Anda di halaman 1dari 19

Pendahuluan

WHO memperkirakan 585.000 ibu meninggal/tahun saat hamil/ bersalin

AKB SDKI 2012 yaitu 32 kematian per 1000 kelahiran hidup dan kematian balita yaitu 40 kematian per 1000 kelahiran hidup

Penyebab kematian di indonesia perdarahan (40-60%), infeksi (20-30%), keracunan kehamilan (20-30%), sisanya 5% Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yg kejadiannya sekita 3% dari semua persalinan, penyebabnya plasenta previa, solutio plasenta dan peradarahan yang belum jelas sebabnya. Di Negara berkembang insidensi plasenta previa sekitar 0,3- 0,8 % dari seluruh persalinan. Insidensi plasenta previa di Indonesia sendiri berkisar 2- 7%.

Definisi
Plasenta previa keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Ostium uteri Internum)

Epidemiologi
Iyasu dkk Plasenta previa menjadi penyulit pada 0,5% ( 1 dari 200) persalinan (th.1993)

Frederiksen dkk 0,55% (1 dari 180) pada hampir 93.000 persalinan (th.1999)

Klasifikasi

Penentuan macamnya plasenta previa bergantung pada besarnya pembukaan.

Faktor Risiko
1. Ovum yang dibuahi tertanam sangat rendah di dalam rahim, menyebabkan plasenta terbentuk dekat dengan atau di atas pembukaan serviks. 2. Lapisan rahim (endometrium) memiliki kelainan seperti fibroid atau jaringan parut (dari previa sebelumnya, sayatan, bagian bedah caesar atau aborsi). 3. Hipoplasia endometrium : bila kawin dan hamil pada umur muda. 4. Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi. 5. Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium. 6. Plasenta terbentuk secara tidak normal. 7. Kejadian plasenta previa tiga kali lebih sering pada wanita multipara daripada primipara. 8. Ibu merokok atau menggunakan kokain. 9. Ibu dengan usia lebih tua. 10. Operasi Caesar

PATOFISIOLOGI
Multiparitas, gemeli Usia ibu saat kehamilan

FaktorPendukung

Kelainan pada rahim (atrofi, cacat) Implantasi abnormal


Implantasi embrio (embryonic plate) pada bagian bawah (kauda) uterus

Riwayat kehamilan (Caesar)

Merokok

Isthmus uteri tertarik (melebar)menjadi dinding cavum uteri (SBR/ Segmen Bawah Rahim )

Desidua lepas dari plasenta Dinding rahim tipis

Laserasi

Servik membuka dan mendatar

Perdarahan Hipovolemia anemia


Perubahan perfusi jaringan

Cemas
Kekurangan volume cairan

Mudah diinvasi oleh pertumbuhan trofoblas


Plasenta akan melekat lebih kuat Plasenta berkembang menutupi ostium interna

hipoksia

Resiko cedera

Lahir tidak dapat normal (lahir sesar)

Bayi lahir dengan BB rendah/ kematian (gawat janin)

Gambaran Klinis
Gejala utama khas Perdarahan yang tidak nyeri. Perdarahan berulang dan tanpa sebab Warna perdarahan merah segar Terjadi pada kehamilan 28 minggu atau pada kehamilan lanjut (Trimester 3).

Adanya Anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan adanya gejala-gejala klinis dan beberapa pemeriksaan : a. Anamnesis Perdarahan jalan lahir pada kehamilan 28 minggu atau pada kehamilan lanjut (Trimester III), perdarahan tanpa sebab (causeless), tanpa nyeri (painless), dan berulang (recurrent).

b.

Pemeriksaan Fisik 1. pemeriksaan umum 2. pemeriksaan obstetri 3. pemeriksaan auskultasi Pemeriksaan dalam (kontraindikasi)
Pemeriksaan Penunjang 1. pemeriksaan inspekulo 2. USG 3. MRI

c.
d.

Penatalaksanaan
Terapi ekspetatif
Syarat-syarat penanganan pasif, yaitu kehamilan kurang dari 37 minggu atau berat janin belum mencapai 2500 gram, Perdarahan aktif, belum inpartu, keadaan umum ibu baik (Hb>8g%), dan janin masih hidup Tujuan agar janin tidak lahir prematur. Tidak dilakukan pemeriksaan dalam. Diperlukan transfusi darah Terapi pematangan paru janin

Penatalaksanaan
Penanganan aktif
syarat; perdarahan yang telah berlangsung atau akan berlangsung yang membahayakan ibu dan janin, kehamilan cukup bulan (37 minggu) atau berat janin telah mencapai 2500 gram, inpartu atau bagian janin terbawah sudah masuk pintu atas panggul . Penangan aktif dibagi menjadi dua, pervaginam atau sectio sesaria

Penatalaksanaan
Pervaginam
Cara vaginal yang bermaksud untuk mengadakan tekanan pada plasenta dengan demikian menutup pembuluh-pembuluh darah yang terbuka, sehingga darah berhenti. Persalinan pervaginam biasanya dilakukan pada plasenta previa marginalis dengan presentasi kepala3

Penatalaksanaan
Seksio Sesaria
Prinsip utama dalam melakukan seksio sesaria adalah menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tidak ada harapan hidup, tindakan ini tetap dilakukan. Dengan seksio sesaria dengan maksud mengosongkan rahim hinga rahim dapat mengadakan kontraksi dan menghentikan perdarahan. Seksio sesaria juga mencegah terjadinya robekan cervix yang agak sering terjadi dengan usaha persalinan pervaginam pada plasenta previa

Komplikasi
1. Syok 2. plasenta inkreta dan plasenta perkreta. 3. Komplikasi lain dari plasenta previa adalah persalinan seksio sesaria (RR = 3,9), abruption plasenta (RR = 13,8), perdarahan postpartum (RR = 1,7), malpresentasion (RR = 2,8), kematian maternal dari perdarahan uterus (50%) dan disseminated intravascular coagulation (DIC).

Prognosis
Pada kasus plasenta previa didapatkan 50% kelahiran prematur yang menjadi penyebab utama kematian perinatal. Sekarang penanganan relative bersifat dini, sehingga angka kematian dan kesakitan ibu dan perinatal jauh menurun karena diagnosis dini dan pemeriksaan yang tidak invasiv dengan USG di samping ketersediaan transfusi darah dan cairan infus1

Kesimpulan
Dari hasil uraian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Placenta Praevia ialah placenta yang ada di depan jalur lahir. Jadi yang dimaksud ialah placenta yang implantasinya tidak normal ialah rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum. Implantasi placenta yang normal ialah depan atau belakang rahim di daerah pundus uteri. Placenta Praevia mungkin terjadi kalau keadaan endometrium kurang baik misalnya karena atropi endometrium.

Kesimpulan
Tindakan yang biasa dipilih untuk pengobatan placenta Praevia dan kapan pelaksanaannya tergantung pada faktor-faktor di bawah ini seperti : 1. Perdarahan banyak/sedikit 2. Keadaan umum ibu dan anak 3. Besarnya pembukaan 4. Tingkat placenta Praevia 5. Paritas

Kesimpulan
Placenta Praevia merupakan perdarahan tanpa nyeri. Perdarahan pada placenta Praevia bersifat berulang-ulang setelah terjadi pergeseran antara placenta dan dinding rahim, maka pergeseran renggangan dinding rahim dan tarikan cervix berkurang tapi dengan majunya kehamilan renggangan bertambah lagi dan menimbulkan perdarahan baru.

TERIMA KASIH