Anda di halaman 1dari 74

Panduan Musafir

PANDUAN
MUSAFIR
Adab dan
Hukum
Dalam Safar
1
Panduan Musafir
Abdullah Haidir

) (
Judul Buku
Panduan Musafir, Adab dan Hukum Dalam Safar
Penyusun
Abdullah Haidir
Editor
Hidayat Mustafid, MA
2
Panduan Musafir
Perwajahan Isi Dan Tata Letak
Abdullah Haidir
Penerbit
Kantor Dakwah Sulay, Riyadh, Arab Saudi
Cetakan Ketiga
Rajab 1443 H Mei 2013 M.
Daftar Isi
Prakata Penyusun _4
Safar dan kedudukannya dalam Islam _5
Sisi positif safar _6
Adab dalam safar _10
Persiapan teknis _16
Ibadah dalam safar _17
Rukhshah dalam safar _19
Lama menetap yang dianggap safar _21
Jarak yang dianggap safar _20
Kapan rukhshah safar mulai berlaku? _22
Rukhshah shalat _24
Qashar shalat _24
Jamak shalat _31
Shalat Jumat dalam safar _43
Shalat sunah dalam safar _45
Shalat di kendaraan _46
Mengusap khuf _53
Rukhshah dalam puasa wajib _54
Doa dan zikir _59
3
Panduan Musafir
Doa dan zikir khusus dalam safar _59
Zikir pagi sore _62
Doa dan zikir yang bersifat umum _67
U
PRAKATA PENYUSUN
egala puji bagi Allah, semoga kita selalu mendapatkan
limpahan rahmat dan karunia-Nya, shalawat dan
salam semoga terlimpah kepada Rasulullah saw. S
Safar merupakan aktifitas yang banyak dilakukan
masyarakat. Namun demikian tidak sedikit kita dapatkan
kaum muslimin yang masih awam terhadap hukum dan adab
safar. Sehingga seseorang sering kebingungan untuk
menentukan sebuah pekerjaan ketika di perjalanan, ,
terutama yang berkaitan dengan ibadah.
4
Panduan Musafir
Buku sederhana ini disusun dengan tujuan dapat menjadi
Panduan Musafir dalam hal pemahaman yang baik
tentang ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi para musafir
ditinjau dari ajaran Islam.
Semoga bermanfaat.
Riyadh, Rajab 1434 H
Abdullah Haidir
SAFAR DAN
KEDUDUKANNYA
DALAM ISLAM
ebagai agama yang integral (Syamil) Islam tidak
mengabaikan suatu bidang kehidupan tanpa ada
penjelasan dan ketentuan yang berlaku dalam bidang
tersebut, termasuk masalah safar.
S
Dalam Islam, kedudukan safar sangat tergantung dengan
motivasi atau tujuan yang melandasinya.
Jika tujuannya ibadah, seperti haji, umrah, jihad, dawah
dan semacamnya, maka safar tersebut akan bernilai ibadah.
5
Panduan Musafir
Jika tujuannya maksiat, seperti ingin berzina, berjudi,
melakukan perbuatan dosa yang tidak dapat dilakukan di
negeri-nya dan sebagainya, maka safar tersebut akan dinilai
sebagai maksiat.
Adapun jika tujuannya sesuatu yang bersifat mubah,
seperti bekerja, berdagang, bertamasya, maka hukumnya
pun mubah pula, namun yang mubah tersebut dapat menjadi
ibadah jika dilandasi niat yang baik dan untuk mencari ridha
Allah.
Di sini sangat penting kedudukan niat dalam setiap safar
yang kita lakukan agar perjalanan yang umumnya
melelahkan dan mengeluarkan biaya besar tidak berlalu
begitu saja tanpa nilai berarti.
Namun dalam ruang lingkup yang berdiri sendiri, safar
dapat berpotensi positif atau negatif. Hal tersebut sangat
tergantung dengan sikap sang musafir, baik dari sisi
motivasinya ataupun sikap dan tindakan yang diambil di
tengah-tengah safar.
Karena itu, penting bagi kita untuk menggali sisi-sisi
positif safar dan kemudian mengoptimalkannya agar kita
dapat mengambil manfaatnya sebanyak mungkin sekaligus
sebagai penutup segala peluang negatif di dalamnya.
6
Panduan Musafir
Sisi Positif Safar
1- Safar merupakan sarana untuk membentuk kepribadian
yang baik pada diri seseorang, apalagi jika dilakukan
berhari-hari. Karena safar pada umumnya meletihkan, baik
secara fisik, karena perjalanan yang panjang ataupun
secara mental karena meninggalkan kampung halaman
dan orang-orang yang kita cintai, serta berbagai tantangan
yang kita hadapi di tengah perjalanan. Karena itu
Rasulullah J bersabda:


Safar adalah bagian dari azab.
1)
Sementara di sisi lain, di tengah perjalanan terdapat
berbagai kemungkinan.
Hal ini pada gilirannya akan mengasah dan melatih
sifat-sifat tertentu yang sangat dibutuhkan seseorang
untuk membentuk kepribadiannya, seperti sifat sabar,
tegar, siap menghadapi berbagai kemungkinan dan
tawakal.
2- Safar membuat seseorang kaya pengalaman dalam
kehidupannya. Cakrawalanya tidak hanya sebatas daerah
kelahiran-nya saja. Sehingga hal tersebut menjadikannya
1
Muttafaq alaih.

7
Panduan Musafir
pandai bergaul dan mudah beradaptasi dengan berbagai
lingkungan.
3- Safar dalam ruang lingkup pergaulan, merupakan sarana
yang sangat efektif untuk menumbuhkan ukhuwah
(persaudaraan), sikap setia kawan, saling memahami dan
tolong menolong.
Karena safar bersama sejumlah orang akan menuntut
mereka untuk selalu bersama-sama dalam kurun waktu
yang cukup lama; makan bersama, tidur bersama,
mengatasi kesulitan bersama dan seterusnya. Sehingga
tanpa terasa hal tersebut akan merekatkan hubungan
kejiwaan di antara mereka.
Fenomena ini sering kita dapatkan pada mereka yang pergi
haji, di mana banyak peserta haji yang masih mengenang
saat bersama mereka dalam perjalanan haji tersebut
walaupun waktu telah berselang sekian tahun.
Dari sisi ini pula, safar sangat berperan untuk mengenal
watak dan tabiat seseorang. Karena dalam safar, watak
dan tabiat asli seseorang akan tampak sehingga akan
membantu seseorang untuk mempergaulinya sesuai
dengan wataknya.
Karena itu terdapat riwayat bahwa ada seseorang yang
berkata kepada Umar bin Khattab bahwa dia telah
mengenal si fulan, namun ketika beliau mengetahui bahwa
8
Panduan Musafir
orang tersebut belum pernah melakukan perjalanan dan
mabit (bermalam) bersamanya, beliau menyatakan bahwa
dia belum mengenal orang yang dimaksud.
4- Safar merupakan kesempatan bagi kita untuk mengenal
dan mempraktekkan beberapa hukum yang khusus di
dalamnya, seperti shalat qashar dan jamak, shalat di
kendaraan, thaharah di perjalanan, berpuasa serta adab-
adab safar.
5- Safar merupakan salah satu sarana kita untuk
mendekatkan diri kepada Allah. Tingkat kepasrahan dan
ketawakalan seseorang kepada Allah semakin tinggi,
apalagi jika perjalanannya tergolong berat. Dari sisi ini,
dapat dipahami bahwa doa seseorang dalam safar adalah
mustajabah (dikabulkan)
Demikianlah, safar akan banyak memberikan manfaat bagi
setiap pribadi jika dipahami dan dioptimalkan sisi-sisi
positifnya.
Imam Syafii rahimahullah menggubah sebuah syair:

9
Panduan Musafir

Safarlah, kau akan mendapatkan ganti dari apa yang kaut


tinggalkan. Berletih-letihlah, karena kenikmatan hidup ada
pada keletihan.
Sungguh aku melihat tergenangnya air akan merusaknya,
jika mengalir dia akan baik, jika tidak mengalir, tidak baik.
Singa, jika tidak keluar, tidak akan memangsa, dan anak
panah jika tidak meninggalkan busurnya tak mengenai
sasaran.
Perak tak ubahnya bagai debu jika berada di tempatnya dan
cendana yang masih tertanam di tanah tak beda dengan
kayu bakar.
ADAB DALAM SAFAR
10
Panduan Musafir
gar safar kita lebih berarti dan mendatangkan
barokah dari Allah Taala, penting bagi kita untuk
memperhatikan dan mempraktekkan adab-adabnya
sejak pergi hingga pulang sesuai dengan ajaran Islam.
A
Di antara adabnya adalah sebagai berikut :
1- Menyampaikan salam perpisahan kepada kerabat atau
rekan-rekan. Mohon didoakan dan memberikan pesan-pesan
yang baik kepada mereka atau ungkapan lainnya yang di
dalamnya terkandung doa dan harapan-harapan yang baik.
(Lihat lampiran doa)
2- Disunahkan shalat dua rakaat sebelum keluar rumah.


Tidak ada peninggalan seseorang yang lebih baik untuk
keluarganya ketika dia hendak safar kecuali shalat dua
rakaat yang dilakukannya.
1)
1
Riwayat Thabrani, Ibnu Abi Syaibah. Ibnu Khuzaimah dan Hakim juga
meriwayatkannya dan dia berkata bahwa hadits ini shahih berdasarkan syarat
Bukhari.
11
Panduan Musafir
2- Hendaklah tidak safar seorang diri, upayakan
melakukannya minimal tiga orang dan kemudian menentukan
pemimpinnya di antara mereka.
Rasulullah J bersabda :

Pengendara seorang diri adalah (perbuatan) setan,


sedang berdua adalah perbuatan dua setan, sedangkan
jika bertiga, maka itulah rombongan (perkawanan)
1)
Rasulullah J bersabda :

Jika ada tiga orang yang melakukan safar, hendaklah


mereka mengangkat salah seorang sebagai pemimpin
2)
Carilah teman perjalanan yang baik, yang dapat mengajak
pada ketaatan dan takwa serta mencegah perbuatan
munkar, juga ringan tangan untuk saling tolong menolong.
3- Dianjurkan untuk memulai safar pada hari Kamis di pagi
hari.
1
Riwayat Abu Daud, dihasankan oleh al-Albani.
2
Riwayat Abu Daud, al-Albani berkata: haditsnya hasan shahih.
12
Panduan Musafir
Sabda Rasulullah J:


Adalah Rasulullah J keluar pada hari Kamis saat perang
Tabuk, dan beliau memang suka keluar (untuk safar) pada
hari Kamis.
1)
Rasulullah J bersabda:

Ya Allah berkahilah umatku di pagi harinya


2)
Terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasulullah J jika
mengutus pasukan, dilakukannya pada pagi hari .
3)
Namun, hal ini bukan berarti jika berangkat pada hari lain
dianggap sial. Sebab pada prinsipnya seseorang boleh
melakukan safar pada hari dan waktu kapan saja. Kecuali
safar yang dilakukan pada hari Jumat setelah azan Jumat
yang kedua berkumandang. Maka pada saat itu dilarang
memulai perjalanan.
1
Riwayat Bukhari.
2
Riwayat Abu Daud, dishahihkan oleh al-Albani.
3
Riwayat Ahmad, Tirmizi (1212), Ibnu Majah (2236) dan ad-Darimi (2435)
13
Panduan Musafir
4- Perbanyak membaca zikir dan doa, karena safar
merupakan salah satu sebab doa kita dikabulkan
(mustajabah).
Rasulullah J bersabda :


Tiga yang tidak diragukan lagi akan dikabulkan: Doa
orang tua kepada anaknya, doa seorang musafir dan doa
orang yang dizalimi
1)
5- Membaca doa safar, ketika kendaraan mulai berangkat.
(Lihat lampiran doa)
6- Bertakbir (membaca: Allahu Akbar) jika melewati jalan
mendaki, dan bertasbih (Membaca: Subhanallah) jika
melewati jalan menurun.
Diriwayatkan dari hadits Ibnu Umar radhiallahuanhuma,
bahwa Rasulullah J dan tentaranya, jika jalan mendaki
mereka bertakbir dan jika jalan menurun mereka bertasbih..
2)
1
Riwayat Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, Ibn Hibban, dihasankan oleh al-Albani
dalam Shahih al-Jami, no. 3031
2
Riwayat al-Baghawi dalam Syarhussunah, 1351, 5/149.
14
Panduan Musafir
7- Membaca doa ketika singgah di sebuah tempat. (Lihat
lampiran doa)
8- Membaca doa ketika memasuki sebuah negeri (kota).
(Lihat lampiran doa)
9- Segera kembali ke keluarganya setelah tugasnya selesai
dan hendaknya tidak kembali ke rumahnya pada malam hari.
Rasulullah J bersabda :
Jika seseorang telah menyelesaikan keperluannya,
hendaklah dia kembali kepada keluarganya
1)
Rasulullah J melarang seorang musafir untuk kembali
kepada keluarganya pada malam hari
2)
.
Namun maksud larangan Rasulullah J dalam hadits ini
adalah agar seseorang jangan pulang tiba-tiba tanpa
diketahui sebelumnya sama sekali oleh keluarganya, khawatir
dia akan melihat keluarganya dalam kondisi yang tidak layak
dipandang.
Adapun jika dia telah menginformasi-kannya sebelumnya
atau kepergiannya tidak lama dan diketahui jadwal
kepulangannya, maka boleh baginya untuk kembali kapan
saja.
3)

1
Muttafaq alaih.
2
Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.
3
Syarah Muslim, an-Nawawi, VII (13/61)
15
Panduan Musafir
10- Disunahkan shalat dua rakaat di mesjid ketika telah tiba
di kampung halamannya.
Kaab bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah J jika
datang pada waktu Dhuha dari safar, beliau masuk ke mesjid
dan shalat dua rakaat sebelum duduk.
1)
1
Muttafaq alaih.
16
Panduan Musafir
Persiapan Teknis
Selain adab-adab di atas, penting juga secara teknis- bagi
seorang musafir untuk melakukan hal-hal berikut :
-Menyelesaikan segala masalah dan keperluan yang
mendesak, atau mendelegasikan seseorang yang dapat
menunaikan tugasnya selama kepergiannya.
-Menyiapkan dokumen pribadi secara lengkap dan
meletakkannya pada tempat yang aman namun mudah
dijangkau.
-Siapkan no. telepon penting yang kemungkinan butuh untuk
kita hubungi dalam safar.
-Menyiapkan perlengkapan pribadi secukupnya.
-Menyiapkan pula buku-buku bacaan ringan untuk mengisi
waktu kosong di tengah perjalanan, jangan lupa untuk
membawa al-Quran kecil.
-Jika safar dilakukan bersama rombongan, maka sangat
bermanfaat jika sejak awal telah disiapkan acara-acara
menarik dan bermanfaat untuk menghilangkan kejenuhan
selama perjalanan.
17
Panduan Musafir
-Gunakan kesempatan tersebut untuk berdawah dan
melakukan pendekatan pribadi kepada orang-orang yang
ingin kita dakwahi.
18
Panduan Musafir
IBADAH DALAM SAFAR
afar bukan merupakan alasan bagi seorang muslim
untuk mengabaikan ibadahnya, khususnya shalat,
sebagaimana yang sering didapatkan pada sebagian
kaum muslimin yang mengabaikan ibadahnya ketika dia
safar. Akan tetapi perlu juga diketahui bahwa Islam
memberikan kemudahan ibadah di tengah safar.
S
Kenyataan ini setidaknya dapat dinilai dari dua sisi:
Sisi pertama, menunjukkan bahwa Ibadah dalam Islam
tidak dibatasi oleh tempat tertentu. Di mana saja kita
berpijak, disitulah bumi Allah dan disitulah kita diwajibkan
untuk menunjukkan peng-hambaan kita kepada-Nya.


Dan bumi dijadikan bagiku sebagai mesjid dan alat bersuci
Sisi Kedua, Bahwa Islam adalah agama yang fleksibel,
penerapan ajaran-ajarannya dapat disesuaikan dengan
kondisi dan situasi yang ada, sehingga memberikan
kemudahan bagi seorang hamba untuk beribadah kepada
Allah. Namun demikian sisi ini harus tetap berdasarkan
19
Panduan Musafir
petunjuk syariat, agar tidak setiap orang memberikan
kesimpulan sendiri-sendiri.
Allah Taala berfirman :
___ _ ___*
-__'__ __ _'
Allah tidak hendak menyulitkan kamu (QS. al-Maidah : 6)
___ _ _-__ _-_' *
___ _-__ *'_-__'
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu. (QS. al-Baqarah : 185)
20
Panduan Musafir
RUKHSAH DALAM SAFAR
ukhsah adalah semacam dispensasi atau keringanan
yang Allah berikan dalam beberapa bentuk ibadah
karena alasan tertentu, di antaranya karena alasan
safar.
R
Bahkan Allah Taala senang jika rukhsah yang Dia
sediakan digunakan oleh hamba-Nya.
Rasulullah J bersabda :


Sesungguhnya Allah senang jika keringanan-keringanan-
Nya (rukhsahNya) digunakan sebagaimana senangnya Dia
jika ajaran-ajaran-Nya yang lengkap digunakan.
1)
Batasan safar dalam syariat
1
Riwayat Ibnu Hibban dan Thabrani. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwaul
Ghalil, no. 564
21
Panduan Musafir
Untuk menentukan kapan berlaku rukhsah dalam safar,
penting bagi kita untuk mengetahui apa batasan safar dalam
tinjauan syariat.
Ada dua sisi dalam masalah ini;
Pertama, Jarak yang ditempuh,
Kedua, Lama menetap dalam safar.
Jarak Yang Dianggap Safar
Jumhur ulama berpendapat bahwa jarak yang dianggap
safar dalam pandangan syari adalah perjalanan sehari
semalam, atau 4 burd (barid), atau 16 farsakh, atau sekitar
48 mil, atau sekitar 76,8 km.
1)

Berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas yang
menyatakan bahwa mereka berdua melakukan qashar shalat
dan buka puasa pada jarak empat burd; yaitu enam belas
farsakh.
2)

1
Hubungan masing-masing jarak tersebut adalah: bahwa perjalanan setengah hari
disebut sebagai satu barid, maka perjalanan sehari semalam sama dengan 4
barid, sedangkan satu barid sama dengan 4 farsakh, maka 4 barid sama dengan
16 farsakh, adapun satu farsakh sama dengan kira-kira 3 mil, maka 16 farsakh
sama dengan 48 mil, sedangkan satu mil sama dengan kira-kira 1,6 km, maka
48 mil sama dengan 76,8 km.
2
Riwayat Bukhari.
22
Panduan Musafir
Dan Rasulullah J menyebut perjalanan sehari semalam
sebagai safar, sebagaimana sabdanya:


Tidak halal bagi seorang wanita beriman kepada Allah dan
hari akhir untuk melakukan safar perjalanan sehari semalam
tanpa mahram.
Pendapat ini dikuatkan oleh Syekh Ibn Baz rahimahullah.
Karena selain berdasarkan dalil yang ada, juga sebagai
langkah kehati-hatian dan menutup pintu terhadap tindakan
menyepelekan permasalahan, agar jangan ada orang yang
sekedar pergi ke pinggir kota dia sudah merasa boleh
berbuka puasa, apalagi dengan adanya kendaraan.
Wallahualam
Lama Menetap Yang Dianggap Safar
Seseorang yang dalam safarnya tinggal di sebuah tempat,
apakah berlaku baginya hukum safar ?
23
Panduan Musafir
Jika dia tidak dapat memastikan berapa lama masa
tinggalnya di tempat tesebut, maka berlaku baginya hukum
safar, walaupun berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Adapun jika dia dapat memastikan masa tinggalnya di
sebuah tempat dalam safarnya, maka pendapat yang lebih
kuat dan lebih hati-hati adalah tidak lebih dari empat hari.
Maksudnya, jika seseorang menetap di suatu tempat dalam
safarnya selama empat hari atau kurang, maka selama itu
berlaku baginya hukum safar, dia boleh qashar shalat. Namun
jika lebih dari itu, tidak berlaku lagi hukum safar baginya, dia
harus shalat dengan lengkap.
Dalil dari ketetapan ini adalah perbuatan Rasulullah J
ketika beliau menetap di Mekah dalam Haji Wada, selama
empat hari. Maka selama itu belia melakukan shalat dengan
cara qashar.
1)

Adapun riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah J
menetap di Mekkah pada peristiwa Fathu Mekah selama
sembilan belas hari, dan di Tabuk selama dua puluh hari, dan
selama itu pada kedua kejadian tersebut beliau melakukan
shalat dengan cara qashar, hal tersebut dipahami bahwa
menetapnya Rasulullah J di kedua tempat tersebut adalah
1
Muttafaq alaih.
24
Panduan Musafir
menetap yang tidak dapat dipastikan masa berlangsungnya.
1)
Kapan rukhsah dalam safar mulai dapat dilakukan?
Meskipun safar dalam penilaian syari baru dianggap jika
perjalanan yang ditempuh berjarak minimal 76,8 km, namun
itu bukan berarti kita harus sampai pada jarak tersebut untuk
dapat mengambil rukhsah yang terdapat dalam safar.
Kita sudah boleh mengambil rukhsah tersebut jika kita
telah keluar dari negeri (kota) atau wilayah pemukiman di
kota tempat kita menetap, walaupun belum sampai jarak
minimal dalam safar yang mendapatkan rukhsah, selama
safar yang akan kita tuju diperkirakan melampaui jarak
tersebut.
Misalnya, seseorang dari Riyadh hendak umrah ke Mekkah
yang berjarak kurang lebih 1000 km. Ketika dia telah
melewati kota Riyadh atau wilayah pemukiman di kota
tersebut, maka dia sudah boleh melakukan qashar shalat,
atau berbuka puasa. Atau jika dia hendak safar menggunakan
pesawat, maka setibanya di airport, dia sudah boleh
melakukan shalat dengan cara qashar, karena pada
umumnya, airport berada di luar wilayah pemukiman.
1
Sholatul Mumin, Syaikh Said bin Ali bin Wahf al-Qhahtani, hal. 685-686,
25
Panduan Musafir
Pendapat ini bersumber dari perbuatan Rasulullah J ketika
hendak melakukan haji Wada dari Madinah ke Mekkah, beliau
melakukan shalat Ashar dua rakaat (qashar) di Dzul Hulaifah
2)
, padahal jarak antara Dzul Hulaifah dengan Madinah hanya
sekitar 10 km.
2
Muttafaq alaih. Dzul Hulaifah adalah miqat bagi penduduk Madinah yang
sekarang di kenal dengan Abyar Ali, atau lebih akrab di lidah bangsa kita
dengan sebutan Bir Ali.
26
Panduan Musafir
RUKHSAH DALAM SHALAT
da beberapa keringanan (rukhsah) dalam shalat ketika
safar, di antaranya : A
A. QASHAR SHALAT
1- Pemahaman dan landasan hukum
Qashar (), artinya: Memendekkan. Maksudnya
adalah memendekkan bilangan rakaat shalat dari empat
menjadi dua rakaat. Karena berdasarkan ijmak, shalat yang
dapat diqashar hanyalah shalat fardhu yang rakaatnya
berjumlah empat, yaitu: Zuhur, Ashar dan Isya. Sedangkan
Maghrib dan Subuh tidak berlaku baginya hukum qashar.
Dalil rukhsah qashar shalat pada saat perjalanan terdapat
dalam al-Quran, yaitu pada firman Allah Taala :
* -__*' _^
`,' __'__ __*___ _
_'_'` _-_ _
27
Panduan Musafir
-_' _ _-_*_^' __
_ _ ] [
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah
mengapa kamu qashar shalat-(mu), jika kamu takut diserang
orang-orang kafir (QS. an-Nisa: 101)
Meskipun ayat ini dikaitkan dengan kondisi yang
mengkawatir-kan, namun pada prakteknya tidak harus
demikian, artinya selama dia berada dalam keadaan safar,
maka berlaku baginya rukhsah, wa-laupun dalam kondisi
aman.
Dengan demikian, Safar merupakan satu-satunya
sebab dibolehkannya qashar dalam shalat, tidak ada
sebab lain yang menyebabkan seseorang boleh mengqashar
shalatnya.
Ketika Rasulullah J ditanya Umar bin Khattab tentang
masalah ini, maka beliau bersabda :

(Rukhsah shalat dalam safar) adalah shodaqah yang Allah


berikan kepada kalian, maka terima-lah shodaqah-Nya.
1)
1
Riwayat Muslim.
28
Panduan Musafir
Sedangkan berdasarkan hadits, terdapat riwayat-riwayat
mutawatir tentang qashar shalatnya Rasulullah J dalam safar
yang sebagiannya akan disebutkan di sela-sela pembahasan
ini.
Mana yang lebih utama, shalat dengan cara qashar
atau sempurna ?
Jika seseorang melakukan safar dalam batas-batas yang
telah dibicarakan di atas, maka melakukan shalat dengan
cara qashar lebih utama baginya, berdasarkan hadits
Rasulullah J yang telah disebutkan di atas, yaitu :

Sesungguhnya Allah senang jika keringanan-keringanan-


Nya (rukhsah-Nya) digunakan se-bagaimana senangnya Dia
jika ajaran-ajaran-Nya yang lengkap digunakan
1)
Juga berdasarkan perbuatan Rasulullah J yang selalu
shalat dengan cara qashar dalam berbagai kesempatan safar
yang beliau lakukan.
1
Riwayat Ibnu Hibban dan Thabrani. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwaul
Ghalil, no. 564
29
Panduan Musafir
Kecuali jika dia shalat di belakang imam yang melakukan
shalat dengan sempurna. (Lihat bab berikutnya tentang
musafir yang bermakmum kepada imam yang mukim)
Adapun jika tanpa alasan tertentu dia tetap shalat empat
rakaat, maka hal tersebut tidak mengapa, sebagaimana
terdapat riwayat bahwa Aisyah
1)
dan Utsman bin Affan
2)
radhiallahuanhuma yang pernah melakukannya.
Masalah Iman dan Makmum antara Musafir dan Mukim
(orang yang menetap)
a- Musafir menjadi makmum orang mukim.
Hendaknya musafir mengikuti shalat Imam dalam hal
jumlah rakaatnya.
Berdasarkan hadits Rasulullah J :


Sesungguhnya imam ditetapkan untuk diikuti,
janganlah kalian
menyelisihinya
3)
1
Riwayat Muslim.
2
Riwayat Bukhari.
3
Muttafaq alaih.
30
Panduan Musafir
Contoh :
Seorang musafir yang ingin shalat Zuhur di belakang
imam mukim yang shalat Zuhur pula. Maka dia harus shalat
dengan sempurna sebagaimana imamnya. Bahkan
seandainya dia ikut imamnya pada rakaat ketiga, maka tidak
boleh baginya untuk salam ketika imam salam dengan
anggapan bahwa dia telah mendapatkan dua rakaat sebagai
qashar shalatnya, tetapi dia harus bangun dan
menyempurnakan shalatnya hingga empat rakaat.
Bahkan dalam hal perbedaan niat antara qashar dan
itmam (sempurna) yang diketahui di tengah shalat, juga
harus mengikuti kaidah ini, yaitu bahwa makmum musafir
harus mengikuti shalatnya imam
Contoh:
Makmum musafir niat shalat sempurna, namun ternyata
imamnya shalat qashar, maka dia harus shalat qashar.
Sebaliknya, jika makmum niat shalat qashar, namun
ternyata imamnya shalat sempurna, maka makmum harus
shalat sempurna.
31
Panduan Musafir
Jika dia bermakmum kepada imam yang tidak dia tahu,
apakah imamnya musafir atau muqim, maka dia shalat sesuai
dengan shalatnya imam.
1)
Adapun dalam hal niat macam shalatnya (seperti antara
Maghrib dan Isya) atau kedudukan shalatnya (seperti antara
shalat sunah dan fardhu) dibolehkan berbeda antara
makmum dan imam. Berdasarkan hadits Riwayat Muslim
bahwa Muaz melakukan shalat Isya bersama Rasulullah J,
kemudian ketika di tengah kaumnya dia menjadi imam shalat
Isya bersama kaumnya, maka baginya shalat tersebut sunah
sedangkan bagi kaumnya, shalat tersebut hukumnya wajib.
Namun dalah hal jumlah rakaat tidak boleh dilebihkan atau
dikurangi
Contoh:
Seorang musafir yang ingin shalat Maghrib sedangkan
imamnya shalat Isya, maka dia boleh ikut imam tersebut
dengan niat shalat Maghrib, kemudian jika imam bangun dari
rakaat ketiga (sedangkan dia ikut sejak awal), maka dia
melakukan tasyahhud akhir dan tetap duduk menunggu
imam menyelesaikan rakaat keempatnya, dan kemudian
melakukan salam bersama imam, atau dia dapat langsung
1
Asy-Syarhul Mumti, IV/525
32
Panduan Musafir
salam jika telah selesai tasyahhud. (prakteknya ada di bahasan
berikut)
b. Mukim bermakmum kepada imam musafir
Seseorang yang melakukan safar boleh menjadi imam
shalat dengan cara qashar meskipun makmumnya mukim,
sedangkan makmum yang mukim harus melengkapi rakaat
yang kurang.
Rasulullah J ketika datang ke Mekah melakukan shalat
sebagai imam dengan cara qashar, setelah selesai dia
berkata kepada penduduk Mekkah yang bermakmum
kepadanya:

Sempurnakanlah shalat kalian, karena kami adalah


rombongan yang sedang safar
1)
Namun jika musafir tersebut shalat dengan sempurna
ketika mengimami orang yang mukim, maka shalatnya tetap
sah, namun dia meninggalkan yang lebih utama.
2)
c. Musafir bermakmum kepada musafir
1
Riwayat Abu Daud
2
Al-Mughni, Ibnu Qudamah, III/146
33
Panduan Musafir
Pada umumnya tidak banyak terjadi masalah, kecuali satu
hal yang sering terjadi, khususnya di mesjid pinggir jalan.
Ketika musafir telah selesai shalat Maghrib dan dia ingin
melakukan shalat Isya, namun tiba-tiba di belakang ada
sejumlah musafir yang memulai jamaah baru untuk shalat
Maghrib pula.
Dalam kondisi seperti itu, hendaklah dia bergabung
dengan jamaah shalat tersebut dengan niat shalat Isya dan
jangan membuat jamakah baru lagi, karena kita telah shalat
Maghrib.
Mengenai apakah ketika itu kita shalat jamak atau qashar?
Syekh Ibnu Utsaimin dalam fatwanya menyatakan bahwa kita
boleh shalat qashar, namun lebih hati-hati dan ini yang lebih
utama- jika kita shalat Isya dengan sempurna (itmam),
sedangkan Imam Nawawi berkata bahwa hendaklah dia
shalat dengan sempurna.
1)

B- JAMAK SHALAT
Pemahaman dan Landasan Hukumnya
1
Dikutip dari Fatawa Ibnu Utsaimin 15/271, dan Majmu Syarh Muhazab, 4/295
dalam kita Al-Mukhtashar fi Ahkamissafar, hal. 15.
34
Panduan Musafir
Jamak () artinya: menggabungkan. Maksudnya
adalah menggabungkan dua shalat untuk dilaksanakan dalam
satu waktu shalat.
Dalam hal ini yang boleh dijamak hanyalah shalat Zuhur
dan Ashar serta Maghrib dan Isya. Shalat Subuh tidak boleh
dijamak dengan shalat lainnya. Juga tidak dibenarkan
menggabungkan antara Ashar dan Maghrib atau Isya dengan
Subuh.
Landasan hukum shalat jamak adalah perbuatan
Rasulullah J .
Di antaranya adalah apa yang diriwa-yatkan oleh Muadz ,
beliau berkata :

Kami menempuh perjalanan bersama Rasulullah J dalam


perang Tabuk, maka beliau shalat Zuhur dengan Ashar,
Maghrib dengan Isya dengan cara jamak.
1)
Alasan (illat) melakukan shalat Jamak
1
Riwayat Muslim, no. 106.
35
Panduan Musafir
Safar bukanlah satu-satunya alasan seseorang boleh
menjamak shalatnya. Masih ada sebab lain sehingga
seseorang boleh melakukan jamak dalam shalatnya, seperti
jika sedang sakit, keluar darah istihadhah, turun hujan, jalan
berlumpur, angin kencang dan dingin dan semacam-nya.
Kesimpulannya adalah bahwa jamak shalat dibolehkan
karena kondisi mende-sak sehingga menyulitkan seseorang
untuk shalat pada waktunya masing-masing.
Ibnu Abbas berkata :


Sesungguhnya Rasulullah J menggabungkan (jamak) antara
shalat Zuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya bukan karena takut
atau hujan, kemudian Ibnu Abbas ditanya tentang (sebab)
hal itu, maka beliau menjawab: Beliau tidak ingin
menyulitkan umatnya. Dalam riwayat Muslim yang lain::
Bukan karena safar
1)
1
Riwayat Muslim
36
Panduan Musafir
Maka dikatakan bahwa jamak shalat perkaranya lebih luas
dari qashar shalat.
Catatan, Tidak dibenarkan melakukan jamak shalat tanpa
alasan-alasan yang berarti. Karena Rasulullah J tidak
melakukannya pada kondisi normal.
Dua Bentuk Jamak
1- Jamak Taqdim, adalah menggabungkan dua waktu
shalat yang dilakukan pada waktu pertama. Misalnya
melakukan shalat Zuhur dan Ashar pada waktu Zuhur, atau
melakukan shalat Maghrib dan Isya pada waktu Maghrib.
Dalam jamak taqdim, wajib dilakukan dengan muwalat
(berturut-turut), namun tidak mengapa jika terdapat jeda
sedikit.
2- Jamak Takhir, yaitu menggabungkan dua waktu
shalat yang dilakukan pada waktu kedua. Seperti melakukan
shalat Zuhur dan Ashar pada waktu Ashar, atau melakukan
shalat Maghrib dan Isya pada waktu Isya.
Dalam jamak takhir, tidak harus dilakukan dengan
muwalat, karena shalat kedua dilakukan pada waktunya
sendiri. Namun jika dia lakukan secara muwalat, hal tersebut
lebih utama.
1)
1
Majmu Fatawa, Syekh Ibn Baz, 12/295
37
Panduan Musafir
Namun seseorang yang ingin melakukan jamak takhir, dia
harus niat melakukannya dalam hatinya ketika masuk waktu
shalat pertama, karena pada dasarnya seseorang tidak boleh
meninggalkan shalat dari waktunya kecuali ada uzur
1)
.
Kapan sebaiknya shalat Jamak dilakukan dalam safar?
Jika seseorang dalam perjalanan, kemudian pada waktu
pertama dia menetap dan pada waktu kedua diperkirakan dia
berada dalam perjalanan, maka lebih utama baginya
melakukan jamak taqdim, seperti yang Rasulullah J lakukan
ketika wuquf di Arafah.
Jika dalam waktu pertama diperkirakan dia berada
dalam perjalanan dan di waktu kedua dia akan singgah di
sebuah tempat, maka lebih utama baginya melakukan jamak
takhir, seperti yang Rasulullah J lakukan ketika mabit
(bermalam) di Muzdalifah.
Adapun jika pada kedua waktu tersebut dia menetap
dalam sebuah tempat terus menerus, maka sebaiknya dia
melakukan shalat pada waktunya masing-masing
sebagaimana biasanya hal tersebut dilakukan Rasulullah J
dalam berbagai safarnya, seperti yang beliau lakukan di Mina.
Namun tidak mengapa jika dia tetap melakukan shalat jamak,
1
Al-Mumti, IV/574
38
Panduan Musafir
karena kadang-kadang Rasulullah J melakukan shalat jamak
ketika beliau menetap di sebuah tempat pada masa yang
agak lama, sebagaimana yang beliau lakukan ketika singgah
di sebuah tempat dalam perang Tabuk
1)

Hal ini kembali kepada permasalahan awal bahwa illat
(alasan) shalat jamak bukan semata-mata pada safarnya
seseorang, tetapi lebih pada kondisi yang sulit baginya untuk
melakukan shalat pada waktunya masing-masing. Karena itu,
disesuaikan dengan kondisinya.
Beberapa Permasalahan dalam Shalat Qashar dan
Jamak
1-Shalat qashar dan jamak tidak harus selalu dilakukan
bersamaan. Ada tiga macam pelaksanaan shalat qashar dan
jamak, yaitu :
a. Lebih utama jika dilakukan bersamaan (qashar dan jamak).
Hal tersebut jika seseorang berada di tengah perjalanan
atau tidak
menetap melebihi dua waktu shalat dalam safar, baik
dilakukan dengan cara jamak taqdim maupun jamak takhir.
1
Riwayat Nasai dan Abu Daud. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu
Daud, 1/330, dan Shahih Sunan an-Nasai, I/196
39
Panduan Musafir
Misalnya seseorang melakukan safar dari kota A ke kota B,
maka setelah melewati pemukiman, dia singgah di sebuah
mesjid pada waktu zuhur dan setelah itu atau setelah
beristirahat sebentar dia meneruskan perjalanannya kembali.
Caranya adalah: Setelah iqomah, dia melakukan shalat
Zuhur dua rakaat, kemudian setelah salam, dia bangun
kembali dan melakukan iqomah sekali lagi, lalu melakukan
shalat Ashar dua rakaat.
b- Lebih utama jika dia hanya melaksana-kan qashar saja,
tanpa jamak.
Hal tersebut jika seorang musafir tengah singgah di
sebuah tempat dalam waktu yang lama, misalnya sehari
semalam. Maka dia hendaknya melakukan shalat qashar saja
tanpa jamak. Meskipun dia dibolehkan melakukan jamak.
c- Dia hanya boleh melakukan shalat jamak, tanpa qashar.
Hal tersebut jika seseorang memiliki alasan untuk
menjamak shalat selain alasan safar, seperti yang telah
disebutkan di atas. Maka dia boleh menjamak shalatnya,
namun dengan rakaat sempurna, tidak diqashar.
Di antara contohnya adalah, jika seseorang niat jamak dan
qashar diperjalanan, namun pada waktu shalat kedua dia
40
Panduan Musafir
telah tiba di kampung halamannya, maka saat itu dia hanya
boleh menjamak saja tanpa qashar, karena ketika itu dia
sudah tidak lagi dalam keadaan safar.
2- Tidak ada redaksi khusus dalam niat shalat jamak dan
qashar. Hendaklah seseorang tidak memberatkan dirinya
untuk menghafal atau membaca redaksi niat secara khusus,
seperti membaca : usholli fardhul maghribi qashran wa
jaman Lillahi taala.
Hal tersebut selain memang tidak terdapat dalilnya, juga
akan memberatkan orang awam. Cukup baginya niat dalam
hati sebagaimana shalat pada umumnya, bahwa dia hendak
melakukan shalat qashar, atau qashar dan jamak, atau jamak
saja.
Bahkan dalam shalat jamak -menurut pendapat yang lebih
kuat-, tidak disyaratkan niat untuk shalat yang kedua pada
shalat pertama.
3- Urutan shalat harus tetap dijaga sebagaimana adanya.
Shalat yang waktunya lebih dahulu harus dilakukan lebih
dahulu, baik dalam jamak taqdim, maupun jamak takhir.
Zuhur harus didahulukan dari Ashar, begitu pula Maghrib
dengan Isya.
Melakukan Shalat Ketika Singgah di Suatu Tempat
41
Panduan Musafir
Jika seorang musafir singgah di sebuah tempat (mesjid),
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
a- Hendaklah dia berupaya untuk shalat berjamaah selagi
ada orang lain yang dapat shalat bersamanya.
b- jika di dalam mesjid tersebut sedang dilakukan shalat
berjamaah, maka dia tidak boleh membuat jamaah baru,
ketika jamaah yang ada belum selesai. Karena hal itu akan
menimbulkan kekacauan di dalam mesjid.
c- Lebih utama jika dia langsung bergabung dengan
jamaah shalat tersebut, tanpa harus menyesuaikan shalatnya
dengan shalat yang sedang dilakukan oleh jamaah tersebut.
Yang penting dia melakukan shalat sesuai urutannya.
Misalnya, dia datang di sebuah tempat pada malam hari.
Lalu didapatinya ada sekelompok orang yang tengah
melakukan shalat berjamaah, sedangkan dia hendak
melakukan shalat jamak Maghrib dan Isya. Maka hendaklah
dia bergabung bersama jamakah tersebut dan niat shalat
Maghrib untuk dirinya, terlepas shalat apa yang sedang
mereka lakukan. Jika sang imam salam sedang baginya masih
ada sisa rakaat yang belum dilakukan, maka dia bangun
untuk menyempurnakan shalat Maghribnya, kemudian
setelah itu dia bangun kembali untuk melakukan shalat Isya
dua rakaat.
42
Panduan Musafir
Ada satu masalah yang sering terjadi di mesjid pinggir
jalan. Ketika kita telah selesai shalat Maghrib dalam shalat
jamak Maghrib dan Isya, namun tiba-tiba di belakang ada
sejumlah musafir yang memulai jamaah baru untuk shalat
Maghrib pula. Apa yang kita lakukan ?
Hendaklah kita bergabung dengan jamaah shalat tersebut
dan jangan membuat jamakah baru lagi, tentu saja untuk
shalat Isya dengan qashar (dua rakaat), karena kita telah
shalat Maghrib. Mengenai jumlah rakaatnya, jika kita ikut dari
awal, maka ketika sang imam bangun dari tasyahhud awal
pada rakaat kedua, hen-daklah kita tetap duduk sambil
menyempurnakan tasyahhud kita atau membaca doa, sebab
bagi kita yang melakukan shalat Isya dengan qashar, duduk
saat itu diang-gap tasyahhud akhir. Begitu seterusnya
hingga sang imam melakukan tasyahhud akhir pada rakaat
ketiga shalat Maghrib, dan akhirnya ketika imam salam, kita
ikut salam bersama imam.
Atau dia dapat langsung salam setelah membaca
tasyahhud akhir tanpa menunggu salamnya imam.
d- Rombongan musafir yang hendak melakukan shalat
jamaah di suatu tempat (yang belum dikumandangkan azan
di tempat itu), maka mereka harus melakukan azan dan
iqomah sebelum shalat.
43
Panduan Musafir
Rasulullah J bersabda :


Jika telah datang waktu shalat, maka hendaklah salah
seorang di antara kalian melakukan azan
1)
Bahkan jika dia seorang diri sekalipun, tetap disyariatkan
baginya azan.
Sabda Rasulullah J:


Jika engkau sedang menggembala kambingmu atau sedang
berada di tempat terpencil, maka keraskan suaramu ketika
azan, karena siapa saja yang mendengar suara muazin, baik
jin maupun manusia atau apapun, niscaya mereka akan
menjadi saksi di hari kiamat.
2)
e- Jika tidak diketahui arah kiblat, maka hendaklah dia
berupaya lebih dahulu untuk mengetahuinya sebelum shalat,
baik dengan bertanya atau meng-gunakan alat seperti
kompas atau melihat tanda-tanda tertentu. Jika dia telah ber-
1
Riwayat Bukhari.
2
Riwayat Bukhari.
44
Panduan Musafir
sungguh-sungguh untuk mengetahuinya lalu dia simpulkan
arah kiblatnya kemu-dian dia shalat hingga selesai dan
ternyata arah kiblatnya keliru, maka shalatnya sah dan tidak
perlu diulangi, karena dia telah berupaya semampunya.
Firman Allah Taala:
____ _ _-'- " ____ _
*
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupan-nya. (QS. al-Baqarah : 286)
Namun jika tidak ada usaha sama sekali dan hanya
mereka-reka saja, jika kemudian arah kiblatnya salah, maka
dia harus mengulangi shalatnya.
1)
4- Jika dalam safar- kita telah menetap di sebuah tempat
yang kurang dari empat hari dan lebih dari dua waktu shalat,
atau lama menetapnya tidak diketahui dengan pasti, maka di
daerah tersebut hendaklah kita melakukan shalat fardhu di
mesjid dan shalat bersama jamakah dengan sempurna jika
imamnya shalat dengan sempurna. Lebih utama jika dia tidak
menjamak shalatnya, kecuali dalam kondisi yang sangat
sibuk.
1
As-Syarhul Mumti, II/284
45
Panduan Musafir
Perkara shalat sempurna bagi seorang musafir yang
sedang menetap di sebuah daerah hanya terkait jika dia
bermakmum kepada imam yang shalat dengan sempur-na.
Adapun jika dia mengetahui bahwa ternyata imamnya juga
adalah musafir dan melakukan shalat dengan cara qashar,
maka diapun boleh bermakmum kepada-nya dengan qashar.
C- SHALAT JUMAT DALAM SAFAR
Seorang musafir yang sedang di tengah perjalanan,
atau jika dia hanya singgah sebentar untuk suatu keperluan
di tengah perjalanan, maka tidak diwajibkan baginya shalat
Jumat, meskipun dia mendengarkan azan Jumat. Dia hanya
diwajibkan shalat Zuhur saja.
Berdasarkan perbuatan Rasulullah J di mana dalam
berbagai safar yang beliau lakukan, beliau tidak melakukan
shalat Jumat. Bahkan dalam haji Wada, wukuf jatuh pada
hari Jumat, namun beliau hanya shalat Zuhur dua rakaat dan
Ashar masing-masing dua rakaat.
1)
Namun, jika sang musafir telah menetap di suatu tempat
yang di sana dilakukan shalat Jumat, dan dia mendengar
suara azan Jumat maka wajib baginya menghadiri shalat
1
Riwayat Muslim.
46
Panduan Musafir
Jumat. Karena dia termasuk dalam umumnya firman Allah
Taala :
_*__ __ __*
*_- _-_ -_
__"__' ___ _ ' _
_* '__' _ *
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk
menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah
kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli
(QS. al-Jumuah : 9)
Namun jika seseorang atau sejumlah orang menetap di
sebuah tempat yang tidak ada pelaksanaan shalat Jumat di
tempat itu, seperti di tengah padang pasir, atau ketika
berkemah, maka tidak diwajibkan baginya shalat Jumat.
Umumnya para ulama berpendapat bahwa shalat Jumat
tidak boleh dijamak dengan shalat Ashar. Sebab shalat Jumat
adalah shalat tersendiri yang berbeda dalam banyak hal dari
shalat Zuhur. Sedangkan berdasarkan perbuatan Rasulullah J,
beliau hanya menjamak shalat Zuhur dengan Ashar saja.
Namun sebagian ulama membolehkannya, wallahua'lam.
Akan tetapi, jika sang musafir tadi tidak shalat Jumat (jika
dia termasuk orang yang boleh tidak shalat Jumat), tetapi
hanya shalat Zuhur saja, maka tidak mengapa dia
47
Panduan Musafir
menjamaknya dengan shalat Ashar.
1)
Seperti yang dilakukan
Rasulullah J pada haji Wada.
F- SHALAT SUNAH DALAM SAFAR
Disunahakan dalam safar untuk tidak melakukan shalat
sunah rawatib, kecuali shalat sunah Fajar dan Witir.
Hal tersebut bersumber dari praktek Rasulullah J yang
diikuti para shahabatnya di mana beliau tidak melakukan
shalat rawatib dalam safarnya.
Kecuali shalat sunah Fajar, dimana Aisyah
radhiallahuanha berkata:

Beliau tidak pernah meninggalkan keduanya (shalat sunah


Fajar dan Witir) sama sekali
2)
Begitu pula diriwayatkan bahwa Rasulullah J suatu saat
dalam perjalanannya tertidur hingga matahari terbit,
kemudian (setelah terbangun) Bilal mengumandangkan azan,
lalu Rasulullah J shalat sunah Fajar dua rakaat, setelah itu
1
Lihat Majmu Fatawa, Syaikh Ibn Baz, XII/300, 301-301, dan Syarh al-Mumti,
Syaikh Ibn Utsaimin, IV/572
2
Muttafaq alaih.
48
Panduan Musafir
beliau shalat Shubuh dua rakaat, sebagaimana yang beliau
lakukan setiap hari
1)
Adapun shalat witir, juga terdapat riwayat bahwa
Rasulullah J selalu melakukannya dalam safar, bahkan beliau
lakukan di atas hewan tunggangannya.
2)
Adapun shalat sunah lainnya yang bersifat mutlak, juga
tetap disyariatkan untuk dilaksanakan, baik saat menetap
atau ketika dalam perjalanan, seperti shalat Dhuha, shalat
Tahajud. Begitu pula shalat yang memiliki sebab, seperti
shalat sunah wudhu, shalat Tahiyyatul Mesjid, shalat gerhana,
shalat sunah thawaf.
3)
SHALAT DI KENDAARAAN
Pada prinsipnya shalat di kendaraan, baik laut, udara
ataupun darat dibolehkan sepanjang syarat dan rukunnya
terpenuhi. Berdasarkan perbuatan Rasulullah J yang
melakukan shalat di atas kendaraannya se-bagaimana yang
akan disebutkan berikut.
Namun jika memungkinkan baginya untuk shalat sebelum
atau sesudah turun dari kendaraan tersebut tanpa harus
1
Riwayat Muslim.
2
Muttafaq alaih
3
Syarh Nawawi Shahih Muslim, V/205 dan Fathul Bari, II/577.
49
Panduan Musafir
kehilangan waktunya, maka lebih utama baginya untuk
melakukannya di tempat yang normal.
Jika seseorang sebelum naik kendaraannya belum masuk
waktu, sementara turunnya dari kendaraannya tersebut
diperkirakan telah keluar waktunya atau keluar waktu
dibolehkannya menjamak shalatnya, maka dia harus shalat di
kenda-raan yang ditumpanginya tersebut. Dalam kondisi
seperti itu, tidak ada alasan bagi-nya untuk menunda
shalatnya, misalnya hingga tiba di tempat tujuannya.
Misalnya seseorang naik pesawat ke luar negeri.. Jika
keberangkatan pesawatnya sesudah Zuhur, maka lebih
utama jika dia melakukan shalat Zuhur dan Ashar dengan
cara qashar jamak taqdim, sebelum naik pesawat. Atau
misalnya- pesawat berangkat sebelum Zuhur, namun
diperkirakan akan tiba ditujuan pada waktu Ashar sebelum
Maghrib, maka lebih utama dia tunda shalatnya hingga
pesawat mendarat di tempat tujuan, lalu dia shalat Zuhur dan
Ashar dengan cara qashar jamak takhir.
Adapaun jika jadwal keberangkatan pesawat sebelum
Zuhur dan diperkirakan tiba ditujuan setelah Maghrib. Maka
dia harus melaksanakan shalat Zuhur dan Ashar di pesawat
sesuai kemampuannya. Tidak boleh baginya melakukan
shalat Zuhur dan Ashar sebelum naik pesawat, karena belum
50
Panduan Musafir
masuk waktu, atau tidak boleh dilakukan setelah pesawat
mendarat karena telah keluar waktu.
Tidak ada yang dinamakan qadha shalat dalam masalah
ini.
Masalah ini berlaku umum untuk semua jenis kendaraan,
baik laut, udara maupun darat. Kecuali jika menggunakan
kendaraan darat, dia dapat berhenti di tengah perjalanan.
Teknis shalat
Adapun syarat dan rukun shalat sama seperti shalat pada
umumnya, dia harus bersuci, menutup aurat, menghadap
kiblat serta melakukan rukun-rukun yang berlaku dalam
shalat. Tentu sebatas kemampuan yang dia miliki.
Firman Allah Taala:
__` _ -__^_
] [
Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian (QS. at-
Taghabun : 16)
Beberapa Masalah dalam Shalat di Kendaraan
Ada beberapa hal yang menjadi problem dalam masalah
teknis shalat di kendaraan.
51
Panduan Musafir
- Bersuci.
Jika seseorang masih mendapatkan air untuk berwudhu,
maka dia harus berwudhu untuk melakukan shalat, walau
dengan air yang sangat sedikit. Jika tidak mendapatkan air,
maka dia boleh berta-yammum. Namun di kendaraan, untuk
mendapatkan debu bukan perkara yang mudah, khususnya
jika di pesawat atau kereta api, karena lantai dan dindingnya
biasanya bersih dan bebas debu. Jika dia mendapatkan debu,
maka dia harus bertayammum. Jika tidak mendapatkan debu
atau air maka dia termasuk faqidu ath-Thahurain ( )
orang yang tidak memiliki dua alat bersuci. Maka jika
demikian, dia dapat shalat walau dalam keadaan apa adanya.
Dan tidak perlu mengulangi shalatnya.
Firman Allah Taala :
__` _ -__^_

Bertaqwalah semampu kalian (QS at-Taghabun 16)
Juga berdasarkan hadits Rasulallah J :


Jika aku perintahkan kalian tentang suatu perkara, maka
lakukanlah semampu kalian. (Muttafaq alaih)
52
Panduan Musafir
Sangat bagus jika seseorang sebelum naik kendaraan, dia
dalam keadaan suci, sehingga ketika masuk waktu shalat dan
dirinya belum hadats, dia dapat langsung menunaikan shalat.
- Menghadap Kiblat
Menghadap kiblat merupakan problem khusus dalam
masalah
teknis shalat di kendaraan.
Ada perbedaan dalam masalah ini antara shalat wajib dan
shalat sunah.
Shalat Wajib
Prinsip dasarnya adalah bahwa dalam shalat wajib,
menghadap kiblat merupakan rukun yang tidak boleh
ditinggalkan selama dia dapat melakukannya. Apalagi jika di
kendaraan itu ada tempat khusus untuk shalat, atau minimal
ada ruang cukup untuk shalat. Maka dia harus mengusahakan
untuk menghadap ke arah kiblat.
Diriwayatkan oleh Jabir , dia berkata:


53
Panduan Musafir
Adalah Rasulullah J shalat (sunah) di atas kendaraannya
sesuai arah tujuan kendaraan tersebut, jika dia hendak shalat
fardhu, maka dia turun untuk menghadap kiblat.
1)
Jika tidak mampu, maka dia shalat apa adanya.
Berdasarkan firman Allah Taala :
__` _ -__^_
] [
Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian (QS. at-
Taghabun : 16)
____ _ _-'- " ____
_ *
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. (QS. al-Baqarah : 286)
Shalat Sunah
Adapun dalam shalat sunah, ketentuannya lebih luwes, di
mana seseorang boleh tidak menghadap kiblat dalam
shalatnya, karena seperti riwayat di atas bahwa Rasulullah J
shalat sunah di ken-daraannya dengan menghadap arah
kendaraan yang ditunggangi-nya, sebagaimana Ibnu Umar
1
Riwayat Bukhari
54
Panduan Musafir
pernah juga melihat beliau J melakukan shalat witir di atas
kendaraannya.
1)
Akan tetapi yang lebih utama adalah menghadap kiblat
ketika takbirotul Ihrom, kemudian dia shalat sesuai arah
tujuan kendaaran.
Berdasarkan hadits Anas , dia berkata:
Sesungguhnya Rasulullah J jika melakukan safar dan
hendak shalat sunah, beliau menghadapkan ontanya ke
arah kiblat, kemudian beliau takbir, lalu setelah itu beliau
shalat meng-ikuti arah kendaraannya
2)
- Rukun shalat berupa gerakan
Semua rukun shalat yang berupa gerakan, seperti berdiri,
ruku, sujud dan seterusnya, juga harus dilaksanakan jika
mampu. Jika tidak maka dia dibolehkan shalat dalam keadaan
duduk, sementara ruku dan sujudnya dilakukan dengan
isyarat gerakan. Misalnya untuk ruku dia menunduk sedikit,
sedangkan untuk sujud dia menunduk lebih banyak.
Sebagaimana halnya cara shalat yang berlaku bagi orang
sakit. Begitu seterusnya dia lakukan sesuai jumlah rakaatnya
dan bacaannya hingga salam.
1
Muttafaq alaih.
2
Riwayat Abu Daud.
55
Panduan Musafir
MENGUSAF KHUF
Seorang musafir dibolehkan mengusap khuf dalam waktu
yang lebih lama dibanding orang yang menetap. Yaitu dia
dibolehkannya mengusap selama tiga hari tiga malam.
Artinya jika dia telah memenuhi syarat-syarat mengusap
khuf, maka boleh baginya selama itu (tiga hari tiga malam)
tidak melepas khufnya dan setiap kali giliran membasuh kaki
dalam berwudhu dapat dia ganti dengan mengusap khuf.
Dalilnya adanya riwayat dari Sofwan bin Asal, berkata :


Adalah Rasulullah J memerintahkan kami jika kami safar
untuk tidak membuka khuf kami selama tiga hari kecuali
jika dalam keadaan junub.
1)
1
Riwayat Nasai, Tirmizi dan Ibnu Khuzaimah.
56
Panduan Musafir
RUKHSAH DALAM PUASA WAJIB
eseorang boleh meninggalkan puasa Ramadhan ketika
berada dalam safar. S
Firman Allah Taala :
" *_ -__ _*-
_`_ -__ __
-_ _ _
Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau
dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya
berpuasa) sebanyak hari yang dia tinggalkan itu pada hari-
hari yang lain (QS. al-Baqarah : 184)
Namun berdasarkan ayat di atas juga, orang yang
meninggalkan puasanya ketika safar, maka dia wajib
menggantinya di hari-hari yang lain.
Anas bin Malik meriwayatkan :


57
Panduan Musafir
Kami safar bersama Rasulullah J, maka yang berpuasa tidak
mencela mereka yang tidak berpuasa, dan yang tidak
berpuasa tidak mencela mereka yang berpuasa
1)
Mana yang lebih utama dalam safar; berbuka atau
meneruskan puasanya ?
Jika orang yang safar merasakan beratnya puasa, namun
dia masih mampu, maka makruh baginya untuk puasa.
Berdasarkan ucapan Rasulullah J kepada seseorang yang
keletihan dalam safarnya karena berpuasa sehingga para
shahabat mengerumuni dan menaunginya, maka beliau
bersabda :


Tidak baik berpuasa dalam safar
2)
Adapun jika puasanya membuatnya sangat berat, maka
wajib baginya berbuka. Berdasarkan riwayat bahwa adanya
pengaduan para shahabat kepada Rasulullah J bahwa ketika
merasakan beratnya puasa dalam safar, maka mereka
berbuka, kemudian dikhabarkan kepadanya bahwa ada
1
Muttafaq alaih.
2
Muttafaq alaih.
58
Panduan Musafir
sebagian orang yang tetap berpuasa, maka Rasulullah J
bersabda :


Mereka melakukan maksiat, mereka melakukan maksiat
1)
Sedangkan jika dia tidak merasakan berat sedikitpun atau
hanya letih biasa, maka lebih utama baginya adalah
berpuasa, sebagai tindakan untuk meneladani Rasulullah J
yang tetap berpuasa dalam safarnya, sebagaimana
diriwayatkan oleh Abu Darda , beliau berkata:

Kami pernah bersama Rasulullah J melaku-kan safar di


bulan Ramadhan dalam cuaca yang panas terik, tidak ada di
antara kita yang puasa kecuali Rasulullah J dan Abdullah bin
Rawahah
2), 3)
Penetapan Awal dan Akhir Puasa bagi Musafir
1
Riwayat Muslim.
2
Muttafaq alaih.
3
Fatawa Arkanul Islam, Syekh Ibn Utsaimin, hal. 462
59
Panduan Musafir
Seorang musafir yang berada di suatu negeri, maka
penetapan awal dan akhir puasanya ditentukan berdasarkan
kete-tapan yang berlaku di negeri dia berada saat itu.
Rasulullah J bersabda :

Puasa adalah hari di mana kalian berpuasa, dan berbuka


(lebaran) adalah hari di mana kalian berbuka, sedang Idul
Adha adalah hari di mana kalian berkurban
1)
Kasus Pertama, Seseorang misalnya- memulai puasa
pada hari Sabtu di Indonesia sesuai ketetapan yang berlaku
di negaranya, kemudian dia safar ke Saudi Arabia yang
ternyata baru mulai puasa hari Ahad. Jika dia terus berada di
Saudi hingga lebaran, maka ketetapan lebaran yang harus
dia pakai adalah ketetapan yang berlaku di Saudi.
Begitu pula sebaliknya, jika seseorang sejak awal puasa
ikut ketetapan yang berlaku di Saudi Arabia, kemudian di
akhir Ramadhan dia safar ke Indonesia, maka lebaran yang
berlaku baginya adalah yang ditetapkan di Indonesia.
Adapun kemungkinan jumlah hari puasa yang menjadi
lebih banyak, misalnya hingga 30 hari atau 31 hari, hal
1
Riwayat Abu Daud.
60
Panduan Musafir
tersebut tidak mengapa. Akan tetapi jika kondisi tersebut
menyebabkan hari puasa-nya hanya 28 hari, maka dia wajib
meng-qadha satu hari di waktu lainnya. Karena bulan Hijriah
tidak ada yang kurang dari 29 hari, sedangkan puasa
Ramadhan harus dilakukan sebulan penuh.
Kasus kedua, Jika seseorang melakukan safar dengan
pesawat dalam keadaan puasa. Misalnya pesawat mulai take
off jam setengah enam sore dan waktu maghrib tinggal
setengah enam lagi, namun di atas udara tampak sinar
matahari masih terang benderang. Maka waktu berbukanya
harus dia tunggu hingga matahari tersebut terbenam dari
tempat dia berada saat itu, walaupun dia harus menunggu
sekian jam lagi.
Rasulullah J bersabda :


Jika malam datang dari sini dan siang pergi dari sini, dan
matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa boleh
berbuka
1)
DOA DAN ZIKIR
1
Muttafaq alaih
61
Panduan Musafir
Doa dan Dzikir Khusus Dalam Safar
- Doa yang dibaca oleh musafir kepada orang yang
ditinggal

Aku titipkan engkau kepada Allah yang tidak akan menyia-


nyiakan barang yang dititipkan
1)
- Doa yang dibaca orang yang ditinggal kepada
musafir


Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan akhir
perbuatanmu
2)
- Doa ketika memulai perjalanan

___
_ ^_ -~ ___ * ____
__'
1
Ahmad 2/403, Ibnu Majah 2/943. Lihat Shahih Ibnu Majah 2/133
2
Riwayat Ahmad II/7, Tirmizi V/499. Lihat Shahih Tirmizi II/155
62
Panduan Musafir

Allah Maha Besar 3x, Maha suci Tuhan Yang mengusahakan


kami untuk mengendarai ini. Sedang sebelumnya kami tidak
mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada
Tuhan (dihari kia-mat). Ya Allah, sesungguhnya kami mohon
kebaikan dan takwa dalam bepergian ini, kami mohon
perbuatan yang meredhokanmu. Ya Allah, permudahlah
perja-lanan kami ini, dan jadikanlah perjalanan yang jauh
seolah-olah dekat. Ya Allah, Engkaulah teman dalam
bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan
dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan
perubahan harta dan keluarga yang jelek.
Apabila kembali, doa di atas dibaca lagi dan ditambah:


63
Panduan Musafir
Kami kembali dengan bertobat, tetap beribadah dan selalu
memuji kepada Tuhan Kami
1)
- Doa ketika singgah di sebuah tempat


Aku berlindung kepada Allah dengan kalimat-kalimat-Nya
yang sempurna dari keburukan apa yang Dia ciptakan
2)

- Doa ketika singgah di sebuah negeri/kota


Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan apa yang dinaunginya,
Tuhan penguasa tujuh bumi dan apa yang ada diatasnya,
Tuhan yang menguasai syetan-syetan dan apa yang mereka
sesatkan, Tuhan yang menguasai angin dan apa yang
diterbangkannya. Aku mohon kepada-Mu kebaikan desa ini,
keluarga dan apa yang ada didalamnya. Aku berlindung
1
Muslim 2/998
2
Muslim IV/2080
64
Panduan Musafir
kepada-Mu dari kejelekan desa, penduduk dan apa yang ada
di dalamnya
1)
Dzikir Pagi dan Sore (

_ " '_ "


*__ -' _-_' _
____` *_ * -_- _
__'_ -_*_"-- *
_^ _ ^_ __
____ " _'-' _ _-_
* _-__ *
_-__ * __ __
__ _'"_ " " *_ _
* _'__ -_*_"--
*_^* * ____
*____'' _ *__* `_'
_-__' *

1
Riwayat Nasai, al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah dan Hakim. Beliau (Hakim)
menyatakan shahih dan disetujui oleh Az-Zahabi
65
Panduan Musafir

66
Panduan Musafir
(Pada sore hari kalimat diganti , kalimat diganti ,
kalimat diganti , lihat kalimat yang bergaris bawah)


Pada sore hari membaca:


67
Panduan Musafir

)
3 (

.
68
Panduan Musafir

)
3 (

) 3 (

69
Panduan Musafir

) 100 (

) 10 /
100 (

) 3 (


Dibaca hanya pada pagi hari

) 100 (

)
3 (
Dibaca hanya pada sore hari
70
Panduan Musafir

) 10 (
Doa dan Zikir Yang Bersifat Umum

Ya Allah, aku mohon Rahmat-Mu, jangan tinggalkan aku


walau sekejap, perbaikilah semua uru-sanku, tiada tuhan
yang disembah selain Engkau


Yaa Allah, berilah penyelesaian yang baik atas setiap
masalah kami dan jauhkanlah kami dari kehinaan dunia dan
azab akhirat.
71
Panduan Musafir

Yaa Allah, sesungguhnya aku telah sering men-zalimi diriku


dan tidak ada yang meng-ampuni dosa kecuali Engkau. Maka
maafkan daku dengan ampu-nan-Mu dan sayangilah diriku.
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.

Yaa Allah, bebaskanlan diriku dari neraka, luaskanlah bagiku


rizki yang halal dan jauhkanlah aku dari kefasiqan jin dan
manusia.

72
Panduan Musafir

Yaa Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu rahmat dan


ampunan-Mu yang pasti. (Ku mohon) juga kekuatan tuk
mendapatkan petun-juk dan keuntungan mendapatkan
kebaikan, keselamatan dari dosa serta kemenangan dengan
syurga dan kebebasan dari neraka. Wahai Yang Maha Hidup
dan Terjaga. Wahai Pemilik Kagungan dan Kemuliaan.


Wahai Rabb kami, karuniakanlah kami isteri-isteri kami dan
anak keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan
jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang bertakwa

Yaa Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari


kegundahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan,
ketakutan dan sifat kikir, himpitan hutang dan cercaan
musuh.
73
Panduan Musafir



74