MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya ƊGaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

OABC .2. ar 1.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. pertemuannya di titik 0. tapi masih sebidang. .Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan .Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK 22 Posisi awal KK 1 1 (K1) 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan.. tapi titik tangkapnya tidak sama. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1.

K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1.4. . Urut-urutan penjumlahan. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3  K1. K2 dan K3. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.5.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 . K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.

salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. K3 . D F E.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01.

Garis-garis tersebut dinamakan . pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. K2. K3 dan K4 yaitu R. c. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). dan e. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C Oƞ Rƞ K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. K2. d. K2. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul. garis .Dari titik garis sejajar Ob ) memotong gaya K2 di titik B ( A dibuat ) memotong gaya K 1 di (titik A.6. b.

Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat.1. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. . K2. Jadi Rƞ adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. K3 dan K4. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik Oƞ yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. diproyeksikan. . Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. dengan garis kerja melewati 0ƞ 1. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy.4.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O .7. K2. Dari titik Oƞ dibuat garis sejajar R yaitu garis Rƞ.2. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E .

 K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy.8. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. secara analitis K1x = K1 cos E . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda.

. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. K2. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2.1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis.6. K3 dan K4. Latihan 1. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton.1. 1. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. 3.5.

Bab I 1. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . No. sedang soal no. 3. Suwarno. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab I.1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. ƏDeterminate StructuresƐ ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. French. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11.7. 3 hanya berupa grafis. secara bertahap.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. Soemono.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1. Samuel E.9.5° dari sumbu x R = 12. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. 2. ƏStatika IƐ ITB.5° dari sumbu x R = 11. Penutup Untuk mengukur prestasi. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. Daftar Pustaka 1. Bab I.1.8.1 ton sdt = 22.1.1 ton sdt = 22.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

mengerti tentang beban. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . kolom. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. reaksi dan gaya dalam. 1.1. balok.2. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima.2. balok. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. kolom. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. reaksi. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1.9. jembatan dan lainsebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. Contoh : a. apa itu beban.

Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat.2. a. dan lain sebagainya. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. a. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. balok perletaka n Gambar 1. misal : meja. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik.2.10. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . kendaraan. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.1. peralatan dan lainsebagainya.2.

Gambar 1. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . Newton.12. kg.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. Gambar 1. kg/cm Newton/mƞ dan lainsebagainya. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/mƞ Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/mƞ. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas.11. dan lainsebagainya.

3. dan lainsebagainya. Contoh : a. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur.1. 1. konsep pengertian tentang perletakan. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan ƠPerletakanơ. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi.2.2. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. jembatan. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini.3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1.

jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1. sendi.2. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. jepit dan perodel. .14. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. bisa berputar tersebut harus mempunyai reaksi jika Gambar 1. ada reaksi vertikal.13. perletakan Gambar 1. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol. (Gambar 1.3. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. maka oleh rol tersebut dari atas.2. a. karena bias itu bergeser rol ke arah horizontal. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur.15. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1.

16. Rv RH c.18. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. oleh Rv Gambar 1. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Karena struktur harus stabil. Jadi sendi tidak mekanika teknik. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen.17. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1.17).

ada reaksi vertikal.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik.21. ada reaksi searah pendel. dan momen Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik.20. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur.21. balok baja pendel Gambar 1. horizontal. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1. Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .22.

Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan. a. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. Keseimbangan vertikal . jembatan dan lain sebagainya. 1.23.2.3. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. dan bagaimana cara menyelesaikannya. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. Bangunanƛbangunan tersebut supaya tetap berdiri. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. mahasiswa perlu mengetahuinya.1. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. hal itu merupakan syarat utama.3.3.

yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal.25. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv). Kotak Gambar 1. (Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa turun. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). maka kotak tersebut langsung tenggelam. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv).24.25) Gambar 1. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). Kotak tenggelam dalam lumpur b.

maka kotak tersebut langsung bergeser. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM).26. karena tidak ada yang menghambat. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal.27.27) Gambar 1. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). PM Kotak Lem Meja .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c.

Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. dan tidak bisa terangkat. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal.30.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. benda tersebut harus tidak bisa turun. RM Gambar 1. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). Keseimbangan statis . yang RH berarti harus stabil. Gambar 1.29. momen maka kotak tersebut bisa terangkat. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM).

tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg .PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol).PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang. Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV). Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH ƛ PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ).  Dari variasi tersebut diatas. 1. maka syarat minimum RM = PM atau RM .4. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ). Latihan 1. atau RV .3.

Beban terpusat. satuan. 1.3.3.6.Sendi punya 2 reaksi . Penutup .Jepit punya 3 reaksi . Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. notasi. Rv = ? 2. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.Rol punya 1 reaksi .Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. P.5. Rangkuman o Macam-Macam Beban . notasi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. satuan kg/mƞ atau ton/mƞ atau Newton / mƞ o Macam Perletakan . q. kg atau ton atau Newton .Beban terbagi rata. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1.

ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM Bab I. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. Soemono ƏStatika IƐITB Bab I 1.3.7. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. Suwarno.3. 2. Daftar Pustaka 1.8.

Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. seperti gedung-gedung. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . ada beberapa macam sistem struktur.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. 2.1. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. jembatan dan lain sebagainya. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu.1. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks.

2.1. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A).maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. 2. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.1. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) . maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan.3.1. Contoh a).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.

2.4. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. b). Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah.3. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. Konstruksi statis tidak tertentu .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. A B Gambar 2. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu.

Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. Penutup Untuk mengukur prestasi. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.6. Latihan a). Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2.1.4.5. Perletakan A dan C sendi. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. 2. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu.1.mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.1. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. b). Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2.

1.8. Daftar Pustaka 1. Suwarno ƠStatika Iơ ITB bab I 2. 2. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen . b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.2. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ UGM bab I 2. Jadi konstruksi statis tidak tertentu.1. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. baja dan lain-lain. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. 2. kayu. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. Jadi diatas adalah statis tertentu.7.1.

pendek (A). Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. memerlukan gaya dalam.2. Orang membawa membawa beban tersebut. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. Contoh : a). o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda. demikian juga untuk orang B. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. 2. Gambar 2. Contoh (b) 2. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg.2. P1 A L1 Gambar 2. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). P P Untuk A orangnya pendek. tinggi (B). satu kecil. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. kolom. yang satu lagi besar. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda.7. pelat.6.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg.3. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2.2. dansebagainya). Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar.5. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . tinggi.8.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut.9. Gaya Dalam Momen a).(pers. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Mx = RA . Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) II (dihitung dari kiri ke potongan c-c) Ʀ. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/mƞ B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar. x ƛ q. o Balok tersebut menderita gaya lintang. 2. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. ½ x 1) gaya jarak gaya jarak .x.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan. ada beban terbagi rata q (kg/mƞ) dan beban terpusat P (kg). balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D.4.2. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2.

(pers.10. Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I II Mx = RB (l-x) ƛ q (l ƛ x) . 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/mƞ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. ½ (l -x) (dihitung dari kanan) ƦƦƦ.

menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. Tanda momen 2.13. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . Demikian juga sebaliknya. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA .5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/mƞ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut. Tanda momen (-) * Gambar 2. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2.2. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/mƞ) Kalau dilihat.11.12. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif.

Potongan balok bagian kanan . y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. maka D1 = RB ƛ q (l-x) ƛ P = RB ƛ Q2 ƛ P kanan potongan) P c q (kg/mƞ) (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (lx)x) (l ƛ RB Gambar 2. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. maka (1) Dc = RA ƛ q x = RA ƛ Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri x q (kg/mƞ) c potongan) c Q1=q x RA Gambar 2.15. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c.14.

P Jika dilihat dari kanan potongan c. . gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. jumlah gaya arahnya ke atas. gaya yang ada hanya RA. atau kalau dilihat di kanan RB potongan.16. Karena RB adalah merupakan reaksi. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). maka perlu memberi tanda (+) dan (-). C RA Dilihat dari kiri potongan C.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang.

Jadi gaya lintangnya tandanya adalah .17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). Gambar 2. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. A Dilihat dari kiri potongan D. Gambar Skema gaya lintang 2 dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. D maka gaya lintangnya tandanya negatif. Jadi RA < P. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas. karena RA adalah reaksi.17.

2. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. P P Kalau dilihat pada Gambar 3. maka pada batang AB (Gambar 3. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok.18. . maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. 2.18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.19) menerima gaya normal (N) sebesar P.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. * Tanda Gaya Normal .19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).19. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.6.

Jika gaya yang ada arahnya menarik balok. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .7. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }. 2.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .

P3 = 2t (´) P4 = 3t .8. q2 = 1 t/mƞ P1 = 2 2 t q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m . P1 = 2 2 t (º).2.20. Ringkasan tanda gaya dalam 2. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. P2 = 6t (¶). q1 = 2 t/mƞ.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2.

1  6.6.7 ƛ P2.q1 ƛ P2.7  6.1. gaya lintang dan bidang normal.2) ƛ (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .12 ƛ q1.q2.1 = 0 2. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.6.6. (Bidang M.12  2.6 ƛ q1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.4 + 2. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.2 . Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen. yang searah diberi tanda sama.2 = 9 ton (µ) 10 RBV = Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas. N.6 + 6 + 1.6. RBV 71%! RBV.2) ƛ (RAR + RBR) = 0 (2 + 2.6 + P2 + q2. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.6  2.10 ƛ q2.21. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.10 ƛ P1R.3  2.4  2.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 RAV = Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.3 + P1R.2 = 0 1.

Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = . D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/mƞ P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . Perletakan B = sendi ada RBH. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas).2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.

Variabel x2 berjalan dari E ke B.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. DD kn : -2 + 13 ƛ 12 ƛ 6 = .6 didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). DE = 0 Dx2 = q2 .7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. Dx = -2 + 13 ƛ q1 x = (-P1V + RA ƛ q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton (di kiri potongan arah gaya DD kr= -2 + 13 ƛ 12 = . Daerah B-E 2m q2 = 1 t/mƞ x. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C.1ton lintang ke bawah) 2. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B). melampaui beban P2. x2 = + x2 (persamaan liniear) .

NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri. ND kn = (-2 ƛ 2) ton = . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).7 ton (kanan potongan arah ke atas) Melewati perletakan B MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 ƛ 9 = .4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = .P1H = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan. dari E ke B nilai gaya normal konstan. ND kr = .4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. dimana gaya normal dihitung dari titik C.

4 tm. x = .2. Daerah A D . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .2 = . sehingga tanda negatif (momen P1v .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .P1v .

x1 ƛ ½ q1 x1² Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 ƛ ½ q1 x12 (persamaan parabola) = .25 tm.5 ƛ 4 = 26.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/mƞ P1V = 2t C P1H = 2t A D x.5.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.5.22.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.½ q1 x12 + 11 x1 ƛ 4 6 m MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx 1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.½ .2 (5.5)² + 11. lihat pada Gambar . x1 = 5.5 m Mmax = .

3756 m (yang dipakai) x1ƞ = 10.½ .x12 + 11 x1 ƛ 4 = 0 = x12 ƛ 11 x1 + 4 = 0 x1 = 0.q1. titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/mƞ P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 . 1.62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 ƛ 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .½ .

286 0.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/mƞ P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/mƞ E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5. D balok diatas 2 tumpuan . Gambar bidang M.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0. N.22.

5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD ƛ P2 ƛ P1 ƛ q.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q . x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1.9. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/mƞ P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ Ditanya : Gambar bidang M.2. N. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.5 24. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.5 32.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah A B Bidang M (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. N. Bidang M.23. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. D Balok cantilever .

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- 2 Daerah B .5 t ( ) 2.6 ƛ P2.3.3 ƛ 5. a) reaksi perletakan b) bidang N. a) reaksi perletakan b) bidang N.2.1.5 tm ( ) MD : .2 ƛ ½ .C : Mx2 = -P1 x2 ƛ P2 (x2 ƛ3) ƛ ½ q x2 : MC = -2. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.5 ƛ 1. D dan M 45 ° Soal 2 P! t P3 = 32 2t HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .24.5 + 1) = -12 ƛ 3 ƛ 5.5² = .1 (2.10.P1. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.5 = 32.

reaksi perletakan b). Ditanyakan. t/m' HA A VA 6m ¡¢ ¤2   2 2t ° £ P1   2t 2m B RB 2m C Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol .5 ton /m· . D dan M q = 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q   . a). P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . bidang N.

2.5 ton 3.tekan + + + + Momen = M . 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.5 ton 4 ton 4 ton 0 4. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.5 ton 0 9 tm 10.12.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 tm 0 Tanda/arah o o p .5 ton 0.11. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.5 ton 3.

08 m D B C Nilai 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.tekan + + Momen = M + + - .625 ton 4.13 tm 0.625 ton 4.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .75 tm 4.375 ton 2 ton 2 ton 4. 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.08 m kanan A A X = 3.375 ton 2.375 ton 2 ton 0 0 7.

Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban.dx. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx).3. Dx dx dan qx. gaya lintang dan momen. Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.dx . dx o Kiri ada Mx .0 d Mx = Dx .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.24. Hubungan Antara Momen (M) .dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya ƛ gaya vertikal 7 V = 0 di potongan II Dx ƛ qx dx ƛ (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx ( o) dan qx dx ( q) dan kanan ada Dx + d Dx ( q) dDx = . . dx² .qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx ƛ qx .dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. ½ dx ƛ (Mx + d Mx) = 0 ½ q.

Seperti pada gambar.1.4.25. misal : tangga.4. balok atap dan lain sebagainya. 2. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). Skema balok miring . Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal.

2. Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. 2. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal. Ditanya : Gambar bidang M. D Jawab : q = 1 t/mƞ B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Dim B = rol jadi reaksinya hanya 3 satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang .4. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. dan beban terbagi rata q = 1 t/mƞ dari D ke B dengan arah vertikal.

2 ƛ 2.2 ƛ q.16. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.2.1 = 0 RAV = 7.2 ƛ 4. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.3 ƛ P 1.3 ƛ 4.12 ton .6 ton = 2.3.4 ƛ RAH.3 ƛ P2.5 ƛ q.3 ƛ 4.2.1 = 0 RAV.26.2 ƛ P1.4 ƛ 2. RAH 7 H = 0 RAH ƛ RB sin2 = 0 3 RAH = .3 ƛ 4.3 ƛ P2.5 ƛ 1.2.1.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAV 7 MB = 0 RAV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.a.1 = 0 18 ! 3.

3.6 ton Dari B ke D Dx = .6 + q.6 ton NC kr = .3.(4 + 2) sin E = -6 .RB = .26.6 ton MEN GHITUN G GAYA LINTAN G (D) (dari kanan) DB kr = . cos E DD kn = .b. 3/5 = .6 + q.B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.3.4 ton 4/5 . sin E = -2 .(4 + 4 + 2) sin E = -10.2 .E! 4.2 ton DD kr = -3.2 ton (dari kanan) ND kr = . 4/5 = .2 ton Dc kr = .6 + (2 + 4) 4/5 = 1.x .3.6 + 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MEN GHITUN G BIDAN G NORMAL (N ) Beban P dan q diuraikan menjadi : . cos E= .1.3.6 + (2 + 4 + 4) cos. 3/5 = -1.3/5 = .// sumbu batang .3. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ! q sin E ¾ ® ¯ ¿ b ! q cos E À ° menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .

x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB .6 .2 ƛ 4.75 ƛ 2.1.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB . 3.6 .2.q. D 1 t/mƞ 4t B . 2 1  .2 ƛ P.q.  .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/mƞ B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/mƞ MEN GHITUN G BIDAN G MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.1 = + 5. N. 3 .5 tm Gambar bidang M.1 cos E = 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Seperti contoh dibawah ini. Gambar 2. Bidang gaya dalam pada balok miring .27.

2 + q.12 .RAH . beban tekanan tanah dan lain sebagainya. 4/5] = . Cos E (gaya B sumbu batang) RAV . 3/5 = 4.1.16 t D = + RAV .1 . DB = -2 ƛ 2. 3/5 = .2 + 2. NC kn = .[(7.1.16 . cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.(7. cos E (gaya // sumbu batang) RAV.16 .2 . 4/5 = .12 . NDkn = . namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .[(7. 4/5] = . Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.5. 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUN GAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV. sin% E  E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = . 4/5) t = .16 .5. 3/5 + 2.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = . sin E (gaya B sumbu batang) RAH.(RAV .6 ton 2.2 ton. sin E E RAV . sin E NB = .16 . cos E . 3/5 = 1. Cos E) RAH = 2. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .1 . 4/5 ƛ 2.12 ƛ 4 ƛ 4) 3/5 + 2.12 ƛ 4). sin E + RAH .16 .12 ƛ 4 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.6 ton Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. DA kn = 7. Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E . Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7. 3/5 + 2.1.3. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.1.3.16 .12 NA kn = .2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.12 ƛ 4) 4/5 ƛ 2.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/mƞ

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 Gx ambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B l 0 p R ! 1/ 3 l  P 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 / 3l ! A l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA ƛ Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA ƛ Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MEN GHITUN G BIDAN G M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3  l l 3 ¹ © ¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/mƞ TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l ƛ P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l ƛ P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDAN G D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x ƛ Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDA N G 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A ƛ Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

. a) reaksi perletakan c) bidang N. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . B = rol. D dan M 30° Soal 2 q = 1. seperti tergambar. B = rol. a) reaksi perletakan b) bidang N.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol Ditanyakan. Beban q = 1 t/m· . P = 3 ton Ditanyakan. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . D dan M Soal 4 3m RB . q ¦ t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- P q ¥ 1 t/m' C B ¥3t HA A VA 6m 1m Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. P = 3 ton Ditanyakan.

88 t 3 ton 9. besarnya merupakan fungsi x. ketelitian perhitungan perlu.5.50 t 2. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.4. B = rol.tekan . D dan M 2. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah. Ditanyakan.12 ton 5.5.815 t 4.tekan . Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga.5.16 t t 2.63 t 2. 2. Penutup Untuk mengukur prestasi. seperti tergambar.88 m Nilai 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- q § 3 t/m' RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M + .11 tm Tanda/arah o n o p .76 ton 1. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2. a) reaksi perletakan b) bidang N.88m jarak miring dr A A B C X = 2.6 t 0 0 3 tm 0 3.50 t 1.

06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.l 3 0 0 0 0. B «««.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.. X= Momen = M L 3 = 0.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p .l 6 q. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««. Jawaban soal no.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3.5774 L dari A A B C X= Nilai q. 4 .6 ton 0 0 5.l 6 q.l 3 0 0 q..

2.5.24m Nilai 4. ƏStatika IƐ. UGM.5.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.67 tm 3.6. Daftar Pustaka - Suwarno. Bab I.5 ton 1 ton 0 0 0 0.5 ton 0 0 4.7. ITB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2.24m dari B A B X = 2.5 ton 4.5 ton 3. Bab I Soemono. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x . ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.

a l a . x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .2.2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.

a l ax A Px a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar.l 3 1/3 l . bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.l 6 B a t/mƞ RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.l ton 2 a. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/mƞ= h. dengan beban segitiga diatasnya.

Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. baja. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. Gelagar Tidak Langsung 2.1. .30. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2.31.6. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. bambu.31).6. dan profil baja. gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan. bambu atau baja tersebut. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. bambu. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan . memanjang Potongan Melintang Gambar 2. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel.31.

q kg/mƞ beban terbagi rata gel.6. gel.2. tidak 2.3. induk / G ambar 2. Penyederhanaan akhir. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata. melainkan lewat perantara gelagar melintang. induk). untuk gel.32.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. gel.33. memanjang gel. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel. melintang gel. Penyederhanaan awal. tida k langsung Gambar 2. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. memanjang P P P .6.

melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. memanjang genap.P.qP² .q P² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP .P/2 . P = 6q P² . melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . melintang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. 2P . dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2. 2P . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel. II I q t/mƞ Potongan I ƛ I = tepat diatas gel.35. maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2.

2P . ½ P = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.5 P .375 q P² .½ q (2P)² = 6q P² .125 q P²) q t/mƞ Perbedaan tersebut adalah dari : P 0. 1.2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.q P .q P .125 q P² = 3.1.5 P)² = 4.25 q P² Perbedaan momen (0.125 q P² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/mƞ II Dengan memakai beban langsung MII II P 3q P ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/mƞ II M II = 3q P .½ q P .5 P . 1.125 q P ² 8 P/2 = 3 qP .5 P² . 1.5P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.½ q (1.

37.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung ƛ M. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung .25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. 2½ P Gambar 2. lantai = 3. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata. namun s eperti gaya lintang beban terpusat.0. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).125 q P² = 3.375 q P² . garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier. tapi kalau gelagarnya tidak langsung.

Gaya reaksi V A. q = 1.6. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. H A.5 t/mƞ Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada. 2. Gaya reaksi V A. D. Latihan Soal 1: q = 1. Penutup Untuk mengukur prestasi. D. . RB b). 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a).6. Ditanyakan : a).5. H A . 2.6. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. RB b). Bidang N.6. M.4. Bidang N. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2.5 t/mƞ sepanjang bentang.

25 tm 4.5 t 0 4.00 t 0 5.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal N o.25 t 1.0 t 3.5 t 1.25 t 1.5 t 3.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M . 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 N ilai 1.0 t 3.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.75 t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B N ilai 6t 6t 0 1.5 tm 0.75 t 2.5 t 1.0 t 1.25 t 1.5 t 4.

ƏStatika IƐ.6. ITB-Bab I Suwarno. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk. 2. Daftar Pustaka - Soemono. .6.67 tm 3.8.24 m dari B A B X = 2. UGM Bab I.24 m 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C AƛBƛC A B kiri B Kanan C X = 2.73 tm  + + Momen = M + 2.0 tm 0 0 4.5 ton 1 ton 0 0 0 0.5 ton 3. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .7.

atau gaya dalam M (Momen). Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. gaya lintang dan gaya normal. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. gaya momen. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh.7. gaya lintang.7. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. gaya momen. Garis Pengaruh 2.7.1. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. atau N (Normal). tersebut berjalan suatu muatan. Jika dua hal tersebut dipadukan.2. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. maka didalam suatu garis pengaruh. jika di atas struktur jembatan 2. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. dan gaya no rmal. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. .

R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.P. l ƛ P (l-x) = 0 P(l .x = 0 P.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.P.P.38. R A RA . Gambar garis pengaruh R A dan RB .P.l ƛ P. R B + G.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.

RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP.R B t A C a + y1 y2 GP. y2 atau Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2.3. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP. dimana d c ton dan y 4 = ton.39.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.RB Gambar 2. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.40. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.41. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.39 A c 1t + y3 GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.R A y2 GP.7. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka RA = 4 .beban y1 dan RB =sama 4 . dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2. Kegunaan garis pengaruh untuk tidak 4 b 4 a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l . maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.R B Gambar 2.R A + P=1 GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP.

Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 .RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.42.R B + y3 GP. RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. sejarak d dari titik B. Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.43. sejarak dari titik A.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 .D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A ƛ B .P. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. sejarak b dari titik B.

D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.44.P. R A l x ton (linier ) l x=a G. Gambar garis pengaruh gaya lintang .x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G. l ƛ P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.P. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P.P. R B - b/l G.

P. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . a . M c ¨l a¸ b © ¹ ! .a x=a Mc = G.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. a tm ª l º Untuk P di C GP R A.45. b =  Untuk P di A x . Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . tm ª l º = 0 tm Gambar 2. P = 1t x G.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB. a tm = © ¹ .P.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA .b a.P. tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a .

R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP. DD.M D + GP.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .R A . MD lihat kanan bagian x M D = RB .2 ! tm . M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.R B.R B : 7 . M D. DBkn Jawab : GP.4 GP.DD - 1 t 3 GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3. t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A.2 - GP. 2 = . RB. 4 = .R A.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.R B 1 t 3 2 3 + GP.

DBkn P antara A ƛ B DBkn = 0 GP.DD P antara A-D D D = .46.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.R B GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm lihat kanan bagian lihat kanan bagian .RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.M B P antara A ƛ B MB = 0 x P antara B ƛ C M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.DBkr 1t GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.D Bkn 1t + P antara B ƛ C DBkn = P = 1 ton lihat kanan bagian lihat kanan bagian GP.MB 2 tm GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .

GP RB. max. . MI max. ditanyakan GPR A. GPRB. LATIHAN Soal 1 berjalan P ¨ 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. Soal 2 A 3m berjalan. ditanyakan GP R A. P2 = 2t berjalan P = 1 t ©   I RA 4m 5m B RB 3m C Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. RB max. DI (-) max. 3m berjalan. GP D I.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. GPD I.7. M max. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. GP MI a) Bila beban Ditanya. 4t DI (+) max. MI max.

5 ton D I (+) max. = + 5. = + 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no.1875 tm .6. 2. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. = + 9 tm Mmax.7. Max. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton).3 ton MI max.5. = + 9.7. Penutup o Untuk mengukur prestasi.

- Suwarno.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no. ƏStatika IƐ.4 ton 0.Garis pengaruh - Beban berjalan . Senarai .7.8. ITB.3 ton 0 1 ton 1. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .4 tm 1. MI max.18 tm Nilai 1 ton 0 0. 2. UGM Bab I.Soemono.6 ton 0 0.7.3 ton 0 0. Bab I. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.3 ton 0 0 2.175 ton = + 9.7. Daftar Pustaka . 2.

a). 3. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. B = rol dan C = rol.1. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. maka jumlah . perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV.1. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu.1. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. yaitu 3 buah dimana A = sendi. ( yang mempunyai lebar > 100 m ).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah.

RAH. RBV.2. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. maka bisa didefinisikan bahwa : .1. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. 7H = 0. Skema balok gerber 3. 7H = 0. 7M = 0. 7H = 0. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. 7 M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7 V = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu .2. RBV. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. RAH. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3.1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan. .

R . dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. RAH. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. R . 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. yang masih statis tertentu. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. B = rol. C = rol. 7 H = 0. . 7 H = 0. 7M = 0 dan 7M D = 0. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. disebut dengan konstruksi balok ge rber. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu.

3.1. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar. Detail sendi gerber .3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.

4. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/mƞ C B A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3. dimana balok DC tertumpu di balok AB. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD. 3.4.1.

jadi untuk sementara diterima saja. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. Apakah mungkin ? Perhatikan .5. D B C Cara memilih : alternatif (1). dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/mƞ. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUN GKIN Gambar 3. sehingga struktur bisa diselesaikan.1. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. maka konstruksinya masih statis tak tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. sendi gerber belum ada.2. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. Kalau dilihat dari sub bab 3. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2.6. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. . RDH). D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. perletak B = rol. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. Perletakan D = Gambar 3. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). perletakan A = sendi. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). Perhatikan balok DBC. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin . mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin .7. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3. b2 Jika konstruksinya (a).8. demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.5. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c).1.

Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). Jadi alternatif (C) adalah mungkin. perletakan. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. (ada 2 reaksi). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin . c = rol (ada 1 reaksi). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). Perhatikan balok DC (gambar b2). Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. perletakan B = rol (ada 1 reaksi). perletakan D = sendi. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. jadi tidak ada reaksi. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC.

N. Bidang-bidang gaya dalam (M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3. maka balok AB bisa diselesaikan. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. Penggambaran bidang M. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. Skema pemisahan balok gerber .9. N. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). N. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D.

= P. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/mƞ dari B ke C. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.6 ƛ 1. 4 ƛ P. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .6 ƛ RS. N.8 ƛ 2.3 = 0 RC.1 4. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu. 4 ƛ P.3 ! ! 3t 4 4 BID. dengan jarak 1 m dari A.6.8 ƛ q. Ditanya : Gambar bidang M.2 ƛ q. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton.2 ƛ 2.3 4.6.667 m 7 MA = 0 RS. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/mƞ x2 C (b).1.6 + 1. A = rol C = rol .10.833 m 5.33t 3t + 1t BID.6 + RS.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.3 = 0 BID. N Gambar 3. M 2.3 = 0 RA.6.3 = 0 RC.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RB.1 = 0 RS = P.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA.6. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /mƞ C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar. D.6. .1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.

667-x2 ) = 0 x2 =5.x 2 - = 5.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.x-P (x-1) = 3.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5.667.q x2² (parabola) 2 1 .667 x 2 ƛ x22 = 0 X2 (5.667 x 2 .2.02589 = 8.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S Daerah P Mx = RA.0546 ƛ 8.667.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.1. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.667 ƛ 2 x2 = 0 = x2 = 2.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .0287 tm.x = 3.x ƛ 4 (x-1) x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .x2 - Mx2 = 5.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTAN G ) .833 ƛ (2.Rs. 2.833)² = 16.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.x1 = .

833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .6.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .6 = + 6.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.5.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.Rc + q .P = 3 ƛ 4 = -1 t (Konstan ) Balok S Ɗ B C Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .1.667 + 2 .667 + 2.5. Latihan . x 2 2 = . x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .667 t Dbkn = -5.

o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. dengan perletakan A = sendi. S = sendi gerber Beban : P = 5t. Gambar : bidang. D) Suatu balok gerber dengan 1). tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. N. A 2 m 5m 2 m 4m 2). P = 5t S B q = 2t/mƞ C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. B = rol C = rol.bidang 3. maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M.8. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . Atau . S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori ƛ teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). Rangkuman o Balok gerber adalah : .1. 2m dari A q = 2t/mƞ sepanjang bentang SC.

o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. Penutup Untuk mengukur prestasi. 1 Keterangan Titik A Harga 1.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1.4 ton 7.1.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.4 ton 3.9. Soal No. 3. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.

Soemono ƏStatika IƐ ITB bab V 2.1.5 ton 5 tm 0 7.5 ton 5 ton 5 tm 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2. Suwarno.2.11. Garis Pengaruh Balok Gerber . Daftar Pustaka 1. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya.5 ton 2.1.5 ton 2.10.5 tm 0 2. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ UGM bab V-4 3. 3.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3.

2. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan.1. 3. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan. reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c). o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. reaksi ada di B (R B). atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N).11. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi.2. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut.2. Gambar 3. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PEN GARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/ l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

y GP.Dc y1ƞ y2ƞ + y3ƞ y4ƞ Dc = -P1ƞ y1ƞ + P 2ƞ y2ƞ + P 3ƞ y3ƞ + P4ƞ y4ƞ Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1ƞ y1ƞ + P2ƞ y2ƞ + P3ƞ y3ƞ + P4ƞ * y4 ƞ P4ƞ 2) P 1ƞ P2ƞ P3ƞ y1 ƞ A GP.2.b l y3 y 1 y4 ƞ y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/mƞ q t/mƞ d Mc = y. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P 1ƞ P2 ƞ P 3ƞ P 4ƞ q dx = muatan q sejarak dx. MEN CARI HARGA MOMEN DAN GAYA LIN TAN G DEN GAN GARIS PEN GARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.q dx Mc = ´ y.Mc y2 C dx P.3.a.

Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .Dc Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/mƞ Luas = F + - GP.15.

. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.4.2.1.2.4.4. .2. Prinsip dasar perhitungan .16. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar. Pendahuluan Pada kenyataannya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. 3.2.

17.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal . Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan yơ GP. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 ƞ y 3ƞ y4 ƞ y5 ƞ = posisi kedua r B C (l. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai. (x P1 P 1ƞ P P 2ƞ P3 P3ƞ P4 P4ƞ P5 P5ƞ 2 Jawab : A (c) l l (x y 1ƞ y1 y2 y3 C1 yƞ yƞ yơ y4 + P5 y 5 Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .Mc y4 y5 Pada posisi awal.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x. c1 c (x .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah yƞ dan Di kanan titik C ordinat berkurang yơ yƞ = yơ = (x . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : ( Mc = P1 yƞ + P2 yƞ ƛ P3 yơ ƛ P4 yơ ƛ P5 yơ = (P1 + P2) yƞ .c1 ¹ c l c  ª º ª º § Pl § Pr ¾ ® ( x. dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1ƞ s/d y5ƞ dan Mc = 7 Pyƞ (dalam hal ini y berubah menjadi yƞ) Jika ditinjau 2 bagian : .bagian kiri titik C dan .c1 ¯  ql  qr A ¿ ! (x.c1 ¹  § Pr © .(P3 + P4 + P5) yơ + P5) = 7 Pr jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .c1 ? l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C .

Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (Aƞ) sehingga membentuk sudut ( E) . dan 01 (dengan skala) . 34.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar. . 23. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : q l = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l ƛ c) ql qr qs Gambar 3. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang.12. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B.18. 23.di ujung bagian kanan (Bƞ) buat muatan tumpukan beban dari 45. 12.

. .Tarik dari titik Iƞ sejajar (//) dengan garis Aƞ0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . sampai memotong garis Aƞ -Bƞ di Iƞ. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E Aƞ 5 .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.Dari titik IIƞ ditarik garis // (sejajar) dengan Aƞ ƛ O dan memotong tumpukan muatan di beban 12. .Dengan cara yang sama.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. .Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis Aƞ-Bƞ dan memotong di potongan IIƞ.

.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.5. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. .5. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum. 3.2. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. Jadi dalam hal ini-: dicari !!.1. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- Iƞ IIƞ IIIƞ IVƞ Bƞ Gambar 3. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu.2. .19.

2.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = .r = R1 . Prinsip Dasar Perhitungan .2. a ƛ R2 . P 3. P4. P2. . P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. Jawab : R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1. R2 dan P3 atau resultante P 1. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A ƛ B. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.5. b 7 MA = 0 1 _P3 . r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3.

3. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1. Rt .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax ƛ maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1.5).2.4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .20. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3.

Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.1 4. GP R C .6.21.2 = Rt.2 = 20 . x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ r = 5½ + 0.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.1 4.2. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. ditanyakan : GP R A .45 r =1.45 ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.1 + 6.45 Rt Gambar 3.x 6.1 + P3. GP R B.

3. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. ditanyakan. GP R D GP M I. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. Akibat rangkaian beban M max berjalan.2. GP R A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. Rangkuman . ditanyakan : MI max . GP DB kanan 2 2 b). GP R C . RA 8m 2m a). GP R B. GP M B.7. GP D I.

Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan.8.2. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. . perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C N ilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam.

333 tm 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C N ilai 0 1.25 t 0 0 0 0 1t 1.25 t 0 0 0 0 0 0 1. 2 a). Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal N o.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .

25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).5 t 0 0. pada saat P 2 terletak pada titik I .5 t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0. MI max = + 14 tm.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D N ilai 0 0.

. terjadi pada titik dibawah P 2 3.Suwarno.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. Daftar Pustaka .2.05 tm. ITB. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ .2. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain. UGM.Soemono.10.9. bab V . ƏStatika IƐ. bab V-4 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

1.1. D) 4. dalam. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. a. (a). Judul : PELEN GKUN G 3 SEN DI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. N. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut.1. . dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. (c). Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam.

Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4.1. 7 V = 0 dan 7 M = 0.2. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut. Bermacam-macam bentuk jembatan 4.1. struktur pelengkung tersebut.2. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0).2.2. Dengan konstruksi pelengkung terse but.2. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). kedua perletakan dibuat sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c).1. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan. Pelengkung sungai Gambar 4. 4.1. Penempatan Titik s (sendi) . gelagar memanjang. Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4.1. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.

3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).

maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.3.h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.4. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/mƞ A RA B Kita kembali ke belakang. h1 f I = VA .2. 2 q kg/mƞ (c) Gambar 4. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/mƞ. Bidang M struktur 1 statis tertentu M= q l² dengan beban terbagi 8 rata 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E ƛE. x 1 HA HB II = HA.h1 B Nilai I = V A .x1.1. maka M E-E = VA.q x12 ƛ 2 B HA.q x² diatasnya. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .x .

3. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.1. Gambar nilai I = V A.1. (hA-hB) ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.l ƛ HA. 4. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7 MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.x1 ƛ ½ q x1² + Bidang M + Gambar nilai II = H A.5.h1 Gambar 4.b1 = 0 (1) .6. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan. Cara Penyelesaian 4. Skema Nilainya bidang M pada pelengkung mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.3.1.

S 1 = 0 (bagian kiri) (2) .hA ƛ P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.a ƛ HA.

(4). h B ) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari. Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti. HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).l + HB (hA ƛ hB) ƛ P1.l . masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . 7M A = 0 VB.a1 = 0 7 M S = 0 V B .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari.H B .

b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .b ƛ Ba . a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).a ƛ P 1. Bv. maka nilai Ab bisa dicari.l ƛ P1. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av.S1 ƛ Ab . f = 0 Bv . f = 0 Av . a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.l ƛ P1. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari.

y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E (³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E (¶) merupakan uraian vertikal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. ( ´) Ba cos E = HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B.

x q kg/mƞ Lihat pada gambar 4.3. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D).2.b l RA + Bidang D RB Gambar 4.HA .9 disamping. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . y I = VA .8). Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya. bukan pelengkung.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4.1. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P. x P Untuk balok yang lurus. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.3 Gambar (c).9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . x.8. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4.1. gaya lintang (D) dan gaya normal (N). Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. x ƛ ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4. x ƛ ½ q x² .a. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). seperti pada gambar (4. dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/mƞ.2. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a). II II = HA . maka Mx = V A .

Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. Vx = V A ƛ q .y gambarnya juga parabola 4 fx ( l  x ) l² Jadi Mx = I ƛ II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E . dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx.

maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . x cos E = .( Vx sin E Hx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan .11. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung. Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .Vx sin E.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4.

Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. Mc. VB.13.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. M). N). . S Ec C yc f=3 m A H 2.12. bidang gaya lintang (Bid.5 m dari titik A. Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/mƞ Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/mƞ. H. D) ataupun bidang normal (Bid. nilai gaya lintang.

maka 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . l. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga.5) ! 2.5 ton 3 3 VA . 25 ! ! 12.H . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x. 3 ƛ ½ q . 2. l ƛ q.3.2. 3 .25 ƛ ½ .10 = 15 ton ( o) VB = 15 ton (o) y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx ( l  x ) l² untuk x = 2.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B.5 (10  2.5 m yc = 4.5 . ½ l = 0 VA = ½ .5  1 / 2 .3. (5)² = 0 H= V .25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA . l ƛ q.q.14. 3 .5  1 / 2. ½ l = 0 VB .yc ƛ ½ . reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama. 2.Xc ƛ H. 2.l. 5.5 ƛ 12.Xc² = 15 .q (5)² 15.5m Gambar 4.

Contoh 2 xc=2.5 .4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos E c Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.5145 + 12.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.5 .5 . 0.8575) = .5 .5774 ton. Vc = VA ƛ q.8575 ƛ 12.5145 = 6.5 ton ( o) Hc = H = 12. 0.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = 7.15. Dc = 0. Nc = -14.(7. 0.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.sin Ec + Hc cos Ec) = . Uraian gaya Vc dan Hc Nc = . 0. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.5 = 7.4312 ƛ 6.(Vc.14.2.x = 15 ƛ 3.

16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .

f = 0 1. 1.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .92 ton ( n)  5.yp = 0 VA . l .P.yp = 0 VB . 5 ƛ HB .3. f ƛ P ( f ƛ yp ) = 0 . 10 + 6 .92 = 0 VB . 3 = 0 HB = 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4. l + P. ½ l ƛ HA . 5 ƛ HA .152 . 1.08 ƛ 1.92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1.6 . ½ l ƛ H B .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 ƛ 4.92 = 0 (cocok) .152 .152 ton ( o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA . 3 ƛ 6 (3 ƛ 1. 3 ƛ 6 .76 ƛ HA .48 ! 4. 1.08 = 0 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .2 (10  2) ! 1.1.5.152 ton ( q) 7 MA = 0 VB = + 1. 10 .76  6.92) = 0 .

yc ƛ P (yc ƛ yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1. cos E = 0. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.5145 Dc = .98 HB = 4.08 = 1.5 + 4.25 ƛ = .2.V A . 0. 2.8575 ƛ 1.96° sin Ec = 0.32 tm VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.5145.9757 ton Nc = + Vc sin Ec ƛ Hc cos Ec .152 .8575 Mc = .92 .152 .Xc + HA .152 ton ( q) Hc = 6 ƛ 4. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.92 ( ) 0.92) = -1.88 + 9.Vc cos Ec ƛ Hc sin Ec = -1.18 ƛ 1.25 m Ec = 30. 25 ƛ 6 (2. = -1. 2.17.08 .

VB. Nc.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA. 0. Mc. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/mƞ sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. VB. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. Nc.92 . c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m .1. HA. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA.8575 = .152 .5145 ƛ 1. HB. 0.0537 ton 4. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). HA.1.4. HB. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. Mc. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/mƞ sepanjang setengah bentang.

5. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.5 ton 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. 1 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E 7. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.8 o o p n .25 m 0. Sedang bidang momen. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.1.6 0.667 ton 2.5 ton 4. Penutup Untuk mengukur prestasi. 4. Soal No.75 0.667 ton 4. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.1.6.

774 ton 1.226 ton 4. UGM.9675 ton 3.842 7. .1. Soemono ƠStatika Iơ ITB. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. bab 2. Daftar Pustaka 1.8336 ton (-) (-) Soal No.1.5625 tm ~0 5.539 0.3672 tm 2.7. 2 Keterangan Titik N ilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc yƞ Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).36 m 0.9675 ton 5. bab 4.6854 (+) (-) (-) o o p n 4. Suwarno ƠMekanika Teknik Statis Tertentuơ.64 0.184 ton 5.

x = l G.2. x = 0 Untuk P di B . H P. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . x = 0 1t Untuk P di B .P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. Garis pengaruh V A. a .f Untuk P di A .2.2. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.2.P VA (+) 1t G.1. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. 4.18. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. VB .P. a. f = 0. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. a f Px b . Garis Pengaruh Reaksi x P S G.P.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A .3 Prinsip penyelesaian. 6 MA = 0 VA H l a G. Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. b l . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. b f VA . gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. V B dan H Px ) l . b = f V B . Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus.2. b ƛ H . 4.

M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). f ton H= 6 MS = 0 VA .P. maka lihat kiri potongan (kiri C).H .P.b ton H= l . a.f v G. x = l Untuk P di S . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA .f G.P. H x C v P. a .b c l .v l G. u . x = a H=0 P. x = 0 p H = 0 Untuk P di S . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . v sama dengan G. u . M C pada balok di atas dua perletakan l G.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H.b ton l. u dan V B . bagian I (+) P .P. Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . u . v .f = 0 a H = VA . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) .H . x = a p H = P. B H b MC = VB .P. a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B .P. R l C u VA VB Bagian II H. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan. M C = VA . a .C = G.

19.P.P. sehingga: NC = . VA sin D dan V A cos D. a .(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D . b cos E l .P. Gambar GP. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan N ormal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C. V A Sin D D GP NC Bagian II () P.H sin D I II I -> identik dengan G.P.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. HC = H H cos H D diuraikan E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.) v sin E H b l GP VB sin GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4. NC bagian I Q sin E l (+) ( . Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.f . N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G.Mc C.

untuk GP. NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari N ilai E Persamaan parabola VA cos E GP. Gaya lintang G.P. D C a b sin E l. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) .20. f Gambar 4.b cos E l .f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H).DC bagian II  y= yƞ = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4 fx ( l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l. G.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a . Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6  .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/mƞ

a

P

b

q kg/mƞ P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/mƞ 2 3 S 4 a a5 6 . . (a). . transfer beban lewat perantara P q = kg/mƞ R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . ½ P = ½ q P R2 = q . ½ P + (b/P ). . Kondisi pembebanan kolom (b). P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . . . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4.24.

Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E G ambar 4.Yc Vc = VA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.e-HA. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.4. Cos E . Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.4.5 ton a R1 R2 C R3 S e . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. .Yc Nc = -(Vc . sin E + Hcos E) Dc = Vc. . Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.1. R3. . .Xc-R2. Menjadi (R1. R2. . Pendahuluan .qton R5 R6 Vc = Av ƛ R1 R4 = 0.Xc-R2.5 ton R5 = 1. . Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. .25. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.e-HA.

N.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan.5 P .25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. P .Y1 + P2.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya.5P . P . P . atau 1 kg atau Newton) .Y2). (1 ton.4.33 P 54. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. Jika letak . Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. 2.26. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. dengan ordinat 1. A C I D E ½ ½ P P + 1. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. P . Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1.2. 4. maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4. Kalau muatan berada diatas gelagar C ƛ D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a). Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.33 P 54.

M I gel. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Gambarkan Garis pengaruh Mc .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Dc dan Nc . tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4.27.

28.Dc = Av cos E .Q. .b yc l.P.b sin E lf pemaparan Gambar 4.Y l P. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.yc A  ] II I .a . f H R VB H VA Q .P.x  H. GP Mc = V . b GPMc bagian I P.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.f G.b yc l.a . Mc total (bag I + bag II) - II + P.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. 4. S .H sin E Cos E P. Pendahuluan .a.Q.P.5.5. a .(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P.b cos E lf pemaparanG. Judul : Portal 3 sendi 4.Nc = .a . C yc .f G. Pen yelesaiann ya sama dengan beban langsung. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.

29.2. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung.5. 4. Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. balok gerder. bisa berupa balok menerus.

S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II . (h ƛ hƞ) ƛ P2 .30. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan.hƞ ƛ P2 .l + HB. a1 = 0 VB. b2 = 0 VA. b1 ƛ P2 . Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.a + HA. a2 ƛ P1 .l + HB.l + HA.h ƛ P 1 .hƞ ƛ P 1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.

31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P 2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 B BV h' BA h h A AV AB a b L P1 S P1 fƞ ff ƞ B BA BV A AV AB a b L Av ƞ A AB HA HB BA B Bv Ɲ Gambar 4.

f = 0 . a2 = 0 Bv = P1. b 2 = 0 Av = P1. b 1 ƛ P2 . a1 ƛ P2 .l ƛ P1 .a 1  P2 . b  P2 .b 2 l 7 MA = 0 Bv. f = HA .a 2 l Nilai A B .a  P1 .b ƛ P2 . f ƞ Bv. f ƞ Av.l ƛ P1 . f Ɲ AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av Ɲ = A B sin E Bv Ɲ = B A sin E Maka : VA = Av + Av Ɲ VB = Bv ƛ Bv Ɲ HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .a ƛ P1 .b1  P2 . S 1 ƛ AB . S 2 f Nilai BA . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB . f = HB . f = 0 BA = Bv . f Ɲ 7 MS = 0 (kiri) HA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. S 2 ƛ BA .

6 ± 4. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1.1 = 0 BA 2m HA Av HB 3m 3m Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 B 7 MA = 0 Av.32.3 . selesaikanlah struktur tersebut. 4.5 = 0 Bv Ɲ HB = 4 5/6 .3 ton Avƞ = H A . 1. tg E Avƞ = 1. 38 ! 1.5 .4333 ( o) q  2t/m' S C 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .3 . 4. 3ƛ2.6 ± 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .3 . m P1 q  2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 7 MB = 0 4m 5m (fƞ) AB B Av.3 ton .5 ± 2.5 - P.5 ± 4.5 = 0 Bv Av.3.1 = 0 Av. 3 . 2/6 = 0. P =1 Penyelesaian.5ƛ HA.4333 ( q) Bvƞ = 0.l ± q . 1. 1.q . 3 .l ± P.5 = 0 Bv = HA E AB Av Ɲ BA E HB Gambar 4.

2666 4t P1 D H =0 H A ( ) = H B (n ) A A Pusat 1.3t 4.4333 = 5.2666 t .7334 + 5.7334 t VB = Bv + 0.4333 = 4.n 5 VA = Av ƛ Avƞ = 5 1/6 ƛ 0.3t B B 5.7334t 1.4333 m = 4 5/6 + 0.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.

20254 ƛ 5.2666 t x=3m Ds = 4.5.3.1 H B.3 . 4 = -1.3 t Gambar 4. 2 (2.2 tm - S D 7.3 t 1.3 .1 ƛ 7. 4 + 4.8 1.3667 Mx = -HA .7334 ƛ 6 = -1.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .3667 ƛ ½ .60127 5. q (x²) .2666.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.2666 tm Daerah B-D D = -HB = -1.7334 ton Daerah C-D = -1.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D D = -HA = -1. Bidang M.3 t 1.40127 tm (M max) MD = -HB .7334 . 4 + VA .2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.2.3 t = .2666 t Mx = -1.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1. 6 = -1.3 t 4. D portal 3 sendi Bidang N (gaya N ormal) Daerah A-C = -4.6 = 5.4 = .3t Dx = VA ƛ qx 1. 2.2 + 11.3 ton Daerah B-D 5. N.7. 6 = .3667)² = -5.32.2666 t = 0.3667 ƛ ½ .7334 t BIDANG N - Di S 5.3667 m (daerah cs) x = 2. 2.8 tm - Mc = -HA .C A x 4.

4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4.34. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. .2. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4.33. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu.6. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a). maka untuk memperpanjang bentang.6.1.6. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4.

3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. merupakan struktur yang menumpu. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1.6.35. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SEN DI q t/mƞ S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/mƞ S RS1 A B S. .

3. Contoh Penyelesaian . Pendahuluan Seperti biasanya.7.1. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.2. 4. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.7. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada. S (b) B GA ambar 4.36.7.7. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.

RB b.f GP.f ! l. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.DD Q l GP.RA .b l .b a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E Aƞ D S P v Bƞ S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.R B + c l + + d l a.b .ND=G P.H u. f l d.v l a.37.RA a.c l .a l cb l GP.M D cb l Gambar 4.f - + + GP.d l.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.f GP.

b ƛ H.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. P berada antara E lihat kanan S RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) RB .RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.p. b . ~ g. N D Garis pengaruh N D sama dengan g. R B f P di E RB = c c l c.f = 0 H = RB .p nilai H. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.b p H ! x p ND !  l l f lf .

4.8.MD P berada antara D C M D = RA . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! . f = Garis pengaruh H x f.V l II = H . a ƛ H.f = 0 H= R A .H .a f P di S b a ab RA = b p H ! . Q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. p N D !  l l f l f P di S 1 GP.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) RA .

dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut.D C . G. VA .P NC kanan. G.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1.P VA . C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.P.P. N C .P. G. . G. G. H. G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu.P N C bawah .P. G. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. ditanyakan : G. G. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . G. ditanyakanL G. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2.PH.P D C bawah. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar.P.

335t 0.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .447 0.782t 1. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.9.5 0.1175t 0 0 0. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.10. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.447t 0 0 0 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4. Rangkuman 4.447t 0.5t m 1.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.

333t 0 0 0.333t 0 0 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1. UGM Bab VI dan VII .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.11.384t 0.25t 0.336t 0 0 0. Daftar Pustaka Suwarno.084t 1.40t 0 0 1.20t 0.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.60t 0. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ.

) . JUDUL : KO NSTRUKSI RAN GKA BATAN G (K. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.R. MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.1. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.12.

4. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. tapi kalau materialnya dari kayu.2. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. maka kita harus merangkai material tersebut.1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. ba mbu atau baja. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. Rangkaian dari material bambu. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. .1. 5. 5. Jika materialnya dari beton. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.1.3.1. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.

R. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga ( () tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. 5.1. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. Pada konstruksi kayu memakai baut.1.B. pasak atau paku.1.5. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5.5. paku keling atau las. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil. . Bentuk K.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K. Detail I.3. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5.R.2. .

1. Gambar 5.B.R.B.R.5.B.B.R. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5. bawah (ikatan angin bawah) K. Ruang bisa dipisahkan menjadi K. Ruang terdiri dari 2 K.R. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .B.R. Bidang.4.2.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.R. Pada Jembatan K. sisi 1 K.B. atas (ikatan angin atas) 1 K.R.

5. Konstruksi Statis Tertentu Pada K.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.3. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .R.B.5. Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K. Konstruksi rangka batang bidang .R.B.1. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan.

Rumus Umum Untuk K. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K. maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .R.15. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.4.6.B.R.1.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5. r = jumlah reaksi perletakan 5.B.

7. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.R. Keseimbangan titik buhul a. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.Ky = 0 b.6. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.B. Cara grafis dengan metode Cremona .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.Kx = 0 dan 7 .1. 1. Cara analitis dengan menggu nakan 7 .

Cara Grafis Metode Cullman 3.V = 0 ata 7. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. Metode Potongan : a. a. b.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. Metode Penukaran batang 5. y 7H=0 7.8.1. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 .Kx =0 7. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. Cara Analitis Metode Ritter b.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/mƞ (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik . 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.8.

Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !.9. V2 dan V 1ƞ.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5. D2 dan D 1ƞ. V 2ƞ serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X.4 .9. 3 P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. B2 dan B1ƞ. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . tiap -tiap batang perlu diberi notasi. 4 P . D2ƞ Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. Untuk batang atas diberi notasi A 1.4 . selesaikan struktur tersebut. A 2ƞ Untuk batang bawah diberi notasi B 1. 4 P . . A2 dan A 1ƞ.1. B2ƞ Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.

R. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 ƞ D 2ƞ VIII V2 VII A1 ƞ D 1ƞ IX V3 V V1ƞ X P B1 3t B2 Bƞ2 Bƞ1 P P P P 1 Gambar 5.10. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K.B. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0. Dalam penjumlahan. . gaya yang searah diberi tanda sama.

½ D 1 A1 = .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. V1 = .½ .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4 t ƛ 3 t ƛ V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 ƛ 3 t = 0 B2 = 3 t (tarik) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal. 3 2 . 2 A1 = . 2 7V=0 .

1t (tekan) .1 t (tekan) 2t 2t 7V=0 1 + V2ƞ = 0 V2ƞ = . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2ƞ dan V 3 dianggap tarik A2 ƞ 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 ƞ + 2 t = 0 A2ƞ = .2 t (tekan) 2t Batang D 2ƞ dan B 2ƞ dianggap tarik Titik V Batang D 2ƞ diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½Dƞ 2 1t 1t 2 2 Dƞ2 7V=0 ½ D 2ƞ 2 + 0 ƛ 1 t = 0 D 2ƞ = 2 t (tarik) 7H=0 ½ D 2ƞ B2ƞ + 1t ƛ3 t + 1t = 0 B2ƞ = 1 ton (tarik) 3t 2 B2ƞ Titik VIII Batang A 1ƞ dan V 2ƞdianggap tarik 7H=0 A1 ƞ V2ƞ 2 t + A1 ƞ ƛ 1 t = 0 A1ƞ = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A 2 ƛ 1 ton = 0 A 2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D 1ƞ 1t 1t

2

D 1ƞ

Batang D 1ƞ dan B 1ƞdianggap tarik Batang D 1ƞ diuraikan menjadi ½ D 1ƞ 2

½ D 1ƞ

2

B1ƞ

7V=0

½ D 1ƞ 2 ƛ 1 t = 0 D 1ƞ =

2 t (tarik)

7H=0

B1ƞ- ½ D1ƞ 2 - 1t = 0 Bƞ + 1 ƛ 1 = 0 B ƞ = 0t

Titik X

V1ƞ

7V=0

1t + V1ƞ = 0 V 1ƞ = - 1t (tekan)

B1ƞ = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1ƞ ƛ ½ D1ƞ 1t ƛ ½ .

A1 ƞ = 1 t (tekan) D1ƞ = 2 (tarik) V 1ƞ = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1ƞ ƛ ½ D1ƞ 2 = 0 1ƛ½ .

2.

2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATAN G A1 A2 A2 ƞ A1 ƞ B1 B2 B2ƞ B1ƞ V1 V2 V3 V2ƞ V1ƞ D1 D2 D 2ƞ D 1ƞ

GAYA BATAN G -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1ƞ = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ƛ ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 ƛ2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 ƛ B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan : a). 2. Gaya ƛ Reaksi B b). 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t . 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. Gaya. D3 1t ƛ ½ .gaya batang RB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A ƛ ½ . Gaya reaksi b).10.1. Beban .

667 t 5.20 t 1. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 N ilai 5t 4t 0 0. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.808 t 4.1.333 t 3.000 t 2.555 6.11.20 t 4.00 t 6. 5. bisa berupa gaya tarik. Pencarian gaya-gaya batang.12.00 t 1.835 0.333 t 6. 667 t 6. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + . atau gaya tekan. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.1.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No.14.1.13.1. bab 5. ƏMekanika Teknik Statis TertentuƐ . UGM Bab Soemono. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 N ilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. ƏStatika IƐ. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. - Daftar Pustaka Suwarno. .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.