Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS KEMACETAN LALU LINTAS SIMPANG CISALAK, DEPOK (Studi Kasus Jalan Ir.H.

Juanda - Tol Cijago, Bogor - Cisalak)

Moriani Nathasya [18311926],


Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,Universitas Gunadarma Jln. Margonda Raya No.100, Depok email :moriani105@gmail.com

Abstrak Simpang Cisalak merupakan simpang yang memiliki permasalahan kemacetan lalu lintas yang cukup tinggi. Simpang ini menghubungkan ruas Jalan Juanda menuju Tol Cijago maupun dari arah Bogor menuju Cisalak. Permasalahan kemacetan ini terjadi karena kurangnya pengaturan lalu lintas dan ketidakaturan para pengguna jalan baik kendaraan bermotor maupun kendaraan tak bermotor ditambah lagi dengan dibangun tol Cijago( Cinere Jagorawi). Pada awalnya tol Cijago ini di bangun dengan tujuan untuk mengurangi kemacetan kepadatan di jalan Margonda Raya, namun pada akhirnya justru memberi dampak kemacetan terhadap simpang cisalak yang memang jauh sebelum di bangunnya tol Cijago memang sudah macet. Melihat permasalahan yang ada, maka dilakukan studi analisa kemacetan lalu lintas simpang Cisalak, Depok dengan tujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya kemacetan, tingkat pelayanan dari ruas simpang Cisalak, Depok serta menemukan alternatif solusi untuk mengurangi kemacetan yang terjadi. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI). Data data yang digunakan analisa merupakan data primer yang diambil langsung dari lapangan, berupa data kepadatan arus lalu lintas, kapasitas, derajat kejenuhan,besarnya tundaan dan perilaku lalu lintas. Kata Kunci : kemacetan lalu lintas, kepadatan lalu lintas, tundaan.

1.

Pendahuluan Permasalahan yang biasa terjadi

tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan.

dalam

lalu

lintas

adalah

kemacetan.

Kemacetan merupakan situasi atau keadaan

Kemacetan biasanya terjadi karena tidak

mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga jalan tidak dengan

pada

simpang

cisalak,

Depok

c)

menemukan solusi terhadap kemacetan yang terjadi. Tujuan pengamatan meliputi: a) mengetahui penyebab kemacetan pada simpang cisalak, Depok , b) menganalisa tingkat pelayanan jalan pada simpang cisalak, Depok , c) memberikan solusi terhadap kemacetan yang terjadi. 2. Dasar Teori Kemacetan adalah keadaan

seimbangnya kepadatan pengaturan tumpah

kebutuhan penduduk, lalu lintas, secara

kurangnya adanya pasar

yang

tidak

langsung

memakan badan jalan sehingga membuat antrian sejumlah kendaraan. Permasalahan kemacetan ini juga terjadi pada simpang Cisalak, Depok. Simpang Cisalak merupakan simpang yang menghubungkan ruas jalan Juanda menuju Tol Cijago maupun dari arah Bogor menuju Cisalak. Kemacetan yang terjadi karena kurangnya pengaturan lalu lintas dan adanya angkutan umum yang berhenti sembarangan disekitar simpang tersebut. Kondisi tersebut mengakibatkan menurunnya tingkat pelayanan dari

tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutama kota yang tidak

mempunyai transfortasi publik yang baik atau memadai. Kemacetan juga disebabkan tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk. Kemacetan lalu

simpang. Hal ini terlihat dari antrian panjang kendaraan pada kaki kaki simpang. Kondisi diatas mengakibatkan menurunnya simpang. Untuk mengatasi kondisi tersebut, maka perlu dilakukan upaya untuk tingkat pelayanan dari

lintas menjadi permasalahan sehari-hari di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan kota-kota besar lainnya.

Kemacetan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Berikut adalah faktorfaktor yang dapat menyebabkan

meningkatkan tingkat pelayanan simpang dengan studi pengamatan terhadap

simpang tersebut. Permasalahan pengamatan meliputi: a) penyebab kemacetan pada simpang cisalak,Depok , b) tingkat pelayanan jalan

kemacetan di jalan raya: Arus yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan, terjadi kecelakaan lalu-lintas

sehingga terjadi karena

gangguan kelancaran yang menonton

masyarakat

kejadian kecelakaan atau karena kendaraan yang terlibat kecelakaan belum

didapat dengan menggunakan formula sebagai berikut : FV=(FV0+FVW)+FFVSF+FFVcs ..(1) Dimana: FV : Kecepatan arus bebas kendaraan ringan untuk kondisi sesungguhnya (km/jam) FV0 : Kecepatan arus bebas dasar untuk kendaraan ringan pada jalan diamati untuk kondisi ideal FVW : Penyesuaian kecepatan untuk lebar jalan (km/jam) FFVSF : Faktor penyesuaian untuk hambatan samping dan lebar bahu FFVcs : Faktor penyesuaian kecepatan untuk ukuran kota b. Kapasitas (Capacity, C) Kapasitas didefinisikan sebagai arus maksimum yang melalui suatu titik di jalan yang dapat dipertahankan per satuan jam dalam kondisi tertentu. Kecepatan ini dianalisa dengan yang

disingkirkan dari jalur lalu lintas, terjadi banjir atau longsor sehingga kendaraan memperlambat kendaraan, perbaikan jalan sehingga serta adanya luas jalan

menjadi berkurang dan membuat jarak antara kendaraan satu dengan kendaraan yang lainnya semakin dekat. Menurut Manual Kapasitas Jalan

Indonesia (MKJI, 1997), ruas jalan dibagi menjadi 3 (tiga) jenis, yang meliputi : Jalan Antar Kota (Interurban Road), Jalan Perkotaan (Urban road) dan Jalan Tol (Motorways). Pengelompokan jalan menurut peran Pengelompokan jalan menurut perannya adalah sebagai berikut: Jalan Arteri , Jalan Kolektor , Jalan Lokal . Jalan perkotaan (urban road) Variabel-variabel yang akan akan dicari dalam menentukan kinerja Jalan Perkotaan antara lain: Kecepatan Arus Bebas, FV Kapasitas, C Derajat Kejenuhan, DS dan Kecepatan, V a. Kecepatan Arus bebas (FV) Kecepatan arus bebas didefinisikan

menggunakan formula: C = C0 x FCW x FCSP x FCSF x FCCS ....(2) dimana: C : Kapasitas sesungguhnya (smp/jam) C0 : Kapasitas Dasar untuk kondisi tertentu (ideal) (smp/jam) FCW : Faktor penyesuaian lebar jalan

sebagai kecepatan pada saat tidak ada arus (Q=0). Kecepatan arus bebas ini

FCSP : Faktor penyesuaian pemisahan arah FCSF : Faktor penyesuaian hambatan samping

DS=Q/C .........................................(4) dimana: DS : Derajat Kejenuhan Q : Arus lalu lintas (SMP/jam) C : Kapasitas (SMP/jam)

Kapasitas Simpang (C) Kapasitas adalah kemampuan simpang untuk menampung arus lalu lintas maksimum per satuan waktu dinyatakan dalam smp/jam hijau. Kapasitas pada simpang dihitung pada setiap pendekat ataupun kelompok lajur didalam suatu pendekat. Kapasitas simpang

d. Kecepatan (Velocity,V) Kecepatan kecepatan didefinisikan rata-rata ruang sebagai dari

kendaraan ringan sepanjang segmen jalan, dihitung dengan menggunakan formula: V=L/TT .......................................(5) dimana: V : Kecepatan rata-rata (km/jam) L : Panjang segmen (km) TT : Waktu tempuh rata-rata (jam) Menurut MKJI 1997, Tundaan (Delay) adalah waktu

dinyatakan dengan rumus: C = S . g/c .. (3) Dimana: C = Kapasitas (smp/jam hijau); S = Arus jenuh (smp/jam hijau); g = Waktu hijau (detik). c = Panjang siklus (detik).

tempuh tambahan yang diperlukan untuk melalui simpang apabila dibandingkan (Degree of

c. Derajat

Kejenuhan

lintasan tanpa melalui suatu simpang. Tundaan terdiri dari tundaan lalu lintas yaitu waktu menunggu yang disebabkan oleh interaksi lalu-lintas dan tundaan geometri yang disebabkan oleh

Saturation, DS) Derajat kejenuhan merupakan rasio arus terhadap kapasitas, digunakan sebagai faktor utama dalam penentuan tingkat kinerja ruas jalan. Nilai DS ini

perlambatan dan percepatan kendaraan yang membelok disimpangan dan atau yang terhenti karena lampu lalu lintas. Tundaan yang digunakan sebagai indikator tingkat pelayanan dari masingmasing pendekat maupun suatu simpangan

menunjukkan apakah ruas jalan tersebut mempunyai masalah dengan kapasitas atau tidak jika dihubungkan dengan volume lalu lintas yang lewat. Harga DS dapat dihitung dengan formula:

secara menyeluruh adalah Tundaan ratarata. Menurut Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI), tundaan (D) pada suatu simpang dapat terjadi karena 2 (dua) hal, yaitu : a. Tundaan lalu lintas (DT) yang

0,5 (1 GR ) 2 NQ1 3600 1 (GR DS ) C (7) DT c

di mana : DTj = Tundaan lalu-lintas rata-rata

pendekat j (det/smp) GR = Rasio hijau (g/c) DS = Derajat kejenuhan C = Kapasitas (smp/jam)

disebabkan oleh interaksi dengan simpang; b. Tundaan geometri oleh gerakan lainnya

lalu lintas pada suatu

(DG)

yang dan

NQ1 = Jumlah smp tertinggal dari fase hijau sebelumnya

disebabkan

perlambatan

percepatan saat

membelok pada suatu Tundaan geometri rata-rata (DG) pada suatu pendekat dapat diperkirakan rata-rata untuk suatu dengan persamaan sebagai berikut : DGj = (1 PSV) x PT x 6 + (PSV x 4)......................(8) dengan : DGj = Tundaan Geometri rata-rata pada pendekat j (smp/jam) DTj + DGj Psv = Rasio kendaraan terhenti pada suatu pendekat PT = Rasio kendaraan membelok pada suatu pendekat

simpang dan atau terhenti karena lampu merah. Tundaan

pendekat j merupakan jumlah tundaan lalu lintas ratarata (DTj) dengan tundaan geometrik rata-rata (DGj) yang

persamaannya dapat dituliskan seperti berikut ini : Dj =

............................................. (6) di mana : DJ = Tundaan rata-rata untuk pendekat j (det/smp) DTj = Lalu-lintas rata-rata untuk pendekat j (det/smp) DGj = Tundaan geometri rata-rata

Sedangkan untuk metode lapangan dilakukan dengan menghitung semua

kendaraan yang masuk simpang, dan volume kendaraan yang mendekati

pendekat j (det/smp) Berdasarkan pada Akcelik, 1998, tundaan lalu lintas rata-rata (DT) pada suatu pendekat dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :

simpang dalam satuan mobil penumpang. Vtotal


D

antri

Vberhenti

Vtidak

berhenti..................(9) = Vtotal antri x Tpengamatan

..............................(10)

DTs=

D Vberhenti

%VD

Prosentase

kendaraan

yang

tertunda (%) DT s Total = Rata-rata tundaan semua kendaraan (detik)

................................................................(1 1) %VD=
Vberhenti Vtotal antri
D Vtotal antri

Tingkat Pelayanan/Kinerja Jalan Tingkat pelayanan (Level of Service) atau kinerja jalan merupakan pengukuran kualitatif yang menerangkan tentang kondisikondisi operasional dalam suatu aliran lalu lintas. Tingkat pelayanan suatu

x100%................................................(12) DTsTotal=

......................................................(13) dengan : Vtotal antri = Volume keseluruhan

persimpangan persimpangan

(biasanya berlampu lalu

pada lintas)

kendaraan yang mendekati simpang (smp) Vberhenti = Volume kendaraan yang masuk dan berhenti di simpang (smp) V tidak berhenti = Volume Kendaraan yang masuk dan tidak berhenti di simpang (smp) TPengamatan = Durasi pengamatan (detik)

menurut HCM 85 Amerika didapat-kan dengan melihat waktu tempuh tambahan yang diperlukan untuk melewati suatu simpang dibandingkan terhadap situasi tanpa simpang atau disebut dengan

Tundaan (Delay). Kriteria tingkat pelayanan untuk simpang bersignal dapat dilihat pada tabel berikut ini.

D = Jumlah tundaan (detik)


DTs = Rata-rata tundaan semua kendaraan berhenti(detik)

Tabel 1. Tingkat Pelayanan Tingkat Pelayanan Tundaan (Delay) (det/kend)

A B C D E F

< 5,0 5,1 15 15,1 25 25,1 40 40,1 60 > 60

Sumber : HCM 85 Tingkat Pelayanan A : pergerakan yang lancar/sangat baik dan sebagian besar kendaraan tiba pada saat lampu hijau. Tingkat Pelayanan B : pergerakan baik, kendaraan yang berhenti pada tingkat ini lebih banyak dari Akibat dari waktu siklus yang panjang atau rasio kendaraan yang tinggi dan rasio kendaraan henti menurun. Tingkat Pelayanan E : pergerakan yang buruk akibat dari nilai tundaan yang tinggi, biasanya menujukan nilai waktu siklus yang panjang dan rasio kendaraan yang tinggi. Tingkat Pelayanan F : kondisi macet total atau ketika arus kedatangan melebihi kapasitas dari

kendaraan pada LOS A. Tingkat Pelayanan C : pergerakan yang kurang baik dan atau waktu siklus yang lebih panjang. Jumlah kendaraan yang berhenti sangat

persimpangan tersebut. Kinerja lalu lintas Kinerja lalu lintas ruas jalan dapat dilihat dari kondisi kapasitas jalan (C) dengan volume lalu lintas (V), dengan memperbadingannya (V/C). Istilah ini sering disebut dengan VC Ratio.

berpengaruh pada tingkat ini, walaupun masih banyak ken-daraan yang melewati persimpangan ini. Tingkat Pelayanan D : pergerakan yang buruk dan pengaruh kemacetan lebih terlihat pada tingkat ini. V/C sangat tinggi (0,9-1) V/C tinggi V/C sedang V/C rendah (>0,7) (0,6-0,4) (<0,3)

kondisi lalu lintas padat, potensi timbul kemacetan dianggap kondisi lalu lintas baik kondisi lalu lintas tidak terlalu ramai kondisi lalu lintas lengang (sepi)

3.

Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan

volume kendaraan, waktu siklus serta lebar pendekat. Survey dilakukan pada hari kerja yang diharapkan akan didapatkan waktu puncak. Waktu survey yang dilakukan yaitu pada 29 April 2013 hari senin (mewakili hari kerja) jam 6.00 7.00 WIB, dan jam 16.00 17.00 WIB.

mengumpulkan literatur dan data sekunder yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan. Lalu dilakukan survey langsung di lapangan untuk mendapatkan data primer. Data primer tersebut berupa

4.

Pembahasan Hasil survey yang dilakukan pada hari senin 29 April 2013 pukul 06.00 - 07.00 WIB dan 16.00 17.00 WIB, maka diperoleh volume lalu lintas pada Jl.Ir.H.Juanda (ke arah tol

cijago dan ke arah margonda), ke arah Bogor, serta ke arah Cisalak yang terlihat pada tabel 2, tabel 3, tabel 4 dan tabel 5.

Tabel 2. Data Survey Volume Lalu Lintas Jl.Ir.H. Juanda (arah tol cijago) Waktu Pagi dan Sore. Jenis Kendaraan (06.00 07.00) Kendaraan Ringan (LV) Kendaraan Berat (HV) Sepeda Motor (MC) Kend/jam 2845 173 2901 Jumlah Jenis Kendaraan (16.00 17.00) Kendaraan Ringan (LV) Kendaraan Berat (HV) Sepeda Motor (MC) Kend/jam 3105 181 3021 Jumlah Emp/jam 1,0 2,5 0,5 Emp/jam 1,0 2,5 0,5 Smp/jam 2845 432,5 1450,5 4728 Smp/jam 3105 452,5 1510,5 5068

Tabel 3. Data Survey Volume Lalu Lintas Jl.Ir.H. Juanda (arah margonda) Waktu Pagi dan Sore.

Jenis Kendaraan (06.00 07.00) Kendaraan Ringan (LV) Kendaraan Berat (HV) Sepeda Motor (MC)

Kend/jam 2637 126 2728 Jumlah

Emp/jam 1,0 2,5 0,5

Smp/jam 2637 315 1364 4316

Jenis Kendaraan (16.00 17.00) Kendaraan Ringan (LV) Kendaraan Berat (HV) Sepeda Motor (MC)

Kend/jam 2724 116 2812 Jumlah

Emp/jam 1,0 2,5 0,5

Smp/jam 2724 290 1406 4420

Tabel 3. Data Survey Volume Lalu Lintas Ke Arah Bogor Waktu Pagi dan Sore. Jenis Kendaraan (06.00 07.00) Kendaraan Ringan (LV) Kendaraan Berat (HV) Sepeda Motor (MC) Kend/jam 2773 150 2928 Jumlah Jenis Kendaraan (16.00 17.00) Kendaraan Ringan (LV) Kendaraan Berat (HV) Sepeda Motor (MC) Kend/jam 2781 147 2931 Jumlah Emp/jam 1,0 2,5 0,5 Emp/jam 1,0 2,5 0,5 Smp/jam 2773 375 1464 4612 Smp/jam 2781 367,5 1465,5 4614

Tabel 3. Data Survey Volume Lalu Lintas Ke Arah Cisalak Waktu Pagi dan Sore.

Jenis Kendaraan (06.00 07.00) Kendaraan Ringan (LV) Kendaraan Berat (HV) Sepeda Motor (MC)

Kend/jam 2852 136 3474 Jumlah

Emp/jam 1,0 2,5 0,5

Smp/jam 2852 340 1737 4929

Jenis Kendaraan (16.00 17.00) Kendaraan Ringan (LV) Kendaraan Berat (HV) Sepeda Motor (MC)

Kend/jam 2871 129 3573 Jumlah

Emp/jam 1,0 2,5 0,5

Smp/jam 2871 322,5 1786,5 4980

Sementara itu hasil pengamatan waktu sinyal lampu lalu lintas terlihat pada Tabel 6. Tabel 6. Waktu Siklus Sinyal Lampu Lalu Lintas Lengan Simpang Merah(det) Kuning(det) Hijau(det) Jumlah

Cisalak Bogor Ir.H.Juanda(arah tol cijago) Ir.H.Juanda(arah margonda)

199 201 201 201

5 5 5 5

67 67 68 68

271 273 274 274

Kondisi

geometrik

simpang

cisalak

Sementara

itu

untuk

hasil

(Ir.H.Juanda - Tol Cijago, Bogor - Cisalak) adalah satu jalur dua lajur satu arah dengan lebar jalan 7 m dan median jalan 1 m.

perhitungan nilai derajat kejenuhan (DS) dan Tingkat Pelayanan terlihat pada Tabel 7.

Tabel 7.Nilai Derajat Kejenuhan (DS) dan Tingkat Pelayanan (TP) Volume kend (smp/jam) Kapasitas Jalan (smp/jam) TP DS

Lengan Simpang

Jl.Ir.H.Juanda (arah Tol Cijago) (06.00 07.00) (16.00 17.00) 4728 5068 33096 35476 0,143 0,143 0,576 0,576

Jl.Ir.H.Juanda (arah Margonda ) (06.00 07.00) (16.00 17.00) 4316 4420 30212 30940 0,143 0,143 0,576 0,576

Arah Bogor (06.00 07.00) (16.00 17.00) 4612 4614 32284 32298 0,143 0,143 0,583 0,583

Arah Cisalak (06.00 07.00) (16.00 17.00) 4929 4980 34503 34860 0,143 0,143 0,578 0,578

5.

Kesimpulan

menunjukkan waktu siklus lampu lalu lintas yang panjang dengan volume kendaraan yang tinggi,

Dari hasil pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan hal hal sebagai berikut : a. Waku siklus lampu lalu lintas pada simpang cisalak rata -rata yaitu pada waktu lampu merah 200 detik dan lampu hijau 68 detik dan volume kendaraan rata - rata yang tinggi yaitu 4708,375 smp/jam,

disertai juga kurangnya pengaturan lalu lintas, adanya angkutan umum yang berhenti sembarangan disekitar simpang kemacetan. akibatnya terjadi

b.

Nilai

derajat

kejenuhan

dari

sembarangan dengan adanya petugas pengatur lalu lintas. Mengurangi dipersimpangan pembatasan biasanya dominan arus yang membatasi konflik melalui tertentu, paling arus

Jl.Ir.H.Juanda (arah Tol Cijago) dan Jl.Ir.H.Juanda (arah margonda )

sebesar 0,576 ; arah Bogor sebesar 0,583 dan arah Cisalak sebesar 0,578. Hal tersebut menujukkan simpang tidak terjadi kemacetan karena DS< 0,85. Sedangkan nilai tingkat pelayanan pada simpang cisalak sebesar 0,143 sehingga dapat disimpulkan dalam kondisi lalu lintas Namun

belok kanan. Memperlebar menambah


jalansepanjang lalu

jalan,
lintas

hal

itu

keadaan

bagus.

memungkinkan.

berdasarkan fakta dan kenyataan yang ada pada simpang cisalak terjadi kemacetan karena adanya waktu siklus lampu lalu lintas yang panjang sehingga menyebabkan DAFTAR PUSTAKA Direktorat 1997.Manual Jenderal Bina Marga Jalan

Kapasitas

antrian kendaraan yang panjang lalu adanya berhenti simpang. c. Solusi yang dapat diberikan untuk mengurangi kemacetan yang terjadi antara lain : Dari segi pengaturan lampu lalu lintas perlu dilakukan peninjauan kembali seperti dengan merubah waktu siklus dikarenakan tundaan yang besar diakibatkan panjangnya waktu siklus. Perlu dilakukan pengaturan lalu lintas terhadap angkutan umum yang berhenti angkutan umum yang

Indonesia.Jakarta: Direktorat Bina Jalan Kota. Warpani, W., 1993. Rekayasa LaluLintas.Jakarta: Penerbit Bhratara. Ir. Aji Suraji, MSc.Perancangan

sembarangan

disekitar

Geometrik Jalan.Malang: Jurusan Teknik Sipil Universitas Widyagama Malang. Risdiyanto, lintas,Teori Yogyakarta:Jurusan Universitas Janabadra. 2007. dan Teknik Rekayasa Lalu

Aplikasi. Sipil