Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang

Sanitasi merupakan salah satu komponen dari kesehatan lingkungan, yaitu perilaku yang disengaja untuk membudayakan hidup bersih untuk mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya, dengan harapan dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Kondisi sanitasi di Indonesia memang tertinggal cukup jauh dari Negara-negara tetangga. Dengan Vietnam saja Indonesia hampir disalip, apalagi dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang memiliki komitmen tinggi terhadap kesehatan lingkungan di negaranya. Jakarta hanya menduduki posisi nomor 2 dari bawah setelah Laos dalam pencapaian cakupan sanitasinya. Salah satu contoh dari kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia adalah sanitasi lingkungan pasar, khususnya pasar tradisional. Sanitasi sangat menentukan keberhasilan dari paradigma pembangunan kesehatan lingkungan lima tahun ke depan yang lebih menekankan pada aspek pencegahan dari aspek pengobatan. Sehingga adanya upaya perbaikan sanitasi sejak dini dapat membantu dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat disamping adaperbaikan sanitasi dilingkungan pasar tradisional. 2.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penulis ingin menegtahui tentang apa itu sanitasi di tempat tempat umum, contoh sanitasi di tempat umum dan penangannya seperti apa 2.3 Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini adalah memberikan informasi tentang potret sanitasi lingkungan di Indonesia

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Sanitasi

Sanitasi, menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai pemelihara kesehatan. Menurut WHO, sanitasi adalah upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia, yang mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan, bagi perkembangan fisik, kesehatan, dan daya tahan hidup manusia. Sedangkan menurut Chandra (2007), sanitasi adalah bagian dari ilmu kesehatan lingkungan yang meliputi cara dan usaha individu atau masyarakat untuk mengontrol dan mengendalikan lingkungan hidup eksternal yang berbahaya bagi kesehatan serta yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia. Tempat-tempat umum adalah suatu tempat dimana masyarakat ramai berkumpul untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu

Sanitasi tempat-tempat umum merupakan usaha untuk mengawasi kegiatan yang berlangsung di tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya atau menularnya suatu penyakit, sehingga kerugian yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut dapat dicegah (Fahmi, 2009). Sanitasi tempat-tempat umum menurut Mukono (2006), merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup mendesak. Karena tempat umum merupakan tempat bertemunya segala macam masyarakat dengan segala penyakit yang dipunyai oleh masyarakat. Oleh sebab itu tempat umum merupakan tempat menyebarnya segala penyakit terutama penyakit yang medianya makanan, minuman, udara dan air. Dengan demikian sanitasi tempat-tempat umum harus memenuhi persyaratan kesehatan dalam arti melindungi, memelihara, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tempat-tempat umum harus mempunyai kriteria sebagai berikut : 1. Diperuntukkan bagi masyarakat umum, artinya masyarakat umum boleh keluar masuk ruangan tempat umum dengan membayar atau tanpa membayar. 2. Harus ada gedung/ tempat peranan, artinya harus ada tempat tertentu dimana masyarakat melakukan aktivitas tertentu. 3. Harus ada aktivitas, artinya pengelolaan dan aktivitas dari pengunjung tempat-tempat umum tersebut.

4. Harus ada fasilitas, artinya tempat-tempat umum tersebut harus sesuai dengan ramainya, harus mempunyai fasilitas tertentu yang mutlak diperlukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di tempat-tempat umum.
Sanitasi dasar adalah sanitasi minimum yang diperlukan untuk menyediakan lingkungan sehat yang memenuhi syarat kesehatan yang menitik beratkan pada pengawasan berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia (Azwar, 1995). Upaya sanitasi dasar meliputi penyediaan air bersih, pembuangan kotoran manusia, pengelolaan sampah, dan pengelolaaan air limbah.

Tempat atau sarana layanan umum yang wajib menyelenggarakan sanitasi lingkungan antara lain, tempat umum atau sarana umum yang dikelola secara komersial, tempat yang memfasilitasi terjadinya penularan penyakit, atau tempat layanan umum yang intensitas jumlah dan waktu kunjungannya tinggi. Tempat umum semacam itu meliputi hotel, terminal angkutan umum, pasar tradisional atau swalayan pertokoan, bioskop, salon kecantikan atau tempat pangkas rambut, panti pijat, taman hiburan, gedung pertemuan, pondok pesantren, tempat ibadah, objek wisata, dan lain-lain (Chandra, 2007). Sanitasi adalah cara pengawasan masyarakat yang menitikberatkan kepada pengawasan terhadap berbagai factor lingkungan yang mungkin mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Sanitasi tempat tempat umum diatur dalam UU No. 11 tahun 1962 : hygiene untuk usaha-usaha bagi umum dan Permenkes RI No. 172/Men.Kes/Per/VIII/77 : syarat-syarat dan pengawasan kualitas air kolam renang (khusus kolam renang) Sanitasi lingkungan adalah pencegahan penyakit dengan jalan pengawasan tidak hanya terhadap lingkungan fisik manusia saja tetapi juga pengawasan terhadap lingkungan biologis, social dan ekonomi yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Sanitasi lingkungan sangat berperan juga terhadap sanitasi makanan yang meliputi kegiatan usaha yang ditujukan kepada semua tindakan semua tingkatan, sejak makanan dibeli, disimpan, diolah dan disajikan untuk mel indungi agar konsumen tidak dirugikan kesehatannya. Usaha usaha sanitasi tersebut antara lain meliputi: keamanan makanan dan minuman yang disediakan, hygiene perorangan dan praktek praktek penanganan makanan oleh karyawan yang bersangkutan, keamanan terhadap penyedian, pengolahan pembuangan air limbah dan kotoran, perlindungan makanan terhadap kontaminasi selama dalam proses pengolahan, penyajian dan penyimpanannya serta pencucianya, kebersihan dan penyimpanan alat alat atau perlengkapan.

Sasaran pengawasan tempat-tempat umum meliputi : 1. Manusia sebagai pelaksana kegiatan (kebersihan secara umum maupun personal hygiene 2. Alat alat kesehatan 3. Tempat kegiatan B. CONTOH TEMPAT TEMPAT UMUM

a. Hotel b. terminal angkutan umum c. pasar tradisional atau swalayan pertokoan d. taman hiburan e. tempat ibadah f. objek wisata
1. Restoran Salah satu diantara tempat-tempat umum tersebut adalah restoran. Menurut UU RI No. 34 Tahun 2000, restoran adalah tempat menyantap makanan dan minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran, tidak termasuk usaha jenis tataboga atau catering. Pengertian restoran menurut Marsum yang dikutip Anonimous (2008), restoran adalah suatu tempat atau bangunan yang diorganisasi secara komersial yang menyelenggarakan pelayanan yang baik kepada semua tamunya baik berupa makan dan minum. Ada beberapa tipe restoran, yaitu: a. Restoran main dinning room b. Restoran tradisional c. Fast food restaurant d. Coffee shop

e. Kafe f. Warung tenda

g. Kantin h. Street food

Salah satu contohnya adalah kantin. Kantin biasanya berlokasi di kampus dan sekolahan, Makanan yang di jual tidak terlalu banyak, misalnya bakso, siomay, batagor, minumannya hanya terdiri dari minuman kemasan atau minuman botolan. Kantin hampir selalu ada di tiap sekolah di Indonesia. Biasanya kantin menjadi tempat berkumpul bagi para murid. Pesan-ambil-bayarduduk mungkin merupakan prinsip para pengguna fasilitas kantin. Ramainya kantin disebabkan oleh obrolan siswa-siswi yang makan bersama. Kebanyakan murid menganggap penting kantin sebagai tempat bersosialisasi, tempat berkumpulnya seluruh angkatan (Wikipedia, 2008). Kantin yang sehat secara fisik tentunya harus mempunyai sarana dan prasarana yang memadai. Berdasarkan fisiknya tersebut, kantin sehat dapat dibedakan menjadi kantin dengan ruangan tertutup dan kantin dengan ruangan terbuka seperti di koridor atau di halaman sekolah. Meskipun kantin berada di ruang terbuka, namun ruang pengolahan dan tempat penyajian makanan harus dalam keadaan tertutup. Kedua jenis kantin tersebut harus memiliki sarana dan prasana sebagai berikut: (1) sumber air bersih, (2) tempat penyimpanan, (3) tempat pengolahan, (4) tempat penyajian dan ruang makan, (5) fasilitas sanitasi, (6) perlengkapan kerja dan (7) tempat pembuangan limbah. Kantin dengan ruang tertutup harus mempunyai bangunan tetap dengan persyaratan tertentu, sedangkan kantin dengan ruang terbuka (koridor atau halaman) harus mempunyai tempat tertutup untuk persiapan dan pengolahan serta penyajian makanan dan minuman. 2. Pasar Selain itu terdapat pula pasar. Pasar dalam arti yang sempit adalah suatu tempat pertemuan penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli dan jasa. Sedangkan dalam pengertian secara luas pasar diartikan sebagai tempat bertemunya penjual yang mempunyai

kemampuan untuk menjual barang/jasa dan pembeli yang menggunakan uang untuk membeli barang dengan harga tertentu (Adhyzal, 2003). Ada beberapa syarat terjadinya suatu pasar, antara lain sebagai berikut : a. Ada tempat untuk berniaga b. Ada barang dan jasa yang akan diperdagangkan. c. Terdapat penjual barang tertentu d. Adanya pembeli barang e. Adanya hubungan dalam transaksi jual beli Pasar juga dapat diklasifikasikan, yaitu pasar menurut sifat atau jenis barang yang diperjualbelikan disebut juga pasar konkrit. Pasar konkrit (pasar nyata) adalah tempat pertemuan antara penjual dan pembeli yang dilakukan secara langsung. Penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi jual beli (tawarmenawar). Barang-barang yang diperjualbelikan di pasar konkrit terdiri atas berbagai jenis barang yang ada di tempat tersebut. Contoh pasar konkrit yaitu pasar tradisional, supermarket, dan swalayan. Namun ada juga pasar konkrit yang menjual satu jenis barang. Misalnya pasar buah hanya menjual buahbuahan, pasar hewan hanya melayani jual beli hewan, pasar sayur hanya menjual sayur-mayur (Adhyzal, 2003). Persyaratan Kesehatan Lingkungan Pasar Persyaratan kesehatan lingkungan pasar menurut Kepmenkes No. 519 Tahun 2008 antara lain mencakup lokasi pasar, bangunan, sanitasi pasar, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), keamanan, dan fasilitas lainnya.

a. Lokasi 1. Lokasi sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Setempat (RUTR), 2. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti banjir dan sebagainya, 3. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan atau daerah jalur pendaratan penerbangan, termasuk sempadan jalan,

4. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir sampah atau bekas lokasi pertambangan, 5. Mempunyai batas wilayah yang jelas, antara pasar dan lingkungannya. b. Bangunan

1. Umum Bangunan dan rancang bangun harus dibuat sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku (Mubarak dan Chayatin, 2009). 2. Penataan Ruang Dagang a. Pembagian area sesuai dengan jenis komoditi, sesuai dengan sifat dan klasifikasinya seperti : basah, kering, penjualan unggas hidup, pemotongan unggas, b. Pembagian zoning diberi identitas yang jelas, c. Penjualan daging, karkas unggas, ikan ditempatkan di tempat khusus, d. Setiap los/kios memiliki lorong yang lebarnya minimal 1,5 meter, e. Setiap los/kios memiliki papan karakteristik, f. Jarak tempat penampungan dan pemotongan unggas dengan bangunan pasar utama minimal 10m atau dibatasi tembok pembatas dengan ketinggian minimal 1,5m g. Khusus untuk jenis pestisida, Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), dan bahan berbahaya lainnya ditempatkan di tempat terpisah dan tidak berdampingan dengan zona makanan dan bahan pangan. c. Ruang Kantor Pengelola 1. Ruang kantor memiliki ventilasi minimal 20% dari luas lantai, 2. Tingkat pencahayaan ruangan minimal 100 lux, 3. Tersedia ruangan kantor pengelola dengan tinggi langit-langit dari lantai sesuai ketentuan yang berlaku,

4. Tersedia toilet terpisah bagi laki-laki dan perempuan, 5. Tersedia tempat cuci tangan dilengkapi dengan sabun dan air yang mengalir (Mukono, 2006). d. Tempat Penjualan Bahan Pangan dan Makanan a. Tempat penjualan bahan pangan basah Meja tempat penjualan harus tahan karat, rata, kemiringan, dan tinggi 60 cm, Karkas daging digantung, Alas pemotong (talenan) tidak terbuat dari kayu, tidak beracun, kedap air dan mudah dibersihkan, Tempat penyimpanan bahan pangan dengan rantai dingin (cold chain) bersuhu (4-10 C), Tersedia tempat pencucian bahan pangan dan peralatan, Tempat cuci tangan dilengkapi sabun dan air mengalir, Saluran pembuangan limbah tertutup, dengan kemiringan yang sesuai ketentuan, serta tidak melewati area penjualan, Tersedia tempat sampah kering dan basah, kedap air, tertutup, dan mudah diangkat, Bebas dari vektor penyakit dan tempat perindukannya. b. Tempat Penjualan Bahan Pangan Kering Meja tempat penjualan dengan permukaan rata, mudah dibersihkan, dan tinggi minimal 60cm, Meja terbuat dari bahan tahan karat, Tempat sampah harus terpisah basah dan kering, kedap air, tertutup dan mudah diangkat, Tempat cuci tangan dilengkapi sabun dan air mengalir,

Bebas vektor penular penyakit dan tempat perindukannya. c. Tempat Penjualan Makanan Jadi/Siap Saji Tempat penyajian makanan tertutup, bahan tahan karat, permukaan rata, mudah dibersihkan, dan tinggi minimal 60 cm dari lantai, Tempat cuci tangan dilengkapi sabun dan ari yang mengalir, Tempat cuci peralatan harus kuat, aman, tidak berkarat, dan mudah dibersihkan, Tempat sampah terpisah antara sampah basah dan kering, kedap air, dan bertutup, Bebas vektor penular penyakit dan tempat perindukannya, Pisau yang digunakan untuk memotong bahan mentah dan bahan matang berbeda dan tidak berkarat, Saluran pembuangan limbah tertutup. 5. Area Parkir Ada pemisah yang jelas dengan batas wilayah pasar, Parkir mobil, motor, sepeda, andong/delman, becak terpisah, Tersedia area parkir khusus kendaraan pengangkut hewan hidup dan hewan mati, Tersedia area khusus bongkar muat barang, Tidak ada genangan air, Tersedia tempat sampah yang terpisah setiap radius 10 meter, Ada jalur dan tanda masuk dan keluar kendaraan yang jelas, Ada tanaman penghijauan, Adanya area resapan air di pelataran parkir (Mukono, 2006). 6. Konstruksi

a. Atap Atap yang digunakan kuat, tidak bocor, dan tidak menjadi tempat perindukan vektor, Kemiringan atap cukup dan tidak memungkinkan genangan air, Atap dengan ketinggian lebih 10 meter dilengkapi penangkal petir (Mubarak dan Chayatin, 2009). b. Dinding Keadaan dinding bersih, tidak lembab, dan berwarna terang, Permukaan dinding yang selalu terkena percikan air terbuat dari bahan yang kuat dan kedap air, Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk lengkung (conus). c. Lantai Lantai terbuat dari bahan yang kedap air, permukaan rata, tidak licin, tidak retak, dan mudah dibersihkan, Lantai kamar mandi, tempat cuci dan sejenisnya mempunyai kemiringan ke saluran pembuangan. 7. Tangga Tinggi, lebar dan kemiringan yang sesuai dengan ketentuan, Ada pegangan tangan di kanan dan kiri tangga, Terbuat dari bahan yang kuat dan tidak licin, Memiliki pencahayaan minimal 100 lux. 8. Ventilasi Ventilasi harus memenuhi syarat minimal 20% dari luas lantai dan saling berhadapan ( cross ventilation). 9. Pencahayaan Intensitas pencahayaan setiap ruangan harus cukup terang agar dapat melakukan kegiatan dengan jelas minimal 100 lux, dimana pencahayaan atau penerangan tidak menyilaukan dan tersebar merata sehingga tidak menimbulkan bayangan yang nyata. (Mubarak dan Chayatin, 2009).

10

10. Pintu Khusus untuk pintu los/kios penjualan daging, ikan dan bahan makanan yang berbau tajam agar menggunakan pintu yang dapat membuka dan menutup sendiri atau tirai plastik untuk menghalangi vektor penyakit masuk e. Sanitasi 1. Air bersih Air bersih selalu tersedia dalam jumlah yang cukup (minimal 40 liter per pedagang), Kualitas air bersih memenuhi syarat kesehatan, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI No.416 Tahun 1990 Pasal 1 bahwa air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila dimasak, Jarak sumber air bersih dengan septick tank minimal 10 meter, Pengujian kualitas air bersih dilakukan 6 bulan sekali. 2. Kamar mandi dan toilet Harus tersedia toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, yang dilengkapi dengan tanda/simbol yang jelas dengan proporsi sbb: vghvh Tersedia bak dan air bersih dengan jumlah cukup dan bebas jentik, Toilet dengan leher angsa, dan peturasan, Tersedia tempat cuci tangan dan sabun, Tersedia tempat sampah yang tertutup, Tersedia septik tank dengan lubang peresapan yang memenuhi syarat kesehatan, Letak toilet minimal 10 meter dari tempat penjualan makanan dan bahan pangan, Ventilasi minimal 20% dari luas lantai, Pencahayaan minimal 100 lux, Lantai kedap air, tidak licin, mudah dibersihkan, dengan kemiringan cukup (Mubarak dan Chayatin, 2009). 3. Pengolahan sampah Setiap kios/lorong/los tersedia tempat sampah basah dan kering,

11

Tempat sampah terbuat dari bahan yang kedap air, tidak mudah berkarat, kuat tertutup dan mudah dibersihkan, Tersedia alat pengangkut sampah yang kuat dan mudah dibersihkan, Tersedia tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang kuat, kedap air, mudah dibersihkan dan mudah dijangkau, TPS tidak menjadi tempat perindukan binatang penular penyakit, TPS tidak berada di jalur utama pasar dan berjarak minimal 10 meter dari bangunan pasar, Sampah diangkut minimal 1 x 24 jam (Mubarak dan Chayatin, 2009). 4. Drainase Tertutup dengan kisi-kisi, terbuat dari logam dan mudah dibersihkan, Limbah cair mengalir lancar, Limbah cair harus memenuhi baku mutu, Tidak ada bangunan di atas saluran, Pengujian kualitas limbah cair berkala setiap 6 bulan sekali. 5. Tempat cuci tangan Lokasi mudah dijangkau, Dilengkapi sabun, Tersedia air mengalir, Limbahnya dialirkan ke saluran pembuangan yang tertutup (Mubarak dan Chayatin, 2009). 6. Vektor penyakit Los makanan siap saji dan bahan pangan harus bebas dari lalat, kecoa, dan tikus, Angka kepadatan tikus nol, Angka kepadatan kecoa maksimal 2 ekor per plate di titik pengukuran, Angka kepadatan lalat maksimal 30 per gril net di tempat sampah dan drainase, Container Indeks (CI) jentik nyamuk aedes tidak melebihi 5%. 7. Kualitas makanan dan bahan pangan

12

Tidak basi, Tidak mengandung bahan berbahaya, Tidak mengandung residu pestisida di atas ambang batas, Kualitas makanan siap saji sesuai dengan peraturan, Makanan dalam kemasan tertutup disimpan dalam suhu 4-10 C, Ikan, daging, dan olahannya disimpan dalam suhu 0 s/d 4 C, Sayur dan buah disimpan dalam suhu 10 C, telor, susu dan olahannya disimpan dalam suhu 5-7C, Penyimpanan bahan makanan dengan jarak 15 cm dari lantai, 5 cm dari dinding, dan 60 cm dari langit-langit, Kebersihan peralatan makanan maksimal 100 kuman per cm2 permukaan dan E-coli nol. 8. Desinfeksi Pasar Dilakukan secara menyeluruh 1 hari dalam sebulan, Bahan desinfeksi tidak mencemari lingkungan f. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 1. Perilaku pedagang dan pekerja Pedagang daging/unggas dan ikan menggunakan alat pelindung diri, Berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), Dilakukan pemeriksaan kesehatan bagi pedagang secara berkala minimal 6 bulan sekali, Pedagang makanan siap saji tidak sedang menderita penyakit menular langsung seperti : diare, hepatitis, TBC, kudis, dll. 2. Perilaku pengunjung Berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), Cuci tangan dengan sabun setelah memegang unggas/hewan hidup, daging atau ikan. 3. Perilaku pengelola Memahami dan mempunyai keterampilan tentang hygiene sanitasi dan keamanan pangan

13

3. Terminal Terdapat beberapa terminologi tentang terminal. Berdasarkan Undang-Undang No. 14 Tahun 1992 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terminal merupakan prasarana transportasi jalan untuk barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum yang merupakan satu wujud simpul jaringan transportasi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1993 Tentang angkutan jalan umum, terminal adalah sarana transportasi untuk keperluan memuat dan menurunkan orang atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum yang merupakan satu simpul jaringan transportasi. Berdasarakan kedua terminologi diatas, terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum, yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi (Kepmenhub 35/2003). Keberadaan terminal merupakan salah satu prasarana utama dalam pelayanan angkutan umum. Keberadaan terminal berperan dalam menentukan tingkat kinerja dari pelayanan angkutan umum dalam suatu wilayah (Menteri Pekerjaan Umum, 2010). Kategori Terminal Terminal adalah bagian dari infrastruktur transportasi yang merupakan titik lokasi perpindahan penumpang ataupun barang. Pada lokasi itu terjadi konektivitas antar lokasi tujuan, antar modal, dan antar berbagai kepentingan dalam sistem transportasi dan infrastruktur. Pengelolaan pada berbagai hal tersebut perlu diperhatikan dan dikembangkan untuk pengembangan manajemen terminal. Kegiatan pengelolaan, regulasi (peraturan) dan normanorma yang disepakati akan menentukan perkembangan terminal secara terarah (coach terminal). Terminal dibagi beberapa kategori yang meliputi (Menteri Pekerjaan Umum, 2010): 1. Terminal Penumpang adalah Prasarana Transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikan penumpang, perpindahan intra/atau moda transportasi serta mengatur kedatangan pemberangkatan kendaraan angkutan penumpang umum. Terminal penumpang dapat dikelompokan atas dasar tingkat penggunaan terminal kedalam tiga tipe sebagai berikut :

14

a. Terminal penumpang tipe A berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota antar propinsi dan/atau angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan. b. Terminal penumpang tipe B berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan/atau angkutan pedesaan. c. Terminal penumpang tipe C berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan pedesaan. Unsur penting bagi eksistensi sebuah terminal penumpang adalah adanya angkutan umum dan penumpang, tanpa keduanya terminal tidak bermakna apapun hanya sebatas sebuah bangunan. Angkutan umum merupakan salah satu media transportasi yang digunakan masyarakat secara bersama-sama dengan membayar tarif. Angkutan umum yang biasa beroperasi dalam terminal meliputi : angkot, bis, ojek, bajaj, taksi dan metromini. Penumpang adalah masyarakat yang menaiki atau menggunakan jasa angkutan (bus). Jadi ruang transit penumpang adalah bangunan peneduh terbuka besar yang berfungsi sebagai tempat istirahat sementara atau duduk-duduk, menunggu bus, menunggu teman, membaca koran serta mengobrol santai yang berada dalam terminal. 2. Terminal Barang adalah Prasarana Transportasi jalan untuk keperluan membongkar dan memuat barang serta perpindahan intra/atau moda transportasi angkutan barang. 3. Terminal Peti Kemas adalah terminal dimana dilakukan pengumpulan peti kemas dari pelabuhan lainnya untuk selanjutnya diangkut ke tempat tujuan ataupun terminal peti kemas yang lebih besar lagi. Terminal peti kemas yang berkembang dengan pesat dalam beberapa tahun belakangan ini adalah Terminal peti kemas JICT, KOJA di Jakarta, TPS di Surabaya, TPK Semarang, TPK Belawan. Fasilitas Sanitasi Terminal Fasilitas sanitasi terminal dapat dikelompokkan atas fasilitas utama dan fasilitas pendukung, semakin besar suatu terminal semakin banyak fasilitas yang bisa disediakan. Fasilitas-faslitas tersebut antara lain (Menteri Pekerjaan Umum, 2010): 1. Tempat parkir kendaraan umum selama menunggu keberangkatan, termasuk di dalamnya tempat tunggu dan tempat istirahat kendaraan umum. 2. Bangunan kantor terminal. 3. Tempat tunggu penumpang dan/atau pengantar.

15

4. Menara pengawas. 5. Pelataran parkir kendaraan pengantar dan/atau taksi. 6. Kamar kecil/toilet. Lokasi dan Pembangunan Terminal Penentuan lokasi terminal penumpang dilakukan dengan memperhatikan rencana kebutuhan lokasi simpul yang merupakan bagian dari rencana umum jaringan transportasi jalan (Menteri Pekerjaan Umum, 2010). 1. Lokasi terminal penumpang Tipe A , B, dan C ditetapkan dengan memperhatikan: a. Rencana Umum Tata Ruang; b. Kepadatan lalu lintasdan kapasitasjalan sekitar Terminal; c. Keterpaduan moda transportasi baik intra maupun antar moda; d. Kondis topografi lokasi Terminal; e. Kelestarian lingkungan . 2. Penetapan lokasi terminal penumpang tipe A selain harus memperhatikan ketentuan sebagaimana tersebut diatas, harus memenuhi persyaratan : a. Terletak dalam jaringan trayek antar kota antar propinsi, antar kota dalam propinsi; b. Terletak di jalan arteri dengan kelas jalan sekurang-kurangnya kelas III A; c. Luas lahan sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) ha; d. Mempunyai akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal dengan jarak sekurang-kurangnya 200 (duaratus) M. 3. Penetapan lokasi Terminal Penumpang Tipe B selain harus memperhatikan ketentuan sebagaimana yang tersebut diatas, harus memenuhi persyaratan : a. Terletak dalam jaringan trayek antar kota dalam propinsi; b. Terletak di jalan arteri atau kolektor dengan kelas jalan sekurangkurangnya kelas III B; c. Luas jalan sekurang-kurangnya 3 (tiga) ha; d. Mempunyai akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal dengan jarak sekurang-kurangnya 50 (limapuluh) meter. 4. Penetapan lokasi terminal penumpang Tipe C selain harus memperhatikan ketentuan sebagaimana yang tersebut diatas, harus memenuhi persyaratan : a. Terletak di dalam kota dan dalam jaringan trayek perkotaan ; b. Terletak di jalan kolektor atau lokal dengan kelas jalan paling tinggi kelas III A;

16

c. Tersedia lahan sesuai dengan permintaan angkutan ; d. Mempunyai akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal sesuai dengan kebutuhan untuk kelancaran lalu lintas di sekitar terminal. Persyaratan Minimum Sanitasi Terminal Secara garis besar persyaratan sanitasi terminal dikelompokkan menjadi 2 bagian besar, yaitu bagian luar terdiri dari tempat parkir, pembuangan sampah, dan penerangan; dan bagian dalam terdiri dari gedung perkantoran, ruang tunggu, jamban dan urinoir, tempat cuci tangan, pembuangan air hujan dan air kotor, pemadam kebakaran, dan kotak P3K yang dikelompokkan menjadi kelompok kecil, antara lain (Chandra, 2007): Persyaratan Minimum Sanitasi Terminal Bagian Luar Tempat Parkir Fasilitas parkir adalah lokasi yang ditentukan sebagai tempat pemberhentian yang bersifat tidak sementara untuk melakukan kegiatan pada suatu kurun waktu. Tujuan fasilitas parkir adalah memberikan tempat istirahat kendaraan (Direktorat Perhubungan Darat, 1998). Jenis fasilitas parkir menurut penempatannya dibagi 2 macam, yaitu (Warpani, 2002): 1. Parkir di badan jalan (On Street Parking). Parkir di jalan sudah pasti mengurangi kapasitas ruas jalan yang bersangkutan, dan karena itu tidak dapat dibiarkan begitu saja. Di beberapa negara diberlakukan beberapa ketentuan, diantaranya: parkir di jalan dikenai tarif dan denda sangat tinggi sehingga pengemudi memarkir kendaraan seperlunya saja, sebelum dikenai denda karena melewati batas waktu, atau parkir di bangunan parkir meskipun tarifnya agak mahal. Pada ruas-ruas jalan tertentu perlu diterapkan kebijakan bebas parkir, artinya pada ruas ruas jalan tersebut dilarang memarkir kendaraan, sedangkan pada ruas-ruas jalan lain yang tidak terlalu mengganggu sirkulasi lalu lintas dapat diterapkan kebijakan parkir bebas, dalam pengertian tetap ada batasan waktu dan bisa diterapkan pembebanan biaya parkir. 2. Parkir di luar badan jalan (Off Street Parking) Perparkiran yang ideal adalah parkir di luar jalan berupa fasilitas pelataran (taman) parkir atau bangunan (gedung) parkir. Di pusat kegiatan kota yang sulit memperoleh lahan yang cukup luas, fasilitas yang sesuai adalah gedung parkir yang dibangun bertingkat sesuai dengan kebutuhan.

17

Yang dimaksud dengan di luar jalan antara lain pada kawasan-kawasan tertentu seperti pusat-pusat perbelanjaan, bisnis, maupun perkantoran yang menyediakan fasilitas parkir untuk umum. Adanya tempat parkir di halaman terminal merupakan suatu keharusan. Dengan adanya pemisahan tempat parkir kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua, dan halaman parkir yang terpelihara dengan baik, maka di samping kecelakaan dapat dihindari juga akan memberikan suasana yang rapi dan enak dipandang (Mukono, 2005). Persyaratan tempat parkir pada terminal (Chandra, 2007): a. Terdapat tempat parkir kendaraan umum yang bersih. b. Tidak terdapat sampah berserakan, genangan air, dan lain-lain. Pembuangan Sampah Menurut definisi WHO, sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Pengelolaan Sampah Ada beberapa tahapan di dalam pengelolaan sampah padat yang baik, diantaranya, tahap pengumpulan dan penyimpanan di tempat sumber; dan tahap pengangkutan (Chandra, 2007). 1. Tahap Pengumpulan dan Penyimpanan di Tempat Sumber. Sampah yang ada di lokasi sumber (kantor, rumah tangga, hotel, terminal dan sebagainya) ditempatkan dalam tempat penyimpanan sementara, dalam hal ini tempat sampah. Sampah basah dan sampah kering sebaiknya dikumpulkan dalam tempat yang terpisah untuk memudahkan pemusnahannya. Adapun tempat penyimpanan sementara (tempat sampah) yang digunakan harus memenuhi persyaratan berikut ini: a. Konstruksi harus kuat dan tidak mudah bocor. b. Memiliki tutup dan mudah dibuka tanpa mengotori tangan. c. Ukuran sesuai sehingga mudah diangkat oleh satu orang. Dari tempat penyimpanan ini, sampah dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam dipo (rumah sampah). Dipo ini berbentuk bak besar yang digunakan untuk menampung sampah rumah tangga. Pengelolaannya dapat diserahkan pada pihak pemerintah. Untuk membangun sebuah dipo, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya:

18

a. Dibangun di atas permukaan tanah dengan ketinggian bangunan setinggi kendaraan pengangkut sampah. b. Memiliki dua pintu, pintu masuk dan pintu untuk mengambil sampah. c. Memiliki lubang ventilasi yang tertutup kawat halus untuk mencegah lalat dan binatang lain masuk ke dalam dipo. d. Ada kran air untuk membersihkan. e. Tidak menjadi tempat tinggal atau sarang lalat dan tikus. f. Mudah dijangkau masyarakat. 2. Tahap Pengangkutan Dari dipo, sampah diangkut ke pembuangan akhir atau pemusnahan sampah dengan mempergunakan truk pengangkut sampah yang disediakan oleh Dinas Kebersihan Kota. Penerangan (Pencahayaan) Pencahayaan merupakan salah satu faktor untuk mendapatkan keadaan lingkungan yang aman dan nyaman dan berkaitan erat dengan produktivitas manusia. Pencahayaan yang baik memungkinkan orang dapat melihat objek-objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat. Menurut sumbernya, pencahayaan dapat dibagi menjadi pencahayaan alami yang sumbernya berasal dari sinar matahari, dan pencahayaan buatan yang sangat diperlukan apabila posisi ruangan sulit dicapai oleh pencahayaan alami atau saat pencahayaan alami tidak mencukupi (Prabu,2009). Intensitas cahaya di ruang kerja perkantoran minimal 1000 Lux dalam rata-rata pengukuran 8 jam, Bus datang dan berangkat dari terminal tidak hanya siang hari saja tetapi juga malam hari. Dengan demikian di terminal perlu diberi penerangan yang cukup dan tidak menyilaukan (Chandra, 2007). Persyaratan Minimum Sanitasi Terminal Bagian Dalam Gedung Perkantoran Kantor adalah tempat dimana dilakukan berbagai macam kegiatan pelaksanaan organisasi dalam rangka mencapai tujuannya, tempat yang digunakan untuk perniagaan atau perusahaan yang dijalankan secara rutin. Kantor bisa hanya berupa suatu kamar atau ruangan kecil maupun bangunan bertingkat tinggi. Kantor sering dibagi kepada dua jenis, yaitu kantor yang terbesar dan terpenting biasanya dijadikan kantor pusat, sedangkan kantor-kantor lainnya dinamakan kantor cabang (Kurniady, 2011).

19

Syarat dari gedung perkantoran ini antara lain (Mukono, 2005): 1. Lantai dibuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat dan tidak meresap air. 2. Dinding dibuat dari bahan yang kuat dan tidak meresap air serta tidak mudah terbakar. 3. Pintu dan jendela yang kuat, bagian luar diberi kawat kassa (kecuali jika ada AC). 4. Penerangan harus cukup dan tidak silau. 5. Ventilasi harus cukup dan memenuhi persyaratan minimal (20% dari luas lantai). 6. Disediakan telepon untuk komunikasi. Ruang Tunggu Bagi para calon penumpang bus, selama menungggu keberangkatan, keberadaan ruang tunggu yang nyaman dengan berbagai ruang penunjang yang informatif sangatlah didambakan. Dengan ruang tunggu yang terpadu dengan ruang-ruang penunjang lainnya tentu menyebabkan para calon penumpang lebih bisa menikmati suasana terminal dengan nyaman dan beraktivitas dengan lebih efisien. Oleh sebab itu penciptaann ruang tunggu terminal yang bisa menjawab pemikiran-pemikiran di atas adalah dengan menampilkan sebuah ruang tunggu yang meningkatkan pelayanan publik dan dapat mengikis image ruang tunggu terminal yang terkesan kurang aman, sumpek, gerah dan kumuh. Penciptaan ini bertujuan untuk menciptakan/mendesain suatu interior ruang tunggu terminal yang memanfaatkan penerapan warna dan bentuk-bentuk fasilitas yang mengesankan suatu interior ruang tunggu terminal yang modern namun masih mengangkat karakter lokal daerah. Persyaratan ruang tunggu terminal (Chandra, 2007): 1. Ruangan bersih. 2. Tempat duduk bersih dan bebas dari kutu busuk. 3. Penerangan yang cukup dan tidak menyilaukan. 4. Tersedia tempat sampah dan terbuat dari benda yang kedap air. 5. Lantai terbuat dari bahan kedap air, tidak licin, dan mudah dibersihkan. Jamban dan Urinoir (Pengelolaan Kotoran Manusia) Dalam ilmu kesehatan lingkungan dari berbagai jenis kotoran manusia, yang lebih dipentingkan adalah tinja (feces) dan air seni (urine) karena kedua bahan buangan ini memiliki karakteristik tersendiri dan dapat menjadi sumber penyebab timbulnya berbagai macam penyakit saluran pencernaan (Suparmin, 2002). Mengingat kuantitas dan karakteristik tinja yang

20

dihasilkan manusia, maka diperlukan teknik pembuangan yang memadai agar tinja tidak menimbulkan masalah kenyamanan ataupun kesehatan bagi manusia. Persyaratan jamban dan urinoir terminal (Chandra, 2007): 1. Digunakan jamban tipe leher angsa. 2. Jamban untuk pria harus terpisah dengan jamban untuk wanita. 3. Urinoir bersih, tidak berbau, dan memiliki air pembersih yang memadai. 4. Terminal dengan kapasitas minimal 250 pengunjung harus memiliki 1 urinoir. 5. Jika pengunjung meningkat menjadi 500 orang , ditambah 1 urinoir. Pembuangan Air Hujan dan Air Kotor (Air Limbah) Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001, air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair. Air limbah dapat berasal dari rumah tangga (domestic) maupun industri (industry). Pengolahan Air Limbah Sistem pengelolaan air limbah yang diterapkan harus memenuhi persyaratan berikut (Chandra, 2007): 1. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber-sumber air minum. 2. Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan. 3. Tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air dalam penggunaannya sehari-hari. 4. Tidak dihinggapi oleh vektor atau serangga yang menyebabkan penyakit. 5. Tidak terbuka dan harus tertutup. 6. Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap. Lain Lain Yang termasuk pada bagian ini adalah tempat cuci tangan, alat pemadam kebakaran, dan kotak P3K (Chandra, 2007). 1. Tempat cuci tangan Tersedia minimal 1 buah tempat cuci tangan untuk umum yang dilengkapi dengan sabun dan serbet. 2. Tersedia alat pemadam kebakaran yang dapat dilihat dan dicapai dengan mudah oleh umum. Pada alat ini harus terdapat cara penggunaannya. 3. Tersedia kotak P3K minimal 1 buah yang berisi obat-obatan lengkap untuk P3K.

21