Anda di halaman 1dari 8

Pemeriksaan penunjang 1.

Foto Toraks Foto sinar-X toraks adalah prosedur standart yang digunakan untuk mencari kelainan dada, termasuk penyakit jantung dan paru. Bagi pasien stroke cara ini juga dapat member petunjuk mengenai penyebab setiap perburukkan keadaan pasien (misalnya pneumonia atau embolisme paru). Prosedur ini cepat dan tidak menyebabkan nyeri tetapi memerlukan kehati hatian khusus untuk melindungi pasien dari pajanan radiasi yang tidak diperlukan. Untuk melindungi organ reproduksi pasien biasanya mengenakkan sebuah lembaran timbel. 2. CT-scan dan MRI Pemeriksaan paling penting untuk mendiagnosis subtype stroke adalah CT-scan dan MRI. Pemeriksaan ini dilakukan pada bagian kepala pasien. Mesin CT-scan dan MRI masing masing merekam citra sinar-X atau resonansi magnet. Setiap citra individual memperlihatkan irisan melintang otak, mengungkapkan daerah abnormal yang ada di dalamnya. Pada CT-scan pasien diberi sinar-X dalam dosis sangat rendah yang digunakan untuk menembus kepala. Pemeriksaan biasanya memerlukan waktu 15-20 menit, tidak nyeri dan menimbulkan resiko radiasi minimal. CT-scan sangat handal dalam menentukan atau mendeteksi pendarahan intrakranium tetapi kurang peka untuk mendeteksi stroke iskemik ringan, terutama pada tahap yang paling awal. MRI menggunakan medan magnet kuat untuk menghasilkan dan mengukur interaksi antara gelombang gelombang magnet dan nucleus di atom yang bersangkutan di dalam jaringan kepala. Pemindaian dengan MRI biasanya berlangsung selama 30 menit. Alat ini tidak dapat digunakan jika terdapat alat pacu jantung atau benda logam lainnya. MRI lebih sensitive dibandingkan dengan CT-scan dalam mendeteksi stroke iskemik ringan bahkan pada stadium dini. 3. Ultrasonografi dan MRA Pemindaian arteri carotis dilakukan dengan ultrasonografi (menggunakan gelombang suara untuk menciptakan citra) atau MRA (Magnetic Resonance Angiography). Pemindaian ini dilakukan untuk mencari penyempitan arteri atau bekuan di arteri utama. Kedua prosedur ini aman tidak menimbulkan nyeri dan relative cepat. MRA khususnya bermanfaat untuk mengidentifikasi aneurisma intrakranium dan malformasi pembuluh darah di otak. 4. Angiography otak Angiography otak adalah penyuntikkan suatu bahan yang tampak dalam citra sinar-X ke dalam arteri otak. Pemotretan dengan sinar-X kemudian dapat memperlihatkan pembuluh pembuluh darah di leher dan kepala. Bahan yang digunakan disebut bahan kontras dan disuntikkan

langsung ke dalam arteri carotis di leher atau melalui sebuah kateter yang sangat panjang yang dimasukkan ke pembuluh itu melalui arteri femoralis di lipat paha. Kedua prosedur ini dilakukan di bawah pembiusan total. Angiography otak menghasilkan gambiar yang paling akurat mengenai arteri dan vena selama semua fase aliran darah otak dan digunakan untuk mencari penyempitan atau perubahan patologis lain, misalnya aneurisma atau malformasi vaskuler. Namun pemeriksaan ini menimbulkan resiko kematian. 5. Pungsi lumbal Pungsi lumbal atau spinal tap kadang dilakukan jika diagnosis stroke belum jelas. Sebagai contoh tindakan ini dapat dilakukan untuk menyingkirkan infeksi susunan saraf pusat. Cara ini biasanya juga dilakukan misalnya jika tidak tersedia CT-scan untuk mendiagnosa pendarahan. Prosedur dilakukan di bawah pembiusan local dan kemudian dilakukan pengambilan sedikit sampel cairan serebrospinal untuk pemeriksaan laboratorium. 6. Ekg Elektrokardiografi digunakan untuk mencari tanda tanda kelainan irama jantung atau penyakit jantung sebagai kemungkinan penyebab stroke pasien. Sensor listrik yang peka yang disebut elektroda diletakkan pada kulit di tempat tempat tertentu. Elektroda tersebut yang akan merekam perubahan siklus arus listrik alami tubuh yang terjadi sewaktu jantung berdenyut. Hasilnya dianalisis oleh computer dan diperlihatkan dalam sebuah grafik yang disebut elektrokardiogram. Prosedur EKG biasanya membutuhkan waktu hanya beberapa menit serta aman dan tidak menyebabkan nyeri. 7. Pemeriksaan darah dan urin Pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mendiagnosis stroke adalah pemeriksaan darah dan urin. Pemeriksaan darah dapat mencakup: uji pembekuan darah, perhitungan darah lengkap untuk mengetahui penyakit penyakiy darah dan peradangan, uji laju endap darah juga digunakan untuk mengetahui terjadinya peradangan, dan pemeriksaan kimia darah untuk mengetahui diabetes, penyakit hati, keseimbangan elektrolit atau penyakit lainnya. Analisis urin mencakup penghitungan sel dan kimia urin untuk mengidentifikasi infeksi dan penyakit ginjal. Semua pasien stroke akut dipantau secara berkala, kadang kadang setiap jam atau bahkan lebih sering. Petugas medis memantau perubahan tekanan darah, denyut nadi, suhu, tingkat kesadaran (biasanya dengan pemeriksaan koma Glasgow yang menentukan tingkat kesadaran). A. Pemeriksaan darah lengkap.

Jumlah sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Hasil pemeriksaan ini akan memberikan informasi kepada pasien misalnya jika sel darah putih di atas normal itu akan mengindikasikan terjadinya penyakit atau infeksi. B. Tes darah koagulasi Tes ini terdiri dari 4 tes yaitu: protrombin time, partial thromboplastin time (PTT), international normalized ratio (INR), agregasi trombosit. Tes ini dugunakan untuk mengetahui seberapa cepat darah menggumpal dan menyebabkan pendarahan atau pembekuan darah. C. Tes kimia darah Tes ini digunakan untuk melihat kadar gula darah, kolesterol, asam urat, dan hal lainnya yang merupakan pencetus stroke. D. Tes lipid darah Tes ini diperlukan untuk mengetahui kadar kolesterol darah baik (HDL) dan kadar kolesterol jahat (LDL), trigliserida dan total kolesterol. Faktor kolesterol ini dianggap factor yang berperan penting dalam kasus stroke dan penyakit jantung. E. Tes darah dalam situasi tertentu Kasus stroke yang tidak diketahui penyebabnya memerlukan tes ini. Tes ini terutama diperlukan pada penderita yang berusia muda atau anak anak. Tes ini meliputi homosistein darah, kultur darah, enzim kardiak dan lupus koagulasi.

Kalsifikasi stroke Klasifikasi stroke berdasarkan penyebabnya: 1. Stroke hemoragik: stroke yang disebabkan karena adanya pembuluh darah dalam otak yang pecah sehingga darah yang keluar dari pembuluh darah tersebut dipaksa masuk ke dalam jaringan otak, kemudia merusak sel sel otak di bagian tertentu sehingga akhirnya bagian otak yang terkena tidak dapat berfungsi dengan baik. Stroke hemoragik terbagi lagi menjadi dua tipe yaitu: - Pendarahan subaraknoid: pendarahan yang terjadi di ruang subaraknoid yaitu ruangan sempit di antara otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak

Pendarahan intraserebral: pendarahan yang terjadi di ruang intraserebral dimana pembuluh arteri otak bagian dalam merupakan tempat tersering dari pendarahan ini. 2. Stroke iskemik:

Anatomi dan fisiologia dasar otak Otak adalah organ vital. Otak bertanggung jawab atas fungsi mental dan intelektual kita seperti berpikir dan mengingat. Otak mengendalikan interaksi kita dengan dunia luar. Sebagai contoh otak menafsirkan apa yang diterima oleh indera kita serta mengontrol gerakan-gerakan sadar kita. Otak juga mengendalikan banyak dari fungsi tubuh kita yang otomatis. Hampir 80% dari semua gen manusia digunakan oleh otak. Otak terdiri dari sel sel otak yang disebut neuron, sel sel penunjang yang dikenal sebagai sel glia, cairan serebrospinal dan pembuluh darah. Arteri adalah pembuluh yang mengangkut darah yang kaya oksigen dan nutrien misalnya glukosa ke otak. Vena adalah pembuluh yang membawa darah yang telah digunakan dan zat sisa menjauhi otak. Semua orang memiliki jumlah neuron yang sama sekitar 100 miliar tetapi jumlah koneksi di antara neuron berbeda beda. Pada seorang dewasa otak membentuk hanya sekitar 2% dari berat tubuh total, tetapi mengkonsumsi sekitar 20% oksigen dan 50% glukosa yang ada di dalam darah arterial. Otak tidak menyimpan oksigen dan nutrien lain dalam jumlah yang significan, sehingga agar berfungsi dengan benar organ ini memerlukan pasokan darah secara konstan 24 jam dari arteri. Agar berfungsi normal otak paling kurang harus menerima darah kurang lebih satu liter darah per menit, yaitu sekitar 15% dari darah total yang dipompa oleh jantung saat istirahat. Tidak ada organ lain di tubuh yang secara konsisten mendapat pasokan darah sedemikian intensif. Otak mendapat darah arterial dari sepasang sistem sirkulasi utama. Yang pertama terdiri dari dua arteri yaitu arteri carotis kanan dan kiri yang menyalurkan darah ke bagian depan otak. Ini dikenal sebagai sirkulasi arteri serebrum anterior. Sistem ini terdiri

dari beberapa pembuluh darah yaitu: arteri carotis interna arteri opthalmika-arteri cerebri anterior-arteri cerebri media arteri comunicans posterior. Yang kedua adalah sistem vertebrobasiler yang memasok darah ke bagian belakang otak. Sistem ini disebut juga sistem arteri serebrum posterior. Sistem ini terdiri dari beberapa pembuluh darah yaitu: arteri basilaris arteri vertebralis- arteri cerebri posterior- arteri pontin. Kedua sistem ini dihubungkan oleh pembuluh pembuluh darah lainnya. Neuron merupakan sel tubuh yang paling sensitif terhadap kekurangan oksigen dalam darah. Interupsi aliran darah arteri ke otak hanya selama 7-10 detik sudah dapat menimbulkan kerusakkan yang tidak dapat diperbaiki (kematian neuron) di bagian otak yang bersangkutan. Namun terdapat beberapa mekanisme yang dapat sampai tahap tertentu mencegah kerusakkan otak dan mempermudah pemulihan. Tidak seperti organ lain otak memiliki sistem autoregulasi sendiri yang menjamin konsistensi sirkulasi darah di dalam batas batas fisiologis tertentu. Jika terjadi kondisi yang melebihi batas batas ini, maka sistem autoregulasi gagal dan terjadilah stroke. Dasar dasar fungsi otak Berbagai bagian otak mengontrol fungsi fisik, emosi dan perilaku yang berlainan. Dua hemisfer otak kita tidak benar benar simetris naik secara anatomi maupun fungsional. Namun keduanya dihubungkan secara anatomis dan saling berkaitan secara fungsional. Pada orang kinan (right banded) dan sekitar separuh orang kidal (left banded) sisi kiri otak mengendalikan kemampuan memahami dan menghasilkan bahasa serta lebih berkaitan dengan berpikir matematis atau logis, sedangkan sisi kanan otak mengendalikan orientasi ruang maupun lebih berkaitan dengan pemikiran abstrak dan imajiner serta kemampuan seni. Hal yang sebaliknya berlaku pada sisa populasi yang lain. Bagian anterior atau depan otak yang menerima darah dari sirkulasi arteri serebrum anterior mengendalikan sisi tubuh yang berlawanan dari lokasi bagian tersebut berada. Sebagai contoh, jika terjadi kerusakkan otak di bagian sirkulasi anterior kanan yang terpengaruh adalah gerakkan dan sensasi di kiri tubuh, demikian sebaliknya. Jika kerusakkan otak terjadi di bagian posterior yang menerima darah dari sirkulasi serebrum posterior kedua sisi tubuh dapat terkena. Misalnya dapat terjadi kelumpuhan di salah satu sisi dan rasa baal di sisi yang lain. Juga dapat timbul masalah menelan, bernafas, berbahasa, keseimbangan, koordinasi, gerakkan kepala dan bagian tubuh atas yang abnormal. Plastisitas otak Otak adalah suatu organ yang sangat mudah beradaptasi. Penelitian penelitian terakhir memperlihatkan bahwa pertumbuhan otak dan perubahan sel syaraf tidak terbatas pada masa anak anak seperti yang semula disangka. Meskipun neuron yang mati tidak mengalami regenerasi, kemampuan adaptif atau plastisitas otak manusia sangatlah luar biasa terutama

pada kaum muda. Terdapat bukti bahwa dalam situasi tertentu bagian bagian otak dapat mengambil alih fungsi dari bagian bagian yang rusak. Dengan kata lain bagian otak sepertinya belajar kemampuan baru. Hal ini mungkin mekanisme paling penting yang berperan dalam pemulihan stroke.

Penatalaksanaan non medika mentosa 1. Posisi di tempat tidur dan terapi fisik Tempat tidur yang ideal bagi pasien stroke adalah tempat tidur yang padat dengan bagian kepala cukup keras untuk menopang berat ketika disandarkan. Pasien yang mengalami imobilisasi perlu diposisikan dengan benar di tempat tidur karena hal ini dapat membantu mencegah komplikasi seperti, pembentukkan bekuan darah, pneumoni, kontraktur sendi dan nyeri bahu. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam merawat penderita stroke: Pastikan pasien memiliki kasur yang sesuai Balikkan pasien dari satu sisi ke sisi yang lain setiap 2-3 jam sepanjang siang dan malam Ubahlah posisi lengan dan tungkai setiap 1-2 jam sepanjang siang dan malam Pijatlah tungkau yang lumpuh sekali atau dua kali sehari Gerakkan semua sendi di tungkai yang lumpuh secara lembut dan perlahan lahan 5-7 kali. Tahanlah sendi di setiap posisi selama 30 detik. Gerakkan sebaiknya tidak menimbulkan nyeri. Topanglah lengan pasien dengan sebuah bantal, jangan membaringkan pasien terlentang atau menarik lengan yang lumpuh.

2. Membalik pasien Pasien yang mengalami imobilisasi perlu dibalik dan diposisikan secara regular bahkan pada malam hari. Terdapat beberapa seprai nilon yang mempermudah kita menggerakkan dan menggulingkan pasien. Untuk membalik pasien di tempat tidur orang yang merawat harus menyelipkan lengan mereka di bawah tubuh pasien dan menarik pasien kea rah mereka. Punggung pasien juga harus selalu diperiksa untuk melihat tanda tanda dekubitus. Untuk mencegah terjadinya dekubitus bersihkan kulit dengan air hangat, spons dan sedikit antiseptic atau sabun paling tidak sehari sekali. 3. Bridging Latihan ini dapat membantu pasien bergerak di tempat tidur. Pasien menekuk tungkai mereka yang kuat, dan orang yang merawat membantu dengan menekuk tungkai yang lemah dan

menahannya dalam posisi jika dibutuhkan. Pasien kemudia mendorong kaku mereka ke tempat tidur, dan mengangkat panggul sehingga panggul dapat dipindahkan ke salah satu sisi dan menurunkan panggul ke posisi yang baru. 4. Duduk di tempat tidur Berilah pasien semangat untuk duduk dan bersandar ke bagian kepala tempat tidur sesegera mungkin. Sebagian pasien yang dapat bertahan hidup dapat melakukannya sendiri dalam kurun waktu satu minggu. Pasien sebaiknya menghabiskan lebih banyak waktu duduk daripada tidur terlentang. Duduk lebih kecil kemungkinan menyebabkan tersedak dan mempermudah pasien bernafas dan menelan. Jika mobilitas pasien sangat terhambat alat pengangkat dapat membantu mereka bergerak di tempat tidur dengan aman.

Pencegahan Hipertensi (tekanan darah tinggi) dan arterosklerosis ( penyumbatan pembuluh darah karena tertimbunnya zat zat lemak, termasuk kolesterol di dinding pembuluh darah) merupakan dua factor utama yang dapat menyebabkan stroke. Oleh sebab itu semua factor yang dapat memperbesar resiko kita menderita hipertensi atau arterosklerosis harus dihindari untuk mencegah atau menghindari terjadinya stroke. 1. Hindari makanan berlemak Pengurangan makanan berlemak dengan memperhatikan kadar lemak yang terkandung dalam makanan secara bijak dapat membantu menghindari resiko stroke. Namun bagaimanapun juga lemak merupakan salah satu bahan gizi yang penting dalam makanan dan membantu menjaga normalnya fungsi fungsi tubuh. Oleh sebab itu perlu diperhatikan keseimbangan yang baik antara lemak dan kondisi tubuh. Pembagian jenis lemak yang ada antara lain: A. Lemak jenuh Jenis lemak ini biasanya berbentuk padat dalam suhu ruangan dan dapat menaikkan level kolesterol darah. Sumber sumbernya termasuk daging dagingan terutama organ dan daging hasil pemrosesan (daging asap potong). Produk susu berlemak utuh seperti susu segar, yogurt, keju padat, mentega. Minyak kelapa seperti minyak palem dan minyak biji palem. B. Lemak tak jenuh tunggal Lemak jenuh ini biasanya berbentuk cair dalam suhu ruangan. Konsumsi lemak jenis ini akan menurunkan level kolesterol darah namun tidak berpengaruh terhadap kadar LDL dan HDL. Sumber sumber lemak jenis ini adalah kacang kacangan, termasuk kacang tanah, kacang mente, almond, kemiri. Sayur sayuran, alpukat, minyak zaitun, dan minyak canola juga termasuk lemak ini. C. Lemak tak jenuh banyak

Lemak ini berbentuk cair dalam suasana ruangan. Sumber sumber lemak jenis ini adalah kacang kedelai, biji labu, kenari, biji bunga matahari, minyak jagung, minyak wijen. D. Kolesterol Kolesterol dalam makanan yang hanya berasal dari sumber olahan binatang dan akan menaikkan kolesterol darah. 2. Olahraga secara teratur Berat badan yang berlebih akan memicu terjadinya suatu penyakit. Oleh sebab itu olahraga secara teratur adalah solusinya. Dalam olahraga setiap gerakkan yang kita lakukan harus memiliki arti bukan hanya sekedar merasakan kelelahan. Ketekunan adalah kunci untuk bisa melihat keberhasilan olahraga yang dilakukan. 3. Hindari rokok dan alcohol Alcohol tidak hanya meningkatkan resiko penyakit kanker dan paru paru tetapi juga menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Alcohol akan menghambat proses oksidasi lemak dalam tubuh karena begitu alcohol masuk ke dalam tubuh akan dipecah menjadi asam asetat. Hal ini menyebabkan proses pembakaran kalori terhambat dan akhirnya berat badan susah berkurang. Begitu juga dengan rokok, sama bahayanya dengan alcohol karena bahan bahan yang terkandung di dalam rokok dapat mempengaruhi saraf otak ( contohnya: nikotin). Beberapa upaya untuk berhenti merokok antara lain Berhenti secara mendadak Cara menunda secara perlahan Cara mengurangi sedikit semi sedikit

4. Kendalikan stress Kondisi mental yang tidak stabil memberikan dampak beraneka macam. Salah satu dampak yang cukup mengerikan adalah stroke. Beban kerja yang tinggi, masalah keuangan, tekanan hidup yang berat atau keinginan yang tidak tercapai tanpa disadari bias menyebabkan efek jangka panjang pada fisik dan mental. Pengelolaan stress dengan baik tidak hanya memperkecil resiko stroke tapi juga membuat seseorang memiliki gaya hidup yang lebih sehat. 5. Jaga berat badan agar berkisar di sekitar berat badan ideal Untuk menjaga berat badan agar tetap ideal dan tidak mengalami obesitas atau kegemukkan kita perlu memperharikan makanan yang kita makan sehari hari, olahraga yang rutin dan istirahat yang cukup. Selama kita tidur terjadi proses pemulihan yang bermanfaat dalam mengembalikan kondisi seseorang seperti perbaikkan sel sel yang rusak, urat saraf mengendur, member istirahat yang cukup bagi sebagian oragan tubuh.