Anda di halaman 1dari 28

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR PADA RUMAH TRADISIONAL SUKUN SUNDA - JAWA BARAT

Suku Sunda merupakan salah satu suku yang menempati wilayah propinsi jawa barat. Daerah yang didiami oleh suku Sunda disebut tatar sunda atau tanah pasundan. Suku Sunda merupakan salah satu suku yang sebagian besar penduduknya mendiami daerah Jawa Barat, dan bertetangga dengan beberapa suku lainnya sepeti Banten, Cirebon, serta suku Badui. Keberadaan suku Sunda di daerah Jawa Barat hingga saat ini masih menjadi sebuah misteri bagi para peneliti. Hal ini disebabkan karena tidak adanya cerita cerita yang dapat dijadikan sumber untuk mengungkap asal usul suku ini. Berpindah dari asal usul mengenai suku Sunda, maka dalam makalah ini akan diulas tentang arsitektur rumah tradisional dari suku Sunda yang tidak pernah mengalami perubahan dari sisi strukturnya, walaupun di sekitar daerah yang didami oleh masyarakat suku Sunda kini telah berdiri bangunan bagunan megah yang memperlihatkan keindahan sebagai salah satu hasil dari arsitektur modern. RUMAH TRADISIONAL Secara umum rumah tradisional Sunda merupakan sebuah rumah panggung sama seperti rumah rumah tradisional lainnya yang ada di Indonesia. Bentuk rumah panggung ini bertujuan untuk menghindari masalah masalah dari lingkungan yang bisa mengancam penghuninya. Dilihat berdasarkan bentuk atapnya, maka rumah tradisional Sunda terbagi atas beberapa ciri yang berbeda satu dengan yang lainnya:

KETERANGAN 1. Jolopong (sebutan untuk rumah dengan atap pelana yang betuknya memanjang) 2. Perahu Kumureb (sebutan untuk rumah dengan bentuk atap perisai oleh masyarakat sunda, disebud perahu kumureb karena bentuk atap seperti perahu terbalik).

3. Julang Ngapak (dikarenakan bentuk atapnya seperti sayap burung yang sedang terbang). 4. Badak Heuay (dikarenakan bentuk atapnya seperti seekor badak yang sedang membuka mulutnya). 5. Tagog Anjing (dikarenakan bentuk atapnya seperi seekor anjing yang sedang duduk). 6. Capit Gunting (dikarenakan bagian atas atapnya yang saling menyilang berbentuk gunting).

PONDASI Bentuk pondasi rumah tradisional Sunda mirip dengan pondasi umpak yang dipakai untuk rumah rumah tradisional jaman sekarang. Perbedaan yang dapat dilihat dari pondasi rumah tradisional Sunda dengan pondasi umpak yang sering dipakai sekarang adalah bentuk pondas yang unik yaitu kolom bangunan hanya diletakan di atas sebuah batu datar yang sudah terbentuk di alam. Tujuan pembuatan pondasi seperti ini adalah untuk menghindari keretakan atau pada kolom bangunan pada saat terjadi gempa, sedangkan bentuk lantai panggung bertujuan untu memungkinkan sirkulasi udara dari bawah lantai dapat berjalan baik, sehingga kemungkinan terjadi kelembaban pada lantai bangunan dapat dihindari.

Pondasi Tradisional LANTAI Lantai rumah tradisional Sunda terbuat dari pelupuh (bamboo yang sudah dibelah). Alasan pembuatan lantai dari pelupuh adalah seperti yang telah dijelaskan di atas yaitu agar udara yang melewati kolong rumah dapat masuk ke ruang ruang, selain itu dengan mengunakan lantai bambu, tingkat kelembaban di dalam rumah jugah akan berkurang, mengingat ketinggian lantai rumah tradisional Sunda tidak seperti rumah tradisional lain pada umumnya yaitu berkisar antara 50 60 meter dari permukaan tanah.

Detail Hubungan Struktur Lantai

Detail Balok Penahan Lantai

Struktur Lantai dan Detail

Tinggi Lantai dari Muka Tanah DINDING, PINTU dan JENDELA Dinding, pintu, dan jendela memungkinkan udara dapat melewatinya. Dinding bangunan terbuat dari anyaman bambu yang dapat dilewati udara, jendela yang selalu terbuka dan hanya ditutupi kisi-kisi bambu maka udara dapat bebas masuk dalam ruangan, sehingga suhu didalam ruangan tidak panas. Dinding yang ringan terbuat dari anyaman bambu yang dapat menyerap dan mencegah terjadinya panas akibat radiasi matahari sore hari. Selain itu material dinding yang terbuat dari anyaman bambu memungkinkan udara untuk masuk ke dalam rumah

Material Dinding

Konstruksi Dinding dan Detail Selain itu ada juga pintu dan jendela yang mempunyai daun pintu dan daun jendela tunggal. Materialnya terbuat dari kisi kisi bambu yang dapat ditembus oleh udara, hal ini membuat suasana di dalam rumah tetap nyaman

Jenis Pintu dan Jendela PLAFON Plafon selain sebagai penghias langit langit rumah juga berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan barang. Kerangka plafon terbuat dari susunan bambu bulat, dan di atasnya diletakan pelupuh sebagai bahan penutup plafon.

Bentuk dan Material Plafon

ATAP Atap sebagai mahkota dari sebuah bangunan mempunyai fungsi untuk melindungi penghuni yang berada di dalamnya. Atap dari rumah Sunda terbuat dari ijuk, alasan pemilihan ijuk sebagai material atap karena ijuk merupakan material yang dapat menyerap panas dengan baik sehingga tidak menimbulkan suasana gerah di dalam rumah. Tritisan pada sisi depan rumah mempunyai panjang 2 meter. Hal ini membuat dinding bangunan tidak langsung terkena cahaya matahari sehingga dinding sebagai penyekat tidak panas dan ruang di dalamnya tetap dingin. Selain itu ada juga sisi yang disebut sebagai bidang atap terbuat dari anyaman bambu dan berfungsi sebagai ventilasi atap

Tritisan

Bidang Atap

Bahan Penutup Atap

Struktur Atap dan Detail LETAK dan ORIENTASI

Rumah tradisional sunda mempunyai tata letak yang sangat rapi hal ini merupakan pengaruh dari kepercayaan masyarakat bahhwa rumah tidak boleh menghadap ke bumi (rumah) adat, dengan demikian orientasi dari rumah tradisional sunda selau mengarah ke timur dan barat POLA KAMPUNG TRADISIONAL

Keterangan Denah Komplek Rumah Adat Kampung Pulo : 1. Rumah Kuncen 2. Rumah Adat 3. Rumah Adat

4. Rumah Adat 5. Rumah Adat 6. Rumah Adat 7. Mesjid Kampung Pulo


Ternyata saya melewati sebuah perkampungan, namanya kampung pulo. suasana beda sekali dari kampung pada umumnya. disana cuma ada 6 rumah dan satu musholla yang sangat kecil. rumahnya berbentuk rumah panggung, khas banget tatar sunda. Menurut cerita, mengapa rumah tersebut hanya ada 6 buah saja. Embah Dalem Arif Muhammad, Beliau adalah yang menyebarkan Agama Islam di kampung pulo. lalu beliau wafat dan beliau meninggalkan 6 orang anak wanita dan satu orang pria. oleh karena itu, kampung pulo terdapat 6 buah rumah adat, jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi serta yang berdiam di rumah tersebut tidak boleh lebih dari 6 kepala keluarga. jika seorang anak sudah dewasa kemudian menikah maka paling lambat 2 minggu setelah itu harus meninggalkan rumah dan harus keluar dari lingkungan keenam rumah tersebut.

Konsep arsitektur tradisional Sunda menyatu dengan alam

Secara umum konsep dasar rancangan arsitektur tradisional masyarakat Sunda adalah menyatu dengan alam. Alam merupakan sebuah potensi atau kekuatan yang mesti dihormati serta dimanfaatkan secara tepat di dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan rasa hormat tersebut tercermin pada sebutan bumi bagi alam yang menunjukan pula bahwa alam adalah tempat tinggal bagi masyarakat Sunda karena istilah bumi juga digunakan untuk menyebut secara halus rumah atau tempat tinggal orang Sunda. Kompleks bangunan Kampung Pulo (pulau) di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, merupakan salah satu contoh kompleks arsitektur tradisional Sunda yang berpijak pada sebuah konsep menyatu dengan alam. Konsep tersebut disiratkan pada kepercayaan masyarakat setempat terhadap "agama" karuhun urang (nenek moyang kita) yaitu sebuah bentuk sinkretisme antara agama Hindu dan ajaran Islam. Kepercayaan masyarakat terhadap lima pamali (lima larangan atau tabu) yang dua diantaranya melarang menambah jumlah bangunan serta memelihara binatang berkaki empat kecuali kucing ternyata sangat efektif didalam menjaga kelestarian kompleks dengan lingkungannya. Kompleks bangunan di Kampung Pulo terdiri dari enam rumah tinggal dan sebuah musala. Bentuk dan gaya arsitektur bangunan di Kampung Pulo merefleksikan konsep di atas yang tercermin dari cara penataan kompleks yang berpijak pada keselarasan dengan alamnya. Cara penataan bangunan kompleks yang melingkar membentuk huruf U atau disebut ngariung (berkumpul, menyatu) juga menunjukan sistem tatanan sosial atau kekerabatan yang erat antara para penghuninya. Menurut Mangunwijaya rumah yang kita bangun ialah rumah manusia. Oleh karena itu merupakan sesuatu yang sebenarnya selalu dinapasi oleh kehidupan manusia, oleh watak dan kecenderungan-kecenderungan, oleh nafsu dan cita-citanya. Rumah adalah citra sang manusia pembangunnya (Mangunwijaya, 1995). Citra yang nampak di Kampung Pulo adalah pola hidup sederhana, praktis serta berusaha menjunjung tinggi nilai

persaudaraan. Hal ini diperlihatkan dengan bentuk bangunan yang sederhana. Sedangkan wujud interaksi dengan alam diperlihatkan pada konsep menempatkan bangunan-bangunan tersebut yang membujur dari timur ke barat dengan cara mengikuti pola peredaran Matahari. Tidak berusaha menentang sifat-sifat alam semesta. Dampaknya sinar tidak langsung menerpa ruangan didalamnya sehingga sirkulasi suhu dan cahaya di dalam ruangan berubah secara alamiah Konsep arsitektur tradisional Sunda menyatu dengan alam Secara umum konsep dasar rancangan arsitektur tradisional masyarakat Sunda adalah menyatu dengan alam. Alam merupakan sebuah potensi atau kekuatan yang mesti dihormati serta dimanfaatkan secara tepat di dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan rasa hormat tersebut tercermin pada sebutan bumi bagi alam yang menunjukan pula bahwa alam adalah tempat tinggal bagi masyarakat Sunda karena istilah bumi juga digunakan untuk menyebut secara halus rumah atau tempat tinggal orang Sunda. Kompleks bangunan Kampung Pulo (pulau) di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, merupakan salah satu contoh kompleks arsitektur tradisional Sunda yang berpijak pada sebuah konsep menyatu dengan alam. Konsep tersebut disiratkan pada kepercayaan masyarakat setempat terhadap "agama" karuhun urang (nenek moyang kita) yaitu sebuah bentuk sinkretisme antara agama Hindu dan ajaran Islam. Kepercayaan masyarakat terhadap lima pamali (lima larangan atau tabu) yang dua diantaranya melarang menambah jumlah bangunan serta memelihara binatang berkaki empat kecuali kucing ternyata sangat efektif didalam menjaga kelestarian kompleks dengan lingkungannya. Kompleks bangunan di Kampung Pulo terdiri dari enam rumah tinggal dan sebuah musala. Bentuk dan gaya arsitektur bangunan di Kampung Pulo merefleksikan konsep di atas yang tercermin dari cara penataan kompleks yang berpijak pada keselarasan dengan alamnya. Cara penataan bangunan kompleks yang melingkar membentuk huruf U atau disebut ngariung (berkumpul, menyatu) juga menunjukan sistem tatanan sosial atau kekerabatan yang erat antara para penghuninya. Menurut Mangunwijaya rumah yang kita bangun ialah rumah manusia. Oleh karena itu merupakan sesuatu yang sebenarnya selalu dinapasi oleh kehidupan manusia, oleh watak dan kecenderungan-kecenderungan, oleh nafsu dan cita-citanya. Rumah adalah citra sang manusia pembangunnya (Mangunwijaya, 1995). Citra yang nampak di Kampung Pulo adalah pola hidup sederhana, praktis serta berusaha menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Hal ini diperlihatkan dengan bentuk bangunan yang sederhana. Sedangkan wujud interaksi dengan alam diperlihatkan pada konsep menempatkan bangunanbangunan tersebut yang membujur dari timur ke barat dengan cara mengikuti pola peredaran Matahari. Tidak berusaha menentang sifat-sifat alam semesta. Dampaknya sinar tidak langsung menerpa ruangan didalamnya sehingga sirkulasi suhu dan cahaya di dalam ruangan berubah secara alamiah Suhunan jolopong dan julang ngapak

Bentuk atap atau suhunan bangunan di Kampung Pulo terdiri dari lima buah bangunan menggunakan suhunan Panjang atau disebut juga suhunan Jolopong (membujur, tergolek lurus) dengan atap dari genting. Sedangkan satu lagi menggunakan bentuk suhunan Julang Ngapak (burung Julang sedang mengepakan sayap) dengan bahan ijuk. Bangunan yang disebutkan terakhir ini merupakan prototipe dari bangunan tradisional Sunda asli hasil renovasi oleh pihak pemerintah beberapa tahun yang lalu dan selanjutnya ditetapkan sebagai cagar budaya. Bentuk suhunan Jolopong dianggap sebagai bentuk atap paling tua. Hal ini dikaitkan dengan bentuk atap bangunan saung (dangau) yang sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat tradisional. Bentuk atau gaya arsitektur bangunan tidak dapat dilepaskan dari kondisi atau status sosial penghuninya, seperti yang dinyatakan oleh Anthony King dalam bukunya Building and Society (1980) bahwa, "building result from social needs...Their size, appearance, location and form are governed not simply by physical factors (climate, materials or topography) but by a society's ideas, its forms of economic and social organization, its distribution of resources and authority, its activities, and the beliefs and values which prevail at any one period of time. Bentuk suhunan Jolopong juga menyiratkan status sosial masyarakatnya yang berasal dari golongan bawah, sederhana, berpikiran praktis serta menggambarkan nilai-nilai yang dijunjungnya, antara lain membangun hubungan secara horizontal sesama manusia. Dalam ajaran Islam hubungan sesama manusia termasuk salah satu ajaran utamanya. Coba bandingkan dengan bentuk atap bangunan arsitektur modern yang bervariatif, kompleks, rumit dan sekaligus sebagai tanda atau "teks" yang dapat dibaca mengenai status sosial dan citra pemilik atau penghuninya Bentuk suhunan Julang Ngapak memiliki empat bidang, dua diantaranya disusun seperti halnya suhunan Jolopong. Hanya pada suhunan Julang Ngapak terdapat atap tambahan di kedua sisinya - di depan dan di belakang - dengan kemiringan yang lebih landai yang disebut leangleang. Pada suhunan Julang Ngapak atapnya menggunakan anyaman ijuk. Di kedua ujung atasnya diikat dengan teknik capit hurang (jepitan udang). Menurut arsitek Belanda Maclaine Pont, suhunan Julang Ngapak termasuk gaya arsitektur Sunda Besar yang bercirikan bentuk atap yang mencuat di kedua ujungnya dan adanya tameng-tameng yang menggantung di depannya (Arsitektur Tradisional Daerah Jawa Barat,1982) Sirkulasi udara yang menyehatkan Seluruh bangunan di Kampung Pulo berdiri di atas batu penyangga atau disebut tatapakan (tempat bertumpu atau penyangga) yang diletakan pada setiap pojok serta bagian konstruksi yang menahan beban cukup besar. Dengan cara demikian posisi lantai tidak langsung bersentuhan dengan permukaan tanah sehingga udara lembab dari tanah maupun debu dapat dihindarkan. Bagian lantaiya dibuat dari palupuh yakni lembaran bambu hasil cercahan atau tumbukan yang menyatu saling mengikat. Hasil cercahan tersebut membentuk celah-celah memanjang

tidak beraturan yang berfungsi sebagai ventilasi udara dari bawah serta dapat digunakan untuk membuang debu di atas lantai. Sedangkan bagian dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang disebut bilik berfungsi sebagai penutup bangunan maupun penyekat ruangan. Bilik tersebut memiliki lubang-lubang kecil seperti "pori-pori" yang juga berfungsi sebagai ventilasi untuk menyalurkan udara maupun cahaya dari luar ruangan atau sebaliknya. Dengan demikian suhu di dalam ruangan selalu terjaga secara alami sesuai dengan kondisi cuaca alam di luar. Disamping itu pun tidak perlu mengandalkan cahaya yang masuk sepenuhnya melalui jendela. Sebenarnya pola bangunan dan penggunaan bahan-bahan alami merupakan hal yang lazim di kalangan masyarakat Sunda atau masyarakat tradisional lainnya. Hanya saja penggunaan pada bangunan-bangunan di Kampung Pulo lebih optimal dan tetap dilestarikan. Pada bangunan prototipe suhunan Julang Ngapak daun pintunya juga menggunakan anyaman bambu yang disebut sarigsig (anyaman) sedangkan bangunan lainnya sudah menggunakan daun pintu dari kayu. Keistimewaan dari teknik sarigsig tersebut bisa melihat dari dalam ke keluar tetapi yang dari luar tidak dapat menembus ke dalam. Udara segar dari luar pun masih bisa mengalir melalui celah-celah sarigsig tersebut. Fungsi utama bangunan di Kampung Pulo adalah sebagai tempat tinggal dan aktivitas rumahtangga sehari-hari. Aktivitas lainnya seperti bekerja, bertani, memelihara binatang ternak atau berdagang dilakukan di luar pulo. Dengan demikian kapasitas ruang tetap terjaga utuh dan tidak terjadi pengembangan atau penambahan ruang yang dapat mengubah bentuk bangunan utamanya. Kebutuhan ruang ekstra acapkali mengubah struktur bangunan utama, baik dalam tatanan interior maupun eksterior misalnya dengan cara menambah bangunan tambahan lainnya. Penambahan atau perubahan fungsi bangunan tersebut tidak diperkenankan di Kampung Pulo. Kalaupun terjadi sebuah perubahan, terbatas untuk mengganti beberapa material bangunan yang sifatnya tidak dominan dan signifikan misalnya penggunaan cat, kaca atau genting. Tapi untuk prototipe bangunan adat material di atas samasekali tidak diperkenankan. Secara keseluruhan bangunan tempat tinggal di kompleks Kampung Pulo memiliki sirkulasi udara yang memadai baik siang maupun malam hari karena memanfaatkan bahan dan teknik yang berorientasi pada sifat-sifat alami. Sebuah konsep arsitektur bangunan tradisional yang "tertutup" sekaligus "terbuka" Sejarah kampung pulo Menurut keyakinan masyarakat setempat bahwa mereka merupakan keturunan dari Embah Dalem Arif Muhammad salah satu pemimpin pasukan Mataram yang diutus oleh Sultan Agung untuk menyerang Batavia pada abad ke-17. Ternyata penyerangannya mengalami kegagalan sehingga Embah Dalem Arif Muhammad tidak berani kembali ke Mataram dan untuk selanjutnya menetap dan menyebarkan agama Islam di daerah yang kini disebut Kampung Pulo. Menurut penuturan kuncen setempat Bapak Iri, Embah Dalem Arif Muhammad memiliki 6

orang anak perempuan dan 1 orang anak lelaki. Posisi tempat tinggal ke enam putrinya dibuat berjejer tiga saling berhadapan menghadap ke arah utara dan selatan. Pada bagian ujungnya, yaitu di bagian barat terletak sebuah musala kecil. Bangunan musala merupakan perlambangan bagi anak lelaki satu-satunya yang meninggal saat masih kecil sewaktu akan dikhitan. Penempatan musala di bagian hulu kompleks juga melambangkan lelaki sebagai kepala keluarga. Jumlah bangunan tersebut hingga kini terus dipertahankan. Setiap anak yang sudah berkeluarga tidak diperkenankan lagi tinggal bersama orangtuanya dan wajib keluar kampung dengan diberi tenggang waktu selama dua minggu untuk mempersiapkan kepindahan ke luar pulo tersebut. Namun anak yang sudah menikah tersebut dapat tinggal di rumah orangtua mereka jika orangtuanya meninggal dunia. Proses pergantian tersebut disebut ngaplus (menggantikan). Dengan cara ngaplus maka jumlah anggota keluarga dan bangunan tetap tidak berubah. Salah satu pamali yang lain adalah larangan untuk memelihara binatang besar berkaki empat. Ternyata larangan tersebut berdampak positif bagi kelestarian lingkungan di Kampung Pulo yang luasnya hanya sekira 0,5 ha. Jika diperkenankan memelihara binatang besar dapat mengurangi kapasitas lahan yang tersedia karena binatang tersebut memerlukan lahan atau tempat tersendiri termasuk untuk persediaan pakannya. Bahkan bila populasinya meningkat diperlukan tempat yang lebih luas lagi. Selama ini binatang peliharaannya disimpan di luar pulo. Sistem waris yang berlaku di Kampung Pulo berbeda dengan masyarakat Sunda atau Islam pada umumnya. Di kalangan masyarakat Kampung Pulo yang mempunyai hak waris rumah adat adalah pihak anak perempuan tertua, sedangkan tanggungjawab keluarga dipegang oleh suaminya. Seperti hal nya Bapak Iri yang diberikan wewenang sebagai kuncen karena merupakan suami dari anak perempuan tertua di Kampung Pulo yang memegang hak waris. Lokasi Kampung Pulo Dari arah kota Bandung lokasi Kampung Pulo 1 50 km dan sebelum kota Garut yang ditempuh sekira 1 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat. Kampung Pulo memiliki luas 1 0,5 ha dan terletak ditengah sebuah situ (danau) yang disebut situ Cangkuang. Sedangkan luas dari situ Cangkuang sendiri adalah 2,5 ha. Namun kini luas situ Cangkuang semakin menyusut akibat pendangkalan dibeberapa bagian. Untuk mencapai Kampung Pulo dapat dilalui dengan menggunakan rakit bambu sewaan maupun melalui jalan setapak. Jalan yang disebutkan terakhir terjadi karena adanya pendangkalan pada salah satu bagian danau sehingga Kampung Pulo kini tidak sepenuhnya berada di tengah situ Cangkuang. Di Kampung Pulo selain terdapat kompleks hunian terdapat pula makam keramat Embah Dalem Arif Muhammad dan sebuah candi Hindu yang diperkirakan hasil peninggalan abad ke VII Masehi. Candi Cangkuang kini termasuk salah satu objek wisata di daerah Kabupaten Garut.

Kesenisn Sisingaan

Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya Odong-odong) merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas Subang (di samping seni lainnya seperti Bajidoran dan Genjring Bonyok) berupa keterampilan memainkan tandu berisi boneka singa (Sunda: sisingaan, singa tiruan) berpenunggang. 1. Sejarah dan Perkembangan Terdapat beberapa keterangan tentang asal usul Sisingaan ini, di antaranya bahwa Sisingaan memiliki hubungan dengan bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajah lewat binatang Singa kembar (Singa kembar lambang penjajah Belanda), yang pada waktu itu hanya punya sisa waktu luang dua hari dalam seminggu. Keterangan lain dikaitkan dengan semangat menampilkan jenis kesenian di Anjungan Jawa Barat sekitar tahun 70-an, ketika Bupati Subang dipegang oleh Pak Acu. Pada waktu itu RAF (Rachmatulah Ading Affandi) yang juga tengah berdinas di Subang, karena ia dikenal sebagai seniman dan budayawan dimintakan kitanya. Dalam prosesnya itu, akhirnya ditampilkanlah Gotong Singa atau Sisingaan yang dalam bentuknya masih sederhana, termasuk musik pengiringnya dan kostum penari pengusung Sisingaan. Ternyata sambutannya sangat luar biasa, sejak itu Sisingaan menjadi dikenal masyarakat

Dalam perkembangan bentuknya Sisingaan, dari bentuk Singa Kembar yang sederhana, semakin lama disempurnakan, baik bahan maupun rupanya, semakin gagah dan menarik. Demikian juga para pengusung Sisingaan, kostumnya semakin dibuat glamour dengan warna-warna kontras dan menyolok.. Demikian pula dengan penataan gerak tarinya dari hari ke hari semakin ditata dan disempurnakan. Juga musik pengiringnya, sudah ditambahkan dengan berbagai perkusi lain, seperti bedug, genjring dll. Begitu juga dengan lagu-lagunya, lagu-lagu dangdut popular sekarang menjadi dominan. Dalam beberapa festival Helaran Sisingaan selalu menjadi unggulan, masyarakat semakin menyukainya, karena itu perkembangannya sangat pesat. Dewasa ini, di Subang saja diperkirakan ada 200 grup Sisingaan yang tersebar di setiap desa, oleh karena itu Festival Sisingaan Kabupaten Subang yang diselenggarakan setiap tahunnya,

merupakan jawaban konkrit dari antusiasme masyarakat Subang. Karena bagi pemenang, diberi peluang mengisi acara di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Penyebaran Sisingaan sangat cepat, dibeberapa daerah di luar Subang, seperti Sumedang, Kabupaten Bandung, Purwakarta, dll, Sisingaan menjadi salah satu jenis pertunjukan rakyat yang disukai, terutama dalam acara-acara khitanan dan perkawinan. Sebagai seni helaran yang unggul, Sisingaan dikemas sedemikian rupa dengan penambahan pelbagai atraksi, misalnya yang paling menonjol adalah Jajangkungan dengan tampilan manusia-manusia yang tinggi menjangkau langit, sekitar 3-4 meter, serta ditambahkan dengan bunyibunyian petasan yang dipasang dalam bentuk sebuah senapan. Dalam rangka menumbuhkembangkan seni sisingaan khas kabupaten subang, sanggar seni ninaproduction berupaya untuk melakukan regerasi melaui pembinaan tari anak-anak usia 7 tahun sampai remaja, termasuk tari sisingaan. Nina production beralamat di Jalan Patinggi no 78 Desa buni hayu Jalancagak Subang, sampai saa ini Sanggar Nina Production telah di liput oleh trans 7 dalam acara wara wiri, Daai TV dan sekarang tangggal 2 Mei 2010 akan diliput oleh ANTV dalam acara anak pemberani. 2. Pertunjukkan Sisingaan Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota. Sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Di dalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug. Pola penyajian Sisingaan meliputi: 1. Tatalu (tetabuhan, arang-arang bubuka) atau keringan 2. Kidung atau kembang gadung 3. Sajian Ibingan di antaranya solor, gondang, ewang (kangsreng), catrik, kosongkosong dan lain-lain 4. Atraksi atau demo, biasanya disebut atraksi kamonesan dalam pertunjukan Sisingaan yang awalnya terinspirasi oleh atraksi Adem Ayem (genjring akrobat) dan Liong (barongsay) 5. Penutup dengan musik keringan.

Musik pengiring Sisingaan pada awalnya cukup sederhana, antara lain: Kendang Indung (2 buah), Kulanter, Bonang (ketuk), Tarompet, Goong, Kempul, Kecrek. Karena Helaran, memainkannya sambil berdiri, digotong dan diikatkan ke tubuh. Dalam perkembangannya sekarang memakai juru kawih dengan lagu-lagu (baik vokal maupun intrumental), antara lain: Lagu Keringan, Lagu Kidung, Lagu Titipatipa, Lagu Gondang,Lagu Kasreng, Lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong dll), Lagu Gurudugan, Lagu Mapay Roko atau

Mars-an (sebagai lagu penutup). Lagu lagu dalam Sisingaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu, Doger dan Kliningan. 3. Makna Yang Terkandung dalam Kesenian Sisingaan Ada beberapa makna yang terkandung dalam seni pertunjukan Sisingaan, diantaranya: Makna sosial, masyarakat Subang percaya bahwa jiwa kesenian rakyat sangat berperan dalam diri mereka, seperti egalitarian, spontanitas, dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul. Makna teatrikal, dilihat dari penampilannya Sisingaan dewasa ini tak diragukan lagi sangat teatrikal, apalagi setelah ditmabhakn berbagai variasi, seperti jajangkungan dan lain-lain. Makna komersial, karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka, maka antusiasme munculnya sejumlah puluhan bahkan ratusan kelompok Sisingaan dari berbagai desa untuk ikut festival, menunjukan peluang ini, karena si pemenang akan mendapatkan peluang bisnis yang menggiurkan, sama halnya seperti seni bajidoran. Makna universal, dalam setiap etnik dan bangsa seringkali dipunyai pemujaan terhadap binatang Singa (terutama Eropa dan Afrika), meskipun di Jawa Barat tidak terdapat habitat binatang Singa, namun dengan konsep kerkayatan, dapat saja Singa muncul bukan dihabitatnya, dan diterima sebagai miliknya, terbukti pada Sisingaan. Makna Spiritual, dipercaya oleh masyarakat lingkungannya untuk keselamatan/ (salametan) atau syukuran.

Kampung Adat Pulo

Kampung adat pulo merupakan suatu perkampungan yang terdapat di dalam pulau di tengah kawasan Situ Cangkuang. Kampung Pulo ini sendiri terletak di Desa Cangkuang, Kampung Cijakar, kecamatan Leles, Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat. Adapun batas administrasi dari Kampung Pulo adalah sebagai berikut: Utara : desa Neglasari kecamatan Kadungora Selatan : desa Margaluyu dan desa Sukarame kecamatan Leles Timur : desa Karang Anyar dan desa Tambak Sari kecamatan Leuwigoong Barat : desa Talagasari kecamatan Kadungora dan desa Leles Kecamatan Leles Menurut cerita rakyat, masyarakat Kampung Pulo dulunya beragama Hindhu, lauli Embah Dalem Muhammad singgah di daerah ini karena ia terpaksa mundur karema mengalami kekalahan pada penyerangan terhadap Belanda. Karena kekalahan ini Embah Dalem Arif Muhammad tidak mau kembali ke Mataram karena malu dan takut pada Sultan agung. Beliau mulai menyebarkan agama Islam pada masyarakat kampong Pulo. Embah Dalem Arif Muhammad beserta kawan-kawannya menetap di daerah Cangkuang yaitu Kampung Pulo. Sampai beliau wafat dan dimakamkan di kampumg Pulo. Beliau meninggalkan 6 orang anak Wanita dan satu orang pria. Oleh karena itu, dikampung pulo terdapat 6 buah rumah adat yang berjejer saling berhadapan masing- masing 3 buah rumah dikiri dan dikanan ditambah dengan sebuah mesjid. Jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi serta yang berdiam di rumah tersebut tidak boleh lebih dari 6 kepala keluarga. Jika seorang anak sudah dewasa kemudian menikah maka paling lambat 2 minggu setelah itu harus meninggalkan rumah dan harus keluar dari lingkungan keenam rumah tersebut. Walaupun 100 % masyarakat kampong Pulo beragama Islam tetapi mereka juga tetap melaksanakan sebagian upacara ritual hindhu.

Keterangan Denah Komplek Rumah Adat Kampung Pulo : 1. Rumah Kuncen 2. Rumah Adat 3. Rumah Adat 4. Rumah Adat 5. Rumah Adat 6. Rumah Adat 7. Mesjid Kampung Pulo Dalam adat istiadat Kampung Pulo terdapat beberapa ketentuan yang masih berlaku hingga sekarang yaitu :

Dalam berjiarah kemakam-makam harus mematuhi beberapa syarat yaitu berupa bara api, kemenyan, minyak wangi, bunga-bungaan dan serutu. Hal ini dipercaya untuk mendekatkan diri (pejiarah) kepada roh-roh para leluhur.

Dilarang berjiarah pada hari rabu, bahkan dulu penduduk sekitar tidak diperkennankan bekerja berat,begitu pula Embah Dalem Arif Muhammad tidak mau menerima tamu karena hari tersebut digunakan unutk mengajarkan agama. Karena menurut kepercayaan bila masyarakat melanggarnya maka timbul mala petaka bagi masyarakat tersebut. Bentuk atap rumah selamanya harus mamanjang (jolopong) Tidak boleh memukul Goong besar Khusus di kampong pulo tidak boleh memelihara ternak besar berkaki empat seperti kambing, kerbau, sapi dan lain-lain. Setiap tanggal 14 bulan Maullud mereka malaksanakan upacara adapt memandikan benda-benda pusaka seperti keris, batu aji, peluru dari batu yang dianggap bermakna dan mendapat berkah. Yang berhak menguasai rumah- rumah adapt adalah wanitadan diwariskan pula kepada anak perempuannya. Sedangkan bagi anak laki-laki yang sudah menikah harus meninggalkan kampong tersebut setelah 2 minggu. Desa Cangkuang terletak diantara kota Bandung dan Garut yang berjarak +-2 km dari kecamatan Leles dan 17 km dari Garut atau 46 km dari Bandung. Kondisi lingkungan di Kawasan ini memiliki kualitas lingkungan yang baik, kebersihan yang cukup terjaga dan juga bentang alam yang baik. Tingkat Visabilitas di kawasan ini digolongkan cukup bebas dengan tingkat kebisingan yang rendah. Sumber daya listrik untuk keperluan penerangan dikawasan ini berasal dari PLN yang alirannya diambil secara tidak langsung melalui salah satu rumah penduduk di kampong Cangkuang. Sumber air bersih dikawasan ini beraal dari sumur dan air danau dengan kualitas air yang jernih, rasa yang tawar dan bau air yang normal. Berhubung karena tidak boleh adanya bangunan lain yang dibangun di kampung pulo maka di kampong Pulo tersebut tidak terdapat fasilitas Wisata Lainnya.

Danau dan Candi Cangkuang

Tak pernah saya mendengar ada candi di jawa barat. kebanyakan memang candi berpusat di jawa tengah, yogyakarta dan di jawa timur. namun tampaknya jawa barat pun mempunyai candi. Namanya Candi Cangkuang, terletak dipinggir danau cangkuang. banyak orang mengira itu adanya di tengah danau, padahal tak ada pulau di danau itu. mungkin karena terletak di ujung danau dan bentuknya seperti pulau di tengah danau. untuk mencapai lokasi danau cangkuang, anda bisa mencoba ojek atau dengan kuda. untuk menuju candinya, sebenarnya sih bisa pakai rakit, cuma karena saya sendirian, maka sang tukang ojek pun mengajak saya untuk pergi lewat pintu belakang menuju candi. memang sih lebih mahal lewat pintu belakang, 20.000 untuk pp, tapi saya bisa hemat 10.000 karena tidak naik rakit, namun konsekuensinya ga bisa merasakan naik rakit . Ternyata saya melewati sebuah perkampungan, namanya kampung pulo. suasana beda sekali dari kampung pada umumnya. disana cuma ada 6 rumah dan satu musholla yang sangat kecil. rumahnya berbentuk rumah panggung, khas banget tatar sunda.

Denah Rumah Kampung Pulo Menurut cerita, mengapa rumah tersebut hanya ada 6 buah saja. Embah Dalem Arif Muhammad, Beliau adalah yang menyebarkan Agama Islam di kampung pulo. lalu beliau wafat dan beliau meninggalkan 6 orang anak wanita dan satu orang pria. oleh karena itu, kampung pulo terdapat 6 buah rumah adat, jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi serta yang berdiam di rumah tersebut tidak boleh lebih dari 6 kepala keluarga. jika seorang anak sudah dewasa kemudian menikah maka paling lambat 2 minggu setelah itu harus meninggalkan rumah dan harus keluar dari lingkungan keenam rumah tersebut.

Saya pun masuk kelingkungan candi, dan diharuskan membayar sebesar Rp.3000. suasananya memang sepi sekali saat itu. candinya sendiri cukup kecil dan disampingnya terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad, yang katanya diharihari tertentu dilaksanakan ritual entah ritual apa. Candi ini adalah candi hindu, karena dahulu kampung pulo beragama hindu. Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1966. disekitar candi terdapat bangunan unik beratapkan khas sunda, ternyata itu adalah museum.

ternyata didalamnya tersimpan ayat-ayat suci alquran. tidak ada peninggalan hindu disana, tapi untuk upacara ritual hindu sendiri masih tetap dilakukan pada hari-hari tertentu. yang menarik ada dua buah foto didalam museum itu yang menampilkan foto penampakan wajah orang dan ular. serem sendiri melihatnya, mana saya tadi sendirian foto-foto candinya lagi. beruntung setelah saya lihat-lihat tidak ada penampakan di foto-foto yang saya ambil. keluar dari halaman candi, tiba-tiba penjaga yang biasa meminta uang setiap akan masuk candi hilang. jadi bisa dibilang saya adalah orang terakhir yang kecandi itu. lalu karena penasaran dengan danaunya saya pun muter-muter ga jelas disekitar candi. sempat nyasar pula ke makam umum yang ada di sekitar candi.

Suasananya benar-benar seperti di lukisan

Akhirnya saya bisa melihat danaunya juga. fiuh, sepi juga ternyata danaunya. terdapat dua rakit disana, ketika saya sampai sana, tukang rakitnya pun mengajak saya untuk ikut, namun karna saya sudah terikat kontrak dengan tukang ojek ga jadi naik rakit. dan rakit yang satunya lagi pun pergi beberapa menit setelah itu. Dikesepian, sendiri dipinggiran danau, tiba-tiba ada orang yang menyandarkan rakitnya dipinggir danau, beruntung yang punya rakit pergi entah kemana. Akhirnya kesampaian juga naik rakit tanpa harus membayar. walau danaunya sedikit dangkal, tapi itu tak mempengaruhi pemandangan yang ada disana.