Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DHF DI RUANG IGD RSUD SIDOARJO

Disusun Oleh : MUNAH ASRINI 01.09.029

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DIAN HUSADA MOJOKERTO 2013

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan dan Asuhan Keperawatan pada klien dengan DHF di Ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) di RSUD Sidoarjo Telah disetujui pada: Hari: Tanggal: Mahasiswa

Pembimbing Pendidikan

Pembimbing Ruangan

Mengetahui Kepala Ruangan IGD

LAPORAN PENDAHULUAN DENGUE HAEMORHAGE FEVER (DHF)

Konsep Dasar. A. Definisi. DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah penyakit yang terdapat pada anak-anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama dan apabila timbul rejatan (flek) angka kematian akan cukup tinggi. (IPD) B. Etiologi. Virus dengue dibawah oleh nyamuk Aedes Agypty (Betina) sebagai vektor ketubuh manusia melalui gigitan nyamuk tersebut. Infeksi yang pertama kali dapat memberi gejala sebagai dengue fever dengan gejala utama demam, nyeri otot / sendi. (Kapita Selekta Jilid II) C. Derajat DHF Derajat I : - Panas 2-7 hari - Gejala umum tidak khas Derajat II : - Uji torniquet (+) - Sama dengan derajat I - Gejala Derajat III : perdarahan spontan seperti eputaksis, hematomesis, melena, perdarahan gusi - Gejala-gejala kegagalan perdarahan otak - Nadi lemah dan cepat (< 120x/mnt) - Tekanan darah sempit Derajat IV : - Tekanan darah menurun - Nadi tidak teraba - Tekanan darah tidak teratur - Akral dingin, berkeringat

- Kulit tampak biru (Ilmu Penyakit Anak)

D. Patofisiologi.
Virus Nyamuk Aedes Agypty Inkubasi virus

Sistem Gastrointestinal Hepatomegali Menekan diafragma Mual, muntah Anoreksia Defisit Nafsu volume makan cairan menurun Anorexia Nutrisi kurang dari kebutuhan

Sistem eliminasi Perdarahan lambung Melena HB menurun Lemah Intoleransi aktivitas

Sistem integumen Infeksi virus dengue Temoregulasi Demam Hipertermi

Sistem kardiovaskuler Pengeluaran zat anafilatoksin Peningkatan permeabilitas vaskuler Kebocoran plasma Kebocoran sel drh merah keruang ekstra vaskuler HB pekat Kerja jantung berlebihan Payah jantung Gagal jantung

Sistem respirasi Perpindahan cairan dari intravaskuler ke extravaskuler Masuk pleura Timbunan cairan pada pleura Efusi pleura Gangguan pola nafas

Sistem muskuluskeletal Viremia Nyeri otot dan sendi Gangguan rasa nyaman, nyeri

Peningkatan suhu tubuh Perdarahan ekstra Gangguan rasa vaskuler nyaman

Hipovolemia Gangguan sirkulasi perfusi

E. Manifestasi Klinis 1. Demam tinggi selama 5-7 hari

2. Perdarahan terutama perdarahan dibawah kulit, hematoma, ecchymosis. 3. Epistaksis, hematomeses melena, hematuri. 4. Mual, muntah, nafsu makan menurun, diare, konstipasi 5. Nyeri otoe, tulang sendi, abdomen dan ulu hati. 6. Sakit kepala 7. Pembengkakan sekitar mata 8. Pembesaran hati, limpa dan kelenjar getah bening 9. Tanda-tanda rejatan {sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, nadi cepat dan lemah. F. Klasifikasi DHF 1. Pada kasus DHF yang dijadikann pemeriksaan penunjang yaitu menggunakan darah atau disebut lab serial yang terdiri dari Hemoglobin, PCV, dan trombosit. Pemeriksaan menunjukkan adanya tropositopenia (100.000 / ml atau kurang) dan hemotoksit sebanyak 20% atau lebih dibandingkan dengan nilai hematoksit pada masa konvaselen. 2. Air seni, mungkin ditemukan albuminuria ringan. 3. Sumsum tulang pada awal sakit biasanya hiposeluler, kemudian menjadi hiperseluler pada hari ke 5 dengan gangguan maturasi dan pada hari ke 10 sudah kembali normal untuk semua sistem. G. Penatalaksanaan a. Penatalaksanan DHF tanpa penyakit yaitu : 1. Tirah baring 2. Makanan lunak dan diberi minum 1,5- 2 liter dalam 24 jam 3. Untuk hiperpireksia {dapat diberikan kompres 4. Berikan antibiotik bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi b. Pada pasien dengan tanda renjatan dilakukan : 1. Pemasangan infus RL / Asering dan dipertahankan selama 12 48 jam setelah renjatan diatasi 2. Observasi keadaan umum (TTV)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DHF 1). Pengkajian a. Identitas Klien Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, bahasa yang digunakan, status, pendidikan, pekerjaan, nomor registrasi, MRS, diagnosa medis. b. Riwayat Keperawatan 1. Keluhan Utama Pada pasien DHF pada umumnya adalah demam yang disertai sakit kepala hebat / pusing 2. Riwayat Penyakit Sekarang Pada umumnya didapatkan keluhan pasien demam, yang biasanya ditandai dengan suhu tubuh meningkat (3,380) dan timbulnya bintik-bintik merah, perdarahan spontan / ruang makula populas. 3 Riwayat Penyakit Dahulu Biasanya dikaitkan dengan riwayat medis yang kemudian berhubungan dengan perjalanan kearah geografis lain. 4 Riwayat Penyakit Keluarga Meliputi susunan keluarga, penyakit keturunan / menular yang pernah diderita anggota keluarga seperti : DM, Hepatitis. c. Pola pola Fungsi Kesehatan a. Pola Persepsi Dan Tatalaksana Hidup Sehat Pada umumnya pasien DHf kurang memperhatikan sanitasi lingkungan, personal hygiene serta persepsi untuk selalu menjaga kesehatan. b. Pola Nutrisi Dan Metabolisme Pada umumnya pasien DHF mengalami gangguan dalam asupan nutrisi. Hal ini disebabkan karena pasien mengalami anorexia dan muntah dan kekurangan cairan karena adanya demam dan muntah. c. Pola Istirahat Dan Tidur

Pada pasien DHF mengalami panas / demam dan pusing maka untuk lamanya tidur pasien mengalami gangguan dalam mengawali tidur. d. Pola Aktivitas Pada umumnya pasien DHF dianjurkan untuk bedrest, selain itu juga pasien merasa pusing oleh kerena itu aktivitas dibantu keluarga e. Pola Persepsi Dan Konsep Diri Biasanya pada pasien DHF terjadi kecemasan keadaan penyakitnya dan letakutan merupakan dampak psikologik pasien. d. Pemeriksaan fisik 1. Keadaan umum Didapatkan saat keadaan klien waktu pengkajian k/u lemah, suhu tubuh meningkat (28-41C) muka kemerahan, mual + muntah, nyeri (kepala, perut, sendi dll). 2. Pemeriksaan tanda-tanda vital. Peningkatan suhu tubuh. Penurunan denyut nadi (bradikardi). Tingkat kesadaran. Tekanan darah menurun. Pemeriksaan kepala dan leher. Mukosa bibir kering dan pecah, wajah pucat, mata cowong, wajah menyeringai kesakitan. 3. Pemeriksaan Fisik B1-B6 a. Pemeriksaan sistem respirasi. Pada klien DBD pernafasan rata-rata ada peningkatan inspirasi dan eskspirasi. b. Pemeriksan sistem kardiovaskuler. Pada grade I : uji tourniquet positif, trombositipenia, perdarahan spontan dan hemokonsentrasi.Pada grade II disertai perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lain. Pada grade III dapat terjadi

kegagalan

sirkulasi

yaitu

nadi

cepat

dan

lemah

(tachycardia),tekanan nadi sempit,

hipotensi, cyanosis sekitar

mulut, hidung dan jari-jari, kulit dingin dan lembab.Pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur c. Pemeriksaan sistem integumen. Kulit terlihat kering, turgor kulit menurun, muka kemerahan, petakie, sianosis, keringat dingin, adanya ptechie yang diketahui dengan rempelit test. d. Pemeriksaan gastrointestinal tract. Perdarahan pada gusi, Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran pada hati (hepatomegali) disertai dengan nyeri tekan tanpa disertai dengan ikterus, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat muntah darah (hematemesis), berak darah (melena). e. Pemeriksaan muskuloskeletal. Adanya kelemahan otot karena kehilangan cairan dan nutrisi tubuh. Pemeriksaan sistem endokrin. Tidak ada yang mempengaruhi terjadinya DBD dalam sistem endokrin. f. Pemeriksaan ganitouria. Tidak terdapat dysuria, retensi urine dan inkontinersia urine, dan bisa terjadi hematuri dan melena. g. Pemeriksaan sistem persyarafan. Pada umumnya motorik dan sensorik terjadi gangguan. 2). Diagnosa Keperawatan 1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakitnya (infeksi virus) 2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat 3. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan extravaskuler

4. Defisit volume cairan berhubungan dengan output berlebihan 5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 3). Rencana Tindakan Dx I : Tujuan : Suhu tubuh pasien dalam batas normal (36-370C) dalam 1 x 24 jam KH : - Tidak dapat tanda-tanda hipertermi - Temperatur dalam batas normal Intervensi : 1. Anjurkan pasien untuk kompres 2. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian tipis dan yang dapat menyerap keringat 3. Anjurkan pasien untuk minum sedikit-sedikit tapi sering 4. Observasi TTV tiap 4 jam 5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antipiretik Dx II : Tujuan KH : Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi dalam waktu 3 x 24 jam : - Nafsu makan meningkat - Px tidak mengeluh mual dan muntah Intervensi : 1. Anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering 2. Sajikan makanan dalam porsi hangat 3. Observasi dan catat masukan makanan pasien 4. Kolaborasi dengan alhi gizi dalam pemberian diit 5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi

Dx III : Tujuan KH : Tidak terjadi gangguan perfusi jaringan : - Tidak ada perdarahan - Akral hangat

Intervensi : 1. Jelaskan prosedur keperawatan pada pasien dan keluarga 2. Pantau extrimitas pasien (akral) 3. Observasi TTV 4. Kolaborasi dengan tim laborat dalam pemeriksaan kadar trombosit setiap hari 5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi Dx IV : Tujuan : Kebutuhan cairan pasien terpenuhi dalam waktu 2 jam KH : - Tidak ada tanda-tanda dehidrasi - Pasien minum minimal 1500 2000 ml - Intake dan output seimbang Intervensi : 1. Pantau intake dan output 2. Anjurkan pasien minum minimal 1500 2000 ml 3. Pantau dehidrasi pasien 4. Observasi TTV 5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian cairan intravena Dx V : Tujuan : Peningkatan terhadap aktifitas dapat diukur tidak adanya kelemahan berlebihan dalam 3 x 24 jam KH : Tanda-tanda vital dalam batas normal, dapat baktifitas Intervensi : 1. Observasi tanda-tanda vital 2. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut 3. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan 4. Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat 5. Bantu aktifitas perawatan diri yang diperlukan

4). Pelaksanaan Pelaksanaan adalah realita dari tindakan yang telah ditentukan dan diuraikan sesuai dengan prioritas masalah. Hal ini disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, sumber daya, fasilitas yang ada pada saat dilakukan tindakan keperawatan 5). Evaluasi Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan sebagai pengukuran dari keberhasilan rencana tindakan keperawatan. Hasil evaluasi dapat berupa a. Tujuan tercapai Jika pasien menunjukkan perubahan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan b. Tujuan tercapai sebagian Jika pasien menunjukkan perubahan sebagian dari standart yang telah ditetapkan c. Tujuan tidak tercapai Pasien tidak menunjukkan perubahan dan kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah baru.

DAFTAR PUSTAKA Arif Mansjoer. Dkk (2001)., Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta, Media Aes CV Laprus FKUI. Marlyn E. Doenges, (2000)., Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC. Nasrul Effendi (1995), Pengantar Proses Keperawatan, Jakarta, EGC. Syaifudin (1997), Anatomi Fisiologi Sylfia A. Price (1995), Patofisiologi, Jakarta, EGC.