Anda di halaman 1dari 5

NAMA NIM

: KHAIRIZAL AKBAR : 7103330020

BAB 2 MENGAPA AKUNTANSI FORENSIC? Mengapa akuntansi forensic? Karena ada fraud, baik berupa potensi maupun nyatanyata fraud. Fraud menghancurkan pemerintahan maupun bisnis. Fraud berupa korupsi lebih luas daya penghancurnya. Akuntansi forensic mengamati dan memahami gejala fraud secara makro, pada tingkat perekonomian Negara. CORPORATE GOVERNANCE Meskipun sorotan utama mengenai fraud pada umumnya, dan korupsi khususnya, adalah pada kelemahan corporate governance atau kelemahan di sector korporasi, namun prinsip umumnya adalah kelemahan di sector governance, baik korporasi maupun pemerintahan. Dampak kelemahan governance di koperasi secara teoritis akan dihukum oleh pasar modal berupa lebih rendahnya hargs saham mereka. Khusus umtuk Indonesia perhatian akuntan forensik adalah pada penemuan fraud dalam arti korupsi.gerakan memerangi korupsi adalah gerakan yang bersifat global.gerakan global ini bukan sekedar basa basi.inni terbukti dari dukungan negara negara maju yang mempunyai undang undang seperti Foreign Corrupt practice di Amerika Serikat,bank dunia,amupun traktat internasional di bidang ekstradisi dan mutual legal assistance. CORRUPTION PERCEPTIONS INDEX Indeks Persepsi Korupsi (CPI) adalah indeks mengenai persepsi korupsi di suatu Negara. Indeks ini diumumkan setiap tahunnya oleh Transparency International (TI). TI adalah organisasi masyarakat madani global yang memelopori pemberantasan korupsi. TI mempertemukan bangsa-bangsa dalam suatu koalisi untuk mengakhiri dampak buruk yang dasyat dari korupsi terhadap manusia di seluruh dunia. Misi TI adalah menciptakan perubahan menuju dunia yang bebas korupsi.

GLOBAL CORRUPTION BAROMETER Global Corruption Barometer (GCB) merupakan survey pendapatan umum yang dilakukan sejak tahun 2003. GBC berupaya memahami bagaimana dan dengan cara apa korupsi mempengaruhi hidup orang banyak, dan memberikan indikasi mengenai bentuk dan betapa luasnya korupsi, dari sudut pandang anggota masyarakat diseluruh dunia, Survey dilakukan oleh Gallup international atas nama transparency internasional.GCB berupaya memahami bagaimana dan dengan cara apa korupsi mempengaruhi hidup orang banyak dan memberikan indikasi mengenai bentuk dan betapa luasnay korupsi dari sudut pandang anggota masyarakat di seluruh dunia. GCB ingin mengetahui dari masyarakat pada umumnya,sektor yang paling korup,bagian dari hidup sehari hari yang paling dipengaruhi oleh korupsi,apakah korupsi meningkat atau menurun dari masa lalu dan apakah dimasa mendatang korupsi menungkat atau menurun?GCB mendalami lebih lanjut dan menyajikan informasi mengenai : berapa seringnya keluarga harus membayar uang suap? Bagaimana pembayaran suap terjadi?apakah suap dilakukan untuk mendapatkan akses ke publik service ? dan berapa uang suap ang dibayarkan? Korupsi dalam GCB berarti uang sogokan atau pembayaran tidak resmi untuk mendapatkan suatu pelayanan.secara umum bukan hanya Indonesia,temuan utama survey GCB 2007 adalah sebagai berikut : 1. Rakyat jelata,baik di negara berkembang maupun di negara industri yang sangat maju adalah korban utama korupsi.mereka juga merupakan kelompok yang paling pesimis bahwa korupsi di kemudian hari akan berkembang. 2. Sekitar 1 dari 10 orang di dunia harus membayar uang suap.di beberapa wilayah,seperti asia fasifik dan eropa tenggara penyuapan dilaporkan meningkat 3. Penyuapan marak dalam urusan kepolisian,sistem peradilan dan urusan izin-izin 4. Masyarakat umum percaya bahwa lembaga-lembaga terkorup dalam masyarakat mereka adalah partai politik,parlemen,kepolisian dan sistem peradilan. 5. Separuh dari mereka yang diwawancarai memperkirakan korupsi di negara mereka akan meningkat dalam 3 tahun mendatang.ini merupakan peningkatan yang signifikan dibandingkan empat tahun sebelumnya. 6. Separuh dari mereka yang diwawancarai berpendapat bahwa upaya pemerintah mereka dalam memerangi korupsi tidaklah efektif.

BRIBE PAYERS INDEX Bride Payers Index (BPI) tahun 2008. Pertanyaan yang diajukan kepada para eksekutif bisnis senior : berapa besar kemungkinannya perusahaan asing melakukan penyuapan (bribery). KORUPSI DAN IKLIM INVESTASI KAJIAN PERC Political and Economic Risk Consultancy, Ltd. (disingkat PERC) melakukan kajian untuk menilai risiko politik dan ekonomi suatu Negara. Kajian-kajian ini merupakan referensi bagi pebisnis yang akan dan sudah menanamkan modalnya di Negara yang bersangkutan. Salah satu kajian PERC menunjukan tingkat korupsi menurut persepsi eksekutif asing di negara tertentu.survey terakhir menunjukan PERC mennyajikan skor korupsi untuk 14 perekonomian asia berdasarkan survey terhadap lebih dari 1.700 eksekutif.survey ini dilakukan oleh political and economic risk consultancy,ltd. Disiarkan melalui AFP pada tanggal 8 april 2009 australia dan amerika serikat dimasukkan dalam survey dan dalam tabel di bawah,sekedar sebagai pembanding. Untuk tahun 2010,posisi Indonesia menurut PERC masih terkorup diantara negara negara kunci di asia,yakni 16 negara besar.ringkasan pemberitaan reuters,senin 8 maret 2010. 1. Indonesia memperoleh skor 9,07 dalam survey 2010.dan 7,69 dalam survey 2009 skor tertinggi adalah 10 2. Korupsi begitu berkecamuk di semua tingkat.upaya presiden SBY untuk memerangi masalah suap terhalang oleh politisasi terhadap masalah itu oleh pihak pihak yang merasa terancam.perang terhadap korupsi terancam akan terkorup juga 3. Survey 2010 menanyakan 2.174 eksekutif di tingkat menengah dan atas dari negara negara di asia,australia,dan amerika serikat. 4. SesudahIndonesia,ada kamboja,vietnam,filifina,thailand,india,cina,malaysia,taiwan,korea selatan,macao,jepang,amerika serikat,hongkong australia dan yang paling yang tidak korup adalah singapura.

GLOBAL COMPETITIVENESS INDEX Tingkat kemampuan bersaing suatu Negara mencerminkan sampai seberapa jauh Negara tersebut memberikan kemakmuran kepada warga negaranya. World Economic Forum menerbitkan laporannya (The Global Competitiveness Report) yang meneliti factor-faktor yang memungkinkan perekonomian suatu bangsa dapat mempunyai pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran jangka panjang yang berkesinambungan. APAKAH KAJIAN MENGENAI KORUPSI BERMANFAAT Beberapa kajian global tentang korupsi oleh lembaga-lembaga internasional, telah dibahas sebelumnya. Kajian itu adalah CPI, GCB, BPI, PERC, dan GCI. Korupsi seperti komoditas ekonomi, ada permintaan dan penawaran. CPI, GCB, PERC dan GCI merupakan kajian sisi permintaan. Sedangkan BPI merupakan kajian dari sisi penawaran. Mungkin menyakitkan membaca jian kajian global tentang persepsi korupsi di Indonesia.pilihannay adalah,kita abaikan kajian kajian tersebut atau kita membuat kajian khusus mengenai Indonesia.barangkali yang terbaik adalah tidak mengabaikan kajian kajian tersebut dan buat kajian khusus Indonesia. Dengan membandingkan survey global tersebut,kita dapat menarik dua kesimpulan. Pertama, kajian yang beraneka ragam itu secara konsisten menyimpulkan persepsi tentang korupsi di Indonesia,lembaga lembaga terkorup,upaya pemerintah Indonesia dan persepsi mengenai korupsi di masa mendatang. Kedua,Indonesia bukan negara terkorup.dalam tabel, Indonesia tidak termasuk dalam daftar peringkat negara negara terkorup.masalahnya,segi besaran ekonomi,Indonesia tidaklah setara dengan mereka. Di tingkat pelaksana pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi diperlukan kajian yang lebih fokus pada masalah pada masalah tertentu.

SURVEI INTEGRASI OLEH KPK Setiap tahun KPK melakukan survey integritas. Survey ini merupakan wewenang KPK dalam pelaksanaan tugas koordinasi dan supervise. KPK berwenang melakukan pengawasan, penelitian, atau penelaahan terhadap instansi yang melaksanakan pelayanan public

KPK memberikan rekomendasi pencegahan korupsi terutama kepada departemen dan instansi yang memiliki skor integritas sector public dibawah rata-rata. KPK terus memonitoring terhadapberbagai sector pelayanan public yang ada di departemen dan instansi.

Tujuan survey ini adalah : 1. Menelusuri akar permasalahan korupsi di sektor pelayanan publik. 2. Mengubah perspektif layanan dari orientasi lembaga penyedia layanan publik ke perspektif pelanggan. 3. Mendorong lembaga publik mempersiapkan upaya pencegahan korupsi yang efektif di wilayah dan layanan yang rentan terjadinya korupsi

Hasil survey adalah sebagai berikut : 1. Rata rata skor integritas sektor publik dari 30 departemen tingkat pusat yang di survey adalah 5,33.skor ini diukur dari skala 1 sampai 10 dimana 10 adalah penilain terbaik. 2. Sebelas departemen mendapat skor integritas sektor publik di bawah rata rata.mereka adalah depatemen kelautan dan perikanan,mahkamah agung,deparrtemen kesehatan,pt pln,dll. 3. Petugas pelayanan publik masih berprilaku koruptif.terlihat dari 31% responden yang merasa ada prosedur layanan.selain itu 29% responden menyatakan petugas di unit layanan terbiasa menerima tip,hadiah,atau sejenisnya. 4. Prilaku itu didukung oleh tidak adanya transparansi dan informansi yang jelas dan berkaitan dengan biaya dan waktu yang di butuhkan dalam pengurusan layanan 5. Masyarakat pengguna layanan sektor publik masih bersikap toleran terhadap prilaku koruptif.di 10 unit layanan di erbagai departemen,mayoritas penggunaan layanannya menganggap pemberian imbalan merupakan hal yang wajar.bahkan 20% pengguna layanan publik mengaku pernah menawarkan tip,hadiah,dan imbalan lainnya kepada petugas untuk mempercepat layanan .besarnya biaya tambahan bervariasi dari kurang 2,5 % hingga lebih dari 20% dalam nilai nominal,antara Rp100.000 hingga Rp150 juta.