Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH (TINJAUAN PUSTAKA)

SEGI PRAKTIS TERAPI CAIRAN, ELEKTROLIT DAN TRANFUSI DARAH

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SYARAT KEPANITERAAN KLINIK BIDANG ANESTESIOLOGI DAN RAWAT INTENSIF DI BLU RSUD SEMARANG

Oleh : Farida Ayu Ekasari 01.208.5652

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2013

LEMBAR PENGESAHAN Nama NIM Fakultas Universitas Tingkat Bidang Pendidikan : Farida Ayu Ekasari : 01.208.5652 : Kedokteran : Universitas Islam Sultan Agung Semarang : Program Pendidikan Profesi Dokter : Anestesiologi dan Terapi Intensif

Periode Kepaniteraan Klinik : 1- 27 Juli 2013 Judul Makalah : Segi Praktis Terapi Cairan, Elektrolit dan Tranfusi darah Diajukan Pembimbing : Juli 2013 : Dr. Purwito Nugroho, Sp. An

TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN TANGGAL : ..

Mengetahui : Ketua SMF Anestesiologi dan Rawat Intensif BLU RSUD Kota Semarang,

PEMBIMBING :

Dr. Purwito Nugroho, Sp. An NIP. 19551221 198301 1 002

Dr. Purwito Nugroho, Sp. An NIP. 19551221 198301 1 002

KATA PENGANTAR Puji syukur yang sebesar-besarnya penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah dengan Judul Segi Praktis Terapi Cairan, Elekrolit dan Tranfusi Darah ini dapat selesai dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi syarat Kepaniteraan Klinik Bidang Anestesiologi dan Rawat Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang di BLU RSUD Kota Semarang periode 1-27 Juli 2013 Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan dan kerja sama yang telah diberikan selama penyusunan referat ini, kepada : 1. Dr. Susi Herawati, M. Kes., selaku direktur Rumah Sakit Umum daerah Kota Semarang 2. Dr. Wahyu Hendarto, Sp. An., selaku Ka. Instalasi Anestesiologi dan Pembimbing Kepaniteraan Klinik Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD Kota Semarang. 3. Dr. Purwito Nugroho, Sp.An selaku Ka. SMF dan Pembimbing Kepaniteraan Klinik Anestesiologi dan terapi intensif RSUD Kota Semarang. 4. Dr. Donni Indra Kusuma, Sp. An. Msi. Med, selaku Pembimbing

Kepaniteraan Klinik Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD Kota Semarang. 5. Dr. Dian Ayu selaku Residen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro serta Staff Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD Kota Semarang. 6. Rekan-rekan Anggota Kepaniteraan Klinik di Bagian Anestesiologi dan terapi Intensif RSUD Kota Semarang. Penulis menyadari masih banyak kekurangan, karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak, supaya

referat ini dapat menjadi lebih baik, dan berguna bagi semua yang membacanya. Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila masih banyak kesalahan maupun kekurangan dalam makalah ini.

Semarang,

Juli 2013

Penulis

SEGI PRAKTIS TERAPI CAIRAN, ELEKTROLIT DAN TRANFUSI DARAH Farida Ayu Ekasari* , Purwito Nugroho ** ABSTRACT : Fluids and electrolytes is necessary in order to keep the body healthy condition. Fluid and electrolyte balance in the body is one part of the fluid and electrolyte physiology homeostatis.Keseimbangan involves the composition and movement of various tubuh.Cairan fluids and electrolytes into the body through food, drink, and intravenous fluids (IV) and in the distribution to all parts of the body. Fluid and electrolyte balance interdependent with each other: if one disturbed it will affect the lainnya.Gangguan fluids and electrolytes that can bring the patient in the emergency, which if not managed quickly and properly can cause death. The recovery of the volume and composition of body fluids and electrolytes in normal condition called resuscitation fluids and electrolytes. In addition it also needed a blood transfusion to maintain hemodynamic balance. Blood transfusion is the transfer of blood from one person (donor) into another person's blood vessels (recipient). This is usually done as a lifesaving maneuver to replace blood lost through severe bleeding, during surgery when blood loss occurs or to increase the amount of blood in anemic patients. If used properly, blood transfusion can save lives and improve health status.

ABSTRAK : Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis.Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh.Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui

makanan,minuman,dan cairan intravena (IV) dan di distribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.Gangguan cairan dan elektrolit dapat membawa penderita dalam kegawatan, yang kalau tidak dikelola dengan cepat dan tepat dapat menimbulkan kematian. Usaha pemulihan kembali volume serta komposisi cairan dan elektrolit tubuh dalam kondisi yang normal disebut resusitasi cairan dan elektrolit. Selain itu tranfusi darah juga dibutuhkan untuk mempertahankan keseimbangan hemodinamik. Tranfusi darah adalah

pemindahan darah dari satu orang (donor) ke dalam pembuluh darah orang lain (resipien). Hal ini biasanya dilakukan sebagai manuver penyelamatan nyawa untuk menggantikan darah yang hilang karena perdarahan hebat, saat operasi ketika terjadi kehilangan darah atau untuk meningkatkan jumlah darah pada pasien anemia. Jika digunakan secara tepat, transfusi darah dapat menyelamatkan jiwa dan memperbaiki status kesehatan. Kata kunci : Terapi cairan, elektrolit, tranfusi darah
*Co assisten FK Universitas Islam Sultan Agung Semarang **Dokter Spesialis Anestesiologi BLU RSUD Kota Semarang

PENDAHULUAN Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespons terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Keseimbangan cairan adalah esensial bagi kesehatan. Dengan kemampuannya yang sangat besar untuk menyesuaikan diri, tubuh mempertahankan keseimbangan, biasanya dengan proses-proses faal (fisiologis) yang terintegrasi yang mengakibatkan adanya lingkungan sel yang relatif konstan tapi dinamis. Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan cairan ini dinamakan homeostasis. A. KOMPARTEMEN CAIRAN Seluruh cairan tubuh didistribusikan diantara dua kompartemen utama, yaitu : cairan intraselular (CIS) dan cairan ekstra selular (CES). Pada orang normal dengan berat 70 kg, Total cairan tubuh (TBF) rata-ratanya sekitar 60% berat badan atau sekitar 42 L. persentase ini dapat berubah, bergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas ( Guyton & Hall, 1997) 1. Cairan Intraselular (CIS) = 40% dari BB total Adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang dewasa kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah intraselular, sama kira-kira 25 L pada rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya, hanya dari cairan tubuh bayi adalah cairan intraselular. 2. Cairan Ekstraselular (CES) = 20% dari BB total Adalah cairan diluar sel. Ukuran relatif dari (CES)menurun dengan peningkatan usia. Pada bayi baru lahir, kira-kir cairan tubuh terkandung didalam (CES). Setelah 1 tahun, volume relatif dari (CES) menurun sampai kira-kira 1/3 dari volume total. Ini hampir sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria dewasa (70 kg). Lebih jauh (CES) dibagi menjadi : (a) Cairan interstisial (CIT) : Cairan disekitar sel, sama dengan kira-kira 8 L pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstisial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume (CIT) kira-kira sebesar 2 kali lebih besar pada bayi baru lahir dibanding orang dewasa.

(b) Cairan intravaskular (CIV) : Cairan yang terkandung di dalam pembuluh darah. Volume relatif dari (CIV) sama pada orang dewasa dan anakanak. Rata-rata volume darah orang dewasa kira-kira 5-6 L (8% dari BB), 3 L (60%) dari jumlah tersebut adalah PLASMA. Sisanya 2-3 L (40%) terdiri dari sel darah merah (SDM, atau eritrosit) yang mentranspor oksigen dan bekerja sebagai bufer tubuh yang penting; sel darah putih (SDP, atau leukosit); dan trombosit. Tapi nilai tersebut diatas dapat bervariasi pada orang yang berbeda-beda, bergantung pada jenis kelamin, berat badan dan faktor-faktor lain. Adapun fungsi dari darah adalah mencakup : - pengiriman nutrien (mis ; glokusa dan oksigen) ke jaringan - transpor produk sisa ke ginjal dan paru-paru - pengiriman antibodi dan SDP ke tempat infeksi - transpor hormon ke tempat aksinya - sirkulasi panas tubuh 3. Cairan Transelular (CTS) : Adalah cairan yang terkandung di dalam rongga khusus dari tubuh. Contoh (CTS) meliputi cairan serebrospinal, perikardial, pleural, sinovial, dan cairan intraokular serta sekresi lambung. Pada waktu tertentu (CTS) mendekati jumlah 1 L. Namun, sejumlah besar cairan dapat saja bergerak kedalam dan keluar ruang transelular setiap harinya. Sebagai contoh, saluran gastrointestinal (GI) secara normal mensekresi dan mereabsorbsi sampai 6-8 L perhari.

Secara Skematis Jenis dan Jumlah Cairan Tubuh dapat digambarkan sebagai berikut :

PROSENTASE TOTAL CAIRAN TUBUH DIBANDINGKAN BERAT BADAN

DISTRIBUSI CAIRAN TUBUH

Keterangan : Untuk laki-laki, BB = 70 Kg Catatan : Sebenarnya ada kompartemen CES lain, yaitu : limfe & cairan transeluler. Cairan transelular hanya 1-2 % BB, meliputi cairan sinovial, pleura, intraokuler, dll. NILAI RATA-RATA CAIRAN EKSTRASELULER (CES) DAN CAIRAN INTRASELULER (CIS) PADA DEWASA NORMAL TERHADAP BB

Maxwell, Morton H. Clinical Disorders of Fluid and Electrolyte Metabolism, 4th ed. McGraw Hill, 1987, p.9.

B. FUNGSI CAIRAN TUBUH 1. Sarana untuk mengangkut zat-zat makanan ke sel-sel 2. Mengeluarkan buangan-buangan sel 3. Mmbentu dalam metabolisme sel 4. Sebagai pelarut untuk elektrolit dan non elektrolit

5. Membantu memelihara suhu tubuh 6. Membantu pencernaan 7. Mempemudah eliminasi 8. Mengangkut zat-zat seperti (hormon, enzim, SDP, SDM)

C. KOMPOSISI CAIRAN TUBUH Semua cairan tubuh adalah air larutan pelarut, substansi terlarut (zat terlarut) 1. Air Air adalah senyawa utama dari tubuh manusia. Rata-rata pria Dewasa hampir 60% dari berat badannya adalah air dan rata-rata wanita mengandung 55% air dari berat badannya. 2. Solut (terlarut) Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis substansi terlarut (zat terlarut) elektrolit dan non-elektrolit. (a) Elektrolit : Substansi yang berdiasosiasi (terpisah) di dalam larutan dan akan menghantarkan arus listrik. Elektrolit berdisosiasi menjadi ion positif dan negatif dan diukur dengan kapasitasnya untuk saling berikatan satu sama lainatau dengan berat molekul dalam garam. Jumlah kation dan anion, yang diukur dalam miliekuivalen, dalam larutan selalu sama. Kation : ion-ion yang mambentuk muatan positif dalam larutan. Kation ekstraselular utama adalah natrium (Na), sedangkan kation intraselular utama adalah kalium (K). Sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa natrium ke luar dan kalium ke dalam Anion : ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam larutan. Anion ekstraselular utama adalah klorida ( Cl ), sedangkan anion intraselular utama adalah ion fosfat (PO4). Karena kandungan elektrolit dari palsma dan cairan interstisial secara esensial sama (lihat Tabel. 1-2), nilai elektrolit plasma menunjukkan komposisi cairan ekstraselular, yang terdiri atas cairan intraselular dan interstisial. Namun demikian, nilai elektrolit plasma tidak selalu

menunjukkan komposisi elektrolit dari cairan intraselular. Pemahaman perbedaan antara dua kompartemen ini penting dalam mengantisipasi gangguan seperti trauma jaringan atau ketidakseimbangan asam-basa. Pada situasi ini, elektrolit dapat dilepaskan dari atau bergerak kedalam atau keluar sel, secara bermakna mengubah nilai elektrolit palsma. (b) Non-elektrolit : Substansi seperti glokusa dan urea yang tidak berdisosiasi dalam larutan dan diukur berdasarkan berat (miligram per 100 ml-mg/dl). Non-elektrolit lainnya yang secara klinis penting mencakup kreatinin dan bilirubin. Tabel. 1.2 Unsur utama kompartemen cairan tubuh

Ini adalah daftar parsial. Unsur lain termasuk ion kalsium Ca 2+, magnesium Mg2+, protein dan asam organik. Catatan : Nilai tertentu adalah rata-rata. Pendapat ahli lain tentang unsur utama kompartemen cairan tubuh disebutkan sebagai berikut :

Morgan, G. Edward. Clinical Anesthesiology. Appleton & Lange, 1996, p.518

KANDUNGAN ELEKTROLIT CAIRAN TUBUH

INTAKE DAN OUTPUT RATA-RATA HARIAN DARI UNSUR TUBUH YANG UTAMA

Catatan : Kehilangan cairan melalui kulit (difusi) & paru disebut Insensible Loss (IWL) Bila ingin mengetahui Insensible Loss (IWL) maka kita dapat menggunakan penghitungan sebagai berikut : DEWASA = 15 cc/kg BB/hari ANAK = (30 usia (th)) cc/kg BB/hari Jika ada kenaikan suhu : IWL = 200 (suhu badan sekarang 36.8C) (Dari Iwasa M, Kogoshi S. Fluid Therapy. Bunko do, 1995. P 8.) JUMLAH KEHILANGAN AIR DAN ELEKTROLIT per 100 kcal BAHAN METABOLIK DALAM KEADAAN NORMAL MAUPUN SAKIT

D.

FAKTOR-FAKTOR

YANG

MEMPENGARUHI

KEBUTUHAN

CAIRAN DAN ELEKTROLIT Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit diantaranya adalah : 1. Usia Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh, metabolisme yang diperlukan dan berat badan. selain itu sesuai aturan, air tubuh menurun dengan peningkatan usia. Berikut akan disajikan dalam tabel perubahan pada air tubuh total sesuai usia.

2. Jenis kelamin Wanita mempunyai air tubuh yang kurang secara proporsional, karena lebih banyak mengandung lemak tubuh 3. Sel-sel lemak Mengandung sedikit air, sehingga air tubuh menurun dengan peningkatan lemak tubuh 4. Stres Stres dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel, konsentrasi darah dan glikolisis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air. Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH dan menurunkan produksi urine 5. Sakit Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjal dan jantung, gangguan hormon akan mengganggu keseimbangan cairan

6. Temperatur lingkungan Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang dapat kehilangan NaCl melalui keringat sebanyak 15-30 g/hari 7. Diet Pada saat tubuh kekurangan nutrisi, tubuh akan memecah cadangan energi, proses ini akan menimbulkan pergerakan cairan dari interstisial ke intraselular.

E. GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN Gangguan elektrolit yang sering mengancam kehidupan pada pasien dalam keadaan kritis adalah kalium, natrium, kalsium, magnesium dan fosfat. 1. Kalium Penting untuk mempertahankan membrane potensial elektrolit elektrik. Gangguan kadar kalium terutama mempengaruhi: sistem

kardiovaskuler, neuromuskuler dan gastrointestinal. Kadar normal: 3,5-5,5 mEq/L Hipokalemia 1. K<3 mEq/L Gejala : aritmia(ventricular, tachicardia, supraventrikuler, bradicardia), otot lemah atau paralise, parestesia, ileus, kram perut, mual muntah 2. K<2 mEq/L fatal Penyebab a. Pergeseran transelular: alkalosis, hiperventilasi, insulin. b. Kehilangan melalui ginjal: diuresis, alkalosis metabolik, gangguan tubuh ginjal, diabetik ketoasidosis,

obat(diuretika, aminoglosida), muntah dll.

Terapi Berikan KCL - K+ >3 mEq/L oral atau via NGT : 20-40 m.mol
-

K+ <3 mEq/L (4,5 - X)x BBx0,3 = mEq Kecepatan : 0,5 mEq/kg/jam pediatric :0,2-0,3 mEq/kg/jam

Hiperkalemia 1. K+>6 mEq/L, gejalanya aritmia, heart block, bradikardia, knduksi dan kontraksi terbatas 2. K+>7 mEq/L fatal Penyebab: Disfungsi ginjal, asidemia, hioaldosteronisme,obat(potasium, sparing diuretik, ACE inhibitor, NSAIDs), kematian sel, asupan berlebihan Terapi : a. ECG abnormal b. Retribusi kalium: insuli 10 unit dan 5% dextrose 500ml i.v, natrium bikarbonat 1 mEq/kg i.v pela-pelan. c. Ekskresi kalium: loop diuretik(lasix), dialisa d. Hiperventilasi, sehingga CO2 turunalkalosis

respiratorikK+ masuk intrasel 2. Natrium Natrium penting dalam menentukan osmolaritas darah, berperan ada regulasi volume ekstraselular Gangguan natrium mempengaruhi neuronal dan neuromuskular junction Kadar normal: 135-145mg/L

a. Hiponatremia 1. <120mg/L, gejala: disorientasi, gangguan mental, letargi, iritability, lemah dan respiratory arrest 2. <110mg/L gejaa: kejang dan koma Penyebab : - Euvolemia: SIADH, polidipsi psikogenik - Hipovolemi: disfungsi tubui ginjal, diare, muntah, diuretika - Hipervolemia: cirrhosis, nephoresis Terapi : berikan NaCL 3% - NaCL + 125 mg/L restriksi cairan - Na +<120 mg/L NaCL 3% - Pediatrik: 1,5-2,5 mg/L b. Hipernatremia Natrium > 160mg/L, gejala: perubahan mental, letargi, kejang, koma, lemah Penyebab - Kehilangan cairan: diare, muntah, diuresis, diabetes insipidus, keringat berlebihan - Asupan air kurang: tidak ada rasa haus, saah akses - asupan berlebihan: salt tablet, saline hypertonic, bik-nat Terapi : Kelebihan natrium: (X-140)x BBx 0,6= mg Defisit cairan: (X-140)x BB x0,6 :140 = Berikan 5% dextrose in water L

3. Kalsium Kalsium berfungsi untuk kontraksi otot, transmisi impuls saraf, sekresi hormon, pembekuan darah, pembelahan dan pergerakan sel, penyembuhan luka. Kadar kalsium sebaiknya dinilai dari ionized calcium Kadar normal: 1-1,25 m.mol a. Hipokalsemia Ca+<1m.mol/L, gejala: hipotensi, bradicardia, arrytmia, heart failure, lemah spasme otot, tetani parestesia, kejang. Penyebab: Hioparatiroid, sepsis, luka bakar, pankreatitis,

malabsorbsi, liver disease, renal disease, hipomagnesia, transfusi masif, rhabdomyoolysis Terapi: CaCl2 10%: 3-4 ml atau CaGuconas 10%: 10 ml b. Hiperkalsemia Ca++>1,3 m.mol/L, gejala: hipertensi, cardiac iscemik, arrytmia, bradicardia, gangguan konduksi, digitalis toxicity, dehidrasi, lemah, depresi mental, mual muntah, konstipasi, koma,kejang, pankreatitis, ulser disease, sudden death. Penyebab: hiperparatiroidea, keganasan, immobilisasi,

kelebihan vit A atau D, thyrotoxicosis Terapi: NaCl 0,9%+ loop diuretik(furosemid) NaCl: perbaikan volume intravaskulerperfusi jaringan dan aliran darah ke ginjal adekuat Diuretika : meningkatkan ekskresi kalsium

4. Magnesium Berfungsi untuk tranverr energi dan stabilitas elektrik Penyebab : - Kehilangan lewat ginjal: diuretik, disfungsi tubuli ginjal dll - Kehilangan lewat gastrointestinal: diare, malabsorbsi, nasogastric suction. - Pergeseran transeluler - Pulih dari hipotermia, refeeding - Asupan kurang - Malnutrisi, alkoholisme, nutrisi pariental Gejala: koma, hiperkalemia, hipokalsemia Terapi : Emergensi(arrytmia): Mg SO4 10%-->0,2 ml/kg/dose i.v 5. Fosfat Fosfat berperan dalam metabolisme energi sel. Penyebab : - Pergeseran transelular - Kehilangan lewat ginjal: hierkalemia, steroid, diuretik - Kehilangan lewat gastrointestinal: diare, malabsorbsi - Asupan kurang: malnutrisi Terapi : - >1 mg/dL interal -<1 mg/dLpotassium phosphate: 0,6-0,9 mg/kg/jam i.v, kemudian 1000mg/hari + kehilangan (excess loss) 3.

F. PENATALAKSANAAN Pemberian cairan merupakan pengobatan utama pada penderita dengan kekurangan cairan tubuh, karena dengan pemberian cairan dapat mecegah dan menghindari keadaan syok hipovolemik dan asidosis bahkan kematian. Sebagai pedoman dalam pemberian cairan adalah : a. b. Tingkat Dehidrasi Dapat ditentukan dengan mengukur Berat Jenis plasma & mengamati gejala klinis yang terjadi. . Melihat gejala klinis ada dua macam metode sebagai berikut : 1.Klasifikasi Klinis Pierce :
Gejala Klinis Dehidrasi ringan : Turgor sdkt menurun Takhikardi, rasa haus 5% Berat Badan Defisit Cairan

Tingkat dehidrasi. Tingkat blood loss Macam cairan Cara-cara pemberian Monitoring5.

Dehidrasi sedang : -turgor jelas menurun, haus sekali nadi lemah, takhikardi, hi[otensi 8% Berat Badan

Dehidrasi berat : turgor sangat menurun ,mata cowong stupor atau koma nadi lemah/tak teraba, hipotensi Sianosis ujung extremitas. 10% Berat Badan

:Mengukur Berat Jenis Plasma Metode Cupri Sulfat. BJ Plasma sesuai dengan BJ larutan Cupri Sulfat

BJ Plasma setara dengan pengukuran CVP dan sangat peka terhadap perubahan volume plasma Defisit cairan menurut rumus Morgan-Watten : = BJ Plasma 1,025 X Berat Badan x 4 ml 0,001

Pemeriksaan lainnya adalah pemeriksaan Berat Jenis (BJ) Urine, Hematokrit (Ht)tdan elektrolit darah. Dalam keadaan dehidrasi BJ urine dan Ht akan naik2.

Macam Cairan Terapi cairan ada dua,meliputi : 1. resusitasi (kristaloid dan koloid) menggantikan kehilangan akut cairan tubuh. 2. rumatan ( elektrolit dan nutrisi) memelihara keseimbangan cairan tubuh dan nutrisi. 3. cairan khusus cairan hipertonik: NaCl 3%, mannitol 20%, bic-nat6 . Berdasarkan cara pemberiannya, dapat dibagi menjadi : 1. Cairan rehidrasi Oral Cairan ini dapat diberikan dengan cara diminum atau melalui pipa nasogastrik, secara umum dikenal dengan nama oraliti. Kesadaran di sini diperlukan untuk menghindari terjadinya aspirasi dan tidak ada sumbatan pada tractus . Cairan ini mudah didapat dan diberikan, tidak perlu steril. Cairan ini diberikan dalam keadaan hangat dengan jumlah 1,5 kali jumlah defisit cairan penderita5. 2. Cairan Rehidrasi Infus Cairan ini diberikan secara intravena untuk menanggulangi secara cepat defisit cairan tubuh. Macam cairan untuk menanggulangi keadaan darurat antara lain digunakan a. Cairan kristaloid b.Cairan koloid

c. Darah2. A. Cairan Kristaloid : Ringer Laktat, Ringer Asetat (Asering ) dan NaCl. Cairan ini komposisinya mirip dg cairan extracelluler. Cairan yg diberikan akan merembes dari intravasculer masuk kedalam interstitiel, dan akhirnya akan mencapai keseimbangan setelah interstitiel jenuh. Molekul kecil bertahan - 1 jam dalam intravaskuler Hemodilusi dg cairan elektrolit bertujuan untuk :

- memberikan koreksi defisit extracelluler - mempertahankan hemodinamik dan perfusi yg baik sementara darah donor belum ada. - menghemat jumlah darah donor yg perlu ditransfusikan. paling baik untuk menanggulangi dehidrasi secara cepat terutama dehidrasi oleh karena pendarahan, gastroenteritis / kholera dan sebagainya. pemberian : 3 4 x jumlah volume darah yang digantikannya Penggunaan: Pemeliharaan : D5-1/2 N Pengganti: RL, NaCl 0,9 % Tujuan tertentu : NaCl 3 % , Bik Nat 8 %2 . Ringer Asetat Keunggulan : Asetat dimetabolisme di otot dan masih dapat ditolerir pada pasien yang mengalami gangguan hati. RA lebih berguna daripada RL selama CPB. Pemberian sebelum operasi atau durante operasi sesar, dapat mengurangi resiko hipotermia pada ibu. Ringer Asetat sangat baik mempertahankan suhu sentral pasien pei operatif dibandingkan pada anestesi isofluran dan sevofluran. Pada kasus stroke akut, untuk meningkatkan osmolaritas, agar menjadi isotonis dengan cairan tubuh, maka ke dalam ASERING dapat

ditambahkan MgSO4 20% sebanyak 5 mL sehingga memperkecil risiko memburuknya edema cerebral. efisien untuk mengatasi asidosis..

Metabolisme Asetat C2H3O2 + 2O2 CO2 + H2O + HCO3 (Asetat)

Metabolisme asetat berlangsung lebih cepat, hemat oksigen Lebih efisien karena tidak ada siklus Cori6

Indikasi : Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi : gastroenteritis akut demam berdarah dengue (DHF) luka bakar syok hemoragik dehidrasi berat trauma

B. Cairan koloid : Cairan Koloid dibagi 2 golongan : 1. Koloid Alami : plasma protein, albumin, darah, Erythrocyte concentrates 2. Koloid sintetis : - Dextran, dosis lebih dari 10 15 ml/kg BB menyebabkan gangguan proses pembekuan yang besar: Dextran 70, Dextran 40, max 2 botol - Gellatin jumlah pemberian tak terhingga,kurang efisien karena hanya mengisi sekitar 70 %: Hemacel, Gelofundin - Hydoxy Ethyl Starch ( HES ) =2 botol - Polyvinyl Pyrolidone ( PVC ) : Subtosan, Periston7 . Koloid sintesis: Mempunyai nilai oncotic yg tinggi, sehingga mempunyai volume effect lebih baik dan 4 6 jam dalam intravaskuler Mengurangi kebutuhan darah ataupun albumin Diterima untuk semua golongan darah Banyak tersedia di apotik dan dapat langsung digunakan Tidak ada resiko infeksi / kontaminasi Tahan dalam penyimpanan

Plasma expander tdk dpt mengkoreksi defisit kompartemen extrascelluler7 .

Cairan koloid mengandung molekul-molekul besar yang berfungsi seperti albumin dalam plasma. Sedangkan pemberian transfusi darah akan mengkoreksi volume plasma saja, sedangkan volume interstitiel masih tetap kekurangan cairan2. VOLUVEN INDIKASI 1. Terapi dan pencegahan pada shock hypovolaemia Sehubungan dengan : - Pembedahan - Dengue Shock Syndrome /DSS - Luka bakar - Sepsis -Trauma

- Preloading pada spinal anesthesia - Extracorporeal circulation - Terapi Haemodilution - kerusakan mikrosirkulasi Keutamaan VOLUVEN : Satu-satunya Koloid buatan yang diberikan ijin untuk penggunaan pada neonatus dan anak Dosis yang dapat diberikan jauh lebih banyak (50ml/kg/hr) 6 botol. Tidak di akumulasi di plasma, tidak mengganggu ginjal Tidak mengganggu koagulasi darah Tidak disimpan dalam jaringan mempunyai back up penelitian yang lengkap Memiliki volume efek yang baik (100%) Reaksi anafilaksi/anafilaktoid yang paling kecil, oedem minimal. Kebocoran kapiler lebih kecil, durasi lama (4-6 jam) Bahan baku jagung sangat aman (Gelatine terbuat dari tulang sapi ) Stabilitas suhu baik (pada suhu rendah gelatine dapat membeku ) Mengurangi waktu resusitasi Memperbaiki aliran di mikrosirkulasi4 KELOMPOK HES ( Hidroxy Ethyl Starch) - HES Heta ,Penta. - HES Tetra : BM 130 D = Dewasa dan Anak. Osmol : 308 , isotonis. koagulasi darah tidak terganggu ,derajat Substitusi rendah aman utk ginjal d/p BM 200 KD tahan 4 6 jam, mengisi 100 % yang diberikan. dosis : 50 cc/kgBB/hari ~ 5 - 6 btl Dws 50 KgBB. lebih lama bertahan di intravaskuler. reaksi anapilaksis paling ringan, reaksi oedem minimal7 Cara-cara Pemberian Cairan - dehidrasi ringan atau sedang sejumlah cairan dibagi dalam waktu 24 jam pertama sambil diawasi perubahan gejala klinis yang terjadi, perubahan Ht, plasma elektrolit dan perubahan tekanan vena sentral - dehidrasi berat

tahap I: rehidrasi cepat diberikan cairan 20-40 ml/KgBB dalam 1 2 jam. tahapII : setengah sisa defisit tahap I diberikan dalam waktu 6 jam. tahap III : sisa defisit diberikan selama 16 17 jam 2. Di tambahan kebutuhan dasar tubuh (maintenance/rumatan) untuk mengatasi cairan yang hilang selama dilakukan terapi, yaitu 2 cc/KgBB/jam. Dan juga elektrolit-elektrolit yang dibutuhkan sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium.(Kebutuhan K 1 Meq/Kg BB/HR, Na 2 Meq/Kg BB/HR). - Penderita dengan perdarahan 1. Menentukan volume darah yang hilang. - Diukur. - Melihat gejala klinis : - Minimal : <10 % EBV tidak diperlukan cairan secara parenteral - Shock ringan (preshock), acral mulai dingin, kehilangan darah : 10-15% EBV volume darah diganti dengan cairan kristaloid (RingerLaktat, Ringer Asetat /Asering, dan NaCl) dengan volume 2,5 4 kali jumlah darah yang hilang. - Shock sedang (T<90 mmHg N.120x/menit), kehilangan darah : 15-20% EBV volume darah diganti dengan cairan koloid sejumlah darah yang hilang. - Shock berat, perfusi sangat buruk T tak terukur & N tak teraba, gangguan kesadaran . Kehilangan darah : > 20 % EBV volume darah diganti dengan darah sesuai dengan darah yang hilang2. Setiap pemberian cairan pengganti perdarahan, pertama kali yang diberikan adalah Kristaloid lebih dahulu baru kemudian sisa perdarahan diganti dengan koloid dan darah sesuai procentase darah yang hilang2. - Menggunakan Status Trauma dari Giesecke:: Tanda Klinis Sesak napas Tensi Nadi Kesadaran T.Score I normal cepat normal T.Score II Ringan turun sangat cepat disorientasi T.Score III ++ tak terukur tak teraba -- coma

Urine CVP Gas Darah Blood Loss

normal normal normal ----10% EBV

oliguria rendah PO2 PCo2

anuria sangat rendah Po2 PCO2 > 50% EBV

---30% EBV

Estimated Blood Volume (perkiraan Jumlah darah) = 65 70 ml/KgB2 2. Pergeseran cairan : Kehilangan darah sp 10% tdk mengganggu kompartemen lain Kehilangan darah > 25% atau bila terjadi hipotensi ---- mengganggu kompartemen interstitiel dan intrasel. Cairan interstitiel berkurang, oleh karena :

- Masuk ke intravasculer ( hemodilusi ) - Masuk ke intrasel. Hal ini terjadi, karena adanya hipoksia ----- pompa sodium tdk berfungsi & membran sel bocor, sehingga sodium dari interstitiel masuk ke intrasel bersama ai7. 3. Jumlah eritrosit / Hb yang tinggal . Eritrosit untuk transport oksigen. Keadaan normal, jumlah oksigen yg tersedia utk jaringan adalah = COP x Sat.O2 x Hb x 1,34 + Co x Po2 x 0,003 Unsur Co x Po2 x 0,003 nilainya kecil, sehingga dlm penyediaan oksigen utk jaringan tergantung pada cardiac out put, saturasi oksigen dan Hb saja. Batas maksimal kompensasi hanya 3 (tiga) kalinya saja. Jika Hb turun 1/3 nya, COP dapat meningkat jadi 3 kalinya, maka penyediaan oksigen ke jaringan masih tetap normal. 4. Faktor pembekuan . Perdarahan masih ----- faktor pembekuan banyak yg hilang Faktor pembekuan yg hilang perlu diganti dg pemeberian darah segar, thrombosit dan FFP Penelitian Takaori : Hb < 6 g%, terjadi pemanjangan waktu perdarahan lebih dari 10 menit2. B. Terapi Rumatan 1. Elektrolit

. KA-EN 1B Indikasi : sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal : dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam, sengatan panas, < 24 jam.

Direkomendasikan untuk usia 3 tahun atau berat badan 15 kg. KA-EN 3A Indikasi : larutan rumatan rasional untk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas. Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A. Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B. KA-EN 3B

Direkomendasikan untuk usia 3 tahun atau berat badan 15 kg5. 2. Nutrisi AMIPAREN Keunggulan : mengandung asam amino 10% dan BCAA 30%. Suplai asam amino pada stres metabolik berat Memperbaiki imbang nitrogen

Indikasi : - stres metabolik berat - luka bakar - infeksi berat - kwashiorkor - pasca operasi - total parenteral nutrition - dosis dewasa 100 mL selama 60 menit - informasi : kecepatan pemberian asam amino adalah 10 gr/jam5.

Monitoring dalam Pemberian Cairan Menjaga supaya pemberian cairan tidak mengalami kelebihan atau kekurangan, meliputi : a. Perubahan gejala klinis yang mencerminkan fungsi susunan saraf pusat, misalnya : penurunan kesadaran. b. c. d. e. Perubahan sistem kardiovasculer, meliputi :Nadi, tensi., hilangnya kolaps vena perifer. Perubahan turgor. Perubahan produksi urine. Perubahan-perubahan haematokrit, elektrolit dan lain sebagainya2.