Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN Penerapan Otonomi daerah di Indonesia, yang hingga saat ini merupakan wujud dari diberlakukannya desentralisasi.

Otonomi daerah ini selaras dengan diberlakukannya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Otonomi daerah bertujuan untuk mewujudkan kemandirian daerah sehingga daerah bebas untuk mengatur dirinya tanpa ada campur tangan pemerintah pusat. Sumber dana utama pemerintah daerah berasal dari PAD yang dipakai untuk membiayai belanja modal dan pembangunan. Pemerintah daerah juga mendapatkan bantuan transfer dana dari pemerintah pusat berupa Dana Perimbangan. Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004, dana perimbangan terdiri dari Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Permasalahan yang terjadi saat ini, pemerintah daerah terlalu menggantungkan alokasi DAU untuk membiayai belanja modal dan pembangunan tanpa mengoptimalkan potensi yang dimiliki daerah. Disaat alokasi DAU yang diperoleh besar, maka pemerintah daerah akan berusaha agar pada periode berikutnya dana Alokasi Umum diperoleh tetap porsi nominalnya. Menurut Ndadari dan Adi (2008:15) proporsi DAU terhadap penerimaan daerah masih yang tertinggi dibandingkan dengan penerimaan daerah yang lain, termasuk PAD. Kuncoro (2004:26) juga menyebutkan bahwa PAD hanya mampu membiayai belanja pemerintah daerah paling besar 20%. Kenyataan inilah yang menimbulkan perilaku asimetris pada pemerintah daerah. Untuk melihat apakah terjadi indikasi in efisien pada dana transfer tersebut, dapat dilihat dari respon pengeluaran pemerintah yang lebih dikenal dengan teori Flypaper Effect. Respon disini merupakan suatu tanggapan langsung dari Pemerintah daerah dalam menyingkapi transfer dana dalam bentuk dana perimbangan khususnya DAU yang diwujudkan pada anggaran belanja daerah. Ketika respon (belanja) daerah lebih besar terhadap transfer, maka disebut dengan flypaper effect (Oates, 1999:1129). Flypaper Effect itu sendiri merupakan respon yang tidak simetri atau asimetris terhadap peningkatan dan penurunan penggunaan dana transfer dari pemerintah pusat,dimana Tresch (2002:920) menyatakan bahwa dana transfer tersebut diberikan untukjangka waktu tertentu dengan indikasi adanya pihak yang memperoleh keuntungan daripenerimaan transfer (grants) yang cenderung meningkat. Dengan kata lain penemuanflypaper effect pada alokasi pengeluaran, maka diharapkan pemerintah dapat seminimum mungkin memperkecil respon yang berlebihan pada belanja daerah. DIY merupakan propinsi yang daerahnya memiliki karakter perekonomian yang beragam, secara tidaklangsung berimbas pada porsi penerimaan dana transfer (Grants) dari pusat. Denganadanya hal tersebut diharapkan pemerintah daerah dapat lebih mampu dalam berinovasi serta mengeksplorasi sumber-sumber alam yang terkandung di wilayah masingmasing.Sehingga lambat laun ketergantungan pada pusat dapat dihilangkan, seiring dengan adanyapenambahan PAD. Realisasi pendapatan daerah di Kabupaten/kota di DIY Jumlah dan kenaikan kontribusi PAD memiliki peranan dalam rencana peningkatankemampuan dari segi keuangan agar tidak harus selalu bergantung pada pemerintah pusat.Pendapatan asli daerah (PAD) merupakan representasi pendapatan yang dihasilkan olehdaerah tersebut. Dengan karakteristik data PAD, DAU dan Belanja Daerah yang berfluktuasi seperti diatas maka kemungkinan besar terjadi Flypaper Effect pada belanja daerah dikabupaten/kota yang bersangkutan, dalam hal ini dilihat dari segi penerimaan asli daerahdan dana alokasi umum. Oleh karena itulah maka peneliti ingin meneliti bagaimanapengaruh DAU dan PAD pada Belanja Daerah serta implikasi yang ditimbulkan dari flypaper effect pada variabel-variabel tersebut pada kabupaten/kota di DIY. Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang diajukan yakniBagaimanakah implikasi flypaper effect pada belanja daerah kabupaten/kota di DIY. Adapun tujuan

penelitian ini adalah untuk melihat implikasi pengaruh flypapereffect terhadap belanja daerah pemerintah di kabupaten/kota di DIY dalamhal ini pada Dana Alokasi Umum dan PAD. Tinjauan Pustaka Flypaper Effect Analisis empiris yang mengarah pada Flypaper Effect adalah terletak pada dua prinsip dasar yaitu: 1) Model yang menunjukkan bagaimana pemerintah merespon bantuan dana transfer (grants) yang akan digunakan untuk mengukur demand pelayanan publik; 2) Model median (rata-rata) merupakan model yang dipilih untuk melihat respon transfer per wilayah yang menerima bantuan dana transfer dari pemerintah, dimana pemerintah melihat ada indikasi bahwa dana yang diberikan harus habis untuk dibelanjakan, sehingga anggapan tersebut dapat mempengaruhi pendapatan daerah mereka sendiri. (Tresch. 2002:920-921). Kerangka teoritis Flypaper Effect pertama kali dikemukakan oleh Wallace Oates dimana dana bantuan pusat daerah (intergovernmental grants) diberikan kepada sekelompok orang bukan individu. Hal ini menunjukkan dampak dari pemberian dana bantuan tergantung pada proses kebijakan yang diambil oleh kelompok tersebut. Flypaper Effect merupakan suatu kondisi dimana stimulus terhadap pengeluaran daerah yang disebabkan oleh adanya perubahan dalam jumlah transfer dari Pemerintah Pusat lebih besar dari stimulus yang disebabkan oleh perubahan dalam pendapatan daerah (Lalvani, 2002). Fenomena flypaper effect membawa implikasi lebih luas bahwa Dana Alokasi Umum(DAU) akan meningkatkan belanja daerah yang lebih besar daripada penerimaan Dana Alokasi Umum (DAU) tersebut. Fenomena flypaper Effect dapat terjadi dalam dua kategori yaitu yang pertama merujuk pada peningkatan pajak daerah dan anggaran belanja pemerintah yang berlebihan, kedua mengarah pada pengeluaran terhadap Dana Alokasi Umum (DAU)yang lebih tinggi daripada pengeluaran terhadap penerimaan pajak daerah (Maimunah, 2006). Dengan mengetahui adanya fenomena flypaper effect dapat digunakan untuk memprediksi belanja daerah periode berikutnya. Belanja Daerah Berdasarkan PP Kepmendagri No. 13/2006 dan revisinya Kepmendagri No. 59 tahun 2007 disebutkan bahwa belanja daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih, yang dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan. Teori Transfer Berdasarkan pendapat Rosen (1999:497-500) dan Boex (2001:7) bahwa bantuan (grants transfer) dikelompokan dalam tiga jenis , yaitu: 1). Bantuan bersyarat (conditional grants), bantuan ini sering disebut juga catagorical grants atau specific grants yang terdiri atas bantuan penyeimbang (matching grants) dan bantuan bukan penyeimbang (nonmatching grants). Bantuan penyeimbang terdiri atas bantuan penyeimbang tidak terbatas (open-ended matching grants) dan bantuan penyeimbnag terbatas (closed ended matching grants); 2) Bantuan tidak bersyarat (unconditional grants) adalah bantuan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah tanpa ada syarat tertentu, artinya pemerintah daerah dapat menggunakan bantuan tersebut sesuai dengan kepentingan daerah yang bersangkutan tanpa ada batasan tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Bantuan tanpa syarat ini biasanya ditentukan berdasarkan formula pemerataan (equalization formula)

yang mengukur kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal; dan 3) Bantuan bagi hasil (revenue sharing). Dana Alokasi Umum Cara menghitung dana alokasi umum menurut ketentuan adalah sebagai berikut: 1). Dana Alokasi Umum (DAU) ditetapkan sekurang-kurangnya 25% dari penerimaan dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN. 2). Dana Alokasi Umum (DAU) untuk daerah propinsi dan untuk daerah kabupaten/kota ditetapkan masing-masing 10% dan 90% dari dana alokasi umum sebagaimana ditetapkan di atas. 3). Dana Alokasi Umum (DAU) untuk suatu daerah kabupaten/kota tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah dana alokasi umum untuk seluruh daerah kabupaten/kota yang ditetapkan dengan porsi daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. 4). Porsi daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud di atas merupakan proporsi bobot daerah kabupaten/kota yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua daerah kabupaten/kota di seluruh Indonesia (Pemendagri No. 59 tahun 2007).

Pendapatan Asli Daerah Pendapatan asli Daerah merupakan salah satu komponen sumber pendapatan daerah sebagaimana diatur dalam pasal 79 Undang undang Nomor 22 Tahun 1999 dan direvisi menjadi UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, serta PP Mendagri No. 13 tahun 2006 mengenai pengelolaan keuangan daerah, direvisi menjadi PP Mendagri No. 59 tahun 2007 bahwa Sumber Pendapatan Daerah terdiri dari: A) Pendapatan Asli Daerah, berupa 1) Hasil Pajak Daerah, 2) Hasil Retribusi Daerah, 3) Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. B) Dana Perimbangan, C) Pinjaman Daerah, D) Lain-lain pendapatan daerah yang sah. Hipotesis Adapun hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu: Adanya flypaper effect pada Belanja Daerah pemerintah Kabupaten/kota yang berarti pengaruh koefisien DAU terhadap Belanja Daerah lebih besar daripada pengaruh koefisien PAD terhadap Belanja Daerah. METODE PENELITIAN Daerah yang dijadikan objek penelitian adalah 5 daerah di propinsi DIY yang karakteristiknya berbeda beda dan kemungkinan untuk terjadi flypaper effect juga ada. Metode yang digunakan adalah dengan membandingkan data-data yang diperlukan secara time series kemudian dianalitis secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Dana Alokasi Umum Terhadap Belanja Daerah Salah satu fungsi dana alokasi umum (DAU) untuk menutup celah yang terjadi karena kebutuhan daerah melebihi dari potensi penerimaan daerah yang ada, sehingga distribusi dana alokasi umum (DAU) kepada daerah-daerah yang memiliki kemampuan relatif besar akan lebih kecil dan sebaliknya daerah-daerah yang mempunyai kemampuan keuangan relatif kecil akan memperoleh DAU yang relatif besar. Demikian pula dengan pendapatan asli daerah yang mempunyai inti tujuan untuk menekan ketergantungan daerah akan transfer dana alokasi umum, sehingga secara berlahan-lahan pengalokasian dana alokasi umum dapat dikurangi seiring kemampuan fiskal daerah dan pada akhirnya terjadinya flypaper effect dapat terhindari.

2010
Yogyakarta Sleman Kulonprogo Gunung Kidul Bantul Bantul #REF! PAD 1 121,593,86 44,084,675, 53,989,091, 168,098,878 187,098,098 100,000,000,000.00 Gunung Kidul Kulonprogo 200,000,000,000.00 Sleman Yogyakarta

2011
Yogyakarta Sleman Kulonprogo Gunung Kidul Bantul Bantul #REF! PAD 1 121,593,86 44,084,675, 53,989,091, 168,098,878 187,098,098 100,000,000,000.00 Gunung Kidul Kulonprogo 200,000,000,000.00 Sleman Yogyakarta

2012
Yogyakarta Sleman Kulonprogo Gunung Kidul Bantul Bantul #REF! PAD 1 121,593,86 44,084,675, 53,989,091, 168,098,878 187,098,098 100,000,000,000.00 Gunung Kidul Kulonprogo 200,000,000,000.00 Sleman Yogyakarta

Perbandingan PAD dengan DAU(dalam %) NO Kab/Kota 2010 1 Bantul 14,2 2 Gunung 7,2 Kidul 3 Kulon Progo 11,7 4 Sleman 26,1 5 Yogyakarta 45,01

Tahun 2011 16,1 7,3 11,7 25,01 41,9

Rata-rata 2012 16 7,7 10 21,1 35 15,43 7,4 11,13 24,1 40,63

Dari data diatas terlihat bahwa di masing-masing daerah peran PAD dibandingkan dengan DAU relatif kecil itu persentasenya masih dibawah 50% yang paling baik adalah Kota Yogyakarta dengan rata rata 40,63% dan yang paling buruk adalah di Kabupaten Gunung Kidul yatu sebesar 7,4% .Hal tersebut mencerminkan bahwa tingkat perekonomian suatu daerah mencerminkan tingkat kemandirian daerah tsb Kab.Gunung Kidul yang masih tertunggal PAD nya masih sangat kecil sedangkan Kota Yogyakarta yang relatif maju PAD nya sudah cukup besar. Kecenderungan pengaruh DAU ini lah dalam jangka panjang dapat menganggu kemampuan daerah dalam membiayai pengeluarannya khususnya pengelolaan sumber daya sendiri. Sehingga tujuan utama dari DAU untuk menghilangkan kesenjangan fiskal (fiscal gap) akan tetap ada, sehingga keadaan tersebut mengindikasikan terjadinya flypaper effect, hal ini terlihat indikasi kuat perilaku belanja daerah sangat dipengaruhi sumber penerimaan berupa dana transfer yaitu dana alokasi umum . Implikasi yang terjadi akan mengakibatkan tidak maksimalnya pemanfaatan PAD karena adanya dana transfer DAU, sehingga pemerintah daerah merasa lebih mudah untuk memaksimalkan belanja daerah dari pada menempuh cara untuk memaksimalkan PAD, seharusnya pemerintah daerah mulai untuk mengupayakan dan mencari cara memaksimalkan potensi daerahnya yang akan berdampak pada meningkatnya PAD. Cara ini harus dilakukan

karena tidak mungkin selamanya pemerintah daerah akan selalu bergantung pada transfer pemerintah pusat. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Daerah Salah satu tujuan utama dari desentralisasi fiskal adalah terciptanya kemampuan dalam hal keuangan daerah, dimana pemerintah daerah diharapkan mampu menggali sumber-sumber keuangan lokal, khususnya melalui Pendapatan Asli Daerah. Daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan PAD yang positif mempunyai kemungkinan untuk memiliki tingkat pendapatan per Kapita yang lebih baik, sehingga dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap petumbuhan ekonomi di suatu daerah, dalam hal ini jika PAD meningkat maka, dana yang akan di kelola untuk pembangunan juga mengalami peningkatan, dalam arti semakin besar pendapatan yang di dapat, maka tingkat pengeluaran akan bergerak meningkat, sehingga ada kecenderungan untuk menghabiskan dana anggaran daerah. Dalam hal ini pemerintah daerah akan berinisiatif untuk lebih menggali potensi potensi daerah dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

2010
Yogyakarta Kulonprogo Bantul 500,000,000,000.00 1,000,000,000,000.00 1,500,000,000,000.00 Bantul

Gunung Kulonprogo Sleman Yogyakarta Kidul BELANJA 1,198,030,64964,036,681,834,118,054,1,023,765,891,098,298,34 PAD 121,593,86144,084,675,653,989,091,7168,098,878,187,098,098,

2011
Yogyakarta Kulonprogo Bantul Bantul 1,000,000,000,000.00

Gunung Kulonprog Sleman Yogyakarta Kidul o BELANJA 1,198,030,6964,036,681834,118,0541,023,765,81,098,298,3 PAD 121,593,86 44,084,675,53,989,091,168,098,878187,098,098

2012
Yogyakarta Kulonprogo Bantul Bantul 1,000,000,000,000.00

Gunung Kulonprog Sleman Yogyakarta Kidul o BELANJA 1,198,030,6964,036,681834,118,0541,023,765,81,098,298,3 PAD 121,593,86 44,084,675,53,989,091,168,098,878187,098,098

Terlihat bahwa disetiap daerah masih terjadi defisit antara PAD denga belanja daerah yang cukup besar yang mengindikasikan terjadinya flypaper effect. Kecilnya proporsi PAD terhadap belanja daerah mengindikasikan daerah tersebut belum memaksimalkan pemanfaatan sumber sumber penghasil pertumbuhan PAD, seperti peningkatan penerimaan pajak daerah, serta sumber daya alam lainnya. Ini dapat terjadi karena adanya kecenderungan pengharapan transfer dana dari pemerintah pusat. sehingga akan melemahkan kemampuan daerah dalam membiayai kebutuhannya sendiri. Implikasi Flypaper Effect Flypaper effect membawa implikasi dimana salah satunya akan meningkatkan belanja pemerintah daerah lebih besar dari pada penerimaan transfer itu sendiri (Turnbull,1998:18) serta kecenderungan untuk menanti bantuan dari pusat di banding mengelola sumber daya daerah sendiri. Secara implisit terdapat beberapa implikasi dari terjadinya flypaper effect pada belanja daerah kabupaten/kota seperti: 1. Menyebabkan celah kepincangan fiskal (Fiscal gap) akan tetap ada. Fiscal gap merupakan kerangka kebijakan Pemerintah pusat dalam memberikan DAU kepada daerah, maka jika terjadi flypaper effect artinya pencapaian pemberian dana transfer kurang optimal. Ini terlihat pada analisis perkembangan DAU dan belanja daerah. 2. Menimbulkan ketidakmaksimalan dalam pemanfaatan sumber-sumber penghasil pertumbuhan PAD, seperti peningkatan penerimaan pajak daerah, serta sumber daya alam lainnya. Ini terlihat dari proporsi rasio rata-rata DAU dan PAD, dimana proporsi rata-rata DAU lebih besar di bandingkan dengan PAD yang hanya memberikan kontribusi sebesar 10 persen terhadap belanja daerah. 3. Menyebabkan unsur ketergantungan daerah kepada Pemerintah pusat tetap ada, karena secara langsung pemberian DAU kepada daerah yang berarti Pemerintah Pusat mensubsidi pengeluaran daerah untuk mengurangi beban pembiayaan, sehingga akan melemahkan kemampuan daerah dalam membiayai kebutuhannya sendiri. 4. Adanya respon yang berlebihan dalam pemanfaatan dana transfer dimana seharusnya pemerintah pusat membuat kinerja monitoring dan evaluasi pada pemerintah daerah dalam rangka memonitor, mengkontrol dan mengevaluasi penggunaan dana DAU, hal ini di perlukan untuk mencegah respon yang berlebihan dalam menyingkapi penerimaan DAU di daerah 5.Mengakibatkan kurangnya kemampuan kemandirian keuangan daerah pada kabupaten/kota yang bersangkutan (Walidi, 2009: 35). Implikasi yang penting dari Flypaper Effect ini adalah Pemerintah daerahmemperlihatkan perilaku yang tidak seperti biasanya, sehingga adanya cenderung

melakukan manipulasi pengeluaran pemerintah setinggi mungkin dengan tidak mengupayakan maksimalisasi PAD agar nantinya dapat dapat memperoleh bantuan berupa transfer dari pemerintah pusat sehingga pemerintah daerah merasa lebih mudah untuk memaksimalkan belanja daerah daripada menempuh cara untuk memaksimalkan PAD, seharusnya pemerintah daerah mulai untuk mengupayakan dan mencari cara memaksimalkan potensi daerahnya yang akan berdampak pada meningkatnya PAD. Cara ini harus dilakukan karena tidak mungkin selamanya pemerintah daerah akan selalu bergantung pada transfer pemerintah pusat. PENUTUP Dengan menggunakan variabel Dana Alokasi Umum, Pendapatan Asli Daerah dan Belanja Daerah, serta hasil analisis pada bagian sebelumnya maka kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah: 1. Variabel Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara signifikan berpengaruh terhadap besarnya Belanja Daerah tujuh Kabupaten/kota induk di Sumatera Selatan. Hal ini terlihat bahwa kebijakan belanja daerah sebagian besar dipengaruhi oleh besarnya Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah, dimana semakin besar pendapatan yang diterima oleh Kabupaten/kota maka Belanja Daerah akan semakin besar. 2. Hasil pengujian menunjukkan pengaruh DAU terhadap Belanja Daerah lebih besar dibandingkan pengaruh PAD terhadap Belanja Daerah, yang artinya terjadi flypaper effect pada lima Kabupaten/kota di DIY Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten/kota di DIY cenderung menunggu saja dana transfer (grants) dari pemerintah pusat, tetapi mereka belum berusaha secara optimal untuk mengelola sumber-sumber kekayaan alam yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Hasil pengujian di atas juga membuktikan bahwa sumber penerimaan Kabupaten/kota di DIY tidak hanya didominasi dari transfer tetapi juga dari pendapatan asli sendiri, yang artinya penentuan besarnya belanja daerah di ukur berdasarkan potensi penerimaan daerah baik dari pusat maupun dari potensi daerah sendiri.Model yang digunakan mempunyai kelemahan, dimana model tersebut tidak menyertakanvariabel-variabel pembentukan lain dalam model seperti Belanja Modal, pertumbuhanpendapatan perkapita. Pada dasarnya belanja daerah tergantung pada proporsi kebutuhanpembangunan daerah serta tingkat kebocoran yang terjadi sepanjang pemberian danaalokasi umum. Penelitian ini juga hanya dilakukan ditujuh Kabupaten/kota di SumateraSelatan, selanjutnya dapat memasukkan seluruh Kabupaten/kota yang ada di SumateraSelatan, ataupun di luar Provinsi Sumatera Selatan dan kemudian membandingkankeduanya, sehingga kemungkinan ke depan dapat lebih banyak menemukan temuantemuan analisis yang lebihber variatif.Sedangkan data yang digunakan adalah time series untuk enam tahun, sehingga belum dilakukan analisa dan perbandingan komprehensif dan akurat terkait dengan dana alokasi umum, pendapatan asli daerah dan belanja daerah,Maka untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menggunakan jangka waktu yanglebih lama agar menghasilkan data yang lebih komprehensif dan akurat, atau dapat jugadengan membandingkan data sebelum otonomi dan setelah otonomi di berlakukan. Saran Bagi pemerintah daerah kota dan kabupaten di Propinsi DIY sebaiknya meningkatkan PAD dengan melakukan inovasi dan menggali potensi daerah di luar pajak daerah, sehingga masyarakat tidak terlalu terbebani oleh pajak, kemudian menggunakan semua pendapatan baik yang berasal Pendapatan Asli Daerah maupun Dana Alokasi Umum secara tepat sasaran agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, selain itu perlu perencanaan yang tepat dalam menyusun anggaran belanjanya.

Untuk penelitian selanjutnya diharapkan memasukkan aspek kebijakan publik, manajemen keuangan, perilaku pemda dalam mengalokasikan sumber daya yang dimiliki daerah, serta memperhatikan efektivitas Dan efisiensi penggunaan anggaran. _ DAFTAR PUSTAKA Boex, Jameson. 2001. An introductory Overview of Integovernmental Fiscal Relation. Fiscal Policy Training Program 2001 and Fiscal Decentrlization Cource. George Satate University. Atlanta. Georgia. Kuncoro, Haryo. 2004. Pengaruh Transfer Antar Pemerintah Pada Kinerja Fiskal Pemerintah Daerah Kota Dan Kabupaten Di Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9 Ndadari, Adi. 2008. Perilaku Asimetris Pemerintah Daerah Terhadap Pemerintah Pusat. 2nd konferensi UKWMS, Surabaya 6 September 2008. Oates, Wallace. 1999. An Easy of Fiscal Federalism Journal of Economics Literature 37:1120-1149. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Fokusmedia, Bandung. 2006. Rosen. 1999. The Flypaper Effect is not An Anomaly. Yale University and University at California. Cowless Foundation Paper No.1113. Turnbull, G.K. 1998. The Overspending and Flypaper Effect of Fiscal Illusion: theory and Empirical Evidence, Journal of Urban Economics, 44(1), Juli: 1-26. Tresch, Richard. 2002. Finance Public Anormative Theory .Department of Economic , Boston College Chestnut Hill, Massachusetts. Walidi. 2009. Pengaruh Dana Alokasi Umum Terhadap Pendapatan Perkapita, Belanja Modal Sebagai Variabel Intervening, Tesis (tidak dipublikasikan). Medan. Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 2009.

Anda mungkin juga menyukai