Anda di halaman 1dari 14

SKENARIO 2 KELUMPUHAN WAJAH

Arina Rizki Mujahid 1102010034

1. Anatomi 1.1. Anatomi N.cranialis a. N. Olfactorius (N.I) Sel olfactus adalah sel syaraf dan aksonnya membentuk N.olfactorius. N.olfactorius jalan menembus lubang-lubang lamina cribrosa ossis ethmoidalis menuju bulbus olfactorius yang terletak tepat di atas lamina cribrosa. Bulbus olfactorius terdiri dari berbagai jenis sel: Sel mitra(terbesar) : serabut aferen dari sel olfactus bersinapsis dengan sel mitra membetuk synapsis glomeruli Sel berjumbai (tufted cell) yang juga bersinapsis dengan sel mitra Sel granula juga bersinapsis dengan sel mitra Tractus olfactorius dibentuk axon sel mitra dan tufted cell. Ciri khas N.I : a. Berbeda dengan jalur sensorik lain yang selalu melalui thalamus, maka N.I, satusatunya n.cranialis yang tidak melalui thalamus b. Dari cortex olfactorius primarius selalu dikirimkan serabut penghubung ke berbagai nuclei di dalam otak sehingga penciuman seseorang adalah sensasi yang tak bisa dipisahkan dari respon emosional dan sistem syaraf otonomnya. Komposisi serabut syaraf N.I : terdiri dari 1 serabut syaraf yaitu serabut aferen somatik khusus penciuman. b. N. Opticus (N.II) Sebenarnya bukan merupakan serabut syaraf tapi merupakan penonjolan dari otak sendiri. Receptor di sel ganglion pada retina. N.opticus yang keluar dari orbita melalui canalis opticus untuk segera bersilang dengan N.opticus sisi lain membentuk chiasma opticum. Cortex assosiasi visual (area Brodmann 18 dan 19) bertanggung jawab terhadap pengenalan objek dan pembedaan warna. Komposisi serabut syaraf hanya terdiri dari satu serabut syaraf yaitu serabut aferen somatik khusus penglihatan. c. N.Occulomotorius (N.III) Pusat : punya 2 nuclei : Nucleus occulomotorius Principalis, terletak pada bagian depan substansia grisea yang mengelilingi aquaductus cerebri setinggi colliculus superior. Fungsi : mensyarafi semua otot bola mata kecuali M.obliquus superior (yang disyarafi N.IV) dan M.rectus lateralis (yang disyarafi N.VI). Nucleus parasympathicus (Edinger-Westphal) Terletak tepat di belakang nucleus occulomotorius principalis

Fungsi : mengirimkan serabut eferen yang bersifat preganglioner (jalan bersama serabut efern dari nucleus occulomotorius principali) di mana akan bersinapsis pada ganglion ciliare untuk memberikan serabut efern postganglioner jalan dalam N.ciliaris brevis untuk akhirnya mensyarafi M.constrictor pupillae (dari iris) dan M.ciliaris. Komposisi serabut syaraf N.occulomotorius terdiri dari 2 serabut syaraf : a. Serabut eferen somatik b. Serabut eferen visceralis umum d.N.trochlearis (N.IV) Terletak di depan substansia grissea yang mengelilingi aquaductus cerebri di bawah nucleus occulomotorius principalis setinggi colliculus inferior. Fungsi : mengirimkan serabut eferen somatik yang jalan ke belakang pada dataran belakang mesensefalon kemudian saling bersilangan dengan serabut sisi lain pada Velum medullare superior lalu jalan di bawah colliculus inferior, lalu ke depan masuk ke orbita dan mensyarafi M.oblicus superior. Komposisi N.IV terdiri dari serabut syaraf yaitu serabut eferen somatik (motorik sadar untuk M.obliqus superior). e. N.trigeminus (N.V) Ciri khas : Terbesar di antara ke 12 N.craniales Bertanggung jawab terhadap persarafan sensorik sebagian besar kepala dan muka dan otot-otot pengunyah Punya 2 radix : Radix sensorik (portio mayor) dan radix motorik (portio minor) Pusat punya 4 nuclei : 1. 2. 3. 4. Nucleus sensorik utama (pusat sensasi sentuhan dan tekanan) Nucleus (tractus) spinalis (pusat sensasi sakit dan suhu) Nucleus mesencephalicus (pusat sensasi proprioseptif) Nucleus motorik

f. N.Abducens (N.VI) Ciri khas : hanya mengasuh satu otot bola mata yaitu M. rectus lateralis. Pusat : Nucleus motorik N.VI Terletak di bawah dasar bagian atas ventriculus quartus, dekat garis tengah dan dibawah colliculus. Terdiri dari 1 komponene : serabut eferen somatik (motorik sadar untuk M.rectus lateralis). g. N.Facialis (N.VII)

Pusat punya 3 nuclei : 1. Nucleus motorik utama 2. Nucleus parasympathicus 3. Nucleus sensorik h. N.Vestibulocochlearis (N.VIII) Terdiri dari 2 bagian : 1. N.vestibularis Pembentuk : cabang sentralis (axon) dari ganglion vestibulare yang terletak pada meatus acusticus interna. Komplex nuclei vestibularis terletak di bawah dasar ventriculus quartus terdiri dari 4 nuclei : a. Nucleus vestibularis lateralis b. Nucleus vestibularis superior c. Nucleus vestibularis medialis d. Nucleus vestibularis inferior 2. N.cochlearis Pembentuk : cabang sentra; (axon) dari ganglion spiralis cochlea. Letak nuclei cochlearis pada permukaan pedunculus cerebelli inferior. N.Glossopharyngeus (N.IX) Punya 3 nuclei : a. Nucleus motorik utama b. Nucleus parasympathicus s.Nucleus salivarius inferius c. Nucleus sensorik

i.

j. N.Vagus (N.X) Punya 3 nuclei : a. Nucleus motorik utama b. Nucleus parasympatis s.N.dorsalis N.Vagus c. Nucleus sensorik k. N.Accessorius (N.XI) Terdapat 2 radix : a. Radix cranialis b. Radix spinalis l. N.Hypoglossus (N.XII) pusat : nucleus hypoglossus. Terletak dekat garis tengah tepat di bawah dasar bagian bawah ventriculus quartus. Komposisi serabut syaraf N.hypoglossus : serabut efern somatik (motorik sadar untuk otot lidah).

1.2. Anatomi jalur sistem sensorik dan motorik a. Jalan raya sensorik Fungsi : membawa informasi sensorik (exteroseptif dan proprioseptif) dari receptor ke pusat sensorik sadar di otak. Informasi exteroseptif : 1. Sakit 2. Suhu (panas atau dingin) 3. Sentuhan 4. Tekanan Informasi proprioseptif : 1. Keadaan otot sadar/otot lurik 2. Keadaan sendi 3. Keadaan ligamentum 3 stasion jalur sensorik : Untuk bisa mencapai pusat sadar pda gyrus postcentralis (area brodman 3,2,1) maka semua informasi sensorik harus melewati sedikitnya 3 neuron : 1. Neuron orde pertama 2. Neuron orde kedua 3. Neuron orde ketiga b. Jalan raya motorik Jalan raya motorik terbagi atas 2 jalan : Systema pyramidalis s.tractus corticospinalis Jalan motorik yang berasal dari area Brodmann 4 di samping area 6,3,2,1 cortex cerebri menuju medulla spinalis. Alasan jalan motorik ini disebut sebagai systema pyramidalis : a. Karena berasal dari sel pyramid (lapis ketiga) cortex cerebri khususnya dari area Brodmann 4 b. Karena pad amedula oblongata, jalan motorik itu menimbulkan bejolan di bagian depan medulla oblongata yang disebut sebagai pyramid Systema extrapyramidalis Semua jalan motorik selain tractus corticospinalis : a. Yang datang dari batang otak menuju medulla spinalis : Tractus reticulospinalis Tractus tectospinalis Tractus rubrospinalis Tractus vestibulospinalis Tractus olivospinalis b. Yang datang dari cortex cerebri menuju batang otak disebut sebagai tractus corticobulbaris : Tractus corticostriata Tractus corticothalamicus Tractus corticohypothalamicus

Tractus corticonigra Serabut-serabut yang berasal dari daerah Brodmann 4 dan 6 tapi khusus menuju ke : Tegmentum Nuclei pontis Nucleus olivarius inferius Jalan raya motorik punya 2 pusat : A. Neuron motorik atas/pusat supraspinal B. Neuron motorik bawah/pusat spinal Yang termasuk systema pyramidalis hanya ada 1 yaitu : tractus corticospinalis. 1.3. Anatomi capsula interna Capsula interna adalah berkas serabut syaraf berbentuk pita lebar substansia alba yang memisahkan nucleus lenticularis dengan nucleus caudatus dan thalamus. Pada penampang lintang membentuk huruf V, di mana titik sudutnya disebut : genu, menghadap ke medial dan kaki-kakinya disebut crus anterior dan crus posterior.

Crus anterior capsula interna Terdapat di antara nucleus caudatus dan nucleus lenticularis di dalamnya terdapat : a. Serabut corticopetal (serabut aferen) mengandung serabut radiatio anterior thalamus b. Serabut corticofugal (serabut eferen) mengandung tractus frontopontin yang datang dari cortex lobus frontalis menuju nuclei pontis Crus posterior capsula interna Terdapat di antara thalamus dengan nucleus lenticularis, di dalamnya ada :

1. Pars lenticulothalamicus Mengandung serabut radiatio thalamicus yang bercampus dengan tractus eferen utama yang turun dari cortex cerebri antara lain : a. Tractus corticobulbaris : menuju nuclei motorik nn.craniales. Terletak pada genu b. Tractus corticospinalis : menuju nuclei motorik nn.spinales. Di belakang tractus ini terdapat serabut yang menghubungkan thalamus ke cortex gyrus centralis posterior yang merupakan pusat somathesia. c. Tractus corticotubralis : menuju ke nucleus ruber pada mesencephalon 2. Pars retrolenticularis Terletak pada lateral dari thalamus dan di belakang nucleus lenticularis. Mengandung radiatio thalamicus posterior 3. Pars sublenticularis Letak : ventralis dari ujung posterior nucleus lenticularis, mengandung : a. Tractus temporopontin : dari cortex lobus temporalis ke nucleus pontin b. Tractus geniculocalcarina : dari corpus geniculatum lateral ke cortex fissura calcarina c. Radiatio auditorius : dari corpus geniculatum medial ke gyrus temporalis transversa

4. Pemeriksaan fungsi motorik beserta kelainannya Kerusakan pada lower motor neuron (LMN) mempunyai gejala : lumpuh, atoni, atrofi, dan arefleksi. Kerusakan pada upper motor neuron (UMN), pada kerusakan sistem piramidal mempunyai gejala : lumpuh, hipertoni, hiperrefleksi dan klonus serta refleks patologis. Pada gangguan sistem ekstrapiramidal didapatkan gangguan pada tonus otot, gerakan otot abnormal yang tidak bisa dikendalikan, gangguan pada kelancaran gerakan otot volunter dan gangguan gerak otot asosiatif. Pada tiap bagian badan yang bsia bergerak harus dilakukan : A. Inspeksi Pada inspeksi diperhatikan sikap, bentuk dan ukuran dan adanya gerak abnormal yang tidak bisa dikendalikan.

Sikap Perhatikan bagaimana pasien saat berdiri, duduk, berbaring, bergerak dan berjalan. Jika pasien berdiri, perhatikan sikap dan posisi badannya baik secara keseluruhan dan sebagian. Jika pasien dengan gangguan cerebellum berdiri dengan muka membelok ke arah kontralateral terhadap lesi, bahunya pada sisi lesi lebih rendah dan badannya miring ke sisi lesi, penderita penyakit Parkinson berdiri dengan kepala dan leher dibungkukkan ke depan, lengan dan tungkai dalam keadaan fleksi. Bentuk Perhatikan adanya deformitas Ukuran Perhatikan panjang bagian tubuh kanan dan kiri. Orang dewasa yang lumpuh dari masa kanak-kanak, ukuran bagian yang lumpuh lebih pendek dari yang sehat. Lalu perhatikan besar (isi) bentuk otot. Adakah atrofi atau hipertrofi. Gerakan abnormal yang tidak terkendali 1. Tremor Gerakan involunter merupakan getaran yang timbul karena berkontraksinya otot-otot yang berlawanan secara bergantian. Jenis-jenis tremor : a. Tremor fisiologis didapat jika anggota gerak ditempatkan pada posisi yang sulit atau jika kita melakukan gerakan volunter yang sangat lambat. Tremor yang terlihat pada orang marah dan ketakutan termasuk tremor fisiologis. b. Tremor halus disebut juga tremor toksik. Tremor ini agak sulit dilihat. Tesnya memakai kertas dan diletakkan di atas jari-jari dan terlihat tremor. Biasanya tremor ini ada pad aorang yang keracunan nikotin, kafein, adrenalin, efedrin, barbiturat. c. Tumor kasar, misalnya pada Parkinson. Pada Parkinson, gerakan jari-jari mirip gerakan menghitung duit atau membuat pil (pill rolling tremor) d. Tremor intensi, dapat dijumpai pada gangguan cerebellum. 2. Khorea Gerakan otot-otot berlangsung cepat, kasar dan bisa melibatkan separuh badan, seluruh badan, satu ekstremitas. Jika pasien diminta menggenggam tangan pemeriksa, terasa genggaman tidak konstan, terasa melemah lalu menguat lagi. 3. Atetose Berbeda dengan khorea yang gerakannya berlangsung cepat, mendadak, terutama melibatkan bagian distal, atetose ditandai gerakan lebih lamban, seperti gerak ular dan melibatkan otot distal. Tapi, cenderung menyebar ke bagian proksimal. 4. Distonia Biasanyadistonia ini dimulai dengan gerak otot berbentuk atetose pada lengan atau anggota gerak lain lalu gerakan otot bentuk atetose ini menjadi komplek yaitu menunjukkan torsi yang keras dan berbelit. 5. Balismus

6.

7.

8.

9.

Gerak otot yang kasar dan cepat, terutama mengenai otot-otot skelet yang letaknya proksimal sedangkan pad akhorea gerak otot kasar, cepat dan terutama melibatkan otot-otot distal. Spasme Gerakan abnormal yang terjadi karena kontraksi otot-otot yang biasanya disyarafi 1 syaraf. Spasme bisa timbul karena iritasi syaraf perifer atau otot, tapi bisa juga timbul karena iritasi di suatu tempat, mulai dari kortex sampai serabut otot. Tik Gerakan terkoordinir, berulang dan melibatkan sekelompok otot dalma hubungan sinergistik. Ada tik yang menyerupai spasme klonik dan disebut sebagai spasme kebiasaan (habit spasm) Fasikulasi Gerakna halus, cepat, dan berkedut dari satu berkas (fasikulus) serabut otot atau 1 unit motorik. Miokloni Gerakan yang timbul karena kontraksi otot cepat, sebentar, aritmik, asineergik, dan tidak terkendali.

B. Palpasi Pasien diminta mengistirahatkan ototnya. Lalu otot ini dipalpasi untuk menentukan konsistensi serta adanya nyeri tekan. Dengan palpasi kita bisa menilai tonus otot. C. Pemeriksaan gerakan pasif Pasien diminta mengistirahatkan ekstremitasnya. Bagian dari ekstremitas ini kita gerakkan persendiaannya. Awalnya lambat, cepat, lebih lambat dan seterusnya. Dalam keadaan normal tidak ditemukan tahanan yang berarti jika penderita bisa mengistirahatkan eksremitasnya dengan baik. D. Pemeriksaan gerakan aktif Untuk memeriksa adanya kelumpuhan, kita bisa menggunakan 2 cara ini: a. Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan kita menahan gerakan ini b. Kita (pemeriksa) menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia diminta menahan. Tenaga otot dinyatakan dengan menggunakan angka dari 0-5 : 0 : tidak ada kontraksi otot, lumpuh total 1 : ada sedikit kontraksi otot tapi tidak didapat gerakan pada persendian yang harus digerakkan oleh otot itu 2 : ada gerakan, tapi gerakan ini tidak bisa melawan gerakan berat (gravitasi) 3 : dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat 4 : selain bisa melawan gaya berat ia bisa juga mengatasi sedikit tahanan yang diberikan

5 : tidak ada kelumpuhan (normal) Kepala Pada sindrom Parkinson, kepala ditekukkan ke depan. Pada meningitis, penderita berbaring dengan kepala dikedikkan ke belakang. Pada gangguan cerebellum kepala terotasi sedikit ke arah kontralateral dari lesi. Anggota gerak atas Periksa gerakan jari, bagaimana tenaga fleksi, ekstensi, abduksi dan aduksi. Periksa tenaga menggenggam. Hal ini dilakukan dengan meminta pasien menggenggam jari pemeriksa dan kemudian pemeriksa menarik lepas jari tersebut. Gerakan di pergelangan tangan juga diperiksa, dan ditentukan tenaganya pada gerakan pronasi dan supinasi. Fleksi dan ekstensi pada persendian siku juga diperiksa. Gerakan pada persendian bahu diperiksa dengan meminta pasien menggerakkan lengan yang diekstensi, pada bidang frontal dan sagital dan juga melakukan rotasi pada persendian bahu. Selain itu gerakan bahu ke atas, bawah, depan dan ke belakang diperiksa. Lalu, periksa juga otot pektoralis mayor, latissimus dorsi, serratus magnus, deltoid, biceps, triceps. Badan Erektor spina Jika pasien berdiri, suruh ia mengambil suatu barnag dari lantai. Jika pasien lemah M.erektor spina, ia susah berdiri lagi, dan ini dilakukan dengan bantuan tangannua yaitu dengan menempatkan tangannya pada lutut, paha lalu mendorongnya sampai ia bisa berdiri lagi. Kadang juga terlihat ada lordosis. Otot dinding perut Pasien yang sedang berbaring disuruh mengangkat kepalanya dan perhatikan peranjakan dari pusar. Biasanya pusar beranjak ke arah otot yang sehat. Perhatikan apakah pasien bisa duduk dari berbaring tanpa bantuan dari tangannya. Otot yang ikut bekerja dalam hal ini adalah otot dinding perut dan otot iliopsoas. Anggota gerak bawah Untuk ini diperiksa gerakan pada persendian jari-jari, pergelangan kaki, lutut, paha. Selain itu juga diperiksa otot quadriceps femoris, iliopsoas, adduktor, abduktor dan fleksor tungkai bawah. E. Koordinasi gerak Terutama diatur cerebellum. Gejala klinis yang kita dapat dari gangguan cerebellum adalah adanya : gangguan koordinasi gerakan (ataksia), disdiadokhokinesia, dismetria, tremor intensi, disgrafia (makrografia), gangguan sikap. Nistagmus, fenomena rebound, astenia, atonia, dan disartria. Dismetria

Gerakan yang tidak mampu dihentikan tepat pada waktunya atau pada tempat yang dituju. Hipermetria : melampaui tujuan. Hipometria : gerakna berhenti sebelum sapai pada tujuan, karena pasien takut melampaui tujuannya. Gangguan gerakan a. Disdiadokokinesia Tidak bisa melakukan gerakan berlawanan berturut-turut. Minta pasien merentangkan kedua lengannya ke depan lalu surih ia mensupinasi dan pronasi lengan bawahnya secara bergantian dan cepat. Pada dismetria, luas, jalan serta cepatnya gerakan tidak cukup. b. Percobaan tunjuk hidung Pasien diminta menutup mata dan meluruskan lengannya ke samping lalu ia disuruh menyentuh hidungnya dengan telunjuk. Suruh pasien menunjuk telunjuk pemeriksa lalu menunjuk hidungnya berulang. Perhatikan gerakannya mulus atau tidak. Pada lesi cerebellum telunjuk tidak sampai hidung tapi melewatinya dan sampai di pipi. c. Percobaan jari-jari Pasien diminta merentangkan kedua lengannya ke samping sambil menutup mata. Lalu ia disuruh mempertemukan jari-jarinya di tengah depan. Lengan di sisi lesi akan ketinggalan dalam gerakan ini dan mengakibatkan jari sis yang sehat melampaui garis tengah. d. Percobaan tumit-lutut Penderita berbaring dengan kedua tungkai diluruskan lalui disuruh menempatkan tumit pada lutut kaki yang lain. Tumit ini tidak tepat mengenai lutut. Pasien fleksi lutut berlebihan sehingga tumit melampaui lutut dan sampai di paha. e. Disgrafia Kesulitan untuk menulis Sikap Pada lesi cerbellar yang unilateral, ada deviasi kepala dan badan ke sisi lesi dan ada pula salah tunjuk (past pointing) ke arah lesi. Jika pasien berdiri badan cenderung jatuh ke arah lesi. Nistagmus Sikap bola mata yang seharusnya tetap jika difiksasi pada satu jurusan menjadi berubahubah yaitu bola mata bergerak spontan cepat ke arah fiksasi lalu kembali secara spontan lambat ke posisi semula lalu bergerak lagi, ke tempat fiksasi, kembali lagi ke posisi semula dan seterusnya bolak-balik. Fenomena rebound Pada gangguan cerebellum, fenomena rebound berarti tidak mampu menghentikan gerakan tepat pada waktunya. Astensia

Lekas lelah dan bergerak lamban. Hal ini juga merupakan gangguan cerebelum. Otot lekas lemah dan lelah walaupun tidak ada parese. Gerakan dimulai dengan lamban demikian juga dengan kontraksi dan relaksasi. Hipotonia Adanya hipotonia bisa diketahui dengan palpasi dan pemeriksaan gerak pasif. Pada hipotonia, ekstensi bisa dilakukan lebih jauh misalnya pada persendian paha, siku, lutut. Pasien diminta melemaskan tangannya dan kita pegang tangan bawah dan goyanggoyangkan, terlihat goyangan tangan yang lebih lama atau bahu dipegang dan digoyangkan sedang lengan disuruh lemas dan goyangan lengan lebih lama. 5. Stroke a. Definisi Suatu manifestasi klinis gangguan peredaran darah otak yang menyebabkan defisit neurologis mendadak sebagai akibat iskemi atau hemoragik sirkulasi syaraf otak. b. Epidemiologi Di seluruh dunia stroke adalah penyakit terutama mengenai populasi usia lanjut. Di Inggris stroke merupakan penyakit kedua setelah infark miokard akut sebagai penyebab kematia utama sedangkan di Amerika serikat stroke adalah penyebab kematian ke-3. c. Klasifikasi Stroke terbagi menjadi 2 : a. Stroke non hemoragik Jenis stroke ini disebabkan oklusi pembuluh darah otak yang lalu meyebabkan terhentinya pasokan oksigen dan glukosa ke otak. Stroke ini sering disebabkan trombosis karena plak aterosklerosis arteri otak atau yang memberi vaskularisasi pada otak atau suatu emboli pembuluh darah di luar otak yang tersangkut di arteri otak. Stroke jenis ini yang tersering didapatkan, sekitar 80% dari semua stroke. b. Stroke hemoragik Stroke jenis ini sekitar 20% dari semua stroke. diakibatkan karena pecahnya mikroaneurisma dari Charcot atau etat crible di otak. Dibedakan antara intracerebral, subdural dan subarachnoid. d. Etiologi Stroke ischemic terjadi saat pembuluh darah menjadi lebih sempit sehingga asupan darah ke sel otak berkurang. Penyebab terjadinya penyumbatan pad apembuluh darah adalah plak yang mempersempit pembuluh darah. Terjadinya plak bisa dari hipertensi dan tingginya kolesterol. Stroke ischemic juga bisa karena emboli yang berasal dari jantung dan terbawa ke aliran darah lalu ke otak. Stroke hemorrhagic terjadi saat pembuluh darah pecah dan darah yang keluar banyak maka bisa meningkatkan tekanan intrakranial. e. Patofisiologi

Pada stroke iskemik memiliki sebab trombus/emboli. Emboli misalnya trombus yang berasal dari jantung, karena adanya aktivitas yang mengakibatkan denyut jantung meningkat akibat kontraksi otot jantung meningkat maka trombus yang berasal dari jantung terbawa aliran darah hingga ke otak dan mengakibatkan penyumbatan sehingga iskemi pembuluh darah di otak. Akibatnya otak tidak mendapat suppy nutrisi yang cukup sehingga otak mengalami infark. Pada stroke hemoragik terjadi mikroaneurisma, saat pembuluh darah pecah dan darah yang keluar banyak mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial. f. Manifestasi klinis Lemah pada lengan atau tungkai atau keduanya di sisi yang sama. Lemah pada otot-otot muka Sulit berbicara Masalah pada koordinasi misalnya tersandung, sulit berjalan dan mengambil benda Pusing Sulit menelan Masalah penglihatan misalnya buta Sakit kepala berat Tidak sadar g. Diagnosis : anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang Anamnesis : gejala apa yang dimiliki pasien? Kapan keluhan? Adakah faktor pencetus? Ada gejala yang menyertai? Riwayat penyakit terdahulu? Pemeriksaan fisik : tanda vital, tensi harus kanan dan kiri, status generalis, status neurologis. Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan gold standard stroke adalah CT scan. Stroke jenis apa dengan CT scan kepala polos untuk menentukan stroke iskemik atau hemoragik, tapi bukan untuk menentukan lokasi. MRI bisa mendiagnosis letak dan jenis lesi. Lesi kecil di batang otak yang tidak terlihat dengan CT scan bisa terdeteksi dengan MRI. Lab : GDP, HbA1C, lipid profile, asam urat, PT, APTT, Rontgen thorax, EKG, kadar Hb. h. Diagnosis banding hematoma subdural, tumor otak, hipoglikemi, hiponatremi, encephalitis, hipertensive encephalopathy i. Tatalaksana Utamakan ABC (Airway, Breathing, Circulation). Untuk menurunkan tekanna itrakranial dengan meninggikan kepala dan punggung 30 derajat. Stroke ischemik dengan antiagregasi trombosit, statin, antihiperhomosisteinemia, neuroprotektor. Stroke hemorrhagic dengan antihiperhomosisteinemia, neuroprotector). j. Komplikasi Kenaikan tekanan darah. Keadaan ini biasanya adalah mekanisme kompensasi sebagai upaya mengejar kekurangan pasokan darah di tempat lesi

Kadar gula darah. Pasien stroke seringkali adalah pasien DM sehingga kadar gula darah pasca stroke tinggi Gangguan jantung Gangguan respirasi Infeksi dan sepsis Gangguan ginjal dan hati k. Pencegahan Pemberian aspirin atau warfarin pada pasien dengan fibrilasi atrial non valvular yang beresiko terjadinya emboli. Mereka yang beresiko emboli tinggi (usia>75 tahun atau>60 tahun ditambah resiko tinggi atau hipertensi, disfungsi ventrikel tinggi, DM) diberikan terapi antikoagulan jangka panjang dengan warfarin. l. Prognosis Prognosis tergantung dengan : Tipe stroke Seberapa banyak jaringan otak yang rusak Fungsi tubuh mana yang terganggu Seberapa cepat mendapat pengobatan Pasien stroke bisa kembali normal atau ada gejala sisa. Resiko stroke yang kedua paling tinggi setelah minggu-bulan setelah stroke pertama. 6. Kewajiban suami istri dalam syariat Islam Adab suami terhadap istri : 1. Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama 2. Hendaknya senantiasa berdoa pada Allah meminta istri yang sholehah 3. Di antara kewajiban suami pada istri : membayar mahar, memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), menggaulinya dengan baik dan berlaku adil jika beristri lebih dari satu 4. Suami dilarang berlaku kasar pada istrinya 5. Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya Adab istri terhadap suami : 1. Hendaknya istri menyadari dan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin kaum wanita 2. Istri wajib mentaati suaminya kecuali dalam kemaksiatan 3. Di antara kewajiban istri terhadap suami : Menyerahkan dirinya Mentaati suami Tidak keluar rumah kecuali dengan ijinnya Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami Menggauli suami dengan baik 4. Yang sangat penting bagi istri adalah ridho suami 5. Istri wajib menjaga kehormatannya saat di depan suami atau saat suami tidak ada di rumah

DAFTAR PUSTAKA Lumbantobing. 2011. Neurologi klinik : pemeriksaan fisik dan mental. Jakarta : FKUI Sudoyo, Aru W dkk. 2009. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam, ed V, jilid I. Jakarta : InternaPublishing Uddin, Jurnalis. 2006. Anatomi susunan syaraf pusat manusia. Jakarta : Universitas Yarsi Kamus Saku Kedokteran Dorland edisi 25