MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

tapi titik tangkapnya tidak sama. ar 1.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. pertemuannya di titik 0.3 Penju mlaha n gaya secara grafis.. . . Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang.2. OABC .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. tapi masih sebidang.

4. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. K2 dan K3. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. Urut-urutan penjumlahan. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. .

secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.

D F E.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. K3 . salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.

K3 dan K4 yaitu R. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon).Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. K2. b. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. d. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. K2. c. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1.6. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. Garis-garis tersebut dinamakan . dan e. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . K2. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. garis .

Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1.7. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. . Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. K2.2.4. K2. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . K3 dan K4. . Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. diproyeksikan.1. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1.

 K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy.8. secara analitis K1x = K1 cos E .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : .

1. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°.5. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. 3. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2.6.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. Latihan 1. K2. K3 dan K4. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang.1. .1.

secara bertahap. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. ƏStatika IƐ ITB.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. No. Suwarno. French. 3 hanya berupa grafis. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat.8.1.1. Soemono.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12.9.1 ton sdt = 22. sedang soal no.7. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996.1. Penutup Untuk mengukur prestasi.5° dari sumbu x R = 11. 3. Daftar Pustaka 1. Bab I.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis.5° dari sumbu x R = 12. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah .1 ton sdt = 22. Samuel E. Bab I 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . reaksi.2. jembatan dan lainsebagainya.9. kolom. balok.2. Contoh : a. 1. balok.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. reaksi dan gaya dalam. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. kolom. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. mengerti tentang beban. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. apa itu beban. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik.1. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. a.1. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. balok perletaka n Gambar 1. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. dan lain sebagainya. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.2. kendaraan. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia.2. peralatan dan lainsebagainya. misal : meja. a.10. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik .2.

Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b.12.11. Gambar 1. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. kg. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Gambar 1. dan lainsebagainya. Newton. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya.

serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur.2. Contoh : a. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. dan lainsebagainya. jembatan.1.3.2. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1.3. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. konsep pengertian tentang perletakan. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. 1.

Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. perletakan Gambar 1. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.13. a.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. sendi.2.2. maka oleh rol tersebut dari atas.15. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. ada reaksi vertikal.14. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. (Gambar 1. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol. jepit dan perodel. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b.3. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. . jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. Rol Strukt Bentuk perletakan rol.

17). Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas.16. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. Jadi sendi tidak mekanika teknik. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Rv RH c.18.17. oleh Rv Gambar 1. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. Karena struktur harus stabil. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1.

Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut.21.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. balok baja pendel Gambar 1. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.21. horizontal. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. ada reaksi vertikal.20. ada reaksi searah pendel. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. dan momen Gambar 1.

22. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.

yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri.3. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda.3. 1. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. hal itu merupakan syarat utama. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. dan bagaimana cara menyelesaikannya. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang.23. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. Keseimbangan vertikal . maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung.3. a. mahasiswa perlu mengetahuinya. jembatan dan lain sebagainya.2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv).24. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv).25. maka kotak tersebut langsung tenggelam. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. maka kotak tersebut tidak bisa turun. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). Kotak Gambar 1.25) Gambar 1. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). (Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. Kotak tenggelam dalam lumpur b. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut .

27. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1.26.27) Gambar 1. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. maka kotak tersebut langsung bergeser. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). PM Kotak Lem Meja . karena tidak ada yang menghambat. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c.

benda tersebut harus tidak bisa turun.29. Gambar 1. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja.30. yang RH berarti harus stabil. momen maka kotak tersebut bisa terangkat. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. dan tidak bisa terangkat. RM Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. Keseimbangan statis . RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM).

Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. atau RV . maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). Latihan 1. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV).3. dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol).4.PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol).  Dari variasi tersebut diatas. tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). maka syarat minimum RM = PM atau RM . maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ). 1.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ).

3.Beban terpusat. Rangkuman o Macam-Macam Beban .Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.Jepit punya 3 reaksi . kg atau ton atau Newton . P.Rol punya 1 reaksi . Rv = ? 2. satuan. notasi. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.Sendi punya 2 reaksi . Penutup . q.5. notasi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. 1.Beban terbagi rata. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan . Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1.6.3.

mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. 2. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. Daftar Pustaka 1.7. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. Suwarno.3. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .3.8.

Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya.1. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. 2. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. ada beberapa macam sistem struktur. jembatan dan lain sebagainya. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2.1.1. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . seperti gedung-gedung. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan.

Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3.1. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.1. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). Contoh a). Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) .3.1. 2.2. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar.

Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. b).3. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu.2. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. A B Gambar 2. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. Konstruksi statis tidak tertentu . maka konstruksi tersebut statis tak tertentu.4. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah.

2.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol.1. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. Penutup Untuk mengukur prestasi.6. Perletakan A dan C sendi.1.5. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.1. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. b). Latihan a).4. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. kayu. Jadi diatas adalah statis tertentu. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2.1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. 2.1.2.1. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.7.8. Daftar Pustaka 1. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. 2. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. baja dan lain-lain.2.

memerlukan gaya dalam. pelat. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. yang satu lagi besar. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut.2. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). kolom. P1 A L1 Gambar 2.6. pendek (A). P P Untuk A orangnya pendek. Contoh : a).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok.7. Orang membawa membawa beban tersebut. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. tinggi. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. Contoh (b) 2. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda.5. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. Gambar 2. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang .2. tinggi (B). Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B.2.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. satu kecil.3. demikian juga untuk orang B. dansebagainya).8. 2.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

Mx = RA . Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak.2. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang.9. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. x ƛ q.x. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen.(pers. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2. o Balok tersebut menderita gaya lintang.4. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. 2. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. Gaya Dalam Momen a).

10. ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. (pers.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi .

Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat.11. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2.2. Tanda momen 2. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok.5.12. Tanda momen (-) * Gambar 2. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. Demikian juga sebaliknya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut.13.

maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB.15. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan.14. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. Potongan balok bagian kanan .

gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. . Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. Karena RB adalah merupakan reaksi. P Jika dilihat dari kanan potongan c. gaya yang ada hanya RA. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah.16. jumlah gaya arahnya ke atas. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). C RA Dilihat dari kiri potongan C. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. maka perlu memberi tanda (+) dan (-).

maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). karena RA adalah reaksi.17.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). A Dilihat dari kiri potongan D. Gambar 2. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . D maka gaya lintangnya tandanya negatif. Jadi RA < P. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P.

Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. P P Kalau dilihat pada Gambar 3.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).18. maka pada batang AB (Gambar 3.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.6. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. . maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. 2. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. * Tanda Gaya Normal . baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2.19.

Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- . Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .7. 2. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.

20. P1 = 2 2 t (º).8. P2 = 6t (¶). Ringkasan tanda gaya dalam 2. q1 = 2 t/mƞ. P3 = 2t (´) P4 = 3t . q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.

7 ƛ P2.10 ƛ P1R. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.4  2. (Bidang M.3  2.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.q2.7  6.6.6.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV. N. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.6 + 6 + 1.6  2. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.10 ƛ q2.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.1  6.21.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal . yang searah diberi tanda sama.1 = 0 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.12  2. RBV 71%! RBV.6 + P2 + q2.6. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan. gaya lintang dan bidang normal.q1 ƛ P2.1.4 + 2.2 .2 = 0 1.6.3 + P1R.12 ƛ q1.6 ƛ q1.

2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH. Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = . Perletakan B = sendi ada RBH. D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .

Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. DE = 0 Dx2 = q2 .1ton lintang ke bawah) 2. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = .6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. Variabel x2 berjalan dari E ke B. melampaui beban P2.7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). x2 = + x2 (persamaan liniear) . sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .

P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . ND kr = .7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = .2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. dimana gaya normal dihitung dari titik C.P1H = . dari E ke B nilai gaya normal konstan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.

2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ). sehingga tanda negatif (momen P1v .P1v .2. x = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . Daerah A D .2 = .4 tm.

x1 = 5.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .½ .5.5)² + 11.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.5 ƛ 4 = 26.5 m Mmax = .5. lihat pada Gambar .1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.22.25 tm.2 (5.

62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .½ . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = . 1.x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .½ .3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.q1.

3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2. Gambar bidang M.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.22. D balok diatas 2 tumpuan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5. N.286 0.

x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. Bidang M.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. N. D Balok cantilever .5 32. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.5 24.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.9. N.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan.2.23. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .

6 ƛ P2.5 ƛ 1.1. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.5² = .5 tm ( ) MD : .5 t ( ) 2. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2. a) reaksi perletakan b) bidang N.2 ƛ ½ .2.3 ƛ 5.1 (2.24.P1. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B . a) reaksi perletakan b) bidang N.3.10.5 = 32. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .

5 ton /m· . D dan M q = 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . Ditanyakan. P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . a). bidang N. reaksi perletakan b). t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol .

5 ton 3.5 tm 0 Tanda/arah o o p .11.5 ton 0. Penutup Untuk mengukur prestasi.12.5 ton 4 ton 4 ton 0 4. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.2. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.tekan + + + + Momen = M .5 ton 0 9 tm 10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.2.5 ton 3.

13 tm 0.625 ton 4. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .375 ton 2 ton 2 ton 4.08 m kanan A A X = 3. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.375 ton 2.625 ton 4.75 tm 4.375 ton 2 ton 0 0 7.tekan + + Momen = M + + - .tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.08 m D B C Nilai 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p .

dx² . Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).24. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx .3. gaya lintang dan momen. Dx dx dan qx. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .0 d Mx = Dx .qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q.dx . dx o Kiri ada Mx . ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.dx. Hubungan Antara Momen (M) .dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan.

4. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. balok atap dan lain sebagainya. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. misal : tangga.1. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. Seperti pada gambar.4. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). 2. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2.25. Skema balok miring . Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.

N. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok.4. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D.2. Ditanya : Gambar bidang M.

1 = 0 18 ! 3.2 ƛ 4.12 ton .2 ƛ q.3 ƛ P2. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.2 ƛ 2.26.16.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.2.3 ƛ 4.3 ƛ 4.2.a.3.2.1.4 ƛ RAH.4 ƛ 2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.2 ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.5 ƛ q.3 ƛ P 1.1 = 0 RAV = 7.3 ƛ P2.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.1 = 0 RAV.6 ton = 2.3 ƛ 4.5 ƛ 1.

x .6 + 2.3.1. 3/5 = -1.2 ton Dc kr = .3. 4/5 = .26.6 ton Dari B ke D Dx = .3.B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .6 ton NC kr = .6 + q.6 + q.2 .(4 + 4 + 2) sin E = -10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .2 ton DD kr = -3. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .6 + (2 + 4 + 4) cos.// sumbu batang . cos E DD kn = .(4 + 2) sin E = -6 .b.2 ton (dari kanan) ND kr = .4 ton 4/5 . 3/5 = .6 + (2 + 4) 4/5 = 1.3/5 = .RB = . cos E= .3.E! 4.3. sin E = -2 .3.

 .6 .1.q. D 1 t/mƞ 4t B .2 ƛ P.5 tm Gambar bidang M.1 = + 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.75 ƛ 2.2.1 cos E = 3. 3. 3 .6 .x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .q.2 ƛ 4. N. 2 1  .4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .

27. Bidang gaya dalam pada balok miring .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Gambar 2. Seperti contoh dibawah ini.

DA kn = 7. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton. 3/5 + 2.5.12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.3.12 NA kn = .12 .1 .2 + 2. sin E E RAV .2 ton.2 . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .1. NDkn = .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7.16 .16 .4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.2 + q. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. 3/5 + 2.12 ƛ 4). Cos E (gaya B sumbu batang) RAV . 4/5] = .6 ton 2. sin E + RAH .12 . Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.1 . 3/5 = 4.16 t D = + RAV . Cos E) RAH = 2. 3/5 = .RAH . cos E RAH diuraikan menjadi : RAH. 2. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.1.16 .16 .6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton.1. 4/5 ƛ 2. sin E NB = .3.16 . DB = -2 ƛ 2.16 . sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = . Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.1. 4/5 = .5. cos E .12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2. 3/5 = 1.(7.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV. 4/5] = . beban tekanan tanah dan lain sebagainya. cos E (gaya // sumbu batang) RAV. NC kn = .(RAV . 4/5) t = .[(7.[(7.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . . P = 3 ton Ditanyakan. Beban q = 1 t/m· . a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M Soal 4 3m RB . a) reaksi perletakan c) bidang N. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. seperti tergambar. P = 3 ton Ditanyakan. B = rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. B = rol. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol Ditanyakan.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. D dan M 30° Soal 2 q = 1.

88m jarak miring dr A A B C X = 2.16 t t 2. Ditanyakan.50 t 2. 2. Penutup Untuk mengukur prestasi. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.4.815 t 4. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.6 t 0 0 3 tm 0 3. B = rol.63 t 2.12 ton 5.11 tm Tanda/arah o n o p .88 t 3 ton 9.88 m Nilai 4. ketelitian perhitungan perlu. besarnya merupakan fungsi x. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah. a) reaksi perletakan b) bidang N.5. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.50 t 1. seperti tergambar.76 ton 1. D dan M 2.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .tekan .tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .tekan .5.

Jawaban soal no.l 6 q.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. B «««. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3..06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.5774 L dari A A B C X= Nilai q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no. 4 .2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p . X= Momen = M L 3 = 0.l 3 0 0 0 0.l 3 0 0 q.l 6 q.6 ton 0 0 5. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««..

73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.5 ton 3. Bab I Soemono.5. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.5 ton 4. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .24m Nilai 4.24m dari B A B X = 2. UGM.7. ƏStatika IƐ. ITB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.5 ton 1 ton 0 0 0 0. Daftar Pustaka - Suwarno.5.5 ton 0 0 4.6. 2. Bab I.67 tm 3.

l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .2.a l a .

Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. dengan beban segitiga diatasnya.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a .l 3 1/3 l . bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h.a l ax A Px a.l ton 2 a. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air.

6. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. Gelagar Tidak Langsung 2. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut.30. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.31).1. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. bambu. bambu. dan profil baja. bambu atau baja tersebut. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. baja.31. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .31. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.

mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel.6. q kg/mƞ beban terbagi rata gel.3. induk). maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. tidak 2. memanjang gel.32. Penyederhanaan akhir. induk / G ambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. untuk gel.2. melainkan lewat perantara gelagar melintang. memanjang P P P .6. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. melintang gel. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. gel.33. gel. Penyederhanaan awal. tida k langsung Gambar 2.

melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA .P/2 . melintang.35.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel.q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . P = 6q P² . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. memanjang genap. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel. 2P . 2P .P. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel.qP² .

125 q P ² 8 P/2 = 3 qP . 1.5 P .5 P² . Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel. 1.125 q P² = 3.25 q P² Perbedaan momen (0.q P .½ q P . 2P . ½ P = 3.q P .125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.5 P)² = 4.5P .5 P .½ q (2P)² = 6q P² .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.½ q (1.375 q P² .1.125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0. 1.

Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.125 q P² = 3. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung . lantai = 3.375 q P² . 2½ P Gambar 2.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M.0. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang). namun s eperti gaya lintang beban terpusat. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.37. tapi kalau gelagarnya tidak langsung.

Ditanyakan : a). H A . Bidang N. Gaya reaksi V A. H A. D. Latihan Soal 1: q = 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada. q = 1. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). RB b). Bidang N.5 t/mƞ sepanjang bentang. Gaya reaksi V A.6.6.5. M.6. Penutup Untuk mengukur prestasi.6. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. 2. RB b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. . M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.4. D.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. 2.

5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.0 t 1.5 t 1.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .5 t 3. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.00 t 0 5.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.25 tm 4.25 t 1.25 t 1.5 tm 0.5 t 0 4.75 t 0.25 t 1.0 t 3.0 t 3.75 t 2.5 t 4.5 t 1.

24 m 3.7.73 tm  + + Momen = M + 2. Daftar Pustaka - Soemono.6. ITB-Bab I Suwarno.8.24 m dari B A B X = 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.5 ton 3.67 tm 3. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk. ƏStatika IƐ. UGM Bab I.5 ton 1 ton 0 0 0 0. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . 2.0 tm 0 0 4.6. .

tersebut berjalan suatu muatan. atau gaya dalam M (Momen). maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?.7.7. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. Garis Pengaruh 2. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. maka didalam suatu garis pengaruh. Jika dua hal tersebut dipadukan. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). gaya momen. gaya momen. . jika di atas struktur jembatan 2.1.7. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. dan gaya no rmal. gaya lintang dan gaya normal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. atau N (Normal). Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. gaya lintang.2.

RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B. Gambar garis pengaruh R A dan RB .x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.x = 0 P.P.P. R A RA .l ƛ P. R B + G.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .P.P.38.

dimana d c ton dan y 4 = ton.R B t A C a + y1 y2 GP.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .40.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.41. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.39 A c 1t + y3 GP.7.RB Gambar 2.R B Gambar 2.R A + P=1 GP.R A y2 GP.beban y1 dan RB =sama 4 .3.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.39. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l . maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2. y2 atau Gambar 2.

R B + y3 GP. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 . sejarak dari titik A. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1. sejarak d dari titik B.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 . sejarak b dari titik B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A.43. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.P.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B .RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.42.

Gambar garis pengaruh gaya lintang . Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P. l ƛ P.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.P.44. R B - b/l G.P.P. R A l x ton (linier ) l x=a G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.

a x=a Mc = G.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) . a . M c ¨l a¸ b © ¹ ! . b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a .45.P. P = 1t x G. b =  Untuk P di A x . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB .M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P.P. a tm ª l º Untuk P di C GP R A.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . tm ª l º = 0 tm Gambar 2. a tm = © ¹ .b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.b a.

4 = .R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP. 2 = . DBkn Jawab : GP. DD. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .2 - GP.R A.M D + GP. RB. M D. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.R B 1 t 3 2 3 + GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A. MD lihat kanan bagian x M D = RB . 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.DD - 1 t 3 GP.2 ! tm .R B : 7 .R A . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.R B.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3.4 GP.

MB 2 tm GP.DD P antara A-D D D = .RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.46.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.DBkr 1t GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = . Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.R B GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.

7. Soal 2 A 3m berjalan. GPRB. DI (-) max. 3m berjalan. M max. ditanyakan GPR A. GP RB. 4t DI (+) max. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. RB max. . max. GP D I. MI max.4. GPD I. MI max. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GP MI a) Bila beban Ditanya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. ditanyakan GP R A. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya.

5. = + 9.7. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.3 ton MI max. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. Penutup o Untuk mengukur prestasi. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. = + 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no.6.5 ton D I (+) max. = + 5. 2.1875 tm . = + 9 tm Mmax. Max.7.

ƏStatika IƐ.7. 2. - Suwarno. 2.6 ton 0 0.4 tm 1. Bab I.Garis pengaruh - Beban berjalan . UGM Bab I.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.7. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .8.Soemono.4 ton 0.175 ton = + 9.3 ton 0 0 2. Senarai .7.3 ton 0 1 ton 1. MI max.3 ton 0 0. Daftar Pustaka . ITB.18 tm Nilai 1 ton 0 0.

( yang mempunyai lebar > 100 m ). perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber.1. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. a). Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b.1. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. 3. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . maka jumlah . B = rol dan C = rol. yaitu 3 buah dimana A = sendi.

7H = 0. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. RBV. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3.1. RAH. maka bisa didefinisikan bahwa : . Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0.2. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. RAH. 7M = 0. Skema balok gerber 3. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi.2. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). 7H = 0. RBV. 7H = 0. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV.1. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu.

namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. .

disebut dengan konstruksi balok ge rber. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. C = rol. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. . R .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. 7 H = 0. RAH. yang masih statis tertentu. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. R . dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. 7M = 0 dan 7M D = 0. B = rol. 7 H = 0.

3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.1. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.3. Detail sendi gerber . Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.

1.4. dimana balok DC tertumpu di balok AB. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.4. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A . Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.

jadi untuk sementara diterima saja. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. Kalau dilihat dari sub bab 3. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas.2. sehingga struktur bisa diselesaikan. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas.6. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. sendi gerber belum ada. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. maka konstruksinya masih statis tak tertentu.1. D B C Cara memilih : alternatif (1). jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. Apakah mungkin ? Perhatikan .5.

Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. Perhatikan balok DBC. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. Perletakan D = Gambar 3. . mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. karena kedua perletakan B dan C adalah rol.7. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). perletak B = rol. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). RDH). sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. perletakan A = sendi.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.8.5. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.1. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu. demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). b2 Jika konstruksinya (a). Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2).

perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). (ada 2 reaksi). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). jadi tidak ada reaksi. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. perletakan D = sendi. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. perletakan B = rol (ada 1 reaksi). Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. perletakan. perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. . c = rol (ada 1 reaksi). Perhatikan balok DC (gambar b2).

Skema pemisahan balok gerber . maka balok AB bisa diselesaikan. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. Bidang-bidang gaya dalam (M. N. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b).9. N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). N. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. Penggambaran bidang M. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M.

N. M 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.6.6. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.1.8 ƛ q. A = rol C = rol . D.6 + RS.3 = 0 RA.3 4. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.3 = 0 RC.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.6. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar. dengan jarak 1 m dari A.667 m 7 MA = 0 RS.6 ƛ RS.2 ƛ q.10.6 + 1.1 4. N Gambar 3. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.833 m 5. 4 ƛ P. Ditanya : Gambar bidang M.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA. .6.33t 3t + 1t BID.3 ! ! 3t 4 4 BID.3 = 0 RC.6 ƛ 1.3 = 0 BID.= P.1 = 0 RS = P. 4 ƛ P. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.2 ƛ 2. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .8 ƛ 2.6.

2.667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.x2 - Mx2 = 5.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.q x2² (parabola) 2 1 .667.0287 tm.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.2.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .x-P (x-1) = 3.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .667 x 2 .0546 ƛ 8.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.833)² = 16.x 2 - = 5. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.1.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.x1 = .667.02589 = 8.833 ƛ (2.667-x2 ) = 0 x2 =5.Rs.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.x = 3.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.

833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3. x 2 2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .5.6 = + 6.667 + 2 .1.6. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .667 + 2.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .Rc + q . Latihan .333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .667 t Dbkn = -5.5.

o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu.bidang 3. B = rol C = rol. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. dengan perletakan A = sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. Rangkuman o Balok gerber adalah : . S = sendi gerber Beban : P = 5t. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit.1.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . Gambar : bidang.8. A 2 m 5m 2 m 4m 2).Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. Atau . D) Suatu balok gerber dengan 1). maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . N. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.

1 Keterangan Titik A Harga 1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol. Penutup Untuk mengukur prestasi.4 ton 7.9.4 ton 3.1. Soal No.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . 3.

Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. 3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3.5 ton 5 tm 0 7.10.1.5 ton 2.11.5 ton 2. Suwarno.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3.2.1.5 ton 5 ton 5 tm 2. Daftar Pustaka 1.5 tm 0 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2. Garis Pengaruh Balok Gerber .

Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan.11.2. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d).1. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban. reaksi ada di B (R B). Gambar 3. 3. Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga.2. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3.2. reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c). RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.3.a.y GP. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.Mc y2 C dx P. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.2.q dx Mc = ´ y.

Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.Dc Gambar 3.

2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.4.2.2. 3.1.4. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. Pendahuluan Pada kenyataannya.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.4. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3. Prinsip dasar perhitungan .2. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.16. . . Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.

Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.Mc y4 y5 Pada posisi awal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l.17.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal .Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.

c1 ¹  § Pr © .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x. dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .bagian kiri titik C dan . c1 c (x . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .

Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang.12.18. 34. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. 12.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) .34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. 23. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. dan 01 (dengan skala) . digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. 23. .

.Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah. . °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 . sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ.Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- .Dengan cara yang sama. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ. .Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. .Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. .

.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. . serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. 3.5. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi.2. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.19.5. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.1. .2.

5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.r = R1 . P4.2.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . b 7 MA = 0 1 _P3 . r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. Prinsip Dasar Perhitungan .Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. . Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. P 3. R2 dan P3 atau resultante P 1. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1.2. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. P2. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. a ƛ R2 .

5). Rt .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.4.2. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3.20. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar . Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar.

45 Rt Gambar 3.2 = Rt. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.1 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.45 r =1. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.2. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4. GP R B.1 + P3. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.1 + 6.x 6.6.2 = 20 .1 4. ditanyakan : GP R A .21. GP R C .

Akibat rangkaian beban M max berjalan. GP R B. GP DB kanan 2 2 b). RA 8m 2m a). ditanyakan. GP D I. GP R D GP M I. ditanyakan : MI max . P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut.7. GP M B. 3. GP R C . Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar.2. GP R A . Rangkuman .

Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. 3. .2. Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.8. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- .

Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1. 2 a).333 tm 0 0.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .25 t 0 0 0 0 1t 1.25 t 0 0 0 0 0 0 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0.5 t 0 0.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b). MI max = + 14 tm.

2.10. bab V . Daftar Pustaka .2. ITB.9. bab V-4 3.Suwarno.Soemono. terjadi pada titik dibawah P 2 3. . UGM. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. ƏStatika IƐ.05 tm. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang.1. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. N. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. (c).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4.1. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. D) 4. a. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. dalam. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?.1. . seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. (a). dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b).

gelagar memanjang.1. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).2.2. Dengan konstruksi pelengkung terse but.2. Penempatan Titik s (sendi) .1. kedua perletakan dibuat sendi. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. struktur pelengkung tersebut. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah.1. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi. Pelengkung sungai Gambar 4.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). Bermacam-macam bentuk jembatan 4. 4. 7 V = 0 dan 7 M = 0. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.2. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.1. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4.1.

3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).

Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.3.x .h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.2.x1. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .q x12 ƛ 2 B HA. maka M E-E = VA. x 1 HA HB II = HA. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4.q x² diatasnya. h1 f I = VA .4.1.h1 B Nilai I = V A .

Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.1. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.h1 Gambar 4. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A. Gambar nilai I = V A. Cara Penyelesaian 4.5. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.l ƛ HA.6. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.3. 4.3. (hA-hB) ƛ P1.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A.1.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.b1 = 0 (1) .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .a ƛ HA.hA ƛ P1.

h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.a1 = 0 7 M S = 0 V B .l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1. (4).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. 7M A = 0 VB.l . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3). Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti. masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan .H B .

Bv. maka nilai Ab bisa dicari.a ƛ P 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av.b ƛ Ba . a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1). f = 0 Bv . y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab . a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv.l ƛ P1.l ƛ P1.S1 ƛ Ab . f = 0 Av .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal.

RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B.b l RA + Bidang D RB Gambar 4. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya.2. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a). merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P. x ƛ ½ q x² . x P Untuk balok yang lurus.9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4. gaya lintang (D) dan gaya normal (N).HA . y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. seperti pada gambar (4.a. x.9 disamping.2.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4.8).3 Gambar (c). y I = VA . bukan pelengkung. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). II II = HA .8.3. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. maka Mx = V A .1.

Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . Vx = V A ƛ q . Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4.10.y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA.

11.Vx sin E. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. x cos E = . Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .

Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. H. nilai gaya lintang. bidang gaya lintang (Bid. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut.12.5 m dari titik A. Mc. S Ec C yc f=3 m A H 2. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid.13. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. N). M).5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. D) ataupun bidang normal (Bid. VB.

5 ton 3 3 VA . l ƛ q. 25 ! ! 12. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. ½ l = 0 VA = ½ .yc ƛ ½ .5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.H .3.2.25 ƛ ½ . maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² .25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .5 (10  2. 5.5 ƛ 12.5  1 / 2.q (5)² 15. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama. 2. 3 . 2.5 . 2.5) ! 2.5  1 / 2 .l. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA .3. l. (5)² = 0 H= V .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B.Xc ƛ H. ½ l = 0 VB . l ƛ q.10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2. Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.Xc² = 15 .5 m yc = 4. 3 .5m Gambar 4.14. 3 ƛ ½ q .q.

4312 ƛ 6. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal. Contoh 2 xc=2.(Vc. 0.8575) = .8575 ƛ 12.5 = 7.5 . jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5145 = 6. 0.5145 + 12. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .sin Ec + Hc cos Ec) = .15.5774 ton.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0. 0.5 . Vc = VA ƛ q.14.5 .5 ton ( o) Hc = H = 12. Nc = -14.5 . Dc = 0. 0.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.x = 15 ƛ 3.(7.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.16. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .

5 ƛ HA .152 .76 ƛ HA .92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.92 ton ( n)  5. 3 ƛ 6 . l .08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . 1.92 = 0 VB .P. 5 ƛ HB . 3 ƛ 6 (3 ƛ 1. 3 = 0 HB = 1.152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA . ½ l ƛ H B .08 ƛ 1. 1.2 (10  2) ! 1.76  6.yp = 0 VA . f = 0 1. 1.6 .92 = 0 (cocok) . l + P. 10 + 6 .48 ! 4. ½ l ƛ HA .3.92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1.yp = 0 VB .1.152 . 10 .152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.5.92) = 0 .

cos E = 0.92 ( ) 0.08 = 1.92 .18 ƛ 1.152 .Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1. = -1.17.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4. 2.Xc + HA .98 HB = 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.152 .5145. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1. 2.88 + 9.96° sin Ec = 0.92) = -1.25 m Ec = 30. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.08 .25 ƛ = .5 + 4.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4.V A .2. yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1. 0.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .5145 Dc = .8575 ƛ 1. 25 ƛ 6 (2.8575 Mc = .

92 . HB. HA.1. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). Mc. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. 0.8575 = .4. HB. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. VB. Nc.0537 ton 4.1.5145 ƛ 1. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan.152 . 0. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. HA. VB. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . Mc. Nc. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1.

6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.667 ton 4.6 0. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.25 m 0. Sedang bidang momen.1. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.667 ton 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.8 o o p n .5. 4.5 ton 4. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.1. Soal No. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.75 0. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.5 ton 6.

UGM. Daftar Pustaka 1.184 ton 5.774 ton 1.226 ton 4. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0. .5625 tm ~0 5.8336 ton (-) (-) Soal No.9675 ton 3. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.3672 tm 2.842 7. Soemono ƠStatika Iơ ITB. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).6854 (+) (-) (-) o o p n 4. bab 4. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. bab 2.9675 ton 5.36 m 0.7.1.539 0.1.8.64 0.

Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan.P VA (+) 1t G. 4. a f Px b . gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB .2. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B.2.P. VB . s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. a . Garis Pengaruh Reaksi x P S G. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4.1. Garis pengaruh V A. b = f V B . x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. a. 6 MA = 0 VA H l a G.P. x = l G.f Untuk P di A .18. H P. f = 0.2. b ƛ H . b f VA . x = 0 Untuk P di B .2.P. V B dan H Px ) l . ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. b l . x = 0 1t Untuk P di B .2.3 Prinsip penyelesaian. Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen.

x = a p H = P. f ton H= 6 MS = 0 VA . v sama dengan G. u . u . M C = VA .P. a. maka lihat kiri potongan (kiri C). H x C v P.P.b ton l. B H b MC = VB .v l G.C = G. bagian I (+) P .f = 0 a H = VA .P.P. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B .P. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C).b ton H= l . a .f v G.P. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA . u . v . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . u dan V B .f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H.H .f G. M C pada balok di atas dua perletakan l G.H . a .b c l . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan. Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). R l C u VA VB Bagian II H. x = l Untuk P di S . x = a H=0 P. x = 0 p H = 0 Untuk P di S . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A .

Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C. Gambar GP. VA sin D dan V A cos D.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. V A Sin D D GP NC Bagian II () P. sehingga: NC = .P. b cos E l .) v sin E H b l GP VB sin GP.H sin D I II I -> identik dengan G. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D .f .P. NC bagian I Q sin E l (+) ( .Mc C. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P.P.19. a .

P.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H). Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) . NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.20. Gaya lintang G. f Gambar 4. untuk GP. G. D C a b sin E l.b cos E l . Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . . .24. P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . . .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . (a). ½ P + (b/P ). ½ P = ½ q P R2 = q . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. Kondisi pembebanan kolom (b). Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . .

Menjadi (R1. sin E + Hcos E) Dc = Vc. Cos E . Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4. Pendahuluan .Yc Nc = -(Vc .5 ton a R1 R2 C R3 S e .Xc-R2. . .Yc Vc = VA. . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.25.4.e-HA. .4.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.1. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.5 ton R5 = 1. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P. .Xc-R2.e-HA. R3. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4. R2. .qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0.

5P . (1 ton. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. Jika letak .Y1 + P2.Y2). Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. P . 2. P . P . A C I D E ½ ½ P P + 1. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya.33 P 54. 4. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a).33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel.4.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. dengan ordinat 1.2.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung.26.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.N. P .33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I.33 P 54. atau 1 kg atau Newton) . langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2.5 P . Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54.

Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar.27. Gambarkan Garis pengaruh Mc . Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Dc dan Nc . M I gel.

Pendahuluan .a. a . C yc .P. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung. 4.Y l P.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.b yc l.1. Mc total (bag I + bag II) - II + P. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.b yc l.x  H. S . 28.b cos E lf pemaparanG.f G.a .a .f G. f H R VB H VA Q . Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung.5.Q.Dc = Av cos E .P. b GPMc bagian I P.H sin E Cos E P.a .Nc = .5.P. Judul : Portal 3 sendi 4. . GP Mc = V .yc A  ] II I .Q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.b sin E lf pemaparan Gambar 4.

4.2. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. bisa berupa balok menerus. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4.5. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.29. balok gerder.

l + HB.a + HA. (h ƛ hƞ) ƛ P2 . Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.h ƛ P 1 . b1 ƛ P2 .l + HA.hƞ ƛ P2 . S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II . Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. a2 ƛ P1 . S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. a1 = 0 VB. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.l + HB.30. b2 = 0 VA.hƞ ƛ P 1 .

31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.

a2 = 0 Bv = P1.a ƛ P1 . f = 0 BA = Bv .b1  P2 . f ƞ Bv.l ƛ P1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av.b 2 l 7 MA = 0 Bv. S 1 ƛ AB . f ƞ Av. S 2 ƛ BA . f = HA .l ƛ P1 .a 1  P2 . f = 0 .a  P1 . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .a 2 l Nilai A B . f = HB . S 2 f Nilai BA . a1 ƛ P2 . b 1 ƛ P2 . b  P2 . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .b ƛ P2 . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . b 2 = 0 Av = P1.

1.3 .l ± q . 1. P =1 Penyelesaian. 38 ! 1.5 ± 2. selesaikanlah struktur tersebut.3 ton Avƞ = H A .1 = 0 Av. tg E Avƞ = 1. 3ƛ2.6 ± 2. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.4333 ( q) Bvƞ = 0. 3 .3. 2/6 = 0.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4.q .5 = 0 Bv Av. 4. m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.3 ton .3 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .6 ± 4.l ± P. 1.5ƛ HA. 4.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .5 - P.32. 3 .3 .5 .5 ± 4.4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .

7334 t VB = Bv + 0.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.3t 4.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.2666 t .4333 = 4.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.4333 m = 4 5/6 + 0.7334t 1.4333 = 5.7334 + 5.3t B B 5.

1 H B.3. 4 = -1.2 + 11.7.3t Dx = VA ƛ qx 1.C A x 4.7334 .8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4. 4 + 4.2666.3 t 4. 6 = -1. 4 + VA . 2.5.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.3667)² = -5.4 = .3 . 2 (2.3667 ƛ ½ .3 t Gambar 4. q (x²) .3 ton Daerah B-D 5.8 tm - Mc = -HA .2666 t Mx = -1.3 t = .5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.20254 ƛ 5.3 t 1.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .7334 ƛ 6 = -1.3 .32.3667 Mx = -HA .2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.40127 tm (M max) MD = -HB .2666 t x=3m Ds = 4. 6 = . 2.7334 ton Daerah C-D = -1. N.2666 t = 0.1 ƛ 7.6 = 5.3667 ƛ ½ .2 tm - S D 7.60127 5.3 t 1.3667 m (daerah cs) x = 2. Bidang M.8 1.2.7334 t BIDANG N - Di S 5.

Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian.2. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a).34. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. maka untuk memperpanjang bentang.6.33. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.6. 4. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. .6. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.

termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut.3. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1.35. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4.6. merupakan struktur yang menumpu.

4. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.7. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. Contoh Penyelesaian .7.3. Pendahuluan Seperti biasanya.7. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. S (b) B GA ambar 4.7.36. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.2. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.

H u. f l d.M D cb l Gambar 4.f GP.f GP.RA a.f - + + GP.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.d l.ND=G P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.RB b.a l cb l GP.f ! l.DD Q l GP.37.b .b l .b a.R B + c l + + d l a. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.v l a.c l .RA .

b ƛ H. b .b p H ! x p ND !  l l f lf .p. N D Garis pengaruh N D sama dengan g.p nilai H.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP.f = 0 H = RB . ~ g. R B f P di E RB = c c l c. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .

f = Garis pengaruh H x f.8.f = 0 H= R A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. a ƛ H.V l II = H . Q . p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .a f P di S b a ab RA = b p H ! . 4.MD P berada antara D C M D = RA . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q.H . p N D !  l l f l f P di S 1 GP.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .

dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. G.P. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2.P VA . G. G. VA . G. G.PH.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu.P. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.P D C bawah. H.P.D C . ditanyakanL G. ditanyakan : G.P N C bawah . Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l .P. . G.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. G.P.P NC kanan. G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. N C . 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. G.

0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .5t m 1.447t 0.447t 0 0 0 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.10.782t 1.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini. Rangkuman 4.5 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.335t 0. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.9.447 0.1175t 0 0 0.

333t 0 0 0.333t 0 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.084t 1.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4. UGM Bab VI dan VII .25t 0.60t 0.336t 0 0 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1. Daftar Pustaka Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.11.40t 0 0 1.384t 0.20t 0.

1.) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.12. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.R. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.B.

maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5.1. 5. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. maka kita harus merangkai material tersebut. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.2. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang.3. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. 5. ba mbu atau baja. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. . Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. tapi kalau materialnya dari kayu. Jika materialnya dari beton.1. Rangkaian dari material bambu.1.1.

Pada konstruksi kayu memakai baut. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut. pasak atau paku.5. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah.1. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil.5. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul.B. Bentuk K.1.R. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. 5. paku keling atau las. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.1.

3.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.2. Detail I. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. .R.

Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.4. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.2.B.B.B.R. bawah (ikatan angin bawah) K. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .B.B. sisi 1 K.R.R.R. Ruang terdiri dari 2 K. Gambar 5. Pada Jembatan K. Bidang.1. atas (ikatan angin atas) 1 K.R.R.B.B.5.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.

3.5. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.5. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .B. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5.1. Konstruksi rangka batang bidang .R.B. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.

15.B. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) . Rumus Umum Untuk K.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.R.6.B. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.1.R. r = jumlah reaksi perletakan 5. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.

Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .B.1. Keseimbangan titik buhul a.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.Ky = 0 b.Kx = 0 dan 7 . Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.R.7. 1. Cara grafis dengan metode Cremona .

P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 .1. Cara Analitis Metode Ritter b. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. Metode Penukaran batang 5. Metode Potongan : a.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. y 7H=0 7. a. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. b.Kx =0 7. Cara Grafis Metode Cullman 3. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung.V = 0 ata 7.8.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.8. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik . Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.

selesaikan struktur tersebut. A2 dan A 1ƞ. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.4 . 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian.9.1.9. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. 4 P . Untuk batang atas diberi notasi A 1. D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . tiap -tiap batang perlu diberi notasi. V2 dan V 1ƞ. B2 dan B1ƞ.4 . 4 P . Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . D2 dan D 1ƞ. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. .

Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5.R. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. Dalam penjumlahan. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik.10. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. gaya yang searah diberi tanda sama. .B. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik.

3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .½ . V1 = . 3 2 .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 2 7V=0 .½ D 1 A1 = .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal. 2 A1 = .

Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .1t (tekan) .1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

P2 = 3t Ditanyakan : RB P a).gaya batang RB . 2.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). Gaya reaksi b). Beban . Gaya. Gaya ƛ Reaksi B b). 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . D3 1t ƛ ½ .1.

808 t 4. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0. 667 t 6.12.1. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi. 5. bisa berupa gaya tarik.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + . o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya. atau gaya tekan.835 0.333 t 6. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.333 t 3.00 t 1.20 t 1.667 t 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.00 t 6.1.11.20 t 4. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan. Pencarian gaya-gaya batang. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.000 t 2.555 6.

2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . bab 5. UGM Bab Soemono.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. - Daftar Pustaka Suwarno. .1. ƏStatika IƐ.1. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi.13.14.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful