P. 1
Modul Mekanika Teknik

Modul Mekanika Teknik

|Views: 63|Likes:
Dipublikasikan oleh Demian Rafel
Mekanika secara umum adalah
Ilmu yang mempelajari dan meramalkan kondisi benda diam atau bergerak akibat
pengaruh gaya yang bereaksi pada benda tersebut
Mekanika secara umum adalah
Ilmu yang mempelajari dan meramalkan kondisi benda diam atau bergerak akibat
pengaruh gaya yang bereaksi pada benda tersebut

More info:

Categories:Topics
Published by: Demian Rafel on Sep 15, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2014

pdf

text

original

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan.2.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. .3 Penju mlaha n gaya secara grafis. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. tapi titik tangkapnya tidak sama..MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan .Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. ar 1. pertemuannya di titik 0. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. tapi masih sebidang. . Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. OABC .

K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2 dan K3. . Urut-urutan penjumlahan. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1.4.

 Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.5. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1.

D F E.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. K3 . salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3.

pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. K2.6. K2. K2. c. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon).Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. d. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . b. dan e. K3 dan K4 yaitu R. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. Garis-garis tersebut dinamakan .garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. garis .

Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. K3 dan K4. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. K2. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy.1. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. K2. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C.7. .4. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul.2. diproyeksikan. . Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . dengan garis kerja melewati 0ƞ 1.

Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. secara analitis K1x = K1 cos E .8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : .

K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. Latihan 1. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. 3. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. K2.6. K3 dan K4. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1.5. . Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. 1. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton.1.

3.8. French. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I.5° dari sumbu x R = 12.9.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.1. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. Suwarno.5° dari sumbu x R = 11. Penutup Untuk mengukur prestasi. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Soemono. sedang soal no. Bab I.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1.1 ton sdt = 22. ƏStatika IƐ ITB. Bab I 1. No. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. 2. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat. secara bertahap. Samuel E.1.7.1 ton sdt = 22. Daftar Pustaka 1. 3 hanya berupa grafis.1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

1. reaksi.1. kolom.2. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. jembatan dan lainsebagainya. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. balok. Contoh : a.9. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. reaksi dan gaya dalam. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. kolom. balok. mengerti tentang beban. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. apa itu beban. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini.2. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik .

a. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . peralatan dan lainsebagainya. kendaraan. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1.2.10. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia.2.1. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.2. a. dan lain sebagainya. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. balok perletaka n Gambar 1. misal : meja. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b.

Newton. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. kg. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. Gambar 1.11. Gambar 1. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ.12. dan lainsebagainya.

Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ.1.2. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas.2. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur .3. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. jembatan. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. dan lainsebagainya. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini.3. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. Contoh : a. 1. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. konsep pengertian tentang perletakan. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung.

ada reaksi vertikal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. maka oleh rol tersebut dari atas. (Gambar 1. . Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1.13.2. sendi. Rol Strukt Bentuk perletakan rol.3. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. a. jepit dan perodel.14. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. perletakan Gambar 1. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.2. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil.15. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1.

17).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1.18. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1.17. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). Karena struktur harus stabil. Jadi sendi tidak mekanika teknik.16. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). oleh Rv Gambar 1. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Rv RH c.

hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. balok baja pendel Gambar 1. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d.21. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. horizontal.21. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel. ada reaksi vertikal. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik.20. dan momen Gambar 1. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. ada reaksi searah pendel.

22.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .

Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. 1.1. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja.3. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. jembatan dan lain sebagainya.2. dan bagaimana cara menyelesaikannya. hal itu merupakan syarat utama. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan.23. mahasiswa perlu mengetahuinya.3. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. Keseimbangan vertikal . Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. a.3. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. suatu kotak yang dilem diatas meja 1.

perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). Kotak Gambar 1.25) Gambar 1. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. Kotak tenggelam dalam lumpur b. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). (Gambar 1. maka kotak tersebut langsung tenggelam.24. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv).25. maka kotak tersebut tidak bisa turun.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv).

Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c.27) Gambar 1. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser.27. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). maka kotak tersebut langsung bergeser. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). karena tidak ada yang menghambat.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM).26. PM Kotak Lem Meja .

yang RH berarti harus stabil. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). momen maka kotak tersebut bisa terangkat. dan tidak bisa terangkat. Keseimbangan statis .29. Gambar 1. RM Gambar 1. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja.30.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. benda tersebut harus tidak bisa turun.

Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). atau RV .  Dari variasi tersebut diatas. agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). Latihan 1.4. tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. 1. maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV).PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). maka syarat minimum RM = PM atau RM . dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).3. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ).PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol).

Sendi punya 2 reaksi .6.Jepit punya 3 reaksi . kg atau ton atau Newton . satuan.3.Beban terbagi rata. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. Rv = ? 2.Beban terpusat.5. Penutup .3. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan . notasi.Rol punya 1 reaksi . q.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. P.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. Rangkuman o Macam-Macam Beban . notasi. 1. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar.

Daftar Pustaka 1. Suwarno. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.8.3.3.7. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. 2.

JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. ada beberapa macam sistem struktur. jembatan dan lain sebagainya. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil.1.1. 2.1. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . seperti gedung-gedung. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya.

A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.1. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah.3.1. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2.1. 2. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. Contoh a).2. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar.

B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit.4. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu.2. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui.3. b). A B Gambar 2. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. Konstruksi statis tidak tertentu . RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A).

jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.1.1.4.5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar. b).mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2. 2.1. Perletakan A dan C sendi. Penutup Untuk mengukur prestasi. Latihan a). Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan.6.

2.2. Jadi konstruksi statis tidak tertentu.1. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. Daftar Pustaka 1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. Jadi diatas adalah statis tertentu. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . baja dan lain-lain. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. kayu.8.1. 2. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu.7.2.

satu kecil.7.8. Orang membawa membawa beban tersebut. kolom. Contoh : a). Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. dansebagainya). Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg.5. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). memerlukan gaya dalam. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. demikian juga untuk orang B. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. Gambar 2. P P Untuk A orangnya pendek. Contoh (b) 2. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok.3. pelat. pendek (A). Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang .2. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. 2. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. yang satu lagi besar. tinggi. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. P1 A L1 Gambar 2.2.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. tinggi (B). maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur.6.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ.2.x. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. x ƛ q. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak . 2. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen.4. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N.(pers. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. o Balok tersebut menderita gaya lintang. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Gaya Dalam Momen a). Mx = RA . balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2.9.

Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi .10. (pers.

GayaRA RB gaya tersebut adalah RA .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama.11.13. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B.2. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda.12. Tanda momen (-) * Gambar 2. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat. Demikian juga sebaliknya.5. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. Tanda momen 2. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan.15. Potongan balok bagian kanan . Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB.14.

atau kalau dilihat di kanan RB potongan. Karena RB adalah merupakan reaksi. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. C RA Dilihat dari kiri potongan C. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang.16. P Jika dilihat dari kanan potongan c. gaya yang ada hanya RA. jumlah gaya arahnya ke atas. .

Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. A Dilihat dari kiri potongan D. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. karena RA adalah reaksi. Jadi RA < P.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. D maka gaya lintangnya tandanya negatif. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2.17. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ).

18.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. 2.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. P P Kalau dilihat pada Gambar 3. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P. .Jika gaya yang ada arahnya menekan balok.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. maka pada batang AB (Gambar 3.2. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N). * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.6. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama. * Tanda Gaya Normal .19.

7. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .Jika gaya yang ada arahnya menarik balok. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- . 2.2.

2. P2 = 6t (¶).20. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . q1 = 2 t/mƞ. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. P3 = 2t (´) P4 = 3t . P1 = 2 2 t (º). Ringkasan tanda gaya dalam 2.8.

6. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.6 + P2 + q2.12  2.2 .7 ƛ P2.7  6.6 + 6 + 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.1.2 = 0 1. gaya lintang dan bidang normal.6.12 ƛ q1.6.4 + 2.3  2.6 ƛ q1.3 + P1R.10 ƛ P1R.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .4  2.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.1 = 0 2.q2. yang searah diberi tanda sama.6.1  6.21.q1 ƛ P2.6  2. N. (Bidang M. RBV 71%! RBV. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.10 ƛ q2.

Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A.P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). Perletakan B = sendi ada RBH. D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .

7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. Variabel x2 berjalan dari E ke B. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).1ton lintang ke bawah) 2. x2 = + x2 (persamaan liniear) . melampaui beban P2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). DE = 0 Dx2 = q2 .

dimana gaya normal dihitung dari titik C.7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan). NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C.P1H = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = . ND kr = . dari E ke B nilai gaya normal konstan.4 ton Daerah BE dihitung dari kanan.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = . P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan.

4 tm.P1v . x = .2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .2. sehingga tanda negatif (momen P1v . Daerah A D .2 = .

½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x. x1 = 5.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.5 m Mmax = .25 tm.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.2 (5.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.5.22.5 ƛ 4 = 26.5)² + 11.x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .5. lihat pada Gambar .

½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = . titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0. 1.½ .q1.

22. N. D balok diatas 2 tumpuan .286 0. Gambar bidang M.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.

Bidang M.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q . N.2. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2.9. D Balok cantilever . N.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.5 32.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.5 24. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.23. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶).

3.2.6 ƛ P2.3 ƛ 5. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .5 tm ( ) MD : .24.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5. a) reaksi perletakan b) bidang N.10.5 ƛ 1.5 t ( ) 2.P1.5² = . a) reaksi perletakan b) bidang N.5 = 32.1 (2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B . Latihan Balok diatas 2 tumpuan. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2.1.2 ƛ ½ .

bidang N. reaksi perletakan b).5 ton /m· . a). t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . Ditanyakan. D dan M q = 1. P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .

12.5 tm 0 Tanda/arah o o p .5 ton 3.11.tekan + + + + Momen = M .5 ton 0 9 tm 10.5 ton 0.2.5 ton 3.2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No. Penutup Untuk mengukur prestasi. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.

375 ton 2.625 ton 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p .375 ton 2 ton 0 0 7.08 m kanan A A X = 3.75 tm 4.tekan + + Momen = M + + - .tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.13 tm 0. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .375 ton 2 ton 2 ton 4.625 ton 4.08 m D B C Nilai 4.

dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan.24. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.0 d Mx = Dx .qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx . dx² . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. Hubungan Antara Momen (M) . gaya lintang dan momen. dx o Kiri ada Mx . Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx .dx . Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx). Dx dx dan qx. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = .dx. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx.

4.25.4.1. misal : tangga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. 2. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. Skema balok miring . balok atap dan lain sebagainya. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Seperti pada gambar. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur.

4. 2. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. Ditanya : Gambar bidang M.2. N.

2 ƛ 2.1.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.16.3 ƛ 4.2 ƛ P1.5 ƛ 1.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.2. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .2.12 ton .3 ƛ P2.2.1 = 0 18 ! 3.3 ƛ P 1.3.a.1 = 0 RAV = 7.3 ƛ 4.5 ƛ q.4 ƛ RAH.3 ƛ P2.6 ton = 2.1 = 0 RAV.4 ƛ 2.2 ƛ q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.2 ƛ 4. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.26.3 ƛ 4.

b.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = .6 + q.(4 + 2) sin E = -6 .(4 + 4 + 2) sin E = -10.4 ton 4/5 .6 + 2.3.6 + (2 + 4 + 4) cos.3/5 = .x .3.1.// sumbu batang .6 ton NC kr = . cos E DD kn = .6 + q.2 ton Dc kr = .3.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.26.3. 3/5 = .2 ton (dari kanan) ND kr = .2 ton DD kr = -3. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .2 .3.6 ton Dari B ke D Dx = . 4/5 = .3. 3/5 = -1. cos E= .B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.RB = . sin E = -2 .E! 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : .

6 . 2 1  .4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.5 tm Gambar bidang M.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .  .75 ƛ 2.1 cos E = 3. N. 3 .2 ƛ P. D 1 t/mƞ 4t B .1.q. 3.2.6 .2 ƛ 4.1 = + 5.q.

Seperti contoh dibawah ini.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Gambar 2.27. Bidang gaya dalam pada balok miring .

2 .16 t D = + RAV . sin E + RAH .12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.16 .3.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .1 . 3/5 + 2. cos E .3.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.12 NA kn = .16 .16 . 4/5 = .6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.1. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . 3/5 = 1.1.6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton.(7.2 + q.2 ton. sin E NB = . sin E E RAV . NDkn = . beban tekanan tanah dan lain sebagainya.(RAV .4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.RAH . Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. NC kn = . DB = -2 ƛ 2. 3/5 + 2. 4/5] = . 2. cos E (gaya // sumbu batang) RAV.12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.1. Cos E) RAH = 2.12 . 3/5 = . Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.1 .12 ƛ 4).5. 3/5 = 4. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .16 .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah.12 .5.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. DA kn = 7. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan . cos E RAH diuraikan menjadi : RAH. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.[(7. 4/5) t = .16 . 4/5] = .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7.[(7.16 . 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E . sin E (gaya B sumbu batang) RAH.6 ton 2. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV . 4/5 ƛ 2.2 + 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

a) reaksi perletakan b) bidang N. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . B = rol Ditanyakan. D dan M 30° Soal 2 q = 1. a) reaksi perletakan b) bidang N. seperti tergambar. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . B = rol. B = rol. a) reaksi perletakan c) bidang N. P = 3 ton Ditanyakan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. Beban q = 1 t/m· . P = 3 ton Ditanyakan.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. D dan M Soal 4 3m RB . .

88m jarak miring dr A A B C X = 2.5. B = rol.5. 2. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.4.76 ton 1. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .815 t 4. Ditanyakan.88 t 3 ton 9.tekan .50 t 1.11 tm Tanda/arah o n o p . seperti tergambar.88 m Nilai 4.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + . D dan M 2. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.6 t 0 0 3 tm 0 3. Penutup Untuk mengukur prestasi.5.63 t 2.12 ton 5. ketelitian perhitungan perlu. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.tekan . besarnya merupakan fungsi x. a) reaksi perletakan b) bidang N.50 t 2.16 t t 2.

4 .tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3. X= Momen = M L 3 = 0.l 6 q.l 3 0 0 q.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.. Jawaban soal no. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.6 ton 0 0 5.l 6 q. B «««.l 3 0 0 0 0.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p ..5774 L dari A A B C X= Nilai q.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ. ITB.24m Nilai 4. Daftar Pustaka - Suwarno.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.5 ton 1 ton 0 0 0 0.6. ƏStatika IƐ.5 ton 3.7.24m dari B A B X = 2.5 ton 0 0 4. Bab I Soemono. UGM. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .5.5 ton 4. Bab I.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.67 tm 3. 2.5.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .a l a .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.2. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .

dengan beban segitiga diatasnya.l ton 2 a. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air.l 3 1/3 l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h. Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.

dan profil baja. bambu. baja. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu.30. bambu atau baja tersebut. . Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan.31. Gelagar Tidak Langsung 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2.1. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu.6. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. bambu. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang.31).6. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut.

melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel.31.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan . memanjang Potongan Melintang Gambar 2.

melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. gel.32. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. tida k langsung Gambar 2. tidak 2. Penyederhanaan akhir. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel.6.6.3. q kg/mƞ beban terbagi rata gel. memanjang P P P . maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. untuk gel.33. melainkan lewat perantara gelagar melintang. gel. memanjang gel. induk / G ambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. melintang gel. induk). Penyederhanaan awal.2.

memanjang genap. P = 6q P² . II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel.P.35.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel.P/2 . maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. 2P . melintang. Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.qP² .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. 2P . dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2.

1.25 q P² Perbedaan momen (0.2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel. ½ P = 3.5 P .q P .5 P)² = 4. 1. 1.375 q P² .125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.½ q P .125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .5 P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P . 1.½ q (2P)² = 6q P² . 2P .125 q P² = 3.q P .½ q (1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.5P .5 P² .

125 q P² = 3.375 q P² . namun s eperti gaya lintang beban terpusat.0. lantai = 3. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. tapi kalau gelagarnya tidak langsung. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata. 2½ P Gambar 2. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.37. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M.

5 t/mƞ sepanjang bentang. . Gaya reaksi V A. Gaya reaksi V A. Bidang N. Latihan Soal 1: q = 1. D.4.5. 2. RB b). D. H A. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.6. q = 1. M. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. Ditanyakan : a). H A . RB b).6. Bidang N. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). 2. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.6. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. Penutup Untuk mengukur prestasi.

0 t 1.5 tm 0.5 t 1.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.5 t 3.0 t 3.75 t 0.25 tm 4.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .25 t 1.5 t 0 4.25 t 1.25 t 1.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.5 t 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.00 t 0 5.5 t 1.0 t 3. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.75 t 2.

ƏStatika IƐ.5 ton 1 ton 0 0 0 0.73 tm  + + Momen = M + 2.0 tm 0 0 4. UGM Bab I. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.6. 2.67 tm 3.5 ton 3.8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.7.6. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . ITB-Bab I Suwarno.24 m dari B A B X = 2. .24 m 3. Daftar Pustaka - Soemono.

gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. tersebut berjalan suatu muatan. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. . maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. maka didalam suatu garis pengaruh. atau N (Normal). dan gaya no rmal. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut.7. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. gaya momen. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. gaya lintang dan gaya normal.1. gaya lintang. gaya momen.7. Jika dua hal tersebut dipadukan. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). atau gaya dalam M (Momen). Garis Pengaruh 2. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. jika di atas struktur jembatan 2.2. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah.7. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut.

x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.P.38.l ƛ P. R A RA .P. Gambar garis pengaruh R A dan RB .x = 0 P.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.P. R B + G. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.P.

beban y1 dan RB =sama 4 .R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.3.R A y2 GP. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.40.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.7.R A + P=1 GP. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.R B Gambar 2. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.RB Gambar 2. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.41. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.R B t A C a + y1 y2 GP.39 A c 1t + y3 GP. y2 atau Gambar 2.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 . dimana d c ton dan y 4 = ton.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.39.

RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 .R B + y3 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP. sejarak d dari titik B.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B . y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. sejarak dari titik A.P. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .43. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.42.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c. sejarak b dari titik B.

P. l ƛ P.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2. Gambar garis pengaruh gaya lintang .P. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB . R B - b/l G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.44.P.P. R A l x ton (linier ) l x=a G.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a .M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. M c ¨l a¸ b © ¹ ! . a . P = 1t x G.P. tm ª l º = 0 tm Gambar 2.a x=a Mc = G.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA .b a.P. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) . a tm ª l º Untuk P di C GP R A. a tm = © ¹ . b =  Untuk P di A x . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a .P.45.

4 = . 2 = .4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA . DD.2 ! tm . M D.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = . Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2. DBkn Jawab : GP.DD - 1 t 3 GP. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.4 GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.R B.R B : 7 .R A.R B 1 t 3 2 3 + GP. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.2 - GP.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.M D + GP. RB. MD lihat kanan bagian x M D = RB .R A .

R B GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.DD P antara A-D D D = .DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .MB 2 tm GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.46.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.DBkr 1t GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .

. Soal 2 A 3m berjalan. GP MI a) Bila beban Ditanya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. MI max. 3m berjalan.4. max. GP RB. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. M max. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. MI max. ditanyakan GP R A. GPRB. 4t DI (+) max. GPD I. GP D I. RB max. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC.7. DI (-) max. ditanyakan GPR A.

5. = + 3. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). 2. = + 9 tm Mmax. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.5 ton D I (+) max.7. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. Max.1875 tm .3 ton MI max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. Penutup o Untuk mengukur prestasi. = + 5.7. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max. = + 9.6.

7.6 ton 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.18 tm Nilai 1 ton 0 0.175 ton = + 9.7. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.3 ton 0 1 ton 1.4 ton 0. UGM Bab I. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.Garis pengaruh - Beban berjalan .Soemono.4 tm 1. 2. 2.3 ton 0 0 2.3 ton 0 0. MI max. Bab I.8. - Suwarno.7. Senarai . ITB. Daftar Pustaka . ƏStatika IƐ.

perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV.1.1. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. yaitu 3 buah dimana A = sendi. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. a). Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b.1. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . B = rol dan C = rol. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. maka jumlah . 3. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu.

Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. 7M = 0. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. RBV. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. maka bisa didefinisikan bahwa : . karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. 7H = 0.2. 7H = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu . RAH.1. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). Skema balok gerber 3. 7H = 0. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0.2. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. RAH. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3.1. RBV.

. namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah.

RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. RAH. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. yang masih statis tertentu. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. 7 H = 0. C = rol. R . Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. 7M = 0 dan 7M D = 0. R . . B = rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. 7 H = 0. disebut dengan konstruksi balok ge rber.

3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.3. Detail sendi gerber . maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3.1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.4. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A .4. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.1. 3. dimana balok DC tertumpu di balok AB. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.

Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. sendi gerber belum ada. Apakah mungkin ? Perhatikan .6. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. sehingga struktur bisa diselesaikan. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. Kalau dilihat dari sub bab 3. D B C Cara memilih : alternatif (1). untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut.2. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3.5.1. jadi untuk sementara diterima saja.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2.

Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. Perhatikan balok DBC. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. perletakan A = sendi. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. . RDH).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin . sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). perletak B = rol. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. Perletakan D = Gambar 3. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV.7. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3.5.1. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3. Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.8. b2 Jika konstruksinya (a).

Perhatikan balok DC (gambar b2). Jadi alternatif (C) adalah mungkin. (ada 2 reaksi). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. perletakan. perletakan D = sendi. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. c = rol (ada 1 reaksi). Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. jadi tidak ada reaksi. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). perletakan B = rol (ada 1 reaksi).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. . perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). perletakan A = sendi (ada 2 reaksi).

Bidang-bidang gaya dalam (M. N. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. maka balok AB bisa diselesaikan. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. Penggambaran bidang M. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD.9. N. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. Skema pemisahan balok gerber . yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). N.

Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 . N.33t 3t + 1t BID. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.6.6 ƛ RS.6.2 ƛ 2.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.3 = 0 RA.6 ƛ 1.3 4.3 = 0 RC.6. .3 = 0 BID. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.= P. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C.3 ! ! 3t 4 4 BID.6 + RS.1 = 0 RS = P.2 ƛ q.6 + 1.1 4.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.8 ƛ 2.3 = 0 RC. A = rol C = rol . dengan jarak 1 m dari A. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8. 4 ƛ P. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB. 4 ƛ P.833 m 5. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b). N Gambar 3.1.6.6. D.10. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar.667 m 7 MA = 0 RS.8 ƛ q. M 2. Ditanya : Gambar bidang M.

833)² = 16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.x 2 - = 5.Rs.667-x2 ) = 0 x2 =5.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.0546 ƛ 8.1.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.02589 = 8.667 x 2 .667.x1 = . Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.x2 - Mx2 = 5.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .667.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 . 2.q x2² (parabola) 2 1 .667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.x = 3.x-P (x-1) = 3.2.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.833 ƛ (2.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.0287 tm.

Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.5. Latihan .667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.Rc + q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a . x 2 2 = .667 + 2.667 t Dbkn = -5.P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .1.6.5. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .6 = + 6.667 + 2 .

2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. A 2 m 5m 2 m 4m 2).1. P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. S = sendi gerber Beban : P = 5t. dengan perletakan A = sendi. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah.bidang 3. N. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. Rangkuman o Balok gerber adalah : . B = rol C = rol. Atau . maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . Gambar : bidang.8. D) Suatu balok gerber dengan 1).Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu.

6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - .1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. 3. Soal No. 1 Keterangan Titik A Harga 1.4 ton 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol. Penutup Untuk mengukur prestasi.4 ton 3.9.

10.11.5 tm 0 2. Daftar Pustaka 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.1. 3.2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3. Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2. Garis Pengaruh Balok Gerber .5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.5 ton 2.5 ton 5 tm 0 7.1.5 ton 5 ton 5 tm 2. Suwarno.5 ton 2.

Gambar 3. 3. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). reaksi ada di B (R B).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan.1. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas .2. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.2. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga.2. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c). jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga.11.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

3.y GP. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.Mc y2 C dx P.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F . dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.q dx Mc = ´ y. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.a.

Dc Gambar 3. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.

. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. .4.2. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3. Prinsip dasar perhitungan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.2.4.2. 3.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya. Pendahuluan Pada kenyataannya.4.2.1.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum.16. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- . Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.17. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.Mc y4 y5 Pada posisi awal. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l.

c1 ¹  § Pr © .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x. c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © . c1 c (x . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .bagian kiri titik C dan .

. 23.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. 12. dan 01 (dengan skala) .18. 23.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3.12. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. 34. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar.

tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah. .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12.Dengan cara yang sama. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . . .Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. .Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 .

.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I.1. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. .5. Jadi dalam hal ini-: dicari !!. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari.2. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. 3. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar. .19.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III.2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. a ƛ R2 .x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = . b 7 MA = 0 1 _P3 .Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. P 3.2. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.2. . R2 dan P3 atau resultante P 1. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A. P4. Prinsip Dasar Perhitungan . P2.5.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari.r = R1 . r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5.

5). Rt .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.3.4. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3.20. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar . 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar.

2. ditanyakan : GP R A .2 = 20 .1 4.1 + P3. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2. GP R C .1 + 6. GP R B.2 = Rt.1 4.45 Rt Gambar 3.6.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.x 6.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.21. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.45 r =1. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.

GP M B. 3. Akibat rangkaian beban M max berjalan. ditanyakan. GP R D GP M I. GP R C . GP R A . Rangkuman . GP DB kanan 2 2 b). RA 8m 2m a). GP R B. GP D I. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar.2.7. ditanyakan : MI max .

perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam.8. . harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. 3. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.2.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber.

333 tm 0 0.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.25 t 0 0 0 0 1t 1. 2 a).333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .25 t 0 0 0 0 0 0 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.5 t 0. MI max = + 14 tm.5 t 0 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).

UGM.05 tm. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. Daftar Pustaka . ITB.2.2.Suwarno. ƏStatika IƐ. bab V-4 3.10. . bab V .9.Soemono. terjadi pada titik dibawah P 2 3. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. a. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang.1.1. dalam. N. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. . (c). dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b).1. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. D) 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. (a).

2. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. 4. struktur pelengkung tersebut. Bermacam-macam bentuk jembatan 4. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). Penempatan Titik s (sendi) .2. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.1. gelagar memanjang.1. Pelengkung sungai Gambar 4. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. kedua perletakan dibuat sendi.1. Dengan konstruksi pelengkung terse but.1.1.2. 7 V = 0 dan 7 M = 0.2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B.3. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).

Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE. h1 f I = VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.1.4.x1. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .2.h1 B Nilai I = V A .3. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ.q x² diatasnya. x 1 HA HB II = HA. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4. maka M E-E = VA. maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.x .q x12 ƛ 2 B HA.

P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.1.l ƛ HA. Gambar nilai I = V A.h1 Gambar 4. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A.3.1. 4. (hA-hB) ƛ P1.1. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.5. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.b1 = 0 (1) .3.6. Cara Penyelesaian 4. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.a ƛ HA.S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .hA ƛ P1.

l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.H B . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).a1 = 0 7 M S = 0 V B . 7M A = 0 VB. masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . (4). h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti.

S1 ƛ Ab . b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .l ƛ P1. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.b ƛ Ba . maka nilai Ab bisa dicari.a ƛ P 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. Bv. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av. a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1). f = 0 Bv .l ƛ P1. f = 0 Av .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B.

a.9 disamping.3 Gambar (c). y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. seperti pada gambar (4.1. x ƛ ½ q x² . x P Untuk balok yang lurus. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4. gaya lintang (D) dan gaya normal (N). Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M).3. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).1. bukan pelengkung. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D).2. maka Mx = V A . RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA .2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4.b l RA + Bidang D RB Gambar 4. II II = HA .8).8. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?. y I = VA . x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ. Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. x.HA .9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB .

y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada.10. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. Vx = V A ƛ q . * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx.

11.Vx sin E.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan . x cos E = . Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .

. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. bidang gaya lintang (Bid.13. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. D) ataupun bidang normal (Bid.12. nilai gaya lintang. H. M). Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. Mc. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. S Ec C yc f=3 m A H 2.5 m dari titik A. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. VB.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. N).

10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.5) ! 2. 5. 2. (5)² = 0 H= V .2.Xc ƛ H. l ƛ q.5 (10  2. 2. 25 ! ! 12.5  1 / 2. 2.3. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . ½ l = 0 VB .q (5)² 15.5 m yc = 4.5 ton 3 3 VA .l. maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² .25 ƛ ½ . ½ l = 0 VA = ½ .Xc² = 15 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B.H .5m Gambar 4. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga.3. l ƛ q. l.5 ƛ 12.q.5 . 3 ƛ ½ q . 3 .5  1 / 2 .yc ƛ ½ . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.14.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA . 3 .

(Vc.5 .8575 ƛ 12.x = 15 ƛ 3.15. Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .5 = 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal. 0.5 . 0. Vc = VA ƛ q. 0. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .2.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.(7.sin Ec + Hc cos Ec) = .5145 + 12. 0.4312 ƛ 6.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1. Nc = -14.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5774 ton.5 .5145 = 6. Contoh 2 xc=2. Dc = 0.14.5 ton ( o) Hc = H = 12.5 .4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.8575) = .

16. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.

08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.yp = 0 VA .76  6. ½ l ƛ H B . 3 ƛ 6 (3 ƛ 1.6 . f = 0 1.5. 1.76 ƛ HA .08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .yp = 0 VB .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. l + P.152 .152 . 5 ƛ HB .2 (10  2) ! 1.92 = 0 VB . 1.92 ton ( n)  5.1.08 ƛ 1. 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.92) = 0 . f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 . l . 3 ƛ 6 . 10 + 6 .P. 10 .92 = 0 (cocok) . 3 = 0 HB = 1.48 ! 4. ½ l ƛ HA .3. 5 ƛ HA .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA .152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .

cos E = 0.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.92) = -1.152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.92 ( ) 0.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.96° sin Ec = 0.8575 Mc = . yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.17.5 + 4.152 .98 HB = 4.88 + 9.2.5145 Dc = . 25 ƛ 6 (2.5145.152 .08 = 1.8575 ƛ 1.V A .92 .25 m Ec = 30.Xc + HA . = -1. 2.08 .25 ƛ = . 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M. 0.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec . Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.18 ƛ 1.

8575 = . c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m .1. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. HA.4.0537 ton 4. Mc. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. HB. VB.152 . 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). Nc. HA. 0. Nc.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. 0.92 . Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2).5145 ƛ 1. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang. HB. Mc. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. VB. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.1.

8 o o p n .6. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.25 m 0. 4. Penutup Untuk mengukur prestasi. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. Soal No.1.75 0.6 0. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.1.5 ton 6.5 ton 4. Sedang bidang momen. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7.667 ton 4. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.5. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.667 ton 2. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.

226 ton 4. bab 4. UGM. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.7.36 m 0.8336 ton (-) (-) Soal No.1. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.842 7.9675 ton 5.8. Soemono ƠStatika Iơ ITB.1. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.3672 tm 2. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan). Daftar Pustaka 1.184 ton 5.774 ton 1.6854 (+) (-) (-) o o p n 4. bab 2. .5625 tm ~0 5.9675 ton 3.64 0.539 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.

Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. a f Px b .2. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. x = 0 1t Untuk P di B . b f VA . x = 0 Untuk P di B . gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. Garis pengaruh V A.2.2.P. 4. f = 0. H P.P. x = l G. b ƛ H . a .P. a.18. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B.P VA (+) 1t G. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.1. V B dan H Px ) l .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. VB .2.3 Prinsip penyelesaian.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . b = f V B . 4. 6 MA = 0 VA H l a G. Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G.f Untuk P di A . b l .2. Garis Pengaruh Reaksi x P S G.

maka lihat kiri potongan (kiri C). H x C v P. M C = VA .P. u dan V B . B H b MC = VB . u .f v G. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . bagian I (+) P . a.f G. M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . v .b c l . u . x = l Untuk P di S . a .b ton l. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.f = 0 a H = VA . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P .f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C).P. f ton H= 6 MS = 0 VA . a .b ton H= l .P.P.P. x = a H=0 P. M C pada balok di atas dua perletakan l G. u .P.H . x = 0 p H = 0 Untuk P di S . R l C u VA VB Bagian II H.H . x = a p H = P. Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). v sama dengan G.v l G.C = G. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A .

N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D .Mc C.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G.19. sehingga: NC = . VA sin D dan V A cos D.H sin D I II I -> identik dengan G. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G. b cos E l . Gambar GP. V A Sin D D GP NC Bagian II () P. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D. a . NC bagian I Q sin E l (+) ( .P. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C.P.) v sin E H b l GP VB sin GP.P.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4.f . Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.

20. G. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) . f Gambar 4. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP.P. Gaya lintang G.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H). untuk GP. D C a b sin E l.P.DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a . NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP.b cos E l .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

½ P + (b/P ). P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . (a).24. . . . . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. ½ P = ½ q P R2 = q . Kondisi pembebanan kolom (b). . transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 .

Xc-R2. sin E + Hcos E) Dc = Vc.Xc-R2.1. R3.Yc Nc = -(Vc . .Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4. .4. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P. .4. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.e-HA. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.5 ton a R1 R2 C R3 S e . . . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA.e-HA.Yc Vc = VA. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar. .25. Pendahuluan . Cos E . Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. Menjadi (R1. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar.qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0. R2.5 ton R5 = 1. . Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4.

transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. 4.Y2). Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. A C I D E ½ ½ P P + 1. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54. P . P . atau 1 kg atau Newton) .33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I.2. Jika letak .33 P 54.33 P 54.5 P . 2.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. P .Y1 + P2. (1 ton. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. P . Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. dengan ordinat 1.5P .5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.N.26.4.

M I gel. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d.27. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Dc dan Nc . Gambarkan Garis pengaruh Mc . Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP.

1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.f G.b cos E lf pemaparanG.Nc = .b sin E lf pemaparan Gambar 4.Q. . b GPMc bagian I P.yc A  ] II I .Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. 28. C yc . a .a .b yc l. f H R VB H VA Q .P.5.P.H sin E Cos E P.5.a.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.P. Mc total (bag I + bag II) - II + P. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung. S . Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.x  H. 4.a .Dc = Av cos E .f G. Pendahuluan . Judul : Portal 3 sendi 4.Y l P.b yc l. GP Mc = V .a . Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.Q.

5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. bisa berupa balok menerus. 4. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung.29. balok gerder.2.

(h ƛ hƞ) ƛ P2 . S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA. Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi. b1 ƛ P2 .l + HB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4.l + HB. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.l + HA.h ƛ P 1 . b2 = 0 VA.hƞ ƛ P 1 . a2 ƛ P1 .30. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II . a1 = 0 VB.hƞ ƛ P2 .a + HA. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.

Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .31.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.

b1  P2 .a ƛ P1 . b  P2 . f = HB . b 2 = 0 Av = P1.a 2 l Nilai A B . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB . b 1 ƛ P2 .l ƛ P1 . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .a  P1 . f = HA .b ƛ P2 . a2 = 0 Bv = P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. f = 0 BA = Bv . a1 ƛ P2 . S 2 f Nilai BA .b 2 l 7 MA = 0 Bv. f ƞ Bv. S 1 ƛ AB .l ƛ P1 . f = 0 . f ƞ Av.a 1  P2 . S 2 ƛ BA .

1.3 .4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .6 ± 4.1 = 0 Av.3 .3 . selesaikanlah struktur tersebut.5 - P.6 ± 2. tg E Avƞ = 1.3 ton . m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.5 ± 2. 3 .5 ± 4.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av. 1.l ± q . 3 .q .3 ton Avƞ = H A .l ± P. 3ƛ2. 4.4333 ( q) Bvƞ = 0.32. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1. 38 ! 1. P =1 Penyelesaian.5ƛ HA.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4. 1.3. 4. 2/6 = 0.5 .5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .5 = 0 Bv Av.

n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.7334t 1.4333 = 5.3t B B 5.7334 t VB = Bv + 0.7334 + 5.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.4333 = 4.3t 4.2666 t .4333 m = 4 5/6 + 0.2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.

8 1.40127 tm (M max) MD = -HB .3t Dx = VA ƛ qx 1. Bidang M.3 .2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.6 = 5.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA . 6 = .1 ƛ 7. 4 + 4.3 t = .2666 t x=3m Ds = 4. 6 = -1.C A x 4.3 t 4.60127 5.3667 ƛ ½ .8 tm - Mc = -HA .2666 t Mx = -1.3667 ƛ ½ .2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.5. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.20254 ƛ 5. N.2 + 11.7334 t BIDANG N - Di S 5.2666 t = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.3 .7334 ton Daerah C-D = -1.7334 .2 tm - S D 7.3667 Mx = -HA .2666.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB. q (x²) . 2. 2 (2.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.1 H B. 2.32.2.3667 m (daerah cs) x = 2.3 t 1.3 t Gambar 4.3667)² = -5.3.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1.4 = . 4 + VA .7.3 t 1.3 ton Daerah B-D 5.7334 ƛ 6 = -1. 4 = -1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian.6. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4.33. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). maka untuk memperpanjang bentang.34. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu.6. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4.6. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa.1. 4.2. .

6. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S.35. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. . Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. merupakan struktur yang menumpu.3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.3.7. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.7. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.7. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. S (b) B GA ambar 4. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. Contoh Penyelesaian . Jadi untuk menghitung besarnya reaksi. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.1. 4.7. Pendahuluan Seperti biasanya.36.2.

R A + 1t C l V l 1t l d l GP.ND=G P.RA .37.f ! l.M D cb l Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.a l cb l GP.R B + c l + + d l a.b l .RA a.H u.b .v l a. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.DD Q l GP.d l.f - + + GP.f GP.c l .RB b.b a. f l d.f GP.

N D Garis pengaruh N D sama dengan g. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. b .RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.b p H ! x p ND !  l l f lf .p nilai H. ~ g.p. R B f P di E RB = c c l c. b ƛ H.f = 0 H = RB .

f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q.MD P berada antara D C M D = RA . p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .H . p N D !  l l f l f P di S 1 GP. a ƛ H.f = 0 H= R A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a.8. f = Garis pengaruh H x f. Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi . 4. Q .a f P di S b a ab RA = b p H ! .b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .V l II = H .

Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. G. G.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. .P NC kanan. G. G. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.P N C bawah .P.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. G. G.P. G. H. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar.PH.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1.P.P. ditanyakanL G.D C .P VA .P. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. G. ditanyakan : G. VA . N C . G.P D C bawah.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.447 0.10.447t 0.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .5 0. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.447t 0 0 0 1.1175t 0 0 0.9. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa. Rangkuman 4. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.782t 1.335t 0.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.5t m 1.

60t 0. Daftar Pustaka Suwarno.333t 0 0 0.084t 1.384t 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1. UGM Bab VI dan VII .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.11. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.40t 0 0 1.20t 0.25t 0.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.333t 0 0 0.336t 0 0 0.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4. JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K.R.B. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.12. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.) .1.

Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. Rangkaian dari material bambu. 5. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. tapi kalau materialnya dari kayu. maka kita harus merangkai material tersebut. 5. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. Jika materialnya dari beton.1. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.2. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah.4. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5.1. ba mbu atau baja. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. .1.3.

. Bentuk K.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5.1. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.1. Pada konstruksi kayu memakai baut.5.B.5. paku keling atau las.R. 5. pasak atau paku.

tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI. Detail I. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.R. .3.2.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.

R. Bidang.R.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.5.R.R. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi . Pada Jembatan K. Ruang terdiri dari 2 K.B.B. sisi 1 K. Ruang bisa dipisahkan menjadi K. atas (ikatan angin atas) 1 K.B.B.2.R.4. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.B.R.1.R. bawah (ikatan angin bawah) K. Gambar 5.B.

Konstruksi Statis Tertentu Pada K.3. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .1.5.B.R.B. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan. Konstruksi rangka batang bidang .R.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.

6.B.B.1.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .R. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K. r = jumlah reaksi perletakan 5.R. Rumus Umum Untuk K.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.15.

Cara grafis dengan metode Cremona . Cara analitis dengan menggu nakan 7 .7. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.B.6.1.Kx = 0 dan 7 . Keseimbangan titik buhul a. 1.Ky = 0 b.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.

jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. y 7H=0 7. b.Kx =0 7. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja.V = 0 ata 7. Cara Analitis Metode Ritter b.1. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. Metode Penukaran batang 5.8. Metode Potongan : a.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. Cara Grafis Metode Cullman 3. a. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 .

8. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik . 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c.

4 P .4 . P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. D2 dan D 1ƞ. A2 dan A 1ƞ. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1.1. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. selesaikan struktur tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. V2 dan V 1ƞ. 4 P .4 . V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. tiap -tiap batang perlu diberi notasi. Untuk batang atas diberi notasi A 1.9. . B2 dan B1ƞ.9. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian.

titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik.R. Dalam penjumlahan. . Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. gaya yang searah diberi tanda sama. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5.10. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui.B.

½ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.½ D 1 A1 = . 3 2 .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) . 2 7V=0 . 2 A1 = .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. V1 = .

2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .1t (tekan) . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). P2 = 3t Ditanyakan : RB P a).1.10. Gaya ƛ Reaksi B b). D3 1t ƛ ½ . 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. Gaya reaksi b). 2.gaya batang RB . 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . Gaya. Beban .

bisa berupa gaya tarik.333 t 6.835 0. 5.00 t 1. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.00 t 6.808 t 4.11. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.555 6. atau gaya tekan.667 t 5.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .1. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.20 t 1. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0.12. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.333 t 3. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. 667 t 6.000 t 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5. Pencarian gaya-gaya batang.1.20 t 4.

13.14. UGM Bab Soemono. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi.1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. - Daftar Pustaka Suwarno. bab 5. ƏStatika IƐ. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No.1.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->