Anda di halaman 1dari 3

1 BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Perubahan lingkungan oseanografi secara nyata mempengaruhi kehidupan biota yang berada didalamnya. Diantaranya yang terpengaruh akibat perubahan lingkungan oseanografi adalah kerang hijau. Kerang hijau merupakan biota laut yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Kandungannya yang kaya akan protein tinggi dan rasanya yang enak inilah yang membuat kerang hijau digemari oleh masyarakat luas. Spesies ini juga memiliki peranan secara ekonomis dan ekologis. Secara ekonomis, kerang hijau memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan tak jarang di ekspor di mancanegara. Sedangkan secara ekologis, kerang hijau dijadikan bioindikator polutan yang memberikan efek negatif pada perairan tersebut (Yap, 2003). Maraknya kerang hijau yang banyak dikonsumsi masyarakat luas tidak diimbangi dengan jumlah dari spesies ini yang kini kian menurun. Penurunan populasi spesies ini diduga adanya indikasi pencemaran lingkungan di perairan Indonesia. Hal tersebut didukung dengan cara spesies ini memenuhi kebutuhan nutrisinya, yaitu dengan cara menyaring makanan yang terlarut di dalam air dan bersifat sessile, sehingga hewan ini berperan sebagai vaccum cleaner pada perairan yang tercemar logam berat (Riani, 2009). Secara umum, setiap organisme hidup memiliki daya toleransi terhadap logam berat non-essensial dan mengontrol konsentrasi logam berat essensial di dalam sel. (Saydam et al., 2002; Choudury dan Panda, 2004). Daya toleransi suatu organisme hidup terhadap kontaminasi logam berat sangat bergantung pada gen-gen yang 1

2 mengkode molekul-molekul yang berperan dalam detoksifikasi logam berat intraseluler (Brulle et al., 2007). Kerang hijau pun juga memiliki kemampuan untuk bertahan (homoestatis) dengan cara mendetoksifikasi. Hal tersebut dilakukan dengan cara mengekspresikan protein metalothionein. Metalothionein (MT) teridentifikasi sebagai protein sulfuhidril yang memiliki bobot molekul rendah (Thirumoorthy, 2007). MT memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjaga keseimbangan konsentrasi ion Zn dan Cu di dalam sel dan ditemukan hampir di semua bagian tubuh organisme eukariot maupun prokariot (Smith et al., 2008). Beberapa penginduksi yang dapat mengaktifkan MT diantaranya logam berat, obat antikanker, glokokortikoid, dan sitokin (Kondoh et al., 2004). Ekpresi MT inilah yang kemudian dijadikan bioindikator terakumulasinya logam berat (Rainbow et al, 2000). Selama ini, cukup banyak penelitian yang terfokus pada kerang hijau. Baik studi morfometrik, habitat, pendistribusian, pembudidayaan, serta dalam rangka upaya pencarian strategi konservasi yang tepat. Oleh karena itu, dalam rangka menunjang pelestarian kerang hijau di Indonesia, pada saat ini sangat dibutuhkan usaha identifikasi kerang hijau secara molekuler. Hal tersebut dapat dilakukan yaitu dengan melakukan isolasi sekuen tertentu dari DNA mitokondria (mtDNA) kerang hijau. mtDNA kerang hijau berisikan data genetis ideal yang dapat digunakan dalam penelusuran genetis maternal untuk berbagai tujuan. Diantaranya untuk menguji kekerabatan, melihat tingkat variasi genetik untuk memperkirakan tingkat terjadinya inbreeding, mengetahui jumlah efektif populasi dan lain sebagainya (Moritz, C., et al., 2003).

3 Menyadari kondisi kerang hijau di Indonesia yang sangat memprihatinkan, cukup banyak penelitian yang terfokus pada kerang hijau. Namun, penelitian mengenai kerang hijau yang dilakukan di Indonesia umumnya hanya berkisar mengenai habitat dan studi morfometri. Tak banyak peneliti Indonesia yang akhirnya memilih meneliti kerang hijau hingga tingkat molekuler. Diharapkan teknik molekuler dapat menerangkan beberapa aspek dalam studi mengenai kerang hijau diantaranya untuk melihat kekerabatan, pengklasifikasian, dan bioteknologi.

B. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latarbelakang diatas, perumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah teridentifikasi DNA metalothionein pada Kerang Hijau ( Perna viridis)?

C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui identifikasi DNA

metalothionein pada Kerang Hijau (Perna viridis).

D. MANFAAT PENELITIAN Manfaat dari hasil penelitian ini adalah untuk memberikan informasi genetik mengenai identitas molekuler. Selain itu, untuk acuan penelitian lebih lanjut dalam bidang bioteknologi maupun bidang kedokteran.