MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

tapi titik tangkapnya tidak sama. OABC .Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang.2..Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. . Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . pertemuannya di titik 0.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. ar 1. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. tapi masih sebidang.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. .

Urut-urutan penjumlahan. . 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. K2 dan K3.4. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.5.

K3 . salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. D F E.

garis . d.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. K3 dan K4 yaitu R. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. K2. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . K2. K2. Garis-garis tersebut dinamakan .6. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. dan e. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). c. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. b.

2. . Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan.7. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . diproyeksikan. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1.1. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. . Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. K3 dan K4.4. K2. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. K2. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat.

K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . secara analitis K1x = K1 cos E .

dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar.5.1. K2.6.1. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. . 3. K3 dan K4. 1. Latihan 1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1.

soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11.5° dari sumbu x R = 11.7. Daftar Pustaka 1. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . No. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. sedang soal no. 3.1.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. Soemono. Penutup Untuk mengukur prestasi. ƏStatika IƐ ITB.1 ton sdt = 22. 3 hanya berupa grafis. secara bertahap.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. French.1. 2.9.5° dari sumbu x R = 12. Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. Bab I 1. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. Samuel E.1 ton sdt = 22.8. Bab I.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

mengerti tentang beban.2. reaksi dan gaya dalam. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. Contoh : a.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. kolom. apa itu beban. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. balok. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . jembatan dan lainsebagainya. reaksi.9.2.1. kolom. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. balok. 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik.

peralatan dan lainsebagainya. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat.10.2. misal : meja. kendaraan.2.1.2. a. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. balok perletaka n Gambar 1. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. dan lain sebagainya. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. a.

kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Gambar 1. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. Newton. Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. kg.11.12. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . dan lainsebagainya. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ.

Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. dan lainsebagainya. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah.1. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur.3. konsep pengertian tentang perletakan. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. jembatan.2. Contoh : a.3. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. 1.2.

karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. sendi. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan.15. ada reaksi vertikal. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.2. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. maka oleh rol tersebut dari atas. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.14.3.2. jepit dan perodel. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. perletakan Gambar 1. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. (Gambar 1.13. a. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik.

18. Karena struktur harus stabil. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. oleh Rv Gambar 1. Rv RH c.17. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. Jadi sendi tidak mekanika teknik.17).16. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1.

horizontal. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . ada reaksi searah pendel. dan momen Gambar 1. ada reaksi vertikal.20. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur.21. balok baja pendel Gambar 1. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.21.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.22. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .

Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. Keseimbangan vertikal .3.1. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda.2.23. mahasiswa perlu mengetahuinya. dan bagaimana cara menyelesaikannya. jembatan dan lain sebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1.3. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. a. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. hal itu merupakan syarat utama. serta manfaatnya dalam struktur tersebut.3. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. 1.

25. (Gambar 1. maka kotak tersebut langsung tenggelam. maka kotak tersebut tidak bisa turun.25) Gambar 1. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Kotak Gambar 1.24. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. Kotak tenggelam dalam lumpur b. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv).

Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). maka kotak tersebut langsung bergeser. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). PM Kotak Lem Meja .27) Gambar 1.27. karena tidak ada yang menghambat. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal.26.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat).

Keseimbangan statis . Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). Gambar 1. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal.29. dan tidak bisa terangkat. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. RM Gambar 1. benda tersebut harus tidak bisa turun. yang RH berarti harus stabil.30. momen maka kotak tersebut bisa terangkat.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM).

PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). Latihan 1. atau RV . Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).4.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.3. agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . maka syarat minimum RM = PM atau RM .  Dari variasi tersebut diatas. 1.

Sendi punya 2 reaksi . PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. Rv = ? 2. 1.6.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan . Penutup .3.5. satuan.3.Beban terbagi rata.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.Rol punya 1 reaksi .Beban terpusat. q. notasi. kg atau ton atau Newton . notasi.Jepit punya 3 reaksi . RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. P. Rangkuman o Macam-Macam Beban .

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I.7. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.3.8.3. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . 2. Daftar Pustaka 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Suwarno.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi.

Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. seperti gedung-gedung.1. jembatan dan lain sebagainya. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. 2.1. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. ada beberapa macam sistem struktur.

2. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. 2.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Contoh a). Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan.1.1. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah.3.1. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.

A B Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. b). Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3.2. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. Konstruksi statis tidak tertentu . RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A.4. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit.3. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A).

5.1. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. b).4.1. Perletakan A dan C sendi. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. Penutup Untuk mengukur prestasi. Latihan a).1. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.6. 2. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2.

2. Daftar Pustaka 1. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.1.1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. Jadi diatas adalah statis tertentu. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen .2.2.7. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. baja dan lain-lain.1. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. 2. kayu. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2.8. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. satu kecil.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya.5. Contoh (b) 2. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b).2. kolom. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda.7.2. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. Orang membawa membawa beban tersebut. yang satu lagi besar. 2. demikian juga untuk orang B.6. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. pendek (A). Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). Gambar 2. tinggi. memerlukan gaya dalam. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut.8. dansebagainya). Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. Contoh : a). pelat. P P Untuk A orangnya pendek. tinggi (B). Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2.3. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang .2. P1 A L1 Gambar 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

o Balok tersebut menderita gaya lintang. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. Gaya Dalam Momen a). Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ.(pers. 2. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N.9.x. x ƛ q. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen.4. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. Mx = RA . yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen.2. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2.10. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. (pers.

11.12. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B.13.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. Tanda momen 2. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok.5. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. Tanda momen (-) * Gambar 2. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2.2. Demikian juga sebaliknya.

maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2.14. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.15. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. Potongan balok bagian kanan . maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan.

gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. gaya yang ada hanya RA. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. C RA Dilihat dari kiri potongan C. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). P Jika dilihat dari kanan potongan c. Karena RB adalah merupakan reaksi. . atau kalau dilihat di kanan RB potongan.16. jumlah gaya arahnya ke atas. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah.

17. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . Jadi RA < P. D maka gaya lintangnya tandanya negatif.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). karena RA adalah reaksi. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. Gambar 2. A Dilihat dari kiri potongan D. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2.

19. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok.2.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.6. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P. 2.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. . maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang.18. * Tanda Gaya Normal . maka pada batang AB (Gambar 3. P P Kalau dilihat pada Gambar 3. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .7.2. 2. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) . maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.

P3 = 2t (´) P4 = 3t .2. P1 = 2 2 t (º). q1 = 2 t/mƞ. P2 = 6t (¶). Ringkasan tanda gaya dalam 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.8. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .20.

12  2.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.6.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas. yang searah diberi tanda sama. gaya lintang dan bidang normal.6.1.q2. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .6 + 6 + 1.6.6.3 + P1R. RBV 71%! RBV.q1 ƛ P2. (Bidang M.4  2.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.7  6.3  2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.6 + P2 + q2.10 ƛ q2.2 = 0 1.6  2. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.1  6. N.4 + 2.1 = 0 2. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.2 .10 ƛ P1R. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.21.6 ƛ q1.7 ƛ P2. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.12 ƛ q1.

Perletakan B = sendi ada RBH. Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = . D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas).

DE = 0 Dx2 = q2 .7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. Variabel x2 berjalan dari E ke B. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. melampaui beban P2. Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x.6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). x2 = + x2 (persamaan liniear) .1ton lintang ke bawah) 2.

P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. dimana gaya normal dihitung dari titik C.4 ton Daerah BE dihitung dari kanan.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = . NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . dari E ke B nilai gaya normal konstan. Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A .7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.P1H = . ND kr = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).

P1v .2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . sehingga tanda negatif (momen P1v . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ). x = . Daerah A D .2 = .4 tm.2.

½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.25 tm.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2. lihat pada Gambar .x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.½ .5)² + 11.22.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA. x1 = 5.5.5 m Mmax = .5.5 ƛ 4 = 26.2 (5.

x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0. titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan. 1.½ .q1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .½ .3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.

286 0.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.22. N.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5. D balok diatas 2 tumpuan . Gambar bidang M.

5 32. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.23. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .5 = 0 RD = 2 + 1 + 5.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. N.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1.2. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. N. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.9. D Balok cantilever . Bidang M.5 24. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶).

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.3.5 = 32.10.2.5 t ( ) 2. a) reaksi perletakan b) bidang N. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.5 tm ( ) MD : .24. a) reaksi perletakan b) bidang N.3 ƛ 5.5 ƛ 1.6 ƛ P2. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.2 ƛ ½ .5² = .1.1 (2.P1.

reaksi perletakan b). a). D dan M q = 1. t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . bidang N. P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .5 ton /m· . Ditanyakan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   .

2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.5 ton 0 9 tm 10.2. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.11.12.5 ton 0.5 ton 3.5 ton 3. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 tm 0 Tanda/arah o o p . Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.tekan + + + + Momen = M .

08 m kanan A A X = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .tekan + + Momen = M + + - .13 tm 0.625 ton 4.375 ton 2 ton 2 ton 4.08 m D B C Nilai 4. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.625 ton 4.375 ton 2 ton 0 0 7.375 ton 2.0 tm 0 Tanda/arah o o p .75 tm 4.

½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx). Dx dx dan qx. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . dx² .dx. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = . dx o Kiri ada Mx . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.3. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx.0 d Mx = Dx .dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx .dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. .24. Hubungan Antara Momen (M) . gaya lintang dan momen.dx . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.

Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2.25. 2. misal : tangga. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.1. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal).4. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Skema balok miring . Seperti pada gambar. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2.4. balok atap dan lain sebagainya.

N. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan.4. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal.2. 2. Ditanya : Gambar bidang M.

3.1.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.1 = 0 RAV = 7.2.2 ƛ P1.16.1 = 0 RAV.2 ƛ 4.26.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.2 ƛ 2.3 ƛ 4.2.12 ton .4 ƛ RAH.2 ƛ q.3 ƛ 4.3 ƛ P 1.a.2.1 = 0 18 ! 3. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .5 ƛ 1.3 ƛ P2.4 ƛ 2.3 ƛ P2.5 ƛ q. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.3 ƛ 4.6 ton = 2.

2 ton Dc kr = .1.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.3. 3/5 = .6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.x . cos E= .3. sin E = -2 .3.6 ton NC kr = . 3/5 = -1.2 .3.3/5 = .2 ton (dari kanan) ND kr = .6 + (2 + 4 + 4) cos.(4 + 4 + 2) sin E = -10.RB = .(4 + 2) sin E = -6 .6 + q.4 ton 4/5 . 4/5 = .26. cos E DD kn = .6 ton Dari B ke D Dx = .b.6 + q.2 ton DD kr = -3.E! 4. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .6 + 2.// sumbu batang .3.3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.2 ƛ P.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .5 tm Gambar bidang M. 2 1  .6 .x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .q.1 cos E = 3.1.  . 3.6 .q.2.1 = + 5. D 1 t/mƞ 4t B . N. 3 .75 ƛ 2.2 ƛ 4.

27.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Seperti contoh dibawah ini. Bidang gaya dalam pada balok miring . Gambar 2.

4/5] = . Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.3.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. DA kn = 7. 4/5] = . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan . sin E (gaya B sumbu batang) RAH.2 + 2. 3/5 + 2.16 .4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .1.(7. 3/5 = 4.1 . cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.1.16 .12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2. NC kn = .6 ton 2.12 .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. DB = -2 ƛ 2. 3/5 + 2.5.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.12 NA kn = . cos E (gaya // sumbu batang) RAV.3.16 t D = + RAV . 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .2 + q.12 . Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata. sin E E RAV .1 . Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.RAH .16 .16 .16 .1. sin E + RAH . NDkn = . cos E .(RAV . 2. 4/5) t = . 3/5 = .[(7.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .12 ƛ 4). Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .2 ton.1.[(7.2 . sin E NB = . 3/5 = 1.16 .5.6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. beban tekanan tanah dan lain sebagainya.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. 4/5 = . Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . Cos E) RAH = 2. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. 4/5 ƛ 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

a) reaksi perletakan b) bidang N. a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . P = 3 ton Ditanyakan. seperti tergambar. a) reaksi perletakan c) bidang N. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. D dan M Soal 4 3m RB .5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. P = 3 ton Ditanyakan. Beban q = 1 t/m· .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. D dan M 30° Soal 2 q = 1. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . B = rol Ditanyakan. . B = rol. B = rol.

815 t 4. 2.63 t 2. Ditanyakan.5. a) reaksi perletakan b) bidang N.tekan .11 tm Tanda/arah o n o p . besarnya merupakan fungsi x. ketelitian perhitungan perlu.88 m Nilai 4.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .6 t 0 0 3 tm 0 3. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.tekan .88m jarak miring dr A A B C X = 2.50 t 2.5. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga. B = rol.12 ton 5.76 ton 1.16 t t 2.50 t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .88 t 3 ton 9. seperti tergambar.5.4. D dan M 2. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.

B «««. 4 .l 3 0 0 q.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3..6 ton 0 0 5. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.5774 L dari A A B C X= Nilai q.l 6 q..l 6 q. X= Momen = M L 3 = 0.l 3 0 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p . Jawaban soal no.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no.

24m dari B A B X = 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.5 ton 1 ton 0 0 0 0. ITB.5 ton 3.7.6.5. 2. UGM.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2. Daftar Pustaka - Suwarno. Bab I. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .5 ton 0 0 4.5. Bab I Soemono.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.24m Nilai 4.67 tm 3.5 ton 4. ƏStatika IƐ.

2. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .a l a .

l 3 1/3 l .l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.a l ax A Px a. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .l ton 2 a. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. dengan beban segitiga diatasnya.

bambu. bambu atau baja tersebut. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2.30.31).6. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2.31. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut.1. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. baja. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. dan profil baja. . Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.6. bambu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. Gelagar Tidak Langsung 2.

31.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan . melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.

melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. gel. tida k langsung Gambar 2. Penyederhanaan akhir. induk / G ambar 2. induk). Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. gel.6.33.2. Penyederhanaan awal.3. memanjang P P P . memanjang gel. untuk gel. melintang gel. melainkan lewat perantara gelagar melintang. q kg/mƞ beban terbagi rata gel.32.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel.6. tidak 2. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan.

2P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2.P/2 . 2P . dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. P = 6q P² . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.P. melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP .35. melintang. memanjang genap. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel.qP² .

5 P . 1. 1.1. 2P .125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.25 q P² Perbedaan momen (0.q P .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.½ q (2P)² = 6q P² . Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.5P .½ q (1.½ q P . ½ P = 3. Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.5 P² .q P .5 P .125 q P² = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.375 q P² .5 P)² = 4. 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. tapi kalau gelagarnya tidak langsung. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).37.375 q P² .125 q P² = 3. 2½ P Gambar 2. lantai = 3. namun s eperti gaya lintang beban terpusat. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung .0.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.

Gaya reaksi V A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2.5 t/mƞ sepanjang bentang.6. RB b). Bidang N.4. D.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. H A. RB b). H A . Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). Ditanyakan : a). transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. Latihan Soal 1: q = 1. Gaya reaksi V A. 2. q = 1. M. Bidang N.6. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.5.6. . D. Penutup Untuk mengukur prestasi. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.6. 2.

0 t 3.5 t 0 4.00 t 0 5.25 t 1.5 t 1.0 t 3.25 tm 4.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.25 t 1.5 t 4. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.5 tm 0.0 t 1.75 t 2.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.25 t 1.75 t 0.5 t 1.5 t 3.

67 tm 3. 2.7. ITB-Bab I Suwarno. . Daftar Pustaka - Soemono. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . ƏStatika IƐ.6.5 ton 3.24 m dari B A B X = 2.0 tm 0 0 4. UGM Bab I.8.5 ton 1 ton 0 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.73 tm  + + Momen = M + 2.24 m 3.6. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.

atau N (Normal). gaya momen.2. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. Jika dua hal tersebut dipadukan.7. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. gaya lintang. maka didalam suatu garis pengaruh. Garis Pengaruh 2.7. dan gaya no rmal. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu.1. gaya momen. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. gaya lintang dan gaya normal. jika di atas struktur jembatan 2. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?.7. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. . atau gaya dalam M (Momen). tersebut berjalan suatu muatan. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut.

R B + G.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.x = 0 P.P.P.38.P.l ƛ P. l ƛ P (l-x) = 0 P(l . Gambar garis pengaruh R A dan RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G. R A RA .P.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.

R B Gambar 2.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .7.39. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2. y2 atau Gambar 2.R B t A C a + y1 y2 GP.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.3. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.R A + P=1 GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .41. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.40.R A y2 GP.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.beban y1 dan RB =sama 4 . dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.39 A c 1t + y3 GP.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.RB Gambar 2. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2. dimana d c ton dan y 4 = ton. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.

RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2.P.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 . Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP. sejarak b dari titik B. sejarak dari titik A.43. sejarak d dari titik B.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.42.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.R B + y3 GP.

l ƛ P.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. Gambar garis pengaruh gaya lintang .P. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2. R B - b/l G. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P.P. R A l x ton (linier ) l x=a G.44.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.

P. a tm ª l º Untuk P di C GP R A. P = 1t x G. a .P. tm ª l º = 0 tm Gambar 2.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.b a.45. M c ¨l a¸ b © ¹ ! .b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA .P. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . b =  Untuk P di A x .M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.a x=a Mc = G. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . a tm = © ¹ .

R B. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.DD - 1 t 3 GP.M D + GP.R A. 2 = .R B 1 t 3 2 3 + GP.2 - GP.R A .4 GP. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP. RB.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP. DD.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . MD lihat kanan bagian x M D = RB .2 ! tm . M D. 4 = .R B : 7 . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. DBkn Jawab : GP. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.

MB 2 tm GP.46.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.DD P antara A-D D D = .M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.R B GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .DBkr 1t GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.

GPD I. GPRB. 3m berjalan. DI (-) max. GP MI a) Bila beban Ditanya. RB max. MI max. 4t DI (+) max. GP D I. max. GP RB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. M max.4. ditanyakan GPR A. MI max. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC.7. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. Soal 2 A 3m berjalan. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. . ditanyakan GP R A.

Max.1875 tm . = + 3. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. 2.7.3 ton MI max. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.6. = + 9 tm Mmax.5. = + 9.5 ton D I (+) max.7. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). = + 5. Penutup o Untuk mengukur prestasi. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2.

7.6 ton 0 0.4 tm 1.3 ton 0 1 ton 1. MI max.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.3 ton 0 0 2. Bab I.Garis pengaruh - Beban berjalan .Soemono. Senarai . - Suwarno. UGM Bab I. Daftar Pustaka .7. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.7.8. ƏStatika IƐ. ITB.4 ton 0. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.18 tm Nilai 1 ton 0 0. 2.3 ton 0 0.175 ton = + 9. 2.

yaitu 3 buah dimana A = sendi. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. B = rol dan C = rol.1.1. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R .1. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. maka jumlah . a). Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. 3. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3.

RBV.2. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. RAH.1. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. maka bisa didefinisikan bahwa : . RBV.1. 7H = 0. Skema balok gerber 3. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. 7M = 0. 7H = 0. RAH. 7H = 0. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan.2. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru).

. namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah.

R . 7 H = 0. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. R . yang masih statis tertentu. 7M = 0 dan 7M D = 0. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. . 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. B = rol. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. disebut dengan konstruksi balok ge rber. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. 7 H = 0. RAH. C = rol.

1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Detail sendi gerber .3.3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.

1. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.4. 3. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A .4. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. dimana balok DC tertumpu di balok AB.

Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. sehingga struktur bisa diselesaikan. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas.5. Apakah mungkin ? Perhatikan . balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. Kalau dilihat dari sub bab 3. jadi untuk sementara diterima saja.1.6. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. D B C Cara memilih : alternatif (1). dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. sendi gerber belum ada.2. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan.

. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. Perhatikan balok DBC. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu.7. perletakan A = sendi. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. RDH). balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. perletak B = rol. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. Perletakan D = Gambar 3. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

b2 Jika konstruksinya (a).8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.1. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2).5. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). (ada 2 reaksi). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. perletakan. perletakan D = sendi. perletakan B = rol (ada 1 reaksi). Jadi alternatif (C) adalah mungkin. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). c = rol (ada 1 reaksi). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. Perhatikan balok DC (gambar b2). Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. . dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). jadi tidak ada reaksi.

maka balok AB bisa diselesaikan. N.9.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). Bidang-bidang gaya dalam (M. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. N. Skema pemisahan balok gerber . D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. N. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. Penggambaran bidang M.

Ditanya : Gambar bidang M.1.667 m 7 MA = 0 RS.6 ƛ RS. D.2 ƛ q. A = rol C = rol .6 + 1. .10. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).6. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.1 = 0 RS = P.1 4.2 ƛ 2. 4 ƛ P. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.6.6 ƛ 1.833 m 5.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.6.3 = 0 RA.3 = 0 RC.33t 3t + 1t BID.= P.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.3 = 0 BID. M 2. N Gambar 3.3 ! ! 3t 4 4 BID. dengan jarak 1 m dari A.8 ƛ 2.6.3 = 0 RC. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.8 ƛ q.3 4. 4 ƛ P.6 + RS. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8. N.6. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.

Rs.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.x 2 - = 5.0546 ƛ 8. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.667-x2 ) = 0 x2 =5.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.q x2² (parabola) 2 1 .667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .833 ƛ (2.x-P (x-1) = 3.02589 = 8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA. 2.667 x 2 .x2 - Mx2 = 5.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.x1 = .x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .0287 tm.2.1.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.x = 3.667.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.833)² = 16.667.

Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.Rc + q .6.6 = + 6.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.667 + 2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .667 + 2. x 2 2 = .667 t Dbkn = -5.5. Latihan .P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = . x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .1.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.5.

dengan perletakan A = sendi. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB.8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ).1. N. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. B = rol C = rol. Gambar : bidang.bidang 3. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. A 2 m 5m 2 m 4m 2). maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. D) Suatu balok gerber dengan 1). 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. Rangkuman o Balok gerber adalah : . Atau . S = sendi gerber Beban : P = 5t.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu.

4 ton 7.9.4 ton 3. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.1.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. 1 Keterangan Titik A Harga 1. Penutup Untuk mengukur prestasi. Soal No.

1.5 ton 2.5 ton 5 tm 0 7. Daftar Pustaka 1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3. Garis Pengaruh Balok Gerber .5 ton 5 ton 5 tm 2.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2. 3.5 ton 2. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. Suwarno.10. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.1.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3.5 tm 0 2.11.

reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).2. 3. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). reaksi ada di B (R B).2. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. Gambar 3.1. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas .2. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga.11.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F . MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.2.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.a.3.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.y GP.Mc y2 C dx P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.q dx Mc = ´ y.

Dc Gambar 3. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.

4. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.16.4. . muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.2.2. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.2. Pendahuluan Pada kenyataannya.4.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. Prinsip dasar perhitungan . .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.2. 3.1.

c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.17.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.Mc y4 y5 Pada posisi awal.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.

bagian kiri titik C dan .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x. c1 c (x . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x. c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.c1 ¹  § Pr © .

.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. dan 01 (dengan skala) . digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01.12.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) .34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C.18. 23. 23. 12. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. 34. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang.

Dengan cara yang sama. . yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 .Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01.Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I. . . .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . .

serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. 3. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.5. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.19. . Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. .Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I.2. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3.2.1.5. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.

2. P 3. R2 dan P3 atau resultante P 1.2. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. a ƛ R2 . Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. Prinsip Dasar Perhitungan . b 7 MA = 0 1 _P3 .r = R1 . P2. P4.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. .

Rt .5).2. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.3.4.

Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2.20.

GP R C . x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.x 6.1 + P3.6.2 = Rt.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0. GP R B.1 4.2 = 20 .1 4. ditanyakan : GP R A . Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.1 + 6.45 Rt Gambar 3.45 r =1. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.2.21.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.

2. GP R A . Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. GP R C . 3. GP DB kanan 2 2 b). GP M B. GP D I. ditanyakan. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. GP R D GP M I. RA 8m 2m a). GP R B. Rangkuman .7. ditanyakan : MI max . Akibat rangkaian beban M max berjalan.

Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . . Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o . 3.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.2.8. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.

667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .25 t 0 0 0 0 1t 1. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.25 t 0 0 0 0 0 0 1. 2 a).333 tm 0 0.

MI max = + 14 tm. pada saat P 2 terletak pada titik I .5 t 0 0.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).

bab V . UGM.05 tm.2.Suwarno. . terjadi pada titik dibawah P 2 3. ITB.9. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . bab V-4 3.Soemono.2. ƏStatika IƐ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14.10. Daftar Pustaka .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. D) 4.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. N. (a). sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. a.1. (c). dalam. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b).

1. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.1. 7 V = 0 dan 7 M = 0. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). gelagar memanjang.1. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.2.2. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. kedua perletakan dibuat sendi. Pelengkung sungai Gambar 4. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4.2. Dengan konstruksi pelengkung terse but. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).1. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.2. Penempatan Titik s (sendi) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. 4.1.2. struktur pelengkung tersebut.

S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).3. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi .

maka M E-E = VA. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.4. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.q x² diatasnya. x 1 HA HB II = HA.2.3.h1 B Nilai I = V A . maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.q x12 ƛ 2 B HA.x1. h1 f I = VA .1.x . x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .

(hA-hB) ƛ P1.3. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.b1 = 0 (1) .6. Cara Penyelesaian 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.1. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A.1.h1 Gambar 4.3. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.5. 4.1. Gambar nilai I = V A.l ƛ HA.

a ƛ HA.hA ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .

h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari. HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3). 7M A = 0 VB.H B . (4).l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.l .a1 = 0 7 M S = 0 V B . Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv.l ƛ P1.S1 ƛ Ab . maka nilai Ab bisa dicari. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.a ƛ P 1. f = 0 Av . a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).l ƛ P1. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari. f = 0 Bv . Bv. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .b ƛ Ba .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal.

dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. bukan pelengkung. x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4.3 Gambar (c).9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB .HA . merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.9 disamping.b l RA + Bidang D RB Gambar 4.1. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . x. y I = VA . x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.2. Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. II II = HA . Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).1.2. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. gaya lintang (D) dan gaya normal (N).8). maka Mx = V A .a. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M).8. x ƛ ½ q x² . seperti pada gambar (4. x P Untuk balok yang lurus. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D).

Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !.10. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. Vx = V A ƛ q . x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E .

Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = .11. Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah.( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan .Vx sin E. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak . x cos E = .

S Ec C yc f=3 m A H 2.12.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. H. bidang gaya lintang (Bid. nilai gaya lintang. N). Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. VB. . Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. D) ataupun bidang normal (Bid.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ.13. Mc. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. M). Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid.5 m dari titik A.

5.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.q.2.Xc ƛ H.14.q (5)² 15.5  1 / 2 .H . reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.l. ½ l = 0 VA = ½ . yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . ½ l = 0 VB . (5)² = 0 H= V .3. 25 ! ! 12.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.25 ƛ ½ .5m Gambar 4. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x. l.Xc² = 15 .5 .5) ! 2.5  1 / 2.3.5 ƛ 12.5 (10  2.5 ton 3 3 VA . di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga.yc ƛ ½ . 2.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. 2. l ƛ q.5 m yc = 4. 3 . 3 ƛ ½ q . 2. l ƛ q. 3 .

5 .5 .4312 ƛ 6. 0. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.14.sin Ec + Hc cos Ec) = .2. Dc = 0.x = 15 ƛ 3. Contoh 2 xc=2. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .(7.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4. 0. 0.5145 = 6.8575 ƛ 12.5 ton ( o) Hc = H = 12.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1. Nc = -14.15.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.5 .5145 + 12.5774 ton. 0.5 .(Vc. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .5 = 7. Vc = VA ƛ q.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.8575) = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.16. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .

3 = 0 HB = 1. f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 . l . 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.5. 10 . 1.152 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .152 .P.76  6. 10 + 6 .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.92 ton ( n)  5.152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1. ½ l ƛ HA . f = 0 1.92) = 0 .1.92 = 0 VB . 1.92 = 0 (cocok) .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA . 5 ƛ HA .yp = 0 VA .08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . 1.yp = 0 VB .6 .3.92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. l + P. 5 ƛ HB .2 (10  2) ! 1.08 ƛ 1.48 ! 4. 3 ƛ 6 . ½ l ƛ H B .76 ƛ HA .

Xc + HA .2. 2.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.5145 Dc = . 25 ƛ 6 (2. 0.92 . cos E = 0.17.5 + 4.92) = -1.V A .08 . = -1. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.5145.8575 ƛ 1.152 . 2.18 ƛ 1.8575 Mc = .96° sin Ec = 0.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.25 ƛ = . Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.88 + 9.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.98 HB = 4.08 = 1.92 ( ) 0.152 .152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.25 m Ec = 30. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.

Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B.92 . 0. Mc.1. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang.5145 ƛ 1. 0. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA. HB. HA. Nc. Nc. HA. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. VB.4. VB.8575 = . Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2).1. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. Mc.152 . maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1).0537 ton 4. HB.

1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4.1. Sedang bidang momen.5 ton 6. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.5.25 m 0.75 0.6.667 ton 4. 4.8 o o p n . Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks. Penutup Untuk mengukur prestasi. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.6 0.5 ton 4. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.667 ton 2. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik. Soal No.

Daftar Pustaka 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.774 ton 1. Soemono ƠStatika Iơ ITB.8336 ton (-) (-) Soal No. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.7.3672 tm 2.842 7. . bab 4.539 0. UGM.8.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.226 ton 4.5625 tm ~0 5. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).36 m 0.64 0.184 ton 5.1. bab 2.1. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.9675 ton 3.9675 ton 5. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.

Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB .2. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. b = f V B . b f VA .2. H P. x = 0 Untuk P di B . gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. 4. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. a. 4.f Untuk P di A . x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. Garis Pengaruh Reaksi x P S G.18. f = 0.P. x = 0 1t Untuk P di B .2. a f Px b . 6 MA = 0 VA H l a G.3 Prinsip penyelesaian.1. a .P. x = l G. b l . b ƛ H .P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . V B dan H Px ) l . VB .P VA (+) 1t G. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. Garis pengaruh V A. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4.2. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.2.P.

C = G.P.H . a . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . a.b c l . f ton H= 6 MS = 0 VA . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . u . H x C v P. B H b MC = VB . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) .b ton H= l . maka lihat kiri potongan (kiri C). v .f = 0 a H = VA . x = 0 p H = 0 Untuk P di S . bagian I (+) P .P. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). M C = VA .P.P. M C pada balok di atas dua perletakan l G.f v G.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H.f G. Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). u dan V B .b ton l. x = a p H = P. bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . u . R l C u VA VB Bagian II H. v sama dengan G. x = a H=0 P. x = l Untuk P di S . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.H .v l G. a .P. u .

P.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. NC bagian I Q sin E l (+) ( .P. a .(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D .P.Mc C.H sin D I II I -> identik dengan G. VA sin D dan V A cos D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P.19. Gambar GP.f .) v sin E H b l GP VB sin GP. sehingga: NC = . Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C. V A Sin D D GP NC Bagian II () P. b cos E l . Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a . Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. Gaya lintang G.b cos E l . Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) . untuk GP.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H).P.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l. f Gambar 4.20. NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP. D C a b sin E l.P. G.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

½ P + (b/P ). Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. ½ P = ½ q P R2 = q . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . Kondisi pembebanan kolom (b).24. . transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . . . (a). . .

.25.4. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.4.Xc-R2.Yc Vc = VA. .5 ton R5 = 1. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar.e-HA.1. . Cos E . Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. sin E + Hcos E) Dc = Vc. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar. . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan.e-HA. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.5 ton a R1 R2 C R3 S e .Xc-R2.Yc Nc = -(Vc . Pendahuluan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh. R2.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. Menjadi (R1. . R3. .Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. .

Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. P . untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.5P .5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.4. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. P . maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I.Y1 + P2.Y2). 4.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel.33 P 54.33 P 54. Jika letak .N. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). P . dengan ordinat 1. (1 ton. A C I D E ½ ½ P P + 1.5 P . Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.26. P . Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. 2. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. atau 1 kg atau Newton) .33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I.2. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya.

Dc dan Nc . Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. M I gel. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4.27.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Gambarkan Garis pengaruh Mc .

yc A  ] II I .Y l P.P.x  H. C yc . Judul : Portal 3 sendi 4.b yc l. .Q. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan. S .b yc l.f G.P.Q. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.b cos E lf pemaparanG.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian. Pendahuluan .b sin E lf pemaparan Gambar 4. GP Mc = V .a.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P. a . 4.5.1.Nc = .a .P. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.H sin E Cos E P. b GPMc bagian I P. f H R VB H VA Q . 28.Dc = Av cos E .f G.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P.a .a .5. Mc total (bag I + bag II) - II + P.

4. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I .29.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4.5. balok gerder. bisa berupa balok menerus.2.

a1 = 0 VB. b1 ƛ P2 . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.hƞ ƛ P 1 .a + HA. b2 = 0 VA.l + HA. (h ƛ hƞ) ƛ P2 .hƞ ƛ P2 . 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.l + HB. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .h ƛ P 1 . a2 ƛ P1 .l + HB. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4.30.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .

f ƞ Bv. S 2 ƛ BA .a 2 l Nilai A B .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av.l ƛ P1 . f = 0 .b1  P2 . b  P2 . f = 0 BA = Bv .l ƛ P1 . b 1 ƛ P2 . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB . S 2 f Nilai BA . S 1 ƛ AB .a 1  P2 .a ƛ P1 . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .a  P1 . a1 ƛ P2 . f = HB .b 2 l 7 MA = 0 Bv. b 2 = 0 Av = P1. a2 = 0 Bv = P1. f ƞ Av. f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . f = HA .b ƛ P2 .

l ± q . Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.5 .5 ± 4. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av. 38 ! 1.3 . 4.l ± P. tg E Avƞ = 1.3 ton Avƞ = H A .1 = 0 Av. 1.32. P =1 Penyelesaian. 1.3. 1.6 ± 4.5 ± 2. 3 .6 ± 2. selesaikanlah struktur tersebut.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av. 3ƛ2. 2/6 = 0.4333 ( q) Bvƞ = 0. 4. 3 .5 = 0 Bv Av.3 .3 ton .4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .5 - P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .q .3 .5ƛ HA.

7334 + 5.4333 = 5.2666 t .3t 4.4333 m = 4 5/6 + 0.4333 = 4.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.7334 t VB = Bv + 0.7334t 1.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.3t B B 5.

3 t = .7. 2 (2.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.3 .3 ton Daerah B-D 5. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.3. q (x²) .20254 ƛ 5.3t Dx = VA ƛ qx 1.5.C A x 4.2666 t Mx = -1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.4 = .7334 ƛ 6 = -1.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.3667)² = -5.2666 t x=3m Ds = 4.3 .3 t Gambar 4.60127 5. 4 = -1.2666.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .2 + 11.40127 tm (M max) MD = -HB .3667 ƛ ½ .3667 ƛ ½ .1 H B.6 = 5.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.7334 ton Daerah C-D = -1.1 ƛ 7. 6 = .7334 t BIDANG N - Di S 5.3667 m (daerah cs) x = 2.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB. 2. 4 + VA .7334 .3 t 1.3 t 1.2 tm - S D 7.3667 Mx = -HA .3 t 4.8 1. 6 = -1.32. Bidang M.2. N.2666 t = 0. 4 + 4. 2.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.8 tm - Mc = -HA .

. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4.6.2.34.6. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. maka untuk memperpanjang bentang. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan.1. 4.33. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa.6.

baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya.6. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. merupakan struktur yang menumpu. .35.3. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4.

maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.7.7.7. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.1. 4. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. S (b) B GA ambar 4.2. Pendahuluan Seperti biasanya.36.3.7. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. Contoh Penyelesaian . Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1.

R B + c l + + d l a.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.d l.b . f l d.f GP.f - + + GP.37.DD Q l GP.b l .RA . Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.M D cb l Gambar 4.ND=G P.RB b.v l a.f GP.f ! l.RA a.a l cb l GP.H u.c l .b a.

R B f P di E RB = c c l c. N D Garis pengaruh N D sama dengan g.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. b .f = 0 H = RB .b p H ! x p ND !  l l f lf .p nilai H. ~ g.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .p. b ƛ H. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.

p N D !  l l f l f P di S 1 GP. Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi . 4.H .b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA . p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! . f = Garis pengaruh H x f.V l II = H .f = 0 H= R A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. a ƛ H.8.a f P di S b a ab RA = b p H ! .MD P berada antara D C M D = RA . Q . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q.

G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu.P.P VA . G.P. VA .x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. ditanyakanL G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G. N C .PH. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.D C . G. G. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l .P. H.P. G. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. ditanyakan : G. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. G.P.P N C bawah .P D C bawah.P NC kanan. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. . G. G. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2.

1175t 0 0 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.10. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.447 0.9.447t 0. Rangkuman 4.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.5t m 1.335t 0.782t 1.5 0.447t 0 0 0 1.

384t 0.333t 0 0 0.40t 0 0 1. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1. UGM Bab VI dan VII .25t 0. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.60t 0.336t 0 0 0.084t 1.333t 0 0 0.11.20t 0.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4. Daftar Pustaka Suwarno.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.

1. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.B. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.12. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.R.) .

1. ba mbu atau baja. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. tapi kalau materialnya dari kayu.2. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.1.4. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. 5. Jika materialnya dari beton. .3. maka kita harus merangkai material tersebut. Rangkaian dari material bambu. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. 5.1.1. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !.

.B. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. pasak atau paku. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p).R. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil.5. Bentuk K.1.1. 5. paku keling atau las. Pada konstruksi kayu memakai baut. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.1.5. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul.

Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. .3.R. Detail I.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.

R.B.2. Ruang terdiri dari 2 K. sisi 1 K. atas (ikatan angin atas) 1 K. Gambar 5.B.B.1.R.5. bawah (ikatan angin bawah) K. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5. Bidang.R. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.R.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.B. Pada Jembatan K.4.B.B.R.B. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .R.

Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.3.R.1.5. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .5.B.B.R. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). Konstruksi Statis Tertentu Pada K. Konstruksi rangka batang bidang .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.

5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5. Rumus Umum Untuk K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) . Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.R.1.6.B. r = jumlah reaksi perletakan 5.15.R.4.B. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.

6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5. Cara grafis dengan metode Cremona .R. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan. 1. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .B.1.7.Kx = 0 dan 7 . Keseimbangan titik buhul a. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.Ky = 0 b.

Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. Metode Penukaran batang 5. Metode Potongan : a.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol.1. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. a.Kx =0 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. y 7H=0 7.8. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat.V = 0 ata 7. Cara Analitis Metode Ritter b. b. Cara Grafis Metode Cullman 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .8. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.

4 . . B2 dan B1ƞ. tiap -tiap batang perlu diberi notasi. V2 dan V 1ƞ. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. selesaikan struktur tersebut. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. A2 dan A 1ƞ. D2 dan D 1ƞ.9.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. Untuk batang atas diberi notasi A 1.1. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1.4 . B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA .9. 4 P . 4 P .

y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. . Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. Dalam penjumlahan.R. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. gaya yang searah diberi tanda sama. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui.10. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan.B.

2 A1 = . 2 7V=0 .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .½ .½ D 1 A1 = .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) . 3 2 . V1 = .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.

2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .1t (tekan) . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

gaya batang RB . 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t .1. Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. Gaya ƛ Reaksi B b). 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ .10. D3 1t ƛ ½ . Gaya reaksi b). Beban . Gaya. P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a).

Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan. Pencarian gaya-gaya batang. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.808 t 4.12. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi. atau gaya tekan.1.667 t 5.000 t 2.555 6.20 t 4. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.835 0.20 t 1. 5.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .333 t 3. 667 t 6.333 t 6.00 t 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.11.00 t 1. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0. bisa berupa gaya tarik.1. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. ƏStatika IƐ. . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . UGM Bab Soemono.1.14. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5.1. - Daftar Pustaka Suwarno.13. bab 5. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful