Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO B BLOK 19

Tutor: dr. Linda Trisna, Sp.M (K) Disusun oleh: Kelompok 6 M. Reza Pahlevi Agien Tri Wijaya Yuni Paradita Djunaidi Zhazha Savira H Desy Aryani Lina Wahyuni Hrp Nurbaiti Oktavia Amini Diva Zuniar Ritonga Tri Nisdian Wardiah Robiokta Alfi Mona Feddy F Manurung Aldika Alviani Ganda Putra 04111001032 04111001041 04111001042 04111001081 0411100108 04111001093 04111001100 04111001108 04111001109 04111001125 04111001128 04111001130 04111001131

PENDIDIKAN DOKTER UMUM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA TAHUN 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun haturkan kepada Allah SWT karena atas ridho dan karunia-Nya laporan tutorial skenario B blok 19 ini dapat terselesaikan dengan baik. Laporan ini bertujuan untuk memaparkan hasil yang didapat dari proses belajar tutorial, yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Penyusun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan laporan ini, mulai dari tutor pembimbing, anggota kelompok 6 tutorial, dan juga teman-teman lain yang sudah ikut membantu dalam menyelesaikan laporan ini. Tak ada gading yang tak retak. Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik akan sangat bermanfaat bagi revisi yang senantiasa akan penyusun lakukan.

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul ........................................................................................................1 Kata Pengantar ........................................................................................................2 Daftar Isi .................................................................................................................3 Skenario A Blok 19 .................................................................................................4 I. Klarifikasi Istilah .................................................................................................4 II. Identifikasi Masalah ...........................................................................................5 III. Analisis Masalah ...............................................................................................6 IV. Sintesis ............................................................................................................ 25 V. Kerangka Konsep ............................................................................................. 56 VI. Kesimpulan ..................................................................................................... 57 Daftar Pustaka ....58

Skenario B Blok 19 Tahun 2013 Otoy, 4 tahun, dibawa orang tuanya untuk berobat ke poliklinik IKKK RMSH dengan keluhan timbul bercak merah sebagian ditutup keropeng kekuningan di tungkai kanan dan kiri disertai gatal sejak 4 hari yang lalu. Kisaran 5 hari lalu timbul lepuh-lepuh ukuran biji kacang hijau sampai biji jagung berisi cairan bening sampai kekuningan pada kedua tungkai. Lepuh mudah pecah menjadi keropeng warna kuning madu. Dalam 3 hari ini muncul benjolan sebesar kelereng di lipat paha kanan dan kiri. Keluhan ini tidak disertai demam. Saudara kembar Otoy, Oboy, juga pernah menderita sakit yang sama 10 hari yang lalu dan sembuh setelah berobat ke dokter. Mereka sering menggunakan baju dan handuk bersama. Mereka berdua sering bermain di luar rumah dan malas bila disuruh mandi. Pemeriksaan Fisik : Keadaan Umum : sadar dan kooperatif Vital sign : Nadi : 88x/menit, RR: 20x/menit, suhu : 37,0oC Keadaan Spesifik : KGB inguinalis lateral dextra et sinistra: terdapat pembesaran berupa nodul, 2 buah, bulat, diameter 1 cm, konsistensi kenyal, mobile, tidak nyeri tekan. Status Dermatologikus: Regio extremitas inferior dextra et sinistra: Plak eritem multipel, bulat, lentikuler, diskret, dengan permukaan ditutupi krusta kekuningan.

I.

Klarifikasi Istilah : kerak atau kotoran yang mengering pada luka. : lesi kulit >0,5 cm yang superficial, padat, dan menonjol berwarna

a. Keropang b. Plak Eritem

merah karena dilatasi kapiler. c. Lentikuler d. Diskret berkelompok. e. Krusta sekresi tubuh. 4 : lapisan luar yang terbentuk khususnya materi padat dari eksudat atau : berkenaan dengan atau berbentuk seperti lensa. : Dibuat dari bagian terpisaj atau ditandai oleh lesi yang tidak

f. Nodul g. Lepuh

: tonjolan atau nodus kecil yang padat, dapat dikenali dengan sentuhan. : suatu lesi kulit yang berbatas jelad, mengandung cairan, meninggi,

dan lebih dari 5 mm dalam diameter. h. KGB Inguinal : setiap akulumasi jaringan limfoid yang terorganisasi sebagai organ limfoid yang terletak sepanjang perjalanan limfatik regio inguinal lateral kiri dan kanan. i. Mobile : dapat digerakkan, tidak terfiksasi.

II.

Identifikasi Masalah

1. Otoy, 4 tahun, dibawa orang tuanya untuk berobat ke poliklinik IKKK RMSH dengan keluhan timbul bercak merah sebagian ditutup keropeng kekuningan di tungkai kanan dan kiri disertai gatal sejak 4 hari yang lalu. 2. Kisaran 5 hari lalu timbul lepuh-lepuh ukuran biji kacang hijau sampai biji jagung berisi cairan bening sampai kekuningan pada kedua tungkai. Lepuh mudah pecah menjadi keropeng warna kuning madu. 3. Dalam 3 hari ini muncul benjolan sebesar kelereng di lipat paha kanan dan kiri. Keluhan ini tidak disertai demam. 4. Saudara kembar Otoy, Oboy, juga pernah menderita sakit yang sama 10 hari yang lalu dan sembuh setelah berobat ke dokter. Mereka sering menggunakan baju dan handuk bersama. Mereka berdua sering bermain di luar rumah dan malas bila disuruh mandi. 5. Pemeriksaan Fisik : Keadaan Umum : sadar dan kooperatif Vital sign : Nadi : 88x/menit, RR: 20x/menit, suhu : 37,0oC 6. Keadaan Spesifik : KGB inguinalis lateral dextra et sinistra: terdapat pembesaran berupa nodul, 2 buah, bulat, diameter 1 cm, konsistensi kenyal, mobile, tidak nyeri tekan. 7. Status Dermatologikus: Regio extremitas inferior dextra et sinistra: Plak eritem multipel, bulat, lentikuler, diskret, dengan permukaan ditutupi krusta kekuningan.

III.

Analisis Masalah

1. Otoy, 4 tahun, dibawa orang tuanya untuk berobat ke poliklinik IKKK RMSH dengan keluhan timbul bercak merah sebagian ditutup keropeng kekuningan di tungkai kanan dan kiri disertai gatal sejak 4 hari yang lalu. a. Jelaskan anatomi kulit. 1 b. Jelaskan histologi kulit. 2 c. Jelaskan fisiologi kulit. 3 d. Apa mekanisme dari bercak merah pada skenario? 4 e. Apa mekanisme dari keropeng kekuningan pada skenario? 5 Kelainan kulit didahului oleh makula eritematus kecil, sekitar 1-2 mm. Kemudian segera terbentuk vesikel atau pustule yang mudah pecah dan meninggalkan erosi. Cairan serosa dan purulen akan membentuk krusta tebal berwarna kekuningan yang memberi gambaran karakteristik seperti madu (honey colour). Lesi akan melebar sampai 1-2 cm, disertai lesi satelit disekitarnya. Lesi tersebut akan bergabung membentuk daerah krustasi yang lebar. Eksudat dengan mudah menyebar secara autoinokulasi (Boediardja, 2005). f. Apa mekanisme dari gatal pada skenario? 6 g. Dimana tempat-tempat predileksi dari lesi pada skenario? 1 h. Apa hubungan usia pasien dengan keluhan yang dialaminya? 2

2. Kisaran 5 hari lalu timbul lepuh-lepuh ukuran biji kacang hijau sampai biji jagung berisi cairan bening sampai kekuningan pada kedua tungkai. Lepuh mudah pecah menjadi keropeng warna kuning madu. a. Apa mekanisme lepuh pada skenario? 3 b. Apa patogenesis lepuh menjadi keropeng warna kuning madu pada skenario? 4 Vesikel dapat pecah spontan dalam beberapa jam atau jika digaruk maka akan meninggalkan krusta yang tebal, karena proses dibawahnya terus berlangsung sehingga akan menimbulkan kesan seperti bertumpuk-tumpuk, Karena dinding vesikel tipis, mudah pecah dan mengeluarkan sekret seropurulen kuning kecoklatan, selanjutnya mengering membentuk krusta yang berlapis-lapis

3. Dalam 3 hari ini muncul benjolan sebesar kelereng di lipat paha kanan dan kiri. Keluhan ini tidak disertai demam. a. Apa mekanisme dari timbulnya benjolan pada skenario? (respon imun) 5

b. Mengapa pada pasien ini tidak disertai demam? 6 Hal ini dikarenakan infeksi yang dialami otoy merupakan infeksi yang bersifat lokal dipermukaan kulit, bukan sistemik. Penyakit kulit yang dialami otoy kemungkinan ditularkan oleh saudaranya melalui pemakaian handuk dan pakaian bersama, sehingga infeksi bakteri (streptococcus) dimulai di kulit dan terjadi reaksi peradangan hanya di permukaan kulit.

4. Saudara kembar Otoy, Oboy, juga pernah menderita sakit yang sama 10 hari yang lalu dan sembuh setelah berobat ke dokter. Mereka sering menggunakan baju dan handuk bersama. Mereka berdua sering bermain di luar rumah dan malas bila disuruh mandi. a. Apa kaitan kebiasaan otoy dengan keluhan yang dialaminya? 1

5. Pemeriksaan Fisik : Keadaan Umum : sadar dan kooperatif Vital sign : Nadi : 88x/menit, RR: 20x/menit, suhu : 37,0oC 7

a. Apa interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik pasien? 2 b. Apa mekanisme abnormalitas pada pasien ini? 3

6. Keadaan Spesifik : KGB inguinalis lateral dextra et sinistra: terdapat pembesaran berupa nodul, 2 buah, bulat, diameter 1 cm, konsistensi kenyal, mobile, tidak nyeri tekan. a. Apa interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik pasien? (sertakan gambarannya) 4 b. Apa mekanisme abnormalitas pada pasien ini? 5 Pembuluh-pembuluh limfe akan mengalir ke KGB sehingga dari lokasi KGB akan diketahui aliran pembuluh limfe yang melewatinya. Oleh karena dilewati oleh aliran pembuluh getah bening yang dapat membawa antigen (mikroba, zat asing) dan memiliki sel pertahanan tubuh maka apabila ada antigen yang menginfeksi maka kelenjar getah bening dapat menghasilkan sel-sel pertahanan tubuh yang lebih banyak untuk mengatasi antigen tersebut sehingga kelenjar getah bening membesar. Pembesaran kelenjar getah bening dapat berasal dari penambahan sel-sel pertahanan tubuh yang berasal dari KBG itu sendiri seperti limfosit, sel plasma, monosit dan histiosit atau karena datangnya sel-sel peradangan (neutrofil) untuk mengatasi infeksi di kelenjar getah bening (limfadenitis), infiltrasi (masuknya) sel-sel ganas atau timbunan dari penyakit metabolite macrophage (gaucher disease). Dengan mengetahui lokasi pembesaran KGB maka kita dapat mengarahkan kepada lokasi kemungkinan terjadinya infeksi atau penyebab pembesaran KGB.

7. Status Dermatologikus: Regio extremitas inferior dextra et sinistra: Plak eritem multipel, bulat, lentikuler, diskret, dengan permukaan ditutupi krusta kekuningan. a. Apa interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik pasien? (sertakan gambarannya) 6 b. Apa mekanisme abnormalitas pada pasien ini? 1

8. Tambahan a. Apa etiologi kasus pada skenario ini? 2 b. Apa faktor resiko kasus pada skenario ini? 3 8

c. Apa patogenesis kasus pada skenario ini? 4 Pada impetigo krustosa (non bullous), infeksi ditemukan pada bagian minor dari trauma (misalnya : gigitan serangga, abrasi, cacar ayam, pembakaran). Trauma membuka protein-protein di kulit sehingga bakteri mudah melekat, menyerang dan membentuk infeksi di kulit. Pada epidermis muncul neutrophilic vesicopustules. Pada bagian atas kulit terdapat sebuah infiltrate yang hebat yakni netrofil dan limfosit. Bakteri gram-positif juga ada dalam lesi ini. Eksotoksin Streptococcus pyrogenic diyakini menyebabkan ruam pada daerah berbintik merah, dan diduga berperan pada saat kritis dari Streptococcal toxic shock syndrome. Kira-kira 30% dari populasi bakteri ini berkoloni di daerah nares anterior. Bakteri dapat menyebar dari hidung ke kulit yang normal di dalam 7-14 hari, dengan lesi impetigo yang muncul 7-14 hari kemudian. d. Apa patofisiologi kasus pada skenario ini? 5 e. Apa manifestasi klinis kasus ini? 6 f. Apa diagnosi banding kasus ini? 1 1. Ektima : predileksi di tungkai bawah, dasarnya ialah ulkus. Lesi lebih besar, lebih dalam dan peradangan lebih hebat ditutupi krusta yang keras (luka dengan dasar dan dinding), jika diangkat akan berdarah secara difus, dapat menetap selama beberapa minggu dan sembuh dengan jaringan parut bila infeksi sampai jaringan kulit dalam (dermis). Lebih sering menimbulkan limfadenitis dan kadang merupakan komplikasi dari impetigo Didiagnosa banding dengan ektima karena memberikan gambaran Effloresensi yang hampir sama berupa lesi yang ditutupi krusta. Bedanya, pada impetigo krustosa lesi biasanya lebih dangkal, krustanya lebih mudah diangkat, dan tempat predileksinya biasanya pada wajah dan punggung serta terdapat pada anak-anak sedangkan pada ektima lesi biasanya lebih dalam berupa ulkus, krustanya lebih sulit diangkat dan tempat predileksinya biasanya pada tungkai bawah serta bisa terdapat pada usia dewasa muda

Krusta coklat berlapis lapis pada ektima

Pada Lesi ektima yang diangkat krustanya akan terlihat ulkus yang dangkal

2. Dermatitis atopik : keluhan gatal yang berulang atau berlangsung lama (kronik) dan kulit yang kering; penebalan pada lipatan kulit terutama pada dewasa (likenifikasi); pada anak seringkali melibatkan daerah wajah atau tangan bagian dalam.

10

3. Kandidiasis (infeksi jamur candida) : Dengan gambaran klinisnya berupa :papul merah, basah; umumnya di daerah selaput lendir atau daerah lipatan.

4. Dermatitis kontak : gatal pada daerah sensitif yang kontak dengan zat-zat yang mengiritasi

11

5. Diskoid lupus eritematosa : lesi datar (plak) berbatas tegas yang mengenai sampai folikel rambut.

6. Herpes simplex : vesikel berkelompok dengan dasar kemerahan yang pecah menjadi lecet tertutupi oleh krusta, biasanya pada bibir dan kulit.

7. Gigitan serangga : terdapat papul pada daerah gigitan, dapat nyeri.

12

8. Skabies : vesikel yang menyebar, kecil, terdapat terowongan, pada sela-sela jari, gatal pada malam hari.

9. Varisela : vesikel pada dasar kemerahan bermula di badan dan menyebar ke tangan, kaki dan wajah; vesikel pecah dan membentuk krusta; lesi terdapat

13

pada beberapa tahap (vesikel, krusta) pada saat yang sama. Lesi lebih kecil, berbatas tegas, umbilikasi vesikel.

Gambar Varisela 10. Impetigenisasi : pioderma sekunder, prosesnya menahun sering masih tampak penyakit dasarnya. Terdapat pus, pustul, krusta berwarna kuning kehijauan, pembesaran KGB regional, leukositosis, dapat pula disertai demam. 11. Pemfigus foliaseus : mempunyai gambaran klinik dan histopatologi yang serupa dengan impetigo. Serum dan krusta yang kadang bersamaan dengan vesikel, biasanya dimulai pada wajah dengan bentuk/distribusi seperti kupukupu atau pada kepala, dada, dan punggung bagian atas dengan gambaran klinik eritema, skuama, krusta atau terkadang terdapat bula. Pemfigus foliaseus sering terdapat pada orang dewasa.

Gambar Pemfigus foliaseus 12. Sweets syndrome : timbul/onset tiba-tiba dengan konsistensi lembut disertai plak atau nodul yang nyeri dan kadang-kadang timbul vesikel atau pustul. Gambar Sweets Syndrome

g. Apa diagnosis kerja dan bagaimana penegakkan diagnosis kasus ini? 2 h. Apa pemeriksaan penunjang kasus ini dan bagaimana interpretasinya? 3 Bila diperlukan dapat memeriksa isi vesikel dengan pengecatan gram untuk menyingkirkan diagnosis banding dengan gangguan infeksi gram negative. Bisa dilanjutkan dengan tes katalase dan koagulase untuk membedakan antara Staphylococcus dan Streptococcus (Brooks, 332:2005).

i. Apa pencegahan yang dapat dilakukan pada kasus seperti ini? 4 Tindakan yang bisa dilakukan guna pencegahan impetigo diantaranya : 1. Cuci tangan segera dengan menggunakan air mengalir bila habis

kontak dengan pasien, terutama apabila terkena luka. 2. Jangan menggunakan pakaian yang sama dengan penderita

14

3.

Bersihkan dan lakukan desinfektan pada mainan yang mungkin bisa

menularkan pada orang lain, setelah digunakan pasien 4. Mandi teratur dengan sabun dan air (sabun antiseptik dapat digunakan,

namun dapat mengiritasi pada sebagian kulit orang yang kulit sensitif) 5. Higiene yang baik, mencakup cuci tangan teratur, menjaga kuku jari

tetap pendek dan bersih 6. 7. Jauhkan diri dari orang dengan impetigo Cuci pakaian, handuk dan sprei dari anak dengan impetigo terpisah

dari yang lainnya. Cuci dengan air panas dan keringkan di bawah sinar matahari atau pengering yang panas. Mainan yang dipakai dapat dicuci dengan disinfektan. 8. Gunakan sarung tangan saat mengoleskan antibiotik topikal di tempat

yang terinfeksi dan cuci tangan setelah itu. 9. (Sumber: Northern Kentucky Health Department, 1:2005).

j. Apa tata laksana kasus ini? 5 1.Terapi nonmedikamentosa Menghilangkan krusta dengan cara mandikan anak selama 20-30

menit, disertai mengelupaskan krusta dengan handuk basah Mencegah anak untuk menggaruk daerah lecet. Dapat dengan menutup

daerah yang lecet dengan perban tahan air dan memotong kuku anak Lanjutkan pengobatan sampai semua luka lecet sembuh Lakukan drainase pada bula dan pustule secara aseptic dengan jarum

suntik untuk mencegah penyebaran local Dapat dilakukan kompres dengan menggunakan larutan NaCl 0,9%

pada impetigo krustosa. Lakukan pencegahan seperti yang disebutkan pada point XI di bawah

2.Terapi medikamentosa a. Terapi topikal

Pengobatan topikal sebelum memberikan salep antibiotik sebaiknya krusta sedikit dilepaskan baru kemudian diberi salep antibiotik. Pada pengobatan topikal impetigo bulosa bisa dilakukan dengan pemberian antiseptik atau salap antibiotik (Djuanda, 57:2005). 15

1). Antiseptik Antiseptik yang dapat dijadikan pertimbangan dalam pengobatan impetigo terutama yang telah dilakukan penelitian di Indonesia khususnya Jember dengan menggunakan Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) adalah triklosan 2%. Pada hasil penelitian didapatkan jumlah koloni yang dapat tumbuh setelah kontak dengan triklosan 2% selama 30, 60, 90, dan 120 adalah sebanyak 0 koloni (Suswati, 6:2003). Sehingga dapat dikatakan bahwa triklosan 2%mampu untuk mengendalikan penyebaran penyakit akibat infeksi Staphylococcus aureus (Suswati, 6:2003).

2). Antibiotik Topikal Mupirocin

Mupirocin topikal merupakan salah satu antibiotik yang sudah mulai digunakan sejak tahun 1980an. Mupirocin ini bekerja dengan menghambat sintesis RNA dan protein dari bakteri. Pada salah satu penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan mupirocin topikal yang dibandingkan dengan pemberian eritromisin oral pada pasien impetigo yang dilakukan di Ohio didapatkan hasil sebagai berikut: Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa penggunaan mupirocin topikal jauh lebih unggul dalam mempercepat penyembuhan pasien impetigo, meskipun pada awal kunjungan diketahui lebih baik penggunaan eritromisin oral, namun pada akhir terapi dan pada evaluasi diketahui jauh lebih baik mupirocin topikal dibandingkan dengan eritromisin oral dan penggunaan mupirocin topikal memiliki sedikit failure (Goldfarb, 1-3). Untuk penggunaan mupirocin topikal dapat dilihat pada tabel berikut: Fusidic Acid

Tahun 2002 telah dilakukan penelitian terhadap fusidic acid yang dibandingkan dengan plasebo pada praktek dokter umum yang diberikan pada pasien impetigo dan didapatkan hasil sebagai berikut: Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa penggunaan plasebo jauh lebih baik dibandingkan dengan menggunakan fassidic acid. 16

Ratapamulin

Pada tanggal 17 April 2007 ratapamulin telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk digunakan sebagai pengobatan impetigo. Namun bukan untuk yang disebabkan oleh metisilin resisten ataupun vankomisin resisten. Ratapamulin berikatan dengan subunit 50S ribosom pada protein L3 dekat dengan peptidil transferase yang pada akhirnya akan menghambat protein sintesis dari bakteri (Buck, 1:2007). Pada salah satu penelitian yang telah dilakukan pada 210 pasien impetigo yang berusia diantara 9 sampai 73 tahun dengan luas lesi tidak lebih dari 100 cm2 atau >2% luas dari total luas badan. Kultur yang telah dilakukan pada pasien tersebut didapatkan 82% dengan infeksi Staphylococcus aureus. Pada pasienpasien tersebut diberi ratapamulin sebanyak 2 kali sehari selama 5 hari terapi. Evaluasi dilakukan mulai hari ke dua setelah hari terakhir terapi, dan didapatkan luas lesi berkurang, lesi telah mengering, dan lesi benar-benar telah membaik tanpa penggunaan terapi tambahan. Pada 85,6% pasien dengan menggunakan ratapamulin didapatkan perbaikan klinis dan hanya hanya 52,1% pasien mengalami perbaikan klinis yang menggunakan plasebo (Buck, 1:2007). Dicloxacillin

Penggunaan dicloxacillin merupaka First line untuk pengobatan impetigo, namun akhir-akhir ini penggunaan dicloxacillin mulai tergeser oleh penggunaan ratapamulin topikal karena diketahui ratapamulin memiliki lebih sedikit efek samping bila dibandingkan dengan dicloxacillin. Penggunaan dicloxacillin sebagai terapi topical pada impetigo sebagai berikut: (Sumber: Primary Clinical Care Manual 2007) b.Terapi sistemik 1). Penisilin dan semisintetiknya (pilih salah satu)

a.Penicillin G procaine injeksi Dosis: 0,6-1,2 juta IU im 1-2 x sehari Anak: 25.000-50.000 IU im 1-2 x sehari b.Ampicillin Dosis: 250-500 mg per dosis 4 x sehari Anak: 7,5-25 mg/Kg/dosis4x sehari ac 17

c.Amoksicillin Dosis: 250-500 mg / dosis 3 x sehari Anak: 7,5-25 mg/Kg/dosis 3 x sehari ac d.Cloxacillin (untuk Staphylococcus yang kebal penicillin) Dosis: 250-500 mg/ dosis, 4 x sehari ac Anak: 10-25 mg/Kg/dosis 4 x sehari ac e.Phenoxymethyl penicillin (penicillin V) Dosis: 250-500 mg/dosis, 4 x sehari ac Anak: 7,5-12,5 mg/Kg/dosis, 4 x sehari ac 2). Eritromisin (bila alergi penisilin)

Dosis: 250-500 mg/dosis, 4 x sehari pc Anak: 12,5-50 mg/Kg/dosis, 4 x sehari pc 3). Clindamisin (alergi penisilin dan menderita saluran cerna)

Dosis: 150-300 mg/dosis, 3-4 x sehari Anak > 1 bulan 8-20 mg/Kg/hari, 3-4 x sehari 4). Penggunaan terapi antibiotik sistemik lainnya

Pada penggunaan sistemik antibiotik lainnya yang dapat dipertimbangkan adalah, sebagai berikut:

k. Apa komplikasi kasus ini? 6 l. Apa prognosis kasus ini? 1 m. Apa kompetensi dokter umum pada kasus ini? 2

IV.

Sintesis

LI : 1) Anatomi kulit 2) Histologi kulit 3) Fisiologi kulit 4) Effloresensi kulit 5) Respon imun terhadap infeksi : lina, yepe, tri : agien, feddy : ganda, okta : reza, diva : mona, zhazha 18

6) Impetigo

: dika, dessy

Hari rabu dikumpul ye, kuliah atau idak kuliah (kalo idak kuliah jam 1, kalo kuliah abis tutorial 2) Kayak biaso, rapi, times new rowman 12, 1,5 spasi, daftar pustaka jangan lupo!!! Makasi

19