Anda di halaman 1dari 18

GEOLOGI INDONESIA

Drs.SIDHARTA ADYATMA M.Si DEASY ARISANTY S.Si

Definisi Geologi

Kata Geologi pertama kali dipergunakan pada Tahun 1473 oleh Richard de Bury untuk Hukum atau Ilmu Kebumian. Asal kata Geologi: - Geos : Bumi - Logos : Ilmu Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi Batasan Pengertian/Definisi Geologi menurut beberapa ahli: Katili (1970) Geologi adalah pengetahuan bumi yang menyelidiki lapisan-lapisan batuan yang ada di dalam kerak bumi. Noer Aziz M., dkk. (2002) Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi dan merupakan kelompok ilmu yang mempelajari bumi secara menyeluruh, asal mula, struktur, komposisi, sejarahnya (termasuk perkembangan kehidupan) dan proses-proses alam yang telah dan sedang berlangsung, yang menjadikan keadaan bumi seperti sekarang ini. Holmes (1965) Geologi merupakan ilmu pengetahuan yang menguraikan tentang evolusi bumi secara menyeluruh beserta penghuninya, sejak awal pembentukannya hingga sekarang, yang dapat dikenali dalam batuan.

Keadaan geologi Indonesia sangat kompleks sehingga sangat menarik untuk dipelajari Adapun faktor-faktor yang menarik untuk melakukan penelitian geologi di Indonesia adalah : Banyak terjadi gempa bumi : sekitar 500 kali/tahun terjadi gempa bumi di Indonesia. Vulkanisme sangat aktif : Banyak sekali terdapat gunungapi, mulai dari gunung api yang aktif sampai gunungapi yang tidak aktif lagi. Adanya penyimpangan gaya berat (anomali gravitasi) yang cukup besar : di daerah Punggungan Talaud (antara Sulawesi dan Maluku Utara) mempunyai gravitasi negatif. Gerak-gerak kerak bumi secara vertikal (pengangkatan dan penurunan) erat kaitannya dengan anomali gravitasi yang dialami suatu daerah. Relief yang sangat kasar : Selisih ketinggian antara bagian yang tertinggi dengan terendah di Indonesia sangat besar, demikian juga relief pulau demi pulau. Endapan yang sangat tebal di Idio-geosinklinal : geosinklinal seperti pantai timur Sumatera dan pantai utara Jawa terisi dengan endapan yang sangat tebal, bahkan ada yang mencapai 10.000 meter.

Garis Besar Sejarah Terbentuknya Rangkaian Pegunungan di Indonesia

Rangkaian pegunungan muda yang kini nampak di dunia seperti sirkum pasifik dan sirkum Mediteran merupakan hasil pengangkatan dari geosinklin utama pada era palaeozoikum muda (devon, karbon, perm), jadi pembentukan pegunungan muda diawali pada pembentukan geosinklin utama pada era Palaeozoikum muda tersebut Pada era Mesozoikum bawah/tua Indonesia masih bersambung dengan Eropa, dengan lautnya yang disebut dengan Laut Tethys. Fosil-fosil yang terbentuk pada masa ini menunjukkan kesamaan, oleh karena itu penelitian geologi di Indonesia dapat menggunakan tarikh Geologi Eropa untuk menentukan umur batuan sampai dengan Pra Tersier.Tetapi batuan pada era ini sudah sulit ditemukan di Indonesia karena proses endogen sangat aktif terjadi di Indonesia dan endapan pada era itu sudah tertimbun oleh endapan yang lebih muda. Pada akhir sekunder/awal tersier terjadilah peristiwa geologi yang hebat yang dikenal dengan Revolusi alam I, dimana dasar laut Tethys mengalami pengangkatan dan membentuk pegunungan Sirkum Mediteran. Hubungan antara Indonesia dan Eropa terputus, organisme di Indonesia dan Eropa berkembang sendiri-sendiri menurut lingkungannya, sehingga menghasilkan fosil yang berbeda pula. Dengan demikian penelitian-penelitian geologi di Indonesia mengalami kesulitan karena tidak bisa menggunakan Tarikh Geologi Eropa.

Tidak bisanya penelitian geologi menggunakan Tarikh Geologi Eropa, maka Verbeeck dan Fennema berusaha menyusun Tarikh Geologi Indonesia berdasarkan litologi pada tahun 1938, meskipun umur batuan harus ditentukan dengan dasar palaentologi bukan atas dasar penelitian litologi. Adapun alasan Verbeeck dan Fennema melakukan penyusunan Tarikh Geologi Indonesia berdasarkan litologi adalah :1) tidak adanya petunjuk yang lain untuk menentukan umur batuan sehingga mereka terpaksa melakukan penelitian atas dasar litologi meskipun mereka tahu bahwa menentukan umur batuan atas dasar palaentologi,2) mereka berpendapat bahwa Pulau Jawa (khususnya) pada periode Neogen dimulai dengan aktivitas vulkanisme yang sangat dahsyat menghasilkan batuan andesit dan basal,3) kalau harus melakukan penelitian atas dasar Paleantologi diperlukan waktu yang sangat lama dan biaya yang sangat besar, 4) disamping penentuan Tarikh Geologi Indonesia berdasarkan litologi, mereka berusaha juga mencari hubungan /petunjuk yang dapat digunakan sebagai pegangan dengan Eropa. Dengan demikian stratigrafi Indonesia untuk periode Tersier dan Kuarter menggunakan Tarikh Geologi buatan Verbeeck dan Fennema walaupun banyak kelemahan dan kekurangan.

Yang terpenting dari Tarikh Geologi Indonesia buatan Verbeeck dan Fennema adalah perlapisan batuan pada periode Miosen yang diberi kode M1, M2, dan M3. Etage M1 (tingkatan breksi), yaitu perlapisan batuan yang terbentuk sesudah terbentuknya gunungapi di Indonesia. Tanah yang berasal dari batuan ini umumnya kaya mineral bahan vulkanik sehingga dianggap baik/potensi kesuburan tinggi. Etage M2 (tingkatan mergel), yaitu perlapisan batuan yang terbentuk setelah lapisan M1. Tanah yang berasal dari batuan ini umumnya berupa tanah margalit, suatu campuran antara lempung dan kapur. Sifatnya kurang baik karena pekat, sulit merembeskan air sehingga tata air tanah kurang baik. Etage M3 (tingkatan kapur), yaitu perlapisan batuan yang terbentuk setelah lapisan M2. Tanah yang berasal dari batuan ini berupa tanah-tanah kapur yang mempunyai sifat mineral-mineral cepat tercuci ke lapisan bawah dan tata air tanah kurang baik. Pengangkatan dari geosinklin utama tersebut digolongkan Geo Undasi oleh Van Bemmelen atau General Undation oleh Stille. Peristiwa undasi/penggelombangan ini merupakan terbentuknya struktur geologi pokok rangkaian pegunungan di Indonesia dan sekitarnya

Pada akhir Tersier/awal Kuarter terjadi peristiwa alam berikutnya yang dikenal dengan Revolusi Alam II, di mana terjadi pelipatan hebat dan pembentukan pegunungan baru . Beberapa bagian dari geosinklin yang tertutup sedimen seperti di pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, pantai Selatan dan barat Kalimantan mengalami pelipatan hebat membentuk pegunungan seperti Pegunungan Suligi-Lipat Kain di Sumatera dan Pegunungan Kendeng di Jawa. Periode Kuarter (Pleistosen) terjadilah 4 kali zaman es/zaman glasial diselingi interglasial yang pengaruhnya terasa di seluruh dunia. Pada zaman glasial tersebut lapisan es di daerah kutub meluas ke arah lintang rendah (di Amerika Utara mencapai lintang 40 0 LU) dan air laut turun sekitar 70 meter. Sebaliknya pada zaman interglasial, daerah es di kutub mundur ke arah kutub dan air laut naik kembali sekitar 70 meter. Perubahan ketinggian permukaan air laut ini berpengaruh pada pulau-pulau di paparan Sunda dan Sahul. Pada zaman glasial di mana permukaan air laut turun, pulau-pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan bersambung tanpa terpisahkan oleh laut, sebaliknya pada zaman interglasial pulaupulau tersebut terpisah oleh laut. Beberapa bukti pulau-pulau di Indonesia Barat tersebut pernah bersambung satu sama lain adalah : 1) Diketemukan oleh ekspedisi laut adanya alur-alur sungai di dasar laut. Sungai-sungai dari pantai utara Jawa dan sungai-sungai dari pantai selatan Kalimantan bergabung kemudian bermuara di Selat Makasar. sungai-sungai dari pantai timur Sumatera dan sungai dari pantai barat Kalimantan bergabung kemudian bermuara di Laut China Selatan. 2) Jenis ikan di sungai-sungai Jawa Utara dan Kalimantan Selatan sejenis sedangkan jenis ekan di Sumatera Timur dan Kalimantan Barat sejenis. 3) Fauna dan Flora di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sejenis 4) Ditemukan timah endapan dasar laut sekitar Pulau Bangka, Belitung dan Singkep, suatu petunjuk bahwa endapan timah tidak berasal dari Pegunungan Bukit Barisan yang terbawa air melainkan daerah tersebut dahulu merupakan dataran kaki gunung.

TEORI UNDASI

Teori Undasi adalah teori yang disusun oleh Van Bemmelen untuk menerangkan proses terbentuknya busur-busur pegunungan yang menjadi kerangka pokok pulau-pulau di Indonesia dan sekitarnya. Undasi adalah penggelombangan yang agak teratur tetapi periodik/terputus-putus, artinya selang beberapa waktu lamanya baru muncul penggelombangan berikutnya. Rangkaian busur pegunungan di Indonesia menurut Van Bemmelen terbentuk seperti terbentuknya gelombang air pada saat batu dilemparkan ke air, menyebar dari suatu pusat undasi, kemudian selang beberapa waktu akan terbentuk busur gelombang yang melingkari pusat undasi dan selanjutnya semakin menyebar ke luar sampai akhirnya tidak nampak lagi penggelombangan di tempat yang jauh dari pusat penggelombangan tadi. Van Bemmelen mengemukakan bahwa di lapisan silikat khususnya di lapisan salsima terjadi peristiwa kimia-fisika yang disebut hypodiferensiasi sebagai akibat tekanan dari atas yang menyebabkan terjadinya grdien temperatur, perbedaan tekanan dan konsentrasi. Akibat perubahan pada lapisan salsima tersebut maka terjadilah reaksi-reaksi kimia di lapisan kental salsima dan akhirnya terjadi pemisahan magma secara kimiawi di lapisan kental salsima disertai gerakan pemindahan magma. Magma asam cenderung bergerak keatas karena ringan sedangkan magma basa cenderung bergerak ke bawah. Gerakan-gerakan itu menyebabkan terjadinya anomali gravitasi, dimana daerah dengan anomali gravitasi positif cenderung bergerak ke bawah, sedangkan daerah dengan anomali gravitasi negatif cenderung terangkat ke atas.

Prinsip umum pembentukan pegunungan di Indonesia menurut teori Undasi:


Siklus pembentukan pegunungan dimulai dari pusat diastropisme di sumbu Geosinklin utama yang terbentuk era Palaeozoikum muda. Dari sumbu geosinklin ini terjadi pelengkungan ke atas membentuk geantiklin yang mungkin bersifat vulkanis. Pengangkatan geantiklin tersebut dikompensasikan oleh adanya pelengkungan ke bawah di kedua sisi geantiklin tadi yang disebut side deep (palung samping). Setelah 20 30 juta tahun kemudian dari palung samping tadi muncul geantiklin baru yang mula-mula bersifat non vulkanis. Palung kompensasi terbentuk lagi di sisi luar yang disebut palung depan (foredeep). Geantiklin I menurun kembali menjadi basin sentral. Geantiklin yang terangkat dari foredeep seperti itu akan menghasilkan serangkaian penggelombangan di mana pengangkatan I bersifat non vulkanis, pengangkatan II bersifat vulkanis dan pengangkatan III aktivitas vulkanisme telah padam (post vulkanism). Sifat ini khususnya berlaku untuk penggelombangan di daerah antara Asia dan Australia yaitu Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Di Filipina, Sumatera dan Jawa dimana berbatasan dengan cekungan dasar laut yang dalam, pengangkatan III masih bersifat vulkanis karena terjadi pengaktifan kembali vulkanisme. Lain lagi di Birma di mana busur dalamnya telah padam karena diapit oleh Semenanjung India dan massif Thailand Kamboja.

a.

b.

c.

d.

e.

f.

g.

Setelah puluhan juta tahun kemudian, dari foredeep muncul lagi geantiklin baru dengan kompensasinya berupa foredeep bar di sisi luar, yang dalam melewati waktu mengalami pula serangkaian pengangkatan dan penurunan dengan ciri umum seperti pengangkatan I non vulkanis, pengangkatan II vulkanis dan pengangkatan III post vulkanis. Demikianlah selanjutnya, pengangkatan geantiklin baru terjadi di foredeep sehingga semakin jauh dari pusat penggelombangan. Gaya endogen di daerah bagian tengah (daerah yang disebut dalam point b dan c) pada masa ini kurang lebih telah padam. Basin sentral yang luas ini berkembang menjadi patahan blok antar pegunungan dengan ciri-ciri benua sudah stabil.

TEKTOGENESIS

1.

2.

3.

Tektonik adalah segala gerak-gerik di dalam kerak bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan/ deformasi bentuk kerak bumi. Haarmann (1930) membedakan tektonik menjadi tektonik primer dan tektonik sekunder. Tektonik primer adalah gerak vertikal dari dalam yang menyebabkan deformasi kerak bumi. Arah gerakan tegak lurus dari permukaan geoid. Undasi termasuk dalam tektonik primer. Berdasarkan besarnya undasi, van Bemmelen membedakan undasi atas : Geo-undasi : meliputi daerah yang lebarnya 1000 km atau lebih, berupa plato benua dengan kompensasi berupa cekungan dasar laut/geosinklinal. Menurut W.Wahl, interval terjadinya geo-undasi rata-rata 165 juta tahun (maksimum 231 juta tahun, minimum 95 juta tahun). Terjadinya penggelombangan ini berkaitan dengan peristiwa kimia-fisika/hypodiferensiasi di lapisan subcrustal/substratum/subsilikat, sampai kedalaman 800 km. Meso-undasi : lebarnya sampai beberapa ratus km dengan interval penggelombangan hanya puluhan juta tahun dan berkaitan dengan proses hypodiferensiasi di lapisan salsima (tektonosfer tengah) dengan kedalaman kurang dari 100 km. Minor-undasi : lebarnya hanya puluhan km dan terbatas pada lapisan epidermis saja.

1.

2.

3.

Tektonik Sekunder : reaksi gravitasional terhadap tektonik primer untuk mencapai keseimbangan. Arah gerakan terutama horizontal permukaan geoid. Menurut dalamnya lapisan kerak bumi yang terpengaruh/mengalami deformasi, maka tektonik sekunder dibedakan atas : Tektonik Sekunder Subcrustal dan Bathydermal contohnya : penurunan Selat Sunda pada periode Pliosen masih berupa ujung selatan dari Bukit Barisan, kemudian mengalami pemerosotan lagi sampai sedalam 6000 meter pada Plio-Pleistosen. Pegunungan Schwaner di Kalimantan juga mengalami pengangkatan tinggi kemudian merosot. Kalau tebal lapisan yang mengalami deformasi lebih dalam lagi maka digolongkan tektonik sekunder subcrustal. Tektonik Sekunder Dermal perubahan kerak bumi yang dihasilkan tektonik sekunder ini tidak begitu dalam, hanya sampai lapisan sial. Contohnya adalah geantiklin Nusatenggara Barat yang merosot ke arah utara/ke dasar laut sebagaimana dapat diamati dengan jelas di Teluk Maumere (Flores) dan Teluk Saleh (Sumbawa). Tektonik Sekunder Epidermal Perubahan-perubahan kerak bumi hanya meliputi lapisan sedimen yang belum kokoh di bagian luar kerak bumi. Termasuk di dalamnya antara lain slumping, squeezing out, volcano-tectonic collapse, free-gliding dan compressive settling.

Slumping Gerakan batuan sedimen yang belum koheren menuruni lereng sebagai akibat gaya beratnya Squeezing out adalah terperasnya keluar materi-materi plastis lewat celah-celah batuan sebagai akibat tekanan lapisan massif di atasnya. Contohnya adalah Bukit Nanggulan di Kulon Progo. Volcano-Tectonic Collapse adalah pemerosotan sebagai akibat gabungan peristiwa vulkanisme dan tektonisme. Banyak gunungapi yang tumbuh dari lapisan sedimen yang lunak, karena tidak kuat menahan tubuh gunung yang berat disertai goncangangoncangan yang dihasilkan aktivitas vulkanisme dan tektonisme menyebabkan terjadinya patahan dan tubuh gunung bergeser/merosot sepanjang patahan tersebut. Contohnya adalah Gunung Merapi (yang terletak pada patahan melintang arah Utara-Selatan dan patahan melintang arah utara-selatan dan patahan arah Timur-Barat) pada letusan tahun 1006 (candi Mendut, Pawon, Borobudur terkubur), merosot ke arah barat sepanjang patahan berbentuk hiperbola.

Free-Glinding adalah peluncuran lapisan sedimen plastis di atas lapisan batuan massif secara bebas mengikuti lereng yang kadang-kadang dibantu oleh kehadiran air sebagai pelicin. Contohnya adalah G. Pawinihan di sebelah utara Banjarnegara meluncur ke arah lembah Serayu dengan kecepatan sekitar 24 40 cm/tahun. Compressive Settling adalah pelipatan lapisan endapan di suatu lembah sebagai akibat tekanan gravitasi dari kedua belah sisinya. Contohnya adalah rangkaian perbukitan di geosinklin Sumatera Timur dan Jawa Utara, misalnya ladang minyak di Sumatera Selatan : Antiklinoria Muara Enim-Baturaja-Tebingtinggi, Antiklinoria Talang Akar-Pendopo, Antiklinoria Palembang.

Gerakan Lempeng Tektonik


Magma didalam bumi selalu bergerak dari arah inti ke arah luar dan berbelok menyusur kerak bumi. Akibat gerakan ini menimbulkan desakan pada kerak bumi yang menghasilkan igir bawah lautan, dan tumbukan lempeng benua dengan lempeng lautan yang menyebabkan terjadinya subdaksi (penunjaman lempeng di bawah lempeng yang lain) dan obdaksi (tabrakan lempeng yang menyebabkan terangkatnya lempeng tersebut) Subdaksi maupun obdaksi sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepulauan Indonesia, serta perkembangannya. Subdaksi menghasilkan jalur vulkanis dan jalur non vulkanis Pada obdaksi lempeng yang bertabrakan terangkat sehingga tidak terbentuk jalur volkanis namun terbentuk jalur non vulkanis.

Secara garis besar gerakan lempeng tektonik berpengaruh terhadap pembentukan permukaan bumi, yang secara lokal maupun regional berpengaruh terhadap struktur geologi dan proses geomorfologi pada daerah tersebut. Struktur geologi dapat dibedakan menjadi struktur sederhana, terganggu, dan struktur vulkan. Sruktur sederhana dengan perlapisan mendatar, sedangkan struktur terganggu terdiri dari kubah, sesar, lipatan, struktur kompleks, sedangkan struktur vulkan pada gunung api dan intrusi.

Geologi Pulau Jawa


Sifat umum relief Pulau Jawa mempunyai sifat fisiografi yang khas. Hal ini disebabkan oleh iklim tropis, daerah geosinklinal muda dan jalur orogenesa dengan banyak vulkanisme yang kuat, karena kekuatan inilah makanya Jawa mempunyai bentuk panjang dan sempit. Ditinjau dari segi iklim, Jawa mempunyai curah hujan yang besar dan temperatur yang tinggi menyebabkan pelapukan yang cepat dan intensif juga denudasi, gejala yang mengikuti ialah erosi vertikal. Akibat banyaknya hujan berarti banyak air yang harus dibuang (mengalir) sehingga terjadi banyak parit alam (gully) yang begitu rapat. Secara fisiografi pulau Jawa dapat dibagi kedalam 3 zona pokok memanjang sepanjang pulau. Ketiga zona ini sangat berbeda baik di Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat.

Zona-zona tersebut adalah : Zona Selatan :kurang lebih berupa plato, berlereng miring kearah selatan menuju laut Hindia dan disebelah utara berbentuk tebing patahan. Kadang-kadang zona ini begitu terkikis-kikis sehingga kehilangan banyak platonya. Di Jawa Tengah sebagian dari zona ini telah diganti (ditempati) oleh dataran aluvial. Zona Tengah : Di Jawa Timur dan sebagian dari Jawa Barat merupakan deperesi. Ditempat-tempat tersebut muncul kelompok gunung berapi yang besar. Di Jawa Tengah sebagian dari zona tengah ditempati oleh serangkaian pegunungan Serayu Selatan, berbatasan disebelah utara dengan depresi yang lebih kecil, lembah Serayu. Di Bagian paling barat daerah Banten ditempati oleh bukit-bukit dan pegunungan. Zona Utara : Terdiri dari rangkaian gunung lipatan berupa bukit-bukit rendah atau pegunungan dan diselingi oleh beberapa gunung-gunung api, dan biasanya berbatasan dengan dataran aluvial.