MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. . yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. . Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. ar 1.2. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. OABC . tapi titik tangkapnya tidak sama. tapi masih sebidang.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. pertemuannya di titik 0.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2.

K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. . Urut-urutan penjumlahan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. K2 dan K3.4. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1.

secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.5. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. K3 . D F E.

b. K2. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut.6. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). dan e. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. K2. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. K2. K3 dan K4 yaitu R. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. d. Garis-garis tersebut dinamakan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . garis . c.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon.

. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. diproyeksikan. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat.4. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. K2.2. K3 dan K4. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul.7. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. .1. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. K2.

K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy.8. secara analitis K1x = K1 cos E . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : .  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy.

. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. K3 dan K4. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. K2. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. 3. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton.5. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2.1. Latihan 1.6. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. 1.1.

1.5° dari sumbu x R = 12. Penutup Untuk mengukur prestasi. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . 3. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. Soemono. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Bab I 1. 3 hanya berupa grafis.1. Bab I.1. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. Suwarno.8. secara bertahap. Daftar Pustaka 1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I.9.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.1 ton sdt = 22. 2.1 ton sdt = 22.5° dari sumbu x R = 11.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. No.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. Samuel E. French. ƏStatika IƐ ITB. sedang soal no.7.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung.2. kolom. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. balok.2. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . 1.1. kolom. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. apa itu beban. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. jembatan dan lainsebagainya. reaksi dan gaya dalam. Contoh : a. reaksi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1.9. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. balok. mengerti tentang beban.

misal : meja. dan lain sebagainya. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. a.2. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. peralatan dan lainsebagainya.10.2. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.2. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1.1. kendaraan. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. balok perletaka n Gambar 1. a.

dan lainsebagainya. kg. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Newton. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas.11. Gambar 1.12. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya.

Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. 1. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Contoh : a. konsep pengertian tentang perletakan.3. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur.3. dan lainsebagainya.2. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi.2. jembatan. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini.1. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung.

Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. maka oleh rol tersebut dari atas. ada reaksi vertikal. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. jepit dan perodel. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol. perletakan Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1.2.15. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. . jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. a. (Gambar 1. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. sendi.3.2.13.14. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik.

Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Rv RH c. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1.18.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. oleh Rv Gambar 1. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1.17. Karena struktur harus stabil. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. Jadi sendi tidak mekanika teknik.17). Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen.16.

horizontal.20. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. ada reaksi searah pendel.21. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. ada reaksi vertikal.21. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. balok baja pendel Gambar 1. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R .) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. dan momen Gambar 1. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik.

22.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .

Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. dan bagaimana cara menyelesaikannya.3. hal itu merupakan syarat utama. mahasiswa perlu mengetahuinya. Keseimbangan vertikal . maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. 1. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri.23.2. jembatan dan lain sebagainya. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1.1. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan.3. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. a. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling.3. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang.

Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH).25. maka kotak tersebut langsung tenggelam.24. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv).25) Gambar 1. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. Kotak Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa turun. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). (Gambar 1. Kotak tenggelam dalam lumpur b.

Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat).27. karena tidak ada yang menghambat. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). PM Kotak Lem Meja .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. maka kotak tersebut langsung bergeser.27) Gambar 1.26. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH).

RM Gambar 1.29. Keseimbangan statis . meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. Gambar 1. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. dan tidak bisa terangkat. momen maka kotak tersebut bisa terangkat. yang RH berarti harus stabil.30. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. benda tersebut harus tidak bisa turun.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). atau RV . tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula.  Dari variasi tersebut diatas. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . 1. dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang. Latihan 1.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ).3.PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). maka syarat minimum RM = PM atau RM . Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).4. Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol).

1.Sendi punya 2 reaksi . PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. notasi. q.Beban terbagi rata. kg atau ton atau Newton . Rangkuman o Macam-Macam Beban .Jepit punya 3 reaksi . P. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.5.3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. Rv = ? 2. Penutup .Beban terpusat. notasi.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.3. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .6.Rol punya 1 reaksi . satuan.

3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1. Daftar Pustaka 1.7. Suwarno. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1.8.3. 2.

1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. ada beberapa macam sistem struktur. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya.1. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.1. jembatan dan lain sebagainya. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. seperti gedung-gedung.

1.3. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A).1. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2.2. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. Contoh a). Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.1.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. 2. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.

Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. Konstruksi statis tidak tertentu .2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). A B Gambar 2. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah.3. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu.4. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. b).

P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. 2.5. b).4. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan. Perletakan A dan C sendi.6. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan.1. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. Penutup Untuk mengukur prestasi. Latihan a).1. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.1.

Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. kayu. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. Jadi diatas adalah statis tertentu.2. 2. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.8. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan.7.2. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2. Daftar Pustaka 1. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. 2. Jadi konstruksi statis tidak tertentu.1. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.1. baja dan lain-lain.1.

demikian juga untuk orang B. Contoh : a). dansebagainya). Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. P1 A L1 Gambar 2. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya.3.8. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). pelat. tinggi. kolom. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. yang satu lagi besar.2. satu kecil. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. P P Untuk A orangnya pendek. Gambar 2. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda.5. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. memerlukan gaya dalam. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. pendek (A). Orang membawa membawa beban tersebut.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok.2.2. 2. tinggi (B).7. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.6. Contoh (b) 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak.2. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. 2.9.(pers. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. Gaya Dalam Momen a). yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Mx = RA . Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . x ƛ q. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. o Balok tersebut menderita gaya lintang.4.x. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang.

(pers.10. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi . ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2.

Demikian juga sebaliknya. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2.2. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . Tanda momen (-) * Gambar 2.12.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.5. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Tanda momen 2. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat.13. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2.11. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok.

maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2.15. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.14. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. Potongan balok bagian kanan . y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang.

jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. jumlah gaya arahnya ke atas. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. gaya yang ada hanya RA. . gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. Karena RB adalah merupakan reaksi. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc).16. P Jika dilihat dari kanan potongan c. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). C RA Dilihat dari kiri potongan C.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau.

maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ).17.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). Jadi RA < P. D maka gaya lintangnya tandanya negatif. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . karena RA adalah reaksi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. A Dilihat dari kiri potongan D. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. Gambar 2.

* Tanda Gaya Normal .2.19.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. . Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N). 2. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.18. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. P P Kalau dilihat pada Gambar 3.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. maka pada batang AB (Gambar 3.6.

Jika gaya yang ada arahnya menarik balok. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .7.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- . 2.

P3 = 2t (´) P4 = 3t .8.2. Ringkasan tanda gaya dalam 2.20. q1 = 2 t/mƞ. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . P1 = 2 2 t (º). P2 = 6t (¶).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2.

21. (Bidang M. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.6 + P2 + q2.10 ƛ q2.1.12  2.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2. gaya lintang dan bidang normal.6.10 ƛ P1R. RBV 71%! RBV.6.6 ƛ q1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2. N.1 = 0 2.4  2.7 ƛ P2. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.1  6.6 + 6 + 1. yang searah diberi tanda sama.7  6.6.q1 ƛ P2.3 + P1R. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.q2.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.2 = 0 1.12 ƛ q1.4 + 2.2 .6.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.6  2.3  2.

Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = . Perletakan B = sendi ada RBH.

Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. Variabel x2 berjalan dari E ke B. DE = 0 Dx2 = q2 . jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2).6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. melampaui beban P2. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C.1ton lintang ke bawah) 2. x2 = + x2 (persamaan liniear) .

dari E ke B nilai gaya normal konstan. dimana gaya normal dihitung dari titik C.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . ND kr = . P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan.P1H = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = .4 ton Daerah BE dihitung dari kanan.7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri. batang dari D ke B nilai gaya normal konstan). ND kn = (-2 ƛ 2) ton = .

2 = . Daerah A D .4 tm. x = . sehingga tanda negatif (momen P1v .2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .P1v .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).2.

x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = . lihat pada Gambar .5)² + 11. x1 = 5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.25 tm.2 (5.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.5 ƛ 4 = 26.5.5.½ .22.5 m Mmax = .1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.

3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .½ .½ .62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan. titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .q1. 1.

Gambar bidang M. D balok diatas 2 tumpuan .5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2. N.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.286 0.22.

Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶).3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.23. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. Bidang M. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q . x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.5 24.9. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10. N. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q. N. D Balok cantilever .5 32.

2.5 ƛ 1. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.10.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.5 = 32. a) reaksi perletakan b) bidang N.5 tm ( ) MD : .1 (2. a) reaksi perletakan b) bidang N.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B . D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .3 ƛ 5.P1. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.5² = .5 t ( ) 2.3.24.6 ƛ P2.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.2 ƛ ½ .1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   .5 ton /m· . t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . Ditanyakan. P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . a). D dan M q = 1. bidang N. reaksi perletakan b).

5 ton 0 9 tm 10.11. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.5 ton 0.tekan + + + + Momen = M .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.2.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 3.5 ton 3.12.5 tm 0 Tanda/arah o o p . Penutup Untuk mengukur prestasi.

08 m D B C Nilai 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p .75 tm 4.375 ton 2. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .375 ton 2 ton 0 0 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.625 ton 4.13 tm 0.375 ton 2 ton 2 ton 4.625 ton 4.08 m kanan A A X = 3.tekan + + Momen = M + + - . 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.

distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = . qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . . dx o Kiri ada Mx .dx . ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. dx² . Hubungan Antara Momen (M) .dx. Dx dx dan qx. gaya lintang dan momen.3. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx.0 d Mx = Dx .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban.24.

Skema balok miring . Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur.25.1. balok atap dan lain sebagainya. 2.4. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Seperti pada gambar. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal).4. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga. misal : tangga.

perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. Ditanya : Gambar bidang M. 2. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan.4.2. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D.

26.1.3 ƛ P2.3 ƛ 4. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.2 ƛ P1.1 = 0 18 ! 3.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.16.2.12 ton . Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.1 = 0 RAV = 7.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.1 = 0 RAV.2 ƛ 4.4 ƛ 2.4 ƛ RAH. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .3 ƛ 4.6 ton = 2.2.a.5 ƛ 1.3.2 ƛ q.2.3 ƛ P2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.2 ƛ 2.3 ƛ 4.3 ƛ P 1.5 ƛ q.

RB = . cos E DD kn = . cos E= .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .3.6 ton Dari B ke D Dx = .3. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .// sumbu batang .3.2 ton (dari kanan) ND kr = .2 ton DD kr = -3.4 ton 4/5 .2 ton Dc kr = .6 + 2.(4 + 4 + 2) sin E = -10.x .3.B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.1.26.6 + (2 + 4 + 4) cos. sin E = -2 .6 + (2 + 4) 4/5 = 1.3.b.E! 4.(4 + 2) sin E = -6 .6 + q.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .2 .6 + q. 3/5 = -1.3. 3/5 = .6 ton NC kr = .3/5 = . 4/5 = .

x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .1.2 ƛ P. N.  .2 ƛ 4.5 tm Gambar bidang M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.1 = + 5. 3 . 3.2.6 .1 cos E = 3.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .q. 2 1  .75 ƛ 2.q.6 . D 1 t/mƞ 4t B .

Gambar 2. Seperti contoh dibawah ini. Bidang gaya dalam pada balok miring .27.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama.

Cos E) RAH = 2.12 ƛ 4).2 . sin E + RAH . 4/5] = .12 .6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton.16 .(RAV .1 .3. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.(7.12 NA kn = .1 . sin E E RAV .12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2. DB = -2 ƛ 2.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. 3/5 = 4.2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.2 + q. sin E (gaya B sumbu batang) RAH. 2. cos E . cos E (gaya // sumbu batang) RAV. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .16 . 3/5 + 2. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7. beban tekanan tanah dan lain sebagainya. NC kn = .12 . DA kn = 7.16 t D = + RAV . 4/5) t = .4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.[(7.6 ton 2.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.1.2 ton.5.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .1. 4/5 ƛ 2. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.16 .16 .3. NDkn = .5.2 + 2.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = . sin E NB = . 3/5 + 2.[(7. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.RAH .1. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah. 3/5 = .1. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.16 . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan . 3/5 = 1. 4/5] = .16 . 4/5 = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

Beban q = 1 t/m· . seperti tergambar. D dan M Soal 4 3m RB . B = rol Ditanyakan. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. P = 3 ton Ditanyakan.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. a) reaksi perletakan b) bidang N. . D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol. a) reaksi perletakan c) bidang N. D dan M 30° Soal 2 q = 1. P = 3 ton Ditanyakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. B = rol.

tekan .6 t 0 0 3 tm 0 3.88 t 3 ton 9.63 t 2. Ditanyakan.4.88 m Nilai 4.12 ton 5.815 t 4.11 tm Tanda/arah o n o p .50 t 2. besarnya merupakan fungsi x. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .88m jarak miring dr A A B C X = 2. 2.5. seperti tergambar.16 t t 2.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + . B = rol. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2. a) reaksi perletakan b) bidang N. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.tekan .50 t 1.5. D dan M 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.5.76 ton 1. ketelitian perhitungan perlu. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.

4 . B «««.l 6 q.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««. Jawaban soal no.l 6 q. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.l 3 0 0 q. X= Momen = M L 3 = 0.l 3 0 0 0 0..MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p ..06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.6 ton 0 0 5.5774 L dari A A B C X= Nilai q.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.7. Bab I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.5 ton 0 0 4. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .5. 2. ITB.5 ton 1 ton 0 0 0 0.5 ton 3. Daftar Pustaka - Suwarno.5 ton 4.67 tm 3. ƏStatika IƐ.24m dari B A B X = 2.6. UGM.24m Nilai 4. Bab I Soemono.5.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.

l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .2.a l a .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.

a l ax A Px a.l ton 2 a. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . dengan beban segitiga diatasnya. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B.l 3 1/3 l . Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.

1. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. bambu. dan profil baja. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu.30.31.6. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. . baja. bambu atau baja tersebut. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan. Gelagar Tidak Langsung 2. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang.31).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut.6. bambu.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan . melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.31.

33. Penyederhanaan awal. induk / G ambar 2. melainkan lewat perantara gelagar melintang. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. Penyederhanaan akhir. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. gel. memanjang gel.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel.6. untuk gel. melintang gel.3.2. q kg/mƞ beban terbagi rata gel. tidak 2. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. gel. memanjang P P P . induk). tida k langsung Gambar 2.32.

2P . dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2.qP² . 2P . II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. memanjang genap.P. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . P = 6q P² .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP .35. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. melintang.P/2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel.

125 q P² = 3.25 q P² Perbedaan momen (0.5P .5 P)² = 4.5 P . Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .5 P² .375 q P² . 1. 2P .½ q P .125 q P ² 8 P/2 = 3 qP . 1. ½ P = 3.½ q (1.5 P .q P .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.q P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.½ q (2P)² = 6q P² .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0. 1.1.

125 q P² = 3. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).0. 2½ P Gambar 2. lantai = 3.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.375 q P² .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . tapi kalau gelagarnya tidak langsung. namun s eperti gaya lintang beban terpusat. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.37.

q = 1.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. H A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.6. 2. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.5 t/mƞ sepanjang bentang. D. RB b).6. RB b). 2. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. . Bidang N. H A . Gaya reaksi V A. Penutup Untuk mengukur prestasi. M.6. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a).4. D.5. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. Bidang N. Ditanyakan : a).6. Gaya reaksi V A. Latihan Soal 1: q = 1.

00 t 0 5.5 t 1.75 t 0.25 t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.75 t 2. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.5 tm 0.25 tm 4.0 t 1.5 t 1.0 t 3.5 t 0 4.5 t 3.25 t 1.0 t 3.25 t 1.5 t 4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.7. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.6.0 tm 0 0 4. UGM Bab I.67 tm 3.5 ton 1 ton 0 0 0 0.5 ton 3.8. ƏStatika IƐ. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . Daftar Pustaka - Soemono. .73 tm  + + Momen = M + 2.24 m dari B A B X = 2.6.24 m 3. 2. ITB-Bab I Suwarno.

dan gaya no rmal. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. . gaya momen. tersebut berjalan suatu muatan. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut.7. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut.2. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. gaya lintang dan gaya normal.1. gaya lintang. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan.7. jika di atas struktur jembatan 2. maka didalam suatu garis pengaruh. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau.7. Jika dua hal tersebut dipadukan. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. Garis Pengaruh 2. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. atau gaya dalam M (Momen). atau N (Normal). gaya momen.

R B + G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.P.P.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .x = 0 P. Gambar garis pengaruh R A dan RB .P.l ƛ P.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B. R A RA .P.38.

R A y2 GP.39.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.R A + P=1 GP. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.40.R B Gambar 2.39 A c 1t + y3 GP. y2 atau Gambar 2.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 . maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP. dimana d c ton dan y 4 = ton.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP.beban y1 dan RB =sama 4 .R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.R B t A C a + y1 y2 GP.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.41.7. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.3.RB Gambar 2. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .

42.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2.43. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. sejarak b dari titik B. sejarak d dari titik B.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1. sejarak dari titik A. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.P.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A.R B + y3 GP.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G. R B - b/l G.P.P.44. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2. l ƛ P.P. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P. Gambar garis pengaruh gaya lintang .x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. R A l x ton (linier ) l x=a G.

45. tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a .M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB. b =  Untuk P di A x . M c ¨l a¸ b © ¹ ! . P = 1t x G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . a tm = © ¹ . a tm ª l º Untuk P di C GP R A.a x=a Mc = G.b a. tm ª l º = 0 tm Gambar 2.P.P.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) . b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . a .P.

2 = .R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP. RB. 4 = .R B 1 t 3 2 3 + GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. M D. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.M D + GP.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.R B.DD - 1 t 3 GP.R B : 7 .2 - GP. DBkn Jawab : GP.R A .RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.4 GP. MD lihat kanan bagian x M D = RB .2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .R A. DD. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.2 ! tm .

DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .R B GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.DBkr 1t GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.DD P antara A-D D D = .46.MB 2 tm GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.

.4. GP MI a) Bila beban Ditanya. GP D I. DI (-) max. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. 4t DI (+) max. MI max. M max. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. GPRB. MI max. 3m berjalan. GP RB. GPD I. max. ditanyakan GPR A. RB max. Soal 2 A 3m berjalan. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. ditanyakan GP R A.7.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2.6. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. = + 3. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. = + 9 tm Mmax. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no.5.7.1875 tm . 2.3 ton MI max. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). Penutup o Untuk mengukur prestasi.7. = + 9. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max. Max.5 ton D I (+) max. = + 5.

4 ton 0.7.Soemono.18 tm Nilai 1 ton 0 0. ITB.4 tm 1.175 ton = + 9. Daftar Pustaka . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .6 ton 0 0. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.3 ton 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.3 ton 0 0 2.Garis pengaruh - Beban berjalan . Bab I.7. 2. Senarai . MI max. 2. ƏStatika IƐ.7.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max. UGM Bab I.8. - Suwarno.3 ton 0 1 ton 1.

Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. B = rol dan C = rol. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu.1. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. a). perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. yaitu 3 buah dimana A = sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut.1. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. maka jumlah .1. 3. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV.

Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. 7H = 0. RAH. 7H = 0. Skema balok gerber 3.1.1.2. RBV. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). maka bisa didefinisikan bahwa : . 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. 7M = 0. 7H = 0. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. RBV. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber.2. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . RAH. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV.

. namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. RAH. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. . 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. B = rol. 7M = 0 dan 7M D = 0. yang masih statis tertentu. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. C = rol. R . R . 7 H = 0. 7 H = 0. disebut dengan konstruksi balok ge rber. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut.

Detail sendi gerber .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.1.3.3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3.

Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.1.4. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . dimana balok DC tertumpu di balok AB.4. 3.

maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. D B C Cara memilih : alternatif (1). alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas.1. sehingga struktur bisa diselesaikan. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0.2. sendi gerber belum ada. Apakah mungkin ? Perhatikan .6. jadi untuk sementara diterima saja. Kalau dilihat dari sub bab 3.5. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. maka konstruksinya masih statis tak tertentu.

maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). Perletakan D = Gambar 3. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). perletakan A = sendi. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . . sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. Perhatikan balok DBC. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV).7. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. RDH). D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. perletak B = rol. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c).5. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3. b2 Jika konstruksinya (a). Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.1. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2).8. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu.

perletakan B = rol (ada 1 reaksi). . dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). jadi tidak ada reaksi. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. (ada 2 reaksi). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Perhatikan balok DC (gambar b2). Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. perletakan D = sendi. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). perletakan. c = rol (ada 1 reaksi).

yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). maka balok AB bisa diselesaikan.9. Bidang-bidang gaya dalam (M. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. N. N. Penggambaran bidang M. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. N. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). Skema pemisahan balok gerber . maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C.

Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.6 ƛ 1.3 = 0 BID.= P.667 m 7 MA = 0 RS.6 + RS. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8. dengan jarak 1 m dari A.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).2 ƛ q. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . 4 ƛ P.10. Ditanya : Gambar bidang M. N Gambar 3.6. M 2. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.3 = 0 RC.3 = 0 RA.8 ƛ q.6. 4 ƛ P.6 ƛ RS.6.1. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.3 4.6.1 = 0 RS = P.6 + 1.8 ƛ 2. N.3 ! ! 3t 4 4 BID.33t 3t + 1t BID.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. A = rol C = rol . D. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.6.833 m 5.3 = 0 RC.1 4.2 ƛ 2.

x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 . 2.x 2 - = 5.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .0546 ƛ 8.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.Rs.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.667 x 2 .q x2² (parabola) 2 1 .02589 = 8.667.0287 tm.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .667-x2 ) = 0 x2 =5.x = 3. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.x-P (x-1) = 3.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.x1 = .667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.2.833)² = 16.667.x2 - Mx2 = 5.833 ƛ (2.1.

333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.5.6.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .Rc + q .667 + 2.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = . Latihan . x 2 2 = .5.6 = + 6.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.1.667 + 2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .667 t Dbkn = -5.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .

D) Suatu balok gerber dengan 1). B = rol C = rol. S = sendi gerber Beban : P = 5t.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. Atau . N. A 2 m 5m 2 m 4m 2). Rangkuman o Balok gerber adalah : . Gambar : bidang. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan .1.8. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ).bidang 3. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. dengan perletakan A = sendi. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu.

9. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol. Soal No.4 ton 7.4 ton 3.1. Penutup Untuk mengukur prestasi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. 1 Keterangan Titik A Harga 1. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu. 3.

5 ton 5 ton 5 tm 2. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. Garis Pengaruh Balok Gerber .11.1. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.5 ton 5 tm 0 7.5 ton 2.10. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2. 3. Daftar Pustaka 1.5 tm 0 2. Suwarno.1.2.5 ton 2.

2.1.2. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas .11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. 3. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c). Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. Gambar 3. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). reaksi ada di B (R B).2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.y GP.a.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.q dx Mc = ´ y. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.2.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F . MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.Mc y2 C dx P.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.

Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.Dc Gambar 3.15.

2.2.4.2.4.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.4.2. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. . 3. Pendahuluan Pada kenyataannya.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum.1. Prinsip dasar perhitungan . Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.16.

Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal .Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.Mc y4 y5 Pada posisi awal. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.17.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .

(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © . c1 c (x .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .c1 ¹  § Pr © .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x. c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .bagian kiri titik C dan .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.

12. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3. 34. 12.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C.18. . 23. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. 23.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. dan 01 (dengan skala) .

Dengan cara yang sama. . . . °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I. . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. .Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01.

1. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.19. . Jadi dalam hal ini-: dicari !!.5. 3.5. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. .2. . Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3.2. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.

P2. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5.r = R1 . P4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. R2 dan P3 atau resultante P 1. .Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.2. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B.2.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari.5. P 3. a ƛ R2 . r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. Prinsip Dasar Perhitungan . b 7 MA = 0 1 _P3 . Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.

2.5). Rt .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.3.4. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.

1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.20. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar . Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3.

1 4.1 + P3.x 6.2 = 20 . Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar. ditanyakan : GP R A .1 + 6. GP R B.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.6.21.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.45 Rt Gambar 3.2 = Rt.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.1 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0. GP R C . Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.45 r =1.2.

GP R C .2. RA 8m 2m a). P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. ditanyakan. GP M B. Rangkuman . GP R A . GP DB kanan 2 2 b). Akibat rangkaian beban M max berjalan. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. 3. GP R B. ditanyakan : MI max .7. GP R D GP M I. GP D I.

.8.2. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o . karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- .Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. 3. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu.

Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.25 t 0 0 0 0 1t 1.25 t 0 0 0 0 0 0 1.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.333 tm 0 0. 2 a).

5 t 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b). MI max = + 14 tm.

Suwarno.9. ƏStatika IƐ.2. UGM.Soemono. . Daftar Pustaka . bab V-4 3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .2. bab V . Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.05 tm.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. terjadi pada titik dibawah P 2 3. ITB.10.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. (c). N. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam.1. D) 4. dalam. a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan.1. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30.1. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. (a). . dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang.

2.1. Penempatan Titik s (sendi) . Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).1. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.1. 7 V = 0 dan 7 M = 0. 4.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). gelagar memanjang. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0. Pelengkung sungai Gambar 4.2.2.1.2. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). kedua perletakan dibuat sendi. struktur pelengkung tersebut.1. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. Dengan konstruksi pelengkung terse but.

3. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b). dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B.

x 1 HA HB II = HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.q x² diatasnya.x . maka M E-E = VA.3.4.q x12 ƛ 2 B HA.1. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.h1 B Nilai I = V A .h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.2. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 . Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang. h1 f I = VA .x1.

3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A. Gambar nilai I = V A.b1 = 0 (1) .6. 4. Cara Penyelesaian 4.1.1.h1 Gambar 4. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.5.l ƛ HA.3.1. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. (hA-hB) ƛ P1.

S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .hA ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.a ƛ HA.

masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari. 7M A = 0 VB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.H B .a1 = 0 7 M S = 0 V B . (4). HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3). Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.l .

f = 0 Bv . a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av.l ƛ P1. Bv. maka nilai Ab bisa dicari.b ƛ Ba .l ƛ P1. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.a ƛ P 1. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab . y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.S1 ƛ Ab . b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. f = 0 Av .

y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) .

II II = HA .2.1. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). bukan pelengkung. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya.HA . Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.8.9 disamping. x ƛ ½ q x² . x P Untuk balok yang lurus.1. seperti pada gambar (4.2.b l RA + Bidang D RB Gambar 4. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.3. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4.3 Gambar (c). gaya lintang (D) dan gaya normal (N).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?. y I = VA . RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . maka Mx = V A . gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M).8).9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a). dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ.a. x.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. Vx = V A ƛ q . dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E .y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !.10. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada.

11. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak . maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . x cos E = .( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan .Vx sin E.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung. Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah.

dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. Mc. N). M).13.12. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. H. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. VB.5 m dari titik A. S Ec C yc f=3 m A H 2. bidang gaya lintang (Bid.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. . Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. D) ataupun bidang normal (Bid. nilai gaya lintang.

maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . l ƛ q. ½ l = 0 VA = ½ . yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . l. ½ l = 0 VB . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x. 5. 3 ƛ ½ q .5  1 / 2 .5 .Xc ƛ H.5 ton 3 3 VA .5 ƛ 12.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B.5 m yc = 4.25 ƛ ½ .5  1 / 2.Xc² = 15 .q.5) ! 2. 3 .25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA . 25 ! ! 12.5 (10  2.yc ƛ ½ .3.5m Gambar 4. 3 . di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga.H . reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.14.l.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2. l ƛ q. 2.2.3. 2. (5)² = 0 H= V .5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.q (5)² 15. 2.

5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.(7.4312 ƛ 6.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.8575) = .5 .5 .15.sin Ec + Hc cos Ec) = .(Vc.5774 ton.8575 ƛ 12.x = 15 ƛ 3. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .5145 + 12. Nc = -14. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.2.5145 = 6. 0.5 ton ( o) Hc = H = 12. 0. Contoh 2 xc=2.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.5 . hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal . Dc = 0. Vc = VA ƛ q.5 . 0.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.5 = 7.14. 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.

16. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.

08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .3.08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1.08 ƛ 1.6 . 5 ƛ HB . 1. 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.92 = 0 VB . ½ l ƛ H B .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .152 .92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .yp = 0 VA .P. 3 ƛ 6 .1.92 = 0 (cocok) .5. 1. 10 + 6 .76 ƛ HA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1. 1.92 ton ( n)  5. 10 . ½ l ƛ HA .76  6.92) = 0 .152 .2 (10  2) ! 1. f = 0 1. l . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 . l + P. 5 ƛ HA .yp = 0 VB .48 ! 4. 3 = 0 HB = 1.

152 . 25 ƛ 6 (2. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.Xc + HA .152 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M. cos E = 0.2. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.25 m Ec = 30. = -1.08 = 1.5145 Dc = .25 ƛ = .92 .17.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.5 + 4.8575 ƛ 1.92 ( ) 0.92) = -1.08 . 0.98 HB = 4.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .88 + 9.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.V A .8575 Mc = . 2.5145.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.18 ƛ 1. 2.96° sin Ec = 0.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. Nc. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B.5145 ƛ 1. VB.92 . Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). Mc. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. 0.1. HA. 0. HA. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. VB. Nc. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA.4. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m .1.0537 ton 4.152 .8575 = . HB. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). HB. Mc. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.

1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.5 ton 4.667 ton 4. Sedang bidang momen.8 o o p n .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. Penutup Untuk mengukur prestasi.667 ton 2. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.5 ton 6. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.6 0. Soal No.75 0.5. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks. 4.25 m 0.6. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.1.

. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.3672 tm 2.64 0.184 ton 5. bab 2. UGM.842 7. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.8336 ton (-) (-) Soal No.9675 ton 3.36 m 0.9675 ton 5. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan). bab 4.8.539 0. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.5625 tm ~0 5.226 ton 4.7.774 ton 1. Daftar Pustaka 1.1. Soemono ƠStatika Iơ ITB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.1.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.

2.P.2. VB . b = f V B .P. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. x = 0 Untuk P di B .2. f = 0. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. b f VA . x = l G.2.P. 4. b ƛ H .18.f Untuk P di A . 6 MA = 0 VA H l a G. H P. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. b l . s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.P VA (+) 1t G.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A .2. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. Garis pengaruh V A. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan.1.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . a. Garis Pengaruh Reaksi x P S G. 4.3 Prinsip penyelesaian. a .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan. V B dan H Px ) l . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. a f Px b . x = 0 1t Untuk P di B .

C = G.b c l . H x C v P. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA .P. u .f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. v .P. x = a H=0 P. a .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . M C pada balok di atas dua perletakan l G. B H b MC = VB . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . R l C u VA VB Bagian II H. v sama dengan G. bagian I (+) P .H . M C = VA . maka lihat kiri potongan (kiri C).f v G.f G. u . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B .v l G.b ton H= l . x = 0 p H = 0 Untuk P di S .P. a . u .P. a.P. u dan V B .H . x = l Untuk P di S . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) .P. f ton H= 6 MS = 0 VA .f = 0 a H = VA .b ton l. x = a p H = P. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.

Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.f . Gambar GP.H sin D I II I -> identik dengan G.19. sehingga: NC = . a . N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D. VA sin D dan V A cos D.) v sin E H b l GP VB sin GP.Mc C.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D . Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G.P. NC bagian I Q sin E l (+) ( .P.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4. V A Sin D D GP NC Bagian II () P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G. b cos E l .P.

D C a b sin E l. untuk GP.20.P. NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP. f Gambar 4.b cos E l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a .DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.P. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. Gaya lintang G.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H). Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) . G.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q .24. . ½ P + (b/P ). ½ P = ½ q P R2 = q . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . (a). . . . Kondisi pembebanan kolom (b). P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - .

e-HA. . sin E + Hcos E) Dc = Vc.Yc Vc = VA.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. Pendahuluan . R3. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar. . R2.4.25.4. Menjadi (R1. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.Xc-R2.1.Yc Nc = -(Vc . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.5 ton a R1 R2 C R3 S e . . .Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. Cos E .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh. . Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.e-HA. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. .Xc-R2.5 ton R5 = 1.

4. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. (1 ton. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.26.2. dengan ordinat 1. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel.N.33 P 54.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. P .5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.Y2). Jika letak . Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. P .D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. P .33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D.33 P 54. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. 4. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M. P .5 P .25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. atau 1 kg atau Newton) . 2.5P . maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara.Y1 + P2. A C I D E ½ ½ P P + 1.

27. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Dc dan Nc . Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Gambarkan Garis pengaruh Mc . M I gel. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP.

a .b sin E lf pemaparan Gambar 4. Mc total (bag I + bag II) - II + P.b cos E lf pemaparanG.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.b yc l. Judul : Portal 3 sendi 4.Y l P.Q. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan. Pendahuluan . 4. f H R VB H VA Q .a .Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung. GP Mc = V .a .P. S .P.Nc = . a .Dc = Av cos E .b yc l.f G. b GPMc bagian I P. 28.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.5.yc A  ] II I .f G.a. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.x  H.H sin E Cos E P. C yc .P.1.Q. .

29. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. 4. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. bisa berupa balok menerus. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I .2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. balok gerder.5.

30.h ƛ P 1 . 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.hƞ ƛ P 1 .l + HB.l + HB. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. (h ƛ hƞ) ƛ P2 . S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.l + HA. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. b1 ƛ P2 .hƞ ƛ P2 .a + HA. b2 = 0 VA. a2 ƛ P1 . S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II . a1 = 0 VB.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .

f ƞ Bv. S 1 ƛ AB .b 2 l 7 MA = 0 Bv. S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB . f = HA .l ƛ P1 .b ƛ P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. S 2 f Nilai BA . f = 0 BA = Bv .a  P1 . f = 0 . S 2 ƛ BA .b1  P2 . a1 ƛ P2 . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . a2 = 0 Bv = P1. f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . b 1 ƛ P2 . f ƞ Av.l ƛ P1 .a 2 l Nilai A B . f = HB .a 1  P2 . b 2 = 0 Av = P1.a ƛ P1 . b  P2 .

6 ± 4. selesaikanlah struktur tersebut.32. 1.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av. 1.5ƛ HA. P =1 Penyelesaian. 2/6 = 0. 3ƛ2.5 ± 4.3 .3. 38 ! 1.4333 ( q) Bvƞ = 0.6 ± 2.l ± P.5 - P.3 . 3 .5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4. 4.5 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 . tg E Avƞ = 1. 3 .q . 1.l ± q .3 ton .5 ± 2.3 .3 ton Avƞ = H A . m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1. 4.5 = 0 Bv Av.1 = 0 Av.4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .

3t B B 5.3t 4.4333 m = 4 5/6 + 0.2666 t .7334t 1.7334 + 5.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.4333 = 4.4333 = 5.7334 t VB = Bv + 0.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.

1 ƛ 7.3667 ƛ ½ . Bidang M.3667 Mx = -HA .7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.5. 6 = .3667 ƛ ½ .2 + 11.2666 t Mx = -1. 2.2666 t x=3m Ds = 4.3 ton Daerah B-D 5.7334 ƛ 6 = -1. 2 (2.2 tm - S D 7.8 1.3667)² = -5.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.3 t 1.7.3t Dx = VA ƛ qx 1.2666.20254 ƛ 5.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .3 t 1.40127 tm (M max) MD = -HB .4 = .8 tm - Mc = -HA .3 .7334 t BIDANG N - Di S 5.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.32.3 . 4 + 4.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.3667 m (daerah cs) x = 2.3 t Gambar 4.1 H B.2666 t = 0.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.6 = 5.3. 4 = -1.60127 5. N. 6 = -1. 2.7334 ton Daerah C-D = -1.3 t = .C A x 4. q (x²) .7334 . 4 + VA .3 t 4.

JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. maka untuk memperpanjang bentang.33.6. 4. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian.6.2.6. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu.1. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa.34. . - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4.

merupakan struktur yang menumpu. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya.35. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut.3. . RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya.6. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4.

7. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.1. Contoh Penyelesaian . S (b) B GA ambar 4. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.7. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada.7.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4.36. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.7. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. 4.2. Pendahuluan Seperti biasanya.3.

RB b.d l.f ! l.a l cb l GP. f l d.RA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.f GP.H u.b .c l .R B + c l + + d l a.ND=G P.f GP.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.b l .v l a.DD Q l GP.M D cb l Gambar 4.RA a. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.b a.37.f - + + GP.

f = 0 H = RB . b ƛ H. R B f P di E RB = c c l c.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB . b .p nilai H.p. ~ g. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.b p H ! x p ND !  l l f lf .RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP. N D Garis pengaruh N D sama dengan g.

MD P berada antara D C M D = RA . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. f = Garis pengaruh H x f.8.f = 0 H= R A . 4.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .V l II = H . p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .a f P di S b a ab RA = b p H ! .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. p N D !  l l f l f P di S 1 GP. a ƛ H. Q .H .

P. G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. G. G.P NC kanan. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal. N C . . ditanyakanL G. H. G. G.D C .P N C bawah .P D C bawah.P. G.PH. ditanyakan : G. G. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. G.P.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung.P. VA .P.P VA . 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. G.

Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.1175t 0 0 0.5 0.447t 0.5t m 1. Rangkuman 4.10. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .447t 0 0 0 1.782t 1. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.9.447 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.335t 0.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.333t 0 0 0.11.384t 0.084t 1. Daftar Pustaka Suwarno.333t 0 0 0.336t 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.60t 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.40t 0 0 1. UGM Bab VI dan VII .25t 0.20t 0.

JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.) . Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.12.1.R. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.B.

1. 5. Rangkaian dari material bambu. ba mbu atau baja. 5.2.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. tapi kalau materialnya dari kayu.3. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. Jika materialnya dari beton. . Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. maka kita harus merangkai material tersebut. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang.1.

1.5. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. paku keling atau las.5.1. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. . Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p).1. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.R. Bentuk K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. 5. Pada konstruksi kayu memakai baut.B. pasak atau paku.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.3. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. . Detail I.R. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.2.

1. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.B. Bidang.R.R.5.4.B. Ruang terdiri dari 2 K. bawah (ikatan angin bawah) K.B.B.R. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.2.R. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.B. sisi 1 K.B.R. Pada Jembatan K. atas (ikatan angin atas) 1 K.R.B. Gambar 5.R.

R. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.R.5. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.B. Konstruksi rangka batang bidang .B. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan . Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.5. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.3.

Rumus Umum Untuk K.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.B. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.1. r = jumlah reaksi perletakan 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.B.6.4. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .R.15.R.

6.R.7. 1. Cara grafis dengan metode Cremona . Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.1. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.Kx = 0 dan 7 .Ky = 0 b. Keseimbangan titik buhul a. Cara analitis dengan menggu nakan 7 . Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.

P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul.8. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. Metode Potongan : a.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. Metode Penukaran batang 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. b. Cara Analitis Metode Ritter b.1. y 7H=0 7. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat.Kx =0 7.V = 0 ata 7. Cara Grafis Metode Cullman 3. a. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja.

2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c.

A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1.9.4 .1. B2 dan B1ƞ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. .9. V2 dan V 1ƞ. selesaikan struktur tersebut. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . 4 P . A2 dan A 1ƞ. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . tiap -tiap batang perlu diberi notasi. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. 4 P . Untuk batang atas diberi notasi A 1. D2 dan D 1ƞ. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5.4 . B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.

Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui.R. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan.B. Dalam penjumlahan. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5.10. gaya yang searah diberi tanda sama. .

3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= . V1 = . 2 7V=0 . 2 A1 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.½ D 1 A1 = .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 3 2 .½ .

2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .1t (tekan) .2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). Gaya ƛ Reaksi B b). D3 1t ƛ ½ . Gaya reaksi b). 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ .1.gaya batang RB . 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. P2 = 3t Ditanyakan : RB P a).10. Gaya. Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. Beban .

000 t 2.20 t 4.12. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + . atau gaya tekan.808 t 4. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.1.555 6.835 0.667 t 5.00 t 6. 5. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.1.00 t 1. Pencarian gaya-gaya batang. bisa berupa gaya tarik.333 t 6.20 t 1. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. 667 t 6.333 t 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.11. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.

13.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. - Daftar Pustaka Suwarno. ƏStatika IƐ.1.14. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. UGM Bab Soemono. bab 5.1. . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.