Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN PERSALINAN NORMAL

Di Susun Oleh: Febriana A1 0900520

PROGRAM PROFESI NERS STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG JL. YOS SUDARSO 461 GOMBONG KEBUMEN TELP: 0287 473750/ FAX: 0287 472433

A. Pengertian Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dan dimana janin dan ketuban turun kedalam jalan lahir dan didorong keluar melalui jalan lahir (Sarwono Prawohardjo, 2005 ). Persalinan adalah proses dimulai dengan kontraksi uterus yang menyebabkan dilatasi progresif dsri serviks, kelahiran bayi dan plasenta ( Asuhan Intrapartum, 2003 ) Secara umum persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan 37-42 minggu lahir spontan, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin, disusul dengan plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu. Persalinan normal (partus spontan) adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala yang dapat hidup dengan tenaga ibu sendiri dan uri, tanpa alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam melalui jalan lahir. Partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Partus immaturus kurang dari 28 minggu lebih dari 20 minggu dengan berat janin antara 1000-500 gram. Partus prematurus adalah suatu partus dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetapi belum aterm (cukup bulan). Berat janin antara 1000 2500 gram atau tua kehamilan antara 28 36 minggu. Partus postmaturus atau serotinus adalah pertus yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang diperkirakan. Gravida adalah seorang wanita yang sedang hamil. Primigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kali. Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable). Nulipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk pertama kali. Multipara atau pleuripara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk beberapa kali.

Abortus adalah penghentian kehamilan sebelum janin viable, berat janin dibawah 500 gram, atau tua kehamilan dibawah 20 minggu. Inpartu adalah seorang wanita yang dalam keadaan persalinan. Partus biasa atau partus normal atau partus spontan adalah bila bayi lahir dengan presentasi belakan kepala memakai alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. Partus luar biasa atau partus abnormal ialah bila bayi dilahirkan pervaginam dengan cunam, atau ekstraktor vakum, versi dan ekstraksi, dekapitasi, embriotomi dan sebagainya. Menurut tuanya kehamilan: 1. Abortus Pengeluaran buah kehamilan sebelum kehamilan 22 minggu dan 28 minggu atau bayi dengan berat badan kurang dari 500 gr. 2. Partus immaturus Pengeluaran buah kehamilan antara 22 minggu dan 28 minggu atau bayi dengan berat badan antara 500 gr dan 999 gr. 3. Partus trematurus Pengeluaran buah kehamilan antara 28 minggu dan 37 minggu atau bayi dngan berat badan antara 1000 gr dan 2499 gr. 4. Partus matures atau partus aterm Pengeluaran buah kehamilan antara 37 minggu dan 42 minggu atau bayi dengan berat badan 2500 gr atau lebih. 5. Partus postmaturus atau partus serotinus Pengeluaran buah kehamilan adalah kehamilan 42 minggu. Menurut persalinan 1. Partus spontan/ biasa Persalinan yang berlangsung, dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir 2. Partus buatan Persalinan yang dibantu tenaga dari luar, misalnya ekstrasi vakum dan secti caesarea (SC).

3. Partus anjuran Persalinan jika bayi sudah cukup besar untuk hidup diluar, tetapi menimbulkan kesulitan dalam persalinan dan tidak dimulai dengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitocin atau prostaglandin. B. Sebab Sebab Mulainya Persalinan Sebab terjadinya partus sampai kini masih merupakan teori-teori yang kompleks. Faktor-faktor humoral, pengeruh prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengeruh saraf dan nutrisi disebut sebagai faktorfaktor yang mengakibatkan partus mulai. Perubahan-perubahan dalam biokimia dan biofisika telah banyak mengungkapkan mulai dan berlangsungnya partus, antara lain penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Seperti diketahui progesteron merupakan penenang bagi otototot uterus. Menurunnya kadar kedua hormon ini terjadi kira-kira 1-2 minggu sebelum partus dimulai kadar prostaglandin dalam kehamilan dari minggu ke 15 hingga a term meningkat, lebih-lebih sewaktu partus. Seperti telah dikemukakan, plasenta menjadi tua dengan tuanya kehamilan. Villi koriales mengalami perubahan-perubahan, sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun. Keadaan uterus yang semakin membesar dan menjadi tegang mengakibatkan ikemia otot-otot uterus. Hal ini merupakan faktor yang dapat mengganggu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta mengalami degenerasi. Teori berkurangnya nutrisi pada janin dikemukakan oleh Hipocrates untuk pertama kalinya. Bila nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera dikeluarkan. Faktor lain yang dikemukakan ialah tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser yang terletak dibelakang serviks. Bila ganglion ini tertekan, kontraksi uterus dapat dibangkitkan. Uraian tersebut diatas adalah hanya sebagian dari banyak faktorfaktor kompleks sehingga his dapat dibangkitkan. Selanjutnya dengan berbagai tindakan, persalinan dapat pula dimulai (indiction of labor)

misalnya 1) merangsang pleksus Frankenhauser dengan memasukkan beberapa gagang laminaria dalam kanalis servikalis, 2) pemecahan ketuban, 3) penyuntikkan oksitosin (sebaiknya dengan jalan infus intravena), pemakaia prostaglandin, dan sebagainya. Dalam hal mengadakan induksi persalinan perlu diperhatikan bahwa serviks sudah matang (serviks sudah pendek dan lembek), dan kanalis servikalis terbuka untuk satu jari. Untuk menilai serviks dapat juga dipakai Skor Bishop, yaitu bila nilai Bishop lebih dari 8, induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil. Selain itu banyak teori yang mengemukakan sebab persalinan. Beberapa teori yang dikemukakan adalah: 1. Teori penurunan kadar progesterone Progesterone menimbulkan relaksasi otot otot rahim sedangkan estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone dan estrogen menurun sehingga timbul his. 2. Teori Oxytocin Pada akhir kehamilan kadar oxytocin bertambah, oleh karena itu, timbul kontrasi otot otot rahim. 3. Keregangan otot otot rahim Seperti halnya denagn kandung kencing dan lambung, bila dindingnya teregang karena isinya maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan tinja. Demikian pula dengan rahim, maka denagn majunya kehamilan makin teregang otot otot rahim sehingga otot otot makin rentan. 4. Pengaruh janin Hypofisis dan kelenjar supernal janin ternyata memegang peranan juga, selain itu, dibelakang serviks terletak ganglion servikale. Bila ganglion ini digeser dan ditekan, oleh kepala janin, maka akan timbul kontraksi uterus. 5. Teori prostaglandin

Berdasarkan hasil percobaan menunjukan prostaglandin dari F2 tatu E2 yang diberikan secara intravena dan extra abdominal menibulkan kontraksi miometrium pada setiap umur kehamilan. Proses persalinan normal Proses persalinan terdiri dari 4 kala yaitu : 1. Kala I atau kala pembukaan Di mulai dari his persalinan yang pertama sampai pembukaan serviks menjadi lengkap (10 cm) Inpartu ditandai dengan keluarnya lender bercampur darah ( bloody show), karena serviks mulai mebuka (dilatasi) dan mendatar (effecement). Kala I dibagi dalam 2 fase yaitu: a. Fase laten Berlangsung b. Fase aktif Berlangsung dalam 6 jam dan dibagi menjadi 3 fase 1) Fase akselerasi Dalam waktu 2 jam, pembukaan menjadi 4cm 2) Fase dilatasi maksimal Dalam waktu 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9cm 3) Fase deselerasi Dalam waktu2 jam, pembukaan berlangsung lambat menjadi 10 cm atau lengkap (Prawohardjo, 2005). Kala II atau Kala Pengeluaran Dimulai dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi. Pada kala pengeluaran janin, his menjadi kuat dan lebih cepat kira kira 2-3 menit sekali, karena kepala janin sudah masuk keruang panggul, sehingga pada his dirasakan tekanan pada otot otot dasar panggul yang secara reflekstoris menimbulkan rasa mengedan. dalam 7-8 jam pembukaan brlangsung lambat pembukaan 3cm.

Karena ada tekanan pada rectum, ibu juga merasa ingin buang air besar (BAB) dengan tanda anus terbuka. Pada waktu his, kepala janinmulai kelihatan dan vulva yang membuka dan perincum meregang. Dengan his dan kekuatan mengedan yang terpimpin, maka ahirlah kepala yang diikuti oleh seluruh badan janin. Pada primigravida, kalaII berlangsung rata-rata 1.5-2 jam dan pada multigravida, kala II berlangsung -1jam. Kala III atau kala uri Dimulai dari lahirnya bayi sampai lahirnya plasenta. Setelah bayi lahir, uterus keras dengan fundus uteri setinggi pusat. Beberapa saat kemudian, uterus berkontraksi lagi untuk pelepasan dan pengeluaran uri. Seluruh proses biasanya berlangsung 20 30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran placenta disertai dengan pengeluaran darah. Kala IV atau kala pengawasan Dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir 2 jam setelah selesai kala III persalinan. Merupakan kala pengawasaan selama 2 jam setelah bayi dan uri lahir. Kala IV sangat bermanfaat karena berguna untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan postpartum (Asuhan Intrapartum, 2003).

C. Gejala (Tanda -Tanda Persalinan) 1. Tanda-tanda permulaan terjadinya persalinan a. Turunya kepala masuk pintu atas panggul pada primigravida minggu ke-36 b. Timbul perasaan sesak dibagian bawah, diatas simpisis pubis dan sering-sering ingin kencing atau susah kencing (polaisuria) karena kandung kemih tertekan oeh bagian terbawah janin. c. Perut kelihatan lebih melebar karena fundus uteri turun

d. Terjadinya perasaan sakit di daerah perut dan pinggang karena kontraksi ringan otot rahim dan tertekanya fleksus yang terletak di sekitar seviks (tanda persalinan palsu fase labour). e. Terjadinya perlukaan serviks yang mulai mendatar dan sekresinya bila bertambah bercampur darah ( bloody show) 2. Tanda-tanda inpartu a. Rasa sakit karena adanya his yang menjadi lebih kuat, sering teratur b. Pengeluaran endir bercampur darah (bloody show) yang lebih banyak karena robekan robekan kecil pada serviks c. Dapat di sertai pecahnya ketuban dengan sendirinya d. Pada pemeriksaan dalam serviks mengalami perubahan dengan terjadi perlukaan serviks, pendataran serviks, pembukaan serviks. 3. Factor factor yang berperan dalam persalinan adalah : a. Kekuatan mendorong keluar/ power Power di bagi menjadi 2 yaitu: 1) Kekuatan primer 2) Kontraksi uterus involunter yang memadai dari menandai dimulainya persalinan (his). His ada 2 yaitu: a) His pendahuluan/ his palsu Merupakan peningkatan kontraksi dari braxton hicks b) His persalinan Merupakan his yang bersifat nyeri yang mungkin disebabkan oleh anoxia dari sel sel otot otot saat kontraksi, tekanan pada ganglia dalam serviks dan segmen bawah rahim oleh serabut serabut otot yang berkontraksi, serviks yang meregang lurus atau regangan dan tarikan ada peritoneum saat kontraksi, kontraksi rahim bersifat berkala dan yang diperhatikan dalam his adalah:

b. Lamanya kontraksi Kontraksi berlangsung 45 detik sampai 75 detik c. Kekuatan kontraksi Menimbulkan naiknya tekanan intrauterine sampai 35 mmHg kekuatan kontraksi secara klinis ditentukan dengan mencoba apakah jari dapat menekan dinding rahim ke dalam d. Interval antara dua kontraksi Pada permulaaan his timbul sekali dalm 10 menit pdan pada kala pengeluaran sekali dalam 2 menit D. Penatalaksanaan 1. Kala I Pengkajian awal a. Lihat 1) Tanda-tanda perdarahan, mekoneum atau bagian organ yang lahir 2) Warna kulit ibu yang kuning dan kepucatan b. Tanya 1) Kapan tanggal perkiraan kelahiran 2) Menentukan ibu sudah waktunya melahirkan atau belum c. Periksa 1) Tanda-tanda penting untuk hipertensi 2) Detak jantung janin untuk bradikardi Penanganan kala I a. Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami, keluarga pasien/ teman dekat. Dukungan yang diberikan : 1) Mengusap keringat 2) Menemani jalan-jalan (mobiliasi) 3) Memberikan minum 4) Merubah posisi

5) Memijat/ menggosok pinggang b. Mengatur aktifitas dan posisi ibu 1) Ibu boleh melakukan aktivitas sesuai dengan kesanggupanya 2) Posisi sesuai dengan keinginan ibu tapi tidak dianjurkan posisi tidur telentang c. Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his Ibu diminta menarik nafas, tahan nafas sebentar kemudian dilepaskan dengan cara meniup sewaktu his. d. Menjaga privasi ibu Menggunakan penutup/ tirai, tidak menghadiran orang lain tanpa sepengetahuan dan seizing pasien. e. Penjelasan tentang kemajuan persalinan Menjelaskan perubahan yang terjadi dalam tubuh ibu, serta prosedur yang akan dilakukan dan hasil hasil pemeriksaaan f. Menjaga kebersihan diri Membolehkan ibu untuk mandi, menganjurkan ibu untuk basuh sekitar kemaluanya setelah BAB dan BAK g. Mengetahui rasa panas 1) Menggunakan kipas angin/ AC dalam kamar 2) Menggunakan kipas biasa 3) Menganjurkan ibu untuk mandi h. Massase Jika ibu suka, lakukan massase pada pinggangnya atau mengusap perut denga lembut i. Pemberian cukup minum Untuk memenuhi kebutuhan nergi dan mencegah dehidrasi j. Mempertahankan kandung kemih Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin

10

k. Sentuhan Disesuaikan dengan keinginann ibu, memberikan sentuhan pada salah satu bagian tubuh yang bertujuan untuk mrnguraiakan rasa kesendirian ibu selama proses persalinan l. Anamnesis dan pemeriksaan fisik Anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama merupakan bagian dari asuhan sayang ibu yagn baik dan aman selema persalinan. Pertama, sapa ibu dan beritahukan apa yang akan anda lakukkan. Jelaskan pada ibu tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jawab dengan baik setiap pertanyaan yang diajukan ole ibu. Sambil melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, perhatikan adanya tanda-tanda penyulit atau kondisi gawat darurat dan segera lakukan tindakan yang sesuai apabila diperlukan.(lihat tabel 2-1 hal 44) Untuk memastikan proses persalinan akan berlangsung secara aman. Catatkan semua temuan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama dan lengkap. Jelaskan makna temuan dan kesimpulannya kepada ibu dan keluarganya. 1) Anamnesis Tujuan anamnesis adalah mengumpulkan informasi tentang riwayat kesehatan, kehamilan dan persalinan. Informasi ini digunakan dalam proses membuat keputusan klinik sesuai. Tanyakan pada ibu: a) Nama, umur dan alamat. b) Gravida dan para. c) Hari pertama haid terakhir. d) Kapan bayi akan lahir (menurut taksiran ibu). e) Riwayat alergi obat-obatan tertentu. untuk mementukan diagnosis dan yang mengembangkan rencana asuhan atau perawatan yang

11

f) Riwayat kehamilan yang sekarang : Apakah antenatal? Pernahkan dll)? Kapan mulai kontraksi? Apakah kontraksi teratur? Seberapa sering bu pernah Jika ibu ya, melakukan periksa pemeriksaan kartu asuhan selama

antenatalnya (jika mungkin). mendapat masalah kehamilannya (misalnya ; perdarahan, hipertensi,

kontraksi terjadi? Apakah ibu masih merasakan gerakan bayi? Apakah selaput ketuban sudah pecah? Jika ya, apa warna cairan ketuban? Apakah kental atau encer? Kapan saat selaput ketuban pecah? (periksa perineum ibu untuk melihat air ketuban di pakaiannya). Apakah keluar cairan bercampur darah dari vagina ibu? Apakah berupa bercak atau darah segar per vaginam? (periksa perineum ibu untuk melihat darah segar atau lendir bercampur darah di pakaiannya). Kapan ibu terakhir kali makan atau minum? Apakah ibu mengalami kesulitan untuk berkemih?

g) Riwayat kehamilan sebelumnya : Apakah ada masalah selama persalinan atau kelahiran sebelumnyac(bedah sesar, persalinan dengan ekstraksi vakum atau forceps, induksi oksitosin, kehamilan, pascapersalinan)? hipertensi yang diinduksi oleh preeklampsia, perdarahan

12

Berapa berat badan bayi yang paling besar pernah ibu lahirkan? Apakah ibu mempunyai bayi bermasalah pada kehamilan/persalinan sebelumnya? Riwayat medis lainnya (masalah pernapasan, hipertensi, gangguan jantung, berkemih dll). Masalah medis saat ini (sakit kepala, gangguan penglihatan, pusing atau nyeri epigastrium bagian atas). Jika ada, periksa tekanan darahnya dan protein dalam urin ibu.

Pertanyaan tentang hal-hal yang belum jelas atau berbagai bentuk kekhawatiran lainnya. Dokumentasikan semua temuan. Setelah anamnesis lengkap, lakukan pemeriksaan fisik.

2) Pemeriksaan fisik Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi kesehatan ibu dan bayinya serta tingkat kenyamanan fisik ibu bersalin. Informasi dari hasil pemeriksaan fisik dan anamnesis diramu/diolah untuk membuat keputusan klinik, menegakkan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan atau keparawatan yang paling sesuai dengan kondisi ibu. Jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang apa yang akan dilakukan selama pemariksaan dan apa alasannya. Anjurkan mereka untuk bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan sehingga mereka memahami kepentingan pemeriksaan. Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan fisik :

13

a) Cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan fisik. b) Tunjukkan sikap ramah dan sopan, tenteramkan hati dan bantu ibu agar merasa nyaman. Minta ibu menarik nafas perlahan dan dalam jika ia merasa tegang dan gelisah. c) Minta ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya (jika perlu, periksa jumlah urin dan adanya protein dan aseton dalam urin). d) Nilai kesehatan dan keadaan umum ibu, suasana hatinya, tingkat kesehatan atau nyeri kontraksi, warna konjungtiva, kebersihan, status gizi dan kecukupan cairan tubuh. e) Nilai tanda-tanda vital ibu (tekanan darah, suhu, nadi dan pernapasan). Untuk akurasi penilaian tekanan darah dan nadi ibu, lakukan pemeriksaan itu diantara dua kontraksi. f) Lakukan pemeriksaan abdomen. Pemeriksaan abdomen. Pemeriksaan abdomen digunakan untuk : Menentukan tinggi fundus uteri. Memantau konstruksi uterus. Memantau denyut jantung janin. Menentukan presentasi. Menentukan penurunan bagian terbawah janin.

Sebelum melakukan pemeriksaan abdomen, pastikan dulu bahwa ibu sudah mengosongkan kandung kemihnya, kemudian minta ibu untuk berbaring. Tempatkan bantal dibawah kepala dan bahunya dan minta ibu untuk menekukkan lututnya. Jika ibu gugup, beri bantuan agar ia memperoleh nyaman

14

dengan meminta ibu untuk menarik nafas dalam berulang kali. Jangan biarkan ibu dalam posisi terlentang dalam waktu lebih dari sepuluh menit. Langkah langkah melakukan pemeriksaan fisik pada ibu hamil. 1. Menentukan tinggi fundus. Pastikan pengukuran dilakukan pada saat uterus tidak sedang berkontraksi. Ukur tinggi fundus denga menggunakan pita pengukur. Mulai dari tepi atas simfisis pubis kemudian rentangkan pita pengukur hingga ke puncak fundus mengikuti aksis atau linea medialis dinding abdomen(lihat gambar 2.1). lebar pita harus menempel pada dinding abdomen ibu. Jarak antara tepi atas simfisis pubis dan puncak fundus uteri adalah tinggi fundus. 2. Memantau konstruksi uterus. Gunakan jarum detik yang ada pada jam dinding atau jam tangan untuk memantau kontraksi uterus. Secara hati-hati, letakkan tangan penolong diatas uterus dan palpasi jumlah kontraksi yang terjadi dalam kurun waktu 10 menit. Tentukan durasi danlama setiap kontraksi yang terjadi. Pada fase aktif, minimal terjadi dua kontraksi dalam 10 menit dan lama kontraksi adalah 40 detik atau lebih. Diantara dua kontraksi akan terjadi relaksasi dinding uterus. 3. Memantau denyut jantung janin. Gunakan fetoskop Pinnards atau Dopler untuk mendengar denyut jantung janin (DJJ) dalam rahim ibu dan untuk menghitung jumlah denyut jantung per menit, gunakan jarum detik pada jam dinding atau jam tangan. Tentukan titik tertentu pada dinding abdomen ibu dimana suara DJJ terdengar

15

paling

kuat.

Tips : jika DJJ sulit untuk ditemukan, lakukan palpasi abdomen ibu untuk menentukan lokasi punggung bayi. Biasanya rambatan suara DJJ lebih mudah didengar melalui dinding abdomen pada sisi yang sama dengan punggung bayi. Nilai DJJ selama dan segera setelah kontraksi uterus. Mulai penilaian sebelum atau selama puncak kontraksi. Dengarkan DJJ selama minimal 60 detik, dengarkan sampai sedikitnya 30 detik setelah kontraksi berakhir. Lakukan penilaian DJJ tersebut pada lebih dari satu kontraksi. Gangguan kondisi kesehatan janin dicerminkan dari DJJ yang kurang dari 120 atau lebih dari 160 kali per menit. Kegawatan janin ditunjukkan dari DJJ yang kurang dari 120 atau lebih dari 180 kali per menit. Bila demikian, baringkan ibu ke sisi kiri dan anjurkan ibu untuk relaksasi. Nilai kembali DJJ setelah 5 menit dari pemeriksaan sebelumnya, kemudian simpulkan perubahan yang terjadi. Jika DJJ tidak mengalami perbaikan maka siapkan ibu untuk segera dirujuk. 4. Menentukan presentasi. Untuk menentukan presentasi bayi (apakah presentasi kepala atau bokong) : a. Berdiri disamping dan menghadap ke arah kepala ibu (minta ibu mengangkat tungkai atas dan menekukkan lutut). b. Dengan ibu jari dan jari tengah dari satu tangan (hatihati dan mantap), pegang bagian terbawah janin yang mengisi bagian bawah abdomen (diatas simfisis

16

pubis) ibu. Bagian yang berada diantara ibu jari dan jari tengah penolong adalah penunjuk presentasi bayi. c. Jika bagian terbawah janin belum masuk ke rongga penggul maka bagian tersebut masih dapat digerakkan. Jika telah memasuki rongga panggul maka bagian terbawah janin sulit atau tidak dapat digerakkan lagi. d. Untuk menentukan apakah presentasinya adalah kepala atau bokong maka perhatikan dan pertimbangkan bentuk, ukuran dan kepadatan bagian tersebut. Bagian berbentuk bulat, teraba keras, berbatas tegas dan mudah digerakkan (bila belum masuk rongga panggul) biasanya adalah kepala. Jika bentuknya kurang tegas, teraba kenyal, relatif lebih besar dan sulit dipegang secara mantap maka bagian tersebut biasanya adalah bokong. Istilah sungsang digunakan terbawah untuk adalah menunjukkan kebalikan dari bahwa kepala bagian atau

diidentikkan sebagai bokong. 5. Menentukan penurunan bagian terbawah janin. Pemeriksaan penurunan bagian terbawah janin ke dalam rongga panggul melalui pengukuran pada dinding abdomen akan memberikan tingkat kenyamanan yang lebih baik bagi ibu jika dibandingkan dengan melakukan periksa dalam (vaginal toucher). Selain itu, cara penilaian diatas (bila dilakukan secara benar) dapat memberikan informasi yang sama baiknya dengan hasil periksa dalam tentang kemajuan persalinan (penurunan bagian terbawah janin) dan dapat mencegah periksa dalam yang tidak perlu atau berlebihan.

17

Penilaian penurunan kepala janin dilakukan dengan menghitung proporsi bagian terbawah janin yang masih berada diatas tep atas simfisis dan dapat diukur dengan lima jari tangan pemeriksa (per limaan). Bagian diatas simfisis adalah proporsi yang belum masuk pintu atas panggul dan sisanya (tidak teraba) menunjukkan sejauh mana bagian terbawah janin telah masuk kedalam rongga panggul. Penurunan bagian terbawah dengan metode lima jari (perlimaan) adalah 5/5 jika bagian terbawah janin seluruhnya teraba diatas simfisis pubis. 4/5 jika bagian (1/5) bagian terbawah janin telah memasuki pintu atas panggul. 3/5 jika bagian (2/5) bagian terbawah janin telah memasuki rongga panggul. 2/5 jika hanya sebagian dari bagian terbawah janin masih berada diatas simfisis dan (3/5) bagian telah turun melalui bidang tengah rongga panggul (tidak dapat digerakkan). 1/5 jika hanya 1 dari 5 jari masih dapat meraba bagian terbawah janin yang berada diatas simfisis dab 4/5 bagian telah masuk kedalam rongga pangul. 0/5 jika bagian terbawah janin sudah tidak dapat diraba dari pemeriksaan luar dan seluruh bagian terbawah janin sudah masuk ke dalam rongga panggul. Merujuk pada kasus primigravida, inpartu kala satu fase aktif dengan kepala janin masih 5/5 (tabel 2-1) dimana kondisi ini patut diwaspadai sebagai kondisi tak lazim.

18

Alasanya adalah pada kala satu persalinan, kepala sudah masuk ke dalam rongga panggul. Bila ternyata kepala memang tidak dapat turun, maka bagian terbawah janin (kepala) terlalu besar dibandingkan dengan diameter pintu atas panggul. Mengingat bahwa hal ini patut diduga sebagai disproporsi kepala panggul (CPD) maka sebaiknya ibu dapat melahirkan di fasilitas kesehatan yang mempunyai kemampuan untuk melakukan operasi seksio sesaria sebagai antisipasi apabila terjadi persalinan macet (disproporsi). Penyulit lain dari posisi kepala diatas pintu atas panggul adalah tali pusat menumbung yang disebabkan oleh pecahnya selaput ketuban yang disertai turunnya tali pusat. 3) Periksa dalam Sebelum melakukan periksa dalam, cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir, kemudian keringkan dengan handuk kering dan bersih. Minta ibu untuk berkemih dan mencuci area genitalia (jika ibu belum melakukannya) dengan sabun dan air. Jelaskan pada ibu setiap langkah yang akan dilakukan selama pemeriksaan. Tenteramkan hati dan anjurkan ibu untuk rileks. Pastikan privasi ibu terjaga selama pemeriksaan dilakukan.

Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan dalam termasuk: a) Tutupi badan ibu sebanyak mungkin dengan sarung dan selimut. b) Minta ibu berbaring terlentang dengan lutut ditekuk dan paha dibentangkan (mungkin akan membantu jika ibu menempelkan kedua telapak kakinya satu sama lain).

19

c) Gunakan

sarung

tangan

DTT

atau

steril

saat

melakukan

pemeriksaan. d) Gunakan kasa atau gulungan kapas DTT yang dicelupkan ke air DTT/larutan antiseptik. Basuh labia secara hati-hati, seka dari bagian depan ke belakang untuk menghindarkan kontaminasi fses (tinja). e) Periksa genitalia eksterna, perhatikan apakah ada luka atau massa (benjolan) termasuk kondilomata, varikositas vulva atau rektum, atau luka parut di perineum. f) Nilai cairan vagina dan tentukan apakah ada bercak darah, perdarahan per vaginam atau mekonium : Jika ada perdarahan per vaginam, jangan lakukan pemeriksaan dalam. Jika ketuban sudah pecah, lihat warna dan bau air ketuban. Jika terlihat pewarnaan mekonium, nilai apakah kental atau encer dan periksa DJJ: o Jika mekonium encer dan DJJ normal, teruskan memantau DJJ dengan seksama menurut petunjuk pada partograf. Jika ada tanda-tanda akan terjadi gawat janin, lakukan rujukan segera. o Jika mekonium kental, nilai DJJ dan rujuk segera. o Jika tercium bau busuk, mungkin telah terjadi infeksi g) Dengan hati-hati pisahkan labium mayus dengan jari manis dan ibu jari (gunakan sarung tangan periksa). Masukkan (hati-hati) jari telunjuk yang diikuti oleh jari tengah. Jangan mengeluarkan kedua jari tersebut sampai pemeriksaan selesai dilakukan. Jika selaput ketuban belum pecah, jangan melakuka tindakan amniotomi (merobeknya). Alasannya : amniotomi sebelum waktunya dapat meningkatkan resiko infeksi terhadap ibu dan bayi serta gawat janin. h) Nilai vagina. Luka parut di vagina mengidikasikan adanya riwayat robekan perineum atau tidakan episiotomi sebelumnya. Hal ini

20

merupakan informasi penting untuk menentukan tindakan pada saat kelahiran bayi. i) Nilai pembukaan dan penipisan serviks. j) Pastikan tali pusat dan/atau bagian-bagian kecil (tangan atau kaki) tidak teraba pada saat melakukan periksa dalam. Jika teraba maka ikuti langkah-langkah gawat darurat (lihat tabel 2-1) dan segera rujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang sesuai. k) Nilai penurunan bagian terbawah janin dan tentukan apakah bagian tersebut telah masuk ke dalam rongga panggul. Bandingkan tingkat penurunan kepala dari hasil periksa dalam dengan hasil pemeriksaan melalui dinding abdomen (perlimaan) untuk kemajuan persalinan. l) Jika bagian terbawah adalah kepala, pastikan penunjuknya (ubunubun kecil, ubun-ubun besar arau fontanela magne) dan celah (sutura) dagitalis untuk menilai derajat penyusupan atau tumpang tindih tulang kepala dan apakah ukuran kepala janin sesuai dengan ukuran jalan lahir. m) Jika pemeriksaan terbawah sudah lengkap, keluarkan kedua jari pemeriksaan (hati-hati), celupkan sarung tangan ke dalam larutan untuk dekontaminasi, lepaskan kedua sarung tangan tadi secara terbalik dan rendam dalam larutan dekontaminan selama 10 menit. n) Cuci kedua tangan dan segera keringkan dengan handuk yang bersih dan kering. o) Bantu ibu untuk mengambil posisi yang lebih nyaman. p) Jelaskan hasil-hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarganya. Kala II Selama kala II, petugas kesehatan harus memantau: a. Tenaga atau usaha mengedan dan kontraksi uterus b. Janin yang penurunan presentasinya dan kembali normal detak jantung bayi setelah kontraksi c. Kondisi ibu

21

Penanganan kala II a. Memberikan dukungan terus menerus 1) Mendampingi ibu agar merasa nyaman oleh keluarga 2) Menawarkan minum, mengipasi dan memeijit. b. Menjaga kebersihan diri 1) Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi 2) Bila ada darah lender atau cairan ketuban segera dibersihan c. Mengipasi dan messase d. Memberikan dukungan mental e. Untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan ibu, dengan cara : 1) Menjaga privasi ibu 2) Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan 3) Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu f. Mengatur posisi ibu Dalam memimpin mengedan dapat dilihat posisi sebagai berikut: 1) Jongkok 2) Menungging 3) Tidur miring 4) Setengah duduk 5) Posisi tegak ada kaitanya dengan rasa nyeri, mudah mengedan, kurangnya trauma vagina dan perineum, dan infeksi g. Menjaga kandung kemih tetap kosong Anjurkan ibu untuk BAK sesering mungkin, kandung kemih yang penuh dapat menghalangi turunya kepala dalam rongga panggul h. Memberikan cukup minum Memberi tenaga dan mencegah dehidrasi i. Memimpin mengedan Pimpin ibu mengedan selama his, anjurkan pada ibu untuk mengambil nafas j. Bernafas selama persalinan

22

Meminta ibu bernafas lagi selagi kontraksi ketika kepala akan lahir. Untuk menjaga agar perineum meregang pelan dan mengontrol lahirnya kepala dan mencegah robekan. k. Pemantauan DJJ Pemantaun DJJ setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami brakikardi (< 120). Selama mengedan yang lama, akan terjadi pengurangan aliran darah yang mengandung oksigen ke janin. l. Melahirkan bayi 1) Menolong kelahiran kepala 2) Periksa tali pusat 3) Melahirkan bahu dan anggota seluruhmya 4) Bayi dikeringkan dan dihangatkan dari kepala sampai seluruh tubuh 5) Setelah bayi lahir, segera dikeringkan dan dielimuti dengan menggunakan handuk atau sejenisnya, letakkan pada perut ibu dan berikan bayi untuk disusui m. Merangsang bayi Biasakan dengan melakukan pengeringan, cukup memmberikan bayi rangsangan n. Dilakukan dengan cara mengusap usap pada bagian pungung atau menepuk telapak kaki bayi Kala III Pengkajian Awal a. b. Palpasi uterus menentukan apakah ada bayi yang kedua. Jika ada, tunggu Menilai apakah BBl dalam keadaan stabil, jika tidak segera dirawat Penanganan Kala III a. Jepit dan gunting tali pusat sedini mungkin dengan menjepit tali pusat sedini mungkin akan memulai pelepasan plasenta sampai bayi kedua lahir

23

b. Memberi oksitosin Oksitosin merangsang uterus berkontraksi yang juga mempercepat pelepasan plasenta : 1) Oksitosin 10 U IM yang diberikan ketika kelahiran bahu depan bayi jika petugas lebih dari satu dan pasti hanuya ada bayi tunggal 2) Oksitosin 10 U IM diberikan dalam 2 menit setelah kelahiran jika hanya stu orang petugas dan hanya ada bayi tunggal 3) Oksitosin 10 U IM dapat diulangi/ diberi lagi 15 menit jika belum lahir Jika oksitosin tidak tersedia, lakukan dengan rangsangan putting payudara ibu atau berikan ASI pada bayi guna menghasilkan oksitosin alamiah. c. Melakukan peregangan tali pusat terkendali atau PTT (Controlled Cord Traction). PTT mempercepat kelahiran plasenta, begitu sudah lepas : 1) Satu tangan diletakan pada corpus uteri tepat diatas simpisi pubis. Selama kontraksi, tangan mendorong uteri dengan gerakan dorsokranial ke arah belakang dan ke arah kepala ibu. 2) Tangan yang satu meregang tali pusat dekat pembukaan vagina dan melakukan tarikan tali pusat yang terus menerus dalam tegangan yang sama dengan tangan ke uterus selama kontraksi. PTT dilakukan hanya selam uterus berkontrkasi. Tangan pada uterus merasakan kontraksi, ibu juga dapat memberitahu petugas ketika ia merasakan kontraksi. d. Massase fundus Segera setelah plasenta dan selaputnya dilahirkan, massase fundus agar menimbulkan kotraksi. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran darah dan mencegah perdarahan post partum. Kala IV Penanganan kala IV a. Ikat tali pusat Jika petugas sendirian dan sedang melakukan management aktif kala III, tali pusat diklem, lalu digunting dan memberikan oksitosin segera setelah

24

plasentaa dan selaputnya lahir, lakukan massase agar berkontraksi, baru tali pusat diikat dan kklem dilepas. b. Pemeriksaan fundus dan massase Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jan kedua c. Nutrisi dan dehidrasi Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi, tawarkan ibu makanmakanan dan minuman yang disukai d. Bersihkan ibu Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakian ibu yang bersih dan kering e. Istirahat Biarkan ibu beristirahat karena telah bekerja keras melahirkan bayinya. Bantu ibu pada posisi yang nyaman f. Peningkatan hubungan ibu dan bayi Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatan hubungan ibu bayi, sebagai permulaan dengan menyusui bayinya g. Memulai menyusui Bayi sangat siap segera setealh kelahiran. Hal ini sangat tepat untuk memulai memberikan ASI, menyusui juga membantu uterus berkontraksi h. Menolong ibu kekamar mandi Ibu boleh bangun kekamar mandi, pastikan ibu dibantu dan selamat karena ibu masih dalam keadaan lemah atau pusing setelah persalinan. Pastikan ibu sudah BAK dalm 3 jam post partum i. Mengajari ibu dan anggota eluarga Ajari ibu atau anggota keluarga tentang: 1) Bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontrkasi 2) Tanda tanda bahaya bagi ibu dan bayi (Prawirohardjo, 2005) E. Masa Nifas (Post Partum) Puerperium (masa nifas) atau periode pasca persalinan umumnya berlangsung selama 6 12 minggu.

25

Puerperium adalah periode pemulihan dari perubahan anatomis dan fisiologis yang terjadi selama kehamilan. Puerperium dapat dibagi menjadi:
1. 2. 3.

Periode pasca persalinan: 24 jam pasca persalinan. Periode puerperium dini: minggu pertama pasca persalinan. Periode puerperium lanjut: sampai 6 minggu pasca persalinan.

F. Perubahan Fisiologi Dan Anatomi Perubahan endokrin yang terjadi selama kehamilan akan terjadi secara cepat: 1. hPL- human Placental Lactogen serum tidak terdeteksi dalam waktu 2 hari dan 2. hCG- Human Chorionic Gonadotropin tidak terdeteksi dalam waktu 10 hari pasca persalinan. 3. Kadar estrogen dan progesteron serum menurun sejak 3 hari pasca persalinan dan mencapai nilai pra-kehamilan pada hari ke 7. Nilai tersebut akan menetap bila pasien memberikan ASI ; bila tidak memberikan ASI estradiol akan mulai meningkat dan menyebabkan pertumbuhan folikel. 4. hPr Human Prolactine pada pasien yang memberikan ASI, kadar human hPr akan meningkat. 5. Sistem kardiovaskular akan kembali pada nilai sebelum kehamilan dalam waktu 2 minggu pasca persalinan. Pada 24 jam pertama terjadi hypervolemic state akibat adanya pergeseran cairan ekstravaskular kedalam ruang intravaskular. Volume darah dan plasma normal kembali pada minggu kedua. Sampai pada 10 hari pertama pasca persalinan, peningkatan faktor pembekuan dalam kehamilan akan menetap dan diimbangi dengan kenaikan aktivitas fibrinolisis.

26

G. Perubahan Morfologis Pada Traktus Genitalia Melalui proses katabolisme jaringan berat uterus ceoat menurun dari 1000 gram saat persalina menjadi 100 200 g 3 minggu pasca persalinan. Servik kehilangan elastisitasnya dan segera memperoleh konsistensi normal. Dinding vagina edematous, kebiruan serta kendor dan tonus kembali kearah normal setelah 1 2 minggu. Pada akhir kala III, besar uterus setara dengan ukuran kehamilan 20 minggu dengan berat 1000 gram. Pada akhir minggu pertama berat uterus mencapai 500 gram. Pada hari ke 12, uterus sudah tidak dapat diraba melalui palpasi abdomen.

Perubahan involusi tinggi fundus uteri dan ukuran uterus selama 10 hari pasca persalinan placental site mengecil dan dalam waktu 10 hari diameternya kira-kira 2.5 cm. Lochia yang terjadi sampai 3 4 hari pasca persalinan terdiri dari darah, sisa trofoblas dan desidua coklat kemerahan yang disebut lochia rubra. Selanjutnya berubah menjadi lochia serosa yang seromukopurulen dan berbau khas. Selama minggu II dan III, lochia menjadi kental dan putih kekuningan yang disebut lochia alba terdiri dari leukosit dan sel desidua yang mengalami degenerasi. Setelah minggu 5 6, sekresi lochia menghilang yang menunjukkan bahwa proses penyembuhan endometrium sudah hampir sempurna.

27

Lochia yang sangat berbau tidak sedap apalagi bila disertai dengan gejala sistemik berupa tanda tanda infeksi menandakan adanya endometritis. H. Prinsip Penatalaksanaan Puerperium Pasca persalinan, bila pasien menghendaki maka diperkenankan untuk berjalan-jalan, pergi ke kamar mandi bila perlu dan istirahat kembali bila merasa lelah. Sebagian besar pasien menghendaki untuk beristirahat total ditempat tidur selama 24 jam terutama bila dia juga mengalami cedera perineum yang luas. Fungsi perawatan medis adalah: 1. Memberikan fasilitas agar proses penyembuhan fisik dan psikis berlangsung dengan normal, 2. Mengamati jalannya proses involus uterus. 3. Membantu ibu untuk dapat memberikan ASI. 4. Membantu dan memberi petunjuk kepada ibu dalam merawat neonatus. Tak ada waktu yang baku mengenai lama perawatan pasca persalinan, diperkirakan bahwa semakin lama tinggal di rumah sakit, proses laktasi menjadi semakin baik. I. Perawatan Puerperium Di Rumah Sakit Ambulasi dini membuat perawatan nifas menjadi lebih sederhana. Pemeriksaan meliputi : 1. Pemeriksaan tekanan darah, nadi dan pernafasan secara teratur. 2. Inspeksi perineum setiap hari untuk melihat proses penyembuhan. 3. Pada pasien dengan cedera perineum luas perlu diberikan analgesik. 4. Penilaian jumlah dan sifat lochia. 5. Penilaian proses involusi dengan menentukan tinggi fundus uteri.

28

6. Analgesik mungkin juga diperlukan bila ada keluhan nyeri akibat kontraksi uterus terutama saat laktasi.

J. Masalah Traktus Urinarius 24 jam pasca persalinan, pasien umumnya menderita keluhan miksi akibat: 1. Depresi pada reflek aktivitas detrussor yang disebabkan oleh tekanan dasar vesika urinaria saat persalinan. 2. Fase diuresis pasca persalinan, bila perlu retensio urine dapat diatasi dengan melakukan kateterisasi. Rortveit dkk (2003) menyatakan bahwa resiko inkontinensia urine pada pasien dengan persalinan pervaginam sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan resiko serupa pada persalinan dengan Sectio Caesar. 10% pasien pasca persalinan menderita inkontinensia (biasanyastress inkontinensia) yang kadang-kadang menetap sampai beberapa minggu pasca persalinan. Untuk mempercepat penyembuhan keadaan ini dapat dilakukan latihan pada otot dasar panggul. Retensio Urine a. Sensasi dan kemampuan pengosongan kandung kemih terganggu akibat pemberian anaestesi atau analgesi. b. Ching-chung dkk (2002) : angka kejadian retensio urine pasca persalinan 4% c. Bila wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih dalam waktu 4 jam pasca persalinan mungkin ada masalah dan sebaiknya segera dipasang dauer catheter selama 24 jam d. Bila kemudian keluhan tak dapat berkemih dalam waktu 4 jam, lakukan kateterisasi dan bila jumlah residu > 200 ml maka nampaknya ada gangguan proses urinasinya. Maka biarkan kateter tetap terpasang dan dibuka tutup setiap 4jam, bila volume urine < 200 ml kateter dilepas dan pasien diharapkan dapat berkemih seperti biasa

29

e. Retensio

urine

kemungkinan

oleh

karena hematoma atau edema sekitar urtehra sehingga terapi meliputi : antibiotika dan obat anti inflamasi.

K. Masalah Pencernaan Sejumlah pasien pasca persalinan mengeluh konstipasi yang umumnya tidak memerlukan intervensi medis. Bila perlu dapat diberi obat pencahar supositoria ringan (dulcolax). Haemorrhoid yang diderita selama kehamilan akan menyebabkan rasa sakit pasca persalinan dan keadaan ini memerlukan pemberian obat supositoria.

L. Nyeri Punggung Nyeri punggung sering dirasakan pada trimester ketiga dan menetap setelah persalinan dan pada masa nifas. Kejadian ini terjadi pada 25% wanita dalam masa puerperium namun keluhan ini dirasakan oleh 50% dari mereka sejak sebelum kehamilan. Keluhan ini menjadi semakin hebat bila mereka harus merawat anaknya sendiri.

M. Masalah Psikologi Pada Masa Nifas Keberadaan bayi tidak jarang justru menimbulkan stress bagi beberapa ibu yang baru melahirkan. Ibu merasa bertanggung jawab untuk merawat bayi, melanjutkan mengurus suami, setiap malam merasa terganggu dan sering merasakan adanya ketidak mampuan dalam mengatasi semua beban tersebut. Banyak wanita pasca persalinan menjadi sedih dan emosional secara temporer antara hari 3 5 ( third day blues) dan kira-kira 10% diantaranya akan mengalami depresi hebat. Third Day Blues

30

Etiologi tak jelas, diperkirakan karena gangguan keseimbangan hormonal, reaksi eksitasi akibat persalinan dan perasaan tak mampu untuk menjadi Third days blues dapat berupa : 1. Lanjutan rasa cemas saat kehamilan dan proses persalinan 2. Rasa tak nyaman pada masa nifas dan tak mampu menjadi orangtua. 3. Ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu yang baik dan berguna 4. Rasa lelah pasca persalinan dan kurang tidur /istirahat 5. Penurunan gairah seksual atau tidak lagi menarik seperti waktu masih gadis 6. Labilitas emosional. 7. Depresi berat sampai beberapa minggu-bulan. Penatalaksanaan : terapi medis, diskusi dengan paramedis, penjelaskan mengenai apa yang terjadi dan bila pasien menghendaki maka kunjungan kejadian third days blues. Seksualitas Pasca Persalinan 1. Setelah persalinan, waktu serta perhatian ibu banyak tersita untuk mengurus bayinya. 2. Bila terdapat cedera perineum akibat persalinan, maka vagina dan perineum akan mengalami ketegangan selama beberapa minggu. 3. Gairah seksual seringkali mengalami penurunan. 4. Pada beberapa ibu yang memberikan ASI dapat terjadi penurunan libido dan menderita kekeringan pada vagina. 5. Hubungan seksual bukan merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh kenikmatan seksual dan wanita tersebut masih dapat menerima rangsangan seksual dalam bentuk sentuhan atau keluarga dibatasi. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa rooming-in dapat mengurangi seorang ibu.

31

rangsangan lain yang tak jarang berlanjut dengan hubungan seksual intercourse dan dapat menyebabkan terjadinya orgasmus pada wanita. 6. Konsultasi dan advis dari dokter kadang diperlukan bila terdapat penurunan gairah seksual pasca persalinan yang terlalu berat.

N. Kontrasepsi dan Sterilisasi Masa puerperium dini adalah saat terbaik untuk membahas mengenai kontrasepsi. Masa infertilitas anovulatoar hanya berlangsung selama 5 minggu pada pasien yang tidak memberikan ASI dan 8 minggu pada yang memberikan ASI persalinan secara penuh. normal. Tubektomi dikerjakan saat SC atau maksimum 24 48 jam pasca Beberapa pasangan menghendaki agar tubektomi dilakukan 6 8 minggu pasca persalinan untuk memberikan kesempatan bagi kesehatan anak dan memahami sepenuhnya arti sterilisasi permanen bagi keluarganya. Kontrasepsi alamiah dimulai segera setelah pasien mendapatkan haid. Perlindungan kontrasepsi alamiah pada pemberi ASI sekitar 98% sampai selama 6 bulan. Pada pasien non laktasi, pemberian kontrasepsi oral kombinasi ( sediaan kombinasi estrogen < 35 g dan progestin ) diberikan paling cepat 2 3 minggu pasca persalinan, jangan melakukan pemberian yang terlalu dini oleh karena pasien masih dalam hypercoagulable state. Pada pasien laktasi dapat diberikan kontrasepsi oral yang hanya mengandung progestin (norethindrone 0.35 mg) atau injeksi DepoProvera 150 mg setiap 3 bulan agar tidak terjadi penekanan proses laktasi. Implan Levonorgestrel dapat diberikan setelah laktasi berlangsung dengan lancar (segera atau 6 minggu pasca persalinan), keberatan

32

penggunaan metode ini adalah: perdarahan iregular, mahal dan kesulitan dalam pemasangan atau pengeluaran. IUD ( copper containing T Cu Ag , Paraguard t 380A , Progesteronereleasing Progestasert , levonorgestrel-releasing Mirena ) sangat efektif dalam pencegahan kehamilan dan sebaiknya dipasang pada kunjungan post partum pertama atau segera setelah persalinan (kejadian ekspulsi sangat tinggi). Jenis kontrasepsi bagi ibu pada masa laktasi 1. Kontrasepsi oral jenis Progestineonly 2 - 3 minggu pasca persalinan 2. Depo Provera 6 minggu pasca persalinan 3. Implan hormon 6 minggu pasca persalinan 4. Kontrasepsi oral kombinasi diberikan 6 minggu pasca persalinan dan hanya bila ASI sudah berlangsung dengan baik dan status gizi anak harus diawasi dengan baik

O. Pemeriksaan Pasca Persalinan Kunjungan pasca persalinan pertama (4 6 minggu) 1. 2. 3. 4. Anamnesa mengenai perdarahan pervaginam. Tekanan darah dan berat badan. Darah lengkap. Pemeriksaan payudara: a. Pemakaian BH yang sesuai atau memadai. b. Kelainan puting dan masalah laktasi. 5. Pemeriksaan vagina, kondisi hipoestrogen yang menyebabkan kekeringan epitel vagina diatasi dengan pemberian krim estrogen menjelang tidur malam.

33

6. 7. 8. 9.

Inspeksi servik [bila perlu dilakukan hapusan papaniculoau]. Pemeriksaan luka perineum. Pemeriksaan bimanual pada uterus dan adneksa. Konsultasi mengenai: pekerjaan profesional rutin, metode

kontrasepsi, dan perencanaan kesejahteraan dalam keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Capernito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. 8th Ed. Jakarta: EGC. Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal/ Bayi: Pedoman Untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. Jakarta: EGC.

34

Fakultas Kedokteran UNPAD. 19983. Obstetric Fisiologi. Bandung: Eleman. Manuba, Ida Bagus G.1998. lmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC. Prawirohardjo. 1995. Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono. Prawirohardjo. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Meternal Dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. Pusdiknakes-WHO-JHPIEOGO. 2003. Asuhan Intra Partum. Jakarta: Pusdiknakes.

35