P. 1
Manajemen Keuangan Modal Kerja

Manajemen Keuangan Modal Kerja

|Views: 7,760|Likes:
Dipublikasikan oleh Saumi Rizqiyanto

More info:

Published by: Saumi Rizqiyanto on Jun 28, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

MANAJEMEN KEUANGAN

MANAJEMEN MODAL KERJA
P A P E R
Disusun Sebagai Tugas pada Mata Kuliah Manajemen Keuangan dengan dosen Ibu Nuriyah Taher S.Ag, MM pada Jurusan Muamalah Perbankan Syariah

Oleh Chabibi Asyaba Latipeh Rachmat Fauzi Saumi Rizqiyanto Usman Affandi

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2007

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja

PENDAHULUAN
Ketika Amory Jackson, Presiden Direktur Computer Enterprise memasuki ruang kerjanya, dia begitu terkejut membaca sebuah memo dari salah satu pemasok utamanya yang mengatakan bahwa pemasokan disk drive akan segera dihentikan. Jackson malah merasa tak habis pikir karena tindakan tersebut diambil sebagai akibat penundaan pembayaran Computer Enterprise kepada para pemasoknya, dan hal itu terjadi karena adanya kekurangan kas. Jackson langsung melabrak manajer pengaturan dananya “pertumbuhan kita begitu mengesankan dan laba kita terus meningkat, bagaimana mungkin kita kekurangan kas untuk membayar tagihan-tagihan pada waktunya?” Manajer Pengaturan dana tersebut berkomentar ringkas dan lancar, “seandainya bapak mendengarkan apa yang telah kami kemukakan, dan andaikata bapak membaca laporan keuangan kita, pasti bapak memahami bahwa ada perbedaan besar antara laba dan kas. Benar, kita telah menghasilkan laba, namun demi pertumbuhan yang amat bapak banggakan itu, kita harus membeli lebih banyak aktiva baru daripada yang dapat kita beli dengan menggunakan laba ditahan, kita mempunyai persediaan, piutang, dan aktiva tetap yang berlimpah, tetapi kas kita kosong sama sekali. Saya telah menyarankan untuk mengubah operasi kita. Ya… itu sih terserah bapak, apakah akan melakukan perubahan besar-besaran pada kebijakan modal kerja kita saat ini juga atau membiarkan perusahaan menuju kebangkrutannya” Peristiwa yang dialami oleh Amory Jackson dan perusahaannya, Computer Enterprise, bukanlah kejadian langka, banyak juga perusahaanperusaan lain mengalami hal yang sedemikian, ataupun mirip dengan kejadian. Disinilah letak pentingnya manajemen modal kerja. Dalam pembahasan paper kita kali ini, kita akan mengulas hubungan antara pertumbuhan dan kebutuhan dana. Kita juga akan membicarakan beberapa cara guna menjamin selalu tersedianya dana yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan.

1

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja

PEMBAHASAN ISTILAH DAN KONSEP DASAR
1. Modal kerja, terkadang disebut modal kerja bruto, yakni investasi perusahaan dalam aktiva jangka pendek. Investasi dana yang digunakan dalam suatu periode accounting tertentu yang seluruhnya menghasilkan pendapatan bagi periode tersebut (current income) dan ada juga yang lain yang juga digunakan selama periode tersebut tapi tidak seluruhnya digunakan untuk menghasilkan current income. Ada juga istilah modal kerja bersih (neto) yakni aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar. 2. Salah satu rasio modal kerja terpenting adalah rasio lancar yang didefinisikan sebagai aktiva lancar dibagi kewajiban lancar. Rasio ini dimaksudkan untuk memberi informasi mengenai likuiditas perusahaan, yakni kemampuan untuk membayar kewajiban yang akan jatuh tempo dalam setahun. 3. Rasio cepat (quick ratio) didefiniskan sebagai aktiva lancar dikurangi persediaan, lalu dibagi dengan kewajiban lancar. Rasio ini juga mengukur likuiditas perusahaan, menyisihkan persediaan dari total aktiva lancar, sehingga memperlihatkan kemampuan perusahaan “dalam waktu singkat” untuk memenuhi kewajiban lancarnya. 4. Kebijakan modal kerja mengacu pada kebijakan dasar perusahaan mengenai jumlah setiap kategori aktiva lancar yang ditargetkan dan bagaimana aktiva lancar dibiayai. Dalam buku lain disebutkan, kebijakan modal kerja adalah keputusan mendasar sehubungan dengan jumlah setiap kategori aktiva lancar yang ditargetkan dan bagaimana aktia lancar tersebut dibiayai. 5. Pengelolaan modal kerja menyangkut administrasi aktiva lancar dan kewajiban lancar dengan berpedoman pada kebijakan yang telah digariskan. 6. Aktiva Lancar Permanen adalah jumlah aktiva lancar yang tetap dimiliki perusahaan dalam setiap siklus usaha. 7. Aktiva Lancar Temporer atau Musiman, adalah aktiva lancar yang berfluktuasi sesuai dengan variasi penjualan musiman.

SIKLUS ARUS KAS MODAL KERJA
Konsep modal kerja muncul dari para pedagang keliling Amerika di zaman dulu, yang meminjam uang untuk membeli persediaan, menjual persediaan tersebut dan memperoleh uang tunai, melunasi pinjaman bank dan begitu seterusnya. Konsep ini diikuti oleh banyak perusahaan saat ini. Salah satu contohnya Computer Enterprise yang baru saja meluncurkan pc supermini yang dijual seharga $ 300.000. pengaruh produk ini terhadap modal kerjanya dapat dianalisis dengan siklus arus modal kerja. Sebagai gambaran, anggaplah CE mengantisipasikan 100 permintaan atas kompuetr baru tsb. Berikut kita

2

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja mendefinisikan siklus arus kas dan menunjukkan pengaruh keputusan produksi terhadap posisi modal kerja perusahaan. 1. CE akan memesan dan kemudian menerima bahan baku yang diperlukannya untuk memproduksi 100 komputer secara kredit. Transaksi ini menimbulkan utang usaha. Tetapi belum mempengaruhi arus kas. 2. Para pegawai akan mengubah bahan baku menjadi computer. Namun upah tidak dibayar penuh setiap saat sehingga akan terjadi upah akrual. 3. Computer yang sudah selesai akan dijual, biasanya secara kredit, maka transaksi ini akan menimbulkan piutang usaha, sehingga tidak langsung menghasilkan uang kas. 4. Pada saat tertentu sepanjang siklus tersebut, CE harus membayar utang usaha dan upah yang terutang, karena pembayaran ini normalnya akan terjadi sebelum piutang usaha ditagih maka akan terjadi arus kas keluar bersih dan hal ini harus dibiayai 5. Siklus arus kas modal akan berhenti ketika CE menerima hasil penagihan piutang usahanya. Pada saat ini, perusahaan siap membayar utang usahanya, membagikan dividen, dan memulai siklus arus kas yang baru.

SIKLUS KONVERSI KAS
Pendekatan ini bertitik tolak pada konversi bahan baku dan tenaga kerja menjadi uang tunai, dan oleh sebab itu disebut sebagai model siklus konversi kas. Berikut ini dipaparkan, dipaparkan sejumlah istilah yang digunakan dalam model tersebut. Siklus konversi kas didefinisikan sebagai lamanya jangka waktu sejak bahan baku yang dibeli dibayarkan hingga piutang usaha dari penjualan barang jadi tertagih. Berdasarkan kasus CE, berikut konversinya 1. periode konversi persediaan defined as jangka waktu yang diperlukan untuk mengkonversi bahan baku menjadi barang jadi dan kemudian menjualnya. Perhatikan bahwa periode konversi persediaan dapat dihitung sebagai 360 dibagi dengan rasio perputaran persediaan. Katakan penjualannya adalah $ 10 juta dan persediaan rata-rata $ 2 juta. Maka rasionya adalah $ 10 juta / $ 2 juta dan didapat periode konversi persediaannya adalah 72 hari. Periode konversi persediaan = 360 Penjualan/persediaan 360 $ 10 juta / $ 2 juta 360 5

= 72 hari

2. Periode konversi piutang defined as jangka waktu yang diperlukan untuk mengkonversikan piutang perusahaan menjadi kas, yaitu jangka waktu sejak penjualan hingga realisasi penagihan. Disebut juga jangka waktu penagihan (DSO). Perhatikan DSO didapat dari piutang usaha dibagi dengan hasil dari penjualan dibagi 360. Katakan jika piutang usaha

3

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja adalah $ 1,5 juta dan penjualannya mencapai $ 10 juta maka penghitungannya sebagai berikut. Periode konversi piutang = $ 1,5 juta $ 10 juta/360 = 54 hari

Jadi secara rata-rata hasil penjualan baru diterima tunai 54 hari setelah penjualan berlangsung. 3. Periode penangguhan utang usaha defined as jangka waktu rata-rata sejak pembelian bahan baku atau pengkaryaan pekerja hingga terlaksananya pembayaran atas bahan dan pekerja tersebut. Misalnya, mungkin saja perusahaan secara rata-rata membayar pekerja dan bahan yang dibelinya 30 hari kemudian. 4. Siklus konversi kas yang menggabungkan ketiga periode diatas adalah jangka waktu sejak dilakukannya pengeluaran tunia untuk sumber daya produksi hingga terealisasinya penagihan atas penjualan produk. Konsep siklus konversi kas dapat dinyatakan dengan persamaan berikut (1) Periode Konversi Persediaan (2) periode Konversi piutang (3) periode penangguhan utang (4) = Siklus Konversi kas

+

-

Berdasarkan kasus diatas maka persamaannya menjadi 72 hari + 54 hari – 30 hari = 96 hari Dari persamaan diatas, dapatlah dikethui jika perusahaan membutuhkan waktu sampai dengan 96 hari untuk melakukan proses siklus konvrsi maupun siklus arus kas, tentunya dengan penanggungan biaya yang tidak sedikit. Oleh karenanya perusahaan dapat memperpendek siklus konversi kas, pemendekan ini akan memperkecil pembiayaan eksternal yang dibutuhkan sehingga memperendah biaya bagi pendapatan tersebut. Memperpendek siklus konversi kas dapat5 dilakukan dengan 1. mempersingkat periode konversi persediaan dengan mempercepat proses produksi dan enjualan barng 2. mempercepat periode konversi putang usaha dengan jalan mempercepat penagihan 3. memperpanjang periode penangguhan utang usaha dengan memperlambat pembayaran kepada pemasok dan pekerja. Usaha ini dapat dilakukan sejauh tidak menaikkan biaya atau mengganggu proses penjualan.

4

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja

KEBIJAKAN MENGENAI AKTIVA LANCAR
Kebijakan modal kerja melibatkan dua isu pokok (1) Berapa semestinya jumlah aktiva lancar, baik jumlah totalnya maupun jumlah setiap pos aktiva lancar dan (2) bagaimana jumlah aktiva tersebut dipenuhi oleh pembiayaannya. Dalam figure berikut kita akan menelaah sejumlah kebijakan sehubungan dengan kedua isu tersebut Perhatikan Figure 1.1 berikut ini

Figure 1.1 memaparkan tiga alternative kebijakan modal kerja sehubungan dengan tingkat aktiva lancar yang mungkin dimiliki oleh perusahaan CE. Setiap kebijakan menetapkan jumlah modal kerja yang berbeda guna mendukung tingkat penjualan. 1. garis dengan tingkat kecuraman yang tinggi menunjukkan kebijakan modal kerja yang relative “longgar”, yakni kebijakan yang menghendaki tersedianya kas, sekuritas, dan persediaan dalam jumlah yang relative besar dan berupaya menggalakkan penjualan dengan kebijakan penjualan kredit yang longgar sehingga menimbulkan banyak piutang usaha. 2. sedangkan garis dengan tingkat kecuraman yang rendah menunjukkan kebijakan modal kerja yang relative ketat dalam artian kebijakan yang berupaya meminimumkan jumlah kas, sekuritas, persediaan dan piutang usaha yang dimilikinya. 3. diantara keduanya terdapat kebijakan moderat yakni apabila kebijakan yang menghendaki diketahui secara pasti penjualan, biaya-biaya,

5

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja tenggang waktu pemesanan, dan periode penagihan. Sehingga perusahaan akan memiliki jumlah aktiva lancar yang besar. Hal ini akan mengakibatkan makin perlunya pendanaan eksternal tanpa peningkatan laba. Sedangakan jumlah aktiva lancar yang lebih kecil menyebabkan keterlambatan pembayaran kepada pemasok, berkurangnya penjualan dan ketidakefisienan produksi karena kurangnya persediaan.

KEBIJAKAN PEMBIAYAAN MODAL KERJA
Seperti yang telah diketahui diatas, kebijakan aktiva lancar atau modal kerja selalu berkaitan dengan kebijakan pembiayaan modal kerja, Figure 1.2 membahas secara keseluruhan beberapa alternative kebijakan pembiayaan modal kerja. Figure 1.2, Menjelaskan Beberapa Alternative Kebijakan Pembiayaan Modal Figure 1.2.a, Kebijakan Pembiayaan Modal dengan pendekatan Maturity Matching

1. Figure 1.2.a memaparkan Kebijakan pembiayaan modal kerja melalui pendekatan maturity matching, yakni kebijakan pembiayaan yang menyelaraskan saat jatuh tempo aktiva dengan kewajiban. Sebagaimana yang dijelaskan oleh figure, aktiva permanent dibiayai dengan modal jangka panjang. Hal ini tentu saja memperkecil resiko. Sampai batas tertentu, perusahaan dapat mencoba setepat mungkin mencocokkan struktur jatuh tempo dengan dari aktiva dan kewajibannya, sebagai contoh, Persediaan yang dimiliki CE, yang diharapkan terjual sampai dengan 30 hari, dibiayai dengan kredit bank berjangka 30 hari; mesin yang yang diharapkan berumur lima tahun akan dibiayai dengan kredit berjangka lima tahun dan seterusnya. Dengan demikian setiap pinjaman (kewajiban) akan dilunasi oleh arus kas yang dihasilkan oleh aktiva yang dibiayai dengan pinjaman bersangkutan, sehingga pinjaman ini disebut pinjaman self liquidating.

6

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja

Figure 1.2.b. Kebijakan Pembiayaan Modal dengan pendekatan Aggressive

2. Figure 1.2.b memaparkan kebijakan pembiayaan modal kerja melalui pendekatan agresif, panel b dari figure 1.2. memaparkan perusahaan yang agressif, yang membiayai seluruh aktiva jangka panjangnya dengan kredit jangka panjang. Tetapi sebagian dari aktiva lancar permanent-nya dibiayai dengan kredit jangka pendek. Kita lihat kembali figure 1.1. perusahaan CE, disana nampak CE menerapkan strategi ini. Dimisalkan pada saat operasi rendah, CE memiliki $ 20 juta aktiva lancar ditambah dengan $ 50 juta aktiva tetap atau $ 70 juta aktiva permanent, pada saat itu ekuitas serta utang jangka panjang sebesar $ 59 juta, jadi $11 juta dari kredit jangka panjang digunakan untuk membiayai aktiva permanent. Kembali ke figure 1.2.b, garis terputus-putus seharusnya dapat digambarkan dibawah garis aktiva tetap, yang menunjukkan bahwa semua aktiva lancar dan sebagian aktiva tetap dibiayai oleh kredit jangka panjang. Ini merupakan posisi yang riskan yang memungkinkan perusahaan terkena resiko kerugian suku bunga serta masalah perpanjangan jadwal angsuran kredit. Jadi dalam kebijakan modal kerja agresif, perusahaan terkadang mengorbankan keamanan untuk mengejar laba yang tinggi. Figure 1.2.c. Kebijakan Pembiayaan Modal Kerja dengan Pendekatan Conservative

7

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja

3. Figure 1.2.c memaparkan kebijakan pembiayaan modal kerja melalui pendekatan konsevatif, pada figure ini garis terputus-putus dapat digambarkan diatas garis aktiva lancar permanent, yang berarti bahwa modal jangka panjang digunakan untuk membiayai semua aktiva permanent dan sebagian atau semua aktiva lancar musiman. Dalam hal ini perusahaan menggunakan kredit jangka pendek dalam jumlah yang sangat kecil untuk memenuhi kebutuhannya pada masa sibuk, tetapi perusahaan juga memenuhi sebagian dari aktiva musimannya dengan menabung liquiditas dalam bentuk sekuritas yang mudah dipasarkan selama masa lengang. Garis bukit diatas garis terputus menunjukkan sekuritas yang dimiliki perusahaan. Figure ini memperlihatkan kebijakan yang konsevatif.

UTANG JANGKA PANJANG VS UTANG JANGKA PENDEK
Meskipun utang jangka pendek acap kali lebih murah ketimbang utang jangka panjang, namun pembiayaan pembiayaan dengan kredit jangka pendek menimbulkan risiko yang lebih besar. Hal itu dikarenakan dua hal 1. jika perusahaan memperoleh kredit jangka panjang biaya bunganya akan tetap dan stabil selama masa kredit, sedangkan kredit jangka pendek, bisa sangat berfluktuasi dan sangat tinggi pada saat-saat tertentu. 2. jika pinjaman jangka pendek perusahaan sangat besar, mungkin saja ia tak mampu melunasinya jika jatuh tempo dan posisi keuangannya mungkin saja sangat buruk sehingga bank maupun kreditur tidak bersedia memperpanjang masa pinjaman tersebut, hal ini bisa menyebabkan perusahaan jatuh pailit.

BEBERAPA RESIKO PERUSAHAAN PEMINJAM
Baik kredit jangka panjang maupun jangka pendek, keduanya memiliki resiko atas tingkat pengembalian dari ekuitas. Hubungan yang lebih jelas dijelaskan dalam figure 1.3 berikut ini;

8

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja

Bagian A: Jika Suku Bunga Normal Aktiva Lancar Aktiva Tetap Total Aktiva Kredit Jangka Pendek (@ 7%) Kredit Jangka Panjang (@ 9%) Total Kredit (Utang/Aktiva=50%) Ekuitas Total Kewajiban Dan Ekuitas Laba Sebelum Bunga Dan Pajak (EBIT) Dikurangi Bunga Laba Kena Bunga Dikurangi Pajak(@ 40%) Laba Atas Saham Biasa Tingkat Pengembalian Atas Ekuitas Rasio Lancar Rasio Kemampuan Membayar Bunga

Conservative Moderate 50,00 50,00 100,00 50,00 50,00 50,00 100,00 15,00 4,50 10,50 4,20 6,30 12,60% 3,33 50,00 50,00 100,00 25,00 25,00 50,00 50,00 100,00 15,00 4,00 11,00 4,40 6,60 13,20% 2:1 3,75

Aggressive 50,00 50,00 100,00 50,00 50,00 50,00 100,00 15,00 3,50 11,50 4,60 6,90 13,80% 1:1 4,29

Bagian B Jika Suku Bunga Naik 21% Aktiva Lancar Aktiva Tetap Total Aktiva Kredit Jangka Pendek (@ 21%) Kredit Jangka Panjang (@ 9%) Total Kredit (Utang/Aktiva=50%) Ekuitas Total Kewajiban Dan Ekuitas Laba Sebelum Bunga Dan Pajak (EBIT) Dikurangi Bunga Laba Kena Bunga Dikurangi Pajak(@ 40%) Laba Atas Saham Biasa 50,00 50,00 100,00 50,00 50,00 50,00 100,00 15,00 4,50 10,50 4,20 6,30 50,00 50,00 100,00 25,00 25,00 50,00 50,00 100,00 15,00 7,50 7,50 3,00 4,50 50,00 50,00 100,00 50,00 50,00 50,00 100,00 15,00 10,50 4,50 1,80 2,70 9

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja

Tingkat Pengembalian Atas Ekuitas Rasio Lancar Rasio Kemampuan Membayar Bunga

12,60% 3,33

9,00% 2:1 2,00

5,40% 1:1 1,43

RISIKO SUKU BUNGA
Pada bagian a Figure 1.3 menjelaskan bahwa utang jangka pendek diasumsikan berbunga 7% sementara utang jangka panjang lebih besar yakni 9%. Laba bersih dan tingkat pengembalian atas ekuitas jelas akan lebih tinggi apabila yang digunakan adalah kredit jangka pendek karena biayanya lebih murah dibandingkan kredit jangka panjang. Akan tetapi bila perusahaan menggunakan kredit jangka pendek, maka ia akan menghadapi resiko akibat suku bunga yang berfluktuasi, inilah yang disebut risiko suku bunga. Kenyataan ini dilihtkan pada figure 1.3. bagian b, yang mana suku bunga kredit jangka pendek naik menjadi 21%, hal ini tentu mengakibatkan beban bunga semakin besar sehingga mengurangi besaran laba maupun rasio kemampuan membayar bunga.

RISIKO JATUH TEMPO
Perusahaan yang memperoleh kredit jangka pendek juga menghadapi risiko tidak mampu memperpanjang kredit tersebut pada saat jatuh tempo, inilah yang disebut risiko jatuh tempo. Perpanjangan kredit jangka pendek ini mungkin tidak bisa dilakukan karena keadaan umum pasar uang dan pasar modal yang relative ketat. Lebih jauh lagi, jika perusahaan menghadapi kesulitan seperti permasalahan ketenagakerjaan, persaingan usaha atau lesunya permintaan akan produk dan suku bunga yang berfluktuasi maka pada saat jatuh tempo, kreditur mungkin tidak bisa memperpanjang kredit. Solusinya adalah jika perusahaan mengikuti kebijakan yang conservative dan hanya menggunakan kredit jangka panjang, tidak perlu cemas akan perubahan temporer baik pada tingkat suku bungan maupun pada posisi keuangan perusahaan itu sendiri. Yang menjadi pertimbangan utamanya hanyalah prestasinya untuk jangka panjang dan struktur keuangannya yang conservative mungkin akan membuatnya bertahan terhadap resesi jAngka pendek dan siap menikmati masa cerah berikutnya.

10

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja

PENUTUP
Amory Jackson keluar dari kantor manajer keuangan dengan berfikir keras, apakah kebijakannya yang mengejar laba tinggi dengan menggunakan kredit jangka pendek dengan berbagai resiko, termasuk kosongnya kas yang membuat pemasok disk drive menghentikan pasokannya atau ia menuruti nasihat manajer keuangannya untuk lebih ketat dan conservative, lebih baik tetap menghasilkan laba kecil dengan kredit jangka panjang tapi kas selalu tersedia, yang menjamin tersedianya pasokan atas disk drive. Akhirnya setelah mempertimbangkan masak-masak kebijakan apa yang akan diambil, Amory Jackson segera mengontak manajer keuangannya dan mengatakan bahwa perusahaan akan mengambil tindakan sesuai dengan nasihat manajernya. Beberapa bulan kemudian, pasokan disk drive datang, dan perusahaan dapat menjalankan kembali produksinya.

11

Manajemen Keuangan; Manajemen Modal Kerja

KEPUSTAKAAN
Keown, Arthur, Chaerul Djakman (alih bahasa) dkk. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. 1999. Jakarta; Penerbit Salemba Empat ____________, dkk. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Prinsip-prinsip dan Aplikasi. 2002. Jakarta; Prentice Hall dan Indeks (KKG) Riyanto, Bambang, Prof., Dr., Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan Edisi ke 4. 2004. Jogjakarta; BPFE UGM Sartono, Agus, Drs., MBA, Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi Edisi ke 4. 2001. Jogjakarta; BPFE UGM Weston, J. Fred, Eugene F. Brigham. Manajemen Keuangan Edisi Revisi Jilid 1. 2000. Jakarta; Erlangga

12

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->