongo yang terjadi di perkotaan dengan populasi penduduk padat masih memprihatinkan," ujar Sultan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Kamis (25/6) di Kepatihan, Yogyakarta. Di lingkungan padat penduduk perkotaan, banyak sumber air bersih yang tercemar bakteri E Coli akibat pembuatan septictank yang tidak memenuhi aturan. Rusaknya lingkungan, lanjut Sultan, membuat orang miskin menjadi lebih miskin, dan mudah sakit. Kondisi itu diperparah dengan penggunaan air bersih secara tidak efisien sehingga ketersediaan air bersih semakin berkurang. Sultan meminta agar air limbah kebutuhan domestik bisa didaur ulang guna dimanfaatkan kembali, misalnya untuk mencuci kendaraan. Selain itu, juga menghemat penggunaan air bersih. D i sisi lain, menurut Sultan, pencemaran udara akibat gas buang kendaraan seperti timbak dan karbon monoksida juga mencemaskan karena melebihi ambang batas di beberapa titik pusat kota. Menurut Sultan perlu dilakukan kerja sama dengan perguran tinggi untuk mengurangi pencemaran akibat emisi gas buang kendaraan. Selain itu, perlu dilakukan penanaman jenisjenis pohon yang mampu menyerap gas karbon seperti pohon mahoni, angsana, mangga, dan tanjung di lokasi-lokasi dengan pencemaran tinggi.

Menuntut Australia 510 Miliar, Terlalu Kecil

Minggu, 14 Maret 2010 | 07:30 WIB

KUPANG, KOMPAS.com - Tuntutan ganti rugi yang diajukan Indonesia kepada Australia senilai Rp 510 miliar atas pencemaran minyak di Laut Timor dinilai terlalu rendah dan tidak rasional jika dibandingkan dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. "Dari mana Tim Nasional Penanggulangan Pencemaran Laut Timor mendapatkan angka tersebut sebagai kompensasi terhadap kerusakan ekologis dan ekonomis di Laut Timor akibat pencemaran," kata pemerhati masalah Laut Timor, Ferdi Tanoni, di Kupang. Mantan agen imigrasi Kedutaan Besar Australia itu menegaskan, Tim Nasional Penanggulangan Pencemaran Laut Timor itu hanya dua hari melakukan kunjungan di Nusa Tenggara Timur (NTT) tanpa melakukan penelitian. "Dari mana Timnas bisa mendapatkan angka kerugian tersebut. Untuk mengetahui kerusakan ekologis dan ekonomis di Laut Timor butuh waktu penelitian yang lama, apalagi Timnas tidak pernah melakukan penelitian," ujarnya. Penulis buku Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Ekonomi Politik Canberra-Jakarta itu mengatakan, Indonesia terlalu cepat mengajukan klaim kepada Australia soal pencemaran minyak di Laut Timor akibat meledaknya sumur minyak Montara pada 21 Agustus 2009 lalu.

Menurut Tanoni perlu dilakukan sebuah penyelidikan yang mendalam terhadap luas pencemaran di Laut Timor serta berapa banyaknya nelayan dan petani rumput laut di NTT yang merasakan langsung dampak dari pencemaran tersebut. "Hasil penyelidikan inilah yang menjadi dasar acuan kita (Indonesia) untuk menuntut ganti rugi kepada Australia dan operator ladang minyak Montara, PTTEP Australasia atas pencemaran Laut Timor. Timnas tidak pernah melakukan penelitian koq bisa mendapatkan angka ganti rugi. Aneh..," kata Tanoni. Ia melihat ada sebuah keanehan terkait masalah ganti rugi ini, karena diumumkan oleh Tim Nasional Penanggulangan Pencemaran Laut Timor pascakunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Australia.

Ladang Tembakau Berpotensi Hasilkan Berbagai Polusi



KOMPAS Adi Sucipto Rabu, 7 Oktober 2009 | 14:55 WIB

Perkebunan tembakau. LUCKY PRANSISKA

LAMONGAN, KOMPAS.com Industri tembakau dan pendukungnya memiliki potensi pencemaran terhadap lingkungan, mulai dari perkebunan tembakau, pergudangan, hingga industri rokok. Kepala Bidang Pengawasan Dampak Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, Drajat Irawan, Rabu (7/10), mengatakan, perkebunan tembakau memiliki potensi pencemaran mulai dari limbah padat, limbah cair, pencemaran udara hingga limbah bahan berbahaya dan beracun. Hal itu diungkapkan Drajat pada acara penyuluhan dan pembinaan pengendalian polusi dan pencemaran lingkungan bagi indusri rokok di Lamongan. Kegiatan itu diikuti petani tembakau, industri rokok, kepala seksi ketenteraman dan ketertiban di setiap kecamatan, dan LSM Lingkungan Kolila. Menurut Drajat, potensi limbah padat bisa berasal dari proses pemeliharaan dan pemetikan yang menghasilkan daun kering, daun berpenyakit dan batang tembakau yang tak terpakai. Potensi limbah cair dapat terjadi selama proses pemeliharaan yang berasal dari sisa pupuk kimia dan pestisida yang digunakan. Potensi pencemaran udara juga bisa terjadi di perkebunan dalam proses pemeliharaan tembakau pada saat dilakukan pembakaran sisa daun atau batang tembakau, katanya. Drajat berharap para petani tembakau di Lamongan sedapat mungkin menghindari penggunaan pupuk jenis KCL, karena pupuk jenis ini dapat merusak daya bakar daun. Dia juga berpesan agar dosis pupuk yang digunakan agar sesuai anjuran. Jenis pupuk ZA dianjurkan antara 200-300 kilogram (kg) per hektar (ha), Superphos (SP-38) dianjurkan 150-200 kg per ha, dan jenis ZA 150- 175 kg per ha. Asisten Ekonomi Pembangunan Kabupaten Lamongan, Djoko Purwanto, mengatakan, masih terdapat pabrik rokok yang kurang pemahamannya terhadap pegendalian polusi (pencemaran). Berdasarkan evaluasi dan inventarisasi, masih terdapat usaha atau kegiatan pada pabrik rokok yang kurang paham terhadap pengendalian polusi di tempat usahanya. Melalaui penyuluhan itu diharapkan pengusaha dapat termotivasi untuk mewujudkan industri yang ramah lingkungan. Bagi petani tembakau diharapkan dapat menjadi pelopor dalam gerakan pencegahan dan pengendalian polusi serta pencemaran di daerahnya, ujar Djoko Purwanto.

Diduga Limbah Sido Muncul Bocor, BLH Ambil Sampel Air



Kontributor Ungaran, Syahrul Munir Rabu, 7 November 2012 | 12:19 WIB

Penyidik lingkungan dari BLH Provinsi Jateng, BLH kabupaten Semarang beserta Komisi C DPRD kabupaten Semarang mengambil sample limbah cair PT Sidomuncul, Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (06/11/2012) | KOMPAS.com/ Syahrul Munir

UNGARAN, KOMPAS.com - Mencuatnya kabar tentang dugaan pencemaran limbah cair pabrik jamu Sido Muncul Bergas, Kabupaten Semarang, langsung ditanggapi oleh pihak terkait. Selasa (06/11/2012) kemarin, tim gabungan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Tengah dan BLH Kabupaten Semarang beserta Komisi C PRD setempat meninjau lokasi, dan mengambil sampel air di area persawahan warga. Petugas penyidik BLH Propinsi Jawa Tengah, Sisbambang mengatakan, pengujian terhadap sampel air limbah baru dapat diketahui hasilnya dua pekan ke depan. "Untuk tingkat keasaman atau PH dan suhu udara kondisinya dinyatakan aman. Namun, untuk kandungan lainnya perlu pembuktian uji laboratorium," kata Sisbambang, saat ditemui di lokasi. Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Semarang, Mas'ud Ridwan meminta agar LH obyektif dalam melakukan penelitiannya. Terlepas dari itu, pihaknya juga berharap perusahaan memperhatikan aspek lingkungan terutama kepada warga yang terkena dampak

limbah yang diduga berasal dari PT Sido Muncul. "Bila terbukti pencemaran tersebut berasal dari PT Sido Muncul kami pun mendesak pihak perusahaan untuk memberikan kompensasi kepada warga serta memperbaiki jaringan IPAL," ungkap Masud. Dikabarkan sebelumnya, pencemaran limbah cair Sido Muncul mencemari sumber air dangkal dan area persawahan di Dusun Kalisori, Desa Diwak, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Selain sumur, pencemaran diduga mengakibatkan beras produksi petani tidak layak konsumsi.

Hindari Pencemaran, Lion Air Sedot Avtur Pesawat yang Jatuh



Kontributor Denpasar, Muhammad Hasanudin Minggu, 14 April 2013 | 16:43 WIB

Pesawat Boeing 737-800 milik Lion Air masih mengapung di laut sebelah barat ujung landasan Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Minggu (14/4/2013). | Muhammad Hasanudin

DENPASAR, KOMPAS.com - Untuk mengantisipasi pencemaran lingkungan, Lion Air melakukan penyedotan avtur yang masih tersisa di bangkai pesawat Boeing 737-800. Ratusan

drum disiapkan untuk mencegah bahan bakar tumpah ke laut setelah pesawat itu gagal mendarat di Bandara Ngurah Rai, Sabtu (13/4/2013). "Pencemaran lingkungan lebih banyak akibat bahan bakar (avtur) yang tumpah. Sebelum ditarik disedot dulu, ada 200 drum, ini sudah dilaksanakan," Direktur Airport Lion Air Kapten Daniel Putut saat konferensi pers di Base Ops Lanud Ngurah Rai, Minggu (14/4/2013) siang. Tim dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama operator kapal juga tengah mempelajari cara pengangkatan bangkai pesawat yang paling aman dan tidak merusak lingkungan. "Sebelumnya akan dipelajari dulu apakah ada terumbu karang atau apa, seminimalize menimbulkan kerusakan yang ada," jelas salah seorang tim investigasi KNKT. Pesawat Boeing 737-800 milik Lion Air itu jatuh sebelum mendarat di landasan Bandara Ngurah Rai Bali, Sabtu sore kemarin. Sebanyak 101 penumpang dan tujuh kru pesawat selamat, tetapi 46 orang di antaranya harus menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit karena menderita luka-luka.

Penegakkan Hukum Tak Jalan di Citarum



Sandro Gatra Sabtu, 26 Maret 2011 | 08:21 WIB

Sungai Citarum

BANDUNG, KOMPAS.com - Penegakkan hukum terhadap perusakan lingkungan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Citarum dinilai tak berjalan. Pembiaran oleh pihakpihak yang seharusnya menindak dinilai terus terjadi selama belasan tahun hingga kondisi Sungai Citarum memprihatinkan. Demikian dikatakan Dadan Ramdan, aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat, Sobirin Supardiono, anggota Dewan Pemerhati Kelestarian dan Lingkungan Tatar Sunda, serta T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, ketika berbincang-bincang dengan Kompas.com di Bandung. Dadan mengatakan, sekitar 500 pabrik berdiri di beberapa daerah di hulu Citarum. Mayoritas adalah pabrik tekstil. Dari seluruh pabrik yang berdiri, kata dia, hanya 20 persen yang mengolah limbah melalui Instalasi Pengolah Air Limbah (Ipal). "Sisanya dibuang ke sub-sub DAS yang larinya ke Citarum," ucap dia. Walhi, kata Dadan, pernah mendampingi tiga kasus pencemaran serius di Rancaekek, Majalaya, dan Saguling. Namun, tambah dia, tidak ada satu pun kasus itu yang masuk ke pengadilan. "Artinya penegakkan hukum untuk penjahat lingkungan sangat lemah," lontarnya. "Komunitas peduli lingkungan berkali-kali laporkan pencemaran ke Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat. Tapi mereka tidak pernah melakukan penyelidikan secara serius. Mereka ke lapangan, tapi hasilnya disimpulkan tidak ada pencemaran. Padahal jelas-jelas kelihatan warna sungai berubah. Kepolisian tidak bisa lakukan apa-apa," tambahnya. Sobirin mengatakan, kebanyakan langkah dari BPLHD hanya memberikan teguran kepada para pengusaha yang terbukti melanggar. "Hanya surat teguran. Diikutin boleh, ngga diikutin boleh," ucap dia. Akibat dari pembiaran atas laporan pencemaran, kata Sobirin, masyarakat semakin tak peduli terhadap lingkungan di sekitar mereka. "Kini terjadi keputusasaan masyarakat. Ketika dia lapor tapi tidak ditanggapi, yah biarlah seperti ini," katanya. Melihat pembiaran pencemaran sungai yang terus terjadi, Bachtiar mengatakan, "Kepala BPLHD bisa diajukan ke pengadilan,". Dadan, Sobirin, dan Bachtiar mencurigai adanya suap dari para pengusaha nakal kepada pihak-pihak yang seharusnya menindak. "Masalah selesai ketika ada sogok atau suap dari pihak pabrik," tegas Dadan.

Pencemaran Masuk Kriteria Adipura



Remigius Septian Hermawan Kamis, 26 Agustus 2010 | 15:06 WIB

Peran pasukan kuning dalam meraih Adipura bagi Kabupaten Lamongan cukup besar. Pada kirab piala Adipura ketiga, Selasa (9/6/2010), sebanyak 138 pasukan kuning menerima uang tunai bingkisan dan sembako masingmasing Rp 300.000. KOMPAS/ADI SUCIPTO K

JAKARTA, KOMPAS.com Mulai tahun 2011, pemerintah akan menambah kriteria penilaian bagi kota-kota penerima penghargaan Adipura. Kriteria baru itu adalah pengendalian pencemaran air dan udara. "Jadi, nanti penerimanya akan semakin sedikit dan lebih kompetitif," kata Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta dalam konferensi pers mengenai Revitalisasi Adipura di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta, Kamis (26/8/2010). Menurut Plh Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Pencemaran Hermin Rosita, untuk pencemaran air yang dinilai adalah kualitas air di aliran sungai. Sementara untuk pencemaran udara, yang dinilai adalah seberapa giat pemerintah kota menguji emisi kendaraan. "Untuk uji emisi, bisa kerja sama dengan bengkel-bengkel di daerah masing-masing," jelas Hermin. Selain itu, mulai tahun depan akan digiatkan lagi Dewan Adipura di tiap kota. "Dewan Adipura ini akan berisi budayawan, kalangan akademisi, dan tokoh masyarakat," ujar Hermin.

Masyarakat juga akan dilibatkan sebagai tim penilai untuk melakukan penilaian Adipura ini. "Masyarakat nanti akan menilai bagaimana pemerintah mereka menjaga kebersihan dan penanganan polusi di daerahnya," lanjutnya lagi. "Ini merupakan langkah baru dalam Adipura. Tujuan jangka panjangnya, kita mau kota-kota di Indonesia akan menjadi eco-city," kata Gusti Muhammad Hatta, terutama untuk kota-kota besar dan metropolitan.

Wah! 13 Pantai di Bali Tercemar



Herpin Dewanto Putro Senin, 2 Mei 2011 | 17:59 WIB

Sejak Rabu lalu, petugas kebersihan, Satuan Petugas Pantai Kuta, bersama masyarakat dan pedagang bergotong royong membersihkan Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Hari Jumat (8/4/2011), Pantai Kuta terlihat sudah relatif bersih, setelah sebelumnya diberitakan di majalah Time tentang kondisinya yang sangat kotor dan jorok. | KOMPAS/AYU SULISTYOWATI

DENPASAR, KOMPAS.com Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali menemukan ada 13 pantai di Bali yang tercemar limbah, diduga berasal dari hotel atau tempat usaha lainnya di sekitar pantai. Sektor pariwisata dapat terganggu karena beberapa pantai yang tercemar merupakan pantai andalan pariwisata di Bali, seperti Pantai Kuta dan Sanur. Pantai lainnya yang tercemar adalah Pantai Serangan, Benoa, Tanjung Benoa, Mertasari, Lovina, Soka, Candidasa, Tulamben, Pengambengan, Gilimanuk, dan Padangbai. Badan

Lingkungan Hidup (BLH) menemukan beberapa zat pencemar, seperti zat nitrat, zat dari detergen, minyak, dan timbal. "Pencemaran ini dapat menyebabkan kulit menjadi gatal ketika berenang di pantai," kata Kepala BLH Bali Anak Agung Alit Sastrawan, Senin (2/5/2011) di Denpasar. Apabila dibiarkan, pencemaran ini juga menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut. Menurut Sastrawan, pencemaran ini tidak tampak jika diamati dengan kasatmata. Berdasarkan pantauan di Pantai Sanur dan Kuta, air laut tampak relatif bersih dan masih banyak wisatawan yang berenang atau melakukan kegiatan air lainnya. Saat ini, BLH Bali mencari sumber penyebab pencemaran itu. Apabila sudah ditemukan, Pemerintah Provinsi Bali akan memberikan peringatan sebanyak tiga kali. Jika masih terbukti mencemari pantai, hotel atau restoran yang bersangkutan dapat terancam ditutup. Sastrawan mengingatkan, air laut bergerak sangat dinamis sehingga pencemaran pun dapat cepat menyebar ke pantai lainnya. Hal ini menjadi ancaman serius karena pantai menjadi kekuatan utama pariwisata Bali. Pantai Kuta, misalnya, pada awal Maret 2011 juga tercemar bakteri dan warna air laut berubah menjadi coklat. Bakteri itu menyebabkan iritasi pada kulit. Satu bulan kemudian, Pantai Kuta kembali menjadi sorotan ketika sampah menumpuk di pantai tersebut. Hal ini menjadi sorotan internasional ketika ditulis di majalah Time edisi 1 April 2011. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Denpasar Ida Bagus Sidharta Putra mengakui, ada beberapa hotel dan restoran yang belum memiliki pengolahan limbah yang baik karena terkendala biaya. Hotel dan restoran itu pada umumnya tergolong bangunan tua. Namun, Sidharta tidak ingin pihak hotel dan restoran dituding sebagai penyebab pencemaran pantai satu-satunya. "Karena hotel dan restoran berada di pinggir pantai, maka menjadi kambing hitam. Padahal, besar kemungkinan pencemaran dari hulu mungkin sudah parah," katanya. Oleh karena itu, Sidharta berharap pemerintah tegas mengawasi tingkat pencemaran mulai dari hulu sampai hilir. Pihak hotel dan restoran juga terbuka, baik untuk diberi sosialisasi penanganan limbah maupun dikenai sanksi, jika terbukti mencemari lingkungan.

Agar Tak tercemar Bakteri, Bangun Ulang "Septic Tank"



KOMPAS Lukas Adi Prasetya Senin, 28 September 2009 | 20:31 WIB

Ilustrasi

BANTUL, KOMPAS.com Kepala Bidang Pengendalian, Pencemaran, dan Dokumen Badan Lingkungan Hidup Bantul Edy Machmud Hidayat mengimbau warga untuk membangun ulang lagi septic tank. Sebab, banyak kasus menunjuk ada kebocoran pada septic tank sehingga terjadi pencemaran bakteri E-coli. "Selepas gempa Mei 2006, dinding septic tank banyak yang retak-retak. Warga banyak yang tak tahu itu, dan kurang peduli dengan septic tank-nya," ujarnya, Selasa. Air tanah yang mengandung bakteri E-coli jika dipanaskan di bawah suhu 100 derajat celsius, bakteri masih hidup. Akibatnya, manusia bisa terkena diare.

Lingkungan Industri Logam Tegal Tercemar



Siwi Nurbiajanti Kamis, 24 November 2011 | 14:46 WIB

Ilustrasi: salah satu perajin industri logam | KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

SLAWI, KOMPAS.com Lingkungan dan masyarakat di kawasan industri logam Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, yaitu di Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna, telah tercemar limbah logam berat. Limbah itu dihasilkan dari aktivitas peleburan dan pengecoran logam. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tegal, Suharmanto, dalam acara Lokakarya Industri Kecil Berbasis Limbah Logam Berat, yang diselenggarakan bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Balai Desa Pesarean, Rabu (23/11/2011) malam, mengatakan, dari beberapa parameter, pencemaran di lingkungan industri logam telah menunjukkan kadar yang tinggi. Debu melebihi ambang batas, yaitu 5429.969 ug per meter kubik, jauh lebih tinggi dari ambang batas 230 ug/meter kubik. Kadar timbal juga mencapai 128.672 ug/meter kubik pada lokasi peleburan dan 2.317 ug/meter kubik pada lokasi yang tidak ada proses produksi. Beberapa indikator lain juga telah memperlihatkan parahnya pencemaran, antara lain kebisingan yang disebabkan beradunya logam dengan logam, serta tumpukan limbah padat yang menumpuk di sekitar permukiman. Limbah berupa debu dan butiran tersebut saat ini

telah mencapai 10.000 ton dengan kandungan logam di bawah 17 persen tidak layak lagi diolah. Keberadaan limbah padat di kawasan permukiman tersebut sangat potensial mencemari kesehatan lingkungan dan mencemari kandungan air dari tanah. Direktur BPPT Derry Pantjadarma mengatakan, pencemaran limbah yang ada di kawasan tersebut sudah termasuk dalam kategori parah. Dari hasil uji sampel daerah yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jateng tahun 2011 terhadap 50 warga Desa Pesarean, tercatat 46 orang tercemar timbal. Dari jumlah itu, 12 orang dalam kondisi bahaya. Selain itu, dari data yang diperoleh BPPT, sekitar lima anak di kawasan tersebut juga lahir dalam kondisi cacat (lumpuh dan keterbelakangan mental). Dari segi fisik lingkungan, banyak tanaman yang mati akibat terkena limbah. Menurut Derry, kondisi itu perlu ditangani agar pencemaran tidak semakin parah. Saat ini, upaya yang sudah dilakukan pemerintah, yaitu dengan memidahkan lokasi industri ke kawasan industri yang jauh dari permukiman (sekitar areal persawahan). Meskipun demikian, hal itu belum menyelesaikan semua masalah yang ada. Memindahkan lokasi masih sebatas memindahkan pencemaran dari kawasan permukiman ke kawasan pertanian. Menurut dia, perlu solusi lain untuk menghasilkan usaha yang produktif, tetapi tetap sehat dan tidak membahayakan lingkungan. "Penanganan harus lintas sektoral dan tidak satu tahun berhenti," katanya. Selain itu, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah mengubah budaya masyarakat yang belum sadar limbah. Hal itu antara lain dengan mengubah limbah ke dalam produk lain yang bermanfaat, seperti produk batako.

Pemerintah Harus Serius Menindak Chevron



Syahnan Rangkuti Rabu, 25 Mei 2011 | 20:47 WIB

www.parkwaypartnersnola.org

PEKANBARU, KOMPAS.com Pemerintah Indonesia diminta lebih serius menindak perusahaan minyak multinasional, PT Chevron Pacific Indonesia, yang beroperasi di Provinsi Riau, terkait pencemaran lingkungan. Dalam setahun terakhir, menurut catatan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Chevron semakin sering melakukan pencemaran di sekitar wilayah produksinya. "Untuk tahap awal ini kami memantau kejadian yang paling baru. Misalnya, pada Maret lalu, minyak mentah Chevron merembes sampai di Sungai Sebangar, Kepenghuluan Rantaubais, Kabupaten Rokan Hilir. Kami meninjau langsung kejadian itu selama tiga hari di lokasi," ungkap Direktur Eksekutif Walhi Wilayah Riau Hariansyah Usman, Rabu (25/5/2011). Hariansyah mengatakan, tumpahan minyak di Rantaubais, mengalir sampai ke Sungai Rokan, sungai terbesar yang membelah Kabupaten Rokan Hilir. Di sepanjang aliran sungai itu terdapat beberapa perkampungan yang dihuni masyarakat. Sungai itu menjadi tempat mandi, mencuci, dan transportasi masyarakat. Sungai itu juga menjadi sumber penghasilan warga setempat untuk menangkap ikan dan udang galah yang bernilai ekonomi tinggi. Kualitas air sungai menjadi buruk dan berpengaruh pada kesehatan warga. "Pada Oktober 2010, dua orang anak sekolah mengalami cedera karena tersiram minyak panas dari pipa Chevron yang meledak di Desa Manggala Johnson, Rokan Hilir," kata Hariansyah. Pemerintah lewat Kementerian Lingkungan Hidup telah memberi peringkat merah kepada PT Chevron pada tahun 2010. Predikat sebagai pencemar lingkungan hidup itu, antara lain, akibat peralatan sludge oil yang tidak diperbaiki puluhan tahun. "Bukan hanya di Indonesia Chevron melakukan pencemaran. Pada Februari 2011, Pemerintah Ekuador telah menghukum denda Chevron setara Rp 72 triliun karena pencemaran. Pemerintah Indonesia tidak dapat hanya berfokus pada menaikkan liftingminyak, tetapi mengorbankan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Chevron mesti diawasi lebih serius lagi," papar Hariansyah.

Menurut Hariansyah, laporan pencemaran lingkungan Chevron di Riau akan disampaikan oleh Aliansi Lembaga Swadaya Masyarakat, pemerhati Chevron yang sekarang sedang berada di San Francisco. Keberadaan aliansi itu terkait pertemuan para pemegang saham Chevron. Chevron merupakan salah satu perusahaan minyak terbesar yang beroperasi di Indonesia. Chevron mampu memproduksi 370.000 barrel minyak mentah dari total produksi Indonesia sebesar 970.000 barrel. Secara terpisah, Manajer Komunikasi PT Chevron Pacific Indonesia Hanafi Kadir, dalam siaran persnya, menyatakan menghargai perhatian dan komitmen Walhi terhadap pencemaran lingkungan. Meski demikian, Chevron sebenarnya memiliki komitmen sama dalam upaya melindungi manusia dan lingkungan. "Kami beroperasi sesuai peraturan dan undang-undang, mengikuti standar etika tertinggi, dan mengacu pada standar global industri migas. Sebagai wujud komitmen kami, sebagai contoh dalam 10 tahun terakhir, kami melakukan upaya-upaya manajemen lingkungan, terutama untuk meminimalisasi emisi udara maupun pengelolaan air terproduksi (water discharged). Kami menginvestasikan sekitar 270 juta dollar AS untuk mendukung pengelolaan lingkungan tersebut," tutur Hanafi.

Asyik, Pencemaran di TPA Bantar Gebang Berkurang!



SOE Selasa, 20 Oktober 2009 | 10:06 WIB

Ilustrasi gunungan sampah

BEKASI, KOMPAS.com - Pencemaran air dan udara di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Bantar Gebang, Kota Bekasi, berkurang setelah diterapkannya sistimclean development mechanisme (CDM) menggantikan sistim open dumping atau menumpuk sampah di area terbuka. "Ada empat parameter penunjuk kadar pencemaran di TPA yakni PH, Bod, Cod dan limbah B3, sementara pencemaran air sungai terdapat 16 parameter pantauan, dan sebagian besar sudah berada di bawah ambang batas" kata Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Dudi Setyabudhi, di Bekasi, Selasa (20/10). Dia mengatakan, dalam satu tahun aparat Pemerintah Kota Bekasi kadang sampai beberapa kali melakukan pemeriksaan ambang batas pencemaran di kali yang ada di Kota Bekasi, termasuk di sekitar TPA Bantar Gebang dengan hasil yang makin menggembirakan. Meski begitu, ribuan warga yang bermukim di bantaran tiga sungai di Kota Bekasi serta sekitar area tempat TPA Sumur Batu dan Bantar Gebang masih rawan terhadap ancaman polusi udara dan air bila pengawasan tidak dilakukan terus menerus. Sumber pencemaran selain dari limbah sampah juga berasal dari pembuangan limbah cair oleh sejumlah perusahaan yang dilakukan diam-diam, padahal ketentuannya limbah sebelum dibuang harus diolah terlebih dahulu sampai ambang batas yang diperkenankan. "Kami telah mengimbau agar perusahaan bisa mengolah limbah terlebih dulu sebelum dibuang ke kali. Selain imbauan kepada pihak perusahaan industri, masyarakat pengguna air kali untuk keperluan mandi dan mencuci juga diminta tidak membuang sampah ke dalam sungai," ujar Dudi Setyabudhi. Sebelumnya beberapa warga di seputar TPA Bantar Gebang yang menggunakan sungai sebagai sarana MCK menderita penyakit kulit dan gatal-gatal, namun dengan pengawasan secara terus-menerus serta kesadaran pemilik industi tidak membuang limbah sembarangan kasus penyakit tersebut bisa diatasi. Dudi menyatakan, bau aroma busuk sampah dan limbah dari tempat pembuangan sampah, kini mulai berkurang dengan proses pengolahan sampah yang lebih baik. "Kalaupun masih ada bau semuanya butuh proses dan tidak mungkin parameter pencemaran dihilangkan 100 persen. Kita juga terus mengimbau pengelola TPA Bantar Gebang untuk memperhatikan masalah limbah dan bau," ujar Dudi Setyabudhi.

Kualitas Udara Jakarta Sudah Mengkhawatirkan



BNJ Selasa, 9 Juni 2009 | 08:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Pencemaran udara di Indonesia, khususnya Jakarta, telah mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), demikian dikatakan Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Lingkungan Yetti Rusli. "Pencemaran paling berat terjadi di Jakarta dibandingkan dengan Tokyo, Beijing, Seoul, Taipei, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Manila," katanya. Seminar dan temu wartawan itu bertema "Inisiatif dan respons Indonesia terhadap Fenomena Perubahan Iklim Global" yang diselenggarakan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Berdasarkan data yang ada, total estimasi polutan CO yang diestimasikan dari seluruh

aktivitas di Kota Jakarta adalah 686,864 ton per tahun atau 48,6 persen dari jumlah emisi lima polutan. Penyebab dari pencemaran udara di Jakarta sekitar 80 persen berasal dari sektor transportasi dan 20 persen dari industri serta limbah domestik. Sementara, emisi karbon akibat deforestasi dan degradasi hutan sebesar 20 persen. "Kawasan hutan yang lebat dengan pepohonan dapat berperan sebagai obat untuk mengurangi emisi karbon (CO2) karena akan menyerap karbon sekitar 50 persen dari biomasa pohon," kata dia.

Polusi Udara Semarang Tak Terdeteksi



K7-11 Jumat, 11 Maret 2011 | 08:56 WIB

Alat pemantau polusi udara yang berada di Jalan Pemuda masih terpasang meski rusak, Jumat (11/3/2011)sehingga polusi tidak terdeteksi. Butuh Ratusan juta untuk perbaikan. | K7-11

SEMARANG, KOMPAS.com Sudah lebih dari satu tahun, tingkat polusi udara di Kota Semarang tidak bisa dimonitor secara mudah. Hal itu disebabkan semua alat pemantau polusi udara di Kota Semarang rusak sehingga pengendalian pencemaran udara hanya dilakukan melalui uji emisi.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Kota Semarang Ulfi Imran Basuki, Jumat (11/3/2011), mengatakan, alat monitoring polusi udara yang berjumlah tiga buah bantuan pemerintah pusat tersebut kerap rusak. Dibutuhkan lebih dari Rp 300 juta untuk biaya perbaikan. "Kami masih berupaya mengajukan bantuan untuk melakukan perbaikan. Kami harapkan dalam waktu tak terlalu lama bantuan itu bisa turun dan dimanfaatkan untuk perbaikan sehingga alat pemantau polusi udara dapat berfungsi kembali," ujar Ulfi. Saat ini, alat monitoring polusi udara itu terpasang di tiga titik dengan tingkat keramaian berbeda. Masing-masing di wilayah Kaliwiru yang memiliki kepadatan lalu lintas cukup tinggi di sisi selatan Kota Semarang, di halaman balaikota, dan di wilayah Kalibanteng. Koordinator Divisi Lingkungan Lembaga Bantuan Hukum Semarang Sukarman menilai, rusaknya alat pemantau polusi udara yang terjadi lebih dari setahun ini sangat merugikan warga Semarang karena tingkat pencemaran udara yang tinggi di Kota Semarang menjadi tidak terdeteksi. "Karena alat tidak berfungsi, otomatis tidak ada data yang akurat mengenai pencemaran udara. Namun, kami bisa melihat tingkat pencemaran udara yang tinggi di Kota Semarang dengan adanya perubahan cuaca yang ekstrem," kata Sukarman. Uji emisi yang menjadi upaya Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang untuk menanggulangi pencemaran juga tidak efektif. Ia mengemukakan, pencemaran udara bukan hanya karena gas buang dari kendaraan bermotor, tetapi yang terpenting Bapedalda harus melakukan evaluasi terhadap amdal diseluruh perusahaan di Semarang yang banyak bermasalah. Saat ini, Semarang memiliki program one day free car untuk mengurangi tingkat polusi.

Wajah Pantai Tanjung Burung Tangerang, Tak Seindah Namanya

Seorang warga berjalan di antara tumpukan sampah di Pantai Tanjung Burung, pesisir utara Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (30/3). Tumpukan sampah yang terbawa dari sungai yang mengalir di wilayah Tangerang menumpuk di pantai ini sehingga menutupi pemukaan air laut. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

Anda mungkin juga menyukai