Anda di halaman 1dari 7

KELAINAN JANTUNG Penyakit jantung mempunyai hubungan penting dengan praktek kedokteran gigi karena banyak alasan, termasuk

resiko bahwa pengobatan oral bisa mengakibatkan endokarditis bakterialis, penjalaran nyeri insufisiensi koroner ke wajah bagian bawah dan mandibulum, dan bahaya anestesi umum dan anestesi lokal dengan adrenalin pada pasien demikian.

Tabel 27.1 Manajemen gigi pada golongan utama penyakit jantung

Defek katup atau yang berhubungan dengannya (kongenital atau akibat demam rematik sebelumnya) atau pasien dengan penggantian prostetika, rentan terhadap endokarditis infektif.

Antibiotik profilaksis untuk melindungi, khususnya sebelum ekstraksi, merupakan keharusan

Penyakit jantung iskemik dengan atau tanpa hipertensi berat.

Pemeriksaan gigi rutin menimbulkan bahaya kecil namun resiko aritmia berbahaya harus diminimalisir. Anestesi lokal pada dosis normal hanya memiliki bahaya teoritis, namun nyeri dan kecemasan harus diminimalisir. Resiko utama berasal dari anestesi umum

Gagal jantung

Resiko utama berasal dari anestesi umum

Tabel 27.2 Beberapa implikasi obat pada gigi yang digunakan pada penyakit jantung

Obat Metildopa, captopril Nifedipine diltiazem Antikoagulan Antihipertensi Digoksin (dan

Implikasi pada manajemen gigi Stomatitis analog), Hiperplasia ginggiva

Resiko perdarahan paska operasi yang berkepanjangan Potensiasi anestesi umum Meningkatkan resiko disritmia dengan halothane

Sesak napas dan nyeri dada merupakan gejala kelainan jantung yang paling lazim; palpitasi, pembengkakan pergelangan kaki, pingsan dan keletihan yang tidak seharusnya adalah keluhan yang kurang lazim dan kurang spesifik. Manajemen gigi pada pasien dengan infark miokard sebelumnya bergantung pada keparahan dan arah infark. Pasien yang mengalami infark miokard akut tanpa komplikasi bisa mentolerir prosedur-prosedur (tipe I sampai IV) durasi singkat setiap saat mengikuti kejadian. Prosedur yang menimbulkan tekanan lebih baik ditunda sampai 6 bulan setelah infark. Konsultasi dengan dokter disarankan. Tampaknya tidak terdapat kontraindikasi pada penggunaan epinefrin dalam konsentrasi 1:100.000 pada anestesi lokal pada pasien-pasien ini. Namun, protokol untuk meminimalkan penggunaan vasokonstriktor harus dilaksanakan. Komunikasi yang baik antara pasien-dokter gigi, mengurangi stres, dan pemantauan adalah penting untuk manajemen tepat pada pasien paska infark. (3) Pasien yang mengalami komplikasi infark miokard atau yang penyembuhannya tidak stabil membutuhkan pendekatan konservatif selama 6 bulan pertama setelah infark. Pasien-pasien ini bisa menjalani pemeriksaan gigi tanpa protokol khusus (prosedur-prosedur tipe I) dan mendesak, prosedurprosedur operatif sederhana (tipe II) setelah konsultasi dengan dokter pasien. Semua pengobatan gigi lainnya harus ditunda sampai pasien stabil selama setidaknya 6 bulan. Pasien pada kelompok dengan kedaruratan gigi ini harus ditangani sekonservatif mungkin. Namun, jika ekstraksi atau pembedahan dibutuhkan, dokter pasien harus berkonsultasi. Protokol meminimalkan stres harus digunakan. Jika memungkinkan, prosedur-prosedur tersebut terbaik dilakukan di sebuah rumah sakit, dengan pengawasan terus menerus.

DIABETES MELITUS Untuk setiap tindakan operatif ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu faktor sebelum dan setelah tindakan operatif. Faktor sebelum operatif antara lain keadaan umum penderita, kadar gula darah dan urin penderita, anastetikum yang akan digunakan serta tindakan asepsis. Tindakan yang perlu

dilakukan setelah tindakan operatif adalah pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya infeksi, juga keadaan umum serta kadar gula darah dan urin. Anastetikum yang digunakan untuk tindakan operatif harus aman, tidak boleh meninggikan kadar gula dalam darah. Pemakaian adrenalin sebagai lokal anastesi masih dapat diterima karena kadarnya tidak terlalu besar walaupun adrenalin dapat meninggikan kadar gula dalam darah. Procain sebagai anastesi lokal sangat dianjurkan. Sebelum tindakan operatif sebaiknya penderita diberi suatu antibiotik untuk mencegah infeksi (antibiotik profilaksis, juga pemberian vitamin C dan B kompleks, dapat membantu memepercepat proses penyembuhan serta mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi setelah perawatan. Kultur bakteri perlu dilakukan untuk kasus-kasus infeksi oral akut. Jika terjadi respon yang kurang baik dari pemberian antibiotik yang pertama, dokter gigi dapat memebrikan lagi antibiotik yang lebih efektif berdasarkan uji kepekaan bakteri pada pasien. Pasien dijadwalkan untuk perawatan di pagi hari dan diinstruksikan untuk mengkonsumsi makan paginya seperti biasa. Apabila perawatan melewati waktu makan maka pasien harus diberi waktu mengkonsumsi makanan/ minuman ringan seperti orange juice. Apabila kesulitan mengunyah setelah perawatan, dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan lunak seperti soup, milkshake dan lain sebagainya untuk menjaga pemasukan kalori. Pada setiap prosedur perawatan gigi diinstruksikan untuk tetap mengkonsumsi obat hipoglikemik sesuai dosis yang diperuntukkan baginya. Pada pasien dengan terapi insulin dapat dilakukan modifikasi dengan makan paginya. Pasien diinstruksikan mengkonsumsi makan paginya disertai insulin separuh dosis pagi dan separuh lagi sesuadah perawatan. Minimalkan stres selama perawatan gigi apabila memungkinkan proses perawatan dibagi menjadi beberapa kunjungan yang tidak terlalu lama.

EPILEPSI Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat (SSP) yang dicirikan oleh terjadinya bangkitan (seizure, fit, attact, spell) yang bersifat spontan (unprovoked) dan berkala. Bangkitan dapat diartikan sebagai modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan sepintas, yang berasal dari sekolompok besar sel-sel otak, bersifat singkron dan berirama. Bangkitan ini biasanya disertai kejang (konvulsi), hiperaktivitas otonomik, gangguan sensorik atau psikik dan selalu disertai gambaran letupan EEG (abnormal dan eksesif).

PERTIMBANGAN PERAWATAN DENTAL PADA PASIEN EPILEPSI Evaluasi lengkap sebelum perawatan dental sangat penting untuk menetapkan stabilitas dan tempat yang sesuai untuk perawatan, antara lain sebagai berikut :

Memeriksa tipe, etiologi, frekuensi, trigger aktifitas seizure yg diketahui, adanya aura sebelum seizure, riwayat injuri yg berhubungan dg aktifitas seizure. Seizure yang parah dan tidak berespons dg obat antikonvulsan, konsultasi kedokternya. Harus mengerti adanya komplikasi obat antikonvulsan yang dapat menjadi masalah pada saat perawatan dental. Obat terakhir yang digunakan pasien, lama terapi, terutama fenitoin. Pasien dengan terapi yang jarang mengalami serangan, mengalami serangan lebih dari 1 serangan per bulan kontrol buruk, perawatan dental kontra indikasi. Gangguan seizure buruk dan tidak terkontrol konsultasi ke dokternya atau neurologist perawatan dental di rumah sakit, perawatan elektif ditunda. Pasien yang tidak terkontrol sering terlihat tanda trauma intra oral. Menghindari trigger yg diketahui pada waktu pemeliharaan dan perawatan gigi. Pasien dengan seizure buruk dan akibat stress membutuhkan sedative sebelum perawatan dental.

PENANGGULANGAN KASUS RONGGA MULUT 1. Kunjungan Pertama (Fase I)

Dokter gigi mengkonsultasikan ke dokter sebelumnya dan memberitahukan bahwa obat tersebut merupakan faktor penyebab hyperplasia gingiva pada pasien. Penskeleran supragingiva karena gingiva yang bengkak. Kontrol plak pasien diajarkan cara pembersihan gigi dengan dental floss, rubber tip dan alat untuk interproksimal. Pasien dikonsultasi ke dokter ahlinya untuk menggantikan obat anti epilepsinya.

2. Kunjungan Kedua (Fase II) -> Evaluasi Fase I : Kondisi gingiva dan plak

Sekiranya kondisinya baik dan sudah terkontrol maka dapat dilakukan penskeleran subgingiva. Kontrol plak.

3. Kunjungan Ketiga (Fase III / Fase Bedah)

Dilakukan sekiranya kontur dan tektur gingiva tidak dapat kembali ke normal di mana bagi hiperplasia gingiva yang belum terlalu parah dilakukan gingivektomi dan bagi hiperplasia gingiva yang sudah parah dilakukan bedah flep modifikasi.

4. Kunjungan Keempat (Fase IV)

Kunjungan berkala, evaluasi plak dan kalkulus dan kondisi gingival.

FAKTOR PEMICU BANGKITAN SAAT PERAWATAN SERTA PENANGGULANGANNYA Beberapa faktor yang dapat menyebabkan bangkitan saat terjadinya perawatan adalah pasien yang kurang tidur atau terlalu lelah, fotosensitif terhadap lampu, stress emosional, obat-obat tertentu, hipoglikemia. Bila terjadi bangkitan saat dilakukannya perawatan, maka dapat dilakukan penanggulagan sebagai berikut :

Kebanyakan seizure berakhir 2-5 menit,diikuti dengan fase postictal, harus dimonitor karena pasien masih bingung Biasanya pasien kembali normal setelah 1 jam Bila terdapat kemungkinan komplikasi seperti aspirasi rujuk ruang emergensi Bila terjadi aktifitas seizure yg persisten (lbh dari 5 menit) perlu bantuan medis segera -> penanganan emergensi ke rumah sakit -> diberikan obat antikonvulsan intravena.

HEPATITIS

Beberapa manifestasi penyakit hati dapat terjadi di rongga mulut, di antaranya adalah (Askandar, 2007): 1. Pada penyakit hati, terutama atresia bilier dan hepatitis neonatal, dapat terjadi diskolorisasi pada gigi sulung. Dimana pada atresia bilier gigi akan berwarna hijau, sedangkan pada hepatitis neonatal berwarna kuning. Keadaan ini disebabkan oleh depositnya bilirubin pad aemail dan dentin yang sedang dalam tahap perkembangan. 2. Menyebabkan oral hygiene buruk, dalam hal ini bau mulut tidak sedap. 3. Hepatitis aktif kronis dapat menyebabkan gangguan endokrin sehingga menimbulkan penyakit multiple endokrinopati keturunan dan kadidosis mukokutaeus. 4. Kegagaln hati dapat menyebabkan timbulkan foetor hepatikum. Dimana, foetor hepatikum sering disebut dalam sejumlah istilah seperti : bau amin, bau kayu lapuk, bau tikus, dan bahkan bau bangkai segar.

5. Sirosis hati dapat menyebabkan hiperpigmentasi pada mulut. 6. Timbul ulkus-ulkus karena berkurangnya zat-zat vitamin dan gizi dalam rongga mulut. 7. Proses makan menjadi tidak benar sehingga peran saliva terganggu. 8. Jaundice/ikterus (pada palatum dan lidah), perdarahan spontan pada gusi, dan lichen planus (pada oral mukosa).
Pencabutan gigi merupakan tindakan dental yang menimbulkan trauma sehingga mengakibatkan pendarahan, aspek keberhasilan dari perawatan tindakan ini dimulai dari penyembuhan luk aynag terjadi, di mana proses penyembuhan luka ini dipengaruhi oleh keadaan darah dan vaskularisasinya. Pada penderita hepatitis sering dijumpai neutrofilia dan trombositopenia, neutrofila adalah berkurangmya jumlah neutrofil di mana neutrofil berfungsi untuk perlawanan sel darah yerhadap infeksi. Untuk itu pemberia antibiotic pasca pencabutan dapat membantu mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri terhadap pasien. Trombositopenia mengakibatkan lamanya respon terhadap penyembuhan luka dan merupakan salah satu penyebab masa pendarahan yang panjang. Karena itu jika hasil pememeriksaan darah terdapat trombosit yang sangat sedikit sebaiknya menunda pencabutan/perawatan yang menimbulkan trauma, namun apabila didapatkan keadaan yanag mendesak maka kemungkinan yang dapat dilakukan sebelum pencabutan adalah transfuse trombosit dan jug apemberian faktor-faktor pembekuan darah. Sealin dari trombositopenia, kenaikan kadar gula darah juga dapat terjadi pada penderita hepatitis yang juga dapat mengakibatkan masa penyembuhan luka yang panjang. (Scully C, 1992) Penderita hepatitis biasanya mudah lelah, sehingga tindakan dental yang melibatkan masa perawatan yang panjang seperti perawatan saluran akar sebaiknya dilakukan apabila kondisi pasien benar-benar kuat dan operator melakukan tindakan perawatan tersebut dengan waktu kunjungan yang singkat dan tepat guna. Namun, apabila pasien sangat lemah, perawatan sebaiknya ditunda sampai keadaanya membaik, hal ini dilakukan karena pasien yang dalam kondisi yang lemah tidak dapt bekerjasama dan mengikuti instruksi selama perawatan dilakukan (Scully, 1992). Hepatitis juga menyebabkan hati sensitif terhadap beberapa jenis obat, terutama jenis sedatif dan analgesik. Kecepatan metabolisme yang menurun, ekstraksi oleh hati yang menurun selama pasasi obat pertama melalui sirkulasi, volume penyebaran yang berubah akibat retensi cairan dan pengikatan protein yang berkurang akibat dari hipoalbumenia adalah beberapa faktor yang menyulitkan dalam pemberian obat. Obat yang aman digunakan pada penderita penyakit hati lainnya adalah obat yang tidak di metabolisme dalam hati, beberapa jenis obat yang aman terhadap penderita hati adalah obatobatan yang aman terhadap penderita hati adalah obat-obatan dari golongan -laktam.

HIV/AIDS

Penderita merasa lelah yang berkepanjangan dan tanpa sebab, kelenjar-kelenjar getah bening dileher, ketiak, pangkal paha membengkak selama berbulan bulan, nafsu makan menurun/hilang,

demam yang terus menerus mencapai 39 derajat Celcius atau berkeringat pada malam hari, diarrhea, berat badan turun tampa sebab, luka-luka hitam pada kulit atau selaput lendir yang tidak bias ssembuh, batuk-batuk yang berkepanjangan dan dalam kerongkongan, mudah memar atau pendarahan tanpa sebab. Manifestasi di mulut seringkali merupakan tanda awal infesi HIV yang biasanya disertai xerostomia, NUG/NUP, oral hygiene buruk.
Penanganan yang boleh dilakukan adalah scalin, root planning dan debridement, pemberian agen antimikroba kemoterapi (povidon iodin 10%, klorheksidin glukonat 0.12%-0.2%, atau antiseptik listerine) secara topikal atau irigasi subgingival serta obat-obatan antimikrobial dan antifungal, contoh: metronidazole, fluconazole.