Anda di halaman 1dari 4

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Dampak Pemanasan Global Terhadap Perubahan Iklim 2.1.

1 Dampak pemanasan global terhadap suhu Berubahnya komposisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, yaitu meningkatnya konsentrasi GRK secara global akibat kegiatan manusia yang menyebabkan sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Akibatnya memicu naiknya suhu rata rata di permukaan bumi maka terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan secara global. Peningkatan suhu permukaan bumi pemanasan global berdampak langsung pada terus mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan. Mencairnya es saat ini berjalan jauh lebih cepat dari model model prediksi yang pernah diciptakan oleh para ilmuwan. Pencairan es di kutub ini secara langsung akan meningkatnya permukaan laut, bergesernya garis pantai, musim kemarau yang berkepanjangan, periode musim hujan yang semakin singkat, namun semakin tinggi intensitasnya,dan anomaly anomali iklim seperti El Nino La Nina. Hal hal ini kemudian akan menyebabkan sering terjadinya banjir rob, tenggelamnya beberapa pulau dan berkurangnya luas daratan. Saat suhu permukaan bumi terus meningkat, berbagi bencana akan terjadi pada bum dan kehidupan kita, diantaranya : Air bersih susah didapat (hanya 1 dari 5 penduduk dunia yang dapat memperoleh air bersih). Diperkirakan kondisi ini semakin buruk pada 2080, saat itu sekitar 3 milyar orang kekurangan air bersih. Sekitar 20-30% spesies menghadapi kepunahan Mencairnya hamparan es di Greenland mengakibatkan peningkatan tinggi permukaan air laut sekitar 6 meter. Untuk menghadapi hal ini sejumlah negara seperti Belanda sudah menggelar kompetisi merancang rumah terapung.

Banjir menggenangi kawasan dataran rendah yang merupakan kawasan lahan subur untuk pertanian seperti Bangladesh, Maldives, dan lokasi kota kota di pinggir pantai seperti Jakarta. Semakin tingginya frekuensi dan intensitas hujan badai dan angin topan. Terjadinya migrasi besar besaran karena banyak wilayah tidak dapat menopang kehidupan. Ancaman terhadap kesehatan manusia. Ledakan berbagai penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah. Di Eropa pada 2003 saja, sekitar 20.000 -30.000 orang kehilangan nyawa karena gelombang panas.

Proses penggurunan karena kekeringan yang berkepanjangan. Gagal panen akibat kekeringan sehingga terjadi kelaparan besar besaran. Terjadinya pengungsian besar besaran akibat hilangnya mata pencaharian. Nelayan sulit mendapatkan ikan karena kerusakan terumbu karang di seluruh dunia akibat suhu air laut meningkat. Kebakaran hutan semakin sering terjadi. Kenaikan suhu ekstrim di beberapa wilayah. Seperti suhu di Kalimantan yang biasanya sekitar 350C, naik menjadi 390C. Di Sumatera, dari suhu rata rata 33-340C menjadi 370C. Sementara Jakarta dari 32-340C berubah menjadi 360C.

2.1.2 Dampak pemanasan global terhadap curah hujan Menurut beberapa ahli telah terjadi perubahan ilkim yang salah satu indikasinya adalah perubahan pola hujan, akibat adanya anomali iklim seperti siklon tropis dan kejadian El Nino dan La Nina. Karena faktor penyebab hujan itu sangat banyak keragaman hujan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh keberadaannya di garis katulistiwa, aktivitas moonson, bentangan samudera Pasifik dan Hindia serta bentuk topografi yang sangat beragam. Gangguan siklon tropis (El-Nino, La-Nina, Madden Julian Oscillation (MJO) dan angin badai) diperkirakan juga ikut berpengaruh terhadap keragaman curah hujan. Seringnya terjadi anomali atau penyimpangan ini disebabkan oleh efek pemanasan global, sehingga proses penyeimbangan panas atau suhu bumi sebagai faktor penggerak cuaca juga mengalami perubahan sehingga mengakibatkan semakin sulit memprediksi awal musim penghujan dan musim kemarau yang sangat penting bagi sektor pertanian serta munculnya siklon tropis yang tidak pada waktu dan tempatnya.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatkan intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah tepengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

2.2 Penyebab Pemanasan Global 2.2.1. Efek Rumah Kaca Istilah efek rumah kaca pada mulanya berasal dari cara petani di daerah beriklim sedang yang menanam sayurannya di dalam rumah kaca Efek rumah kaca sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 oC (59 oF), bumi sebernarnya telah lebih panas 33 oC (59 oF ) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 oC sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfir akan mengakibatkan pemanasan global. Gas rumah kaca antara lain karbon dioksida (CO2), metana (CH4), Nitrous oksida (N2O), dan uap air (H2O) yang terdapat di atmpsfer secara alami menyerap radiasi panas matahari di lapisan atmosfer bagian bawah. Saat memasuki atmosfer, sinar matahari bergerak melalui gasgas rumah kaca tersebut. Di permukaan bumi energi pancaran sinar matahari diserap oleh tanah, air, dan seluruh ekosistem. Setelah diserap energi tersebut akan dipancarkan kembali ke atmosfer. Sebagian dari energi yang dipancarkan tersebut dikembalikan ke angkasa, tetapi sebagian besar ditangkap oleh gas-gas rumah kaca dan dipantulkan kembali ke bumi. 2.2.2. Efek Umpan Balik Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemansan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemansan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya

suatu keseimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika suhu global menaik, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.