Anda di halaman 1dari 4

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Menurut WHO, sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, tidak hanya bebas dari pnetakit dan kelemahan. Sakit adalah keadaan tidak normal atau tidak sehat, secara sederhana , sakit atau dapat pula disebut penyakit merupakan suatu bentuk kehidupan atau keadaan diluar batas normal. Tolak ukur yang paling mudah untuk menentukan kondisi penyakit adalah jika terjadi perubahan dari nilai-nilai rata-rata normal yang telah ditetapkan ( Asmadi, 2008). Skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada prosespikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek/emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi: asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi (Ade Herman S., 2011). Perkiraan resiko skizofrenia pada suatu waktu tetentu 0,5-1 %. sekitar 15% penderita yang masuk rumah sakit jiwa merupakan pasien skizofrenia, 45% populasi rumah sakit jiwa adalah pasien skizofrenia, dan sebagian besar pasien skizofrenia akan tinggal di rumah sakit untuk waktu yang lama. Pria lebih sering dari pada wanita dan kebanyakan dimulai sebelum usia 30 tahun (I.M. Ingram, 1995). Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. 75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri. Pengenalan dan intervensi dini berupa obat dan psikososial sangat penting karena semakin lama ia tidak diobati, kemungkinan kambuh semakin sering dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat. Seseorang yang mengalami gejala skizofrenia sebaiknya segera dibawa ke psikiater dan psikologi.

Di Rumah Sakit Jiwa, sekitar 80 % pasien yang dirawat dengan gangguan skizofrenia, hasil penelitian menunjukkan 25 % pasien skizofrenia dapat sembuh, 25 % dapat mandiri, 25 % membutuhkan bantuan dan kondisi berat (Keliat, 2011). Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien dirumah sakit jiwa daerah propinsi Sumatera Utara ditemukan 85 % pasien dengan kasus halusinasi. Gangguan jiwa didefenisikan sebagai suatu sindrom atau perilaku yang penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitakan dengan adanya distress (misalnya gejala nyeri) atau disabilitas (kerusakan pada satu atau lebih area fungsi yang penting). (Videbeck, 2008). Berdasarkan data kesehatan jiwa Puslitbang Depkes RI tahun 2007, tercatat sebanyak 0,46% masyarakat Indonesia mengalami gangguan jiwa berat. Mereka adalah yang diketahui mengidap skizofrenia dan mengalami gangguan psikotik berat. Sebanyak 2% masyarakat DKI Jakarta diketahui mengidap gangguan kejiwaan tersebut. Adapun sebanyak 11,8% dari total populasi Indonesia mengalami gangguan mental-emosional yang bersifat lebih ringan. Persentase terbesar terdapat di Provinsi Jawa Barat, sebesar 20%. Berdasarkan data di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan bahwa jumlah pasien gangguan jiwa pada tahun 2010 tercatat pasien rawat inap sebanyak 1.558 pasien , dan pasien rawat jalan sebanyak 11.245 pasien. Sedangkan pada tahun 2011 tercatat pasien rawat inap sebanyak 2.132 dan pasien rawat jalan sebanyak 15.966 yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia paranoid dan gangguan psikotik dengan gejala curiga berlebihan, galak, bersikap bermusuhan (Medical Record RSJD Provsu). Dari data itu dapat diperoleh dan dapat diambil kesan betapa besar dan luasnya pengaruh gangguan jiwa dalam bidang kesehatan. Maka dari itu kelompok ingin mengetahui lebih mendalam bagaimana pelayanan asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa Daerah PROVSU Medan.

1.2. Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan jiwa pada Tn D dengan Halusinasi Pendengaran. 1.2.2 Tujuan Khusus a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan Halusinasi Pendengaran. b. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa pada pasien dengan Halusinasi Pendengaran. c. Mahasiswa menetapkan rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan Halusinasi Pendengaran. d. Mahasiswa mampu melakukan implementasi pada pasien dengan

Halusinasi Pendengaran. e. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi pada pasien dengan Halusinasi Pendengaran. f. Mahasiswa mampu melakukan dokumentasi pada pasien dengan halusianasi. 1.3. Metode Penulisan Dalam laporan ini penulis mengunakan metode Deskriptif dengan

menggunakan teknik sebagai berikut : 1) Wawancara Melakukan tanya jawab langsung dengan klien dan staf karyawan yang ada di lapangan. 2) Observasi Melakukan tindakan pengamatan langsung skizofrenia. 3) Studi Kepustakaan. Yaitu membaca buku-buku dan sumber lain yang ada hubungannya dengan gangguan kesehatan jiwa yang berhubungan dengan masalah utama skizofrenia dengan halusinasi penglihatan. 4) Studi Dokumentasi

Yaitu dokumentasi mengumpulkan data data dan perkembangan dari rekam medik.

1.4. Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan yang digunakan penulis yakni: BAB I : Pendahuluan meliputi latar belakang, ruang lingkup penulisan, tujuan penulisan, metode dan sistematika penulis. BAB II : Tinjauan teoritis keperawatan . BAB III : Tinjauan kasus meliputi : pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi keperawatan . BAB IV : Pembahasan : yang membahas kesenjangan antara teori dan kasus BAB V : Kesimpulan dan saran. meliputi konsep medis dan konsep