Anda di halaman 1dari 101

PENGARUH IKLAN DAN PROMOSI HARGA TERHADAP EKUITAS MEREK Agus Mahendra Wibowo Dosen Sekolah Tinggi Ilmu

Ekonomi YKP Yogyakarta ABSTRACT Marketing communications may provide the means for developing strong, customer-based brand equity. Among marketing communication tools, advertising and price promotion have always played a pivotal role. Hence, this research examines the effect of perceived advertising spending and price promotion on brand equity across experience goods/services. Jean was chosen as goods because its quality can be judged well before and after purchase or use it and bank was chosen as experience products due to its quality is unable to judge before use and able to judge quality after use. This research finds that advertising has significant positive impact on brand equity for both goods product and experience product. However, price promotion, for goods product, has significant negative impact on brand awareness and brand association and, for experience product (banking service), has positive effect on perceived quality and brand loyalty. In order to build strong brand equity effectively, managers must invest in the advertising but considering product categories when applying price promotion. Key Word: Advertising, Price Promotion, Brand Equity, Product Category merek di memori dan kemampuan konsumen ukuran dari nilai untuk mengidentifikasi merek di bawah kondisi yang berbeda" dan mendefinisikan citra merek sebagai "persepsi mengenai sebuah merek yang tercermin oleh asosiasi merek dalam memori konsumen". Ekuitas merek-pelanggan adalah satu set yang berhubungan dengan asosiasi merek yang dimiliki oleh konsumen dalam memori. Dalam perspektif ini, ekuitas merek dianggap sebagai keyakinan, mempengaruhi, dan pengalaman dengan subyektif merek lain (yaitu, yang sikap berkaitan

PENDAHULUAN Ekuitas merek, keseluruhan merek, adalah konsep kunci dalam manajemen merek. Ekuitas merek diidentifikasi sebagai sumber keunggulan kompetitif bagi banyak organisasi. Keller (2003) menyebut konsep ekuitas merek sebagai "efek diferensial pengetahuan merek terhadap respon konsumen ". Selanjutnya, Keller mengusulkan (1) pengetahuan merek sebagai pusat definisi ekuitas merek dan tingkat pengetahuan merek meningkatkan probabilitas pemilihan merek, (2) mendefinisikan pengetahuan merek dalam hal kesadaran merek dan image, dan (3) brand awareness sebagai "kekuatan jejak

terhadap merek, brand image, dll), penelitian yang ada terhadap ekuitas merek digunakan untuk mengidentifikasi empat "komponen"A

kognitif

dari

ekuitas

merek

berbasis

lanjut atas pemilihan konsumen terhadap merek ketika merek itu sudah hafal. Kualitas yang dirasakan dapat mempengaruhi keputusan pembelian dan loyalitas merek secara langsung, terutama bila pelanggan belum dirangsang oleh bujukan atau tidak dapat membuat analisis rinci. Asosiasi Merek dapat membantu pelanggan untuk berurusan dengan atau mengingat informasi dan menjadi dasar perbedaan produk, yang akan memberikan alasan pembelian bagi pelanggan dan timbul perasaan positif (Ali Hasan, 2010). Aset merek eksklusif lainnya (paten, merek dagang, distributor dll) lebih sulit diukur dari perspektif pelanggan. Dalam hal ini, ini membuat kesan kualitas, loyalitas merek, kesadaran merek dan asosiasi merek sebagai variabel ukuran ekuitas merek berdasarkan prestasi atau kinerja merek (Keller, 2003). Dari sudut pandang ini dapat ditemukan bahwa ekuitas merek dapat membawa nilai bagi konsumen dan produsen. Nilai pelanggan dari ekuitas merek adalah dasar untuk menciptakan nilai produsen. Dalam lima aset ekuitas merek, loyalitas merek dapat dipengaruhi oleh dimensi kunci lain (kesadaran merek, kesan kualitas dan asosiasi merek) dari ekuitas merek, sehingga loyalitas merek dapat

pelanggan seperti sikap terhadap merek, kekuatan preferensi, pengetahuan merek, dan merek heuristik (Girish dan Clayton, 2004). Untuk memperluas ekuitas merek dengan memasukkan konstruksi, seperti loyalitas merek, kesadaran merek, persepsi kualitas, dan asosiasi merek Ekuitas merupakan seperangkat aset dan kewajiban terkait dengan merek, yang menambah nilai atau mengurangi nilai dari sebuah produk dalam hubungannya dengan pelanggan. Nilai ekuitas merek berasal dari lima aset ekuitas merek (loyalitas merek, kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi merek dan aktiva lainnya), di mana persepsi kualitas dan asosiasi merek merupakan dua aset yang paling penting. perusahaan dan pelanggan. Loyalitas merek didasarkan pada pelanggan dapat mempertahankan serangan dari pesaing, dan dampak upaya-upaya pemasaran produsen yang lebih kompetitif untuk menarik pelanggan setia dari merek lain yang tidak memuaskan. Kesadaran merek bisa memberikan keakraban untuk merek dan sinyal dari kekukuhan dan janji jika pelanggan tahu merek, dan pada saat itu akan mempengaruhi pertimbangan pelanggan untuk merek dan pengaruh lebih Semua aset ekuitas merek ini memberi nilai tambah bagi

dianggap sebagai dasar utama dari ekuitas merek dan independen dari dimensi lain Berdasarkan uraian diatas maka fokus penelitian dirumuskan sebagai berikut : (1) apakah iklan berpengaruh terhadap ekuitas merek untuk produk barang dan produk pengalaman/jasa. (2) apakah harga promosi, untuk produk barang, memiliki dampak terhadap kesadaran merek dan asosiasi merek, dan (3) apakah produk pengalaman (layanan perbankan), berpengaruh terhadap persepsi kualitas dan loyalitas merek. KONSTRUKSI TEORITIS DAN

terhadap

ekuitas

merek.

Artinya,

komunikasi yang efektif memungkinkan formasi kesadaran merek dan citra merek yang positif.
Gambar 1. Kerangka Konseptual

HIPOTESIS PENELITIAN Gambar 1 menunjukkan kerangka efek dari Ketika konsumen melihat belanja iklan
yang tinggi, ini memberikan kontribusi

konseptual, yang menjelaskan

belanja iklan dan harga promosi pada ekuitas merek, diantarai oleh peran kategori produk sebagai variable moderator. Hubungan Iklan dan Brand Equity Periklanan pengeluaran, sebagai alat komunikasi pemasaran utama di pasar konsumen, harus dipertimbangkan ketika menentukan efek dari komunikasi pemasaran pada konsumen, dan persepsi bahwa pesan memprovokasi antara individuindividu target yang berbeda (Angel dan Manuel, 2005). Keller (2003) mencatat bahwa komunikasi pemasaran berkontribusi
Produk Barang Produk Jasa

untuk persepsi mereka tentang tingkat kepercayaan bahwa manajer pemasaran dalam produk, belanja iklan yang dirasa memiliki efek positif, tidak hanya pada ekuitas merek secara keseluruhan, tetapi juga pada masing-masing elemen yang terdiri dari; kesadaran, persepsi dan kualitas, asosiasi dan loyalitas merek. Loyalitas merek dianggap sebagai dimensi dan hasil dari ekuitas merek (Morgan, 2000).

Hubungan dirasakan komunikasi dan

antara

kualitas

yang untuk oleh

mempengaruhi tidak hanya kualitas merek yang dipersepsikan, tetapi juga mendukung keputusan pembelian dengan meningkatkan nilai produk. Oleh karena itu pengeluaran iklan cenderung positif terhadap ekuitas merek. Berdasarkan logika ini hipotesis yang akan diuji secara empiris diusulkan tentang pengeluaran iklan dan ekuitas merek sebagai berikut. H1 : Pengeluaran Iklan Mempengaruhi Ekuitas Merek H1a : Iklan pengeluaran yang positif berkaitan dengan persepsi kualitas. H1b : Iklan pengeluaran yang positif berkaitan dengan loyalitas merek. H1c : Iklan pengeluaran yang positif berkaitan dengan brand awareness. H1d : Iklan pengeluaran yang positif berkaitan dengan asosiasi merek.

pengeluaran

pemasaran dibenarkan

penelitian yang berbeda. Hubungan antara belanja komunikasi pemasaran dan investasi pada merek, yang melibatkan persepsi kualitas yang lebih tinggi. Hubungan antara investasi dalam komunikasi pemasaran dan kualitas mempengaruhi tidak hanya kualitas merek dirasakan, tetapi juga mendukung keputusan pembelian dengan meningkatkan nilai produk, penerima iklan menganggap pengeluaran iklan dirasakan pada merek sebagai upaya menegaskan kembali keputusan pembelian. Skala ariabel ekuitas merek seperti "brand awareness" dan "sikap merek" dapat menggunakan "efek paparan" untuk meningkatkan evaluasi pelanggan terhadap merek. "Efek paparan" akan berarti jika dampak beberapa tujuan pemasaran terjadi secara berulang. Konsumen akan memiliki lebih banyak sikap positif untuk tujuan pemasaran jika dampak yang muncul secara teratur. "Efek paparan " merupakan faktor kunci untuk mengubah preferensi dan sikap. Validasi pengaruh "efek paparan" pada "pengetahuan merek", " sikap merek ", "keakraban merek", pembelian dan kepercayaan. Hubungan antara investasi dalam komunikasi pemasaran dan kualitas

Hubungan antara Harga Promosi dan Brand Equity Promosi penjualan mengikis ekuitas merek, dan biasanya, harga disesuaikan oleh produsen sebagai metode promosi langsung untuk meningkatkan pembelian pelanggan. Sebagian besar efek dari pemotongan harga terlihat dalam jangka pendek pilihan merek. Promosi meningkatkan sensitivitas harga pada pelanggan yang tidak setia. panjang dipertimbangkan. Akan tetapi umumnya tidak tahan saat efek jangka Dalam hal ini, dengan menggunakan harga promosi berarti penurunan ekuitas merek. Harga dianggap sebagai standar skala kualitas produk tidak

langsung oleh pelanggan. Ini adalah konsep bahwa harga berkorelasi positif dengan kualitas produk, yaitu harga yang lebih tinggi, lebih baik kualitasnya. Penggunaan harga promosi memiliki efek negatif terhadap ekuitas merek, karena dianggap bahwa konsumen merasakan hubungan negatif antara ekuitas merek dan perlu menggunakan insentif untuk penjualan yang mempengaruhi tingkat kemapanan harga (Donthu dan Lee, 2000). Penjualan promosi pada umumnya, dan khususnya harga promosi, dianggap melemahkan ekuitas merek meskipun memili manfaat jangka pendek yang mereka berikan kepada konsumen (Yoo, Donthu dan Lee, 2000). Secara keseluruhan, efek jangka panjang harga promosi penjualan yang negative, oleh karena itu harga promosi mungkin memiliki pengaruh negatif pada persepsi pelanggan diferensial membuat kesadaran persepsi pelanggan pada kualitas, dan kemudian mempengaruhi ekuitas merek produk dan kesediaan pembelian pelanggan. Kegiatan berdasarkan penurunan harga dapat menempatkan konsumen ketidakstabilan, merek dalam bahaya, dengan dan akan terprovokasi kebingungan

mengusulkan hipotesis untuk diuji secara empiris adalah sebagai berikut : H2 H2a H2b H2c H2d : Harga promosi mempengaruhi ekuitas merek; : Harga promosi negatif yang terkait dengan persepsi kualitas; : Harga promosi negatif yang terkait dengan loyalitas merek; : Harga promosi negatif yang terkait dengan brand awareness; : Harga promosi negatif yang terkait dengan asosiasi merek.

Kategori Produk Kategori produk ditetapkan pada

sebuah kontinum produk barang (goods), pengalaman (experience), atau kepercayaan (credence) --- GEC, atas dasar evaluasi pelanggan terhadap barang/jasa dengan cara yang berbeda. sebelum pengalaman Produk barang didominasi pada pelanggan produk dapat oleh informasi atribut lengkap bisa diperoleh membeli, /jasa,

mengevaluasi setelah mengkonsumsi, dan barang kepercayaan didominasi oleh atribut bahwa pelanggan tidak dapat memverifikasi bahkan setelah digunakan . Atribut barang dapat dianalisis dalam tiga barang sifat, dan pengalaman, kepercayaan. karakteristik produk yang dapat

Produk barang memiliki diidentifikasi

variabilitas menyebabkan kualitas image tidak stabil. Oleh karena itu, penelitian ini

melalui pemeriksaan dan sebelum membeli. Pengalaman, di sisi lain, memiliki fitur yang terungkap hanya melalui konsumsi.

Kenyataan bahwa konsumen tidak bisa memastikan kualitas dan nilai kepercayaan, produk, dan pengalaman. Produk barang, seperti yang didefinisikan oleh kerangka GEC, bahwa ketidakpastian pra-pembelian adalah rendah. kepercayaan Pada pengalaman, dan yang ditandai dengan

Variabilitas produk barang / jasa rendah juga membuatnya layak bagi konsumen untuk memperoleh pengetahuan penuh tentang kinerja produk sebelum membeli. Harga akan menjadi pendorong Untuk layanan dan pengetahuan utama untuk pelanggan. yang paling penting. kepercayaan untuk jasa. Karena kesulitan mendapatkan informasi prepurchase, maka memberikan informasi tambahan dapat mengurangi risiko bagi pelanggan. Selain itu, kepercayaan barang/jasa sangat profesional dan terkait dengan tingkat variabilitas yang lebih tinggi, hal ini lebih sulit bagi pelanggan untuk menilai kualitas atau pengalaman, harga murah kepercayaan barang/jasa,

kepercayaan, harga mungkin bukan atribut meningkat sepanjang ada kontinuitas dari

ketidakpastian yang lebih tinggi, sehingga strategi iklan untuk penjual barang mungkin akan sangat berbeda dari kepercayaan dan produk pengalaman. Meskipun, hubungan dan belanja positif antara kualitas merek

iklan yang diharapkan, hubungan akan berbeda dengan produk yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan hipotesis yang akan diuji secara empiris dirumuskan sebagai berikut : H3: Dampak iklan terhadap ekuitas merek untuk produk barang berbeda dari yang non barang/jasa (pengalaman dan kepercayaan).

sehingga dapat menjadi petunjuk bagi keterbatasan kualitas. Peneliti berpendapat bahwa dampak harga promosi pada ekuitas merek untuk produk barang/jasa berbeda dari yang nonproduk kepercayaan). barang (pengalaman hipotesis dan yang Maka

diusulkan untuk diuji secara empiris adalah : H4 : Dampak promosi harga pada ekuitas merek untuk produk barang/jasa berbeda dari yang non-produk (pengalaman dan kepercayaan) barang / jasa.

METODE PENELITIAN Definisi dan Pengukuran Penelitian ini berfokus pada tiga konstruksi yaitu iklan, promosi harga dan ekuitas merek. Pengeluaran periklanan, sebagai alat komunikasi pemasaran utama di pasar konsumen, harus dipertimbangkan ketika menentukan efek dari komunikasi pemasaran pada konsumen, dan persepsi bahwa pesan memprovokasi antar individu dari target yang berbeda. Oleh karena itu, iklan dalam penelitian ini didefinisikan sebagai persepsi subjektif konsumen terhadap merek. Skala Martin pengukuran Harga dikembangkan promosi berarti dengan referensi dari Yoo et al. (2000) (2000). pengurangan harga jangka pendek seperti penjualan khusus. Hal ini diukur sebagai persepsi subjektif konsumen, frekuensi dari harga promosi yang digunakan untuk merek. Skala ekuitas merek mencakup empat dimensi inti:, kualitas merek, loyalitas merek, kesadaran merek dan asosiasi merek. Kualitas didefinisikan sebagai penilaian subjektif yang dilakukan oleh konsumen mengenai keunggulan suatu produk. Loyalitas merek memainkan peranan yang luar biasa dalam menghasilkan ekuitas merek, bukan hanya karena kemampuan

untuk mempertahankan pelanggan setia, tetapi juga karena loyalitas pelanggan meluas ke merek lain (terutama pada portofolio perusahaan). Dalam riset ini, kesetiaan brand mengacu pada komitmen keseluruhan yang loyal terhadap merek tertentu. Kesadaran tingkat adalah tinggi. persepsi mereka Asosiasi merek diukur sebagai konsumen subjektif yang merek

terhadap merek. tingkat pengenalan merek menghadirkan terkait dengan kesadaran merek pada tingkat yang lebij serangkaian atribut berwujud dan tidak berwujud yang terkait dengan merek, dan pada kondisi apa sikap konsumen yang mungkin menguntungkan untuk memilih merek. Semua item diukur dengan skala Likert yang disedrhanakan menjadi 5 point. Pretest Kategori Produk Riset ini memilih tiga kategori produk: jean, restoran cepat saji, dan bank. Sampel pretest berjumlah 85 mahasiswa. Tabel 1 menunjukkan bahwa jean, restoran cepat saji adalah produk barang, mahasiswa dapat menilai kinerja dari setiap layanan baik sebelum maupun setelah digunakan, untuk menilai kinerja dari setiap layanan lebih besar dari 3,0 pada skala lima poin. Namun, skor tertinggi sebelum dan setelah pembelian pada produk Jean. Ini berarti bahwa

responden dapat menilai kualitas Jean itu baik sebelum dan sesudah membeli atau menggunakannya. Jadi Jean terpilih sebagai produk barang dalam riset ini ini. Sementara kemampuan untuk menilai mutu sebelum digunakan kurang dari 3,0 dan kemampuan

untuk menilai kualitas setelah digunakan lebih besar dari 3,0, adalah bank. Oleh karena itu, desain kuesioner formal dalam penelitian ini memilih jean sebagai produk barang dan bank sebagai produk pengalaman.

Tabel 1. Statistik Deskriptif dari Kategori Produk Jean Sebelum membeli Setelah penggunaan Sebelum membeli Setelah penggunaan Sebelum membeli Setelah penggunaan N 85 85 85 85 85 85 Minimum 2.00 3.00 1.00 2.00 1.00 2.00 Maksimum 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 Mean 3.5059 4.2353 3.4941 4.1882 2.9059 3.6824 Std. Deviasi 0.81099 0.47926 0.88133 0.69854 0.88133 0.83398

Restoran cepat saji Bank

bank tempat mereka melakukan transaksi untuk Pengumpulan Data dan Analisis Survei dengan menggunakan kuesioner dilakukan pada bulanDesember 2010 sampai bulan Februari, 2011. Sampel penilitian ini adalah mahasiswa yang sering mengunjungi gerai penjualan jean, restoran cepat saji dan Analisis eksploratori faktor AEF (iklan dan harga promosi). menggunakan KMO (Kaiser-Meyer-Olkin) tes yang menunjukkan bahwa nilai KMO adalah 0,744 yang berarti analisis faktor mencapai tingkat sedang. Persentase akumulasi perbedaan sebesar 86,49%, cukup untuk 8 Uji sampling digunakan untuk ekstraksi komponen pokok dan rotasi diterapkan pada setiap item. Skala komunikasi pemasaran meliputi 6 item (tabel 3). 6 item ini diekstraksi menjadi 2 faktor berbagai kepentingan seperti pembayaran KRS, mengambil uang dan lain sebagainya, Jumlah sampel yang terambil 200 orang. Reliabilitas dan Validitas Tes

mewakili data asli.

Faktor loading setiap

sampling dengan uji KMO menunjukkan bahwa nilai KMO adalah 0,851 yang berarti kebugaran analisis faktor mencapai tingkat tinggi. Persentase akumulasi perbedaan sebesar 80,43%, cukup untuk mewakili data asli. Faktor loading setiap item lebih besar dari 0,5 menunjukkan validitas konvergen. Cronbach's Jean diukur melalui konsistensi setiap item. memiliki lebih besar Semua dimensi dari nilai yang

item lebih besar dari 0,5 menunjukkan adanya validitas konvergen. Skala ekuitas merek meliputi 12 item (tabel 4). ke 12 item ini diekstraksi menjadi 4 faktorPengujian sampling dengan uji KMO yang menunjukkan bahwa nilai KMO adalah 0,896 yang berarti analisis faktor mencapai tingkat tinggi. Persentase Faktor loading akumulasi perbedaan sebesar 82,38%, cukup untuk mewakili data asli. adanya validitas konvergen. Skala komunikasi pemasaran meliputi 6 item (table 5). menjadi dua ke 6 item diekstraksi (iklan dan harga factor setiap item lebih besar dari 0,5 menunjukkan

disarankan sebesar 0,7 - iklan = 0,943, promosi harga = 0,895, persepsi kualitas = 0,832, loyalitas merek = 0,840, brand awareness = 0,906 dan asosiasi merek = 0,916. Nilai alpha untuk masing-masing konstruksi menunjukkan konsistensi internal yang memadai. Cronbach's Bank diukur melalui konsistensi setiap item. Semua dimensi memiliki lebih besar dari nilai yang disarankan sebesar 0,7 - iklan = 0,937, harga promosi = 0,917, persepsi kualitas = 0,866, loyalitas merek = 0,747, brand awareness = 0,908 dan asosiasi merek = 0,891. Nilai alpha untuk masing-masing konstruksi menunjukkan konsistensi internal yang memadai.

promosi). Dari sampling dengan uji KMO yang menunjukkan bahwa nilai KMO adalah 0,788 yang berarti analisis faktor mencapai tingkat sedang. Persentase akumulasi Faktor loading perbedaan adalah sebesar 87,51%, cukup untuk mewakili data asli. adanya validitas konvergen. Skala ekuitas merek meliputi 12 item (Tabel 6). 12 item ini diekstraksi 4 faktor : persepsi kualitas, loyalitas merek, kesadaran merek dan asosiasi merek. Pengujian setiap item lebih besar dari 0,5 menunjukkan

signifikan terhadap persepsi kualitas ( =Bank Analisis Korelasi Pearson digunakan untuk analisis antar variabel. Tabel 10 menunjukkan analisis hubungan antara iklan, promosi harga dan ekuitas merek bank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara iklan dan persepsi kualitas (= 0,385, p r <0,01), loyalitas merek (r = 0,236, p <0,01), brand awareness (r = 0,158, p <0,05) dan asosiasi merek (r = 0,360, p <0,01). Ada hubungan positif yang signifikan antara promosi harga dan persepsi kualitas (r = 0,337, p <0,01), loyalitas merek (p r = 0,271, <0,01) dan asosiasi merek (r = 0,211, p <0,01). Ini berarti bahwa promosi harga bank memiliki efek positif terhadap ekuitas merek, terutama pada persepsi kualitas, loyalitas merek dan asosiasi merek. Analisis Regresi Jean Iklan berpengaruh positif signifikan terhadap persepsi kualitas ( 0,343, t => 1,645), loyalitas merek ( 0,232, t => 1,645), kesadaran merek ( 0,566, t => 1,645) dan asosiasi merek ( = 0,481, t> 1,645). Harga promosi berpengaruh negatif signifikan terhadap brand awareness ( =- 0,180, t <1,645) dan asosiasi merek ( =- 0,108, t <1,645) Harga promosi pengaruh negatif tidak Iklan berpengaruh positif signifikan terhadap persepsi kualitas ( 0,296, t => 1,645), loyalitas merek ( 0,149, t => 1,645), kesadaran merek ( 0,174, t => 1,645) dan asosiasi merek ( = 0,329, t> 1,645). Harga promosi berpengaruh positif signifikan terhadap persepsi kualitas ( = 0,231), loyalitas merek ( = 0,209). Harga promosi tidak berpengaruh signifikan terhadap brand awareness ( =- 0,038) dan asosiasi merek ( = 0,073). Analisis korelasi menggambarkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara biaya iklan dan promosi harga. variabel penelitian Artinya, berpengaruh independen, menunjukkan tingkat secara penelitian bahwa Untuk ini Hasil VIF tidak terhadap menghindari dampak collinearity antara mengadopsi diagnostik collinearity. 0,078,> t - 1,645). Selain itu, harga promosi tidak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas merek ( 0,013, t = <1,645). Bank

(Variance Inflation Factor) kurang dari 10. collinearity signifikan

estimasi model regresi. Riset ini mencoba untuk memperluas ekuitas kesan merek kualitas dengan dan menggunakan merek. 10 konstruksi loyalitas merek, kesadaran merek, asosiasi

Spesifikasi

konseptual

bisa

bermasalah

loyalitas merek merek jean. Hal ini karena konsumen tertarik terhadap merek oleh utilitas transaksi yang memberikan harga promosi (sesaat), dan ketika akhir promosi, mereka kehilangan minat pada merek. Dengan demikian, perubahan loyalitas merek setelah berakhirnya promosi tidak mungkin terjadi kecuali merek ini dianggap unggul dan memenuhi kebutuhan konsumen lebih baik daripada merek pesaing. Meskipun harga promosi tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap persepsi kualitas, arah dan harapan tetap menjadi nilai negatif. Saat melihat kekuatan penjelas dari model regresi, adjusted R , ada perbedaan besar antara kekuatan penjelas dari pengeluaran iklan dan harga promosi untuk dimensi ekuitas merek. Kedua variabel independen menjelaskan kesadaran merek (adjusted R = 0,364) dan asosiasi merek (adjusted R = 0,245) lebih baik dari melihat kualitas (adjusted R = 0,119) dan loyalitas merek (adjusted R = 0,044). Ini membuktikan bahwa marketer harus mempertimbangkan faktor penting lainnya ketika menyelidiki loyalitas merek. Selain itu, ditemukan bahwa promosi harga secara signifikan berpengaruh positif terhadap persepsi kualitas dan loyalitas merek bank. ini mungkin karena bank adalah layanan industri berskala besar.

karena konstruksi yang sama muncul untuk memainkan peran ganda. Sebagai contoh, loyalitas merek dianggap sebagai dimensi dan hasil dari ekuitas merek. Oleh karena itu, penelitian ini lebih lanjut meneliti hubungan antara loyalitas merek, kesadaran merek, persepsi kualitas, dan asosiasi merek dengan memperlakukan loyalitas merek sebagai kualitas variabel terikat. positif Tabel 13 menunjukkan bahwa, untuk jean, persepsi berpengaruh signifikan terhadap loyalitas merek ( 0,392, t => 1,645) dan asosiasi merek berpengaruh positif signifikan terhadap loyalitas merek ( = 0,317, t> 1,645). Kesadaran merek tidak berpengaruh signifikan terhadap loyalitas merek bank ( =- 0,037, t> -1,645). Persepsi kualitas, kesadaran merek dan asosiasi merek semua berpengaruh positif signifikan terhadap loyalitas merek ( 0,380, t => 1,645), ( 0,158, t => 1,645), ( = 0,269, t> 1,645). PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis di atas, penelitian ini menemukan iklan yang memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap ekuitas merek produk barang dan produk jasa. tidak Selanjutnya, hasil analisis signifikan terhadap regresi menemukan bahwa promosi harga berpengaruh

11

Ketika Bank menggunakan harga promosi berjangka pendek, konsumen tidak akan mempertanyakan kepada orang lain tentang kualitas pelayanan bank, atau harga seperti tingkat bunga dan biaya layanan dapat menjadi salah satu faktor kunci bagaimana pelanggan menilai kualitas bank. Penelitian ini juga menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara harga promosi dan kesadaran merek atau asosiasi merek, karena dan tinggi rendahnya harga bisa sama-sama kuat terkait merek dalam memori yang membawa manfaat kepada konsumen. Riset ini menunjukkan bahwa iklan berpengaruh positif signifikan terhadap ekuitas merek produk jean dan bank. Namun, tingkat dampaknya tidak sama, hasilnya, dapat diketahui bahwa iklan memiliki dampak lebih tinggi pada empat dimensi ekuitas merek produk barang (jean) (koefisien standar) dari pada yang produk bank. Harga promosi berpengaruh moderat yang berbeda pada ekuitas merek karena perbedaan kategori produk, ini berarti bahwa harga promosi membuat pengaruh bertentangan mengenai produk tangible dan intangible. Harga promosi dalam kesadaran merek dan asosiasi merek jean memiliki dampak negatif signifikan. Namun,

berpengaruh

positif

terhadap

persepsi

kualitas dan loyalitas merek di industri perbankan. Loyalitas merek konsumen pada produk barang dapat ditingkatkan, jika identifikasi integral pada kualitas produk dan asosiasi merek yang baik dapat ditingkatkan. Loyalitas merek sangat dipengaruhi oleh tiga dimensi ekuitas merek produk layanan bank. Kekuatan variable penjelas pengeluaran iklan dan harga promosi pada ekuitas merek (adjusted R ), pengeluaran periklanan dan harga promosi memiliki kekuatan penjelas yang lebih baik pada kesadaran merek jean dan asosiasi merek pada layanan perbankan. Dalam layanan perbankan, R nilai disesuaikan dari kekuatan penjelas pengeluaran iklan dan harga promosi menunjukkan 0,178 pada persepsi kualitas, 0,083 pada loyalitas merek, 0,016 pada kesadaran merek, dan 0.125 pada asosiasi merek. Dengan kata lain, adjusted R nilainilai dari kekuatan penjelas pengeluaran iklan dan harga promosi pada layanan perbankan semuanya kurang dari 15%. Ini menunjukkan bahwa pengaruh variabel moderator terhadap ekuitas merek non produk barang yang berbeda. KESIMPULAN

12

Penelitian ini meneliti iklan di kategori produk barang dan non barang. Di kedua kategori, merek dengan anggaran iklan yang lebih tinggi menghasilkan tingkat yang lebih tinggi secara substansial dari ekuitas merek. Riset ini mencatat bahwa perusahaan periklanan berkontribusi terhadap ekuitas merek dan loyalitas meningkat. Belanja iklan menunjukkan hubungan kausal yang menguntungkan bagi tiga dari empat dimensi ekuitas merek. Semakin tinggi belanja iklan untuk merek, semakin baik kualitas produk seperti yang dirasakan oleh konsumen, semakin tinggi tingkat kesadaran merek dan asosiasi yang lebih terkait dengan produk, pembentukan loyalitas merek. kegiatan periklanan yang Artinya, efektif

memiliki efek negatif terhadap ekuitas merek. Meskipun mereka dapat menyebarkan manfaat jangka pendek kepada konsumen, dari perspektif strategis menunjukkan efek negatif ini dapat mempengaruhi kualitas yang dirasakan dari produk buruk, karena manfaat yang diperoleh melalui harga promosi tidak bertahan lama, dan tidak menularkan keamanan atau keyakinan bahwa merek harus menginspirasi berkaitan dengan utilitas yang diharapkan. Namun, mengadopsi perspektif pengetahuan merek berbasis ekuitas merek konsumen, riset ini menunjukkan bahwa harga promosi dari bank berguna untuk menciptakan ekuitas merek karena efek positif pada persepsi kualitas, loyalitas merek dan asosiasi statistik bahwa merek. produk promosi Namun barang harga demikian, membuktikan

memungkinkan formasi kesadaran merek dan kualitas yang dirasakan positif, loyalitas merek dan asosiasi merek. Untuk meringkas, iklan memiliki efek positif terhadap ekuitas merek. Oleh karena itu, hipotesis H1a, H1b, H1c dan H1d diterima. Pertanyaan penelitian yang menyangkut penelitian ini adalah apakah harga promosi dapat memberikan kontribusi terhadap konstruksi ekuitas merek. Harga promosi memiliki efek negatif terhadap ekuitas merek dalam jangka panjang. Harga promosi sebagai insentif telah untuk terbukti meningkatkan penjualan

memiliki dampak negatif yang signifikan pada kesadaran merek dan asosiasi merek. Oleh karena itu, H2 sebagian diterima. Riset ini menguji secara sistematik driver kemungkinan perbedaan di kategori produk dan implikasi dari temuan ini. Hasilnya membuktikan bahwa kategori produk memang memiliki efek moderat di antara harga promosi dan ekuitas merek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

13

kategori produk yang memoderasi hubungan antara iklan, harga promosi dan ekuitas merek. Pengaruh iklan dan harga promosi pada ekuitas merek berbeda dari produk barang dan non barang (pengalaman dan kepercayaan). Dibandingkan produk barang, produk jasa secara positif lebih efektif beriklan di ekuitas merek. Arah dan dimensi dampak harga promosi pada ekuitas merek dalam kategori berbagai produk berbeda. jean, memiliki pada dampak kesadaran signifikan Dalam produk negatif merek yang dan

begitu banyak untuk nama merek?

Untuk

membangun ekuitas merek yang kuat dan efisien, manajer harus berinvestasi dalam iklan, namun mempertimbangkan kategori produk ketika menerapkan harga promosi. Karena harga promosi bisa menyiratkan rendahnya kualitas produk barang, mungkin tidak meningkatkan ekuitas merek. Meskipun memiliki manfaat dalam jangka pendek dengan harga promosi, mungkin tidak sesuai dengan persepsi kualitas tinggi, dan akan mengurangi ekuitas merek dalam jangka-panjang. seharusnya promosi. marketing Dengan tidak Manajer mix menggunakan harus yang akurat mereka pelanggan perusahaan. Manajer harga untuk dapat dan Untuk menerapkan

asosiasi merek. Produk non barang (bank), memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kualitas dan loyalitas merek. Kategori produk memberikan sebuah efek moderator pada hubungan antara ekuitas merek dan harga iklan atau promosi. Dengan demikian hipotesis H3 dan H4 diterima. Implikasi Manajerial Banyak menghabiskan harga promosi. promosi manajer ekuitas merek? perusahaan ratusan miliar besar pada

mengoperasikan dan mengelola merek. demikian loyalitas laba meningkatkan meningkatkan

produk non barang, harga promosi dapat meningkatkan kualitas dan loyalitas merek. Di pasar yang kompetitif dan dinamis, para manajer harus menyadari pentingnya komunikasi pemasaran untuk seluruh merek. Untuk tujuan ini, manajer strategis mundur harus dalam dalam memasukkan depan dan foresight penalaran

komunikasi pemasaran, seperti iklan dan Apakah iklan dan harga atau melemahkan sumber daya Bagaimana seharusnya memperkuat

perencanaan pemasaran dengan melihat ke membuat keputusan yang optimal. Dengan melihat ke depan, setiap manajer merek,

mengalokasikan

keuangan untuk iklan dan harga promosi? Mengapa bisnis bersedia untuk membayar

14

ramalan

masa

depan

rencananya

dan

disarankan agar penelitian mendatang dapat melibatkan analisis lebih mendalam dan perbandingan lebih dari dua jenis produk dan diusulkan untuk menguji model pengukuran pada sampel konsumen lain. Ketiga, subjek penelitian ini adalah mahasiswa, oleh karena itu penelitian mendatang dapat memperluas sampel ke konsumen umum, dan Keempat, penelitian masa depan dapat mengungkap hubungan sebab dan akibat jika menggunakan analisis longitudinal.

mengantisipasi keputusan harus dibuat oleh merek pesaing lainnya; dengan penalaran mundur, manajer harus secara optimal keputusan yang dibuat dapat sebagai tanggapan terhadap strategi terbaik dari semua merek. Oleh karena itu, terlepas dari produk barang atau non barang, persepsi pelanggan dalam pengeluaran iklan memiliki dampak positif terhadap ekuitas merek. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengeluaran iklan dirasakan oleh pelanggan mendekati angka 3 untuk industri jeans dan kategori perbankan di-point 5. Oleh karena itu, bagaimana mempromosikan pengeluaran iklan dirasakan oleh pelanggan adalah upaya masa depan untuk manufaktur, khususnya untuk industri perbankan. Keterbatasan penelitian dan saran Beberapa keterbatasan penelitian ini. Pertama, riset ini berkonsentrasi pada efek pengeluaran iklan dan harga promosi. Oleh karena itu direkomdasikan Interaksi upaya pemasaran toko. lain yang perlu dipelajari, misalnya harga, kekuatan distribusi dan citra Kedua, riset ini hanya menekankan pada perbandingan non produk barang dan produk barang. Setiap perbandingan produk barang, pengalaman dan kepercayaan tidak tercakupi. Sepadan dengan kerangka GEC,

DAFTAR PUSTAKA Ali Hasan, 2010. Marketing-ed3. Yogyakarta: Media Presindo. hlm 84, 142-162.

Angel F. Villarejo-Ramos, Manuel J. Sa nchez-Franco. 2005, The impact of marketing communication and price promotion on brand equity, Brand Management, vol.12, No.6, 431-444. Girish N. Punj, Clayton L. Hillyer. 2004. A cognitive model of customer-based brand equity for frequently purchased products: conceptual framework and empirical results, Journal of Consumer Psychology, 14(1&2), 124131. Keller, K. L. 2003, Strategic Brand Management, Upper Saddle River, NJ: Prentice-Hall.

15

Martin, F. A. 2000 Medicion de la calidad de servicio percibida en el transporte pu blico urbano: Metodologa y relacion con variables de marketing , doctoral dissertation, University of Seville, Spain. Morgan, R. P. 2000. A consumer-oriented framework of brand equity,

International Journal Research, 42, 6578.

of

Market

Yoo, B., Donthu, N. and Lee, S. 2000 An examination of selected marketing mix elements and brand equity, Journal of the Academy of Marketing Science, Vol. 28, No. 2, pp. 195211.

BISNIS MICE SEBAGAI POTENSI UNGGULAN PARIWISATA DI YOGYAKARTA M. Agus Prayudi Dosen Akademi Pariwisata Indraphrasta Yogyakarta

Abstract Mice in the tourism industry is type of tourism activity in which a large group, usually carefully planned, take departure together for particular purpose. The mice world is a world that has not received optimal attention from the tourism agent in Indonesia . Mice is very promising, especially for the Yogyakarta city, which is the education and tourism city and of course often to be the scene of meetings and exhibitions either regional, national and even international. Mice business is very reasonable to be developed in Yogyakarta because the city has various advantages either the hotel facilities, convention hall, human resources, means and infrastructure of transportation, telecommunications networks and availability the type of culinary and handicrafts tourism. Keywords: Mice, Meeting, Incentive, Convention and Exhibition

16

Pariwisata merupakan salah satu industri raksasa dunia yang mendorong pertumbuhan sektor ekonomi paling cepat. Pada 2008, diperkirakan wisatawan di dunia mencapai 920 juta, tetapi karena terjadinya krisis global, jumlah kunjungan menurun 4% menjadi 880 juta pada 2009. Walau terjadi penurunan, industri pariwisata terutama di Asia Pasifik sudah kembali pulih, sehingga pada 2010 kontribusi pariwisata pada PDB mencapai 9,2% (US $5.751 milyar) dengan pertumbuhan 0,5% serta menciptakan 235,8 juta kesempatan kerja (8,1% dari kesempatan kerja dunia) (Kusmayadi, 2010 diktipari .org). Salah satu penentu perkembangan dunia pariwisata di suatu daerah adalah terbukanya daerah itu terhadap pertumbuhan pariwisata di tingkat lebih luas, baik nasional maupun internasional. kepercayaan Di Indonesia, dari dunia peningkatan

Change yang berhasil diadakan di Indonesia pada 2010. Peran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), para pelaku bisnis MICE, INCCA (Indonesia Congress and Convention Association), dan perguruan tinggi penting dan dalam mendukung bisnis perkembangan pertumbuhan

MICE dalam konteks promosi pariwisata di Indonesia, terutama di sepuluh kota besar yang ditetapkan sebagai destinasi unggulan MICE, antara lain: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Medan, Batam, Padang, Makasar dan Ma-nado. Keberadaan Direktorat MICE di Depbudpar diharapkan mampu mendorong semakin meningkatnya industri jasa MICE di negara ini. A. Apa Bisnis MICE? Bisnis MICE merupakan bisnis jasa kepariwisataan yang bergerak di seputar Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition, yang disingkat MICE). Keempat jenis kegiatan kepariwisataan ini merupakan usaha untuk memberi jasa pelayanan bagi suatu pertemuan sekelompok orang, khususnya para pelaku bisnis, cendekiawan, eksekutif pemerintah dan swasta, untuk membahas berkaitan termasuk bisnis. berbagai dengan memamerkan persoalan yang kepentingan bersama,

internasional terhadap negara ini sebagai tujuan wisata yang menarik mendorong tumbuhnya Incentive, bisnis Conference, MICE and (Meeting, Exhibition),

terutama sejak 2007. Dampak besar bisnis MICE dapat dilihat dari perolehan devisa pariwisata dengan diadakannya sejumlah kegiatan konvensi internasional skala besar seperti PATA Travel Mart dan Global Climate

produk-produk

17

Pertama, meeting merupakan rapat atau pertemuan sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah asosiasi, di mana perusahaan yang mempunyai minat dengan tujuan dan kesamaan kepentingan

Usaha

jasa

MICE

tidak

dapat

dipisahkan dari mata rantai usaha di bidang kepariwisataan dan berbagai sektor usaha lainnya. Penyelenggaraan MICE selalu melibatkan banyak sektor usaha atau industri dan banyak pihak, yang menimbulkan pengaruh ekonomi berlipat ganda (multiplier effect) yang menguntungkan dan dapat dirasakan oleh banyak pihak, khususnya karena daya-pengeluaran finansial (spending power) dari segmen MICE tinggi, sekitar 810 kali wisatawan biasa. Di antara pihak yang potensial mendapatkan keuntungan besar bisnis MICE adalah Percetakan, Hotel, Perusahaan Sovenir, Biro Perjalanan Wisata, Transportasi, Organizer Professional (PCO), Usaha Conference Kecil dan

membahas suatu permasalahan bersama. Kedua, incentive mengacu pada perjalanan insentif yang merupakan suatu kegiatan perjalanan yang diselenggarakan oleh suatu perusahaan untuk karyawan dan mitra usaha sebagai imbalan penghargaan atas prestasi mereka yang berkaitan dengan penyelengaraan konvensi yang membahas perkembangan kegiatan perusahaan yang bersangkutan dan/atau kegiatan pameran. Ketiga, convention, yaitu pertemuan sekelompok orang (negarawan, usahawan, cendekiawan, profesional dan sebagainya) untuk mambahas masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama, biasanya bentuk dan dengan jumlah peserta banyak. Keempat, exhibition, yaitu mempromosikan, kegiatan mempertunjukkan, memperagakan, memperkenalkan, menyebarluaskan informasi hasil produksi barang atau jasa maupun informasi visual di suatu tempat tertentu dalam jangka waktu tertentu untuk disaksikan langsung oleh masyarakat dalam meningkatkan penjualan, memperluas pasar dan mencari hubungan dagang.

Menengah (UKM), dan Event Organizer. B. Potensi Perkembangan Bisnis MICE di Indonesia Secara global, industri MICE di berbagai kawasan ASEAN, Asia Pasifik, Eropa dan Amerika Serikat pada 2007 ratarata mengalami pertumbuhan dua digit, dan kondisi ini memiliki dampak positif terhadap industri MICE di Indonesia. Intinya, kondisi global bisnis itu mendorong bisnis MICE di negara ini. Pada dekade 1990-an, bisnis MICE menjadi bagian penting dari perkembangan kepariwisataan di Indonesia, walaupun di negara-negara industri maju

18

bidang pariwisata ini sudah jauh lebih berkembang semakin internasional sebelumnya. terbukanya dan Pesatnya perdagangan pesatnya perkembangan bisnis MICE terjadi seiring berkembang

Kecil Menengah dalam Kegiatan Pertemuan, Perjalanan lebar bagi Insentif, pelaku Konferensi UMKM dan untuk Pameran. Diharapkan, kesempatan terbuka mempromosikan jasa dan produknya dalam kegiatan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran atau bisnis MICE. Sejumlah penyelenggaraan kegiatan MICE di Indonesia terbukti memberi kontribusi konkret devisa dalam dalam pembangunan waktu relatif ekonomi, singkat, antara lain berbentuk penerimaan cadangan penerimaan pajak, penyerapan tenaga kerja dan pengembangan infrastruktur di kota besar seperti Batam, Medan, Jakarta, Bali, Bandung, Semarang, Yogyakarta,

teknologi informasi dan transportasi. Kota besar khususnya Jakarta, dan kota-kota besar lain yang berdekatan, masih menyumbang persentase terbesar dalam mendatangkan tamu yang menginap dalam kerangka bisnis MICE. Dalam kapasitas sebagai pengambil kebijakan, pemerintah sudah mengatur dunia pariwisata melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang menyebutkan ada 13 sektor usaha pariwisata, yaitu: (1) Daya Tarik Wisata, (2) Kawasan Pariwisata, (3) Jasa Transportasi Wisata, (4) Jasa Perjalanan Wisata, (5) Jasa Makanan & Minuman, (6) Penyediaan Akomodasi, (7) Penyelenggaraan Kegiatan Hiburan & Rekreasi, (8) Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi & Pameran, (9) Jasa Informasi Pariwisata, (10 Jasa Konsultan Pariwisata, (11) Jasa Pramu Wisata, (12) Wisata Tirta, dan (13) Spa. Terkait dengan MICE, pada Mei 2009 diterbitkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata tentang Nomor Pedoman 18/UM.001/MKP/2009

Makassar, dan Manado. Penghasilan besar dari bisnis MICE itu dapat diperoleh dari subsektor bisnis MICE, antara lain: usaha akomodasi seperti hotel, wisma, dan losmen; usaha jasa penyewaan audio visual, usaha konsumsi baik berbentuk restoran maupun perusahaan jasa boga atau katering; usaha suvenir yang meliputi pusat perbelanjaan, toko-toko hadiah, perusahaan kerajinan dari berbagai bahan tekstil pakaian, kulit, kerajinan bambu, kayu, dan rotan; usaha jasa hiburan seperti orkestra, sendratari, sanggar kesenian dan kebudayaan serta lawak, dan usaha jasa pengiriman cepat (ekspres) dan pelayaran (shipping). Semua

Penggunaan Jasa dan Produk Usaha Mikro

19

jenis usaha ini bisa dikelola oleh UMKM atau setidaknya melibatkan banyak sektor UMKM, terutama di kota-kota besar seluruh Indonesia. C. Bisnis MICE di Yogyakarta Yogyakarta adalah daerah tujuan wisata utama di Pulau Jawa, Indonesia. Kombinasi unik antara candi-candi kuno, sejarah, tradisi, budaya, pendidikan dan kekuatan alam menjadikan Yogyakarta sangat menarik untuk dikunjungi. Kota ini merupakan daerah tujuan wisata MICE yang banyak diminati berbagai kalangan, karena memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk mendukung kegiatan itu. Di kota ini, misalnya, banyak terdapat hotel dan gedung pertemuan yang mempunyai standar MICE dan siap menggelar berbagai kegiatan, baik skala nasional maupun internasional. Berdasarkan data kantor Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sampai sekarang di daerah ini tercatat terdapat 33 hotel berbintang, dan 835 hotel melati, di samping yang peserta sejumlah dapat seminar, gedung pertemuan Banyaknya mendukung komvensi,

posisi Yogyakarta sebagai salah satu daerah pariwisata berbasis MICE semakin kokoh. Pengembangan kegiatan bisnis MICE menjadi salah satu prioritas program pengembangan pariwisata karena kegiatan yang digelar di kota akan berdampak positif terhadap Silaturahmi sektor Insan pariwisata. Pariwisata Forum (Fosipa)

Indonesia yang berpusat di Yogyakarta mempunyai anggota dari kalangan pelaku usaha wisata, baik pengelola hotel, restoran, jasa transportasi wisata, dan pramuwisata se Jawa-Bali serta sebagian Sumatera. Di samping itu, banyaknya kegiatan MICE dapat memberikan keuntungan, yaitu meningkatkan penghasilan, termasuk para pemangku kepentingan (stakeholder) pariwisata. Misalnya, produk kerajinan, rumah makan atau restoran, dan hotel banyak diuntungkan banyaknya kegiatan MICE, baik nasional, regional maupun internasional. Sebagai kota wisata, Yogyakarta terus berbenah dan menambah berbagai fasilitas yang dibutuhkan wisatawan. Bertambahnya hotel, restoran, pusat perbe-lanjaan dan fasilitas olah raga tentu semakin memanjakan para wisatawan untuk merasa nyaman berkunjung ke Yogyakarta. Selain itu, kondisi kota ini yang aman menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk

Yogyakarta sebagai tujuan wisata MICE. pameran maupun kegiatan lainnya berskala nasional maupun internasional yang digelar di Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa

20

mengadakan acara skala nasional, regional maupun internasional, baik seminar, pameran, pertemuan, dan lain sebagainya. Dengan kondisi seperti itu banyak pelaku jasa wisata menyambut berbagai untuk optimis dan dalam termasuk mendukung kebutuhan kegiatan

dalam

suatu

penyelenggaraan hotel dan

konvensi kamar

adalah ruang pertemuan (hall) dan hotel. Pertumbuhan akan jumlah berikut fasilitas-fasilitasnya secara langsung berpengaruh terhadap penyediaan fasilitas pendukung untuk usaha wisata MICE. Di antara hotel yang sangat terkenal untuk penyelenggaraan bisnis MICE antara lain: hotel Bintang 5 (Aquila Prambanan Hotel dan Melia Purosani Hotel); hotel Bintang 4 (Natour Garuda Hotel, Santika Hotel, Sahid Garden Hotel, Hotel, Jayakarta Yogya Hotel, International

kerangka bisnis MICE. Sekarang, fasilitas masyarakat wisatawan di Yogyakarta semakin lengkap. Ketika wisatawan mau belanja, misalnya, pilihan wisata belanja semakin banyak tersedia, mengingat semakin banyak didirikannya pusat perbelanjaan mo-dern di berbagai sudut kota ini. Tidak hanya urusan belanja, untuk wisata MICE yang lain di Yogyakarta sangat memadai. Banyak hotel berbintang, Jogja Expo Center (JEC), Malioboro Mall, Ambarukmo Plasa, termasuk Gedung Pasifik Hall di Jalan Magelang, adalah beberapa tempat konvensi dan pameran yang banyak diminati para pengunjung. Dibandingkan lainnya, Pasifik Hall masih unggul karena tempatnya yang luas dan fasilitas yang memadai. Tempatnya juga stategis dan mudah dijangkau. Banyak masyarakat dari luar Yogyakarta mau mengikuti seminar, pertemuan kantor, pa-meran sampai hajatan pernikahan menggunakan tempat ini. Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa salah satu fasilitas sangat penting

Radisson Plaza Hotel); hotel Bintang 3 (Mutiara Hotel, Puri Artha Hotel, Sriwedari Hotel & Cottages, Phoenix Heritage Hotel); hotel Bintang 2 (Mendut Hotel, Matahari Hotel); hotel Bintang 1 (Cakra Kembang Hotel, Air Langga Hotel, Dwi Pari Hotel) (Dinas Pariwisata Yogyakarta, 2007). Perkembangan hotel yang ada di Yogyakarta sangat dipengaruhi pula oleh akses dari dan/atau ke dunia pariwisata internasional. Dibukanya Bandar Udara Adisucipto Yogyakarta sebagai bandar udara internasional pada 21 Februari 2004 telah membuka peluang sangat lebar bagi pengembangan pariwisata internasional,

termasuk bisnis MICE di kota budaya ini. Lokasi geografisnya yang strategis jelas membuat kota Yogyakarta mudah dijangkau

21

baik

menggunakan

transportasi

udara

tersebut sangat membantu pengguna jasa telekomunikasi, baik untuk penduduk lokal maupun untuk wisatawan. Akhirnya, kehadiran wisatawan di Yogyakarta tidak dapat dilepaskan juga dari berkembangnya wisata kuliner di kota budaya ini. Berdirinya berbagai hotel berbintang yang menyediakan berbagai jenis masakan dan fasilitas restoran yang bertaraf internasional sangat mendukung pertumbuhan bisnis MICE internasional. Di lokasi tengah kota dan pinggiran kota juga terdapat rumah makan dengan berbagai tipe dengan berbagai jenis makanan seperti Indonesian Food, Chinese Food, European Food, Sea Food, Pizza, Fried Chicken, Thailand Food, Japanese Food, dan lain-lain menambah khasanah wisata kuliner di Yogyakarta. Dengan demikian Yogyakarta mempunyai jumlah dan jenis rumah makan yang cukup banyak untuk melayani selera wisatawan, termasuk mereka yang terlibat dalam penyelenggaraan bisnis MICE. Beragamnya fasilitas penyelengga-raan pariwisata di Yogyakarta menjadi daya tarik luar biasa dalam penyelenggaraan acara pertemuan, insentif, konvensi dan pameran untuk memeriahkan obyek-obyek wisata yang ada. Pengembangan yang disengaja atas bisnis MICE ini tentu akan memicu perkembangan acara itu di masa yang akan

maupun darat. Untuk transportasi udara, jarak Bandara Adisucipto hanya sekitar 8 km dari pusat kota, dan didukung dengan transportasi lokal yang relatif memadai, terutama armada angkutan darat dalam kota, seperti taksi, transjogja, bis umum, kereta api dengan tarif relatif murah. Kondisi ini didukung dengan kondisi jalan yang baik dan lalu-lintas yang relatif tidak sering mengalami berpengaruh kemacetan. pada Hal ini sangat dan kenyamanan

kemudahan bagi wisatawan konvensi, baik selama berlangsungnya konvensi maupun setelah acara itu selesai. Selain itu, ada juga fasilitas yang sangat mendukung berkembangnya bisnis MICE, yaitu tersedianya sarana telekomunikasi secara memadai. Yogyakarta banyak memiliki tempat yang melayani jasa telekomunikasi yang dapat digunakan untuk tujuan lokal, interlokal, dan interlokal. Berkembangnya Warnet (Warung Internet), jaringan telpon kabel yang dipadu dengan speedy dari Telkom, jaringan komunikasi wireless untuk koneksi Internet, dan pesatnya perkembangan inovatif berbagai merek komputer dan HP dengan kualitas jauh lebih tinggi memperbesar peluang berkembangnya pariwisata, termasuk bisnis MICE. Semua fasilitas telekomunikasi

22

datang. Karena itu, dapat dikatakan bahwa usaha wisata MICE memiliki kaitannya dengan mata-rantai dampak usaha D. Kendala Bisnis MICE di Yogyakarta Dalam perkembangannya sekarang, harus diakui bahwa Yogyakarta juga menghadapi kendala dalam pengembangan bisnis MICE. Sebagaimana disebutkan di atas, bisnis MICE banyak berhubungan dengan antara kombinasi bisnis dan kepentingan pertemuan, upaya khusus insentif, berlipatganda (multiplier effect) yang sangat kepariwisataan lainnya, mulai dari usaha yang besar seperti hotel berbintang, usaha transportasi, terkecil dan akomodasi informal sampai seperti usaha usaha

pembuatan dan penjualan cenderamata. Pada tingkat yang lebih riil, di antara pihak yang mendapat keuntungan dari perkembangan bisnis ini adalah: pengusaha transportasi, baik tingkat lokal, interlokal, nasional maupun internasional; akomodasi, baik hotel berbintang maupun tak-berbintang; restoran; hibur-an; shooping; cenderamata. Akhirnya, pemerintah juga dapat menetapkan pajak dengan lebih banyak obyek dan subyek pajak terkait dengan berbagai acara bisnis MICE yang diadakan di berbagai gedung pertemuan besar. Uraian mengenai keterkaitan antarsektor usaha yang berhubungan dengan penyelenggaraan bisnis MICE tersebut memperlihatkan keunggulan bisnis MICE dibandingkan atraksi atau usaha pariwisata lainnya. Penyelenggaraan suatu acara bisnis MICE akan memberikan efek berlipat ganda (multiplier effect) yang lebih luas dan lebih besar terhadap sektor-sektor pendukung pariwisata yang lain.

konvensi dan pameran. Dalam kerangka itu, diperlukan banyak pemenuhan fasilitas MICE yang memadai dan layanan yang ramah serta berkualitas. Hanya saja, sumber daya manusia yang mensuplai bisnis ini belum memadai, baik di dalam maupun di luar hotel, sehingga adaka-lanya pelaksanaan acara dalam kerangka bisnis MICE tidak berlangsung dengan baik dan tidak sedikit yang kurang memuaskan. Pembenahan fasilitas harus terus dilakukan, termasuk dalam masalah peralatan dengan teknologi tinggi seperti alat presentasi audio visual, sound system, lighting, komputer, telekomunikasi pada setiap kamar dengan jaringan internasional, dan serupa itu. Di samping itu, dalam kerangka pemasaran, program promosi untuk bisnis MICE juga masih relatif terbatas atau parsial. Masing-masing hotel masih membuat program pemasaran untuk wisata MICE dan mempromosikan fasilitas MICE

23

sendiri-sendiri.

Promosi

restoran,

sekolah tinggi, institut, politeknik dan serupa itu. E. Penutup Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bisnis MICE sangat layak dikembangkan di Yogyakarta karena kota ini memiliki berbagai keunggulan, baik dilihat dari fasilitas perhotelan, gedung pertemuan, sarana dan prasarana transportasi, jaringan telekomunikasi dan ketersediaan berbagai jenis wisata termasuk kuliner dan kerajinan. Rasa aman tinggal di Yogyakarta cenderung membuat banyak wisatawan tinggal lebih lama, yang pada gilirannya akan menimbulkan efek yang berlipat ganda dari bisnis wisata MICE. Dengan predikat sebagai kota wisata, kota Yogyakarta sangat potensial dikembangkan lebih lanjut menjadi kawasan tujuan wisata MICE dengan cakupan fasilitas yang lebih luas dan berkualitas. Untuk itu, sinergi di antara para bisnis MICE dalam kegiatan promosi dan pemasaran serta kemitraan antara pemerintah dan swasta dalam pengembangan dan penyelenggaraan acara MICE, terutama untuk tingkat nasional, regional bersama. DAFTAR PUSTAKA dan internasional untuk membangun daya saing dan keunggulan

transportasi, obyek dan atraksi wisata yang terkait dengan bisnis MICE cenderung tidak diikutsertakan menjadi satu informasi. Fakta seperti itu sebenarnya juga menunjukkan semakin ketatnya persaingan yang terjadi di antara pelaku usaha wisata MICE, baik tingkat lokal, nasional, regional maupun internasional. Padahal, kalau ditangani dengan baik, program pemasaran terpadu yang melibatkan berbagai pihak yang terkait dengan wisata konvensi dapat menyediakan informasi dan menyajikannya dalam bentuk promosi yang utuh dan dapat meraih pasar secara bersamasama. Sinergi ini sangat penting jika para pelaku bisnis MICE ingin dapat bersaing kuat dalam pariwisata MICE di tingkat internasional. Singapura menjadi salah satu negara pesaing besar di dalam bisnis MICE, baik dari jalur Australia sampai Korea maupun dari Asia Pasifik ke Eropa dan Amerika Serikat. Dengan kualitas sumber daya manusia yang tidak memadai, para pelaku bisnis MICE di Indonesia, dalam hal ini Yogyakarta cenderung akan kalah saing. Dalam konteks itu, keterpaduan dan koordinasi antara pemerintah dan swasta dalam kerangka kemitraan sangat penting, begitu pula dengan kiprah dari para pengelola perguruan tinggi, baik universitas,

24

Fandy Tjiptono, 2006, Pemasaran Jasa, Malang, Bayumedia Publishing. Philip Kotler, John Bower, James Makens, 2002, Pemasaran Perhotelan dan Kepariwisataan, Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta, PT Prenhallindo.

Oka A. Yoeti, 2003, Manajemen Pemasaran Hotel, PT Perca, Jakarta ---------------, 2007, Hotel Jakarta, PT Perca. Marketing,

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.

25

FAKTOR YANG MENENTUKAN OMZET PENJUALAN JAMU Siti Eny Walsiati Staf Pengajar di Akademi Pariwisata Indraphrasta Abstract Jamu is an herbal traditional product. Jamu often considered by society as alternative way from chemical medicines. In order to increase the quality and keep the hygiene, Jamu must be managed and produced in modern way. Some factors, which are considered as important aspect of selling number; are: condition and capability of the seller, market condition, company condition, promotion, as well as customer service quality. Keyword: jamu, selling number

PENDAHULUAN

Indonesia paling tidak sudah mempunyai tradisi meracik dan meminum jamu sejak periode kerajaan Hindu-Jawa. adanya Hal ini dibuktikan dengan Prasasti

A. Latar Belakang Masalah


Sejak berabad abad lamanya, jamu dipercaya memiliki khasiat tinggi untuk menjaga kesehatan termasuk mengobati berbagai penyakit. Jenis jamu tertentu juga dipercaya dapat mempertajam aura kecantikan seorang perempuan termasuk membuatnya awet muda. Namun, rasa pahit dan bau kurang enak jamu seringkali mengalahkan keinginan mereguk khasiatnya. Istilah JAMU merupakan sebutan orang Jawa terhadap obat hasil ramuan tumbuh-tumbuhan asli baik daun, batang dan akar dari alam. Jamu sebenarnya merupakan seni dalam pengobatan tradisional. Tidak ada yang dapat memastikan kapan munculnya tradisi minum jamu. Masyarakat

Madhawapura dari jaman Majapahit yang menyebut adanya profesi tukang meracik jamu yang disebut Pada relief candi Borobudur (th 800 900 masehi) juga menggambarkan adanya kegiatan peracikan jamu. Beberapa hal yang membedakan antara jamu dengan obat kimia modern, salah satunya adalah bahan pembuatnya. Jamu menggunakan berbagai macam tumbuhtumbuhan yang langsung diambil dari alam. Sedangkan obat kimia modern dihasilkan dari senyawa bahan-bahan kimia sintetis. Oleh karena itu, tingkat efek samping jamu relatif sangat minim dibanding dengan obat

26

kimia modern. Dengan kata lain jamu merupakan obat alami yang bebas efek samping. Seiring merebaknya gaya hidup sehat dan alamiah, jamu kembali ditengok orang. Jamu yang sesungguhnya adalah racikan berbagai dedaunan berkhasiat obat dipercaya minim efek samping, tidak seperti obatobatan kimia. Terpuruknya perekonomian Indonesia beberapa tahun belakangan ini juga membawa dampak diliriknya kembali jamu dalam membantu mengobati berbagai penyakit yang oleh beberapa masyarakat terutama kalangan ekonomi menengah dianggap paling efektif dilihat dari segi harganya yang relatif lebih terjangkau. Konsumsi obat-obatan tradisional di masyarakat, seperti jamu godok, dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Bermacam-macam jamu untuk berbagai penyakit seperti asam urat, diabetes mellitus, ataupun kolesterol tinggi banyak diminati masyarakat. Produksi jamu-jamuan tersebut pun terus bertambah. saat ini masyarakat banyak mencari jamu-jamuan berbahan dasar mentah. Kekhawatiran masyarakat terhadap efek samping obatobatan kimia secara langsung memang meningkatkan konsumsi jamu-jamuan berbahan mentah. Mereka lebih tenang

ketika melihat sendiri bahan- bahan jamu dan yakin tidak ada campuran lain di dalamnya. Konsumen pun tidak keberatan meski harus menyeduh sendiri ramuan bahan-bahan jamu yang dibeli. Gencarnya promosi budaya back to nature yang mendorong masyarakat kembali pada pemanfaatan bahan-bahan alami juga banyak memengaruhi peningkatan permintaan masyarakat akan jamu. Menurut Sidik Raharjo (31), pimpinan produsen jamu godok dan instan Merapi Farma di Sariharjo, Ngaglik menyatakan dalam harian Kompas (16/07/2007) bahwasanya saat ini konsumen juga semakin pintar. Mereka dapat memilih obat-obatan yang paling sedikit mengandung risiko atau efek samping negatif. Selain itu, turunnya daya beli

masyarakat untuk mengonsumsi obat-obatan kimia yang semakin mahal juga mendorong masyarakat untuk mencari obat-obat alternatif yang mereka percayai aman untuk dikonsumsi. Pasca gempa 27 Mei, sebagian masyarakat yogyakarta, khususnya yang tinggal di Bantul kehilangan pekerjaan pokok mereka, sehingga praktis dalam hal pengobatan mereka lebih mengadalkan akan khasiat jamu dibandingkan dengan obatobatan kimia yang harganya melambung. Bahan-bahan rempah pembuat jamu

27

sebenarnya

banyak

terdapat

di

daerah

Pembuatan jamu Nusantara ini telah berlangsung sejak zaman batu. Hal ini dapat dilihat dari salah satu relief Candi Borobudur yang menggambarkan kegiatan meramu, menumbuk, dan memanfaatkan daun, akar, serta umbi tanaman untuk obat dan perawatan kecantikan. Di candi terbesar ini juga tergambar jelas pahatan pohon kalpataru yang melambangkan alam sebagai sumber kesehatan. Dalam sejarahnya, ilmu jejamuan ini semula ini hanya dimiliki oleh bangsawan di dalam keraton untuk menjaga keindahan raga dan kesehatan mereka. Kemudian, pada awal abad XVII, ahli botani Belanda bernama Jacobus Bontius menemukan 60 jenis tanaman obat berkhasiat di Indonesia, dan menulisnya oleh dalam Van Gregorius buku Histiria lalu

pedesaan akan tetapi kurang diperdayakan oleh masyarakat untuk membuat bahan ramuan jamu sendiri oleh karena repot serta memakan waktu dalam pembuatannya dan tidak tahan lama dalam penyimpanannya. General Manager Operation PT Air Mancur, James M Sinambela, Selasa (24/6) dalam harian Kompas mengatakan, selain meningkatkan inovasi produk. standardisasi Saat ini produk, masyarakat pengusaha jamu juga harus melakukan cenderung menginginkan obat-obatan yang murah, tanpa efek samping tetapi juga praktis tanpa repot membuatnya atau memperolehnya.

PEMBAHASAN A. Jamu Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia. Belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal (Depdikbud.1995). Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akarakaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya.

Naturalist et Medica Indiae. Penemuan ini dilanjutkan Rheede, disempurnakan Everhardus

Rumphius yang berdiam di Maluku dan menghimpunnya dalam buku Herbarium Amboinense. pendudukan buku Sementara Jepang, saat pada masa obat-obatan

modern sudah banyak dijumpai, terbitlah Formularium Medicamentorum Soloensis (Kompas, 9/10/2004) Akhirnya, ilmu jamu-jamuan yang semula hanya dikuasai kerabat keraton pun

28

menyebar kepada masyarakat luas, terutama di sekitar tembok keraton. Lambat laun, jamu pun mengalami komersialisasi sehingga mulai diperjualbelikan di warung, oleh tabib, atau dijajakan berkeliling oleh tukang-tukang jamu Jawa berkebaya yang cantik. Bakul jamu yang gandes luwes itu biasanya berjualan bersama, dan berangkat berbondong-bondong berkeliling kampung sambil menggendong keranjang berisi botol jamu. Industrialisasi jamu saat ini sudah berkembang dengan munculnya pabrikpabrik jamu besar seperti Nyonya Meneer, Sido Muncul pada, dan Air Mancur. Kini, pasar jamu telah dipenuhi oleh sekitar 600 produsen jamu dari skala rumah tangga sampai pabrik besar dengan ribuan pekerja. Jamu pun dikenal lebih banyak orang, terlihat dari makin menjamurnya outlet jamu di berbagai sudut kota, iklannya yang berjejal di berbagai media, dan omzet penjualan yang mencapai sekitar Rp 2,4 triliun per tahun Dalam industri jamu terdapat tiga jenis produk, yaitu jamu tradisional yang masih mempertahankan resep warisan leluhur, jamu yang dikembangkan berdasarkan referensi, serta fitofarmaka. Fitofarmaka berasal dari tanaman yang sudah melalui

proses (Ibid).

uji

klinis formal

dan

pre

uji

klinis

persyaratan

produk

pengobatan

Namun perkembangan

kini, zaman,

seiring jamu

dengan tradisional

kalah saing dengan jamu-jamu buatan prabrik. Hal ini terlihat dari sedikitnya penjual jamu gendong atau keliling yang meramu bahan jamunya sendiri. Hanya jamu tertentu seperti kunir asem dan beras kencur yang masih diolah tangan sendiri. Sedangkan untuk jamu lain, sudah tersedia bahan serbuk buatan pabrik yang tinggal seduh saja kemudian ditambahkan dengan bahan-bahan lain seperti telur atau madu. Meskipun prinsip pembuatan jamu pada dasarnya sama, cara pembuatan yang dipilih tukang jamu gendong atau keliling lain-lain. Ada yang menggunakan cara tumbuk, ulek, atau pipis. Bakul jamu yang bermodal menggunakan blender. Ada pula penjual yang tinggal mencampur bahanbahan yang sudah berupa serbuk. Alam tropis ini memberikan kesempatan 30.000 spesies flora untuk tumbuh, dan 8.000 jenis di antaranya adalah tanaman yang memiliki khasiat obat. Meski baru ratusan spesies yang telah termanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional atau jamu. Dan tanaman obat yang paling populer bagi

29

orang Jawa adalah jahe, kencur, kunyit, temulawak, temu ireng, kapulaga, lengkuas, serta lempuyang Berdasarkan cara pembuatan, jamu dibedakan menjadi jamu pipis, seduhan, infus, serbuk, pil, kapsul, dan sirup. Selain itu ada juga jamu parem, pilis, lulur, dan mangir. Jamu pipis dan seduhan merupakan jamu yang paling tradisional, paling dikenal masyarakat luas, dan bertahan sampai kini. Jamu ini pula yang selalu dijajakan penjual jamu keliling ke kampung-kampung. sama, untuk Semuanya berfungsi

Penjualan jamu secara nasional turun 30 persen pada Juni dan Juli 2007 (Kompas 3/8/2007).Hal itu disebabkan sebagian konsumen khawatir adanya jamu yang menggunakan bahan kimia obat sebagai campurannya. Untuk mendongkrak kembali omzet penjualan jamu maka Badan Pengawas Obat dan Makanan sebaiknya menyosialisasikan jamu yang baik kepada masyarakat. Mengontrol pengrajin-pengrajin jamu yang nakal serta perlu adanya inovasi baru yang berhubungan dengan jamu agar menyarakat mempunyai alternatif lain cara mengkonsumsi jamu. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengkonsumsi jamu (yahoo.com 6/12/2007) yaitu : 1. Kulit kapsul dan bahan perekat tablet jamu Jamu dengan bentuk kapsul perlu dikaji ulang terkait dengan aspek apakah kulit kapsul tersebut halal atau tidak. Bahan dasar pembuatan kulit kapsul adalah gelatin yang bersumber dari tulang dan kulit binatang. Selain itu, bahan perekat pada pembuatan tablet dan kaplet juga perlu diwaspadai. Biasanya digunakan magnesium stearat yang merupakan turunan dari lemak sebagai pengikat.

menyembuhkan, merawat, dan mencegah penyakit. Sementara parem, pilis, lulur, dan mangir lebih banyak diasosiasikan sebagai jamu perawatan kecantikan.

30

2. Alkohol dalam jamu cair Jamu cair perlu dicermati sebab adanya penggunaan alkohol. Jamu cair biasanya berasal dari ekstraksi bahan aktif dari bahan jamu. Proses ekstraksi air--, ini --selain menggunakan kadang-kadang

nama anggur kolesom. Bahan ini adalah minuman fermentasi yang terbuat dari perasan buah anggur. Dari segi bahan dan proses pembuatan sama persis dengan pembuatan wine atau minuman keras yang berasal dari anggur. Dalam minuman ini juga ditambahkan ramuan-ramuan lain yang dianggap berkhasiat bagi kesehatan. 5. Penggunaan senyawa-senyawa kimia sintetik dalam jamu Belakangan ini, sering terdengar razia terhadap produk jamu yang ternyata dicampur dengan senyawa-senyawa sintetik obat di dalamnya. Hal ini bertentangan dengan ketentuan tentang definisi jamu. Keberadaan senyawa-senyawa kimia di dalamnya berbahaya karena interaksinya dengan bahan lain dan efeknya terhadap tubuh tidak dianalisis secara akurat. 6. Tanggal kadaluwarsa jamu Kebanyakan produk jamu rumahan, tanggal kadaluwarsanya sering tidak dicantumkan. Padahal jamu tetap memiliki masa pakai. Simplisia dalam jamu bisa berjamur. Keberadaan air dalam jamu cair juga memungkinkan tumbuhnya bakteri.

menggunakan alkohol. Pada jamu instan berbentuk bubuk, alkohol biasanya telah diuapkan hingga kering. Namun pada jamu cair biasanya residu alkoholnya masih cukup tinggi, sehingga menjadikannya tidak halal. 3. Penambahan telur mentah ketika

akan meminum jamu seduh Telur yang sering dipakai oleh para tukang jamu adalah telur ayam kampung atau telur bebek. Dengan kandungan gizinya yang lengkap, telur ini dikenal sebagai makanan yang memberikan efek kesehatan. Telur disajikan mentah atau setengah matang. Dari segi kandungan gizi, telur mentah lebih baik, karena proteinnya belum mengalami kerusakan (denaturasi). Namun pada kondisi dimana wabah virus flu burung cukup marak, penggunaan telur mentah ini perlu dipertimbangkan. 4. Penggunaan anggur obat dalam jamu Bahan yang sering dianggap obat dan banyak dikonsumsi masyarakat adalah

7. Penggunaan simplisia hewan

anggur obat atau sering dikenal dengan

31

Jamu dipersepsikan oleh masyarakat awam sebagai obat yang berasal dari tumbuhan. Padahal tidak selalu demikian. Definisi simplisia (jamu) secara farmasi ialah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat dan belum mengalami pengolahan apa pun. Kecuali dinyatakan lain, ia berupa bahan yang dikeringkan. Simplisia terdiri dari dua jenis, yakni simplisia nabati dan hewani. Keduanya merupakan bagian utuh, bagian, atau eksudat dari masing-masing tumbuhan atau hewan dan bukan merupakan senyawa kehalalan kimia menjadi murni.Jika hewan, terkait jamu tentu dengan menggunakan simplisia

Pekerja

bebas,

pengusaha

dan

wirausaha kesemuanya adalah orang-orang yang terlibat langsung dalam kegiatan usaha (bisnis). Pekerja bebas adalah orang yang melakukan suatu usaha yang mandiri atau tanpa majikan akan tetapi tidak berorientasi untuk memperoleh keuntungan. Bila pekerja bebas bekerja bersama-sama dalam suatu ruangan maka koordinasinya yang biasanya adalah pemasok modal utama bukan sekedar pekerja bebas, tetapi pengusaha, karena disitu telah berlangsung proses perusahaan. Wirausaha dapat dipahami dari menguraikan istilah tersebut. Wira berarti utama, gagah, luhur, berani, teladan, atau pejuang. Sedangkan wirausaha berarti pejuang yang gagah, luhur, berani dan pantas menjadi teladan dalam bidang usaha. Dengan kata lain wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai sifat kewirausahaan yaitu : keberanian mengambil resiko, keutamaan, kreatifitas dan keteladanan dalam menangani nusaha atau perusahaan dengan berpijak pada kemauan dan kemampuan sendiri. Pada dasarnya suatu bentuk usaha jasa atau barang apapun baik itu berbentuk perusahaan mapuan home industri tidak lepas dari unsur manajemen yaitu : (a) Sumber daya manusia yang baik (man); (b) Sumber dana yang mencukupi (money); (c)

penyembelihan hewan tersebut

B. Faktor Faktor Penentu Omzet Penjualan 1. Wirausaha Pada umumnya masyarakat

menganggap wirausaha sinonim dengan pengusaha. Pengusaha yang hebat berarti wirausaha yang hebat , yang unggul. Anggapan itu banyak benarnya namun untuk keperluan pembinaan dan pengembangan yang sistematis, operasional dan berjenjang, ada baiknya digunakan pengertian yang lebih tajam.

32

Peralatan dan mesin yang tepat guna (machine); (d) Cara kerja yang efektif (methods); (e) Pasar dan langganan yang setia (markets). Man atau manusia adalah unsur utama dari suatu perusahaan, haruslah mampu mengelola usaha yang dijalankannya. Unsur permodalan, pemasaran keberhasilan Pengusaha dikualifikasikan peralatan, tidak yang sebagai dapat sebuah tata cara dan dari kecil. dapat : (a) perlepas handal berikut

mengenal dan mengendalikan lingkungan serta menggalang kerjasama yang menguntungkan dengan berbagai pihak. 2. Strategi Bisnis Strategi terkoordinasi, bisnis yang adalah serangkaian untuk

komitmendan tindakan yang terintegrasi dan dirancang menyediakan nilai kepada para pelanggan dan mendapatkan keunggulan kompetitif dengan dan mengeksploitasi kompetensiJadi kompetensi inti dari pasar produk individual spesifik bisnis (Thomson.2001:151). merefleksikan keunggulan persainagn strategi ia keyakinan

perusahaan

Memiliki rasa percaya diri atau sikap mandiri yang tinggi untuk berusaha mencari penghasilan dan keuntungan melalui perusahaan; (b) Mau dan mampu menangkap peluang usaha yang menguntungkan; (c) Mau dan mampu bekerja keras dan tekun dalam menghasilkan barang dan jasa serta mencoba cara kerja yang lebih tepat dan efisien; (d) Mau dan mampu berkomunikasi, tawar-menawar dan musyawarah dengan berbagai pihak yang besar pengaruhnya pada kemajuan usahanya terutama para pembeli atau langganan; (e) Menghadapi hidup dan menangani usaha dengan terencana, jujur, hemat dan disiplin; (f) Mencintai kegiatan usahanya; (g) Mau dan mampu

perusahaan tentang dimana dan bagaimana memiliki dibandingkan dan dengan lawan-lawannya. Berkaitan dengan lingkungan sudah perusahaan semua interaksi yang dimiliki perusahaan maka selayaknya karyawan memahami apa yang menjadi keunggulan perusahaan. Pertanyaan-pertanyaan tentang strategi perusahaan dimasa dating dan keunggulan untuk kompetitif yang menjadi dasarnya harus dipecahkan dengan cepat memungkinkan dilakukannya tindakan-tindakan strategis yang efektif. Para pelanggan adalah dasar dari keberhasilan strategi bisnis. Perusahaan perusahaan terus menerus menekankan pentingnya hubungan antara membangun

meningkatkan kapasitas diri sendiri dan kapasitas perusahaandengan memanfaatkan dan memotivasi orang lain; (h) Berusaha

33

relasi dan mengirimkan jasa ke pelanggan dan kinerja keuangan perusahaan. Tiga isu penting tentang strategi bisnis yaitu a. Siapa : Menentukan pelanggan yang akan dilayani Pelanggan dapat dibagi menjadi

b.

Apa : menentukan kebutuhan pelanggan yang ingin dipuaskan Ketika sebuah perusahaan memutuskan

siapa yang akan ia layani, ia harus secara bersamaan mengidentifikasi kebutuhan kelompok pelanggan sasaran yang dapat dipuaskan oleh barang dan jasanya. Suatu keunggulan kompetitif tambahan meningkat bagi mperusahaan-perusahaan yang mampu mengantisipasi dan kemudian memuaskan kebutuhan yang sebelumnya tidak diketahui oleh pelanggan. Kemampuan yang secara positif dan kontinu memberi kejutan pada para pelanggannya memungkinkan perusahaan itu menghasilkan laba rata-rata karena selalu menciptakan kembali dirinya dari waktu ke waktu. c. Bagaimana : Menentukan kompetensi inti yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan pelanggan Perusahaan menggunakan kompetensikompetensi intinya untuk menerapkan strategi penciptaan-nilai dan memuaskan kebutuhan pelanggan. 3. Tipe-tipe Strategi Bisnis a. Strategi kepemimpinan biaya Strategi kepemimpinan biaya adalah serangkaian tindakan integratif yang

kelompok-kelompok berdasarkan perbedaan dalam kebutuhan mereka. Disebut sebagai segmentasi pasar, ini merupakan suatu proses dimana melaluinya orang-orang dengan kebutuhanyang sama dikelompokkan kedalam individu dan kelompok yang dapat diidentifikasi. Segmentasi pasar merupakan proses dua langkah dalam menamakan pasar produk yang luas dan mensegmentasikan mereka untuk memilik pasar sasaran dan mengembangkan bauran pemasaran yang cocok. Hampir setiap cirri manusia dan organisasi yang dapat diidentifikasi bias digunakan untuk membagi suatu pasar kedalam bsegmen-segmen yang berbeda satu sama lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi segmentasi pelanggan misalnya : (i) faktor demografis (usia, pendapatan, seks dll); (ii) faktor sosiodemografis (kelas social, tahap dalam siklus hisup berkeluarga); (iii) faktor geografis (perbedaan kultural, regional dan nasional); (iv) faktor psikologis (gaya hidup, cirri-ciri kepribadian); (v) faktor persepsi (segmentasi manfaat, pemetaan persepsi).

34

dirancang

untuk

memproduksi

atau

pemimpin biaya untuk menerapkan kenaikan harga suplier. Dengan cara laian, pemimpin biaya yang kuat dapat mndesak para suplier untuk menahan harga mereka, mengurangi margin mereka dalam proses tersebut. Keempat, peserta potensial. Melalui usaha yang terus menerus untuk mengurangi biaya ketingkat yang lebih rendah dari para pesaingnya, pemimpin biaya menjadi sangat efisien. Karena mereka meningkatkan margin laba, tingkat efisien yang selalu diperbaiki ini menjadi halangan masuk yang signifikan bagi peserta bisnis yang potensial. Margin laba pemimpin biaya yang rendah mengharuskan pemimpin biaya untuk menjual produknya dalam volume yang

mengirimkan barang-barang atau jasa pada biaya paling rendah, relatif terhadap para pesaing dengan ciri-ciri yang dapat diterima para pelanggan. Implementasi yang efektif dari strategi kepemimpinan biaya ini memungkinkan perusahaan menghasilkan laba di atas rata-rata selain adanya faktorfaktor kompetitif yang kuat seperti berikut. Pertama, persaingan dengan para

pesaing yang sudah ada. Memiliki posisi biaya rendah merupakan pertahanan yang berharga dalam menghadapi para pesaing, karena posisi yang menguntungkan sebagai pemimpin biaya, para pesaing akan ragu dengan basis harga. Kedua, pembeli untuk kekuatan tawar-menawar Pelanggan yang tapi

lebih besar untuk mendapatkan laba di atas rata-rata. Kelima, Produksi pengganti. Ketika dihadapkan dengan kemungkinan substitusi, pemimpin biaya lebih memiliki fleksibilitas dari para pesaingnya. Untuk mmpertahankan para pelanggannya, pemimpin biaya dapat mengurangi harga barang atau jasanya. Tetap dengan harga yang lebih rendah dan kualitas yang dapat diterima, pemimpin biaya meningkatkan kemungkinan pelanggan akan memilih produknya daripada produk pengganti. b. Strategi diferensiasi 35

(pelanggan). mengurangi

berkuasa dapat mendesak pemimpin biaya harga-harganya, harga tersebut tidak akan didesak sampai ketingkat harga dimana pesaing industri lainnya dapat menghasilkan laba-di atas ratarata. Ketiga, kekuatan tawar menawar suplier. Pemimpin biaya beroperasi dengan margin yang lebih besar dari para pesaingnya. Diantara banyak keuntungan, margin lebih tinggi yang relatif dengan margin para pesaing memungkinkan

Strategi serangkaian

diferensiasi tindakan integratif

adalah yang

membebankan harga premium untuk produk produknya, suplier harus memasok bahanbahan yan berkualias tinggi. Adapun biaya suplier yang relatif tinggi dibebankan pada biaya tambahan perlengkapan ke pelanggan dengan uniknya. Keempat, Peserta potensial. Loyalitas pelanggan mengatasi masuknyan dan kebutuhannya produk bisnis untuk keunikan peserta diferensial potensial. menaikkan harga dari produk

dirancang untuk memproduksi barang atau jasa yang dianggap para pelanggan berbeda dalam hal-hal yang penting bagi mereka. Dengan strategi diferensiasi, atribut dan karakteristik unik produk perusahaan (selain biaya) memberikan nilai bagi pelanggan. Strategi ini memusatkan diri pada investasi dan pengembangan ciri yang terus menerus dan bukan fokus pada biaya, yang membedakan barang dan jasanya dalam hal yang dihargai oleh pelanggan, yaitu sebagai berikut. Pertama, pesaing yang persaingan sudah dengan para

merupakan hambatan yang substansial bagi Memasuki suatu industri dengan kondisi seperti ini menuntut investasi sumberdaya yang signifikan dan kemauan untuk bersabar mencari loyalitas pelanggan. Kelima, Produk pengganti. Perusaanperusahaan yang menjual barang dan jasa bermerek pada pelnggan memiliki menghadapi posisi yang produk-produk yang loyal efektif dalam substitusi.

ada.

Pelanggan

cenderung menjadi pembeli yang setia terhadap produk yang didiferensiasi dengan cara-cara yang bermakna bagi mereka. Ketika kesetiaan mereka pada barang meningkat, kepekaan pelanggan terhadap kenaikan harga berkurang. Kedua, kekuatan tawar-menawar pembeli (pelanggan). Keunikan diferensiasi barang dan jasa mengisolasi suatu perusahaan dari persaingan kepekaan harga. Ketiga, suplier. kekuatan tawar-menawar yang Karena perusahaan kompetitif pelanggan dan mengurangi kenaikan terhadap

Sebaliknya, perusahaan yang tidak meiliki loyalitas merek lebih tunduk pada pelanggan yang biasanya mereka akan beralih produk yang menawarkan bentu-bentuk diferensiasi yang melayani fnsi yang sama. C. Faktor Faktor Lain (Swastha dan Irawan : 1990) Pertama, Kondisi organisasi

perusahaan. Pada perusahaan besar, biasanya masalah penjualan ditangani oleh bagian 36

mengimplementasikan strategi diferensiasi

tersendiri (Bagian Penjualan) yang dipegang orang-orang yang ahli dibidang penjualan. Kedua, Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah : periklanan, peragaan, kampanye, pemberian hadiah sering mempengaruhi penjualan. Dalam hal ini diperlukan dana yang tidak sedikit. Dalam bentuk promosi dengan kemasan yang menarik bagi pembeli. Ketiga, Harga yang terjangkau, pemberian pelayanan strategis. KESIMPULAN Produk jamu banyak diminati semua kalangan masyarakat, sebagai produk pengganti pengobatan non medis yang lebih murah dan terjangkau harganya. Namun dalam pengelolaan bisnis jamu harus memperhatikan faktor-faktor seperti konsep wirausaha, konsep strategi bisnis, strategi diferensiasi produk. Disamping itu tempat yang strategis sangat dibutuhkan konsumen untuk mudah memperoleh produk jamu yang tetap higienis dikonsumsi. DAFTAR PUSTAKA Darwin Bangun, 1989, Manajemen Perusahaaan, Dep. P & K, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek dan tempat penjualan yang

Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta. Geofferey G. Meredith, 1992, Kewirausahaan Teori dan Praktek, PT. Pustaka Binawan Pressindo. Gilarso T. 1992, Ilmu Ekonomi Bagian Makro, Yogyaakrta, Kanisius http://www.geocities.com/jamuherbacure/Ja mu.htm http://id.wikipedia.org/wiki/Gula#Pembuata n_gula Indriyo Gitosudarmo, 1996, Pengantar Bisnis, Edisi 2, BPFE, Yogyakarta Kompas. 9 Oktober 2004. Jamu Gendong Bertahan Ditengah Himpitan Industri ________16 Juli 2007. Industri Kecil. Konsumsi Jamu Tardisional Terus Alami Peningkatan ________ 27 Juli 2007. Industri Jamu Indonesia hadapi Tantangan Besar ________ 3 Agustus 2007. Obat-obatan. Penjualan Jamu Turun LPPM, 1996, Manajemen Umum, Modul 1 Proses Manajemen, Pendidikan Manajemen Multi Media, Jakarta Marbum, B.N. 1996, Manajemen Perusahaan Kecil, PT. Pustaka Binaman Presendo, Jakarta. Michael A. Hitt., dkk, 2001. Manajemen Strategi Daya saing dan Globalisasi. Jakarta. Salemba Jakarta Tarsi Tarmudji, Manajemen Bisnis, Liberty, Yogyakarta Wisnu Giyono. 2002. Jiwa Wirausaha Penduduk Desa Tertinggal di DIY. Laporan Penelitian. Yogyakarta : Akpar Buana Wisata

37

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) MELALUI PENDAMPINGAN KADER PAUD DESA SUMBERSARI, MOYUDAN, SLEMAN, YOGYAKARTA Sri Muliati Abdullah Rahma Widyana Kamsih Astuti Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta ABSTRACT The center of early childhood education (ECE) is the right of organizational community to be the center of early childhood stimulation activities. ECE will be able to have an optimal role when supported by adequate resources both human resources, financial resources and educational facilities. Given the importance of early childhood education as a place of early learning for the next generation, the SCT team was moved to take part in coaching and mentoring in early childhood education. The purpose of the activities is to educate, to train, and to assist trainers of early childhood education, became a pilot group in early childhood education in Sumbersari. Then this group stimulates the formation of new ECE in the village, to educate the cadres of the PKK in early childhood education, giving direction in the administration of early childhood education, to empower communities, build awareness and increase of community participation in early childhood education programs. Group partners are four nonformal groups of early childhood education under PKK Sumbersari guidance that will be a pilot and nine pioneering groups of early childhood education will be initiated its establishment. The method for the application of science and technology are: (a) Education and training for trainers of early childhood childhood education, about Early Childhood Development, Education and early childhood learning, and socialization and community empowerment and (b) Assistance pilot trainer to provide guidance for the others PKK cadres to initiated the establishment of early childhood education. The implementation of this community service for 3 months. Outcomes from these activities is a pilot group on early childhood education that stimulates the formation of another group of early childhood education in the village Sumbersari. At the end of activities, all of dukuh in the village Sumbersari (13 dukuh) has been established early childhood education, this means that each dukuh in the village Sumbersari already has a group of early childhood education providers. Keywords: early childhood group, the PKK cadres Sumbersari Village, education, training, mentoring.

Pendahuluan 38

Desa Sumbersari memiliki wilayah seluas 546.000,5 Ha, dengan jarak 3 km dari pusat kecamatan Moyudan, 15 km dari pusat Kabupaten Sleman, dan 12 km dari pusat propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini terdiri dari 13 dusun yaitu Dusun Tegalrejo, Klisat, Nasri, Semingin, Tumut, Menulis, Tiwir, Blendung, Bendosari, Ngaglik, Gesikan, Nglahar, dan Sombangan. Berdasarkan data penduduk per Desember 2008, jumlah penduduk berusia 0-6 tahun sebanyak 579 jiwa. Menyikapi hal ini, mulai tahun 2007, PKK desa Sumbersari merintis pendirian lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) jalur nonformal sebagai upaya penumbuhan dan pengembangan anak usia dini khususnya yang berusia praTK. PAUD ini menerima peserta didik usia 2 sampai 5 tahun. Diharapkan setelah anak mengikuti PAUD ini dapat siap masuk sekolah Taman Kanak-Kanak. Tujuan didirikannya lembaga PAUD ini sesuai dengan isi UU no. 20 tahun 2003, pasal 1, butir 14 yaitu seperti berikut:

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Permasalahan Mitra Dalam perjalanan selama hampir 2 tahun, PAUD desa Sumbersari telah menunjukkan suatu kemajuan. Namun tidak dapat disangkal, kendala atau hambatan juga banyak dialami. Berdasarkan hasil focus group discussion (FGD) yang dilakukan tim pengusul proposal dengan para kader PKK desa dan kader PAUD dari 4 dusun pada tanggal 21 Mei 2009, diperoleh data permasalahan yang dapat dikategorikan menjadi dua yaitu permasalahan pengelolaan PAUD dan permasalahan masyarakat. 1. Permasalahan pengelolaan oleh Kader PAUD, meliputi: a.Penyelenggaraan melingkupi PAUD dusun belum desa seluruh

Sumbersari. Baru 4 dari 13 dusun yang berinisiatif menyelenggarakan PAUD. Kesadaran perangkat dusun, khususnya kader PKK dari 9 dusun yang lain untuk

39

memberi b. PAUD di

pelayanan

PAUD, Kegiatan

perlu

pemerintah telah ada, namun pendidik merasakan banyak keterbatasan dalam mengembangkan kurikulum. pendidik telah

dimunculkan. 4 dusun belum dapat

Sebenarnya

para

dilaksanakan sesuai jadwal. Hal ini terkait dengan jumlah pendidik yang sangat terbatas. Ketika pendidik sedang mempunyai kesibukan bekerja atau mempunyai acara keluarga, mereka tidak masuk. Bahkan ketika semua pendidik saat itu berhalangan hadir, PAUD diliburkan. Hal ini menimbulkan kendala dalam rutinitas penyelenggaraan PAUD. c.Kualifikasi tingkat pendidikan dan latar belakang PAUD pendidikan yang para kurang Ketentuan adalah S1 pendidik memenuhi ideal ada a.

mengikuti beberapa pelatihan tentang PAUD, namun dirasakan cukup untuk memenuhi pengetahuan mereka tentang kurikulum. e.Terbatasnya kondisi tempat kegiatan, ruang dan alat untuk belajar, ruang bermain sebagai mengajar. 2. Permasalahan masyarakat, meliputi: Masyarakat dari 4 dusun yang mempunyai PAUD (Dusun Menulis, Blendung, Tiwir, dan Nglahar) belum seluruhnya Kalaupun aktif telah mengikutsertakan terdaftar belum anaknya mengikuti kegiatan PAUD. seluruhnya aktif mengantar anaknya sesuai jadwal hari kegiatan PAUD. Ketika orangtua sedang mempunyai kesibukan, anak tidak diantar ke PAUD. Bahkan di Kelompok Bermain PAUD dusun Nglahar, jumlah anak berkurang cukup banyak. b. Partisipasi masyarakat untuk terlibat sebagai pendidikan PAUD masih rendah. Hal ini dikarenakan serta kendala minimnya proses alat belajar permainan edukatif dirasakan pula

persyaratan. PAUD

pendidik yang

PAUD. Para pendidik PAUD belum memenuhi yang tingkat ketentuan dan latar tersebut. Hanya pendidik PAUD dusun Blendung belakang ideal. d. Kurang terpenuhinya persyaratan kualifikasi tingkat pendidikan dan latar belakang pendidikan para pendidik PAUD, kebutuhan menyebabkan untuk besarnya dan dari mengetahui kurikulum pendidikannya mendekati

mengembangkan kurikulum. Meskipun rambu-rambu

40

pekerjaan sebagai pendidik PAUD merupakan pekerjaan sosial / sukarela (tidak ada imbalan gaji),

sehinggahanya sedikit yang bersedia bergabung sebagai pendidik PAUD.

Gambaran Ipteks yang ditransfer pada mitra:


PENDAMPINGAN INTEGRATIF PENDAMPINGAN INTEGRATIF (khususnya untuk kelompok PAUD (khususnya untuk kelompok PAUD percontohan) percontohan) Peningkatan pengetahuan tentang Peningkatan pengetahuan tentang perkembangan anak usia dini pada perkembangan anak usia dini kader PAUD dgn pendidikanpada & kader PAUD dgn pendidikan & pelatihan : pelatihan : Perkembangan anak usia dini Perkembangan anak usia dini Permasalahan perkembangan anak Permasalahan perkembangan anak usia dini usia dini Deteksi dini terhadap penyimpangan Deteksi dini terhadap penyimpangan perkembangan anak usia dini perkembangan anak usia dini Dinamika keluarga dlm mewujudkan Dinamika keluarga dlm mewujudkan pengasuhan yang ideal untuk anak pengasuhan yang ideal untuk anak usia dini usia dini Transfer metode pendidikan anak Transfer usia dini: metode pendidikan anak usia stimulasi dini: teknik dan pendidikan anak teknik usia dinistimulasi dan pendidikan anak usia dini dan pengayaan kurikulum sosialisasi sosialisasi dan pengayaan kurikulum PAUD PAUD penyelenggaraan wadah pendidikan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini yang wadah ideal di PAUD anak usia dini yang ideal di PAUD tingkat dusun tingkat dusun metode pendidikan pada keluarga metode pendidikan pada keluarga tentang PAUD tentang PAUD Transfer metode pemberdayaan Transfer yg metode masyarakat efektif : pemberdayaan masyarakat yg partisipasi efektif : masyarakat Strategi pelibatan Strategi partisipasi kesadaran masyarakat dalam pelibatan PAUD (peningkatan dalam PAUD (peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya PAUD) masyarakat tentang pentingnya Strategi keterpaduan PAUD di seluruhPAUD) Strategi keterpaduan PAUD di seluruh dusun di desa Sumbersari dusun di desa monitoring Sumbersaridan evaluasi Strategi koordinasi, Strategi koordinasi, monitoring oleh PKK-PAUD tingkat desa dan evaluasi oleh PKK-PAUD tingkat desa

Kelompok PAUD Kelompok PAUD percontohan percontohan dgn pengetahuan dan dgn pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh ketrampilan yang diperoleh dari pendampingan TIM dari pendampingan TIM dapat melakukan dapat melakukan penberdayaan masyarakat penberdayaan masyarakat membangun kesadaran kader membangun kader PKK dusun kesadaran untuk merintis PKK dusun untuk merintis PAUD PAUD memberikan contoh dan memberikan contoh dan arahan tentang arahan tentang penyelenggaraan PAUD penyelenggaraan PAUD mengedukasi masyarakat ttg mengedukasi masyarakat ttg PAUD PAUD meningkatkan partisipasi meningkatkan aktif masyarakat partisipasi dalam aktif masyarakat dalam program PAUD program PAUD LUARAN : LUARAN : PAUD percontohan dapat PAUD percontohan dapat menstimulasi terbentuknya menstimulasi terbentuknya PAUD-PAUD lain di desa PAUD-PAUD lain di desa Sumbersari Sumbersari

Permasalaha Permasalaha n PAUD n PAUD tingkat tingkat dusun di dusun di Desa Desa Sumbersari Sumbersari

Metode Penerapan IPTEKS Berdasarkan identifikasi permasalahan di atas, tim dan mitra menetapkan metode penerapan ipteks yakni : 1. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan melalui pendidikan dan

pelatihan, khususnya pada kader dari 4 PAUD. Secara rinci, materi pelatihan kader PAUD adalah sebagai berikut. a. Perkembangan anak usia dini, meliputi: Perkembangan anak usia dini, Permasalahan perkembangan anak usia 41

dini,

deteksi

dini

terhadap anak

2. Pendampingan kader PAUD percontohan untuk melakukan pendampingan pada kader PKK dari dusun yang belum memiliki PAUD untuk merintis berdirinya PAUD. Pendampingan ini dilakukan setelah kelompok PAUD di Dusun Menulis, Blendung, Nglahar, dan Tiwir diberi pendidikan dan pelatihan oleh Tim. Keempat PAUD ini (PAUD percontohan) IbM dengan didampingi Tim sosialisasi dan pada kelompok melakukan

penyimpangan

perkembangan

usia dini dan dinamika keluarga dalam mewujudkan pengasuhan yang ideal untuk anak usia dini Pendidikan dan pembelajaran anak usiagaraan, wadah pendidikan anak usia dini yang ideal di PAUD tingkat dusun; b. Strategi kesadaran pentingnya Metode pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, meliputi: pelibatan masyarakat PAUD); partisipasi tentang Strategi masyarakat dalam PAUD (peningkatan

memberikan motivasi

PKK di dusun lain untuk merintis penyelenggarakan PAUD. Selanjutnya tim akan memberikan pendampingan pada mitra dalam proses perintisan PAUD di dusun lain.

keterpaduan PAUD penyelenggaraan di seluruh dusun di desa Sumbersari; Strategi koordinasi, monitoring dan evaluasi oleh PAUD desa terhadap PAUD dusun. Kajian Teoritis Penerapan Ipteks Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya yang disengaja untuk memfasilitasi masyarakat lokal dalam merencanakan, memutuskan dan mengelola sumberdaya lokal yang dimiliki sehingga pada akhirnya mereka memiliki kemampuan dan kemandirian (Subejo dan Supriyanto, 2004). Pemberdayaan masyarakat bertujuan agar kelompok sasaran dapat menggalang berbagai potensi yang ada dalam dirinya

dan memanfaatkan potensi yg dimiliki untuk mengatasi meliputi : Tahap 1, pengembangan konsep sesuai dengan tujuan dan sasaran tahap ini program adalah peran berdasarkan hasil community needs analysis; bersamaan dengan mengikut-sertakan (melibatkan permasalahan yg dihadapi. Adapun tahapan pemberdayaan masyarakat

komunitas/masyarakat) atau yang lazim disebut dengan Involve.

42

Tahap 2, mensosialisasikan program kepada seluruh komunitas, agar mereka merasa memiliki program sekaligus ikut bertanggungjawab terhadap pelaksanaan dan keberhasilan program. Tahap 3, Proses pemberdayaan masyarakat, yaitu : (a) Pengembangan kelompok, (b) Penyusunan rencana dan pelaksanaan kegiatan, (c) Monitoring dan evaluasi partisipatif . Tahap 4, Pemandirian Masyarakat. Pembahasan pemberdayaan sebagai program Level Personal

dan sebagai suatu proses terkait erat dengan posisi Apabila berasal agen agen dari pemberdayaan pemberdaya luar masyarakat. masyarakat program

komunitas,

pemberdayaan akan diikuti dengan terminasi atau disengagement, sedangkan bila agen pemberdaya berasal dari internal komunitas pemberdayaan akan lebih diarahkan pada proses pemberdayaan yang berkelanjutan. Pemberdayaan dilakukan mulai dari level psikologis-personal-masyarakat :

Psikologis Mengembangkan pengetahuan, wawasan, harga diri, kemampuan, kompetensi, motivasi, kreasi, dan kontrol diri.

Masyarakat Menumbuhkan rasa memiliki, gotong rotong, mutual trust, kemitraan, kebersamaan, solidaritas sosial dan visi kolektif masyarakat.

Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan adalah yang pemberdayaan melalui masyarakat self ini help. dalam saling cooperative

pelaksanaannya.

Pendekatan

cooperative

self help memberi kesempatan masyarakat untuk mengemukakan keinginannya, agar dapat menolong dirinya sendiri. Pendekatan ini menempatkan pihak luar sebagai pendorong timbulnya kebutuhan masyarakat, sebagai pihak yang menanggapi kebutuhan masyarakat, dan sebagai pihak yang tidak memaksakan keinginannya pada masyarakat. Secara rinci prosedur pelaksanaan

Cooperative self help adalah pendekatan mengutamakan secara kerjasama sukarela, masyarakat sendiri, ini dan

membantu untuk mengatasi masalahnya memanfaatkan upaya kelompokkelompok masyarakat setempat. Pendekatan merupakan pengembangan masyarakat yang dimulai dari bawah tanpa melibatkan secara langsung pihak luar dalam

pemberdayaan masyarakat adalah sebagai berikut : (a) pemaparan masalah PAUD oleh

43

kader

PAUD;

(b)

Identifkasi

terkait dengan tugas, tanggung jawab dan masalah kehidupannya; (d) Orientasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari berpusat pada bahan pengajaran kepada pemecahanpemecahan masalah; (e) Motivasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari pemberian pujian dan hukuman kepada dorongan dari dalam diri sendiri serta karena rasa ingin tahu; (f) Peer teaching.. Dalam teori pembelajaran orang

penyelenggaraan kegiatan PAUD yang telah dilakukan oleh kader PKK dusun yang dikoordinir oleh kader PKK desa; (c) Kontak dengan tim ahli, terdiri dari dua kegiatan yaitu pelatihan kader dan konsultasi kader. Dengan demikian akan terjadi alih pengetahuan ttg PAUD dari tim ahli kepada kader; (d) Diseminasi pengetahuan ttg PAUD oleh kader percontohan kepada kader PAUD rintisan. Upaya peningkatan pengetahuan mitra IbM melalui metode pendidikan pelatihan, menggunakan konsep Andragogi. Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagau "Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar" (Craig, 1987). Knowles (dalam Craig, 1987), memiliki asumsi sebagai berikut: (a) Orang dewasa perlu dibina untuk mengalami perubahan dari kebergantungan kepada pengajar kepada kemandirian dalam belajar. Orang dewasa mampu mengarahkan dirinya mempelajari sesuai kebutuhannya; (b) Pengalaman orang dewasa dapat dijadikan sebagai sumber di dalam kegiatan belajar untuk memperkaya dirinya dan sesamanya; (c) Kesiapan belajar orang dewasa bertumbuh dan berkembang

dewasa menyebutkan bahwa

orang-orang

dewasa itu akan membawa pengalaman dan keahliannya ke lingkungan belajar. Dengan memberi kesempatan pada mereka untuk menggambarkan dan membagikan pengalaman mereka dalam kelompok, bisa menguatkan partisipan untuk melakukan. HASIL PELAKSANAAN DAN

PEMBAHASAN 1. Pendampingan PAUD percontohan di 4 pedukuhan Desa Sumbersari Tim melaksanakan empat PAUD Pengabdian yang IbM telah terhadap dapat

pendampingan

diharapkan

menjadi PAUD percontohan dan melakukan pendampingan bagi sembilan PAUD lain yang belum memiliki PAUD. Keempat PAUD tersebut dapat dilihat dalam Tabel berikut.

44

Tabel 1. Daftar PAUD Percontohan


NO. 1 2 3 4 NAMA PAUD PAUD Mekarsari PAUD Bhakti Siwi PAUD Arumsari PAUD Mekarsari DUKUH Menulis Tiwir Nglahar Blendung

Deskripsi hasil evaluasi kelayakan PAUD di 4 (empat) dukuh setiap aspek diuraikan dalam Tabel 2.

a. Tempat belajar
Tabel 2.Deskripsi Aspek Tempat Belajar di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI DUKUH Menulis Tiwir Blendung Nglahar DESKRIPSI Ruangan berukuran 5 x 5 m, cukup memadai. Tanah milik bersama dari desa, lahan dan permainan outdoor digunakan bersama dengan TK Ruangan berukuran 7 x 4 m, cukup memadai tapi kurang leluasa untuk gerak anak 24 orang, tempat bermain cukup luas Ruangan berukuran 4 x 9 m, kurang leluasa untuk menampung 32 siswa, tempat bermain outdoor juga kurang luas (kurang lebih 2x9 meter) Ruangan berukuran 5 x 7 m, memadai untuk tempat belajar 12 siswa, tempat bermain outdoor cukup luas

b. Alat Pembelajaran Tabel 3. Deskripsi Aspek Alat Pembelajaran di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI DUKUH Menulis DESKRIPSI Alat permainan edukatif cukup memadai , sebagian sudah berumur lama Alat penunjang proses belajar cukup memadai, dan lengkap, lemari, loker, meja kursi cukup. Alat makan memadai, bahan plastik dan ketersediaan cukup Alat permainan edukatif relatif masih sedikit, kurang memenuhi untuk jumlah siswa yang ada. Alat penunjang proses belajar relatif masih minimal dan seadanya, meja kursi cukup untuk jumlah anak, tetapi belum memiliki loker untuk tempat dan mainan dan tas anak Alat makan memadai, aman dan ketersediaan cukup Alat permainan edukatif memadai dan cukup lengkap tapi jumlah belum sesuai dengan kebutuhan siswa. Alat penunjang proses belajar cukup memadai, tersedia dalam jumlah cukup. Papan tulis belum ada, loker mainan kurang, loker tas belum ada. tersedia memadai, sesuai dengan jumlah siswa. Alat permainan edukatif cukup memadai tapi variasi masih kurang, tapi PAUD ini cenderung memanfaatkan materi dari alam (misalnya daun, dsb).

Tiwir

Blendung

Nglahar

45

Alat penunjang proses belajar cukup memadai, tersedia meja kursi, namun belum ada papan tulis, loker tas masih jadi satu dengan loker mainan Alat makan memadai, aman dan ketersediaan cukup

c. Pengelolaan kelas Tabel 4. Deskripsi Aspek Pengelolaan Kelas di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI DUKUH Menulis DESKRIPSI Metode pembelajaran cukup bervariasi dan menarik. Kelas dibedakan atas 3 kelompok (kelompok 2 tahun, 3 tahun dan 4 tahun), pembelajaran diberikan berdasarkan usia Metode pembelajaran menyenangkan, usia 2 4 tahun dijadikan satu kelas, namun pendekatan dilakukan sesuai dengan kebutuhan Metode mengajar cukup menarik dan bervariasi, hal ini didukung dengan relatif intens para guru mengikuti pelatihan PAUD Metode mengajar cukup menarik, anakdapat konsentrasi dan memperhatikan. Pendekatan terhadap perilaku anak sesuai dengan kebutuhan anak PENILAIAN Baik

Tiwir Blendung Nglahar

Baik Baik Baik

d. Pengajar
Tabel 5. Deskripsi Aspek Pengajar di PAUD Rintisan Percontohan PAUD DI DUKUH Menulis Tiwir Blendung Nglahar Jumlah pengajar dan siswa Pengajar Siswa 5 17 4 24 4 33 3 12 Pendidikan S1 0 0 1 0 SMA/SPG 5 3 2 3 SMP 0 1 1 0 Penilaian Memadai Sedang Sedang Memadai

e. Administratif
Tabel 6. Deskripsi Aspek Administrasi di PAUD Rintisan Percontohan PAUD DI DUKUH Menulis Tiwir DESKRIPSI Buku administrasi sekolah telah lengkap Buku administrasi seperti buku induk, buku kegiatan pembelajaran, buku keuangan dan buku tamu sudah ada, hanya saja belum memiliki buku pemantauan perkembangan siswa dan buku kegiatan pembelajaran masih sangat umum, belum dibuat rutin harian Buku administrasi sekolah telah lengkap

Blendung

46

Nglahar

Buku administrasi sekolah telah lengkap

f. Kurikulum Tabel 7. Deskripsi Aspek Kurikulum di PAUD Rintisan Percontohan


PAUD DI DUKUH Menulis Tiwir Blendung Nglahar DESKRIPSI Mengacu pada menu generik PAUD, Satuan pembelajaran sudah disusun dan direalisasikan. Mengacu pada menu generik PAUD, sudah ada satuan pembelajaran harian Mengacu pada menu generik PAUD, sudah ada satuan pembelajaran harian Mengacu pada menu generik kelompok A, SAP direncanakan bersama oleh guru, tapi belum dibuat secara tertulis

g. Jadwal Akademik
Tabel 8. Deskripsi Aspek Jadual Akademik di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI DUKUH Menulis Tiwir DESKRIPSI Jam belajar setiap hari kamis dan sabtu (jam 8.00-10.00). Sudah ada jadual akademik Pembelajaran dilaksanakan setiap rabu dan sabtu jam 8 - 10 Jadual sudah ada, tapi baru agenda mingguan dan bulanan (agenda/ satuan pembelajaran harian belum ada) Pembelajaran dilaksanakan setiap hari selasa dan kamis jam 8-10 Sudah memiliki jadual akademik Pembelajaran dilaksanakan 4 x seminggu, yakni hari senin sampai dengan kamis jam 8 - 11 Sudah memiliki jadual akademik

Blendung Nglahar

h. Kegiatan evaluasi Tabel 9. Deskripsi Aspek Kegiatan Evaluasi di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI DESKRIPSI DUKUH Menulis Rapat rutin intra pengurus dilaksanakan usai mengajar Pertemuan rutin orang tua- pendidik dilaksanakan 1 bulan sekali dgn agenda kerja bakti atau membahas masalah anak Terima raport dilaksanakan setiap 6 bulan sekali Tiwir Rapat rutin intra pengurus telah dilaksanakan Pertemuan rutin orang tua- pendidik belum rutin dilaksanakan, dilaksanakan hanya pada saat ada hal yang perlu dibicarakan bersama Terima raport dilaksanakan setiap 6 bulan sekali

47

Blendung Rapat rutin intra pengurus telah dilaksanakan Pertemuan rutin orang tua- pendidik sudah rutin dilaksanakan Terima raport dilaksanakan setiap 6 bulan sekali Nglahar Rapat rutin intra pengurus dilaksanakan setiap hari kamis membicarakan materi pembelajaran Pertemuan rutin orang tua- pendidik sudah rutin dilaksanakan, parenting class dilaksanakan setiap 3 bulan Terima raport dilaksanakan setiap 6 bulan sekali

i. Keterlibatan Orang Tua Tabel 10. Deskripsi Aspek Keterlibatan Orang Tua di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI DUKUH Menulis DESKRIPSI Kehadiran anak mengikuti PAUD relatif rutin Saat jam belajar, sebagian besar siswa masih ditunggui orang tua walau di luar kelas Kesadaran orang tua untuk datang pertemuan cukup baik. Kehadiran anak mengikuti PAUD relatif rutin dan semakin baik. Prosentase kehadiran semakin meningkat Saat jam belajar, sebagian besar siswa masih ditunggui Kehadiran orang tua dalam pertemuan yang diselenggarakan sekolah cukup baik Kehadiran anak mengikuti PAUD relatif rutin Saat jam belajar, sebagian besar siswa masih ditunggui orang tua Kehadiran orang tua dalam pertemuan yang diselenggarakan sekolah cukup baik Kehadiran anak mengikuti PAUD relatif rutin Saat jam belajar, tidak ada siswa yang ditunggui siswa Kehadiran orang tua dalam pertemuan yang diselenggarakan sekolah cukup baik

Tiwir

Blendung

Nglahar

2. Pendampingan perintisan pendirian PAUD di 9 pedukuhan Desa Sumbersari Kegiatan dilaksanakan selanjutnya oleh Tim yang IbM telah adalah

PAUD (dukuh Menulis, Blendung, Tiwir dan Nglahar). Sembilan dukuh yang didampingi meliputi: Sombangan, Tegalrejo, Klisat, Nasri, Semingin, Tumut, Gesikan, Bendosari dan Ngaglik. Deskripsi hasil pendampingan

pendampingan untuk merintis berdirinya PAUD di sembilan dukuh yang ada di Desa Sumber dari Sari dengan melibatkan para pengurus PKK desa dan pelaksana PAUD empat dukuh yang telah memiliki

perintisan berdirinya PAUD di sembilan dukuh di Desa Sumber Sari dapat dilihat dalam Tabel 11.

48

Tabel 11. Tabel Deskripsi Hasil Pendampingan Perintisan PAUD Di 9 Dukuh DUKUH Sombangan NAMA PAUD Tunas Bangsa DESKRIPSI Pada saat pendampingan sekaligus dilakukan launching pembukaan PAUD Tunas Bangsa. Pada saat pendampingan, pengurus telah terbentuk, dengan pak dukuh sebagai pelindung/penasehat. Telah terdaftar pula peserta didik PAUD. Buku-buku administratif telah dibuat lengkap. Selama sebulan sebelum pendampingan PAUD sudah berjalan satu bulan sekali bersamaan dengan Posyandu. Pada saat pendampingan, ditetapkan oleh pengurus PKK dihadiri pengurus PKK tingkat kelurahan dan warga yang hadir ke depan diselenggarakan sebulan 2 kali Sebelum pendampingan, pembinaan anak usia dini dilakukan 2x sebulan setelah pelayanan Posyandu. Setelah pendampingan, pengurus PAUD terbentuk , kegiatan PAUD dilaksanakan seminggu sekali. Jumlah balita yang terdata sebanyak 27 orang. Saat pendampingan dilakukan pembentukan pengurus PAUD dipimpin pak dukuh disaksikan oleh ibu-ibu yang mempunyai putra-putri usia dini. Terbentuk pengurus PAUD. Kegitan dilaksanakan 1 minggu sekali. Sebelum pendampingan telah dilakukan dua kali pertemuan untuk membentuk pengurus PAUD dan rapat pengurus baru untuk merencanakan kegiatan PAUD dan penggalian dana. Pada saat pendampingan sekaligus dilaksanakan peresmian berdirinya PAUD Kuncup Mekar oleh Ketua TP PKK Desa Sumbersari. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan seminggu sekali setiap hari Sabtu, tempat di rumah Bapak Dukuh. Jumlah siswa 23 anak, usia 2-4 tahun. Buku-buku administrasi juga sudah tersedia lengkap. Telah terbentuk pengurus PAUD dengan pak dukuh sebagai penasehat. Sosialisasi telah dilakukan saat ada pertemuan posyandu, sekaligus langsung dibuka pendaftaran untuk peserta didik. Telah terbentuk susunan pengurus, juga telah terdaftar peserta didik PAUD. Buku-buku administratif telah dipersiapkan lengkap. Pada saat pendampingan, sekaligus diresmikan pembukaan / launching PAUD Sekar Melati. Susunan pengurus telah terbentuk dan telah dilakukan pendataan calon/ prospek peserta didik. Tempat kegiatan PAUD bertempat di rumah pak dukuh.

Tegalrejo

Melati

Klisat

Mekar Sari

Nasri

Dahlia Indah

Semingin

Kuncup Mekar

Tumut

Tunas Harapan Sekar Melati

Gesikan

Bendosari

Kuncup Mekar

49

Ngaglik

Tunas Pertiwi

Telah tersusun laporan kegiatan lengkap yang meliputi pembentukan pengurus PAUD, rencana sosialisasi dan rencana kegiatan pembelajaran. Jumlah siswa sebanyak 36 anak, berusia 2 5 tahun. Tempat kegiatan PAUD ada dua yaitu di rumah Bapak Dukuh dan di rumah salah seorang warga RT Madean karena lokasi RT Madean yang jauh dari rumah Pak Dukuh. Kegiatan dilaksanakan seminggu sekali setiap hari Sabtu (tiga kali kegiatan dilakukan ) di dua tempat, dan sekali dalam sebulan dilakukan terpusat di rumah Pak Dukuh.

Gambaran kesiapan setiap dukuh dalam merintis pendirian PAUD terlihat dalam tabel 12 Tabel 12. Kesiapan 9 Dukuh di Desa Sumber Sari dalam Perintisan Berdirinya PAUD DUSUN Dukuh Sombangan Tegalrejo Klisat Nasri Semingin Tumut Gesikan Bendosari Ngaglik Keterangan: 1. Buku induk 2. Buku kegiatan 3. Daftar Hadir 4. Buku Catatan Perkembangan 5. Buku Kas dan Inventaris APE & Barang 6. Buku Tamu KESIAPAN/KETEREDIAAN Administrasi Pengurus Sarana * /guru belajar 1,2,3,4,5,6 4 Sedikit 3 6 Belum ada 1,2,3,4,5,6 4 Belum ada 6 9 Belum ada 1,2,3,4,5,6 4 Sedikit 6 4/6 Belum ada 1,2,3,4,5,6 7 Sedikit 1,2,3,4,5,6 4 Belum ada 6 4 Sedikit Prospek siswa 20 25 27 28 23 23 22 20 36 Tempat Rumah Bu Dukuh Rumah Bu Dukuh Rumah Bu Dukuh Rumah Bu Dukuh Rumah Bu Dukuh Rumah Bu Dukuh Rumah Bu Sri Kawit Rumah Bu Dukuh Rumah Bu Dukuh

Dari hasil pendampingan yang dilakukan tim ke masing-masing dukuh, dihasilkan kesepakatan tentang rencana waktu mulai

pelaksanaan dan hari serta jam belajar. Tabel selengkapnya dapat dilihat dalam Tabel 13.

Tabel 13. Rencana Waktu Pelaksanaan PAUD yang Disepakati DUKUH Sombangan Tegalrejo Klisat Nasri WAKTU 3 xseminggu 2 kali sebulan 2 x sebulan 1 x seminggu HARI DAN JAM BELAJAR Senin, Rabu, Kamis Minggu ke 1dan ke 3, hari minggu jam 8.30 Jumat 8 -10 MULAI PELAKSANAAN: Nopember 2010 7 Nopember 2010 Nopember 2010 Nopember 2010 50

Semingin Tumut Gesikan Bendosari Ngaglik

1 x seminggu 2 x seminggu 1 x seminggu 1 x seminggu 1 x seminggu

Sabtu Sabtu 09.00 11.00 Jumat Sabtu

13 Nopember 2010 Nopember 2010 6 Nopember 2010 5 Nopember 2010 Nopember 2010

Kendala permasalahan yang dihadapi oleh setiap dukuh dalam upaya merintis

pendirian PAUD

yang terungkap saat

pendampingan dapat dilihat dalam Tabel 14.

Tabel 14. Kendala/ Permasalahan Dukuh dalam Merintis Pendirian PAUD DUKUH KENDALA/PERMASALAHAN YANG DIHADAPI

Sombangan Keterbatasan sarana dan prasarana termasuk alat peraga, dan masih membutuhkan pendampingan. Disamping itu masih perlu disosialisasikan kepada orangtua tentang keberadaan PAUD di dukuh Sombangan, sementara permasalahan selama ini adalah sulit mempertemukan semua orang tua yang memiliki anak balita. Tegalrejo Klisat Keterbatasan dana, mengingat kondisi ekonomi masyarakat menengah ke bawah dan membutuhkan pendampingan dari yang sudah berpengalaman Keterbatasan sarana dan prasarana belajar, APE belum ada. Jumlah pendidik sangat terbatas karena banyak kader PKK yang belum percaya diri untuk menjadi pendidik. Keterbatasan sarana dan prasarana belajar, serta APE belum ada. Antusiasme masyarakat masih perlu ditingkatkan melalui sosialisasi yang lebih gencar. Beberapa pengurus masih merasabelum percaya diri untuk menjadi pendidik. Kesadaran orang tua calon siswa masih perlu ditingkatkan melalui sosialisasi oleh kader PAUD pada berbagai kegiatan pedukuhan. Pengurus PAUD telah ada, namun jumlah yang bersedia menjadi pendidik masih terbatas. Sarana dan prasarana belajar seperti APE masih perlu ditambah. Para pelaksana merasa belum memiliki pengalaman dalam mendidik dan mengelola PAUD, dan ketersediaan fasilitas mainan relatif belum ada. Sarana dan prasarana belajar serta APE belum ada. Sosialisasi PAUD ke masyarakat masih perlu ditambah melalui berbagai kegiatan di pedukuhan. Lokasi terpencar jauh, ada 1 RT yang jaraknya jauh kurang lebih 1 km 51

Nasri

Semingin Tumut

Gesikan Bendosari Ngaglik

Luaran Kegiatan Metode penerapan ipteks di atas efektif, terbukti dari hasil luaran yang dihasilkan dari kegiatan ini sesuai dengan tujuan kegiatan yakni 4 kelompok PAUD terdampingi menjadi model percontohan yang menstimulasi terbentuknya kelompok PAUD lain di desa Sumbersari. Pada semua pedukuhan di desa Sumbersari (13 pedukuhan) telah berdiri PAUD, beserta struktur pengelola dan pengajar, tempat dan waktu pelaksanaan. Program-program di atas dapat dijamin keberlanjutannya karena : a. Telah terbentuk 4 pos PAUD sebagai model PAUD b. Model percontohan rintisan yang yang baru yang dapat dimulai dapat digunakan sebagai acuan belajar bagi 9 kegiatannya. pendampingan dilakukan oleh 4 pos PAUD contoh sehingga dapat membina PAUD rintisan c. Pengurus PKK desa Sumbersari telah dilatih dan berkomitmen PAUD di Desa di untuk seluruh melakukan pelaksanaan pedukuhan kontrol/pengawasan Sumbersari,

untuk

menjadi

aset

PAUD

desa

Sumbersari. d. Dukungan dari aparat pemerintah desa dan masyarakat untuk pelaksanaan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Luaran yang dihasilkan dari kegiatan ini sesuai dengan tujuan kegiatan yakni 4 kelompok model PAUD terdampingi yang menjadi percontohan menstimulasi

terbentuknya kelompok PAUD lain di desa Sumbersari beserta struktur pengelola dan pengajar, tempat dan waktu pelaksanaan. Dengan berdirinya pos PAUD di semua pedukuhan berarti di desa di Sumbersari (13 pedukuhan) telah berdiri PAUD, hal ini masyarakat masing-masing pedukuhan telah mempunyai wadah untuk kegiatan pendidikan anak usia dini. Kelompok mitra kegiatan ini yakni kelompok PAUD jalur non formal di bawah PKK Desa Sumbersari, Moyudan, Sleman, DIY, yang terdiri dari 4 PAUD menjadi model percontohan 9 PAUD yang dirintis pendiriannya. Metode penerapan ipteks yang digunakan : (a) Pendidikan dan pelatihan diberikan pada kader PAUD, dengan materi Perkembangan Anak Usia Dini, Pendidikan dan pembelajaran anak usia dini, dan

sekaligus mengawasi penggunaan Alat Permainan Edukatif yang dihibahkan

52

Sosialisasi serta pemberdayaan masyarakat dan (b) Pendampingan untuk kader PAUD percontohan melakukan

membantu dalam melakukan swadaya pengadaan sarana maupun prasarana belajar bersama. d. PAUD percontohan (PAUD dari pedukuhan Blendung, Nglahar, Menulis, dan Tiwir) diharapkan terus melakukan pembinaan pada PAUD rintisan (PAUD dari 9 dusun lainnya) 2. Aparat pemerintah Desa Sumbersari, khususnya kader PKK a. Secara pertemuan untuk rutin menyelenggarakan dan pendidik sekaligus pengurus membahas yang mampu diupayakan

pendampingan pada kader PKK dari dusun yang belum memiliki PAUD untuk merintis berdirinya PAUD. Saran 1. Kader PAUD a. Kader PAUD untuk dapat secara berkesinambungan dapat menambah meningkatkan kualitas sebagai pengetahuan dan ketrampilan untuk pendidik PAUD. Beberapa cara yang dapat ditempuh yakni : (1) masuk ke jaringan di HIMPAUDI (Himpunan (2) Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia) kecamatan Moyudan; Mengundang nararsumber yang ahli di bidangnya; (3) Mengirim pengurus atau pendidik PAUD secara bergilir untuk mengikuti pelatihan tentang kePAUD-an yang diselenggarakan pemerintah maupun institusi lain. b. Tak henti-hentinya untuk melakukan sosialisasi pada masyarakat tentang arti pentingnya banyak PAUD agar semakin yang putramasyarakat pendidikan

PAUD dari masing-masing pedukuhan mengevaluasi kemajuan PAUD di Desa Sumbersari; b. Membantu memfasilitasi proses pengajuan perijinan pendirian PAUD masing-masing pedukuhan; c. Mengawasi penggunaan aset Alat Permainan Edukatif yang dihibahkan ke Pemerintah Desa Sumbersari dalam hal ini PKK Desa Sumbersari; d. Memfasilitasi memperoleh pemerintah lainnya. Daftar Pustaka PAUD dana maupun bantuan dari untuk dari sumber

mempercayakan putrinya di PAUD.

c. Menjalin kerjasama dan hubungan baik dengan masyarakat, untuk dapat saling

53

Craig, R.L. 1987. Training and Development handbook: A Guide to Human Resource Development. Third Edition. New York: McGraw-Hill Book Company.

Harmonisasi Pemberdayaan Masyarakat dengan Pembangunan Berkelanjutan. Buletin Ekstensia. Pusat Penyuluhan Pertanian Departemen Pertanian RI vol 19 th XI 2004. Diunduh dari http://subejo.staf.ugm.ac.id/wpcontent/supriyanto-ekstensia.pdf

54

HUBUNGAN ANTARA KEPRIBADIAN NARSISTIK DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA REMAJA DI YOGYAKARTA Yusi Ambarwati Ranni Merli Safitri Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta ABSTRACT This study aims to determine the correlation between the narcissistic personality to the consumptive behavior in adolescents. The hypothesis put forward is that there is a positive correlation between the narcissistic personality to consumptive behavior. The higher narcissistic personality, the higher the consumptive behavior. Conversely, the lower the narcissistic personality, the lower the consumptive behavior in adolescents. Research subjects were 65 students in grade 1 and 2 SMU Negeri 3 Yogyakarta aged between 12-17 years. Data collection methods used was narcissistic Personality Scale and Consumptive Behavior Scale. Results of analysis of data showed that there was a highly significant positive correlation between the narcissistic personality to consumptive behavior, with correlation r xy = 0.523 (p <0.01), so the hypothesis proposed was accepted Keywords: narcissistic personality, Consumptive behavior PENDAHULUAN Masa remaja merupakan masa Perilaku remaja yang suka berbelanja ini dijadikan acuan oleh para produsen untuk memasarkan produk-produnya. Alasannya karena pola konsumsi individu biasanya terbentuk ketika remaja, disamping itu karakteristik remaja yang mudah terpengaruh iklan, teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uang (Tambunan, 2001). Selain itu, (Tinarbuko, 2006) mengatakan bahwa remaja pada umumnya belum dapat menentukan prioritas kebutuhannya membuat sendiri sehingga membeli dalam lebih keputusan

peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa ini remaja senang mencoba halhal baru untuk menentukan jati dirinya. Pada umumnya remaja akan mulai memperhatikan penampilannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (2002) yang mengatakan bahwa penampilan bagi remaja sangat penting, yaitu sebagai daya tarik fisik, usaha mencari dukungan sosial, dan popularitas. Sebagai suka usaha untuk seperti mendukung pakaian dan penampilannya tersebut biasanya remaja berbelanja, asesoris.

mengandalkan emosi daripada rasio. Tahap perkembangan pada remaja cenderung memiliki permasalahan dalam

pergaulan, karena dalam masa pencarian identitas diri tersebut remaja berusaha melakukan hal-hal yang dapat menunjang penampilan supaya mendapat perhatian sehingga diterima oleh kelompok pergaulan tertentu (Sarwono, 2001). Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan dan gaya hidup remaja dewasa ini yang cenderung mengarah pada gaya hidup mewah yang kemudian dapat menimbulkan pola hidup konsumtif (Lina dan Rosyid, 1997). Berdasarkan wawancara dan observasi yang peneliti lakukan terhadap beberapa remaja yang masih bersekolah dan beberapa alumni SMU Negeri 3 yang dikenal sebagai SMU favorit, yang berusia 14-19 tahun (28 Oktober-15 November 2006), dapat disimpulkan bahwa perilaku membeli yang dilakukan para remaja tersebut lebih banyak dilakukan karena mengikuti trend saat itu. Remaja-remaja tersebut mengungkapkan alasan-alasan yaitu supaya dapat berpenampilan up to date dan lebih percaya diri dalam bergaul. Karakter remaja yang suka mencoba hal-hal baru cenderung akan mengikuti mode-mode terbaru, hal ini diperkuat dengan banyaknya majalah-majalah remaja yang menampilkan produk-produk yang sedang trend, karenanya Loudon dan Bitta (dalam Lina dan Rosyid, 1997) menyatakan bahwa remaja adalah kelompok yang berorientasi

konsumtif. Perilaku membeli pada remaja yang berlebihan serta tidak sesuai dengan kebutuhan tersebut dapat digolongkan sebagai perilaku konsumtif. Pendapat senada diungkapkan oleh Neufeldt (dalam Zebua dan Nurdjyayadi, 2001), yang mengungkapkan bahwa perilaku konsumtif digambarkan sebagai tindakan yang tidak rasional dan bersifat kompulsif, secara ekonomis menimbulkan pemborosan, serta secara psikologis mengakibatkan kecemasan dan rasa tidak aman. Perilaku konsumtif dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Engel, dkk (1994) menyebutkan beberapa faktor internal yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen, diantaranya, motivasi, proses belajar dan pengalaman, kepribadian dan konsep diri, keadaan ekonomi, dan gaya hidup. Faktor eksternal terdiri dari kebudayaan, kelompok sosial, kelompok referensi, keluarga, dan status sosial. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Lina dan Rosyid (1997) menyebutkan bahwa perilaku konsumtif pada umumnya dilakukan oleh remaja. Salah satu adalah faktor yang diperkirakan Dalam hal dapat ini besar mempengaruhi perilaku konsumtif tersebut kepribadian. yang kepribadian kemungkinan

mempengaruhi perilaku konsumtif adalah kepribadian narsistik.

Fausiah menggolongkan

dan

Widury

(2005) narsistik

idolanya daripada melihat usaha idolanya untuk mencapai kesuksesan (Sabirin, 2005). Ketertarikan remaja pada atribut yang dikenakan perilaku sebenarnya idolanya membeli tidak dapat dilihat dari yang barang-barang dibutuhkan,

kepribadian

sebagai gangguan kepribadian kelompok B, yakni gangguan kepribadian yang memiliki perasaan kuat bahwa individu tersebut merupakan seseorang yang penting dan merasa bahwa dirinya unik. Fausiah dan Widury spesial, menambahkan ambisius, dan bahwa suka individu mencari dengan kepribadian narsistik merasa dirinya ketenaran, sehingga sulit menerima kritik dari orang lain. Maria dkk (2001) menyebutkan beberapa karakteristik kepribadian narsistik yaitu; rasa sensitif terhadap kritik atau kegagalan, kebutuhan yang besar untuk dikagumi, dan kurangnya empati. Remaja yang memiliki rasa bangga terhadap diri sendiri dapat dikatakan bahwa remaja itu memiliki kepribadian narsistik. Kepribadian narsistik dari merupakan lain. perasaan Keadaan yang ini bangga tersebut terhadap diri sendiri dan selalu merasa lebih individu membuat individu barang. dengan individu lain. Hal berkepribadian mempengaruhi remaja lebih yang yang tertarik dikenakan

misalnya

membeli pakaian, sepatu atau tas hanya karena sedang trend atau supaya menyerupai idolanya. Perilaku membeli yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan cenderung berlebihan dapat digolongkan pada perilaku konsumtif. untuk Perilaku konsumtif produknya tersebut yang biasanya dimanfaatkan oleh para produsen memasarkan ditujukkan khusus untuk remaja. Iklan produk melalui berbagai media yang mudah didapatkan oleh remaja merupakan salah satu cara produsen dalam menarik perhatian remaja. Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan kecenderungan bahwa remaja memiliki narsistik berkepribadian

yang dapat menyebabkan remaja tersebut berperilaku konsumtif.

narsistik selalu berusaha tampil lebih dari perilakunya dalam hal mengkonsumsi suatu Biasanya narsistik atribut-atribut berkepribadian

Hipotesis

yang

diajukan

dalam

Narsistik yang terdiri dari 32 aitem dalam bentuk kalimat pernyataan favorable dan unfavorable. Aitem-aitem di atas memiliki koefisien validitas bergerak antara 0,279 sampai 0,658, dan koefisien reliabilitas sebesar 0,8854 sehingga layak digunakan sebagai alat pengumpul data. Metode analisis data dalam peneltian ini menggunakan teknik analisis korelasional Product Moment dari Karl Pearson. Alasan menggunakan teknik tersebut adalah: 1) untuk mengatahui ada tidaknya hubungan antara variabel perilaku konsumtif dan kepribadian narsistik, 2) jenis datanya interval. HASIL DAN DISKUSI Berdasarkan hasil uji normalitas

penelitian ini adalah ada hubungan positif antara kepribadian narsistik dengan perilaku konsumtif pada remaja. Semakin tinggi kepribadian perilaku narsistik, semakin dan tinggi konsumtifnya, sebaliknya,

semakin rendah kepribadian narsistik, maka semakin rendah perilaku konsumtifnya. METODE Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepribadian narsistik sebagai variabel bebas dan perilaku konsumtif sebagai variabel tergantung. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah remaja kelas 1 dan 2 SMU Negeri 3 Yogyakarta yang berusia 1317 tahun dan berjumlah 60 siswa. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Skala Perilaku Konsumtif dan Skala Kepribadian Narsistik. Skala perilaku Konsumtif terdiri dari 37 aitem dalam bentuk kalimat pernyataan favorable dan unfavorable dengan 4 kategori respon yaitu SS (Sangat Sesuai), S (Sesuai), TS (Tidak Sesuai) dan STS (Sangat Tidak Sesuai). Aitem-aitem di atas memiliki koefisien validitas bergerak antara 0,274 sampai 0,679, dan koefisien reliabilitas sebesar 0,9105 sehingga layak digunakan sebagai alat pengumpul data. Skala kedua yang digunakan adalah Skala Kepribadian

sebaran diperoleh untuk data variabel bebas yaitu kepribadian narsistik, besarnya KS Z = 0,074, dengan taraf signifikansi sebesar 0,2 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa sebaran variabel kepribadian narsistik terdistribusi normal, sedangkan variabel tergantung yaitu perilaku konsumtif pada remaja besarnya; KS Z = 0,083, dengan taraf signifikansi sebesar 0,2 (p > 0,05). Hasil tersebut menunjukkan data variabel perilaku konsumtif terdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji linieritas antara variabel perilaku kepribadian konsumtif narsistik diperoleh dengan nilai F

linieritas

sebesar 24,028, dengan taraf (p < 0,05). kepribadian

diajukan diterima. Pada umumnya remaja memiliki idola yang dijadikan panutan untuk berperilaku dan berpenampilan (Lina dan Rosyid, 1997). Remaja mulai kegiatan konsumsinya dengan membeli barang-barang seperti yang dipakai idolanya dengan tujuan supaya dapat

signifikansi sebesar 0,000 hubungan linier. antara variabel

Hasil uji linieritas menunjukkan bahwa narsistik dengan perilaku konsumtif adalah Analisis korelasi Product Moment diperoleh rxy = 0,523 dengan taraf signifikansi 0,000 (p < 0,01), yang artinya ada hubungan yang sangat signifikan antara variabel kepribadian bahwa narsistik hipotesis dengan diterima. perilaku konsumtif para remaja. Hal tersebut menyatakan Koefisien determinasi (R2) variabel narsistik terhadap perilaku konsumtif yang diporeh sebesar 0,273 atau variabel kepribadian narsistik memberikan sumbangan terhadap variabel perilaku konsumtif sebesar 27,3%, sedangkan 72,7% dipengaruhi oleh variabel lain. Berdasarkan analisis korelasi product moment, secara umum hasil penelitian menunjukkan bahwa kepribadian narsistik mempunyai hubungan positif yang sangat signifikan dengan perilaku konsumtif. Artinya, semakin tinggi kepribadian narsistik semakin tinggi pula perilaku konsumtif yang terjadi pada remaja dan sebaliknya, semakin rendah kepribadian narsistik semakin rendah pula perilaku konsumtif pada remaja. Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang

menyerupai gaya sang idola, selain itu remaja cenderung ingin menjadi perhatian teman-teman dan lingkungannya. Kegiatan konsumsi tersebut dapat menjadi berlebihan apabila remaja terlalu mementingkan atribut yang dapat menunjang penampilannya. Hal itu dapat terjadi pada remaja yang memiliki kecenderungan kepribadian narsistik. Halgin mengatakan kepribadian mementingkan dan bahwa narsistik diri Whitbourne individu memiliki yang sendiri (1997), dengan rasa tidak

realistis. Individu yang memiliki kepribadian narsistik yang tinggi pada umumnya selalu merasa istimewa, arogan, angkuh, dan merasa hanya individu yang status sosialnya tinggi yang dapat menghargai dan mengerti kebutuhannya. Pendapat serupa dari Fausiah dan Widury (2005) mengatakan bahwa kepribadian narsistik adalah perasaan yang kuat bahwa individu tersebut merupakan seseorang yang penting dan merasa bahwa dirinya unik. Selain itu, individu dengan kepribadian narsistik merasa dirinya spesial,

ambisius, dan suka mencari ketenaran, sehingga sulit menerima kritik dari orang lain. Karakteristik kepribadian narsistik di atas dewasa ini terdapat pada beberapa remaja, sehingga remaja menjadi konsumtif supaya dapat berpenampilan lebih dari yang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (2002) yang mengatakan bahwa penampilan bagi remaja sangat penting, yaitu sebagai daya tarik fisik, usaha mencari dukungan sosial, dan popularitas. Akibat minat yang berlebihan terhadap penampilan tersebut akan mendorong remaja untuk berperilaku konsumtif. Neufeldt (dalam Zebua dan Nurdjyayadi, 2001) mengungkapkan bahwa perilaku konsumtif digambarkan sebagai tindakan yang tidak rasional dan bersifat kompulsif, secara ekonomis menimbulkan pemborosan, aman. Hasil kategorisasi perilaku konsumtif terhadap siswa kelas 1 dan 2 di SMU Negeri 3 Yogyakarta menunjukkan sebagian besar subjek memiliki taraf perilaku konsumtif yang rendah, yaitu sebanyak 39 subjek atau 60%. Sisanya sebanyak 26 subjek atau 40% berada dalam taraf sedang, dan tidak ada subjek yang berada dalam taraf perilaku serta secara psikologis mengakibatkan kecemasan dan rasa tidak

konsumtif

yang

tinggi.

Hasil

tersebut

menunjukkan bahwa subjek penelitian ini tidak menunjukkan adanya kecenderungan perilaku konsumtif. Hasil kategorisasi kepribadian narsistik juga menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki taraf kepribadian narsistik rendah, yaitu sebanyak 47 subjek atau 72,3%. 27,7% atau sebanyak 18 subjek berada pada taraf sedang, dan tidak ada subjek yang memiliki taraf kepribadian tinggi. Subjek dalam penelitian ini tidak memperlihatkan kecenderungan kepribadian narsistik. Namun demikian hasil korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat signifikan. Rendahnya kategorisasi tersebut dapat dikarenakan ketika subjek mengisi skala banyak bertanya kepada teman-temannya sehingga jawaban cenderung sama satu subjek mengisi diserability. dengan skala Social subjek lainnya. Dapat social adalah dikatakan bahwa dalam penelitian ini subjek berdasarkan diserability

kecenderungan pada subjek penelitian yang menjawab sesuai jawaban sebagian besar subjek (www.wikipedia.org). Selain kategorisasi itu penyebab rendahnya jumlah disebabkan karena

subjek yang hanya 65 siswa, pemberian skala secara klasikal, dan reliabilitas variabel perilaku konsumtif sebesar 0,9105, yang

berarti masih terdapat variasi eror sebesar 8,95% pada variabel tersebut. Reliabilitas variabel kepribadian narsistik sebesar 0,8854, yang berarti masih terdapat variasi eror sebesar 11,46% pada variabel tersebut yang juga dapat menjadi penyebab rendahnya kategorisasi. Pada kenyataannya subjek penelitian ini memperlihatkan ciri-ciri konsumtif, diantaranya atribut-atribut yang dikenakan oleh sebagian besar subejek penelitian adalah bermerk terkenal, seperti tas, sepatu, ponsel, hingga laptop yang dibawa saat pengisian angket penelitian. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan

DAFTAR PUSTAKA Engel, J.F, Blackwell, R.D, Miniard P.W. 1992. Perilaku Konsumen. Budiyanto (pen.) 1994. Jakarta: Binarupa Aksara. Fausiah, F. dan Widury, J. 2005. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: UIpress. Halgin, R.P. & Whitbourne, S.K. 1997. Abnormal Psychology: The Human Experience of Psychological Disorders. USA: Brown & Benchmark. Hurlock, E,B. 2002. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga. Lina & Rosyid, H.F. 1997. Perilaku Konsumtif Berdasar Locus of Control Pada Remaja Putri. Psikologika.. No.4 TahunII. Hal 5-13.

pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara kepribadian narsistik dengan perilaku konsumtif pada remaja. Saran kepada subjek penelitian adalah untuk mempertahankan kepribadian narsistik dan perilaku konsumtifnya yang rendah. Saran untuk peneliti selanjutnya, supaya memperhatikan faktor-faktor lain seperti media massa, lingkungan, kelompok referensi atau idola, dan besarnya uang saku.

Maria, H., Prihanto,S., & Sukamto, M. 2001. Hubungan Antara Ketidakpuasan Terhadap Sosok Tubuh (Body Dissatisfaction) dan Kepribadian Narsistik dengan Gangguan Makan (Kecenderungan anorexia dan bulimia nervosa). Anima,Vol.16, No. 3. Hal. 272-289. Sabirin, Eka. 2005. Kenapa Kita Doyan Belanja? http://kompas.com/kompas. Edisi 26 Agustus 2005. Diakses pada tanggal 13 November 2006. Sarwono, Sarlito Wirawan. 2001. Psikologi Remaja. Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Tambunan,. R 2001. Remaja dan Perilaku Konsumtif. http//www.epsikologi.com/remaja. Edisi 19 November 2001. Diakses pada tanggal 2 April 2006.

Tinarbuko, S. 2006. Pola Hidup Konsumtif Masyarakat Yogya. https://www.kompas.com Edisi 7 Februari 2006. Diakses pada tanggal 25 Mei 2007. Wikipedia.http://en.wikipedia.org/wiki/Socia l_desirability_bias. Diakses pada 23 Oktober 2007.

Zebua, A.S & Nurdjayadi, R.D. 2001 Hubungan Antara Konformitas dan Konsep Diri Dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri. Phronesis. Vol.3. No. 6. hal. 72-

PENINGKATAN KOMPETENSI BERBAHASA INGGRIS FUNGSIONAL KONTEKSTUAL BAGI CALON PEKERJA MIGRAN KECAMATAN MOYUDAN KABUPATEN SLEMAN Hermayawati, dkk Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mercu Buana Yogyakarta

ABSTRACT The District of Moyudan, Sleman Yogyakarta has a relatively high unemployment rate with the job seekers of 6.109 male and 5.293 female. Most of them (especially female) desiredly want to work at overseas as Indonesian Overseas Workers, or Tenaga Kerja Indonesia (TKI). The problem is, they must not merely have job-skill, but also have to be able to use the target language in the job target country, at least English as a means of communication with their new environment. In facts, several research showed that they are not able to communicate in English well. Meanwhile, English is a key instrument to communicate especially with their employers. Based on this fact, this program of Ipteks bagi Masyarakat (IbM) aimed at conducting English training especially for community of the migrant workers candidates. The training program was held by using Functional English Learning Model (Materi Ajar Bahasa Inggris Fungsional /MABIF). The training was conducted for 24 meetings and followed by 40 participants. They consisted of 20 undergraduates degree, 17 higher level students, and 3 person were the graduates of Senior Highschools. This program resulted: (1) MABIF with level of significance of = 0.04; (2) Article of Publication in a Daily Regional Newspaper (Kedaulatan Rakyat) and a Journal (Socio-Humaniora); (3) Training Certificate showed Functional English Mastery; and (4) the Existence/the establishment of Association of Moyudans Overseas Worker Candidates (Paguyuban Calon Pekerja Migran di Moyudan) to keep the project sustainability. Kata kunci: Functional English, Migrant, MABIF PENDAHULUAN Kecamatan Moyudan berjarak 15 Km dari pusat Kota Yogyakarta dan 4 Km dari perguruan tinggi Penulis. Sebagai salah satu

wilayah Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, Moyudan wajib ikut serta dalam mewujudkan visi daerahnya, yaitu menuju masyarakat Sleman yang lebih sejahtera pada tahun 2010. Masalahnya, hingga saat ini angka pengangguran masih relatif tinggi dan tentunya perlu solusi. Menurut data yang ada di Kecamatan, jumlah pencari kerja mencapai 6.109 lakilaki dan 5.293 perempuan dan di antaranya ingin bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (TKI). Mekipun wilayah termasuk wilayah yang kurang subur, kebanyakan penduduk usia muda di Kecamatan Moyudan berminat untuk bertani atau pun menjadi perajin. Berdasarkan data yang ada, terdapat sekitar 40 orang pencari kerja yang tertarik untuk bekerja di luar negeri, baik di sektor domestik (sebagai penatalaksana rumah tangga/PRT) maupun di sektor formal, terutama sebagai buruh pabrik. Dengan bekerja di luar negeri, mereka berharap akan mendapatkan penghasilan yang jauh lebih tinggi dibanding di Indonesia sehingga akan dapat menyejahterakan keluarga mereka. Permasalahan utama yang dihadapi oleh mitra program adalah: kebanyakan pencari kerja migran kurang mampu berbahasa Inggris. Padahal, bahasa Inggris

merupakan

sarana

utama

untuk

berkomunikasi dengan lingkungan bekerja mereka di luar negeri. Hal ini dapat dimaklumi jika mengingat bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia berada di urutan paling bawah di antara negara-negara Asia-Pasifik penelitian Penelitian lain bersama Universitas (Madya, antara 2001: 1; Gunarwan, 2004: 11-12). Selain itu, hasil Lembaga dan Indonesia

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) tahun 2000, yang berjudul: Situasi TKI di Sembilan Negara, menyimpulkan bahwa TKI kurang diminati di sembilan negara Asia-Pasifik dan Timur Tengah, yaitu Singapura, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Korea, Jepang, Saudi Arabia, Iran, dan Amerika. Pengguna jasa di sembilan negara tersebut lebih memilih tenaga kerja dari Philipina, India, dan Vietnam, yang dipandang lebih terampil dalam berkomunikasi dan mengurus rumah tangga dibandingkan dengan TKI (Depnakertrans, 2000: i-ii). Implikasinya, proses pelatihan bahasa asing (Inggris) Calon satunya TKI (CTKI) kurang optimal. dengan ajarnya Optimalisasi pelatihan bahasa Inggris salah dapat dilakukan materi meningkatkan kualitas

(Hermayawati, 2007: 323-324).

Materi

ajar

merupakan

komponen

komunikasi yang paling efektif. Tanpa penguasaan bahasa yang digunakan seharihari, orang akan kesulitan berinteraksi, termasuk para TKI di lingkungan bekerja mereka. Kesalahpahaman dalam berinteraksi yang terjadi secara terus menerus dari waktu ke waktu antara pekerja dan majikan dapat memicu kekerasan yang berujung pada penolakan terhadap pekerja yang bersangkutan. Jika terjadi secara masal, tentu hal tersebut akan mengakibatkan rendahnya posisi tawar (bargaining position) para pencari kerja di luar negeri. Atas dasar berbagai kenyataan sebagaimana disebutkan di muka, model MABIF secara normatif telah disesuaikan dengan kebutuhan program IbM ini. METODE 1. Pelaksanaan Program Sesuai dengan fenomena permasalahan yang ada, program IbM ini menggunakan metode penyuluhan, pendidikan dan latihan. Materinya menggunakan Model Materi Ajar Bahasa Inggris Fungsional (MABIF) yang sebenarnya merupakan temuan penelitian disertasi yang berjudul: Pengembangan Materi ajar Bahasa di Inggris PJTKI dengan Jakarta) Pendekatan Pengembangan Fungsional (Penelitian

kunci dan sarana pembantu ketercapaian tujuan program pembelajaran dan pelatihan pada semua tataran belajar. Untuk itu penyusunannya mestinya disesuaikan dengan analisis kebutuhan target (Richards, 2001: 21, 257). Pemilihan atau penyusunan materi ajar tidak terlepas dari kualitas guru atau pun perencana hasil guru, dan program yang bersangkutan. Namun pada kenyataannya, berbagai bahwa penelitian menunjukkan program seringkali perencana pelatihan

pembelajaran

kurang tepat dalam memilih atau pun menyusun materi ajar bagi peserta didiknya. Dengan kata lain, muatan materi ajar yang digunakan para guru seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik yang notabene sama dengan kebutuhan pengguna lulusan (Hermayawati, 2005: 47-51; 2007: 323-324). Sebagai akibatnya, output dan outcome-nya kurang berterima di dunia kerja (Depnakertrans, 2000: i-ii) karena kurang sesuai dengan tuntutan yang ditargetkan. Permasalahan menunjukkan tersebut bahasa di atas bersifat bahwa

kompleks (Byram & Fleming, 1998: 11), baik menyangkut tata bahasa maupun dalam hal berinteraksi dan beradaptasi dengan budaya mereka (Koentjaraningrat, 2002: 132-133). Bahasa merupakan alat

(Hermayawati, 2008: 324-325) yang telah terbukti efektif dan sengaja digunakan menjadi Model Pembelajaran dalam Program ini. Model Materi Ajar Bahasa Inggris Fungsional (MABIF) sebenarnya secara khusus didesain bagi para calon tenaga kerja Indonesia (CTKI) yang sedang

menjalani pelatihan di Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) Jakarta. Namun demikian, model ini telah juga telah dikembangkan sesuai dengan kebutuhan peserta pelatihan dan users mereka di luar negeri. Sebagai ilustrasi, ciri-ciri MABIF disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Ciri-Ciri Materi Ajar Bahasa Inggris Fungsional/ MABIF


o. N Aspek Bahasa Materi Ajar Bahasa Inggris Fungsional/MABIF yang Dipelajari Bentuk Wacana Materi ajar ditampilkan dalam bentuk percakapan otentik ( Authentics Dialogues, Monologues) yang sesuai dengan tujuan dan analisis kebutuhan target. Pengembangan aspek linguistik difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pembelajar, yaitu penguasaan speaking skill yang melibatkan aspek struktur, kosakata, pelafalan, kefasihan, dan pemahaman pertuturan ( listening comprehension). Kosakata yang sebagian besar diakses dari materi ajar lama disajikan secara kontekstual dan terpadu dalam bentuk dialog dengan mengacu pada konsep Minimum-adequate Vocabulary.

1.

2.

Aspek Linguistik

3.

Aspek Semantik

4. 5.

Aspek Pragmatik/ Aspek pragmatik yang terkait dengan budaya penutur target disajikan secara Budaya terpadu (embedded) di dalam wacana. Keterampilan berbahasa (L.Skills) Keterkaitan antarkonsep (Networking) Keterampilan berbicara (speaking skill) yang meliputi unsur struktur, kosakata, pelafalan, kefasihan/kecepatan bertutur, dan pemahaman ( listening comprehension). Ada keterkaitan antarmateri/antarkonsep berbahasa (yaitu penggunaan fungsi bahasa Imparting and seeking factual informations yang tersaji dalam bentuk wacana dan tercantum secara berurutan di dalam Bab atau Unit Pokok Bahasan) secara luwes dan seimbang.

6.

7.

Tata Ringkasan Materi ajar diurutkan dari mudah ke sulit; sederhana ke agak kompleks; (Structured disertai tampilan language focus dan sentence patterns yang dapat digunakan Summaries) sebagai dasar pemahaman pertuturan target bagi pembelajar. Tampilan Naskah Materi ajar dibuat menarik bagi penggunanya karena pertuturan ditampilkan dalam bentuk dialog-dialog otentik disertai dengan ilustrasi yang dapat memperjelas pemahaman konsep pertuturan target.

8.

2. Pelaksanaan Kegiatan Program kegiatan IbM ini didasarkan atas asumsi sebagai berikut: (a) para peserta diklat rata-rata memiliki kemampuan awal (intakes) bahasa Inggris pada taraf

pembelajaran pemula (threshold dan/atau false-beginning level), yaitu pembelajar yang sudah pernah belajar bahasa Inggris selama bertahun-tahun tetapi tetap tidak mampu menggunakannya; (b) setelah mengikuti pelatihan, yang peserta diklat akan mampu menggunakan fungsi-fungsi bahasa target cocok dengan level kemampuan mereka, yaitu imparting and seeking factual informations untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik di dalam maupun di luar pelatihan; (c) jika hal itu terjadi, para peserta akan mampu berkomunikasi menggunakan bahasa target tersebut dengan para pengguna (users), manakala mereka bekerja di luar negeri; dan (d) instruktur dan peserta pelatihan akan dapat menyebarluaskan Model MABIF yang yang memungkinkan untuk dipelajari sendiri oleh penggunanya. Pelaksanaan program Ib M ini

Mengidentifikasi masalah menentukan masalah utama menganalisis kebutuhan program menentukan tujuan menyusun/mengembangkan materi diklat memberikan pengarahan tentang pelaksanaan kegiatan melaksanakan kegiatan sesuai jadwal mengevaluasi program menganalisis hasil evaluasi melakukan perbaikan program hasil akhir (terampil berbahasa Inggris pada level ambang, diseminasi melalui Artikel Publikasi dan Sustainability).

3. Partisipasi Mitra dalam Pelaksanaan Program Mitra utama program IbM ini adalah lembaga Kecamatan Moyudan yang didukung sepenuhnya oleh sumber daya manusia yang ada. Dalam hal ini, lembaga kecamatan berfungsi sebagai rekomendator dan legitimator pelaksanaan kegiatan yang didukung oleh empat Kalurahan yang meliputi: Kalurahan Sumbersari, Sumber Agung, Sumber Rahayu, Sumber Arum. Namun atas dasar kesepakatan bersama dan berbagai pertimbangan yang ada, kegiatan dipusatkan di Kalurahan Sumbersari. Pertimbangan terhadap lokasi pusat kegiatan tersebut didasarkan pada berbagai faktor berikut: (1) letak geografisnya yang paling strategis di antara empat kelurahan yang ada; (2) tempatnya luas dan lebih kondusif dibanding sehingga tiga kelurahan lainnya; (3) pemukiman penduduk saling berdekatan memudahkan komunikasi

melibatkan 40 orang partisipan. Instruktur diklat adalah dua orang dosen pendidikan bahasa Inggris (PBI) dan sekaligus adalah Ketua dan Anggota Tim IbM. Dalam melaksanakan diklat, instruktur dibantu oleh lima orang mahasiswa PBI FKIP Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Sebagai gambaran, berikut ini disajikan langkahlangkah pelaksanaan programnya.

antarpelaku Sumbersari

kegiatan; merupakan

(4) daerah

Kelurahan terdekat

berupa tes tulis (paper-and-pencil test) dan tes lisan (oral production test). Untuk keperluan tersebut penulis menyusun kisikisi tes tulis dengan memadukan konsep Gronlund (1978: 50-51) dan model Rubrik/Panduan Penskoran Bahasa Lisan (OMalley & Pierce, 1996: 67) lengkap dengan jenjang skala penskorannya, seperti

dengan perguruan tinggi Tim Pelaksana IbM sehingga lebih memperlancar pelaksanaan kegiatan; (5) fasilitas yang ada lebih memadai daripada tempat lain. 4. Evaluasi Hasil Kegiatan Evaluasi program IbM ini

tertera pada Tabel 2.

menggunakan dua bentuk instrumen yang

Tabel 2. Tabel Spesifikasi 90-Butir tes Tulis Penguasaan Fungsi Bahasa Target Content Areas on: Imparting and seeking factual informations Total number of test items/ descriptors (1) Identifyin g (2) Reporting Describing & Narrating) 67 (3) Correcting (Agreeing /Denying) 4 (4) Asking (for help /invitation/ questions) 9 90 Total Five Variables

10

(Van Ek, 1987: 113). Penentuan jumlah butir Tabel 2 menunjukkan bahwa tes tulis yang berjumlah 90 butir soal meliputi pengembangan kecakapan menggunakan fungsi bahasa target, yaitu imparting and seeking factual informations yang meliputi kategori identifying, reporting (termasuk describing dan narrating), correcting kepentingan dan frekuensi penggunaannya (termasuk agreeing dan denying), dan asking (for help, questions, dan invitation) soal pada masing-masing variabel fungsi bahasa dilakukan dengan mempertimbangkan taraf

di dalam komunikasi khusus bagi penutur pada tataran pemula (false beginners). Komponen kecakapan berbicara yang diuji adalah pelafalan, kefasihan atau kecepatan berbicara, kosakata, struktur, dan pemahaman (terhadap pertuturan orang lain). Kriteria yang digunakan ada dua kategori.

Secara berbicara

holistik

penilaian

kemampuan

menggunakan

Rubrik/Panduan

Penskoran Bahasa Lisan (Omalley & Pierce, 1996: 67) dengan rentang skala 1-2, khusus bagi level pemula seperti tercantum pada Tabel 3.

Tabel 3. Rubrik Penskoran Bahasa Lisan untuk Level Pemula Rating Scale 2 Descriptions on Speaking Skill - Begins to communicate personal and survival needs - Speaks in single-word utterances and short patterns - Uses functional vocabulary - Understands words and phrases; requires repetitions 1 - Begins to name concrete objects - Repeats words and phrases - Understands little or no English Speaking Skill Components Mastery Fluency Structure/Pronunciation Vocabulary Comprehension Vocabulary/ Pronunciation Fluency/Structure Comprehension bahasa pemula (begins to communicate Skor satu diperoleh jika peserta personal and survival needs); menggunakan tuturan dan pola kalimat pendek (speaks in single-word utterances and short patterns); menggunakan kosakata fungsional (uses functional vocabulary); memahami kosakata atau pun frase yang terkadang perlu didengar berulangkali (understands words and phrases; requires repetitions).

mampu: menyebutkan nama objek benda atau pun orang (begins to name concrete objects); menirukan kata dan frase dengan lafal yang benar (repeats words and phrases); dan memahami pertuturan sederhana orang lain (understands little or no English). Peserta mendapat skor dua jika mampu: mengucapkan tuturan pada level

Pengembangan butir-butir instrumen menggunakan dua bentuk tes, yaitu tes tulis dan tes lisan. Butir-butir tes tulis ditekankan pada Tes kemampuan lisan yang peserta bertujuan dalam mengukur menggunakan fungsi-fungsi bahasa target. kompetensi berbicara pada tataran ambang ini menggunakan kriteria penilaian Omalley & Pierce (1996: 76) sebagai berikut: (1) validitas isi (content validity), yaitu penilaian hendaknya mengukur kompetensi pemahaman/menyimak dan berbicara, dan aktivitas tersebut menjadi bagian pengajaran; (2) validitas butir-butir soal (task validity), yaitu penilaian hendaknya benar-benar aspek mengukur kemampuan (3) pemahaman dan berbicara, bukan mengukur menyangkut kognitifnya; kesesuaian dengan tujuan dan kemampuan menyesuaikan/ bahasa target mengembangkan (purposefulness konsep and

dilakukan melalui kegiatan oral interview menyangkut penggunaan fungsi-fungsi bahasa target, dikembangkan dalam materi ajar alternatif, yaitu kategori imparting and seeking factual information, yang meliputi fungsi-fungsi bahasa: identifying, reporting (termasuk describing dan narrating), correcting (yang meliputi agreeing dan disagreeing), dan asking (termasuk di dalamnya asking for information dan asking for help). Kedua, pengukuran butir soal yang pengukuran berfokus kemampuan kecakapan validitas butirmelalui yang peserta

dilakukan

pada

pemahaman,

pelafalan, kefasihan (speed of speaking), kosakata, dan tata bahasa (Omalley & Pierce, 1996: 68; Bailey, 2005: 2). Penggunaan kelima komponen tersebut

diintegrasikan ke dalam penggunaan fungsifungsi bahasa target tersebut di muka. Ketiga, pengukuran kesesuaian materi tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta dalam menggunakan fungsi-fungsi bahasa target yang telah dipelajari, terutama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penguji. Jika peserta mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan penguji dengan menggunakan bahasa target secara tepat, maka pengukuran dapat

transferability), yaitu penilaian hendaknya merefleksikan tujuan memahami konteks dan berbicara dalam kehidupan sehari-hari; dan (4) keotentikan, mengukur yaitu penilaian siswa hendaknya kecakapan

dalam memahami dan berbicara yang sesuai dengan tataran peserta tes. Berikut ini dikemukakan penjelasan masing-masing butir kriteria penilaian tersebut. Pertama, pengukuran validitas isi yang

dikatakan sesuai dengan tujuan wawancara. Keempat, pengukuran keotentikan materi dilakukan peserta melalui dalam pengukuran memahami dan pada kemampuan termasuk bahasanya penggunaan

information, dan giving direction. Roleplays meliputi terhadap for/giving pengukuran fungsi-fungsi information penguasaan bahasa dan siswa asking

correcting:

tuturan dan berinteraksi dengan penguji, pemahaman terutama budaya difokuskan pragmatika bahasanya. Lingkup penguasaan fungsi-fungsi bahasa yang

agreeing/disagreeing. Prosedur pelaksanaan tes ini mengacu pada konsep Cohen et al. (2000: 392) dan Richards (2001b: 296-297), yaitu bahwa pada pelaksanaan evaluasi program bahasa, pengumpulan pendekatan data kualitatif dilakukan dan dengan kuantitatif.

berhubungan dengan kebutuhan interaksi sehari-hari (survival needs) di negara target bekerja, terutama sebagai penatalaksana rumah tangga/PRT. Tabel 4 merupakan Matriks Kegiatan Penilaian Bahasa Lisan khusus bagi peserta tes (false beginners). Selain individual pengukuran for help/for tes oleh tulis, dua Materi kemampuan tes orang tes siswa wawancara evaluator meliputi dalam

Pendekatan kualitatif menghasilkan data kualitatif, yaitu hasil pengukuran yang tidak dapat diekspresikan secara numeriki. Pendekatan kualitatif diperoleh dari hasil pengumpulan berbagai informasi, yang di antaranya adalah interviu, yang menjadi alat pengumpul data lisan dalam kegiatan IbM ini. Pendekatan kuantitatif menghasilkan data kuantitatif, yaitu hasil pengukuran yang berupa informasi numerik. Data kuantitatif dikumpulkan dari peserta tes dengan topik yang ditargetkan dan dapat dianalisis secara statistik sehingga menghasilkan ketentuanketentuan tersebut, khusus. penulis Berdasarkan menggunakan konsep jenis

(scored-interview) juga dilakukan secara (interviewer).

menggunakan fungsi-fungsi bahasa asking: information; dan identifying reporting: Picture-cued someone/something; describing/narrating.

Desscriptions/Stories meliputi pengukuran penguasaan siswa terhadap fungsi-fungsi bahasa describing Gap dan meliputi asking correcting. pengukuran for/giving Information bahasa

pendekatan ini melalui instrumen dalam bentuk tes tulis sebagai sarana pengumpul data numeriknya. Tes tulis dilakukan melalui langkahlangkah sebagai berikut: (1) membuat kisi-

penguasaan peserta terhadap fungsi-fungsi describing,

kisi tes penguasaan fungsi-fungsi bahasa target (imparting and seeking factual informations: dalam identifying, reporting, (2)

fungsi-fungsi bahasa imparting and seeking factual berikut: informations, Name?; dan seperti Got tuturan Tes Age?; Address?; it?. diwujudkan

correcting, dan asking), yang integratif ke keterampilan penilaian, berbicara; yaitu merancang butir-butir tes; (3) menyiapkan komponen pedoman penilaian, tabel konversi nilai, dan lembar jawab; (4) melaksanakan tes tulis; dan (5) mengadakan test-scoring dengan rentang skor 1-90. Tes lisan dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut: (1) wawancara pendahuluan; (2) wawancara lanjutan; dan (3) penyimpulan hasil wawancara. Wawancara dimulai dengan pertanyaanpertanyaan sosial seperti How are you to day?, What city do you from?, How long have you studied English?, dan Are you married? untuk membiasakan peserta tes menjawab pertanyaan secara otomatis, karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan selalu dijumpai di mana pun, termasuk di negara tujuan bekerja para calon pekerja migran. Kedua, wawancara lanjutan untuk menjajaki kemampuan peserta tes dalam menerapkan kelima komponen kecakapan berbicara (termasuk pengetahuan budaya dan pragmatika bahasa yang diekspresikan oleh pewawancara) secara terpadu ke dalam

Destination?;

pemahaman sosial budaya

dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan berikut ini: What you have to do in the morning time, when your employers have not got up? atau What you have to do if there is a call while your employers are outsides . Dalam hal ini, penguji secara rileks mengamati dan menilai respons peserta tes yang diarahkan pada penggunaan unsurunsur ketrampilan berbicara dan fungsi bahasa target. Ketiga, penyimpulan hasil wawancara dilakukan sesuai setelah dengan pengujian tujuan dipastikan target atau

pelaksanaannya. Penyimpulan berfokus pada tingkat penguasaan kecakapan berbicara menggunakan fungsi-fungsi bahasa target dan kelima unsur keterampilan berbicara. Wawancara diakhiri secara luwes agar peserta tes menganggap bahwa ujian kecakapan berbicara merupakan pengalaman yang menyenangkan. Keempat, melakukan pengumpulan

data dan menganalisis hasilnya. Data berupa skor tes tulis (0 - 90) dan tes lisan yang dilakukan dengan kriteria penskoran model Rubrik Penskoran Bahasa Lisan bagi

Pembelajar

Level

Pemula

(Beginners

dasar

komunikasi

(minimum-adequate

Rubric Scoring of Oral-language) dengan rentang skala skor 0 2. Tes kecakapan berbicara dilakukan secara lisan (oral production test) (Omalley & Pierce, 1996: 67; Bailey, 2005: 84). Namun demikian, dalam kegiatan IbM ini penulis menggunakan tes tulis dan tes lisan demi menjaga kesahihan hasil pengukuran dan keluasan target cakupan penguasaan semua unsur dan area linguistik yang telah diajarkan. HASIL KEGIATAN Hasil kegiatan IbM bagi calon pekerja migran di Kecamatan Moyudan ini adalah sebagai yang berikut. dibuktikan Pertama, melalui peningkatan pengujian kecakapan berbicara para peserta pelatihan efektivitas MABIF dengan taraf signifikansi

grammar) (Wilkins, 1987: 97). Skor kedua bentuk tes dari kedua kelompok partisipan merupakan data pengujian yang kemudian dianalisis menggunakan uji-t. Kedua, pelatihan sertifikasi bagi peserta berbahasa

khusus penguasaan

Inggris untuk survival life. Sertifikasi yang dilegalisasi oleh LPPM Universitas Mercu Buana ini dapat digunakan sebagai bukti rekomendasi untuk mengikuti pelatihan lanjutan di lembaga penyelenggara pelatihan bagi calon tenaga kerja migran yaitu PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) dan BLKLN (Balai Latihan Kerja untuk Luar Negeri) Depnakertrans. Ketiga, terbentuknya Paguyuban

Calon Tenaga Kerja Migran khususnya di lingkungan Kecamatan Moyudan Sleman, Yogyakarta. Paguyuban ini dibentuk sebagai upaya untuk menjamin keberlangsungan (sustainability) program IbM. Paguyuban ini berfungsi sebagai wadah kegiatan praksis pelatihan berbahasa Inggris lisan (English speaking club) yang anggota dan pelaksana kegiatannya adalah para lulusan pelatihan. Para lulusan yang merupakan pencari kerja lulusan berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta membentuk kelompok belajar yang siap bekerja di luar negeri dan bertugas

= 0.04. Pengujian kecakapan berbicara


meliputi pelafalan, tata bahasa, kosakata, kefasihan, dan pemahaman menggunakan fungsi-fungsi bahasa level threshold/false beginning (Bailey, 2005: 30), yaitu imparting and seeking factual informations (Van Ek, 1987: 113) serta dengan penerapan konsep adequate kosakata minimum dan (minimumpemahaman vocabulary)

pengetahuan sistem gramatikal bahasa target yang cukup untuk memahami kebutuhan

merekrut dan menyediakan fasilitas yang diperlukan oleh para peserta pelatihan berikutnya secara swadaya di bawah bimbingan dosen dan mahasiswa bahasa Inggris UMBY. Keempat, terwujudnya Artikel

Brown, Douglas, H. 1996. Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy. Englewood Cliffs, New Jersey 07632: PrenticeHall, Inc. ---------. 2000. Principles of Language Learning and Teaching: Fourth Edition. New York: Addison Wesley Longman, Inc. A Pearson Education Company. Cohen, Louis., et al. 2000. Research Methods in Education. Great Britain: TJ International Ltd, Padstow, Cornwall. Cunningsworth, Alan. 1995. Choosing Your Coursebook. Great Britain: The Bath Press. Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis kompetensi: Pengembangan Silabus. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Depdiknas. Depnakertrans RI. 2000. Situasi TKI di 9 Negara: A Cooperative Research between the research centre of the University of Indonesia and The Department of Man-power. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Depnakertrans RI. ---------. 2007. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2006 Tentang Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri (BNP2TKI). Jakarta: Biro Hukum Depnakertrans RI. Dubin, Fraida. & Olshtain, Elite. 1992. Course Design: Developing programs and materials for language learning. Cambridge: Cambridge University Press. Fromkin, Victoria., et al. 2003. An Introduction to Language. USA: Heinle, a part of Thomson Corporation. Gronlund, Norman E. 1978. Stating

Publikasi sebagai sarana penyebarluasan pengalaman atau pun informasi menyangkut hasil pelaksanaan kegiatan yang dapat digunakan sebagai referensi atau pun inspirasi bagi peneliti dan pengabdi sejenis. SIMPULAN Berdasarkan berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa IbM ini menghasilkan: (1) Kecakapan berbahasa Inggris terutama untuk survival life; (2) Sertifikat Pelatihan Inggris Fungsional; Penguasaan bahasa (3) terbentuknya

Paguyuban Calon Pekerja Migran untuk menjamin keberlangsungan (sustainability) program IbM ini (4) Artikel Publikasi sebagai sarana diseminasi hasil kegiatan. DAFTAR PUSTAKA Bailey, Kathleen M. 2005. Practical English Language Teaching Speaking. New York: McGraw-Hill. Byram, Michael. & Fleming, Michael. 1998. Language Learning in Intercultural Perspective (Approaches through drama and ethnography). Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Objectives for Classroom Instruction: Second Edition. New York: Macmillan Publishing Co., Inc. Gunarwan, Asim. 2004. Pragmatik, Kebudayaan, dan Pengajaran Bahasa. Surakarta: UNS. Hammerly, H. 1991. Fluency and Accuracy: Toward Balance in Language Teaching and Learning. Clevedon: Multilingual Matters, Ltd. Hermayawati. 2007. The Relevance of English Learning Materials at the Senior Highschools to the Cultures Conservation and Tourism Development in Yogyakarta City: Makalah hasil penelitian disajikan dalam Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, terakreditasi ISSN 1693-623X Vol. 5, No. 1, edisi April 2007. Surakarta: Prodi PBI PPs UNS. ---------. 2009. Developing Functional English Learning Materials for the Migrant Domestic Worker Candidates: Makalah dalam Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, PBI PPs UNS Surakarta ISSN 1693-623X Vol. 6, No.1, Eds. April 2009. Surakarta: PPs UNS. Hutchinson, Tom & Waters, Alan. 1994. English for Specific Purposes: a Learning-centred Approach. Cambridge: Cambridge University Press. Johnson, Elaine B. Teaching and 2007. Contextual Learning (Edisi

Terjemahan). Bandung: MLC. Koentjaraningrat. 2002. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia. Littlewood, William. 1992. Teaching Oral Communication: A Methodological Framework. Cambridge, Massachusetts 02142 USA: Blackwell Publishers. McDonough, Jo. & McDonough, Steven. 1997. Research Methods for English Language Teachers. New York: St Martins Press Inc. Omalley, J.Michael. & Pierce, Valdez, Lorraine. 1996. Authentic Assessment for English Language Learners: Practical Approaches for Teachers. USA: Addison-Wesley Publishing Company, Inc. Richards, J.C. 2001. Curriculum Development in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press. Tomlinson, Brian. & Masuhara, Hitomi. 2004. Developing Language Course Materials. Singapore: SEAMEO Regional Language Centre. Van Ek. 1987. The Threshold Level (an extract). Oxford: Oxford University Press. Wilkins, D.A. 1987. Grammatical, Situational and Notional Syllabuses (an extract). Oxford: Oxford University Press.

PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TANGGUNGJAWAB SOSIAL / SOCIAL DISCLOSURE Nugraeni Staf pengajar pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta ABSTRACT The issue which becomes a concern of community today is the role of a company to its environment, both external environment and internal environment of the company. In addition to profit-oriented activities, companies need to conduct other activities, such as activities to provide a safe working environment for its employees, ensure that no pollution to its surrounding area is produced from the production process, transparent duty stationing of employess, to produce safe products for consumers, and maintaining the external environment to achieve corporate social responsibility. Disclosure of social responsibility is one of the selected media to show concern of the company to the surrounding community. CSR (Corporate Social Responsibility) disclosure is useful as added value for a company as well as reducing the social costs arising from company activities. In addition to above mentioned benefits of CSR, the company can gain legitimacy by demonstrating social responsibility through CSR disclosure in the media and in the company's annual report. Results of several studies concluded that the percentage of management ownership and type of industry has significant influence in company policy in expressing social information; company size and structure of ownership significantly influence the broad of voluntary disclosure in corporate annual reports. Keywords: management ownership, social disclosure PENDAHULUAN FASB Concepts Statement No. 1 dalam Kieso (2002) menyatakan bahwa beberapa informasi yang bermanfaat lebih baik disajikan dalam laporan keuangan, dan beberapa lainnya lebih baik disajikan dengan menggunakan media pelaporan keuangan selain laporan keuangan. Isu yang sedang menjadi perhatian masyarakat saat ini yaitu peran suatu perusahaan terhadap lingkungannya, baik lingkungan intern maupun lingkungan ekstern perusahaan. Perusahaan mempunyai peran selain memberi manfaat positif terhadap ekonomi juga berkontribusi terhadap menurunnya kondisi sosial masyarakat. Beberapa perusahaan mendapat kritik karena telah menciptakan masalah sosial seperti polusi, penyusutan sumber daya, limbah, mutu dan keamanan produk, hak dan status karyawan, keselamatan kerja dan lain-lain.

Berubahnya usaha. dapat sehingga Untuk lebih akan

kondisi dapat lebih

lingkungan bersaing, dalam para

manajemen. Agar laporan keuangan yang sudah diperiksa oleh akuntan publik dapat menjadi dasar yang berguna bagi pengambilan keputusan, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan membuat kriteria perlunya disclosure (pengungkapan) tertentu yang dapat mencakup semua perusahaan publik (Irawan, 2006: 19). Menurut pelaporan Statement untuk of Financial memberikan

ekonomi banyak berpengaruh pada dunia perusahaan dihadapkan pada kondisi untuk transparan lebih membantu mengungkapkan informasi perusahaannya, pengambil keputusan dalam mengantisipasi kondisi yang semakin berubah. Tujuan laporan informasi keuangan yang adalah menyediakan posisi menyangkut

Accounting Concepts (SFAC) No. 1, tujuan adalah informasi yang berguna bagi investor, calon investor, kreditur, calon kreditur dan para pemakai lainnya dalam membuat keputusan investasi, kredit dan keputusan lainnya secara rasional. Menurut Susanto (1992) Subroto (2003) dan Irawan (2006) informasi yang terkandung dalam laporan keuangan sangat penting sebagai dasar untuk mengalokasikan dana-dana investasi secara efisien dan produktif. Daarough (1993) Subroto (2003) Irawan (2006) menunjukkan arti pentingnya informasi laporan keuangan dengan menyatakan bahwa, perusahaan perusahaan memberikan laporan keuangan kepada berbagai stakeholder, dengan tujuan untuk memberikan informasi yang relevan dan tepat waktu agar berguna dalam pengambilan monitoring, keputusan penghargaan investasi, kinerja dan

keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang dapat bermanfaat bagi sejumlah pengguna dalam pengambilan keputusan. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan tersebut kebutuhan diharapkan dapat memenuhi

bersama sebagian besar pengguna. Profesi akuntan sebagai penyedia informasi tidak dapat melepaskan diri dari situasi perkembangan perekonomian. Semakin besar suatu usaha bisnis, semakin dirasakan perlunya informasi akuntansi, baik untuk pertanggung jawaban maupun untuk dasar pengambilan keputusan. Berhubungan dengan pengujian informasi keuangan dari pihak luar (investor), profesi akuntan perlu mengatur cara-cara pengujian informasi keuangan suatu badan usaha dan memberi jasa audit untuk menentukan kewajaran laporan keuangan yang disusun oleh

pembuatan kontrak-kontrak. Irawan (2006)

menyatakan investasi

bahwa

kualitas oleh

keputusan kualitas

PEMBAHASAN Pertanggungjawaban social perusahaan (CSR) Dauman dan Hargreaves (1992) dalam Sulastini (2007) menyatakan bahwa tanggung jawab perusahaan dapat dibagi menjadi tiga level sebagai berikut : 1. Basic responsibility (BR) Pada level pertama, menghubungkan tanggung jawab yang pertama dari suatu perusahan, yang muncul karena keberadaan perusahaan tersebut memenuhi standar seperti; perusahaan pekerjaan, dan harus membayar pajak, memenuhi hukum, memuaskan pemegang saham. Bila tanggung jawab pada level ini tidak dipenuhi akan menimbulkan dampak yang sangat serius. 2. Organization responsibility (OR) Pada level kedua ini menunjukan tanggung memenuhi jawab perusahaan untuk perubahan kebutuhan

dipengaruhi

pengungkapan perusahaan yang diberikan melalui laporan tahunan. Agar informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami dan tidak menimbulkan salah interpretasi, maka penyajian laporan keuangan pengungkapan disclosure). Saat perusahaan ini pihak-pihak managerial bahwa harus yang disertai cukup dengan (adequate

semakin

menyadari

perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja, namun juga harus berpijak pada triple bottom lines yaitu memperhatikan masalah sosial dan lingkungannya. Dunia usaha bukan lagi sekedar kegiatan profit ekonomik demi Jika untuk menciptakan dan akan kelangsungan

usahanya, melainkan tanggung jawab sosial lingkungan. menjamin menggantungkan akan bisa semata-mata pada kesehatan finansial tidak perusahaan tumbuh secara berkelanjutan (sustainable) (Adhianta 2008)

Stakeholder seperti pekerja, pemegang saham, dan masyarakat di sekitarnya. 3. Sociental responses (SR) Pada kekuatan tumbuh level lain dan ketiga, menunjukkan yang secara

tahapan ketika interaksi antara bisnis dan dalam masyarakat demikian kuat sehingga perusahaan dapat berkembang berkesinambungan, terlibat dengan apa yang

terjadi

dalam

lingkungannya

secara

ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas

keseluruhan. Tanggung jawab perusahaan tidak hanya jawab terbatas terhadap pada kinerja keuangan yang perusahaan, tetapi juga harus bertanggung masalah sosial ditimbulkan oleh aktivitas operasional yang dilakukan perusahaan. Adapun Teuku dan Imbuh (1997) Nur Cahyonowati (2003) dalam Sulastini (2007) mendeskripsikan tanggung jawab sosial sebagai kewajiban organisasi yang tidak hanya menyediakan barang dan jasa yang baik bagi masyarakat, tetapi juga mempertahankan kontribusi positif kualitas terhadap lingkungan sosial maupun fisik, dan juga memberikan kesejahteraan komunitas dimana mereka berada. Sedangkan menurut Ivan Sevic (Hasibuan,2001) Sulastini (2007) tanggung jawab sosial diartikan bahwa perusahaan mempunyai tanggung jawab pada tindakan yang mempengaruhi konsumen, masyarakat, dan lingkungan. Selain itu Weston dan Brigham menyatakan berperan (1990) bahwa aktif Sulastini perusahaan dalam (2007) harus

setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan (The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) Ambadar, 2008:19 Djoe mee 2009). Konsep CSR melibatkan tanggung pemerintah, masyarakat, dan statis. jawab serta kemitraan sumber komunitas ini SEA antara daya setempat merupakan antara (Social dan untuk lembaga

(lokal). Kemitraan ini tidaklah bersifat pasif Kemitraan jawab secara Definisi Accounting): pengukuran tanggung Economic pengaturan, kegiatan mengukur sosial

stakeholders.

menyangkut analisis,

pengungkapan pengaruh ekonomi sosial dari perusahaan. dan Bertujuan melaporkan pengaruh

kegiatan perusahaan terhadap lingkungan, mencakup: Financial, Managerial Social Accounting dan Social Auditing (Harahap,2004:349 Djoe mee 2009). Pengungkapan jawab sosial Menurut disebut juga Hackston sebagai dan Milne, social (disclosure) tanggung

menunjang

kesejahteraan masyarakat luas. Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan

tangggung jawab sosial perusahaan sering corporate

responsibility merupakan ekonomi

atau proses

social

disclosure,

cenderung Pendekatan

membatasi kedua

persepsi

tentang

corporate social reporting, social reporting pengkomunikasian terhadap kelompok dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan organisasi khusus yang berkepentingan dan terhadap masyarakat secara keseluruhan (Sembiring, 2005) dalam Sri Sulastini (2007). Hal tersebut memperluas tanggung jawab organisasi dalam hal ini perusahaan, di luar peran tradisionalnya untuk menyediakan laporan keuangan kepada pemilik modal, khususnya tersebut pemegang saham. Perluasan bahwa dibuat dengan asumsi

tanggung jawab sosial yang dilaporkan. dengan meletakkan sosial pengungkapan tanggung jawab

perusahaan pada suatu pengujian peran informasi dalam hubungan masyarakat dan organisasi. Pandangan yang lebih luas ini telah menjadi sumber utama kemajuan dalam pemahaman tentang pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan sekaligus merupakan sumber kritik yang utama terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Banyak mengapa teori yang menjelaskan cenderung perusahaan

perusahaan mempunyai tanggung jawab yang lebih luas dibanding hanya mencari laba untuk pemegang saham (Gray et.al (1995) Hasibuan (2001) Sulastini (2007). Menurut Gray et.al. dalam Sembiring (2005) Sulastini (2007) ada dua pendekatan yang secara signifikan berbeda dalam melakukan penelitian tentang pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. tanggungjawab Pertama, sosial pengungkapan

mengungkapkan informasi yang berkaitan dengan aktivitasnya dan dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan tersebut. Gray et.al. (1995) dalam Henny dan Murtanto (2001) Sulastini (2007). menyebutkan ada tiga studi yaitu : 1. Decision usefullness studies. Sebagian dilakukan oleh dari para studi-studi peneliti yang yang

perusahaan mungkin diperlakukan sebagai suatu suplemen dari aktivitas akuntansi konvensional. Pendekatan ini secara umum akan menganggap masyarakat keuangan sebagai pemakai utama pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan

mengemukakan teori ini menemukan bukti bahwa informasi sosial dibutuhkan oleh para pemakai laporan keuangan. Dalam hal ini para analis, banker, dan pihak lain yang dilibatkan dalam penelitian tersebut diminta untuk melakukan pemeringkatan terhadap informasi akuntansi. Informasi akutansi

tersebut

tidak

terbatas

pada

informasi

pembenaran dari para stakeholders dalam menjalankan kecenderungan nya. Informasi yang diungkapkan dalam laporan keuangan tahunan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib (Mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela Pengungkapan pengungkapan (Voluntery wajib yang disclosure). merupakan oleh diharuskan operasi perusahaan perusahaannya. mengadaptasi Sehingga berakibat semakin besar pula diri terhadap keinginan para stakeholders-

akuntansi tradisioanal yang telah dikenal selama ini, namun juga informasi lain yang relatif baru dalam wacana akuntansi. Mereka menempatkan informasi aktivitas social perusahaan pada posisi yang moderately important pertimbangan untuk oleh digunakan para users sebagai dalam

pengambilan keputusan 2. Economic theory studies Studi ini menggunakan agency theory dan positive accounting theory, dimana teori tersebut penggunaan menganalogikan agency theory, manajemen prinsipal sebagai agen dari suatu prinsipal. Dalam diartikan sebagai pemegang saham atau traditional users lain. Namun pengertian prinsipal tersebut meluas menjadi seluruh interest group perusahaan yang bersangkutan. Sebagai agen manajemen akan berupaya mengoperasikan perusahaan sesuai dengan keinginan publik (stakeholder). 3. Social and political theory studies Studi di bidang ini menggunakan teori stakeholders, teori legitimasi organisasi, dan teori ekonomi politik. Teori stakeholders mengasumsikan perusahaan bahwa ditentukan eksistensi oleh para

peraturan yang berlaku, dalam hal ini adalah peraturan yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. Sedangkan pengungkapan sukarela adalah pengungkapan yang melebihi dari yang diwajibkan. Menurut Hendriksen (2002) Hartanti (2005) ada tiga konsep pengungkapan yang umumnya diusulkan, adalah sebagai berikut : (1) Pengungkapan cukup (Adequate disclosure). Pengungkapan cukup adalah pengungkapan minimum yang disyaratkan oleh peraturan yang berlaku, dimana angka yang dengan disajikan benar dapat oleh diinterpretasikan investor (2)

Pengungkapan wajar (Fair disclosure), yaitu Pengungkapan yang wajar secara tidak langsung menyiratkan suatu etika, yaitu

stakeholders. Perusahaan berusaha mencari

memberikan perlakuan yang sama kepada semua pemakai laporan keuangan; (3) Pengungkapan penuh (Full disclosure), yaitu menyangkut penyajian informasi yang

pengungkapan

wajib

oleh

perusahaan

manufaktur adalah 68 item. Menurut Murtanto (2006) Sulastini (2007), pengungkapan kinerja perusahaan seringkali (voluntary Adapun dilakukan secara sukarela perusahaan. perusahaan sosial secara disclosure) oleh alasan-alasan kinerja

relevan. Bagi sebagian orang pengungkapan penuh berarti penyajian informasi secara berlimpah sehingga tidak tepat. Menurut mereka, terlalu banyak informasi akan membahayakan. Karena penyajian rinci dan yang tidak penting justru akan mengaburkan informasi yang signifikan membuat laporan keuangan sulit ditafsir. Di Indonesia yang menjadi otoritas pengungkapan Setiap wajib adalah publik Bapepam. diwajibkan perusahaan

mengungkapkan

sukarela antara lain: 1. Internal Decision Making Manajemen membutuhkan informasi untuk menentukan efektivitas informasi sosial tertentu dalam mencapai tujuan sosial perusahaan. Walaupun hal ini sulit diidentifikasi dan diukur, namun analisis secara sederhana lebih baik daripada tidak sam sekali. 2. Product Differentiation Manajer perusahaan memiliki insentif untuk membedakan diri dari pesaing yang tidak bertanggung jawab secara sosial kepada masyarakat. Akuntansi kontemporer tidak memisahkan pencatatan biaya dan manfaat aktivitas sosial perusahaan dalam laporan keuangan, sehingga perusahaan yang tidak peduli sosial akan terlihat lebih sukses daripada perusahaan yang peduli. Hal ini mendorong perusahaan yang peduli sosial untuk mengungkapkan informasi tersebut

membuat laporan keuangan yang diaudit oleh akuntan publik independen sebagai sarana pertanggungjawaban, terutama kepada pemilik modal. Bapepam melalui Surat Keputusan Bapepam No. 06/PM/2000 tanggal 13 Maret 2000 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan mensyaratkan elemen-elemen diungkapkan dalam yang laporan seharusnya keuangan

perusahaan-perusahaan publik di Indonesia. Kemudian untuk pedoman penyajian dan pengungkapan laporan keuangan perusahaan publik industri manufaktur diatur melalui Surat Edaran Ketua Bapepam No. SE02/PM/2002 tanggal 27 Desember 2002. Dalam Surat Edaran tersebut total item

sehingga masyarakat dapat membedakan mereka dari perusahaan lain. 3. Enlightened Self-Interest Perusahaan melakukan pengungkapan untuk menjaga keselarasan sosialnya dengan para stakeholder karena mereka dapat mempengaruhi pendapatan penjualan dan harga saham perusahaan. Ikatan dalam Akuntansi Indonesia (IAI)

......perusahaan-perusahaan pada masa kini diharapkan atau diwajibkan untuk mengungkapkan informasi mengenai kebijakan dan sasaran-sasaran lingkungannya, program-program yang sedang dilakukan dan kos-kos yang terjadi karena mengejar tujuan-tujuan ini dan menyiapkan serta mengungkapkan risiko-risiko lingkungan. Dalam area akuntansi, inisiatif yang telah digunakan untuk memfasilitasi pengumpulan data dan untuk menigkatkan kesadaran perusahaan dalam hal terdapatnya implikasi keuangan dari masalah-masalah lingkungan.

Bagian Definisi paragraf 08 dinyatakan :


........Pengungkapan tambahan, bagaimanapun, diperlukan atau dianjurkan agar merefleksikan secara penuh berbagai dampak lingkungan yang timbul dari berbagai aktivitas dari suatu perusahaan atau industri khusus.

Pernyataan

Standar

Akuntansi

Keuangan (PSAK) Nomor 1 (revisi 2004) Sulastini (2007) paragraf sembilan secara implisit menyarankan untuk mengungkapkan tanggung jawab akan masalah sosial sebagai berikut :
Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peran penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting

Bagian

Pengungkapan

paragraf

41

dinyatakan seperti berikut:


......... Pengungkapan yang demikian itu dapat dimasukkan dalam laporan keuangan, dalam catatan atas laporan keuangan atau, dalam kasus-kasus tertentu dalam suatu seksi laporan di luar laporan keuangan itu sendiri. .......

Berdasarkan pernyataan PSAK di atas, menunjukkan kepedulian akuntansi terhadap masalah-masalah sosial yang merupakan pertanggungjawaban sosial perusahaan. Belum adanya standar baku yang merinci peraturan mengenai pengungkapan sosial mengakibatkan keleluasaan dan perusahaan kebebasan memiliki untuk

Dalam Exposure Draft PSAK no 20 tahun 2005, Masnila (2008) tentang Akuntansi Lingkungan bagian Pendahuluan paragraph 01 dinyatakan bahwa :

mengungkapkan informasi sosial tersebut. Struktur kepemilikan dan pengungkapan tanggungjawab sosial Pengungkapan kinerja lingkungan,

sosial dan ekonomi bertujuan untuk menjalin

hubungan komunikasi yang baik dan efektif antara perusahaan telah dengan publik dan stakeholders lainnya tentang bagaimana perusahaan mengintegrasikan corporate social responsibilty (CSR): lingkungan dan sosial dalam setiap aspek kegiatan Perusahaan operasinya juga (Darwin, dapat 2007). memperoleh

beroperasi demi menjaga legitimasi dan reputasi perusahaan (Simerly dan Li, 2001; Fauzi, 2006) dalam joernalakuntansi 2010. Struktur dapat kepemilikan bertindak sebagai lain pihak adalah yang kepemilikan institusional, dimana umumnya memonitor perusahaan. Perusahaan dengan kepemilikan institusional yang besar (lebih dari 5%) mengindikasikan kemampuannya untuk besar semakin bertindak memonitor kepemilikan efisien sebagai yang manajemen. pemanfaatan pencegahan dilakukan Semakin maka aktiva terhadap oleh institusional

legitimasi dan memaksimalkan kekuatan keuangannya dalam jangka panjang dengan memperlihatkan tanggung jawab sosial melalui pengungkapan CSR dalam media termasuk dalam laporan tahunan perusahaan (Oliver, 1991; Haniffa dan Coke, 2005; Ani, 2007) dan Kiroyan CSR (2006). Hal ini akan mengindikasikan bahwa perusahaan yang menerapkan mengharapkan direspon positif oleh para pelaku pasar. Kepemilikan asing dalam perusahaan merupakan pihak yang dianggap concern terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Negara-negara luar terutama Eropa dan United State merupakan negara-negara yang sangat memperhatikan isu-isu sosial; seperti pelanggaran hak asasi manusia, pendidikan, tenaga kerja, dan isu lingkungan seperti, efek rumah kaca, pembalakan liar, serta pencemaran air. Hal ini juga yang menjadikan dalam beberapa tahun terakhir ini, perusahaan multinasional mulai mengubah perilaku mereka dalam

perusahaan dan diharapkan juga dapat pemborosan

manajemen (Faizal, 2004 dalam Arif, 2006). Hal ini berarti kepemilikan institusi dapat menjadi sosial. Lebih lanjut dalam joernalakuntansi 2010, dalam posisi sebagai bagian dari masyarakat, operasi perusahaan seringkali mempengaruhi Eksistensinya anggota masyarakat dapat diterima masyarakat, sekitarnya. sebagai sebaliknya pendorong perusahaan untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab

eksistensinya pun dapat terancam bila perusahaan tidak dapat menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut atau bahkan merugikan anggota komunitas tersebut. Oleh karena itu,

perusahaan,

melalui

top

manajemennya

atas image yang akan mereka ciptakan untuk diri mereka sendiri. Selanjutnya organisasi dapat menetapkan legitimasi mereka dengan memadukan antara kinerja perusahaan dengan ekspektasi atau persepsi publik (Henderson et al, 2004, Nurhayati, et al, 2006). Perusahaan multinasional atau dengan kepemilikan asing utamanya secara melihat tipikal keuntungan legitimasi berasal dari para stakeholrder-nya beroperasi) dimana dapat berdasarkan atas home market (pasar tempat yang memberikan eksistensi yang tinggi dalam jangka panjang (Suchman, 1995 dalam Barkemeyer, 2007). Pengungkapan untuk perusahaan sekitarnya. tanggung jawab sosial merupakan salah satu media yang dipilih memperlihatkan terhadap Dengan kata kepedulian di lain, apabila

mencoba memperoleh kesesuaian antara tindakan organisasi dan nilai-nilai dalam masyarakat umum dan publik yang relevan atau stakeholder-nya (Dowling dan Pfeffer, 1975 dalam Haniffa fan Cooke, 2005; Ani, 2007). tidak Keselarasan selamanya Tidak antara tindakan yang terjadi organisasi dan nilai-nilai masyarakat ini berjalan jarang seperti akan diharapkan.

perbedaan potensial antara organisasi dan nilai-nilai sosial yang dapat mengancam legitimasi perusahaan. Menurut Sethi dalam Haniffa dan Cooke (2005); Ani (2007), hal ini dapat menghancurkan legitimasi organisasi yang berujung pada berakhirnya eksistensi perusahaan. Suchman (1995) dalam Barkemeyer (2007) memberikan definisi mengenai organisational legitimacy sebagai berikut: Legitimacy is a generalized perception or assumption that the actions of an entity are desirable, proper, or appropriate within someocially constructed system of norms, values, beliefs, and definitions . Nasi, Nasi, Philips, and Zyglidopoulos, 1997 dalam Nurhayati, Brown, dan Tower, 2006 dalam joernalakuntansi 2010, mengatakan bahwa Legitimacy theory focuses of the adequacy of corporate social behaviour. Ini berarti bahwa society judge organisasi berdasarkan

masyarakat

perusahaan memiliki kontrak dengan foreign stakeholders baik dalam ownership dan trade, maka perusahaan akan lebih didukung dalam melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial. Penelitian Tanimoto dan Suzuki (2005), dalam melihat luas adopsi GRI dalam laporan tanggung jawab sosial pada perusahaan publik di Jepang, membuktikan bahwa kepemilikan asing pada perusahaan publik di Jepang menjadi faktor

pendorong terhadap adopsi GRI dalam pengungkapan tanggung jawab sosial. Susanto (dalam Marwata, 2006),

pemberian perusahaan

pinjaman yang

hanya

kepada

mengimplementasikan melakukan

CSR dengan baik. Barnae dan Rubin (2005) dalam joernalakuntansi 2010, penelitian untuk melihat CSR sebagai

meneliti luas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di BEJ, menemukan pemilikan saham oleh investor asing dalam penelitian ini tidak memiliki hubungan sukarela dengan dalam luas laporan pengungkapan

konflik berbagai shareholder menunjukkan hasil bahwa institutional ownership tidak memiliki hubungan terhadap CSR. Selanjutnya, Mani (2004) Kasmadi dan Susanto (2006), menguji faktor-faktor yang menentukan luas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan perusahaan di India, menemukan financial institution investment tidak terhadap berhubungan secara signifikan dalam pengungkapan sukarela

tahunan. Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan oleh institusi keuangan, seperti perusahaan asuransi, bank, dana pensiun, dan asset management (Koh, 2003; Veronica dan Bachtiar, 2005). Tingkat kepemilikan institusional yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor institusional sehingga dapat menghalangi perilaku opportunistic manajer. Perusahaan dengan kepemilikan institusional yang besar (lebih dari 5%) mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor manajemen (Arif, 2006). Shleifer and Vishny (1986) Barnae dan Rubin yang (2005), besar, bahwa institutional insentif bentuk untuk institusi shareholders, dengan kepemilikan saham memiliki Sebagai memantau perusahaan. pengambilan keputusan

laporan tahunan perusahaan di India. Anggraini (dalam Dumadia, 2009) melakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan perusahaan untuk mengungkapkan informasi sosial di dalam laporan keuangan tahunan pada perusahaan-perusahaan Penelitian ini di Indonesia. variabel menggunakan

prosentase kepemilikan manajemen, tingkat leverage, biaya politis, dan profitabilitas. Hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa persentase kepemilikan manajemen dan tipe industri berpengaruh signifikan terhadap (2006) kebijakan bahwa perusahaan faktor-faktor dalam yang mengungkapkan informasi sosial. Irawan

memerlukan pengungkapan CSR terjadi pada perbankan Eropa, dimana perbankan di Eropa menerapkan kebijakan dalam

mempengaruhi pengungkapan antara lain saham publik dan status perusahaan, dimana adanya perbedaan dalam proporsi saham yang dimiliki oleh investor luar dapat mempengaruhi kelengkapan pengungkapan oleh perusahaan. Hal ini karena semakin banyak pihak yang membutuhkan informasi tentang perusahaan, semakin banyak pula detail-detail butir yang dituntut untuk dibuka dan dengan demikian pengungkapan perusahan semakin luas. Dessy Amalia (2005) Kumala Dewi (2007) hasil penelitian menujukkan bahwa ukuran perusahaan dan struktur kepemilikan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap luas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan perusahaan. SIMPULAN Perusahaan memiliki kewajiban sosial atas apa yang terjadi disekitar lingkungan masyarakat. Selain menggunakan dana dari pemegang saham, perusahaan juga menggunakan dana dari sumber daya lain yang berasal dari masyarakat (konsumen) sehingga hal yang wajar jika masyarakat mempunyai harapan tertentu terhadap yang atas perusahaan. Tanggung jawab sosial adalah suatu bentuk pertanggungjawaban seharusnya dilakukan perusahaan,

dan mungkin sedikit-banyak berpengaruh terhadap masyarakat internal maupun eksternal dalam lingkungan perusahaan. Selain melakukan aktivitas yang berorientasi pada laba, perusahaan perlu melakukan aktivitas lain, misalnya aktivitas untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman bagi karyawannya, menjamin bahwa proses produksinya tidak mencemarkan lingkungan sekitar perusahaan, melakukan penempatan tenaga kerja secara jujur, menghasilkan produk yang aman bagi para konsumen, dan menjaga lingkungan eksternal untuk mewujudkan kepedulian sosial perusahaan. Disclosure dalam laporan keuangan tahunan merupakan sumber informasi untuk pengambilan keputusan investasi. Keputusan investasi sangat tergantung dari mutu dan luas pengungkapan yang disajikan dalam laporan tahunan. Mutu dan luas ini pengungkapan laporan keuangan tahunan masing-masing berbeda. Perbedaan terjadi karena karakteristik dan filosofi manajemen masing-masing perusahaan juga berbeda. Selain digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, disclosure dalam laporan keuangan tahunan juga digunakan sebagai sarana pertanggungjawaban manajemen keuangan atas sumber daya yang dipercayakan.

dampak positif maupun dampak negatif yang ditimbulkan dari aktivitas operasionalnya,

Dengan adanya PSAK No 1 (revisi 2004) diharapkan menambah kesadaran perusahaan sosialnya perusahaan. mengungkapkan untuk terhadap Geliat tanggung melaporkan lingkungan untuk jawab kegiatan sekitar selalu sosial

institusional,

dimana

umumnya

dapat

bertindak sebagai pihak yang memonitor perusahaan. Kepemilikan institusi dapat menjadi sosial. pendorong perusahaan untuk melakukan pengungkapan tanggung jawab

dalam bentuk CSR reporting sudah nampak dan perusahaan mulai tidak ragu lagi. Bagi perusahaan dengan menjalankan praktik akuntansi dan pelaporan atas aktivitas sosialnya diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang diperoleh dari para stakeholdernya. Namun begitu tidak semua perusahaan sosialnya. Pengungkapan perusahaan selain CSR untuk berguna nilai bagi mengungkapkan aktivitas DAFTAR PUSTAKA Bambang Irawan, 2006, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta, Skripsi S1, Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta. David S.Gelb; Joyce A.Strawser, Corporate Social Responsibility and Financial Disclosures:An Alternative Explanation for Increased Disclosure, Journal of Business Ethics, Vol. 33, No. 1 (Sep., 2001) pp 1-13. Dewi Hartanti, 2005 : Pengaruh Faktorfaktor Fundamental Terhadap Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Skripsi S1, Universitas Negeri Semarang. Dessy Amalia, 2005, Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Luas Pengungkapan Sukarela (Voluntary Disclosure) Pada Laporan Tahunan Perusahaan, Jurnal Akuntansi Pemerintah, Vol 1, No. 2, November 2005 Djoe2xs Blog-http://djoe2x.wordpress.com Edi Subiyantoro, Saarce Elsye Hatane, Dampak Perubahan Kultur Masyarakat Terhadap Praktik

tambah

perusahaan juga mengurangi biaya sosial yang timbul nanti dari aktivitas perusahaan. Selain itu perusahaan legitimasi tanggung jawab juga dapat dengan sosial memperoleh memperlihatkan

melalui pengungkapan CSR dalam media termasuk dalam laporan tahunan perusahaan. Perusahaan yang menerapkan CSR mengharapkan akan direspon positif oleh para pelaku pasar. Kepemilikan asing dalam perusahaan merupakan pihak yang dianggap concern terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial lain perusahaan. adalah Struktur kepemilikan kepemilikan

Pengungkapan Laporan Keuangan Perusahaan Publik di Indonesia, Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, Vol. 9, No. 1, Maret 2007: 18-29 http://joernalakuntansi.wordpress.com http://www.dumadias.blogspot.com http://www.Theowordpowers.webblog.com Kieso Donald E; Jerry J.Weygandt; Terry D. Warfield, 2002, Intermediate Accounting, Edisi Kesepuluh, Jilid 3, Erlangga, Jakarta.

Kumala Dewi, 2009 Pengaruh Luas Pengungkapan Laporan Keuangan Tahunan Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Indonesia Terhadap Keputusan oleh Investor, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma, Jakarta. Sri Sulastini, 2007, Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Social Disclosure Perusahaan Manufaktur yang telah go public, Skripsi S1 Universitas Negeri Semarang.

PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL DAN KUALITAS AUDIT TERHADAP PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONCIBILITY (CSR) Imannuel Wiryawan (Staf Pengajar Fak Ekonomi Univ Kristen Imanuel) Martinus Budiantara (Staf Pengajar Fak Ekonomi Univ Mercu Buana Yogyakarta) Abstract Companies are sometimes less aware of the importance of environment upon the success of the business. Problems related to the environment, such as environmental pollution, should not occur if the company's activity is accompanied by a concern for society and the environment. Such conditions require that firms are not only oriented towards profit, but also accompanied by attention to the surrounding environment. This study examines the effect of audit quality and institutional ownership of corporate social disclosure responcibility. Key word: corporate social responcibility, institutional ownership, audit quality

PENDAHULUAN Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh aktivitas bisnis yang ada di suatu negara. Perusahaan-perusahaan akan saling bersaing untuk menjadi pemimpin di bidang industri masing-masing. Pada mulanya, keberhasilan perusahaan tidak banyak diikuti dengan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Perusahaan kurang menyadari akan arti pentingnya lingkungan terhadap kesusksesan usaha. Permasalahan yang terkait dengan lingkungan, seperti pencemaran lingkungan, seharusnya tidak terjadi apabila aktivitas perusahaan disertai dengan suatu kepedulian terhadap Kondisi masyarakat seperti ini dan lingkungan. mengharuskan

perusahaaan

tidak

hanya

berorientasi

terhadap laba saja, namun juga disertai dengan perhatian terhadap lingkungan

disekitarnya. Dua motivasi yang mendasari perusahaaan dalam mengungkapkan Social aktivitas CSR dalam (Corporate Respocibility)

laporan keuangan. Dua motivasi tersebut didasarkan pada teori stakeholders dan teori legitimasi. Dalam teori stakeholders disebutkan bahwa perusahaan akan memilih stakeholders yang dianggap penting dan mengambil perusahaan tindakan dan yang dapat Oleh menghasilkan hubungan harmonis antara stakeholdesrnya.

karena itu, perusahaan mempertimbangkan aktivitas serta pengungkapan CSR dengan harapan agar mempunyai hubungan yang baik dengan para stakeholders perusahaan. Teori legitimasi menyebutkan bahwa perusahaan sebaiknya menunjukkan

dalam Reverte (2008) menunjukkan bahwa terdapat beberapa variabel yang kemungkinan menjelaskan variasi luasnya pengungkapan CSR dalam laporan tahunan. Munif (2010) menguji pengaruh ukuran perusahaan (zise), keuntungan (profitability), struktur kepemilikan (ownership structure), leverage, sensitivity), sensitivitas serta industri (industry media pengungkapan

berbagai aktivitas sosial perusahaan agar tujuan perusahaan diterima masyarakat. Oleh karena itu, perusahaan mempertimbangkan aktivitas serta pengungkapan CSR dengan harapan memperoleh legitimasi dari publik. Perusahaan menggunakan pengungkapan CSR untuk membenarkan atau melegitimasi aktivitas perusahaan di mata masyarakat. Hal ini dikarenakan, pengungkapan aktivitas CSR akan menunjukkan tingkat kepatuhan suatu perusahaan seperti kepatuhan terhadap norma-norma yang berlaku, serta harapanharapan publik kepada perusahaaan tersebut. Berdasarkan studi empirik, menunjukkan bahwa aktivitas pengungkapan CSR beragam pada semua perusahaan industri. Studi empirik lain juga menunjukkan bahwa perilaku pengungkapan CSR sangat penting dan secara sistematis dipengaruhi oleh variasi perusahaan dan karakteristik industri yang mempengaruhi biaya-manfaat pengungkapan. Beberapa literatur penelitian yang dilakukan oleh Cooke (2005), Hossain et al. (1995), Neu et al.(1998), dan Patten (1991),

(media exposure) terhadap CSR. Pada umumnya perusahaan yang besar mengungkapkan lebih banyak informasi dibandingkan Perusahaan dengan besar perusahaan pada kecil. umumnya

mempunyai jenis produk yang banyak, sistem informasi yang canggih, serta struktur kepemilikan pengungkapan yang secara lengkap, luas ( sehingga Suripto, memungkinkan dan membutuhkan tingkat 1999,Zaleha, 2005) Penelitian yang dilakukan oleh Adams et al. (1998), Cullen and Christopher (2002), Hamid (2004), Haniffa dan Cooke (2005), Hossain et al. (1995), Neu et al.(1998), dan Patten antara (1991), ukuran dalam Reverte (2008) dengan menunjukkan hubungan yang signifikan perusahaan pengungkapan sosial. Sementara Hackston dan Milne (1996), Zaleha (2005) dan Anggraeni (2006) tidak menemukan hubungan dari kedua variabel tersebut.

Sensitivitas industri dapat didefinisikan sebagai seberapa besar tingkat industri tersebut bersinggungan langsung dengan konsumen dan kepentingan luas lainnya. Oleh karena itu, pada umumnya perusahaan yang mempunyai sensitivitas industri yang tinggi terhadap lingkungannya akan memperoleh perhatian yang tinggi mengenai lingkungan tersebut dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang mempunyai sensitivitas industri yang lebih rendah terhadap lingkungannya. Hal ini dikarenakan perusahaan tersebut mempunyai dampak potensi yang lebih tinggi dalam mempengaruhi kondisi serta keberadaan lingkungan tersebut (Branco dan Rodrigues, 2008). Pada beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa perusahaanperusahaan yang proses manufaktur perusahaan mempunyai pengaruh negatif pada lingkungan, maka pengungkapan dan pelaporan akan lebih informative dibandingkan dari industri lainnya (Reverte, 2008). Penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2006) menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara sensitivitas industri dengan pengungkapan tanggung jawab sosial. Pada umumnya, perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi akan mengurangi

pengungkapan tanggung jawab sosial yang dibuatnya agar tidak menjadi perhatian dari para debtholders. Brammer dan Pavelin (2008) rendah dalam akan Reverte membuat (2008) para tekanan tidak juga menyatakan bahwa tingkat utang yang kreditor yang perusahaan CSR yang mengurangi secara

mendesak kebijakan manajer dalam aktivitas langsung keuangan mempengaruhi perusahaa Perusahaan yang mempunyai struktur kepemilikan umumnya yang akan terdispersi, pada memperbaiki kebijakan kesuksesan

pelaporan keuangan perusahaan dengan menggunakan pengungkapan CSR untuk mengurangi asimetri informasi. Sedangkan perusahaan dengan struktur kepemilikan yang terpusat pada umumnya lebih kurang termotivasi untuk mengungkapkan informasi tambahan pada kegiatan CSR perusahaan. Hal ini dikarenakan para shareholder pada perusahaan tersebut dapat memperoleh informasi secara langsung dari perusahaan (Reverte, 2008). Penelitian yang dilakukan Brammer and Pavelin (2008); Prencipe (2004); dalam Reverte (2008) menunjukkan hubungan yang positif antara struktur kepemilikan dan pengungkapan tanggung jawab sosial.

Pengungkapan media merupakan salah satu sumber utama Media pada informasi peran lingkungan. mempunyai

Corporate Social Responsibility (CSR) Seperti dikemukakan oleh Robins

(2005) adalah sebagai berikut:


CSR is a concept whereby companies integrate social and environmental concerns in their business operations and stakeholder relations on a voluntary basis; it is about managing companies in a socially responsible manner.

penting pada pergerakan mobilisasi sosial, misalnya kelompok yang tertarik pada lingkungan (Patten, 2002b dalam Reverte, 2008). Pengungkapan CSR pada media, diharapkan perusahaan akan mempunyai citra yang positif di mata publik, sehingga perusahaan mendapatkan legitimasi atas praktik CSR. Hal inilah yang menjadi bagian pada proses membangun yang institusi, dan membentuk norma diterima

Pengertian CSR menurut Wikipedia Indonesia menyatakan bahwa : Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate
Social Responsibility adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan

legitimasi praktik CSR. Perumusan Masalah 1. Bagaimana pengaruh terhadap 2. Bagaimana kualitas audit corporate kepemilikan pengungkapan pengaruh

Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan terintegrasi bahwa dengan CSR bisnis dijalankan perusahaan,

social responcibility (CSR). institusional terhadap pengungkapan corporate responsibility (CSR) Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui pengaruh kualitas audit 2. Untuk kepemilikan pengungkapan terhadap mengetahui institusional Corporate pengungkapan pengaruh terhadap Social Corporate Social Respocibility (CSR).

memperhatikan kepentingan stakeholders (pemangku kepentingan) dengan harapan memberikan masyarakat. Menurut Daniri (2007) CSR lahir dari desakan masyarakat atas perilaku perusahaan yang biasanya selalu fokus untuk memaksimalkan laba, mensejahterakan para pemegang saham, dan mengabaikan tanggung jawab sosial seperti perusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, dan lain sebagainya. Konsep dan praktik manfaat/kesejahteraan bagi

Responcibility (CSR). Tinjauan dan Pengembangan Hipotesis

CSR bukan lagi dipandang sebagai suatu cost center tetapi juga sebagai suatu strategi perusahaan yang dapat memacu dan menstabilkan pertumbuhan usaha secara jangka panjang. Oleh karena itu penting untuk mengungkapkan CSR sebagai wujud pelaporan tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Good Corporate Governance (GCG) Menurut Daniri (2004), dengan

yang terjadi pada perusahaan-perusahaan besar seperti Enron, Xerox, Tyco, Global Crossing, dan Worldcom. Terungkapnya skandal khususnya akuntansi kepercayaan masyarakat mengakibatkan masyarakat dalam keuangan bekurangnya

pasar uang dan pasar modal, salah satu indikatornya adalah turunnya harga saham secara drastis dari perusahaan yang terkena kasus. Persoalan tata kelola perusahaan menjadi semakin jelas terlihat. Negara Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara acuan penerapan tata kelola perusahaan yang baik menjadi diragukan karena kasus-kasus manipulasi akuntansi. Ada tuduhan yang menyebutkan bahwa pemicu munculnya kasus manipulasi justru karena mekanisme tata kelola perusahaan di Amerika Serikat (Mayangsari, 2003). Penerapan Corporate Governance diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor akan menerima return atas dana yang diinvestasikan, dan yakin bahwa manajer tidak akan menggelapkan atau tidak menginvestasikan dana ke proyek-proyek yang tidak menguntungkan dan berkaitan dengan bagaimana investor mengontrol para manajer.

mengutip riset Berle dan Means pada tahun 1934, isu GCG muncul karena terjadinya pemisahan pengelolaan antara kepemilikan Pemisahan dan ini perusahaan.

memberikan kewenangan kepada pengelola (manajer/direksi) untuk mengurus jalannya perusahaan, seperti mengelola dana dan mengambil keputusan perusahaan atas nama pemilik. Pemisahan ini didasarkan pada principal-agency theory yang dalam hal ini manajemen cenderung akan meningkatkan keuntungan perusahaan. keuangan pribadinya Selain yang baik, daripada memiliki perusahaan tujuan kinerja juga

diharapkan memiliki tata kelola yang baik. Corporate Governance atau sering disebut dengan tata kelola perusahaan mulai banyak dibicarakan sejak terjadinya berbagai skandal di dunia bisnis yang melibatkan manipulasi akuntansi. Skandal akuntansi

Corporate Governance perusahaan, direksi dan dewan dewan direksinya

meliputi (dewan para

perusahaan untuk patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedua pendekatan ini memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing dan seharusya saling 2006). Tujuan dari Corporate Governance adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang Secara berkepentingan lebih rinci, (stakeholders). melengkapi untuk menciptakan lingkungan bisnis yang sehat (KNKG,

serangkaian hubungan antara manajemen komisaris),

pemegang saham dan stakeholders lainnya. Corporate Governance juga merupakan suatu yang memfasilitasi penentuan sasaransasaran dari suatu perusahaan, dan sebagai sarana (OECD, pencapaian teknik 1999). sasaran dan sarana kinerja menentukan monitoring

Corporate

Governance

harus memberikan insentif yang tepat bagi dewan direksi dan manajemen dalam rangka mencapai sasaran, harus dapat memfasilitasi monitoring yang efektif dan mendorong penggunaan sumber daya yang efektif. Penerapan good corporate governance diyakini mampu menciptakan kondisi yang kondusif dan landasan yang kokoh untuk menjalankan operasional perusahaan yang baik, efisien dan menguntungkan. Penerapan good corporate governance dapat didorong dari dua sisi, yaitu etika dan peraturan. Dorongan dari etika (ethical driven) datang dari kesadaran individu-individu, pelaku bisnis untuk menjalankan praktik bisnis yang mengutamkan menghindari kelangsungan cara-cara hidup perusahaan, kepentingan stakeholders, dan menciptakan keuntungan sesaat. Di sisi lain, dorongan dari peraturan (regulatory driven) memaksa

terminologi Corporate Governance dapat dipergunakan untuk menjelaskan peranan dan perilaku dari Dewan Direksi, Dewan Komisaris, pengurus (pengelola) perusahaan, dan para pemegang saham (FCGI, 2001). Sebagaimana yang diuraikan oleh OECD (2004), yang dikutip oleh FCGI dalam terbitannya ada empat unsur penting dalam CG yaitu: a. Keadilan (Fairness), yaitu kepastian perlindungan atas hak seluruh pemegang dari penipuan (fraud) dan penyimpangan lainnya serta adanya pemahaman yang jelas mengenai hubungan berdasarkan kontrak diantara penyedia sumber daya perusahaan dan pelanggan. b. Transparansi perusahaan, (Transparancy), baik ketepatan yaitu waktu

keterbukaan mengenai informasi kinerja

maupun akurasinya. Hal ini berkaitan dengan kualitas informasi akuntansi yang dihasilkan., c. Akuntabilitas efektif (Accountability), yaitu

perusahaan

karena

pemegang

saham

menganggap bahwa CG yang lebih baik akan memberikan imbal hasil yang lebih tinggi bagi pemegang saham. Tujuh puluh lima persen dari investor mengatakan bahwa praktek CG paling tidak sama pentingnya dengan kinerja keuangan ketika investor mengevaluasi investasi. perusahaan 80% untuk dari tujuan investor Bahkan

penciptaan sistem pengawasan yang berdasarkan pembagian wewenang, peranan, hak dan tanggung jawab dari pemegang saham, manajer, dan auditor. d. Pertanggungjawaban (Responsibility),

mengatakan akan membayar lebih mahal untuk saham perusahaan yang memiliki CG yang lebih baik (wellgoverned company atau WGC) dibandingkan perusahaan lain dengan kinerja keuangan relatif sama. Penelitian Terdahulu Klapper hubungan diukur dan positif ROA lain Love (2002) dalam

yaitu pertanggungjawaban perusahaan kepada stakeholders dan lingkungan dimana perusahaan itu berada. CG timbul karena kepentingan perusahaan untuk memastikan dana kepada pihak penyandang (principal/investor)

bahwa dana yang ditanamkan digunakan secara tepat dan efisien. Selain itu dengan CG, perusahaan memberikan kepastian bahwa manajemen (agent) bertindak yang terbaik demi kepentingan perusahaan. Penerapan good corporate governance diyakini mampu menciptakan kondisi yang kondusif dan landasan yang kokoh untuk menjalankan operasional perusahaan yang baik, efisien dan menguntungkan. Coombes dan Watson (2000) dalam Fachrurozi (2007) menyatakan bahwa pemegang saham saat ini sangat aktif dalam meninjau kinerja

Darmawati, dkk.(2005) menemukan adanya antara dan corporate Tobins Q. governance dengan kinerja perusahaan yang dengan Penemuan penting adalah bahwa

penerapan corporate governance di tingkat perusahaan lebih memiliki arti dalam Negara berkembang dibandingkan dalam negara maju. Wahyuni (2005) meneliti pengaruh antara Current ratio, ROE, Total Asset Turn Over dan DER terhadap harga saham. Hasilnya menunjukkan bahwa current ratio, ROE, total asset turn over (TAT), dan DER

berpengaruh harha saham. Siallagan governance, corporate audit, dan

secara

signifikan

terhadap

terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Profitabilitas terbukti berpengaruh positif terhadap CSR. Rahayu Sri (2010) dalam penelitian menemukan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap hubungan antara ROE terhadap Tobins Q, pengungkapan CSR tidak mempengaruhi hubungan antara kinerja keuangan dan nilai perusahaan. Adhi Cahya Bramantya (2010) dalam penelitiannya menemukan bahwa kinerja keuangan yang terdiri dari rasio Size, ROA, dan Leverage berpengaruh secara simultan terhadap pengungkapan CSR. Secara parsial kinerja keuangan yang berpengaruh terhadap pengungkapan CSR adalah variabel Size dan Leverage.

dan kualitas

Machfoedz laba dan

(2006) nilai oleh

meneliti hubungan mekanisme corporate perusahaan. Dalam penelitian ini mekanisme governance proporsi Hasil diproksi dewan kepemilikan manajerial, keberadaan komite komisaris bahwa governance independen. mekanisme menunjukkan

corporate

mempengaruhi nilai perusahaan (Tobins Q). Yuniasih nilai governance sedangkan dan Wirakusuma (2007) dengan moderasi. governance

meneliti pengaruh kinerja keuangan terhadap perusahaan sebagai variabel mempertimbangkan CSR dan corporate Kinerja keuangan diproksikan dengan ROA, corporate diproksikan dengan kepemilikan manajerial. Hasilnya mengindikasikan berpengaruh perusahaan, positif pengungkapan bahwa ROA nilai dapat CSR terhadap

Kualitas Audit

Pengungkapan CSR

Kepemilikan Institusional

memoderasi hubungan antara ROA dengan nilai perusahaan, akan tetapi kepemilkan manajerial hubungan perusahaan. Nurkhin (2009) meneliti corporate governance dan profitabilitas, pengaruhnya tidak antara dapat ROA memoderasi dengan nilai Hipotesis H1 : Kualitas Audit berpengaruh positip terhadap pengungkapan CSR.

H2 : Struktur kepemilikan institusional berpengaruh terhadap pengungkapan CSR

H3 :

Kualitas Audit dan struktur kepemilikan institusional secara bersama sama mempengaruhi pengungkapan CSR

baik secara fisik maupun melalui website www.idx.co.id atau pada website masingmasing perusahaan; (d) Memiliki data keuangan yang berkaitan dengan variabel penelitian secara lengkap.

METODE PENELITIAN Populasi yang digunakan dalam

Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data penelitian diambil dari laporan tahunan perusahaan yang telah diaudit dan dipublikasikan. Data diperoleh antara lain dari Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id). Metode Pengumpulan Data Metode yaitu yang digunakan dalam

penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang termasuk dalam kelompok industri manufaktur yang telah terdaftar di BEI. Dipilihnya satu kelompok industry yaitu industri manufaktur sebagai populasi dimaksudkan untuk menghindari bias yang disebabkan oleh efek industri (industrial effect), dan selain itu sector manufaktur memiliki jumlah terbesar perusahaan dibandingkan sektor lainnya. Sampel Sampel pemilihan tertentu. penelitian ditentukan kriteria

penelitian ini adalah metode dokumentasi, mempelajari catatan-catatan perusahaan yang diperlukan yang terdapat didalam annual report perusahaan yang menjadi sampel penelitian seperti informasi pengungkapan CSR, kualitas audit, struktur kepemilikan institusional, dan data lain yang diperlukan. Pengukuran kinerja CSR adalah melalui laporan kegiatannya, yakni dengan metode content analysis yang merupakan suatu cara pemberian skor pada pengukuran pengungkapan sosial laporan tahunan yang dilakukan dengan pengamatan mengenai ada tidaknya suatu item informasi yang ditentukan dalam laporan tahunan, apabila item informasi tidak ada dalam laporan

berdasarkan purposive sampling yang berarti sampel Adapun berdasarkan kriteria perusahaan

manufaktur yang dijadikan sampel antara lain adalah seperti berikut: (a) Semua perusahaan yang termasuk dalam kelompok industri manufaktur yang terdaftar di BEI dan mempublikasikan laporan keuangan tahun 2009; ((b) Perusahaan sampel tidak mengalami delisting selama periode pengamatan; (c) Tersedia laporan keuangan perusahaan secara lengkap pada tahun 2009,

keuangan maka diberi skor 0, dan jika item informasi yang ditentukan ada dalam laporan tahunan maka diberi skor 1. Variabel Independen Kualitas Audit DeAngello audit quality kemungkinan (1981) sebagai bahwa mendefinisikan pasar auditor menilai akan

pengungkapan yang digunakan oleh Siregar (2008). Pengukuran variabel ini dengan indeks pengungkapan sosial, selanjutnya ditulis CSR dengan membandingkan jumlah pengungkapan yang diharapkan. Pengungkapan sosial merupakan data yang diungkap oleh perusahaan berkaitan dengan aktifitas sosialnya yang meliputi 13 item lingkungan, 7 item energi, 8 item kesehatan dankeselamatan kerja, 29 item lain-lain tenaga kerja, 10 item produk, 9 item keterlibatan masyarakat, dan 2 item umum. Metode Analisis Penelitian ini diuji dengan

memberikan a) penemuan mengenai suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi klien; dan b) adanya pelanggaran dalam pencatatannya. Pada public sector, GAO (1986) mendefinisikan audit quality yaitu pemenuhan terhadap standar profesional dan terhadap syarat-syarat sesuai perjanjian, yang harus dipertimbangkan. Pengertian lain yang digunakan berkaitan dengan studi mengenai audit quality adalah analisis terhadap kualitas yang ditinjau dari aturan yang dibuat oleh aparatur pemerintah. Kemudian dari tiga pendekatan tersebut Schroeder (1986) dan Carcello (1992) mengidentifikasi adanya hubungan antara atribut kualitas audit dan kualitas audit yang dirasakan (dalam Lowensohn, 2007). Variabel Dependen Pengungkapan CSR Pengungkapan CSR ad pengungkapan informasi yang berkaitan dengan tanggung jawab perusahaan di dalam laporan tahunan. Pengukuran CSR mengacu pada 78 item

menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana. Sebelum analisis dilaksanakan, terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi klasik untuk menghasilkan nilai parameter model penduga yang sah. Nilai tersebut akan terpenuhi jika hasil uji asumsi klasiknya memenuhi asumsi normalitas, serta tidak terjadi heteroskedastisitas, autokorelasi, dan multikolinearitas. Uji Autokorelasi

Correlations Inde ks CSR INST UKAD


Pearson Indeks CSR Correlation INST UKAD Sig. (1- Indeks CSR tailed) INST UKAD N Indeks CSR INST UKAD 1.000 .093 .364 . .172 .000 107 107 107 .093 1.000 -.054 .172 . .290 107 107 107 .364 -.054 1.000 .000 .290 . 107 107 107 Model

ANOVAb
Sum of Squares df .025 2 Mean Square F

Sig. .000a

Regression Residual Total

.013 8.824 .001

.148 104 .173 106

a. Predictors: (Constant), UKAD, INST b. Dependent Variable: Indeks CSR

Dari hasil uji Anova diperoleh bahwa kepemilikan institusional dan kualitas audit secara bersama-sama berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikasnsi < 0,05

Uji Signifikansi/Pengaruh Simultan (Uji Statistik F)

Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t) Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) INST UKAD B -.014 .019 .022 Std. Error .021 .015 .005 .113 .370 Standardized Coefficients Beta t -.697 1.239 4.075 Sig. .488 .218 .000

a. Dependent Variable: Indeks CSR Dari hasil perhitungan uji t, dapat dilihat bahwa kepemilikan institusional secara parsial tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Hal ini dapat dilihat dari nilai Sig > 0,05. Sedangkan kualitas audit secara parsial berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. DAFTAR PUSTAKA Anggraini, Fr Reni Retno. 2006. Pengungkapan Informasi Sosial dan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan Keuangan Tahunan (Studi Empiris pada Perusahaan-Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta). Makalah Disampaikan dalam Simposium Nasional Akuntansi Ke-9. Padang, 23 26 Agustus. Branco, M. C. dan Rodrigues, L. L. 2008. Factors Influencing Social Responsibility Disclosure by Portuguese Companies. Journal of Business Ethics (2008) 83:685701 DOI 10.1007/s10551-007-9658-z. Daniri, Mas Achmad 2009. Mengukur Kinerja Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Informasi CSR Sangat Terbatas, Bisnis Indonesia, 8 Juni 2009. Daniri, Mas Achmad, 2008, Jadikan GCG Bermakna, Bisnis Indonesia, 21 Desember 2008. Hasyir, Dede Abdul, 2009, Pengungkapan Informasi Pertanggungjawaban Sosial Pada Laporan Tahunan Perusahaan Perusahaan Publik di Bursa Efek Jakarta. Working Paper in Accounting and Finance, Universitas Padjajaran Bandung. Herawaty, Vinola, 2008, Peran Praktek Corporate Governance Sebagai Moderating Variable Dari Pengaruh Earnings Management Terhadap Nilai Perusahaan, Simposium Nasional Akuntansi 11 Pontianak 23-24 Juli 2008. Herdinata, Christian, 2008, Good Corporate Governance vs Bad Corporate Governance: Pemenuhan Kepentingan Antara Para pemegang Saham Mayoritas dan Pemegang Saham Minoritas, The 2nd National Conference UKWMS, Surabaya.

IICG, 22 Februari 2010, Corporate Governance, http://www.iicg.org. Medley, Patrick. 1997. Environmental Accounting What Does It Mean to Professional Accountants? Journal of Accounting Auditing & Accountability. Vol.10 No.4. p. 594600. Midiastuty, Pratana dan Machfoedz, Masudz, 2003, Analisis Hubungan Mekanisme Corporate Governance dan Indikasi Manajemen Laba, Simposium Nasional Akuntansi VI. Nurlela, Rika dan Islahuddin, 2006, Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Prosentase Kepemilikan Manajemen Sebagai Variabel Moderating, Universitas Syah Kuala. Rosmasita, Hardhina, 2007, Faktor-faktor Yang Mempengari Pengungkapan Sosial (Social Disclosure) Dalam Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan Manufaktur di BEJ, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Sabeni, Arifin, 2005, Peran Akuntan Dalam Menegakkan Prinsip Good Corporate Governance (Tinjauan Perspektif Agency Theory), Pidato Pengukuhan Guru Besar , Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Sekaran, Uma, 2006, Metodologi Penelitian Untuk Bisnis, Edisi 4, Salemba Empat, Jakarta. Siallagan, Hamonangan dan Machfoedz, Masudz, 2006, Mekanisme Corporate Governance, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan, Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. Siregar, Baldric, 2008, Seminar Peran Akuntan dalam Pengukuran CSR, Ina

Garuda Yogyakarta, 11 Desember 2008. www.srsn.com www.yahoofinance.com Yuniasih, Ni Wayan dan Wirakusuma, Made Gede, 2007, Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Pengungkapan Corporate Social Responsibility Dan Good Corporate Governance Sebagai Variabel Pemoderasi, Universitas Udayana, Bali.