Anda di halaman 1dari 3

Audiometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur seberapa baik seseorang mendengar. Telinga merupakan organ kompleks.

Sebuah Audiometer terdiri dari empat bagian. Bagian ini osilator (digunakan untuk mengubah frekuensi suara mendengar), penguat audio, attenuator (digunakan untuk mengontrol kenyaringan volume), dan sepasang headphone. Orang yang sedang diuji memakai headphone. Amplitudo nada perlahan-lahan meningkat sampai orang mendengar suara. Tingkat desibel terendah di mana suara yang terdengar disebut ambang batas. Osilator ini digunakan untuk mengubah pitch sehingga berbagai suara dapat diuji. Ketika manufaktur audiometers dan melakukan pengujian Audiometer, perawatan diambil untuk menghilangkan kebisingan latar belakang. Hasil tes pendengaran menggunakan audiometer adalah disebut audiogram. Audiogram adalah grafik yang menunjukkan tingkat desibel terendah di mana masing-masing frekuensi yang didengar. Grafik memberikan profil dari ambang pendengaran seseorang. Membandingkan profil untuk mewakili garis pendengaran normal dalam rangka mendeteksi gangguan pendengaran. Menggunakan Audiometer, frekuensi yang bervariasi dari 64 hertz sampai lebih dari 8.000 hertz. Amplitudo dapat bervariasi dalam lima bertahap desibel. Selain nada murni, suara pembicaraan kadang-kadang digunakan sebagai sinyal uji. Mendengar dianggap baik jika setiap nada terdengar antara 64 dan 8.192 hertz terdengar pada volume 20 desibel. Gangguan pendengaran umumnya terbesar di frekuensi tinggi. Hal ini tampaknya terjadi pada banyak orang selama lima puluh.

1.1. Pengertian Indra Penglihatan(Mata) Mata adalah organ indra yang memiliki reseptor peka cahaya yang disebut fotoreseptor. Setiap mata mempunyai lapisan reseptor, sisten lensa, dan sistem saraf, indra penglihatan yang terletak pada mata(organ visus) yang terdiri dari organ okuli assoria(alat bantu mata) dan okulus(bola mata). Saraf

indra penglihatan, saraf optikus(urat saraf kranial kedua), muncul dari sel-sel ganglion dalam rebina, bergabung untuk membentuk saraf optikus. 1.2. Organ-organ Mata Organ-organ pada indra penglihatan, meliputi : a). Konjungtiva b). Sklera c). Otot-otot d). Kornea e). Koroid f). Badan siliaris g). Iris(pupil) h). Lensa i). Retina j). Fovea(bintik kuning) k). Bintik nouta l). Vitreous humor(humor bening) m). Aqueous humor(humor berair) n). Alis mata(supersilium) o). Bulu mata p). Kelopak mata(palpebra) 1.3. Mekanisme Pemfokus Sebagian besar kekuatan berfokus mata adalah karena refraksi cahaya oleh kornea. Refraksi cahaya oleh lensa mata sangat penting; kurvatura lensa dapat berubah sehingga cahaya selalu terfokus pada retina. Lensa adalah transparan dan berwarna kuning pucat. Lensa ini dipertahankan datar oleh tegangan normal dari bola mata, dan di pertahankan oleh ligamentum suspensori. Bentuk lensa diubah-ubah oleh otot siliaris, yang berada di dalam korpus siliaris. Bila lensa dikontraksi, otot siliaris menarik korpus siliaris ke depan, mengendurkan tegangan pada lensa dan memungkinkannya menonjol. Cahaya dari objek dekat kemudian dapat difokuskan pada retina. Otot siliaris rileks bila mata harus memfokuskan cahaya dari objek jauh pada retina. Otot siliaris

dipersarafi oleh serat-serat saraf parasimpatis dari saraf okulamotor. Iris adalah tameng otot polos yang berlubang pada pupil. Ukuran pupil berubahubah sesuai dengan perubahan kondisi cahaya, berdilatasi pada gelap dan berkontraksi pada cahaya terang sehingga mencegah stimulasi berlebihan terhadap retina. Ukuran pupil diatur oleh kontraksi serat-serat otot dilator radialis dan konstriktor sirkularis di iris. Serat-serat ini dipersarafi oleh saraf parasimpatis dari saraf kranial ketiga. 1.4. Akomodasi Mata Akomodasi mata berarti memfokuskan bayangan, sedangkan kemampuan pemfokusan objek pada jarak yang berbeda disebut daya akomodasi. Akomodasi bertujuan agar bayangan yang terjadi jatuh tepat pada bintik kuning. Apabila melihat objek yang letaknya jauh, lensa mata menjadi lebih pipih, tetapi jika melihat objek yan gdekat, lensa mata menjadi lebih cembung. Pengaturan kecembungan lensa ini diatur oleh otot-otot, lensa yang melingkat (otot siliaris). Saat melihat objek yang jauh otot lensa berelaksasi, sedangkan saat melihat objek yang dekat otot lensa berkontraksi.