Anda di halaman 1dari 8

Cara kerja sayap pesawat terbang adalah dengan menerapkan hukum Bernoulli.

Desain sayap pesawat dibuat melengkung bagian atas, agar kecepatan udara (relatif terhadap sayap pesawat) di bagia atas pesawat lebih besar daripada kecepatan udara di bawah pesawat. Udara yang lebih cepat mempunyai tekanan yang lebih kecil. Oleh karenanya, terjadi perbedaan tekanan udara antara bagian atas dan bawah pesawat (bawah pesawat lebih besar). Sehingga, pesawat bisa terangkat. Sedangkan parasut memanfaatkan gaya hambatan udara (Air drag Force) untuk memperlambat gerak. Hukum fisika yang berlaku di sini disebut Hukum Stoke's. Hukum Stoke's menyatakan, Bila ada sebuah benda pada melaju dalam suatu fluida (udara atau cairan), maka benda tersebut akan memperoleh gaya hambat.

Wright Bersaudara dan Prinsip Bernoulli Perkembangan dunia penerbangan memang tidak lepas dari nama Wright bersaudara. Mereka terobsesi membuat pesawat terbang dan mulai melakukan pengamatan pada cara kerja layang-layang, peluncur hingga burung. Hingga kemudian di awal 1900-an mereka berhasil menciptakan pesawat terbang. Pesawat pertama mereka dinamai Flyer I dan kini disimpan di Museum Udara dan Ruang Angkasa di Washington DC. Dalam menciptakan pesawat, Orville Wright dan Wilbur Wright sudah memikirkan bagaimana pengaruh tekanan udara dengan bentuk sayap pesawat. Mereka menerapkan prinsip Bernoulli yang menyatakan hubungan antara kecepatan dan tekanan fluida (udara).

prinsip Bernoulli pada sayap pesawat terbang (sumber gambar : ilmuterbang.com) Daniel Bernoulli adalah ilmuwan Swiss kelahiran Belanda yang mengkaji permasalahan pada fluida. Prinsip yang dikemukakannya yang kemudian disebut prinsip/hukum Bernoulli menyatakan hubungan antara kelajuan alir fluida dan tekanan yang ditimbulkannya, dimana jika di sebuah tempat kelajuan alirnya besar, maka tekanannya kecil. Begitu pula sebaliknya. Berdasarkan konsep inilah, Wright bersaudara kemudian merancang bentuk sayap pesawat yang bisa membuat kecepatan alir udara di bagian bawah dan atas sayap berbeda.

Mengadaptasi bentuk sayap burung, Wright bersaudara kemudian merancang sayap pesawat dengan bentuk aerofoil. Dimana sayap dibuat melengkung dan lebih tebal di bagian depan daripada di bagian belakang. Bentuk seperti ini membuat kelajuan alir udara diatas sayap lebih besar daripada di bawah sayap. Akibatnya, tekanan ke atas lebih besar dibanding tekanan ke bawah dan pesawat pun bisa mengangkasa. Selisih tekanan ini yang kemudian disebut sebagai gaya angkat pesawat. Aliran udara di sekitar sayap dihasilkan dari gaya dorong mesin. Mesin yang digunakan Wright sebagai pendorong pesawatnya adalah mesin baling-baling. Saat itu mesin balingbaling merupakan mesin yang paling mungkin dipakai karena bobotnya lebih ringan dibanding mesin lain yang ada saat itu. Di era modern peran mesin baling-baling diganti dengan mesin jet yang lebih canggih. Meskipun tampak sempurna hasil pemikiran Wright saat merancang pesawat karena dianalisis secara matematis dan fisis, tetap saja ada hal-hal diluar kekuasaan manusia di waktu tertentu. Bahkan pesawat yang dikemudikan Orville Wright pernah kehilangan keseimbangan dan pesawat tersebut jatuh. Peristiwa yang terjadi pada 17 September 1908 ini mengakibatkan seorang penumpang tewas dan Orville sendiri mengalami patah kaki dan tulang iga. Beberapa faktor memang dapat memicu berkurangnya gaya angkat pesawat. Mesin pesawat yang mati saat pesawat masih mengudara tentunya mengakibatkan laju alir udara mengalami perlambatan. Jika selisih laju alir dan tekanan pada sayap semakin kecil, gaya angkat pesawat akan dikalahkan oleh gaya tarik bumi dan buuummmm..pesawat pun terhempas. Faktor cuaca yang memunculkan aliran angin seperti downburst turut menjadi salah satu penyebab pesawat kehilangan gaya angkatnya.

Prinsip dasar dari cara pesawat terbang untuk mengudara sama untuk semua pesawat, baik pesawat capung maupun pesawat super jumbo seperti Airbus A380. Yang mempengaruhi pesawat unutk terbang adalah gaya - gaya aerodinamis yang mengenainya yaitu, gaya angkat (lift), gaya hambat (drag), gaya berat (grafitasi), dan gaya dorong (trust).
Hide lebih jelasnya

Gaya dorong pesawat kedepan didapat dari baling-baling yang berputar pada ujung pesawat (lihat gambar). Sedangkan gaya hambat merupakan pergesekan pesawat udara dengan angin. Karena pesawat udara mempunyai massa, maka gaya grafitasi akan membawa pesawat kebawah, untuk itulah gaya angkat diperlukan. Gaya angkat dihasilkan dari sayap pesawat udara. Sayap pesawat udara ini yang memegang peranan kunci untuk mengkat badan pesawat. Penampang sayap ini biasanya disebut " aerofoil" Selama penerbangan udara mengalir ke atas dan bawah sayap. Udara yang megalir diatas sayap lebih cepat dari udara yang mengalir dibawah sayap, sehingga tekanan udara diatas pesawat lebih rendah. Disaat yang bersamaan udara dibawah sayap dibelokan kebawah, sehingga terjadi gaya angkat (udara yang terdorong kebawah akan mendorong sayap keatas- gaya aksi reaksi).
Hide lebih jelasnya

Gaya dorong terhadap sayap dan tekanan udara yang rendah diatas sayap inilah yang di butuhkan untuk pesawat terbang di udara. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pesawat dapat terbang, diantaranya :
Hide sayap

Hide sayap

Hide sayap

Hide sayap

sayap Sebuah pesawat memerlukan gaya angkat atau lift yang di butuhkan untuk terbang. Lift dihasilkan oleh permukaan suatu sayap (wing) yang berbentuk airfoil. Bentuk penampang airfoil pada suatu sayap pesawat terbang

Gaya angkat terjadi karena adanya aliran udara yang melewati bagian atas dan bagian bawah di sekitar airfoil. Pada saat terbang, aliran udara yang melewati bagian atas airfoil akan memiliki kecepatan yang lebih besar daripada kecepatan aliran udara yang melewati bagian bawah dari airfoil. Maka, pada permukaan bawah airfoil akan memiliki tekanan yang lebih besar daripada permukaan di atas. Perbedaan tekanan pada bagian atas dan bawah inilah yang menyebabkan terjadinya gaya angkat atau lift pada sayap pesawat. Oleh karena tekanan berpindah dari daerah yang bertekanan besar menuju ke daerah yang bertekanan kecil, maka tekanan pada bagian bawah airfoil akan bergerak menuju bagian atas airfoil sehingga tercipta gaya angkat pada sayap pesawat. Gaya angkat inilah yang membuat pesawat dapat terbang dan melayang bebas di udara.

Show Powerplant Tenaga Penggerak

Hide Bidang Kendali Flight Control Surface

Bidang Kendali (Flight Control Surface) Untuk menggerakkan pesawat (berbelok, menukik, dan rolling atau berbalik), seorang pilot memerlukan bidang kendali atau control surface . Primary control surface Primary control surface atau bidang kendali utama adalah bidang kendali pesawat yang dapat mengatur pergerakan pesawat pada saat terbang di udara. Aileron, elevator, dan rudder merupakan bidang kendali utama pada pesawat. 1). Aileron terletak pada sayap, digunakan pesawat pada saat melakukan rolling (berbalik) di udara dan pergerakannya berada pada sumbu longitudinal pesawat, aileron dikendalikan dengan menggunakan stick control yang berada pada cockpit. 2). Elevator terletak pada bagian ekor (empenage) atau bagian horizontal stabilizer, digunakan pesawat untuk melakukan piching (mengangguk) dan pergerakannya pada sumbu lateral pesawat, elevator di kendalikan dengan menggunakan stick control yang berada di ruangan cockpit. 3). Rudder terletak di pada bagian ekor tepatnya di bagian vertical stabilizer, di gunakan pesawat untuk melakukan yawing (berbelok) diudara dan pergerakannya pada sumbu vertical pesawat, rudder di kendalikan dengan menggunakan rudder pedal yang terletak pada ruang cockpit.
Hide Bidang kendali pesawat dengan sumbu dan arah pergerakannya

Hide Bidang kendali pesawat dengan sumbu dan arah pergerakannya

Hide Bidang kendali pesawat dengan sumbu dan arah pergerakannya

Anda mungkin juga menyukai