Anda di halaman 1dari 16

BAB II GRAHA MODE SERTA PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

A. Tinjauan Kegiatan Graha Mode 1. Beberapa Pengertian dan Batasan Mode dan busana adalah dua hal yang terkait erat. Kata mode dalam bahasa Indonesia dipungut dalam bahasa Belanda, yaitu mode, yang dalam bahasa Inggris disebut fashion. Dalam kamus bahasa Indonesia yang disusun oleh Poerwodarminto disebutkan bahwa mode adalah ragam cara atau gaya yang terbaru pada suatu waktu. Berdasarkan pengertian tersebut di atas, orang akan melihat dan mengalami bahwa mode itu selalu berubah-ubah dan tidak selalu tetap. Tidak ada mode yang dapat bertahan lama, karena selera seseorang terhadap sesuatu selalu berubah, cepat bosan dan selalu mencari sesuatu yang baru. Namun, suatu mode dapat berulang kembali sesudah melalui satu masa tertentu. Kata busana merupakan kata baru dalam khasanah bahasa Indonesia dan sinonim dari kata pakaian dan dipakai terutama dipakai dalam dunia mode.4) Dalam pengertian sehari-hari,busana adalah segala sesuatu yang kita pakai pada tubuh, mulai dari kepala sampai ujung kaki, yang meliputi : a. Segala benda yang melekat pada tubuh, seperti celana, sarung, jaket, baju dan lain-lain. b. Segala benda yang berguna melengkapi dan menambah keindahan bagi si pemakai seperti hiasan rambut, giwang,
)

Tata Busana I untuk SMTK / SMKK, 1984.

kalung, selendang, topi, sepatu dan sebagainya, atau yang lebih dikenal dengan nama aksesoris. Sedang mode busana dapat diartikan sebagai bentuk, ragam, cara, gaya dari busana dan seni pemakainya. 5) 2. Tujuan dan Fungsi Busana merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk menutupi tubuh dan melindunginya terhadap pengaruh luar, juga merupakan salah satu persyaratan norma kesusilaan dan peradaban untuk memenuhi rasa keindahan dan keserasian. Oleh sebab itu busana adalah salah satu kebutuhan yang berfungsi : a. Menutupi tubuh dan melindungi terhadap pengaruh dari luar seperti udara panas, dingin, angin, gigitan serangga dan kemungkinan terkena benda tajam. b. Memenuhi syarat kesusilaan dan peradaban, yaitu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, maka ukuran kesopanan tidak dapat diukur dengan sehelai kain yang melekat dan menutupi tubuh. Dalam kehidupan modern, cara berbusana harus disesuaikan dengan keadaan disekitarnya dan diukur dengan norma-norma agama, adat istiadat serta hubungan dengan sesama manusia dimana manusia akan dianggap tidak beradab apabila tanpa busana, atau berbusana tetapi tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku disekitarnya. c. Memenuhi rasa keindahan dan keserasian, mengingat busana merupakan persyaratan pribadi seseorang sehingga melalui busana akan dapat terlihat seseorang mempunyai sifat periang, pendiam atau sederhana. Walaupun pribadi orang berlainan, tetapi mempunyai keinginan dalam keserasian dan keindahan, serta penilaian yang baik dari orang di sekitarnya.
5)

Pengetahuan Busana II Untuk SMTK / SMKK, 1985

Oleh karena itu walau mode selalu berganti setiap saat, seseorang harus selalu mengukur dirinya patut atau tidak bila mengikuti mode yang baru. Dunia busana sangat erat hubungannya dengan budaya, sehingga perubahan sosial budaya dan ekonomi masyarakat mempengaruhi perkembangan busana. Pada jaman feodal, orientasi busana hanya terbatas pada kaum bangsawan, di mana agar mode yang mereka gunakan tidak menjadi mode masyarakat kebanyakan , maka mode dan desainpun dibatasi oleh hukum, sehingga busana benar-benar menjadi status simbol yang dilindungi. Di Indonesia sampai saat ini juga masih mengenal pembatasan-pembatasan penggunaan kain batik dengan motif tertentu pula oleh sementara kaum ningrat. Dalam era masyarakat industri, keadaan sosial ekonomi seseorang akan dapat terlihat dari cara orang tersebut berpakaian, namun bukan tingkat hirarki, sehingga mode busana bukan lagi merupakan hak istimewa bagi golongan the happy few. Kini dunia mode busana memungkinkan seseorang mempergunakan kesanggupan berekspresi diri agar dengan demikian dapat mencocokkan dirinya pada golongan masyarakat tertentu di mana orang tersebut patut dan ingin digolongkan. Pada saat yang bersamaan, mode akan mempengaruhi hasrat seseorang untuk menjadi khas yang dapat mendorong dalam membuktikan kepribadiannya. Dengan kata lain mode menawarkan kepada seseorang untuk memiliki profilnya yang khas dan tersendiri. Dengan demikian, studi di bidang ini juga merupakan struktur-struktur kemasyarakatan, mengingat suatu perkembangan baru dapat disebut mode bila hal tersebut sudah diterima oleh masyarakat pemakai yang luas. 3. Perkembangan dan Pengelompokkan Mode Busana

a.

Sejarah Perkembangan mode busana Pakaian mengalami perubahan dari jaman ke jaman. Perkembangan pakaian ini berjalan bersama-sama dengan perkembangan sejarah pada umumnya. Setiap perubahan sejarah akan ditandai oleh ciri-ciri tertentu dalam perkembangan mode. Sejarah perkembangan pakaian dimulai dari primitif Neolithikum Perunggu Mesir Mesopotamia Persia Yunani Bisantium abad pertengahan Renaissance Louis XIII Louis XIV Louis XVI Periode Directoire 1795-1804 Periode Empire 1804-1815 Victorian 1837-1900 Periode Modern. Perkembangan mode merupakan perputaran mode, sedang mode yang benar-benar baru sebenarnya tidak ada. Ternyata pada prinsipnya perubahan mode selalu berputar mengulang lagi desain lama dengan tambahan variasi yang baru. Sejarah perputaran mode dapat terbukti bahwa trend tahun 1968-1766-1787-1989, rok balon yang populer tahun 1987 merupakan pengulangan dari jaman Renaissance. Rok mini diatas lutut adalah trend pada 1920, sedang mini sepaha di tahun 1990 merupakan pengulangan dari tahun 1967, mode rompi 1600-1961-1990. Sexi Style pada tahun 1759-1900-1932. Semua itu menunjukkan bahwa mode selalu berputar. 6) Cara promosi inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh desainer mode dari berbagai rumah mode di seluruh dunia dengan mengadakan fashion show atau peragaan busana. Dengan cara-cara seperti inilah pakaian diperkenalkan sebagai pemakai di seluruh dunia. Gaya pakaian yang diperkenalkan oleh para pencipta sangat beragam dan selalu berubah-rubah menurut waktu. Dalam dunia mode gaya pakaian dikelompokkan dalam aliran-

6)

Ibid

aliran, yaitu :7) aliran klasik yaitu alliran yang dikenakan dari masa ke masa. Hampir tidak mengalami perubahan dalam penampilan busana. Contohnya adalah pakaian adat ataupun pakaian nasional suatu bangsa antara lain : 1) Aliran New Classic yaitu aliran yang lambat mengalami perubahan dalam penampilan busana. Perubahan tersebut terjadi berkisar setiap sepuluh tahun sekali. Contohnya bisa ditemui pada busana pria atau busana wanita dewasa. 2) Trend yaitu aliran dalam dunia mode yang mengalami perubahan penampilan berpakaian sekitar setahun sekali, bahkan sering terjadi dalam satu alliran terjadi beberapa tema gaya. Contohnya gaya pakaian tahun 1970 (trend 70an) yang hanya menampilkan gaya tertentu seperti celana panjang cut bray (hell hottom) yang diilhami oleh gaya pakaian penyanyi Elvis Presley atau gaun mini yang dipelopori oleh Mery Quant. 3) Aliran New Waves yaitu aliran yang mengalami perubahan dalam penampilan pakaian yang cepat sekali, sekitar tiga bulan sekali. Desain-desain aliran New Waves ini tampak segar, murah dan meriah yang sengaja dirancang untuk diikuti remaja dan ibu-ibu muda. Adapun jenis pakaian menurut kuantitas dan kualitas

produksinya ada tiga yaitu : 1). Houte Couture; adalah jenis pakaian berselera dan bermutu tinggi dengan bahan-bahan yang terpilih dan terbuat khusus bagi pemesan dengan selera khusus pula dan dikerjakan dengan tenaga yang terlatih, karena dalam pengerjaannya 80 % dengan tangan. Contohnya adalah jenis-jenis pakaian berdasarkan pesanan atau pakaian yang diperagakan untuk
7)

Display, Bahan Ajar Currculo SMK,1994

10

memperkenalkan garis-garis rancangan baru dengan bahan dan warna baru. 2). Semi Houte Couture; merupakan jenis Houte Couture yang diproduksi sejumlah tertentu dan sekian proses pekerjaan tangan diambil alih oleh mesin. Produk ini lebih komersial sifatnya, agar harga pakaian-pakaian yang bermutu dapat ditekan harganya dan para produsen mengalami peningkatan bisnis. Sifat pakaian jenis ini adalaah ekslusif namun tidak unik. 3). Ready to Wear Pret a Porter adalah produksi palakaian dalam jumlah besar dan untuk dipasarkan secara luas sehingga konsumen. hasilnya Adapun dapat dinikmati sebagian besar faktor-faktor yang mempengaruhi

perkembangan mode adalah : a). Pengaruh sosial Status sosial ikut menentukan pilihan terhadap mode, misalnya mode busana seorang guru akan berbeda busana seorang artis b). Pengaruh teknologi Zaman dulu busana-busana terlihat unik, karena mereka bepergian menggunakan kereta kuda dengan kemajuan teknologi alat transportasi, dipilih busana-busana yang praktis dan rapi. c). Pengaruh psikologis Hingga saat perkembangan mode busana masih berorientasi ke Benua Eropa, mode wanita umumnya berkiblat ke Paris dan mode pria berkiblat ke Inggris, sehingga anggapan bahwa barang yang di impor dari negara tersebut akan lebih baik dari produk dalam negeri. d). Pengaruh bahan baku

11

Pada zaman dulu perolehan bahan baku sangat sulit, selain persediaan minim di pasaran harganyapun mahal, sehingga mengakibatkan perkembangan mode yang tidak merata. Produk tekstil yang berlimpah dan harga yang relatif dapat di jangkau oleh masyarakat, mendorong untuk terus mengikuti mode e). Pengaruh usia Usia anak-anak cenderung memilih busana yang mirip dengan temannya. Pada usia dewasa dan remaja akan berusaha tampil beda, karena usia ini cenderung menampilkan pribadinya yang tidak mau disamai orang lain. f). Peristiwa nasional dan internasional Peristiwa penting dan menarik baik secara nasional maupun internasional disebarkan melalui media komunikasi yang cukup canggih. Sehingga mode busana ataupun tata rambut orang-orang terkenal akan cepat ditiru dan mewabah di seluruh dunia secara cepat. b. Busana Fashion/mode selalu berkembang dan berubah-ubah sesuai dengan kondisi. Adapun unsur-unsur yang mempengaruhi perkembangan dan perubahan tersebut adalah : 1). Pemikir Terdiri dari para negarawan, pemuka adat dan alim ulama. Tokoh pemikir ini sering mempengaruhi atau menentukan penampilan busana tretentu, misalnya ketentuan pemerintah untuk mengenakan produk dalam negeri. 2). Pencipta/perancang (designer) Adalah unsur pembuat adi karya, unsur yang menciptakan konsep atau pola dasar dari sesuatu yang sangat awal, Unsur-unsur yang Terlibat Dalam Dunia

12

sejak dari pemilihan dari bahan baku yang akan digunakan, menentukan warna serta motif dan tata letaknya yang tergabung dalam suatu komposisi dasar hingga sistematika cara pembuatan dan pemakaiannya. 3). Penata Adalah unsur yang mengembangkan suatu rancangan original menjadi beberapa gaya tanpa merubah konsep/pola dasar yang dibuat si perancang 4). Pembuat Adalah unsur yang membuat suatu rancangan busana menjadi suatu bentuk kenyataan, yaitu sebuah busana ataau lebih sesuai dengan rancangan busana yang ada. Secara berurut terdiri dari pembuat, pemotong, penjahit, penyelesaian dan akhir. 5). Penyelenggara Unsur ini mencakup bidang promosi dan pemasaran, yang terdiri dari fashion koordinator, pemeraga, biro iklan, bagian distribusi dan pemasaran. Unsur penyelenggara ini harus bekerja sama satu dengan yang lain dengan baik agar busana yang telah diproduksi cepat memenuhi tuntutan unsur-unsur berikutnya. 6). Pemakai Adalah masyarakat konsumen yang terdiri dari beberapa lapisan dan selera. Oleh karena itulah busana yang diproduksi disesuaikan dengan adanya lapisan atau selerah konsumen tersebut di atas. Sebagai contoh adanya busana konveksi, busana madya dan adi busana. 7). Unsur pengamat Pengamat mode terdiri kritisi mode, kolumnis mode, peneliti mode dan sebagainya.

13

c.

Sifat-sifat Mode Busana 1). Bebas, penuh surprises Karena sifat mode busana yaang selalu berubah-ubah setiap saat, maka mode busana selalu memberikan kejutan-kejuatn baru bagi pemerhatinya. 2). Dinamis, tidak monoton Ini berarti mode busana merupakan sesuatu yang selu berkembang variatif 3). Menonjolkan diri Seringkali mode busana dimanfaatkan untuk menarik perhatian orang lain, dengan berbagai cara sehingga bisa lebih menonjol dibandingkan lainnya. 4). Berputar/perulangan, mengalir Suatu gaya yang sudah lalu dapat menjadi in lagi masa suatu masa, sehingga mode busana merupakan siklus yang selalu berputar 5). Beradaptasi Walaupun pada dasarnya sama namun mode busana sangat beragam karena selalu beradaptasi dengan tempat ataupun waktu.

4.

Latar Belakang Pertumbuhan Mode Busana di Indonesia Pertumbuhan mode busana di Indonesia tidak lepas dari meningkatnya taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor yang melatarbelakangi pertumbuhan mode yaitu : a. Teknologi industri dan komunikasi 1. Industri Adanya kemajuan teknologi yang semakin lengkap serta kemampuan pabrikasi dalam meningkatkan produktivitas baik dari segi kuantitas maupun kualitas tekstil dan garment.

14

2. Komunikasi Kecanggihan informasi teknologi komunikasi khususnya dunia mode, mampu menjembatani perkembangan

sehinggga menimbulkan keragaman mode busana baik mode yang berasal dari luar maupun dalam negeri. 3. Ekonomi Meningkatnya kemampuan taraf hidup masyarakat mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap hasil industri konveksi yakni busana. Masyarakat lebih bebas menentukan corak, gaya, mutu, sesuai selera masing-masing. 4. Pendidikan dan budaya Perkembangan budaya sangat menentukan pertumbuhan mode busana. Hal ini sejalan pendidikan dan pengetahuan terhadap mode busana itu sendiri, yang berdampak terhadap tata susila atau etika moral berbusana. Masyarakat dapat lebih selektif meliputi peningkatan kualitas dan desain pakaian jadi, penciptaan sarana untuk pemasaran yang lebih baik, peningkatan jumlah pakaian jadi yang berkualitas dan pengusaha maupun operator industrinya, serta modernisasi permesinan industri pakaian jadi. Diantara faktor-faktor tersebut di atas terlihat bahwa faktor penciptaan fasilitas untuk pemasaran yang lebih baik merupakan titik hubung antara pendesain dan konsumennya. Faktor tersebut merupakan faktor yang vital karena disitulah terciptanya komunikasi antara pendesain dan konsumennya. Pendesain dapat memperkenalkan hasil karyanya di tempat tersebut sementara itu selera masyarakat dapat dipantau dari seberapa jauhkah mereka tertarik akan suatu jenis mode tertentu yang ditawarkan di tempat itu.

15

5.

Tinjauan Terhadap Fasilitas Graha Mode yang Sudah Ada di Indonesia Informasi mengenai busana termasuk hal yang sulit di dapat dengan mudah, hanya akan diperoleh dengan biaya yang besardalam wujud biro konsultasi khusus di tempat yang berbeda. Misalkan untuk konsultasi busana informasi didapatkan khusus di sekolah mode atau pada boutique para desainer yang mempunyai fasilitas tersebut. Sebagai studi komparasi Graha Mode di Jakarta dipilih beberapa perusahaan yang telah lama dan lebih profesional dalam mengelola kegiatannya, seperti Fashion cafe, Clix (Commersial Photography, School of Fashion and Graphic Design,Stocholm Mode Center, Pusat Pendidikan Kecantikan dan Keterampilan wanita Sari Ayu Marhta Tilaar Soraya Hague Modeling School, Sekolah Desain Busana Jhon Robert Powers dan Oq Modelling School : a. Fashion Cafe Lokasi : Jakarta, New York. London Sumber : http://www.fashion cafe.com Fashion Cafe adalah sebuah restoran yang bertemakan dunia model secara International selain sebagai restoran, Fashion Cafe ini digunakan sebagai sarana promosi sekaligus pagelaran-pagelaran musik yang diselingi dengan peragaan busana (fashion show).Kelebihan dari tempat ini adalah detaildetail elemen interiornya yang unik dengan tema dunia mode, pencahayaan yang optimal dengan sistem komputerisasi, serta pembagian ruang yang sesuai dengan fungsinya. b. Clix (Commercial Photography) Arsitek Lokasi : Rockefeller/ Hricak Architects : Westminster, California

Sumber : Store and Boutiques

16

Tempat yang menyediakan fasilitas untuk pemotretan. Desain Arsitekturnya disebut dengan sebuah transformasi. Material yang dipakai adalah material biasa yang dibentuk dengan cara yang tidak biasa dengan berpedoman pada fungsi dan nilai-nilai estetika. Panel/list/lantai didominasi oleh playwood dilengkapi dengan cermin, jendela-jendela kaca dan foto-foto khusus. c. School of Fashion and Graphic Design Arsitek Lokasi Tahun : Erick Van Egaraat : Utrecht, Netherlands : 1997

Sumber : Architectural Review, Mei 1998 School of Fashion and Graphic Design adalah sebuah bangunan baru untuk Universitas Teknik di Utrecht, Netherland. Bangunan ini terdiri dari 3 lantai secara blok horisontal yang mengelilingi sebuah lapangan. Blok yang terbesar merupakan kelas-kelas mode dan design grafis. Dihubungkan dengan kantin, auditorium, dan fasilitas lainnya. d. Stocholm Mode Center Arsitek Lokasi : Mischa Borowski dan Krister Akeby : Stockholm

Sumber : Master, Architecture Commercial Spaces Bangunan Mode Center yang memiliki luas bangunan 30.000 m 2 . Ini menggambarkan konsep ruang yang diperuntukkan bagi publik dengan sistem sirkulasi yang bebas, dengan memanfaatkan cahaya secara maksimal. Ruangan diatur secara sederhana dengan arah sirkulasi yang jelas sehingga menghasilkan ruang yang tampak bersih. e. Pusat Pendidikan Kecantikan dan Keterampilan Wanita Sari Ayu Martha Tilaar Soraya Haque Modelling School.

17

Terletak di jalan KH. Wahid Hasyim Kav. 1921 Menteng Jakarta Pusat. Bangunan terdiri dari 3 blok bangunan utama yang dihubungkan oleh koridor masing-masing unit kegiatan dengan besaran site kurang lebih 2500 m 2 . Status gedung adalah milik perusahaan Sari Ayu Martha Tilaar namun demi meningkatkan profesional dalam dunia mode busana dan kecantikan maka pada tahun 1991 Soraya Haque bergabung dengan status gedung sewa. Sebagai pusat kegiatan mode, didalamnya berlangsung kegiatan pendididkan, informasi dan promosi di bidang mode busana dan kecantikan, juga terdapat kegiataan penunjang insidentil dan seperti kegiatan kegiatan rekreatif seminar/lokakarya, lainnya. Untuk peragaan/show

pengelolaan laboratorium busana dan kecantikan didirikan sebuah pabrik kawasan industri Pulo Gadung. Laboratorium inlah yang memproduksi berbagai produk kosmetika Sari Ayu Martha Tilaar. f. Sekolah pengembangan desain busana JOHN ROBERT

POWERS John Robert Powers adalah sebuah sekolah khusus pada desain busana. Bertujuan untuk memebentuk desainerdesainer andal, mengembangkan potensi dalam usaha mencari dan menciptakan peluang-peluang bisnis. Sekolah ini adalah cabang dari 70 cabang John Robert Powers yang berpusat di Boston USA. Sistem pengelolaan dilakukan secara internasional sehingga para alumnus mendapat sertifikat internasional pula. Adapun program pengembangan mode busana (personal growth) kegiatannya meliputi : 1). Tata Busana (Wardrobe) 2). Tata Rias (make-up) 3). Andam Rambut (Hair styiling)

18

4). Pemeliharaan Tubuh (Figur Control) Merupakan bangunan sewa milik Central Cikini Building yang terletak pada kawasan bisinis komersil di jalan Cikini Raya 60v. Menteng, Jakarta Pusat. Sistem pengelolaan dilakukan dengan memasarkan bagi ruang sewa beserta fasilitas yang penunjangnya perusahaan-perusahaan

mengembangkan usahanya di Jakarta. Gedung John Robert Powers terdiri atas 4 lantai dengan luas bangunan hanya 600 m2 dan skitar 20000 m2 luas dari Central Cikini Building dengan sistem transportasi vertikal menggunakan lift. g. OQ Modelling School OQ Modelling School adalah sekolah modeling yang bertujuan menjadikan warga belajar sebagai model profesional dan memberi pelajaran untuk menjadikan pribadi yang percaya diri, dengan program-program meliputi : 1). Peragawan/peragawati 2). Poto model 3). Tata busana 4). Tata wajah dan rambut 5). Olah tubuh Terletak dikawasan pusat perdagangan dan jasa komersial Wijaya Grand Centre, Jalan Wijaya II Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Gedung OQ Modelling School menempati dua blok yakni A 15 16 dengan luas perblok 75 m 2 x 2 blok = 150 m2 , dan terdiri atas 3 lantai. Dari kegiatan yang berlangsung, OQ Modelling Schoool khusus pada kegiatan pendidikan karena kegiatan promosi dan informasi hanya dilakukan melalui show room/etalase dalam ruang, publikasi tidak dieskpose.

19

B. Gambaran Indonesia 1.

dan

Kecendrungan

Kegiatan

Mode

Busana

di

Kegiatan mode Busana Dekade Indonesia, 1960-an dimana pertumbuhan 1970-an fashion kegiataan mode di dan dekade merupakan Indonesia tahun mulai

perkembangannya

desain

bergairah. Fashion desain adalah dunia yang mungkin sangat sadar akan naluri manusia. Jenis mode apapun bila dipakai, merupakan pancaran hati seseorang. Harry Dharsono, perancang ternama berpendapat Pakaaian memang dipandang sebagai simbol status buat sebagian orang. Menurut Soedjoko, dosen Departemen Seni Rupa ITB Fashion Desain hdala dunia yang hanya diketahui, dipikirkan dan dikembangkan, dimiliki serta disibuki kaum gahari dan diagungkan golongan menengah keatas. Tetapi kini bukan hanya kaum menengah atas yang menaruh perhatian pada mode busana, sebab kenyataannya rancangan para desainer muda muli memasuki lapisan menengah kebawah. Bagi para perancang, periode Januari hingga Maret adalah saat untuk menawarkan desain-desain baru yang akan memeeasuki pasar mulai bulan April. Era tiga bulan pertama setiap tahun adalah periode pembentukan selera Public, dan peragaan busana akan lebih sering diadakan darisebelumnya. Peragaan busana sebenarnya media promosi dan informasi busana yang dipamerkan tetapi hingga kini peragaan busana masih bersifat setengah hiburan. Ini disebabkan karena seringnya peragaan busana diselenggarakan dihotel-hotel besar ataupun ditempat-tempat mewah sehingga sasaran yang diinginkan kurang tercapai. Pada penyelenggara tampaknya menemukan cara baru yang mungkin lebih efektif, misalnya banyak toko-toko pakaian di Makassar memamerkan pakaian di

20

tokohnya sendiri, dengan tujuan bahwa para pengunjung sehabis melihat peragaan busana bisa langsung berbelanja. 2. Usaha dan Tujuan Pengembangan dan Peningkatan a. Usaha-usaha pengembangan dan peningkatan Untuk mewujudkan peningkatan dan pengembangan mutu tata busana Indonesia, hingga kini telah dilakukan usahausaha antara lain : 1). Menyelenggarakan festival mode busana secara periodik setiap tahun 2). Menyelenggarakan lomba perancang mode secara periodik setiap tahun 3). Menyelenggarakan seminar/lokarya sekaligus mengadakan peragaan busana keberbagai propinsi tertentu di Indonesia 4). Dengan bantuan pemerintah Ekspor melalui Nasional) BPEN (Badan Pengembangan Departemen

Perdagangan, yang membina para desainer dan pengusaha untuk diikutkan pada pameran-pameran dan promosi di luar negeri. b. Tujuan dari usaha pengembangan dan peningkatan 1). Meransang dan meningkatkan kualitas busana yang terjangkau oleh rakyat banyak. 2). Meningktkan dan mengembangkan kualitas busana Makassar sebagai salah satu komoditi penggalakan inpor ataupun ekspor non migas 3). Menumbuhkan citra masyarakat untuk menggunakan produksi dalam negeri 4). Membuka peluang dan harapan bagi para pengusaha, perancang mode dalam menyongsong kehidupan yang lebih cerah dimasa mendatang.

21