Anda di halaman 1dari 7

CASE STUDY 1 WIDHARIYANI PURNOMOPUTRI G1G011006 A.

Golongan Obat Menurut Hayes (1996) inflamasi merupakan suatu reaksi fisiologis tubuh terhadap cedera pada jaringan. Pada saat proses inflamasi berlangsung, terjadi suatu reaksi peningkatan permeabilitas kapiler, rasa nyeri dan demam. 1. Obat Anti Inflamasi Obat anti inflamasi merupakan obat yang dibutuhkan mediator untuk kimia menghambat

sehingga dapat mengurangi proses inflamasi.


Gambar1. Mekanisme Inflamasi

Berdasarkan digolongkan menjadi

mekanisme kerjanya, obat anti inflamasi dua, yakni golongan kortikosteroid dan golongan nonsteroid.

vaskular

dimana

cairan,

elemen

darah, sel darah putih dan mediator kimia berkumpul di tempat cedera. Mediator kimia seperti histamin, kinin dan prostaglandin dilatasi akan arteri, menyebabkan

asma, radang rematik, radang usus, radang ginjal dan sebagainya. Selain itu, obat ini juga dapat digunakan pada penyakit sistem kekebalan tubuh seperti alergi dan lupus. Obat-obatan yang termasuk ke dalam golongan kortikosteroid a. Kortikosteroid Obat golongan kortikosteriod bekerja dengan cara b. Non steroid menghambat enzim fosfolipase A2 pada membran sel sehingga tidak terbentuk asam arakidonat dan prostaglandin yang akan memicu reaksi inflamasi atau radang. Ikawati (2010) menambahkan obat golongan kortikosteroid pada umumnya digunakan untuk radang, seperti diantaranya pednison, deksametason, metilprednisolon,

betametason dan hidrokortison.

Gambar2. Siklus Prostaglandin

Menurut Hayes (1996) obat golongan non steroid atau NSAID (non steroid anti

2. Obat Analgesik Menurut Lubiz (2011) obat analgesik merupakan obat yang

dibutuhkan Gambar3. Turunan NSAID inflammatory siklooksigenase sehingga tidak drug) atau bekerja COX

untuk menghilangkan dan pelepasan Berdasarkan kerjanya, obat

atau menekan rasa nyeri akibat pembengkakan inflamasi. mekanisme dengan cara menghambat enzim terbentuk mediator kimia saat terjadi reaksi

prostaglandin dan tromboksan. Ikawati (2010) menambahkan obat golongan non steroid pada umumnya digunakan sebagai agen anti inflamasi dan nyeri serta memiliki efek analgesik dan antipiretik yang berbedabeda. Obat pada golongan ini lebih cocok digunakan untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan, kekuan sendi

analgesik digolongkan menjadi dua, yakni analgesik perifer dan analgesik sentral. 1. Analgesik perifer Obat bekerja menghambat mediator terhambat prostaglandin kimia dan tidak analgesik dengan perifer cara pelepasan sehingga sintesa terjadi.

aktivitas enzim siklooksigenase

dibandingkan untuk meredakan sakit kepala dan demam. Obatobat yang termasuk ke dalam golongan non steroid terdapat pada Gambar3.

Obat yang termasuk golongan ini adalah NSAID. 2. Analgesik sentral

Obat reseptor medulla pelepasan tidak opoid.

analgesik di kornu

sentral dorsalis sehingga dan yang

Obat ini digunakan pada nyeri yang kuat hingga paling kuat dan bekerja terutama di sentral mirip dengan analgesik narkotik. dengan endogen Obat yang ini bekerja nyeri terutama menghambat

bekerja dengan cara menempati spinalis

transmitter Obat

perangsangan ke saraf spinal terjadi. termasuk golongan ini adalah

terlokalisir di batang otak dan sumsum tulang belakang. Obat yang termasuk golongan ini adalah semua opioid atau derivat sintetiknya. 2. Analgesik bekerja antipiretik Obat ini digunakan pada nyeri lemah hingga sedang dan bekerja terutama di perifer. Obat yang termasuk ke dalam golongan ini adalah derivat asam salisilat, derivat asam aritasetat arilpropionat. 3. Analgesik efek antifagositik Obat ini digunakan untuk jangka pendek pada nyeri sedang hingga kuat dan bekerja di sentral. Obat ini juga bekerja dengan memodulasi system nonopioid antipiretik tanpa dan dan derivat yang terutama dan

Schmitz (2003) menambahkan bahwa berdasarkan pada kekuatan efek, mekanisme kerja dan efek sampingnya, obat analgesik digolongkan menjadi tiga, yakni analgesik mirip opioid, analgesik yang terutama bekerja antiflogistik dan antipiretik, dan analgesik nonopioid tanpa efek antipiretik dan antiflogistik. 1. Analgesik mirip opiod

antiflogistik

adrenergik dapat

bulbospinal

dan

a. Indikasi Obat ini digunakan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang pada pasien sakit gigi, sakit kepala, dismenor primer, nyeri traumatik, nyeri otot dan nyeri pasca operasi.

pada dosis yang sangat tinggi menghambat Obat sintesis yang prostaglandin.

termasuk golongan ini adalah flupiritin dan nefopam.

B. Ponstan Menurut Yeo (2013) ponstan atau mefenamic acid merupakan obat yang termasuk golongan NSAID sebagai analgesik non opoid anti

b. Kontra indikasi Obat ini tidak disarankan untuk digunakan pada pasien dengan tukak gastrointestinal, gagal hati dan gagal ginjal, serta apabila aspirin lainnya. 3. Mekanisme Kerja Obat pasien telah atau bronkospasme, menggunakan obat NSAID rhinitis alergi dan urtikaria

inflamasi.

Gambar4. Ponstan Tablet

Menurut Topol (2013) obat ini bekerja sebagai anti inflamasi dengan cara menghambat enzim tidak siklooksigenase 1 (COX-1) dan 2 (COX-2) sehingga sintesis prostaglandin dalam jaringan tubuh terhambat. Obat ini juga dapat menghambat kemotaksis, mengubah mengurangi aktivitas aktivitas limfosit, sitokin

1. Dosis Terapetik Obat Obat ini

direkomendasikan untuk pasien dibawah 14tahun. Pada pasien diatas 14 tahun dosis awal yang digunakan adalah 500mg secara peroral, selanjutnya 250mg/6jam dan tidak disarankan penggunaan obat melebihi 7hari. 2. Indikasi dan Kontra Indikasi

proinflamasi dan menghambat agregasi neutrofil.

yang memerlukan kombinasi C. Danalgin Menurut Yeo (2013) danalgin merupakan golongan mengandung obat yang termasuk Danalgin 500mg analgesik. metampiron dengan transquilizer. b. Kontra indikasi Obat ini tidak disarankan untuk digunakan psikosis pada berat, penderita dengan kemungkinan pendarahan, hamil, glukoma dan porfiria. Obat ini akan menyebabkan hipersensitivitas pada derivat pirazolon. 3. Mekanisme kerja obat Menurut
Gambar5. Diazepam 2mg

sebagai analgesik dan diazepam 2mg sebagai obat penenang.

Topol saraf nyeri pusat

(2013) pusat dan

metampiron pada danalgin bekerja terhadap untuk reseptor susunan mengurangi rasa sensitivitas pengatur

1. Dosis terapetik obat


Gambar4. Ponstan tablet

Dosis danalgin yang lazim diberikan 4x/hari. pada orang dewasa adalah 1-2 kaplet sebanyak 3-

mempengaruhi

suhu tubuh sebagai analgesik, antipiretik dan anti inflamasi. Sedangkan danalgin meningkatkan efek menenangkan. diazepam bekerja pada dengan

2. Indikasi dan kontra indikasi a. Indikasi Obat ini digunakan untuk meringankan rasa sakit sedang hingga berat, seperti nyeri kolik dan sakit pasca operasi

penghambatan

presynaptik untuk menimbulkan

DAFTAR PUSTAKA

Hayes, E.R., dan Kee,J.L., 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, diterjemahkan oleh Peter Anugrah, EGC, Jakarta. Ikawati, Z., 2010, Cerdas Mengenali Obat, Kanisius, Yogyakarta. Lubiz, A.F., 2011, Pengaruh Pemberian Klonidine 75 g Oral Preoperatif Terhadap tramadol Hidrochloride 2,5 mg/KgBB/IV Untuk Penatalaksanaan Nyeri Paska Bedah, Thesis, Program Magister Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan. Tolon, E.J., 2013, Medsacape, di akses dari http://reference.medscape.com/drug/ponstel-mefenamic-acid-343294 pada tanggal 08 September 2013 pukul 20.03 Schmitz, G., Lepper, H dan Leidrich, M., 2003, Farmakologi dan Toksikologi Edisi 3, diterjemahkan oleh Joseph J, EGC, Jakarta. Yeo, Ben., 2013, Master Index of Medical Specialities Edisi Bahasa Indonesia Volume 14, BIP, Jakarta.