Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA MENCEDERAI DIRI : BUNUH DIRI

Disusun Oleh : WAWAN EKA PUTRA 0626010069

PROGRAM PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) TRI MANDIRI SAKTI BENGKULU 2011

LAPORAN PENDAHULUAN

I. KASUS (MASALAH UTAMA) : MENCEDERAI DIRI / BUNUH DIRI A. Definisi Pengertian Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi. (Budi Anna kelihat, 2001). Perlaku destruktif diri yaitu setiap aktifitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah kepada kematian (Gail Wiscara Stuart, dan Sandra J. Sundeen, 2008). Perilaku bunuh diri meliputu isyarat-isyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang akan mengakibatkan kematian, luka atau mernyakiti diri sendiri (Sumber: Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. PT Refika Aditama: Bandung) Bunuh diri merupakan kematian yang diperbuat oleh sang pelaku sendiri secara sengaja (Haroid I. Kaplan & Berjamin J. Sadock, 2002). Bunuh diri adalah segala perbuatan seseorang yang dapat mengahiri hidupnya sendiri dalam waktu singkat. Selama tahun 1950 sampai dengan 1988 rata rata bunuh diri pada remaja yaitu usia antara 15 dan 19 tahun (Attempt suicide, 1991). Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian (Gail w. Stuart, Keperawatan Jiwa,2007). Bunuh diri adalah pikiran untuk menghilangkan nyawa sendiri (Ann Isaacs, Keperawatan Jiwa & Psikiatri, 2004). Bunuh diri adalah ide, isyarat dan usaha bunuh diri, yang sering menyertai gangguan depresif dan sering terjadi pada remaja ( Harold Kaplan, Sinopsis Psikiatri, 2004). Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik: rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun (Dezs, 2009).

Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedahan, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikis seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras (Dezs, 2009). Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain (Dezs, 2009). Tanda dan Gejala Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebut tidak membuat rencana yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri tersebut. 1. Petunjuk dan gejala 1. Keputusasaan 2. Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal dan tidak berguna 3. Alam perasaan depresi 4. Agitasi dan gelisah 5. Insomnia yang menetap 6. Penurunan BB 7. Berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan sosial. 8. Petunjuk psikiatrik : Upaya bunuh diri sebelumnya Kelainan afektif Alkoholisme dan penyalahgunaan obat Kelaianan tindakan dan depresi mental pada remaja Dimensia dini/ status kekacauan mental pada lansia Riwayat psikososial: Baru berpisah, bercerai/ kehilangan Hidup sendiri Tidak bekerja, perbahan/ kehilangan pekerjaan baru dialami

Faktor-faktor kepribadian : Implisit, agresif, rasa bermusuhan Kegiatan kognitif dan negatif Keputusasaan Harga diri rendah Batasan/gangguan kepribadian antisosial (Rastirainia, 2009)

Tingkatan Ancaman bunuh diri Peringatan verbal atau nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang tersebut mungkin menunjukkan secara verbal bahwa ia tidak akan berada di sekitar kita lebih lama lagi atau mungkin juga mengkomunikasikan secara nonverbal melalui pemberian hadiah, merevisi wasiatnya dan sebagainya. Pesanpesan ini harus dipertimbangkan dalam konteks peristiwa kehidupan terakhir. Ancaman menunjukkan ambivalensi seseorang tentang kematian. Kurangnya respon positif dapat ditafsirkan sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Upaya bunuh Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu yang dapat mengarah kematian jika tidak dicegah. Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau diabaikan. Orang yang melakukan upaya bunuh diri dan yang tidak benar-benar ingin mati mungkin akan mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya. Klasifikasi Perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang diantaranya :

Suicidal ideation, Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau sebuah metoda yang digunakan tanpa melakukan aksi/ tindakan, bahkan klien pada

tahap ini tidak akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perawat perlu menyadari bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikiran tentang keinginan untuk mati

Suicidal intent, Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang konkrit untuk melakukan bunuh diri,

Suicidal threat, Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yan dalam , bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya .

Suicidal gesture, Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada percobaan untuk melakukan bunuh diri. Tindakan yang dilakukan pada fase ini pada umumnya tidak mematikan, misalnya meminum beberapa pil atau menyayat pembuluh darah pada lengannya. Hal ini terjadi karena individu memahami ambivalen antara mati dan hidup dan tidak berencana untuk mati. Individu ini masih memiliki kemauan untuk hidup, ingin di selamatkan, dan individu ini sedang mengalami konflik mental. Tahap ini sering di namakan Crying for help sebab individu ini sedang berjuang dengan stress yang tidak mampu di selesaikan.

Suicidal attempt, Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang mematikan . walaupun demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan kehidupannya.

Suicide. Tindakan yang bermaksud membunuh diri sendiri . hal ini telah didahului oleh beberapa percobaan bunuh diri sebelumnya. 30% orang yang berhasil melakukan bunuh diri adalah orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya. Suicide ini yakini merupakan hasil dari individu yang tidak punya pilihan untuk mengatasi kesedihan yang mendalam.

B. Rentang Respon Menurut Beck (1994) dalam Keliat (1991 hal 3) mengemukakan rentang harapan putus harapan merupakan rentang adaptif maladaptif.

Respon adaptif

Respon maladaptive

Harapan Yakin Percaya Inspirasi Tetap hati Putus harapan Tidak berdaya Putus asa Apatis Gagal dan kehilangan Ragu-ragu Sedih Depresi Bunuh diri Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku, sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya setempat. Respon maladaptif antara lain : a. Ketidakberdayaan, keputusasaan, apatis. Individu yang tidak berhasil memecahkan masalah akan meninggalkan masalah, karena merasa tidak mampu mengembangkan koping yang bermanfaat sudah tidak berguna lagi, tidak mampu mengembangkan koping yang baru serta yakin tidak ada yang membantu. b. Kehilangan, ragu-ragu Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak realistis akan merasa gagal dan kecewa jika cita-citanya tidak tercapai. Misalnya : kehilangan pekerjaan dan kesehatan, perceraian, perpisahan individu akan merasa gagal dan kecewa, rendah diri yang semua dapat berakhir dengan bunuh diri. c. Depresi Dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang ditandai dengan kesedihan dan rendah diri. Biasanya bunuh diri terjadi pada saat individu ke luar dari keadaan depresi berat. d. Bunuh diri

Adalah tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk mengkahiri kehidupan. Bunuh diri merupakan koping terakhir individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi. C. Faktor Predisposisi 1. Faktor genetic dan teori biologi Factor genetic mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri pada keturunannya. Disamping itu adanya penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi terjadinya resiko buuh diri. 2. Teori sosiologi Emile Durkheim membagi suicide dalam 3 kategori yaitu : Egoistik (orang yang tidak terintegrasi pada kelompok social) , atruistik (Melakukan suicide untuk kebaikan masyarakat) dan anomic ( suicide karena kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan beradaptasi dengan stressor). 3. Teori psikologi Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh diri merupakan hasil dari marah yang diarahkan pada diri sendiri. Sedangkan Menurut Stuart dan Sundeen (1997), faktor predisposisi bunuh diri antara lain : Diagnostik > 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu beresiko untuk bunuh diri yaitu gangguan apektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia. 1. Sifat kepribadian Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya resiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan, implisif dan depresi. 1. Lingkungan psikososial Seseorang yang baru mengalami kehilangan, perpisahan/perceraian, kehilangan yang dini dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang berhubungan dengan bunuh diri. 1. Riwayat keluarga

Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor resiko penting untuk prilaku destruktif. 1. Faktor biokimia Data menunjukkan bahwa secara serotogenik, apatengik, dan depominersik menjadi media proses yang dapat menimbulkan prilaku destrukif diri. D. Faktor Presipitasi 1. Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah : 2. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti. 3. Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres. 4. Perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri. 5. Cara untuk mengakhiri keputusasaan. Penyebab lain: 2. Adanya harapan untuk reuni dan fantasy. 3. Merupakan jalan untuk mengakhiri keputusasaan dan ketidakberdayaan 4. Tangisan untuk minta bantuan 5. Sebuah tindakan untuk menyelamatkan muka dan mencari kehidupan yang lebih baik

E. Mekanisme Koping a. Mood/affek Depresi yangpersisten, merasa hopelessness, helplessness, isolation, sedih, merasa jauh dari orang lain, afek datar, sering mendengar atau melihat bunyi yang sedih dan unhappy, membenci diri sendiri, merasa dihina, sering menampilkan sesuatu yang tidak adekuat di sekolah, mengharapkan untuk dihukum. b. Perilaku/behavior. Perubahan pada penampilan fisik, kehilangan fungsi, tak berdaya seperti tidak intrest, kurang mendengarkan, gangguan tidur, sensitive, mengeluh sakit perut, kepala sakit, perilaku antisocial : menolak untuk minum, menggunakan obat obatan, berkelahi, lari dari rumah.

c. Sekolah dan hubungan interpersonal. Menolak untuk ke sekolah, bolos dari sekolah, withdraw sosial teman temannya, kegiatan kegiatan sekolah dan hanya interest pada hal hal yang menyenangkan, kekurangan system pendukung sosial yang efektif. d. Ketrampilan koping. Kehilangan batas realita, menarik dan mengisolasikan diri, tidak menggunakan support system, melihat diri sebagai orang yang secara total tidak berdaya.

II. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN A. Masalah Keperawatan

B. Data Fokus Pengkajian Pengkajian merupakan tahapan awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahapan pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi, data biologis, psikologis, sosial, dan spiritual (Stuart dan Sundeen, 1998). Data pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (Budi Ana Keliat, 1999). Isi pengkajian meliputi : 1. Identitas Klien Meliputi Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, dan dari penanggung jawab. 2. Keluhan utama dan alasan masuk Keluhan utama atau alasan masuk ditanyakan pada keluarga/klien, apa yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke rumah sakit. Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada , berdiam diri dikamar ,menolak interaksi dengan orang lain , tidak melakukan kegiatan sehari hari , dependen. 3. Faktor predisposisi

Kehilangan , perpisahan , penolakan orang tua ,harapan orang tua yang tidak realistis ,kegagalan / frustasi berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial. Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi , kecelakaan dicerai suami , putus sekolah ,PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan , tituduh kkn, dipenjara tiba tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama. 4. Faktor presipitasi Faktor internal dan eksternal : trauma dan ketegangan peran. (transisi peran : perkembangan, situasi, dan sehat sakit). 5. Aspek fisik Mengukur dan mengobservasi TTV, ukur TB dan BB, aktivitas sehari-hari, pola tidur, pola istirahat, rekreasi dan kaji fungsi organ tubuh bila ada keluhan. 6. Aspek psikososial Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi. Konsep diri : - Citra tubuh : Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan perubahan tubuh , persepsi negatip tentang tubuh . Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang , mengungkapkan keputusasaan, mengungkapkan ketakutan. - Identitas diri : Ketidak pastian memandang diri, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan . - Peran diri : Tugas yang diemban dalam keluarga, Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit , proses menua , putus sekolah, PHK. - Ideal diri : Harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas dll. Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. - Harga diri : Hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan penghargaan orang lain terhadap dirinya.

Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah. 7. Status mental Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata, kurang dapat memulai pembicaraan, klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan denga orang lain, Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup. 8. Kebutuhan persiapan pulang Kemampuan makan klien, klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC serta membersihkan dan merapikan pakaian Mandi klien dan cara berpakaian, observasi kebersihan tubuh klien Istirahat dan tidur klien, aktivitas didalam dan diluar rumah Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan setelah minum obat. 9. Mekanisme koping Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakannya pada orang orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri). 10. Masalah psikososial dan lingkungan Dari data keluarga atau klien mengenai masalah yang dimiliki klien 11. Pengetahuan Dapat didapatkan melalui wawancara dengan klien kemudian tiap bagian yang dimiliki klien disimpulkan dalam masalah. 12. Aspek medik Terapi yang diterima klien bias berupa ECT, terapi lain seperti terapi psikomotor, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spiritual, terapi okupasi, dan terapi lingkungan, TAK, serta rehabilitasi (Khaidir Muhaj, 2009).

III. ANALISA DATA Data yang diambil adalah data objektif dan data subjektif. Data Objektif adalah data yang ditemukan secara nyata. Data ini didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.

Observasi yang dilakukan pada klien akan ditemukan :


Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul. Menghindari orang lain (menyendiri), klien nampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan.

Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain / perawat.

Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk. Berdiam diri di kamar/tempat terpisah. Klien kurang mobilitasnya. Menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.

Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. Artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan.

Posisi janin pada saat tidur.

Data Subjektif adalah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini diperoleh melalui wawancara perawat kepada klien dan keluarga. Klien mengatakan: Sukar didapati jika klien menolak berkomunikasi. Beberapa data subjektif adalah menjawab pertanyaan dengan singkat, seperti kata-kata tidak , iya, tidak tahu. Data yang diperoleh kemudian dikelompokkan dan perawat langsung merumuskan masalah keperawatan dan masalah kolaboratif. Data objektif dan data subjektif yang mungkin muncul pada klien penderita Menarik diri adalah: Data Subjektif Pasien merasa lemah Pasien mengatakan malas untuk Data Objektif Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan. Berat badan menurun atau meningkat secara drastis. Kemunduran secara fisik. Tidur berlebihan. Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama.

beraktivitas Pasien merasa tidak berdaya.

Banyak tidur siang. Kurang bergairah. Tidak memperdulikan lingkungan. Kegiatan menurun. Immobilisasai. Mondar-mandir (sikap mematung,

melakukan gerakan berulang). Keinginan seksual menurun.

IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul, yaitu : 1. Isolasi sosial : menarik diri. 2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah. 3. Resiko perubahan sensori persepsi. 4. Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang lain. 5. Gangguan komunikasi verbal, kurang komunikasi verbal. 6. Intoleransi aktifitas. 7. Perilaku Kekerasan.

V. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Diagnosa : Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah DIAGNOSA RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN TUJUAN KRITERIA EVALUASI Setelah kali pertemuan, SP 1 pasien mampu : Menyebutkan, menyadari penyebab Menyebutkan, menyadari penyebab Tanyakan keuntungan dan kerugian Identifikasi penyebab isolasi kemudian masukan dlm jadwal INTERVENSI

Gangguan konsep Pasien mampu : diri : Harga diri rendah

isolasi sosial: menarik diri, Membina saling keuntungan kerugian

isolasi sosial: menarik Latih berkenalan dan berinteraksi dgn org lain serta diri, kegiatan interaksi pasien hubungan Nilai kemampuan yang dapat dilakukan saat ini percaya dan berinteraksi - Diskusikan dengan pasien kemampuan yang masih digunakan saat ini - Bantu pasien menyebutkannya dan memberi penguatan terhadap kemampuan diri yang

hubungan Membina percaya dan saling keuntungan kerugian dgn org lain

berinteraksi

dgn org lain

diungkapkan pasien - Perlihatkan respon yang kondusif dan menjadi pendengar yang aktif. Pilih kemampuan yang akan dilatih Diskusikan dengan pasien beberapa aktifitas yang dapat dilakukan dan dipilih sebagai kegiatan yang akan pasien lakukan sehari-hari

Bantu pasien menetapkan aktifitas mana yang dapat pasien lakukan secara mandiri - Aktifitas yang memerlukan bantuan minimal dari keluarga - Aktifitas apa saja yang perlu bantuan penuh dari keluarga atau lingkungan terdekat pasien - Beri contoh cara pelaksanaan aktifitas yang dapat dilakukan pasien - Susun bersama pasien aktifitas yang dapat

dilakukan pasien Nilai kemampuan pertama yang telah dipilih Memastikan dalam jadwal kegiatan pasien SP 2 Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1) dengan orang lain Bertahap & Masukan dalam jadwal latih cara berkenalan dgn 2 org / lebih Pilih kemampuan kedua yang dapat dilakukan Latih kemampuan yang dipilih Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien SP 3 Masukan dalam jadwal kegiatan pasien Sp 3 :

Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1 & SP 2) Memilih kemampuan ketiga yang dapat dilakukan Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien Keluarga mampu Setelah kali pertemuan, SP 1 merawat pasien dengan keluarga mampu Identifikasi masalah yang dirasakan dalam merawat Menarik diri di rumah menjelaskan tentang : pasien dan sistem rumah : Jelaskan proses terjadinya isolasi sosial : menarik pendukung yang efektif Masalah isolasi sosial diri bagi pasien. dan dampaknya pada Jelaskan tentang cara merawat pasien pasien Pengobatan keluarga membantu mengatasi sosialnya Sikap Main peran dalam merawat pasien isolasi social: menarik diri RTL keluarga/jadwal keluarga untuk untuk Susun pasien isolasi SP 2 Evaluasi kemampuan SP 1 menjadi

merawat pasien

Penyebab isolasi sosial Latih keluarga langsung ke pasien yang berkelanjutan dan Menyusun RTL keluarga/ jadwal kegiatan untuk mencegah putus obat merawat pasien Mengidentifikasi kemampuan dimiliki pasien Menyediakan pasilitas SP 3 yang Evaluasi kemampuan keluarga Evaluasi kemampuan pasien

untuk Mendorong Memuji

pasien RTL keluarga - Follow up - Rujukan

melakukan kegiatan pasien

melakukan kegiatan pasien saat

pasien dapat melakukan kegiatan Membantu pasien Membantu Membantu perkembangan pasien menyusun melatih

jadwal kegiatan pasien

DAFTAR PUSTAKA Bee_robby. 2011. Askep Isolasi sosial. http://www.scribd.com Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan jiwa. Khaidir Muhaj, 2009. Askep menarik diri. http://khaidirmuhaj.blogspot.com. Anna Budi Keliat, SKp. (2000). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sosial Menarik Diri, Jakarta ; Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999 Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998 Townsend. (1998). Nursing Diagnosis in Psychiatric Nursing a Pocket Guide for Care Plan Construction. Edisi 3.Jakarta : EGC Nurjanah, Intansari. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta : Momedia Tarwoto dan Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta. Stuart, Sudden, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Jakarta : EGC Sumber: Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. PT Refika Aditama: Bandung) Stuart, GW and Laraia (2005). Principles and practice of psychiatric nursing, 8ed. Elsevier Mosby, Philadelphia http://rastirainia.wordpress.com/2009