Anda di halaman 1dari 7

psikologi faal

LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL

Nama Mahasiswa Nomor Mahasiswa Jenis Kelamin Umur Pendidikan Nama Percobaan Nomor Percobaan

: : : : : : : 10013021 Laki-laki 18 Tahun Mahasiswa ASTIGMATISME I

Nama Orang Percobaan (OP) : Nama Pelaku Percobaan (PP) : Tanggal Percobaan Waktu Percobaan Tempat Percobaan : : : 17 Oktober 2011 08.00 10.00 WIB Laboratorium Psikolgi Faal Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan

I.

TUJUAN PERCOBAAN

1. Untuk mengetahui kemungkinan adanya astigmatisme yang disebabkan oleh kelainan di dalam lengkung cornea. 2. Untuk mengetahui kemungkinan seseorang mengalami astigmatisme total dari mata.

II.

DASAR TEORI Pada dasarnya proses penglihatan kadang-kadang terjadi kelainan. Salah satu bentuk

kelainan mata tersebut adalah astigmatisme. Astigmatisme adalah satu bentuk kesalahan refraksi sistem lensa mata yang biasanya disebabkan oleh cornea mata yang berbentuk bujur atau jorong-jorong oleh lensa yang berbentuk bujur (Guyton, 183). Astigmatisme dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

1. Astigmatisme Reguler Ini ditandai dengan ketidaksamaan refraksi pada bidang yang satu dengan bidang yang lain, astigmatisme jenis ini dibagi menjadi tiga macam yaitu : a. Astigmatisme Reguler Untuk mengatasinya digunakan lensa silindris yang dipasang secara tegak lurus dengan bidang vertikal. b. Astigmatisme Reguler Horizontal Penanggulangannya tetap menggunakan lensa silindris, namun cara memasangnya tegak lurus dengan bidang horizontal. c. Astigmatisme Miring Lensa silindris yang dipasang pada bidang miringnya merupakan upaya untuk mengorekal. 2. Astigmatisme Irreguler Pada jenis ini refraksi cahaya pada suatu bidang meridian yang terdapat pada mata tidak sama, ini disebabkan bekas luka pada cornea. Sebab lain terjadinya astigmatisme ini karena adanya tekanan yang terus menerus dari kelopak mata terhadap bola mata, sehingga menyebabkan perbedaan pembiasan antara bidang meridian dan bidang horizontal dari lensa mata, karena perbedaan ini bayangan tidak terjadi terbentuk pada suatu tempat.

Gambar 1. Horizontal line out of focus

Gambar 2. Astigmation corrected by lens Cornea merupakan dinding ujung muka bulbus caili atau bola mata cahaya yang masuk, cornea diatur oleh diameter biji mata atau pupil yang cara kerjanya seperti kamera. Menurut Linsting dan Bonders titik simpul yang terletak 5 mm di belakang cornea. Derajat lengkung yang melalui sumbu panjang tidak sama dengan derajat lengkung pada bidang yang melalui sumbu pendek. Sehingga cahaya masuk mengenai bagian perifer bidang lain, maka terjadilah astigmatisme. Mata secara anatomi terdiri dari : 1. a. Oculus

b. Nervua opticus adalah syaraf-syaraf pada mata yang akan membawa gelombang, syaraf tersebut ke otak. Kelainan pada syaraf ini akan mengakibatkan gangguan penglihatan. c. Bulbua occuli dan tunica (selubung) dan isi adalah bola mata yang terpisah dari pelengkap, bulbus oculli terdiri dari dinding melampirkan rongga berisi cairan dengan tiga mantel di sclera, kroid dan retina. 2. a. Superior Alat tambahan (otot-otot atau muscular rectis)

b. Inferior c. Lateralia

d. Musculua obiqueus inferior e. Musculua obiqueus superior Tunika (selubung) memiliki dua lapisan yaitu : a. Tunika fibrosa (paling luar) : : sebelah depan

1) Cornea

2) Sclera 3) Sclera 4) Cornea

: : :

putih di samping dari belakang transparan

b. Tunika vasullosa (lapisan tengah) mengandung pembuluh darah, terdiri dari : 1) Chlorida 2) Corpiva charis 3) Tria (selaput bening) c. Tunika nervosa (lapisan paling dalam) mengandung reseptor, terdiri dari : sistem pigmentasi dan retina (dalam). Ada tidaknya kelainan pada cornea mata dapat diuji dengan alat yang bernama keratoskop dari placido, yaitu : alat yang terdiri atau lingkaran konsentria hitam yang digambar pada dasar putih. Selain itu ada juga dengan menggunakan lukisan dari garis-garis yang tersusun seperti kipas. Dan sudut di antara dua garis sebesar 10 derajat.

III.

ALAT YANG DIGUNAKAN

1. Keratoskop dari placido 2. Lukisan kipas

IV.

JALANNYA PERCOBAAN

1. Lengkung cornea Orang Percobaan (OP) disuruh berdiri dengan punggung ke arah cahaya yang terang, keratoskop ditempatkan kira-kira 20 cm di muka mata Orang Percobaan (OP), kemudian orang yang memeriksa melihat melaui lubang di tengah-tengah keratoskop yang ada pada dataran muka Orang Percobaan.

2. Pada astigmatisme total pada mata Orang Percobaan (OP) dapat melihat sendiri, dengan melihat dengan satu mata ke lukisan kipas (garis-garis yang tersusun sebagai kipas).

V.

HASIL PERCOBAAN

1. Lengkung cornea

Orang yang memeriksa melihat melalui lubang yang terdapat keratoskop yang ditempatkan kirakira 20 cm di muka mata Orang Percobaan (OP) terlihat lingkaran-lingkaran bulat teratur. 2. Astigmatisme total dari mata Pada percobaan yang kedua, Orang Percobaan (OP) menutup satu mata ke lukisan kipas, Orang Percobaan (OP) melihat jelas lukisan kias tidak ada bayangan yang kabur.

VI.

KESIMPULAN Pada dasarnya proses penglihatan kadang-kadang terjadi kelainan. Salah satu bentuk

kelainan mata tersebut adalah astigmatisme. Astigmatisme adalah suatu bentuk kesalahan refraksi sistem lensa mata yang biasanya disebabkan oleh cornea mata yang berbentuk bujur atau jorong-jorong oleh lensa yang berbentuk bujur. Pada percobaan lengkung cornea, diketahui bahwa Orang Percobaan (OP) tidak memiliki gangguan penglihatan astigmatisme, karena orang yang memeriksa telah melihat melalui keratoskop yang dilakukan kira-kira 20 cm di depan Orang Percobaan (OP) berupa lingkaranlingkaran bulat teratur. Pada percobaan astigmatisme total, diketahui bahwa Orang Percobaan (OP) tidak mengalami astigmatisme total karena pada waktu melihat lukisan yang berupa garis-garis tersusun sebagai kipas dapat melihat dengan jelas tanpa adanya pembiasan.

VII.

APLIKASI Dalam hubungan profesi, tidak adanya astigmatisme pada mata sangatlah penting seperti

: 1. Dalam bidang kedokteran 2. Dalam bidang industri tekstil 3. Seseorang yang berprofesi seperti pelukis

Yogyakarta, 17 Oktober 2011 Praktikan,

Asisten Nilai

: :

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, Hilgard, Ernest.1994. Pengantar Psikologi. Jakarta ; Airlangga Bagian Laporan Fakultas Psikologi Universitas Ahamad Dahlan.1997. Buku Pedoman Praktikum Psikologi Faal II. Yogyakarta. Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan. Ganong, W. F. 1983. Fisiologi Kedokteran. Bagian II. Edisi V. Jakarta: CV.EGC. Guyton Arthur, C. 1983. Buku Teks Fisiologi Kedokteran Bagian II. Edisi V. Jakatra : CV.EGC. Ronodikoro, Sipidjo. 1986. Antropologi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.