Anda di halaman 1dari 54

METODE PENDEKATAN INKUIRI DALAM PELAJARAN KIMIA MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Strategi Belajar Mengajar Kimia

Selvy P. W Suryadinata Laily Yunita Susanti Ayu E Kusumaningtyas Daret I. M Safitri Fajar Nugroho Anisatus Solekah

107331407123 107331407293 107331207303 107331407295 107331407126 106331403371

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MALANG September 2009

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii BAB I....................................................................................................... 1 PENDAHULUAN....................................................................................... 1 A. Latar belakang................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah...........................................................................2 C. Tujuan........................................................................................... 2 BAB II...................................................................................................... 4 PEMBAHASAN......................................................................................... 4 A. Konsep Dasar.................................................................................. 4 1. Pengertian pendekatan inkuiri.....................................................4 2. Karakteristik pendekatan inkuiri.....................................................5 3. Prinsip pendekatan inkuiri............................................................8 B. Landasan Teori................................................................................ 9 C. Bentuk bentuk Pembelajaran dan Sintaknya..............................10 1. Inkuiri Terbimbing......................................................................10 2. Inkuiri Bebas.............................................................................. 11 D. Assesmen..................................................................................... 15 E. Kelebihan dan Kekurangan...........................................................19 F. Implementasi Pendekatan Inkuiri dalam Pelajaran Kimia..............21 PENUTUP.............................................................................................. 26 1. Kesimpulan................................................................................... 26 A. Konsep Dasar Pendekatan Inkuiri..............................................26 B. Landasan Teori..........................................................................26 C. Bentuk-bentuk Pembelajaran dan Sintaknya.............................27 D. Asesmen.................................................................................... 27 E. Kelebihan dan Kekurangan........................................................27

ii

2. Saran............................................................................................. 29 LAMPIRAN 1.......................................................................................... 32 LAMPIRAN 2.......................................................................................... 44

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Salah satu permasalahan dalam dunia pendidikan adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Kenyataan yang terjadi bahwa dalam proses pembelajaran di kelas, siswa diarahkan kepada kemampuan untuk menghafal informasi. Siswa dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi dan mengaplikasikan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mengakibatkan ketika anak lulus sekolah, mereka hanya pintar secara teoritis tetapi sangat miskin aplikasi. Dalam implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru merupakan komponen yang sangat penting, sebab keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan sangat tergantung pada guru. Oleh karena itu upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari pembenahan kemampuan guru. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru adalah bagaimana merancang suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai, karena tidak semua tujuan dapat tercapai hanya dengan satu strategi tertentu. Kemajuan teknologi informasi di era globalisasi saat ini menuntut guru untuk mengubah paradigma tentang mengajar yaitu dari sekedar menyampaikan materi pelajaran menjadi aktivitas menyampaikan materi pelajaran menjadi aktivitas mengatur lingkungan agar siswa belajar. Banyaknya konsep kimia yang bersifat abstrak yang harus diserap siswa dalam waktu relatif terbatas menjadikan ilmu kimia merupakan salah satu mata pelajaran sulit bagi siswa sehingga banyak siswa gagal dalam belajar kimia. Pada umumnya siswa cenderung belajar dengan hafalan daripada secara aktif mencari untuk membangun pemahaman mereka sendiri terhadap konsep kimia. Ada juga sebagian siswa yang

sangat

faham

pada

konsep-konsep

kimia,

namun

tidak

mampu

mengaplikasikan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjadikan materi kimia menjadi lebih menarik, maka guru harus mampu mengambil suatu kebijakan yaitu dengan perbaikan metode mengajar sehingga kompetensi belajar yang diharapkan akan tercapai dengan baik, sebab dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat akan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran di kelas. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran kimia adalah strategi pembelajaran inkuiri. Strategi pembelajaran inkuiri cocok digunakan pada materi-materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari misalnya pokok bahasan larutan asam basa. Metode inkuiri dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan materi yang diberikan dapat lebih bermakna bagi siswa. Untuk itu penulis akan membahas tentang strategi pembelajar inkuiri atau yang sering disebut dengan pendekatan inkuiri. B. Rumusan Masalah 1. Apakah konsep dasar dari pendekatan inkuiri? 2. Landasan teori apa yang terdapat pada pendekatan inkuiri? 3. Apa saja bentuk-bentuk pembelajaran pada pendekatan inkuiri? 4. Bagaimanakah asesmen yang sesuai untuk pendekatan inkuiri? 5. Apakah kelebihan dan kekurangan dari pendekatan inkuiri? 6. Bagaimana implementasi pendekatan inkuiri dalam pelajaran kimia? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui konsep dasar dari pendekatan inkuiri. 2. Untuk mengetahui landasan teori yang terdapat pada pendekatan inkuiri.

3. Untuk mengetahui bentuk-bentuk pembelajaran pada pendekatan inkuiri. 4. Untuk mengetahui asesmen yang sesuai untuk pendekatan inkuiri. 5. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari pendekatan inkuiri. 6. Untuk mengetahui implementasi pendekatan inkuiri dalam pelajaran kimia.

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Konsep dasar dalam pendekatan inkuiri terdiri dari pengertian, karakteristik dan prinsip yang akan di bahas di bawah ini. 1. Pengertian pendekatan inkuiri Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukan. Pertanyaan ilmiah adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Dengan kata lain, inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Schmidt, 2003). Inkuiri sebenarnya merupakan prosedur yang biasa dilakukan oleh ilmuwan dan orang dewasa yang memiliki motivasi tinggi dalam upaya memahami fenomena alam, memperjelas pemahaman, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari -hari (Hebrank, 2000; Budnitz, 2003; Chiapetta & Adams, 2004). Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi da meliputi kegiatan-kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan yang relevan, mengevaluasi buku dan sumber-sumber informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau investigasi, mereview apa yang telah diketahui, melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data, serta membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya (Depdikbud, 1997; NRC, 2000). Sebagai strategi pembelajaran, inkuiri dapat diimplementasikan secara terpadu dengan strategi lain sehingga dapat membantu pengembangan pengetahuan dan pemahaman serta kemampuan melakukan kegiatan inkuiri oleh siswa.

Berikut ini pengertian pendekatan inkuiri oleh beberapa ahli: a) Oemar Hamdik (1999) Pengajaran berdasarkan inkuiri ( Inquiry based Teaching) adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa (student centered strategi) dimana kelompok-kelompok siswa kedalam suatu per-soalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang digariskan secara jelas. Dalam hubungan ini perlu dibahas pendekatan generalisasi terhadap inkuiri yang disebut inkuiri yang berpusat pada masalah (Problem Centered Inquiry) yang terdiri atas dua jenis, yakni Inkuiri yang berorientasi kepada discover ( Discovery-oriented Inquiry) dan inkuiri berdasarkan kebijakan (Policy-Based Inquiry) b) Piaget Pendekatan inkuiri sebagai pendidikan yang mempersiapkan situasi bagi peserta didik untuk melakukan eksperimen sendiri. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencari sendiri jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan. c) Kuslan dan stone (2003). Mendefinisikan inkuiri sebagai pengajaran dimana guru dan siswa mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para ilmuwan. d) W. Gellu (2005). Mendefinisikan inkuiri sebagai suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan analisis. Sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. 2. Karakteristik pendekatan inkuiri Pendekatan inkuiri didukung oleh empat karakteristik utama siswa, yaitu: a) secara instintif siswa selalu ingin tahu b) di dalam percakapan siswa selalu ingin bicara dan mengkomunikasikan idenya

c) dalam membangun (konstruksi) siswa selalu ingin membuat sesuatu d) siswa selalu ingin mengekspresikan kemampuannya. Beberapa karakteristik lain yang terdapat dalam pendekatan inkuiri adalah sebagai berikut: 1. Berorientasi pada pengolahan informasi. Pada pendekatan inkuiri berorientasi pada pengolahan informasi dengan tujuan melatih peserta didik memiliki kemampuan berpikir untuk dapat menemukan dan mencari sesuatu pengetahuan secara ilmiah. Dengan pendekatan inkuiri, pembelajaran dimaksudkan untuk membantu peserta didik secara ilmiah, terampil mengumpulkan fakta, menyusun konsep, menyusun generalisasi secara mandiri. 2. Pembelajaran dapat dilakukan dengan melibatkan peserta didik. Pembelajaran dapat dilakukan dengan melibatkan peserta didik dalam proses kegiatan belajar yang menggunakan proses mental melalui tukar pendapat atau diskusi, seminar dan sebagainya. 3. Mempunyai proses mental yang lebih kompleks. Pendekatan pembelajaran dengan inkuiri mempunyai proses mental yang lebih kompleks; sebagai contoh, merancang eksperimen, menganalis data, menarik kesimpulan. Dalam pelaksanaan inkuiri dibutuhkan sikap-sikap objektif, jujur, terbuka, penuh dorongan ingin tahu dan tangguh dalam pendirian. 4. Konsep dan prinsip ditemukan oleh peserta didik. Konsep dan prinsip itu ditentukan sebagai hasil atau akibat adanya pengalaman belajar yang telah diatur secara seksama oleh pengajar. Contoh : Praktik penyelidikan di laboratorium atau tugas observasi pada pelajaran Kimia dalam membahas salah satu praktikum. Hasilnya dapat diramalkan sebelumnya sesuai dengan pengaturan pengajar. Selain yang telah dipaparkan di atas, model pembelajaran inkuiri juga bersifat bebas. Kemungkinan lain peserta didik dilepas atau diberi kesempatan bebas untuk mencari sesuatu sampai menemukan hasil belajar melalui proses di bawah ini:

a) Asimilasi yaitu menyesuaikan hasil pengamatan ke dalam struktur kognitif yang telah ada pada peserta didik. b) Akomodasi yaitu mengadakan perubahan-perubahan dengan pengertian penyesuaian alam struktur kognitif sehingga sesuai dengan gejala (fenomena) baru yang diamati. Menurut J. Richard Suchman, tentang hakikat pendekatan proses inkuiri dan komponen-komponen penting untuk inkuiri yang efektif, menjelaskan bahwa proses inkuiri terutama ditujukan kepada kreativitas. Suchman tertarik pada kata pengertian dan bagaimana pengertian itu terbentuk pada diri peserta didik. Dengan kata lain, bagaimana peserta didik mengadakan respon (reaksi) kalau datang stimulus (rangsang) pada persepsinya. Secara operasional syarat pendekatan inkuiri dalam pembelajaran memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) 1. Dari segi pendidik ( guru ) Suatu masalah ditemukan kemudian pendidik mempersempit hingga terlihat kemungkinan masalah itu dapat dipecahkan oleh peserta didik. 2. 2) 1. sendiri. 2. 3. Hipotesa dirumuskan oleh peserta didik. Peserta didik mengusulkan cara-cara pengumpulan data, me-lakukan eksperimen, mengadakan pengamatan, membaca dan menggunakan 4. sumber-sumber lain ( pemecahan masalah dilakukan oleh peserta didik sendiri). Peserta didik melakukan penelitian, baik secara individu ataupun kelompok untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji hipotesa. Semua usul, asumsi-asumsi, keterlibatan-keterlibatan, dan kesukaran-kesukaran dinilai secara bersama. Dari segi peserta didik ( siswa ) Peserta didik bersemangat sekali untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dihasilkan mereka

3)

Dari segi Prasarana 1. Dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri lebih mengedepankan ketrampilan. 2. Tidak ada keharusan untuk menyelesaikan unit tertentu, dalam waktu tertentu. 3. Penggolongan data sampai kesimpulan yang bersifat sementara dilakukan oleh peserta didik.

3. Prinsip pendekatan inkuiri Penggunaan strategi pembelajaran inkuiri memiliki beberapa prinsip, antara lain: a. Berorientasi pada pengembangan intelektual. Tujuan utama dari strategi pembelajaran inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir dan berorientasi pada proses belajar. Keberhasilan pembelajaran ini terlihat pada aktivitas siswa untuk mencari dan menemukan sesuatu yang merupakan gagasan yang pasti. b. Prinsip Interaksi. Proses pembelajaran merupakan interaksi antara siswa dengan guru dimana guru berperan sebagai pengatur lingkungan dan pengatur interaksi belajar. Guru mengarahkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. c. Prinsip bertanya. Guru juga berperan sebagi penanya karena kemampuan siswa untuk bertanya pada dasarnya sudah merupakan bagian dari proses berpikir. d. Prinsip belajar untuk berpikir. Belajar merupakan proses berpikir yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak secara maksimal. e. Prinsip keterbukaan. Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Untuk itu siswa hendaknya diberikan kebebasan untuk mencoba sesuatu sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Tugas guru

adalah menyediakan ruang untuk mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan. Keterampilan inkuiri berkembang atas dasar kemampuan siswa dalam menemukan dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ilmiah dan dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaannya. Mengajarkan siswa untuk bertanya sangat bermanfaat bagi perkembangannya sebagai saintis karena bertanya dan memformulasikan pertanyaan dapat mengembangkan kemampuan memberi penjelasan yang dapat diuji kebenarannya dan merupakan bagian penting dari berpikir ilmiah. Melatih siswa membuat pertanyaan atas dasar kriteria-kriteria yang disusun oleh guru dapat meningkatkan kemampuan inkuiri siswa. Oleh karena itu, pada tahap awal inkuiri guru harus melatih siswa untuk mampu merumuskan pertanyaan dengan baik. Hal ini berkaitan dengan kemampuan dasar siswa SMA yang umumnya masih sulit mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ilmiah dan memerlukan penyelidikan jawaban.

B. Landasan Teori Landasan teori dalam pendekatan inkuri terdiri dari landasan filosofis yang akan dibahas sebagai berikut: Landasan Filosofi Belajar dengan cara mengembangkan pendekatan inkuiri bukanlah suatu teknik belajar yang baru. Para ahli filsafat kuno seperti Socrates, Aristoteles, dan Plato adalah ahli hukum dan seorang pengarang yang terkenal 1986-1948 SM, memperkenalkan berpikir dengan pendekatan pemecahan masalah yang dasarnya adalah proses inkuiri. John Dewey memiliki andil besardalam mengembangkan belajar melalui proses inkuiri ini dipopulerkan kembali dalam suatu konferensi pada ilmuwan yang kemudian dipublikasikan oleh Jerome S. Burner melalui bukunya The Process of Education. Pengembangan berpikir yang menggunakan proses ini berhasil menjadi bagian yang penting dari kegiatan belajar karena pendekatan

inkuiri akan memberi bekal kepada siswa untuk menjadi orang yang akan berhasil dalam hidupnya. Jika diamati dari sudut sejarah,berpikir dengan pendekatan inkuiri sejak zaman kuno sudah digunakan Negara barat. Oleh karena itu tidak mengherankan bila berpikir denagn pendekatan inkuiri sudah menjadi kebudayaan. Melalui pendekatan inkuiri orang dapat menemukan hal-hal yang baru dan pengetahuan-pengetahuan baru.

C. Bentuk bentuk Pembelajaran dan Sintaknya Ada tiga tingkatan inkuiri berdasarkan variasi bentuk keterlibatannya dan intensistas keterlibatan siswa, yaitu: 1. Inkuiri Terbimbing Inkuiri tingkat pertama merupakan kegiatan inkuiri di mana masalah dikemukakan oleh pendidik atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan yang intensif dari pendidik. Inkuiri tipe ini, tergolong kategori inkuiri terbimbing (guided Inquiry) menurut kriteria Bonnstetter, (2000); Marten-Hansen, (2002), dan Oliver-Hoyo, et al (2004). Sedangkan Orlich, et al (1998) menyebutnya sebagai pembelajaran penemuan (discovery learning) karena siswa dibimbing secara hati-hati untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapkan kepadanya. Dalam inkuiri terbimbing kegiatan belajar harus dikelola dengan baik oleh pendidik dan luaran pembelajaran sudah dapat diprediksikan sejak awal. Inkuiri jenis ini cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran mengenai konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasar dalam bidang ilmu tertentu. Orlich, et al (1998) menyatakan ada beberapa karakteristik dari inkuiri terbimbing yang perlu diperhatikan yaitu: 1. Peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir melalui observasi spesifik hingga membuat inferensi atau generalisasi.

10

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Sasarannya adalah mempelajari proses mengamati kejadian atau obyek kemudian menyusun generalisasi yang sesuai. Pendidik mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran misalnya kejadian, data, materi dan berperan sebagai pemimpin kelas. Tiap peserta didik berusaha untuk membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi di dalam kelas. Kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran. Biasanya sejumlah generalisasi tertentu akan diperoleh dari peserta didik. Pendidik memotivasi hasil semua peserta didik sehingga untuk dapat mengkomunikasikan generalisasinya

dimanfaatkan oleh seluruh peserta didik dalam kelas. 2. Inkuiri Bebas Inkuiri tingkat kedua dan ketiga menurut Callahan et al, (1992) dan Bonnstetter, (2000) dapat dikategorikan sebagai inkuiri bebas (un-guided Inquiry) menurut definisi Orlich, et al (1998). Dalam inkuiri bebas, peserta didik difasilitasi untuk dapat mengidentifikasi masalah dan merancang proses penyelidikan. Peserta didik dimotivasi untuk mengemukakan gagasannya dan merancang cara untuk menguji gagasan tersebut. Untuk itu peserta didik diberi motivasi untuk melatih keterampilan berpikir kritis seperti mencari informasi, menganalisis argumen dan data, membangun dan mensintesis ide-ide baru, meman-faatkan ide-ide awalnya untuk memecahkan masalah serta menggeneralisasikan data. Pendidik berperan dalam mengarahkan peserta didik untuk membuat kesimpulan tentatif yang menjadikan kegiatan belajar lebih menyerupai kegiatan penelitian seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. Beberapa karakteristik yang menandai kegiatan inkuiri bebas ialah: 1. 2. Peserta didik mengembangkan kemampuannya dalam melakukan observasi khusus untuk membuat inferensi. Sasaran belajar adalah proses pengamatan kejadian, obyek dan data yang kemudian mengarahkan pada perangkat generalisasi yang sesuai.

11

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Pendidik hanya mengontrol ketersediaan materi dan menyarankan materi inisiasi. Dari materi yang tersedia peserta didik mengajukan pertanyaanpertanyaan tanpa bimbingan pendidik. Ketersediaan materi di dalam kelas menjadi penting agar kelas dapat berfungsi sebagai laboratorium. Kebermaknaan didapatkan oleh peserta didik melalui observasi dan inferensi serta melalui interaksi dengan peserta didik yang lain. Pendidik tidak membatasi generalisasi yang dibuat oleh peserta didik, dan Pedidik mendorong peserta didik untuk mengkomunikasikan generalisasi yang dibuat sehingga dapat bermanfaat bagi semua peserta didik dalam kelas. Berdasarkan komponen-komponen dalam proses inkuiri yang meliputi

topik masalah, sumber masalah atau pertanyaan, bahan, prosedur atau rancangan kegiatan, pengumpulan dan analisis data serta pengambilan kesimpulan, Bonnstetter (2000) membedakan inkuiri menjadi lima tingkat yaitu: a. Praktikum ( tradisional hands-on ) Praktikum ( tradisional hands-on ) adalah tipe inkuiri yang paling sederhana. Dalam praktikum guru menyediakan seluruh keperluan mulai dari topik sampai kesimpulan yang harus ditemukan siswa dalam bentuk buku petunjuk yang lengkap. b. Pengalaman sains terstruktur ( structured science experiences ) Pengalaman sains yang terstruktur. Tipe inkuiri berikutnya ialah pengalaman sains terstruktur ( structured science experiences ), yaitu kegiatan inkuiri di mana guru menentukan topik, pertanyaan, bahan dan prosedur sedangkan analisis hasil dan kesimpulan dilakukan oleh siswa. c. Inkuiri terbimbing ( guided inkuiri ) Inkuiri terbimbing ( guided inquiry ), di mana siswa diberikan kesempatan untuk bekerja merumuskan prosedur, menganalisis hasil dan mengambil kesimpulan secara mandiri, sedangkan dalam hal menen-

12

tukan topik, pertanyaan dan bahan penunjang, guru hanya berperan sebagai fasilitator. d. Inkuiri siswa mandiri ( student directed inquiry ) Inkuiri Siswa Mandiri. Inkuiri siswa mandiri ( student directed in-quiry ), dapat dikatakan sebagai inkuiri penuh karena pada tingkatan ini siswa bertanggungjawab secara penuh terhadap proses belajarnya, dan guru hanya memberikan bimbingan terbatas pada pemilihan topik dan pengembangan pertanyaan. e. Penelitian siswa ( student research ) Tipe inkuiri yang paling kompleks ialah penelitian siswa (student research ). Dalam inkuiri tipe ini, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing sedangkan penentuan atau pemilihan dan pelaksanaan proses dari seluruh komponen inkuiri menjadi tangungjawab siswa. Klasifikasi inkuiri menurut Bonnstetter (2000) didasarkan pada tingkat kesederhanaan kegiatan siswa dan dinyatakan sebaiknya penerapan inkuiri merupakan suatu kontinum yaitu dimulai dari yang paling sederhana terlebih dahulu. Ahli lain yaitu Callahan, et al (1992) menyusun klasifikasi inkuiri lain yang didasarkan pada intensitas keterlibatan siswa. Ada tiga bentuk keterlibatan siswa di dalam inkuiri, yaitu: (a) identifikasi masalah, (b) pengambilan keputusan tentang teknik pemecahan masalah, (c) identifikasi solusi tentatif terhadap masalah. Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Inkuiri Dalam proses pembelajaran melalui kegiatan inkuiri siswa perlu dimotivasi untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan inkuiri atau keterampilan proses sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan sikap ilmiah seperti menghargai gagasan orang lain, terbuka terhadap gagasan baru, berpikir kritis, jujur dan kreatif (Prayitno, 2004). Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran Inkuiri dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

13

1. Orientasi Langkah orientasi merupakan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi adalah (1) menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan akan dicapai siswa, (2) menjelaskan pokok-pokok kegiatan untuk mencapai tujuan, (3) menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar sebagai motivasi bagi siswa. 2. Merumuskan masalah Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang untuk berpikir. Teka-teki yang menjadi persoalan dalam inkuiri harus mengandung konsep yang jelas dan pasti. Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa. 3. Merumuskan hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan berhipotesis pada siswa adalah dengan mengajukan pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan. 4. Mengumpulkan data Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Proses pengumpulan data membutuhkan motivasi yang kuat dalam belajar, ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Tugas guru dalam taha-

14

pan ini adalah mengajukan pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. 5. Menguji Hipotesis Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data sehingga guru dapat mengembangkan kemampuan berpikir rasional siswa. Artinya, kebenaran jawaban bukan hanya berdasarkan argumentasi tetapi didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggung jawabkan. 6. Merumuskan Kesimpulan Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk memperoleh kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa mana data yang relevan.

D. Assesmen Pendekatan inkuiri dapat diterapkan pada semua jenis materi sehingga asesmen yang dilakukan oleh pendidik pada proses pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah asesmen yang meliputi ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik. Instrumen yang dibutuhkan dalam penilaian adalah sebagai berikut: 1. 2. berganda. Tes digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif dan kemampuan berpikir kritis siswa. Tes ini juga digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa. 3. Instrumen afektif siswa. Penilaian afektif ini diambil melalui observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung. 4. Instrumen psikomotorik siswa Lembar observasi pengajar Tes pemahaman berupa esai dan atau pilihan

15

Penilaian psikomotorik ini diambil melalui hasil kerja siswa dalam laboratorium.

Kriteria Penilaian : 1 : Baik 2 : Cukup 3 : Kurang No. Aspek Penilaian 1. Kehadiran siswa 2. Kriteria Pemberian Skor 1 2 Hadir penuh Meninggalkan kelas selama Cukup selama proses 3

Tidak

Keaktifan siswa Aktif selama proses proses pembelajaran

hadir aktif Kurang aktif sama sekali

pembelajaran Serius

3.

Keseriusan kegiatan

pembelajaran dan Cukup serius Kurang serius, suka bergurau Tidak belajar sama Cukup

dalam mengikuti memperhatikan selama pembelajaran Interaksi dalam Kerja kelompok

4.

terjalin dengan bekerja sama adanya baik dan positif dan tanggung keja sama jawab dalam kelompok

Materi yang Sesuai untuk Pendekatan Inkuiri Pada dasarnya pendekatan inkuiri sesuai diterapkan untuk semua materi pelajaran. Untuk merealisasikan pendekatan dalam mencapai tujuan digunakan multi metode (lebih menekankan pada pelaksanaan kegiatan. Adapun bercagai metode yang dapat diterapkan untuk pendekatan inkuiri adalah metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi,

16

karya wisata, penugasan, belajar kooperatif, role playing, eksperimen dan diskusi. Materi yang diterapkan untuk pendekatan inkuiri adalah materi yang banyak menggunakan konsep-konsep dan eksperimen-eksperimen sehingga memungkinkan bagi siswa untuk menemukan konsep dan prinsip-prinsip sendiri. Dengan demikian, selain mempermudah pemahaman konsep, siswa juga terlatih untuk mengembangkan maupun menciptakan konsep berdasarkan pemahaman yang diperoleh. Selain itu, hasil belajar berbagai materi dengan mengguanakan pendekatan inkuiri lebih mudah diingat oleh siswa. Kondisi yang sesuai untuk pendekatan inkuiri 1. Kondisi siswa Sebagai komponen dalam aktivitas pembelajaran, siswa tidak hanya berlaku sebagai sasaran aktivitas tetapi juga dapat menyebabkan terjadinya interaksi lain untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam pendekatan inkuiri, interaksi aktif antara siswa dengan guru maupun interaksi antara siswa satu dengan siswa lainnya sangatlah penting. Interaksi antara guru dengan siswa dalam inkuiri akan terwujud bila seluruh siswa aktif dalam mengajukan maupun merespon pertanyaan yang diberikan oleh guru. Keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi. 2. Kondisi guru Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok. Guru mengontrol bagian

17

tertentu dari pembelajaran misalnya kejadian, data, materi dan berperan sebagai pemimpin kelas. Guru harus memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa dalam melakukan kegiatan-kegiatan sehingga siswa yang memiliki kemampuan berpikir lambat atau siswa yang mempunyai intelegensi rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan dan siswa mempunyai tinggi tidak memonopoli kegiatan oleh sebab itu guru harus memiiki kemampuan mengelola kelas yang bagus. Dalam pendekatan inkuiri guru juga harus dapat: a. Menciptakan situasi kelas sebagai tempat di mana proses inkuiri sedang berlangsung, b. Mempunyai rencana yang jelas tentang waktu yang digunakan untuk mengembangkan proses inkuiri, c. Menentukan berbagai macam metode untuk dapat mendorong terjadinya proses inkuiri, d. Secara sistematis mengajar siswanya bagaimana mengajukan pertanyaan karena bertanya merupakan faktor yang sangat penting dalam inkuiri. 3. Sarana dan prasarana pembelajaran Adapun sarana dan prasarana yang dapat mendukung proses pembelajaran melalui pendekatan inkuiri adalah: a. Kondisi fisik kelas, meliputi: Ukuran kelas memenuhi persyaratan, Suasana fisik kelas yang bersih, sehat, tenang dan kondusif untuk proses belajar mengajar. b. Alat bantu pendidikan meliputi teknologi pendidikan yang dapat digunakan guru secara optimal agar komunikasi di kelas berlangsung secara kondusif, seperti OHP, slide-projector, dan berbagai alat bantu lainnya. c. Alat peraga pembelajaran mencakup jenis dan tata letak seperti peralatan demonstrasi, model, bagan ataupun gambar lainnya yang mendukung.

18

E. Kelebihan dan Kekurangan Adapun kelebihan metode inkuiri adalah: 1. Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa. 2. Strategi penemuan membangkitkan gairah siswa. 3. Memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya. 4. Siswa dapat mengarahkan sindiri cara belajarnya. 5. Membantu memperkuat pribadi siswa. 6. Strategi berpusat pada anak. 7. Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat dan menemukan kebenaran akhir dan mutlak 8. Pengajaran berpusat pada diri pembelajar. 9. Pengajaran inkuiri dapat membentuk self concept (konsep diri). 10. Tingkat pengharapan bertambah. 11. Pengembangan bakat dan kecakapan individu. 12. Dapat memberi waktu kepada pembelajar untuk menganalisis dan mengakomodasi informasi. 13. Dapat menghindarkan pembelajar dari cara-cara belajar tradisional. 14. Pembelajar akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih banyak dan lebih baik. 15. Membantu pembelajar menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru. 16. Mendorong pembelajar berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri. 17. Mendorong (memotivasi) pembelajar berpikir dan merumuskan hipotesi. 18. Memberi kepuasan yang bersifat instrinsik. 19. Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang. 20. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh bersifat merangsang kegairahan belajar.

19

Sedangkan kelemahan metode inkuiri adalah : 1. 2. 3. Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini. Metode ini kurang berhasil untuk mengajar di kelas besar. Harapan yang ditimpahkan pada strategi ini mungkin mengecewa-kan guru dan siswa yang sudah terbiasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional. 4. Metode ini dianggap terlalu mementingkan perolehan pengertian ketrampilan. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Fasilitas untuk mencoba ide-ide mungkin belum lengkap. Diperlukan keharusan kesiapan mental untuk cara belajar. Dengan percaya diri yang kuat. Pembelajar harus mampu menghilangkan hambatan. Kalau pendekatan inkuiri diterapkan dalam kelas dengan jumlah pembelajar yang besar, kemungkinan besar tidak berhasil. Pembelajar yang terbiasa belajar dengan pengajaran tradisional yang telah dirancang Pengajar, biasanya agak sulit untuk memberi dorongan. Lebih-lebih 11. 12. kalau harus belajar mandiri. Dampaknya dapat mengecewakan pe-ngajar dan pembelajar sendiri. Lebih mengutamakan dan mementingkan pengertian, sikap dan ke-terampilan memberi kesan terlalu idealis. Ada kesan dananya terlalu banyak, terlebih kalau penemuannya kurang berhasil, hanya merupakan suatu pemborosan. dan kurang diperhatikan diperolehnya sikap dan

20

F. Implementasi Pendekatan Inkuiri dalam Pelajaran Kimia.


Label Kegiatan Indikator konsep pembelajaran Teori Menjelaskan Mengelompokkan Asam sifat sifat larutan ke dalam Basa asam dan larutan asam, basa netral dan basa berdasarkan indikator

No 1.

Aktivitas guru Tahap orientasi Guru membuka pelajaran dengan memberikan pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa tentang asam basa: - Sebutkan pengertian asam dan basa! - Sebutkan jenis jenis asam yang sering digunakan dalam kehidupan sehari hari!

Aktivitas siswa Menjawab pertanyaan guru berdasarkan pengetahuan terdahulu dan pengetahuan yang diperoleh dari pengamatan dalam kehidupan sehari hari.

Guru memberikan motivasi Mendengarkan penjelasan dari kepada siswa tentang pentingnya guru. mengetahui perbedaan asam dan basa ( secara ilmiah) Tahap Merumuskan Masalah Menjelaskan tentang konsep Memperhatikan penjelasan dari asam basa guru. Guru mengajukan pertanyaan Siswa menjawab pertanyaan yang menjadi bahan diskusi bagi dengan berdiskusi dengan siswa yaitu: temannya

21

- Apa kita bisa menentukan suatu zat itu merupakan asam atau basa hanya dengan mengecap rasanya? (bagaimana jika zat itu berbahaya untuk dirasai) - Bagaimana kita menentukan suatu larutan / zat itu merupakan asam atau basa tanpa harus merasainya terlebih dahulu? - Menentukan sifat asam atau basa dengan menggunakan indikator universal. Tahap Menentukan Hipotesis Guru mengumpulkan jawaban siswa dan meminta siswa untuk menarik kesimpulan sementara sebelum dilakukannya percobaan. Siswa menarik kesimpulan berdasarkan data data yang dikumpulkan berdasarkan berbagai jawaban siswa.

Tahap Mengumpulkan Data Guru menjelaskan suatu konsep Siswa mendengarkan penjelasan penentuan asam basa dengan guru menggunakan beberapa indikator universal ( yang mudah didapatkan ) dengan melakukan tes penentuan indikator terhadap asam ataupun basa (Tes Percobaan 1 )

22

Tahap Menguji Hipotesis Merancang percobaan tentang Siswa memperhatikan penjelasan sifat suatu larutan dari berbagai guru tentang cara melakukan macam larutan dengan percobaan menggunakan indikator universal Meminta siswa untuk membentuk kelompok untuk percobaan. Mendemonstrasikan sekaligus menjelaskan cara cara melakukan percobaaan (pemodelan) Siswa membagi kelompok

Melakukan

percobaan

Mengarahkan siswa untuk Mengumpulkan dan mencatat melakukan pengujian hipotesis dan data hasil percobaan. mengumpulkan data sebanyak banyaknya (Tes Percobaan II ) Menarik Kesimpulan Setelah percobaan selesai, siswa diminta menyimpulkan hasil percobaan secara diskusi kelompok. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil percobaan dan memaparkannya . Mengelompokkan larutan tersebut ke dalam larutan yang bersifat asam, basa ataupun netral

23

Tes Percobaan I Konsep : Penggunaan lakmus merah dan biru Tujuan : Menguji penggunaan lakmus merah dan biru pada larutan asam basa ( larutan yang digunakan adalah larutan asam basa yang dikenal dalam kehidupan sehari hari misalnya asam cuka dan air sabun) Cara Kerja: 1. Sediakan 2 buah gelas kimia Gelas kimia 1 berisi asam cuka Gelas kimia 2 berisi air kapur Gelas kimia 3 berisi air suling 2. Masukkan lakmus merah masing masing ke dalam ketiga gelas kimia (catat hasilnya dengan mengamati perubahan warna pada kertas lakmus merah ) Masukkan lakmus biru masing masing ke dalam ketiga gelas kimia (catat hasilnya dengan mengamati perubahan warna pada kertas lakmus biru ) 3. Simpulkan bagaimana penggunaan indikator lakmus merah dan biru dengan mengamati perubahan warna pada kertas lakmus jika dimasukkan ke dalam larutan asam dan basa dengan mengisi lembar pengamatan. Lembar Pengamatan Bahan Asam cuka Air sabun Air suling Perubahan warna Kertas merah lakmus Kertas lakmus biru

24

Tes Percobaan II Konsep : Pengujian Larutan dengan Indikator Tujuan : Menentukan sifat asam atau basa dari berbagai larutan. Cara Kerja : 1. Sediakan 8 gelas kimia 2. Isilah larutan berikut kedalam gelas kimia tersebut: Gelas 1 : Larutan NaOH Gelas 2 : Larutan HCl Gelas 3 : Larutan gula Gelas 4 : Larutan amonia Gelas 5 : Etanol Gelas 6 : Larutan NaCl Gelas 7 : Air jeruk Gelas 8 : Air sabun 3. Ujilah larutan tersebut dengan mencelupkan kertas lakmus merah dan biru pada larutan di masing masing gelas. Nyatakanlah apakah larutan tersebut bersifat asam atau basa dengan mengamati perubahan warna pada kertas lakmus tersebut Lembar pengamatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis larutan Larutan NaOH Larutan HCl Larutan gula Larutan amonia Etanol Larutan NaCl Air jeruk Air sabun Perubahan warna Lakmus Lakmus biru merah Sifat larutan Asam Basa Netral

25

BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan A. Konsep Dasar Pendekatan Inkuiri a. Pengertian inkuiri Inkuiri merupakan proses yang bervariasi dan meliputi kegiatankegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan yang relevan, mengevaluasi buku dan sumber-sumber informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau investigasi, mereview apa yang telah diketahui, melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data, serta membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya b. Karakteristik Inkuiri 1) Berorientasi pada pengolahan informasi. 2) Pembelajaran dapat dilakukan dengan melibatkan peserta didik. 3) Mempunyai proses mental yang lebih kompleks. 4) Konsep dan prinsip ditemukan oleh peserta didik. c. Prinsip Pendekatan Inkuiri 1) Berorientasi pada pengembangan intelektual. 2) Prinsip Interaksi. 3) Prinsip bertanya. 4) Prinsip belajar untuk berpikir. 5) Prinsip keterbukaan B. Landasan Teori Belajar dengan cara mengembangkan pendekatan inkuiri bukanlah suatu teknik belajar yang baru. Para ahli filsafat kuno seperti Socrates, Aristoteles, dan Plato adalah ahli hukum dan seorang pengarang yang terkenal 1986-1948 SM, memperkenalkan berpikir dengan pendekatan pemecahan masalah yang dasarnya adalah proses inkuiri

26

C. Bentuk-bentuk Pembelajaran dan Sintaknya Bentuk-bentuk Pembelajaran : Berdasarkan variasi bentuk keterlibatannya dan intensistas keterlibatan siswa, yaitu: 1) Inkuiri Terbimbing 2) Inkuiri Bebas Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Inkuiri : 1) Orientasi 2) Merumuskan masalah 3) Merumuskan hipotesis 4) Mengumpulkan data 5) Menguji Hipotesis 6) Merumuskan Kesimpulan D. Asesmen 1) Lembar observasi pengajar 2) Tes pemahaman berupa esai dan atau pilihan berganda. 3) Tes digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif dan kemampuan berpikir kritis siswa. Tes ini juga digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa. 4) Instrumen afektif siswa. 5) Penilaian afektif ini diambil melalui observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung. 6) Instrumen psikomotorik siswa 7) Penilaian psikomotorik ini diambil melalui hasil kerja siswa dalam laboratorium. E. Kelebihan dan Kekurangan Adapun kelebihan metode inkuiri adalah: 1) Dianggap kognitif siswa. 2) Strategi penemuan membangkitkan gairah siswa. membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses

27

3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) diri). 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) sendiri. 17) 18) 19) 20)

Memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai de-ngan kemampuannya. Siswa dapat mengarahkan sindiri cara belajarnya. Membantu memperkuat pribadi siswa. Strategi berpusat pada anak. Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat dan menemukan kebenaran akhir dan mutlak Pengajaran berpusat pada diri pembelajar. Pengajaran inkuiri dapat membentuk self concept (konsep Tingkat pengharapan bertambah. Pengembangan bakat dan kecakapan individu. Dapat memberi waktu kepada pembelajar untuk menganalisis dan mengakomodasi informasi. Dapat menghindarkan pembelajar dari cara-cara belajar tradisional. Pembelajar akan memahami konsep-konsep dasar dan ideide lebih banyak dan lebih baik. Membantu pembelajar menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru. Mendorong pembelajar berpikir dan bekerja atas inisiatifnya Mendorong merumuskan hipotesi. Memberi kepuasan yang bersifat instrinsik. Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh bersifat merangsang kegairahan belajar. (memotivasi) pembelajar berpikir dan

Sedangkan kelemahan metode inkuiri adalah : 1) Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini.

28

2) 3)

Metode ini kurang berhasil untuk mengajar di kelas besar. Harapan yang ditimpahkan pada strategi ini mungkin mengecewa-kan guru dan siswa yang sudah terbiasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional.

4)

Metode ini dianggap terlalu mementingkan perolehan pengertian ketrampilan. dan kurang diperhatikan diperolehnya sikap dan

5) 6) 7) 8) 9) 10)

Fasilitas untuk mencoba ide-ide mungkin belum lengkap. Diperlukan keharusan kesiapan mental untuk cara belajar. Dengan percaya diri yang kuat. Pembelajar harus mampu menghilangkan hambatan. Kalau pendekatan inkuiri diterapkan dalam kelas dengan jumlah pembelajar yang besar, kemungkinan besar tidak berhasil. Pembelajar yang terbiasa belajar dengan pengajaran tradisional yang telah dirancang Pengajar, biasanya agak sulit untuk memberi dorongan. Lebih-lebih kalau harus belajar mandiri. Dampaknya dapat mengecewakan pe-ngajar dan pembelajar sendiri.

11) 12)

Lebih mengutamakan dan mementingkan pengertian, sikap dan ke-terampilan memberi kesan terlalu idealis. Ada kesan dananya terlalu banyak, terlebih kalau penemuannya kurang berhasil, hanya merupakan suatu pemborosan.

2. Saran Upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari pembenahan kemampuan guru. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru adalah bagaimana merancang suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai, karena tidak semua tujuan dapat tercapai hanya dengan satu strategi tertentu. Tujuan utama pembelajaran inkuiri adalah mendorong siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan ketrampilan berpikir dengan memberikan pertanyaanpertanyaan. Strategi pembelajaran inkuiri menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Peran siswa

29

dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar. Strategi pembelajaran inkuiri cocok digunakan pada materimateri yang dekat dengan kehidupan sehari hari. DAFTAR PUSTAKA Anshori & Achmad.2003. Kimia SMU Untuk Kelas 2. Jakarta:Penerbit Erlangga Arifin, Mulyati, dkk. Strategi Belajar Mengajar Kimia. 2005 . Malang: UM Press Beyer, B. K..1971. Inquiry in the Social Studies Calassroom: A Strategy for Teaching. Ohio: Charles E. Merril Publishing Company. Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Kurikulum 2004 . Jakarta:

Puslitbang Debdiknas. Dimyati & Mudjiono.1994. Belajar dan Pembelajaran . Jakarta: Penerbit Rineka Cipta Dirdjosoemarto, dkk. 2004. Strategi Belajar Mengajar Biologi . Bandung: FPMIPA UPI dan JICA IMSTEP Gulo,W.2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta :Penerbit Grasindo Ibrahim,M., online tanggal kpicenter.org/index.php?option=com_content, 22 september 2009

Pendley.dkk.1994. online tanggal

depdiknas.go.id/jurnal/42/rusmansyah.htm/ 23 september 2009

Roestiyah.2001. Strategi Belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta Sagala, Syaiful. 2004. Konsep dan Makna Pembelajaran . Bandung:Alfabeta

30

Sanjaya.W.2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group Subroto,S.1997. Proses Belajar Mengajar. Jakarta :Penerbit Rineka Cipta ------.--.http://agungprudent.wordpress.com/tag/model-pembelajaraninkuiri/ .online tanggal: 20 september 2009 ------.--.http://exma071644082.blogspot.com/2009/06/pembelajaran-ipa-sddengan-pendekatan.htmloleh siswa. online tanggal: 23 september 2009 ------.--.http://www.psb-psma.org/content/blog/kurikulum-tersembunyidalam-kotak-hitam. online tanggal: 21 september 2009 ------.--.http://gurupemula.co.cc/model-pembelajaran-inkuiri/. tanggal: 20 september 2009 ------.--.http://agungprudent.wordpress.com/2009/05/16/modelpembelajaran-inkuiri/. online tanggal: 22 september 2009 online

31

LAMPIRAN 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Standar Kompetensi : SMA : Kimia : XII/1 : Menerapkan konsep reaksi oksidasi-reduksi dan elektrokimia sehari-hari. Kompetensi Dasar Indikator : Menjelaskan reaksi oksidasi-reduksi dalam sel elektrolisis. : Memahami tentang prinsip kerja sel elektrolisis Merancang dan melakukan percobaan tentang sel elektrolisis. Menuliskan reaksi yang terjadi pada katoda dan anoda dalam suatu sel elektrolisis. Alokasi waktu : 3 x 45 menit : Siswa dapat merancang dan melakukan percobaan sel elektrolisis. Siswa dapat mengetahui gejala-gejala reaksi elektrolisis percobaan. Siswa dapat menafsirkan dan menyimpulkan pengertian elektrolisis melalui percobaan. berdasarkan hasil pengamatan I. Tujuan Pembelajaran dalam teknologi dan kehidupan

32

Siswa dapat menentukan reaksi yang terjadi pada katoda dan anoda dalam suatu sel elektrolisis II. Materi Pokok III. Uraian Materi : Sel Elektrolisis : konsep terjadinya reaksi elektrolisis. Reaksi yang terjadi pada elektroda elektrolisis. Contoh peristiwa elektrolisis yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. IV. Model Pembelajaran : Inkuiri terbimbing V. Langkah-langkah pembelajaran: Kegiatan Pembelajaran Kegiatan guru Kegiatan siswa Kegiatan Awal Membuka pelajaran dengan memberi salam dan penyampaikan materi yang akan dipelajari yaitu sel elektrolisis. Menggali pengetahuan alam awal siswa dan memfokuskan perhatiannya dengan mengajukan pertanyaan Pernahkah kalian melihat proses proses penyempuhan?atau melapisi besi dengan Siswa salam menjawab Alokasi Waktu 10 menit

No 1.

Siswa menjawab

kromium agar terlihat mengkilat dan tahan karat? Bagaimana logam bisa terlapisi dengan emas?dan bagaimana besi bisa terlapisi kromium?

Menyampaikan tujuan pembelajaran

33

Membagi kedalam kelompok.

siswa

Siswa mendengarkan siswa membentuk formasi 5 menit

2.

Kegiatan Inti Memberikan pengarahan kepada siswa agar melakukan percobaan. susunlah alat dan bahan yang telah anda siapkan sesuai dengan prosedur yang telah saya berikan, kemudian terjadi prosedur Membimbing mengawasi siswa melakukan percobaan. dan dalam pertanyaan amatilah sambil yang apa ada yang pada melengkapi Siswa memperhatikan

3.

Meminta siswa untuk mempresentasikan hasil pengamatan masing-masing kelompok di depan kelas. Meminta siswa untuk membuat peta konsep berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh. Memberi kesempatan siswa untuk menyimpulkan hasil diskusi kelas berdasarkan hasil pengamatan. Kegiatan Akhir mengulas kesimpulan siswa dan mengarahkan pemahamannya. Guru menugaskan kepada siswa untuk membuat laporan hasil percobaan yang

80menit Siswa melakukan percobaan dengan penuh semangat. Siswa 20 menit mempresentasikan hasil pengamatannya

Siswa membuat 20 menit peta konsep siswa menyimpulkan

20 menit

memperhatikan

Siswa

15 menit

menyimak

Siswa

2,5 menit

34

akan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Guru menutup dengan salam.

Siswa menjawab salam

2,5 menit

E. Sumber Belajar: 1. Buku Kimia Kelas XII SMA 2. Prosedur. 3. Alat dan bahan praktikum F. Penilaian (Instrumen terlampir): 1. 2. 3. postest Jawaban Pertanyaan Lembar Lembar observasi pretest dan praktikum dan lembar observasi kegiatan Presentasi, diskusi

PROSEDUR PERCOBAAN SEL ELEKTROLISIS Alat: gelas beker 100 ml penjepit buaya batang karbon batang Cu Adaptor 12 volt / batterai Neraca ukur massa Bahan: Larutan NaCl Larutan CuSO4

LANGKAH KERJA 1. Rangkailah alat dan bahan sesuai dengan gambar berikut ini:

35

2. gunakan CuSO4 sebagai larutan dan batang karbon sebagai elektroda 3. gunakan CuSO4 sebagai larutan dan batang Cu sebagai elektroda 4. gunakan NaCl sebagai larutan dan batang karbon sebagai elektroda 5. gunakan NaCl sebagai larutan dan batang Cu sebagai elektroda

Jawablah Pertanyaan di bawah ini! 1. Apa yang anda amati pada katoda dan anoda pada langkah kerja no 2 diatas dan mengapa hal itu terjadi...? 2. Bagaimana reaksi yang terjadi pada katoda dan anoda pada langkah kerja no 2 diatas 3. Adakah perubahan massa elektroda sebelum dan sesudah dielektrolisis pada percobaan langkah kerja no. 2, kenapa hal itu terjadi...? 4. Apa yang anda amati pada katoda dan anoda pada langkah kerja no 3 diatas dan mengapa hal itu terjadi...? 5. Bagaimana reaksi yang terjadi pada katoda dan anoda pada langkah kerja no 3 diatas 6. Adakah perubahan massa elektroda sebelum dan sesudah dielektrolisis pada percobaan langkah kerja no. 3, kenapa hal itu terjadi...? 7. Bagaimana arah elektron pada percobaan no.2 dan 3 diatas...? 8. Bisakah reaksi terjadi pada percobaan di atas tanpa arus listrik...? kenapa hal itu terjadi...?

36

FORMAT PENILAIAN KERJA LABORATORIUM No. Kriteria 1. Sebelum praktikum Mengambil peralatan Membersihkan peralatan Selama praktikum 3. Bobot Skor* (1,2) 20 Bobot skor x

2.

50

Cara mengambil bahan Cara mereaksikan Cara mengamati Kebersihan tempat Cara memegang peralatan Cara melipat kertas saring Cara melakukan penyaringan Mengakhiri praktikum 30

Membersihkan peralatan Membersihkan meja praktikum Membuang sampah Skor: 2= dilakukan dengan benar, 1= tidak dilakukan Lembar Pretest (waktu = 10 menit) 1. Sebutkan 3 masing-masing alat dan bahan yang dibutuhkan! 2. Tuliskan Rumus senyawa dari air kapur! Skor: soal no. 1 = 50; 2 = 50; Lembar postest (waktu = 15 menit) 1. 2. Tuliskan reaksi yang terjadi dalam percobaan tersebut! Deskripsikan langkah kerja singkat pada percobaan tersebut!
37

Skor: soal no. 1 = 50; 2 = 50;

FORMAT PENILAIAN LAPORAN PRAKTIKUM Kriteria Penilaian No. Kriteri Bobot Skor * (1, 3,4,5) 1. 2. 3 4 Pengumpulan tepat waktu Kesesuaian dengan tujuan Sistematika berpikir 15 15 atau 30 2, BxS

pemecahan masalah Hasil analisis dan pemecahan 40

masalah Skor: 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, 5= sangat baik Kriteria no. 1: Skor 4 3 2 1 Kriteria no. 2: Skor 4 3 Rubrik Sesuai dengan tujuan tugas yang diberikan Sesuai dengan tujuan tugas tetapi ada sedikit bagian Rubrik Dikumpulkan pada tanggal dan waktu yang

ditetapkan Dikumpulkan pada tanggal yang sama tetapi tidak pada waktunya Dikumpulkan tidak pada tanggal yang ditetapkan, lebih satu hari Terlambat lebih dari 2 hari

38

2 1

yang kurang tepat. Mengabaikan perintah dan tujuan Tidak memperhatikan perintah dan tujuan tugas

Kriteria no. 3: Skor 4 3 2 1 Kriteria no. 4: Skor 4 Rubrik Hasil pembahasan benar, dibahasan sangat Rubrik Masalah diselesaikan secara sistematis, dirangkum dalam format yang mudah dibaca Penyelesaian sistematis tetapi penyajian dalam format deskripsi Kurang sistematis Tidak sistematis

mendalam dan menyeluruh, dengan menampilkan 3 ide dari penulis Hasil pembahasan benar, Pembahasan mendalam tetapi masih kurang lengkap dan tidak ada ide yang 2 1 inovatif Ada hasil bahasan tidak benar, Pembahasan sangat dangkal dan tidak lengkap Pembahasan salah dan tidak lengkap

39

Lembar LKS

a. Judul: Analisis Senyawa Karbon dan Hidrogen Dalam Senyawa Organik b. Tujuan Untuk mengetahui keberadaan senyawa karbon dan hidrogen dalam senyawa organik c. Latar Belakang Telah diketahui bahwa semua senyawa organik adalah senyawa karbon. Selain senyawa karbon, unsur yang selalu terdapat dalam senyawa organik adalah hidrogen. Adanya karbon dan hidrogen dapat ditunjukkan dengan reaksi pembakaran. Apabila senyawa organik dibakar maka karbon akan berubah menjadi karbondioksida (CO 2). Sedangkan hidrogen menjadi air (H 2O). Gas CO2 dapat diperlihatkan dengan larutan kalsium hidroksida (air kapur). Sedangkan air dengan kertas kobal. Gas CO2 mengeruhkan air kapur karena membentuk endapan CaCO3 menurut persamaan reaksi berikut: CO2(g) + Ca(OH)2(aq) merah. d. Hipotesis awal ................................................................................................................. ................................................................................................................. e. Alat dan bahan Tabung reaksi Statif dan klem Prop gabus Pipa kaca Pembakar spiritus Larutan Ca(OH)2 (air kapur) Kertas kobal Gula pasir Tepung terigu Tembaga(II) oksida Spatula CaCO3(s) + H2O(l) Adapun air akan mengubah warna kertas kobal dari biru menjadi

40

f. Prosedur 1. Siapkan satu tabung reaksi yang bersih dan kering, kemudian masukkan kedalamnya 2 spatula gula pasir yang kering dan 2 spatula serbuk tembaga(II) oksida, CuO. Kocok tabung sehingga kedua zat tercampur. 2. ke dalam tabung reaksi lainnya masukkan kira-kira sepertiga tabung air kapur. Kemudian susunlah alat-alat seperti gambar berikut.

3.

panaskan tabung perlahan-lahan hingga terjadi reaksi. Amati perubahan pada tabung yang berisi air kapur.

g. Informasi Umum Keselamatan Kerja Laboratorium Dalam menggunakan bahan-bahan kimia diatas kalian harus berhatihati jangan sampai tertelan atau mengenai mata. Apabila Anda selesai praktikum cuci tangan Anda sebersih mungkin dengan sabun, apabila ada larutan yang mengenai mata segera cuci mata dengan air kran sebersih mungkin, apabila ada larutan yang masuk kedalam mulut segeralah untuk berkumur sebersih mungkin dan apabila ada larutan yang tertelan sebisa mungkin untuk dimuntahkan dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan minum air putih sebanyak-banyaknya dan minum susu secukupnya dan istirahatlah. h. Hasil Pengamatan ................................................................................................................. i. Analisis Hasil Pengamatan ................................................................................................................ j. Kesimpulan ................................................................................................................. j. Daftar Pustaka ..............................................................................................................

41

FORMAT PENILAIAN LAPORAN (LKS) Kriteria Penilaian No. Kriteri Bobot Skor * (1, 3,4,) 1. Hipotesis 15 2. Prosedur 15 3 Hasil pengamatan 30 4 Hasil analisis dan kesimpulan 40 Skor: 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik Kriteria no. 1: Skor 4 3 2 1 Kriteria no. 2: Skor 4 3 2 1 Kriteria no. 3: Skor 4 3 2 1 Kriteria no. 4: Skor 4 Rubrik Hasil pembahasan ide dari penulis
42

BxS 2,

Rubrik Benar dan terbukti dengan hasil pengamatan (benar) Benar dan tidak sesuai dengan hasil pengamatan (salah) Salah dan pengamatan benar Salah dan pengamatan salah

Rubrik Sesuai dengan tujuan dan tahapan lengkap Sesuai dengan tujuan sedangkan tahapan tidak lengkap. Kurang tepat salah

Rubrik Benar dan detail Benar tapi kurang detail Kurang tepat Salah total

benar,

dibahasan

sangat

mendalam dan menyeluruh, dengan menampilkan

Hasil pembahasan benar, Pembahasan mendalam tetapi masih kurang lengkap dan tidak ada ide yang inovatif Ada hasil bahasan tidak benar, Pembahasan sangat dangkal dan tidak lengkap Pembahasan salah dan tidak lengkap FORMAT PENILAIAN DISKUSI

2 1

Kriteria Penilaian No. Kriteri Bobot Skor * (1, 3,4,5) 1. 2. 3 Partisipasi anggota kelompok 20 Pembagian tugas 25 Interaksi dan argumentasi dalam 30 2, BxS

membahas masalah 4. Manajemen waktu 25 Skor: 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, 5= sangat baik FORMAT PRESENTASI HASIL DISKUSI Kriteria Penilaian No. Kriteria Bobot Skor * (1, 3,4,5) 1. 2. Sistematika paparan Kemampuan 20 menjawab 70 2, BxS

pertanyaan 3 Manajemen waktu 10 Skor: 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, 5= sangat baik Lembar presentasi ................................................................................................................ ................................................................................................................. Lembar diskusi ............................................................................................................... .................................................................................................................

43

LAMPIRAN 2 HASIL METAANALISIS LAPORAN, SKRIPSI, TESIS, DAN DISERTASI Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle (LC) dengan Pendekatan Inkuiri Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X Semester 2 MAN Malang I Pada Materi Pokok Reaksi Redoks Penulis : Vina Sandi Meiliyana

Pendekatan inkuiri pada penelitian berjudul Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle (LC) dengan Pendekatan Inkuiri Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X Semester 2 MAN

44

Malang I Pada Materi Pokok Reaksi Redoks ini diterapkan dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle (LC) pada materi pokok reaksi redoks. Kemampuan siswa dalam bertanya dan merespon pertanyaan dari guru lebih diutamakan melalui 3 tahap dalam pembelajaran, yaitu tahap eksplorasi, tahap pengenalan konsep, dan tahap penerapan konsep. Pada tahap eksplorasi siswa diberikan kesempatan untuk mengumpulkan data melalui pengamatan atau pengumpulan data dengan panca indera. Pada proses ini siswa membangun pengetahuannya berdasarkan konsep-konsep yang telah dimilikinya. Pada tahap inilah pendekatan inkuiri telah berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pengumpulan informasi oleh siswa melalui bertanya kepada guru ataupun dengan mengkaji data atau informasi yang disajikan guru, siswa dapat secara mandiri menemukan suatu konsep dari pokok materi yang diajarkan. Pada tahap kedua, yaitu tahap pengenalan konsep dilakukan penguatan terhadap pemahaman konsep siswa, baik melalui diskusi kelas atau kegiatan laboratorium. Selanjutnya pada tahap ketiga, tahap penerapan konsep, siswa diajak menerapkan pemahaman konsep untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan inkuiri pada pembelajaran kimia dengan model pembelajaran Learning Cycle dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa yang menggunakan pendekatan inkuiri lebih tinggi (61,63 dan 73,64) jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional (43,05 dan 68,76). Pendekatan inkuiri melalui model pembelajaran LC ini memudahkan siswa memahami suatu konsep karena konsep yang mereka memperoleh merupakan konsep yang mereka simpulkan sendiri. Tidak hanya itu, pendekatan inkuiri juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa baik dalam bertanya, membedakan antara informasi, tuntutan, atau alasan yang relevan dengan yang tidak relevan,serta

45

mengajukan opini yang mereka yakini benar sesuai data, informasi, ataupun fakta yang mereka amati. Penggunaan pendekatan inkuiri dengan model pembelajaran LC ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas proses, motivasi, kemampuan menjelaskan (argumentasi), kualitas tanya jawab, interaksi, dan juga kualitas hasil belajar pada pembelajaran kimia SMA. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendekatan inkuiri sesuai diterapkan pada mata pelajaran kimia, khususnya pokok bahasan reaksi oksidasi reduksi (redoks) dengan model pembelajaran learning cycle (LC).

Judul Skripsi : Pengaruh Model Pembelajaran TPS Terhadap Nilai Siswa dalam Pembelajaran Termokimia SMA Kelas XI Penulis : Wulan Cahyani Menurut skripsi yang menggunakan pendekatan inkuiri yang telah dibaca dapat disimpulkan bahwa sudah banyak peserta didik yang memperoleh nilai tinggi dari pada peserta didik yang memiliki nilai rendah. Hal ini dapat dilihat dari data pengamatan penulis. Walapun awalnya penulis mengalami serentetan masalah dikarenakan peserta didik belum siap dengan pendekatan yang diterapkan oleh pendidik, akan tetapi pada ahirnya membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Dari data sebaran skor hasil belajar peserta didik, dapat dilaporkan bahwa 26% mendapatkan nilai sangat baik (90-100), 28% mendapat nilai baik (80), 23% mendapatnilai cukup (60-70), 18% mendapat nilai kurang (40-50), dan 5% mendapat nilai sangat kurang (20-30). Prosentase hasil belajar tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Sihkabuden (1999: 158) yaitu perolehan belajar (hasil belajar) adalah penggambaran tingkat penguasaan peserta didik yang diukur berdasarkan jumlah atau skor tes yang disusun sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dari data yang telah terpapar di atas maka pendekatan inkuiri telah membantu peserta didik memudahkan dalam proses pembelajaran yang mereka anggap susah selama ini. Melalui pendekatan inkuiri ini, peserta didik dapat memperoleh informasi yang lebih banyak karena mereka

46

mencari sendiri informasi atas pertanyaan yang diberikan oleh pendidik. Karena pendekatan ini telah banyak membantu proses pembelajaran, maka pendidik akan merasa terbantu dengan adanya pendekatan inkuiri. Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri ini berjalan dengan baik. Dalam pembelajarannya juga tidak memerlukan waktu yang sangat lama karena peserta didik dapat meningkatkan daya nalar peserta didik. Peserta didik dalam pendekatan ini juga diajarkan mandiri dengan mencari dan menemukan konsep belajar sendiri serta mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Dengan pendekatan inkuiri peserta didik dapat lebih memaknai pelajaran karena mereka juga ikut berperan dalam menyelesaikan masalah. Begitu pula mendidik dengan pendekatan inkuiri berarti menempatkan peserta didik ke dalam situasi yang mana mereka akan terlibat secara intelektual.

Judul skripsi

Penulis

: Kajian tentang hasil belajar, kerja ilmiah, dan sikap ilmiah siswa kelas XI SMA NEGERI 7 MALANG yang dibelajarkan dengan metode inkuiri tewrbimbing pada materi pokok hidrolisis garam : Siti Norlaelatuzzuhro

Pembelajaran kimia menurut KTSP menggunakan prinsip-prinsip dasar pendekatan konstruktivistik yang menekankan pada proses mengkonstruk dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional; (2) mendeskripsikan perbedaan kerja ilmiah siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional; dan (3) mendeskripsikan perbedaan sikap ilmiah

47

siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar, kerja ilmiah, dan sikap ilmiah siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional. Hasil uji-t hasil belajar diperoleh nilai thitung = 16,7 (> ttabel = 1,99), kerja ilmiah tiap pertemuan I thitung = 2,38; II thitung = 2,59; III thitung = 5,98; IV thitung = 1,98 (> ttabel = 1,99), sikap ilmiah tiap pertemuan I thitung = 6,00; II thitung = 6,98; III thitung = 7,98; IV thitung = 9,32 (> ttabel = 1,99). Berdasar uji statistik diketahui bahwa kelas eksperimen mempunyai hasil belajar, kerja ilmiah, dan sikap ilmiah yang berbeda secara signifikan dengan kelas kontrol. Judul : Perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat

tinggi siswa kelas XI SMA NEGERI 4 MALANG yang dibelajarkan dengan menggunakan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional pada materi pokok koloid tahun ajaran 2008-2009 Penulis : Yuwanita Indriani Pembelajaran IPA khususnya kimia dalam pembelajarannya lebih menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan kerja ilmiah. Materi kimia yang berjenjang membuat siswa sulit memahami konsep-konsep kimia. Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMAN 2 Pasuruan dan SMAN 4 Malang serta berdasarkan wawancara dengan sejumlah murid, diketahui bahwa pembelajaran kimia masih diajarkan dengan metode ceramah dan dilanjutkan dengan hafalan. Keadaan tersebut mengakibatkan siswa cenderung lemah dalam penguasaaan konsep-konsep, pasif, serta kurang berminat dalam mempelajari kimia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) perbedaan antara hasil belajar siswa kelas XI SMAN 4 Malang yang dibelajarkan dengan menggunakan metode inkuiri terbimbing dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan metode konvensional, (2) perbedaan

48

kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI SMAN 4 Malang yang dibelajarkan dengan menggunakan metode inkuiri terbimbing dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan metode konvensional. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu dan rancangan deskripif. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 4 Malang sedangkan sampel adalah siswa kelas XIA-3 dan XIA-4 SMAN 4 Malang. Instrumen penelitian terdiri atas instrumen pengukuran dan instrumenperlakuan. Instrumen pengukuran terdiri atas soal post test dan lembarobservasi. Hasilujicoba tes diperoleh 24 soal valid dengan nilai reliabilitas = 0,77. Soal yang tidak valid diperbaiki kambali. Perbedaan hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol dianalisis menggunakan uji-t dua pihak. Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dianalisis dengan cara menghitung persentase jawaban siswa dalam menjawab soal ranah C4-C6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil belajar kelas eksperimen 84 dan kelas kontrol 78. Begitu juga nilai psikomotorik dan afektif siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai psikomotorik dan afektif siswa kelas kontrol, (2) Terdapat perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kemampuan berpikir tingkat tinggi kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Hal ini terlihat dari persentase kemampuan siswa menjawab soal-soal dengan benar untuk kelas eksperimen pada jenjang C4 adalah 94%, C5 sebesar 92% dan C6 sebesar 94%, sedangkan pada kelas kontrol pada jenjang C4 adalah 77%, C5 sebesar 59%, dan C6 sebesar 71%.

Judul

: Keefektifan Penggunaan Metoda Pembelajaran Inkuiri Terbuka dan Inkuiri Terbimbing dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar Kimia Siswa SMA Laboratorium Malang Kelas X : Oktavia Sulistina
49

Penulis

Penelitian ini mengkaji keefektifan metoda pembelajaran inkuiri terbuka, inkuiri terbimbing, dan konvensional dalam usaha peningkatan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar kimia siswa SMA. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) mendeskripsikan kualitas proses pembelajaran antar kelompok siswa; dan (2) menganalisis perbedaan keefektifan metoda pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar kimia antar kelompok siswa Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dan deskriptif. Rancangan eksperimen semu menggunakan desain pre-tes dan pos-tes dengan kelompok-kelompok yang diacak, bertujuan untuk melihat perbedaan keefektifan masing-masing metoda pembelajaran yang digunakan. Rancangan penelitian deskriptif digunakan untuk menggambarkan proses pembelajaran yang berlangsung. Populasi dan sampel penelitian adalah siswa kelas X SMA Laboratorium Malang. Kelompok eksperimen mendapat pembelajaran dengan metoda inkuiri terbuka, inkuiri terbimbing, dan kelompok kontrol dengan metoda konvensional (ceramah-praktikum). Instrumen penelitian yang digunakan berupa instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Sesuai tujuan penelitian, teknik analisa data yang digunakan adalah teknik anava satu jalur dan teknik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kualitas proses

pembelajaran menggunakan metoda inkuiri terbuka dan metoda inkuiri terbimbing, telah memungkinkan terjadinya peningkatan konstruksi pengetahuan menggunakan dan keterampilan proses serta sikap siswa sains siswa berlangsung dengan kategori baik; dan Kualitas proses pembelajaran metoda konvensional, dimana memperoleh pengetahuan melalui metoda ceramah-praktikum berlangsung dengan kategori baik; (2) Terdapat perbedaan keefektifan yang signifikan antara kelompok yang dibelajarkan dengan metoda pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kelompok konvensional, kelompok inkuiri terbuka dengan kelompok konvensional, dan kelompok inkuiri terbimbing dengan kelompok inkuiri terbuka. Keefektifan metoda pembelajaran tersebut dapat dilihat dari rerata hasil penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif siswa.

50

Metoda pembelajaran inkuiri terbimbing efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, dapat dilihat dari rerata hasil penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif siswa yang tinggi yaitu berturut-turut 72,16; 79, 69; dan 80,58. Metoda inkuiri terbuka efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Rerata hasil penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif siswa yang tinggi yaitu berturut-turut 63,39; 80,25; dan 81,43. Berbeda dengan metoda konvensional yang kurang efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, di mana rerata pencapaian hasil penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif siswa berturut-turut 54,14; 70,42; dan 78,65.

51