MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

OABC .2. . pertemuannya di titik 0. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. .Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. tapi masih sebidang. ar 1.. tapi titik tangkapnya tidak sama.

K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. Urut-urutan penjumlahan. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. K2 dan K3.4.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. . Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.5.

D F E.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. K3 .

Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. b. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. K2. K2. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . garis . perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. K3 dan K4 yaitu R. dan e. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a.Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. Garis-garis tersebut dinamakan .6. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). c.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. d. K2.

K2. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . K3 dan K4. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ.4. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. K2. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x .7.2. . Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. diproyeksikan.1. . Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O .

Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. secara analitis K1x = K1 cos E . K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy.

Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. 3. 1. K2. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang.6. K3 dan K4. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton.1. . Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2.1. Latihan 1. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar.5.

soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. sedang soal no. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. Soemono. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis.5° dari sumbu x R = 11. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1.5° dari sumbu x R = 12.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. 2. Samuel E.9.1 ton sdt = 22.1 ton sdt = 22. Bab I 1. Daftar Pustaka 1.7. 3. secara bertahap. French. 3 hanya berupa grafis. Penutup Untuk mengukur prestasi. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. Bab I.1.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1. Suwarno.8. No.1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. ƏStatika IƐ ITB.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. apa itu beban. mengerti tentang beban.9.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1.2. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. reaksi dan gaya dalam. balok. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. balok.2. reaksi. kolom. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. kolom. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik.1. 1. Contoh : a. jembatan dan lainsebagainya. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik.

misal : meja. balok perletaka n Gambar 1. peralatan dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.10.2.1. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. a. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik.2. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1.2. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . kendaraan. dan lain sebagainya. a.

kg. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . Gambar 1. dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton.12.11. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. Newton. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. Gambar 1. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya.

Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung.3. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur.1. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. jembatan. 1.2.3. konsep pengertian tentang perletakan. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. Contoh : a. dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1.2. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur.

14. jepit dan perodel. maka oleh rol tersebut dari atas. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik.2. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. sendi. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. a. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1.3. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b.2. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. (Gambar 1.13.15. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. . pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. perletakan Gambar 1. ada reaksi vertikal.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur.

yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal.17. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). oleh Rv Gambar 1. Jadi sendi tidak mekanika teknik.17).18. Rv RH c. Karena struktur harus stabil.16.

21. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . balok baja pendel Gambar 1.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. horizontal. ada reaksi searah pendel. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik.21. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.20.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. dan momen Gambar 1. ada reaksi vertikal.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.22. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. mahasiswa perlu mengetahuinya. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun.23.3. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri.2.3. dan bagaimana cara menyelesaikannya. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. jembatan dan lain sebagainya. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. a.3. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. Keseimbangan vertikal . tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling.1. hal itu merupakan syarat utama. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. 1. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja.

Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Kotak Gambar 1. maka kotak tersebut langsung tenggelam. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv).25) Gambar 1. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal.24.25. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. (Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa turun. Kotak tenggelam dalam lumpur b.

sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). karena tidak ada yang menghambat. PM Kotak Lem Meja .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). maka kotak tersebut langsung bergeser. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM).26. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM).27) Gambar 1. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat).27.

Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. Keseimbangan statis . meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). yang RH berarti harus stabil.30. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). dan tidak bisa terangkat. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. benda tersebut harus tidak bisa turun. momen maka kotak tersebut bisa terangkat.29. RM Gambar 1.

maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).4. Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). maka syarat minimum RM = PM atau RM .  Dari variasi tersebut diatas.PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). atau RV . Latihan 1.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. 1.PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang. tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV).3.

5. Penutup .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. notasi. 1. P. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. Rangkuman o Macam-Macam Beban . notasi.3. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. q.Beban terbagi rata.Sendi punya 2 reaksi .Jepit punya 3 reaksi .6.Rol punya 1 reaksi . Rv = ? 2. satuan.3. kg atau ton atau Newton . satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan .Beban terpusat.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.

7. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I.3.3. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. 2. Suwarno. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1.8. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1. Daftar Pustaka 1. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi.

Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. 2. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.1. seperti gedung-gedung. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks.1. jembatan dan lain sebagainya.1. ada beberapa macam sistem struktur. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.

2. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.1. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan.1.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.1. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Contoh a).3. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. 2. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.

3. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. Konstruksi statis tidak tertentu . Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. A B Gambar 2. b).2. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu.4.

1. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar.6.1.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. Latihan a).1. b). Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.4. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. Perletakan A dan C sendi. Penutup Untuk mengukur prestasi. 2.5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2.

7. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.8.2. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. Jadi konstruksi statis tidak tertentu.1. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. kayu.2.1. baja dan lain-lain. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2.1. Jadi diatas adalah statis tertentu. 2. Daftar Pustaka 1. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. Contoh (b) 2. tinggi.3. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.6. memerlukan gaya dalam. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. P1 A L1 Gambar 2.7. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. satu kecil. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. pelat. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. Gambar 2. kolom. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b).2. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. P P Untuk A orangnya pendek. pendek (A). tinggi (B). yang satu lagi besar. dansebagainya). dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . 2.2. demikian juga untuk orang B. Orang membawa membawa beban tersebut. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg.2.8. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. Contoh : a). Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap.5. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

4. o Balok tersebut menderita gaya lintang. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. Gaya Dalam Momen a). Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ.(pers.2.x. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. x ƛ q. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N.9. 2. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Mx = RA .

2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . (pers.10.

½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Tanda momen 2. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. Demikian juga sebaliknya. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif.13.5. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2.12. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda.2. Tanda momen (-) * Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.11. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . GayaRA RB gaya tersebut adalah RA .

14. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. Potongan balok bagian kanan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang.15. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.

Karena RB adalah merupakan reaksi. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah.16. . jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. C RA Dilihat dari kiri potongan C. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. P Jika dilihat dari kanan potongan c. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). gaya yang ada hanya RA. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. jumlah gaya arahnya ke atas. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah.

17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). karena RA adalah reaksi. A Dilihat dari kiri potongan D. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. Jadi RA < P. D maka gaya lintangnya tandanya negatif.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif.17. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas.

baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).2. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.19. * Tanda Gaya Normal . maka pada batang AB (Gambar 3. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok.18.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. P P Kalau dilihat pada Gambar 3.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2.6. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. . 2.

Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .2. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .7.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok. 2.

q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . P1 = 2 2 t (º).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. P2 = 6t (¶). q1 = 2 t/mƞ. Ringkasan tanda gaya dalam 2. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.2.8.20. P3 = 2t (´) P4 = 3t .

yang searah diberi tanda sama.6 ƛ q1. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.q1 ƛ P2. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.6.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.q2. gaya lintang dan bidang normal.6. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.7  6.1  6.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .3 + P1R.1.7 ƛ P2. RBV 71%! RBV.12 ƛ q1.4  2.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas. (Bidang M. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.12  2.3  2.21.2 = 0 1.1 = 0 2.4 + 2.6 + 6 + 1.10 ƛ q2. N.6.6.6 + P2 + q2. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.10 ƛ P1R.2 .6  2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = . D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . Perletakan B = sendi ada RBH. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .

melampaui beban P2.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . x2 = + x2 (persamaan liniear) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). DE = 0 Dx2 = q2 . DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .1ton lintang ke bawah) 2.6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B). Variabel x2 berjalan dari E ke B.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban.

7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. ND kr = . dimana gaya normal dihitung dari titik C.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. dari E ke B nilai gaya normal konstan. NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).P1H = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = .

2.2 = .P1v . x = . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).4 tm. Daerah A D .2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = . sehingga tanda negatif (momen P1v .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .

x1 = 5.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2. lihat pada Gambar .5.25 tm.5 m Mmax = .½ .5)² + 11.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.2 (5.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.5.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.5 ƛ 4 = 26.22.

62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.q1.3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .½ .½ . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = . 1.x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .

D balok diatas 2 tumpuan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.22. Gambar bidang M.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.286 0. N.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.

x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. D Balok cantilever .1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. Bidang M. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .5 24. N.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.9. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.5 32. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.23.2. N.

C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.2 ƛ ½ .3 ƛ 5. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.5 ƛ 1. a) reaksi perletakan b) bidang N.10.3.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.6 ƛ P2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B . a) reaksi perletakan b) bidang N.5 = 32.2. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .1 (2.P1.24. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.5 t ( ) 2.5 tm ( ) MD : .1.5² = . Latihan Balok diatas 2 tumpuan.

P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . D dan M q = 1. Ditanyakan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . reaksi perletakan b). t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . a). bidang N.5 ton /m· .

12.5 ton 0.tekan + + + + Momen = M . 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 0 9 tm 10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 ton 3. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.5 tm 0 Tanda/arah o o p .11.5 ton 3. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.2.2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.625 ton 4. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .375 ton 2 ton 0 0 7.375 ton 2 ton 2 ton 4.75 tm 4.13 tm 0.375 ton 2.0 tm 0 Tanda/arah o o p .08 m kanan A A X = 3.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.tekan + + Momen = M + + - .625 ton 4.08 m D B C Nilai 4.

24. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . gaya lintang dan momen. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.0 d Mx = Dx . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx). dx o Kiri ada Mx .qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. Dx dx dan qx. dx² . ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx.dx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q. . Hubungan Antara Momen (M) . distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .3.dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan.dx .

terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2.1.25. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. misal : tangga. balok atap dan lain sebagainya. 2. Skema balok miring . Seperti pada gambar.4. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2.4.

Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok.2. Ditanya : Gambar bidang M. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. N. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan.4. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. 2.

2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.1.1 = 0 RAV = 7.26.5 ƛ 1.2.12 ton .3 ƛ P2. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.1 = 0 18 ! 3.3.3 ƛ 4.5 ƛ q. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .2 ƛ q.4 ƛ 2.2 ƛ P1.1 = 0 RAV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.4 ƛ RAH.16.a.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.2.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.3 ƛ P2.3 ƛ P 1.3 ƛ 4.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.6 ton = 2.3 ƛ 4.2 ƛ 4.2 ƛ 2.

B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.E! 4.6 + (2 + 4) 4/5 = 1. 3/5 = -1.3/5 = .3.3.// sumbu batang .(4 + 4 + 2) sin E = -10.1.6 + (2 + 4 + 4) cos.b.RB = .2 ton (dari kanan) ND kr = .3.2 .3. 3/5 = . 4/5 = . cos E= .26.6 + 2.(4 + 2) sin E = -6 .3.6 + q. sin E = -2 .2 ton Dc kr = .6 + q.6 ton NC kr = .2 ton DD kr = -3.3.4 ton 4/5 . cos E DD kn = .6 ton Dari B ke D Dx = . Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .x .

2.1.5 tm Gambar bidang M.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .q.1 cos E = 3.75 ƛ 2.6 .1 = + 5.2 ƛ P.6 .4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .2 ƛ 4.q. D 1 t/mƞ 4t B . 3. 3 . N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.  . 2 1  .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Seperti contoh dibawah ini. Bidang gaya dalam pada balok miring . Gambar 2.27.

12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.1.6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton.(RAV . 3/5 + 2.1.2 .12 .[(7. NDkn = .R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.RAH .12 ƛ 4). 3/5 = . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan . sin E + RAH . Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . sin E NB = .12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2. 4/5) t = .2 ton. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.16 . 3/5 = 1.16 .16 . Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .3.1.2 + q. 4/5] = .12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.1 . beban tekanan tanah dan lain sebagainya. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata. DA kn = 7. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.2 + 2.16 t D = + RAV .6 ton 2.5. cos E . 3/5 + 2.5. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = . sin E E RAV . 4/5] = .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .1.1 . 2.16 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. 3/5 = 4. 4/5 ƛ 2. NC kn = .(7.12 .3. 4/5 = .16 . cos E RAH diuraikan menjadi : RAH. DB = -2 ƛ 2. Cos E) RAH = 2. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .[(7. cos E (gaya // sumbu batang) RAV.16 .12 NA kn = .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. . seperti tergambar. Beban q = 1 t/m· . B = rol. B = rol Ditanyakan. B = rol. P = 3 ton Ditanyakan. a) reaksi perletakan c) bidang N.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. a) reaksi perletakan b) bidang N. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . P = 3 ton Ditanyakan. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . D dan M Soal 4 3m RB . a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M 30° Soal 2 q = 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi.

besarnya merupakan fungsi x. 2.815 t 4. B = rol. D dan M 2.88 m Nilai 4.50 t 1.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + . Ditanyakan.5.5.88m jarak miring dr A A B C X = 2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.tekan .6 t 0 0 3 tm 0 3.12 ton 5. ketelitian perhitungan perlu.88 t 3 ton 9.76 ton 1. Penutup Untuk mengukur prestasi.11 tm Tanda/arah o n o p . seperti tergambar.tekan .5. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .16 t t 2. a) reaksi perletakan b) bidang N. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.4. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.50 t 2.63 t 2.

2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p . 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.l 3 0 0 q.5774 L dari A A B C X= Nilai q. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3..6 ton 0 0 5.l 6 q.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. 4 . X= Momen = M L 3 = 0.l 3 0 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no. B «««.. Jawaban soal no.l 6 q.

Daftar Pustaka - Suwarno.67 tm 3.5 ton 4.5 ton 1 ton 0 0 0 0. UGM.5.24m Nilai 4.5 ton 0 0 4. ƏStatika IƐ. Bab I.6.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.7. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. Bab I Soemono.5 ton 3. 2. ITB. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .5.24m dari B A B X = 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.2.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .a l a . x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .

l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar.a l ax A Px a. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. dengan beban segitiga diatasnya.l 3 1/3 l . Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .l ton 2 a.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2.31). maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. bambu atau baja tersebut. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu.1. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2.6.31. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. bambu. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. baja. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. . bambu.30. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. dan profil baja. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.6. Gelagar Tidak Langsung 2.

memanjang Potongan Melintang Gambar 2.31. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .

melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. melintang gel. tidak 2.6. untuk gel. tida k langsung Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2.32. induk).33. memanjang P P P .6. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel.2. induk / G ambar 2. gel. gel.3. Penyederhanaan akhir. melainkan lewat perantara gelagar melintang. q kg/mƞ beban terbagi rata gel. Penyederhanaan awal. memanjang gel. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel.

2P . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel.P/2 . melintang. P = 6q P² .qP² .P.q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. memanjang genap.35. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. 2P .

½ q (1.1.½ q P .125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .½ q (2P)² = 6q P² .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.5 P)² = 4.q P .375 q P² . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.25 q P² Perbedaan momen (0.125 q P² = 3.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0. 1. 2P .5P .q P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3. 1. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .5 P² .5 P .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel. 1.5 P . ½ P = 3.

Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung .0. namun s eperti gaya lintang beban terpusat. 2½ P Gambar 2. tapi kalau gelagarnya tidak langsung.375 q P² .125 q P² = 3. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.37. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata. lantai = 3. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M.

6. Bidang N. RB b).6.4. H A. Latihan Soal 1: q = 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. 2.6. Bidang N. RB b). H A . Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.5 t/mƞ sepanjang bentang.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. q = 1. Ditanyakan : a). 2. Gaya reaksi V A. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. D. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a).5. Penutup Untuk mengukur prestasi. M. Gaya reaksi V A.6. . D.

0 t 1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.75 t 0.5 t 1.25 t 1.0 t 3.25 tm 4.75 t 2.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.25 t 1.5 t 0 4.5 t 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.5 t 1.5 tm 0.25 t 1.0 t 3.5 t 4.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .00 t 0 5.

. Daftar Pustaka - Soemono. UGM Bab I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.5 ton 3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .6. ITB-Bab I Suwarno. ƏStatika IƐ.7.5 ton 1 ton 0 0 0 0. 2.6.67 tm 3.8.24 m 3. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.24 m dari B A B X = 2.0 tm 0 0 4.73 tm  + + Momen = M + 2.

1. gaya momen. maka didalam suatu garis pengaruh. . tersebut berjalan suatu muatan. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. jika di atas struktur jembatan 2. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. Jika dua hal tersebut dipadukan. atau gaya dalam M (Momen). atau N (Normal). Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. gaya lintang. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. Garis Pengaruh 2. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan.7. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah.7.2. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. dan gaya no rmal. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh.7. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. gaya lintang dan gaya normal. gaya momen.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2.

R A RA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.l ƛ P.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.P.P. l ƛ P (l-x) = 0 P(l . Gambar garis pengaruh R A dan RB .P.x = 0 P.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.P.38.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2. R B + G.

R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.R A y2 GP.RB Gambar 2.40.7.R B Gambar 2.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B. dimana d c ton dan y 4 = ton.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.beban y1 dan RB =sama 4 . Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.3.R B t A C a + y1 y2 GP.41.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2. y2 atau Gambar 2. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2.39 A c 1t + y3 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.39.R A + P=1 GP.

Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.P. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.43. sejarak d dari titik B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. sejarak b dari titik B. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. sejarak dari titik A.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.42.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B .R B + y3 GP. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.

P.44. l ƛ P.P. Gambar garis pengaruh gaya lintang .P. R B - b/l G.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G. R A l x ton (linier ) l x=a G. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.

b =  Untuk P di A x . a . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . M c ¨l a¸ b © ¹ ! .P.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . a tm = © ¹ . Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.P.P.b a. P = 1t x G.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . tm ª l º = 0 tm Gambar 2.a x=a Mc = G. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . a tm ª l º Untuk P di C GP R A.45.

R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.2 - GP. M D. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2. 4 = . RB. DD.DD - 1 t 3 GP.R A.4 GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 . MD lihat kanan bagian x M D = RB . DBkn Jawab : GP. 2 = .R A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3.R B : 7 . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.2 ! tm . M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.R B.M D + GP.R B 1 t 3 2 3 + GP.

DD P antara A-D D D = .D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .MB 2 tm GP.R B GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.DBkr 1t GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.46.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .

RB max. GPRB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. GP D I. ditanyakan GPR A. max. DI (-) max.4. . GP RB. MI max. Soal 2 A 3m berjalan. 4t DI (+) max. 3m berjalan. M max. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. MI max. GP MI a) Bila beban Ditanya.7. GPD I. ditanyakan GP R A. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC.

o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. = + 9.5.1875 tm .7.3 ton MI max.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. 2. = + 5. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. Max.5 ton D I (+) max. = + 9 tm Mmax. = + 3. Penutup o Untuk mengukur prestasi. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.7. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.

Senarai . MI max.7.3 ton 0 0 2.4 ton 0. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.6 ton 0 0.7.8.Soemono. ƏStatika IƐ.175 ton = + 9.3 ton 0 1 ton 1. UGM Bab I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.7.3 ton 0 0.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.4 tm 1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . Daftar Pustaka . Bab I. 2.Garis pengaruh - Beban berjalan .18 tm Nilai 1 ton 0 0. ITB. 2. - Suwarno.

1. maka jumlah . ( yang mempunyai lebar > 100 m ). Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. yaitu 3 buah dimana A = sendi. 3. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV.1. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. B = rol dan C = rol. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah.1. a).

1.2. 7H = 0. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. 7H = 0. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. RBV. RBV. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. maka bisa didefinisikan bahwa : . RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). Skema balok gerber 3. 7M = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . RAH.2. RAH. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. 7H = 0. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3.1.

namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. .

7 H = 0. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. 7 H = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. yang masih statis tertentu. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. . 7M = 0 dan 7M D = 0. R . R . RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. B = rol. disebut dengan konstruksi balok ge rber. C = rol. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. RAH. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3.3.3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton. Detail sendi gerber .1.

4. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . dimana balok DC tertumpu di balok AB. 3.4.1. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.

dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber.6.1. sendi gerber belum ada. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. sehingga struktur bisa diselesaikan. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru.5. jadi untuk sementara diterima saja. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0.2. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. Apakah mungkin ? Perhatikan . untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. D B C Cara memilih : alternatif (1). Kalau dilihat dari sub bab 3. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. maka konstruksinya masih statis tak tertentu.

7. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. perletak B = rol. Perletakan D = Gambar 3. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). Perhatikan balok DBC. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). karena kedua perletakan B dan C adalah rol. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). perletakan A = sendi. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. RDH). mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

5. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.8. demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3. b2 Jika konstruksinya (a).1. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2).

c = rol (ada 1 reaksi). Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. (ada 2 reaksi). Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). Jadi alternatif (C) adalah mungkin. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). perletakan D = sendi. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). Perhatikan struktur balok DC gambar (C2).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). perletakan B = rol (ada 1 reaksi). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). jadi tidak ada reaksi. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . Perhatikan balok DC (gambar b2). dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. . perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. perletakan.

N. N. N. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). maka balok AB bisa diselesaikan. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3.9. Penggambaran bidang M. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). Skema pemisahan balok gerber . maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. Bidang-bidang gaya dalam (M. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB.

833 m 5.2 ƛ q. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.3 4.3 = 0 RC.6 + RS.6. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.6 ƛ 1.3 ! ! 3t 4 4 BID. 4 ƛ P. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.6 + 1.3 = 0 RA. . A = rol C = rol . 4 ƛ P. N.3 = 0 BID. N Gambar 3. M 2.= P. dengan jarak 1 m dari A.6.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.3 = 0 RC. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . Ditanya : Gambar bidang M.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB. D.6. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.8 ƛ q.2 ƛ 2.8 ƛ 2. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).6.10.1 4.1 = 0 RS = P.667 m 7 MA = 0 RS.33t 3t + 1t BID.6 ƛ RS.6.

x1 = .667-x2 ) = 0 x2 =5.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .q x2² (parabola) 2 1 . Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.0287 tm.2.667.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.x2 - Mx2 = 5.02589 = 8.x-P (x-1) = 3.833)² = 16.1.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.667 x 2 .x 2 - = 5.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.0546 ƛ 8.833 ƛ (2.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.667.Rs. 2.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .x = 3.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.

667 + 2. Latihan .6.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .5.5.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = . x 2 2 = .6 = + 6.667 + 2 . x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.667 t Dbkn = -5.Rc + q .667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.1.

D) Suatu balok gerber dengan 1).1. N. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. Atau . tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar.bidang 3. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . B = rol C = rol. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan .8. S = sendi gerber Beban : P = 5t. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. Rangkuman o Balok gerber adalah : .Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. A 2 m 5m 2 m 4m 2). Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. Gambar : bidang. dengan perletakan A = sendi. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB.

o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut. 3.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. Penutup Untuk mengukur prestasi.1.9.4 ton 7. 1 Keterangan Titik A Harga 1. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.4 ton 3. Soal No.

5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3. 3.10.5 ton 2.1.5 ton 2. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.1. Suwarno.5 ton 5 ton 5 tm 2. Daftar Pustaka 1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.5 tm 0 2. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. Garis Pengaruh Balok Gerber .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.5 ton 5 tm 0 7.2.11.

Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan.11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. 3.2. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). reaksi ada di B (R B). RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.1.2. Gambar 3. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N).2. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

Mc y2 C dx P.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.q dx Mc = ´ y. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.a. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .y GP.3.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.2.

Dc Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.15. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .

Pendahuluan Pada kenyataannya.4.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. .2.2.4. .2.2. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.1. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. Prinsip dasar perhitungan . Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.4. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. 3.16. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l.17.Mc y4 y5 Pada posisi awal. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x. c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : . c1 c (x .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.c1 ¹  § Pr © .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .bagian kiri titik C dan .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .

34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. dan 01 (dengan skala) .di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. 12.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. 23.18. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.12. 34. .Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . 23.

. * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah. sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. .Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12.Dengan cara yang sama.Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. . °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.

Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I.5. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi.2. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. 3.5. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.19.2.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. . .Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum. . Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.

Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. . b 7 MA = 0 1 _P3 .Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. P2. a ƛ R2 .x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = .5. Prinsip Dasar Perhitungan . Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B.2.r = R1 . Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.2. R2 dan P3 atau resultante P 1. P 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. P4. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5.

P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.2.5).3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1. Rt .4.

20. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3.

1 4. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0. GP R C .45 r =1. GP R B.45 Rt Gambar 3.1 4.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.21. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2. ditanyakan : GP R A . Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.2 = Rt.2 = 20 .6.2. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.1 + 6.1 + P3.x 6.

GP R C . P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. GP R D GP M I. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP M B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. GP D I. RA 8m 2m a). ditanyakan : MI max . Akibat rangkaian beban M max berjalan.2. ditanyakan. GP R B. GP DB kanan 2 2 b).7. Rangkuman . 3. GP R A .

Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. 3. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o . . karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.8.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- .Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber.

333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .333 tm 0 0.25 t 0 0 0 0 0 0 1. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o. 2 a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.25 t 0 0 0 0 1t 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b). MI max = + 14 tm. pada saat P 2 terletak pada titik I .333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.5 t 0 0.

bab V .Soemono. UGM.05 tm.2.9. ƏStatika IƐ. terjadi pada titik dibawah P 2 3.10. bab V-4 3.2. Daftar Pustaka . . ITB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .Suwarno. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. dalam. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b).1. a. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. . (a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. D) 4. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. (c). maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. N. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30.1.1. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?.

Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. kedua perletakan dibuat sendi.1. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.1.2.1. 4. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.1. 7 V = 0 dan 7 M = 0. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0).1. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. Dengan konstruksi pelengkung terse but. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).2.2. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). struktur pelengkung tersebut. Penempatan Titik s (sendi) . sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0. Pelengkung sungai Gambar 4. gelagar memanjang.2.2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B.3. S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).

kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ. maka M E-E = VA.1.q x² diatasnya. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 . 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.q x12 ƛ 2 B HA.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.x .2.4. h1 f I = VA .x1. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.h1 B Nilai I = V A .3. x 1 HA HB II = HA.

h1 Gambar 4. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.6.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A. (hA-hB) ƛ P1.3. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.l ƛ HA. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.1. 4. Cara Penyelesaian 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.1.3. Gambar nilai I = V A.1.b1 = 0 (1) .5.

S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .hA ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.a ƛ HA.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.l .l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1. 7M A = 0 VB. Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti. (4).H B . h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.a1 = 0 7 M S = 0 V B . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3). masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan .

Bv.S1 ƛ Ab . a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1). b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab . maka nilai Ab bisa dicari. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv.l ƛ P1. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.b ƛ Ba .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av.l ƛ P1. f = 0 Av .a ƛ P 1. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari. f = 0 Bv .

( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang.

3 Gambar (c). Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ.2. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.1. seperti pada gambar (4.a. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?. x. gaya lintang (D) dan gaya normal (N). Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4.8).2. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M).9 disamping. x ƛ ½ q x² .1.8.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . maka Mx = V A .HA . (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).b l RA + Bidang D RB Gambar 4. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . II II = HA . x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4. x P Untuk balok yang lurus. bukan pelengkung. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.3. y I = VA .

* Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. Vx = V A ƛ q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E .10. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada.

Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak . Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4.11.Vx sin E. maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung. x cos E = .( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan .

Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. M).5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. bidang gaya lintang (Bid. D) ataupun bidang normal (Bid. VB.5 m dari titik A. S Ec C yc f=3 m A H 2. H. .13.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid.12. N). Mc. nilai gaya lintang. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ.

5m Gambar 4.5  1 / 2 .5) ! 2.14. l ƛ q. 25 ! ! 12.5  1 / 2.5 ƛ 12.2.q. 3 .3.3.5 m yc = 4.Xc² = 15 .H . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.yc ƛ ½ . ½ l = 0 VB . 2.5 (10  2. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . (5)² = 0 H= V . 5.Xc ƛ H. ½ l = 0 VA = ½ .5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.q (5)² 15.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA . di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. 2. 3 ƛ ½ q . reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.25 ƛ ½ . maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . 3 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. l.l.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2. l ƛ q.5 . 2.5 ton 3 3 VA .

14.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1. Vc = VA ƛ q.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .5 ton ( o) Hc = H = 12. 0. 0.8575) = . 0.sin Ec + Hc cos Ec) = .15.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.5 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.8575 ƛ 12. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5 .5145 + 12. Dc = 0.5 = 7. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .(Vc.2.4312 ƛ 6.5 .5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.5 .(7. 0. Nc = -14.5145 = 6.x = 15 ƛ 3.5774 ton. Contoh 2 xc=2.

16. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.

1.yp = 0 VA .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .152 .5.92) = 0 .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4. ½ l ƛ H B . l . 5 ƛ HB . f = 0 1. 3 ƛ 6 . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 . 5 ƛ HA .92 = 0 (cocok) .76  6. 1.92 ton ( n)  5.92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. 10 + 6 . 3 ƛ 6 (3 ƛ 1. ½ l ƛ HA . 10 . 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.92 = 0 VB .3.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .yp = 0 VB .152 .08 ƛ 1.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .2 (10  2) ! 1.6 . 3 = 0 HB = 1.76 ƛ HA . l + P.48 ! 4.P.1.152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.

18 ƛ 1.92 ( ) 0. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.08 = 1.92 .152 . = -1.98 HB = 4. cos E = 0.V A . 2.Xc + HA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.88 + 9.2. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1. 25 ƛ 6 (2.5 + 4.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.8575 Mc = .8575 ƛ 1.25 ƛ = .5145.17.08 .92) = -1.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .5145 Dc = . 0.25 m Ec = 30.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.96° sin Ec = 0.152 . 2.

c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA.152 .8575 = .92 . Mc.1. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). Mc. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B.5145 ƛ 1.0537 ton 4. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). HB. HA.4. 0. HB. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. Nc. Nc.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. VB. VB. 0. HA.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.667 ton 2.5 ton 4.6. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.1. Penutup Untuk mengukur prestasi.5.1. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.25 m 0.75 0.5 ton 6.667 ton 4. Soal No. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. Sedang bidang momen.8 o o p n .6 0. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen. 4. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.

.1.8336 ton (-) (-) Soal No. bab 2. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.539 0.8. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.9675 ton 3. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10. bab 4.226 ton 4.64 0.6854 (+) (-) (-) o o p n 4. Daftar Pustaka 1.5625 tm ~0 5.842 7.3672 tm 2. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).9675 ton 5.7. UGM. Soemono ƠStatika Iơ ITB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.774 ton 1.184 ton 5.1.36 m 0.

2.1.2. Garis Pengaruh Reaksi x P S G. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. b = f V B . x = 0 Untuk P di B .2.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB .2. a f Px b .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. Garis pengaruh V A. a . f = 0.2.P VA (+) 1t G. x = 0 1t Untuk P di B . 6 MA = 0 VA H l a G.P.f Untuk P di A . V B dan H Px ) l . H P. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. VB .3 Prinsip penyelesaian. 4. b ƛ H . 4. b l . V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.P.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . a. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. b f VA . x = l G.18. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4.P. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G.

P.C = G.f v G. Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B).P. f ton H= 6 MS = 0 VA . u . R l C u VA VB Bagian II H.P. x = 0 p H = 0 Untuk P di S . a . a. x = a H=0 P. M C = VA . x = l Untuk P di S . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). B H b MC = VB .P. u .f = 0 a H = VA . H x C v P. x = a p H = P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . u . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) .v l G.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. u dan V B .H .H . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.f G. a . v sama dengan G. M C pada balok di atas dua perletakan l G.b ton H= l . bagian I (+) P . maka lihat kiri potongan (kiri C).P. v . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B .b ton l.P.b c l .

Mc C. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G.) v sin E H b l GP VB sin GP.P. V A Sin D D GP NC Bagian II () P. NC bagian I Q sin E l (+) ( . Gambar GP. a .P.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D .P.P. sehingga: NC = . Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C. VA sin D dan V A cos D. b cos E l .f .19. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4.H sin D I II I -> identik dengan G.

untuk GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a . Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. f Gambar 4. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) .20.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.P. G.P. NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.b cos E l .f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H). Gaya lintang G. D C a b sin E l.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q .24. ½ P = ½ q P R2 = q . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . . .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . . ½ P + (b/P ). . . (a). Kondisi pembebanan kolom (b).

Menjadi (R1.4.Xc-R2. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4. . . . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. . Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.Yc Vc = VA. . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. sin E + Hcos E) Dc = Vc.25. .Yc Nc = -(Vc . Pendahuluan .e-HA. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. R2.Xc-R2. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.e-HA. . Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan.4.5 ton R5 = 1. Cos E .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.5 ton a R1 R2 C R3 S e .Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4.1. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi. R3.

5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.N. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan.26. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. P . (1 ton. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. P . maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. 4.5P . langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. 2. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.4. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54.33 P 54. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. dengan ordinat 1. Jika letak . P . P .25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. atau 1 kg atau Newton) .2. A C I D E ½ ½ P P + 1. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1.Y2).Y1 + P2.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a).5 P .33 P 54.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya.

M I gel. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Dc dan Nc .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP.27. Gambarkan Garis pengaruh Mc . Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d.

x  H.b yc l.b cos E lf pemaparanG. 4.b yc l.Q.a .f G. f H R VB H VA Q .Nc = .a .Dc = Av cos E .5. Pendahuluan . S .(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.Y l P.Q.H sin E Cos E P.P.1. a .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.f G.a .a.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. . Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.b sin E lf pemaparan Gambar 4.5.P. b GPMc bagian I P. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung. Mc total (bag I + bag II) - II + P. Judul : Portal 3 sendi 4. C yc . Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung. 28. GP Mc = V .yc A  ] II I .

maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I .29. 4. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. balok gerder. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi.5. bisa berupa balok menerus. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.

a2 ƛ P1 .h ƛ P 1 . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.l + HB.l + HA.l + HB. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.hƞ ƛ P 1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. a1 = 0 VB.30. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II . (h ƛ hƞ) ƛ P2 . b2 = 0 VA. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.hƞ ƛ P2 . b1 ƛ P2 .a + HA.

Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.31.

a 2 l Nilai A B . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .l ƛ P1 . f = HA .l ƛ P1 .a  P1 .b ƛ P2 . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . a1 ƛ P2 . S 1 ƛ AB . f = 0 . b 1 ƛ P2 .b1  P2 .b 2 l 7 MA = 0 Bv. f ƞ Bv. S 2 f Nilai BA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. f = 0 BA = Bv . b  P2 . f = HB . S 2 ƛ BA . a2 = 0 Bv = P1.a 1  P2 . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .a ƛ P1 . f ƞ Av. b 2 = 0 Av = P1.

38 ! 1. 3 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .5 ± 2. 1.3 ton .l ± q .5ƛ HA.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.32.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4. 1.l ± P. 3ƛ2. 1.1 = 0 Av. selesaikanlah struktur tersebut. 3 .4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .6 ± 2.6 ± 4.3 .5 - P.5 ± 4.3. 4.5 .3 .5 = 0 Bv Av. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av. P =1 Penyelesaian.3 ton Avƞ = H A . 4.4333 ( q) Bvƞ = 0.q .3 .5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 . tg E Avƞ = 1. 2/6 = 0.

n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.3t 4.7334t 1.2666 t .4333 m = 4 5/6 + 0.3t B B 5.7334 t VB = Bv + 0.7334 + 5.4333 = 5.4333 = 4.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.

q (x²) .7. 2. 2 (2.3 .7334 t BIDANG N - Di S 5. 2.32.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.2 tm - S D 7.2666 t = 0.2 + 11. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.3 t Gambar 4.3667)² = -5.3 t 4. 6 = .1 ƛ 7.6 = 5.3667 ƛ ½ .7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.7334 ton Daerah C-D = -1.3t Dx = VA ƛ qx 1.4 = .8 tm - Mc = -HA .1 H B.2666 t Mx = -1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1. N.20254 ƛ 5.3667 m (daerah cs) x = 2. Bidang M.3 t 1.2666 t x=3m Ds = 4.3 t 1.3667 ƛ ½ .7334 ƛ 6 = -1.8 1.3 .2666. 4 + 4. 4 + VA .60127 5.3 ton Daerah B-D 5.40127 tm (M max) MD = -HB .3667 Mx = -HA .3.5.3 t = .7334 . 6 = -1.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA . 4 = -1.2.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.C A x 4.

6. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.33. maka untuk memperpanjang bentang.6. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. 4.6. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. . Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa.34.1.2. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.

Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4.6.35. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. merupakan struktur yang menumpu. . Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.3. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1.

(a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.3. Pendahuluan Seperti biasanya.7. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.36. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1.1.2. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.7.7. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.7. S (b) B GA ambar 4. Contoh Penyelesaian . 4.

f l d.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.ND=G P.d l.f GP.R B + c l + + d l a.b .f GP.RB b.DD Q l GP.f - + + GP.M D cb l Gambar 4.H u.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.RA a.v l a.b a.f ! l.37.RA .a l cb l GP.b l .c l .

p nilai H.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.b p H ! x p ND !  l l f lf . N D Garis pengaruh N D sama dengan g. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.f = 0 H = RB . ~ g. b ƛ H. b . R B f P di E RB = c c l c. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP.p.

a ƛ H.8.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .V l II = H .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. p N D !  l l f l f P di S 1 GP. 4.H . p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .f = 0 H= R A . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. f = Garis pengaruh H x f.MD P berada antara D C M D = RA .a f P di S b a ab RA = b p H ! . Q .

P. G. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal. N C . G. G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G.P NC kanan. ditanyakan : G. G.P. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. . 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar.P. G.P.P N C bawah .P D C bawah. ditanyakanL G.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. H.P VA .PH. G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu.P. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. G. G. VA .D C .

Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.447 0.9.447t 0.782t 1.335t 0.10. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.5t m 1.447t 0 0 0 1.5 0.1175t 0 0 0.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - . Rangkuman 4.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.

384t 0.084t 1.336t 0 0 0. Daftar Pustaka Suwarno.20t 0. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.11.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.60t 0. UGM Bab VI dan VII .75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.333t 0 0 0.25t 0.40t 0 0 1.333t 0 0 0.

Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.B. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.R.1.12. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.

Rangkaian dari material bambu. 5.1. ba mbu atau baja. .1. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.2.1. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga. Jika materialnya dari beton. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. tapi kalau materialnya dari kayu. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5.3.1. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. maka kita harus merangkai material tersebut.4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. Pada konstruksi kayu memakai baut. . P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.1. pasak atau paku. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p).B.5. Bentuk K.1.R. 5.5. paku keling atau las. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul.1. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.

Detail I. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI.R.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.3. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.2.

Pada Jembatan K. Gambar 5.B. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.B.R.R. Bidang.R.2.R. Ruang terdiri dari 2 K.1. bawah (ikatan angin bawah) K.B.B. atas (ikatan angin atas) 1 K.5.B.B.4.R. sisi 1 K. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .R. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.B.R.

Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.3. Konstruksi rangka batang bidang . Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5).R.B. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.5. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.1. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.5.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.R. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.1.B. r = jumlah reaksi perletakan 5.R.15.R.4. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.B.6. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) . Rumus Umum Untuk K.

Keseimbangan titik buhul a. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.6. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.7.Ky = 0 b. 1. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .Kx = 0 dan 7 .R.1. Cara grafis dengan metode Cremona .

Kx =0 7. Metode Penukaran batang 5.1. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 .Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. Metode Potongan : a. Cara Grafis Metode Cullman 3. Cara Analitis Metode Ritter b. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. b.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. y 7H=0 7. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. a.8.V = 0 ata 7.

8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .

P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA .4 . A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. 4 P . Untuk batang atas diberi notasi A 1. 4 P .4 . V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. A2 dan A 1ƞ. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. . B2 dan B1ƞ. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . tiap -tiap batang perlu diberi notasi. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.9.9. selesaikan struktur tersebut. D2 dan D 1ƞ. V2 dan V 1ƞ.1.

karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. Dalam penjumlahan. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. . Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5.10. gaya yang searah diberi tanda sama.B.R. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui.

3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) . 2 A1 = .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= . 3 2 . 2 7V=0 .½ D 1 A1 = . V1 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.½ .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2.

1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .1t (tekan) .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

2. Gaya. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). Gaya reaksi b). D3 1t ƛ ½ .10. Beban . 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. Gaya ƛ Reaksi B b). P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar.gaya batang RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ .1. 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t .

000 t 2.20 t 1. Pencarian gaya-gaya batang. 667 t 6. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.333 t 3.808 t 4.12. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.1. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .555 6. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No. 5.20 t 4. atau gaya tekan.1.00 t 6.333 t 6.00 t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.11.835 0.667 t 5. bisa berupa gaya tarik. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.

ƏStatika IƐ. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. .13.14. - Daftar Pustaka Suwarno.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. bab 5. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. UGM Bab Soemono.1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.