Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN HASIL SEMINAR SEHARI Hotel Bahana Surya-Balikpapan, 26 Januari 2005

Seminar sehari yang diselenggarakan oleh PT. JAMSOSTEK, bertujuan : - Mendisiplinkan karyawan dalam menggunakan alat pelindung diri yang disediakan oleh perusahaan. - Disiplin dalam menggunakan alat alat kerja. - Mengoptimalkan Sistem Managemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Seminar sehari dibuka oleh Walikota Balikpapan mengambil thema : Deteksi dini Penyakit Akibat Kerja di Lingkungan Perusahaan dilaksanakan di Balikpapan tanggal 26 Januari 2005 dalam rangka mengisi Bulan K3 tahun 2005. Seminar sehari diikuti lebih dari 150 peserta dengan pembicara berjumlah 6 orang. Jumlah makalah yang disajikan dalam sidang pleno sebanyak 6 makalah adapun rangkuman Seminar Sehari adalah sebagai berikut : 1. Pengawasan Ketenagakerjaan dan Pengawasan Pelaksanaan Program Jamsostek. Oleh : Direktur PNK Depnakertrans RI Bapak Drs. H. Adjat Darajat, Msi Operasionalisasi tujuanpembangunan dalam konteks pembangunan ketenagakerjaan adalah sebagai berikut : a. Melindungi : Yaitu terlindungnya hak warga negara untuk memperoleh pekerjaan. Terlindungnya tenaga kerja dari resiko sosial dalam melakukan pekerjaan seperti : kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, kematian, hilangnya/ber kurangnya penghasilan dsb. Terlindungnya tenaga kerja dari bentuk-bentuk perlakuan yang buruk, tidak layak dan tidak manusiawi, diskriminasi serta eksploitasi baik fisik, mental, moral maupun sosial. Melindungi segenap hak-hak tenaga kerja yang timbul dari perikatan maupun dari perundang-undangan. b. Mencerdaskan : Yaitu meningkatkan kemampuan keahlian dan keterampilan tenaga keraja agar dapat memenuhi tuntutan pasar kerja, meningkatkan posisi tawar (bargaining position), serta meningkatkan penghasilan. c. Mensejahterakan : Yaitu memjamin terpenuhinya kebutuhan tenaga kerja untuk hidup layak, meliputi: tingkat penghasilan/pengupahan, kesejahteraan dan jaminan sosial bagi diri dan keluarganya. d. Menciptakan Perdamaian dunia : Yaitu ikut berpartisipasi dalam kehidupan ketenagakerjaan dunia melalui keanggotaan dalam organisasi organisasi ketenagakerjaan internasional, dalm wujud perumusan dan implementasi standar perburuhan internasional. PARADIGMA PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN INPUT
Masalah Sosoal KK Formulasi kebijakan Publik KK

OUTPUT
SASARAN - Kepuasan masyarakat - Keteraturan kelancaran urusan - Teratasinya masalah publik

PROSES
Implementasi kebijakan publik

Fungsi Adm Negara - Pelayanan masyarakat - Penyelesaian nasalah - Penanganan urusan

Fungsi Penegakan Hukum/ Pengawasan KK - Preventif : Edukatif Konsultatif, Motivatif, Konseling

- Represif : - Non Yustitial - Yustitial SASARAN - Kepatuhan - Ketertiban - Keadilan - Rule of Law

Dalam pencegahan Penyakit Akibat Kerja pegawai pengawas berkewajiban untuk mengawasi perusahaan dalam melaksanakan kewajibannya sesuai Permenaker No. 02/Men/1980 untuk Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, yaitu pemeriksaan kesehatanyang dilakukan oleh dokter sebelum seseorang tenaga kerja diterima untuk melakukan pekerjaan. Agar tenaga kerja yang diterima tidak mempunyai penyakit menular yang akan mengenai tenaga kerja lainnya dan cocok untuk pekerjaan yang akan dilakukan, sehingga keselamatan dan kesehatan tenaga kerja dapat dijamin. Melakukan Pemeriksaan Kesehatan berkala yaitu Pemeriksaan Kesehatan pada waktu-waktu tertentu terhadap tenaga kerja yang dilakukan oleh dokter. Tujuannya adalah untuk mempertahankan derajat kesehatan tenaga kerja sesudah berada dalam pekerjaannya, serta menilai kemungkinan pengaruh-pengaruh pekerjaan sedini mungkin untuk mencegah. Pemeriksaan berkala sekurang-kurangnya dilakukan satu tahun sekali. Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh dokter secara khusus terhadap tenaga kerja tertentu. Tujuannya adalah untuk menilai adanya pengaruh-pengaruh dari pekerjaan tertentu terhadap tenaga kerja atau golongan-golongan tenaga kerja tertentu. Pemeriksaan Kesehatan Khusus dilakukan juga terhadap Tenaga kerja yang telah mengalami kecelakaan atau penyakit yang memerlukan perawatan lebih dari 2 minggu. Tenaga kerja yang diduga mengalami gangguan kesehatan tertentu. Bila terjadi keluhan-keluhan tertentu di antara tenaga kerja. Tenaga kerja berusia di atas 40 tahun, TKW, TK cacat dan Tenaga kerja muda yang melakukan pekerjaan tertentu. Menyediakan secara cuma-cuma alat pelindung diri yang diwajibkan penggunaannyabagi tenaga kerja. Disamping itu perusahaan berkewajiban untuk melaporkan penyakit akibat kerja kepada Dirjen Binawas berdasarkan Permenker No. 01/Men/1981 PENEGAKAN HUKUM Penegakan hukum terhadap pelanggaran dididang ketenagakerjaan termasuk Norma Jamsostek dilakukan melalui pentahapan sebagai berikut : a. Tindakan Preventif Edukatif Tindakan ini pada umumnya dilakukan pada setiap kunjungan pegawai pengawas ke perusahaanbaik dalam rangka pemeriksaan, pengkajian maupun bimbingan teknis. Contoh : Nota pemeriksaan berupa penetapan maupun rekomendasi. b. Tindakan Represif Non Yustitial Tindakan ini dilakukan apabila dalam batas waktu yang telah ditentukan dalam pemeriksaan, penetapan maupun rekomendasi ternyata perusahaan tetap tidak melaksanakan kewajibannya maka akan dilakukan upaya paksa diluar lembaga peradilan. Contoh : Dengan membuat surat pernyataan kesanggupan untukmelaksanakan kewajibannya. c. Tindakan Represif Yustitial Tindakan ini dilakukan terhadap kasus tertangkap tangan yang sifatnya mendesak atau pemaksaan diluar lembaga peradilan menurut hukum harus diambil tindakan represif yustitial melalui mekanisme sesuai dengan UU No. 8/81 tentang Hukum Acara Pidana

2.

PERAN PT. JAMSOSTEK KECELAKAAN KERJA

DALAM

PELAKSANAAN

PROGRAM

JAMINAN

Program Jaminan Sosial merupakan program perlindungan bagi tenaga kerja yang bertujuan untuk menjamin adanya keamanan dan kepastian terhadap resiko-resiko yang akan terjadi seperti : kecelakaan kerja, kematian, sakit maupun hari tua, jaminan sosial merupakan sarana penjamin arus permintaan penghasilan bagi tenaga kerja dan keluarganya akibat dari terjadinya resiko-resiko sosial tersebut. Permasalahan Pelayanan Ada berbagai faktor melatarbalakangi belum masuknya seluruh tenaga kerja didalam program Jamsostek. Terkait dengan manfaat program yang ditawarkan Jamsostek. Ditujukan kepada PT. Jamsostek sendiri. Manfaat Program Jamsostek akan sangat tergantung kemampuan dana yang dimiliki oleh PT. Jamsostek. Kemempuan dana itu juga tergantung pada iuran yang ditetapkan serta kemampuan pengelola dana oleh PT. Jamsostek sendiri. Angka pembayaran jaminan baik Jaminan Kecelakaan Kerja maupub Jaminan Jaminan Kecelakaan dari tahun ke tahun terus meningkat hal ini disamping angka kasusnya meningkat juga beberapa problem dalam pelayanan adalah : Belum seragamnya kemampuan Sumber Daya Masyarakat (SDM) pelayanan Jaminan dalam melakukan verifikasi kasus, sehingga terjadi banyak kebocoran. Kurangnya jumlah karyawan yang menangani pembayaran jaminan. Masih adanya moral hazard yang dilakukan oleh berbagai pihak. Belum maksimalnya dukungan sistem informasi dalam pelayanan jaminan . Minimnya tenaga medis dan paramedis yang dimiliki PT. Jamsostek. TRAUMA CENTER : SEBUAH PERUBAHAN STRATEGI PELAYANAN Kecelakaan kerja (employment accident) secara emperik merupakan program utama dan salah satu program yang tipikal dalam sistem asuransi sosial. Karena sangat tergantung dari kondisi kerja, tingkat kepatuhan dari pekerja dan intensitas kampanye Keselamatan Kesehatan Kerja (K3). Terjadinya kecelakaan kerja lebih banyak disebabkan oleh human eror factor karena perusahaan besar umumnya memberlakukan sendi-sendi workplace safety yang standard. Peningkatan pelayanan kepada peserta dengan menciptakan value added yang benar-benar dibutuhkan oleh peserta (value in use) dalam upaya memuaskan peserta. Mengembangkan berbagai bentuk pelayanan sehingga program jamsostek tersebut benar-benar menimbulkan ketenangan kerja dan dapat mempertahankan produktifitas pekerja. Sebenarnya angka kejadian, kematian dan kecacatan dapat dicegah jika kita mempunyai sistem penanggulangan penderita gawat darurat secara terpadu (Inclusive System) dengan mengoperasikan dan mengefisienkan Trauma Centre, kesempurnannya akan dicapai secara bertahap. Pengembangan Pusat Layanan Trauma atau Trauma Centre adalah suatu pengembangan pelayanan terhadap permasalaham trauma, luka, cidera, dan bentuk kecelakaan kerja bagi peserta program Jamsostek. Kemanfaatan Trauma Centre dapat dilihat dari sinergi antara ketiga pihak yaitu : Bagi Perusahaan Peserta : a. Semakin tingginya biaya pelayanan kesehatan dan alat kesehatan. b. Penanganan Klaim Kecelakaan Kerja yang selama ini ditanggung oleh perusahaan terlebih dahulu. c. Kepastian Pembiayaan Pelayanan Kecelakaan ditengah ketidakpastian. d. Program Penyesuaian Manfaat bagi keluarga peserta program JPK. e. Kebanggaan rasa memiliki program perlindungan tenaga kerja.

1. 2.

a. b. c. d. e.

I.

f. g. II.

Tingginya kasus kecelakaan kerja yang menimpa pekerja selama ini yaitu pada saat para pekerja akan berangkat menuju lokasi kerja dan pada saat meninggalkan lokasi kerja. Kecelakaan ini biasanya banyak terjadi pada saat dijalan raya. Trauma Centre dapat digunakan sebagai pusat Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang komperehensif dalam upaya meninggalkan kualitas SDM perusahaan peserta.

Bagi Rumah Sakit Pihak Rumah Sakit sebagai Penyelenggara Pelayanan Trauma atau Trauma Centre : a. Rumah Sakit dapat meningkatkan citra sebagai rumah sakit pusat rujukan trauma centre. b. Rumah sakit dapat meningkatkan Bed Occupany Rate sehingga akan meningkatkan penghasilan rumah sakit. c. Trauma Centre juga merupakan kontribusi PT. Jamsostek kepada Pemerintah Daerah setempat dalam upaya untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. a. b. c. d. Bagi PT. Jamsostek Bagi PT. Jamsostek akan meningkatkan citra pelayanan yang lebih baik kepada peserta yang akan berdampak pada citra keseluruhan PT. Jamsostek sebagai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja di Indonesia. Mengurangi terjadi moral hazard terutama di rumah sakit, terutama mengenai besarnya pembiayaan kasus kecelakaan kerja. Diharapkan dapat mengembalikan rasio program JKK yang dari tahun ke tahun meningkat tajam karena tidak adanya konsep pengendalian pelayanan seperti Trauma Centre. Trauma Centre dapat juga dimanfaatkan bagi keluarga pekerja yang mengikuti program JKK.

III.

3.

PENYAKIT AKIBAT KERJA (PENYAKIT YANG TIMBUL KARENA HUBUNGAN KERJA) Oleh : Penasehat Direksi PT. Jamsostek Dr dr. Sumamur PK, MSc.,SpOK. Berdasarkan UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, penyakit akibat kerja termasuk kecelakaan kerja. Selain itu, untuk pelaksanaan jaminan kecelakaan kerja yang berkaitan dengan penyakitkerja berlaku juga ketentuan normatif tentang penyakit akibat kerja yang merupakan peraturan pelaksanaan dari UU No .1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja terutama dimaksudkan untuk sejauh mungkin melakukan upaya pencegahan terhadap timbulnya penyakit akibat kerja di kalangan tenaga kerja dalam lingkungan perusahaan. Sehubungan dengan upaya preventif tersebut, ketentuan normatif mengenai penyakit akibat kerja mengatur pelayanan kesehatan kerja, pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, berkala dan khusus, kewajiban melaporkan penyakit akibat kerja, nilai ambang batas faktor-faktor fisik, kimiawi, biologis, fisiologis dan ergonomis dalam lingkungan kerja, juga metoda diagnosis penyakit akibat kerja.