Anda di halaman 1dari 59

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

  • 1. Melakukan praktik kedokteran tidak sesuai dengan kompetensinya Dalam menjalankan asuhan klinis kepada pasien, tenaga medik harus bekerja dalam batas-batas kompetensinya, baik dalam penegakkan diagnosis maupun dalam penatalaksanaan pasien; Dalam menangani penyakit atau kondisi pasien diluar kompetensinya (karena keterbatasan pengetahuan, ketrampilan ataupun peralatan yang tersedia), maka dokter atau dokter gigi wajib menawarkan kepada pasien untuk dirujuk atau dikonsultasikan kepada dokter atau dokter gigi lain atau sarana pelayanan kesehatan lain yang lebih sesuai. Upaya perujukan tidak dilakukan pada keadaan-keadaan antara lain :

1)

Sifat sakit pasien tidak memungkinkan untuk dirujuk

2)

Keberadaan tenaga medik lain dan atau sarana kesehatan yang lebih tepat sulit dijangkau

3) Atas kehendak pasien

  • 2. Melakukan praktik tanpa izin (tanpa SIP dan STR)

Berdasarkan UU no 29 tahun 2004

BAB VI REGISTRASI DOKTER DAN DOKTER GIGI Pasal 29

(1) Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib

memiliki surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi. (2) Surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. (3) Untuk memperoleh surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi harus memenuhi persyaratan:

  • a. memiliki ijazah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, atau dokter gigi spesialis;

  • b. mempunyai surat pemyataan telah mengucapkan sumpah/janji dokter atau dokter gigi;

  • c. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;

  • d. memiliki sertifikat kompetensi; dan

  • e. membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi;

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

(4) Surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi berlaku selama (lima) tahun dan diregistrasi ulang setiap 5 (lima) tahun sekali dengan tetap memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dan huruf d. (5) Ketua Konsil Kedokteran dan Ketua Konsil Kedokteran Gigi dalam melakukan registrasi ulang harus mendengar pertimbangan ketua divisi registrasi dan ketua divisi pembinaan. (6) Ketua Konsil Kedokteran dan Ketua Konsil Kedokteran Gigi berkewajiban untuk memelihara dan menjaga registrasi dokter dan dokter gigi.

BAB VII PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEDOKTERAN

Bagian Kesatu Surat Izin Praktik

Pasal 36

Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib

memiliki surat izin praktik.

Pasal 37

(1) Surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dikeluarkan oleh pejabat kesehatan yang berwenang di kabupaten/kota tempat praktik kedokteran atau kedokteran gigi dilaksanakan. (2) Surat izin praktik dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diberikan untuk paling banyak 3 (tiga) tempat. (3) Satu surat izin praktik hanya berlaku untuk 1 (satu) tempat praktik.

Seorang dokter/dokter gigi yang diduga memiliki STR dan atau SIP dengan menggunakan persyaratan yang tidak sah dapat diajukan ke MKDKI. Apabila terbukti pelanggaran tersebut maka STR akan dicabut oleh Konsil Kedokteran Indonesia.

Pelanggaran terhadap peraturan tersebut akan mendapatkan sanksi sesuai dengan :

BAB IV SANKSI DISIPLIN Sanksi disiplin yang dapat dikenakan oleh MKDKI berdasarkan Undang- undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada Pasal 69 ayat (3) adalah :

1.Pemberian peringatan tertulis

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

2.Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik; dan/atau Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi. Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik yang dimaksud dapat berupa Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik sementara selama-lamanya 1 (satu) tahun, atau Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik tetap atau selamannya;Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi yang dimaksud dapat berupa :a. Pendidikan formal, b. Pelatihan dalam pengetahuan dan atau ketrampilan, magang di institusi pendidikan atau sarana pelayanan kesehatan jejaringnya atau sarana pelayanan kesehatan yang ditunjuk, sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun.

  • 3. Melakukan praktik kedokteran lebih dari 3 tempat Diatur dalam Undang Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 37 ayat (2) “Surat izin praktik dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksudpada ayat (1) hanya diberikan untuk paling banyak 3 (tiga)tempat.” Dasar pertimbangan:

    • a. menjamin tersedianya waktu yang cukup tepat bagi pelayanan medis

    • b. menjamin tersedianya waktu yang cukup bagi dokter dan dokter gigi untuk

melakukan penelitian

  • c. menghindari monopoli pelayanan medis oleh dokter-dokter yang lebih senior

  • d. memberikan kesempatan pada dokter untuk bersaing secara positif dalam

pemberian pelayanan kepada pasien

  • e. untuk menghindari kelelahan sehingga dokter atau dokter gigi dapat bekerja

dengan kualitas yang maksimal

  • f. lebih menyebarluaskan tenaga dokter dan dokter gigi ke seluruh penjuru tanah

air Menurut Konsil Kedokteran Indonesia dalam keteranganya yang disampaikan pada sidang tersebut, tempat praktik adalah sarana pelayanan kesehatan tempat dokter atau dokter gigi melaksanakan praktik kedokteran/kedokteran giginya. Jumlah tempat praktik sangat menentukan lama waktu dan kualitas komunikasi dokter-pasien, stress dan kelelahan praktisi yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas pelayanan medis dan

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

care nya kepada pasien. Jika karena pembatasan tempat praktik menimbulkan kesenjangan asesibilitas pelayanan kedokteran bagi masyarakat maka Pemerintah telah mengatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Kesehatan. Sebagaimana diketahui sebagai pelaksanaan Undang Undang tentang Praktik Kedokteran telah ditetapkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 419/MENKES/PER/X/2005 tentang Penyelenggaran Praktik Dokter dan Dokter Gigi yang telah dicabut dan diganti dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

512/Menkes/Per/IV/2007 Tentang Izin Praktik Dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. Dalam Permenkes tersebut diatur ketentuan 3(tiga) tempat praktik tidak dilaksanakan secara mutlak yang dimaksudkan untuk keterjangkauan pelayanan kesehatan termasuk pemenuhan dokter/dokter gigi spesialis tertentu di fasilitas pelayanan kesehatan. Ketentuan tersebut diatur dalam Permenkes sebagai berikut:

  • a. Kepentingan Pendidikan Pasal 6 (1) SIP bagi dokter dan dokter gigi sebagai staf pendidik yang melakukan praktik kedokteran atau praktik kedokteran gigi pada Rumah Sakit Pendidikan, berlaku juga untuk melakukan proses pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi di Rumah Sakit pendidikan lainnya dan rumah sakit atau sarana pelayanan kesehatan lainnya yang dijadikan sebagai jejaring pendidikannya.

  • b. Jejaring Pelayanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah

Pasal 8 (1) SIP bagi dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran pada suatu sarana pelayanan kesehatan pemerintah berlaku juga bagi sarana pelayanan kesehatan pemerintah dalam wilayah binaannya. (2) Sarana pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Rumah Sakit milik Pemerintah, TNI dan POLRI, puskesmas, dan balai kesehatan/balai pengobatan milik Pemerintah.

  • c. Pemenuhan Pelayanan Dalam Kondisi Tertentu Pasal 9 (1) Dokter atau dokter gigi yang telah memiliki SIP yang memberikan pelayanan medis atau memberikan konsultasi keahlian dalam hal sebagai berikut:

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

  • a) diminta oleh suatu sarana pelayanan kesehatan dalam rangka

pemenuhan pelayanan medis yang bersifat khusus, yang tidak terus menerus atau tidak berjadwal tetap

  • b) dalam rangka melakukan bakti sosial/kemanusiaan

  • c) dalam rangka tugas kenegaraan

  • d) dalam rangka melakukan penanganan bencana atau pertolongan

darurat lainnya

  • e) dalam rangka memberikan pertolongan pelayanan medis kepada

keluarga, tetangga, teman, pelayanan kunjungan rumah dan pertolongan masyarakat tidak mampu yang sifatnya insidentil

  • f) tidak memerlukan SIP di tempat tersebut

(2) Pemberian pelayanan medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, b, c dan huruf d harus diberitahukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. (3) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan oleh institusi penyelenggaranya.

  • d. Pemberian Surat Tugas Kepada Dokter Spesialis Atau Dokter Gigi Spesialis

Tertentu Dalam Rangka Pemenuhan Pelayanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Pasal 10 (1) Untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan pelayanan medis Kepala Dinas Kesehatan Propinsi atas nama Menteri dapat memberikan surat tugas kepada dokter spesialis atau dokter gigi spesialis tertentu yang telah memiliki SIP untuk bekerja di sarana pelayanan kesehatan atau rumah sakit tertentu tanpa memerlukan SIP di tempat tersebut, berdasarkan permintaan Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota. (2) Surat tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. (3) Perpanjangan surat tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dimungkinkan sepanjang mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat atas nama Menteri. Pemberian surat tugas tersebut memang dapat berarti dokter/dokter gigi diberikan praktik lebih dari 3(tiga) tempat praktik namun diberikan dengan pembatasan tempat dan waktu dengan tujuan untuk memenuhi pelayanan kesehatan. Pembatasan ini

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

dimaksudkan agar fasilitas pelayanan kesehatan secara bertahap dapat menyediakan dokter/dokter gigi sesuai dengan kebutuhan (need) masyarakat dengan tetap memperhatikan kualitas pelayanan.Peranan Pemerintah Daerah dan Organisasi Profesi dalam membantu kebijakan Menteri Kesehatan, sangat diharapkan dalam rangka pemenuhan pemerataan tenaga kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Daftar Pustaka

Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik KedokteranPeraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/Menkes/Per/IV/2007 Tentang Izin Praktik Dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 4/PUU-V/2007 Perihal Pengujian Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Terhadap Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Idris, Fachmi,Surat Izin Praktik Era UUPK (Sikap IDI), Makalah, Jakarta, 2005 Anggriani, Riati, Aspek Hukum Dan Disiplin Profesi Terhadap Tuntutan Pasien Atas Dugaan Malpraktik Menurut Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, tesis, UGM, 2007

4. Mengiklankan/ mempromosikan diri dan institusi kesehatan yang tidak sesuai dengan ketentuan KODEKI

Diatur dalam

  • a. KODEKIPasal 4

“Seorang dokter harus sadar bahwa pengetahuan dan ketrampilan profesi yang dimilikinya adalah karena karunia dan kemurahan Tuhan Yang Maha Esa.Dengan

demikian imbalan jasa yang diminta harus di dalam batas-batas yang wajar. Hal-hal berikut merupakan contoh yang dipangdang bertentangan dengan Etik:

  • a) Menggunakan gelar yang tidak menjadi haknya.

  • b) Mengiklankan kemampuan, atau kelebihan-kelebihan yang dimilikinya

baik lisan maupun dalam tulisan.” Dibenarkan Etik Kedokteran:

  • a) Memasang iklan yang wajar dalam harian pada waktu praktek dimulai,

maksimal ukurannya dua kolom x 10 cm. Iklan dapat dipasang 3-4 kali pada

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

permulaan prakter dan satu kali sewaktu praktek ditutup karena cuti dan satu kali sewaktu praktek dibuka kembali. Teks iklan ini sama dengan yang tercantum pada papan nama ditambah dengan alamat rumah dan telepon.

  • b) Menggantungkan atau memancangkan papan nama di depan ruangan/

tempat praktek. Papan nama berukuran 40x60 cm, tidak boleh melebihi 60x90, cat putih dengan huruf hitam. Nama gelar yang sah dan jenis pelayanan sesuai dengan surat ijin praktek dan waktu praktek. Papan tersebut tidak boleh dihiasi warna atau penerangan yang bersifat iklan. Seandainya tempat praktek berlainan dengan tempat tinggal, dapat ditambah alamat rumah dan nomor telepon. Tidak dibenarkan dicantumkan di bawah nama, bermacam-macam keterangan seperti:

“praktek umum terutama untuk anak-anak dan wanita”, atau “tersedia pemeriksaan dan pengobatan sinar”, dan sebagainya. Hanya dalam hal-hal tertentu saja, papan nama seorang dokter dapat dipasang di persimpangan jalan yang menuju ke rumahnya dengan gambar tanda panah menunjukkan ke tempat praktek, dengan alasan untuk kemudahan mencari alamatnya. Kamar tunggu jangan berlebih-lebihan, boleh disediakan majalah, akan tetapi tidak perlu dengan minuman untuk menarik seperti tukang cukur menyediakan rokok dan sirup.

  • c) Kertas resep, seperti halnya dengan papan pengenal praktek (papan

nama) yang dibenarkan oleh Kode Etik Kedokteran ialah: ukuran maksimal ¼ folio. Mencantumkan nama, gelar yang sah, jenis pelayanan sesuai SIP, No. SID/SP, alamat praktek, nomor telepon, dan waktu praktek.

  • b. Permenkes RI No. 1787/MENKES/PER/XII/2010 tentang Iklan dan Publikasi

Pelayanan Kesehatan

5. Memberikan surat keterangan Sakit atau Sehat yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya

Profesi kesehatan dapat berarti praktek pengobatan atau dokter secara umum. Profesionalisme medis tidak hanya melibatkan hubungan antara seorang dokter dengan seorang pasien, seperti, dan hubugnan dengan kolega serta profesi kesehatan lain, yang akan

dibahas dalam Bab IV, namun juga melibatkan hubungan dengan masyarakat. Hubungan ini bercirikan ’kontrak sosial’ dimana masyarakat memberikan profesi kehormatan, termasuk tanggung jawab pokok atau eksklusif untuk ketepatan layanan-layanan tertentu serta derajat

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

yang tinggi dalam hal self-regulation, dan sebagai akibatnya, profesi setuju untuk menggunakan kehormatan mereka terutama untuk kebaikan orang lain dan selanjutnya untuk

mereka sendiri. Saat ini pengobatan lebih merupakan aktivitas sosial dan tidak hanya terbatas pada individu yang terjadi dalam konteks organisasi pemerintah dan perusahaan danjuga pendanaan. ”Saat ini pengobatan lebih merupakan aktivitas sosial dan tidak hanya terbatas pada kegiatan individu ” ........... Pengobatan juga bersandar pada penelitian medis yang dilakukan oleh suatu perusahaan atau publik serta pengembangan produk bagi dasar pengetahuan dan perawatan. Pengobatan memerlukan institusi kesehatan yang kompleks karena banyaknya prosedur yang ada serta penyakit dan kesakitan yang ada sebanyak masyarakat seperti halnya sifat biologisnya. Tradisi etika kedokteran Hippocrates hanya memiliki sedikit arahan dalam hubungannya dengan masyarakat. Untuk melengkapi tradisi ini, etika kedokteran saat ini membahas masalah-masalah yang muncul di luar hubungan dokter-pasien secara individual dan memberikan kriteria dan proses-proses bagaimana berhadapan dengan masalah tersebut. Berbicara karakter sosial dari pengobatan akan segera memunculkan pertanyaan – Apakah masyarakat itu? Dalam Manual ini masyarakat berarti komunitas atau bangsa. Masyarakat tidak bersinonim dengan pemerintah; pemerintah seharusnya walaupun sering tidak mewakili kepentingan masyarakat, dan bahkan walaupun hal ini dilakukan, merekamelakukan untuk masyarakat, bukan sebagai masyarrakat. Dokter mempunyai berbagaihubungan dengan masyarakat. Karena masyarakat dan lingkungan fisik merupakan faktor penting dalam kesehatan pasien maka profesi kesehatan secara umum dan dokter khususnya mempunyai peran penting dalam kesehatan publik, pendidikan kesehatan, perlindungan lingkungan, hukum-hukum yang mempengaruhi kesehatan, atau kesehatan komunitas, dan persaksiandalam pengadilan. Sebagaimana Declaratian on the Rights of the Patientdari WMA menyebutkan: ”jikalau undang-undang, tindakan pemerintah atau administrasi atau institusi lain menyangkal hak-hak pasien, dokter harus mengusahakan berbagai cara untuk mengembalikan hak-hak tersebut”. Dokter juga mempunyai peran penting dalammengalokasikan sumber-sumber kesehatan yang terbatas dalam masyarakat, dan kadang mempunyai tugas mencegah pasien mendapatkan pelayanan yang tidak diperuntukkan bagi mereka. Dalam mengimplementasikan tanggung jawab ini bisa saja muncul konflik-konflik etis, terutama jika kepentingan masyarakat sepertinya berbeda dengan kepentingan pasien secara individu.

LOYALITAS GANDA

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Dokter mempunyai tanggung jawab dan akan mempertanggung jawabkan baik kepada pasien dan pihak ketiga, dan jika tanggung jawab serta akuntabilitas ini tidak saling bersesuaian maka dokter akan beradadalam loyalitas ganda.Pihak ketiga yang menuntut loyalitas dokter adalah pemerintah, orang yang mempekerjakan (rumah sakit, dan orang kesehatan), perusahaan asuransi, angkatan bersenjata, polisi, petugas penjara,dan anggota keluarga. Walaupun Kode Etik Kedokteran Internasional dari WMA menyatakan bahwa ”Dokter harus berdedikasi sepenuhnya terhadap pasien”, namun dalam beberapa perkecualian dokter boleh saja menempatkan kepentingan orang lain diataskepentingan pasienny a. Tantangan etisnya adalah memutuskan kapan dan bagaimana melindungi pasien dari tekanan pihak ketiga. Loyalitas ganda mencakup spektrum kapan kepentingan masyarakat harus didahulukan dan kapan kepentingan pasien harus yang diutamakan. Di antara keduanya terdapat daerah abu-abu yang luas dimana tindakan yang tepat memerlukan ketajaman yang jelas.

  • Di sisi lain ada tuntutan untuk melaporkan pasien yang menderita penyakit tertentu,

yang tidak diijinkan untuk mengemudi, atau yang didugasebagai korban pelecehan anak. Dokter harus memenuhi tuntutan ini tanpa keraguan, walaupun pasienharus diberi tahu bahwa

pelaporan seperti ini akan dilakukan. Di sisi yang lain juga ada permintaan dan perintah dari kepolisian atau angkatan bersenjata untuk ikut dalam praktek yang dapat saja melanggar hak asasi manusia, seperti penyiksaan. Dalam Resolution on the Responsibility of Physician in the Denunciation of Acts of Tortue or Cruel or Inhuman or Degrading Treatmentof Which They Awaretahun 2003 WMA memberi arahan khusus kepada dokter dalam situasi ini untuk menjaga kebebasan profesi untuk menentukan kepentingan terbaik pasien dan harus mengobservasi sejauh mungkin akan tuntutan etik terhadap ijin pasien berdasarkan pengetahuan dan kerahasiaan. Adanya pembeberan terhadap kewajiban ini haruslah berdasar dan harus disampaikan kepada pasien. Dokter harus melaporkan kepada pejabat berwenang atas intervensi yang tidak benar dalam perawatan pasiennya, terutama jika hak asasi manusia dilanggar. Jika pejabat yang berwenang tidak merespon, bantuan dapat diperoleh dari ikatan dokter dinegara tersebut, WMA, dan organisasi perlindungan hak asasi manusia.

  • Di antaranya adalah beberapa program perawatan kesehatan yang dapat membatasi

otonomi klinik dokter, bagaimana pasien tersebut harus dirawat. Walaupun praktek-praktek tersebut tidak selalu bertentangan dengan kepentingan terbaik pasien, namun tetap saja sebaliknya, sehingga dokter harus mempertimbangkan dengan hati-hati apakah mereka harus

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

terlibat dalam program tersebut. Jika tidak ada pilihan karena tidak adanya program alternatif, dokter harus benar-benar membimbing untuk pasien mereka sendiri dan melalui ikatan dokter untuk kepentingan semua pasien yang terpengaruh oleh kebijakan tersebut. Bentuk khusus dari loyalitas ganda ini yang dihadapi oleh dokter adalah konflik kepentingan yang aktual maupun potensial yang terjadi antara organisasi komersial dengan pasien dan/atau masyarakat.

6. Bertengkar dengan tenaga kesehatan lain atau dengan tenaga non-kesehatan di institusi pelayanan kesehatan Contoh Kasus:

dr. C, ahli anastesi yang baruditunjuk di RS di suatu kota, merasa terganggu dengan tingkah laku dokter bedah senior di ruang operasi. Dokter bedah tersebut menggunakan teknik yang kunoyang dapat memperlama waktu operasidan dapat memberikan rasa sakit post-operasi yang lebih besar dan waktu penyembuhan yang lebih lama. Terlebih lagi dia

membuat guyonan kasar mengenai pasien yang jelas mengganggu para perawat yang bertugas. Sebagai salah satu staf baru, dr. C merasa enggan untuk menkritik dokter bedah tersebut secara pribadi atau melaporkannya kepada pejabat yang lebih tinggi. Namun dr. C merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi ini.

PEMBAHASAN KASUS

dr C benar jika dia harus waspada terhadap perilaku dokter bedah seniornya dalam ruang operasi. Tidak hanya karena dia membahayakan kesehatan pasien tapi karena dia juga tidak menghargai pasien dan koleganya. dr C mempunyai tugas etik untuk tidak mengabaikan perilaku seperti ini namun harus melakukan sesuatu. Sebagai langkah pertama, dia tidak boleh menunjukkan dukungan terhadap perilaku itu seperti tertawa dengan guyonannya. Jika dipikirkan bahwa diskusi langsung dengan dokter bedah tersebut efektif, maka harus segera dilakukan. Jika tidak mungkin harus melalui otoritas yang lebih tinggi dalam rumah sakit tersebut. Jika ternyata mereka tidak bersedia berhadapandengan situasi itu, maka dapat dilakukan tindakan melalui badan perijinan praktek dokter yang sesuai dan memintanya menyelidiki kasus tersebut.

TANTANGAN TERHADAP OTORITAS MEDIS

Dokter merupakan bagiandari profesi yang secara tradisional difungsikan dalam aturan yang sangat herarkis, baik di dalam maupun di luar. Di dalam, ada 3 herarki yang

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

saling tumpang tindih: yang pertama membedakan di antara spesialis, dimana yang satu dianggap lebih bergengsi, dan lebih besar jasanya dari pada yang lain; yang kedua antar spesialis itu sendiri dengan adanya jenjang akademik menjadi lebih berpengaruh dibanding dalam praktek masyarakat atau swasta; yang ketiga berhubungan dengan perawatan terhadap pasien tertentu dimana pemberi perawatan berada di herarki paling atas dan dokter lain walaupun lebih senior dan memiliki ketrampilan yang lebih baik hanya bertindak sebagai konsultan kecuali pasien ditransfer kepada pelayanan mereka. Di luar, dokter secara tradisional telah berada di herarki paling atas, di atasperawat dan profesi kesehatan lain. ”Dokter merupakan bagian dari profesi yang secara tradisional difungsikan dalam aturan yang sangat herarkis” Dengan cepatnya pertumbuhan pengetahuan ilmiah dan aplikasi kliniknya, pengobatan menjadi kompleks. Dokter secara individu tidak bisa menjadi ahli untuk semua penyakit yang diderita oleh pasien mereka dan perawatan yang harus diberikan sehingga membutuhkan bantuan dari dokter spesialis lain dan profesi kesehatan yang memiliki ketrampilan yang diperlukan seperi perawat, farmasis, fisioterapis, teknisi lab, pekerja sosial, dan lainnya. Dokter harus mengetahui bagaimana mendapatkan ketrampilan yang relevan yang diperlukan pasiennya dan yang dia sendiri kurang menguasai. Maka dari itu model kerjasama dalam pengambilan keputusan telah menggantikan model otoritarian yang merupakan sifat dari paternalisme medis tradisional. Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan di antaradokter dan profesi kesehatan yang lain. Profesi kesehatan lain semakin tidak mau mengikuti permintaan dokter tanpa mengetahuialasan di balik permintaan tersebut karenasadar bahwa merekaprofesional yang memiliki tanggung jawab etis terhadap pasien; jika persepsi mereka mengenai tanggung jawab ini berbeda dengan permintaan dokter, mereka harusmenanyakannya bahkan harus melawannya. Sedangkan dalam model otoritas herarkis tidak ada keraguan lagi siapa yang berwenang dan siapa yang mesti menang jika terjadi konflik, model kerjasama dapat berselisih faham mengenai perawatan pasien yang tertentu. Perkembangan seperti ini merubah ’aturan main’ dalam hubungan antara dokter dengan kolega dokter mereka dan dengan profesi kesehatan lain.

HUBUNGAN DENGAN KOLEGA DOKTER, GURU, DAN MURID

Sebagai anggota dari profesi kesehatan, dokterdiharapkan memperlakukan profesi kesehatan lain lebih sebagai anggota keluarga dari pada sebagai orang asing, bahkan sebagai

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

teman Deklarasi Genevadari WMA juga memuat janji: ”Kolega saya akan menjadi saudara saya”. Interpretasidari janji ini bervariasi dari satu negara dan negaralain dan juga sepanjang waktu. Sebagai contoh, dimana biaya layanan merupakan hal yang pokok atau hanya sebagai imbalan jasa, ada tradisi kuat ’professional courtasy’dimana dokter tidak meminta bayaran terhadap tindakan medis yang dilakukan. Praktek ini telah mengalami penurunan di banyak negara dimana terdapat penggantian biaya dari pihak ketiga. Selain tuntutan positif untuk memperlakukan kolega secara terhormat dan bekerjasama untuk memaksimalkan perawatan pasien, Kode Etik Kedokteran Internasionalyang dikeluarkan oleh WMA mempunyai dua pengecualian pada hubungan dokter dengan orang lain:

(1) membayar atau menerima upah atau apa saja yang menyerupai untuk mendapatkan rujukan pasien; dan (2) mencuri pasien dari kolega.Kewajiban ketiga, untuk melaporkan perilaku tidak etik atau tidak kompeten yang dilakukanoleh kolega dibahas di bawah ini. Dalam tradisi etika kedokteran Hippocrates,dokter memiliki hutang penghargaan khusus terhadap guru mereka. Deklarasi Geneva menyatakannya sebagai berikut: ”Saya akan memberikan guru saya penghormatan dan terima kasih yang merupakan hak mereka”. Walaupun pendidikan kedokteran saat ini melibatkan banyak sekali interaksi dokter-mahasiswa dari pada hubungan satu per satuseperti waktu dulu, namun masih tergantung dari kebaikan dan dedikasi dokter yang mau mengajar, yang sering tidak menerima imbalan untuk aktivitas mengajar mereka. Mahasiswa pendidikan dokter dan peserta training medis sangat berhutang terima kasih kepada guru mereka, yang tanpa mereka pendidikan kedokteran mungkin akan hanya sebatas belajar sendiri. Sebagai bagiannya, guru mempunyai kewajiban memperlakukan siswa mereka secara terhormat dan menjadi contoh yang baik bagaimana menghadapi pasien. Istilah ’kurikulum tersembunyi’ dalam pendidikan dokter yaitu standar perilaku yang ditampakkan oleh dokter lebih banyak memberikan pengaruh dibanding kurikulum etika kedokteran yang eksplisit, dan jika terjadi konflik antara tuntutan etik dengan perilaku dan sikap guru mereka, mahasiswa kedokteran akan lebih memilih mengikuti contoh yang diberikan guru mereka. Guru mempunyai kewajiban tertentu untuk tidak meminta siswanya terlibat dalam praktek yang tidak etik.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

MELAPORKAN PRAKTEK YANG TIDAK ETIS DAN TIDAK AMAN

Pengobatan telah mengambil tempat kehormatan dalam statusnya sebagai profesi y ang dapat mengatur diri sendiri. Sebagai balasan terhadap hak kehormatan yang diberikan masyarakat dan kepercayaan yang diberikan oleh pasien mereka, profesi kesehatan harus membangun standar perilaku yang tinggi untuk anggotanya dan prosedur pendisiplinan dalam menyelidiki tuduhan adanya tindakan yang tidak benar dan jika perlu menghukum yang berbuat salah. Sistem pengaturan sendiri ini sering gagal dan saat ini telah dilakukan langkah- langkah yang dapat membuat profesi lebih akuntabel seperti dengan menunjuk anggota awam pemegang kekuasaan dalam pengaturan. Persyaratan utama untuk mengatur sendiri adalah ikhlas sepenuh hati didukung oleh para dokter karena prinsip-prinsipnya dan kemauannya untuk mengenali dan berhubungan dengan praktek-praktek yang tidak aman dan tidak etik. Kewajiban untuk melaporkan kolega yang melakukan tindakan yang tidak kompeten,mencelakakan, perbuatan tidak senonoh, ditekankan dalam Kode Etik Kedokteran Internasional Penerapan prinsip ini tidaklah mudah. Di satusisi seorang dokter mungkin menyerang reputasi koleganya karena motif yang tidak benar seperti karena cemburu dan perasaan terhina oleh koleganya. Dokter juga merasa tidakenak dan ragu untuk melaporkan tindakan koleganya yang tidak benar karena simpati atau persahabatan. Konsekuensi pelaporan tersebut dapat berakibat kurang baik bagiyang melapor, termasuk keramahan dari yang tertuduh atau bahkan juga dari kolega yang lain. Terlepas dari hal tersebut, pelaporan terhadap tindakan salah yang dilakukan kolega merupakan suatu tugas profesional. Dokter tidak hanya mempunyai kewajiban menjaga reputasi yang baik dari profesinya tetapi jugakarena mereka sendirilah yang kadang bisa mengetahui ketidak kompetenan, kelalaian atau kesalahan prosedur. Namun melaporkan kolega kepada komisi dislipin sebaiknya merupakan langkah terakhir setelah semua alternatif telah dicoba dan tidak memberikan hasil. Langkah pertama mungkin mendekati kolega tersebut dan mengatakan bahwa menurut pendapat anda tindakannya tidak aman dan tidak etis. Jika masalahnya dapat diselesaikan pada level tersebut, mungkin tidak diperlukan langkah lebih jauh. Jika tidak, langkah selanjutnya mungkin membicarakannya dengan atasan anda dan/atau atasan kolega anda dan menyerahkan keputusannya kepada orang tersebut. Jika langkah ini tidak praktis atautidak memberikan hasil, mungkin langkah terakhir perlu memberitahukan komisi disiplin.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

HUBUNGAN DENGAN PROFESI KESEHATAN LAIN

Deklarasi Jenewa dari WMA jugadapat diterapkan dalam berhubungan dengan semua orang yang bekerja bersama dengan dokter dalam merawat pasien dan aktivitas profesional lain. Non-diskriminatif merupakan sifat pasif dalam hubungan. Penghargaan merupakan sesuatu yang lebih aktif dan positif. Dengan tetap mempertimbnagkan penyedia layanan kesehatan lain seperti dokter, perawat, pekerja kesehatan pendukung, dan lainnya harus ada penghargaan terhadap ketrampilan dan pengalaman mereka karena dapat membantudalam perawatan pasien. Semua penyedia layanan kesehatan tidaklah sama dalam hal pendidikan dan pelatihan, namun tetap memiliki kesetaraan sebagai manusia dan juga perhatian terhadap kesehatan pasien. Seperti juga dengan pasien, ada kalanya dibenarkan untuk menolak memulai atau mengakhiri hubungan dengan penyedia layanan kesehatan lain. Hal ini termasuk kurang percaya diri dalam kemampuan atau integritas orang laindan benturan kepribadian yang serius. Membedakannya dengan motif yang kurang benar memerlukan pertimbangan yang lebih etis dari pihak dokter.

KERJASAMA

Pengobatan merupakan profesi yang sangat individualistik dan pada saat yang sama juga sangat kooperatif. Di satu sisi, dokter sangat posesif terhadap pasien mereka. Dengan alasan yang baik, diklaim bahwa hubungan individual antara dokter-pasien merupakan cara terbaik dalam mendapatkan pengetahuan tentang pasien dan kelangsungan perawatan yang optimal dalam mencegah dan menyembuhkan penyakit. Pada saat yang sama, seperti dikatakan di atas, pengobatan sangat kompleks dan khusus,sehingga diperlukan kerjasama yang dekat antara praktisi dengan pengetahuan dan ketrampilan yang berbeda namun saling mendukung. Tarikan antara individualisme dan kerjasama telah menjadi temayang selalu muncul dalam etika kedokteran. Melemahnya sistem paternalisme medis dibarengi dengan hilangnya kepercayaan bahwa dokter ’memiliki’ pasien mereka. Hak pasien untuk meminta opini kedua telah diperluas dengan memasukkan untuk mendapatkan layanan kesehatan lain yang mungkin sanggup memenuhi kebutuhannya lebih baik. Menurut Declaration on the Rights of the Patientdari WMA menyatakan bahwa:

”Dokter mempunyai kewajiban untuk bekerja sama dalam koordinasi, dalam merawat pasiendengan profesi kesehatan lain”. Namun demikian dokter tidak mencari untung dari kerjasama ini melalui pembagian biaya. Restriksi terhadap ’kepemilikan’ dokter terhadap

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

pasien mereka harus diseimbangkan dengan ukuran-ukuran lain yang dimaksudkan untuk menjaga privasi hubungan dokter-pasien. Contohnya pasien yang dirawat oleh lebih dari satu dokter yang umum terjadi dirumah sakit, jika mungkin sebaiknya memiliki satu dokteryangmengkoordinasikan perawatan yang dapat selalu membuat pasien paham mengenai kemajuan perawatan dan membantu pasien membuat keputusan. Hubungan diantara dokter diatur dengan aturan-aturan yang umumnya dipahami dan diformulasikan dengan baik, namun hubungan dokter dengan profesi kesehatan lain dalam keadaan terus berubah dan ada perbedaan nyata mengenai peran mereka. Seperti disebutkan di atas, banyak perawat, farmasis, fisioterapis, dan profesional lain menganggap diri mereka lebih kompeten dalam bidangnya dalam perawatan pasien dibanding dokter dan tidak ada alasanbahwa mereka tidak mendapat perlakuan yang sama dengan dokter. Mereka lebih menyukai pendekatan tim dalam perawatan pasien dimana semua pemberi perawatan dilihat sama, dan menganggap diri mereka pantas untuk merawat pasien. Di lain pihak dokter merasa walaupun pendekatan tim digunakan, tetap saja harus ada seorang yang bertanggung jawab dan dokter adalah orang yang paling baikkarena pendidikan dan pengalamannya. Walaupun beberapa dokter mempertahankan otoritas yang hampir absolut, namun tidak dapat dihindari bahwa akan ada perubahan peran karena adanya klaim oleh pasien dan juga penyedia layanan kesehatan lain agar dapat berpartisipasi lebih besar lagi dalam pengambialan keputusanmedis. Dokter harus dapat menjelaskan rekomendasinya kepada orang lain dan membujuk agarmereka menerimanya. Tambahan terhadap ketrampilan komunikasi ini adalah dokterharus dapat mengatasi konflik yang munculdi antara orang- orang yang terlibat dalam perawatan pasien. Tantangan lain dalam kerjasama untuk kepentingan terbaik pasienterjadi ketika pasien juga menggunakan penyedia layanan kesehatan alternatif atau tradisional. Walaupun beberapa orang menganggap kedua pendekatan ini saling mendukung, namun di banyak situasi keduanya saling berbeda sehinggadapat menimbulkan konflik. Karena setidaknya beberapa intervensi alternatifdan tradisional memiliki efek terapi dan juga dicari oleh pasien makadokter harus mencari cara agar dapat bekerjasama dengan mereka. Bagaimana hal ini dapat dilakukan akan sangat bervariasi dari satu negara dengan negara lain dan dari satu jenis praktisi dengan yang lain. Dalam semua keadaan tersebut kesehatan pasien haruslah menjadi pertimbangan pokok.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

PEMECAHAN KONFLIK

Walaupun dokter dapat mengalami banyak konflik dengan dokter dan profesi kesehatan lain contohnya dalam hal prosedur perkantoran atau penggajian, yang menjadi fokus di sini adalah konflik dalam perawatan pasien. Idealnya keputusan layanan kesehatan merupakan persetujuan antara pasien, dokter, dan orang lain yang terlibat dalam perawatan pasien. Namun ketidak pastian dan sudut pandang yang luas dapat memunculkan pendapat yang berbeda mengenai tujuan perawatan dan cara-cara mencapainya. Sumber-sumber layanan kesehatan dan kebijakan organisatoris yang terbatasmungkin membuat sulit mencapai konsensus. Perbedaan di antara penyedia layanan kesehatan mengenati hasil yang hendak dicapai dari perawatan dan tindakan yang diberikan kepada pasien atau cara-cara yang digunakan untuk mencapai hasil tersebutharus diklarifikasi dan dipecahkan oleh anggota tim medis sehingga tidak mempengaruhi hubungang dengan pasien. Perbedaan antara penyedia layanan kesehatan dan administrator yang berhubungan dengan alokasi sumber-sumber daya, harus dipecahkan di dalam lingkup fasilitas atau agennya, bukan debat didepan pasien. Karena kedua macam konflik ini menyangkut etika, makadiperlukan saran dari komite etik klinik atau konsultan etika dimana sumber tersedia. Acuan yang diberikan dapat berguna dalam memecahkan konflik tersebut:

•Konflik harus diselesaikan seinformal mungkin seperti melalui negosiasi langsung antar orang yang tidak setuju. Penyelesaian melalui jalur yang lebih formal hanya dilakukan jika cara informal memang sudah tidak bisa lagi. •Pendapat dari orang-orang yang terlibat langsung harus diperoleh dan dihargai. •Pilihan pasien yang berdasarkan pemahaman, atau dari wakil pasien yang sah untuk mengambil keputusan terhadap perawatan harus menjadi pertimbangan utama. •Jika memang pilihan harus ditawarkan kepada pasien maka lebih baik menawarkan pilihan dengan lingkup yang lebih luas dari pada yang sempit. Jika terapi yang dipilih tidak tersedia karena keterbatasan sumber maka pasien harus diberi tahu mengenai hal tersebut. •Jika memang setelah usaha yang maksimal persetujuan atau kompromi tidak dapat dicapai melalui dialog, keputusan dariorang yang mempunyai hak atau bertanggung jawab dalam membuat keputusan harus diterima. Jikatidak jelas siapa yang bertanggung jawab membuat keputusan, maka harus dicari mediasi, arbitrasi atau ejudikasi. Jika penyedia layanan kesehatan tidak dapat mendukung keputusan karena pendapat profesional atau masalah moral pribadi, maka diijinkan untuk menarik diri dari keikut sertaan

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

dalam menerapkan keputusan, setelah memastikan bahwa orang yang menerima perawatan tidak beresiko tersakiti atau terlantarkan.

7. Tidak Melakukan Informed Consent Dengan Semestinya

Tindakan medik yang benar belum cukup untuk dapat menghindaarkan diri dari tuntutan dan

gugatan, meskipun tindakan tersebut sudah dilandasi niat dan tujuan yang baik. Masih ada

satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan oleh setiap dokter, yakni menghormati hak asasi pasien untuk menentukan nasibnya sendiri (the right of self determination). Bertolak dari hak asasi itulah , maka persetujuan pasien bagi setiap tindakan medik menjadi mutlak diperlukan, kecuali pasien dalam keadaaan tak sadar. Persetujuan pasien tersebut di dunia kedokteran lebih dikenal dengan sebutan “informed consent”. Sebab sebelum diberikan, pasien harus diberi informasi lebih dahulu mengenai tindakan medik yang akan dilakukannya, kecuali pasien menolaknya. Sudah barang tentu informasi yang harus diberikan itu meliputi juga risiko yang mungkin terjadi. Dokter dapat dipersalahkan jika risiko tindakan medik tidak diberitahukan sama sekali. Dengan kata lain , persetujuan yang telah diberikan dianggap tak pernah ada jika risiko penngobatan tak diberikan secukupnya.

8. Tidak Mengikuti Prosedur Operasional Standart Atau Standart Pelayanan Minimal Yang Jelas

Konsekuensi hukum sebagai akibat disepakatinya hubungan kontraktual antara dokter dan

pasien adalah timbulnya hak dan kewajiban pada masing-masing pihak. Jika tidak ditentukan secara khusus sebelumnya maka yang akan berlaku adalah hak dan kewajiban yang didasarkan atas azas kebiasaan dan kepatuhan. Berdasarkan azas-azas tersebut maka hak-hak dan kewajiban-kewajiban tersebut adalah sebagai berikut:

Hak-hak pasien:

  • a. Hak primer: Hak memperoleh pelayanan medik yang benar dan layak , berdasarkan teori kedokteran yang telah teruji kebenarannya

  • b. Hak sekunder

    • - Hak memperoleh informasi medik tentang penyakitnya

    • - Hak memperoleh informasi tindakan medik yang akan dilakukan oleh dokter

    • - Hak memberikan konsen atas tindakan medik yang akan dilakukan oleh dokter

    • - Hak memutuskan hubungan kontraktual setiap saat

    • - Hak atas rahasia kedokteran

    • - Hak memperoleh surat keterangan dokter bagi kepentingan pasien yang bersifat non yustisial misalnya surat keterangan sakit, surat untuk kepentingan asuransi, surat kematian.

Kewajiban Dokter:

  • a. Kewajiban primer:

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Memberikan pelayanan medik yang benar dan layak berdasarkan teori kedokteran yang telah teruji kebenarannya

  • b. Kewajiban sekunder:

    • - Memberikan informasi medik tentang penyakit pasien

    • - Memberikan informasi medik tentang tindakan yang akan dilakukan. Memberi kesempatan kepada pasien apakah ia akan menerima atau menolak tindakan medik yang akan dilakukan oleh dokter

    • - Menyimpan rahasia kedokteran

    • - Memberikan surat keterangan dokterbagi berbagai kepentingan pasien yang bersifat non yustisial

Sudah menjadi hak primer pasien untuk mendapatkan pelayanan medik yang benar dan layak berdasarkan teori kedokteran yang telah teruji kebenarannya dan kewajiban primer bagi seorang dokter untuk memberikan pelayanan medik yang benar dan layak berdasarkan teori kedokteran yang telah teruji kebenarannya seperti yang tertuang dalam prosedur operasional standart atau standart pelayanan minimal. Dimana pengertian dari standart pelayanan minimal itu sendiri yaitu merupakan suatu istilah dalam pelayanan publik (public policy) yang menyangkut kualitas dan kuantitas pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah sebagai salah satu indikator kesejahteraan masyarakat.

Menurut Oentarto, et al. (2004:173) menjelaskan bahwa :

Standar pelayanan minimal memiliki nilai yang sangat strategis baik bagi pemerintah (daerah) maupun bagi masyarakat (konsumen). Adapun nilai strategis tersebut yaitu:

  • - Pertama, bagi pemerintah daerah: standar pelayanan minimal dapat dijadikan sebagai tolok ukur (benchmark) dalam penentuan biaya yang diperlukan untuk membiayai penyediaan pelayanan;

  • - Kedua, bagi masyarakat: standar pelayanan minimal dapat dijadikan sebagai acuan mengenai kualitas dan kuantitas suatu pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah (daerah). Dengan demikian pelayanan yang bermutu/berkualitas adalah pelayanan yang berbasis masyarakat, melibatkan masyarakat dan dapat diperbaiki secara terus menerus

Pustaka:

Hukum

kedokteran,

12. Meminta imbal jasa yang berlebihan

Secara nasional pembayaran masih didominasi (sekitar 71%) oleh pembayaran out of pocket untuk setiap layanan yang diberikan kepada pasien, yang dikenal sebagai fee for

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

service(FFS). Kondisi ini mendorong pemberian layanan yang berlebihan dan kadangkala tidak diperlukan, menyebabkan pemborosan sumber daya dan menimbulkan ketidak pastian biaya bagi pasien dan ketidakpastian pendapatan/kompensasi bagi dokter. Dasar Hukum

  • 1. Undang Undang Praktik Kedokteran pasal 50: “dokter mempunyai hak menerima imbalan jasa” dan pasal 53: “pasien mempunyai kewajiban untuk memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima”, serta pasal 49: “pembinaan dan pengawasan kendali mutu dan kendali biaya dilaksanakan oleh organisasi profesi”.

  • 2. UU SJSN pasal 32: “tarif ditentukan bersama oleh badan pengelola dan asosiasi fasilitas kesehatan”.

  • 3. Ketetapan Muktamar IDI XXVI tahun 2006 di Semarang tentang Sistem Pelayanan Kedokteran Terpadu. Untuk menjamin suatu sistem kompensasi dokter dan jasa medik memenuhi azaz

keadilan dan azaz transparansi serta sejalan dengan SPKT, maka sistem tersebut harus dilandasi 6 prinsip dasar berikut ini:

  • 1. Produktivitas dokter dan jasa medik merupakan bagian integral dari suatu sistem kompensasi dokter.

  • 2. Kompensasi dokter seyogianya setara dengan kerja dokter, yaitu sumber daya yang dicurahkan dokter untuk menangani pasiennya.

  • 3. Ada keseimbangan kompensasi antar dokter dan antar spesialisasi untuk menjamin meratanya persebaran dokter yang bekerja di strata pertama, kedua dan ketiga.

  • 4. Ada keseimbangan kompensasi dokter antar wilayah (urban, rural, daerah terpencil dan pulau terluar NKRI) yang dapat mendukung pemerataan distribusi dokter di Indonesia.

  • 5. Kompensasi dokter mapun jasa medik seyogianya dinyatakan dalam nilai relatif dan dalam rentang (range) bukan satu nilai (fix), agar dapat disesuaikan dengan kondisi setempat. Rentang kompensasi ini seyogianya mencerminkan kompensasi mayoritas dokter (70- 80%).

  • 6. Metode untuk menentukan kompensasi dokter seyogianya tidak rumit, mudah diterapkan dan transparan, serta nilai nominalnya seyogianya wajar, masuk akal dan berkeadilan bagi pasien maupun dokter.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN
MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN Karena sitat perbuatannya yang mulia maka uang yang diterimanya tidak diberi nama

Karena sitat perbuatannya yang mulia maka uang yang diterimanya tidak diberi nama upah atau gaji, melainkan honorarium atau imbalan jasa. Besarnya imbalan tergantung pada beberapa faktor yaltu keadaan tempat, kemampuan pasien, lama dan sifatnya pertolongan yang diberikan dan sitat pelayanan umum atau spesialistik. Dalam Pedoman Pelaksanan Kode Etik Kedokteran Indonesia, tercantum pedoman dasar imbalan jasa dokter sbb:

1. Imbalan jasa dokter disesuaikan dengan kemampuan pasien. Kemampuan pasien dapat diketahui dengan bertanya langsung dengan mempertimbangkan kedudukan/matapencaharian, rumah sakit dan kelas dimana pasien dirawat. 2. Dari segi medik, imbalan jasa dokter ditetapkan dengan mengingat karya dan tanggung jawab dokter. 3. Besarnya imbalan jasa dokter dikomunikasikan dengan jelas kepada pasien. Khususnya untuk tindakan yang diduga memerlukan biaya banyak, besarnya imbalan jasa dokter dapat dikemukakan kepada pasien sebelum tindakan dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan pasien. Pemberitahuan ini harus dilakukan secara bijaksana, agar tidak menimbulkan rasa cemas atau kebingungan pasien. 4. Imbalan jasa dokter sifatnya tidak mutlak dan pada dasarnya tidak dapat diseragamkan. Imbalan jasa dokte dapat diperingan atau sama sekali dibebaskan misalnya:

  • - Jika ternyata bahwa biaya pengobatan seluruhnya terlalu besar untuk pasien.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

  • - Karena penyulit penyulit yang tidak terduga, biaya pengobatan jauh diluar perhitungan semula.

  • 5. Dalam hal pasien dirawat di rumah sakit dan jika biaya pengobatan seluruhnya menjadi terlalu berat, maka imbalan jasa dapat diperingan atau dibebaskan sama sekali. Keringanan biaya rumah sakit diserahkan kepada kebijaksanaan pengelola rumah sakit. Bagi pasien yang mengalami musibah akibat kecelakaan, pertolongan pertama lebih diutamakan daripada imbalan jasa.

  • 6. Seorang pasien dapat mengajukan permohonan untuk keringanan imbalan jasa dokter, langsung kepada dokter yang merawat. Jika perlu dapat melalui IDI setempat.

  • 7. Dalam hal ada ketidak serasian mengenai imbalan jasa dokter yang diajukan kepada IDI, maka IDI akan mendengarkan kedua belah pihak sebelum menetapkan keputusannya.

  • 8. Imbalan jasa dokter spesialis yang lebih besar, bukan saja didasarkan atas kelebihan pengetahuan dan ketrampilan spesialis, melainkan juga atas kewajiban dan keharusan spesialis menyediakan alat kedokteran khusus untuk menjalankan tugas spesialisasinya.

  • 9. Imbalan jasa dokter dapat ditambah dengan biaya perjalanan jika dipanggil kerumah

pasien. 10.Selanjutnya jasa yang diberikan pada malam hari atau waktu libur dinilai lebih tinggi

dari biaya konsultasi biasa. Imbalan jasa dokter disesuaikan dengan keadaan, maka ketentuan imbalan jasa ini dapat berubah. 11.Tidak dibenarkan memberi sebagian dari imbalan jasa kepada teman sejawatnya yang mengirimkan pasien untuk konsultasi atau komisi untuk orang yang langsung ataupun tidak menjadi perantara dalam hubungannya dengan pasien. 12.Imbalan jasa dokter yang bertugas memelihara kesehatan para karyawan atau pekerja suatu perusahaan, dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu banyaknya karyawan dan keluarganya, frekwensi kunjungan kepada perusahaan tsb. 13.Imbalan jasa pertolongan darurat dan pertolongan sederhana tidak diminta kepada :

  • - korban kecelakaan

  • - TS termasuk dokter gigi dan apoteker serta keluarga yang menjadi tanggung jawabnya

  • - Mahasiswa kedokteran, bidan dan perawat.

  • - Dan siapaun yang dikehendakinya.

  • - Biaya biaya bahan alat terbuang yang cukup mahal serta rawatan yang ditentukan kemudian setelah petolongan selesai diberikan.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

14.Ancer

ancer

imbalan

jasa

dokter

DepKes/KaDinkes dan IDI setempat.

ditentukan

bersama

oleh

KaKanwil

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN 14. Ancer ancer imbalan jasa dokter DepKes/KaDinkes dan IDI setempat. ditentukan bersama

11. Melakukan tindakan yang tidak seharusnya kepada pasien, misalnya pelecehan seksual, berkata kotor dan lain – lain.

Tindakan dokter – pasien pada dasarnya sudah diatur dalam etika kedokteran, namun memang dalam praktiknya tidak semudah yang tertulis. Banyak factor yang mempengaruhi seseorang dalam melakukan tindakan dan bersikap yang berhubungan dengan situasim kondisi dan keadaan. Namun seorang dokter dituntut untuk selalu dapat bersikap professional dan siap sedia setiap saat, disinilah diperlukan sikap yang saling menghargai dan

menghormati antara dokter – pasien. Ada hak dan kewajiban masing – masing yang dipunyai oleh dokter – pasien namun diperlukan kebesaran hati dan kedewasan bersikap dalam menuntut hak dan melaksanakan kewajiban. Kompetensi Pasien, Hak dan Kewajiban Dokter dan Pasien Ada 6 sifat dasar yang harus ditunjukkan oleh seorang dokter:

  • 1. Sifat ketuhanan

  • 2. Kemurnian niat

  • 3. Keluruhan budi

  • 4. Kerendahan hati

  • 5. Kesungguhan kerja

  • 6. Integritas ilmiah dan social Yang mana nantinya 6 sifat dasar ini akan teraplikasi dalam beberapa sikap seorang

dokter terhadap pasiennya, antara lain:

1. Munculnya profesionalisme seorang dokter

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Terbuka, yaitu mau memeberika informasi yang dibutuhksan seorang pasien baik diminta maupun tidak. Dokter juga harus mampu memberikan penjelasan yang akurat dan jujur. Menjadi pendengar yang baik, yaitu dokter hendaknya mau mendengarkan keluhan dan

menaggapi pertanyaan pasien sehingga komunikasi yang terjalin tidak hanya satu arah dan disini dokter tidak hanya berperan dalam memberikan instruksi, tapi alangkah baiknya apabila mampu menampung dan memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi pasien. Punya waktu yang cukup, yaitu seorang dokter harus bisa menyediakan waktu yang cukup dalam melayani pasiennya, sehingga pasien merasa puas dengan pelayanan yang telah diberikan oleh dokter.

  • 2. Mempunyai minat yang besar untuk menolong

  • 3. Tumbuhnya sikap empati dokter terhadap pasien yang dihadapinya

  • 4. Peka terhadap situasi dan kondisi lingkungan pada saat itu

  • 5. Mampu mengaenal dan mengatasi masalah Ada beberapa langkah yang harus dilakukan seorang dokter apabila akan

menyampaikan kabar buruk kepada pasien, antara lain:

  • 1. Bukalah komunikasi dengan membangun kepercayaan pasien terhadap dokter

  • 2. Lihat situasi dan kondisi yang terjadi pada pasien

  • 3. Tariklah perhatian pasien untuk mendengarkan informasi yang akan dokter sampaikan

  • 4. Berilah fakta/berita yang sebenarnya terjadi pada pasien

  • 5. Tunjukkan sikap empati dokter

  • 6. Jadilah seorang pendengan yang baik dan tetap tenang terhadap reaksi yang akan diberikan oleh pasien

  • 7. Bangun terus motivasi pasien

  • 8. Tenangkan pasien dan beri terus harapan dan semangat kepada pasien untuk tetap kuat dalam menghadapi berita buruk yang telah disampaikan Selanjutnya mengenai hak dan kewajiban dokter – pasien sudah tertulis di kode etik

kedokteran.

13. Menahan Pasien Di Rumah Sakit Bukan Karena Alasan Medis”

Dalam

profesi

kedokteran,

komunikasi

dokter-pasien

merupakan

salah

satu

kompetensi yang harus dikuasai dokter. Kompetensi komunikasi menentukan keberhasilan

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

dalam membantu penyelesaian masalah kesehatan pasien. Selama ini kompetensi komunikasi dapat dikatakan terabaikan, baik dalam pendidikan maupun dalam praktik kedokteran. Komunikasi yang baik dan berlangsung dalam kedudukan setara (tidak superior- inferior) sangat diperlukan agar pasien mau/dapat menceritakan sakit/keluhan yang dialaminya secara jujur dan jelas. Komunikasi efektif mampu mempengaruhi emosi pasien dalam pengambilan keputusan tentang rencana tindakan selanjutnya, sedangkan komunikasi tidak efektif akan mengundang masalah.

Hubungan antara dokter dengan pasien yang seimbang atau setara dalam ilmu hukum disebut hubungan kontraktual. Hubungan kontraktual atau kontrak terapeutik terjadi karena para pihak, yaitu dokter dan pasien masing-masing diyakini mempunyai kebebasan dan mempunyai kedudukan yang setara. Kedua belah pihak lalu mengadakan suatu perikatan atau perjanjian di mana masing-masing pihak harus melaksanakan peranan atau fungsinya satu terhadap yang lain. Peranan tersebut berupa hak dan kewajiban. Berdasarkan hak dasar manusia yang melandasi transaksi terapeutik (penyembuhan), setiap pasien bukan hanya mempunyai kebebasan untuk menentukan apa yang boleh dilakukan terhadap dirinya atau tubuhnya, tetapi ia juga terlebih dahulu berhak untuk mengetahui hal-hal mengenai dirinya. Pasien perlu diberi tahu tentang penyakitnya dan tindakan-tindakan apa yang dapat dilakukan dokter terhadap tubuhnya untuk menolong dirinya serta segala risiko yang mungkin timbul kemudian. Oleh karena itu Informasi yang baik dapat membantu pasien untuk dapat mengetahui dan menentukan tindakan apa yang seharusnya pasien dapatkan. Apabila pasien tidak mengetahui tindakan yang dilakukan oleh dokter seperti melakukan perawatan pada pasien tanpa adanya indikasi medis maka dokter tersebut melakukan tindakan yang menurut kesepakatan tidak seharusnya dilakukan .Hal tersebut merupakan civil malpractice yaitu jika dokter tidak melaksanakan kewajibannya berupa tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati. Tanggung gugat dapat bersifat individual ataupun korporasi. Dengan prinsip ini maka rumah sakit dapat bertanggung gugat atas kesalahan dokter-dokternya (subordinatnya) jika dapat dibuktikan bahwa tindakan dokter itu dalam rangka melakukan kewajiban rumah sakit. Kepustakaan :

Sofwan Dahlan. Hukum kesehatan rambu-rambu bagi profesi dokter edisi 2. Semarang :

Badan Penerbit Universitas Diponegoro.2007. Konsil kedokteran Indonesia. Komunikasi efektif Dokter-Pasien. Jakarta. 2006.

14. “Memberikan Keterangan/ Kesaksian Palsu Di Pengadilan”

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Pentingnya alat bukti keterangan ahli sangatlah diperlukan pada setiap proses perkara pidana di pengadilan yang membutuhkan keterangan atau penjelasan dari ahli tentang suatu perkara yang tidak dapat dibuat sendiri oleh hakim atau penyidik yang karena pada hakekatnya keterangan itu akan membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan berdasarkan keahliannya yang oleh karenanya dapat memungkinkan dibuatnya suatu putusan. Tetapi jika terjadi kesalahan dalam menilai pembuktian maka akan mengakibatkan kesalahan dalam pemberian keputusan. Isi keterangan yang disampaikan saksi adalah segala sesuatu yang dengar sendiri, ia

lihat sendiri dan ia alami sendiri (Pasal 1 angka 26). Pada keterangan saksi haruslah diberikan alasan dari sebab pengetahuannya itu (Pasal 1 angka 27). Sedangkan seorang ahli

memberikan keterangan bukan mengenai segala hal yang dilihat, didengar dan dialaminya sendiri, tetapi mengenai hal-hal yang menjadi atau dibidang keahliannya yang ada hubungannya dengan perkara yang sedang diperiksa. Keterangan ahli tidak perlu diperkuat dengan alasan sebab keahliannya atau pengetahuannya sebagaimana pada keterangan saksi. Apa yang diterangkan saksi adalah hal mengenai kenyataan atau fakta. Akan tetapi, yang diterangkan ahli adalah suatu penghargaan dari kenyataan dan atau kesimpulan atas penghargaan itu berdasarkan keahlian seorang ahli.

Keterangan dokter sebagai ahli dapat diberikan kepada pemintanya melalui dua cara, yaitu :

  • a. Secara tertulis Dapat berfungsi sebagai alat bukti yang syah (yaitu kategori surat) tanpa harus mendatangkan dokter ke siding pengadilan. Dalam hal dokter telah mengucapkan sumpah atau janji sebagai ahli di depan penyidik sebelum melakukan pemeriksaan. Keterangan tersebut disertai dengan adanya kata “Visum et Repertum”.

  • b. Secara Lisan Dapat disampaikan baik di tingkat penyidikan maupun siding peradilan. Sebagai alat bukti yang syah harus memenuhi persaratan formalnya, yaitu dengan memberikan sumpah atau janji didepan penyidik.

Keterangan yang diberikan di sidang peradilan harus disertai sumpah/janji sebagai ahli yang diucapkan sebelum memberikan keterangan dan sesudahnya jika dianggap perlu oleh hakim. Jika tanpa alasan syah menolak mengucapkan sumpah/ janji maka dokter berdasarkan penetapan hakim ketua siding dapat disandera paling lama 14 hari dengan catatan pemeriksaan tetap berjalan (pasal 161 KUHAP). Jika selama dalam penyanderaan dokter merubah pendiriannya dan mengikuti kemauan penyandera (bersedia mengucapkan sumpah/ janji) maka ia dapat dilepaskan.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Kewajiban dokter untuk memberikan keterangan dapat dilihat pada pasal 120 KUHAP yaitu “ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila disebabkan harkat dan martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta” Selain itu dapat juga dilihat pada pasal 179 KUHAP yaitu “ setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan”. Apabila dokter tidak memberikan keterangan/ kesaksian di pengadilan dengan benar, maka akan dikenai sanksi karena tidak menjalankan kewajiban dokter yaitu memberikan keterangan, yang terdapat pada pasal 179 ayat (2) yang isinya adalah dokter memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya. Tindakan dokter dalam memberikan keterangan palsu tersebut dikategorikan dalam criminal malpractice (malpraktek pidana) yang bersiffat intensional (kesengajaan). Tindakan malpraktek tersebut tanggung jawabnya selalu bersifat individual dan personal. Kepustakaan :

Sofwan Dahlan. Ilmu kedokteran Forensik, Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.2007. Sofwan Dahlan. Hukum kesehatan rambu-rambu bagi profesi dokter edisi 2. Semarang :

Badan Penerbit Universitas Diponegoro.2007. Prisco J. Fungsi dan manfaat saksi ahli memberikan keterangan dalam proses perkara pidana. Lex Crimen Volume II no 2. 2013

15. Tidak menangani pasien dengan baik sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia

Ketentuan Pelayanan Kedokteran berdasarkan UU No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran :

BAB VII PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEDOKTERAN

Bagian Kedua Pelaksanaan Praktik

Pasal 39 Praktik kedokteran diselenggarakan berdasarkan pada kesepakatan antara dokter atau dokter gigi dengan pasien dalam upaya untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pasal 40 (1) Dokter atau dokter gigi yang berhalangan menyelenggarakan praktik kedokteran harus membuat pemberitahuan atau menunjuk dokter atau dokter gigi pengganti. (2) Dokter atau dokter gigi pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) harus dokter atau dokter gigi yang mempunyai surat izin praktik. Penjelasan Ayat (2)

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Dalam hal dokter atau dokter gigi pengganti bukan dari keahlian yang sarana, dokter atau dokter gigi tersebut harus menginformasikan kepada pasien yang bersangkutan.

Pasal 41 (1) Dokter atau dokter gigi yang telah mempunyai surat izin praktik dan menyelenggarakan praktik kedokteran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 wajib memasang papan nama praktik kedokteran. (2) Dalam hal dokter atau dokter gigi berpraktik di sarana pelayanan kesehatan, pimpinan sarana pelayanan kesehatan wajib membuat daftar dokter atau dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran. Pasal 42 Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dilarang mengizinkan dokter atau dokter gigi yang tidak memiliki surat izin praktik untuk melakukan praktik kedokteran di sarana pelayanan kesehatan tersebut. Pasal 43 Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan praktik kedokteran diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Ketiga Pemberian Pelayanan Paragraf 1 Standar Pelayanan Pasal 44 (1) Dokter atau dokter gigi dalam menyelenggarakan praktik kedokteran wajib mengikuti, standar pelayanan kedokteran atau kedokteran gigi. Penjelasan Ayat (1) Yang dimaksud dengan "standar pelayanan" adalah pedoman yang harus diikuti oleh dokter atau dokter gigi dalam menyelenggarakan praktik kedokteran. (2) Standar pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibedakan menurut jenis dan strata sarana pelayanan kesehatan. Penjelasan Ayat (2) Yang dirnaksud dengan "strata sarana pelayanan" adalah tingkatan pelayanan yang standar tenaga dan peralatannya sesuai dengan kemampuan yang diberikan. (3) Standar pelayanan untuk dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

Paragraf 2 Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi. Pasal 45 (1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. Penjelasan Ayat (1) Pada prinsipnya yang berhak memberikan persetujuan atau penolakan tindakan medis adalah pasien yang bersangkutan. Namun, apabila pasien yang bersangkutan berada di bawah pengampuan (undercuratele) persetujuan atau penolakan tindakan medis dapat diberikan oleh keluarga terdekat antara lain suami/istri, ayah/ibu kandung, anak-anak kandung atau saudara- saudara kandung. Dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien tidak diperlukan persetujuan. Namun, setelah pasien sadar atau dalam kondisi yang sudah memungkinkan, segera diberikan penjelasan dan dibuat persetujuan. Dalam hal pasien adalah anak-anak atau orang yang tidak sadar, maka penjelasan diberikan kepada keluarganya atau yang mengantar. Apabila tidak ada yang mengantar dan tidak ada keluarganya sedangkan

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

tindakan medis harus dilakukan maka penjelasan diberikan kepada anak yang bersangkutan atau pada kesempatan pertama pasien sudah sadar.

(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap. (3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup:

  • a. diagnosis dan tata cara tindakan medis;

  • b. tujuan tindakan medis yang dilakukan;

  • c. alternatif tindakan lain dan risikonya;

  • d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan

  • e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.

Penjelasan Ayat (3) Penjelasan hendaknya diberikan dalam bahasa yang mudah dimengerti karena penjelasan merupakan landasan untuk memberikan persetujuan. Aspek lain yang juga sebaiknya diberikan penjelasan yaitu yang berkaitan dengan pembiayaan. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun lisan. Penjelasan Ayat (4) Persetujuan lisan dalam ayat ini adalah persetujuan yang diberikan dalam bentuk ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang diartikan sebagai ucapan setuju. (5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Penjelasan Ayat (5) Yang dimaksud dengan "tindakan medis berisiko tinggi" adalah seperti tindakan bedah atau tindakan invasif lainnya. (6) Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.

Paragraf 6

Hak dan Kewajiban Dokter atau Dokter Gigi Pasal 50 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak:

  • a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional;

  • b. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional;

  • c. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan

  • d. menerima imbalan jasa.

Penjelasan Pasal 50 Yang dimaksud dengan “standar profesit” adalah batasan kemampuan (knowledge, skill and professional attitude) minimal yang harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi. Yang dimaksud dengan "standar prosedur operasional" adalah suatu perangkat instruksi/langkahlangkah yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu. Standar prosedur operasional memberikan langkah yang benar dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan ynng dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar profesi. Pasal 51 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban:

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

  • a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;

  • b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan

yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan;

  • c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia;

  • d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang

lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan

  • e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi.

Paragraf 7 Hak dan Kewajiban Pasien Pasal 52 Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:

  • a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);

  • b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;

  • c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;

  • d. menolak tindakan medis; dan

  • e. mendapatkan isi rekam medis.

Pasal 53

Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban:

  • a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya;

  • b. mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;

  • c. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan

  • d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

Berdasarkan UU No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 44 ayat 3, Peraturan Menteri yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Peraturan Menteri Kesehatan RI No.1438/MENKES/PER/IX/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran, berikut ini prinsip dasar Standar Pelayanan Kedokteran :

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN ∑ Berdasarkan Himpunan Peraturan tentang Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia : BAB

Berdasarkan Himpunan Peraturan tentang Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia :

BAB III BENTUK PELANGGARAN DISIPLIN KEDOKTERAN 1. Melakukan praktik kedokteran dengan tidak kompeten. Penjelasan:

Dalam menjalankan asuhan klinis kepada pasien, dokter atau dokter gigi harus bekerja dalam batas-batas kompetensinya, baik dalam penegakan diagnosis maupun dalam penatalaksanaan pasien. 2. Tidak merujuk pasien kepada dokter atau dokter gigi lain yang memiliki kompetensi sesuai. Penjelasan:

a. Dalam situasi dimana penyakit atau kondisi pasien di luar kompetensinya (karena keterbatasan pengetahuan, keterbatasan keterampilan ataupun keterbatasan peralatan yang tersedia), maka dokter atau dokter gigi wajib menawarkan kepada pasien untuk dirujuk atau dikonsultasikan kepada dokter atau dokter gigi lain atau sarana pelayanan kesehatan lain yang lebih sesuai.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

  • b. Upaya perujukan dapat tidak dilakukan, apabila situasi yang terjadi antara lain sebagai

berikut:

1) kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dirujuk; 2) keberadaan dokter atau dokter gigi lain atau sarana kesehatan yang lebih tepat, sulit dijangkau atau sulit didatangkan;

3) atas kehendak pasien. 3. Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu yang tidak memiliki kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

Penjelasan:

  • a. Dokter atau dokter gigi dapat mendelegasikan tindakan atau prosedur kedokteran tertentu

kepada tenaga kesehatan tertentu yang sesuai dengan ruang lingkup keterampilan mereka.

  • b. Dokter atau dokter gigi harus yakin bahwa tenaga kesehatan yang menerima pendelegasian

tersebut, memiliki kompetensi untuk itu.

  • c. Dokter atau dokter gigi, tetap bertanggung jawab atas penatalaksanaan pasien yang bersangkutan.

4. Menyediakan dokter atau dokter gigi pengganti sementara yang tidak memiliki kompetensi dan kewenangan yang sesuai, atau tidak melakukan pemberitahuan perihal penggantian tersebut. Penjelasan:

  • a. Bila dokter atau dokter gigi berhalangan menjalankan praktik kedokteran, maka dapat

menyediakan dokter atau dokter gigi pengganti yang memiliki kompetensi sama dan

memiliki Surat Izin Praktik (SIP).

  • b. Dalam kondisi keterbatasan tenaga dokter atau dokter gigi dalam bidang tertentu sehingga

tidak memungkinkan tersedianya dokter atau dokter gigi pengganti yang memiliki

kompetensi yang sama, maka dapat disediakan dokter atau dokter gigi pengganti lainnya.

  • c. Surat Izin Praktik (SIP) dokter atau dokter gigi pengganti tidak harus SIP di tempat yang

harus digantikan.

  • d. Ketidakhadiran dokter atau dokter gigi bersangkutan dan kehadiran dokter atau dokter gigi

pengganti pada saat dokter atau dokter gigi berhalangan praktik, harus diinformasikan kepada

pasien secara lisan ataupun tertulis ditempat praktik dokter.

  • e. Jangka waktu penggantian ditentukan dalam peraturan perundangan yang berlaku atau

etika profesi. 5. Menjalankan praktik kedokteran dalam kondisi tingkat kesehatan fisik ataupun mental sedemikian rupa sehingga tidak kompeten dan dapat membahayakan pasien.

Penjelasan:

  • a. Dokter atau dokter gigi yang menjalankan praktik kedokteran, harus berada pada kondisi

fisik dan mental yang laik (fit).

  • b. Dokter atau dokter gigi yang mengalami gangguan kesehatan fisik atau gangguan

kesehatan mental tertentu, dapat dinyatakan tidak laik untuk melaksanakan praktik

kedokteran (unfit to practice).

  • c. Dokter atau dokter gigi bersangkutan baru dapat dibenarkan untuk kembali melakukan

praktik kedokteran atau kedokteran gigi bilamana kesehatan fisik maupun mentalnya telah

pulih untuk praktik (fit to practice).

  • d. Pernyatakan laik atau tidak laik untuk melaksanakan praktik kedokteran atau kedokteran

gigi, diatur lebih lanjut oleh Konsil Kedokteran Indonesia. 6. Dalam penatalaksanaan pasien, melakukan yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan tanggung jawab profesionalnya, tanpa alasan pembenar atau pemaaf yang sah, sehingga dapat membahayakan pasien. Penjelasan:

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Dokter atau dokter gigi wajib melakukan penatalaksanaan pasien dengan teliti, tepat, hati- hati, etis dan penuh kepedulian dalam hal-hal sebagai berikut:

  • a. Anamnesis, pemeriksaan fisik dan mental, bilamana perlu pemeriksaan penunjang diagnostik.

  • b. Penilaian riwayat penyakit, gejala dan tanda-tanda pada kondisi pasien.

  • c. Tindakan dan pengobatan secara profesional.

  • d. Tindakan yang tepat dan cepat terhadap keadaan yang memerlukan intervensi kedokteran.

  • e. Kesiapan untuk berkonsultasi pada sejawat yang sesuai, bilamana diperlukan.

    • 7. Melakukan pemeriksaan atau pengobatan berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan

pasien.

Penjelasan:

  • a. Dokter atau dokter gigi, melakukan pemeriksaan atau memberikan terapi, ditujukan hanya untuk kebutuhan medik pasien.

  • b. Pemeriksaan atau pemberian terapi yang berlebihan, dapat membebani pasien dari segi

biaya maupun kenyamanan, dan bahkan dapat menimbulkan bahaya bagi pasien.

  • 8. Tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis dan memadai (adequate information) kepada

pasien atau keluarganya dalam melakukan praktik kedokteran.

Penjelasan:

  • a. Pasien mempunyai hak atas informasi tentang kesehatannya (the right to information), dan

oleh karenanya, dokter atau dokter gigi wajib memberikan informasi dengan bahasa yang dipahami oleh pasien atau penterjemahnya, kecuali bila informasi tersebut dapat membahayakan kesehatan pasien.

  • b. Informasi yang berkaitan dengan tindakan medik yang akan dilakukan meliputi: diagnosis

medik, tata cara tindakan medik, tujuan tindakan medik, alternatif tindakan medik lain, risiko

tindakan medik, komplikasi yang mungkin terjadi serta prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.

  • c. Pasien juga berhak memperoleh informasi tentang biaya pelayanan kesehatan yang akan dijalaninya.

  • d. Keluarga pasien berhak memperoleh informasi tentang sebab-sebab kematian pasien,

kecuali bila sebelum meninggal pasien menyatakan agar penyakitnya tetap dirahasiakan .

  • 9. Melakukan tindakan medik tanpa memperoleh persetujuan dari pasien atau keluarga dekat

atau wali atau pengampunya.

Penjelasan:

  • a. Untuk menjalin komunikasi dua arah yang efektif dalam rangka memperoleh persetujuan

tindakan medik, baik dokter atau dokter gigi maupun pasien mempunyai hak untuk didengar dan kewajiban untuk saling memberi informasi.

  • b. Setelah menerima informasi yang cukup dari dokter atau dokter gigi dan memahami

maknanya (well informed), pasien diharapkan dapat mengambil keputusan bagi dirinya

sendiri (the right to self determination) untuk menyetujui (consent) atau menolak (refuse) tindakan medik yang akan dilakukan kepadanya.

  • c. Setiap tindakan medik yang akan dilakukan kepada pasien, mensyaratkan persetujuan

(otorisasi) dari yang bersangkutan. Dalam kondisi dimana pasien tidak dapat memberikan

persetujuan secara pribadi (dibawah umur atau keadaan fisik/mental tidak memungkinkan),

maka persetujuan dapat diberikan oleh keluarga yang berwenang (suami/istri, bapak/ibu, anak atau saudara kandung) atau wali atau pengampunya (proxy).

  • d. Persetujuan tindakan medik (informed consent) dapat dinyatakan secara tertulis atau lisan,

termasuk dengan menggunakan bahasa tubuh. Setiap tindakan medik yang mempunyai risiko

tinggi mensyaratkan persetujuan tertulis.

  • e. Dalam kondisi dimana pasien tidak mampu memberikan persetujuan dan tidak memiliki pendamping, maka dengan tujuan untuk penyelamatan hidup (lifesafing) atau mencegah

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

kecacatan pasien yang berada dalam keadaan gawat darurat, tindakan medik dapat dilakukan tanpa persetujuan pasien.

  • f. Dalam hal tindakan medik yang menyangkut kesehatan reproduksi, persetujuan harus diberikan oleh pasangannya (suami/istri).

  • g. Dalam hal tindakan medik yang menyangkut kepentingan publik (misal: imunisasi massal

dalam penanggulangan wabah), tidak diperlukan persetujuan.

  • 10. Dengan sengaja, tidak membuat atau menyimpan rekam medik, sebagaimana diatur

dalam peraturan perundang-undangan atau etika profesi.

Penjelasan:

  • a. Dalam melaksanakan praktik kedokteran, dokter atau dokter gigi wajib membuat rekam

medik secara benar dan lengkap serta menyimpan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

  • b. Dalam hal dokter berpraktik di sarana pelayanan kesehatan, maka penyimpanan rekam

medik merupakan tanggung jawab sarana pelayanan kesehatan yang bersangkutan.

  • 11. Melakukan perbuatan yang bertujuan untuk menghentikan kehamilan yang tidak sesuai

dengan ketentuan, sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan dan etika profesi. Penjelasan:

  • a. Penghentian (terminasi) kehamilan hanya dapat dilakukan atas indikasi medik yang mengharuskan tindakan tersebut.

  • b. Penentuan tindakan penghentian kehamilan pada pasien tertentu yang mengorbankan

nyawa janinnya, dilakukan oleh setidaknya dua orang dokter.

  • 12. Melakukan perbuatan yang dapat mengakhiri kehidupan pasien atas permintaan sendiri

dan atau keluarganya .

Penjelasan:

  • a. Setiap dokter tidak dibenarkan melakukan perbuatan yang bertujuan mengakhiri kehidupan

manusia, karena selain bertentangan dengan sumpah kedokteran dan atau etika kedokteran

dan atau tujuan profesi kedokteran, juga bertentangan dengan aturan hukum pidana.

  • b. Pada kondisi sakit mencapai keadaan terminal, dimana upaya kedokteran kepada pasien

merupakan kesia-siaan (futile) menurut state of the art (SOTA) ilmu kedokteran, maka dengan persetujuan pasien dan atau keluarga dekatnya, dokter dapat menghentikan pengobatan, akan tetapi dengan tetap memberikan perawatan yang layak (ordinary care). Dalam keadaan tersebut, dokter dianjurkan untuk berkonsultasi dengan sejawatnya atau komite etik rumah sakit bersangkutan.

  • 13. Menjalankan praktik kedokteran dengan menerapkan pengetahuan atau keterampilan atau

teknologi yang belum diterima atau di luar tata cara praktik kedokteran yang layak.

Penjelasan:

  • a. Dalam rangka menjaga keselamatan pasien, setiap dokter atau dokter gigi wajib

menggunakan pengetahuan, ketrampilan dan tata cara praktik kedokteran yang telah diterima

oleh profesi kedokteran atau kedokteran gigi .

  • b. Setiap pengetahuan, ketrampilan dan tata cara baru harus melalui penelitian/uji klinik

tertentu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 14.Melakukan penelitian dalam praktik kedokteran dengan menggunakan manusia sebagai subjek penelitian, tanpa memperoleh persetujuan etik (ethical clearance) dari lembaga yang diakui pemerintah. Penjelasan :

Dalam praktik kedokteran, dimungkinkan untuk menggunakan pasien atau klien sebagai subjek penelitian sepanjang telah memperoleh persetujuan etik (ethical clearance) dari komisi etik penelitian.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

  • 15. Tidak melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, padahal tidak

membahayakan dirinya, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya. Penjelasan:

  • a. Menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan adalah kewajiban yang mendasar

bagi setiap manusia, utamanya bagi profesi dokter atau dokter gigi di sarana pelayanan kesehatan.

  • b. Kewajiban tersebut dapat diabaikan apabila membahayakan dirinya atau apabila telah ada

individu lain yang mau dan mampu melakukannya atau karena ada ketentuan lain yang telah

diatur oleh sarana pelayanan kesehatan tertentu.

  • 16. Menolak atau menghentikan tindakan pengobatan terhadap pasien tanpa alasan yang

layak dan sah sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan atau etika profesi. Penjelasan:

  • a. Tugas dokter atau dokter gigi sebagai profesional medik adalah melakukan pelayanan kedokteran.

  • b. Beberapa alasan yang dibenarkan bagi dokter atau dokter gigi untuk menolak atau

mengakhiri pelayanan kepada pasiennya (memutuskan hubungan dokter pasien) adalah :

1) pasien melakukan intimidasi terhadap dokter atau dokter gigi; 2) pasien melakukan kekerasan terhadap dokter atau dokter gigi;

3) pasien berperilaku merusak hubungan saling percaya tanpa alasan. Dalam hal-hal diatas, dokter atau dokter gigi wajib memberitahu secara lisan atau tertulis kepada pasiennya dan menjamin kelangsungan pengobatan pasien dengan cara merujuk ke dokter atau dokter gigi lain dengan menyertakan keterangan mediknya.

  • c. Dokter atau dokter gigi tidak boleh melakukan penolakan atau memutuskan hubungan terapeutik dokter-pasien, semata-mata karena alasan: keluhan pasien terhadap pelayanan dokter, finansial, suku, ras, jender, politik, agama atau kepercayaan.

    • 17. Membuka rahasia kedokteran, sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan

atau etika profesi. Penjelasan:

  • a. Dokter atau dokter gigi wajib menjaga rahasia pasiennya. Bila dipandang perlu untuk menyampaikan informasi tanpa persetujuan pasien atau keluarga, maka dokter atau dokter

gigi tersebut harus mempunyai alasan pembenaran.

  • b. Alasan pembenaran yang dimaksud adalah:

1) permintaan Majelis Pemeriksa MKDKI;

2) permintaan Majelis Hakim Sidang Pengadilan; dan 3) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

  • 18. Membuat keterangan medik yang tidak didasarkan kepada hasil pemeriksaan yang

diketahuinya secara benar dan patut.

Penjelasan:

  • a. Sebagai profesional medik, dokter atau dokter gigi harus jujur dan dapat dipercaya dalam memberikan keterangan medik, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

  • b. Dokter atau dokter gigi tidak dibenarkan membuat atau memberikan keterangan palsu.

  • c. Dalam hal membuat keterangan medik berbentuk tulisan (hardcopy), dokter wajib

membaca secara teliti setiap dokumen yang akan ditanda tangani, agar tidak terjadi kesalahan

penjelasan yang dapat menyesatkan.

  • 19. Turut serta dalam perbuatan yang termasuk tindakan penyiksaan (torture) atau eksekusi

hukuman mati. Penjelasan:

Prinsip tugas mulia seorang profesional medik adalah memelihara kesehatan fisik, mental dan sosial penerima jasa pelayanan kesehatan. Oleh karenanya, dokter atau dokter gigi tidak

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

dibenarkan turut serta dalam pelaksanaan tindakan yang bertentangan dengan tugas tersebut termasuk tindakan penyiksaan atau pelaksanaan hukuman mati.

  • 20. Meresepkan atau memberikan obat golongan narkotika, psikotropika dan zat adiktif

lainnya (NAPZA) yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan dan etika profesi. Penjelasan:

Dokter dibenarkan memberikan obat golongan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya sepanjang sesuai dengan indikasi medis dan peraturan perundangundangan.

  • 21. Melakukan pelecehan seksual, tindakan intimidasi atau tindakan kekerasan terhadap

pasien, di tempat praktik. Penjelasan:

Dalam hubungan terapeutik antara dokter-pasien, dokter atau dokter gigi tidak boleh menggunakan hubungan personal (seperti hubungan seks atau emosional) yang dapat merusak hubungan dokter – pasien.

  • 22. Menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi yang bukan haknya.

Penjelasan:

Dalam melaksanakan hubungan terapeutik dokter-pasien, dokter atau dokter gigi hanya dibenarkan menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi sesuai dengan kemampuan, kewenangan dan ketentuan perundang-undangan. Penggunaan gelar dan sebutan lain yang tidak sesuai, dinilai dapat menyesatkan masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan.

  • 23. Menerima imbalan sebagai hasil dari merujuk atau meminta pemeriksaan atau

memberikan resep obat/alat kesehatan. Penjelasan:

Dalam melakukan rujukan (pasien, laboratorium, teknologi) kepada dokter atau dokter gigi lain atau sarana penunjang lain, atau pembuatan resep/pemberian obat, seorang dokter atau

dokter gigi hanya dibenarkan bekerja untuk kepentingan pasien. Oleh karenanya, dokter atau dokter gigi tidak dibenarkan meminta atau menerima imbalan jasa atau membuat kesepakatan dengan pihak lain diluar ketentuan etika profesi (kick-back atau fee-splitting) yang dapat mempengaruhi indepedensi dokter atau dokter gigi yang bersangkutan.

  • 24. Mengiklankan kemampuan/pelayanan atau kelebihan kemampuan/ pelayanan yang

dimiliki, baik lisan ataupun tulisan, yang tidak benar atau menyesatkan. Penjelasan:

  • a. Masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan medik, membutuhkan informasi tentang

kemampuan/pelayanan seorang dokter atau dokter gigi untuk kepentingan pengobatan dan rujukan. Oleh karenanya, dokter atau dokter gigi hanya dibenarkan memberikan informasi

yang memenuhi ketentuan umum yakni: sah, patut, jujur, akurat dan dapat dipercaya.

  • b. Melakukan penyuluhan kesehatan di media massa tidak termasuk pelanggaran disiplin.

  • c. Melakukan pengiklanan diri tentang kompetensi atau layanan yang benar merupakan pelanggaran etik, dan tidak termasuk dalam pelanggaran disiplin.

    • 25. Ketergantungan pada narkotika, psikotropika, alkohol serta zat adiktif lainnya.

Penjelasan:

Penggunaan narkotika, psikotropika, alkohol serta zat adiktif lainnya (NAPZA) dapat menurunkan kemampuan seorang dokter/dokter gigi sehingga berpotensi membahayakan pengguna pelayanan medik.

  • 26. Berpraktik dengan menggunakan Surat Tanda Registrasi (STR) atau Surat Ijin Praktik

(SIP) dan/atau sertifikat kompetensi yang tidak sah. Penjelasan:

Seorang dokter atau dokter gigi yang diduga memiliki STR dan/atau SIP dengan menggunakan persyaratan yang tidak sah, dapat diajukan ke MKDKI. Apabila terbukti adanya pelanggaran tersebut, maka STR akan dicabut oleh Konsil Kedokteran Indonesia

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

(KKI) dan SIP akan dicabut oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berdasarkan rekomendasi MKDKI.

  • 27. Ketidakjujuran dalam menentukan jasa medik.

Penjelasan:

Dokter atau dokter gigi harus jujur dalam menentukan jasa medik sesuai dengan tindakan

medik yang dilakukannya terhadap pasien.

  • 28. Tidak memberikan informasi, dokumen dan alat bukti lainnya yang diperlukan MKDKI

untuk pemeriksaan atas pengaduan dugaan pelanggaran disiplin. Penjelasan: Dalam rangka pemeriksaan terhadap dokter atau dokter gigi yang diadukan atas dugaan pelanggaran disiplin, MKDKI berwenang meminta informasi, dokumen, dan alat bukti lainnya dari dokter atau dokter gigi yang diadukan dan dari pihak lain yang terkait.

SANKSI DISIPLIN

Sanksi disiplin yang dapat dikenakan oleh MKDKI berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada Pasal 69 ayat (3) adalah :

  • 1. pemberian peringatan tertulis;

  • 2. rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik; dan/atau

  • 3. kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau

kedokteran gigi.

Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik yang dimaksud dapat berupa:

  • a. rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik sementara selama- lamanya 1 (satu) tahun, atau

  • b. rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik tetap atau

selamanya; Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi yang dimaksud dapat berupa :

  • a. pendidikan formal; atau

  • b. pelatihan dalam pengetahuan dan atau ketrampilan, magang di institusi pendidikan atau

sarana pelayanan kesehatan jejaringnya atau sarana pelayanan kesehatan yang ditunjuk, sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun.

  • 16. Melakukan tindakan yang tergolong malpraktik

Malapraktik telah digunakan secara luas di Indonesia sebagai terjemahan ”malpractice ” , sedangkan kelalaian adalah terjemahan untuk ” Negligence ”

  • 1. Pengertian Malpraktik

Ada beberapa pendapat sarjana mengenai pengertian malpraktik :

  • a. Veronica mengemukakan malapraktik yaitu kesalahan dalam menjalankan profesi yang

timbul sebagai akibat adanya kewajiban – kewajiban yang harus dilakukan oleh dokter. 4

  • b. Danny Wiradharma memandang malpraktek dari sudut tanggung jawab dokter yang berada

dalam suatu perikatan dengan pasien, yaitu dokter tersebut melakukan praktik yang buruk. 4

  • c. Ngesti Lestari mengartikan malpraktek secara harfiah sebagai pelaksanaan atau tindakan

yang salah. Dari beberapa pengertian tentang malpraktik medik di atas semua sarjana sepakat untuk mengartikan malpraktik medik sebagai kesalahan dokter yang karena tidak menggunakan ilmu pengetahuan dan tingkat ketrampilan sesuai dengan standar profesinya yang akhirnya mengakibatkan pasien terluka atau cacat bahkan meninggal.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Setiap tindakan medis harus dapat dipertanggungjawabkan, baik secara etik maupun secara hukum, Kode Etik Kedokteran Indonesia ( KODEKI ) memberikan pedoman kepada dokter di dalam memutuskan untuk melakukan tindakan medisnya tidak boleh bertentangan dengan :

  • b. Kode Etik Kedokteran Indonesia ( KODEKI )

  • c. Asas – asas Etika kedokteran Indonesia yaitu :

    • 1. Tidak merugikan ( Non – Maleficence )

    • 2. Membawa kebaikan ( Benevicence )

    • 3. Menjaga kerahasiaan (Confidencsialitas )

    • 4. Otonomi pasien ( Informed Consent )

    • 5. Berkata benar ( Veracity )

    • 6. Berlaku adil ( Justice )

    • 7. Menghormati ( privacy)

Agar seorang dokter tidak dipandang melakukan praktik yang buruk menurut Danny

Wiradharma, maka setiap tindakan medis yang dilakukan harus memenuhi tiga syarat :

  • 1. Memiliki indikasi medis ke arah suatu tujuan perawatan yang kongkrit.

  • 2. Dilakukan menurut ketentuan yang berlaku di dalam ilmu kedokteran

  • 3. Telah mendapat persetujuan tindakan pasien 5

Dari uraian – uraian di atas jelas bagaimana seorang dokter dituntut melaksanakan

kewajibannya yaitu :

  • 1. Kewajiban Primer

Memberikan pelayanan medis yang benar dan layak , berdasarkan teori kedokteran yang telah

teruji kebenarannya .

  • 2. Kewajiban Sekunder

    • a. Memberikan informasi medis mengenai penyakit pasien

    • b. Memberikan informasi tindakan medis yang akan dilakukan

    • c. Memberikan surat keterangan dokter bagi berbagai kepentingan pasien yang bersifat

yustisial .

  • 2. Malpraktik ditinjau dari hukum pidana

Malpraktik ditinjau dalam hukum pidana , diantaranya : 6

  • a. Pasal 322 KUHP yaitu membocorkan rahasia kedokteran yang diadukan oleh penderita .

  • b. Pasal 359,360, 361 KUHP yaitu karena kelalaiannya sehingga mengakibatkan kematian

atau luka – luka .

  • c. Pasal 531 KUHAP yaitu tidak memberikan pertolongan kepada orang yang berada dalam

keadaan bahaya maut. Perbuatan – perbuatan tersebut harus memenuhi rumusan delik pidana yaitu pertama , perbuatan tersebut baik positif maupun negatif merupakan perbuatan tercela ( Actus Reus ). Kedua , dilakukan dengan sikap batin yang salah yaitu berupa kesengajaan ( Intensional ) , kecerobohan ( Recklessness) atau kealpaan ( Negligence ) sehingga tanggung jawab selalu

bersifat individual dan personal . oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada rumah sakit.

  • 3. Criminal malpractice

Suatu perbuatan dapat dikategorikan criminal malparactice apabila memenuhi rumusan delik

pidana. Pertama , perbuatan tersebut harus merupakan perbuatan tercela. Kedua, dilakukan dengan sikap batin yang salah ( means rea ) yaitu berupa kesengajaan , kecerobohan atau kealpaan. Contoh dari criminal malparactice yang sifatnya kesengajaan adalah:

  • a. Melakukan aborsi tanpa indikasi medik

  • b. Membocorkan rahasia kedokteran

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

  • c. Tidak melakukan pertolongan kepada seseorang yang dalam keadaan emergensi meskipun tahu tidak ada dokter lain yang akan menolongnya.

  • d. Menerbitkan surat keterangan dokter yang tidak benar

  • e. Membuat visum et repertum yang tidak benar.

  • f. Memberikan keterangan yang tidak benar disidang pengadilan dalam kapasitasnya sebagai

ahli Contoh dari crimanal malpractice yang bersifat kecerobohan :

  • a. Melakukan tindakan medik yang tidak lege artis

  • b. Melakukan tindakan medik tanpa informed consent

Contoh dari criminal malpractice yang bersifat kealpaan :

  • a. Kurang hati – hati sehingga meninggalkan gunting dalam perut pasien

  • b. Kurang hati – hati sehingga menyebabkan pasien luka – luka.

  • c. Kurang hati – hati sehingga menyebabkan pasien meninggal dunia.

    • 4. Civil Malpractice

Disebut civil malpractice jika dokter tidak melaksanakan kewajibannya, yaitu memberikan

prestasinya sebagaimana yang telah disepakati. Tindakan dokter yang dikategorikan civil malpractice adalah:

  • a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.

  • b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat .

  • c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna.

  • d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.

Pada civil malpractice, tanggung gugat bersifat individual atau korporasi. Selain itu dapat dialihkan kepada pihak lain berdasarkan principle of vicarious liability. Dengan prinsip ini, maka rumah sakit dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan dokternya, asalkan dapat dibuktikan bahwa tindakan dokter dalam rangka melaksanakan kewajiban rumah sakit. Dasar hukum civil malpractice adalah transaksi dokter dengan pasien, yaitu hubungan hukum dokter dan pasien, dimana dokter bersedia memberikan pelayanan medis kepada pasien dan pasien bersedia membayar honor kepada dokter tersebut. Pasien yang merasa dirugikan berhak menggugat ganti rugi kepada dokter yang tidak melaksanakan kewakiban kontraknya dengan melaksanakan kesalahan professional.

  • 5. Administrative Malpractice

Dikatakan administrative Malpractice jika dokter melanggar hukum tata usaha negara.

Contoh tindakan yang dikategorikan administrative malpractice adalah :

  • a. Menjalankan praktek kedokteran tanpa lisensi atau izin

  • b. Melakukan tindakan medik yang tidak sesuai lisensi yang dimiliki

  • c. Melakukan praktek kedokteran dengan menggunakan izin yang sudah tidak berlaku

  • d. Tidak membuat rekam medik.

Jenis – jenis lisensi memerlukan basic dan mempunyai batas kewenangan sendiri – sendiri.

Tidak dibenarkan melakukan tindakan medik melampaui batas kewenangan yang telah ditentukan. Jika ketentuan tersebut dilanggar, maka dokter dianggap melakukan administrative malpractice dan dapat dikenai sanksi administratif.

Kepustakaan :

UU No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

Permenkes No.1348/PER/IX/2010

Achdiat, Crisdiono . Pernik – Pernik Hukum Kedokteran Melindungi Pasien dan Dokter. Jakarta : Widya Medika,1996.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Chazawi , Adami, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa. Jakarta : PT Raja Grafido Persada, 2000.

Malpraktik Kedokteran Tinjauan Norma dan Doktrin Hukum. Malang: Bayumedia.

2007

Dahlan, Sofwan . Hukum Kesehatan dan Rambu – Rambu Bagi Profesi Dokter Edisi 3. Semarang: Balai Penerbit UNDIP. 1999

17. Tidak memperhatikan keselamatan diri sendiri dalam melakukan tugas profesinya.

Tanggung jawab dokter berdasarkan pihak penerima manfaat utama: pasien, masyarakat, dan kolega (termasuk profesi kesehatan lain). Dokter sering lupa bahwa mereka mempunyai tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri, dan juga kepada keluarga mereka. Di banyak bagian di dunia ini, menjadi dokter artinya mengabdikan sepenuhnya dirinya terhadap praktek pengobatan dengan sedikit mempertimbangkan kesehatan dan kebaikan dirinya. Bekerja 60-80 jam kerja dalam seminggu bukanlah hal yang asing dan liburan dianggap kemewahan yang tidak perlu. Walaupun dokter dapat bekerja dengan baik dalam kondisi seperti ini, keluarganya dapat saja terpengaruh sebaliknya. Dokter yang lain lagi, jelas mengalami penderitaan karena aktivitas profesional seperti itu, yang menyebabkan terjadinya kelelahan yang kritis sampai penyalah gunaan bahan untuk bunuh diri. Dokter yang lalai membahayakan pasien mereka, dengan kelelahan merupakan factor penting mengapa bisa terjadi kecelakaan medis. Perlunya memastikan keselamatan pasien dan juga untuk membangun hidup sehat bagi dokter telah dilakukan di berbagai negara dengan pembatasan jumlah jam kerja dan lamanya jaga yang harus dilakukan oleh dokter dan peserta pelatihan. Beberapa institusi pendidikan sekarang lebih mempermudah bagi dokter perempuan untuk menghentikan sementara program pelatihan karena alasan keluarga. Walaupun hal tersebut dapat berakibat baik bagi kesehatan dan kebaikan dokter, tanggung jawab utama tehadap perawatan diri sendiri tetaplah berada di tangan dokter itu sendiri. Selain dengan menghindari hal yang membahayakan kesehatan seperti merokok, penyalah gunaan obat dan kerja berlebih, dokter harus melindungi dan meningkatkan kesehatan mereka dengan mengetahui faktor yang menyebabkan stress dalam kehidupan pribadi dan profesi dan dengan mengembangkan dan mempraktekkan strategi yang sesuai. Jika gagal, maka harus mencari bantuan dari koleganya dan professional yang sesuai untuk masalah pribadinya yang mungkin dapat berpengaruh buruk dalam hubungan dengan pasien, masyarakat, dan kolega.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

18. Melanggar ketentuan institusi tempat bekerja (hospital by laws, peraturan kepegawaian dan lain – lain)

Menurut Jacobalis (2006) Hospital Bylaws/ Statuta/ Konstitusi/ Anggaran Dasar adalah peraturan yang ditetapkan sendiri untuk mengatur perbuatan – perbuatan pihak – pihak rumah sakit. Peraturan ini merupakan pedoman untuk melaksanakan manajemen dan mentaati hukum, yang di dalam cakupannya rumah sakit berupaya menjalankan misinya dengan baik dan legal.Hospital Bylaws ini mengatur hubungan governing board (pemilik) dengan manajemen, antara manajemen dengan tenaga medis yang memberi asuhan medis

langsung kepada pasien dan juga garis – garis besar tanggung jawab para dokter sebagai kelompok kepada governing board - (tiga tungku sejarangan). Jiwa dan substansi bylaws tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai moral dan ketentuan hukum negara.Jika dipatuhi Hospital Bylaws mempunyai kekuatan hukum untuk melindungi pelaku profesional rumah sakit, sebaliknya juga jika mereka melanggar ketentuan – ketentuan dalam hospital Bylaws juga yang dipakai untuk menjatuhkan sanksi internal kepada mereka dan melakukan sangsi korektif terhadap mereka yang melanggar. Berikut uraian tentang Hospital Bylaws, :

  • 1. Memuat pernyataan tentang jatidiri, yang mencakup antara lain tentang sejarah, kepemilikan, falsafah, system nilai, tujuan, visi dan misi rumah sakit yang bersangkutan

  • 2. Sebagai pedoman dasar dan pernyataan tentang tugas, kewenangan, hubungan fungsional dan tanggung jawab bagi organ – organ utama yang berkedudukan puncak di rumah sakit.

  • 3. Menjadi bingkai atau rambu – rambu yang di dalam cakupannya pihak – pihak yang bertanggung jawab menjalankan corporate governance dan clinical governance melakukan sesuai dengan kaidah dan ketentuan hukum serta keprofesian, dalam menjaga dan meningkatkan mutu layaanan kepada pasien.

  • 4. Sebagai perangkat hukum internal yang sampai batas-batas tertentu mengakui kemandirian profesi medis untuk mengatur dan mendisiplinkan sendiri anggotaanggotanya.

  • 5. Memberi landasan hukum yang pasti bagi para klinisi untuk mengambil keputusan klinis dan menjalankan tindakan klinis pada pasien sesuai dengan izin yang diberikan kepadanya (clinical previlages)

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

  • 6. Sebagai perangkat hukum internal untuk mencegah - dan jika sudah terjadi menyelesaikan konflik antara para professional atau kelompok – kelompok profesi yang bekerja di rumah sakit.

  • 7. Memberi kepastian dan perlindungan hukum bagi pasien bahwa hak – haknya dihormati dan ia akan mendapat layanan yang professional dan bermutu tinggi.\

RESUME DAFTAR MASALAH TERKAIT PROFESI DOKTER

19. Melakukan praktik kedokteran melebihi batas kewajaran dengan motivasi yang tidak didasarkan pada keluhuran profesi dengan tidak memperhatikan kesehatan pribadi

Tujuan dari etika profesi dokter adalah untuk mengantisipasi atau mencegah terjadinya perkembangan yang buruk terhadap profesi dokter dan mencegah agar dokter dalam menjalani profesinya dapat bersikap professional maka perlu kiranya membentuk kode etik profesi kedokteran untuk mengawal sang dokter dalam menjalankan profesinya tersebut agar sesuai dengan tuntutan ideal. Tuntutan tersebut kita kenal dengan kode etik profesi d

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI Pasal 16

Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.

Pasal 17

Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran/kesehatan dokter.

20. Tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran Orientasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedokteran

Pendidikan dokter berorientasi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi bermakna bahwa institusi pendidikan kedokteran selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. Melalui kurikulum pendidikan, khususnya isi pendidikan dan berbagai pengalaman belajar yang dilaksanakan di dalam suatu lingkungan belajar yang dilengkapi dengan fasilitas pendidikan yang diperlukan, memungkinkan peserta didik mengikuti dan

menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. Dengan demikian dapat ditumbuhkan dan dibina sikap dan kemampuan akademik dan keprofesian pada peserta didik. Dalam hal ini orientasi ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran ditekankan kepada ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran keluarga dan kedokteran industri.

Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan landasan utama dalam melaksanakan pelayanan dan asuhan kedokteran kepada masyarakat, serta pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang kedokteran selanjutnya. Oleh karena itu isi pendidikan dan berbagai bentuk pengalaman belajar dalam proses pendidikan ditata dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi peserta didik memahami dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang diperlukan, sesuai tujuan pendidikan yang diperlukan. Kelompok ilmu pengetahuan kedokteran yang mencakup ilmu alam dasar kedokteran, ilmu biomedik (ilmu kedokteran dasar), ilmu kedokteran komunitas, ilmu kesehatan masyarakat, dan ilmu kedokteran klinik merupakan isi pokok pendidikan dokter. Kemampuan membina sikap dan menguasai kelompok ilmu pengetahuan kedokteran dan berbagai bentuk pengalaman belajar, dalam lingkungan belajar dengan masyarakat akademik dan suasana akademik yang kondusif.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

21.22 Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yangtelah diperiksa sendiri kebenarannya

Hampir setiap hari kepada seorang dokter diminta keterangan tertulismengenai bermacam-macam hal antara lain, tentang:-cuti sakit-kelahiran dan kematian-cacat-penyakit menular -visum et repertum (pro justicia)-keterangan kesehatan untuk asuransi jiwa, untuk lamaran kerja, untuk kawindan sebagainyaHal yang perlu diperhatikan oleh seorang dokter pada waktumemberikan :

a.Keterangan cuti sakit dan keterangan tentang tingkat cacat.Waspadalahterhadap sandiwara (stimulasi) melebih-lebihkan (aggravi) mengenai sakitatau kecelakaan kerja. b.Keterangan kelahiran dan kematian. Agar keterangan mengenaikelahiran/kematian diisi sesuai keadaan yang sebenarnya c.Visum et repertum. Kepolisisan dan kejaksaan sering meminta visum etrepertum kepada seorang dokter dalam hal perkara penganiayaan dan pembunuhan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Visum agar 16dibuatkan dengan teliti dan mudah dipahami berdasarkan apa yang dilihat.Selain itu visum et repertum haruslah objektif tanpa pengaruh dari yang berkepentingan dalam perkara itu. d.Laporan pengujian kesehatan untuk asuransi jiwa.-laporan dokter harus objektif jangan dipengaruhi oleh keinginan dari agen perusahaaan asuransi yang bersangkutan atau calon yang bersangkutan-sebaiknya jangan menguji kesehatan seorang calon yang masih atau pernah menjadi pasiennya sendiri, untuk menghindari timbulnyakesukaran dalam mempertahankan rahasia jabatan. -Jangan diberitahukan kepada calon tentang kesimpulan dari hasil pemeriksaan fisik. Serahkan hal itu kepada perusahaan asuransi jiwa itusendiri.Seorang dokter harus dalam setiap praktik medisnya memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya,disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dansejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahuimemiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien. Seorang dokter harusmenghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatanlainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien. Setiap dokter harus senantiasamengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani DAFTAR PUSTAKA:

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesiaa. Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia.Jakarta, Ikatan Dokter Indonesia,

2002

23. Menggantikan praktik atau menggunakan pengganti praktik yang tidak memenuhi

syarat

Praktik kedokteran bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja, melainkan hanya boleh dilakukan oleh kelompok profesional kedokteran tertentu yang memiliki kompetensi yang memenuhi standar tertentu, diberi kewenangan oleh institusi yang berwenang di bidang itu dan bekerja sesuai dengan standar dan profesionalisme yang ditetapkan oleh organisasi profesinya. Secara teoritis-konseptual, antara masyarakat profesi dengan masyarakat umum terjadi suatu kontrak (mengacu kepada doktrin social-contract), yang memberi masyarakat profesi hak untuk melakukan self-regulating (otonomi profesi) dengan kewajiban memberikan jaminan bahwa profesional yang berpraktek hanyalah profesional yang kompeten dan yang melaksanakan praktek profesinya sesuai dengan standar. Pada bagian awal, Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang persyaratan dokter untuk dapat berpraktik kedokteran, yang dimulai dengan keharusan memiliki sertifikat kompetensi kedokteran yang diperoleh dari Kolegium selain ijasah dokter yang telah dimilikinya, keharusan memperoleh Surat Tanda Registrasi dari Konsil Kedokteran Indonesia dan kemudian memperoleh Surat ijin Praktik dari Dinas Kesehatan Kota / Kabupaten. Dokter tersebut juga harus telah mengucapkan sumpah dokter, sehat fisik dan mental serta menyatakan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. Pada bagian berikutnya, Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang penyelenggaraan praktik kedokteran. Dalam bagian ini diatur tentang perijinan praktik kedokteran, yang antara lain mengatur syarat memperoleh SIP (memiliki STR, tempat praktik dan rekomendasi organisasi profesi), batas maksimal 3 tempat praktik, dan keharusan memasang papan praktik atau mencantumkan namanya di daftar dokter bila di rumah sakit. Dalam aturan tentang pelaksanaan praktik diatur agar dokter memberitahu apabila berhalangan atau memperoleh pengganti yang juga memiliki SIP, keharusan memenuhi standar pelayanan, memenuhi aturan tentang persetujuan tindakan medis, memenuhi ketentuan tentang pembuatan rekam medis, menjaga rahasia kedokteran, serta mengendalikan mutu dan biaya. Pada bagian berikutnya Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang disiplin profesi. Undang-Undang mendirikan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

yang bertugas menerima pengaduan, memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin dokter. Sanksi yang diberikan oleh MKDKI adalah berupa peringatan tertulis, rekomendasi pencabutan STR dan/atau SIP, dan kewajiban mengikuti pendidikan dan pelatihan tertentu. Pada akhirnya Undang-Undang No 29/2004 mengancam pidana bagi mereka yang berpraktik tanpa STR dan atau SIP, mereka yang bukan dokter tetapi bersikap atau bertindak seolah-olah dokter, dokter yang berpraktik tanpa membuat rekam medis, tidak memasang papan praktik atau tidak memenuhi kewajiban dokter. Pidana lebih berat diancamkan kepada mereka yang mempekerjakan dokter yang tidak memiliki STR dan/atau SIP UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN BAB X KETENTUAN PIDANA Pasal 75 (1) Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (2) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (3) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) Pasal 76 Setiap dokter, atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Pasal 77

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda. registrasi dokter gigi dan/atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73, ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) Pasal 78 Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). Kepustakaan : http://malprate.webs.com/

24.Melakukan tindakan yang melanggar hukum (termasuk ketergantungan obat, tindakan kriminal/perdata, penipuan, dan lain-lain. KEWAJIBAN PROFESI :

SUMPAH DOKTER KODEKI STANDAR PERILAKU STANDAR PROSEDUR STANDAR PELAYANAN MEDIS KEWAJIBAN AKIBAT HUB. DOKTER-PASIEN MEMENUHI HAK PASIEN KEWAJIBAN SOSIAL PelanggaranEtikaKedokteran Sanksi = moral – adminsitratif

  • - teguran

  • - penghentiantugas/kewenangantertentu

untuksementara

  • - pengalihantugas

  • - re-edukasi

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

- pencabutanijinpraktik TUNTUTAN PIDANA KELALAIAN : 359-361 KUHP

KETERANGAN PALSU ABORSI ILEGAL

: 267-268 KUHP : 347-349 KUHP

PENIPUAN : 382 BIS KUHP

PERPAJAKAN EUTHANASIA PENYERANGAN SEKS TUNTUTAN PERDATA

: 209, 372 KUHP : 344 KUHP : 284-294 KUHP

PS 1365 KUH PERDATA :

Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, menggantinya PS 1366 KUH PERDATA : Juga akibat kelalaian PS 1367 KUH PERDATA : Juga respondeat superior Ps 55 UU KESEHATAN :

Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan

25. Merujuk Pasien Dengan Motivasi Untuk Mendapatkan Keuntungan Pribadi, Baik Kepada Dokter Spesialis, Laboratorium, Klinik Swasta, Dan Lain-Lain

Dalam UU No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 53 menyebutkan beberapa hak pasien, yakni hak atas Informasi, hak atas second opinion, hak atas kerahasiaan, hak atas persetujuan tindakan medis, hak atas masalah spiritual, dan hak atas ganti rugi. Menurut UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan, pada pasal 4-8 disebutkan setiap orang berhak atas kesehatan, akses atas sumber daya, pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau; menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan, lingkungan yang sehat, info dan edukasi kesehatan yg seimbang dan bertanggungjawab, dan informasi tentang data kesehatan dirinya. Hak-hak pasien dalam UU No. 36 tahun 2009 itu diantaranya meliputi:

Hak menerima atau menolak sebagian atau seluruh pertolongan (kecuali tak sadar, penyakit menular berat, gangguan jiwa berat).

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Hak atas rahasia pribadi (kecuali perintah UU, pengadilan, ijin ybs, kepentngan ybs, kepentingan masyarakat). Hak tuntut ganti rugi akibat salah atau kelalaian (kecuali tindakan penyelamatan nyawa atau cegah cacat). Pada UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran khususnya pada pasal 52 juga diatur hak-hak pasien, yang meliputi:

Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat 3. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain. Mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis. Menolak tindakan medis. Mendapatkan isi rekam medis. Hak dan Kewajiban Tenaga Medis

Di dalam UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, pada pasal 50 disebutkan adanya hak-hak dokter, yakni:

Memperoleh perlindungan hukum sepanjang sesuai standar profesi dan SOP. Memberikan layanan medis menurut standar profesi (SP) dan standar operasional prosedur (SOP). Memperoleh info yg jujur & lengkap dari pasien atau keluarga pasien .. Menerima imbalan jasa. Adanya perlindungan hukum bagi dokter ini mengingat bahwa pekerjaan dokter dianggap sah sepanjang memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dan bahwa dalam bekerja seorang dokter harus bebas dari intervensi pihak lain, dan bebas dari kekerasan. Jika pun terdapat dugaan “malpraktik” harus melalui proses pembuktian hukum terlebih dahulu, termasuk diantaranya tentu saja seorang dokter bebas memperoleh pembelaan hukum. Pada pasal 52 UU yang sama diatur pula mengenai kewajiban dokter, yang meliputi:

Memberi pelayanan medis sesuai SP & SOP, serta kebutuhan medis pasien. Merujuk pasien bila tak mampu. Menjamin kerahasiaan pasien. Pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila yakin ada orang lain yg bertugas dan mampu. Menambah / ikuti perkembangan iptek kedokteran.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Selain dokter, rumah sakit juga memiliki kewajiban dalam melayani pasiennya. Kewajiban itu dituangkan dalam UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Kewajiban rumah sakit itu sudah tentu mengikat juga pada para tenaga medis. Dalam menjalankan tugas profesi, dokter senantiasa harus memerhatikan kewajiban sebagai petugas kesehatan. Kewajiban-kewajiban tersebut sesuai dengan yang diamanatkan dalam KODEKI (Kode Etik Kedokteran), yaitu

Pasal 3

Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh

pertimbangan keuntungan pribadi.

Termasuk dalam mencari keuntungan pribadi adalah :

Menjual obat atau sampel obat di tempat praktik (kecuali tidak terdapat apotik di daerah tersebut). Mengarahkan pasien membeli obat tertentu karena dokter telah menerima komisi atau imbalan perusahaan farmasi. Melakukan tindakan medis yang tidak diperlukan. Menyuruh pasien berobat berulang kali atau dokter atau dokter berkunjung ke rumah pasien berkali-kali tanpa indikasi yang jelas. Membuat iklan atau promosi yang berlebihan. Merujuk pasien ke laboratorium atau sejawat yang berlebihan. Merujuk pasien ke laboratorium atau sejawat atau bagian pelayanan dengan imbalan tertentu

Referensi

26. PERESEPAN OBAT TIDAK RASIONAL

Aspek Hukum Penggunaan Obat yang Irrasional

Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, & kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum, sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Bahwa hidup sehat sebagai Hak Azasi Manusia harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan kesehatan termasuk pemberian obat-obatan yang rasional. Pemberian obat-obatan yang rasional merupakan inti dari berbagai kegiatan dalam penyelengaraan upaya kesehatan yang harus dilakukan oleh dokter & dokter gigi yang memiliki etika & moral yang tinggi, keahlian & kewenangan yang secara terus menerus harus ditingkatkan mutunya. Namun, pada kenyataannya, dilapangan pemakaian obat yang irrasional masih sering atau banyak dijumpai dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari, mulai dari praktik dokter, balai pengobatan, puskesmas, sampai di rumah sakit.

Yang digolongkan pemakaian obat yang irrasional antara lain Pemakaian obat secara berlebihan baik dalam jenis maupun jumlah dosis Indikasi pemberian jenis obat yang tidak jelas Ttatacara pemakaian atau penggunaan yang tidak tepat (termasuk obat puyer racikan) Polifarmasi yang berisiko tinggi Penggunaan obat mahal sementara masih banyak obat sejenis yang lebih murah & penggunaan jenis obat suntik & infus yang tidak perlu. Jika diperhatikan, tujuan pengobatan bahwa secara umum adalah untuk pengobatan pasien tanpa meninggalkan efek samping obat ataupun dengan efek samping obat seminimal mungkin, serta harga obat yang dapat dijangkau oleh pasien, dengan jenis obat-obat yang tersedia & mudah didapatkan di apotek.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemberian obat secara irrasional :

a.

Faktor Internal

Knowledge deficit: kurangnya pengetahuan secara umum dari seorang dokter terhadap pengetahuan ilmu kedokteran maupun ilmu farmasi medis. b. Acquired habit: adanya kebiasaan meresepkan jenis atau merk obat tertentu. Faktor Eksternal

Cultural believe: kepercayaan masyarakat terhadap jenis atau merk obat tertentu. Patient demand: keinginan pasien yang cenderung ingin mengkonsumsi obat tertentu, dengan sugesti menjadi lebih cepat sembuh.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

Influence of industry: adanya sponsor dari industri farmasi obat tertentu. Authority & supervision: adanya keharusan dari atasan di dalam suatu instansi atau lembaga kesehatan untuk meresepkan jenis obat tertentu. Biased information: informasi yang tidak tepat atau bias, sehingga pemakaian obat menjadi tidak tepat. Workload & staffing: beban pekerjaan yang terlalu berat sehingga seorang dokter menjadi tidak sempat untuk berpikir soal rasionalitas pemakaian obat. Infrastructure: adanya keterbatasan penyediaan jenis obat di suatu instansi atau lembaga kesehatan tertentu, sehingga jenis obat yang diperlukan untuk suatu penyakit justru tidak tersedia, sehingga memakai obat yang lain. Relation with peers: pemberian obat berdasarkan adanya hubungan baik perorangan dengan pihak dari industri farmasi. Jika memperhatikan UU no.36/2009 tentang Kesehatan, di pasal 105 ayat (1) berbunyi: “sediaan farmasi yang berupa obat & bahan obat harus memenuhi syarat farmakope Indonesia atau buku standar lainnya”, maka pemberian obat yang irrasional atau tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat dikategorikan melanggar hukum. Adanya efek farmakodinamik & farmakokinetik dari tiap-tiap jenis obat akan menimbulkan efek interaksi obat di dalam tubuh yang dapat merugikan ataupun membahayakan apabila pemakaian obat diberikan dalam jumlah jenis yang melebihi batas. Sebagai contoh, apabila kita memberikan 3 jenis obat maka akan didapatkan adanya 3 macam jenis interaksi obat, namun apabila kita memberikan 5 jenis obat akan menghasil kurang lebih 10 macam interaksi obat yang mempunyai resiko tinggi bagi pengguna. Pemakaian obat puyer, suntik, & infus yang irrasional juga banyak ditemukan di lapangan, terutama pada sarana kesehatan tingkat dasar seperti puskesmas ataupun dokter praktik swasta di daerah dengan ruang lingkup komunitas masyarakat menengah ke bawah. Adanya kepercayaan yang berakar pada masyarakat berpendidikan rendah yang merasa belum diobati apabila belum diberikan obat suntik. Jenis infus yang jenisnya terbatas & tersedia pada sarana kesehatan seperti puskesmas juga menyebabkan penggunaan infus menjadi tidak tepat. Adanya berbagai media informasi (media cetak, televisi, radio, internet, dst) juga memberikan efek kurang baik yang menyebabkan masyarakat menggampangkan memakai obat seperti obat pengurang nyeri (analgesik) atau penurun panas (antipiretik) yang tidak tepat indikasi pemakaiannya. Seperti karena adanya beban pekerjaan, maka seseorang dengan

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

gampang menggunakan obat analgesik karena merasa sedikit nyeri kepala. Begitupun bagi para ibu rumah tangga yang cepat merasa khawatir apabila ada anaknya yang demam, maka dengan cepat mereka diberikan obat antipiretik. Penggunaan obat antibiotik pada praktik pelayanan medis dapat digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu terapi definitif, yaitu pengobatan suatu penyakit berdasarkan pedoman dosis & cara tertentu. Namun ada juga yang disebut dengan terapi empirik, yaitu jumlah dosis yang digunakan berdasarkan pengalaman sehari-hari. Adanya resistensi obat & virulensi dari bakteri yang meningkat, menyebabkan dosis terapi empirik biasanya lebih tinggi dari pada yang seharusnya. Ditambah pula dengan adanya kemajuan teknologi farmasi yang mengembangkan antibiotik menjadi beberapa generasi & terus berkembang sampai sekarang. Pemberian terapi profilaksis antibiotik sampai sekarang masih menjadi bahasan, ada yang pro & kontra dalam praktik pelayanan medis sehari-hari. Bagi yang kontra, terapi ini memberikan pengaruh atau kontribusinya dalam besaran jumlah tertentu terhadap peningkatan resistensi obat & peningkatan virulensi bakteri. Namun bagi yang pro, pemberian terapi ini dapat mencegah bakteri penyakit berkembang menjadi lebih banyak & efek penyebaran yang lebih luas. Banyak dokter praktik swasta sekarang yang merangkap menjadi pemasar dari perusahaan farmasi tertentu atau mengikuti keanggotaan Multi Level Marketing (MLM) kesehatan. Umumnya, produk yang dijual adalah suplemen makanan (food supplement) atau multivitamin. Pemakaian food supplement ataupun multivitamin ini menjadi tidak rasional tatkala pemberian tidak berdasarkan indikasi, atau karena harga yang dikenakan cukup mahal, kadangkala malah jauh lebih mahal daripada obat yang justru penting diberikan untuk penyakitnya. Pada beberapa kasus, perusahaan farmasi yang menjadi sponsor penyelenggaraan kegiatan ilmiah di suatu organisasi profesi dokter atau di rumah sakit tertentu, kadang dianggap berhubungan dengan kebijakan pelayanan medis yang menjadi terikat pada ‘hubungan’ dokter dengan perusahaan farmasi tersebut. Keengganan menuliskan resep obat generik oleh kebanyakan dokter karena intervensi perusahaan farmasi seperti inilah yang membuat masyarakat kelas menengah ke bawah menjadi kadang harus membayar lebih mahal untuk obat yang seharus dapat dibeli dengan murah. Di puskesmas daerah yang sangat terpencil & sangat sulit dijangkau karena medan yang sulit ditempuh oleh pegawai dinas kesehatan, kadang pasokan obat-obatan tidak

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

terjamin dengan lancar, karenanya pegawai puskesmas hanya memberikan obat-obatan yang hanya tersedia kepada pasien yang berobat, walaupun indikasi pemakaiannya tidak tepat. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat yang rasional merupakan hal yang seharusnya dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan, dengan mengingat adanya kemungkinan medication error, yang bermuara pada adanya tuntutan hukum kepada pihak tenaga kesehatan. Pengobatan dengan obat yang kurang tepat indikasinya atau harga yang lebih mahal dari yang seharusnya hanya akan memberatkan pasien. Pemberian obat irrasional yang tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum, yaitu UU no.36/2009 tentang Kesehatan, pasal 105 ayat (1).

Referensi

:

27. Melakukan kolusi dengan perusahaan farmasi, meresepkan obat tertentu atas dasar keuntungan pribadi.

Perusahaan farmasi memproduksi obat bermerek (paten) untuk dijual. Sedang dokter punya kewenangan menentukan obat. Dengan cara tersebut perusahaan farmasi berkepentingan untuk menjual obat. Uniknya, pemasaran obat oleh perusahaan farmasi dilakukan dengan sistem “detailing” : perusahaan farmasi melalui jaringan distributor melakukan pendekatan tatap muka dengan dokter yang berpraktek di rumah sakit atau praktek pribadi. Kegiatan detailing ini memberikan kesempatan untuk terjadinya yang saling menguntungkan antara dokter dan perusahaan farmasi. Dan dalam komunikasi inilah terbuka kemungkinan terjadinya kolusi dokter dengan perusahaan farmasi. Sebaliknya, dokter punya kepentingan terhadap komisi dari perusahaan farmasi. Dari sinilah lahir permufakatan kedua belah pihak, yang disebut kolusi atau conspiracy of silent. Yang berperan aktif dalam proses tersebut adalah para detailer atau Marketing Representatif/MR. Sebagai kompensasi kolusi tersebut dapat berupa pemberian uang/barang, mensponsori seminar dan fasilitas akomodasi serta acara family gathering sampai ke pembayaran angsuran leasing mobil. Perusahaan farmasi menghitungnya sebagai biaya promosi' yang dimasukkan ke dalam biaya produksi'. Sehingga biaya produksi menjadi tinggi dan harga obat menjadi mahal. Mahalnya harga obat sepenuhnya menjadi tanggungan konsumen. Aspek hukum perbuatan kolusi Dasar hukum larangan kolusi dokter – perusahaan farmasi :

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

  • 1. Surat Keputusan (SK) Kepala BPOM No. HK.00.05.3.02706 tahun 2002 tentang

Promosi Obat. Pasal 9 SK ini memuat sejumlah larangan bagi Industri Farmasi dan/atau Pedagang Besar Farmasi. Larangan tersebut berbunyi :

“Mereka dilarang (a) melakukan kerja sama dengan apotik dan penulis resep; (b) kerja sama dalam pengresepan obat dengan apotik dan/atau penulis resep dalam suatu program khusus untuk meningkatkan penjualan obat tertentu; (c) memberikan bonus/hadiah berupa uang (tunai, bank draft, pinjaman, voucher, tiket) dan/atau barang kepada penulis resep yang meresepkan obat produksinya dan/atau yang didistribusikan. Sedangkan pengawasan terhadap kegiatan promosi obat oleh perusahaan farmasi dilakukan sepenuhnya BPOM dengan membentuk komisi independen.” Mereka yang melanggar larangan tadi bisa dikenakan sanksi mulai dari peringatan tertulis, penghentian sementara kegiatan, hingga pencabutan izin edar obat bersangkutan. Mengacu pada sanksi pidana sebagaimana dimaksud SK BPOM tadi, pasal 62 Ayat (1) UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menyebutkan : Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8, pasal 9, pasal 10, pasal 13

Ayat (2), pasal 15, pasal 17 Ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf e, ayat (2) dan Pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lima tahun atau pidana denda maksimal dua miliar.

  • 2. Kerjasama pemasaran obat antara dokter dengan pedagang besar farmasi bertentangan

dengan kode etik kedokteran Indonesia, khususnya sebagaimana pasal 3, menyatakan :

“Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan keuntungan pribadi”. Selain itu menurut KODEKI terdapat enam poin penting mengenai larangan kerjasama dokter dengan perusahaan farmasi :

a. Pertama, seorang dokter dalam melakukan pekerjaan kedokterannya tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. Kaitannya dengan promosi obat adalah dokter dilarang menjuruskan pasien untuk membeli obat tertentu karena dokter yang bersangkutan telah menerima komisi dari perusahaan farmasi tertentu.

b. Kedua, dukungan apapun yang diberikan perusahaan farmasi kepada seorang dokter untuk menghadiri pertemuan ilmiah tidak boleh didikaitkan dengan kewajiban untuk mempromosikan atau meresepkan suatu produk.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

  • c. Ketiga, perusahaan farmasi boleh memberikan sponsor kepada seorang dokter secara individual dalam rangka pendidikan kedokteran berkelanjutan, yaitu hanya untuk biaya registrasi, akomodasi dan transportasi dari dan ke tempat acara pendidikan kedokteran berkelanjutan.

  • d. Keempat, perusahaan farmasi dilarang memberikan honorarium dan atau uang saku kepada seorang dokter untuk menghadiri pendidikan kedokteran berkelanjutan, kecuali dokter tersebut berkedudukan sebagai pembicara atau menjadi moderator.

  • e. Kelima, dalam hal pemberian donasi kepada profesi kedokteran, perusahaan farmasi tidak boleh menawarkan hadiah/ penghargaan, insentif, donasi, finansial dalam bentuk lain sejenis, yang dikaitkan dengan penulisan resep atau anjuran penggunaan obat perusahaan tertentu.

  • f. Keenam, pemberian donasi dan atau hadiah dari perusahaan farmasi hanya diperbolehkan untuk organisasi profesi kedokteran dan tidak diberikan kepada dokter secara individual.

    • 3. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.3987/A/SK/1973 tentang Larangan Pedagang

Besar Farmasi menjual obat langsung kepada Dokter, Dokter Gigi, dan Apoteker.Kepmenkes tersebut memutuskan bahwa terhitung mulai berlakunya surat keputusan ini, semua dokter yang memiliki izin simpan obat berdasarkan surat keputusan Menkes RI tanggal 8 Juni 1962 No.33148/kab/176 tidak berhak lagi untuk membeli obat langsung pada pedagang besar farmasi, tetapi harus membeli obat- obat di apotik.

  • 4. KerjasamaPemasaranObatantaraDokterdenganPBFmenurut asas-asasperjanjian.

kerjasama dikaitkan dengan asas kebebasan berkontrak. Asas kebebasan berkontrak membolehkan masyarakat untuk membuat perjanjian yang berupa dan berisi apa saja atau tentang apa saja. Selain itu asas ini mengandung arti bahwa setiap orang pada dasarnya diberikan kebebasan untuk mengadakan perjanjian sesuai dengan kesepakatan antara para pihak, namun perlu diperhatikan kesepakatan tersebut tidak boleh bertentangan dengan undang- undang, kesusilaan, dan ketertiban. Mengingat adanya Kepmenkes No.3987/A/SK/1973 tentang larangan PBF menjual obat langsung kepada dokter, dokter gigi, dan apotek, maka kerjasama ini tidak memenuhi asas kebebasan berkontrak karena kerjasama ini bertentangan dengan peraturan perundang-

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

undangan. Oleh karena itu, walaupun jawaban yang diberikan oleh responden seperti tercantum di atas, terlihat adanya kebebasan berkontrak bagi dokter dan PBF untuk melakukan kerjasama, namun karena kerjasama tersebut melanggar peraturan perundang- undangan, maka kerjasama tersebut tidak dapat dikatakan sesuai dengan asas kebebasan berkontrak seperti dimaksud dalam Pasal 1338 KUH Perdata.

Asas yang digunakan dalam kerjasama dokter dengan perusahaan farmasi :

  • 1. Asas Konsensual

Kerjasama pemasaran obat antara dokter dengan PBF lahir hanya karena adanya kesepakatan atau kesamaan kehendak dari para pihak. Perjanjian sudah sah dan mengikat apabila telah tercapai kesepakatan mengenai hal- hal pokok dari perjanjian walaupun tidak dilakukan secara tertulis.

Karena sesuai dengan Pasal 1320 KUH Perdata, tidak diperlukan adanya

formalitas tertentu untuk membuktikan adanya kesepakatan. Dengan demikian kerjasama ini memenuhi asas konsensual.

  • 2. Asas itikad baik

Menurut Pasal 1338 ayat (3)KUH Perdata, semua perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Itikad baik mempunyai pengertian

sebagai berikut :

  • a) Perjanjian harus dilaksanakan sesuai dengan isi perjanjian b) Perjanjian harus

dilaksanakan sesuai dengan kebiasaan

  • c) Perjanjian harus dilaksanakan sesuai dengan undang-undang

  • d) Perjanjian harus dilaksanakan sesuai dengan kepatutan dan keadilan

Memperhatikan pengertian itikad baik di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kerjasama antara dokter dengan PBF ini tidak memenuhi asas itikad baik. Hal ini karena kerjasama tersebut tidak sesuai dengan undang-undang, keadilan, dan kepatutan. Berkaitan dengan undang- undang yang dilanggar yaitu Kepmenkes No. 3987/A/SK/1973, dengan kepatutan dan keadilan karena kerjasama tersebut merugikan pasien.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

  • 3. Asas kekuatan mengikat

Asas kekuatan mengikat ini intinya berisi bahwa berlakunya suatu perjanjian yang dibuat oleh para pihak mempunyai kekuatan yang samadengan undang-undang. Dengan demikian barangsiapa melanggarperjanjian, maka sama dengan melanggar undang-undang, akan dikenakan sanksi, sedangkan dalam kerjasama antara dokter dengan PBF, tidak ada sanksi hukum bagi yang melanggar, yang ada sanksi sosial.Dari uraian tersebut, tampaklah bahwa kerjasama tersebut jika dikaitkan dengan asas-asas perjanjian yang terdapat dalam KUH Perdata,sesuai dengan asas konsensual, akan tetapi tidak sesuai dengan asas kebebasan berkontrak, asas itikad baik, dan asas kekuatan mengikat.

Sumber :

  • 1. R. Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Bina Cipta, Bandung, 1994, hal.49

  • 2. J.M. Van donne GR. Van Der Burght, Hukum Perjanjian, terjemahan Lely Niwan, Kursus Hukum Perikatan Bagian 1a, dewan Kerja sama Hukum Belanda dengan Indonesia Proyek Hukum Perdata, Yogyakarta, 1987, hal.6

  • 3. Oemar Seno Adji, Pofesi Dokter, Jakarta,Erlangga, 1991, hal. 204

  • 4. CST.

Kansil,

1991.

Pengantar

Hukum Kesehatan Indonesia. Jakarta : Rineka

Cipta.

MASALAH TERKAIT PROFESI KEDOKTERAN

28. Menolak dan atau tidak membuat surat keterangan medis dan atau visum et repertum sesuai dengan standar keilmuan yang seharusnya wajib dikerjakan.

Hal ini bertentangan dengan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) pasal 7 yang menyatakan bahwa dokter hanya memberi keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya. Dalam penjelasan dan pedoman pelaksanaan pasal tersebut dinyatakan bahwa visum et repertum termasuk dalam keterangan tertulis yang sering diminta kepada dokter. Visum et repertum dimintakan kepada seorang dokter terkadang berkaitan dengan perkara yang berkaitan dengan kepolisian dan kejaksaan. Oleh karena itu visum harus dibut dengan teliti dan mudah dipahami berdasarkan apa yang dilihat. Selain itu, visum et repertum harus dibut seobjektif mungkin tanpa pengaruh dari pihak yang berkepentingan dalam perkara sesuai dengan standar keilmuan yang dimiliki. Jika hal ini tidak dilakukan maka seorang dokter dapat dikenai sanksi etik kedokteran yang diselesaikan oleh Majelis Kehoormatan Etika Kedokteran ( MKEK ) yang dibentuk oleh IDI dapat berupa pembinaan terhadap dokter yang bersangkutan, larangan untuk melakukan praktik kedokteran. Sumber : Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia