Anda di halaman 1dari 7

Kesimpulan Penelitian

Yang melatarbelakangi penelitian ini adalah 98% dari populasi sapi perah nasional menghadapi masalah brucellosis dengan angka prevalensi yang masih cukup tinggi. Brucellosis menjadi salah satu prioritas nasional untuk dilakukan pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2003 melalui uji serum darah (serologis) pada sapi perah yang dilaporkan keguguran (abortus) dan non abortus menunjukkan angka prevalensi atau kejadian Neosporosis berkisar 5,5% hingga 53,8% (0= 21,5%), (n=311). Oleh karena kerugian ekonomi cukup tinggi. Peran dan fungsi dari Pos Pemeriksaan Hewan (Ceck Point) sangat menentukan dalam pengendalian penyebaran penyakit seperti Brucellosis. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis jadikan bahan dalam penelitian skripsi yang berjudul Hubungan Pemeriksaan Brucellosis dengan Kesehatan Reproduksi Sapi Perah (Studi Kasus di Pos Pemeriksaan Hewan Losari Tahun 2013). Dari latar belakang tersebut diidentifikasi antara lain : 1. Bagaimana deskripsi pemeriksaan brucellosis pada ternak sapi perah di Pos Pemeriksaan Hewan Losari? 2. Bagaimana kesehatan reproduksi pada Ternak Sapi Perah di Pos Pemeriksaan Hewan Losari? maka beberapa masalah dapat

2 3. Bagaimana hubungan pemeriksaan brucellosis dengan kesehatan reproduksi pada Ternak Sapi Perah di Pos Pemeriksaan Hewan Losari Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemeriksaan brucellosis pada ternak sapi perah dengan kesehatan reproduksi sapi perah. Melalui penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut dan memperkaya teori-teori yang sudah ada sebelumnya; dan dapat memberikan wawasan tambahan, bagi tempat dapat dijadikan bahan referensi, bagi pembaca dapat dijadikan sebagai bahan bacaan yang memberikan tambahan ilmu pengetahuan. Pos Pemeriksaan Hewan Dinas Peternakan, bagian pelayanan kesehatan hewan merupakan salah satu institusi Pemerintah Daerah yang memberikan pelayanan umum kepada peternak yang memiliki orientasi tidak hanya semata-mata mengambil keuntungan atau profit tapi untuk unsur sosial yang dituntut dapat meningkatkan pelayanan. Brucellosis adalah salah satu penyakit hewan menular strategis di Indonesia. Kejadian keguguran (abortus) pada di Indonesia dalam kurun waktu + 30 tahun lamanya, selalu mengarah kepada Brucellosis, suatu

gangguan reproduksi pada sapi perah yang ditandai oleh keguguran (abortus) dan bersifat menular dengan kuman Brucella abortus bang sebagai penyebabnya. Selanjutnya disamping kuman (bakteri) maka parasit internal tidak saja berpengaruh terhadap pertumbuhan penampilan ternak sapi perah, tetapi

3 juga menyebabkan masalah pada alat reproduksi terutama pada sapi perah betina dan keguguran (abortus) pada hewan penderita. Kebijakan pengendalian brucellosis sekarang ini diprioritaskan di

Pulau Jawa. Sebagai dasar kebijakan pelaksanaan operasional pemberantasan brucellosis mengacu pada SK Menteri Pertanian No 828 tahun 1998 tentang pengamatan, pengawasan lalu-lintas, vaksinasi dan test and slaughter (perah bersyarat). Penelitian ini dilakukan di Pos Pemeriksaan Hewan Losari Kabupaten Cirebon. Peneltiian dimulai pada tanggal 15 Juni sampai dengan `15 Agustus 2013. Objek dalam penelitian ini adalah Pemeriksaan Brucellosis pada laboratorium di Pos Pemeriksaan Hewan Losari, dengan Definisi

Operasional sebagai berilkut: a. Definisi Brucellosis adalah penyakit ternak menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder berbagai jenis ternak lainnya serta manusia. Pada sapi penyakit ini dikenal sebagai penyakit Kluron atau pemyakit Bang. Sedangkan pada manusia menyebabkan demam yang bersifat undulans dan disevut Demam Malta. Bruce (1887) telah berhasil mengisolasi jasad renik penyebab dan ditemukan Micrococcus melitensis yang selanjutnya disebut pula Brucella melitensis. b. Sapi perah termasuk ternak komersial (Suharno dan Nazaruddin, 1994). Susu merupakan produk yang diharapkan dari ternak ini. Sapi perah dapat berproduksi rata-rata 15 liter per hari. Jenin sapi lokal yang dipelihara

4 terutama untuk diambil susunya boleh dibilang tidak ada. Sapi perah yang ada di Indonesia masih berupa sapi pendatang. Jenis sapi dimaksud antara lain Friesian-Holstein (FH), hissar, ayrshire dan jersey. Selain itu, dalam Syarief dan Sumoprastowo (1985) disebutkan pula jenis sapi perah lain yaitu guernsey, brown swiss dan milking shorthorn c. Pos Pemeriksaan Hewan (Ceck Point) adalah suatu instalasi yang melaksanakan fungsi lembaga sebagai unit pelakasana teknis dinas yang mampu mendeteksi penyakit zoonosis secara dini dan peneguhan diagnosa laboratoris penyakit hewan secara cepat dan akurat untuk mengantisipasi out break penyakit hewan menular. Kegiatan ini berkaitan erat dan mendukung kegiatan pencegahan, pengendalian dan pemberantarasan penyakit hewan menular pada Sub. Dinas Kesehatan Hewan. Pemelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey yaitu pada pemeriksaan sapi perah di Pos Pemeriksaan Hewan Losari dengan teknik wawancara dan menggunakan kuesioner sebagai alat mengumpulan data pokok. Pos Pemeriksaan Hewan Losari dipilih sebagai daerah penelitian, karena merupakan pintu gerbang masuknya hewan komoditi ke wilayah Jawa Barat. Kesehatan hewan ternak yang masuk ke satu wilayah tentunya akan berperngaruh pada kondisi kesehatan wilayah tersebut. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini terdiri dari : 1. Pengumpulan Data

5 1) Mengumpulkan sejumlah data sekunder dari hasil lab dan dokumen-dokumen atau arsip yang relevan dengan objek dan masalah penelitian. 2) Tenaga Pengumpul Data Tenaga pengumpul data sebanyak 1 (satu) orang yaitu peneliti. 3) Pengolahan dan Analisis data Pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut : (1) Penyuntingan (Editing) (2) Pemberian Kode (Coding) (3) Pemeriksaan Data (Sorting) (4) Pemasukan Data (Entry) (5) Pembersihan Data (Cleaning) Populasi penelitian ini adalah semua hasil uji lab Brucellosis pada ternak sapi di Pos Pemeriksaan Hewan (Check Point) Losari tahun 2013. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh hasil uji lab Brucellosis pada ternak sapi di Pos Pemeriksaan Hewan (Check Point) Losari tahun 2013. Variabel bebas yaitu pemeriksaan brucellosis yang meliputi: 1. Perencanaan Pemeriksaan 2. Pelaksanaan Pemeriksaan 3. Analisis Hasil Pemeriksaan

6 Hasil pemeriksaan brucellosis (X1) diperoleh dengan menentukan nilai total dari keseluruhan ceck list. Kriteria penilaian dibagi menjadi tiga katagori masing-masing mewakili nilai kualitatif baik, cukup, dan kurang. Penentuan panjang interval kelas dilakukan sebagai berikut: Jumlah Jangkauan Banyaknya Interval Kelas

Panjang Interval =

Jumlah Jangkauan = nilai teratas nilai terendah Banyaknya interval adalah tiga katagori kelas. Untuk

menambahkan ketelitian data hingga satuan, maka batas bawah kelas dikurangi 0,5 dan batas interval atas ditambah 0,5 (Sudjana, 1989) Variabel bebas yaitu pemeriksaan brucellosis yang meliputi: 1. Kondisi Kulit pada Sapi 2. Kondisi Bulu pada Sapi 3. Pemeriksaan Cacing pada Sapi 4. Pemeriksaan Kebersihan Sapi Hasil pemeriksaan kesehatan reproduksi (Y1) diperoleh dengan menentukan nilai total dari keseluruhan ceck list. Kriteria penilaian dibagi menjadi tiga katagori masing-masing mewakili nilai kualitatif baik, cukup, dan kurang. Penentuan panjang interval kelas dilakukan sebagai berikut: Jumlah Jangkauan Banyaknya Interval Kelas

Panjang Interval =

7 Jumlah Jangkauan = nilai teratas nilai terendah Banyaknya interval adalah tiga katangori kelas. Untuk

menambahkan ketelitian data hingga satuan, maka batas bawah kelas dikurangi 0,5 dan batas interval atas ditambah 0,5 (Sudjana, 1989) Hubungan antar variable pemeriksaan brucellosis dengan variable kesehatan reproduksi dapat diilustrasikan sebagai berikut :

Variabel bebas Pemeriksan Brucellosis

Variabel terikat Kesehatan Reproduksi

Data

yang

telah

terkumpul

dianalisis

dengan menggunakan

program SPSS 17. Analisis data meliputi : Analisis univariat dan analisis bivariat. Dasar pengambilan

keputusan penerimaan hipotesis berdasarkan tingkat signifikan (nilai ) sebesar 95% : a. jika nilai p > (0,05) maka hipotesis penelitian (Ha) ditolak. b. jika nilai p (0,05) maka hipotesis penelitian (Ha) diterima.