Anda di halaman 1dari 5

Santrock, John. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humanika. Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar.

Jakarta: Gafindo Surya. 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung : Pustaka Bani Quraissy. Dirfini. 2010. Social Learning Theory, (Online), (http://dirfini.multiply.com), diakses 30 Agustus 2012.

Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) Teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory) merupakan sebuah perluasan dari teori perilaku yang tradisional. Pada awalnya teori pembelajaran sosial ini, dinamakan sebagai teori sosial kognitif oleh Albert Bandura (Moore,2002). Kemudian dikembangkan lagi menjadi teori pembelajaran sosial. Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar berperilaku. Tetapi lebih memberikan penekanan pada efek-efek dan isyarat-isyarat pada perilaku serta proses-proses mental internal. Teori pembelajaran sosial menyatakan bahwa faktor-faktor sosial, kognitif, dan tingkah laku, mempunyai peranan penting dalam pembelajaran (Santrock, 2001). Faktor kognitif akan mempengaruhi wawasan tentang pemahaman dan pola pikir akan segala fenomena yang ada di alam semesta, sementara faktor sosial termasuk perhatian dan kepedulian terhadap tingkah laku orang tua, keluarga, serta lingkungannnya akan mempengaruhi tindakan dan tingkah laku. Dalam pandangan sosial manusia tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak dipaksakan oleh kekuatan-kekuatan dari luar. Teori pembelajaran sosial menganggap manusia sebagai makhluk yang aktif, yang berupaya membuat pilihan, menentukan keputusan, dan menggunakan proses-proses perkembangan yang ada untuk menyimpulkan kejadian serta komunikasi yang baik dengan orang lain. Perilaku manusia tidak ditentukan oleh pengaruh lingkungan dan sejarah perkembangan seseorang. Dalam hal ini, manusia cenderung bersifat selektif dan bukan entity yang pasif serta mudah dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.

Teori Bandura menjelaskan perilaku individu dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh dalam teori perkembangan belajar ini. Contohnya, seseorang yang hidupnya di lingkungan keras yang masyarakatnya cenderung tidak taat pada agama dan selalu meminum minuman keras, maka dia cenderung juga akan bertingkah laku yang sama, yakni tidak taat pada agama dan meminum minuman keras. Namun tak menutup kemungkinan bila seorang tersebut akan menganggap bahwa tidak taat pada agama dan meminum minuman keras itu tidak baik. Teori belajar ini juga dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana seseorang belajar dalam keadaan atau lingkungan yang sebenarnya. Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa tingkah laku (B=behavior), lingkungan (E=Environment), dan kejadian-kejadian internal pada seseorang yang mempengaruhi presepsi dan aksi (P=Perception) merupakan hubungan yang saling berpengaruh atau berkaitan (interlocking). Prosedur-prosedur Social Learning Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan), dimana keduanya

merupakan prosedur-prosedur social learning. Berikut ini penjelasan mengenai prosedurprosedur social learning. Conditioning Prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku sosial dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan reward(hadiah) dan punishment (hukuman). Dasar pemikirannya yaitu sekali seseorang mempelajari perbedaan antara perilaku-perilaku yang menghasilkan ganjaran (reward) dengan perilaku-perilaku yang menagkibatkan hukuman (punishment), sehingga dia bisa memutuskan sendiri perilaku mana yang akan dia perbuat. Immitation Dalam hal ini, orang tua dan guru diharapkan memainkan peran penting sebagai seorang model / tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral. Berkaitan dengan pengajaran di kelas, guru hendaknya menempatkan dirinya sebagai tokoh perilaku bagi peserta didik. Proses kognitif

peserta didik hendaknya mendapat perhatian dan dukungan dari guru maupun lingkungan sekitarnya. Perhatian yang dimaksud adalah perhatian terhadap perbedaan individual, kesediaan, motivasi, dan proses kognitif masing-masing peserta didik. Selain itu, hal lain yang harus diperhatikan ialah kecakapan peserta didik dalam pembelajaran untuk belajar, termasuk dalam penyelesaian masalah dalam pembelajaran. Kualitas kemampuan peserta didik dalam melakukan perilaku sosial hasil pengamatan terhadap model tersebut, antara lain bergantung pada ketajaman persepsinya mengenai ganjaran dan hukuman yang berkaitan dengan benar dan salahnya perilaku yang ia tiru dari model tadi. Selain itu, tingkat kualitas imitasi tersebut juga bergantung pada persepsi peserta didik tentang siapa yang menjadi model. Maksudnya, semakin piawai dan berwibawa seorang model, semakin tinggi pula kualitas imitasi perilaku sosial dan moral peserta didik tersebut. Jadi dalam Social Learning, anak belajar karena contoh lingkungan. Interaksi antara anak dengan lingkungan akan menimbulkan pengalaman baru bagi anak tersebut.

Unsur-unsur Pembelajaran Social Learning Proses pembelajarn social learning menurut teori Bandura, terjadi dalam tiga komponen, yaitu: 1. Perilaku Model (Contoh) Individu melakukan pelajaran dengan proses mengnal perilaku model (perilaku yang akan ditiru), kemudian mempertimbangkan dan memutuskan untuk meniru sehingga menjadi perilakunya sendiri. Perilaku model adalah berbagai perilaku yang dikenal di lingkungannya. Apabila bersesuaian dengan keadaan dirinya (minat, pengalaman, cita-cita, tujuan dan sebagainya), makaperilaku itu akan ditiru. 2. Pengaruh Perilaku Model Untuk memahami pengaruh perilaku model, maka perlu diketahui fungsi model itu sendiri, yaitu: Untuk memindahkan informasi ke dalam diri individu. Memperkuat atau memperlemah perilaku yang telah ada. Memindahkan pola-pola perilaku yang baru. 3. Proses Internal Seseorang

Model-model yang ada di lingkungan senantiasa memberikan rangsangan kepada individu yang membuat individu memberikan tindak balas apabila terjadi hubung kait antara rangsangan dengan dirinya. Macam-macam model boleh berasal dari ibu, bapak, orang tua, orang dewasa, guru, pemimpin, teman sebaya, anggota keluarga, anggota masyarakat, tokohtokoh yang berprestis seperti penyanyi, pahlawan, bintang film, dan sebagainya. Dalam kaitan dengan pembelajaran, ada tiga macam model, yaitu: Live Model: model yang berasal dari kehidupan nyata, misalnya perilaku orang tua di rumah, perilaku guru, teman sebaya, atau perilaku yang dilihat sehari-hari di lingkungan. Simbolic Model: model yang berasal dari suatu perumpmaan, misalnya dari cerita buku, radio, TV, film atau dari berbagai peristiwa lainnya. Verbal Description Model: model yang dinyatakan dalam suatu uraian verbal (kata-kata), misalnya petunjuk atau arahan untuk melakukan sesuatu seperti resep yang memberikan arahan bagaimana membuat suatu masakan.

Albert Bandura juga mengemukakan bahwa seorang individu belajar banyak tentang perilaku melalui peniruan/modeling, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang diterimanya. Proses belajar semacam ini disebut observational learning atau pembelajarn melalui pengamatan. Bandura juga megemukakan bahwa teori pembelajaran sosial membahas tentang bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan melalui penguat (reinforcement) dan observational learning, cara pandang dan cara pikir yang kita miliki terhadap informasi, begitu pula sebaliknya, bagaimana perilaku kita mempengaruhi lingkungan kita dan menciptakan penguat (reinforcement) dan observational proses opportunity. Teori pembelajaran, yang belajar mana sosial bentuk

menekankan observational

learning sebagai

pembelajarannya adalah seseorang mempelajari perilaku dengan mengamati dengan cara sistematis imbalan dan hukuman yang diberikan kepada orang lain.Dalam observational learning terdapat empat tahap belajar dari proses pengamatan atau modeling. Proses yang terjadi dalam observational learning tersebut antara lain: a. Atensi, dalam tahapan ini seseorang harus memberikan perhatian terhadap model dengan cermat.

b. Retensi, tahapan ini adalah tahapan mengingat kembali perilaku yang ditampilkan oleh model yang diamati, maka seseorang perlu memiliki ingatan yang bagus terhadap perilaku model. c. Reproduksi, dalam tahapan ini seseorang yang telah memberikan perhatian untuk mengamati dengan cermat dan mengingat kembali perilaku yang telah ditampilkan oleh modelnya, maka berikutnya adalah mencoba menirukan atau mempraktekkan perilaku yang dilakukan oleh model. d. Motivational, pada tahapan ini seseorang harus memiliki motivasi untuk belajar dari model. Ada dua jenis pembelajaran melalui pengamatan (observational learning), yaitu: 1. Pembelajaran melalui pengamatan dapat terjadi melalui kondidsi yang dialami orang lain atau vicarious conditioning. 2. Pembelajaran melalui pengamatan meniru perilaku suatu model meskipun model itu tidak mendapatkan penguatan atau pelemahan pada saat pengamat itu sedang memperhatikan model itu mendemonstrasikan sesuatu yang ingin dipelajari oleh pengamat tersebut dan mengharapkan mendapat pujian dan penguatan apabila menguasai secara tuntas apa yang dipelajari itu. Model tidak harus visualisasi tiruan sebagai model (Nur, M. 1998:4). Teori belajar sosial menekankan, bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada individu tidak terjadi secara kebetulan. Lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan (modelling), dan pemodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu.